Anda di halaman 1dari 33

Case Report Session

FRAKTUR TIBIA FIBULA

Oleh:

Ameliora Restky Sayety 1840312265

Preseptor :
dr. Erinaldi, Sp. OT, M.Kes

BAGIAN ILMU BEDAH


FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS ANDALAS
RSUD ACHMAD MOCHTAR
BUKITTINGGI
2019

1
BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Fraktur atau patah tulang adalah terputusnya kontinuitas tulang atau tulang
rawan umumnya di karenakan rudapaksa. Dalam kehidupan sehari-hari yang semakin
padat dengan aktifitas, manusia tidak akan lepas dari fungsi muskuloskeletal yang
salah satu komponennya adalah tulang. Tulang membentuk rangka penujang dan
pelindung bagian tubuh dan tempat untuk melekatnya otot-otot yang menggerakan
kerangka tubuh. Namun, akibat ulah manusia itu sendiri, fungsi tulang dapat
terganggu karena mengalami fraktur. Fraktur biasanya disebabkan oleh trauma atau
tenaga fisik.1
Fraktur Cruris merupakan suatu istilah untuk patah tulang tibia dan fibula yang
biasanya terjadi pada bagian proksimal, diafisis, atau persendian pergelangan kaki.
Fraktur cruris menempati posisi kedua terbanyak setelah fraktur femur dari seluruh
kasus fraktur ekstremitas bawah. Periosteum yang melapisi tulang tibia agak tipis,
terutama di daerah depan yang hanya dilapisi kulit sehingga tulang ini mudah patah
dan biasanya fragmen frakturnya bergeser. Karena langsung berada dibawah kulit,
sering ditemukan juga fraktur terbuka.2
Berdasarkan jenisnya, fraktur dibagi dua, yaitu fraktur tertutup dan fraktur
terbuka. Sebuah fraktur dikatakan fraktur tertutup (sederhana) apabila jaringan kulit
diatasnya masih utuh, sehingga tidak ada kontak antara fragmen tulang yang patah
dengan lingkungan luar. Namun bila fragmen tulang yang mengalami fraktur
terekspos ke luar, maka disebut fraktur terbuka (compound). Fraktur terbuka lebih
yang cenderung untuk mengalami kontaminasi dan infeksi daripada fraktur tertutup. 2
Jenis fraktur biasanya berhubungan dengan mekanisme trauma, misalnya trauma
angulasi yang akan menimbulkan fraktur tipe transversal oblik pendek, sedangkan
trauma rotasi akan menimbulkan trauma tipe spiral.3
Prinsip penanganan fraktur tidak terlepas dari primary survey untuk
meneemukan dan mengatasi kondisi life threatening yang ada pada pasien, terutama
pada layanan primer. Penatalaksaan yang tepat pada pasien fraktur menentukan
outcome nya. Bila dalam penatalaksanaan dan perawatan tepat, tulang yang patah
dapat menyatu kembali dengan sempurna (union). Namun bila penatalaksanaan tidak

2
tepat, maka fraktur dapat menyatu tidak sempurna (malunion), terlambat menyatu
(delayed union), ataupun tidak menyatu (non union). Perawatan yang baik juga perlu
untuk mencegah terjadinya komplikasi pada pasien fraktur.

1.2 Tujuan Penulisan

Penulisan case report ini bertujuan untuk memahami serta menambah


pengetahuan tentang Fraktur tibia-fibula.

1.3 Batasan Masalah


Batasan penulisan case report ini membahas mengenai anatomi, definisi,
epidemiologi, etiologi dan patogenesis, manifestasi klinis, diagnosis, dan
penatalaksanaan Fraktur tibia-fibula.

1.4 Metode Penulisan


Penulisan case report ini menggunakan metode penulisan tinjauan kepustakaan
merujuk pada berbagai literatur.

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Anatomi

3
Tungkai bawah atau regio cruris merupakan bagian membrum inferius yang
terletak antara articulation genus dan articulatio talocruralis. Regio ini tersusun atas
tiga tulang, yakni patella, tibia, dan fibula.
Patella adalah tulang sesamoid yang terbesar dalam tendo dari m. quadriceps
femoris di depan articulation genus. Patella berbentuk segitiga dengan apex terletak di
inferior. Apex dihubungkan dengan tuberositas tibiae oleh ligamentum patellae.
Facies posterior bersendi dengan condilus femoris. Patella terletak dalam posisi
terbuka di depan articulation genus dan dapat diraba dengan mudah melalui kulit.
Patella dipisahkan oleh kulit oleh bursa subcutanea. Pinggir atas, lateral dan medial
merupakan tempat perlekatan berbagai bagian m. quadriceps femoris. Patella dicegah
bergeser ke lateral selama kontraksi m. quadriceps femoris oleh serabut-serabut
horizontal bawah m. Vastus medialis dan oleh besarnya ukuran condylus lateralis
femoris.
Tibia merupakan tulang medial tungkai bawah yang besar dan berfungsi
menyanggah berat badan. Tibia bersendi di atas dengan condylus femoris dan caput
fibulae, di bawah dengan talus dan ujung distal fibula. Tibia mempunyai ujung atas
yang melebar dan ujung bawah yang lebih kecil, serta sebuah corpus. Pada ujung atas
terdapat condyli lateralis dan medialis (kadang-kadang disebutplateau tibia lateral dan
medial), yang bersendi dengan condyli lateralis dan medialis femoris, dan dipisahkan
oleh menisci lateralis dan medialis. Permukaan atas facies articulares condylorum
tibiae terbagi atas area intercondylus anterior dan posterior; di antara kedua area ini
terdapat eminentia intercondylus.
Pada aspek lateral condylus lateralis terdapat facies articularis fibularis
circularis yang kecil, dan bersendi dengan caput fibulae. Pada aspek posterior
condylus medialis terdapat insertio m. semimembranosus.
Corpus tibiae berbentuk segitiga pada potongan melintangnya, dan
mempunyai tiga margines dan tiga facies. Margines anterior dan medial, serta facies
medialis diantaranya terletak subkutan. Margo anterior menonjol dan membentuk
tulang kering. Pada pertemuan antara margo anterior dan ujung atas tibia terdapat
tuberositas, yang merupakan tempat lekat ligamentum patellae. Margo anterior di
bawah membulat, dan melanjutkan diri sebagai malleolus medialis. Margo lateral atau
margo interosseus memberikan tempat perlekatan untuk membrane interossea. Facies
posterior dan corpus tibiae menunjukkan linea oblique, yang disebut linea musculi
solei, untuk tempatnya m.soleus.
4
Ujung bawah tibia sedikit melebar dan pada aspek inferiornya terdapat
permukaan sendi berbentuk pelana untuk os.talus. ujung bawah memanjang ke bawah
dan medial untuk membentuk malleolus medialis. Facies lateralis dari malleolus
medialis bersendi dengan talus. Pada facies lateral ujung bawah tibia terdapat lekukan
yang lebar dan kasar untuk bersendi dengan fibula. Musculi dan ligamenta penting
yang melekat pada tibia.6
Fibula adalah tulang lateral tungai bawah yang langsing. Tulang ini
membentuk malleolus lateralis dari articulation talocruralis. Tulang ini berperan
sebagai tempat melekatnya otot-otot. Fibula memiliki ujung atas yang melebar, corpus
dan ujung bawah. Caput fibulae ditutupi oleh processus styloideus. Bagian ini
mempunyai facies articularis untuk bersendi dengan condylus lateralis tibiae. Corpus
fibulae memiliki 4 margines dan 4 facies. Margo medialis atau margo interosseus
memberikan tempat perlekatan untuk membrane interossea. Ujung bawah fibula
membentuk malleolus lateralis yang berbentuk segitiga dan terletak subkutan. Pada
facies medialis dari malleolus lateralis terdapat facies articularis yang berbentuk
segitiga untuk bersendi dengan aspek lateral os talus. Di bawah dan belakang facies
articularis terdapat lekukan yang disebut fossa malleolaris.

5
Gambar 2.1. Anatomi cruris.

Gambar 2.2 Otot - otot regio cruris13

6
2.2 Fraktur

2.2.1 Definisi Fraktur

Fraktur merupakan suatu patahan pada struktur jaringan tulang atau tulang rawan
yang umumnya disebabkan trauma, baik trauma langsung ataupun tidak langsung1.
Akibat dari suatu trauma pada tulang dapat bervariasi tergantung pada jenis, kekuatan
dan arahnya trauma. Patahan tadi mungkin tidak lebih dari suatu retakan, suatu
pengisutan atau perimpilan korteks. Biasanya patahan itu lengkap dan fragmen tulang
bergeser. Bila kulit diatasnya masih utuh, keadaan ini disebut fraktur tertutup (fraktur
sederhana), namun bila kulit atau salah satu dari rongga tubuh tertembus keadaan ini
disebut fraktur terbuka yang cenderung mengalami kontaminasi dan infeksi.3

2.2.2 Klasifikasi
Klasifikasi fraktur menurut Rasjad (2007):

1. Berdasarkan etiologi:

a) fraktur traumatik

b) fraktur patologis

c) fraktur stress terjadi karena adanya trauma terus menerus di suatu


tempat

2. Berdasarkan klinis:
a) Fraktur terbuka
b) Fraktur tertutup

Ada beberapa subtipe fraktur secara klinis antara lain:

1. Fragility fracture
Merupakan fraktur yang diakibatkan oleh karena trauma minor. Misalnya,
fraktur yang terjadi pada seseorang yang mengalami osteoporosis, dimana
kondisi tulang mengalami kerapuhan. Kecelakaan ataupun tekanan yang
kecil bisa mengakibatkan fraktur.

2. Pathological fracture

7
Fraktur yang diakibatkan oleh struktur tulang yang abnormal. Tipe fraktur
patologis misalnya terjadi pada individu yang memiliki penyakit tulang yang
mengakibatkan tulang mereka rentan terjadi fraktur.

3. High-energy fraktur
High-energy fraktur adalah fraktur yang diakibatkan oleh adanya trauma
yang serius, misalnya seseorang yang mengalami kecelakaan jatuh dari atap
sehingga tulangnya patah. Stress fracture adalah tipe lain dari high-energy
fracture, misalnya pada seorang atlet yang mengalami trauma minor yang
berulang kali. Kedua tipe fraktur ini terjadi pada orang yang memiliki
struktur tulang yang normal (Garner, 2008).

Beberapa ahli yang lain (Mansjoer, 2010) membagi jenis fraktur


berdasarkan pada ada tidaknya hubungan antara patahan tulang dengan paparan
luar sebagai fraktur tertutup (closed fracture) dan fraktur terbuka (open
fracture).

2.2.3 Derajat Fraktur


Derajat fraktur tertutup menurut Tscherne dan Oestern berdasarkan keadaan
jaringan lunak sekitar trauma, yaitu:

1. Derajat 0: fraktur biasa dengan sedikit atau tanpa cedera jaringan lunak
sekitarnya.
2. Derajat 1: fraktur dengan abrasi dangkal atau memar kulit dan jaringan
subkutan.

3. Derajat 2: fraktur yang lebih berat dengan kontusio jaringan lunak bagian
dalam dan adanya pembengkakan.

4. Derajat 3: cedera berat dengan kerusakan jaringan lunak yang nyata dan
ancaman terjadinya sindroma kompartement.

Derajat fraktur terbuka menurut Gustillo berdasarkan keadaan jaringan


lunak sekitar trauma, yaitu:

1. Derajat I: laserasi < 1 cm, fraktur sederhana, dislokasi fragmen minimal.

8
2. Derajat II: laserasi >1 cm, kontusio otot dan sekitarnya, dislokasi fragmen
jelas, kontaminasi sedang

3. Derajat III: luka lebar, rusak hebat, atau hilang jaringan sekitar, kontaminasi
berat, konfigurasi fraktur kominutif

 IIIa: fraktur segmental atau sangat kominutif, penutupan tulang dengan


jaringan lunak cukup adekuat

 IIIb; terkelupasnya periosteum dan tulang tampak terbuka

 IIIc: disertai kerusakan pembuluh darah tanpa memperhatikan kerusakan


jaringan lunak

Price & Wilson (2006) juga membagi derajat kerusakan tulang menjadi dua,
yaitu patah tulang lengkap (complete fracture) apabila seluruh tulang patah; dan patah
tulang tidak lengkap (incomplete fracture) bila tidak melibatkan seluruh ketebalan
tulang. Hal ini ditentukan oleh kekuatan penyebab fraktur dan kondisi kerusakan
tulang yang terjadi trauma.
Patah tulang dapat dibagi menurut garis frakturnya, misalnya fisura, patah
tulang segmental, patah tulang sederhana, patah tulang kominutif, patah tulang
segmental, patah tulang kompresi, impresi, dan patologis.5

Gambar 2.4 Jenis patah tulang: A. Fisura, B. Oblik, C. Tranversal (lintang), D.


Kominutif, E. Segmental.10

9
Klasifikasi fraktur menurut beberapa ahli memiliki beberapa perbedaan yang
digambarkan dalam tabel berikut.

2.3 Klasifikasi Fraktur Tibia

Fraktur tibia dapat terjadi pada bagian proksimal (kondiler), diafisis atau
persendian pergelangan kaki.
2.3.1 Fraktur Kondiler Tibia
Fraktur kondiler tibia lebih sering mengenai kondiler lateralis daripada
medialis serta fraktur kedua kondiler. Banyak fraktur kondiler tibia terjadi
akibat kecelakaan antara mobil dan pejalan kaki di mana bemper mobil
menabrak kaki bagial lateral dengan gaya kearah medial (valgus). Ini
menghasilkan fraktur depresi atau fraktur split dari kondiler lateralis tibia
apabila kondiler femur didorong kearah tersebut. Kondiler medial memiliki
kekuatan yang lebih besar, jadi fraktur pada daerah ini biasanya terjadi akibat
gaya dengan tenaga yang lebih besar (varus). Jatuh dari ketinggian akan
menimbulkan kompresi aksial sehingga bisa menyebabkan fraktur pada
proksimal tibia.
2.3.2 Fraktur Diafisis Tibia
Fraktur diafisis tibia terjadi karena adanya trauma angulasi yang akan
menimbulkan fraktur tipe transversal atau oblik pendek, sedangkan trauma
10
rotasi akan menimbulkan fraktur tipe spiral. Fraktur tibia biasanya terjadi pada
batas antara 1/3 bagian tengah dan 1/3 bagian distal.Tungkai bawah bagian
depan sangat sedikit ditutupi otot sehingga fraktur pada daerah tibia sering
bersifat terbuka. Penyebab utama terjadinya fraktur adalah kecelakaan lalu
lintas.

Gambar 2.3: Fraktur diafisis tibia.

2.3.3 Fraktur Distal Tibia


Pergelangan kaki merupakan sendi yang kompleks dan penopang badan
dimana talus duduk dan dilindungi oleh maleolus lateralis dan medialis yang
diikat dengan ligament. Fraktur maleolus dengan atau tanpa subluksasi dari
talus, dapat terjadi dalam beberapa macam trauma.8
1. Trauma abduksi
Trauma abduksi akan menimbulkan fraktur pada maleolus lateralis
yang bersifat oblik, fraktur pada maleolus medialis bersifat avulsi atau
robekan pada ligamen bagian medial.
2. Trauma adduksi
Trauma adduksi akan menimbulkan fraktur maleolus medialis yang
bersifat oblik atau avulsi maleolus lateralis atau keduanya.Trauma adduksi
juga bisa hanya menyebabkan strain atau robekan pada ligamen
lateral,tergantung dari beratnya trauma.
3. Trauma rotasi eksterna
Trauma rotasi eksterna biasanya disertai dengan trauma abduksi dan
terjadi fraktur pada fibula di atas sindesmosis yang disertai dengan robekan

11
ligamen medial atau fraktur avulsi pada maleolus medialis.Apabila trauma
lebih hebat dapat disertai dengan dislokasi talus.
4. Trauma kompresi vertikal
Pada kompresi vertikal dapat terjadi fraktur tibia distal bagian depan
disertai dengan dislokasi talus ke depan atau terjadi fraktur kominutif disertai
dengan robekan diastesis.

Gambar 2.5 : Mekanisme terjadinya trauma pada fraktur maleolus. (A. trauma
abduksi, B. trauma adduksi, C. Trauma rotasi dan eksternal, D. Trauma kompresi)

2.4 Epidemiologi
Fraktur tibia merupakan jenis fraktur yang sering terjadi pada tulang panjang.
Insiden fraktur tulang panjang adalah 11,5 per 100000 penduduk, 40 % nya
merupakan kasus fraktur ekstremitas bawah. Salah satu fraktur terbanyak yang terjadi
pada ekstremitas bawah adalah pada diafisis tibia. Hal ini terjadi karena periosteum
yang melapisi tulang tibia agak tipis, terutama di daerah depan yang hanya dilapisi
kulit sehingga tulang ini mudah patah dan biasanya fragmen frakturnya bergeser.
Karena langsung berada dibawah kulit, sering ditemukan juga fraktur terbuka.11
Fraktur tibia pada umumnya disertai dengan fraktur fibula, karena energi yang
ditransmisikan melalu membran interosseous ke fibula.12

2.5 Etiologi dan Patofisiologi


Fraktur umumnya terjadi karena kegagalan tulang menahan tekanan akibat
trauma. Trauma tersebut dapat bersifat langsung atau tidak langsung. Trauma
langsung menyebabkan tekanan langsung pada tulang dan terjadi fraktur pada daerah
tekanan. Fraktur yang terjadi biasanya bersifat komunitif ataupun transverse dan
jaringan lunak juga mengalami kerusakan. Sementara itu, pada trauma yang tidak
langsung trauma dihantarkan ke daerah yang lebih jauh dari daerah fraktur dan
biasanya jaringan lunak tetap utuh.5

12
Meskipun hampir sebagian besar fraktur disebabkan kombinasi beberapa gaya
(memutar, membengkok, kompresi, atau tegangan), pola garis fraktur pada hasil
pemeriksaan sinar X akan menunjukkan mekanisme yang dominan.5
Tekanan pada tulang dapat berupa:
1. Berputar (twisting) yang menyebabkan fraktur bersifat spiral
2. Kompresi yang menyebabkan fraktur oblik pendek
3. Membengkok (bending) yang menyebabkan fraktur dengan fragmen
segitiga ‘butterfly’
4. Regangan (tension) cenderung menyebabkan patah tulang transversal;
di beberapa situasi dapat menyebabkan avulsi sebuah fragmen kecil
pada titik insersi ligamen atau tendon.5

Gambar 2.6: Mekanisme cedera: (a) spiral (twisting); (b) oblik pendek (kompresi);
(c) pola ‘butterfly’ segitga (bending); (d) transversal (tension). Pola
spiral dan oblik panjang biasanya disebabkan trauma indirek energi
rendah; pola bending dan transversal disebabkan oleh trauma direk
energi tinggi.5

Setelah terjadinya fraktur komplit, biasanya fragmen yang patah akan


mengalami perpindahan akibat kekuatan cedera, gravitasi, ataupun otot yang melekat
pada tulang tersebut.
Perpindahan yang terjadi yaitu sebagai berikut:

1. Translasi (shift) – fragmen bergeser ke samping, ke depan, atau ke


belakang.
2. Angulasi (tilt) – fragmen mengalami angulasi dalam hubungannya dengan
yang lain.
3. Rotasi (twist) – Satu fragmen mungkin berbutar pada aksis longitudinal;
tulang terlihat lurus.

13
4. Memanjang atau memendek – fragmen dapat terpisah atau mengalami
overlap.5
Daya rotasi menyebabkan fraktur spiral pada kedua tulang pada tingkat yang
berbeda, daya angulasi menimbulkan fraktur melintang atau oblik pendek, biasanya
pada tingkat yang sama. Pada cedera tak langsung, salah satu fragmen tulang dapt
menembus kulit, pada yang cedera langsung dapat merobek kulit diatas fraktur.
Kecelakaan sepeda motor adalah penyebab tersering.5

2.6 Proses Penyembuhan Fraktur5

Proses penyembuhan fraktur adalah proses biologis alami yang akan terjadi
pada setiap fraktur.

1. Destruksi jaringan dan pembentukan hematom

Pada permulaan akan terjadi perdarahan di sekitar patahan tulang, yang


disebabkan oleh terputusnya pembuluh darah pada tulang dan periosteum yaitu
fase hematom (2-8 jam sesudah trauma).

2. Inflamasi dan proliferasi seluler

Dalam 8 jam sesudah terjadinya fraktur terjadi reaksi inflamasi akut yaitu
dengan adanya migrasi sel-sel inflamasi dan inisiasi proliferasi sel, dibawah
periosteum dan didalam saluran medula yang tertembus. Ujung fragmen tulang
dikelilingi oleh jaringan seluler yang menghubungkan lokasi fraktur. Hematom
yang membeku perlahan-lahan diabsorbsi kemudian akan menjadi medium
pertumbuhan sel jaringan fibrosis dan vaskuler hingga hematom berubah menjadi
jaringan fibrosis dengan kapiler baru yang halus di dalamnya. Jaringan ini
menyebabkan fragmen tulang saling menempel yang dinamakan kalus fibrosa

3. Pembentukan Kalus

Di dalam jaringan fibrosis ini kemudian juga tumbuh sel jaringan


mesenkim yang bersifat osteogenic dan kondrogenik. Sel ini berubah menjadi sel
konroblast yang akan membentuk kondroid yang merupakan bahan dasar tulang
rawan, sedangkan di tempat yang jauh dari patahan tulang yang vaskularisasinya
14
relative banyak, sel ini berubah menjadi osteoblast dan membentuk osteoid yang
merupakan bahan dasar tulang. Kondroid dan osteoid ini mula-mula tidak
mengandung kalsium sehingga tidak terlihat pada foto rontgen. Pada fase ini juga
terbentuk osteoklas yang mulai membersihkan tulang yang mati. Pada tahap
selanjutnya terjadi penulangan atau osifikasi. Kesemuanya ini menyebabkan kalus
fibrosa berubah menjadi kalus tulang yang lebih padat dan pada empat minggu
setelah cedera fraktur menyatu. Pada foto rontgen, proses ini terlihat sebagai
bayangan radio-opak, tetapi bayangan garis patah tulang masih terlihat. Fase ini
disebut fase penyatuan klinis.

4. Konsolidasi

Bila aktivitas osteoblas dan osteoklas berlanjut, sel tulang ini mengatur diri
secara lamellar seperti sel tulang normal. Selanjutnya, terjadi pergantian sel tulang
secara berangsur-angsur oleh sel tulang yang mengatur diri sesuai dengan garis
tekanan dan tarikan yang bekerja pada tulang. Akhirnya kekuatan kalus ini sama
dengan kekuatan tulang biasa yang cukup kaku sehingga tidak memungkinkan
osteoklas menerobos melalui reruntuhan pada garis fraktur, dan dibelakangya
osteoblast mengisi celah- celah sisa antara fragmen tulang yang baru. Proses ini
berjalan cukup lambat dan mungkin butuh beberapa bulan sebelum tulang cukup
kuat untuk membawa beban normal (6-12 minggu).

2. Remodeling

Pada fase ini fraktur telah dijembatani oleh tulang yang solid. Selama
beberapa bulan bahkan tahun, tulang yang baru terbentuk tersebut akan kembali
diubah oleh proses pembentukan dan resorpsi tulang, lamela yang lebih tebal pada
tempat yang tekanannya tinggi, dinding – dinding yang tak perlu dibuang, rongga
sumsum dibentuk sehingga tidak akan tampak lagi garis fraktur, terutama pada
anak- anak dapat memperoleh bentuk yang mirip dengan normalnya.5,10

15
Gambar 2.7 :Fase Penyembuhan Fraktur: (a)Hematoma; (b)Inflamasi; (c) Kalus;
(d)Konsolidasi; (e)Remodeling.5

2.7 Diagnosis4,6
2.7.1 Anamnesis
Biasanya penderita datang dengan suatu trauma, baik yang hebat
maupun trauma ringan dengan keluhan bahwa tulangnya patah karena jelasnya
keadaan patah tulang tersebut bagi pasien atau ketidakmampuan untuk
menggunakan anggota gerak.Sebaliknya juga mungkin, patah tulang tidak
disadari oleh penderita dan mereka datang dengan keluhan “keseleo”, terutama
patah yang disertai dengan dislokasi fragmen yang minimal ataupun dengan
keluhan lain seperti nyeri, bengkok, bengkak. Anamnesis harus dilakukan
dengan cermat karena fraktur tidak selamanya terjadi di daerah trauma dan
mungkin fraktur terjadi pada daerah lain Setelah mengetahui keluhan utama
pasien, harus ditanyakan mekanisme trauma dan seberapa kuatnya trauma
tersebut. Trauma dapat terjadi karena kecelakaan lalu lintas, jatuh dari
ketinggian, atau jatuh di kamar mandi pada orang tua, penganiayaan, tertimpa
benda berat, kecelakaan pada kerja., atau trauma olahraga.9,10

2.7.2 Pemeriksaan fisik


1. Pada pemeriksaan awal penderita, perlu diperhatikan adanya:

a. Syok, anemia atau perdarahan.


b. Kerusakan pada organ-organ lain, misalnya otak, sumsum tulang
belakang atau organ-organ dalam rongga toraks, panggul dan abdomen.
c. Fraktur predisposisi, misalnya pada fraktur patologis.
2. Pemeriksaan lokal
a. Inspeksi (Look)
 Bandingkan dengan bagian yang sehat.
 Perhatikan posisi anggota gerak.
 Keadaan umum penderita secara keseluruhan.
16
 Ekspresi wajah karena nyeri.
 Lidah kering atau basah.
 Adanya tanda-tanda anemia karena perdarahan.
 Apakah terdapat luka pada kulit dan jaringan lunak untuk
membedakan fraktur tertutup atau fraktur terbuka.
 Ekstravasasi darah subkutan dalam beberapa jam sampai beberapa
hari.
 Perhatikan adanya pembengkakan, deformitas berupa angulasi,
rotasi dan kependekan, gerakan yang tidak normal.
 Lakukan survei pada seluruh tubuh apakah ada trauma pada organ-
organ lain.
 Perhatikan kondisi mental penderita.
 Keadaan vaskularisasi.
b. Palpasi (Feel)
Palpasi dilakukan secara hati-hati oleh karena penderita biasanya
mengeluh sangat nyeri.

Temperatur setempat yang meningkat.

Nyeri tekan; nyeri tekan yang bersifat superfisial biasanya disebabkan
oleh kerusakan jaringan lunak yang dalam akibat fraktur pada
tulang.Nyeri dapat berupa nyeri tekan yang sifatnya sirkuler dan nyeri
tekan sumbu sewaktu menekan atau menarik dengan hati-hati anggota
badan yang patah searah dengan sumbunya.10

Krepitasi; dapat diketahui dengan perabaan dan harus dilakukan secara
hati-hati.

Pemeriksaan vaskuler pada daerah distal trauma berupa palpasi arteri
radialis, arteri dorsalis pedis, arteri tibialis posterior sesuai dengan
anggota gerak yang terkena.

Refilling (pengisian) arteri pada kuku, warna kulit pada bagian distal
daerah trauma , temperatur kulit.

Pengukuran tungkai terutama pada tungkai bawah untuk mengetahui
adanya perbedaan panjang tungkai.
c. Pergerakan (Move)
Pergerakan dengan mengajak penderita untuk menggerakkan secara
aktif dan pasif sendi proksimal dan distal dari daerah yang mengalami
traumauntuk menilai apakah terdapat nyeri dan krepitasi ketika sendi
digerakkan. Selain itu dilakukan juga penilaian Range of Movement
(ROM).Pada pederita dengan fraktur, setiap gerakan akan menyebabkan nyeri
hebat sehingga uji pergerakan tidak boleh dilakukan secara kasar, disamping
17
itu juga dapat menyebabkan kerusakan pada jaringan lunak seperti pembuluh
darah dan saraf.

3. Pemeriksaan Neurologis
Pemeriksaan neurologis berupa pemeriksaan saraf secara sensoris dan
motoris serta gradasi kelelahan neurologis, yaitu neuropraksia, aksonotmesis atau
neurotmesis. Kelaianan saraf yang didapatkan harus dicatat dengan baik karena
dapat menimbulkan masalah asuransi dan tuntutan (klaim) penderita serta
merupakan patokan untuk pengobatan selanjutnya.

4. Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan radiologis diperlukan untuk menentukan keadaan, lokasi
serta ekstensi fraktur. Untuk menghindarkan nyeri serta kerusakan jaringan
lunak selanjutnya, maka sebaliknya kita mempergunakan bidai yang bersifat
radiolusen untuk imobilisasi sementara sebelum dilakukan pemeriksaan
radiologis.Syarat pemeriksaan radiologis yang dilakukan adalah:1
Two view: Fraktur atau dislokasi mungkin tidak terlihat pada film sinar X
tunggal, dan sekurang-kurangnya harus dilakukan dua sudut pandang (antero
posterior dan lateral)
Two Joint: Pada lengan bawah atau kaki, satu tulang dapat mengalami fraktur
dan angulasi. Tetapi, angulasi tidak mungkin terjadi kecuali kalau tulang yang
lain juga patah, atau suatu sendi mengalami dislokasi. Sendi-sendi di atas dan
di bawah fraktur keduanya harus disertakan pada foto sinar-X.
Two limbs: Pada sinar X tulang anak-anak, epifisis yang normal dapat
mengacaukan diagnosis fraktur, foto pada tungkai yang tidak cedera akan
bermanfaat.
Two injuries: Kekuatan yang hebat sering sering menyebabkan cedera pada
lebih dari satu tingkat. Karena itu, bila ada fraktur pada kalkaneus atau femur,
perlu juga diambil foto sinar-X pada pelvis dan tulang belakang.
Two occasions: Segera setelah cedera, suatu fraktur (misalnya pada skafoid
karpal) mungkin sulit dilihat. Kalau ragu-ragu, sebagai akibat reposisi tulang,
pemeriksaan lebih jauh 10-14 hari kemudian dapat memudahkan diagnosis.

2.9 Tatalaksana4,7

1. Tatalaksana Umum

18
Sebelum dilakukan pengobatan definitif pada suatu fraktur, maka
diperlukan tatalaksana kondisi umum pasien. Berdasarkan protokol ATLS, prinsip
penanganan trauma dibagi menjadi tiga, yaitu:5
1. Primary survey: penilaian cepat dan tatalaksana cedera yang mengancam
nyawa. Tahap ini terdiri dari Airway dengan proteksi vertebra servikal,
Breathing, Circulation dengan kontrol perdarahan, Disability dan status
neurologis, serta Exposure (paparan) dan Environment (lingkungan).
2. Secondary survey: evaluasi detail dari kepala hingga ke jari kaki untuk
mengidentifikasi cedera lainnya. Tahap ini terdiri dari: anamnesis,
pemeriksaan fisik, selang dan jari pada setiap lubang, pemeriksaan
neurologis, uji diagnostik lebih jauh, dan evaluasi ulang.
3. Tatalaksana definitf: tatalaksana khusus dari cedera yang telah
diidentifikasi
Pada fraktur, tujuan utama terapi adalah mempertahankan fungsi
dengan komplikasi minimal. Prinsip penanganan fraktur ada empat, yaitu
rekognisi, reduksi, retensi, dan rehabilitasi.9
1. Rekognisi, yaitu mengetahui dan menilai keadaan fraktur dengan
anamnesis, pemeriksaan fisik dan radiologis. Perlu diperhatikan lokasi
fraktur, bentuk fraktur, menentukan teknik pengobatan yang sesuai,
komplikasi yang mungkin terjadi selama dan sesudah pengobatan.
2. Reduksi, yaitu tindakan mengembalikan posisi fraktur seoptimal
mungkin ke keadaan semula, dan sedapat mungkin mengembalikan
fungsi normal, mencegah komplikasi seperti kekakuan dan deformitas.

Reduksi dapat dilakukan secara tertutup atau terbuka. Terdapat dua


komponen pada reduksi, yaitu memindahkan fragmen dan menilai
apakah posisi yang diinginkan telah tercapai. Seringkali setelah fraktur
direduksi perlu distabilisasi selama masa penyembuhan berlangsung.
Terdapat beberapa metode untuk stabilisasi, yaitu penggunaan gips,
spalk, traksi, plates and screws, intramedullary nailing, atau fiksator
eksternal.
3. Retensi, yaitu imobilisasi fraktur sehingga mempertahankan kondisi
reduksi selama penyembuhan.
4. Rehabilitasi, untuk mengembalikan aktifitas fungsional semaksimal
mungkin.

19
Adapun untuk fraktur tibia, pada fraktur yang stabil, casting/gips merupakan
pilihan utama paling aman dan murah. Full leg cast merupakan cast untuk kasus
fraktur tibia. Bila resiko sindrom kompartemen telah disingkirkan, cast dapat ditutup.
Setelah empat minggu, cast dapat diganti dengan cast yang telah dibentuk, yang
mampu menopang tendon patella, dan dipasang dibawah lutut.
Tindakan operasi pada fraktur tibia sering diindikasikan pada kasus fraktur
yang tidak stabil atau pada pasien yang juga memiliki trauma di tempat lain. Tindakan
yang paling sering dilakukan adalah intermedullary nailing. Pada fraktur yang berada
di proksimal, dekat metafisis, pemasangan plate paling sering dilakukan untuk
menghindari seringnya terjadi malunion. Eksternal fiksasi juga merupakan pilihan
yang tepat untuk kebayakan kasus fraktur tibia.

2.10 Komplikasi1
2.10.1 Dini
a. Infeksi
Infeksi dapat terjadi karena penolakan tubuh terhadap implant
berupa internal fiksasi yang dipasang pada tubuh pasien. Infeksi juga dapat
terjadi karena luka yang tidak steril. Sehingga debridemen harus dilakukan
sebelum luka ditutup.
b. Cedera vaskular
Fraktur ½ bagian proksimal tibia dapat merusak arteri
popliteus, dan dapat menimbulkan kerusakan tulang yang diakibatkan
adanya defisiensi suplai darah akibat avaskuler nekrosis.
c. Sindroma kompartemen
Kompartemen sindrom merupakan suatu kondisi dimana terjadi
penekanan terhadap syaraf, pembuluh darah dan otot didalam
kompatement osteofasial yang tertutup. Hal ini mengawali terjadinya
peningkatan tekanan interstisial, kurangnya oksigen dari penekanan
pembuluh darah, dan diikuti dengan kematian jaringan. Dengan gejala
pain, paresthesia, pallor, pulselessness.
Fraktur 1/3 proksimal cendrung menyebabkan perdarahan dan
perluasan jaringan lunak dalam kompartemen fasial kaki, sehingga
menyebabkan iskemia otot. Gips yang terlalu ketat pada kaki juga
dapat menyebabkan kompartemen sindrom. Biasanya diterapi seperti
fraktur terbuka tingkat III yang memerlukan fiksator luar dan
penundaan penutupan luka.
2.10.2 Lanjut
20
a. Delayed union
Delayed union adalah suatu kondisi dimana terjadi
penyambungan tulang tetapi terhambat yang disebabkan oleh
adanya infeksi dan tidak tercukupinya peredaran darah ke fragmen.
b. Non union
Non union merupakan kegagalan suatu fraktur untuk
menyatu setelah 9 bulan mungkin disebabkan oleh faktor seperti
usia, kesehatan umum dan pergerakan pada tempat fraktur.
c. Mal union
Terjadi penyambungan tulang tetapi menyambung dengan
tidak benar seperti adanya angulasi, pemendekan, deformitas atau
kecacatan.
d. Trauma saraf terutama pada nervus peroneal komunis.
e. Gangguan pergerakan sendi pergelangan kaki.
Gangguan ini biasanya disebakan karena adanya adhesi
pada otot-otot tungkai bawah.

BAB 3

LAPORAN KASUS

3.1 Identitas Pasien

Nama : Tn.A

Umur : 26 tahun

Jenis Kelamin : Laki-Laki

Pekerjaan : Swasta

Alamat : Birugo, Bukittingi

Tanggal MRS : 24 Januari 2019

21
RM : 515031

3.2 Anamnesa

Keluhan Utama

Nyeri, bengkak dan bengkok pada tungkai bawah kanan sejak 2 jam sebelum
masuk rumah sakit.
Primary Survey

Airway : Clear, stridor (-), gurgling (-)

Breathing : Spontan, gerakan dada simetris kiri dan kanan, RR 20x/menit

Circulation : Akral hangat, tekanan darah 110/70 mmHg, Nadi 92x/menit

Disability : GCS 15 (E4M6V5), pupil isokor, diameter 3 mm, reflek

cahaya +/+

Expossure : Swelling dan deformitas pada tungkai bawah kanan

Riwayat Penyakit Sekarang

- Nyeri, bengkak, dan bengkok pada tungkai bawah kanan sejak ± 2 jam

sebelum masuk rumah sakit.


- Sebelumnya pasien mengendarai sepeda motor di daerah mandiagin, dan

ditabrak oleh mobil dari arah kanan. Pasien mengendarai sepeda motor

menggunakan helm dan dengan kecepatan sedang.


- Mekanise trauma : Pasien sedang mengendarai sepeda motor dan ingin

berbelok ke arah kanan, kemudian pasien ditabrak mobil yang melaju

kencang dari arah kanan dan pasien terjatuh ke arah kiri.


- Setelah kejadian, pasien mengeluh nyeri dan bengkak pada tungkai bawah

kanan dan pasien tidak dapat berdiri untuk menumpu berat badan.

22
- Pasien sadar setelah kejadian
- Riwayat mual, muntah, pusing, nyeri kepala atau kejang setelah kejadian (-)
- Riwayat keluar cairan atau darah dari hidung, mulut dan telinga setelah

kejadian (-)

- Setelah kejadian pasien langsung dibawa ke IGD RSAM Bukittinggi

Riwayat Penyakit Dahulu


Riwayat patah tulang sebelumnya tidak ada

Riwayat Penyakit Keluarga

Tidak ada keluarga yang mengalami penyakit yang sama seperti pasien.

Riwayat Pekerjaan, Sosial, Ekonomi, dan Kebiasaan


Pasien adalah seorang swasta.

3.3 Pemeriksaan Fisik

Secondary Survey
Rambut : Hitam, tidak mudah rontok

Kulit : Turgor kulit baik

Kepala : Inspeksi: hematom (-), VL (-), normocephal

Palpasi: fraktur depress (-)

Mata : Konjungtiva tidak anemis, sklera tidak ikterik

Telinga : Tidak ada perdarahan, tidak ditemukan kelainan

Hidung : Tidak ada perdarahan, Tidak ditemukan kelainan

Tenggorokan : Tidak hiperemis

Gigi dan mulut : Caries (-),Tidak ditemukan kelainan

Leher : Tidak ada deviasi trakea, tidak ditemukan pembesaran kelenjar

getah bening
23
Dinding dada : Tidak ditemukan kelainan

Paru :

 Inspeksi : Simetris, kiri = kanan, jejas (-)

 Palpasi : Fremitus kiri = kanan

 Perkusi : Sonor

 Auskultasi : Vesikuler +/+, rhonki -/-, wheezing -/-

Jantung :

 Inspeksi : Iktus kordis tidak terlihat

 Palpasi : Iktus kordis teraba 1 jari medial LMCS RIC V

 Perkusi : Batas jantung dalam batas normal

 Auskultasi : S1 S2 reguler, murmur (-), Gallop (-)

Regio Abdomen :

 Inspeksi : Distensi (-), Jejas (-), DC (-), DS (-)

 Palpasi : Supel, nyeri tekan (-), nyeri lepas(-)

 Perkusi : Timpani

 Auskultasi : Bising usus (+) N

Status Lokalis (Cruris Dextra)

Look :

 Swelling (+) deformitas angulasi (+)


 VE(+)
Feel:
 Nyeri tekan (+), Krepitasi (+), NVD (sensorik baik, motorik terbatas, refilling

kapiler < 2”)


 Sensibilitas baik, pulsasi arteri tibialis posterior dan arteri dorsalis pedis teraba

Movement :

 Pergerakan terbatas karena nyeri.


- ROM knee joint aktif/pasif fleksi : 0-20º/0-20º
24
- ROM knee joint aktif/pasif ekstensi : 0º/0º
- ROM Ankle joint aktif/pasif dorsofleksi : 0-20º/0-20º
- ROM Ankle joint aktif/pasif plantarfleksi : 0-20º/0-20º
 Pergerakan jari- jari kaki (+)

Foto Klinis Pasien :

25
3.4 Diagnosis Kerja

Fraktur tertutup tibia (D)

3.5 Pemeriksaan Penunjang


Laboratorium

Hb : 15,2 gr%

Leukosit : 9810 /mm3

Trombosit : 284.000/mm3

Hematokrit : 43,5%

Kesan : Hasil dalam batas normal.

Pemeriksaan Radiologi

- Rontgen kruris dexra AP/L

26
Kesan: diskontinuitas tulang tibia 1/3 tengah Kominutif displaced + diskontinuitas
tulang fibula 1/3 tengah kominutif displaced.

3.6 Diagnosis Akhir


Fraktur tibia 1/3 tengah tertutup kominutif displaced (D) + fraktur fibula 1/3 tengah
tertutup kominutif displaced (D)
3.8 Tatalaksana
- Wound dressing+pembidaian
- IVFD RL 20 tpm
27
- Injeksi ranitidine 1x 1 amp
- Injeksi Ketorolac 1x 1 amp
- Pasang posterior backslab
Rencana terapi :
- ORIF elektif
3.9Prognosis
- Quo ad vitam : bonam
- Quo ad sanam : bonam
- Quo ad functionam : bonam

3.10 Follow Up
Tang S O A P
gal

24/01  Nyeri, bengkak dan  Ku : sakit sedang Fraktur tibia 1/3  Wound
/19 bengkok pada tungkai  Kes : CM tengah tertutup dressing +
bawah kanan sejak 2  TD : 110/70 mmhg bidai
 ND : 92 x/menit kominutif  IVFD RL 20
jam SMRS
 Os sadar setelah  NFS : 20 x/menit displaced (D) + TPM
 T : afebris
kejadian fraktur fibula  Inj. Ranitidin 2
 Muntah, kejang,  VAS: 4 x 1 amp
pusing (-)  St. lokalis cruris (D): 1/3 tengah  Kaltrofen 2 x 1
 Keluar darah dari Look: swelling (+) tertutup supp
hidung, mulut, telinga deformitas angulasi  Pasang
(+), VE (+) kominutif
(-) posterior slab
 Pasien langsung Feel: Nyeri tekan displaced (D)  Rencana ORIF
Movement: terbatas elektif
dibawa ke RSAM
akibat nyeri
 Pasien masih merasa
nyeri
 IVFD RL
 Ku : sakit sedang  Inj. Ranitidin
 Kes : CM Fraktur tibia 1/3 2 x 1 amp
 TD : 100/70 mmhg  Kaltrofen 2 x
 T : afebris tengah tertutup
1 supp
25/01  VAS: 4 kominutif  Tunggu jadwal
/2019  St. lokalis cruris (D): ORIF
displaced (D) +
Look: pasien
terpasang slab. fraktur fibula
Swelling (+) 1/3 tengah
Feel: Nyeri tekan
Movement: terbatas tertutup  IVFD RL
akibat nyeri kominutif  Inj. Ranitidin
 Ku : sakit ringan 2 x 1 amp
displaced (D)
 Kes : CM  Kaltrofen 2 x
 Pasien merasa nyeri  VAS: 3 1 supp
 Look: pasien
28
terpasang slab.  ORIF Besok
berkurang Swelling (-) Fraktur tibia 1/3
Feel: Nyeri tekan tengah tertutup
28/01 Movement: terbatas
/2019 akibat nyeri kominutif
displaced (D) +
fraktur fibula
 Ku : sakit ringan 1/3 tengah
 Kes : CM tertutup  IVFD RL
 VAS: 3  Inj. Ranitidin
 Look: pasien kominutif
2 x 1 amp
terpasang slab. displaced (D)  Kaltrofen 2 x
Swelling (-) 1 supp
Feel: Nyeri tekan Fraktur tibia 1/3
 Inj ceftriaxone
 Pasien merasa nyeri Movement: terbatas tengah tertutup 1 x 1 gr
berkurang akibat nyeri  ORIF hari ini
kominutif
29/01 displaced (D)
/2019
+frakturfibula
1/3 tengah
tertutup
kominutif
displaced (D)

BAB 4

DISKUSI

Seorang laki-laki usia 26 tahun datang dengan keluhan nyeri, bengkak dan

bengkok di tungkai bawah kanan sejak 2 jam SMRS. Sebelumnya pasien mengendarai

sepeda motor, dan ditabrak oleh mobil dari arah kanan, kemudian pasien terjatuh kea

rah kiri. Pasien mengeluh nyeri dan bengkak pada tungkai bawah kanan dan pasien

tidak dapat berdiri untuk menumpu berat badan. Pasien dalam kondisi sadar saat

29
terjatuh, tidak ada mual muntah setelah kejadian. Tidak ada darah keluar darah dari

hidung, telinga. Tidak ada trauma ditempat lain.

Pada pemeriksaan fisik, pasien dengan GCS 15 dimana pasien dapat

membuka mata spontan (E4), dapat menggerakkan extremitas yang tidak sakit sesuai

perintah (M6), dan berbicara normal (V5). Ditemukan nyeri tekan pada tungkai kanan

bawah, deformitas (+), nyeri tekan (+), sensibilitas baik, pulsasi arteri tibialis

posterior dan arteri dorsalis pedis teraba, CRT <2 detik, akral hangat, pergerakan aktif

dan pasif terbatas karena nyeri, pergerakan sendi jari-jari (+). Dilakukan pemeriksaan

penunjang laboratorium darah dengan kesan normal. Kemudian dilakukan

pemeriksaan rontgen dengan hasil tampak diskontinuitas tulang pada 1/3 medial tibia

fibula dextra tertutup dengan garis fraktur komunitif displaced.

Trauma pada tulang terjadi saat tekanan eksternal lebih besar dari yang

diserap tulang sehingga terjadi kerusakan atau terputusnya kontinuitas tulang. Fraktur

tertutup disebabkan oleh energi tinggi trauma, paling sering dari pukulan langsung,

seperti dari jatuh atau tabrakan kendaraan bermotor, sehingga diskontinuitas tulang

terjadi.

Tungkai bawah atau regio cruris terdiri atas 2 tulang panjang, yakni tibia dan

fibula. Tibia adalah salah satu tulang ekstremitas bawah yang mudah untuk terjadi

fraktur karena dilapisi oleh kulit dan otot yang tipis. Karena langsung berada dibawah

kulit, sering ditemukan juga fraktur terbuka pada tibia. 12 Fraktur diafisis tibia biasanya

terjadi karena adanya trauma angulasi yang akan menimbulkan fraktur tipe transversal

atau oblik pendek. Fraktur tibia biasanya terjadi pada batas antara 1/3 bagian tengah

dan 1/3 bagian distal. Fraktur tibia pada umumnya disertai dengan fraktur fibula

karena energi yang ditransmisikan melalui membran interosseous ke fibula.12

30
Pada pasien terjadi hematom yang menyebabkan dilatasi kapiler otot,

sehingga tekanan kapiler meningkat, terjadi eksudasi plasma dan infiltrasisel darah

putih. Dilatasi kapiler plasma menyebabkan histamin terstimulasi, protein plasma

hilang dan masuk ke interstisial. Hal ini menyebabkan timbulnya swelling.1

Pasien didiagnosa fraktur tibia fibula dextra tertutup. Saat pasien tiba di IGD

dilakukan primary survey untuk menilai keadaan pasien, dilakukan pembersihan luka

dan imobilisasi dengan pembidaian untuk mengurangi nyeri, dan dipasang cairan

infus RL. Obat-obatan yang diberikan adalah ketorolac untuk mengurangi nyeri.

Pasien dipasang posterior slab, tindakan pemasangan posterior slab penting untuk

menstabilkan patah tulang sesegera mungkin untuk membantu proses perbaikan pada

tulang yang patah. Pasien direncanakan untuk ORIF elektif.

Pemasangan back slab dilakukan sebagai upaya imobilisasi. New Zealand

Orthopaedic Organization (2010), menyatakan bahwa back slab cast adalah alat

imobilisasi pertama sebelum dilakukan tindakan definitif yang digunakan untuk

stabilisasi dari bagian fraktur dan otot yang mengelilinginya dan digunakan untuk

mengurangi oedema (swelling) sebagai bidai. Gips ini mudah dilepaskan bila

diperlukan pemeriksaan inspeksi pada bagian tubuh yang ditutupi. Menurut Miranda

(2010) back slab cast dapat membantu mengurangi nyeri, pembengkakan, serta

spasme otot pada kasus patah tulang. Back slab cast terdiri dari plaster yang menjaga

tendon dan digunakan pada bagian yang terjadi pembengkakan tanpa memberikan

penekanan. Pergerakan ekstremitas yang mengalami fraktur setelah pembidaian

dengan back slab cast sangat minimal, sehingga dapat mencegah kerusakan fragmen

tulang dan jaringan sekitarnya yang lebih berat. Koval & Zukerman (2006),

menyatakan bahwa back slab cast menjaga tulang yang patah pada kesejajaran selama

proses penyembuhan.

31
Pasien direncanakan untuk menjalani ORIF elektif. Sesuai dengan indikasi

ORIF menurut Appley (1995), pasien mengalami fraktur communitive pada tibia

fibula, yang merupakan fraktur tidak stabil dan berisiko mengalami penarikan

fragmen tulang setelah direduksi. Menurut Marelli (2007), keuntungan ORIF adalah

memungkinkan proses mobilisasi dini serta lebih memungkikan pasien untuk

melakukan aktivitas dengan bantuan yang minimal..

Sesuai dengan prinsip penyembuhan fraktur, fragmen tulang yang patah

dengan sendirinya akan menyatu kembali setelah 3 - 4 bulan. Pada orang dewasa,

proses penyembuhan fraktur tibia atau fibula rata-rata akan berlangsung selama 12 –

16 minggu.6 Dalam hal ini, proses reduksi dan imobilisasi adalah salah satu hal yang

sangat mempengaruhi outcome dari penyembuhan fraktur

DAFTAR PUSTAKA

1. Apley AG, Solomon Luis. Apley’s System of Orthopaedics and


fracture.7thEdition. Jakarta: Widya Medika.2012. hal.238-75
2. Bailey and Love’s short practice of surgery 26th edition. CRC Press 2013.
3. Thomas M. S., Jason H.C. Open Fractures. Mescape Reference (update 2012,
May 21). Available from http://emedicine.medscape.com/article/1269242-
overview#aw2aab6b3. Accessed Januari 24, 2018.
4. Jonathan C. Open Fracture. Orthopedics (update 2012, May 27). Available
from http://orthopedics.about.com/cs/ brokenbones/g/openfracture.htm.
Accessed Januari 24, 2018.
5. American Academy of Orthopaedics Surgeons. 2011. Open Fractures.
Available from http://orthoinfo.aaos.org/topic.cfm?topic=A00582.
6. Bucholz RW, Heckman JD, Court-Brown C, et al., eds. Rockwood and Green.
Fractures in adults. 6th ed. Philadelphia: Lippincott Williams & Wilkins; 2006.
p. 2081-93.

32
7. Jon C. Thompson. Netter’s concise orthopaedic anatomy. 2nd
edition.Philadelphia: Saunders; 2010. p. 293-4.
8. Sugiarso. Pola Kuman Penderita Fraktur Terbuka. Universitas Sumatera Utara.
2010. Available from
http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/27630/6/Cover.pdf. Accessed
Januari 24, 2018.
9. Rasjad C.Trauma. Dalam pengantar Ilmu Bedah Ortopedi – Edisi 2.
Makassar : Bintang Lamumpatue, 2003.hal370-1;455-62
10. Sjamsuhidajat dan Jong W. Buku Ajar Ilmu Bedah Ed 2. Jakarta: EGC. 2004
11. Patel M. Open Tibia Fractures Treatment & Management. Mescape Reference
(update 2015, Dec 21). Available from http://emedicine.medscape.com/
Accessed Januari 24, 2018..
12. Norvell JG. Tibia and Fibula Fracture in The ED. Mescape Reference (update
2016, Sep 09). Available from http://emedicine.medscape.com/ Accessed
Januari 24, 2018.
13. Thompson JC. Netter’s Concise Atlas of Orthopaedic Anatomy. USA.
Elsevier. 2002

33