Anda di halaman 1dari 18

Sintesis Biodisel Dari Minyak Sawit Menggunakan Katalis CaO Superbasa Dari

Pemanfaatan Limbah Cangkang Telur Ayam

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Energi merupakan bahan baku yang sangat penting peranannya dalam menunjang

kehidupan masyarakat. Dewasa ini tingkat pemakaian bahan bakar minyak semakin

meningkat dari waktu ke waktu, sedangkan ketersedian sumber bahan bakar minyak bumi di

alam semakin menipis, hal ini disebabkan karena jumlah populasi penduduk yang semakin

meningkat, sehingga mengakibatkan peningkatan terhadap penggunaan energi. Pada saat ini

sumber energi yang masih banyak digunakan dikalangan masyarakat masih didominasi oleh

bahan bakar fosil, seperti minyak bumi, batubara, dan gas-gas alam yang tidak dapat

diperbaharui. Dengan konsumsi energi yang terus menerus meningkat, sedangkan cadangan

bahan bakar fosil yang semakin menipis, maka suatu saat akan mengakibatkan kelangkaan

sumber energi, sehingga diperlukan energi alternative baru yang mampu mencukupi atau

paling tidak mampu untuk menghemat penggunaan energi dari bahan bakar fosil, sehingga

tidak mengakibatkan terjadinya kelangkaan energi. Salah satu energi alternative yang mampu

untuk menghemat penggunaan bahan bakar fosil adalah biodisel.

Biodiesel merupakan bahan bakar yang terdiri dari campuran mono-alkyl ester dari

rantai panjang asam lemak, yang dipakai sebagai alternatif bagi bahan bakar dari mesin

diesel dan terbuat dari sumber terbaharui seperti minyak sayur atau lemak hewan. Biodiesel
bersifat biodegradable, hampir tidak mengandung sulfur, dan bahan bakar terbarukan,

meskipun masih diproduksi dengan jalan yang tidak ramah lingkungan. Biodiesel sebagian

besar dibuat dari proses transesterifikasi sumber daya yang dapat dimakan, seperti lemak

hewan, minyak sayur, dan bahkan limbah minyak goreng, dengan proses katalis kondisi basa.

Namun, konsumsi tinggi katalis, pembentukan sabun, dan rendahnya hasil panen membuat

biodisel saat ini lebih mahal daripada bahan bakar yang diturunkan dari minyak bumi. Oleh

karena itulah dilakukan penelitian tentang pembuatan biodisel dengan menggunakan katalis

CaO superbasa dari pemanfaatan limbah cangkang telur ayam.

Potensi limbah cangkang telur ayam yang manfaat dan kegunannya belum dieksplotasi

secara optimal dapat dijadikan alternative dalam proses pembuatan biodiesel. Rendahnya

pemamfaatan cangkang telur ayam dalam bidang pangan disebabkan karena kurangnya minat

masyarakat dalam pengolahannya. Limbah cangkang telur ayam memenuhi kriteria serta

memiliki beberapa keuntungan sebagai bahan baku pembuatan biodisel. Adapun keuntungan

penggunaan cangkang telur ayam dalam prose pembuatan biodisel antara lain ialah:

Cangkang telur memiliki kandungan CaCO3 (kalsium karbonat) sebanyak 94%, MgCO3

(magnesium karbonat) sebanyak 1%, Ca3(PO4)2 (kalsium fosfat) sebanyak 1% dan bahan-

bahan organik sebanyak 4% (Stadelman, 2000 ). Komponen utama dari cangkang telur yakni

CaCO3 dapat diubah menjadi CaO melalui proses kalsinasi. Oleh karena itu dapat diharapkan

bahwa kulit telur dapat digunakan sebagai sumber CaO yang mempunyai kemurnian tinggi

sehingga mampu berperan sebagai katalis. Katalis CaO merupakan katalis heterogen dan

bersifat basa.

Kelapa sawit dipilih sebagai alternatif untuk diesel karena mampu mengurangi emisi

bersih karbon dioksida yang merupakan penyumbang utama pemanasan global. Upaya
pengembangan biodiesel mendesak dilakukan antara lain untuk mengurangi konsumsi solar

dan juga dapat mengurangi beban masyarakat akibat mahalnya harga solar serta pasokan

yang tidak menentu. Selain itu juga penggunaan biodiesel berfungsi untuk mengurangi polusi

CO2 dari hasil pembakaran fosil. Pembuatan biodiesel selama ini lebih banyak menggunakan

katalis homogen, seperti asam (H2SO4) dan basa (larutan NaOH atau KOH). Namun

penggunaan katalis tersebut memiliki kelemahan yaitu pemisahan katalis dari produknya

cukup rumit. Selain itu, katalis homogen dapat bereaksi dengan asam lemak bebas (ALB)

membentuk sabun sehingga akan mempersulit pemurnian, menurunkan yield biodiesel serta

memperbanyak konsumsi katalis dalam reaksi metanolis.

Untuk mengatasi permasalahan dari penggunaan katalis homogen maka diperlukan

pengembangan yaitu mengganti katalis dengan katalis basa heterogen seperti katalis CaO

yang berasal dari cangkang telur ayam. Katalis CaO yang berasal dari cangkang telur akan

mengurangi biaya operasional, dan dapat mengurangi dampak negatif bagi lingkungan.

Adapun kajian yang dilakukan yaitu mengaplikasikan katalis CaO superbasa yang dihasilkan

terhadap pembuatan biodiesel dengan bahan baku minyak kelapa sawit dan reaktannya

metanol, mengetahui pengaruh variasi katalis CaO superbasa dan perbandingan rasio mol

minyak terhadap methanol pada yield biodiesel.

1.2 Rumusan Masalah

1. Bagaimana mengaplikasikan katalis CaO superbasa yang dihasilkan terhadap pembuatan

biodiesel dengan bahan baku minyak kelapa sawit dan reaktannya methanol?

2. Bagaimana pengaruh variasi katalis CaO superbasa dan perbandingan rasio mol minyak

terhadap methanol pada yield biodiesel?

1.3 Tujuan Penelitian


1. Mengetahui mengaplikasikan katalis CaO superbasa yang dihasilkan terhadap pembuatan

biodiesel dengan bahan baku minyak kelapa sawit dan reaktannya methanol.

2. Mengetahui pengaruh variasi katalis CaO superbasa dan perbandingan rasio mol minyak

terhadap methanol pada yield biodiesel.

1.4 Manfaat Penelitian

1. Bagi pemerintah, bias menghemat penggunaan bahan bakar fosil yang sudah mulai

menipis, dengan menggunakan bahan bakar nabati.

2. Bagi masyarakat, bias mengetahui manfaat dan kegunaan biji kluwih sebagai bahan bakar

alternative yang digunakan sebagai bahan baku pembuatan bietanol

3. Bagi mahasiswa, bisa mengetahui kajian tentang kadar bioetanol yang dihasilkan,

pengaruh variasi jumlah ragi dan waktu fermentasi dalam penelitian ini.
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Potensi Biodisel

Menurut penelitian yang dilakukan Nixon Poltak Frederic (2013), dengan

menggunakan buah kapuk sebagai bahan baku pembuatan biodiesel, dimana minyak dari biji

buah kapuk terdapat asam lemak tidak jenuh sebanyak 71,95% yang membuah minyak dari

biji buah kapuk mudah berbau tengik, sehingga perlu dilakukan proses konversi menjadi

metal ester menggunakan proses esterifikasi dan transesterifikasi. Pada proses esterifikasi biji

buah kapuk direaksikan bersama methanol dengan bantuan katalis KOH, dengan variasi

volume sebanyak 70 ml, 80 ml, 90 ml, 100 ml dan 110 ml. pada proses transesterifikasi

dilakukan dengan menambahkan methanol dengan variasi volume sebanyak 50 ml, 40 ml, 30

ml, 20 ml dan 10 ml. kedua proses tersebut menggunakan variasi suhu sebesar 40°C, 50°C,

60°C, 70°C dan 80°C serta untuk variasi waktu sebesar 30 menit, 45 menit, 60 menit, 75

menit dan 90 menit. Dari percobaan yang telat dilakukan pada proses esterifikasi diperoleh

hasil konversi tertinggi biodisel sebesar 93,95% menggunakan methanol sebanyak 110 ml

pada suhu 80°C selama 90 menit. Sedangkan pada aproses trasesterifikasi diperoleh hasil

konversi tertinggi biodiesel sebesar 97,22% menggunakan methanol sebanyak 50 ml pada

suhu 30°C selama 90 menit. Dan sudah memenuhi sfesifikasi biodiesel menurut SNI-04-

7182-2006 konversi minimum biodiesel yang dihasilkan adalah minimum sebesar 96,5%.

Dari penelitian ini dapat disimpulkan, prose esterifikasi dan transesterifikasi minyak biji

kapok randu mampu menghasilkan biodiesel, bahwa semakin besar suhu reaksi maka

konversi ester yang hasilkan akan semakin besar.


Biodisel juga dapat dibuat dengan menggunakan minyak jerami padi (Oryza Sativa

L) yang diteliti oleh Tasik Sinta (2016), dengan menggunakan katalis Cao dari kulit telur

ayam. Katalis CaO dapat dibuat melalui proses kalsinasi CaCO3, dimana satu sumber

CaCO3 yang mudah diperoleh disekitar kita adalah kulit telur. Kulit telur memiliki

kandungan CaCO3 (kalsium karbonat) sebanyak 94%, MgCO3 (magnesium karbonat)

sebanyak 1%, Ca3(PO4)2 (kalsium fosfat) sebanyak 1% dan bahan-bahan organik sebanyak

4%. Proses transesterifikasi dilakukan dengan menggunakan variasi suhu yaitu 30oC, 40oC,

50oC, 60oC dan 70oC. Kemudian di refluks selama 2 jam. Selanjutnya dicuci hingga Ph 7.

Berikutnya biodiesel disaring menggunakan kertas saring yang sudah diberi Na2SO4

anhidrat didalamnya agar dapat menarik air yang kemungkinan masih tersisa pada biodiesel.

Hasil uji pada reaksi transesterifikasi minyak jerami padi (Oryza sativa L.) untuk

menghasilkan metil ester (biodiesel) dengan menggunakan katalis CaO, maka suhu yang

optimum adalah pada suhu 60oC dengan kadar sebanyak 90,8405%.

2.2 Potensi Katalis

Menurut penelitian yang telah dilakukan oleh zuhra (2015), biodiesel dapat dibuat

dengan menggunakan bantuan katalis dari abu kulit kerang. Dimana katalis dari abu kulit

kerang termasuk kedalam golongan katalis padat, yang dapat dengan mudah untuk

dipisahkan dari campuran reaksi secara filtrasi. Katalis ini juga rendah korosi dan lebih

ramah lingkungan dibandingkan katalis homogen. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk

mengetahui efektivitas penggunaan abu kulit kerang yang mengandung CaO (kalsium

oksida) sebagai katalis heterogen terhadap rendemen biodiesel dengan menggunakan bahan

baku dari minyak buah nyamplung. Dimana katalis disiapkan dengan metode kalsinasi
sederhana pada temperatur: 600, 700, 900°C, dan tanpa kalsinasi. Setelah kalsinasi, katalis

dikarakterisasi dengan metode X-ray Diffraction (XRD) dan Scanning Electron Microscopy

(SEM). Reaksi transesterifikasi minyak nyamplung dengan metanol dilangsungkan di dalam

reaktor berpengaduk menggunakan katalis padat dari kulit kerang. Dari pola XRD

mengindikasikan bahwa CaCO3 terkonversi dari kulit kerang sempurna menjadi CaO ketika

kulit kerang dikalsinasi pada suhu 900°C. Hasil rekaman SEM diperoleh ukuran partikel

katalis setelah dipijar menjadi kecil. Aktivitas katalis tertinggi diperoleh pada penggunaan

abu kulit kerang yang dikalsinasi pada suhu 900°C. Rendemen metil ester tertinggi yang

dihasilkan mencapai 87,4% setelah 3 jam reaksi.

Biodisel juga dapat dibuat dengan menggunakan bantuan dari katalis CaO yang

terdapat pada kulit telur ayam dan abu layang batubara, yang diteliti oleh Ekky Riza

Enggawati dan Ratna Ediati (2013). Menurut penelitian katalis dari hasil kalsinasi kulit telur

memiliki kandungan Ca paling tinggi (99,2%), dari pada cangkang moluska (Golden apple

snail – 99,0%, dan meretrix venus - 98,6%). Selain itu, luas permukaan aktif dan total

volume pori katalis hasil kalsinasi kulit telur juga lebih tinggi (SBET=1,1 m2/g, total volume

pori=0,005 cm3/g) dari pada cangkang moluska (Golden apple snail dengan SBET=0,9

m2/g, total volume pori=0,004 cm3/g, dan meretrix venus dengan SBET=0,5 m2/g, total

volume pori=0,002 cm3/g). Preparasi katalis CaO/abu layang dilakukan dengan metode

impregnasi basah. Katalis dipreparasi dengan empat macam variasi campuran, yang terdiri

dari 50% CaO/abu layang, 75% CaO/abu layang, 50% CaO/abu layang leaching, dan 75%

CaO/abu layang leaching. Selanjutnya campuran tersebut diaduk dalam sistem reflux

menggunakan pengaduk mekanik selama 4 jam pada suhu 70 °C dan pH 12,15. Setelah itu,

campuran didiamkan selama 24 jam dan didekantasi, sehingga didapatkan endapan. Endapan
tersebut dikeringkan dalam oven selama 20 jam pada suhu 100 °C, lalu dikalsinasi pada suhu

1000 °C selama 2 jam. Hasil optimal penggunaan katalis CaO dari kulit telur ayam yang

telah diproses secara kalsinasi terdapat pada suhu 1000°C. Hasil karakterisasi dengan SEM

dan FTIR menunjukkan bahwa CaO menempel pada permukaan abu layang, serta

membentuk ikatan Si-O-Ca dengan silika dari abu layang. Hasil uji katalis pada reaksi

transesterifikasi minyak biji nyamplung dengan menggunakan metanol menunjukkan bahwa

kadar FAME paling besar dicapai oleh katalis 75CFAL, diikuti oleh katalis 75CFA,

50CFAL, CaO, dan 50CFA.

Menurut penelitian yang dilakukan oleh Risfidian Mohadi (2013), biodiesel dapat

dibuat dengan menggunakan bantuan katalis CaO yang bersumber dari tulang ayam. Tulang

ayam berpotensi karena mengandung Ca dalam bentukan garam kalsium dan fosfor,

terdeposit dalam jaringan matriks lunak yang terdiri dari bahan organik mengandung serat

kolagen dan gel mukopolisakarida. Konversi Ca menjadi CaO dilakukan melalui proses

dekomposisi termal kalsium karbonat (CaCO3) dari tulang ayam yang dipanaskan pada

temperatur tinggi selama 3 jam pada variasi temperatur 400°C, 500°C, 700°C, 800°C, 900°C,

1000°C dan 1100°C. temperatur minimal dekomposisi tulang ayam untuk mendapatkan

kalsium oksida adalah 700°C. Semakin tinggi temperatur dekomposisi yang digunakan akan

meningkatkan kristalinitas CaO dari tulang ayam yang ditunjukkan dengan pita runcing pada

data XRD, dengan pola difraksi CaO sesuai dengan standar dari data JCPDS. Karakterisasi

CaO hasil dekomposisi dengan XRD menunjukkan pola difraksi CaO pada temperatur

dekomposisi 1100°C mendekati difraksi CaO standar (JCPDS) yang memiliki nilai 2θ: 34,2º,

37,3º, 58,3º, 64,1º dan 67,3º dengan struktur kristalin. Pita serapan pada spectra FTIR Ca-O

dari tulang ayam terlihat pada daerah 354,90 cm-1 yang menunjukkan adanya vibrasi Ca-O
hasil dekomposisi, diperkuat dengan munculnya puncak pada gelombang 870 cm-1.

Kemudian persentase CaO di dalam sampel dikonfirmasi dengan data EDX yang

menunjukkan persentase sebesar 56,28%.


BAB III

DASAR TEORI

3.1 Biodisel

Biodiesel adalah bahan bakar alternatif untuk mesin diesel yang dihasilkan dari reaksi

transesterifikasi antara minyak nabati atau lemak hewani yang mengandung trigliserida

dengan alkohol seperti metanol dan etanol. Reaksi transesterifikasi ini memerlukan katalis

basa kuat seperti natrium hidroksida atau kalium hidroksida sehingga menghasilkan senyawa

kimia baru yang disebut dengan metil ester (Lisa Adhani dkk, 2016). Biodiesel merupakan

bahan bakar mesin diesel yang terbuat dari bahan terbarukan yang terdiri atas ester alkil dari

asam-asam lemak. Biodiesel dapat dibuat dari minyak nabati, minyak hewani atau dari

minyak goreng bekas/daur ulang. Biodiesel merupakan salah satu bahan bakar mesin diesel

yang ramah lingkungan dan dapat diperbarui (renewable). Biodiesel tersusun dari berbagai

macam ester asam lemak yang dapat diproduksi dari minyak tumbuhan maupun lemak

hewan. Minyak tumbuhan yang sering digunakan antara lain minyak sawit (palm oil),

minyak kelapa, minyak jarak pagar dan minyak biji kapok randu, sedangkan lemak hewani

seperti lemak babi, lemak ayam, lemak sapi, dan juga lemak yang berasal dari ikan

(Wibisono, 2007; Sathivel, 2005).

3.2 Cangkang telur

Cangkang telur memiliki kandungan CaCO3 (kalsium karbonat) sebanyak 94%, MgCO3

(magnesium karbonat) sebanyak 1%, Ca3(PO4)2 (kalsium fosfat) sebanyak 1% dan bahan-

bahan organik sebanyak 4% (Stadelman, 2000 ). Komponen utama dari cangkang telur yakni

CaCO3 dapat diubah menjadi CaO melalui proses kalsinasi. Oleh karena itu dapat diharapkan
bahwa kulit telur dapat digunakan sebagai sumber CaO yang mempunyai kemurnian tinggi

sehingga mampu berperan sebagai katalis. Katalis CaO merupakan katalis heterogen dan

bersifat basa (Mahreni, 2011). Penggunaan katalis CaO dari cangkang telur ayam terlebih

dahulu dilakukan kalsinasi untuk mendapatkan katalis CaO yang baik. Kalsinasi merupakan

proses menghilangkan senyawa CO2 yang terdapat di dalam telur ayam sehingga membentuk

CaO. Temperatur kalsinasi yang digunakan harus di atas 800°C.

3.3 Katalis CaO

Penggunaan katalis basa padat heterogen seperti kalsium oksida (CaO) dapat dijadikan

alternatif pengganti katalis homogen. CaO paling banyak digunakan untuk proses

transesterifikasi karena harganya yang murah, kelarutan yang rendah dalam metanol,

toksisitas ringan, ketersediaannya banyak di alam, persiapannya mudah, aktivitas katalitik

dan kebasaan yang tinggi sehingga dapat menghasilkan yield ester yang tinggi (Marinkovic

dkk, 2016). Namun, CaO mudah bereaksi dengan CO2 dan H2O pada kondisi lingkungan

serta laju reaksinya lebih lama dibandingkan dengan katalis homogen. Selain itu, jika CaO

digunakan secara langsung sebagai katalis pada proses transesterifikasi, ion oksigen pada

permukaan CaO akan membentuk ikatan hidrogen dengan metanol atau gliserin yang

menyebabkan viskositas gliserin meningkat dan membentuk suspensi dengan CaO sehingga

katalis serta gliserin sulit untuk dipisahkan dari produk. Karakterisitik dan performa katalis

CaO dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya yaitu jumlah katalis CaO yang

diimpregnasi ke dalam support, waktu dan temperatur kalsinasi katalis serta kebasaan katalis

(Liu dkk, 2010).


3.4 Transesterifikasi

Transesterifikasi adalah proses transformasi kimia molekul trigliserida yang besar,

bercabang dari minyak nabati dan lemak menjadi molekul yang lebih kecil, molekul rantai

lurus, dan hampir sama dengan molekul dalam bahan bakar diesel. Minyak nabati atau lemak

hewani bereaksi dengan alkohol (biasanya metanol) dengan bantuan katalis (biasanya basa)

yang menghasilkan alkil ester (atau untuk metanol, metil ester) (Knothe et al., 2005). Tidak

seperti esterifikasi yang mengkonversi asam lemak bebas menjadi ester, pada

transesterifikasi yang terjadi adalah mengubah trigliserida menjadi ester. Perbedaan antara

transesterifikasi dan esterifikasi menjadi sangat penting ketika memilih bahan baku dan

katalis. Transesterifikasi dikatalisis oleh asam atau basa, sedangkan esterifikasi,

bagaimanapun hanya dikatalisis oleh asam. Pada transesterifikasi, reaksi saponifikasi yang

tidak diinginkan bisa terjadi jika bahan baku mengandung asam lemak bebas yang

mengakibatkan terbentuknya sabun.(Nourredine, 2010).


BAB IV

METODOLOGI PENELITIAN

4.1 Alat dan Bahan

4.1.1 Alat

Alat-alat yang digunakan pada penelitian ini antara lain yaitu adalah pipet tetes,

blender, gelas ukur, indikator PP, batang pengaduk, hot plate, gelas beaker, autoclave,

neraca analitis, spatula, corong dan XRD dan SEM-EDS.

4.1.2 Bahan

Bahan-bahan yang digunakan pada penelitian ini antara lain yaitu adalah minyak

kelapa sawit, methanol, etanol, NaOH, asam sulfat, CaO dari cangkang telur ayam,

benzene, asam benzoate, indikator phenolptalein, indikator nitroaniline dan indikator

diphenylamine.

4.2 Tahap Penelitian

Penelitian yang akan dilakukan melalui beberapa tahapan yaitu:

1. Tahap persiapan bahan baku

2. Tahap pembuatan katalis CaO superbasa

3. Tahap penentuaan kadar asam lemak bebas

4. Tahap reaksi Esterifikasi

5. Tahap reaksi Transesterifikasi

6. Tahap uji XRD, SEM dan EDs


4.3 Prosedur Penelitian

Menyiapkan cangkang telur ayam yang diambil dari desa sei Awan Kiri, Kabupaten

Ketapang, Provinsi Kalimantan Barat.

4.3.1 Tahap persiapan bahan baku

Menimbang cangkang telur ayam sebanyak 1000 gram, mencuci dengan air

sampai bersih dan mengeringkannya didalam oven pada suhu 110 selama 24 jam.

Selanjutnya menghancurkan kulit telur hingga menjadi bubuk dan mengayak dengan

ayakan -200+325 mesh. Kemudian bubuk cangkang telur dikalsinasi pada suhu 950

selama 2 jam. Hasil kalsinasi selanjutnya disimpan di dalam desikator untuk menjaga

kondisi katalis tetap kering.

4.3.2 Tahap pembuatan katalis CaO superbasa

Sebanyak 3,5 gram CaO dari hasil kalsinasi pertama direndam disertai

pengadukan dalam larutan ammonium karbonat dengan konsentrasi 0,69 g/ml)

sebanyak 50 mL. Selanjutnya pisahkan antara padatan dan larutan dengan

menggunakan kertas saring wacthman no. 42. Padatan yang tertahan lalu dikeringkan

pada suhu 110 selama 24 jam atau massanya telah mencapai konstan. Padatan yang

telah kering kemudian dikalsinasi pada suhu 900 selama 1,5 jam. Katalis yang telah

dihasilkan disimpan didalam desikator.

4.3.3 Tahap penentuan kadar asam lemak bebas

Menimbang sampel 5 gram ke dalam Erlenmeyer 250 ml kemudian

menambahkan 50 ml etanol 95% yang telah dinetralkan dengan 0,1 N NaOH dengan

bantuan indikator phenolpthalein (PP). Menambahkan 5 tetes indikator PP ke dalam


sampel. Menitrasi dengan 0,1 N NaOH yang telah distandarisasi sebelumnya

ditambahkan indikator pp sampai warna merah muda.

4.3.4 Tahap reaksi esterifikasi

Menimbang minyak kelapa sawit sebanyak 500 gram dan memanaskan sampai

suhu mencapai 60°C. Mencampurkan sampel dengan methanol sebanyak 100 gram dan

1,5 mL asam sulfat. Kemudian campuran dipanaskan selama 1 jam. Memasukkan

campuran ke dalam corong pisah dan mendiamkan selama 1 jam, selanjutnya

mengambil trigliserida pada lapisan paling bawah.

4.3.5 Tahap reaksi transesterifikasi

Memasukkan katalis CaO superbasa dan metanol ke dalam labu destilat 1000 ml.

Kemudian mengaduknya selama 1 jam. Menambahkan 403 gram minyak sawit ke

dalam erlenmeyer secara perlahan-lahan kemudian menaikkan suhu menjadi 70°C.

Merefluks campuran selama kurang lebih 2,5 jam. Kemudian didinginkan dan

memisahkan katalis CaO superbasa. Memasukkan campuran ke dalam corong pisah dan

menyimpan pada suhu kamar selama 1 jam kemudian memisahkan antara lapisan atas

dan lapisan bawahnya. Mencuci lapisan bawah dengan air bersuhu ± 80°C. Selanjutnya

menguapkan kandungan air yang terdapat pada biodiesel pada suhu 105°C.

4.3.6 Tahap uji XRD, SEM dan

Uji X-Ray Diffraction (XRD) dilakukan untuk mengetahui kandungan mineral

yang terkandung dalam sampel cangkang telur ayam ras sebelum dan setelah kalsinasi

pada tempratur 950°C. Uji Scanning Electron Microscopy (SEM) bertujuan untuk

mengetahui struktur tiga dimensi dari katalis yang dihasilkan dengan pembesaran 3000
kali, 5000 kali, 7500 kali dan 10000 kali. Uji EDS bertujuan untuk mengetahui

konsentrasi CaO yang terdapat katalis yang dihasilkan dari kalsinasi cangkang telur.
DAFTAR PUSTAKA

Daniel Anggara dan Chairul Saleh, 2013, Pembuatan Biodiesel Dari Minyak Biji

Kapok Dengan Proses Esterifikasi dan Transesterifikasi. Jurnal Teknologi Kimia dan

Industri, Vol. 2, No.1

Ekky Riza Enggawati dan Ratna Ediati, 2013, Pemanfaatan Kulit Telur Ayam Dan

Abu Layang Batubara Sebagai Katalis Heterogen Untuk Reaksi Transesterifikasi Minyak

Nyamplung (Calophyllum Inophyllum Linn), Jurnal Sains Dan Seni Pomits, Vol. 2, No.1

Fadlillahi Hafiz, Zuchra Helwani1 dan Edy Saputra, 2017, Sintesis Katalis Basa Padat

Nanomagnetik Cao atau Serbuk Besi Untuk Reaksi Transesterifikasi Minyak Sawit Off

Grade Menjadi Biodiesel, Jurnal Fakultas Teknik, Vol. 4, No.1

Lisa Adhani, Isalmi Aziz, Siti Nurbayti dan Cristie Odi Oktaviana, 2016, Pembuatan

Biodiesel Dengan Cara Adsorpsi Dan Transesterifikasi Dari Minyak Goreng Bekas, Jurnal

Penelitian Dan Pengembangan Ilmu Kimia, Vol. 2, No.1

Risfidian Mohadi, Aldes Lesbani dan Yosine Susie, 2013, Preparasi Dan

Karakterisasi Kalsium Oksida (Cao) Dari Tulang Ayam, Jurnal Teknik Kimia, Vol. 6, No.2

Syahrial Efendi, Farida Hanum Hamzah, dan Akhyar Ali, 2018, Konsentrasi Katalis

Cao Dari Cangkang Telur Ayam Pada Proses Transesterifikasi Biodiesel Minyak Biji Pangi,

Jurnal Faperta, Vol. 5, No. 1


Tasik Sinta, Daniel dan Chairul Saleh, 2016, Optimasi Suhu Reaksi Transesterifikasi

Pada Minyak Jerami Padi (Oryza Sativa L.) Menjadi Biodiesel Dengan Menggunakan Katalis

Cao Dari Kulit Telur Ayam, Jurnal Kimia Mulawarman, Vol. 14, No. 1

Zuhra, Husni Husin, Fikri Hasfita dan Wahyu Rinaldi, 2015, Preparasi Katalis Abu

Kulit Kerang Untuk Transesterifikasi Minyak Nyamplung Menjadi Biodiesel, Jurnal

Agritech, Vol. 35, No. 1