Anda di halaman 1dari 33

ASUHAN KEPERAWATAN ASFIKSIA

NEONATORUM

DISUSUN OLEH:

Kelompok 4:

1. Hendi Prayuda Widodo ( 18311023 )


2. Fransiscus Suyadi ( 18311022 )
3. Ramona Vioner ( 18311040 )
4. Rufaida Aseti ( 18311046 )
5. Ira Tosia Nelda ( 18311025 )
6. Eliza Fitria Handayani ( 18311019 )
7. Tioma Ariatny Silaen ( 18311050)
8. Lely Marlina ( 18311030 )

PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN


STIKES PAYUNG NEGERI
PEKANBARU
2019
KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis ucapkan kepada Tuhan Yang Maha Esa berkat karunia-Nya
sehingga dapat menyelesaikan makalah dengan mengambil pembahasan “ ASUHAN
KEPERAWATAN ASFIKSIA NEONATORUM ”. Penulisan makalah ini masih ada
hambatan. Akan tetapi, atas bantuan dan dukungan semua pihak makalah ini dapat
terselesaikan. Oleh karena itu, penulis ucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah
membantu dalam penulisan makalah ini. Penulis berharap semoga makalah ini bermanfaat
untuk pembaca.

Pekanbaru, 30 Juli 2019

Kelompok 4
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR

DAFTAR ISI

BAB I: PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
B. Tujuan Penulisan

BAB II: TINJAUAN TEORITIS

A. Konsep Dasar Medis


1. Definisi
2. Klasifikasi
3. Etiologi
4. Tanda Gejala
5. Patofisiologi
6. Pemeriksaan Penunjang
7. Penatalaksanaan Medis
8. Pencegahan
9. Komplikasi
10. Prognosis
B. Asuhan Keperawatan
1. Pengkajian
2. Analisa Data dan Diagnosa Keperawatan
3. Intervensi ( NIC NOC
4. Evaluasi
5. WOC dan EBP Asfiksia Neonatorum

BAB III: PENUTUP

A. Kesimpulan
B. Saran

DAFTAR PUSTAKA

BAB I
PENDAHULUAN

1. Latar Belakang

Neonatus adalah bayi baru lahir yang berusia sampai dengan 28 hari. Pada
masa tersebut terjadi perubahan yang sangat besar dari kehidupan di dalam rahim dan
terjadi pematangan organ hampir pada semua sistem. Bayi hingga usia kurang satu
bulan merupakan golongan umur yang memiliki risiko gangguan kesehatan paling
tinggi, berbagai masalah kesehatan bisa muncul. Sehingga tanpa penanganan yang
tepat, bisa berakibat fatal. Neonatal dengan komplikasi adalah neonatal dengan
penyakit dan atau kelainan yang dapat menyebabkan kecacatan dan atau kematian,
seperti asfiksia (Kementerian Kesehatan, 2015). Komplikasi yang menjadi penyebab
kematian terbanyak yaitu asfiksia, bayi berat lahir rendah, dan infeksi (Riskesdas,
2007). Asfiksia saat lahir menjadi penyebab kurang lebih 23% dari sekitar 4 juta
kematian neonatus di seluruh dunia setiah tahunnya (Kitamura et al, 2010).

Komplikasi ini sebetulnya dapat dicegah dan ditangani, namun terkendala oleh
akses ke pelayanan kesehatan, kemampuan tenaga kesehatan, keadaan sosial ekonomi,
sistem rujukan yang belum berjalan dengan baik, terlambatnya deteksi dini, dan
kesadaran orang tua untuk mencari pertolongan kesehatan. Penanganan neonatal
dengan komplikasi adalah penanganan terhadap neonatal sakit dan atau neonatal
dengan kelainan atau komplikasi/kegawatdaruratan yang mendapat pelayanan sesuai
standar oleh tenaga kesehatan (dokter, bidan atau perawat) terlatih baik dirumah,
sarana pelayanan kesehatan dasar maupun sarana pelayanan kesehatan rujukan.
Pelayanan sesuai standar antara lain manajemen Asfiksia Bayi Baru Lahir, atau
standar operasional pelayanan lainnya (Kementerian Kesehatan, 2015).

Sekitar 10% bayi baru lahir membutuhkan bantuan untuk mulai bernapas saat
lahir; dan kurang dari 1% membutuhkan tindakan resusitasi ekstensif agar selamat.
Sebaiknya kurang lebih 90% bayi baru lahir menjalani transisi dari kehidupan
intrauterin ke ekstra uterin tanpa kesulitan.

Berdasarkan data dari WHO November 2013, jumlah kelahiran bayi hidup di
Indonesia pada tahun 2010 adalah 4.371.800, dengan kelahiran prematur sebanyak
675.700 (15,5 per 100 kelahiran hidup) dan angka kematian sebesar 32.400 (nomor 8
penyebab kematian di Indonesia). Dalam 10 tahun terakhir, Angka Kematian
Neonatal di Indonesia cenderung stagnan yaitu 20/1000 kelahiran hidup (SDKI 2002-
2003) menjadi 19/1000 kelahiran hidup (SDKI 2012). Selain itu proporsi kematian
neonatal terhadap kematian anak balita cenderung meningkat dari 43% (SDKI 2002-
2003) menjadi 48% (SDKI 2012). Penyebab utama kematian neonatal pada minggu
pertama (0-6 hari) adalah asfiksia (36 %), BBLR/ Prematuritas (32%) serta sepsis
(12%) sedangkan bayi usia 7-28 hari adalah sepsis (22%), kelainan kongenital (19%)
dan pneumonia (17 %). Upaya menurunkan angka kematian bayi adalah perawatan
antenatal dan pertolongan persalinan sesuai standar yang harus disertai dengan
perawatan neonatal yang adekuat dan upaya untuk menurunkan kematian bayi akibat
bayi berat lahir rendah, infeksi pasca lahir (seperti tetanus neonatorum, sepsis),
hipotermia dan asfiksia.

Asfiksia dapat dicegah dan ditangani, namun terkendala oleh akses ke


pelayanan kesehatan, kemampuan tenaga kesehatan, keadaan sosial ekonomi, sistem
rujukan yang belum berjalan dengan baik, terlambatnya deteksi dini kehamilan risiko
tinggi dan kesadaran orang tua untuk mencari pertolongan kesehatan.

2. Tujuan Penulisan
A. Tujuan Umum
Setelah membaca makalah ini mahasiswa dapat memahami apa yang dimaksud
dengan Asfiksia dan hal-hal yang menyangkut asuhan keperawatannya
B. Tujuan Khusus
1) Apa definisi Asfiksia ?

2) Apa klasifikasi Asfiksia ?

3) Apa etiologi Asfiksia ?

4) Apa manifestasi klinis Asfiksia ?

5) Apa patofisiologi asfiksia ?

6) Apa pemeriksaan penunjang asfiksia ?

7) Bagaimana tentang penatalaksanaan Asfiksia ?

8) Bagaimana Pencegahan Asfiksia ?

9) Apa komplikasi Asfiksia ?

10) Bagaimana prognosa pada Asfiksia ?

11) Bagaimana asuhan keperawatan pada kasus Asfiksia


BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. KONSEP DASAR MEDIS

1. Definisi

Asfiksia adalah keadaan dimana bayi baru lahir tidak dapat bernapas
secara spontan dan teratur. (Asuhan Persalinan Normal, 2010).

Asfiksia neonatorum adalah keadaan gawat bayi yang tidak dapat bernafas

spontan dan teratur, sehingga dapat meurunkan oksigen dan makin meningkatkan

karbon dioksida yang menimbulkan akibat buruk dalam kehidupan lebih lanjut

(Manuaba, 2009).

2. Klasifikasi

Berdasarkan nilai APGAR (Appearance, Pulse, Grimace, Activity,


Respiration) asfiksia diklasifikasikan menjadi 4, yaitu:
a. Asfiksia berat dengan nilai APGAR 0-3
b. Asfiksia ringan sedang dengan nilai APGAR 4-6
c. Bayi normal atau sedikit asfiksia dengan nilai APGAR 7-9
d. Bayi normal dengan nilai APGAR 10 (Ghai, 2010)

Nilai APGAR
Tanda 0 1 2
Frekuensi jantung Tidak ada <100/menit >100/menit
Lambat, tidak
Usaha bernafas Tidak ada Menangis kuat
teratur
Ekstermitas fleksi
Tonus otot Hampah Gerakan aktif
sedikit
Gerakan
Reflex Tidak ada Gerakan sedikit
kuat/melawan

Tubuh Tubuh
Warna kulit Biru/pucat kemerahan, ekstermitas
ekstermitas biru kemerahan
3. Etiologi

Beberapa kondisi tertentu pada ibu hamil dapat menyebabkan gangguan


sirkulasi darah uteroplasenter sehingga pasokan oksigen ke bayi menjadi
berkurang yang mengakibatkan hipoksia bayi di dalam rahim dan dapat berlanjut
menjadi asfiksia bayi baru lahir. Beberapa faktor tertentu diketahui dapat menjadi
penyebab terjadinya asfiksia pada bayi baru lahir, diantaranya adalah (Gomella,
2009):
a. Faktor ibu
 Pre-eklampsi dan eklampsi
 Pendarahan abnormal (plasenta previa atau solusio plasenta)
 Kehamilan Lewat Waktu (sesudah 42 minggu kehamilan)
 Partus lama (rigid serviks dan atonia/ insersi uteri).
 Ruptur uteri yang memberat, kontraksi uterus yang terus-menerus
mengganggu sirkulasi darah ke plasenta.
 Perdarahan banyak: plasenta previa dan solutio plasenta (Gomella,
2009).
b. Faktor Tali Pusat
 Lilitan tali pusat
 Tali pusat pendek
 Simpul tali pusat
 Prolapsus tali pusat (Gomella, 2009).
c. Faktor Bayi
 Bayi prematur (sebelum 37 minggu kehamilan)
 Persalinan dengan tindakan (sungsang, bayi kembar, distosia bahu,
ekstraksi vakum, ekstraksi forsep)
 Kelainan bawaan (kongenital)
 Air ketuban bercampur mekonium (warna kehijauan) (Gomella,2009).
d. Tanda dan Gejala

Tanda dan gejala asfiksia menurut Ghai, 2010 yaitu:

 Denyut jantung janin lebih dari 100 x/mnt atau kurang dari l00 x/menit

dan tidak teratur

 Mekonium dalam air ketuban ibu

 Apnoe

 Pucat

 Sianosis

 Penurunan kesadaran terhadap stimulus

 Kejang

e. Patofisiologi

Selama kehidupan di dalam rahim, paru janin tidak berperan dalam


pertukaran gas oleh karena plasenta menyediakan oksigen dan mengangkat
CO2 keluar dari tubuh janin. Pada keadaan ini paru janin tidak berisi udara,
sedangkan alveoli janin berisi cairan yang diproduksi didalam paru sehingga
paru janin tidak berfungsi untuk respirasi. Sirkulasi darah dalam paru saat ini
sangat rendah dibandingkan dengan setelah lahir. Hal ini disebabkan oleh
karena konstriksi dari arteriol dalam paru janin. Sebagian besar sirkulasi darah
paru akan melewati Duktus Arteriosus (DA) tidak banyak yang masuk kedalam
arteriol paru.

Segera setelah lahir bayi akan menariknafas yang pertama kali


(menangis), pada saat ini paru janin mulai berfungsi untuk respirasi. Alveoli
akan mengembang udara akan masuk dan cairan yang ada didalam alveoli akan
meninggalkan alveoli secara bertahap. Bersamaan dengan ini arteriol paru akan
mengembang dan aliran darah kedalam paru akan meningkat secara memadai.
Duktus Arteriosus (DA) akan mulai menutup bersamaan dengan meningkatnya
tekanan oksigen dalam aliran darah. Darah dari jantung kanan (janin) yang
sebelumnya melewati DA dan masuk kedalam Aorta akan mulai memberi
aliran darah yang cukup berarti kedalam arteriole paru yang mulai
mengembang DA akan tetap tertutup sehingga bentuk sirkulasi extrauterin akan
dipertahankan.

Pada saat lahir alveoli masih berisi cairan paru, suatu tekanan ringan
diperlukan untuk membantu mengeluarkan cairan tersebut dari alveoli dan
alveoli mengembang untuk pertama kali. Pada kenyataannya memang beberapa
tarikan nafas yang pertama sangat diperlukan untuk mengawali dan menjamin
keberhasilan pernafasan bayi selanjutnya. Proses persalinan normal
(pervaginam) mempunyai peran yang sangat penting untuk mempercepat
proses keluarnya cairan yang ada dalam alveoli melalui ruang perivaskuler dan
absorbsi kedalam aliran darah atau limfe. Gangguan pada pernafasan pada
keadaan ini adalah apabila paru tidak mengembang dengan sempurna
(memadai) pada beberapa tarikan nafas yang pertama. Apnea saat lahir, pada
keadaan ini bayi tidak mampu menarik nafas yang pertama setelah lahir oleh
karena alveoli tidak mampu mengembang atau alveoli masih berisi cairan dan
gerakan pernafasan yang lemah, pada keadaan ini janin mampu menarik nafas
yang pertama akan tetapi sangat dangkal dan tidak efektif untuk memenuhi
kebutuhan O2 tubuh. keadaan tersebut bisa terjadi pada bayi kurang bulan,
asfiksia intrauterin, pengaruh obat yang dikonsumsi ibu saat hamil, pengaruh
obat-obat anesthesi pada operasi sesar.

Dalam hal respirasi selain mengembangnya alveoli dan masuknya udara


kedalam alveoli masih ada masalah lain yang lebih panjang, yakni sirkulasi
dalam paru yang berperan dalam pertukaran gas. Gangguan tersebut antara lain
vasokonstriksi pembuluh darah paru yang berakibat menurunkan perfusi paru.
Pada bayi asfiksia penurunan perfusi paru seringkali disebabkan oleh
vasokonstriksi pembuluh darah paru, sehingga oksigen akan menurun dan
terjadi asidosis. Pada keadaan ini arteriol akan tetap tertutup dan Duktus
Arteriosus akan tetap terbuka dan pertukaran gas dalam paru tidak terjadi.

Selama penurunan perfusi paru masih ada, oksigenasi ke jaringan tubuh


tidak mungkin terjadi. Keadaan ini akan mempengaruhi fungsi sel tubuh dan
tergantung dari berat dan lamanya asfiksia, fungsi tadi dapat reversible atau
menetap, sehingga menyebabkan timbulnya komplikasi, gejala sisa, ataupun
kematian penderita. Pada tingkat permulaan, gangguan ambilan oksigen dan
pengeluaran CO2 tubuh ini mungkin hanya menimbulkan asidosis respiratorik.
Apabila keadaan tersebut berlangsung terus, maka akan terjadi metabolisme
anaerobik berupa glikolisis glikogen tubuh. Asam organik yang terbentuk
akibat metabolisme ini menyebabkan terjadinya gangguan keseimbangan asam
basa berupa asidosis metabolik. Keadaan ini akan mengganggu fungsi organ
tubuh, sehingga mungkin terjadi perubahan sirkulasi kardiovaskular yang
ditandai oleh penurunan tekanan darah dan frekuensi denyut jantung. Secara
singkat dapat disimpulkan bahwa pada penderita asfiksia akan terlihat tahapan
proses kejadian yaitu menurunnya kadar PaO2 tubuh, meningkat PCO2,
menurunnya pH darah dipakainya sumber glikogen tubuh dan gangguan
sirkulasi darah. Perubahan inilah yang biasanya menimbulkan masalah dan
menyebabkan terjadinya gangguan pada bayi saat lahir atau mungkin berakibat
lanjut pada masa neonatus dan masa pasca neonatus.

Bila janin kekurangan O2 dan kadar CO2 bertambah, timbulah


rangsangan terhadap nervus vagus sehingga DJJ (denyut jantung janin) menjadi
lambat. Jika kekurangan O2 terus berlangsung maka nervus vagus tidak dapat
dipengaruhi lagi. Timbulah kini rangsangan dari nervus simpatikus sehingga
DJJ menjadi lebih cepat akhirnya ireguler dan menghilang. Janin akan
mengadakan pernafasan intrauterin dan bila kita periksa kemudian terdapat
banyak air ketuban dan mekonium dalam paru, bronkus tersumbat dan terjadi
atelektasis. Bila janin lahir, alveoli tidak berkembang.

Apabila asfiksia berlanjut, gerakan pernafasan akan ganti, denyut


jantung mulai menurun sedangkan tonus neuromuskuler berkurang secara
berangsur-angsur dan bayi memasuki periode apneu primer. Jika berlanjut, bayi
akan menunjukkan pernafasan yang dalam, denyut jantung terus menurun ,
tekanan darah bayi juga mulai menurun dan bayi akan terluhat lemas (flascid).
Pernafasan makin lama makin lemah sampai bayi memasuki perioode apneu
sekunder. Selama apneu sekunder, denyut jantung, tekanan darah dan kadar O2
dalam darah (PaO2) terus menurun. Bayi sekarang tidak bereaksi terhadap
rangsangan dan tidak akan menunjukkan upaya pernafasan secara spontan.
Kematian akan terjadi jika resusitasi dengan pernafasan buatan dan pemberian
tidak dimulai segera (Manuaba, 2009).
f. Pemeriksaan Penunjang

1. Anamnesis

Anamnesis diarahkan untuk mencari faktor risiko terhadap terjadinya

asfiksia neonatorum.

- Gangguan/ kesulitan waktu lahir

- Cara dilahirkan

- Ada tidaknya bernafas dan menangis segera setelah dilahirkan (Ghai,

2010).

2. Pemeriksaan fisik
- Bayi tidak bernafas atau menangis
- Denyut jantung kurang dari 100x/menit
- Tonus otot menurun
- Bisa didapatkan cairan ketuban ibu bercampur mekonium, atau sisa
mekonium pada tubuh bayi
- BBLR (berat badan lahir rendah) (Ghai, 2010).
3. Pemeriksaan penunjang
a. Laboratorium: hasil analisis gas darah tali pusat menunjukkan hasil
asidosis pada darah tali pusat jika: PaO2 < 50 mm H2O,PaCO2 > 55
mm H2 dan pH < 7,30 (Ghai, 2010).
b. Pemeriksaan pH darah janin dengan menggunakan amnioskopi yang
dimasukkan lewat serviks dibuat sayatan kecil pada kulit kepala janin
dan diambil contoh darah janin. Darah ini diperiksa pH-nya. Adanya
asidosis menyebabkan turunnya pH. Apabila pH itu sampai turun
dibawah 7,2 hal itu dianggap sebagai tanda bahaya (Wiknjosastro,
2007).
c. Analisa Gas Darah: Analisa dilakukan pada darah arteri, penting untuk
mengetahui adanya asidosis dan alkalosis respiratorik/metabolik. Hal
ini diketahui dengan tingkat saturasi SaO2 dan PaO2. Pemeriksaan ini
juga dilakukan untuk mengetahui oksigenasi, evaluasi tingkat
kemajuan terapi (Muttaqin, 2008).
d. Elektrolit Darah: Komplikasi metabolisme terjadi di dalam tubuh
akibatnya persediaan garam-garam elektrolit sebagai buffer juga
terganggu kesetimbangannya. Timbul asidosis laktat, hipokalsemi,
hiponatremia, hiperkalemi. Pemeriksaan elektrolit darah dilakukan uji
laboratorium dengan test urine untuk kandungan ureum, natrium, keton
atau protein (Harris, 2009).
e. Gula darah: Pemeriksaan gula darah dilakukan uji laboratorium dengan
test urine untuk kandungan glukosa. Menurut Harris (2009), penderita
asfiksia umumnya mengalami hipoglikemi.
f. Pemeriksaan radiologik: Pemeriksaan radiologik seperti ultrasonografi
(USG),computed tomography scan (CT-Scan) dan magnetic resonance
imaging (MRI) mempunyai nilai yang tinggi dalam menegakkan
diagnosis.
g. USG ( Kepala )
h. Penilaian APGAR score
i. Pemeriksaan EGC dab CT- Scan
j. Foto polos dada (Ghai, 2010)

g. Penatalaksanaan Medis

Terapi dan pengobatan pada bayi baru lahir dengan asfiksia menurut

Wiknjosastro (2008) adalah sebagai berikut:

 Pengawasan suhu

Bayi baru lahir secara relatif kehilangan panas yang diikuti oleh

penurunan suhu tubuh, sehingga dapat mempertinggi metabolisme sel

jaringan sehingga kebutuhan oksigen meningkat, perlu diperhatikan untuk

menjaga kehangatan suhu bayi baru lahir dengan:

- Mengeringkan bayi dari cairan ketuban dan lemak

- Menggunakan sinar lampu untuk pemanasan luar

- Bungkus bayi dengan kain kering


 Pembersihan jalan nafas

- Lakukan tindakan A-B-C-D (Airway/ membersihkan jalan nafas,

Breathing/ mengusahakan timbulnya pernafasan/ ventilasi, Circulation/

memperbaiki sirkulasi tubuh, Drug/ memberikan obat).

A : Memastikan saluran nafas terbuka

 Meletakkan bayi dalam posisi kepala defleksi, bahu diganjal.

 Menghisap mulut, hidung dan trakhea, Saluran nafas bagian

atas segera dibersihkan dari lendir dan cairan amnion, kepala

bayi harus posisi lebih rendah sehingga memudahkan keluarnya

lendir.

 Bila perlu, masukkan pipa ET untuk memastikan saluran

pernafasan terbuka.

B : Memulai pernafasan
 Memakai rangsangan taktil untuk memulai pernafasan atau
rangsangan nyeri pada bayi dapat ditimbulkan dengan
memukul kedua telapak kaki bayi, menekan tendon achilles
atau memberikan suntikan vitamin K. Hal ini berfungsi
memperbaiki ventilasi.
 Memakai VTP bila perlu, seperti sungkup dan balon, pipa ET
dan balon, mulut ke mulut (hindari paparan infeksi).
C : Mempertahankan sirkulasi darah: Rangsangan dan
pertahankansirkulasi darah dengan cara kompres pada daerah dada.
D : Pemberian obat-obatan:
 Epineprin
Indikasi : diberikan apabila frekuensi jantung tetap di bawah 80x/mnt
walaupun telah diberikan paling sedikit 30 detik VTP adekuat dengan
oksigen 100 % dan kompresi dada atau frekuensi jantung. Dosis 0,1 –
0,3 ml/kg untuk larutan 1:10000. Cara pemberian dapat melalui
intravena (IV) atau melalui pipa endotrakheal.
Efek : Untuk meningkatkan kekuatan dan kecepatan konstraksi jantung

 Volume ekspander (darah/ whole blood, cairan albumin-salin


5%, Nacl, RL).

Indikasi : digunakan dalam resusitasi apabila terdapat kejadian


ataudiduga adanya kehilangan darah akut dengan tanda-tanda
hipovolemi. Dosis 10 ml/ kg. Cara pemberian IV dengan kecepatan
pemberian selama waktu 5-10 menit.

Efek : meningkatkan volume vaskuler, meningkatkan asidosis


metabolik.

 Natrium Bikarbonat

Indikasi : digunakan apabila terdapat apneu yang lama yang tidak

memberikan respon terhadap terapi lain. Diberikan apabila VTP sudah

dilakukan.

Efek : memperbaiki asidosis metabolik dengan meningkatkan ph darah

apabila ventilasi adekuat, menimbulkan penambahan volume

disebabkan oleh cairan garam hipertonik.


 Nalakson hidroklorid/ narcan

Indikasi : depresi pernafasan yang berat atau riwayat pemberian

narkotik pada Ibu dalam 4 jam sebelum persalinan.

Efek : antagonis narkotik.

Menurut Perinasia (2010), Cara pelaksanaan resusitasi sesuai tingkatan


asfiksia, antara lain:

1. Asfiksi Ringan (Apgar score 7-9) ,caranya:


- Bayi dibungkus dengan kain hangat
- Bersihkan jalan napas dengan menghisap lendir pada hidung kemudian
mulut
- Bersihkan badan dan tali pusat
- Lakukan observasi tanda vital dan apgar score dan masukan ke dalam
inkubator
2. Asfiksia sedang (Apgar score 4-6) , caranya:
- Bersihkan jalan napas
- Berikan oksigen 2 liter per menit
- Rangsang pernapasan dengan menepuk telapak kaki apabila belu ada
reaksi, bantu pernapasan dengan melalui masker (ambubag)
- Bila bayi sudah mulai bernapas tetapi masih sianosis berikan natrium
bikarbonat 7,5% sebanyak 6cc. Dextrosa 40% sebanyak 4cc disuntikan
melalui vena umbilikus secara perlahan-lahan, untuk mencegah
tekanan intra kranial meningkat
3. Asfiksia berat (Apgar skor 0-3), caranya:
- Bersihkan jalan napas sambil pompa melalui ambubag
- Berikan oksigen 4-5 liter per menit
- Bila tidak berhasil lakukan ETT
- Bersihkan jalan napas melalui ETT
- Apabila bayi sudah mulai benapas tetapi masih sianosis berikan
natrium bikarbonat 7,5% sebanyak 6cc. Dextrosa 40% sebanyak 4cc.
h. Pencegahan

Pencegahan terhadap asfiksia neonatorum adalah dengan menghilangkan atau


meminimalkan faktor risiko penyebab asfiksia. Derajat kesehatan wanita,
khususnya ibu hamil harus baik. Komplikasi saat kehamilan, persalinan dan
melahirkan harus dihindari. Upaya peningkatan derajat kesehatan ini tidak
mungkin dilakukan dengan satu intervensi saja karena penyebab rendahnya
derajat kesehatan wanita adalah akibat banyak faktor seperti kemiskinan,
pendidikan yang rendah, kepercayaan, adat istiadat dan lain sebagainya. Untuk
itu dibutuhkan kerjasama banyak pihak dan lintas sektoral yang saling terkait
(Perinasia, 2009).
 Pencegahan saat persalinan
Pengawasan bayi yang seksama sewaktu memimpin partus adalah penting,
juga kerja sama yang baik dengan Bagian Ilmu Kesehatan Anak.
Yang harus diperhatikan:
- Hindari forceps tinggi, versi dan ekstraksi pada panggul sempit, serta
pemberian pituitarin dalam dosis tinggi.
- Bila ibu anemis, perbaiki keadaan ini dan bila ada perdarahan berikan
oksigen dan darah segar.
- Jangan berikan obat bius pada waktu yang tidak tepat, dan jangan
menunggu lama pada kala II (Perinasia, 2009).

i. Komplikasi

Komplikasi yang mungkin muncul akibat asfiksia adalah:

- Sembab Otak
- Pendarahan Otak
- Anuria atau Oliguria
- Hyperbilirubinemia
- Obstruksi usus yang fungsional
- Kejang sampai koma
- Komplikasi akibat resusitasinya sendiri : Pneumothorax
j. Prognosa

 Asfiksia ringan / normal : Baik


 Asfiksia sedang tergantung kecepatan penatalaksanaan bila cepat prognosa
baik.
 Asfiksia berat dapat menimbulkan kematian pada hari-hari pertama, atau
kelainan syaraf permanen. Asfiksia dengan pH 6,9 dapat menyebabkan
kejang sampai koma dan kelainan neurologis yang permanent misalnya
cerebal palsy, mental retardation.

B. KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN

Asuhan keperawatan adalah tindakan yang berurutan dilakukan sistematis


untuk menentukan masalah pasien, membuat perencanaan untuk mengatasinya,
melaksanakan rencana itu/menugaskan orang lain untuk melakukan dan
mengevaluasi keberhasilan secara efektif terhadap masalah yang diatasinya (Efendi.
Nasrul, 1995 ; 3).

Pengkajian

Pengkajian adalah pemikiran dasar dari proses keperawatan yang bertujuan


untuk mengumpulkan informasi atau data tentang pasien agar dapat mengidentifikasi,
mengenali masalah, kebutuhan kesehatan dan keperawatan pasien baik fisik, mental,
sosial dan lingkungan. Dalam tahap pengkajian ini dibagi menjadi tiga meliputi
pengumpulan data, pengelompokan data dan perumusan masalah. Ada beberapa
pengkajian yang harus dilakukan yaitu :
1. Sirkulasi
a. Nadi apikal dapat berfluktuasi dari 110 sampai 180 x/mnt.
b. Tekanan darah 60 sampai 80 mmHg (sistolik), 40 sampai 45 mmHg
(diastolik).
c. Bunyi jantung, lokasi di mediasternum dengan titik intensitas maksimal tepat
di kiri dari mediastinum pada ruang intercosta III/ IV.
d. Murmur biasa terjadi di selama beberapa jam pertama kehidupan.
e. Tali pusat putih dan bergelatin, mengandung 2 arteri dan 1 vena.
2. Eliminasi
a. Dapat berkemih saat lahir.
3. Makanan/ cairan
a. Berat badan : 2500-4000 gram
b. Panjang badan : 44-45 cm
c. Turgor kulit elastis (bervariasi sesuai gestasi)
4. Neurosensori
a. Tonus otot : fleksi hipertonik dari semua ekstremitas.
b. Sadar dan aktif mendemonstrasikan refleks menghisap selama 30 menit
pertama setelah kelahiran (periode pertama reaktivitas). Penampilan asimetris
(molding, edema, hematoma).
c. Menangis kuat, sehat, nada sedang (nada menangis tinggi menunjukkan
abnormalitas genetik, hipoglikemi atau efek narkotik yang memanjang)
5. Pernafasan
a. Skor APGAR : 1 menit s/d 5 menit dengan skor optimal harus antara 7-10.
b. Rentang dari 30-60 permenit, pola periodik dapat terlihat.
c. Bunyi nafas bilateral, kadang-kadang krekels umum pada awalnya silindrik
thorak : kartilago xifoid menonjol, umum terjadi.
6. Keamanan
a. Suhu rentang dari 36,5º C sampai 37,5º C. Ada verniks (jumlah dan distribusi
tergantung pada usia gestasi).
b. Kulit : lembut, fleksibel, pengelupasan tangan/ kaki dapat terlihat, warna
merah muda atau kemerahan, mungkin belang-belang menunjukkan memar
minor (misal : kelahiran dengan forseps), atau perubahan warna herlequin,
petekie pada kepala/ wajah (dapat menunjukkan peningkatan tekanan
berkenaan dengan kelahiran atau tanda nukhal), bercak portwine, nevi
telengiektasis (kelopak mata, antara alis mata, atau pada nukhal) atau bercak
mongolia (terutama punggung bawah dan bokong) dapat terlihat. Abrasi kulit
kepala mungkin ada (penempatan elektroda internal)
Analisa Data
1. Data Subyektif
Data subyektif adalah persepsi dan sensasi klien tentang masalah kesehatan.

Data subyektif terdiri dari

a. Biodata atau identitas pasien :


Bayi meliputi nama tempat tanggal lahir jenis kelamin

b. Orangtua meliputi : nama (ayah dan ibu, umur, agama, suku atau
kebangsaan, pendidikan, penghasilan pekerjaan, dan alamat.
2. Riwayat kesehatan
1. Riwayat antenatal yang perlu dikaji atau diketahui dari riwayat antenatal pada
kasus asfiksia berat yaitu :
a. Keadaan ibu selama hamil dengan anemia, hipertensi, gizi buruk, merokok
ketergantungan obat-obatan atau dengan penyakit seperti diabetes mellitus,
kardiovaskuler dan paru.
b. Kehamilan dengan resiko persalinan preterm misalnya kelahiran multipel,
inkompetensia serviks, hidramnion, kelainan kongenital, riwayat
persalinan preterm.
c. Pemeriksaan kehamilan yang tidak kontinyuitas atau periksa tetapi tidak
teratur dan periksa kehamilan tidak pada petugas kesehatan.
d. Gerakan janin selama kehamilan aktif atau semakin menurun.
e. Hari pertama hari terakhir tidak sesuai dengan usia kehamilan (kehamilan
postdate atau preterm).
2. Riwayat natal komplikasi persalinan juga mempunyai kaitan yang sangat erat
dengan permasalahan pada bayi baru lahir. Yang perlu dikaji :
Kala I : ketuban keruh, berbau, mekoneal, perdarahan antepartum
baik solusio plasenta maupun plasenta previa.

Kala II : persalinan lama, partus kasep, fetal distress, ibu kelelahan,


persalinan dengan tindakan (vacum ekstraksi, forcep ektraksi).
Adanya trauma lahir yang dapat mengganggu sistem pernafasan.
Persalinan dengan tindakan bedah caesar, karena pemakaian obat
penenang (narkose) yang dapat menekan sistem pusat pernafasan.
3. Riwayat post natal
Yang perlu dikaji antara lain :

a. Apgar skor bayi baru lahir 1 menit pertama dan 5 menit kedua AS
(0-3) asfiksia berat, AS (4-6) asfiksia sedang, AS (7-10) asfiksia
ringan.
b. Berat badan lahir : kurang atau lebih dari normal (2500-4000
gram). Preterm/BBLR < 2500 gram, untu aterm  2500 gram
lingkar kepala kurang atau lebih dari normal (34-36 cm).
c. Adanya kelainan kongenital : Anencephal, hirocephalus anetrecial
aesofagal

3. Pola nutrisi
Yang perlu dikaji pada bayi dengan post asfiksia berat gangguan absorbsi
gastrointentinal, muntah aspirasi, kelemahan menghisap sehingga perlu diberikan
cairan parentral atau personde sesuai dengan kondisi bayi untuk mencukupi
kebutuhan elektrolit, cairan, kalori dan juga untuk mengkoreksi dehidrasi, asidosis
metabolik, hipoglikemi disamping untuk pemberian obat intravena.

Tabel kebutuhan nustrisi BBL

Kebutuhan parenteral

Bayi BBLR < 1500 gram menggunakan D5%

Bayi BBLR > 1500 gram menggunakan D10%

Kebutuhan nutrisi enteral

BB < 1250 gram = 24 kali per 24 jam

BB 1250 - < 2000 gram = 12 kali per 24 jam

BB > 2000 gram = 8 kali per 24 jam

Kebutuhan minum pada neonatus :

Hari ke 1 = 50-60 cc/kg BB/hari


Hari ke 2 = 90 cc/kg BB/hari

Hari ke 3 = 120 cc/kg BB/hari

Hari ke 4 = 150 cc/kg BB/hari

Dan untuk tiap harinya sampai mencapai 180 – 200 cc/kg


BB/hari

1. Pola eliminasi
Yang perlu dikaji pada neonatus adalah :

BAB : frekwensi, jumlah, konsistensi.

BAK : frekwensi, jumlah

2. Latar belakang sosial budaya


Kebudayaan yang berpengaruh terhadap kejadian asfiksia, kebiasaan ibu
merokok, ketergantungan obat-obatan tertentu terutama jenis psikotropika

Kebiasaan ibu mengkonsumsi minuman beralkohol, kebiasaan ibu


melakukan diet ketat atau pantang makanan tertentu.

3. Hubungan psikologis
Sebaiknya segera setelah bayi baru lahir dilakukan rawat gabung dengan
ibu jika kondisi bayi memungkinkan. Hal ini berguna sekali dimana bayi akan
mendapatkan kasih sayang dan perhatian serta dapat mempererat hubungan
psikologis antara ibu dan bayi. Lain halnya dengan asfiksia karena memerlukan
perawatan yang intensif

4. Data Obyektif
Data obyektif adalah data yang diperoleh melalui suatu pengukuran dan
pemeriksaan dengan menggunakan standart yang diakui atau berlaku (Effendi
Nasrul, 1995)

a. Keadaan umum
Pada neonatus post asfiksia berat, keadaannya lemah dan hanya
merintih. Keadaan akan membaik bila menunjukkan gerakan yang
aktif dan menangis keras. Kesadaran neonatus dapat dilihat dari
responnya terhadap rangsangan. Adanya BB yang stabil, panjang
badan sesuai dengan usianya tidak ada pembesaran lingkar kepala
dapat menunjukkan kondisi neonatus yang baik.

b. Tanda-tanda Vital
Neonatus post asfiksia berat kondisi akan baik apabila penanganan
asfiksia benar, tepat dan cepat. Untuk bayi preterm beresiko terjadinya
hipothermi bila suhu tubuh < 36 C dan beresiko terjadi hipertermi bila
suhu tubuh < 37 C. Sedangkan suhu normal tubuh antara 36,5C –
37,5C, nadi normal antara 120-140 kali per menit respirasi normal
antara 40-60 kali permenit, sering pada bayi post asfiksia berat
pernafasan belum teratur.

5. Data Penunjang
Data penunjang pemeriksaan laboratorium penting artinya dalam
menegakkan diagnosa atau kausal yang tepat sehingga kita dapat memberikan obat
yang tepat pula.

Pemeriksaan yang diperlukan adalah :

1) Darah
a. Nilai darah lengkap pada bayi asfiksia terdiri dari :
 Hb (normal 15-19 gr%) biasanya pada bayi dengan asfiksia Hb
cenderung turun karena O2 dalam darah sedikit.
 Leukositnya lebih dari 10,3 x 10 gr/ct (normal 4,3-10,3 x 10 gr/ct)
karena bayi preterm imunitas masih rendah sehingga resiko tinggi.
 Trombosit (normal 350 x 10 gr/ct)
 Distrosfiks pada bayi preterm dengan post asfiksi cenderung turun
karena sering terjadi hipoglikemi.
b. Nilai analisa gas darah pada bayi post asfiksi terdiri dari :
 pH (normal 7,36-7,44). Kadar pH cenderung turun terjadi asidosis
metabolik.
 PCO2 (normal 35-45 mmHg) kadar PCO2 pada bayi post asfiksia
cenderung naik sering terjadi hiperapnea.
 PO2 (normal 75-100 mmHg), kadar PO2 pada bayi post asfiksia
cenderung turun karena terjadi hipoksia progresif.
 HCO3 (normal 24-28 mEq/L)
2) Urine
Nilai serum elektrolit pada bayi post asfiksia terdiri dari :

 Natrium (normal 134-150 mEq/L)


 Kalium (normal 3,6-5,8 mEq/L)
 Kalsium (normal 8,1-10,4 mEq/L)
3) Photo thorax
Pulmonal tidak tampak gambaran, jantung ukuran normal.

Analisa data dan Perumusan Masalah


Analisa data adalah kemampuan mengkaitkan data dan menghubungkan data
tersebut dalam konsep, teori dan prinsip yang relevan untuk membuat kesimpulan dalam
menentukan masalah kesehatan dan keperawatan pasien (Effendi Nasrul,1995 : 23).
Tabel 1.1 Analisa Data dan Perumusan Masalah

Sign / Symptoms Kemungkinan Penyebab Masalah

1. Pernafasan tidak teratur, - Riwayat partus lama Gangguan


pernafasan cuping hidung, pemenuhan
- Pendarahan peng-obatan.
cyanosis, ada lendir pada kebutuhan O2
hidung dan mulut, tarikan - Obstruksi pulmonary
inter-costal, abnormalitas
- Prematuritas
gas darah arteri.
2. Akral dingin, cyanosis - lapisan lemak dalam kulit hipotermia
pada ekstremmitas, tipis
keadaan umum lemah,
suhu tubuh dibawah
normal
3. Keadaan umum lemah, - Reflek menghisap lemah gangguan
reflek menghisap lemah, pemenuhan
masih terdapat retensi kebutuhan nutrisi.
pada sonde
4. Suhu tubuh diatas normal, - Sistem Imunitas yang Resiko infeksi
tali pusat layu, ada tanda- belum sempurna
tanda infeksi, abnormal - Ketuban mekonial
kadar leukosit, kulit
kuning, riwayat persalinan - Tindakan yang tidak

dengan ketuban mekonial aseptik

Diagnosa Keperawatan
Diagnosa keperawatan adalah penilaian klinik tentang respon individu, keluarga atau
komunitas terhadap masalah-masalah kesehatan atau proses kehidupan yang aktual atau
potensial. Diagnosa keperawatan yang sering muncul pada pasien asfiksia antara lain:
1. Gangguan pemenuhan kebutuhan O2 sehubungan dengan post asfiksia berat.
2. Gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi sehubungan dengan reflek menghisap lemah.
3. Hipotermia
4. Resiko infeksi
No. Diagnosa Perawatan NOC NIC Rasional

1 Gangguan pemenuhan Tujuan: 1. Letakkan bayi 1. Memberi rasa nyaman dan


kebutuhan O2 terlentang dengan alas yang mengantisipasi flexi leher yang
sehubungan dengan post Kebutuhan O2 bayi terpenuhi data, kepala lurus, dan leher dapat mengurangi kelancaran
asfiksia berat sedikit tengadah/ekstensi jalan nafas.
Kriteria hasil:
dengan meletakkan bantal
- Pernafasan normal 40-60 atau selimut diatas bahu
kali permenit. bayi sehingga bahu
terangkat 2-3 cm
- Pernafasan teratur.
- Tidak cyanosis.
- Wajah dan seluruh tubuh
berwarna kemerahan 2. Bersihkan jalan nafas, 2. Jalan nafas harus tetap
(pink variable). mulut, hidung bila perlu. dipertahankan bebas dari lendir
untuk menjamin pertukaran gas
- Gas darah normal yang sempurna.
PH = 7,35 – 7,45
PCO2 = 35 mm Hg
PO2 = 50 – 90 mmHg
3. Observasi gejala kardinal 3. Deteksi dini adanya kelainan.
dan tanda-tanda cyanosis
tiap 4 jam
No. Diagnosa Perawatan NOC NIC Rasional

4. Kolaborasi dengan tim 4. Menjamin oksigenasi jaringan


medis dalam pemberian yang adekuat terutama untuk
O2 dan pemeriksaan jantung dan otak. Dan
kadar gas darah arteri. peningkatan pada kadar PCO2
menunjukkan hypoventilasi

2. Resiko terjadinya Tujuan: 1. Letakkan bayi terlentang 1. Mengurangi kehilangan panas


hipotermi sehubungan diatas pemancar panas pada suhu lingkungan sehingga
dengan adanya roses Tidak terjadi hipotermia (infant warmer) meletakkan bayi menjadi hangat
persalinan yang lama Kriteria hasil:
dengan ditandai akral
dingin suhu tubuh Suhu tubuh 36,5 – 37,5°C
dibawah 36 C
Akral hangat
Warna seluruh tubuh 2. Singkirkan kain yang 2. Mencegah kehilangan tubuh
kemerahan sudah dipakai untuk melalui konduksi.
mengeringkan tubuh,
letakkan bayi diatas
handuk / kain yang
kering dan hangat.
No. Diagnosa Perawatan NOC NIC Rasional

3. Observasi suhu bayi 3. Perubahan suhu tubuh bayi


tiap 6 jam. dapat menentukan tingkat
hipotermia

4. Kolaborasi dengan 4. Mencegah terjadinya


team medis untuk hipoglikemia
pemberian Infus
Glukosa 5% bila ASI
tidak mungkin diberikan.
3. Gangguan pemenuhan Tujuan: 1. Lakukan observasi BAB 1. Deteksi adanya kelainan pada
kebutuhan nutrisi dan BAK jumlah dan eliminasi bayi dan segera
sehubungan dengan Kebutuhan nutrisi terpenuhi frekuensi serta mendapat tindakan / perawatan
reflek menghisap Kriteria hasil: konsistensi. yang tepat.
lemah.
- Bayi dapat minum pespeen /
personde dengan baik.

- Berat badan tidak turun lebih 2. Monitor turgor dan 2. Menentukan derajat dehidrasi
dari 10%. mukosa mulut. dari turgor dan mukosa mulut.

- Retensi tidak ada.


No. Diagnosa Perawatan NOC NIC Rasional

3. Monitor intake dan 3. Mengetahui keseimbangan


out put. cairan tubuh (balance)

4. Beri ASI sesuai 4. Kebutuhan nutrisi terpenuhi


kebutuhan. secara adekuat.

5. Lakukan kontrol berat 5. Penambahan dan penurunan


badan setiap hari. berat badan dapat di monito

4. Resiko terjadinya Tujuan: 1. Lakukan teknik aseptik 1. Pada bayi baru lahir daya tahan
infeksi dan antiseptik dalam tubuhnya kurang / rendah.
Selama perawatan tidak terjadi memberikan asuhan
komplikasi (infeksi) keperawatan
Kriteria

- Tidak ada tanda-tanda 2. Cuci tangan sebelum dan 2. Mencegah penyebaran infeksi
infeksi. sesudah melakukan nosokomial.
tindakan.
- Tidak ada gangguan fungsi
tubuh.
No. Diagnosa Perawatan NOC NIC Rasional

3.Pakai baju khusus/ short 3. Mencegah masuknya bakteri


waktu masuk ruang isolasi dari baju petugas ke bayi
(kamar bayi)
4.Lakukan perawatan tali 4. Mencegah terjadinya infeksi
pusat dengan triple dye 2 dan memper-cepat pengeringan
kali sehari. tali pusat karena mengan-dung
anti biotik, anti jamur,
desinfektan.

5. Jaga kebersihan (badan, 5. Mengurangi media untuk


pakaian) dan lingkungan pertumbuhan kuman.
bayi.

6. Observasi tanda-tanda 6. Deteksi dini adanya kelainan


infeksi dan gejala
kardinal
No. Diagnosa Perawatan NOC NIC Rasional

7.Hindarkan bayi kontak 7. Mencegah terjadinya


dengan sakit. penularan infeksi.

8.Kolaborasi dengan tim 8. Mencegah infeksi dari


medis untuk pemberian pneumonia
antibiotik.
9. Siapkan pemeriksaan 9. Sebagai pemeriksaan
laboratorat sesuai advis penunjang.
dokter yaitu pemeriksaan
DL, CRP.
Tahap Pelaksanaan Tindakan
Tindakan keperawatan adalah pelaksanaan asuhan keperawatan yang
merupakan realisasi rencana tindakan yang telah ditentukan dalam tahap
perencanaan dengan maksud agar kebutuhan pasien terpenuhi secara optimal

Tahap Evaluasi
Evaluasi adalah merupakan langkah akhir dari proses keperawatan
yaitu proses penilaian pencapaian tujuan dalam rencana perawatan, tercapai
atau tidak serta untuk pengkajian ulang rencana keperawatan. Evaluasi
dilakukan secara terus menerus dengan melibatkan pasien, perawat dan
petugas kesehatan yang lain. Dalam menentukan tercapainya suatu tujuan
asuhan keperawatan pada bayi dengan post Asfiksia sedang, disesuaikan
dengan kriteria evaluasi yang telah ditentukan. Tujuan asuhan keperawatan
dikatakan berhasil bila diagnosa keperawatan didapatkan hasil yang sesuai
dengan kriteria evaluasi.
BAB IV
PENUTUP

1. Kesimpulan
Pada dasarnya penyebab asfiksia dapat disebabkan oleh hal-hal sebagai
berikut yaitu perdarahan, infeksi, kelahiran preterm/bayi berat lahir rendah, asfiksia,
hipotermi, perlukaan kelahiran dan lain-lain. Bahwa 50% kematian bayi terjadi dalam
periode neonatal yaitu dalam bulan pertama kehidupan, kurang baiknya penanganan
bayi baru lahir yang lahir sehat akan menyebabkan kelainan-kelainan yang dapat
mengakibatkan cacat seumur hidup bahkan kematian.
Umur ibu pada waktu hamil sangat berpengaruh pada kesiapan ibu sehingga
kualitas sumber daya manusia makin meningkat dan kesiapan untuk menyehatkan
generasi penerus dapat terjamin. Kehamilan di usia muda/remaja (dibawah usia 20
tahun) akan mengakibatkan rasa takut terhadap kehamilan dan persalinan, hal ini
dikarenakan pada usia tersebut ibu mungkin belum siap untuk mempunyai anak dan
alat-alat reproduksi ibu belum siap untuk hamil. Begitu juga kehamilan di usia tua
(diatas 35 tahun) akan menimbulkan kecemasan terhadap kehamilan dan
persalinannya serta alat-alat reproduksi ibu terlalu tua untuk hamil.

2. Saran
Semoga dengan adanya makalah ini kita semua dapat lebih memahami masalah
asfiksia pada bayi baru lahir, dan semoga dapat bermanfaat bagi kita semua.
DAFTAR PUSTAKA

Kementerian Kesehatan (2008) Pelayanan Obstetri dan Neonatal Emergensi Komprehensif


(PONEK)

Perinasia (2012) Buku Panduan Resusitasi Neonatus, Edisi ke-6

Kosim MS. 1998. Asfiksia Neonatorum dalam Kumpulan Makalah Pelatihan Dokter
Spesialis Anak dalam Bidang NICU untuk RSU Kelas B Tingkat Nasional.Semarang : IAI.

Nurarif AH, Kusuma H. 2013. Aplikasi Asuhan Keperawatan berdasarkan Diagnosa Medis,
NANDA, dan NIC-NOC. Yogyakarta : Media Action.

https://id.scribd.com/doc/257200475/ASKEP-Anak-Asfiksia-Neonatorum-NIC-NOC-Edit-Sifa

https://id.scribd.com/document/251813732/Lp-Asfiksia-Neonatorum

https://id.scribd.com/doc/122134242/Laporan-Pendahuluan-Pada-Bayi-Dengan-Asfiksia