Anda di halaman 1dari 8

PANDUAN KINERJA PERAWAT KLINIS DENGAN OPPE ( On Going Profesional Evaluation) dan FPPE

( Focus Professional Practice Evaluation)

A. PENDAHULUAN
Pelaksanaan Evaluasi Kinerja Profesional Perawat dilandaskan pada KKS 13, dimana Rumah Sakit harus
memastikan bahwa setiap perawat kompeten untuk memberikan asuhan keperawatan mandiri,
kolaborasi, delegasi, dan mandat kepada pasien secara aman dan efektif.

Standar KKS 15 juga menyampaikan Rumah Sakit harus melakukan evaluasi kinerja staf keperawatan,
dalam hal ini kinerja keperawatan harus dinilai sesuai delination of clinical privilagde di samping aspek
penilaian yang lain. Penilaian kinerja mengarah pada kinerja profesional dan kemampuan focus praktek
profesional.

B. PENGERTIAN
On Going Professional Evaluation (OPPE) adalah evaluasi profesional dari setiap perawat sesuai
kewenangannya.
Focus Professional Practice Evaluation (FPPE) adalah penekanan evaluasi yang terfokus apabila ada suatu
performance professional perawat yang terus menerus mendapatkan complain atau tidak sesuai dengan
standar yang ditetapkan.
OPPE dan FPPE tidak hanya mengevaluasi dalam proses, tetapi dalam proses evaluasi profesional ini juga
disertai proses pengarahan, memberikan contoh, memberikan motivasi, penghargaan dan evaluasi
berkesinambungan.

C. TUJUAN
Menjamin keselamatan pasien dengan memastikan bahwa asuhan yang dilaksanakan oleh perawat sesuai
dengan kewenangan perawat.

D. PELAKSANAAN

Pelaksanaan OPPE adalah terus menerus, on proses, artinya berkesinambungan di dalam proses pemberian
asuhan profesional dan tidak hanya mengutamakan penilaian assesmen akhir. Evaluasi ini dilaksanakan
sehari-hari saat pelaksanaan asuhan keperawatan. OPPE juga tidak dilaksanakan oleh supervisor ataupun
asesor yang tidak bekerja bersama dengan perawat, karena jika penilaian OPPE oleh orang yang sehari hari
tidak berada diunit yang sama maka penilaiannya bisa saja menjadi penilaian sewaktu dan bukan proses
yang berkesinambungan.

Perawat yang dinilai juga menbuat dokumentasi logbook terhadap kinerja profesional sesuai kewenangan
maupun kemajuan dan perkembangan dari kompetensinya, dimana logbook kompetensi ini menjadi
dokumen yang diperlukan dalam kredensial keperawatan.
Evaluasi ini bisa dimulai dengan evaluasi diri sendiri (self assessmant), kemudian dari peer dan yang
mempunyai tanggung jawab mengevaluasi adalah preceptor jika perawat baru, sedang perawat lama oleh
supervisor/mentor yang ada diunit kerja tersebut.

Setiap preceptor, supervisor atau mentor harus mempunyai kemampuan evaluasi. Evaluasi harus objektif
dan sesuai RKK dari perawat. Evaluasi harus mempunyai daftar tilik evaluasi, dimana setiap asuhan harus
punya standar asuhan keperawatannya. Semua evaluasi ditujukan kepada profesionalisme dengan siklus
asuhan keperawatan utuh yaitu dari mulai Asessmen, penetapan diagnosa, penetapan tujuan, intervensi
dan evaluasi serta dokumentasi.
Penilaian kinerja berfokus pada 4 aspek yaitu:
a. Pengetahuan
b. Keterampilan
c. Sikap
d. Kemampuan pengambilan Keputusan Klinis
Kompetensi dalam mengambil keputusan klinis adalah sangat penting, Perawat tidak hanya punya
pengetahuan, keterampilan dan sikap, tapi harus mampu mengelaborasikan dalam pembuatan
keputusan klinis, sehingga asuhan yang diberikan adalah sesuai dengan kebutuhan dari pasien.
Unsur Penilaian Kinerja Profesional Keperawatan meliputi:
a. Penilaian Perilaku : Merupakan keterlibatan dalam menumbuhkan budaya aman/ safety Culture dan
etik.
 Mengungkapkan kepemilikan dan konflik kepentingan;
 Menjelaskan pelayanannya pada pasien secara jujur;
 Melindungi kerahasiaan informasi pasien;
 Mendukung penyediaan kebijakan yang jelas mengenai pendaftaran pasien, trasfer, dan
pemulangan pasien;
 Mendukung biaya untuk pelayanan yang diberikan secara akurat dan memastikan bahwa insentif
finansial dan pengaturan pembayaran tidak mengganggu pelayanan pasien;
 Mendukung transparansi dalam melaporkan pengukuran kinerja klinis dan kinerja organisasi;
 Berperan dalam menetapkan sebuah mekanisme di mana tenaga kesehatan dan staf lainnya dapat
melaporkan kesalahan klinis atau mengajukan kekhawatiran etis dengan bebas dari hukuman,
termasuk melaporkan perilaku staf yang merugikan terkait dengan masalah klinis ataupun
operasional;
 Mendukung lingkungan yang memperkenankan diskusi secara bebas mengenai masalah/ isu etis
tanpa ada ketakutan dalm sanksi;
 Menyediakan resolusi yang efektif dan tepat waktu untuk masalah etis yang ada;
 Memastikan praktek non- diskriminasi dalam hubungan kerja dan ketentuan atas asuhan pasien
dengan mengingat norma hukum dan budaya negara indonesia;
 Mengurangi kesenjangan dalam akses untuk pelayanan kesehatan dan hasil klinis.
b. Pengembangan profesional sesuai kompetensi dan kewenangan.
Keperawatan harus berkembang dengan menerapkan tehnologi baru, pengetahuan klinis dan asuhan
keperawatan terkini. Setiap perawat harus merefleksikan perkembangan dan perbaikan dari
pelayanan kesehatan, pelayanan keperawatan dan praktek profesional sebagai berikut:
 Asuhan pasien, penyediaan asuhan penuh kasih, tepat dan efektif dalam asuhan keperawatan,
promosi kesehatan, pencegahan dan sepanjang siklus kehidupan asuhan diakhir hidup. Alat
ukurnya adalah pelayanan preventif dan laporan dari pasien
dan keluarga.
 Pengetahuan Asuhan Keperawatan dan terkait tentang fisiologi, patofisiologi, biomedik, klinik,
epidemiologi, ilmu pengetahuan Sosial budaya, dan pendidikan kepada pasien. Alat ukur penilaian
kinerja adalah penerapan panduan asuhan keperawatan dalam panduan praktik klinik terintegrasi,
termasuk revisi pedoman, hasil pertemuan profesional dan publikasi.
 Praktek belajar berdasar bukti (practice-bases learning) dan pengembangan, penggunaan
berdasar evaluasi dan belajar terus menerus ( contoh metode asuhan terkini, diagnosa terkini, alat
ukur survey klinik, memperoleh kewenangan berdasarkan studi dan keterampilan klinik baru,
partisipasi penuh dipertemuan ilmiah).
 Kepandaian berkomunikasi aatar personal, termasuk menjaga dan meningkatkan pertukaran
informasi dengan pasien, keluarga pasien, dan anggota tim layanan kesehatan yang lain ( Contoh
partisipasi aktif di ronde ilmiah, konsultasi tim dan kepemimpinan tim).
 Professionalisme, janji mengembangkan profesionalitas terus menerus, praktek etik, pengertian
terhadap perbedaan, perilaku bertanggung jawab terhadap pasien, profesi dan masyarakat (
Contoh alat ukur; pendapat pimpinan di keperawatan terkait isu klinik dan isu profesi, aktif
membantu diskusi panel tentang etik, ketepatan waktu pelayanan di rawat jalan maupun rawat
inap dan partisipasi di masyarakat).
 Praktek berbasis sistim, sadar dan tanggap terhadap jangkauan sistem pelayanan kesehatan yang
lebih luas ( contoh alat ukur pemahaman terhadap regulasi Rumah sakit yang terkait dengan
tugasnya, seperti asuransi kesehatan (JKN), sistem kendali mutu dan biaya, peduli pada masalah
resistensi antimikroba).
 Mengelola sumberdaya, memahami pentingnya sumber daya dan berpartisipasi melaksanakan
asuhan yang efesien, menghindari penyalahgunaan pemeriksaan diagnostik dan terapi yang tidak
ada manfaatnya bagi pasien dan meningkatkan biaya pelayanan kesehatan ( contoh alat ukur:
partisipasi dalam kendali mutu dan biaya ysng ditanggung pasien, berpartisipasi dalam proses
seleksi pengadaan).
 Sebagai bagian dari proses penilaian, proses monitoring dan evaluasi berkelanjutan harus
mengetahui kinerja anggota keperawatan yang relevan dengan potensi pengembangan
kemampuan professional keperawatan.

c. Kinerja Klinis, sesuai Rincian Kewenangan Klinis yang diberikan.


Penilaian kinerja praktek klinis keperawatan dapat dinilai dari proses asuhan keperawatan, dimana
perawat yang kompeten yang berfungsi sebagai Profesional Pemberi Asuhan (PPA) harus
melaksanakan asessmen pasien yang minimal terdiri dari 11 elemen yaitu:
 Status Fisik
 Psiko,sosial, spiritual,
 Ekonomi
 Riwayat Kesehatan pasien,
 Riwayat Alergi,
 Assesmen nyeri,
 Risiko Jatuh,
 Assesmen Fungsional,
 Risiko Nutrisional,
 Kebutuhan Edukasi,
 Perencanaan Pemulangan Pasien ( Discharge Planning).

Kepatuhan dan ketepatan serta kualitas dalam melaksanakan Asesmen pasien akan menjadi elemen
penilaian kinerja klinis. Prinsip Infomasi Analisis dan Rekomendasi (IAR) dalam pelayanan dan asuhan
pasien juga akan menjadi kinerja klinis perawat. Dimana pada poin analisis adalah kepatuhan, ketepatan
dan juga relevansi penetapan diagnosa keperawatan yang sesuai dengan hasil asesmen pasien serta
dilanjutkan dengan penetapan rekomendasi yang berupa intervensi keperawatan. Intervensi keperawatan
akan dilanjutkan dalam implementasi keperawatan yang dituangkan dalam catatan keperawatan /nursing
note dan kemudian untuk mengevaluasi perkembangan pasien maka kemampuan dalam evaluasi dan
mendokumentasikan evaluasi dalam catatan perkembangan pasien terintegrasi (CPPT) juga menjadi
kinerja klinis keperawatan.

Pengumpulan informasi tentang kinerja klinis perawat dapat dilakukan dengan audit klinis langsung melalui
observasi langsung, maupun menggunakan data dokumentasi. Selain itu dapat di peroleh dari hasil
indikator pelayanan keperawatan yang meliputi pencapaian:
1. Pemenuhan Kenyamanan pasien: Terpenuhinya kebutuhan rasa nyaman, aman, terpenuhinya
kebutuhan pengurangan rasa nyeri dan mengurangi kecemasan selama perawatan.
2. Keselamatan pasien (six goal patient safety).
3. Pemenuhan kebutuhan sehari-hari pasien ( pendekatan henderson).
4. Pemenuhan akan kebutuhan edukasi kesehatan.
5. Kepuasan pasien dan keluarga.

Kinerja klinis harus di sertai dengan penguatan, pengarahan, dan monitoring kinerja klinis yang
berkelanjutan. Penguatan model preceptorship dan mentorship akan memperkuat sistem OPPE dan FPPE,
dimana masing-masing perawat klinis (PK) level bawah dibimbing oleh perawat Klinis level diatasnya.
Kondisi ini menuntut adanya supervisi berjenjang.
Supervisi Keperawatan adalah salah satu model pengarahan, bimbingan, evaluasi dan pembentukan
peningkatan kemampuan, motivasi kemauan, sikap dan keterampilan dalam melaksanakan asuhan
keperawatan. Supervisi dilaksanakan terus menerus melalui proses preceptorship oleh preceptor maupun
atasan dari staf perawat.

Model supervisi dan penjadwalan perawat yang mempunyai kewenangan klinis harus dikelola dengan baik.
Dalam satu siklus shift/ penjadwalan keberadaan model skill mix perawat misalnya PK III harus ada disetiap
shift, demikian juga dengan perawat PK II dan PK I tidak boleh bertugas sendiri karena harus didampingi
oleh perawat dengan kewenagan klinis yang lebih tinggi. Saat PK I melaksanakan kewenangan klinis PK II
maka harus mendapatkan pengawasan , bimbingan dan arahan dari PK II, demikian juga PK II jika
melaksanakan kewenangan yang diatasnya harus di bawah supervisi PK III.

Ada 6 Domain OPPE


1. Nursing Care : Kegiatan perawat,
2. Interpersonal and communication skill
3. Professionalisme
4. Practice-based leadrning and improvement
5. System based-practice

E. CONTINOUS PROFFESIONAL DEVELOPMENT /CPD

Apabila saat asesment maupun OPPE dan FPPE ditemukan adanya gap kompetensi maka subkomite
kredensial atau preceptorship/mentor/supervisor dapat mengusulkan staf untuk mengikuti CPD. CPD
dilaksanakan berdasarkan training need assessment dari gap kompetensi yang terjadi saat asesment
kompetensi, evaluasi professional berkelanjutan /on going professional evaluation dan kebutuhan
pengembangan organisasi. CPD yang dilaksanakan bisa berupa pelatihan, seminar, workshop, diskusi
refleksi klinis, maupun peningkatan pendidikan formal.

Sesuai Standar KKS 8 dan KKS 8.1 dan KKS 8.2 bahwa setiap staf termasuk perawat wajib mengikuti
pendidikan atau pelatihan di dalam atau diluar rumah sakit termasuk pendidikan profesi berkelanjutan
untuk mempertahankan atau meningkatkan kompetensinya dan rumah sakit wajib menyiapkan minimum
20 jam pertahun untuk kegiatan CPD per perawat, bisa melalui in house training atau pembelajaran e-
learning.

F. KETERKAITAN CPD, KOMPETENSI, KEWENANGAN DAN PENILAIAN KINERJA

Siklus keterkaitan CPD dengan kredensial, pemberian tugas sesuai kewenangan klinis dan penilaian kinerja
adalah seorang perawat berdasarkan kompetensi yang dimiliki melalui pendidikan, pelatihan, pengalaman
maupun fellowship akan dilaksanakan kredensial oleh komite keperawatan untuk diusulkan kewenangan
klinis.

Surat Penugasan Klinis (SPK) ditetapkan oleh Direktur Rumah Sakit dan didalam SPK mengandung Rincian
Kewenangan Klinis (RKK), yang boleh dilakukan oleh perawat. RKK ini sangat individual sesuai dengan
kompetensi dari m asing-masing perawat. Dengan diterbitkannya SPK dan RKK maka perawat di suatu unit
akan memperoleh kewenangan dan atau uraian tugas ssuai dengan kewenangan klinis yang dimilikinya
(delination of clinical previledge).

Seorang perawat yang mempunyai clinical previledge akan selalu dievaluasi kinerja profesionalnya melalui
sistem penilaian kinerja profesional yang terus menerus (on going professional performance evaluation/
OPPE).
Apabila dalam OPPE atau FPPE ada suatu gap kompetensi maka seorang perawat dapat diusulkan untuk
mendapatkan CPD. Dengan demikian CPD diarahkan pada pencapaian kompetensi tertentu berdasarkan
training need assessment (TNA).
Pasca mengikuti CPD evaluasi kompetensi harus dievaluasi. Setelah fase evaluasi secara supervise dan juga
mandiri, perawat dapat mengajukan kredensial untuk mendapatkan kewenangan klinis. Dengan demikian
maka siklus akan kembali pada posisi awal yaitu pendidikan, pelatihan, pengalaman, dan fellowship dan
seterusnya akan mengalami siklus berputar yang terus menerus.

G. PENUTUP
Peningkatan mutu kinerja perawat senantiasa selalu ditingkatkan dengan mengikuti pendidikan dan
pelatihan. Dan untuk menjamin mutu pelayanan asuhan keperawatan, maka audit kinerja perawat di
rumah sakit Teungku Peukan perlu dilakukan secara terus menerus.

Langkah-langkah:
Indikator : spesifik, relefan dan dapat diukur
Target : dapat dicapai dan menantang
Bobot: dapat dicapai, urgensi RS
KaMUS do : Timely, analisis

Indikator
no Indikator Sub indikator Defenisi operasional
A Kuantitas
1 Nursing Care Jumlah pasien yang Jlh pasein yang menjd
dilayani tanggung jawab dalam
satu siklus shift
Jumlah oral care dst Jumlah pasein yang
dilakukan oral higiene
oleh satu perawat
dalam satu periode
penilaian/dinas, untuk
mencegah terjadinya
VAP
B Kualitas
Patient Care Kelengkapan dokumen 2; bila sesuaio standar
1; bil perlu bimbingan3;
bila tdk sesuai standar
Kepatuhan terhadap 2; bilasesuai standar 1;
SPO bila perlu bimbingan
3;bila tdk sesuai standar

Komponen perilaku
N Faktor SKOR
o penilaian
51-60 61-70 71-80 81-90 91-100
KURANG Dibawah Sesuai harapan Diatas Istimewa
Harapan harapan
1 keberad Berada Berada Berada dilingk/tempat Berada di Berada di
aan dilingkunga dilingk/tempat kerja 40 jam dalam lingk/tempat lingk/temp
n /tempat kerja<40 jam seminggu dan ada kerja <40 jam at kerja 40
kerja <30 dalam bukti dlm
jam seminggu (30- keberadaan(dengan seminggu(de jam dalam
seminggu 34 jam) maksimal ngan seminggu.
keterlambatan/lebih maksimal
cepat pulang 5-6 jam keterlambata
sebulan n/ lebih cepat
pulang 2-4
jam sebulan
2 inisiatif Tdk Kurang Memahami mslh Dapat Cepat
memahami memahami dalam tugasnya dan memberikan mengenali
masalah mslh terkait dapat menyelesaikan saran untuk masalah
dalam tugas, tdk tugas dan berani penyelesaian dan
tugas, sll berinisiatif mengajukan saran dan memprakar
menunggu menyelesaikan untuk perbaikan. peningkatan sai
perintah tugas apabila mutu mengupaya
untuk ada kendala. pekerjaan kan
melaksanak dan tindakan
an tugas pelayanan dan saran
korektif
3 Kehanda Kesalahan Kesalahan Dapat melaksanakan Tugas rutin Tugas rutin
lan dalam tugas dalam tugas tugas rutin sesuai SOP selesai selesai
rutin >1x rutin 1x dalam dg dengan baik tepat
dalam sebulan pengawasan/bimbing dan tepat waktu
sebulan an rutin waktu tanpa
kesalahan
4 Kepatuh Berulangkal Sering Taat pada aturan Taat pada Taat pada
an i melanggar melanggar rumas sakit dan tata aturan dan aturan dan
aturan aturan tetapi tertib kepegawaian dapat dapat
meskipun patuh bila memberi memotivasi
sdh ditegur diperingati contoh pada karyawan
karyawan lain.
yang lain
5 Kerjasa Tdk mau Sulit diajak Biasa bekerjasama Padat Selalu siap
ma bekerjasam bekerjasama,s dal;am bekerjasama dan sering
a atau ering menyeklesaikan a dg baikm memprakar
menolong mengkritik,tdk pekerjaan, dapat sering sai
orang, suka menerima satranm meminta kerjasama
teman,mar dikritik,dan dan kritik saran dan dan
ah terhadap senang masukan tim menerima
kritik dan mencari masuka dan
sering kekurangan kritikan dg
menolak org lain baik
saran dan
masukan
6 Sikap Sering Sering Menerima tugas tanpa Senang dan Antusias
perilaku melempar menghindari mengeluh, dapat puas atas dengan
tugas/tangg tugas, berkomunikasi tugasnya tugasnya,
ung pasif,sulit dengan berkomunika senantiasa
jawab,mala berkomunikasi baik,(atasan/bahawan si dan mau
s, /rekan melayani membantu,
berkomunik jerja/pelanggan) dengan baik. mampu dan
asi sering aktif
bersifat berkomuni
kasar kasi dengan
pelanggan.
Formula penghitungan
Capaian kinerja=Targetx bobotx 100%

Pencapaian kinerja
80-109 (kinerja sesuai)
>110% Kinerja mutu lebih dari standar

<59% kinerja tidak diterima


59-79% kinerja kurang

Analisa kinerja
Kekuatan;
 Identifikasi kekuatan perawat
 Pengetahuan, keterampilan dan etik
Kelemahan;
 Identifikasi kelemahan perawat
 Pengetahuan, keterampilan dan etika
Pengembangan;
 Kelemahan sebagai gap
 Usulan pengembangan

Proses umpan balik penilaian kinerja


1. Kegiatan perawat tercatat dalam log book, observasi,peer review
2. Karu merekap capaian logbokk, koordinasi PN/katim tiap bulan
3. Karu melakukan penilaian kinerja min 1 thn/ 6 bulan denmgan analisa
4. Laporan karu pada ka insylasi diterus kan kebagian SDm/ file indiovidu
5. KFK melakukan analisa hasil penilaian kinerja, laporan kekomite keperawatan dan rekredensial
6. Pembinaan oleh sub mutu.

Sumber data;
1. Logbook
2. Observasi
3. OPPE
4. Catatan absensi
5. Angket pasien
6. Data skunder lain

Contoh: penilaian kinerja perawat (nurse) 1


Nama
Unit
Jabatan
Unit kerja
penilaian
no Indikator Definisi target capaian akumulasi Bobot(%) Nilai haisl
yang operasional kinerja
dinilai
1 2 3 4 5 6 (5/4)x6
PANDUAN KINERJA PERAWAT KLINIS DENGAN OPPE ( On Going Profesional Evaluation)

MENIMBANG:
1. Bahwa pelaksanaan evaluasi kinerja profesional perawat merupakan proses untuk memastikan bahwa
setiap perawat kompeten untuk memberikan asuhan keperawatan mandiri, kolaborasi, delegasi dan
mandat kepada pasien secara aman dan efektif.
2. Bahwa pelaksanaan evaluasi kinerja profesional perawat merupakan salah satu cara profesi
keperawatan mempertahankan dan meningkatkan mutu pelayanan dalam menjamin keselamatan
pasien dengan memastikan bahwa asuhan yang dilaksanakan oleh perawat sesuai denga kewenangan
perawat.
3. Bahwa untuk maksud tersebut di atas maka perlu ditetapkan Panduan Kinerja Perawat Klinis dengan
OPPE di Rumah Sakit Teungku Peukan dengan surat keputusan Direktur.

MENGINGAT

1. Undang-undang no 44 tahun 2009 tentang Rumah Sakit


2. Undang-Undang No 3 tahun 2009 tentang kesehatan
3. Undang- undang No 44 tahun 2009 tentang Rumah Sakit
4. Undang-undang No 38 Tahun 2014 Tentang Keperawatan
5. Peraturan Menteri Kesehatan No 49 Tahun 2013 Tentang Komite Keperawatan.
6. PerMenKes No HK 02 02/MENKES/148/1/2010 tentang izin dan Penyelenggaraan Praktek
Perawat sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 17 Tahun
2013.
7. Peraturan Menteri Kesehatan No 46 Tahun 2013 tentang Registrasi Tenaga Kesehatan.
8. Permenpan No tahun 2014 tentang Jabatan Fungsional Perawat dan Angka Kreditnya.
9. Peraturan Menteri Kesehatan No 11 Tahun 2017 tentang Keselamatan Pasien.
10. Peraturan Menteri Kesehatan No 34 Tahun 2017 tentang Akreditasi Rumah Sakit.
11. Peraturan Menteri kesehatan No 40 tahun 2017 tentang Jenjang Karir Keperawatan.
12. Buku Standar Nasional Akreditasi Rumah sakit Edisi 1 Tahun 2018.
MENETAPKAN:

MEMUTUSKAN:

KESATU: Memberlakukan Panduan Kinerja Perawat Klinis Dengan OPPE di Rumah Sakit Umum
Teungku Peukan sebagai mana terlampir dalam keputusan ini.
KEDUA : Keputusan ini berlaku sejak tanggal diterbitkan dan akan dilakukan evaluasi minimal 1
(satu) tahun sekali.
KETIGA : Apabila hasil evaluasi mensyaratkan adanya perubahan dan perbaikan maka akan
diadakan perubahan dan perbaikan sebagai mana mestinya.

Anda mungkin juga menyukai