Anda di halaman 1dari 78

METODE TRANSPORTASI STEPPING STONE

Metode Transportasi adalah suatu metode yang digunakan untuk mengatur distribusi
dari sumber – sumber yang menyediakan produk – produk yang sama di tempat-
tempat yang membutuhkan secara optimal. Alokasi produk ini harus diatur
sedemikian rupa karena terdapat perbedaan biaya transportasi (alokasi) dari suatu
sumber ke beberapa tujuan yang berbeda – beda dan dari beberapa sumber ke suatu
tujuan juga berbeda – beda.

Ada tiga macam metode dalam metode transportasi:

1. Metode Stepping Stone

2. Metode Modi (Modified Distribution)

3. MetodeVAM (Vogel’s Approximation Method)

Pada sesi ini hanya akan dibahas mengenai metode transportasi dengan metode
stepping stone, sedangkan metode MODI dan VAM akan dibahas pada sesi tulisan
yang lain.

Metode Stepping Stone

Metode ini dalam merubah alokasi produk untuk mendapatkan alokasi produksi
yang optimal menggunakan cara trial and error atau coba – coba. Walaupun
merubah alokasi dengan cara coba- coba, namun ada syarat yang harus diperhatikan
yaitu dengan melihat pengurangan biaya per unit yang lebih besar dari pada
penambahan biaya per unitnya. Untuk mempermudah penjelasan, berikut ini akan
diberikan sebuah contoh. Suatu perusahaan mempunyai tiga pabrik di W, H,
O. Dengan kapasitas produksi tiap bulan masing- masing 90 ton, 60 ton, dan 50
ton; dan mempunyai tiga gudang penjualan di A, B, C dengan kebutuhan tiap bulan
masing- masing 50 ton, 110 ton, dan 40 ton. Biaya pengangkutan setiap ton produk
dari pabrik W, H, O ke gudang A, B, C adalah sebagai berikut:

Tentukan alokasi hasil produksi dari pabrik – pabrik tersebut ke gudang – gudang
penjualan dengan biaya pengangkutan terendah.

Solusi:

1.1 Penyusunan tabel alokasi


Xij adalah banyaknya alokasi dari sumber (pabrik) i ke tujuan (gudang) j. Nilai
Xij inilah yang akan kita cari.

1.2 Prosedur alokasi

Pedoman prosedur alokasi tahap pertama adalah pedoman sudut barat laut (North
West Corner Rule) yaitu pengalokasian sejumlah maksimum produk mulai dari
sudut kiri atas (X11) dengan melihat kapasitas pabrik dan kebutuhan gudang.
Biaya Pengangkutan untuk alokasi tahap pertama sebesar =

50 (20) + 40 (5) + 60 (20) + 10 (10) + 40 (19) = 3260.

1.3 Merubah alokasi secara trial and error

Perubahan bisa dari kotak terdekat atau bisa juga pada kotak yang tidak berdekatan
dengan melihat pengurangan biaya per unit yang lebih besar dari pada penambahan
biaya per unit. Misalnya akan dicoba perubahan dari kotak WA ke kotak HA artinya
50 ton kebutuhan gudang A akan dikirim dari pabrik H dan buikan dari pabrik W.
Perubahan alokasi produk dari dua kotak tersebut akan mengakibatkan berubahnya
alokasi produk kotak lainnya yang terkait (kotak HB dan kotak WB). Untuk itu
sebelum dilakukan perubahan perlu dilihat penambahan dan pengurangan biaya
transportasi per unitnya sebagai berikut:

Penambahan biaya: dari H ke A = 15 Pengurangan biaya : dari W ke A = 20

dari W ke B = 5 + dari H ke B = 20 +

20 40

Karena pengurangan biaya per unit lebih besar dari penambahan biaya maka
perubahan dapat dilakukan.

Biaya Pengangkutan untuk alokasi tahap pertama sebesar =

90 (5) + 50 (15) + 10 (20) + 10 (10) + 40 (19) = 2260.


Penambahan biaya: dari W ke C = 8 Pengurangan biaya : dari W ke B = 5

dari O ke B = 10 + dari O ke C = 19+

18 24

Biaya Pengangkutan untuk perbaikan kedua sebesar =

50 (5) + 40 (80) + 50 (15) + 10 (20) + 50 (10) = 2020.

Penambahan biaya: dari W ke B = 5 Pengurangan biaya : dari H ke B = 20

dari H ke C = 10 + dari W ke C = 8 +

15 28
Biaya Pengangkutan untuk perbaikan ketiga sebesar =

60 (5) + 30 (8) + 50 (15) + 10 (10) + 50 (10) = 1890 (biaya pengangkutan terendah)

Sehingga alokasi produksi dengan biaya terendah adalah:

90 unit produksi dari pabrik W dialokasikan ke gudang B sebanyak 60 unit dan ke


gudang C sebanyak 30 unit.

60 unit produksi dari pabrik H dialokasikan ke gudang A sebanyak 50 unit dan ke


gudang C sebanyak 10 unit.

50 unit produksi dari pabrik O dialokasikan ke gudang B sebanyak 50 unit.

materi metode transportasi


MAKALAH

Metode Transportasi

Di susun untuk memenuhi tugas mata kuliah Riset Operasi

Dosen Pengampu M. Sulaiman,M.MT.

Oleh :

Kurrota A’yun : 1561201049

Ani Zaqiyah : 1561201003


FAKULTAS ILMU EKONOMI DAN ILMU SOSIAL

PROGRAM STUDI MANAJEMEN

UNIVERSITAS RADEN RAHMAT MALANG

MALANG

2017

KATA PENGANTAR

Segala puji bagi Allah SWT. Shalawat dan salam semoga dilimpahkan kepada
Rasulullah SAW, keluarganya, para sahabatnya, dan orang-orang yang mengikuti
petunjuk beliau sampai akhir zaman. Atas berkat rahmat allah yang maha esa,
akhirnya saya dapat menyelesaikan tugas makalah riset operasi yang telah di
bimbing oleh bapak Sulaiman dengan judul “Metode Transportasi”.

Pembuatan makalah ini di buat dengan sesimple mungkin, dengan bahasa


yang mudah di mengerti. Metode transportasi ini di gunakan untuk mengatur
distribusi dari sumber-sumber yang menyediakan produk yang sama ke tempat-
tempat yang membutuhkan secara optimal dengan biaya yang termurah.

Segala upaya telah dilakukan untuk menyempurnakan makalah ini. Namun bukan
mustahil dalam makalah ini masih terdapat kekurangan dan kesalahan. Oleh karena
itu, kami mengharapkan saran dan komentar yang relevan yang dapat dijadikan
masukan dalam menyempurnakan makalah ini.

Demikian, semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi penulis dan


pembaca.Amin yarabbal ‘alamin.

Malang, 28 november 2017

penulis

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

1.2 Rumusan Masalah

1.3 Tujuan

BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Metode Transportasi

2.2 Tujuan metode transportasi yaitu:

2.3 Ada tiga macam metode dalam metode transportasi:

BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

DAFTAR PUSTAKA

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Pada umumnya masalah transportasi berhubungan dengan distribusi suatu produk


tunggal dari beberapa sumber, dengan penawaran terbatas, menuju beberapa tujuan,
dengan permintaan tertentu, pada biaya transport minimum. Karena hanya ada satu
macam barang, suatu tempat tujuan dapat memenuhi permintaanya dari satu atau
lebih sumber. Asumsi dasar model ini adalah bahwa biaya transport pada suatu rute
tertentu proporsional dengan banyaknya unit yang dikirimkan. Unit yang dikirimkan
sangat tergantung pada jenis produk yang diangkut. Yang penting, satuan
penawaran dan permintaan akan barang yang diangkut harus konsisten.

Metode transportasi merupakan suatu metode yang digunakan untuk mengatur


distribusi dari beberapa sumber ke tempat-tempat yang membutuhkan barang.
Pendistribusian barang harus diatur sedemikian rupa, karena ada perbedaan jarak
atau biaya dari sumber-sumber yang ada dan tempat-tempat yang yang
membutuhkan barang. Tujuan dari masalah transportasi adalah untuk menentukan
jumlah yang optimal dari barang yang akan diangkut dari berbagai sumber ke
berbagai tujuan sehingga biaya transportasi total minimum.

1.2 Rumusan Masalah

1. Bagaimana metode transportasi?

2. Apa tujuan metode transportasi?

3. Apa saja macam-macam metode transportasi?

1.3 Tujuan

1. Untuk mengetahui pengertian metode transportasi

2. Untuk mengetahui tujuan metode transportasi


3. Untuk mengetahui macam-macam metode transportasi

BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Metode Transportasi

Metode transportasi yaitu suatu metode yang di gunakan untuk mengatur distribusi
dari sumber-sumber yang menyediakan produk yang sama ke tempat-tempat yang
membutuhkan secara optimal dengan biaya yang termurah. Alokasi produk ini harus
di atur sedemikian rupa karena terdapat perbedaan biaya-biaya alokasi dari satu
sumber atau beberapa sumber ke tempat tujuan yang berbeda.

Model transportasi diantaranya yaitu:

1. Merupakan salah satu bentuk dari model jaringan kerja (network)

2. Suatu model yang berhubungan dengan distribusi suatu barang tertentu dari
sejumlah sumber ke berbagai tujuan

3. Satiap sumber mempunyai sejumlah barang untuk di tawarkan dan setiap


tujuan mempunyai permintaan terhadap barang tersebut

4. Terdapat biaya transportasi per unit barang dari setiap rute


5. Asumsi dasar yaitu biaya transportasi pada suatu rute tertentu proporsional
dengan banyak barang yang di kirim

2.2 Tujuan metode transportasi yaitu:

1. Suatu proses pengaturan distribusi barang dari tempat yang menghasilkan


barang dengan kapasitas tertentu ke tempat yang membutuhkan barang tersebut
dengan jumlah kebutuhan tertentu agar biaya distribusi dapat di tekan seminimal
mungkin

2. Berguna untuk memecahkan permasalahan distribusi

3. Memecahkan permasalahan bisnis lainnya seperti masalah pengiklanan,


alokasi dana untuk investasi, analisis lokasi dsb.

Ciri-ciri penggunaan

1. Terdapat sejumlah sumber dan tujuan tertentu

2. Kuantitas barang yang di distribusikan dari setiap sumber dan yang di minta
oleh tujuan besarnya tertentu

3. Barang yang di kirim dari suatu sumber ke suatu tujuan besarnya sesuai
dengan permintaan dan kapasitas sumber

2.3 Ada tiga macam metode dalam metode transportasi:

1. Metode Stepping Stone

2. Metode MODI (Modified Distribution Method)

3. Metode VAM (Vogel’s Approximation Method)


Contoh sederhana pemecahan masalah dengan metode transportasi yaitu suatu
perusahaan manufaktur yang membuat VCD mempunyai dua pabrik yang letaknya
di kota Jakarta dan Medan dengan kapasitas produksi masing-masing 1.000 dan
1.500 unit per minggu. Setiap akhir minggu VCD tersebut dikirimkan ke 3 pusat
industri yang berada di Pontianak, Makasar, dan Jayapura. Daya tampung per
minggu kota-kota distributor Pontianak (950 unit), Makasar (1.200 unit), dan
Jayapura (400 unit). Biaya angkut per VCD dari setiap pabrik ke masing-masing
daerah yaitu:

Tabel 2.1 Alokasi barang dari tempat asal ke tempat tujuan

Dari-Ke Pontianak Makasar Jayapura

Jakarta Rp 10.000,00 Rp 25.000,00 Rp 60.000,00

Medan Rp 15.000,00 Rp 40.000,00 Rp 80.000,00

1. Metode Stepping Stone

Stepping Stone adalah memindahkan batu dari sel satu ke sel satu lain. Sebelumnya
patokan sel pada sudut kiri atas diisi lebih dahulu. berikut tabel matrik alokasi yang
pertama dengan mengisi sel pojok kiri atas.

Tabel 2.2 Matriks ke-1/ SS

Dari- ke Pontianak (P) Makasar (Mk) Jayapura (Jp) Kapasitas

Jakarta (J) 10 25 60 1.000

900 100 0
Medan (M) 15 40 80 1.500

0 1.100 400

Daya tampung 900 1.200 400 2.500

Sel ( J,P× ) sebagai perpotongan baris J dengan kolom P merupakan kotak sel yang
terdapat dipojok kiri atas ( north west corner). Isilah sel-sel lain dengan
memperhatikan kapasitas pada baris maupun daya tampung pada kolom masing-
masing. Misalnya sel (J,P) tidak dapat diisi 1.000 unit karena daya tampung P hanya
900. Pada sel (J,P) diisi dengan angka 900 saja. Kapasitas J sebesar 1.000 unit, baru
dialokasikan sebanyak 900 ke P sehingga sisa 100 unit dikirimkan ke sel (J,Mk).
Sementara sel (J,Jp) kosong alias nol. Sel (M,P) sebesar 0 unit karena kolom P
hanya memerlukan 900 unit saja, dengan demikian sel (M,Mk) harus diisi sebesar
1.200-100 unit = 1.100 unit. Lalu perhatikan baris M di mana kapasitas yang
tersedia sebesar 1.500, sedangkan yang telah dialokasikan hanya sebesar 1.100 unit
ke sel (M,Mk) sehingga sebesar 1.500 unit – 1.100 unit = 400 unit harus
dialokasikan ke sel (M,Jp).

Dengan alokasi pengiriman barang dari dua tempat asal Jakarta dan Medan ke
Pontianak, Makasar, dan Jayapura seperti tercantum dalam Matriks ke-1,
selanjutnya kita dapat menghitung total biaya transportnya, yakni sebesar:

900 unit × Rp 10.000/unit = Rp 9.000.000,00

100 unit × Rp 25.000/unit = Rp 2.500.000,00

1.100 unit × Rp 40.000/unit = Rp 44.000.000,00

400 unit × Rp 80.000/unit = Rp 32. 000.000,00 +

Total biaya transportasinya = Rp 87.500.000,00


Pertanyaannya, apakah total biaya transport sebesar Rp 87.500.000,00 tersebut
masih dapat diturunkan lagi atau tidak ? Untuk menjawab pertanyaan ini cara-
cara stepping stone memberi petunjuk untuk coba memindahkan “batu-batu”
tersebut ke sel-sel yang lain. Mari kita mencobanya dengan memindahkan 1 batu
saja dari sel (M,Mk) ke sel (M,P). Lihat anak-anak panah pada matriks -1
memindahkan 1 unit (batu) dari sel (M,Mk) ke sel (M,P). Akibat pemindahan
tersebut, maka harus diikuti oleh pemindahan satu unit dari sel (J,P) ke sel (J,Mk)
sehingga jumlah vertikal dan horizontal “kapasitas “ dan “daya tampung” tidak
berubah. Apakah dengan pemindahan 1 unit dari dan ke sel-sel tersebut di atas
mempunyai akibat terhadap biaya transport? Tentu ada. Cara menghitungnya ialah
sebagai berikut.

(i) Sel (M,Mk) ke sel (M,P) artinya mengurangi (-) sel (M,Mk) menambah
(+) sel (M,P) sehingga

(-1 × Rp 40.000,00) + (1 × Rp 15.000,00) = - Rp 25.000,00

(ii) Sel (M,P) ke sel (J,P)

(+1 × Rp 15.000,00) + (-1 × Rp 10.000,00) = + Rp 5.000,00

(iii) Sel (J,P) ke sel (J,Mk)

(-1 × Rp 10.000,00) + (1 × Rp 25.000,00) = + Rp 15.000,00

(iv) Dari sel (J,Mk) ke sel (M,Mk)

(1 × Rp 25.000,00) + (-1 × Rp 40.000,00) = - Rp 15.000,00

Jadi, (i) + (ii) + (iii) + (iv) = -25.000 + 5.000 + 15.000 – 15.000 = -20.000

Artinya dengan memindahkan 1 unit (batu) dari sel (M,Mk) ke sel (M,P) akan
menurunkan biaya transport sebanyak Rp 20.000,00. Jika demikian, pindahkan saja
sebesar 900 unit sehingga diperoleh Matriks ke-2 berikut ini.
Tabel 2.3 Matriks ke-2/SS

Dari - ke Pontianak (P) Makasar (Mk) Jayapura (Jp) Kapasitas

Jakarta (J) 10 25 60 1.000

0 1.000 0

Medan (M) 15 40 80 1.500

900 200 400

Daya 900 1.200 400 2.500


tampung

Berdasarkan alokasi barang seperti tercantum dalam Matriks-2 diperoleh total biaya
transport (1.000 × Rp 25.000,00) + (900 × Rp 15.000,00) + (200 × Rp 40.000,00) +
(400 × Rp 80.000,00) = Rp 78.500.000,00

Pertanyaannya, apakah total biaya Rp 78.500.000,00 tersebut masih dapat


diturunkan lagi? Kita coba lagi dengan memindahkan 1 unit barang dari sel (J,Mk)
ke sel (J,Jp) dengan akibat beruntun terlihat dengan anak panah pada matriks ke-2.

(i) Sel (J,Mk) ke sel (J,Jp) = (-1 × Rp 25.000,00) + (1 × Rp 60.000,00) = +


Rp 35.000,00

(ii) Sel (J,Jp) ke (M,Jp) = (1 × Rp 60.000,00) + (-1 × Rp 80.000,00) = - Rp


20.000,00

(iii) Sel (M,Jp) ke sel (M,Mk) = (-1 × Rp 80.000,00) + (1 × Rp 40.000,00) =


- Rp 40.000,00
(iv) Sel (M,Mk) ke sel (J,Mk) = (1 × Rp 40.000,00) + (-1 × Rp 25.000,00) =
+ Rp 15.000,00

Jadi, (i) + (ii) + (iii) + (iv) = Rp 35.000,00 – Rp 20.000,00 – Rp 40.000,00 + Rp


15.000,00 = - Rp 10.000,00. Hal ini berarti dengan memindahkan 1 unit akan
mengurangi biaya sebesar Rp 10.000,00. Oleh karena itu, pindahkan saja sebanyak
400 unit (sesuai dengan daya tampung Jp) sehingga alokasinya seperti tercantum
dalam matriks ke-3 berikut ini.

Tabel 2.4 Matriks ke-3/SS

Dari – ke Pontianak (P) Makasar (Mk) Jayapura (Jp) Kapasitas

Jakarta (J) 10 25 400 60

900 600 1.000

Medan (M) 15 40 80 1.500

900 600 0

Daya tampung 900 1.200 400 2.500

Dengan Matriks ke-3, maka total biaya transportasi = (600 × Rp 25.000,00) + (400
× Rp 60.000,00) + (900 × Rp 15.000,00) + (600 × Rp 40.000,00) = Rp
15.000.000,00 + Rp 24.000.000,00 + Rp 13.500.000,00 + Rp 24.000.000,00 = Rp
76.500.000,00.
Apakah total biaya Rp 76.500.000,00 ini masih dapat diperkecil? Mari coba lagi
memindahkan 1 unit dari sel (M, P) ke sel (J,P). Kita coba memindahkan 1 unit
barang (batu/ stone) dari sel (M,P) ke sel (J,P). Apa yang terjadi?

(i) -1 (Rp 15.000,00) + 1 ( Rp 10.000,00) = - Rp 5.000,00

(ii) Dari sel (J,P) ke sel (J,Mk)

+1 (Rp 10.000,00) -1 (Rp 25.000,00) = - Rp 15.000,00

(iii) Dari sel (J,Mk) ke sel (M,Mk)

-1 (Rp 25.000,00) + 1 (Rp 40.000,00) = + Rp 15.000,00

(iv) Dari sel (M,Mk) ke (M,P)

+1 (Rp 40.000,00) -1 (Rp 15.000,00) = + Rp 25.000,00

Jadi, (i) + (ii) + (iii) + (iv) = - Rp 5.000,00 + (– Rp 15.000,00) + Rp 15.000,00 + Rp


25.000,00 = + Rp 20.000,00

Jadi, dengan memindahkan 1 unit barang dari sel (M,P) ke sel (J,P) akan menaikkan
biaya transport sebesar Rp 20.000,00. Jika demikian, jangan dipindahkan.
Berdasarkan perhitungan tersebut matriks-3 telah optimal, artinya pihak manajemen
membuat perencanaan alokasi produk VCD dari Jakarta dan Medan ke kota
distribusi Pontianak, Makasar dan Jayapura sebagai berikut : Pabrik Jakarta yang
berkapasitas 1.000 unit mendistribusikan produknya ke Makassar 600 unit dan
Jayapura 400 unit. Pabrik Medan mendistribusikan produk VCD ke Pontianak 900
dan ke Makassar 600 unit sesuai dengan kapasitas pabrik 1.500 unit.

2. Metode MODI (Modified Distribution Method)


Metode MODI atau singkatan dari metode Modified Distribution
Method,merupakan modifikasi perhitungan biaya transportasi cara Stepping Stone (
memindahkan batu). Artinya, MODI ini merupakan perbaikan dari cara Stepping
Stone tersebut, karena secara umum lebih singkat.

Langkah dari MODI adalah sebagi berikut.

a) Mengisi sel berdasrkan northwest corner, sebagai langkah awal yakni mengisi
sel yang terdapat di sudut kiri atas terlebih dahulu. selanjutnya dengan
memperhatikan kapasitas-kapasitas maupun daya tampung setiap kolom, sel-sel
berikutnya diisi.

b) Sel-sel yang berisi “batu” dinilai dengan rumus sebagi berikut.

Nilai tempat awal (A) + nilai tempat tujuan (T) + nilai sel (A, T) =
0

Dari - ke T

A Sel (A, T)

Nilai tempat tujuan T bila mempunyai J kolom, kita beri simbol Kj, sedangkan sel-
sel yang merupakan perpotongan baris Bi dan kolom Kj disebut sel (Bi, Kj),
sehingga rumus umumnya menjadi:

Nilai Bi + Nilai Kj + (Bi, Kj) =


0
c) Untuk menerapkan rumus tersebut, pada tahap pertama B, dari baris i diberi
nilai sebesar 0 (nol).

d) Setelah seluruh sel-sel yang terisi “dinilai” untuk menghitung


besarnya Bi dan Kj, selanjutnya dengan rumus yang sama dinilai pula semua sel
yang kosong. Tujuannya untuk mencari sel yang bernilai paling rendah, dan
kemudian menjadi sel yang harus diisi. Disinilah kelebihan MODI dengan Stepping
Stone, yaitu sel yang akan diisi perlu “dinilai” terlebih dahulu, sedangkan
pada Stepping Stone cara menilai sel-sel yang harus diisi dihitung secara lebih
panjang prosesnya dan lebih lama.

e) Bila sel-sel kosong telah terisi, berarti diperoleh matriks baru yang berbeda
alokasinya dengan matriks awal, selanjtunya matriks baru tersebut perlu dinilai lagi
dengan prosedur yang sama dari (a) sampai dengan (e).

Tampaknya akan lebih mudah penghayatannya bila penerapan metode MODI ini
dijelaskan dengan contoh seperti di bawah ini:

Tabel 2.5 Matriks ke-1/MODI

Dari - ke K1 = -10 K2 = -25 K3 = -65 Kapasitas

B1 = 0 10 25 60

900 100 1.000

B2 = - 15 15 40 80 1.500

1.100 400

Daya tampung 900 1.200 400 2.500


Ingat pada matriks ke-1, sel-selnya diisi di sudut kiri atas (north west corner)
dengan memperhatikan kapasitas dan daya tampung masing-masing baris dan
kolom.

Menilai sel yang terisi:

(i) Sel ( B1,K1) : B1 + (B1,K1) +K1 = 0

0 + 10 + K1 = 0

K1 = -10 Cantumkan angka – 10 pada K1 di matriks ke -1

(ii) Sel ( B1,K2) : B1 + (B1,K2) +K2 = 0

0 + 25 + K2 = 0 K2 = - 25 Cantumkan angka – 25 pada K2 di


matriks ke -1

(iii) Sel ( B2,K2) : B2 + (B2,K2) +K2 = 0

B2 + 40 + (-25) = 0

B2 + 15 = 0

B2 = -15 Cantumkan angka – 15 pada B2 pada baris


di matriks ke -1

(iv) Sel ( B2,K3) : B2 + (B2,K3) + K3 = 0

-15 + 80 + K3 = 0

K3 = -65
Jadi B1, B2, K1, K2, dan K3 telah diisikan nilainya. Selanjutnya kita perlu menilai
sel-sel kosong mana yang berpotensi diisi menerima pindahan. Dalam hal ini
terdapat dua sel saja, yakni sel ( B1,K3), dan ( B2,K1).

(i) Sel ( B1,K3) : B1 + (B1,K3) +K3 = 0

0 + 60 + (-65) = -5

(ii) Sel ( B2,K1) : B2 + (B2,K1) +K1 = 0

-15 + 15 + (-10) = 0

0 – 10 = -10

Membandingkan kedua sel kosong tersebut, maka sel (B2, K1) mempunyai nilai
negatif sebesar –10, sedangkan sel (B1, K3) hanya sebesar –5. Jadi sel (B2, K1)
harus diisi dengan memindahkan dari sel yang ada. Berikut matriks ke-2 di bawah
ini. Sel (B2, K1) diisi 900 unit. Sel yang lain pun isinya bergeser sesuai kapasitas
dan daya tampung.

Tabel 2.6 Matriks ke-2/MODI

Dari- ke K1 = 0 K2 = -25 K3 = -60 Kapasitas

B1 = 0 10 25 60 1.000

0 600 400

B2 = -15 15 40 80 1.500

900 600 0

Daya tampung 900 1.200 400 2.500


Karena sel (B2, K1) menerima 900 unit dari sel (B1, K1), maka sel (B2, K2) dan sel
(B2, K3) harus berkurang karena kapasitas baris B2 hanya 1.500 unit. Di lain pihak,
sel (B1, K3) juga harus diisi sebanyak 400 unit dengan memindahkan dari sel (B2,
K3) sehingga sel (B2, K2) tinggal 1.500 – 900 = 600 unit. Kemudian di cek lagi
apakah matrik ke-2 MODI sudah optimum. Caranya sama:

(i) Mulai dengan B1 = 0, lalu gunakan rumus untuk mencari nilai B2, K2, K3.
Perhatika sel-sel yang terisi saja dulu. Sel (B1, K2) B1 + (B1, K2) + K2 = 0

0 + 25 + K2 = 0

K2 = -25

Sel (B1, K3) B1 + (B1, K3) + K3 = 0

0 + 60 + K3 = 0, K3 = -60

Sel (B2, K2) B2 + (B2, K2) + K2 = 0

B2 + 40 + (-25) = 0

B2 + 40 -25 = 0

B2 = -15

Sel (B2, K1) B2 + (B2, K1) + K1 = 0

-15 + 15 + K1 = 0

K1 = 0

Tahap berikutnya adalah menilai sel-sel yang kosong, yakni:


Sel (B1, K1) = B1 + (B1, K1) + 0 = 0 + 10 + 0 = 10, artinya bila sel ini diisi justru
akan menambah biaya transportasi sebesar Rp 10.000,00 per unit barang. Jadi,
jangan diisi, karena nilainya positif atau + (plus).

Sel (B2, K3) B2 + (B2, K3) + K3

-15 + 80 + (-60)

80 - 75 = 5

Sel (B2, K3) juga jangan diisi, karena hasilnya positif 5 atau +5.

Kesimpulannya, kedua sel yang kosong pada Matriks ke-2/ MODI tersebut
mempunyai nilai yang positif (+). Jadi, Matriks ke-2/ MODI tersebut telah
optimum. Berapa total biaya transportasinya? Mari kita hitung.

Total biaya transportasi = 600 (Rp 25.000,00) + 400 (Rp 60.000,00) + 600 (Rp
40.000,00) + 900 ( Rp 15.000,00)

TBT = Rp 15.0000.000,00 + Rp 24.000.000,00 + Rp 24.000.000,00


+ Rp 13.500.000,00

TBT = Rp 76.500.000,00

Artinya, total biaya transportasi yang paling minimum sebesar Rp 76.500.000,00.


Ternyata cara matematis, stepping stone, dan MODI menghasilkan total biaya
minimum yang sama, yakni Rp 76.500.000,00.

3. Metode VAM (Vogel’s Approximation Method)

Metode Vogel’s atau VAM tampaknya merupakan perbaikan dari cara-cara


perhitungan di atas, selain lebih mudah juga lebih praktis dan cepat.
Prosedur VAM terdiri dari:

a) Cari dan hitung besarnya selisih angka biaya transport peringkat terkecil
dengan angka biaya transport yang lebih besar pada peringkat berikutnya, dalam
setiap baris dan kolom masing-masing. Contoh peringkat terkecildengan peringkat
berikutnya : Misal, dari angka 8,12,17, dan 6. Angka peringkat terkecil 6,
sedangkan peringkat berikutnya 8, jadi selisihnya 8 -6 = 2.

b) Angka selisih tersebut dalam butir (a) ditempatkan di ujung masing-masing


baris atau di ujung puncak kolom masing-masing.

c) Angka-angka tersebut, baik yang berada di ujung baris maupun puncak kolom
dipilih yang paling besar selisihnya. Angka yang dipilih menunjukkan baris atau
kolom yang sel-selnya akan dipilih untuk diisi sesuai dengan kapasitas atau daya
tampungnya.

d) Hanya sel-sel baris atau kolom yang mempunyai biaya transportasi paling kecil
mendapat prioritas untuk memperoleh alokasi untuk diisi.

e) Bila baris atau kolom yang selnya diisi telah penuh sebesar kapasitas atau
daya tampungnya, maka baris atau kolom tersebut sebaiknya di “arsir” sebagai
“tanda” agar tidak diganggu dalam proses perhitungan berikutnya. Akan tetapi,
apabila baris atau kolom belum penuh, karena masih lebih kecil dari kapasitas atau
daya tampungnya maka biarkan saja tidak perlu diarsir.

f) Tahap berikutnya, menjalani prosedur secara cermat dari (a) sampai dengan
(e).

Untuk menerapkan tahap-tahap tersebut sebaiknya perhatikan contoh berikut.

Tabel 2.7 Matriks VAM


- 15 20 lapis -2

5 15 20 lapis -1

Dari – ke K1 K2 K3 Kapasitas

B1 10 25 400 60 15 35

0 600 1.000

B2 15 40 80 1.500 25 40

900 600 0

Daya tampung 900 1.200 400 2.500 Lapis- Lapis-


1 2

Pada lapisan 1, perbedaan angka pada kolom dari baris berturut-turut adalah 5,15,
20, 15, dan 25. Mana yang paling besar? Tentu angka 25.

Catatan:

Angka 5 dalam kolom K1 sebesar 5 hasil dari 15-10. Sedangkan angka 25 pada
baris B2berasal dari 40 – 15. Demikian pula angka lain dihitung dengan cara yang
sama, seperti disebutkan langkah (a).

Angka 25 berada pada baris B2 sehingga baris B2 dipilih untuk diisi. Oleh
karena itu, buat garis arah ( ) untuk menunjukkan baris B2 sebagai baris yang
mempunyai sel (B2, K1), sel (B2, K2), dan sel (B2, K3). Sel mana dari ketiga sel
tersebut yang mempunyai angka biaya transport paling kecil? Tentu saja sel (B2,
K1) yaitu 15. Jadi, isi saja sel (B2, K1) tersebut dengan angka 900. Mungkin anda
bertanya mengapa tidak diisi dengan angka 1.500 unit? Karena daya tampung
kolom K1 hanya 900 unit saja.

Jika demikian, berarti kolom K1 sudah terpenuhi kebutuhannya, sehingga


kolomK1 diarsir. Selesai tahap ke-1, lalu diulang proses yang sama untuk 4 sel yang
tersisa. Buat lapis ke-2 untuk mencari selisih angka biaya transport seperti di atas.
Dari lapis ke-2 kita diperoleh angka-angka 15, 20, 35, dan 40. Mana yang paling
besar? Tentu 40. Artinya, baris B2 terpilih lagi untuk diisi sel-sel tersisa yaitu sel
(B2, K2), dan sel (B2, K3). Sel yang mempunyai biaya transport paling kecil adalah
(B2, K2), yakni 40. Berapa unit harus diisikan pada sel (B2, K2)? Jumlahnya 1.500
unit – 900 unit = 600 unit. Jadi, baris B2 sudah penuh sebanyak kapasitas 1.500
unit. Oleh karena itu baris B2 diarsir saja. Selesai tahap ke-2, seterusnya kita
perhatikan sel yang tersisa, yaitu sel (B1, K2) dan (B1, K3). Isi saja masing-masing
dengan memperhatikan daya tampung dan kapasitas. Jadi, sel (B1, K2) diisi dengan
600 unit (=1.200 unit – 600 unit. Sedangkan sel (B1, K3) dengan 400 unit (= 1.000
unit – 600 unit).

Berarti selesai sudah alokasi “pengiriman dari tempat asal ke tempat tujuan
dengan total biaya transportasi sebesar

= (600 × 25.000) + ( 400 × 60.000) + (900 × 15.000) + (600 × 40.000)

= 15.000.000 + 24.000.000 + 13.500.000 + 24.000.000

= 76.500.000

Jadi t min = Rp 76.500.000,00

TUGAS 1 RISET OPERASI METODE TRANSPORTASI

METODE TRANSPORTASI
BAB I PENDAHULUAN

1.1. Pengertian Riset Operasi

Dasar pertimbangan dari berbagai definisi dilatarbelakangi oleh ahli Riset


Operasi dari berbagai disiplin ilmu seperti teknik, matematika , dan lain – lain.

Operational Research Societyof Great Britain mendefinisikan Riset


Operasi adalah aplikasi metode ilmiah dalam masalahyang kompleks dan sistem
manajemen yang besar atas manusia, mesin, material ,dan dana dalam industri,
bisnis, pemerintah dan militer. Research Society of America mendefinisikan Riset
Operasi adalah berkenaan dengan pengambilan keputusan secara ilmiah, bagaimana
membuat model terbaik dan membutuhkan alokasi sumber daya yang terbatas.
Secara lebih umum Riset Operasi dapat didefinisikan sebagai model
kwantitatif yaitu
metoda untuk memformulasikan dan merumuskan kedalam model matematika untu
k mendapatkan solusi yang optimal yang digunakan dalam pengambilan keputusan
dalam permasalahan sehari-hari baik mengenai bisnis, ekonomi, social maupun
bidang lainnya.

1.2. Latar Belakang Sejarah Riset Operasi

Selama perang dunia II Riset Operasi benar-benar tidak dapat dipungkiri


keefektifannya sebagai metoda penyelesaian masalah. Kegiatan Operasional
Research di Inggris dan Amerika secara terus menerus. Dalam bidang non militer
terutama kelompok industri, sehingga aktifitas operasonal research tidak hanya
mengenai aktifitas ilmu tetapi menyangkut berbagai macam disiplin dan bisnis.
1.3 Komputer dan Riset Operasi

Penggunaan komputer dalam Riset operasi secara terus menerus mengalami


peningkatan terutama dalam menghadapi persaingan lingkungan internasional dan
masalah produktifitas.Tanpa bantuan komputer adalah menjadi sangat sulit untuk
menyelesaikan masalah yang cukupbesar.

1.3 Model Matematika dan Pengambilan Keputusan.

Pengambilan keputusan adalah merupakan tanggung jawab manajemen . Adapun


langkah-langkah berikut merupakan tahapan-tahapan dalam proses pengambilan
keputusan oleh seorang manager. .Mengidentifikasi Masalah → Mengidentifikasi
Parameter Masalah ( Menentukan variable keputusan, Menentukan tujuan
(objective), Menentukan Kendala (Constraints) ) → Mencari Alternatif keputusan
yang terbaik → Melaksanakan keputusan.

BAB II METODE TRANSPORTASI

Dilihat dari namanya, Metode Transportasi merupakan suatu metode yang


digunakan untuk mengatur distribusi dari sumber – sumber yang menyediakan
produk yang sama (komoditas tunggal) ke berbagai daerah tujuan secara optimal
dengan biaya yang termurah. Tiga hal penting yang harus diingat dari penjelasan di
atas, yaitu Komoditas tunggal, daerah sumber (asal) lebih dari satu dan daerah
tujuan juga lebih dari satu. Meskipun demikian, metode transportasi tidak hanya
berguna untuk optimisasi pengangkutan komoditas (barang) dari daerah sumber
menuju daerah tujuan. Metode transportasi juga dapat digunakan untuk perencanaan
produksi. Data yang dibutuhkan dalam metode transportasi adalah :
1. Level suplai pada setiap daerah sumber dan level permintaan pada setiap daerah
tujuan untuk kasus pendistribusian barang; jumlah produksi dan jumlah
permintaan(kapasitas inventori) pada kasus perencanaan produksi.

2. Biaya transportasi per unit komoditas dari setiap daerah sumber menuju berbagai
daerah tujuan pada kasus pendistribusian; biaya produksi dan inventori per unit pada
kasus perencanaan produksi. Karena hanya ada satu jenis komoditas, pada dasarnya
setiap daerah tujuan dapat menerima akomoditas dari sembarang daerah sumber,
kecuali ada kendala lainnya. Kendala yang mungkin terjadi adalah tidak adanya
jaringan transportasi dari statu sumber menuju satu tujuan; waktu pengangkutan
yang lebih lama dibandingkan masa berlaku komoditas. Kita dapat menggambarkan
jaringan pengangkutan pada metode transportasi seperti gambar berikut.

● ai ( i=1,2,3,...,m) menunjukkan suplai pada sumber ke-i.


● bj ( j=1,2,3,...,n) menunjukkan permintaan pada tujuan ke-j.

● cij menunjukkan biaya transportasi per unit dari sumber ke-i menuju tujuan-j.

● Xij menunjukkan jumlah yang diangkut/dialokasikan dari sumber i menuju tujuan


j.

Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, metode transportasi tidak hanya


digunakan dalampendistribusian barang (komoditas).

METODE-METODE PENENTUAN SOLUSI

Penentuan solusi awal dapat dilakukan dengan memilih salah satu dari metode
berikut: Solusi awal layak dilihat dari jumlah sel yang teralokasi. Solusi layak jika
jumlah sel yang terisi sebanyak m + n -1 (m menunjukkan jumlah sumber dan n
adalah jumlah tujuan).PT. XYZ mempunyai 3 pabrik yang berlokasi di 3 kota
berbeda dan memproduksi minuman ringan yang dibotolkan. Produk dari ketiga
pabrik didistribusikan ke 5 gudang yang terletak dilima kota daerah distribusi. Biaya
pengangkutan per krat minuman (ratus rupiah), jumlah suplai pada masing-masing
pabrik (dalam ribu krat) dan daya tampung pada masing-masing gudang(dalam ribu
krat) setiap hari ditunjukkan

Tabel awal dapat dibuat dengan 2 metode, yaitu :

1. Metode North West Corner (NWC)

dari pojok kiri atas ke pojok kanan bawahKelemahan : tidak memperhitungkan


besarnya biaya sehingga kurang efisien .

2. Metode biaya terkecil


mencari dan memenuhi yang biayanya terkecil dulu.Lebih efisien dibanding metode
NWC

Setelah tabel awal dibuat , tabel dapat dioptimalkan lagi dengan metode:

1. Stepping stone ( Batu Loncatan )

2. Modified Distribution Method (MODI)

Selain metode-metode di atas masih ada satu metode yang lebih sederhana
penggunaannya yaitu metode vogel’s Approximation Methode (VAM). Solusi awal
layak dilihat dari jumlah sel yang teralokasi. Solusi layak jika jumlah sel yang terisi
sebanyak m + n -1 (m menunjukkan jumlah sumber dan n adalah jumlah tujuan).

CONTOH MASALAH TRANSPORTASI

PT. XYZ mempunyai 3 pabrik yang berlokasi di 3 kota berbeda dan memproduksi
minuman ringan yang dibotolkan. Produk dari ketiga pabrik didistribusikan ke 5
gudang yang terletak di lima kota daerah distribusi. Biaya pengangkutan per krat
minuman (ratus rupiah), jumlah suplai pada masing-masing pabrik (dalam ribu krat)
dan daya tampung pada masing-masing gudang (dalam ribu krat) setiap hari
ditunjukkan dalam tabel di bawah ini:

Biaya distribusi per unit dan kapasitas sumber dan tujuan

Biaya distribusi per unit dan kapasitas sumber dan tujuan.


Penyelesaian Dengan Menggunakan Metode NWC ( North West Corner )

Solusi Awal menggunakan metode NWC ditentukan dengan mengisi sel kosong
yangmasíh dapat diisi dan terletak paling kiri atas . Jumlah yang dialokasikan pada
sel kosong tesebut(Xij) tidak boleh melebihi jumlah suplai pada sumber i dan
jumlah permintaan pada tujuan j.

Iterasi 1
Iterasi 2

Iterasi 3
Iterasi 4

Iterasi 5

Solusi awal dengan metode NWC adalah:


Layak tidaknya solusi awal dipenuhi jika jumlah sel baris sel basis (sel yang terisi
sama dengan 3 + 5 – 1= 7). Jumlah sel basis pada solusi awal dengan metode NWC
diatas adalah 7, dengan demikian solusi awal yang diperoleh sudah layak. Alokasi
barang dilihat dari solusi awal dengan metode NWC diatas adalah:

oJumlah yang diangkut dari pabrik A menuju gudang 1 adalah 300.000 krat per hari.

oJumlah yang diangkut dari pabrik A menuju gudang 2 adalah 200.000 krat per hari.

oJumlah yang diangkut dari pabrik B menuju gudang 2 adalah 200.000 krat per hari.

oJumlah yang diangkut dari pabrik B menuju gudang 3 adalah 100.000 krat per hari.

oJumlah yang diangkut dari pabrik C menuju gudang 3 adalah 100.000 krat per hari.

oJumlah yang diangkut dari pabrik C menuju gudang 4 adalah 300.000 krat per hari.
oJumlah yang diangkut dari pabrik C menuju gudang 5 adalah 200.000 krat per hari.

Total biaya pengangkutan minuman ringan per hari


adalah(600+1000+2000+300+600+1800+800) x 100.000= 710.000.000,00 rupiah.

Penyelesaian dengan menggunakan metode biaya terkecil solusi awal menggunakan


metode biaya terkecil ditentukan dengan sel kosong yang masih dapat diisi dengan
biaya paling kecil. Jumlah yang dialokasikan pada sel kosong tersebut (Xij) todak
boleh melebihi jumlah suplai pada sumber i dan jumlah permintaan pada tujuan j.

Iterasi 1

Iterasi 2
Iterasi 3

Iterasi 4
Iterasi 5

Solusi awal dengan metode biaya terkecil oleh karenanya adalah:

Jumlah sel basis pada solusi awal di atas sama dengan 7, dengan demikian solusi
awal yang diperoleh sudah layak. Alokasi barang dilihat dari solusi awal dengan
metode biaya terkecil diatas adalah:
oJumlah yang diangkut dari pabrik A menuju gudang 1 adalah 300.000 krat per hari.

oJumlah yang diangkut dari pabrik A menuju gudang 4 adalah 200.000 krat per hari.

oJumlah yang diangkut dari pabrik B menuju gudang 3 adalah 200.000 krat per hari.

oJumlah yang diangkut dari pabrik B menuju gudang 4 adalah 100.000 krat per hari.

oJumlah yang diangkut dari pabrik C menuju gudang 2 adalah 400.000 krat per hari.

oJumlah yang diangkut dari pabrik C menuju gudang 5 adalah 200.000 krat per hari.

oTotal biaya pengangkutan minuman ringan per hari


adalah(600+600+600+300+2000+800) x 100.000= 490.000.000,00 rupiah.

Solusi awal ini lebih baik dibandingkan dengan solusi awal menggunakan metode
NWC.

Metode NORTH WESH CORNER (NWC)

b. Metode LEAST COST (LC)

c. VOGEL’S APPROXIMATION METHOD (VAM)

TABEL TRANSPORTASI:
Biaya ($)

PASAR 1 2 3 PENAWARAN

PABRIK

1 8 5 6 120

2 15 10 12 80

3 3 9 10 80

PERMINTAAN 150 70 60 280

Metode pertama yang di gunakan adalah NORTH WESH CORNER (NWC)

Adapun langkah – langkah yang harus di lakukan adalah sebagai berikut :

Langkah pertama yang dilakukan adalah mengisi tabel di bagian pojok kiri atas
(barat laut tabel ) alokasikan / masukan nilai sebanyak mungkin tanpa melenceng /
menyimpang dari batasan permintaan dan penawaran
Langkah selanjutnya adalah dengan menghilangkan baris atau kolom yang tidak
di alokasikan lagi , kemudian alokasikan sebanyak mungkin di kotak di dekat baris
dan kolam yang tidak di hilangkan , jika kolom atau baris sudah di habiskan , di
pindahkan secara diagonal ke kotak berikutnya .

Lanjutkan dengan cara yang sama sampai semua penawaran telah di habiskan
dan permintaan telah terpenuhi .

Solusi pertama yang di peroleh dengan menggunakan NORTH WESH


CORNER(NWC) pada masalah diatas ditunjukan pada tabel di bawah ini :

Tabel 1 ( solusi pertama dengan menggunakan metode NORTH WESH


CORNER(NWC)) adalah sebagai berikut

Biaya ($)

PASAR 1 2 3 PENAWARAN

PABRIK

1 8 5 6 120

(1)

120

2 15 10 12 80

(2) (3)

30 50

3 3 9 10 80

(4) (5)
20 60

PERMINTAAN 150 70 60 280

Dari tabel diatas , kita dapat mengetahui bahwa biaya transportasi total dari
permasalahan di atas adalah sebagai berikut ;

z =8X1a+5X1b+6X1c +15X2a+10X2b+12X2c+3X3a+9X3b+10X3c

= 8(120) +5(0)+6(0)+15(30)+10(50)+12(0)+3(0)+9(20)+10(60)

= 960 + 0 + 0 + 450 + 50 0+ 0 + 180 + 600

= 2690

Metode kedua yang di gunakan adalah dengan menggunakan metode LEAST


COST(LC)

Adapun langkah- langkah yang di ambil adalah sebagai berikut :

a. Langkah pertama yang harus dilakukan adalah memilih baris dan kolom pada
tabel yang memiliki biaya transportasi yang terkecil dari tabel dapat kita simpulkan
bahwa pada tabel kita mulai bergerak pada 3X3a . kemudian alokasikan sebanyak
mungkin . namun tidak melenceng dari penwaran dan permintaan . ini akan
menghabiskan salah satu antara permintaan dan penwaraan.

b. Dari kotak – kotak, yang layak( yaitu yang tidak terisi atau terhilangkan )
pilih biaya transportasi terendah , kemudian alokasikan sebanyak mungkin .

c. Lanjutkan proses ini sampai semua permintaan dan penawaraan terpenuhi .


Solusi kedua dengan menggunakan metode LEAST COST (LS) . Dan lebih jelasnya
akan di jelaskan dalam bentuk tabel sebagai berikut :

Tabel 2( solusi kedua dengan menggunakan metode LEAST COST(LS))

Biaya ($)

PASAR 1 2 3 PENAWARAN

PABRIK

1 8 5 6 120

(3)

(2) 50

70

2 15 10 12 80

(5) (4)

70 10

3 3 9 10 80

(1)

80

PERMINTAAN 150 70 60 280


Dari tabel diatas , kita dapat mengetahui besarnya biaya transportasi total dari
permasalahan di atas :

z =8X1a+5X1b+6X1c +15X2a+10X2b+12X2c+3X3a+9X3b+10X3c

= 8(0) +5(70) +6 (50) +15 (70) +10(0) + 12(10) +3 (80) +9 (0) +10 (0)

= 0 +350 +300+1050+0 +120+240+0+0

= 2060

METADE KETIGA YANG DIGUNAKAN


ADALAH VOGEL‘S APPROXIMATION METHOD (VAM)

Adapun langkah –langkah yang harus di lakukan adalah sebagai berikut

Hitung opportunity cost untuk setiap baris dan kolom . opportunity cost untuk
setiap baris di hitung dengan mengurangkan nilai terkecil pada baris tersebut dengan
nilai satu tinggkat lebih besar pada baris yang sama . opportunity cost kolom
diperoleh dengan cara yang sama . biaya-biaya ini adalah pinalti Karena tidak
memiliki kotak dengan biaya minimum

Pilih baris dan kolom ,dengan opportunity cost terbesar , jika terdapat nilai
kembar , pilih secara sembarang . alokasikan sebanyank mungkn ke kotak dengan
nilai minimum pada baris atau kolom yang di pilih .

Hilangkan semua baris dan kolom di mna penawaraan dan permintaan telah di
habiskan .

Biaya ($)

PASAR 1 2 3 PENAWARAN
PABRIK

1 5 6 120

2 15 10 12 80

3 3 9 10 80

PERMINTAAN 150 70 60 280

Solusi ketiga dengan menggunakan metode VOGEL’S APPROXIMATION


METHOD dari permasalahan di atas adlah srbagai berkut :

Pengisian pertama karena mem


Biaya ($)

PASAR 1 2 3 PENAWARAN

PABRIK

1 8 5 6 120

(2) (3)

70 50

2 15 10 12 80

(5) (4)

70 10

3 3 9 10 80

(1)

80

PERMINTAAN 150 70 60 280

Dari table diatas dapat , kita dapat mengetahui bahwa besarnya biaya transportasi
total dengan mengunakan metode VAM adalah sebagai berikut ;

z =8X1a+5X1b+6X1c +15X2a+10X2b+12X2c+3X3a+9X3b+10X3c
= 8 (70) + 5(0) + 6(50) +15 (0) + 10 (70) + 12(10) +3(80) +9(0) +10(0)

= 560 +0 + 300 + 0 +700 +120 +240+ 0 + 0

= 1920

Biaya total untuk solusi ketiga dengan menggunakan metode VAM merupakan
biaya awal terkecil yang diperoleh dari ketiga metode solusi

Dari hasil di atas dapat simpulkan metode VAM memiliki nilai terkecil, jadi dapat
di tarik kesimpulan bahwa metode VAM yang mmiliki nilai optimal .

Soal latihan model transportasi

Tempat peleburan baja Yasmine Steel, ada di tiga kota, E, B, dan G memproduksi
baja sejumlah 150,210,260. Baja tersebut dipasok ke kota D, S, C, N yang
membutuhkan 130,70,180,240 ton per minggu. Biaya pengiriman per ton adalah?

D S C N

E 14 9 16 18

B 11 8 7 16

G 16 12 10 22
Tentukan pengalokasian baja yang dapat meminimumkan biaya

T M S C

R 22 17 30 18

A 15 35 20 25

W 28 21 16 14

2. Perusahaan komputer akan menjual komputer ke beberapa PTS yang dikirim


melalui tiga gudang R, A, W dengan kapasitas 420, 610, dan 340 unit. PTS yang
memesan adalah T, M, S, C dengan pemesanan 520, 250, 400, dan 200 unit. Biaya
pengiriman per unit adalah : Tentukan pengalokasian komputer dari gudang ke
setiap PTS untuk meminimumkan biaya.

3 Tempat peleburan baja Aladin Steel, ada di tiga kota, A, B, dan C


memproduksi baja sejumlah 46, 20, 34 ton per bulan. Baja tersebut dipasok ke kota
V, W, X, Y, dan Z yang membutuhkan 250, 150, 180, 100, dan 270 ton per sepuluh
bulan. Biaya pengiriman per ton adalah :
V W X Y Z

A 18 16 12 28 54

B 24 40 36 30 42

C 22 12 16 48 44

Tentukan pengalokasian baja yang dapat meminimumkan biaya

4. Tempat peleburan baja yang ada di 3 kota memproduksi sejumlah baja sbb:

Lokasi Jumlah yang ditawarkan per minggu (ton)

Cilegon 150

Cilacap 210

Semarang 320

Ketiga tempat peleburan tersebut memasok baja ke 4 kota dimana pabrik-pabriknya


mempunyai permintaan sbb:

Lokasi Jumlah yang ditawarkan per minggu (ton)

Tangerang 130

Bekasi 70

Klaten 180
Surabaya 240

Biaya pengiriman per ton baja adalah sbb:

dari ke Tangerang Bekasi Klaten Surabaya

Cilegon 14 9 16 18

Cilacap 11 8 7 16

Semarang 16 12 10 22

Tentukan alokasi yang memberikan biaya transportasi yang paling minimum!

5. Hewled Packcard menjual komputer mikro ke beberapa perguruan tinggi


Yogyakarta dan mengirimkan komputer-komputer tersebut ke 3 gudang distribusi.
Pada awal tahun ajaran baru perusahaan sanggup menyalurkan sejumlah komputer
mikro berikut ini ke beberapa perguruan tinggi.

Gudang Distribusi Penawaran (Komputer Mikro)

Solo 420

Magelang 610

Purworejo 340

Adapun 4 perguruan tinggi telah memesan computer mikro yang harus dikirim dan
dipasang paling lambat pada awal tahun ajaran baru.
Perguruan Tinggi Permintaan (Kompute Mikro)

STMIK AMIKOM 520

UII 250

UPN Veteran 400

STIE YKPN 380

Biaya pengiriman dan pemasangan per satu computer mikro dari masing –masing
distributor ke masing-masing universitas adalah sbb:

Ke STMIK UII UPN Veteran STIE YKPN


AMIKOM
dari

Solo 22 17 30 18

Magelang 15 35 20 25

Purworejo 28 21 16 14

Tentukan alokasi yang memberikan biaya transportasi yang paling minimum!

6. Perusahaan mempunyai pabrik pengolahan A,B,C,D,E, dan gudang F, G, H,I.


Kapasitas pabrik bulanan masing-masing sebesar 10, 20, 30, 40, dan 50 unit.
Kebutuhan gudang bulanan masing-masing sebesar 60, 60, 20, dan 10 unit. Biaya
pengiriman per unit (Ribuan rupiah) sebagai berikut:
F G H I

A 10 20 5 7

B 13 9 12 8

C 4 15 7 9

D 14 7 1 0

E 3 12 65 19

Tentukan dari pabrik mana akan dikirim ke gudang mana, dan berapa biaya total
pengiriman minimumnya!

METODE TRANSPORTASI

METODE TRANSPORTASI : STEPPING STONE

Posted by : Ryan Adhi Pratama May 15, 2013

Metode Transportasi adalah suatu metode yang digunakan untuk mengatur distribusi
dari sumber – sumber yang menyediakan produk – produk yang sama di tempat-
tempat yang membutuhkan secara optimal. Alokasi produk ini harus diatur
sedemikian rupa karena terdapat perbedaan biaya transportasi (alokasi) dari suatu
sumber ke beberapa tujuan yang berbeda – beda dan dari beberapa sumber ke suatu
tujuan juga berbeda – beda.

Ada tiga macam metode dalam metode transportasi:

1. Metode Stepping Stone


2. Metode Modi (Modified Distribution)

3. MetodeVAM (Vogel’s Approximation Method)

Pada sesi ini hanya akan dibahas mengenai metode transportasi dengan metode
stepping stone, sedangkan metode MODI dan VAM akan dibahas pada sesi tulisan
yang lain.

Metode Stepping Stone

Metode ini dalam merubah alokasi produk untuk mendapatkan alokasi produksi
yang optimal menggunakan cara trial and error atau coba – coba. Walaupun
merubah alokasi dengan cara coba- coba, namun ada syarat yang harus diperhatikan
yaitu dengan melihat pengurangan biaya per unit yang lebih besar dari pada
penambahan biaya per unitnya. Untuk mempermudah penjelasan, berikut ini akan
diberikan sebuah contoh. Suatu perusahaan mempunyai tiga pabrik di W, H,
O. Dengan kapasitas produksi tiap bulan masing- masing 90 ton, 60 ton, dan 50
ton; dan mempunyai tiga gudang penjualan di A, B, C dengan kebutuhan tiap bulan
masing- masing 50 ton, 110 ton, dan 40 ton. Biaya pengangkutan setiap ton produk
dari pabrik W, H, O ke gudang A, B, C adalah sebagai berikut:
Tentukan alokasi hasil produksi dari pabrik – pabrik tersebut ke gudang – gudang
penjualan dengan biaya pengangkutan terendah.

Solusi:
1.1 Penyusunan tabel alokasi

Xij adalah banyaknya alokasi dari sumber (pabrik) i ke tujuan (gudang) j. Nilai
Xijinilah yang akan kita cari.

1.2 Prosedur alokasi


Pedoman prosedur alokasi tahap pertama adalah pedoman sudut barat laut (North
West Corner Rule) yaitu pengalokasian sejumlah maksimum produk mulai dari
sudut kiri atas (X11) dengan melihat kapasitas pabrik dan kebutuhan gudang.
Biaya Pengangkutan untuk alokasi tahap pertama sebesar =
50 (20) + 40 (5) + 60 (20) + 10 (10) + 40 (19) = 3260.

1.3 Merubah alokasi secara trial and error


Perubahan bisa dari kotak terdekat atau bisa juga pada kotak yang tidak berdekatan
dengan melihat pengurangan biaya per unit yang lebih besar dari pada penambahan
biaya per unit. Misalnya akan dicoba perubahan dari kotak WA ke kotak HA artinya
50 ton kebutuhan gudang A akan dikirim dari pabrik H dan buikan dari pabrik W.
Perubahan alokasi produk dari dua kotak tersebut akan mengakibatkan berubahnya
alokasi produk kotak lainnya yang terkait (kotak HB dan kotak WB). Untuk itu
sebelum dilakukan perubahan perlu dilihat penambahan dan pengurangan biaya
transportasi per unitnya sebagai berikut:
Penambahan biaya: dari H ke A = 15 Pengurangan biaya : dari W ke A = 20
dari W ke B = 5 + dari H ke B = 20 +
20 40 Karena pengurangan biaya per
unit lebih besar dari penambahan biaya maka perubahan dapat dilakukan.

Biaya Pengangkutan untuk alokasi tahap pertama sebesar =


90 (5) + 50 (15) + 10 (20) + 10 (10) + 40 (19) = 2260.

Penambahan biaya: dari W ke C = 8 Pengurangan biaya : dari W ke B = 5


dari O ke B = 10 + dari O ke C = 19+
18 24
Biaya Pengangkutan untuk perbaikan kedua sebesar =
50 (5) + 40 (80) + 50 (15) + 10 (20) + 50 (10) = 2020.

Penambahan biaya: dari W ke B = 5 Pengurangan biaya : dari H ke B = 20


dari H ke C = 10 + dari W ke C = 8 +
15 28
Biaya Pengangkutan untuk perbaikan ketiga sebesar =
60 (5) + 30 (8) + 50 (15) + 10 (10) + 50 (10) = 1890 (biaya pengangkutan terendah)

Sehingga alokasi produksi dengan biaya terendah adalah:

90 unit produksi dari pabrik W dialokasikan ke gudang B sebanyak 60 unit dan ke


gudang C sebanyak 30 unit.

60 unit produksi dari pabrik H dialokasikan ke gudang A sebanyak 50 unit dan ke


gudang C sebanyak 10 unit.

50 unit produksi dari pabrik O dialokasikan ke gudang B sebanyak 50 unit.

Sumber : digensia

– See more at: http://manajemena2011.blogspot.com/2013/05/metode-transportasi-


stepping-stone.html#sthash.KCInbyXg.dpuf
METODE TRANSPORTASI : APROKSIMASI VOGEL (VAM)

Posted by : Ryan Adhi Pratama May 15, 2013

Metode Transportasi adalah suatu metode yang digunakan untuk mengatur distribusi
dari sumber – sumber yang menyediakan produk – produk yang sama di tempat-
tempat yang membutuhkan secara optimal. Alokasi produk ini harus diatur
sedemikian rupa karena terdapat perbedaan biaya transportasi (alokasi) dari suatu
sumber ke beberapa tujuan yang berbeda – beda dan dari beberapa sumber ke suatu
tujuan juga berbeda – beda.

Ada tiga macam metode dalam metode transportasi:

1. Metode Stepping Stone

2. Metode Modi (Modified Distribution)

3. MetodeVAM (Vogel’s Approximation Method)

Pada sesi ini hanya akan dibahas mengenai metode transportasi dengan metode
VAM, sedangkan metode Stepping Stone dan MODI sudah dibahas pada sesi
tulisan sebelumnya.

Metode VAM

Teknik pengerjaan pada metode ini berbeda dengan dua metode sebelumnya yaitu
metode transportasi Stepping Stone dan MODI dimana untuk mendapatkan solusi
yang optimal dilakukan berulang-ulang sampai kondisi optimal tersebut
terpenuhi. Sedangkan pada metoda VAM ini, sekali kita menentukan alokasi pada
satu cell maka alokasi tersebut tidak berubah lagi. Untuk mempermudah penjelasan,
kita gunakan contoh yang sama seperti pada metode transportasi sebelumnya.

Suatu perusahaan mempunyai pabrik W, H, O dengan kapasitas produksi tiap bulan


masing-masing 90 ton, 60 ton, dan 50 ton.; dan mempunyai 3 gudang penjualan di
A, B, C dengan kebutuhan tiap bulan masing-masing 50 ton, 110 ton, dan 40 ton.
Biaya pengangkutan setiap ton produk dari pabrik W, H, O ke gudang A, B, C
adalah sebagai berikut:

Langkah – langkah pengerjaan:

Susunlah kebutuhan, kapasitas masing-masing sumber dan biaya pengangkutan ke


dalam matriks transportasi

2. Carilah perbedaan dari 2 biaya terkecil, yaitu biaya terkecil dan terkecil ke dua
untuk setiap baris dan kolom

3. Pilihlah 1 nilai perbedaan- perbedaan yang terbesar diantara semua nilai


perbedaaan pada kolom dan baris. Baris O mempunyai nilai perbedaan terbesar
yaitu 9. Bila nilai perbedaan biaya ada 2 yang besarnya sama, maka pilihlah baris
atau kolom yang mempunyai biaya terendah.
4. Isilah pada salah satu segi empat yang termasuk dalam kolom atau baris terpilih,
yaitu pada segi empat yang mempunyai biaya terendah. Isikan sebanyak mungkin
yang bisa dilakukan.

5. Karena baris O sudah diisi penuh sesuai dengan kapasitas, maka selanjutnya
hilangkan baris O karena baris O sudah tidak mungkin diisi lagi. Kemudian
tentukan kembali perbedaan biaya untuk kolom dan baris yang belum terisi. Ulangi
langkah-langkah ini sampai semua baris dan kolom sepenuhnya teralokasi.
Karena B mempunyai perbedaan terbesar yaitu 15, maka isilah sebanyak mungkin
yang bisa diangkut pada kolom B yang mempunyai biaya terendah.
Baris W mempunyai perbedaan terbesar yaitu 12 dan langkah selanjutnya adalah
sebagai berikut:
Jadi biaya transportasi yang harus dikeluarkan: 60 (3) +30 (8) + 50 (15) + 10 (10) +
50 (10) = 1890

Sumber : digensia

– See more at: http://manajemena2011.blogspot.com/2013/05/metode-transportasi-


aproksimasi-vogel.html#sthash.YqUVVPio.dpuf

METODE TRANSPORTASI : MODIFIED DISTRIBUTION

Posted by : Ryan Adhi Pratama May 15, 2013

Metode Transportasi adalah suatu metode yang digunakan untuk mengatur distribusi
dari sumber – sumber yang menyediakan produk – produk yang sama di tempat-
tempat yang membutuhkan secara optimal. Alokasi produk ini harus diatur
sedemikian rupa karena terdapat perbedaan biaya transportasi (alokasi) dari suatu
sumber ke beberapa tujuan yang berbeda – beda dan dari beberapa sumber ke suatu
tujuan juga berbeda – beda.

Ada tiga macam metode dalam metode transportasi:


1. 1. Metode Stepping Stone
2. 2. Metode Modi (Modified Distribution)
3. 3. MetodeVAM (Vogel’s Approximation Method)

Pada sesi ini hanya akan dibahas mengenai metode transportasi dengan metode
MODI, sedangkan metode stepping stone dan VAM akan dibahas pada sesi tulisan
yang lain.

Metode ini dalam merubah alokasi produk untuk mendapatkan alokasi produksi
yang optimal menggunakan suatu indeks perbaikan yang berdasarkan pada nilai
baris dan nilai kolom. Cara untuk penentuan nilai baris dan nilai kolom
menggunakan persamaan:

Pedoman prosedur alokasi tahap pertama mengggunakan prosedur pedoman sudut


barat laut (North West Corner rule). Untuk metode MODI ada syarat yang harus
dipenuhi, yaitu banyaknya kotak terisi harus sama dengan banyaknya baris
ditambah banyaknya kolom dikurang satu. Untuk mempermudah penjelasan,
berikut ini akan diberikan sebuah contoh. Suatu perusahaan mempunyai tiga pabrik
di W, H, O. Dengan kapasitas produksi tiap bulan masing- masing 90 ton, 60 ton,
dan 50 ton; dan mempunyai tiga gudang penjualan di A, B, C dengan kebutuhan
tiap bulan masing- masing 50 ton, 110 ton, dan 40 ton. Biaya pengangkutan setiap
ton produk dari pabrik W, H, O ke gudang A, B, C adalah sebagai berikut:

Tentukan alokasi hasil produksi dari pabrik – pabrik tersebut ke gudang – gudang
penjualan dengan biaya pengangkutan terendah.

Solusi:
1. Isilah tabel pertama dari sudut kiri atas
Biaya pengangkutan untuk alokasi tahap pertama sebesar = 50 (20) + 40 (5) +60
(20) +10 (10) + 40 (19) = 3260.

2. Menentukan nilai baris dan kolom


– Baris pertama selalu diberi nilai nol
Nilai baris W = Rw = 0
– Nilai baris yang lain dan nilai semua kolom ditentukan berdasarkan
persamaan

3. Menghitung indeks perbaikan dan memilih titik tolak perbaikan.


Indeks perbaikan adalah nilai dari kotak yang kosong.

Memilih titik tolak perubahan:


– Kotak yang mempunyai indeks perbaikan negatif berarti bila diberi alokasi akan
mengurangi jumlah biaya pengangkutan. Bila nilainya positif berarti pengisian akan
menyebabkan kenaikan biaya pengangkutan
– Kotak yang merupakan titik tolak perubahan adalah kotak yang indeksnya
bertanda negatif dan angkanya besar. Dalam contoh ternyata yang memenuhi syarat
adalah kotak HA dengan nilai -20.
Biaya pengangkutan untuk alokasi tahap kedua sebesar = 90 (5) + 50 (15) + 10 (20)
+10 (10) + 40 (19) = 2260

4. Ulangi langkah – langkah tersebut diatas, mulai langkah 2.2 sampai


diperolehnya biaya terendah, yaitu bila sudah tidak ada lagi indeks yang negatif.
Biaya pengangkutan untuk alokasi tahap ketiga sebesar = 90 (5) + 50 (15) + 10 (10)
+20 (10) + 30 (19) = 2070
Biaya pengangkutan untuk alokasi tahap keempat sebesar = 60 (5) + 30 (8) + 50
(15) + 10 (10) + 50 (10) = 1890
Alokasi tahap keempat merupakan alokasi optimal karena indeks perbaikan pada
kotak kosong sudah tidak ada yang bernilai negatif.