Anda di halaman 1dari 1

By : KH Hafidz Abdurrahman

1. Yang pertama pahala tentu mengalir dari orang2 yang dia dakwahi lalu berubah.
Jamaah pengajian yang tergugah, atau berubah baik pemikiran maupun perilaku setelah
mendengar dakwahnya.

2. Pahala besar juga dari kader2 yang dihalaqohi lalu bergerak berdakwah setelahnya.
Juga dari rekan2 sesama pengemban dakwah yang terinspirasi baik oleh perilaku maupun
tutur nasehat nya. Selama mereka berdakwah setelahnya, pahala mengalir terus. Masya
Allah.

3. Selain itu, ia juga dapat pahala kolektif dari jamaah dakwah tempat dia berkiprah.
Karena seorang pengemban dakwah itu ketika menjadi bagian dari jamaah dakwah, maka
ia memiliki saham dalam jamaah tsb baik kecil maupun besar dan berhak mendapat
sharing pahala hasil dakwah jamaah tsb. Saham paling kecil adalah : turut memperbesar
tubuh jamaah dg kehadiran dirinya. Maka bersyukurlah antum wahai kader jamaah
dakwah!

4. Yang terakhir, dan ini paling wow, ia dapat pahala dari masa depan. Lho kok bisa?!
Jadi begini. Rasulullah saw sudah memberikan bisyarah akan kembali nya masa di mana
umat kembali jaya, syariat diterapkan, khilafah ditegakkan. Saat itu kebaikan, kemuliaan,
keadilan dan kesejahteraan kembali meliputi dunia. Apakah masa itu turun dari langit
begitu saja? Tentu tidak. Melainkan hasil jerih payah para pengemban dakwah 10, 50,
100 tahun sebelumnya! Hatta pengemban dakwah yang "cuma" bertugas memasang
spanduk acara, dapat kiriman pahala dari masa itu! Bayangkan betapa besarnya kebaikan
yang dihasilkan pada masa itu, dan hasilnya mengalir kepada pengemban dakwah masa
sekarang. Wallahi ini yang membuat ana terus terjaga dari rasa futur. MasyaAllah !

Terpilih menjadi pengemban dakwah adalah kemuliaan yang tak ternilai. Maka apakah
kita sudah mensyukurinya?! Semoga kita selalu diberi keistiqomahan oleh Allah swt dan
diwafatkan di atas rel perjuangan dalam keadaan husnul khatimah.

“Siapakah yang lebih baik perkataannya dari pada orang yang menyeru kepada Allah,
mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang
yang menyerah diri?” (QS. Fushshilat: 33).

ISTIQOMAH