Anda di halaman 1dari 11

KASUS I : Pengakuan Pendapatan dan Beban Sebuah Kasino Judi di HAROLD’S CLUB

Harold’s Club adalah sebuah kasino judi yang terletak di Reno, Nevada. Tidak sepert
di Indonesia, di Nevada, kasino judi dianggap sebuah enttas bisnis yang juga harus
membuat laporan keuangan yang sesuai dengan GAAP (Generally Accepted
Accountng Principles) yang disusun oleh FASB (Financial Accountng Standards
Board).

Kasino tersebut mengalami kesulitan dalam implementasi pengakuan pdapatan dan


beban. Bagaimana seharusnya pemilik kasino judi melaporkan pendapatan dan
beban terkait uang judi yang diterima dari pemain yang kalah & juga dibayarkan
kepada pemenangnya?

Mari kita pahami dulu bagaimana jalannya sebuah kasino judi. Para pemain judi yang
datang ke kasino pastlah mempunyai kemungkinan kalah atau menang. Bagi pemain
yang kalah, mereka harus memasukkan uang kedalam mesin yang disebut mesin slot
progresif. Pada saat terdapat pemain judi yang menang, pemenang diijinkan
mengambil uang, yang sebelumnya dimasukkan oleh semua orang yang kalah. Uang
yang diterima pemenang judi berjumlah sangat besar, tetapi faktanya pemenang judi
di Harold’s hanya ada setap 4,5 bulan-1 tahun sekali (bahkan kadang bisa lebih dari
setahun, baru ada pemenang).

Sebagai mahasiswa yang akan membuat penelitan untuk Tugas Akhir, anda diminta
membuat tulisan tentang permasalahan yang dihadapi Harold’s. Manajer Akuntansi
di Harold’s mengatakan, mereka menghadapi masalah akuntansi, yaitu: dapatkah
Harold’s mengakui sebagian pendapatan (jumlahnya bisa mencapai jutaan dollar)
yang ada di mesin-mesin slot progresif? Biasanya pendapatan mereka akui pada akhir
periode akuntansi dan pengakuan pendapatan ini tentu saja dianggap terlalu lama.

Ada pendapat yang mengatakan: uang tdak dapat diambil sampai ada pemenang.
Padahal, pemenang bisa saja tidak ada dalam beberapa bulan bahkan tahun. Jelas
sekali bahwa mereka kesulitan menerapkan prinsip penandingan (matching
concepts) dalam praktk pada sebuah kasino judi. Mereka harus mempertmbangkan
masalah Cash Basis dan Accrual Basis.

Masalah lain yang menjadi kekawatran pemilik kasino adalah soal pengendalian.
Uang jutaan dollar dianggap terlalu berisiko bila harus mengendap terlalu lama
didalam mesin-mesin slot progesif, tanpa mereka tahu berapa jumlah yang
sebenarnya ada didalam mesin-mesin tersebut.

Gunakan seluruh wawasan anda tentang akuntansi untuk dapat menghasilkan


sebuah penelitan akuntansi yang ilmiah.
KASUS 2 : The Hijacking Receivable atas pesawat DC 9

COA (chart of accounts) atau daftar akun perusahaan, semestnya mencerminkan


kegiatan perusahaan. Namun, ada cerita yang tdak biasa tentang kasus pembajakan
pesawat terbang DC-9 di Alabama. Kejadian ini pada awal th 70-an, dimana
keamanan bandara di AS dan negara-negara lain belum ketat.

Tepatnya pada 10 November 1972, terjadi pembajakan pesawat udara Southern


Airways DC-9, dengan jalur penerbangan dari Memphis ke Miami. Pesawat dibajak
ketka berada di atas Birmingham, Alabama. Tiga pembajak mengancam dengan
menggunakan senjata dan granat tangan. Di dalam pesawat terdapat 4 kru pesawat
dan 27 penumpang. Mereka dibawa paksa menjelajahi kota-kota di Amerika, Toronto
sampai Havana, Kuba. Selama masa penerbangan yang panjang, pembajak
mengancam untuk menabrakkan pesawat di Oak Ridge, Tennessee yang berfasilitas
nuklir.

Pembajak menuntut berbicara dengan presiden Nixon dan minta uang tebusan $ 10
juta. Apakah tuntutan ini dipenuhi ? Ternyata tdak. Setelah terjadi tawar menawar,
singkat cerita, Southern Airways hanya mampu memberikan $ 2 juta. Pilot berbicara
dengan para pembajak, uang akan diserahkan pada saat pesawat berhent di
Chattanooga saat mengisi bahan bakar. Namun ketka pesawat mendarat di Havana,
para pembajak ditangkap.

Setelah pembajakan berakhir, kru dan penumpang diterbangkan ke tujuan semula,


namun uang tetap berada di Kuba dan pembajak ditahan di Kuba juga.

Bagaimana Southern Airways melaporkan uang $ 2 juta tsb dalam laporan keuangan
mereka? Kejadian ini benar adanya dan jurnal yang dibuat adalah:

Hijacking Payment $ 2 juta


Cash $ 2 juta
Dilaporkan dibawah Other Assets, namun masuk dalam kategori piutang atau
Hijacking Receivable.

Apa alasan Southern Airways memasukkan pembayaran tersebut sebagai Hijacking


Receivable? Southern Airways merasa yakin dapat menagih uang tersebut dari
pemerintah Kuba karena uang tebusan tersebut memang milik Southern Airways.

Bagaimana faktanya? Pembajakan terjadi pada 10 November 1972, uang baru


dikembalikan pada Agustus 1975 dan pada saat itu terjadi, Kuba tengah bermaksud
memperbaiki hubungan dengan Amerika.

Andaikan anda berada pada masa itu. Anda bermaksud akan membuat penelitan
untuk tugas akhir anda. Hal terpentng bagi anda adalah memahami bagaimana
terjadinya piutang? Berikut gambaran terjadinya piutang:
Meskipun nampaknya hanya sebuah masalah jurnal, namun banyak hal yang terkait
dengan masalah akuntansi. Gunakan seluruh wawasan anda tentang akuntansi untuk
dapat menghasilkan sebuah penelitan akuntansi yang ilmiah.

KASUS 3 : THE ROUND TRIP – DATA POINT, CORP.

Salah satu contoh kecurangan dalam akuntansi adalah secara sengaja menaikkan
jumlah pendapatan. Kecurangan tersebut mempunyai istlah akuntansi yaitu Round
Tripping. Caranya, perusahaan penjual meminjamkan sejumlah uang pada
perusahaan pelanggan. Pelanggan menggunakan uang tersebut untuk membeli
barang dari penjual. Jadi, penjual menjual barang kepada pembeli dan dibayar
dengan uangnya sendiri yang dipinjamkan pada pembeli. Transaksi ini dicatat sebagai
penjualan, padahal kenyataannya penjual menyerahkan barang secara cuma-cuma.
Kecurangan sepert ini sulit dibuktkan. Banyak perusahaan melakukan Round
Tripping dan hanya dapat dibuktkan oleh auditor jika diketahui pelanggan tdak
mempunyai keinginan untuk membayar pinjaman tersebut.

Salah satu perusahaan yang melakukan kecurangan jenis ini adalah Datapoint, Corp.
Perusahaan tersebut mempunyai strategi melakukan pengiriman besar-besaran
kepada para pelanggannya pada akhir tahun. Tujuannya agar dapat melaporkan
pengiriman tersebut sebagai pendapatan walaupun pembayaran belum diperoleh.
Malang menimpa Datapoint, Corp. Beberapa pelanggan bangkrut sebelum
melakukan pembayaran, akibatnya, Datapoint harus mencatat kasus “piutang tak
tertagih” dalam jumlah yang besar dan juga menghapus pengakuan penjualan yang
pernah dilakukan.

Mari kita lihat masalah akuntansinya. Jika Datapoint menggunakan metode


penjualan angsuran, pendapatan ini seharusnya tdak dilaporkan. Praktk pengakuan
pendapatan dengan metode Cash Basis sepert yang terjadi pada metode penjualan
angsuran, menjadi lebih dapat diterima seiring dengan kesulitan untuk mengatakan
kapan sebuah penjualan adalah benar penjualan.

Anggaplah anda akan melakukan penelitan untuk menyusun tugas akhir. Anda
mendapat kesempatan untuk melakukan observasi ke Datapoint dan juga mendapat
keleluasaan untuk memperoleh data apapun yang berhubungan dengan penelitan
yang akan anda lakukan.

KASUS 4: Manipulasi Laporan Keuangan PT KAI

Transparansi serta kejujuran dalam pengelolaan lembaga yang merupakan salah satu
derivasi amanah reformasi ternyata belum sepenuhnya dilaksanakan oleh salah satu
badan usaha milik negara, yakni PT Kereta Api Indonesia. Dalam laporan kinerja
keuangan tahunan yang diterbitkan tahun 2005, diumumkan bahwa keuntungan PT
KAI sebesar Rp. 6,90 milyar. Padahal faktanya PT KAI menderita kerugian sebesar Rp.
63 milyar.

Kerugian ini terjadi karena PT Kereta Api Indonesia telah tga tahun tdak dapat
menagih pajak pihak ketga. Tetapi, dalam laporan keuangan itu, pajak pihak ketga
dinyatakan sebagai pendapatan. Padahal, berdasarkan standar akuntansi keuangan,
pajak pihak ketga tdak dapat dikelompokkan dalam bentuk pendapatan atau asset.
Dengan demikian, kekeliruan dalam pencatatan transaksi telah terjadi.

Di lain pihak, PT Kereta Api Indonesia memandang bahwa kekeliruan pencatatan


tersebut hanya terjadi karena perbedaan persepsi mengenai pencatatan piutang
yang tdak tertagih. Terdapat pihak yang menilai bahwa piutang pada pihak ketga
yang tdak tertagih itu bukan pendapatan. Sehingga, sebagai konsekuensinya PT
Kereta Api Indonesia seharusnya mengakui menderita kerugian sebesar Rp. 63 milyar.
Sebaliknya, ada pula pihak lain yang berpendapat bahwa piutang yang tdak tertagih
tetap dapat dimasukkan sebagai pendapatan PT Kereta Api Indonesia sehingga
keuntungan sebesar Rp. 6,90 milyar dapat diraih pada tahun tersebut. Diduga,
manipulasi laporan keuangan PT Kereta Api Indonesia telah terjadi pada tahun-tahun
sebelumnya. Sehingga, akumulasi permasalahan terjadi disini.

Sumber: http://www.antaranews.com/view/?i=1153914935&c=EKU&s=

KASUS 5 : Manipulasi KAP Andersen dan Enron

Sejak tahun 1985 Enron Corporaton menggunakan jasa Arthur Andersen. Andersen
melakukan audit internal dan audit external untuk Enron termasuk untuk kantor-
kantor cabangnya. Enron corporaton adalah salah satu klien terbesar Andersen
dengan kontribusi omset sebesar $10 milyar per tahunnya.

Dalam rangka memperbesar keuntungan yang selama ini telah diperoleh, dibukalah
partnership-partneship yang diberi nama “special purpose partnership”. Partner
dagang yang dimiliki oleh Enron hanya satu untuk setap partnership dan partner
tersebut hanya menyumbang modal yang sangat sedikit (hanya sekitar 3% dari
jumlah modal keseluruhan). Orang awam past bertanya mengapa Enron berminat
untuk berpartsipasi dalam partnership dimana Enron menyumbang 97% dari modal.

Muncul pertanyaan dari mana Enron membiayai partnership-partnership tersebut?


Pembiayaan tersebut ternyata diperoleh Enron dengan “meminjamkan” saham Enron
(induk perusahaan) kepada Enron (anak perusahaan) sebagai modal dasar
partnership-partnership tersebut. Secara singkat, Enron sesungguhnya mengadakan
transaksi dengan dirinya sendiri. Enron tdak pernah mengungkapkan operasi dari
partnership-partnership tersebut dalam laporan keuangan yang ditujukan kepada
pemegang saham dan Security Exchange Commission (SEC).

Lebih jauh lagi, Enron bahkan memindahkan utang-utang sebesar $US 690 juta yang
ditmbulkan induk perusahaan ke partnership partnership tersebut. Total hutang
yang berhasil disembunyikan adalah $US 1,2 miliar. Akibatnya, laporan keuangan dari
induk perusahaan terlihat sangat atraktf, menyebabkan harga saham Enron melonjak
menjadi $US90 pada bulan Februari 2001. Perhitungan menunjukkan bahwa dalam
kurun waktu tersebut, Enron telah melebih-lebihkan laba mereka sebanyak
$US650miliar.

Manipulasi yang dilakukan Enron selama bertahun-tahun ini mulai terungkap ketka
Sherron Watskin, salah satu eksekutf Enron mulai melaporkan praktek tdak terpuji
ini. Pada bulan September 2001, pemerintah mulai mencium adanya ketdakberesan
dalam laporan pembukuan Enron. Pada bulan Oktober 2001, Enron mengumumkan
kerugian sebesar $US618 miliar dan nilai aset Enron menyusut sebesar $US1,2 triliun
dolar AS. Pada laporan keuangan yang sama diakui, bahwa selama tujuh tahun
terakhir, Enron selalu melebih-lebihkan laba bersih mereka. Akibat laporan
mengejutkan ini, nilai saham Enron mulai anjlok dan saat Enron mengumumkan
bahwa perusahaan harus gulung tngkar, 2 Desember 2001, harga saham Enron
hanya 26 sen.

Sumber

http://www.wealthindonesia.com/kasus-penipuan-capital-market/bangkrutnya-
enron-corp.html
KASUS 6 : KPMG-Siddharta Siddharta & Harsono
September tahun 2001, KPMG-Siddharta Siddharta & Harsono harus menanggung
malu. Kantor akuntan publik ternama ini terbukt menyogok aparat pajak di
Indonesia sebesar US$ 75 ribu. Sebagai siasat, diterbitkan faktur palsu untuk biaya
jasa profesional KPMG yang harus dibayar kliennya PT Easman Christensen, anak
perusahaan Baker Hughes Inc. yang tercatat di bursa New York.

Berkat aksi sogok ini, kewajiban pajak Easman memang susut drasts. Dari semula
US$ 3,2 juta menjadi hanya US$ 270 ribu. Namun, Penasihat Ant Suap Baker rupanya
was-was dengan polah anak perusahaannya. Maka, ketmbang menanggung risiko
lebih besar, Baker melaporkan secara suka rela kasus ini dan memecat eksekutfnya.

Badan pengawas pasar modal AS, Securites & Exchange Commission, menjeratnya
dengan Foreign Corrupt Practces Act, undang-undang ant korupsi buat perusahaan
Amerika di luar negeri. Akibatnya, hampir saja Baker dan KPMG terseret ke
pengadilan distrik Texas. Namun, karena Baker mohon ampun, kasus ini akhirnya
diselesaikan di luar pengadilan. KPMG pun terselamatkan.

Sumber:http://www.hukumonline.com/berita/baca/hol3732/font-size1-
colorff0000bskandal-penyuapan-pajakbfontbr-kantor-akuntan-kpmg-indonesia-
digugat-di-as

KASUS 7 : Kasus Mulyana W Kusuma

Kasus ini terjadi sekitar tahun 2004. Mulyana W Kusuma sebagai seorang anggota
KPU diduga menyuap anggota BPK yang saat itu akan melakukan audit keuangan
berkaitan dengan pengadaan logistc pemilu. Logistc untuk pemilu yang dimaksud
yaitu kotak suara, surat suara, amplop suara, tnta, dan teknologi informasi. Setelah
dilakukan pemeriksaan, badan dan BPK meminta dilakukan penyempurnaan laporan.
Setelah dilakukan penyempurnaan laporan, BPK sepakat bahwa laporan tersebut
lebih baik daripada sebelumnya, kecuali untuk teknologi informasi. Untuk itu, maka
disepakat bahwa laporan akan diperiksa kembali satu bulan setelahnya.

Setelah lewat satu bulan, ternyata laporan tersebut belum selesai dan disepakat
pemberian waktu tambahan. Di saat inilah terdengar kabar penangkapan Mulyana W
Kusuma. Mulyana ditangkap karena dituduh hendak melakukan penyuapan kepada
anggota tm auditor BPK, yakni Salman Khairiansyah. Dalam penangkapan tersebut,
tm intelijen KPK bekerja sama dengan auditor BPK. Menurut versi Khairiansyah ia
bekerja sama dengan KPK memerangkap upaya penyuapan oleh saudara Mulyana
dengan menggunakan alat perekam gambar pada dua kali pertemuan mereka.

Penangkapan ini menimbulkan pro dan kontra. Salah satu pihak berpendapat auditor
yang bersangkutan, yakni Salman telah berjasa mengungkap kasus ini, sedangkan
pihak lain berpendapat bahwa Salman tdak seharusnya melakukan perbuatan
tersebut karena hal tersebut telah melanggar kode etk akuntan.

Sumber: http://www.suaramerdeka.com
KASUS 8: Sembilan KAP yang diduga melakukan kolusi dengan kliennya

Jakarta, 19 April 200, Indonesia Corrupton Watch (ICW) meminta pihak kepolisian
mengusut sembilan Kantor Akuntan Publik, yang berdasarkan laporan Badan
Pengawas Keuangan dan Pembangunan (BPKP), diduga telah melakukan kolusi
dengan pihak bank yang pernah diauditnya antara tahun 1995-1997. Koordinator
ICW Teten Masduki kepada wartawan di Jakarta, Kamis, mengungkapkan,
berdasarkan temuan BPKP, sembilan dari sepuluh KAP yang melakukan audit
terhadap sekitar 36 bank bermasalah ternyata tdak melakukan pemeriksaan sesuai
dengan standar audit.

Hasil audit tersebut ternyata tdak sesuai dengan kenyataannya sehingga akibatnya
mayoritas bank-bank yang diaudit tersebut termasuk di antara bank-bank yang
dibekukan kegiatan usahanya oleh pemerintah sekitar tahun 1999. Kesembilan KAP
tersebut adalah AI & R, HT & M, H & R, JM & R, PU & R, RY, S & S, SD & R, dan RBT &
R. “Dengan kata lain, kesembilan KAP itu telah menyalahi etka profesi. Kemungkinan
ada kolusi antara kantor akuntan publik dengan bank yang diperiksa untuk memoles
laporannya sehingga memberikan laporan palsu, ini jelas suatu kejahatan,” ujarnya.
Karena itu, ICW dalam waktu dekat akan memberikan laporan kepada pihak
kepolisian untuk melakukan pengusutan mengenai adanya tndak kriminal yang
dilakukan kantor akuntan publik dengan pihak perbankan.

ICW menduga, hasil laporan KAP itu bukan sekadar “human error” atau kesalahan
dalam penulisan laporan keuangan yang tdak disengaja, tetapi kemungkinan ada
berbagai penyimpangan dan pelanggaran yang dicoba ditutupi dengan melakukan
rekayasa akuntansi. Teten juga menyayangkan Dirjen Lembaga Keuangan tdak
melakukan tndakan administratf meskipun pihak BPKP telah menyampaikan
laporannya, karena itu kemudian ICW mengambil inisiatf untuk mengekspos laporan
BPKP ini karena kesalahan sembilan KAP itu tdak ringan. “Kami mencurigai,
kesembilan KAP itu telah melanggar standar audit sehingga menghasilkan laporan
yang menyesatkan masyarakat, misalnya mereka memberi laporan bank tersebut
sehat ternyata dalam waktu singkat bangkrut. Ini merugikan masyarakat. Kita
mengharapkan ada tndakan administratf dari Departemen Keuangan misalnya
mencabut izin kantor akuntan publik itu,” tegasnya. Menurut Tetan, ICW juga sudah
melaporkan tndakan dari kesembilan KAP tersebut kepada Majelis Kehormatan
Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) dan sekaligus meminta supaya dilakukan tndakan ets
terhadap anggotanya yang melanggar kode etk profesi akuntan.

Sumber: http://www.kompas.com, 20 April 2001


KASUS 9: PAILIT PT TELKOMSEL
Kasus pailit PT Telkomsel seyogyanya berada pada ranah hukum, namun substansi
dari kasus ini merupakan pemahaman atas konsep dasar akuntansi yaitu pengakuan
utang piutang. Dalam tulisan singkat ini, saya akan mengupas kasus ini dari sudut
pandang akuntansi.

Sepert kita ketahui bersama, kasus ini bermula dari sengketa utang piutang antara
PT Telkomsel dan PT Prima Jaya Informatka. Pada tanggal 1 Juni 2011 PT Telkomsel
menandatangani memorandum of understanding (MoU) nomor PKS.591/LG.05/SL-
01/VI/2011 dan 031/PKS/PJI-TD/VI/2011 dengan Yayasan Olahragawan Indonesia
(YOI) untuk menjual produk PT Telkomsel, yakni kartu perdana dan voucher isi ulang
(disebut dengan kartu prima) kepada para atlet di Indonesia. Untuk mengeksekusi
MoU tersebut, YOI kemudian menunjuk PT Prima Jaya Informatka.

Pada tanggal 20 Juni 2012 PT Prima Jaya Informatka yang dalam hal ini bertndak
sebagai distributor PT Telkomsel mengajukan Purchase Order (PO) kepada PT
Telkomsel untuk membeli kartu prima senilai Rp. 2,26 miliar. PO tersebut oleh PT
Telkomsel tdak dipenuhi. Pada tanggal 21 Juni 2012 PT Prima Jaya Informatka
kembali mengajukan PO kedua senilai Rp 3 miliar. Namun sama dengan PO
sebelumnya, oleh PT Telkomsel juga tdak dipenuhi. Nah disinilah tmbul masalahnya.
PT Prima Jaya Informatka mengganggap kedua PO yang tdak dipenuhi ini senilai
total Rp. 5,26 miliar adalah merupakan piutang yang telah jatuh tempo. Tidak
dipenuhinya kedua PO tersebut menurut PT Telkomsel karena PT Prima Jaya
Informatka tdak memenuhi ketentuan kontrak, sehingga tdak saya bahas dalam
tulisan ini. Kasus ini kemudian disengketakan ke pengadilan hingga berujung pada
kepailitan PT Telkomsel di Pengadilan Niaga Jakarta tanggal 14 September 2012.
Menurut pertmbangan hakim Pengadilan hari itu, janji sudah dapat dikatagorikan
sebagai utang, sedangkan utang adalah kewajiban yang bisa dikuantfikasi dengan
uang.

Jika membeli, bukannya seharusnya si pembeli menyerahkan uang terlebih dahulu


baik sebagai uang muka atau senilai dari barang yang akan dibeli. Atau jika pembelian
dilakukan secara kredit, berart si pembeli berhutang kepada si penjual. Dalam kasus
ini justru sebaliknya, Telkomsel malah yang jadi berhutang kepada si pembeli (PT
Prima Jaya Telekomunikasi). Inilah alasan PT Telkomsel melakukan perlawanan
terhadap tuntutan hukum PT Prima Jaya Informatka karena PT Telkomsel
menganggap utang belum terjadi.

Apakah permintaan pembelian (PO) yang tdak dipenuhi bisa langsung dikatakan
sebagai piutang? statusnya saja masih permintaan pembelian, serah terima barang
pun belum terjadi, apalagi melakukan penagihan (invoicing), mengapa malah
dikatakan piutang telah jatuh tempo? Mendefenisikan utang saja kedua belah pihak
belum satu persepsi. Makanya wajar saja beberapa pakar hukum mengatakan bawa
jika status utangnya saja masih sengketa, sebaiknya diselesaikan dulu di ranah
perdata, jangan langsung dipailitkan. Jika ini bisa dikatakan utang, maka kekacauan
dalam dunia bisnis di Indonesia past akan terjadi. Dengan gampangnya nant setap
perusahaan membuat PO kepada perusahaan lain dengan atau tanpa MoU yang
pernah ditandatangani, lalu kemudian mengklaimnya melalui pengadilan niaga,
tanpa perlu ada penyerahan barang dan penagihan. Perusahaan tersebut past
dengan gampangnya akan merujuk pada kasus PT Telkomsel yang saat itu pengadilan
menganggap sebagai piutang.

Secara akuntansi, Piutang termasuk kategori aset keuangan yang diatur di PSAK
(Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan) No. 55 dan termasuk ke dalam klasifikasi
“Pinjaman yang diberikan dan Piutang”. Menurut standar ini, yang termasuk ke
dalam klasifikasi “Pinjaman yang diberikan dan piutang” adalah aset keuangan yang
bukan derivatf, dengan pembayaran tetap atau telah ditentukan dan tdak
diperdagangkan di pasar aktf. Selanjutnya, pengertan dari piutang adalah aset
keuangan yang mencerminkan hak kontraktual untuk menerima sejumlah kas atau
aset keuangan lainnya di masa depan. Dengan demikian, piutang mencerminkan hak
tagih terhadap pihak lain atas kas atau aset keuangan lainnya.

Didalam akuntansi ada yang dikenal dengan istlah substance over form yang artnya
substansi mengungguli bentuk hukum. Pengakuan kejadian ekonomi secara
akuntansi lebih konservatf daripada pengakuan secara hukum. Kongkritnya jika suatu
kejadian ekonomi telah terjadi namun bentuk formal legalnya belum ada, maka
kejadian tersebut sudah bisa dicatat secara akuntansi. Sebagai contoh nyata dalam
bisnis telekomunikasi. Jika pelanggan pasca bayar belum menerima tagihan (bukt
hukum) penggunaan pulsa, namun si pelanggan tersebut telah menggunakan pulsa
tersebut, maka pada periode pelaporan oleh operator yang bersangkutan, kejadian
ini sudah dicatat sebagai piutang dan pendapatan. Atau contoh lain lagi, jika tagihan
(bukt hukum) dari bank atas bunga pinjaman yang diberikan belum diterima oleh
suatu perusahaan pada tanggal pelaporan, tetapi selama periode tersebut
perusahaan telah menikmat pinjaman tersebut, maka pada tanggal pelaporan
perusahaan sudah harus mengakui beban bunga dan hutang (akrual) bunga. Bahkan
atas suatu piutang, perusahaan sudah mencadangkan piutang yang kemungkinan
tdak dapat ditagih. Sangat konservatf bukan?

Berdasarkan prinsip akuntansi, pengakuan akuntansi lebih konservatf daripada


hukum, namun dalam kasus ini justru hukum lah yang lebih konservatf dari
akuntansi. Inilah yang membuat para praktsi akuntansi geleng-geleng kepala.

Singkatnya, secara akuntansi semua utang piutang yang telah dicatat di dalam
laporan keuangan perusahaan tersebut adalah benar-benar utang dan piutang
perusahaan tersebut. Klaim perusahaan atas aset perusahaan lain sesuai defenisi
piutang dalam PSAK 55 tertera secara langsung dalam laporan keuangan. Jika belum
muncul di laporan keuangan past saja belum dianggap sebagai utang piutang. Nah
lebih jauhnya mari kita lihat pada laporan keuangan kedua perusahaan tersebut.
Apakah di laporan keuangan PT Prima Jaya Informatka pada bulan pelaporan
gugatan tersebut diajukan ke pengadilan kedua PO tersebut sudah dicatat sebagai
piutang, sebaliknya apakah di laporan keuangan PT Telkomsel pada bulan pelaporan
gugatan tersebut diajukan ke pengadilan kedua PO tersebut sudah dicatat sebagai
utang.

Kembali ke pertanyaan diatas. Apakah kedua PO Tersebut bisa dikatakan sebagai


piutang oleh PT Prima Jaya Telekomunikasi dan sebagai utang oleh PT Telkomsel?
KASUS 10: KASUS BANK LIPPO

PT Bank Lippo Tbk merupakan perusahaan yang menyediakan produk perbankan


umum dan pelayanan dengan segmen konsumen dan perusahaan di Indonesia.
Perusahaan ini menyediakan account pribadi, kartu debit, kartu distribusi, kartu
kredit, produk investasi, bancassurance, safe deposit dan produk dan layanan
pembayaran. PT Bank Lippo Tbk juga menawarkan deposito, giro, pengiriman uang,
pembukaan, rekening tabungan, pembiayaan perdagangan, dan produk bank draft
dan jasa. Pada 24 April 2007, beroperasi 400 cabang dan kantor, dan 693 anjungan
tunai mandiri. Sejarah Bank Lippo dimulai pada tahun 1948 dan didirikan oleh
Mochtar Riady bersama grup Lippo hingga sempat menjadi bank kesembilan terbesar
dalam jumlah aktva yang dimilikinya. Saat Asia mengalami krisis pada tahun 1997,
Indonesia menjual sebagian saham di Bank Lippo yang digunakan untuk menutup
defisit anggaran pemerintah Indonesia yang mencapai 450 triliun rupiah.

Penjualan itu akhirnya juga digunakan untuk menyelamatkan keuangan bank-bank


yang mengalami krisis pada saat itu. Kemudian pada tahun 2004 sebuah lembaga
asal Swiss yang bernama Swissasia Global, membeli 52,1 persen saham Bank Lippo
dari Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN). Selanjutnya Pada tanggal 26
Agustus 2005, pemegang saham bank dan Bank Indonesia menyetujui penjualan
52,05% saham mayoritas dimiliki oleh Swissasia Global ke Santubong Investment BV
yang sepenuhnya dimiliki oleh Khazanah Nasional Berhad, sebuah insttusi investasi
milik pemerintah federal Malaysia. Penjualan mulai berlaku pada Sejak Khazanah,
memiliki kepentngan langsung dari 93 persen di Bank Lippo melalui Santubong
Investment BV dan Greatville Pte. Ltd, dan juga memiliki 64 persen dari Bank CIMB
Niaga melalui Bumiputra-Commerce Holdings.

Bank Niaga dan Bank Lippo harus digabung untuk memenuhi ke "kebijakan
kepemilikan tunggal" bank sentral Indonesia. Pada November 2008, Lippo Bank resmi
bergabung dengan Bank CIMB Niaga dan dikenal sebagai PT Bank CIMB Niaga Tbk
anak perusahaan Indonesia dari CIMB Group.

Overview Kasus

Sepert diketahui, telah terjadi perbedaan laporan keuangan Bank Lippo per 30
September 2002, antara yang dipublikasikan di media massa dan yang dilaporkan ke
BEJ. Dalam laporan yang dipublikasikan melalui media cetak pada tanggal 28
November 2002 disebutkan total aktva perusahaan sebesar Rp 24 triliun dengan
laba bersih Rp 98 Miliar.Sedangkan dalam laporan ke BEJ tanggal 27 Desember 2002,
total aktva berkurang menjadi Rp 22,8 triliun dan rugi bersih (yang belum diaudit)
menjadi Rp 1,3 triliun. Manajemen Lippo beralasan, perbedaan itu terutama pada
kemerosotan nilai agunan yang diambil alih (AYDA) dari Rp 2,393 triliun pada laporan
publikasi dan Rp 1,42 triliun pada laporan ke BEJ. Akibatnya keseluruhan neraca dan
akun-akun berbeda signifikan, termasuk penurunan rasio kecukupan modal (CAR)
dari 24,77 persen menjadi 4,23 persen.
Dalam Press release Bapepam , ternyata terdapat 3 versi laporan keuangan PT Bank
Lippo Tbk per 30 september 200, dari 3 versi ini semuanya dinyatakan telah diaudit,
yaitu:

1. Laporan Keuangan PT Bank Lippo Tbk per 30 September 2002 yang diiklankan di surat
kabar pada tanggal 28 November 2002;
2. Laporan Keuangan PT Bank Lippo Tbk per 30 September 2002 yang disampaikan ke
BEJ pada tanggal 27 Desember 2002;
3. Laporan Keuangan PT Bank Lippo Tbk per 30 September 2002 yang disampaikan oleh
Akuntan Publik KAP Praseto, Sarwoko &Sandjaja kepada Manajemen PT Bank Lippo
Tbk pada tanggal 6 Januari 2003.