Anda di halaman 1dari 21

BAB III

PEMBAHASAN
Asuransi di Indonesia

Jenis asuransi di Indonesia sangat banyak dan bervariasi, di antaranya adalah:

1. Asuransi kesehatan
Asuransi ini memberi jaminan kesehatan terhadap orang yang memilikinya. Asuransi
ini bisa didapat dari agen asuransi, dari pemerintah, atau dari fasilitas kesehatan yang
diberikan di tempat kerja kita.
2. Asuransi jiwa
Asuransi ini bersifat memberi jaminan yang akan terjadi setelah pemilik asuransi
meninggal dunia. Melalui asuransi ini, keluarga pemilik asuransi yang ditinggalkan
tidak dibebankan untuk menanggung beban lebih berat setelah pemilik asuransi
meninggal. Melalui uang dari perusahaan asuransi tersebut diharapkan dapat
meringakan beban keluarga pemilik asuransi yang meninggal. Asuransi jiwa terbagi
menjadi dua bentuk yaitu:
a. Term Life, yaitu asuransi jiwa yang memiliki perjanjian dalam jangka
waktu tertentu. Cirinya adalah uang setoran preminya akan hangus pada
akhir periode perjanjian. Namun, umumnya nilai uang yang diberikan
asuransi ini lebih besar nominalnya.
b. Whole Life, yaitu asuransi jiwa yang memiliki masa
pertanggungjawaban seumur hidup. Preminya biasanya lebih mahal dari
pada Term Life. Asuransi ini biasanya memiliki nilai tunai yang
dibayarkan kepada keluarga jika yang tertanggung tidak meninggal
selama masa kontrak. Tetapi nilai yang diterima biasanya lebih kecil.
3. Asuransi pendidikan
Asuransi pendidikan memberikan jaminan dan perlindungan kepada orang yang
sedang menempuh pendidikan, biasanya diberikan kepada anak-anak. Asuransi ini
biasanya diberikan bersamaan dengan asuransi jiwa.
4. Asuransi kerugian

1
Asuransi ini disebut juga Non Life Insurance yang diatur dalam Undang
Undang No.2 tahun 1992 untuk menanggulangi kerugian atas suatu usaha.
Macam-macam asuransi ini adalah:
a. Asuransi kebakaran, yaitu asuransi terhadap proteksi atas kerugian yang
disebabkan oleh kebakaran, biasanya untuk kantor,rumah, hotel dan
lain- lain.
b. Asuransi pengangkutan, yaitu asuransi terhadap proteksi selama
pengangkutan barang, baik lewat jalur darat, laut, maupun udara.
Asuransi ini ada macamnya juga, yaitu asuransi kendaraan dan asuransi
kecelakaan.
Ada juga jenis asuransi lainnya yang ada di Indonesia seperti asuransi pensiun,
asuransi rumah, asuransi kendaraan, asuransi syariah, asuransi perjalanan,
dan asuransi investasi.

Asuransi Kesehatan
Jenis ini adalah asuransi yang paling banyak dan mudah ditemui. Asuransi
kesehatan biasanya diselenggarakan oleh perusahaan asuransi sosial, perusahaan
asuransi jiwa, dan perusahaan asuransi umum. Pada tahun 2009, ada sekitar 116,8
juta penduduk dari jumlah penduduk sekitar 230 juta penduduk Indonesia
yang memiliki asuransi kesehatan disediakan oleh PT Askes Indonesia, PT
Jamsostek, PT Asabri, program Jamkesmas, atau asuransi lain. Sedangkan pada
tahun 2010, ada sekitar 120,2 juta penduduk dari jumlah penduduk sekitar 237
juta penduduk Indonesia yang memiliki asuransi kesehatan yang disediakan oleh
perusahaan asuransi diatas juga. Asuransi kesehatan adalah salah satu jenis
produk asuransi yang secara khusus menjamin biaya kesehatan baik dalam
pengobatan kesehatan ataupun perawatan kesehatan para anggota asuransi
tersebut. Pada umumnya, jenis perawatan yang ditawarkan perusahaan asuransi
hanya perawatan bentuk rawat inap dan rawat jalan. Pada umumnya perusahaan
asuransi yang menyelenggarakan program asuransi kesehatan akan bekerja sama
dengan rumah sakit baik secara langsung maupun melalui institusi perantara untuk
menyelenggarakan perawatan kesehatan. Asuransi rawat jalan meliputi biaya

2
dokter, biaya diagnosis/lab, dan biaya obat. Biasanya, besar biaya yang
ditanggung ditentukan dengan limit maksimum untuk setiap komponen per
kunjungan/tahun dan frekuensi maksimum kunjungan dalam satu tahun. Ada
pembatasan yang diberlakukan perusahaan asuransi, yaitu mewajibkan rujukan
dokter umum sebelum kunjungan ke dokter spesialis dan juga pembatasan dimana
pertanggungan hanya diberikan bila pelayanan kesehatan dilakukan oleh penyedia
layanan yang terdaftar. Asuransi rawat jalan biasanya hanya merupakan manfaat
tambahan dari asuransi rawat inap. Sedangkan asuransi rawat inap meliputi biaya
rawat inap di rumah sakit, seperti biaya kamar, jasa dokter, obat-
obatan, laboratorium/penunjang diagnostik, pembedahan, dll. Penggolongan
asuransi rawat inap ini dilakukan berdasarkan kelas kamar. Ada berbagai alasan
masyarakat menolak untuk mengikuti sebuah asuransi, salah satunya karena
masyarakat menganggap kalau asuransi itu seperti bentuk taruhan yang berlaku
selama adanya ikatan. Taruhan ini seperti adanya perbedaan biaya yang dibayar
masyarakat terhadap perusahaan asuransi dibandingkan dengan jumlah kejadian
yang akan diterima masyarakat. Kejadian ini seperti taruhan yang berbanding 1
dengan 10, dimana masyarakat hanya sekali mengalami kejadian yang perlu
asuransi sedangkan yang sudah dibayar masyarakat ke perusahaan asuransi sudah
sepuluh kali. Hal inilah yang ada di pikiran beberapa orang sehingga susah untuk
ikut asuransi. Sebenarnya, asuransi menjadi cara untuk mengelola risiko dan upaya
preventif untuk mencegah ketidakmampuan penduduk membiayai pelayanan medis
yang mahal. Setiap orang memiliki kesempatan sakit yang tidak pasti, dan
menyebabkan adanya biaya untuk membayar upaya pemulihan sakit tersebut.
Biasanya, masyarakat tidak menyediakan biaya untuk pelayanan kesehatan setiap
bulannya di dalam rumahnya. Sehingga masyarakat akan kesulitan saat terjadi
kesakitan mendadak dan tidak ada biaya. Oleh karena itu, perusahaan asuransi
kesehatan mengelola asuransi kesehatan untuk risiko-risiko negatif, seperti
memastikan adanya penggantian biaya pemulihan kesehatan saat sakit. Perusahaan
asuransi akan memperhitungkan risiko yang melanda masyarakat untuk menghitung
besar premi yang harus dibayarkan seseorang.
Risiko-risiko yang dapat diasuransikan pada asuransi kesehatan adalah:

3
5. Risiko yang bersifat murni (pure), yaitu risiko yang spontan,
tidak dibuat- buat, tidak disengaja, atau dicari-cari dan tidak
dapat dihindari dalam jangka pendek. Risikonya ini memang
timbul karena sebuah kebetulan atau kecelakaan. Contohnya,
penyakit kanker yang membutuhkan perawatan yang lama dan
mahal, serta tidak pernah diharapkan oleh si penderita. Sehingga
penyakit ini dapat diasuransikan.
6. Risiko yang bersifat definitif, yang berarti bahwa risiko dapat
ditentukan kejadiannya secara pasti dan jelas serta dapat
dipahami berdasarkan bukti kejadiannya. Contohnya, sakit dan
kematian dibuktikan dengan surat keterangan dari dokter, dan
kecelakaan lalu lintas dibuktikan dengan surat keterangan polisi.
7. Risiko bersifat statis, yaitu probabilitas kejadian relatif statis atau
konstan tanpa dipengaruhi perubahan politik dan ekonomi
negara. Contohnya, penyakit kanker relatif statis dan tidak
dipengaruhi keadaan ekonomi dan politik, walaupun untuk
jangka panjang risiko serangan jantung dipengaruhi keadaan
ekonomi karena makanan yang dikonsumsi.
8. Risiko berdampak finansial, yang dapat diasuransikan karena
dapat diperhitungkan finansialnya. Contohnya, pada kecelakaan
yang menyebabkan ada biaya perawatan dan kehilangan
penghasilan akibat meninggal atau cacat, maka segalanya akan
ditanggung pihak asuransi.
9. Risiko measurable atau quantifiable, yaitu risiko dapat
diperhitungkan secara akurat. Contohnya, seseorang yang sakit
dapat menerangkan lokasi terjadi,

waktu kejadian, jenis penyakit, tempat perawatan, dan biaya yang


dibutuhkan, maka biaya yang dibutuhkan dapat ditanggung oleh
pihak asuransi.
10. Risiko besar, dimana derajat risiko itu relatif dan dapat berbeda
setiap tempat dan waktu. Besar risiko yang dapat ditanggung
4
oleh pihak asuransi harus memenuhi syarat ukuran yang
ditawarkan pihak asuransi. Biasanya, asuransi kesehatan akan
menjamin pelayanan kesehatan secara komprehensif karena
adanya kaitan risiko dengan biaya yang kecil dan pelayanan yang
perlu biaya besar. Contohnya, seseorang yang menderita DBD
akan ditanggung pengobatannya hingga ke pengobatan lanjutan.
Manfaat asuransi kesehatan adalah:

1. Mendekatkan akses masyarakat terhadap pelayanan kesehatan,


2. Mengubah peristiwa tidak pasti menjadi pasti dan terencana,
3. Membantu mengurangi risiko perorangan ke risiko sekelompok
orang dengan cara perangkuman risiko.
Dengan asuransi ini, terjadilah sikap saling tolong menolong, yakni yang
sehat menolong yang sakit dan yang kaya membantu yang miskin.
Ada bermacam-macam asuransi kesehatan, seperti asuransi
kesehatan perorangan, asuransi kesehatan keluarga, dan asuransi
kesehatan karyawan perusahaan. Namun asuransi kesehatan yang sering
digunakan adalah kedua macam proteksi asuransi berikut ini.
1. Asuransi yang menyediakan perlindungan rawat inap di rumah
sakit, terdiri atas dua macam.

a. Proteksi dengan sistem kartu (klaim dengan kwitansi asli), yang


berarti bahwa bila dirawat inap maka pembayarannya cukup
dengan menunjukkan kartu provider, sehingga seluruh biaya
rumah sakit ditanggung asuransi. Kelas perawatan disesuaikan
dengan premi yang dibayar. Proteksi ini cocok bagi pegawai
swasta, wiraswasta atau pekerja lepas yang belum mempunyai
proteksi rawat inap.
b. Proteksi dengan sistem reimbursement, yang berarti bahwa bila
saat dirawat, terlebih dahulu membayar seluruh biaya rumah
sakit, lalu diklaim ke pihak asuransi. Proteksi ini berupa
tunjangan rawat inap harian. Misalnya, bila dirawat lima hari,
5
maka lima hari itu dikalikan dengan besar tunjangan per hari.
Proteksi ini cocok untuk orang yang sudah mempunyai asuransi
dari perusahaan, karena proteksi reimbursement ini hanya untuk
menambah kekurangan biaya rawat inap saja.
2. Proteksi terhadap penyakit kritis. Proteksi ini cocoknya bagi orang
dewasa yang umurnya di atas 40 tahun karena sudah rentan
terkena berbagai penyakit. Ada dua macam proteksi ini.
a. Proteksi sakit kritis, yang berarti hanya memberi proteksi saat
penyakit sudah mencapai stadium kritis. Bila masih stadium
awal dan menengah maka belum bisa diklaim. Namun, jika
meninggal dunia dan belum pernah klaim, maka asuransi
penyakit kritis ini bisa menjadi santunan meninggal ke ahli
waris.
b. Proteksi sakit kritis di semua stadium, yang berarti memberi
proteksi sakit kritis mulai dari stadium awal, menengah,
hingga akhir. Namun, jika

meninggal dunia dan tidak pernah diklaim, maka asuransi ini


tidak bisa memberi santunan meninggal ke ahli waris.
Asuransi Kesehatan di Indonesia
Asuransi kesehatan di Indonesia ada berbagai jenis, seperti asuransi dari
pemerntah bagi rakyat dan asuransi kesehatan dari perusahaan bagi tenaga
kerjanya. Ada begitu banyak macam ataupun jenis asuransi kesehatan di Indonesia
yang dilindungi oleh Undang Undang. Saat sekarang ini, jaminan sosial dan
jaminan kesehatan di Indonesia telah diatur dalam Undang Undang no. 40 tahun
2004 tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional. Pada Undang Undang ini, asuransi
kesehatan dibedakan pengertiannya dengan jaminan kesehatan. Jaminan kesehatan
adalah sebuah bentuk jaminan yang berupa perlindungan kesehatan agar peserta
memperoleh manfaat pemeliharaan pelayanan kesehatan dan perlindungan dalam
memenuhi kebutuhan dasar kesehatan yang diberikan kepada setiap orang yang
telah membayar iuran atau iurannya dibayar oleh pemerintah. Sedangkan asuransi
kesehatan adalah sebuah jenis produk asuransi yang secara khusus menjamin
6
biaya kesehatan atau pelayanan perawatan para anggota asuransi kesehatan
tersebut jika mereka jatuh sakit atau mengalami kecelakaan.

Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS)


Badan Penyelenggara Jaminan Sosial atau BPJS diatur dalam UU No.
24 Tahun 2011 tentang BPJS, yang merupakan amanat dari UU No. 40 Tahun
2004 tentang SJSN. Pengertian BPJS menurut UU No. 40 Tahun 2004 tersebut
adalah:

11. badan hukum yang dibentuk untuk menyelenggarakan program


jaminan sosial (Pasal 1 angka 6),
12. badan hukum nirlaba (Pasal 4 dan Penjelasan Umum),
13. pembentukan dengan Undang-undang (Pasal 5 ayat 1).

BPJS mengelola Jaminan Sosial Nasional. Pada UU No. 24


Tahun 2011 tentang BPJS, pasal 5 dikatakan bahwa BPJS yang
dibentuk Undang-Undang ini terdiri dari BPJS Kesehatan dan BPJS
Ketenagakerjaan. Sedangkan pada pasal 6 dijelaskan bahwa, BPJS
Kesehatan menyelenggarakan program jaminan kesehatan dan BPJS
Ketenagakerjaan menyelenggarakan program Jaminan Kecelakaan
Kerja, Jaminan Hari Tua, Jaminan Pensiun, dan Jaminan Kematian.

Pada awalnya PT ASKES (Persero) dan PT JAMSOSTEK


(Persero) beralih dari badan usaha milik negara menjadi badan hukum
publik BPJS Kesehatan mulai 1 Januari 2014 dan BPJS Ketenagakerjaan
mulai 1 Juli 2015. Transformasi yang ada di BPJS ini diatur dalam UU
BPJS sebagai berikut.

1. PT ASKES (Persero) berubah menjadi BPJS Kesehatan dan mulai


beroperasi menyelenggarakan program jaminan kesehatan pada
tanggal 1 Januari 2014 (Pasal 60 ayat 1).

7
2. PT JAMSOSTEK (Persero) berubah menjadi BPJS
Ketenagakerjaan mulai tanggal 1 Januari 2014 (Pasal 62 ayat 1).
3. PT ASABRI (Persero) menyelesaikan pengalihan program
ASABRI dan program pembayaran pensiun ke BPJS
Ketenagakerjaan (Pasal 65 ayat 1).

4. PT TASPEN (Persero) menyelesaikan pengalihan program THT


dan program pembayaran pensiun ke BPJS Ketenagakerjaan (Pasal
65 ayat 1).
Proses selanjutnya yang dilakukan adalah membubarkan PT ASKES
(Persero) dan PT JAMSOSTEK (Persero) tanpa likuidasi. Sedangkan
PT ASABRI (Persero) dan PT TASPEN (Persero) tidak secara tegas
ditentukan dalam UU BPJS.
Sasaran UU BPJS ini adalah seluruh rakyat Indonesia. Kelompok
peserta yang dikelola BPJS Kesehatan ada dua kelompok, yaitu:
1. Peserta Penerima Bantuan Iuran (PBI), terdiri dari fakir miskin
dan orang tak mampu,
2. Peserta non-PBI, yang terdiri dari para Pegawai Negeri Sipil
(PNS), anggota Tentara Nasional Indonesia (TNI), anggota
Kepolisian Republik Indonesia (Polri), karyawan perusahaan
swasta, pekerja mandiri, bukan pekerja seperti veteran, penerima
pensiun, dan lain-lain.
Iuran kepesertaan di BPJS adalah sebagai berikut.

1. Semua Pegawai Negeri Sipil (PNS) secara langsung menjadi


peserta BPJS sejak 1 Januari 2014. Iurannya adalah 2% potongan
gaji ditambah subsidi pemerintah 3% dengan menjamin
maksimal lima orang yang terdiri dari suami, istri, dan tiga anak.
2. TNI dan POLRI membayar iuran 2% dari gaji, setelah pensiun
hak ini tetap sampai dengan meninggal.

3. Pekerja formal swasta membayar 2% dari penghasilannya per

8
bulan dan 3% dibayar oleh perusahaan.
4. Bagi pekerja sektor nonformal membayar iuran sebesar
Rp59.500,- per orang per bulan untuk rawat inap di kelas 1;
Rp42.500,- per orang per bulan untuk rawat inap di kelas 2, dan
Rp 25.500 per orang per bulan untuk rawat inap di kelas 3.
5. Iuran penduduk miskin dan orang tak mampu ditanggung
pemerintah.
Pelayanan kesehatan untuk peserta di BPJS diberikan di fasilitas
kesehatan milik Pemerintah atau swasta yang menjalin kerjasama
dengan badan penyelenggara jaminan sosial (UU No. 40 Tahun 2004
Pasal 23 ayat 1). Namun, bila dalam keadaan darurat, maka pelayanan
kesehatan dapat diberikan pada fasilitas kesehatan yang tidak menjalin
kerja sama dengan badan penyelenggara jaminan sosial (Pasal 23 ayat
2). Badan Penyelenggara Jaminan Sosial ini wajib memberikan
kompensasi untuk memenuhi kebutuhan medik peserta yang berada di
daerah yang belum tersedia fasilitas kesehatan yang memenuhi syarat.
Kompensasi dapat diberikan dalam bentuk uang tunai (UU No. 40 Tahun
2004 Pasal 23 ayat 3 dan penjelasannya). Pada pengembangan pelayanan
kesehatan, Badan Penyelenggara Jaminan Sosial menerapkan sistem
kendali mutu, sistem kendali biaya dan sistem pembayaran untuk
meningkatkan efektifitas dan efisiensi jaminan kesehatan serta untuk
mencegah penyalahgunaan pelayanan kesehatan (UU No. 40 Tahun
2004 Pasal 24 ayat 3 dan penjelasannya). Sistem kendali mutu berarti
sejumlah karyawan dengan pekerjaan sejenis yang bertemu secara
berkala untuk membahas dan memecahkan masalah-
masalah pekerjaan dan lingkungannya dengan tujuan meningkatkan
mutu usaha dengan menggunakan perangkat kendali mutu. Sedangkan
sistem kendali biaya adalah proses atau usaha yang sistimatis untuk
menetapkan standar pelaksanaan dengan tujuan perencanaan,
sistem informasi umpan balik, membandingkan pelaksanaan nyata
dengan perencanaan, menentukan dan mengatur penyimpangan, serta

9
melakukan koreksi perbaikan sesuai rencana, sehingga tujuan tercapai
secara efektif dan efisien dalam penggunaan biaya.
Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN)
Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN) adalah sistem yang dijalankan
oleh BPJS, yakni sebuah sistem gotong royong untuk kesehatan rakyat
Indonesia. Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN) merupakan sistem asuransi
sosial yang wajib bagi seluruh penduduk Indonesia dan warga negara asing
yang bekerja lebih dari enam bulan di Indonesia. Dasar hukum pelaksanaan
SJSN ini adalah:

14. UUD 1945 dan perubahannya tahun 2002, pasal 5, pasal 20,
pasal 28, dan pasal 34,
15. Deklarasi HAM PBB atau Universal Declaration of Human Rights
tahun 1948
dan konvensi ILO No.102 tahun
1952,

16. TAP.MPR.RI No. X/MPR/2001 yang menugaskan kepada


presiden RI untuk membentuk Sistem Jaminan Sosial Nasional,
dan
17. UU No.40 tahun 2004 tentang SJSN.

SJSN dibuat sesuai dengan “paradigma tiga pilar” yang


direkomendasikan oleh Organisasi Perburuhan Internasional (ILO).
Ketiga pilar tersebut adalah:

1. Program bantuan sosial untuk anggota masyarakat yang tidak


mempunyai sumber keuangan atau akses terhadap pelayanan
yang dapat memenuhi kebutuhan pokoknya, seperti anggota
masyarakat yang terbukti mempunyai kebutuhan mendesak, ada
terjadi bencana alam, konflik sosial, menderita penyakit, atau
kehilangan pekerjaan. Dana bantuan ini diambil dari APBN dan

10
dari dana masyarakat setempat.
2. Program asuransi sosial yang bersifat wajib. Program ini dibiayai
oleh iuran yang ditarik dari perusahaan dan pekerja sebesar iuran
yang ditetapkan berdasarkan tingkat pendapatan/gaji dan
berdasarkan suatu standar hidup minimum yang berlaku di
masyarakat.
3. Asuransi yang ditawarkan oleh sektor swasta secara sukarela,
yang dapat dibeli oleh peserta apabila mereka ingin mendapat
perlindungan sosial lebih tinggi daripada jaminan sosial yang
mereka peroleh dari iuran program asuransi sosial wajib. Oleh
karena itu, maka iurannya berbeda menurut analisis risiko dari
setiap peserta.

Pada SJSN ini, masyarakat mempunyai hak dan kewajiban.


Kewajibannya adalah bila seseorang itu pemberi kerja, maka dia wajib
mendaftarkan pekerjanya. Bila tidak mendaftarkan, maka akan
dikenakan sanksi. Sedangkan hak masyarakat tersebut adalah
mendapatkan kartu untuk mengakes pelayanan kesehatan dan

menerima informasi tentang prosedur SJSN dan hal-hal yang dijamin,


serta hak untuk mengeluh. SJSN ini menangani bagian promotif,
preventif, kuratif, dan rehabilitatif.

Ketentuan pada Undang-Undang SJSN adalah:

1. Penerima manfaat dari jumlah anggota keluarga sebanyak-banyaknya lima


orang yang terdiri dari istri/suami yang sah, anak kandung, anak tiri dari
perkawinan yang sah dan anak angkat yang sah (Pasal 20 ayat 1).
2. Fasilitas kesehatan yang menjalin kerjasama dengan BPJS bertugas
memberikan manfaat jaminan kesehatan kepada peserta (Pasal 23 ayat 1).
3. Pekerja yang memiliki anggota keluarga lebih dari lima orang dan ingin

11
mengikutsertakan anggota keluarganya, maka wajib membayar tambahan
iuran (Pasal 28 ayat 1).
4. Bila peserta membutuhkan rawat inap di rumah sakit maka kelas
pelayanan di rumah sakit diberikan berdasarkan kelas standar (Pasal 23
ayat 4). Ketentuan ini dihubungkan dengan prinsip ekuitas jaminan
kesehatan yang ditentukan dalam Pasal 19 ayat 1 UU SJSN.
5. Jenis pelayanan yang dapat menimbulkan penyalahgunaan pelayanan,
peserta akan dikenakan urun biaya. Jenis pelayanan dimaksud adalah
pelayanan yang membuka peluang moral hazard (sangat dipengaruhi oleh
selera dan perilaku peserta), misalnya pemakaian suplemen, pemeriksaan
diagnostik, dan tindakan yang tidak sesuai dengan kebutuhan medis. Urun
biaya dikenakan kepada setiap peserta yang meminta jenis pelayanan
tertentu (Pasal 22 ayat 2).

6. Tidak mewajibkan fasilitas kesehatan milik pemerintah atau swasta untuk


bekerjasama dengan BPJS. Secara hukum kerjasama dimaksud
menghendaki adanya kesepakatan diantara para pihak (Pasal 23 ayat 1).
7. Ketentuan mengenai unit pengendali mutu dan penanganan pengaduan
peserta diatur dalam Peraturan BPJS (Pasal 48).

Tolak ukur dikatakan bahwa SJSN telah berhasil dilaksanakan BJPS


dilihat dari jumlah orang yang dijamin. BPJS merencanakan pada tahun 2014
terdapat 70% masyarakat Indonesia ikut dalam program SJSN. Target lebih
tinggi yang dicanangkan oleh BPJS lagi pada tahun 2017 terdapat 90% lebih
rakyat Indonesia sudah mengikuti program SJSN. Walaupun dalam
pelaksanaannya oleh pemerintah dilakukan secara bertahap hingga tahun 2019
ditargetkan seluruh warga di Indonesia masuk SJSN. Keberhasilan ini menjadi
tanggung jawab bersama bagi seluruh lapisan masyarakat.

Jaminan Kesehatan Nasional (JKN)

12
Menurut Naskah Akademik SJSN, Program Jaminan Kesehatan
Nasional adalah suatu program pemerintah dan masyarakat/rakyat dengan
tujuan memberikan kepastian jaminan kesehatan yang menyeluruh bagi setiap
rakyat Indonesia agar penduduk Indonesia dapat hidup sehat, produktif, dan
sejahtera. JKN melibatkan delapan kementerian dan lembaga dalam
pelaksanaannya dan dikelola oleh BPJS Kesehatan. Tujuan penyelenggaraan
JKN ini adalah untuk memberikan manfaat

pemeliharaan kesehatan dan perlindungan akan pemenuhan kebutuhan


dasar kesehatan (UU No. 40 Tahun 2004 Pasal 19 ayat 2).

JKN ini diselenggarakan secara nasional berdasarkan prinsip


asuransi sosial dan prinsip ekuitas seperti yang ada pada UU No. 40
Tahun 2004 Pasal 19 ayat 1 seperti berikut ini.

18. Prinsip asuransi sosial meliputi:

a. Kegotongroyongan antara peserta kaya dan miskin, yang sehat


dan sakit, yang tua dan muda, serta yang beresiko tinggi dan
rendah,
b. Kepesertaan bersifat wajib dan tidak selektif,
c. Iuran berdasarkan persentase upah/penghasilan untuk peserta
penerima upah atau suatu jumlah nominal tertentu untuk
peserta yang tidak menerima upah,
d. Dikelola dengan prinsip nirlaba, artinya pengelolaan dana
digunakan sebesar-besarnya untuk kepentingan peserta dan
setiap surplus akan disimpan sebagai dana cadangan dan untuk
peningkatan manfaat dan kualitas layanan.
19. Prinsip ekuitas yaitu kesamaan dalam memperoleh pelayanan
sesuai dengan kebutuhan medis yang tidak terkait dengan
besaran iuran yang telah dibayarkan. Prinsip ini diwujudkan

13
dengan pembayaran iuran sebesar prosentase tertentu dari upah
bagi yang memiliki penghasilan (Pasal 17 ayat

1) dan pemerintah membayarkan iuran bagi mereka yang tidak


mampu (Pasal

17 ayat 4).

Cara menjadi peserta JKN adalah:

1. Pekerja didaftarkan oleh perusahaannya ke BPJS,


2. Mendaftarkan diri secara individu atau kelompok bagi non-
penerima upah seperti tukang becak, sopir, dan yang lain, dan
3. Menjadi Penerima Bantuan Iuran (PBI) bagi fakir miskin, cacat
total, dan tidak mampu.

Pada prinsipnya, Penerima Bantuan Iuran bagi yang tidak


mampu membayar iuran, maka iuran tersebut dibayar pemerintah. Para
penerima tersebut akan menerima iuran sebesar Rp19.225,- per orang
per bulan. Peserta PBI ini ditetapkan sendiri oleh pemerintah yang
bagaimana dikatakan fakir miskin dan tidak mampu. Mereka tidak
mendaftarkan dirinya sendiri jadi peserta PBI.
Jaminan Kesehatan Nasional memberikan manfaat jaminan
kesehatan bagi perorangan dan menjamin pelayanan anggota keluarga
lainnya. Manfaat jaminan kesehatan yang bersifat pelayanan kesehatan
perorangan mencakup pengobatan hingga bahan medis sesuai kebutuhan
medis yang diperlukan. Manfaat Jaminan Kesehatan Nasional ini adalah:

1. Peserta JKN mendapat jaminan kesehatan mulai fasilitas


primer, sekunder, hingga tersier, baik milik pemerintah ataupun
swasta yang bekerja sama dengan BPJS,
2. Menjamin kesehatan medis mulai dari administrasi pelayanan,

14
pemeriksaan, pengobatan, dan konsultasi medis seseorang
sampai non-medis seperti akomodasi dan ambulan,
3. Melayani tindakan medis non spesialistik yang bersifat operatif
ataupun non- operatif, lalu pelayanan transfusi darah sesuai
kebutuhan medis,
4. Jaminan kesehatan yang bersifat pelayanan kesehatan
perorangan mencakup pelayanan peningkatan kesehatan
(promotif) dan pencegahan penyakit (preventif) yang meliputi
pemberian pelayanan, penyuluhan kesehatan perorangan,
imunisasi dasar, keluarga berencana, dan skrining kesehatan;
juga mencakup pelayanan pengobatan (kuratif) dan pemulihan
(rehabilitatif) yang meliputi pemeriksaan penunjang diagnostik
laboratorium tingkat pertama dan pelayanan rawat inap tingkat
pertama sesuai keluhan penyakit. Pelayanan ini menggunakan
teknik layanan terkendali mutu dan biaya (managed care) (UU
No. 40 Tahun 2004 Pasal 22 ayat 1,2, Pasal 23, Pasal 24, Pasal
25, Pasal 26).
Cara pendaftaran jadi peserta JKN bagi peserta mandiri adalah
dengan cara mendatangi kantor BPJS. Peserta mengisi formulir
pendaftaran dan menyerahkan photocopy KTP, photocopy kartu
keluarga, dan pas foto berwarna berukuran 3x4 sebanyak dua lembar.
Setelah itu, peserta akan mendapat nomor pendaftaran,

kemudian peserta melakukan pembayaran di Kantor Pos, atau ATM,


atau bisa juga menyetor tunai di bank yang telah ditunjuk BPJS. Setelah
selesai semuanya, peserta dapat mengambil kartu anggota Jaminan
Kesehatan Nasional.

Tempat pendaftaran kepesertaan JKN di Sumatera Utara sendiri


ada sebanyak lima tempat, antara lain:

15
1. Medan : Jl. Karya No.135 Medan
2. Kabanjahe : Jl. Letnan Rata Perangin-angin No.14 A,
Kabanjahe
3. Pematangsiantar : Jl. Perintis Kemerdekaan No.7, Pematang
Siantar
4. Padang Sidempuan : Jl. SM. Raja/Raja Ina Siregar Km 5,7
5. Sibolga : Jl. dr. F. L. Tobing No.5, Sibolga

Awal pelaksanaan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) pada


tanggal 1 Januari 2014, telah ada sebanyak 121,6 juta orang sebagai
peserta JKN. Peserta JKN ini terdiri dari peserta asuransi kesehatan
sosial PT Askes (Pegawai Negeri Sipil/PNS dan pensiunan beserta
keluarga, serta anggota dan pensiunan TNI-Polri dan keluarga); peserta
jaminan kesehatan dari Jamsostek; serta penduduk miskin yang tercakup
dalam Jamkesmas yang kemudian menjadi Penerima Bantuan Iuran
(PBI). Semua BUMN juga telah mendaftarkan pegawainya untuk
menjadi peserta JKN.
Pelayanan kesehatan yang diberikan dan dijamin oleh BPJS
Kesehatan melalui JKN seperti dikutip dari Koran Kompas pada edisi
“Cukup Banyak Klinik dan RS Berpartisipasi” yang sumbernya dari
Kementerian Kesehatan adalah:

a. Pelayanan kesehatan tingkat pertama/dasar, yakni pelayanan


kesehatan non- spesialistik
1. Pelayanan promotif dan preventif.
2. Pemeriksaan, pengobatan, dan konsultasi medis.
3. Tindakan medis non-spesialistik, baik operatif maupun non-
operatif.
4. Pelayanan obat dan bahan medis habis pakai.
5. Transfusi darah sesuai dengan kebutuhan medis.
6. Pemeriksaan penunjang diagnostik laboratorium tingkat pertama.
7. Rawat inap tingkat pertama sesuai indikasi medis.
16
Kinerja Integrasi BPJS Kesehatan

Sumber: Info BPJS, Edisi X, 2012

17
Perkembangan & Tantangan Terbaru

• Sebagian besar RS (1.720 dari 2.302) tergabung dlm JKN. Tetapi krn
pencairan dana klaim lambat, bnyk RS swasta yg tak tertarik  pasien
menumpuk di RS pemerintah.

• Des 2014: BPJS hanya mampu mengumpulkan premi Rp 41 T, tetapi


klaim yg harus dibayar sdh Rp 42,6 T (defisit 3,88%). Iuran
minimum harus ditambah? (Rp 19.225 ke Rp 27.000 atau ke Rp
60.000)

• Potensi tumpang-­‐tindih program BPJS dg KIS (Kartu Indonesia


Sehat) program Jokowi.

• Kurangnya program preventif. Mis: hanya 46% warga punya


kebiasaan sehat; Rp 138 t utk membeli rokok; perokok Indonesia

18
meningkat 3,4% walau di negara maju cenderung turun.

19
BAB IV
PENUTUP

A. Kesimpulan

Kesimpulan yang dapat ditarik dari hasil pembahasan makalah ini antara lain :

1. Pembiayaan kesehatan merupakan salah satu bidang ilmu dari ekonomi kesehatan
(health economy). Yang dimaksud dengan biaya kesehatan adalah besarnya dana
yang harus disediakan untuk menyelenggarakan dan atau memanfaatkan berbagai
upaya kesehatan yang diperlukan oleh perorangan, keluarga, kelompok dan
masyarakat.
2. Sumber biaya kesehatan dapat berasal dari anggaran pemerintah, anggaran
masyarakat, bantuan dari dalam dan luar negeri, serta gabungan dari anggaran
pemerintah dan masyarakat.
3. Secara umum biaya kesehatan dapat dibedakan menjadi dua, yakni biaya pelayanan
kedokteran dan biaya pelayanan kesehatan masyarakat.
4. Syarat pokok pembiayaan kesehatan adalah jumlah, penyebaran dan pemanfaatan.
Sedangkan fungsi pembiayaan kesehatan adalah penggalian dana, pengalokasian dana
dan pembelanjaan.
5. Masalah pokok pembiayaan kesehatan antara lain seperti kurangnya dana yang
tersedia, penyebaran dana yang tidak sesuai, pemanfaatan dana yang tidak tepat,
pengelolaan dana yang belum sempurna serta biaya kesehatan yang makin
meningkat. Sedangkan upaya penyelesaian yang dapat ditempuh seperti
meningkatkan jumlah dana, memperbaiki penyebaran, pemanfaatan dan pengelolaan
dana, serta mengendalikan biaya kesehatan.

20
Daftar Pustaka

Ali Imran, La Ode.2013.Ekonomi Kesehatan.Kendari.


Depkes.2013.Fungsi-Pembiayaan-Kesehatan.
http://www.ppjk.depkes.go.id/index.php?option=com_content&task=view&
id=85&Itemid=120.20 Mei 2013.
Helda.2011.Pembiayaan-Kesehatan.
http://heldaupik.blogspot.com/2011/11/pembiayaan-kesehatan.html?m=1.20
Mei 2013.
Suhadi.2012.Pembiayaan-Kesehatan.
http://kebunhadi.blogspot.com/2012/11/pembiayaan-
kesehatan.html?m=1.20 Mei 2013.

21