Anda di halaman 1dari 12

SATUAN ACARA PENYULUHAN KESEHATAN

METODE ALAT KONTRASEPSI (AKDR)

DENGAN IUD MULTILOAD

Disusun oleh kelompok 18

Nama Anggota :

1. Nova Indriana R (820163078)


2. Novi Urmilatsani A (820163079)
3. Novia Fitriyani (820163080)
4. Ririn Wijayanti (820163087)
5. Rizka Ayu Ardiyati (820163088)

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH KUDUS

Jln. Ganesha I Purwosari, Kudus 59316, Telp/Fax. 0291-442993/437218

Website : http: // www.umkudus.ac.id Email : sekretariat@umkudus.ac.id


SATUAN ACARA PENYULUHAN KESEHATAN
METODE ALAT KONTRASESPSI DENGAN ALAT (AKDR)

Pokok Bahasan : Metode Alat Kontrasepsi Dengan Alat AKDR

Sub Pokok Bahasan : IUD Multiload

Sasaran : Ibu-ibu rumah tangga ingin program KB dan ibu Post partum

Hari/Tanggal : Jumat, 19 Juli 2019

Tempat : Posyandu Desa Purwosari

Waktu : 09.00 - 09.30 ( 30 Menit )

Penyuluh : Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Kudus

A. LATAR BELAKANG
Keluarga Berencana (KB) merupakan tindakan yang membantu individu atau
pasangan suami istri untuk mendapatkan objektif tertentu, menghindari kelahiran yang
tidak diinginkan, mengatur interval di antara kehamilan, mengontrol waktu saat
kelahiran dalam hubungan suami istri dan menentukan jumlah anak dalam keluarga
(WHO, 2009). Alat Kontrasepsi Dalam Rahim (AKDR) atau Intra Uterine Devices (IUD)
merupakan pilihan kontrasepsi yang efektif, aman, dan nyaman bagi sebagian wanita.
IUD merupakan metode kontrasepsi reversibel yang paling 2 sering digunakan di
seluruh dunia dengan pemakaian mencapai sekitar 100 juta wanita, sebagian besar
berada di Cina. Generasi terbaru AKDR memiliki efektivitas lebih dari 99% dalam
mencegah kehamilan pada pemakaian satu tahun atau lebih (Glasier dan Gebbie,
2012).
Seperti sebagian besar metode kontrasepsi, AKDR juga memiliki kelebihan dan
kekurangan. Kelebihan dari metode kontrasepsi AKDR yaitu: dapat dipakai oleh
semua perempuan dalam usia reproduksi, sangat efektif (0,8% kehamilan per 100
perempuan dalam tahun pertama) segera setelah pemasangan, reversibel, berjangka
panjang (dapat sampai 10 tahun tidak perlu ganti),dan meningkatkan hubungan
seksual karena tidak perlu takut untuk hamil (Mulyani dan Rinawati, 2013).
Sedangkan kekurangan metode kontrasepsi AKDR yaitu perubahan siklus haid
(umumnya pada 3 bulan pertama dan setelah itu akan berkurang), haid lebih lama dan
lebih banyak, perdarahan (spotting) antar menstruasi, saat haid lebih sakit, tidak
mencegah Infeksi Menular Seksual (IMS) termasuk HIV/AIDS serta tidak baik
digunakan oleh perempuan yang sering berganti-ganti pasangan atau yang menderita
IMS. Penyakit radang panggul (PRP) terjadi sesudah perempuan dengan IMS
menggunakan AKDR (Pinem, 2009).
Pencapaian penggunaan IUD pada empat tahun terakhir cenderung menurun
(2011-2014). Berdasarkan hasil penelitian tentang “pencapaian IUD yang rendah” di
Sumatera Barat, KalimantanBarat dan Nusa Tenggara Timur pada tahun 2010,
memberikan indikasi bahwa berbagai faktor yang memberikan kontribusi terhadap
rendahnya pencapaian IUD antara lain yaitu masih dijumpai provider bias,
pengetahuan klien tentang IUD yang terbatas dan tersedianya metode kontrasepsi lain
yang lebih praktis. Faktor lain yang mempengaruhi berasal dari faktor eksternal yaitu
terbatasnya tokoh panutan pemakai IUD di masyarakat dan tidak adanya persetujuan
atau dukungan dari suami dalam pemakaian IUD (BKKBN, 2013).
Survei pendahuluan yang dilakukan di Puskesmas Polokarto dengan
menggunakan instrumen kuesioner, sebanyak 30peserta KB aktif diketahuibahwa
terdapat 51,1% responden yangmenggunakan KB IUDsuaminya mendukung dan
48,9% responden yang suaminya tidak mendukung dalam ber KB. Sementara
responden yang memiliki pengetahuan kurang sebanyak 55,6% tidak menggunakan
IUD dan responden yang memiliki pengetahuan cukup sebanyak 44,4% menggunakan
IUD.
Berdasarkan uraian latar belakang di atas, peneliti tertarik untuk melakukan
penelitian tentang hubungan antara dukungan suami dan pengetahuan ibu dengan
penggunaan alat kontrasepsi Intra Uterine Device (IUD) di Puskesmas Polokarto
Kabupaten Sukoharjo.Perbedaan dengan penelitian sebelumnya ialah pada metode,
time, place dan person yang digunakan dalam penelitian ini.

B. TUJUAN
1. Tujuan Instruksional Umum
Setelah mengikuti penyuluhan ini,diharapkan ibu-ibu yang mengikuti program KB
dapat memahami tentang metode alat kontrasepsi AKDR dengan IUD Multiload
2. Tujuan Instruksional Khusus
Setelah mengikuti penyuluhan ini selama 30 menit, ibu-ibu yang mengikuti program
KB di Desa Purwosari diharapkan :
a. Mampu menyebutkan tentang pengertian IUD Multiload
b. Mampu menyebutkan tentang prosedur pemasangan dan pasca pemasangan
c. Mampu menjelaskan tentang Indikasi dan kontraindikasi IUD Multiload
d. Mampu menjelaskan tentang Keuntungan dan kerugian IUD Multiload
e. Mampu menjelaskan tentang Efek samping IUD Multiload
f. Mampu menjelaskan tentang Waktu pemasangan IUD Multiload

C. POKOK MATERI
(Terlampir)

D. KEGIATAN BELAJAR MENGAJAR


1. Metode :
a. Ceramah
b. Tanya Jawab
2. Pengorganisasian :
a. Pembawa Materi : Mahasiswa S1-Keperawatan UM Kudus
b. Kegiatan Penyuluh

No Tahap Waktu Kegiatan penyuluhan Kegiatan sasaran Media


1 Pembukaan 5 menit 1. Menyampaikan 1. Menjawab Lisan
salam salam
2. Memperkenalkan 2. Mendengarkan
diri penyuluh
3. Menjelaskan 3. Menyetujui
tujuan kesepakatan
4. Kontrak waktu waktu
5. Apersepsi pelaksanaan
penkes

2 Pelaksanaan 15 menit 1. Mampu Mendengarkan Lembar


menyebutkan penyuluh balik
tentang pengertian menyampaikan
IUD Multiload semua materi
2. Mampu sampai selesai
menyebutkan
tentang Prosedur
Pemasangan dan
pasca
pemasangan
3. Mampu
menjelaskan tentang
Indikasi dan
kontraindikasi
IUD Multiload
4. Mampu
menjelaskan tentang
Keuntungan dan
kerugian IUD
Multiload
5. Mampu
menjelaskan tentang
Efek samping
IUD Multiload
6. Mampu
menjelaskan
tentang Waktu
pemasangan IUD
Multiload
3 Penutup 10 menit 1. Evaluasi 1. Menanyakan Lisan
2. Menyimpulkan yang belum
materi jelas
3. Memberi 2. Menjawab
kesempatan pertanyaan
untuk bertanya 3. Mendengarkan
4. Memberi salam 4. Mendengarkan
penutup penyuluh
menutup acara
dan menjawab
salam

E. SETTING TEMPAT

Keterangan :
: Pembawa Materi
: Audien

F. MEDIA dan SUMBER


1. Media : Lembar Balik dan Leaflet
2. Sumber :
a. BPS, BKKBN, Kemenkes, dan ICF International. 2013. Survei Demografi
Kesehatan Indonesia 2012. Jakarta: BPS, BKKBN, Kemenkes, dan ICF
International.
b. Notoatmodjo, S. 2010. Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta.
c. Imbarwati. 2009. Beberapa Faktor yang Berkaitan degan Penggunaan KB IUD
pada Peserta KB non IUD di Kecamatan Pedurungan Kota Semarang
[Tesis].Semarang : UNDIP.
d. Glasier A dan Gebbie A. 2013. Keluarga Berencana Dan Kesehatan
Reproduksi.Jakarta: EGC
e. Pinem S. 2009. Kesehatan Reproduksi Dan Kontrasepsi.Jakarta: Trans Info
Media.
f. WHO. 2009. Medical Eligibility Criteria For Contraceptive Use.Geneva:
Department of Reproduction and Research World Health Organization.

G. KRITERIA EVALUASI
1. Evaluasi Struktur
a. Proposal pendidikan kesehatan yang berisi satuan penyuluhan telah siap
sebelum kegiatan dimulai
b. Kontrak waktu, tempat, dan topic dengan ibu-ibu yang mengikuti program KB di
Desa Purwosari
c. Tempat dan media telah siap sebelum kegiatan dimulai
d. Penyaji materi telah siap memberi penyuluhan atau pendidikan kesehatan
e. Waktu dan tempat sesuai yang telah ditentukan
f. Menyiapkan pertanyaan

2. Evaluasi Proses
a. Penyuluh berperan sesuai dengan perannya
b. Kegiatan berlangsung sesuai dengan jadwal dan waktu yang telah ditentukan
c. Adanya tanya jawab dan feed back
d. Media dapat digunakan secara efektif
e. Penyuluh mampu melakukan evaluasi sesuai tujuan yang ingin dicapai.

3. Evaluasi Hasil
a. Peserta mampu menyebutkan pengertian IUD Multiloaddengan presentase 90 %
b. Peserta mampu menyebutkan Prosedur Pemasangan dan pasca pemasangan
dengan prsentase 85%
c. Peserta mampu menjelaskan Indikasi dan kontraindikasi IUD Multiloadpresentase
80%
d. Peserta mampu menjelaskan Keuntungan dan kerugian IUD Multiload dengan
presentase 75%
e. Peserta mampu menjelaskan tentang Efek samping IUD Multiloaddengan
presentase 75%
f. Peserta mampu menjelaskan tentang Waktu pemasangan IUD Multiload
 LAMPIRAN MATERI

ALAT KONTRASEPSI DENGAN ALAT (AKDR)


IUD MULTILOAD

A. PENGERTIAN KONTRASEPSI IUD


Kontrasepsi adalah upaya untuk mencegah kehamilan yang bersifat
sementara atau menetap. Kontrasepsi dapat dilakukan tanpa menggunakan alat,
secara mekanis, menggunakan alat atau dengan operasi. (Saefuddin, 2009).
IUD (Intra Uterine device) adalah alat kontrasepsi yang disisipkan kedalam
rahim, terbuat dari bahan semacam plastik, ada pula yang dililit tembaga, dan
bentuknya bermacam-macam. (Subrata, 2012).
Menurut Imbarwati (2009) IUD Multiload massa penggunaan 3 tahun, bentuk
IUD ini terbuat dari plastik (polyethelene) dengan dua tangan kiri dan kanan
berbentuk sayap yang fleksibel. Panjang dari ujung atas ke ujung bawah 3,6 cm.
Batang diberi gulungan kawat tembaga dengan luas permukaan 250 mm2 atau 375
mm2 untuk menambah efektifitas. Ada tiga jenis ukuran multi loadyaitu standar,
small, dan mini.

Cara Kerja :
1. Mencegah masuknya spermatozoa / sel mani ke saluran tuba
2. Lilitan logam menyebabkan reaksi anti fertilitas.

Efektifitas : Sekitar 99 %.

B. PROSEDUR PEMASANGAN DAN PASCA PEMASANGAN


1. ALAT DAN BAHAN:
a. IUD dan Inserter
b. sarung tangan
c. kain steril (duk) lubang
d. spekulum
e. tenakulum (cunam peluru)
f. pinset
g. klem
h. sonde rahim
i. gunting

2. TEKNIK PEMASANGAN IUD


a. Periksalah apakah alat – alat sudah disiapkan dengan lengkap dan
sudah disterilkan
b. Memberi salam dan anamnesis seperlunya
c. Akseptor dipersilahkan berbaring dengan posisi litotomi, tangan ada di
samping badan atau di atas kepala agar kedudukannya lebih santai dan
otot tidak tegang.
d. Untuk mensterilkan daerah vulva dan sekitarnya, dilakukan toilet dengan
bahan – bahan desinfektan. Agar tidak mudah terkena kontaminasi dari
kulit di sekitar alat genitalia pada saat pemasangan IUD, maka dipasang duk
(kain) steril yang berlubang Spekulum yang ukurannya sesuai dipasang
secara hati-hati pada vagina, sampai porsio dapat ditampakkan dengan
jelas. Sekali lagi diamati apakah ada kelainan pada porsio dan vagina
yang merupakan kontra indikasi pemasangan IUD. Rongga vagina dan
permukaan porsio dibersihkan dibersihkan dengan bahan desinfektan.
e. Dengan hati-hati porsio bagian depan dijepit dengan tenakulum, agar
porsio dapat terfiksasi. Dilakukan sondase rongga rahim dengan sonde
rahim, perhatikan kelengkungan sonde terhadap posisi dan kjedudukan
uterus (ante atao retrofleksi). Tujuan melakukan sondase adalah
mengetahui arah serta panjang rongga rahim, sehingga dapat
menentukan ukuran IUD yang harus dipasang dan kedudukan elips
penghenti pada inserter.
f. Setelah kemasan dibuka, bagian sayap dari IUD Multiload dilipat ke
arah pangkalnya dan ikut dimasukkan ke dalam inserter. IUD Multiload
yang terlipat ini harus sesegera mungkin dipasangkan pada akseptor,
agar kedudukannya tidak tidak menetap (terlipat). Lebih dianjurkan agar
pelipatan ini dilakukan pada saat masih ada dalam kemasan atau
kemasan belum dibuka, sehingga lebih menjamin sterilitasnya.
g. Tangan kiri pemasang memegang pegangan tenakulum. Tabung inserter
yang didalamnya sudah ada IUD dan pendorong inserter secara halus
dimasukkan ke dalam rongga rahim melalui orifisium uteri eksternum
dengan tangan kanan. Pada waktu memasukkan inserter dengan IUD di
dalamnya, harus sampai elips penghenti tertahan oleh serviks uteri,
sehingga ujung inserter telah mencapai fundus. Dengan menahan
pendorong inserter, maka IUD dapat dipasang dan tertinggal di dalam
kavum uteri.
h. Tenakulum dilepas, dan diperiksa apakah bekas jepitan pada porsio
mengeluarkan darah. Darah yang keluar dari luka bekas jepitan dan
keluar dari orifisium uteri eksternum dibersihkan dengan kasa kering.
Benang IUD yang terlalu panjang dipotong dengan gunting, sehingga
benang yang tertinggal terjulur dari orifisium uteri eksternum sampai
kira-kira 2 atau 3 cm dari introitus vagins. Dengan bahan desinfektan
dilakukan desinfeksi pada daerah orifisium uteri eksternum dan luka
bekas tenakulum.
i. Spekulum dilepas dan sebelum mengakhiri pemasangan, dilakukan
pemeriksaan colok vagina untuk memastikan bahwa seluruh IUD sudah
masuk ke dalam rongga rahim sehingga ujung IUD tidak teraba lagi,
serta untuk menempatkan benang IUD pada forniks anterior vagina agar tidak
memberikan keluhan pada suami saat koitus.
j. Setelah selesai pemasangan ditanyakan pada akseptor, apakah cukup
nyaman dan tidak merasa pusing atau sakit perut yang berlebihan. Awasi
juga keadaan umum akseptor sesudah pemasangan IUD.

3. TEKNIK PENCABUTAN IUD


a. Akseptor dipersilahkan berbaring dengan posisi litotomi, tangan ada di
samping badan atau di atas kepala agar kedudukannya lebih santai dan otot
tidak tegang
b. Untuk mensterilkan daerah vulva dan sekitarnya, dilakukan toilet dengan
bahan – bahan desinfektan. Agar tidak mudah terkena kontaminasi dari
kulit di sekitar alat genitalia pada saat pemasangan IUD, maka dipasang duk
(kain) steril yang berlubang
c. Sesudah spekulum dipasang dan rongga vagina dibersihkan sehingga
serviks uteri dan benang IUD tampak jelas, maka benang IUD dijepit
dengan klem. Pada waktu mencabut, benang harus ditarik perlahan-
lahan. Pencabutan yang terlalu kasar atau tergesa-gesa akan berakibat
putusnya benang IUD. Lebih bijaksana pencabutan dilakukan dengan
menegangkan benang IUD, dan IUD akan tercabut dengan sebdirinya.
d. Apabila benang IUD tidak tampak, benang putus atau pada waktu
pencabutan dirasakan tarikan berat, hendaknya akseptor dikirimkan
kepada dokter yang berwenang menanganinya lebih lanjut dengan surat
rujukan.

C. INDIKASI DAN KONTRAINDIKASI IUD MULTILOAD


1. Indikasi
Pemasangan IUD sebaiknya dilakukan pada saat menstruasi. Pemilihan IUD
a. Usia reproduktif
b. Keadaan multi para
c. Menginginkan kontrasepsi jangka panjang
d. Perempuan menyususi yang menginginkan kontrasepsi jangka panjang
e. Setelah melahirkan dan sedang menyusui
f. Setelah mengalami abortus dan tidak terlihat adanya infeksi
g. Resiko rendah dari IMS
h. Gemuk ataupun kurus

2. Yang Tidak Boleh Menggunakan / Kontra Indikasi :


a. Kehamilan
b. Gangguan perdarahan
c. Peradangan alat kelamin
d. Kecurigaan kanker pada alat kelamin
e. Tumor jinak rahim
f. Radang panggul.
g. Ukuran rongga rahim kurang dari 5 cm
h. Belum pernah melahirkan (Notoadmodjo: 2010)

D. KEUNTUNGAN DAN KERUGIAN IUD MULTILOAD


1. Keuntungan :
a. Praktis dan ekonomis
b. Efektivitas tinggi (angka kegagalan kecil)
c. Kesuburan segera kembali jika dibuka
d. Tidak harus mengingat seperti kontrasepsi pil
e. Tidak mengganggu pemberian ASI.
2. Kerugian :
a. Dapat keluar sendiri jika IUD tidak cocok dengan ukuran rahim pemakai.
b. Menoragie
c. Dismenorea
d. Peningkatan resiko infeksi radang panggul

E. EFEK SAMPING IUD MULTILOAD


Efek / Akibat Samping :
1. Terjadi perdarahan yang lebih banyak dan lebih lama pada masa menstruasi
2. Keluar bercak-bercak darah (spotting) setelah 1 atau 2 hari pemasangan
3. Keram / nyeri selama menstruasi
4. Keputihan.

F. WAKTU PEMASANGAN IUD MULTILOAD


1. Waktu pemasangan :
a. 2-4 hari setelah melahirkan
b. 40 hari setelah melahirkan
c. Setelah terjadinya keguguran
d. Hari ke 3 haid sampai hari ke 10 di hitung dari hari pertama haid
e. Menggantikan metode KB lainnya
f. Pada akhir masa menstruasi karena servik agak terbuka pada waktu ini
setelah menderita abortus (segera atau dalam waktu hari apabila tidak ada
gejala infeksi)

2. Kunjungan Ulang :
a. Pemakai harus datang ke klinik dalam 1 minggu - 6 minggu untuk
pengecekan
b. Jika ada keluhan atau masalah, pemakai harus segera kembali ke klinik.
 Lembar Daftar Hadir

DAFTAR HADIR PESERTA PENYULUHAN

No Nama Tanda Tangan

10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23