Anda di halaman 1dari 25

PENGARUH BUDAYA DALAM BISNIS

INTERNATIONAL

Disusun oleh:
Kelompok 3

1. Ivan Fadillah (11170000068)


2. Maulidiya Wahyuningsih (11170000111)
3. Sela Stalia (11170000128)

PROGRAM STUDI STRATA 1 AKUNTANSI


SEKOLAH TINGGI ILMU EKONOMI INDONESIA
JAKARTA
2019
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat allah SWT, karena atas rahmat dan hidayahnya
kami dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “Pengaruh budaya dalam Bisnis Internasional”.
Shalawat serta salam semoga tetap tercurah abadikan kepada junjungan kita Nabi
Muhammad saw. pembawa rahmat bagi seluruh alam
Tujuan kami menulis materi tersebut adalah memenuhi tugas dan agar menjadikan
mahasiswa mengerti tentang Pengaruh budaya dalam Bisnis Internasional.
Kami mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu kami dalam
menyelesaikan tugas makalah ini. Khususnya kami ucapkan kepada Bapak Prof., Dr. Hosni
Suradji, selaku dosen mata kuliah Bisnis Internasional, yang telah memberi tugas makalah ini
sehingga sangat memberi kami pelajaran akan hal-hal yang baru buat kami dalam penyusunan
sebuah makalah. Juga kami ucapkan kepada orang tua dan teman-teman kami yang senantiasa
mendukung dan memotivasi kami, serta memberi masukan-masukan yang sangat berguna dalam
penyelesaian tugas makalah ini.
Kami menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kesempurnaan. Tentu tidak lain
adalah diakibatkan keterbatasan ilmu yang kami miliki. Oleh karena itu, kami sangat
mengharapkan kritik dan saran yang berguna bagi penyempurnaan makalah ini untuk masa yang
akan datang. Semoga makalah ini bermanfaat bagi penambahan ilmu pengetahuan kita semua

Jakarta, 23 Juli 2019

Kelompok 3
DAFTAR ISI

Halaman

Lembar Judul Tugas................................................................................................... i

Kata Pengantar............................................................................................................ ii

Daftar Isi....................................................................................................................... iii

Daftar Gambar............................................................................................................. v

BAB I PENDAHULUAN............................................................................................. 1

1.1 Latar Belakang................................................................................ 1

1.2 Rumusan Masalah........................................................................... 1

1.3 Tujuan Perumusan Masalah............................................................ 1

BAB II ISI...................................................................................................................... 2

2.1 Karakteristik Budaya ..................................................................... 2

2.2 Unsur Budaya.................................................................................. 3

2.3 Pendekatan Konteks rendah-Konteks Tinggi Hall.......................... 17

2.4 Pendekatan Klaster Budaya............................................................ 18

2.5 Lima Dimensi Hofstede.................................................................. 19

2.6 Manajemen Internasional dan Perbedaan Budaya.......................... 21

BAB III PENUTUP...................................................................................................... 22

3.1 Kesimpulan.................................................................................... 22
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Tantangan utama dalam melakukan bisnis internasional adalah untuk menyesuaikan secara efektif
pada perbedaan budaya, seperti penyesuaian membutuhkan pemahaman dari keragaman budaya,
persepsi, klise dan nilai. Dalam beberapa tahun belakangan ini, penelitian menghubungkan antara
dimensi kebudayaan dan perilaku-perilaku dan penelitian telah terbukti berguna dalam penyediaan
profil integrative dari budaya internasional.

Kebudayaan sendiri memiliki artian menurut E.B. Taylor(1974) bahwa arti kebudayaan adalah
suatu keseluruhan kompleks yang meliputi pengetahuan, kepercayaan, seni, kesusilaan, hukum, adat
istiadat, serta kesanggupan dan kebiasaan lainnya yang dipelajari oleh manusia sebagai anggota
masyarakat. Sedangkan bisnis internasional memiliki artian Menurut Ball, McCulloch, Frantz,
Geringer, Minor (2006), Bisnis Internasional adalah bisnis yang kegiatannya melampaui batas negara.

Dalam kenyataanya budaya sangat berpengaruh terhadap kelancaran dalam dunia bisnis baik dalam
perkembangna dalam bisnis skala nasional maupun skala internasional. Sesuatu hal baru yang tidak
sesuai dengan kebudayaan suatu bangsa akan sulit diterima atau berkembang didalam Negara tersebut.

1.2 Rumusan Masalah

A. Apa Pengertian Budaya dalam Lingkup Bisnis Internasional?


B. Beberapa Karakteristik Kebudayaan?
C. Apa saja Unsur- unsur kebudayaan?
D. Bagaimana Manajemen Internasional dan Perbedaan Budaya?

1.3 Tujuan Perumusan Masalah


A. Mengetahui dan memahami Pengertian Budaya dalam Lingkup Bisnis Internasional
B. Mengetahui dan memahami Karakteristik dari Kebudayaan
C. Mengetahui dan memahami Unsur- unsur dari kebudayaan
D. Mengetahui dan memahami mengenai Manajemen Internasional dan Perbedaan Budaya

1
BAB II

ISI

2.1 Karakteristik Budaya

Bisnis, seperti halnya aktivitas manusia lainnya, dilakukan dalam konteks masyarakat. Budaya
(culture) adalah kumpulan nilai, keyakinan, perilaku, adat kebiasaan dan sikap yang membedakan satu
masyarakat dengan masyarakat lainnya. Budaya suatu masyarakat menentukan aturan yang mengatur
bagaimana perusahaan beroperasi dalam masyarakat. Beberapa karakteristik budaya berikut ini layak
untuk diperhatikan karena relevansinya terhadap bisnis internasional.

• Budaya mencerminkan perilaku yang dipelajari yang disebarkan dari satu anggota masyarakat
kepada anggota masyarakat lainnya. Beberapa unsur budaya ditularkan secara antar generasi,
seperti ketika orang tua mengajarkan anak – anak mereka tata krama makan di meja makan. Unsur
– unsur lainnya ditularkan secara intragenerasi, seperti ketika senior mendidik mahasiswa baru
mengenai tradisi sekolah.
• Unsur – unsur budaya yang saling berkaitan. Sebagai contoh, masyarakat Jepang yang hierarkis
dan berorientasi pada kelompok menekan keselarasan dan kesetiaan, yang secara historis
diterjemahkan ke dalam pekerjaan seumur hidup dan perpindahan kerja yang minimal.
• Oleh karena budaya merupakan perilaku yang dipelajari, maka budaya merupakan suatu yang
bersifat adaptif, yaitu, budaya dapat berubah sebagai respons terhadap kekuatan eksternal yang
mempengaruhi masyarakat. Sebagai contoh, Perang Dunia II, Jerman dibagi menjadi Jerman
Baratyang berorientasi pasar bebas dan Jerman Timur yang dikendalikan oleh komunis. Meskipun
mereka memiliki warisan yang sama, selama berabad – abad, pembagian ini menciptakan
perbedaan budaya besar antara Ossis (Jerman Timur) dan Wessis (Jerman Barat). Perbedaan ini
diakibatkan oleh adaptasi budaya Jerman Timur yang didikte oleh ideologi komunis mengenai
sikap terhadap pekerjaan, pengambilan risiko, dan keadilan sistem imbalan.
• Budaya adalah sesuatu yang dimiliki bersama oleh anggota masyarakat dan mendefinisikan
kenaggotaan dalam masyarakat. Individu yang mempunyai budaya yang sama merupakan anggota
sebuah masyarakat, mereka yang tidak berada diluar perbatasan masyarakat tersebut.

2
2.2 Unsur Budaya

Unsur dasar dari budaya adalah struktur sosial, bahasa, komunikasi, agama serta nilai dan sikap.
Interaksi dari unsur – unsur ini mempengaruhi lingkungan lokal tempat bisnis internasional beroperasi.
Unsur – unsur ini juga mempengaruhi kemampuan negara untuk merespons situasi yang berubah.

Struktur Sosial

Dasar dari setiap masyarakat adalah struktur sosialnya, kerangka keseluruhan yang menentukan peran
individu dalam masyarakat, stratifikasi masyarakat, dan mobilitas individu dalam masyarakat.

GAMBAR 2.1

Unsur – Unsur Budaya

Bahasa
Struktur Sosial Komunikasi

Budaya
Nilai dan Sikap Agama

INDIVIDUAL, KELUARGA DAN KELOMPOK Semua masyarakat manusia melibatkan individu


yang tinggal dalam unit keluarga dan bekerja dengan satu sama lainnya dalam kelompok. Namun,
masyarakat berbeda dalam cara mereka mendefinisikan keluarga dan dalam kepentingan relatif yang
mereka berikan pada peran individu dalam kelompok. Pandangan Amerika terhadap ikatan dan
tanggung jawabkeluarga berfokus pada keluarga inti (ayah, ibu dan anak – anak). Dalam budaya lainnya
keluarga besar lebih penting.

Sikap sosial yang berbeda ini tercermin dalam pentingnya keluarga bagi bisnis. Di Amerika
Serikat, perusahaan tidak menyukai nepotisme, dan kompetisi seseorang yang menikah dengan anak
perempuan atasan secara rutin dipertanyakan rekan kerjanya. Namun, perusahaan milik Arab, ikatan
keluarga sangat penting, dan memperkerjakan keluarga merupakan praktik yang dapat diterima dan
lazim.

Budaya juga berbeda dalam pentingnya individu secara relatif terhadap kelompok. Budaya AS
sebagai contoh, mempromosikan individualisme. Sekolah – sekolah berusaha untuk meningkatkan

3
kepercayaan diri setiap anak dan mendorong masing – masingnya untuk mengembangkan bakat
individual. Oleh karena rasa hormat terhadap otoritas dan tanggung jawab individual sangat kuat di AS,
anak – anak dilatih untuk percaya bahwa nasib mereka berada ditangan mereka sendiri. Sebaliknya,
dalam masyarakat yang terfokus pada kelompok seperti Jepang, anak – anak diajarkan bahwa peran
mereka adalah untuk melayani kelompok. Sifat – sifat baik seperti kesatuan, kesetiaan dan keselarasan
sangat dihargai dalam masyarakat seperti ini. Karakteristik seperti ini sering kali lebih penting dalam
keputusan perekrutan dibandingkan pencapaian atas kemampuan pribadi.

STRATIFIKASI SOSIAL Masyarakat berbeda dalam tingkat stratifikasi sosial (social


stratification). Semua masyarakat mengategorikan orang hingga tingkat tertentu atas dasar kelahiran,
pekerjaan, pencapaian, pendidikan atau atribut – atribut lainnya. Namun, pentingnya kategori ini dalam
mendefinisikan bagaimana seorang individu berinteraksi dengan satu sama lain di dalam dan antar –
kelompok ini bervariasi antarmasyarakat. Di Eropa abad pertengahan, sebagai contoh, peran dan
tanggung jawab petani, perajin, pedagang dan bangsawan secara teliti digariskan oleh adat istiadat dan
hukum. Struktur kelas di Inggris dan sistem kasta di India memberikan contoh yang lebih baru tehadap
fenomena yang sama, dimana posisi sosial seseorang dapat mempengaruhi banyak segi dari hubungan
seseorang dengan orang lain.

Korporasi multinasional (MNC) yang beroperasi dalam masyarakat yang sangat bertingkat
seringkali harus menyesuaikan prosedur perekrutan dan promosi mereka untuk mempertimbangkan
perbedaan kelas atau klan antara pengawas dan pekerja. Mempekerjakan anggota suatu kelompok untuk
melakukan pekerjaan yang secara tradisional dilakukan oleh anggota kelompok lain dapat menurunkan
moral dan produktivitas di tempat kerja.

Mobilitas sosial (social mobility) adalah kemampuan individu untuk bergerak dari satu strata
masyarakat ke strata masyarakat lain. Mobilitas sosial cenderung lebih tinggi dalam masyarakat yang
kurang bertingkat. Mobilitas sosial (atau tiadanya mobilitas sosial) sering mempengaruhi sikap dan
perilaku individu terhadap faktor – faktor seperti relasi tenaga kerja, formasi modal manusia,
pengambilan risiko dan kewiraswastaan. Di Inggris sampai saat ini, pemuda kelas pekerja putus
sekolah, karena percaya bahwa peran mereka dalam masyarakat telah ditentukan dan dengan demikian
investasi dalam pendidikan adalah buang – buang waktu. Namun, dalam masyarakat dengan mobilitas
sosial yang tinggi, seperti AS, Singapura, dan Kanada, individu lebih bersedia untuk mengejar
pendidikan yang lebih tinggi atau untuk melakukan aktivitas kewiraswastaan, karena mengetahui
bahwa jika mereka berhasil, mereka dan keluarganya bebas untuk meningkat dalam masyarakat.

4
Bahasa

Bahasa adalah hal utama yang menggambarkan kelompok budaya karena merupakan sarana penting
dimana anggota masyarakat berkomunikasi satu sama lain. Para ahli telah mengidentifikasi sekitar 3000
bahasa berbeda dan sebanyak 10.000 dialek berbeda di seluruh dunia.

Bahasa mengatur cara anggota masyarakat berpikir mengenai dunia. Bahasa menyaring
pengamatan dan persepsi sehingga mempengaruhi pesan tak terduga yang dikirim ktika dua individu
mencoba untuk berkomunikasi. Selain membentuk presepsi seseorang terhadap dunia, bahasa
memberikan petunjuk penting mengenai nilai budaya masyarakat dan membantu akulturasi.
Keberadaan lebih dari satu kelompok bahasa merupakan sinyal penting mengenai keragaman populasi
sebuah negara dan menyatakan bahwa di sana mungkin juga terdapat perbedaan dalam penghasilan,
nilai budaya, pencapaian pendidikan. Secara umum, negara yang didominasi oleh satu kelompok
bahasa cenderung mempunyai masyarakat yang homogen, di mana negara mengidentifikasikan
masyarakat. Negara dengan kelompok bahasa multipel cenderung heterogen, dengan bahasa yang
menyediakan sarana penting untuk mengidentifikasi perbedaan budaya dalam negara.

Pelaku bisnis yang cerdas beroperasi dalam masyarakat yang heterogen dengan mengadaptasikan
praktik pemasaran dan bisnis mereka sepanjang garis linguistik untuk memasukkan perbedaan budaya
di antara pelangan prospektif mereka. Sebagai contoh, periset pasar menemukan bahwa orang Kanada
berbahasa Inggris lebih menyukai sabun yang menjanjikan kebersihan, sementara orang Kanada
berbahasa Prancis lebih menyukai sabun yang berbau menyenangkan atau manis. Jadi iklan Irish Spring
Soap dan Gamble untuk Kanada yang berbahasa Inggris menekankan nilai deodoran sabun tersebut,
sementara iklan berbahasa Prancisnya berfokus pada aroma sabun yang menyenangkan. Biasanya,
pengiklanan harus mencari media – surat kabar, radio, televisi kabel dan majalah yang memungkinkan
mereka menyesuaikan pesan pemasaran mereka kepada kelompok linguistik individual.

BAHASA SEBAGAI KOMPETITIF Ikatan linguistik sering kali menciptakan keunggulan


kompetitif karena kemampuan untu berkomunikasi adalah sangat penting dalam melakukan transaksi
bisnis. Perniagaan antara Australia, Kanada, selandia Baru, inggris dan Amerika serikat difasilitasi oleh
persamaan mereka dalam penggunaan bahasa Inggris. Sebagai contoh, ketika Giro Sport Design,
sebuah produsen helm sepeda yang berbasis di California, memutuskan untuk membuat produknya di
Eropa daripada mengekspor dari Amerika serikat, perusahaan tersebut memberi tahu konsutan lokasi
mereka untuk mencari lokasi pabrik di negara berbahasa Inggris. Perusahaan tersebut menempatkan
fasilitas produksi Eropanya di Irlandia, di mana mereka menikmati banyak pasokan tenaga kerja
berbahasa Inggris terlatih, insentif pengembangan ekonomi dan manfaat pajak.

5
LINGUA FRANCA Untuk melakukan bisnis, pelaku bisnis internasioanl harus dapat
berkomunikasi. Sebagai akibat dari dominasi ekonomi dan militer Inggris pada abad kesembilan belas
dan dominasi AS sejak Perang Dunia II, bahasa Inggris telah muncul sebagai bahasa utama, atau lingua
franca, dari bisnis internasional. Sebagian besar murid sekolah umum di Eropa dan Jepang pelajari
bahasa Inggris selama bertahun – tahun. Beberapa negara yang mempunyai kelompok linguistik lebih
dari satu, seperti India dan Singapura, telah mengadopsi bahasa Inggris sebagai bahasa resmi untuk
memfasilitasi komunikasi di antara kelompok yang berbeda. Demikian juga, perusahaanmengan
manajer dari banyak negara berbeda dapat menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa resmi
perusahaan. Sebagai contoh, Philips, MNC elektronik yang berbasis di Belanda, telah menggunakan
bahasa Inggris untuk komunikasi antar-perusahaan sejak 1983.

Namun, penggunaan bahasa Inggris sebagai lingua franca tidak menghilangkan semua
kesalahpahaman lintas budaya. Di beberapa budaya – Inggris, Denmark, dan AS, sebagai contoh –
humor yang menertawakan diri sendiri sering digunakan untuk menunjukkan bahwa si pembicara tidak
sombong atau arogan, sementara budaya lainnya, seperti Prancis dan Jerman, hal ini dapat
mengesankan ketidakseriusan. Perbedaan budaya juga dapat mempengaruhi interpretasi atas arti kata –
kata umum. Seorang eksekutif AS dapat mengatakan bahwa ia “ingin” sesuatu diselesaikan pada hari
Kamis mendatang. Seorang kolega di AS akan mengterpretasikannya bahwa hari Kamis adalah tenggat
waktunya, sementara seorang kolega di Thailand dapat memandangnya sebagai preferensi bukan
permintaan.

PETA 2.1 Bahasa –Bahasa Dunia

6
Bahasa Utama
A = Arab S = Skandinavia P = Martinique
C = Dialek Cina Spn = Spanyol I = Mauritius
Ing = Inggris T = Turki I = Trinidad & Tobago
P = Prancis L = Lainnya I = Kepulauan Virgin
J = Jerman I = Bahama L= Andora
H = Hindi I = Barbados J= Liechtenstein
Por = Portugal L = Brunei J/P= Luksemburg Monako
R = Rusia dan Stavik lainnya I = Jamaika
PETA 2.2

Warisan Kolonial Afrika

7
Dominasi bahasa Inggris tampaknya memberikan keuntungan dalam perniagaan Internasional
kepada mereka yang menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa ibu, khususnya ketika transaksinya
dilakukan di Kanada, Inggris atau Amerika Serikat. Namun, ketidakmampuan penutur asli bahasa
Inggris untuk menguasai bahasa kedua menempatkan mereka dan perusahaan mereka pada posisi yang
dirugikan ketika bernegosiasi atau beroperasi di wilayah asing. Sebagai contoh, beberapa tahun yang
lalu Lionel Train Company memindahkan fasilitas manufakturnya ke Meksiko untuk memanfaatkan
tenaga kerja yang lebih rendah, tetapi mereka tidak dapat menemukan manajer bilingual yang
mencukupi untuk menjalankan pabrik tersebut. Akibatnya, perusahaan tersebut akhirnya menutup
pabriknya dan memindahkan operasinya kembali ke Amerika Serikat.

Oleh karena bahasa berfungsi sebagai jendela dari budaya suatu masyarakat, banyak ahli bisnis
internasional berargumen bahwa mahasiswa harus memaparkanya dalam bahasa asing, bahkan
sekalipun bahasa mereka tidak mampu menguasainya. Meskipun penguasaan yang terbaik, bahkan
tingkat pelatihan bahasa yang sederhana harus akan memberi mahasiswa petunjuk mengenai norma dan
sikap budaya yang terbukti berguna dalam bahasa internasional.

PENERJEMAHAN Tentu saja, beberapa perbedaan linguistik dapat diatasi melalui penerjemahan.
Namun, prosesnya membutuhkan lebih dari sekedar mengganti kata – kata dari satu bahasa menjadi
kata – kata dalam bahasa lain. Penerjemah harus sensitif terhadap kehalusan konotasi kata – kata dan
berfokus untuk menerjemahkan gagasan, bukan kata – kata itu sendiri. Terlalu sering, masalah
penerjemahan menciptakan bencana pemasaran. Salah satu kasus klasiknya adalah penerjemahan awal
atas “Finger Lickin’ Good” dari KFC ke dalam bahasa Cina yang hasilnya adalah “Makanlah Jari
Anda” yang jauh dari menggugah selera. Hal serupa, penerjemahan awal terhadap Jolly Green Giant
dari Pullsbury untuk pasar Arab Saudi adalah “Raksasa Hijau Yang Menakutkan” – citra yang berbeda
dari yang diinginkan perusahaan (meskipun mungkin masih mendorong anaka – anak untuk memakan
kacang mereka).

Perusahaan dapat mengurangi kemungkinan mereka dari mengirimkan pesan yang salah kepada
pelanggan dengan menggunakan sebuah teknik yang dikenal dengan penerjemahan kembali. Dengan
penerjemah kembali (back translasion), seseorang menerjemahkan suatu dokumen, kemudian orang
kedua menerjemahkan versi terjemahan tersebut kembali ke bahasa aslinya. Teknik ini memberikan
perbandingan bahwa pesan yang dimaksudkan benar – benar tersampaikan, oleh karena itu dapat
menghindarkan kesalahan komunikasi.

MENGATAKAN TIDAK Kesulitan budaya lainnya yang dihadapi pelaku bisnis internasional adalah
bahwa kata – kata mungkin mempunyai arti berbeda bagi orang dengan latar belakang budaya yang

8
beragam. Orang Amerika Utara biasanya menerjemahkan kata Spanyol manana secara harfiahyang
berarti “besok”, tetapi di beberapa bagian Amerika Latin. Kata – kata tersebut berarti “lain hati – tidak
hari ini”.

Bahkan penggunaan ya dan tidak berbeda lintas budaya. Dalam negosiasi kontrak, pelaku bisnis
Jepang sering menggunakan ya yang berarti “Ya, saya mengerti apa yang dikatakan”. Negosiator asing
terkadang berasumsi bahwa rekan – rekan mereka dari Jepang mengatakan ya yang berarti “Ya, saya
sependapat dengan Anda” dan mereka kecewa ketika orang Jepang tersebut kemudian tidak menerima
kontrak yang oleh orang asing tersebut dianggap telah disepakati. Kesalahpahaman dapat dipersulit
karena mengatakan “tidak” secara langsung dianggap tidak sopan di Jepang, Cina, India dan Timur
Tengah. Dalam budaya seperti ini, negosiator yang merasa sebuah proposal tidak dapat diterima, agar
sopan, menyatakan bahwa proposal tersebut “menghadirkan banyak kesulitan” atau perlu “dipelajari
lebih lanjut”.

Komunikasi

Berkomunikasi lintas batas budaya, baik secara verbal maupun nonverbal, adalah keterampilan
yang sangat penting bagi manager internasional. Meskipun komunikasi sering menjadi salah antar
orang-orang yang mempunyai budaya yang sama, kemungkinan miskomunikasi akan meningkat serta
substansial ketika orang-orang yang berasal dari budaya berbeda. Dalam kasus serupa, si pengirim
mengodekan pesan dengan menggunakan filter budaya mereka dan si penerima mendekodekan pesan
yang sama dengan menggunakan filter mereka. Hasil dari penggunaan filter budaya yang berbeda
sering kali berupa kesalahpahaman yang membutuhkan biaya mahal untuk dipecahkan. Sebagai contoh,
kontrak antara Boeing dan sebuah perusahaan pemasok Jepang yang menentukan bahwa panel badan
pesawat terbang Boeing 767 harus memiliki “lapisan akhir seperti cermin (mirror finish)”. Biaya tenaga
kerja untuk bagian tersebut lebih tinggi dari yang diperkirakan karena pemasok Jepang tersebut
memoles dan memoles kembali panel tersebut untuk mendapatkan penyelesaian yang diinginkan
menurut mereka, sementara yang diinginkan oleh Boeing hanyalah permukaan yang mengkilap.

Komunikasi Non Verbal

Anggota suatu masyarakat berkomunikasi satu sama lain dengan menggunakan lebih dari sekedar
kata-kata. Bahkan, beberapa periset menyakini bahwa 80 % hingga 90 % dari semua informasi yang
disampaikan di antara anggota suatu budaya dengan cara selain menggunakan Bahasa. Komunikasi non
verbal ini meliputi ekspresi wajah, gerakan tangan, intonasi, kontak mata posisi tubuh, dan postur
tubuh. Di Amerika Serikat, sebagai contoh pelaku bisnis sering memberi salamkepada kolega,
pelanggan, atau pemasok dengan jabatsn tangan. Di Brasil, pelukan, tepukan dibahu, dan ciuman di

9
pipi, serta jabatan tangan, dapat diterima, tergantung pada gender, lamanya hubungan, dan tingkat
kepercayaan di antara kedua individu tersebut. Meskipun sebagian besar anggota suatu masyarakat
dengan cepat memahami bentuk komunikasi nonverbal yang lazim dalam masyarakat mereka, pihak
luar mungkin merasa komunikasi nonverbal tersebut sulit dipahami.

Oleh karena perbedaan budaya, bentuk komunikasi nonverbal sering kali dapat menimbulkan
kesalahpahaman. Sebagai contoh, di Amerika Serikat, orang-orang yang mendiskusikan bisnis di
sebuah pesta biasanya berdiri dengan jarak 20 inci dari satu sama lain. Di Arab Saudi, jarak percakapan
normalnya adalah 9 hingga 10 inci. Seorang pembisnis AS yang bercakap-cakap dengan rekannya di
Saudi di sebuah pesta akan merespons usaha sopan santun si orang Saudi untuk mendekat dengan secara
sopan menjauh. Masing-masing bertindak secara sopan dalam konteks budayanya sendiri dan
menghina orang lain dalam konteks budaya orang tersebut.

Perbedaan dalam arti gerakan tangan dan ekspresi wajah juga terdapat di antara budaya yang
berbeda. Menganggukan kepala seseorangberarti “ya” di Amerika Serikat, tetapi berarti “tidak” di
Bulgaria. Menyentuhkan ibu jari dan jari telunjuk untuk membentuk lingkaran sembari meluruskan
ketiga jari lainnya adalah sinyal untuk “oke” di Amerika Serikat; tetapi, tanda ini menyimbolkan uang
kepada orang Jepang, Kesia-siaan kepada orang Prancis, Homoseksual laki-laki kepada orang Malta,
dan kekasaran di banyak bagian Eropa Timur. Tidak perlu dikatakan lagi, pelaku bisnis international
harus menghindari membuat gerakan dibudaya asing kecuali mereka merasa yakin akan arti gerakan
tersebut dalam budaya itu.

Bahkan, sikap diam mempunyai arti. Orang-orang Amerika Serikat cenderung tidak menyukai
keheningan pada pertemuan atau dalam percakapan pribadi, Karen amenyakini bahwa keheningan
mencerminkan ketidakmampuan untuk berkomunikasi atau berempati. Di Jepang sikap diam dapat
mengindikasikan bahwa individu tersebut sedang berfikir atau bahwa percakapan lebih jauh akan tidak
harmonis. Para negosiater AS sering kali menyalahpahami sikap diam dari rekan mereka di Jepang dan
menawarkan kelonggaran kontrak ketika tidak dibutuhkan, hanya untuk mengakhiri keheningan dalam
diskusi. Sikap diam juga memengaruhi gaya manajemen. Di Amerika Serikat manager yang baik
bertugas memecahkan masalah, jadi manager AS sering berusaha untuk mendominasi diskusi
kelompok untuk memberikan tanda kompetensi dan kemampuan kepemimpinan mereka. Di Jepang
manager yang baik bertugas mendorong bawahan mereka untuk mencari solusi yang dapat diterima
oleh semua pihak yang terlibat. Oleh karena itu, seorang Manager Jepang akan mendemonstrasikan
kepemimpinan dengan sikap diam, dengan demikian akan mendorong partisipasi penuh oleh bawahan
yang mengadiri pertemuan dan mempromosikan mufakat kelompok.

10
Pemberian Hadiah dan Keramahtamahan

Pemberian hadiah dan keramahtamahan adalah sarana penting untuk berkomunikasi dalam
berbagai budaya bisnis. Etiket bisnis Jepang membutuhkan keramahtamahan yang penuh perhatian.
Acara makan resmi dan hiburan setelah jam kerja berguna untuk membangun ikatan personal dan
keharmonisan kelompok diantara para peserta. Ikatan personal ini dapat diperkuat dengan pertukaran
hadiah, yang bervariasi menurut kesempatan dan status dari si pemberi dan si penerima. Namun, hadiah
bisnis harus dibuka secara pribadi agar tidak menyebabkan pemberi kehilangan muka karena hadiah
tersebut terlalu mahal atau terlalu murah terhadap hadiah yang diberikan sebagai balasannya. Oleh
karena aturan untuk memberikan hadiah dapat cukup rumit, bahkan bagi penduduk asli Jepang, tersedia
buku etiket yang merinci hadiah yang layak untuk setiap keadaan.

Pelaku bisnis di Arab seperti halnya di Jepang, memerhatikan kemampuan mereka untuk bekerja
dengan mitra bisnis yang diusulkan. Budaya bisnis negara-negara Arab juga meliputi pemberian hadiah
dan keramahtamahan yang indah dan rumit sebagai sarana untuk menilai kualitas-kualitas ini. Namun,
demikian, tidak seperti di Jepang, hadiah bisnis di buka di muka umum sehingga semua orang dapat
mengetahui kedermawanan si pemberi.

Adat kebiasaan keramahtamahan juga berbeda. Ketika memanjakan klien, eksekutif AS yang
mengajak makan siang sering kali mencari meja yang paling menyolok di sebuah restoran mewah
sebagai cara untuk mengomunikasikan status dan kekuatan mereka. Namun di CIna, acara seperti ini
biasanya bertempat di sebuah ruang makan khusus restoran mahal. Keinginan untuk “melihat dan
dilihat” dari eksekutif AS adalah kebalikan dari keinginan eksekutif Cina untuk mendapatkan privasi.

Norma keramahtamahan bahkan mempengaruhi cara berita buruk disampaikan dalam berbagai
budaya. Di Amerika Serikat berita buruk biasanya diberikan segera setelah diketahui. Di Korea berita
buruk disampaikan di akhir hari sehingga tidak akan merusak seluruh hari penerima berita. Lebih lajut,
agar tidak menganggu hubungan personal, berita buruk hanya diisyaratkan saja. Di Jepang berita buruk
akan dikomunikasikan secara informal dari anggota junior sebuah tim negosiasi kepada anggota junior
dari tim yang lain. Bahkan yang lebih baik lagi, pihak ketiga dapat digunakan untuk mengirimkan pesan
untuk mempertahankan keselarasan dalam kelompok.

Agama

Agama adalah aspek penting dari sebagian besar masyarakat. Agama mempengaruhi cara anggota
masyarakat dalam berhubungan dengan satu sama lain dan dengan pihak luar. Sekitar 84 % dari 6,9
milyar penduduk dunia mengklaim beberapa afiliasi keagamaan.

11
Agama membentuk sikap dari penganutnya terhadap kerja, konsumsi, tanggung jawab social, dan
perencanaan untuk masa depan. Sosiolog Max Weber,sebagai contoh, telah menghubungkan
meningkatnya kapitalisme di Eropa Barat dengan Etika Protestan (protestant ethic), yang menekankan
kerja keras, kesederhanaan, dan pencapaian individual sebagai cara untuk memuliakan tuhan. Etika
Protestan menghargai tingkat hubungan tinggi, terus-menerus berjuang untuk efisiensi, dan investasi
kembali terhadap laba untuk meningkatkan produktivitas di masa depan, yang semuanya dibutuhkan
untuk berfungsinya ekonomi kapitalis secara lancar.

Sebaliknya, Hinduisme menekankan pencapaian spiritual daripada keberhasilan ekonomi. Tujuan


seorang yang beragama Hindu adalah untuk mencapai persatuan dengan Brahma, roh universal, dengan
menjalani kehidupan yang semakin mengarah ke pertapaan dan kemurnian saat kepemilikan materi
dapat menunda perjalanan spiritual seseorang. Jadi, Hinduisme memberikan secara terus-menerus
mengejar produktivitas dan efisiensi yang lebih tinggi.

Agama Islam, meskipun mendukung kapitalisme, memberikan penekanan yang lebih besar pada
kewajiban individu terhadap masyarakat. Menurut agama Islam, laba yang didapatkan dari transaksi
bisnisyang adil adalah sesuatu yang dibenarkan, tetapi laba perusahaan tidak dapat dihasilkan dari
eksploitasi atau penipuan, misalnya dan semua Muslim diharapkan untuk berlaku dermawan, adil dan
rendah hati dalam berhubungan dengan orang lain.

Agama mempengaruhi lingkungan bisnis dengan cara penting lainnya. Sering kali agama
memberikan batasan pada peran individu dalam masyarakat. Sebagai contoh, system kasta dari
Hinduisme secara tradisional telah membatasi pekerjaan yang dapat dilakukan seorang individu,
sehingga mempengaruhi pasar tenaga kerja dan menutup kesempatan bisnis. Negara yang didominasi
oleh penganut agama islam yang taat seperti Arab Saudi, membatasi kesempatan kerja bagi wanita ,
dengan keyakinan bahwa kontak mereka dengan laki-laki dewasa harus dibatasi pada saudara. Agama
juga dapat mempengaruhi bagaimana produk di jual. Di Nigaria, periklanan didaerah selatan yang
didominasi agama Kristen dapat menampilkan wanita menarik yang mengucapkan kata-kata yang
berarti ganda, mengikuti ajaran tua Madison Avenue bahwa “ seks dapat menjual” sedangkan di daerah
utara yang didominasi Muslim pendekatan itu tidak bermanfaat.

12
PETA 2.3 Agama-agama besar di Dunia

Agama juga mempengaruhi jenis produk yang dapat dibeli konsumen serta pola musiman
konsumsi. Di sebagian besar negara Kristen sebagai contoh, musim natal mewakili waktu penting
untuk memberikan hadiah, tetapi sedikit bisnis yang dilakukan pada hari Natal itu sendiri. Meskipun
konsumsi meledak selama liburan Natal, produksi menurun siring karyawan mengambil cuti untuk
mengunjungi teman dan keluarga.

Dampak agama pada bisnis internasional bervariasi dari satu negara ke negara lain, tergantung pada
system hukum negara tersebut, homogenitas keyakinan agamanya, dan toleransinya terhadap
pandangan agama lain. Pertimbangkan Arab Saudi, tempat dari kota suci Mekkah, dima seluruh umat
mslim diharapkan untuk naik haji suatu saat dalam kehidupan mereka. Ajaran Quran membentuk dasar
dari hokum teokratis negara ini, dan 99% dari Populasi Saudi adalah muslim. Terdapat tekanan politik
yang kuat dari dalam negara tersebut untuk mempertahankan tradisi keagamaannya. Mustahil untuk
melebih-lebihkan pentingnya pelaku bisnis asing untuk memahami prinsip-prinsip islam dalam
penerapannya pada ekspor, produksi, pemasaran atau pembiayaan barang di Pasar Saudi.

Namun, di banyak negara lain agama meskipun penting, tidak merasuki setiap segi kehidupan.
Sebagai contoh, di banyak negara Amerika Selatan sebagian besar populasinya beragama Katolik

13
Roma. Namun, agama lainnya juga dipraktikkan dan toleransi terhadap agama-agama tersebut tinggi.
Gereja Katolik merupakan pilar penting dari masyarakat ini, tetapi hanya salah satu dari banyak instansi
yang memengaruhi dan membentuk kehidupan sehari-hari warganya.

Ironisnya, negara-negara yang ditandai oleh keragaman agama dapat memberikan tantangan yang
bahkan lebih besar. Perusahaan yang beroperasi di kota cosmopolitan London dan New York seperti
Barclays Bank, Hoffmann-LaRoche dan IBM, harus mengakomodasi mempertimbangkan perbedaan
dalam hari libur agama, larangan makanan atau adat kebiasaan, dan hari Sabat. Perusahaan yang gagal
menyesuaikan diri terhadap kebutuhan-kebutuhan ini dapat menderita ketidakhadiran, moral yang
rendah, dan hilangnya penjualan.

Nilai dan Sikap

Budaya juga mempengaruhi nilai dan sikap anggota- anggota suatu masyarakat. Nilai adalah prinsip
dan standar yang diterima anggota- anggota tersebut; sikap terdiri atas tindakan, perasaan, dan
pemikiran yang dihasilkan nilai- nilai tersebut. Nilai- nilai budaya sering berasal dari kepercayaan yang
sangat mendalam tentang kedudukan individu dalam hubungan dengan Yang Ilahi, keluarga, dan
hierarki sosial. Sikap budaya terhadap faktor- faktor seperti waktu, umur, pendidikan, dan status
mencerminkan nilai- nilai ini dan pada gilirannya membentuk perilaku dan kesempatan yang tersedia
bagi bisnis- bisnis internasional dalam suatu negara tertentu.

Waktu

Sikap terhadap waktu berbea secara dramatis di seluruh budaya. Dalam budaya NAglo-Saxon, sikap
yang berlaku adalah “Waktu adalah uang”. Waktu yang mewakili kesempatan untuk memproduksi
lebih banyak dan meningkatkan pendapatan seseorang, jadi waktu tidak boleh disia-siakan. Sikap ini
yang mendasari etika Protestan, yang mendorong orang untuk memperbaiki posisi mereka dalam hidup
melalui kerja keras, dan keyakinan puritan bahwa “tangan yang menganggur adalah tempat kerja iblis”.
Sebagai akibtanya, para pelaku bisnis Amerika dan Kanada mengharapkan pertemuan dimulai tepat
waktu , dan membuat seseorang menunggu dianggap sangat tidak sopan.

Namun, dalam budaya Amerika Latin, jarang ada peserta yang merasa aneh jika suatu pertemuan
dimulai 45 menit setelah waktu yang di janjikan. Dalam budaya Arab, pertemuan tidak hanya dimulai
lebih lambat dari waktu yang ditentukan, tetapi mungkin juga terganggu oleh keluarga dan teman yang
masuk untuk bersenda gurau.

14
Usia

Perbedaan budaya yang penting ada dalam sikap terhadap usia. Kemudaan dianggap sebagai
sesuatu yang baik di Amerika Serikat. Banyak perusahaan AS mancurahkan banyak waktu dan energy
untuk mencari “pekerja jalur cepat” muda dan memberi mereka tugas yang berat dan penting,seperti
menegosiasikan join venture dengan mitra international. Namun dalam budaya Asia dan Arab, usia
adalah sesuatu yang dihormati dan reputasi seorang manajer dikaitkan dengan usia. Perbedaan budaya
ini dapat menimbulkan permasalahan. Sebagai contoh, banyak perusahaan asing salah mengirim
eksekutif muda jalur cepat untuk bernegosiasi dengan pemerintah Cina. Meski demikian, orang-orang
Cina ini, lebih memilih untuk berurusan dengan anggota perusahaan yang lebih tua dan lebih senior,
dan karenanya dapat tersinggung oleh pendekatan ini.

Dalam budaya perusahaan Jepang, usia dan peringkat sngat berkaitan, tetapi manajer senior (definisnya
adalah lebih tua) tidak akan memberikan persetujuan terhadap suatu proyek sebelum mereka
mendapatkan mufakat daripada manajer junior.

Pendidikan

Sistem formal pendidikan negeri dan swasta sebuah negara adalah penyiar dan refleksi penting dari
Nilai-nilai budaya dari masyarakatnya. Misalnya, sekolah dasar dan menegah di AS menekankan para
individu dan menekankan pengembangan kemandirian, kreativitas, dan harga diri. Amerika Serikat
membanggakan dirinya untuk memberikan akses luas terhadap pendidikan tinggi. Universitas riset,
perguruan tinggi seni liberal, dan perguruan tinggi komunitas hidup berdampingan untuk memenuhi
kebutuhan pendidikan mahasiswa dengan pendapatan dan talenta intelektual yang berbeda. Sebaliknya,
Inggris dengan bercermin pada system kelasnya di masa lalu, secara historis telah memberikan
pendidikan elit kepada jumlah mahasiswa yang relative kecil. Jerman mempunyai program magang
yang maju yang melatih generasi baru dan ahli mesin yang terampil untuk sector manufakturnya.
System pendidikan Jepang dan Prancis mempunyai focus yang berbeda. Sekolah dasar dan menenagh
di negara tersebut berkonsentrasi untuk menyiapkan murid untuk mengikuti ujian masuk perguruan
tinggi nasional. Murid yang bernilai tinggi dapat memasuki Universitas prestisius yang berjumlah
sedikit seperti Universitas Tokyo atau Universitas Kyoto di Jepang dan lima grandes ‘ecoles di Prancis
yang hampir manjamin penempatan lulusan mereka di pekerjaan perusahaan dan pemerintah yang
paling penting dalam masyarakat mereka.

15
Status

Cara untuk mendapatkan status juga bervariasi di berbagai budaya. Di sejumlah masyarakat, status
diwariskan dari kekayaan atau peringkat leluhur seseorang. Pada masyarakat yang lain, status yang di
dapatkan oleh individu melalui prestasi pribadi atau prestasi professional. Di beberapa negara Eropa,
sebagai contoh, kebangsawanan akan memberikan status yang lebih tinggi dibandingkan prestasi
pribadi, dan orang yang mewarisi kekayaannya memandnag rendah kepada orang kaya baru. Namun,
di Amerika Serikat, wiraswasta yang bekerja keras sangat dihormati, dan anak-anak mereka sering kali
diremehkan jika mereka gagal menandingi pencapaian orang tuanya.

Di Jepang, status seseorang tergantung pada status kelompok di mana Ia berada. Jadi pelaku bisnis
Jepang sering memperkenalkan diri mereka dengan menyebutkan tidak hanya nama mereka, tetapi juga
afiliasi perusahaan mereka. Pendidikan di Universitas elit seperti Universitas Tokyo atau pekerjaan di
organisasi elit seperti Toyota Motor Corporation atau Kementrian Keuangan memberikan status tinggi
dalam masyarakat Jepang.

Di India status dipengaruhi oleh kasta seseorang. System kasta membagi masyarakat ke dalam beragam
kelompok yang meliputi Brahmana (pendeta dan intelektual), Kesatria (prajurit dan pemimpin politik),
Waisya (pelaku bisnis), Sudra (Petani dan pekerja), dan Dalit (yang tidak tersentuh) yang melakukan
pekerjaan yang paling kotor dan paling tidak menyenangkan.

Lihat Hutannya, Bukan Pohonnya

Berbagai unsur budaya nasional mempengaruhi perilaku dan ekspetasi manajer dan karyawan di tempat
kerja. Para pelaku bisnis internasional, yang menghadapi tantangan untuk mengelola dan memotivasi
karyawan dengan latar belakang budaya yang berbeda, perlu memahami unsur-unsur budaya ini jika
mereka ingin menjadi manajer yang efektif. Namun, bagi mahasiswa pemula dalam bisnis
internasional, diskusi mengenai unsur-unsur budaya ini dapat membingungkan. Selain itu, banyak
mahasiswa dan pelaku bisnis menjadi panik karena berpikir harus mengingat banyak sekali aturan
“orang Prancis melakukan ini, Orang Saudi melakukan itu,” dan seterusnya. Untungnya, banyak
cendekiawan telah berusaha mengerti berbagai unsur budaya ini. Usaha mereka telah membuatnya
lebih mudah bagi manager internasional untuk memahami gambaran besar dari budaya suatu negara
dan bagaimana budaya tersebut mempengaruhi kemampuan mereka untuk mengelola perusahaan
mereka. Dalam bagian ini, kita menghadirkan karya dari berbagai cendekiawan ini.

16
2.3 Pendekatan Konteks Rendah-Konteks Tinggi Hall

Salah satu cara yang berguna untuk mencirikan perbedaan dalam budaya adalah pendekatan
konteks rendah-konteks tinggi yang dikembangkan oleh Edward dan Mildred Hall. Dalam budaya
konteks rendah (low-context culture), kata-kata yang digunakan oleh pembicara secara eksplisit
menyampaikan pesan pembicara kepada pendengar. Negara-negara Anglo-Saxon, seperti Kanada,
Inggris dan Amerika Serikat dan negara-negara Jermanik merupakan contoh dari budaya konteks
rendah. Dalam budaya konteks tinggi (high-context culture), konteks dimana percakapan terjadi sama
pentingnya dengan kata-kata yang diucapkan, dan petunjuk budaya adalah sesuatu yang penting dalam
memahami apa yang dikomunikasikan. Contohnya adalah negara-negara Arab dan Jepang.

Perilaku bisnis dalam budaya konteks tinggi serng berbeda dengan budaya konteks rendah. Sebagai
contoh, periklanan Jerman biasanya berorientasi fakta. Sementara periklanan Jepang biasanya
berorientasi emosi. Budaya konteks tinggi menempatkan nilai yang lebih tinggi pada hubungan
interpersonal dalam memutuskan untuk memasuki sebuah perjanjian bisnis. Dalam budaya seperti ini,
pertemuan awal sering diadakan untuk menentukan apakah pihak-pihak yang terlibat dapat saling
mempercayai dan bekerja sama dengan nyaman. Budaya konteks rendah menempatkan kepentingan
lebih besar pada persyaratan tertentu dari suatu transaksi. Dalam budaya konteks rendah seperti
Kanada, Inggris dan Amerika Serika, pengacara sering hadir dalam negosiasi untuk memastikan bahwa
kepentingan klien mereka dilindungi. Sebaliknya, dalam budaya konteks tinggi seperti Arab Saudi,
Jepang dan Mesir, kehadiran pengacara, khususnya pada pertemuan awal dari para peserta, akan
dipandang sebagai ketidakpercayaan. Oleh karena budaya ini menghargai hubungan jangka panjang,
maka asumsi oleh mitra potensial adalah bahwa seseorang yang tidak dipercaya dapat menjadi dasar
yang cukup kuat untuk mengakhiri negoisasi.

17
Contoh Budaya Konteks Rendah dan Tinggi

Budaya Konteks Rendah Budaya Konteks Tinggi

Jerman Cina

Swiss Korea

Austria Jepang

Skandinavia Vietnam

AS/ Kanada Arab

Inggris Yunani

Australia Spanyol

2.4 Pendekatan Klaster Budaya


Pendekatan klaster budaya adalah teknik lainnya untuk mengklasifikasi dan memahami budaya
nasional. Terdapat kemiripan diantara banyak budaya, sehingga mengurangi beberapa kebutuhan untuk
menyesuaikan praktik bisnis untuk memenuhi permintaan budaya lokal. Para antropolog, sosiolog, dan
sarjana bisnis internasional telah menganalisis fakto – faktor tersebut seperti kepuasan kerja, peran
kerja, dan relasi kerja interpersonal dalam usaha untuk mengidentifikasi klaster negara yang
mempunyai kesamaan niai – nilai budaya yang dapat mempengaruhi praktik bisnis. Klaster budaya
(cultural cluster) terdiri dari negara – negara yang mempunyai banyak kesamaan budaya, meskipun
tetap ada perbedaan. Banyak klaster didasarkan pada kesamaan bahasa, seperti tampak dalam klaster
Anglo, Jermanik, Amerika Latin dan Timur Tengah (kecuali Turki) dan hingga tingkat tertentu, klaster
Nordik dan Amerika Latin.

Banyak bisis internasional secara insting meggunakan pendekatan klaster budaya dalam
merumuskan strategi internasionalisasi mereka. Usaha ekspor pertama perusahaan AS sering berfokus
pada Kanaada dan Inggris. Perusahaan Hong Kong dan Taiwan telah berhasil dalam mengeksploitasi
pasar Cina. Hal serupa, benyak perusahaan Spanyol di Amerika.

18
2.5 Lima dimensi Hofstede

A. Orientasi sosial

Orientasi sosial adalah keyakinan seseorang tentang relative pentingnya individu dan
kelompoknya. Kedua titik ekstrim orientasi sosial adalah individualisme dan kolektivisme.
Individualisme adalah keyakinan budaya bahwa orang tersebut harus didahulukan. Nilai-nilai utama
orang-orang individualistik adalah tingkat harga diri yang tinggi (self respect) dan kemerdekaan.
Orang-orang ini sering menempatkan kepentingan karirnya di atas kebaikan organisasinya dan mereka
cenderung menilai keputusan-keputusan dari sisi bagaimana keputusan itu mempengaruhi mereka
sebagai individu. Kolektivisme adalah pandangan bahwa kelompok didahulukan. Masyarakat yang
cenderung bersifat kolektifistik biasanya dicirikan jaringan sosial yang ditetapkan dengan jelas,
termasuk keluarga besar, suku, dan rekan kerja.

B. Orientais kekuasaan

Orientasi kekuasaan merujuk pada keyakinan bahwa orang dalam suatu budaya memiliki
pandangan tentang kewajaran kekuasaan dan perbedaan wewenang dalam berbagai hierarki seperti
organisasi bisnis. Bentuk ekstrim dimensi orientasi kekuasaan adalah rasa hormat terhadap kekuasaan
(power respect) dan toleransi kekuasaan (power tolerance). Rasa hormat terhadap kekuasaan ini berarti
bahwa masyarakat dalam suatu budaya cenderung menerima kekuasaan dan wewenang atasannya
semata-mata berdasarkan kedudukan atasan tersebut dalam hierarki itu. Sebaliknya orang-orang dalam
budaya yang bercirikan toleransi kekuasaan memberikan peran penting yang jauh lebih kecil terhadap
kedudukan seseorang dalam hierarki tersebut.

C. Orientasi ketidakpastian

Orientasi ketidakpastian adalah perasaan yang dimiliki seseorang tentang situasi yang tidak pasti
atau ambigu. Bentuk-bentuk ekstrim dimensi ini adalah penerimaan ketidakpastian (uncertainty
acceptance) dirangsang oleh perubahan dan berkembang dari peluang-peluang baru. Ambiguitas
dipandang sebagi suatu konteks dimana individu dapat tumbuh, berkembang dan menghasilkan
kesempatan-kesempatan baru. Dalam budaya ini kepaastian mengandung pengertian keadaan monoton,
rutinitas dan struktur yang terlalu memaksa. Sebaliknya orang-orang dari budaya yang bercirikan
penghindaran ketidakpastian tidak menyukai ambiguitas dan sedapat mungkin akan menghindarinya.
Ambiguitas dan perubahan dipandang sebagai sesuatu yang tidak diinginkan. Orang-orang ini
cenderung menyukai cara-cara yang terstruktur, rutin dan bahkan birokratis dalam menjalankan sesuatu

19
D. Orientasi sasaran

Orientasi sasaran adalah sikap dimana orang termotivasi untuk bekerja karena jenis sasaran yang
berbeda. Salah satu bentuk ekstrim dalam orientasi sasaran adalah perilaku sasaran agresif (aggressive
goal behavior). Orang-orang yang menunjukkan perilaku sasaran agresif cenderung memberikan nilai
yang tinggi pada kepunyaan materi, uang dan ketegasan. Pada bentuk ekstrim lain orang yang menganut
perilaku sasaran pasif (passive goal behavior) memberikan nilai yang lebih tinggi pada hubungan sosial,
kualitas hidup, dan perhatian kepada orang lain. Budaya yang menghargai perilaku sasaran yang agresif
juga cenderung menentukan peran-peran berdasarkan gender yang agak kaku, sementara budaya
menekankan perilaku sasaran pasif tidak demikian.

E. Orientasi waktu

Orientasi waktu adalah sejauh mana anggota-anggota suatu budaya menganut pandangan jangka
pendek versus jangka panjang terhadap pekerjaan, kehidupan, dan aspek-aspek masyarakat lainnya.

Individualisme ORIENTASI SOSIAL Kolektivisme


Kepentingan-kepentingan Relatif pentingnya kepentingan- Kepentingan-kepentingan
individu didahulukan kepentingan individu vs. kelompok didahulukan
kepentingan kelompok

Hormat terhadap Kekuasaan ORIENTASI KEKUASAAN Toleransi Kekuasaan


Kekuasaan melekat dalam posisi Kepatutan kekuasaan/wewenang Individu menilai kekuasaan dari
seseorang dalam suatu hierarki dalam organisasi segi persepsi tentang keadilannya
atau kepentingan-kepentingan
pribadinya sendiri
Penerimaan Ketidak pastian ORIENTASI Penghindaran Ketidak pastian
Tanggapan positif terhadap KETIDAKPASTIAN Lebih menyukai struktur dan
perubahan dan kesempatan- Tanggapan emosional terhadap rutinitas yang konsisten
kesempatan baru ketidak pastian dan perubahan

Perilaku Agresif ORIENTASI SASARAN Perilaku Sasaran Pasif


Menghargai pemilikan materi, Apa yang memotivasi orang Menghargai relevansisosial,
uang, dan ketegasan untuk mencapai tujuan yang kualitas hidup, dan kesejahteraan
berbeda orang lain

Pandangan Jangka Panjang ORIENTASI WAKTU Pandangan Jangka Pendek


Menjunjung tinggi dedikasi, Sejauh mana anggota-anggota Menjunjung tinggi tradisi,
kerja keras, dan sikap hemat suatu budaya mempunyai kewajiban-kewajiban sosial
pandangan jangka panjang atau
jangka pendek terhadap
pekerjaan dan kehidupan

20
2.6 Manajemen Internasional dan Perbedaan Budaya
Memahami Budaya Baru

Ketika berhadapan dengan budaya baru, banyak pebisnis internasiona lmelakukan kesalahan
dengan mengandalkan criteria acuan pribadi (self-reference criterion), yaitu penggunaan tanpa sadar
budaya sendiri seseorang untuk membantu menilai lingkungan-lingkungan baru.Pelaku bisnis
internasional yang berhasil yang bepergian keluar negeri harus ingat bahwa mereka adalah orang asing
dan harus mencoba bersikap sesuai dengan aturan-aturan budaya yang berlaku. Ada sejumlah cara
untuk memperoleh pengetahuan tentang budaya-budaya lain guna mencapai kecakapan lintas budaya
(cross cultural literacy).

Kecakapan lintas budaya adalah langkah pertama dalam akulturasi, yaitu proses di mana orang-
orang bukanhanya memahami budaya asing, namun juga mengubah dan menyesuaikan perilaku mereka
guna menjadikannya lebih sesuai dengan budayatersebut. Akulturasi sangat berperan penting bagi
manajer Negara pendatang yang sering berinteraksi dengan penduduk negara tujuan. Misalnya, manajer
pabrik dari negaraasa lataudirektur pemasaran yang bekerja di Negara asing pada anak perusahaan di
luar negeri.

21
BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Pengertian dari kebudayaan itu sendiri merupakan sesuatu unsur-unsur dari masyarakat yang
melekat sejak dahulu kala dan erat kaitanya dengan berdirinya sebuah bangsa atau negara. Setiap negara
memiliki berbagai kebudayaan yang berbeda baik dalam hal agama, kepercayaan, ras, suku, bahasa dan
norma sosial.

Kebudayaan juga memiliki beberapa elemen-elemen penting yang memilik erat kaitanya dengan
pola perilaku masyarakat di sebuah negara yang dapat mempengaruhi kegiatan bisnis pelaku bisnis
yang berselaka internasional.

Beberapa pendekatan sosial budaya yang menjadi pedoman bagi pelaku bisnis untuk masuk dalam
kegiatan ekonomi negara tertentu untuk dapat menyelaraskan kepentingan perusahaan dengan
sumberdaya yang ada pada negara tersebut mengacu pada perfektif pandangan sosial untuk membuka
pasar yang ada tampa adanya kesenjangan terhadap pemrintah dan masyarakat di negara itu sendiri.

Banyak sekali aspek-aspek dalam kebudayaan yang akan mempengaruhi perusahaan untuk
mencapai keefektifan dan keefisiensian perusahaan maka perusahaan khususnya lingkup manajemen
perusahaan sangat perlu memahami pengaruh aspek-aspek budaya tersebut.

Kegiatan bisnis internasional sangat terpengaruh pada budaya-budaya lokal khususnya perusahaan
multinasional maka sangat diperlukan strategi yang efektif dalam fungsi bisnisnya semisal dalam proses
promosi, manajemen sumberdaya manusia, produksi, dan dalam bidang keuangan.

22

Anda mungkin juga menyukai