Anda di halaman 1dari 48

PROFIL KESEHATAN

PUSKESMAS PONTAP
KOTA PALOPO
TAHUN 2018

JL. Andi Tadda, Kecamatan Wara Timur Kota Palopo


Email : pkmpontap@gmail.com
Profil Kesehatan Puskesmas Pontap Tahun 2018Call Center : 085242000968 Page | 1
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pembangunan kesehatan juga tidak terlepas dari komitmen Indonesia
sebagai warga masyarakat dunia untuk ikut merealisasikan tercapainya
Millenium Development Goals (MDGs). Di dalam Undang-Undang Republik
Indonesia Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan mengamanatkan bahwa
pembangunan kesehatan harus ditujukan untuk meningkatkan kesadaran,
kemauan dan kemampuan hidup sehat masyarakat yang setinggi-tingginya,
sebagai investasi bagi pembangunan sumber daya manusia yang produktif
secara sosial dan ekonomis. Setiap orang berhak atas kesehatan dan setiap orang
mempunyai hak yang sama dalam memperoleh akses atas sumber daya di
bidang kesehatan. Kesehatan adalah hak asasi manusia dan sekaligus
merupakan investasi untuk mencapai keberhasilan pembangunan bangsa. Oleh
karena itu, diselenggarakan pembangunan di bidang kesehatan secara
menyeluruh dan berkesinambungan, dengan tujuan meningkatkan kesadaran,
kemauan, dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar terwujud derajat
kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya. Derajat kesehatan yang rendah
juga berpengaruh terhadap rendahnya produktifitas kerja yang pada akhirnya
menjadi beban masyarakat dan pemerintah.
Pembangunan Nasional di bidang kesehatan pada dasarnya ditujukan
kepada semua lapisan masyarakat. Namun pada operasionalnya ditujukan untuk
golongan tertentu dan dilakukan secara bertahap sesuai dengan skala prioritas.
Pengelolaan upaya kesehatan masyarakat dan upaya kesehatan perorangan
dilakukan melalui sistem manajemen kesehatan yang didukung oleh sistem
informasi kesehatan agar lebih berhasil guna dan berdaya guna.
Puskesmas Pontap merupakan instansi yang bertanggung jawab atas
pembangunan kesehatan di Wilayah Kerja Puskesmas Pontap yang terdiri dari
6 (enam) keluahan yang berada di 3 (tiga) kecamatan. Kami telah banyak
melakukan upaya-upaya kesehatan untuk mengatasi permasalahan kesehatan di
Wilayah Kerja Puskesmas Pontap Kota Palopo. Untuk mengukur keberhasilan
pembangunan kesehatan tersebut diperlukan indikator. Indikator yang dipakai
adalah Indikator Kinerja dari Standar Pelayanan Minimal bidang Kesehatan.
Agar penyelenggaraan pembangunan kesehatan, khususnya dalam
melakukan kegiatan perencanaan, pelaksanaan, pengendalian, pengawasandan
penilaian dapat berjalan efektif dan efisien sangat diperlukan informasi tentang

Profil Kesehatan Puskesmas Pontap Tahun 2018 Page | 1


hasil pembangunan kesehatan dan pendukungnya. Dalam rangka memenuhi
kebutuhan informasi, Puskesmas Pontap menyusun Profil Kesehatan
Puskesmas Pontap Tahun 2018, yang berisi tentang situasi dan kondisi
kesehatan di wilayah kerja Puskesmas Pontap Tahun 2018 beserta hasil dari
upaya-upaya kesehatan yang telah dilaksanakan selama tahun 2018 yang
dianalisis secara sederhana dan ditampilkan dalam bentuk tabel, peta dan grafik.
Penyusunan profil ini bertujuan untuk memberikan data dan informasi
dalam rangka proses perencanaan, pemantauan, dan mengevaluasi pencapaian
hasil pembangunan kesehatan di Wilayah Kerja Puskesmas Pontap Kota
Palopo.

B. Tujuan
1. Tujuan
a. Tujuan Umum
Tersedianya data atau informasi yang akurat, tepat waktu dan
sesuai kebutuhan dalam rangka meningkatkan kemampuan manajemen
kesehatan secara berhasil guna dan berdayaguna.
b. Tujuan Khusus
1) Tersedianya acuan dan bahan rujukan dalam rangka pengumpulan
data, pengolahan, analisis serta pengemasan informasi
2) Tersedianya wadah integrasi berbagai data yang telah
dikumpulkan oleh berbagai sistim pencatatan dan pelaporan di
unit-unit kesehatan
3) Memberikan analisis-analisis yang mendukung penyediaan
informasi dalam menyusun alokasi dana/anggaran program
kesehatan
C. Isi Ringkasan Profil
Profil kesehatan Puskesmas Pontap berisi narasi dan gambaran analisis
situasi umum dan lingkungan yang mempengaruhi kesehatan, situasi sumber
daya, situasi upaya kesehatan, situasi derajat kesehatan dan pembiayaan
kesehatan. Disamping narasi juga berisi tabel, grafik dan diagram untuk sajian
distribusi frekuensi menggambarkan perkembangan atau perbandingan
pencapaian program.

Profil Kesehatan Puskesmas Pontap Tahun 2018 Page | 2


D. Sistimatika Penyajian
BAB I Pendahuluan
BAB ini secara ringkas menjelaskan maksud dan tujuan disusunnya profil
Puskesmas Pontap. Dalam bab ini juga diuraikan secara ringkas pula isi dari
Profil Puskesmas Pontap dan sistimatika penyajian.
BAB II. Gambaran Umum Puskesmas Pontap
Dalam BAB ini diuraikan gambaran secara umum Puskesmas Pontap yang
meliputi keadaan geografi, keadaan penduduk, tingkat pendidikan penduduk,
keadaan ekonomi, gambaran tentang keadaan sumber daya mencakup tentang
keadaan sarana atau fasilitas kesehatan, tenaga kesehatan, dan pembiayaan
kesehatan.
Bab III. Situasi Derajat Kesehatan
BAB ini berisi uraian tentang berbagai indikator derajat kesehatan yang
mencakup tentang angka kematian, angka harapan hidup, angka kesakitan dan
status gizi masyarakat.
BAB IV. Situasi Upaya Kesehatan
BAB ini berisi uraian tentang upaya kesehatan yang tertuang pada tujuan
program pembangunan di bidang kesehatan. Gambaran upaya kesehatan yang
telah diselenggarakan.

Profil Kesehatan Puskesmas Pontap Tahun 2018 Page | 3


BAB II
GAMBARAN UMUM

A. Gambaran Umum Puskesmas


1. Geografis
Puskesmas Pontap adalah salah puskesmas di Kota Palopo yang
beralamat di Jalan Andi Tadda Keluarahan Pontap Kecamatan Wara Timur
Kota Palopo Provinsi Sulawesi Selatan. Wilayah Kerja Puskesmas Pontap
terdiri dari 6 (enam) kelurahan yang berada di 3 (tiga) kecamatan yaitu
Kelurahan Pontap, Kelurahan Salotellu dan Kelurahan Ponjalae berada
diwilayah Kecamatan Wara Timur, Kelurahan Batupasi dan Kelurahan
Penggoli berada diwilayah Kecamatan Wara Utara, Kelurahan
Ammasangan berada diwilayah Kecamatan Wara.
Batas wilayah kerja Puskesmas Pontap adalah sebagai berikut :
a) Sebelah Utara berbatasan dengan Wilayah Kerja Puskesmas Wara Utara
Kota
b) Sebelah Timur berbatasan dengan Teluk Bone
c) Sebelah Selatan berbatasan dengan Wilayah Kerja Puskesmas Wara
Timur
d) Sebelah Barat berbatasan dengan Wilayah Kerja Puskesmas Wara
Puskesmas Pontap memiliki luas wilayah kerja Puskesmas Pontap
sekitar 11.35 km2. Jarak dan waktu tempuh ke Puskesmas terjauh, yaitu 2
km dan waktu tempuh menuju Puskesmas 5-10 menit. Jalan yang ditempuh
ke Puskesmas dapat dilalui oleh kendaraan (transportasi cukup lancar) dan
tidak ada kendala untuk menjangkau Puskesmas tersebut. Adapun perincian
luas perkelurahan sebagai berikut:
Tabel 2.1.
Luas Wilayah Kerja Puskesmas Pontap

Luas Wilayah Jarak ke


No Kelurahan
(Km2) Puskesmas (km
1 Pontap 2.51 Kel. PKM
2 Ponjalae 1.83 100 m
3 Salotellue 0.90 1 Km
4 Ammasangan 1.28 2 Km
5 Batupasi 2.72 2.1 Km
6 Penggoli 2.11 2 Km
Jumlah 11.35

Secara astronomi letak wilayah kerja Puskesmas Pontap yaitu berada


di antara 200 - 500 Lintang Selatan dan 12045 - 12460 Bujur Timur.

Profil Kesehatan Puskesmas Pontap Tahun 2018 Page | 4


Sebagian wilayahnya merupakan dataran rendah dengan ketinggian dari
permukaan air laut sekitar 0 - 99 meter serta berbatasan langsung dengan
laut sehingga wilayah kerja Puskesmas Pontap termasuk daerah pesisir
perkotaan dengan tipe pemukiman padat.

2. Data Demografi
Jumlah Penduduk Di Wilayah Kerja Puskesmas Pontap pada tahun
2017 adalah 24950 jiwa, dengan rincian jumlah penduduk Di Wilayah Kerja
Puskesmas Pontap adalah sebagai berikut :
Tabel 2.2.
Data Demografi Wilayah Kerja Puskesmas Pontap Tahun 2018
JML Penduduk
No Kelurahan Rt Rw
RT L P JML
1 Pontap 16 4 1365 3654 3747 7401
2 Ponjalae 17 4 893 2451 2424 4875
3 Salotellue 12 3 467 1217 1254 2469
4 Ammasangan 19 8 1048 2319 2672 4991
5 Batupasi 11 4 498 1121 1200 2321
6 Penggoli 12 3 461 1442 1451 2893
Jumlah 87 26 4732 12204 12748 24950

Profil Kesehatan Puskesmas Pontap Tahun 2018 Page | 5


3. Pendidikan
Tabel 2.3.
Data Sarana Pendidikan DI Wilayah Kerja Puskesmas Pontap
Tahun 2018

No Kelurahan TK SD SMP SMA PT


1 Pontap 2 2 1
2 Ponjalae 2 3
3 Salotellue 1
4 Ammasangan 2 5 1 1
5 Batupasi 3 1 2
6 Penggoli
Jumlah 10 11 2 1 2

Tingkat pendidikan masyarakat di wilayah kerja Puskesmas Pontap


cukup baik, dimana informasi yang disampaikan ke masyarakat sudah
mampu diterima.
Adanya kerjasama yang baik dengan sektor pendidikan memudahkan
wilayah kerja Puskesmas Pontap dalam memberi edukasi kepada warga
sekolah tentang kesehatan dan skrining kesehatan anak sekolah, meskipun
masih ada beberapa instansi yang belum mau bekerjasama.
4. Sosial Budaya
Masyarakat wilayah kerja Puskesmas Pontap memiliki kepedulian,
kekeluargaan dan kerja sama yang baik dari masyarakat sehingga
memudahkan kami dalam menjalankan program-program kesehatan.
Namun satu sisi masih ada juga kelompok masyarakat yang tidak
mendukung kebijakan kesehatan dan institusi yang sulit untuk diberikan
intervensi terkait program dan masalah kesehatan.
5. Perilaku
Secara umum perilaku atau kebiasaan hidup sehat masyarakat wilayah
kerja Puskesmas Pontap sudah meningkat dari tahun-tahun sebelumnya,
karena sebagian besar sudah mendapatkan pengetahuan tentang kesehatan,
sehingga sedikit banyak juga mempengaruhi pola hidup masyarakat.
Namun demikian masih banyak juga masyarakat yang sulit untuk merubah
pola hidupnya, seperti kebiasaan merokok, tidak mengkonsumsi buah dan
sayur setiap hari, mencuci tangan tidak pakai sabun, menimbang balita rutin
ke posyandu, dan sebagainya.

Profil Kesehatan Puskesmas Pontap Tahun 2018 Page | 6


6. Lingkungan
Secara umum sanitasi lingkungan di wilayah kerja Puskesmas Pontap
sudah cukup baik, Namun masih ada kelompok hunian penduduk yang
kumuh, kotor dan kurang pencahayaan. Selain itu masih ada beberapa
wilayah yang rawan banjir.
B. Identitas Dan Visi Misi Puskesmas
1. Identitas Puskesmas
a. Nama Puskesmas : Puskesmas Pontap
b. Nomor Kode Puskesmas : P7373021201
c. Izin Operasional : 37/2.1/DINKES/PLP/VII/2014
d. Alamat Puskesmas : Jl. Andi Tadda, Kec. Wara Timur,
Kota Palopo, Sulawesi Selatan
e. Nomor Telepon : 081242893914
f. Nama Pimpinan Puskesmas : Hj. Harmawati, SKM, M.Kes.
g. Tahun Berdiri : 2005
h. Tipe Puskesmas : Non Perawatan
2. Visi, Misi, Tujuan dan Tata nilai Puskesmas Pontap
a. Visi : “Mewujudkan Puskesmas Pontap sebagai Puskesmas dengan
Pelayanan Prima dan Profesional Menuju Masyarakat Sehat Mandiri”
b. Misi :
1) Menyelenggarakan Upaya Pelayanan Kesehatan Secara Profesional
dan Bertanggung Jawab.
2) Meningkatkan Sumber Daya Manusia
3) Meningkatkan Sistem Informasi Kesehatan
4) Meningkatkan Kerjasama Lintas Sektor
5) Mendorong Kemandirian Masyarakat untuk berprilaku Hidup
Bersih dan Sehat
c. Tujuan :
1) Mewujudkan masyarakat yang memiliki perilaku sehat yang
meliputi kesadaran, kemauan dan kemampuan hidup sehat.
2) Mewujudkan masyarakat yang mampu menjangkau pelayanan
kesehatan bermutu
3) Mewujudkan masyarakat yang hidup dalam lingkungan sehat
4) Mewujudkan masyarakat yang memiliki derajat kesehatan yang
optimal, baik individu, keluarga, kelompok dan masyarakat

Profil Kesehatan Puskesmas Pontap Tahun 2018 Page | 7


d. Sasaran
Sasaran merupakan penjabaran dari tujuan secara terukur yang
akan dicapai atau dihasilkan oleh Puskesmas Pontap dalam jangka
waktu dua tahun terakhir. Sasaran merupakan bagian integral dalam
proses perencanaan strategis. Sasaran harus bersifat spesifik, dapat
dinilai, diukur dan menantang namun dapat dicapai. Berdasarkan hal
tersebut diatas, Pukesmas Pontap Kota Palopo menetapkan sasaran
sebagai berikut:
1) Menurunnya angka kesakitan dan kematian akibat penyakit serta
KLB
2) Terciptanya lingkungan hidup yang sehat
3) Terciptanya kemandirian masyarakat untuk berperilaku hidup sehat
dalam rangka mengatasi masalah kesehatan.
4) Terwujudnya peningkatan gizi masyarakat.
5) Terwujudnya manajemen pengelolaan obat dan perbekalan
kesehatan yang baik.
6) Terwujudnya peningkatan akses masyarakat terhadap pelayanan
kesehatan yang bermutu, merata terutama permasalahan kesehatan
pada masyarakat miskin dan masyarakat rentan.
7) Terwujudnya peningkatan kualitas dan kuantitas sumber daya
kesehatan di Puskesmas melalui pengembangan dan implementasi
regulasi dan pengembangan profesionalisme.
8) Terwujudnya sistem informasi kesehatan yang terpadu dan akurat
untuk pemanfaatan pengambilan keputusan.
9) Meningkatnya cakupan jaminan pemeliharaan kesehatan
masyarakat khususnya bagi masyarakat miskin dan rentan melalui
jamkesmas/jampersal dan jamkesda.
10) Terwujudnya pelayanan kesehatan berbasis kinerja
e. Strategi
1) Mengembangkan surveilans penyakit dan masalah kesehatan
berbasis masyarakat
2) Meningkatkan peran serta masyarakat, kesadaran masyarakat, desa
siaga dan peningkatan KIE ( komunikasi, informasi dan edukasi )
dalam pencegahan dan penanggulangan penyakit dan Kejadian Luar
Biasa (KLB) dan perilaku hidup bersih dan sehat.
3) Pengembangan pengelolaan air minum / bersih , pembuangan air
limbah, jamban keluarga dan pembuangan sampah dengan

Profil Kesehatan Puskesmas Pontap Tahun 2018 Page | 8


pendekatan berbasis masyarakat dan penerapan teknologi tepat
guna.
4) Meningkatkan penanggulangan masalah gizi melalui pemberian
makanan tambahan dan suplemen ( vitamin ) dan peningkatan
keluarga sadar gizi.
5) Meningkatkan pembinaan terhadap penggunaan obat yang rasional
di lingkup pelayanan Puskesmas.
6) Memenuhi kebutuhan sarana, prasarana termasuk sumber daya
manusia , obat- obatan dan perbekalan kesehatan di pelayanan
kesehatan.
7) Meningkatkan manajemen Puskesmas
8) Meningkatkan dan mengembangkan upaya kesehatan wajib maupun
pengembangan.
9) Menerapkan upaya pelayanan kesehatan kepada masyarakat sesuai
dengan Prosedur yang telah disusun.
10) Mengembangkan sistem informasi kesehatan yang lengkap, akurat
sebagai dasar pengambilan keputusan.
11) Meningkatkan koordinasi lintas sektor dalam pengembangan dan
pelaksanaan upaya kesehatan Puskesmas.
f. Kebijakan
Kebijakan merupakan arah yang diambil dalam menentukan
bentuk program dan kegiatan untuk mencapai tujuan pembangunan
kesehatan. Kebijakan tersebut adalah :
1) Peningkatan kegiatan Promosi Kesehatan melalui peningkatan
kesadaran masyarakat dalam rangka berperilaku hidup bersih dan
sehat
2) Peningkatan kualitas sanitasi dasar.
3) Peningkatan pembinaan sanitasi di TUPM, TTU dan institusi.
4) Peningkatan dan penguatan peran serta masyarakat melalui
pendampingan dalam pengembangan UKBM dan desa siaga
5) Peningkatan kompetensi tenaga kesehatan.
6) Melakukan penjaringan dan pemeriksaan kesehatan secara berkala
pada siswa sekolah.
7) Peningkatan kualitas dan akses pelayanan kesehatan masyarakat
8) Pemenuhan alat kesehatan, obat dan perbekalan kesehatan pada
Puskesmas dan jaringannya sesuai dengan kebutuhan.
9) Perbaikan / rehabilitasi Puskesmas dan jaringannya.

Profil Kesehatan Puskesmas Pontap Tahun 2018 Page | 9


10) Penerapan penggunaan obat rasional di sarana kesehatan.
11) Menurunkan angka kematian ibu, bayi melalui peningkatan
pelayanan kesehatan ibu dan anak.
12) Melakukan rujukan pada ibu hamil resiko tinggi
13) Pendampingan persalinan oleh dua tenaga kesehatan yang memiliki
kompetensi kebidanan.
14) Peningkatan gizi keluarga dan masyarakat melalui pemberian PMT,
vitamin pada balita, ibu hamil dan ibu nifas.
15) Melakukan penyuluhan dan pemberdayaan keluarga dalam
membiasakan konsumsi aneka ragam makanan, pemantauan
pertumbuhan balita, pemberian ASI eksklusif, penggunaan garam
yodium dan suplemen zat gizi.
16) Pencapaian UCI
17) Peningkatan kegiatan surveilans sebagai upaya pencegahan dan
penanggulangan penyakit menular dan KLB.
18) Peningkatan koordinasi lintas sektor melalui pertemuan di tingkat
Kelurahan/Kecamatan.
19) Peningkatan manajemen Puskesmas ( Perencenaan, Pelaksanaan,
Penilaian / Evaluasi ) dan kualitas informasi kesehatan.
g. Tata Nilai
Upaya mewujudkan visi dan misi didasari dengan berbagai nilai
dasar. Nilai-nilai dasar menjiwai dan menjadi pegangan/pedoman bagi
seluruh karyawan dalam melaksanakan tugas pokok dan fungsinya.
Nilai-nilai dasar organisasi untuk mencapai visi, misi Puskesmas Pontap
adalah sebagai berikut:
1) Bersih Lingkungan Kerja
2) Senyum Saat Melayani Pelanggan
3) Ramah Terhadap Pelayanan
4) Ikhlas Dalam Melayani
C. Organisasi Puskesmas Pontap
Berdasarkan Peraturan Daerah Kota Palopo Nomor 03 Tahun 2008
tentang rincian tugas pokok dan fungsi jabatan pada Puskesmas Pontap, maka
dapat diuraikan sebagai berikut:
1. Kepala Puskesmas
2. Kasubag Tata Usaha
a. Bagian Perencanaan program dan Informasi Puskesmas (SIP)
b. Bagian Kepegawaian

Profil Kesehatan Puskesmas Pontap Tahun 2018 Page | 10


c. Bagian Keuangan
d. Bagian Rumah Tangga
3. Upaya Kesehatan
a. Upaya Kesehatan Masyarakat
1) Upaya Kesehatan Esensial
a) Upaya Promosi Kesehatan
b) Upaya Kesehatan Lingkungan
c) Upaya Kesehatan Ibu dan Anak Keluarga Berencana
d) Upaya Perbaikan Gizi Masyarakat
e) Upaya Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit Menular
f) Upaya Perawatan Kesehatan Masyarakat
2) Upaya Kesehatan Pengembangan
a) Upaya Kesehatan Jiwa
b) Upaya Kesehatan Gigi dan Mulut
c) Upaya Kesehatan Olahraga
d) Upaya Kesehatan Indera
e) Upaya Kesehatan Jiwa
f) Upaya Kesehatan Lansia
g) Upaya Keselamatan Kesehatan Kerja
h) Upaya Kesehatan Sekolah
i) Posbindu PTM
b. Upaya Kesehatan Perorangan
1) Poli Umum
2) Poli gigi dan mulut
3) Poli KIA dan KB
4) Poli MTBS
5) Apotek
6) Laboratorium
7) Ruang Bersalin
8) UGD
9) Klinik Sanitasi
10) Pojok ASI
c. Jaringan Puskesmas
1) Poskeskel Pontap
2) Pustu Ponjalae
3) Pustu Salotellue
4) Pustu Amassangan
5) Pustu Batupasi
6) Pustu Penggoli

Profil Kesehatan Puskesmas Pontap Tahun 2018 Page | 11


D. Sumber Daya Puskesmas
1. Ketenagaan
Dalam menjalankan fungsinya sebagai pemberi pelayanan kesehatan
tingkat pertama Puskesmas Pontap telah dilengkapi dengan sarana dan
prasarana yang memadai dan didukung oleh tenaga dokter umum, dokter
gigi, bidan, perawat, perawat gigi, tenaga analis kesehatan, Sanitarian, ahli
gizi dan apoteker.
Sumber Daya Manusia (SDM) merupakan salah satu unsur terpenting
dalam organisasi. Jalan tidaknya suatu organisasi sangat tergantung dari
keberadaan SDM. SDM Kesehatan yang memiliki kompetensi tentu akan
menunjang keberhasilan pelaksanaan kegiatan, program dan pelayanan
kesehatan. Jenis dan Jumlah tenaga kesehatan di Puskesmas Pontap pada
tahun 2018 sebanyak 48 orang. Adapun Jenis dan Jumlah tenaga kesehatan
di Puskesmas Pontap pada tahun 2018 dapat dilihat pada tabell berikut:

Tabel 2.1.
Tenaga Kesehatan Di Puskesmas Pontap Tahun 2018

No Jenis Tenaga Jumlah


1 Kepala Puskesmas 1
2. Kepala Subbagian Tata Usaha 1
3 Dokter Umum 2
4 Dokter Gigi 2
5 Perawat 12
6 Perawat Gigi 1
7 Bidan 9
8 Tenaga Kesehatan Masyarakat: 3
 Promosi Kesehatan 1
 Surveilance 1
 Adminkes 1
9 Tenaga Kesling 1
10 Tenaga Gizi 1
11 Kefarmasian 2
12 Tenaga Administrasi 5
13 Tenaga Tehnologi Lab.Medik 1
14 Tenaga rekam medik 1
15 Sopir ambulance 1
16 Caraka 1

2. Peralatan dan Sarana Kesehatan


Untuk melaksanakan kegiatan operasional pelayanan kesehatan,
Puskesmas Pontap telah dilengkapi dengan fasilitas pelayanan dalam
gedung seperti pada tabel berikut :

Profil Kesehatan Puskesmas Pontap Tahun 2018 Page | 12


Tabel 2.2.
Fasilitas Pelayaan Dan Ruangan Puskesmas Pontap
Lantai Fasilitas Pelayanan
Lantai I Klinik Umum
Klinik Gigi
Klinik MTBS
Poli KIA - KB
Laboratorium
Ruang Konseling
Ruang UGD
Loket Pendaftaran & Kasir
Rekam Medik
Ruang Apotik
Ruang Rawat Ibu Bersalin
Ruang Persalinan
Ruang Laktasi
Ruang Sterilisasi
Pojok ASI
Dapur
Lantai II Ruang Kepala Puskesmas
Aula Puskesmas
Ruang Tata Usaha
Ruang SIP (Sistim Informasi
Puskesmas)
Ruang Keuangan
Ruang UKM Esensial
Ruang UKM Pengembangan
Ruang Vaksin
Ruang TB
Gudang ATK

3. Sarana Penunjang
Untuk memperlancar pelaksanaan kegiatan pelayanan dan program,
Puskesmas Pontap juga didukung dengan sarana penunjang seperti pada
tabel berikut.
Tabel 2.3
Sarana Penunjang di Puskesmas Pontap Tahun 2017

Kondisi
No. Jenis sarana/Prasarana Jumlah
Rusak Rusak Rusak
Ringan Sedang Berat

I Sarana Kesehatan
1 Puskesmas Pembantu 6 1 1
2 Polindes 0
3 Rumah Dinas Dokter 1 1

Profil Kesehatan Puskesmas Pontap Tahun 2018 Page | 13


4 Rumah Dinas Perawat 0
5 Rumah Dinas Bidan 0
6 Puskesmas Keliling Roda 4 1
7 Ambulance 1
8 Sepeda Motor 17 5 1
II Sarana Penunjang
1 Komputer 12 4
2 Telepon/HP 1
3 Failling Kabinet 1
4 Box Absen 1
5 Mesin Absensi 1 1
6 Kipas Angin 18 1
7 AC 5
8 Modem internet 4
9 Televisi 4 2
10 Speaker Aktif 4
11 Laptop 9
12 Printer 13 1 3
13 Sound System 2
14 Kulkas 3
Kulkas Frezer 1
15 Projector + Layar 1
16 Camera 1
17 Mic Wireles 2
18 Wireles Amplifier 1
19 Lemari Arsip (Rak) 4
20 Lemari Arsip (Active) 2
21 Lemari besi 5
22 Lemari Kayu 8
23 Lemari Kaca 4
25 Kursi Tamu 1
26 Kursi Putar 7
27 Kursi Lipat 18 3 5 10
28 Kursi besi gandengan 4
29 Kursi Kerja 38
30 Kursi Panjang Plastik 1
31 Kursi Kayu Panjang 6
32 Kursi Plastik 63 2
33 Meja Panjang 5
34 Meja Kerja 40
38 Meja Komputer 1 1
39 Meja Rapat 5
40 Meja Kayu (Alat) 1
41 Tempat Tidur Kayu (Lengkap) 1 1
42 Kasur 1 1
43 Bantal 6
44 Seprei 6

Profil Kesehatan Puskesmas Pontap Tahun 2018 Page | 14


45 Dispenser 1 1
4. Sumber Pembiayaan

Pembiayaan puskesmas bersumber dari pendapatan puskesmas yang


digunakan kembali sebagai biaya operasional. Sumber pendapatan
puskesmas berasal dari jasa pelayanan pasien Umum, JKN, APBD,
Jampersal dan Bantuan Operasional Kesehatan (BOK).
E. Jumlah Penyakit Terbanyak
Grafik 2.1
10 Penyakit Terbanyak Puskesmas Pontap Tahun 2017

Jumlah pasien terbanyak berdasarkan data kunjungan per jenis penyakit


adalah ISPA atau Infeksi Saluran Pernapasan Atas pada puskesmas Pontap
Tahun 2017. Salah satu kemungkinan penyebabnya adalah pola hidup yang
tidak sehat, seperti kebiasaan merokok, tidak mencuci tangan pakai sabun.
Penyakit terbesar kedua adalah hipertensi.

Profil Kesehatan Puskesmas Pontap Tahun 2018 Page | 15


BAB III
SITUASI DERAJAT KESEHATAN
A. Umur Harapan Hidup
Menurut UU RI No. 36 Tahun 2009 tentang kesehatan, keadaan sehat
adalah keadaan meliputi kesehatan badan, rohani (mental) dan sosial dan bukan
hanya keadaan yang bebas penyakit, cacat dan kelemahan sehingga dapat hidup
produktif secara sosial ekonomi.
Derajat kesehatan dan kualitas hidup masyarakat juga dapat dilihat dari
nilai Umur Harapan Hidup (UHH). Umur Harapan Hidup merupakan salah satu
indikator Indeks keberhasilan Pembangunan Manusia. Meningkatnya mutu
pelayanan kesehatan dapat dilihat dari peningkatan Umur Harapan Hidup.
Derajat Kesehatan menurut HL. Blum dipengaruhi oleh faktor genetik,
lingkungan, perilaku, dan umur harapan hidup. Umur Harapan Hidup Penduduk
adalah rata-rata kesempatan atau waktu hidup yang tersisa. Umur Harapan
Hidup berbeda dengan lama hidup, lama hidup adalah jumlah tahun maksimum
penduduk untuk dapat hidup. Cara menentukan Umur Harapan Hidup adalah
dengan menunjukkan merata-ratakan semua umur dari seluruh kematian pada
waktu tertentu.
Struktur penduduk Indonesia juga akan semakin menua dengan semakin
meningkatnya umur harapan hidup dan derajat kesehatan penduduk. Proporsi
penduduk usia 60 tahun keatas diproyeksikan meningkat dari sekitar 7,6 persen
pada tahun 2010 menjadi 15,8 persen pada tahun 2035. Umur Harapan Hidup
penduduk Kota Palopo tahun 2013 berdasarkan data BPS sebesar 75,04 tahun.
Angka ini lebih tinggi dari Umur Harapan Hidup Provinsi Sulawesi Selatan
berdasarkan kajian oleh BPS sebesar 72,93 tahun untuk semua jenis kelamin
dan lebih tinggi dari proyeksi Umur Harapan Hidup nasional tahun 2007 yang
tertulis dalam Profil Kesehatan Indonesia yaitu sebesar 72,2 tahun
B. Angka Kematian (Mortality Rate)
Mortalitas atau kematian merupakan salah satu dari tiga komponen
demografi selain fertilitas adan migrasi, yang dapat mempengaruhi jumlah dan
komposisi umur penduduk, WHO mendefinikan kematian sebagai peristiwa
menghilangnya semua tanda-tanda kehidupan secara permanen, yang biasa
terjadi setiap saat setelah kelahiran hidup.
Angka Kematian secara umum berkaitan erat dengan tingkat Angka
Kesakitan dan Status Gizi. Indikator untuk menilai keberhasilan program
pembangunan kesehatan dapat dilihat dari perkembangan Angka Kematian.

Profil Kesehatan Puskesmas Pontap Tahun 2018 Page | 16


Besarnya tingkat Angka Kematian dapat dilihat dari beberapa indikator, antara
lain :
1. Angka Kematian Balita (AKB)
Jumlah kematian penduduk yang berusia di bawah satu tahun per
1000 kelahiran hidup pada tahun tertentu disuatu daerah disebut Angka
Kematian Bayi (AKB). AKB merupakan indikator yang sangat berguna
untuk mengetahui status kesehatan anak khususnya bayi dan dapat
mencerminkan tingkat kesehatan ibu, kondisi kesehatan lingkungan secara
umum, status kesehatan penduduk secara keseluruhan serta tingkat
perkembangan sosial ekonomi masyarakat
Angka kematian bayi (AKB) di wilayah kerja Puskesmas Pontap
berasal dari laporan bulanan bidan poskeskel dan pustu diketahui bahwa
dari 425 kelahiran pada tahun 2018 angka kematian balita (AKABA)
sebesar 0%. Adapun usaha–usaha yang telah dilakukan untuk
menanggulangi kematian bayi meliputi : imunisasi TT pada ibu hamil,
persalinan yang bersih, ASI ekslusif, dan pemberian antibiotik untuk
penyebab kematian karena infeksi
Usia bayi merupakan kondisi yang rentan baik ter hadap kesakitan
maupun kematian, angka kematian Bayi tahun 2018 berdasarkan laporan
bulanan bidan poskeskel dan pustu, tidak ada kejadian kematian bayi dari
425 kelahiran hidup di Puskesmas Pontap.
Beberapa hal yang dapat mempengaruhi AKB secara umum adalah
tingkat kesakitan dan status gizi, kesehatan ibu waktu hamil dan proses
penanganan persalinan. Gangguan perinatal merupakan salah satu dari
sekian faktor yang mempengaruhi kondisi kesehatan ibu selama hamil yang
mempengaruhi perkembangan fungsi dan organ janin.
Tersedianya berbagai fasilitas atau faktor aksesbilitas dan pelayanan
kesehatan dari tenaga medis yang terampil serta kesediaan masyarakat
untuk merubah kehidupan tradisional ke norma kehidupan modern dalam
bidang kesehatan merupakan faktor yang sangat berpengaruh terhadap
tingkat AKB. Puskesmas Pontap untuk menanggulangi kematian bayi lebih
mengefektifkan imunisasi TT pada ibu hamil, persalinan yang bersih, ASI
ekslusif, dan pemberian antibiotik untuk penyebab kematian karena infeksi
2. Angka Kematian Balita (AKABA)
Angka Kematian Balita (AKABA) adalah jumlah kematian anak
berusia 1-5 tahun selama satu tahun tertentu per 1000 anak umur yang sama
pada pertengahan tahun itu (termasuk kematian bayi), atau jumlah anak

Profil Kesehatan Puskesmas Pontap Tahun 2018 Page | 17


yang dilahirkan pada tahun tertentu dan meninggal hingga usia 5 tahun,
dinyatakan sebagai angka per 1000 kelahiran hidup. AKABA
menggambarkan tingkat permasalahan kesehatan anak dan faktor-faktor
lingkungan yang berpengaruh terhadap kesehatan anak balita seperti gizi,
sanitasi, penyakit menular dan kecelakaan, indikator ini menggambarkan
tingkat kesejahteraan sosial dan tingkat kemiskinan penduduk, sehingga
kerap dipakai untuk mengidentifikasi kesulitan ekonomi penduduk. Adapun
nilai nominatif AKABA yaitu lebih besar dari 140 tergolong sangat tinggi,
antara 71-140 sedang dan kurang dari 71 rendah. Melinium Development
Goals (MDGs) menetapkan nilai nimonatif AKABA yaitu sangat tinggi
dengan nilai lebih dari 140, tinggi dengan nilai 71-140, sedang dengan nilai
20-70 dan rendah dengan nilai kurang dari 20. AKABA menggambarkan
tingkat permasalahan kesehatan anak – anak dan faktor – factor lain yang
berpengaruh terhadap kesehatan anak balita seperti gizi, sanitasi, dan
penyakit infeksi.
Pada Tahun 2018 di Wilayah kerja Puskesmas Pontap angka
kematian balita (AKABA) tidak ditemukan adanya kematian balita. Hal ini
dipengaruhi oleh status gizi balita, sanitasi yang baik serta peranandari
petugas kesehatan dalam memberikan pelayanan kesehatan
3. Angka Kematian Ibu Maternal (AKI)
Angka Kematian Ibu (AKI) juga menjadi salah satu indicator penting
menentukan derajat kesehatan masyarakat. AKI menggambarkan jumlah
wanita yang meninggal dari suatu penyebab kematian terkait dengan
gangguan kehamilan atau penanganannya (tidak termasuk kecelakaan atau
kasus insiden selama kehamilan), melahirkan dan masa nifas (42 hari
setelah melahirkan) tanpa memperhitungkan lama kehamilan per 100.000
kelahiran hidup.
Angka Kematian Ibu (AKI) mengacu pada jumlah kematian ibu yang
terkait dengan masa kehamilan, persalinan dan nifas. Angka Kematian Ibu
(AKI) mengacu pada jumlah kematian ibu yang terkait dengan masa
kehamilan, persalinan dan nifas. Dari hasil laporan bulanan bidan poskeskel
dan pustu diketahui tidak ada kejadian Angka kematian ibu (AKI) pada
tahun 2018.
C. Morbiditas
Morbiditas adalah angka kesakitan, baik insiden maupun prevalen dari
suatu penyakit. Morbiditas menggambarkan kejadian penyakit dalam suatu

Profil Kesehatan Puskesmas Pontap Tahun 2018 Page | 18


populasi pada kurun waktu tertenru. Morbiditas juga berperan dalam penilaian
terhadap derajat kesehatan masyarakat.
1. TB Paru
Penyakit TB Paru merupakan penyakit re emerging masih terus
ditemukan. Secara nasional TB Paru merupakan penyakit tropis yang sangat
erat kaitannya dengan kemiskinan. TB Paru merupakan penyakit yang
masih tinggi angka kejadiannya bahkan merupakan yang tertinggi ketiga di
dunia. MDGs menetapkan penyakit TB Paru sebagai salah satu target
penyakit yang harus diturunkan selain HIV AIDS dan Malaria. Hasil
pengobatan penderita TB Paru dipakai indikator succses rate, dimana
indikator ini dapat dievaluasi setahun kemudian setelah penderita
ditemukan dan diobati. Sukses rate akan meningkat bila pasien TB Paru
dapat menyelesaikan pengobatan dengan baik tanpa atau dengan
pemeriksaan dahak.
Grafik 3.1.
Kasus dan Pengobatan TB BTA (+)
di Wilayah Kerja Puskesmas Pontap Tahun 2018

34

35

30 23 23
25

20

15

10

0
Pengobatan penderita TB Pengobatan penderita TB Penderita TB Paru yang
Paru ( DOTS ) BTA positif Paru ( DOTS ) BTA negatif berobat sesuai standar
Rontgen positif (100%)

Sumber : Data Puskesmas Pontap, 2018

CDR (Case Detection Rate) adalah angka yang menunjukkan jumlah


pasien baru yang ditemukan di suatu wilayah. Kasus baru BTA+ di wilayah
Puskesmas Pontap berdasarkan hasil laporan bulanan Tahun 2018 di
Puskesmas Pontap adalah 23 kasus. Dari 23 kasus BTA + semuanya
melakukan pengeobatan sesuai standar, sedangkan pengobatan penderita
TB Paru ( DOTS ) BTA negatif Rontgen positif sebanyak 34 kasus.
Meskipun sukses rate kasus TB Paru di wilayah kerja Puskesmas
Pontap baik, namun upaya untuk menurunkan Case Rate dan meningkatkan

Profil Kesehatan Puskesmas Pontap Tahun 2018 Page | 19


Success Rate terus harus dilakukan dengan cara meningkatkan sosialisasi
penanggulangan TB Paru sesuai manajemen DOTS melalui jejaring internal
maupun eksternal rumah sakit serta sektor terkait lainnya. Disamping
meningkatkan jangkauan pelayanan, upaya yang tidak kalah penting dan
perlu dilakukan dalam rangka penanggulangan penyakit TB Paru adalah
meningkatkan kesehatan lingkungan serta perilaku hidup bersih dan sehat
di masyarakat. Kasus TB Paru sangat dipengaruhi oleh kepadatan penduduk
dan kemiskinan, karena penularan TB Paru adalah melalui kontak langsung
dengan penderita. Status gizi juga mempengaruhi kasus TB Paru terutama
angka kesembuhannya, dengan status gizi yang baik penderita TB Paru akan
lebih cepat pulih.
2. Pneumonia
Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) adalah penyakit infeksi akut
yang menyerang pernapasan mulai dari hidung hingga alveoli. Penyakit
ISPA yang menjadi masalah dan masuk dalam program penanggulangan
penyakit adalah pneumonia karena merupakan salah satu penyebab
kematian anak. Pneumonia adalah infeksi akut yang menyerang jaringan
paru (alveoli). Infeksi ini bisa disebabkan oleh bakteri, jamur, virus atau
kecelakaan karena menghirup cairan atau bahan kimia. Populasi rentan
yang terserang pneumonia adalah anak umur < 2 tahun. Penemuan dan
tatalaksana kasus adalah salah sat ukegiatan program penanggulangan.
Jumlah kasus ISPA pada balita yang dilaporkan berobat di Puskesmas
Pontap seperti terlihat pada grafik di bawah ini :
Grafik 3.2.
Jumlah Kasusu ISPA di Wilayah Kerja Puskesmas Pontap
Tahun 2018

Sumber : Data Puskesmas Pontap, 2018

Grafik di atas menunjukkan bahwa kasus pneumonia di wilayah kerja


Puskesmas Pontap tidak ditemukan sedangkan kasus ISPA di wilayah kerja

Profil Kesehatan Puskesmas Pontap Tahun 2018 Page | 20


Puskesmas Pontap sebanyak 1487 kasus dan kasus pada balita sebanyak 430
kasus.
Pneumonia pada balita lebih banyak disebabkan karena faktor seperti
kurang gizi, status imunisasi yang tidak lengkap, terlalu sering membedung
anak, kurang diberikan ASI, riwayat penyakit kronis pada orang tua
bayi/balita, sanitasi lingkungan tempat tinggal yang kurang memenuhi
syarat kesehatan, orang tua perokok dan lain sebagainya. Upaya yang telah
dilakukan untuk menanggulangi kasus ISPA pada bayi/balita adalah
menghilangkan faktor penyebabitu sendiri melalui peningkatan status gizi
bayi/balita, peningkatan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS),
peningkatan sanitasi lingkungan tempat tinggal serta peningkatan status
imunisasi bayi/balita.
3. Aquired Immuno Deficiency Syndrome (AIDS)
AIDS merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh infeksi
Human Immuno deficiency Virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh
penderitanya sehingga penderita mengalami penurunan ketahanan tubuh
sehingga sangat mudah terinfeksi berbagai macam penyakit yang lain.
Sebelum memasuki fase AIDS, penderita terlebih dahulu dinyatakan
sebagai HIVpositif. HIV positif dapat diketahui dengan 3 cara yaitu VCT,
sero survey dan survey terpadu biologis dan perilaku (STBP).
Untuk tahun 2018 Puskesmas Pontap belum memiliki VCT namun
sejauh ini menerima konseling untuk HIV - AIDS. Meskipun tidak
ditemukan kasus, namun upaya pencegahan tetap dilakukan untuk
menanggulangi penyebaran kasus HIV – AIDS di Wilayah kerja Puskesmas
Pontap. Upaya-upaya yang telah dilakukan untuk menanggulangi
penyebaran kasus HIV-AIDS di Wilayah kerja Puskesmas Pontap adalah
dengan melakukan penyuluhan kelompok di posyandu, banjar, pertemuan
lintas sektoral di kelurahan dan penyuluhan di dalam gedung. Tujuan
penyuluhan atau KIE tersebut adalah agar kelompok berisiko tersebut mau
datang ke puskesmas untuk mengecek VCT untuk memeriksakan diri secara
berkala dan melakukan perlindungan diri.
4. Diare
Diare dapat didefinisikan sebagai kejadian buang air besar berair lebih
dari tiga kali namun tidak berdarah dalam 24 jam, bila disertai dengan darah
disebut disentri. Penyakit gastroenteritis lain seperti diare berdarah dan tifus
perut klinis juga termasuk ke dalam sepuluh besar penyakit baik di

Profil Kesehatan Puskesmas Pontap Tahun 2018 Page | 21


Puskesmas maupun catatan rawat inap di rumah sakit. Meskipun jumlah
kasus diare cukup tinggi, namun angka kematiannya relatif rendah.
Serangan penyakit yang bersifat akut mendorong penderitanya untuk
segera mencari pengobatan ke pelayanan kesehatan. Dalam perjalanan
alamiahnya sebagian besar penderita sembuh sempurna.
Angka kesakitan akibat diare yang dilayani di Puskesmas Pontap
untuk tahun 2018, jumlah kasus diare pada balita di wilayah kerja
Puskesmas Pontap sebanyak 135 kasus.
Gejala diare yang terkesan ringan dan dapat diobati sendiri oleh
penderitanya menyebabkan penderita enggan mendatangi sarana pelayanan
kesehatan. Penanggulangan diare dititikberatkan pada penanganan
penderita untuk mencegah kematian dan promosi kesehatan tentang hiegyne
sanitasi dan makanan untuk mencegah Kejadian Luar Biasa (KLB). Upaya
yang dilakukan oleh jajaran kesehatan baik oleh Puskesmas maupun dinas
kesehatan adalah meningkatkan penyuluhan kesehatan kepada masyarakat,
kaporitisasi air minum dan peningkatan sanitasi lingkungan.
5. Malaria
Angka kesakitan malaria untuk Jawa dan Bali diukur dengan Annual
Parasite Rate Incidence (API). Pada tahun 2018 tidak terdapat kasus
penyakit malaria positif dari hasil pemeriksan secara klinis terhadap 395
sampel darah di Puskesmas Pontap karena banyaknya pendatang atau
keluarga wasyarakat di wilayah Kerja Puskesmas Pontap yang datang
berkunjung dari daerah-daerah yang endemik malaria. Penyakit malaria
bukan merupakan penyakit endemis tetapi merupakan kasus-kasus import
dari penduduk yang berasal dari daerah endemis malaria atau orang Bali
khususnya yang berasal dari atau yang pernah tinggal di daerah endemis
malaria seperti NTT, Maluku dan Papua.
6. Kusta
Kusta adalah penyakit kulit infeksi yang disebabkan oleh
mycobacterium leprae. Bila penyakit kusta tidak ditangani maka dapat
menjadi progresif menyebabkan kerusakan permanen pada kulit, saraf, mata
dan anggota gerak. Strategi global WHO menetapkan indicator eliminasi
kusta adalah angka penemuan penderita/ new case detection rate (NCDR).
Dengan NCDR 0,0005 per 10.000 penduduk sudah dapat dikatagorikan
sebagai daerah rendah kusta dengan mengacu pada indikator pusat bahwa
daerah dengan NCDR 0,50 per 10.000 penduduk sudah dapat dikatakan
sebagai daerah rendah kusta.

Profil Kesehatan Puskesmas Pontap Tahun 2018 Page | 22


Pada Tahun 2018 ditemukan 1 kasus kusta di di Puskesmas Pontap.
Keberhasilan penanganan kasus kusta di wilayah kerja Puskesmas Pontap
tidak terlepas dari upaya intensif dari dinas kesehatan, Puskesmas dan
jajarannya serta adanya kemauan penderita untuk sembuh dari penyakit
kusta. Kasus kusta sampai dengan tahun 2018 di Puskesmas Pontap udah
bisa ditekan menjadi < 1 per 10.000 penduduk. Indikator yang dipakai dalam
menilai keberhasilan program kusta adalah angka proporsi cacat tingkat II
(cacat yang dapat dilihat oleh mata). Angka ini dapat dipakai untuk menilai
kinerja petugas, bila angka proporsi kecacatan tingkat II tinggi berarti terjadi
keterlambatan penemuan penderita akibat rendahnya kinerja petugas dan
rendahnya pengetahuan masyarakat tentang tanda/gejala penyakit kusta.
Indikator lain yang dipakai menilai keberhasilan program adalah
adanya penderita anak diantara kasus baru, yang mengindikasikan bahwa
masih terjadi penularan kasus di masyarakat. Proporsi kasus anak
7. Penyakit Yang Dapat Dicegah Dengan Imunisasi (PD3I)
Untuk mencegah agar tidak terjadi kasus penyakit terdapat beberapa
langkah yang bisa dilakukan. Salah satunya adalah dengan imunisasi.
Beberapa penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi antara lain:
a. Tetanus Neonatorum
Tetanus neonatorum (TN) disebabkan oleh basil Clostridium
tetani, yang masuk ketubuh melalui luka. Penyakit ini dapat
menginfeksi bayi baru lahir apabila pemotongan tali pusat tidak
dilakukan dengan steril. Pada tahun 2018 di Puskesmas Pontap tidak
ditemukan kejadian tetanus neonatorum.
b. Poliomyelitis dan Acute Flaccid Paralysis (AFP)/Lumpuh Layuh
Akut
Penyakit poliomyelitis merupakan salah satu penyakit yang dapat
dicegah dengan imunisasi. Penyebab penyakit tersebut adalah virus
polio yang menyerang sistem syaraf hingga penderita mengalami
kelumpuhan. Kelompok umur 0 – 3 tahun merupakan kelompok umur
yang rentan terserang penyakit ini, dengan gejala demam, lelah, sakit
kepala,mual, kaku di leher dan sakit di tungkai dan lengan. AFP
merupakan kondisi abnormal ketika seseorang mengalami
penurunankekuatan otot tanpa penyebab yang jelas dan kemudian
berakhir dengan kelumpuhan.
Ditjen P2PL Kementerian Kesehatan RI menetapkan indikator
surveilans AFP yaitu ditemukannya Non Polio AFP Rate minimal

Profil Kesehatan Puskesmas Pontap Tahun 2018 Page | 23


sebesar 2/100.000 anak usia < 15 tahun. Hasil surveilans aktif pada
Puskesmas Pontap Tahun 2018 tidak ditemukan kasus AFP.
c. Campak
Penyakit campak adalah penyakit akut yang mudah menular baik
pada balita, anak – anak maupun orang dewasa yang disebabkan oleh
virus campak. Penularan campak dapatterjadi melalui udara yang
terkontaminasi dan sekret orang yang terinfeksi. Tahun 2018
Puskesmas Pontap tidak ditemukan kasus campak. Keberhasilan
menekan kasus campak tidak terlepas dari pelaksanaan imunisasi
campak secara rutin baik di tingkat puskesmas, puskesmas pembantu,
posyandu serta sarana kesehatan lainnya, penyediaansarana vaksin
yang sudah memadai, tenaga yang mencukupi serta kesadaran
masyarakatuntuk mendapatkan imunisasi campak bagi bayi dan
balitanya.
d. Penyakit Potensial KLB/Wabah
1) Demam Berdarah Dengue (DBD)
Demam Berdarah Dengue adalah penyakit yang disebabkan
oleh virus Dengue dan ditularkan oleh vector nyamuk aedes
aegypty. Indonesia merupakan negara tropis yang secara umum
mempunyai risiko terjangkit penyakit DBD, karena vektor
penyebabnya yaitu nyamuk Aedes aegypti tersebar luas di kawasan
pemukiman maupun tempat-tempat umum, kecuali wilayah yang
terletak pada ketinggian lebih dari 1000 meter di atas permukaan
laut. Serangan penyakit DBD berimplikasi luas terhadap kerugian
material dan moral berupa biaya rumah sakit dan pengobatan pasien,
kehilangan produktivitas kerja dan yang paling fatal adalah
kehilangan nyawa. Perjalanan Penyakit Demam Berdarah Dengue
(DBD) cepat dan dapat mengakibatkan kematian dalam waktu
singkat. Penyakit ini merupakan penyakit menular yang sering
menimbulkan kejadian luar biasa (KLB) di Indonesia. Wilayah kerja
Puskesmas Pontap merupakan salah satu daerah endemis DBD Kota
Palopo, karena selama 3 tahun berturut – turut selalu dilaporkan
adanya kasus DBD. Namun belum ada dilaporkan kasus kematian
yang di sebabkan oleh kasus DBD tersebut.
Tiga hal penting dalam upaya pemberantasan DBD adalah 1)
Peningkatan surveilans penyakit dan surveilans vektor, 2) diagnosis
dini dan pengobatan dini, 3) peningkatan upaya pemberantasan

Profil Kesehatan Puskesmas Pontap Tahun 2018 Page | 24


vektor penular penyakit DBD. Upaya pemberantasan vektor yang
telah dilaksanakan melalui pemberantasan sarang nyamuk (PSN)
melalui 3M plus (Menguras,menutup dan mengubur) plus menabur
larvasida. Indikator yang dapat digunakan untuk mengukur tingkat
keberhasilan pelaksanaan PSN adalah angka bebas jentik (ABJ).
Tahun 2017 ABJ di Wilayah Kerja Puskesmas Pontap adalah
sebesar 76,06 % dengan jumlah kasus 17 orang.
Adanya kasus DBD di Wilayah Kerja Puskesmas Pontap
disebabkan oleh lingkungan dengan tingkat sanitasi yang kurang
memadai, tingkat kepadatan penduduk serta tingkat kepadatan
populasi nyamuk aedes aegypty yang tinggi, serta masih rendahnya
peran serta masyarakat dalam pemberantasan sarang nyamuk.
Berbagai upaya telah diambil untuk menanggulangi penyakit
Demam Berdarah di masyarakat, diantaranya adalah melalui
Fogging massal maupun fokus, Pemberantasan Sarang Nyamuk
(PSN) melalui program 3 M plus, penyuluhan Perilaku Hidup Bersih
dan Sehat serta peningkatan sanitasi lingkungan, pembentukan
jumantik untuk murid SD kelas 3, 4, 5 di Sekolah-sekolah dasar di
Wilayah Kerja Puskesmas Pontap dan pemberdayaan pembentukan
jumantik di keluarga.
Kebijakan lain yang telah ditempuh dalam upaya menurunkan
Angka Kejadian DBD adalah dengan mengangkat petugas Juru
Pemantau Jentik (jumantik) yang ditempatkan di masing – masing
banjar, dimana bertugas melaksanakan pemantauan jentik ke
rumah– rumah penduduk. Berbagai upaya yang telah dilakukan
diharapkan dapat menurunkan kasus DBD dan kejadian luar biasa
yang lebih besar dapat dicegah.
2) Rabies
Rabies merupakan penyakit dengan CFR yang sangat tinggi,
yang disebabkan oleh infeksi virus rabies yang ditularkan melalui
gigitan hewan seperti anjing, kucing, kera yang di dalam tubuhnya
mengandung virus rabies. Pada tahun 2018 di Wilayah Kerja
Puskesmas Pontap .
3) Keracunan Makanan
Sampai tahun 2018 di Wilayah Kerja Puskesmas Pontap belum
pernah ada kejadian keracunan makanan.

Profil Kesehatan Puskesmas Pontap Tahun 2018 Page | 25


BAB IV
SITUASI UPAYA KESEHATAN

Dalam rangka mencapai tujuan pembangunan kesehatan untuk meningkatkan


derajat kesehatan masyarakat, telah dilakukan berbagai upaya pelayanan kesehatan
masyarakat. Berikut ini diuraikan gambaran situasi upaya kesehatan khususnya
untuk tahun 2018.
A. Upaya Kesehatan Esensial
1. Promosi Kesehatan
Setiap program kesehatan dikembangkan dengan tujuan untuk
memecahkan masalah kesehatan. Masalah kesehatan timbul bukan saja
karena kuman penyakit, tetapi juga perilaku manusia. Oleh karenaitu
program penanggulangan masalah kesehatan harus pula mencakup aspek
edukatif yang menangani masalah perilaku sehat. Dengan demikian
penyuluhan kesehatan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari setiap
program kesehatan. Setiap petugas kesehatan yang berhubungan langsung
dengan masyarakat mempunyai tugas penyuluhan. Ada satu Indikator kerja
yang belum tercapai yaitu jumlah dunia usaha yang memanfaatkan CSR-
nya untuk program kesehatan. Capaian program promosi kesehatan di
Puskesmas Pontap seperti terlihat pada grafik di bawah ini :
Tabel 4.1 Pencapaian Program Promkes di Puskesmas Pontap Tahun
2018

TARGET PENCA
NO JENIS KEGIATAN %
SASARAN PAIAN

I. PROMOSI KESEHATAN
A. CAKUPAN DESA SIAGA AKTIF. 6 6 100,00
B. CAKUPAN UPAYA PROMOSI KESEHATAN LAINNYA
1. Penyuluhan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat pada : 92,41
a. Keluarga 1692 1692 100,00
b. Sekolah 14 13 92,86
c. Fasilitas Kesehatan 7 7 100,00
d. Tempat-tempat umum 56 43 76,79
2 Mendorong terbentuknya Upaya Kesehatan Bersumber Masyarakat 100,00
a. Posyandu Madya ( baru ) 0 0 0,00
b. Cakupan Posyandu Purnama + Mandiri 19 19 100,00
3 Penyuluhan Napza. (15% --- 2010) 24 21 87,50
4 Anggota keluarga tidak ada yang merokok (70 %) 945 329 34,81
5 Keluarga sudah menjadi anggota JKN (100 %) 5456 5421 99,36

Profil Kesehatan Puskesmas Pontap Tahun 2018 Page | 26


Upaya yang dilakukan dalam meningkatkan capaian
a. Penyuluhan Dan Konseling Didalam Gedung a) Bahan penyuluhan dan
alat peraga tersedia (leaflet, poster, majalah dinding, lembar
balik,DVD/VCD)
b. Petugas penyuluh adalah para medis yang pada saat tersebut terjadwal.
c. Penyuluhan dengan media poster didinding/tembok agar mudah
dibaca oleh pengunjung.
2. Kesehatan lingkungan
Upaya kesehatan lingkungan adalah upaya untuk meningkatkan
kesehatan lingkungan melalui usaha sanitasi dasar, pengawasan mutu
lingkungan dan tempat umum, termasuk pengendalian pencemaran
lingkungan dengan meningkatkan peran serta masyarakat yang dapat
memberi pengaruh jelek terhadap kesehatan mereka. Sehingga tujuan
program ini adalah berubahnya, terkendalinya atau hilangnya semua unsur
fisik dan lingkungan yang terdapat di masyarakat yang dapat memberi
dampak yang kurang baik terhadap kesehatan mereka. Capaian target
program dapat dilihat pada tabel dibawah ini:
Tabel 4.8 Capaian Target Kinerja Program Kesehatan Lingkungan
Puskesmas Pontap Tahun 2018

Profil Kesehatan Puskesmas Pontap Tahun 2018 Page | 27


TARGET PENCA
NO JENIS KEGIATAN %
SASARAN PAIAN

II. KESEHATAN LINGKUNGAN


A. Penyehatan Air
1. Inspeksi Sanitasi Sarana Air Bersih 16 19 118,8
2. Pembinaan Kelompok Masyarakat / Kelompok Pemakai Air 19 19 100,0
3. Keluarga memiliki akses/menggunakan sarana air bersih 5456 5456 100,0
B. Hygiene dan Sanitasi Makanan dan Minuman
1. Inspeksi Kesehatan Lingkungan Tempat Pengelolaan ( 70 %) 108 146 135,2
2. TPM memenuhi syarat ( 70 %) 146 126 86,30
C. Penyehatan Tempat Pembuangan Sampah dan Limbah
1. Akses pengelolaan Limbah Rumah Tangga 965 779 80,7
2. Akses pengelolaan Sampah Rumah Tangga 965 812 84,1
D. Penyehatan Lingkungan Pemukiman dan Jamban Keluarga
1. Pemeriksaan Penyehatan Lingkungan pada Perumahan 965 793 82,2
2. Jumlah Desa ODF 6 6 100,0
3 Keluarga memiliki akses/menggunakan jamban keluarga 965 965 100,0
E. Pengawasan Sanitasi Tempat-Tempat Umum
1. Inspeksi Sanitasi Tempat - tempat Umum 24 24 100,00
2. Sanitasi Tempat Umum memenuhi Syarat 24 21 87,50
3. Inspeksi Kesehatan Lingkungan 24 21 87,50
F. Pengamanan Tempat Pengelolaan Pestisida
1. Inspeksi Kesehatan Lingkungan Tempat Pengelolaan Pestisida 2 2 100,00
2. Pembinaan Tempat Pengelolaan Pestisida 2 2 100,00
G. Pengendalian Vektor
1. Pengawasan Tempat - tempat potensial perindukan vektor di pemukiman penduduk dan sekitarnya 965 908 94,09
Pemberdayaan sasaran/kelompok/pokja potensial dalam upaya pemberantasan tempat perindukan vektor 105 105 100,00
2.
penyakit di pemukiman penduduk dan sekitarnya
3. Desa / lokasi potensial yang mendapat intervensi pemberantasan vektor Penyakit Menular 6 6 100,00

3. Kesehatan Ibu Dan Anak Termasuk Keluarga Berencana


Program ini bertujuan untuk menurunkan Angka Kematian Ibu
(AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB). Adapun indikator yang harus
dicapai dalam program ini, target serta pencapaian program adalah
sebagaimana tercantum dalam tabel dibawah ini.
Tabel 4. 16 Capaian Target Kinerja Program KIA Puskesmas Pontap Tahun
2018

Profil Kesehatan Puskesmas Pontap Tahun 2018 Page | 28


TARGET PENCA
NO JENIS KEGIATAN %
SASARAN PAIAN

III. KESEHATAN IBU DAN ANAK TERMASUK KELUARGA BERENCANA


A. Kesehatan Ibu 103,76
1. Pelayanan Kesehatan Ibu Hamil (K4) 445 468 105,17
2. Ibu hamil dengan komplikasi yang ditangani 51 51 100,00
3. Persalinan Ibu di fasilitas pelayanan kesehatan Pelayanan persalinan oleh tenaga kesehatan (100 %) 425 446 104,94
4. Cakupan Pelayanan Ibu Nifas lengkap sesuai standar KN3 425 446 104,94
B. Kesehatan Bayi 104,82
1. Cakupan Neonatus dengan komplikasi yg ditangani. 40 40 100,00
2. Cakupan Kunjungan bayi . 404 481 119,06
3. Pelayanan Kesehatan Bayi Baru Lahir (Neonatus) (< 20% ) 425 426 100,24
4. Cakupan BBLR ditangani 6 6 100,00
C. Upaya Kesehatan Balita dan Anak Pra Sekolah 89,41
1. Pelayanan Kesehatan Balita ( 90% ----2010)) 1856 1262 68,00
2. Pelayanan deteksi dan stimulasi dini tumbuh kembang Balita ( Kontak Pertama ) 425 426 100,24
3. Pelayanan deteksi dan stimulasi dini tumbuh kembang Anak Pra sekolah 1262 1262 100,00
D. Upaya Kesehatan Anak Usia Sekolah dan Remaja #REF!
1. Penjaringan siswa Pendidikan Dasar guru UKS / dokter kecil. ( 100% ---- 2010) ( sasaran = murid Kls 1SD/MI ) 731 731 100,00
2. Pelayanan Kesehatan anak sekolah dasar oleh nakes/tenaga terlatih/Guru UKS/Dokter Kecil 0 0 0,00
3. Cakupan pelayanan kesehatan remaja 93 93 100,00
E. Pelayanan Keluarga Berencana #REF!
1. Keluarga mengikuti program Keluarga Berencana (65 %) 4045 2798 69,17
2. Akseptor aktif MKET di Puskesmas 2379 2379 100,00
3. Akseptor MKET dengan komplikasi 0 0 0
4. Akseptor MKET dengan kegagalan 0 0 0

4. Upaya Perbaikan Gizi Masyarakat


Capaian program gisi di Puskesmas Pontap seperti terlihat pada grafik
di bawah ini :
Tabel 4.36 Indikator Kinerja Upaya Perbaikan Gizi Masyarakat
di Wilayah Kerja Puskesmas Pontap Tahun 2018

TARGET PENCA
NO JENIS KEGIATAN %
SASARAN PAIAN

IV. UPAYA PERBAIKAN GIZI MASYARAKAT


1. Bayi dan Balita 6-24 bulan mendapat MP-ASI 287 287 100,00
2. Balita gizi buruk mendapat perawatan. (100 % ----2010) 0 0 0,00
3. Bayi mendapat ASI Ekslusif (100 %) 53 37 69,81
4. Cakupan Pemberian Kapsul Vitamin A Balita dan Tablet Besi Bumil : 102,35
a Pemberian Kapsul vitamin A 425 444 104,47
b Pemberian tablet besi ( 90 tablet ) pada Ibu hamil. (90% ----- 2010) 445 446 100,22
5. Pemantauan Pertumbuhan Balita: 96,24
a Balita naik berat badannya, ( N/D ) (80% ------ 2010) ( sasaran = Balita yg ditimbang ) 1262 1167 92,47
b. Balita bawah garis merah. (Balita BGM / D ) ( < 15% ). 25 25 100,00

Kegiatan Program Gizi


1) Penyuluhan Gizi Masyarakat
Penyuluhan gizi masyarakat adalah suatu upaya dalam rangka
memasyarakatkan pengetahuan gizi secara luas guna meningkatkan

Profil Kesehatan Puskesmas Pontap Tahun 2018 Page | 29


pengetahuan gizi menanamkan sikap dan perilaku yang mendukung
kebiasaan hidup sehat dengan makan makanan yang bermutu gizi
seimbang. Tujuan dari penyuluhan gizi adalah :
1) Meningkatkan pemahaman masyarakat tentang perilaku gizi yang
baik melalui pemasaran Pedoman Umum Gizi Seimbang (PUGS)
2) Meningkatkan partisipasi masyarakat dalam kegiatan peningkatan
gizi
3) Tercapainya konsumsi energi 2.000 Kkal/orang dan konsumsi protein 52
gram/orang/hari.

Sasaran penyuluhan Gizi adalah seluruh masyarakat terutama :Ibu


hamil, ibu nifas, Ibu menyusui, Ibu balita, Wanita usia subur, Anak usia
sekolah dan remaja. Kegiatan penyuluhan dilakukan secara periodik dan
terjadwal seperti di posyandu setiap kegiatan penimbangan. Materi yang
diberikan berupa : PedomanUmum Gizi Seimbang (PUGS) dan Tiga
Belas Pesan Dasar Gizi Seimbang; ASI Eksklusif dan Makanan
Pendamping ASI (MP-ASI); Makanan Ibu Hamil dan Ibu Menyusui;
Pemasyarakatan Garam Beryodium; Pemasyarakatan Bahan
Makanan Sumber Vitamin A dan Zat Besi; Penyebab dan tanda-tanda
kelainan gizi.
2) Pemantauan Pertumbuhan Balita
Pemantauan pertumbuhan anak Balita dilakukan melalui
pelayanan gizi di Posyandu (penimbangan Balita, pemberian paket
pertolongan gizi, pelayanan terpadu, PMT baik pemulihan maupun
penyuluhan) :
1) Pemantauan pertumbuhan dilakukan disemua posyandu setiap bulan
2) Kegiatan dilakukan dengan sistem 5 meja dan dilakukan secara terpadu
3) Berat Badan (BB Balita) ditulis dalam KMS atau Buku KIA kalau ada dan
dicatat dalam laporan SIP.
3) Penanggulangan Kekurangan Vitamin A
Penanggulangan kekurangan Vitamin A adalah kegiatan
menurunkan prevalensi kekurangan Vitamin A melalui upaya
meningkatkan konsumsi vitamin A melalui sumber vitamian A dan
suplementasi kapsul vitamin A dosis tinggi.
Tujuannya adalah :
1) Mencegah kekurangan Vitamin A
2) Menurunkan prevalensi kekurangan vitamin A pada anak balita

Profil Kesehatan Puskesmas Pontap Tahun 2018 Page | 30


3) Meningkatkan cakupan vitamin A pada ibu nifas
Sasaran pemberian kapsul vitamin Vitamin A :
1) Bayi yaitu bayi berumur 6 – 11 bulan baik sehat maupun sakit dosis
1 kapsul Vitamin A 100.000 SI yang berwarna biru dan diberikan
sekali serentak bulan Pebruari dan Agustus.
2) Anak balita yaitu semua anak berumur 1 – 5 tahun baik sehat maupun sakit
dengan dosis 1 kapsul vitamin A 200.000 SI yang berwarna merah setiap 6 bulan
dan diberikan serentak bulan Pebruari dan Agustus
3) Ibu nifas yaitu semua ibu baru melahirkan (masa nifas) sehingga bayinya
akan memperoleh vitamin A yang cukup melalui ASI dengan dosis 1 kapsul
Vitamin A 200.000 SI diberikan 2 kali paling lambat 30 hari setelah melahirkan.
4) Kejadian tertentu yaitu bayi dan balita yang menderita campak, pneumonia,
diare dan gizi buruk segera diberikan kembali kapsul vitamin A sesuai umur dan
dosis yang dianjurkan
4) ASI Eksklusif
ASI Eksklusif adalah memberikan ASI (Air Susu Ibu) saja dari
bayi umur 0-6 bulan tanpa memberikan makanan dan atau minuman lain
kecuali sirup obat. Pemberian ASI secara Ekslusif dapat menurunan
angka kematian bayi dan sekaligus meningkatkan status gizi masyarakat
menuju tercapainya kwalitas sumberdaya manusia yang memadai.
Tujuan dari kegiatan ini adalah sebagai berikut :
1) Diperoleh peningkatan pengetahuan dan kemampauan petugas
kesehatan di tingkat Puskesmas dalam upaya meningkatkan
penggunaan ASI di masyarakat.
2) Diperolehnya perubahan perilaku gizi masyarakat untuk selalu
memberikan ASI secara eksklusif kepada bayinya sampai umur 6
bulan.
3) Diperolehnya peningkatan angka ASI Eksklusif secara nasional
menjadi 80%.
Untuk mencapai tujuan tersebut diperlukan kegiatan sebagai
berikut yaitu pengamatan situasi dilakukan melalui pengumpulan data
pencapaian ASI eksklusif, latar belakang budaya setempat, sumber daya
dan saran di Puskesmas dan kelompok potensial.
• E0 = ASI diberikan begitu bayi lahir
• E1 = Bayi mendapat ASI saja sampai 1 bulan setelah lahir
• E2 = Bayi mendapat ASI saja sampai 2 bulan setelah lahir
• E3 = Bayi mendapat ASI saja sampai 3 bulan setelah lahir

Profil Kesehatan Puskesmas Pontap Tahun 2018 Page | 31


• E4 = Bayi mendapat ASI saja sampai 4 bulan setelah lahir
• E5 = Bayi mendapat ASI saja sampai 5 bulan setelah lahir
• E6 = Bayi mendapat ASI saja sampai 6 bulan setelah lahir (ASI
Ekslusif)
Pemantauan pelaksanaan Asi Eksklusif 57 bayi yang
mendapatkan ASI saja, yang lulus ASI eksklusif 6 bayi. Beberapa hal
yang menyebabkan bayi tidak lulus ASI Eksklusif adalah keadaan sosial
ekonomi keluarga yang tidak mendukung seperti ibu-ibu yang harus
bekerja baik di swasta maupun pemerintah untuk membantu kebutuhan
ekonomi keluarga. Sehingga tidak mungkin ibu-ibu yang melahirkan
diberikan cuti bersalin lebih dari 3 bulan. Kadang-kadang diberikan cuti
1 – 2 bulan kecuali harus berhenti bekerja, sehinga keseringan bayi di
asuh oleh kakek dan neneknya ketika ibu bekerja. Rencana Tindak lanjut
adalah penyuluhan langsung pada ibu nifas dan meningkatkan
penyuluhan dalam gedung pada ibu balita saat imunisasi dan di
posyandu.
5) Penanggulangan GAKY
Masalah GAKY merupakan salah satu masalah gizi yang cukup
serius. Kekurangan zat yodium dalam jangka waktu tertentu akan dapat
menimbulkan gangguan bagi perkembangan fisik dan keterbelakangan
mental, penurunan kecerdasan yang berpengaruh terhadap kualitas
sumber daya manusia (SDM) dalam rangka upaya penanggulangan
masalah GAKY tersebut program yang digalakkan adalah melalui
program jangka panjang yaitu distribusi garam beryodium dengan kadar
30-80 ppm untuk mencapai sasaran garam beryodium untuk semua,
maka pola pemasyarakatan konsumsi garam beryodium secara
berkelanjutan dan menyeluruh. Tujuannya adalah untuk :
1) Mencegah timbulnya kasus kretin balita
2) Menurunkan prevalensi gondok endemik total (TGR)
3) Iodisasi garam secara nasional melalui iodisasi semua garam beryodium

Kegiatan yang dilaksanakan yaitu pemetaan penggunaan garam


beryodium untuk memperoleh gambaran berkala tentang cakupan
konsumsi garam beryodium yang memenuhi syarat di masyarakat
sehingga mendapatkan gambaran. Konsumsi garam beryodium di
tingkat desa dengan pengujian garam:
1) Bentuk garam yang digunakan ditingkat masyarakat

Profil Kesehatan Puskesmas Pontap Tahun 2018 Page | 32


2) Tempat pembelian garam yang digunakan di masyarakat
3) Ada/tidaknya merk dagang produsen garam yang dikonsumsi masyarakat
6) Penanggulangan Anemia (terintegrasi dengan Kegiatan Kesehatan Ibu)
Penanggulangan anemia pada balita :
1) Diberikan sirup besi kepada bayi umur 6 – 12 bulan, sehari ½
sendok takar (2,5 ml) berturut-turut selama 60 hari.
2) Pada bayi yang lahir BBLR pemberian sirup besi dimulai saat
berumur 5 bulan.
3) Diberikan sirup besi kepada anak balita 1 – 5 tahun, sehari 1
sendok takar (5 ml) berturutturut selama 60 hari.
4) Penanggulangan anemia pada anak usia sekolah, diberikan 1 tablet
setiap minggu selama 3 bulan.
5) Penanggulangan anemia pada WUS (Ibu hamil, ibu nifas, remaja
putri dan pekerja wanita).
6) • Bumil/nifas dianjurkan minum tablet tambah darah dengan dosis 1
tablet (yang mengandung 60 mg besi elemental dan 0,25 mg asam
folat/sesuai rekomendasi WHO) setiap hari selama masa
kehamilannya dan 42 hari setelah melahirkan (minimal 90 tablet).
7) Remaja putri dan pekerja wanita dianjurkan minum tablet tambah
darah dengan dosis 1 tablet setiap minggu dan 1 tablet setiap hari
pada saat haid (minimal 10 tablet setiap bulan) yang dilakukan
secara kontinyu.
5. Upaya Pencegahan Dan Pemberantasan Penyakit Menular
Capaian program upaya pencegahan dan pemberantasan penyakit
menular di Puskesmas Pontap seperti terlihat pada grafik di bawah ini :

Profil Kesehatan Puskesmas Pontap Tahun 2018 Page | 33


TARGET PENCA
NO JENIS KEGIATAN %
SASARAN PAIAN

V. UPAYA PENCEGAHAN DAN PEMBERANTASAN PENYAKIT MENULAR


A. Penemuan penderita pneumonia balita
1. Cakupan balita dengan pneumonia yang ditangani ( 100% ---- 2010) 0 0 0,00
B. Pelayanan Kesehatan orang dengan TB
1. Pengobatan penderita TB Paru ( DOTS ) BTA positif 23 23 100,00
2. Pengobatan penderita TB Paru ( DOTS ) BTA negatif Rontgen positif 34 34 100,00
3. Penderita TB Paru yang berobat sesuai standar (100%) 23 23 100,00
C. Pelayanan Imunisasi
1 Cakupan Desa/Kelurahan Universal Child Immunization (UCI) (100% ----2010) 6 6 100,00
2 Bayi mendapatkan imunisasi dasar lengkap (100 %) 404 466 115,35
3 Imunisasi DT pada anak kelas 1 SD 681 598 87,81
4 Imunisasi TT pada anak SD kelas 2 & 3 649 594 91,53
D PENYELIDIKAN EPIDEMIOLOGI DAN PENANGGULANGAN KLB
1 Cakupan Desa/Kelurahan mengalami KLB yang dilakukan epidemiologo < 24 jam (100% ---2015) 6 6 100,00
E Cakupan Pelayanan P2M Lainnya :
1 KUSTA
a. Penemuan tersangka penderita Kusta oleh kader 1 1 100,00
b. Pengobatan Penderita Kusta 1 1 100,00
c. Pemeriksaan Kontak Penderita 1 1 100,00
2 Demam Berdarah Dengue (DBD)
a. Penderita DBD yang ditangani (80%) 17 17 100,00
b. Angka Bebas Jentik ( ABJ ) 1343 1202 89,50
c. Cakupan Penyelidikan Epidemiologi ( PE ) 17 17 100,00
3 Diare
a. Balita dengan diare yang ditangani (100%) 135 135 100,00
b. Penemuan Kasus diare di Puskesmas oleh Kader 0 0 0,00
c. Kasus Diare ditangani oleh Puskesmas dan Kader dengan oral rehidrasi 0 0 0,00
d. Kasus Diare ditangani dengan Rehidrasi intravena 0 0 0,00
4 PMS dan HIV/AIDS
a. Kasus PMS dan HIV/AIDS yang diobati / ditangani (100%) 0 0 0,00
b. Kasus PMS yang diobati 0 0 0,00
c. Klien yang mendapat penaganan HIV/AIDS 0 0 0,00
5 Penderita Hipertensi berobat secara teratur (100 %) 62 62 100,00
6 Pelayanan Kesehatan Penderita DM 18 18 100,00
7. Malaria *)
a. Pemeriksaan Sediaan Darah ( SD ) pada penderita Malaria Klinis *) 14 14 100,00
e. Sasaran ibu hamil (K1) yang discreening malaria dengan miroskop RDT 381 381 100,00

a. Pelayanan Imunisasi
Untuk menurunkan angka kesakitan, kematian dan kecacatan
bayi serta balita dilaksanakan program imunisasi. Beberapa penyakit
yang dpat dicegah dengan imunisasi dasar diantaranya tuberkulose,
dipteri, pertusis, tetanus, hepatitis, polio dan campak.
b. Program Pemberantasan Penyakit Tuberkulosa Paru (TB Paru)
c. Program Pemberantasan Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD)
Pencapaian program penanggulangan penyakit demam berdarah
belum maksimal. Hal ini mungkin disebabkan karena tidak aktifnya
pokja DBD ditingkat kecamatan dan desa/kelurahan, kurangnya
kesadaran masyarakat dalam memberantas sarang nyamuk serta
kurangnya penyuluhan kepada masyarakat tentang penyakit DBD.
d. Surveilens
Terdapat berbagai pengertian surveilans. Menurut WHO (2004),
surveilans merupakan proses pengumpulan, pengolahan, analisis dan
interpretasi data secara sistemik dan terus menerus serta penyebaran
informasi kepada unit yang membutuhkan untuk dapat mengambil
tindakan. Berdasarkan definisi diatas dapat diketahui bahwa surveilans
adalah suatu kegiatan pengamatan penyakit yang dilakukan secara terus
menerus dan sistematis terhadap kejadian dan distribusi penyakit serta

Profil Kesehatan Puskesmas Pontap Tahun 2018 Page | 34


faktor-faktor yang mempengaruhi nya pada masyarakat sehingga dapat
dilakukan penanggulangan untuk dapat mengambil tindakan efektif.
6. Pemberantasan Penyakit Diare
Program ini bertujuan untuk menurunkan angka kesakitan dan
kematian karena diare terutama pada bayi dan anak balita. Sasarannya
adalah kelompok masyarakat/ perorangan di wilayah kerja Puskesmas
Selemadeg Barat dan diprioritaskan pada desa yang tingkat pemakaian
sarana kesehatan / higiene perorangan dan kesehatan lingkungannya masih
rendah.
7. Pencegahan dan Penanggulangan IMS, HIV /AIDS
HIV atau singkatan dari Human Immunodeficiency Virus adalah virus
yang menyerang sistem kekebalan tubuh manusia dan melemahkan
kemampuan tubuh kita untuk melawan segala penyakit yang dating. HIV
menyerang dan menghancurkan sistem kekebalan sehingga tubuh tidak
mampu melindungi diri. Berbagai infeksi yang biasanya tidak berbahaya
menjadi ancaman bagi kehidupan.
AIDS singkatan dari Acquired Immune Deficiency Syndrome adalah
sekumpulan gejala penyakit yang didapat akibat menurunnya sistem
kekebalan tubuh manusia yang disebabkan oleh virus HIV. Penderita AIDS
meninggal bukan semata-mata disebabkan oleh virus, akan tetapi oleh
penyakit lain yang biasanya tidak terlalu berbahaya menjadi mematikan
karena sistem kekebalan tubuh kita sudah tidak berfungsi lagi. IMS
merupakan infeksi yang menular melalui hubungan seksual. Pada laki-laki
gejala IMS lebih mudah dikenali, namun pada wanita sebagian besar tidak
menimbulkan gejala dan cenderung menjadi sumber penularan IMS ini.
Capain Kinerja Pencegahan dan Penanggulangan IMS, HIV/AIDS
8. Pemberantasan Penyakit Kusta
Penyakit kusta adalah penyakit menular yang menahun, disebabkan
oleh kuman mycobacterium leprae yang terutama menyerang syaraf tepi,
kulit dan organ tubuh lain kecuali susunan saraf pusat. Penyakit ini dapat
menyerang siapa saja dengan tanda-tanda khas (kulit dengan bercak putih
seperti panu atau kemerahan disertai mati rasa).
9. Pemberantasan Penyakit Malaria
Pelacakan dan Penemuan Kasus Malaria secara dini dilakukan
dengan pengambilan darah ACD dan PCD.

Profil Kesehatan Puskesmas Pontap Tahun 2018 Page | 35


10. Pemberantasan Kecacingan
Kecacingan merupakan penyakit infeksi yang disebabkan oleh parasit
berupa cacing. Dimana dapat terjadi infestasi ringan maupun infestasi berat.
Infeksi kecacingan adalah infeksi yang disebabkan oleh cacing kelas
nematode usus khususnya yang penularan melalui tanah, diantaranya
Ascaris lumbricoides, Trichuris trichiura, dan cacing tambang
(Ancylostoma duodenale dan Necator americanus) dan Strongyloides
stercoralis. Cacingan adalah penyakit yang disebabkan oleh adanya infeksi
cacing usus (soil transmitted helmithes) di dalam tubuh manusia.
B. Upaya Kesehatan Pengembangan
1. Upaya Kesehatan Usia Lanjut
Capaian program upaya usia lanjut di Puskesmas Pontap seperti
terlihat pada grafik di bawah ini :
TARGET PENCA
NO JENIS KEGIATAN %
SASARAN PAIAN

II. Upaya Kesehatan Usia Lanjut


1. Cakupan pelayanan kesehatan pra usila & usila (70 % ----- 2010) 1800 1800 100,00
2. Pembinaan Kelompok Usia Lanjut sesuai Standar 13 13 100,00
3. Pemantauan Kesehatan pada anggota kelompok Usia Lanjut yang dibina sesuai standar 1800 1800 100,00

2. Pelayanan Kesehatan Indra


Capaian program upaya Kesehatan Mata / Pencegahan Kebutaan di
Puskesmas Pontap seperti terlihat pada tabel di bawah ini :
TARGET PENCA
NO JENIS KEGIATAN %
SASARAN PAIAN

III. Upaya Kesehatan Mata / Pencegahan Kebutaan


1. Penemuan kasus penyakit mata di puskesmas 98 98 100,00
2. Penemuan kasus buta katarak pada usia > 45 tahun 13 13 100,00
3. Penemuan Kasus di masyarakat dan Puskesmas, melalui pemeriksaan virus / refraksi 0 0 0
4. Pelayanan operasi katarak di Puskesmas 0 0 0

Upaya yang dilakukan dalam program kesehatan indra adalah


a. penyuluhan kesehatan mata, katarak dan penyakit mata lainnya di
posyandu, puskel, safari kesehatan.
b. Pemeriksaan /penjaringan pada TK dan SD.
c. Pemeriksaan dan pengobatan pada pasien di Puskesmas dan Posyandu.
d. Merujuk pasien dengan kelainan refrasi, katarak, hordeulum dan
lainnya.
Tujuan program : Meningkatkan kesehatan mata, upaya pencegahan
agar tidak terjadi berkembang menjadi lebih buruk.
3. Upaya Kesehatan Telinga / Pencegahan Gangguan Pendengaran
Capaian program upaya Upaya Kesehatan Telinga / Pencegahan
Gangguan Pendengaran di Puskesmas Pontap seperti terlihat pada tabel di
bawah ini :

Profil Kesehatan Puskesmas Pontap Tahun 2018 Page | 36


TARGET PENCA
NO JENIS KEGIATAN %
SASARAN PAIAN

IV. Upaya Kesehatan Telinga / Pencegahan Gangguan Pendengaran


1. Penemuan kasus dan rujukan spesialis di Puskesmas melalui pemeriksaan fungsi pendengaran 56 56 100,00
2. Pelayanan tindakan / operatif oleh spesialis di Puskesmas 0 0 0
3. Kejadian komplikasi operasi 0 0 0

4. Kesehatan Jiwa
Capaian program jiwa di Puskesmas Pontap seperti terlihat pada
grafik di bawah ini
TARGET PENCA
NO JENIS KEGIATAN %
SASARAN PAIAN

V. Kesehatan Jiwa
1. Penderita gangguan jiwa berat, diobati dan tidak diterlantarkan (100 %) 26 26 100,00
2. Pemberdayaan kelompok masyarakat khusus dalam upaya penemuan dini & rujukan kasus gangguan jiwa 0 0 0
3. Penemuan dan penanganan kasus gangguan perilaku, gangguan jiwa,masalah Napza,dll,dari rujukan 0 0 0
4. Penanganan kasus kesehatan jiwa, melalui rujukan ke RS / Spesialis 6 6 100,00
5. Deteksi dan penanganan kasus jiwa (gangguan perilaku, gangguan jiwa,gangguan psikosomatik,masalah 20 20 100,00

Tujuan program adalah untuk mengatasi masalah kesehatan jiwa


sehingga dapat dilakukan upaya pencegahan baik mencegah agar tidak
terjadi maupun mencegah agar tidak berkembang menjadi lebih buruk.
Kegiatan yang dilaksanakan :
a. Penyuluhan pada masyarakat umum melalui posyandu, safari kesehatan,
perorangan dan keluarga pasien, pertemuan lintas sektoral penemuan
pasien
b. Pengobatan dan rujukan pasien
c. Kunjungan rumah Pencatatan dan pelaporan
5. Kesehatan Olah Raga
Capaian program kesehatan olah raga di Puskesmas Pontap seperti
terlihat pada grafik di bawah ini
TARGET PENCA
NO JENIS KEGIATAN %
SASARAN PAIAN

VI. Kesehatan Olah Raga


1. Pemberdayaan masyarakat melalui pelatihan kader 0 0 0,00
2. Pembinaan kelompok potensial / klub dalam kesehatan Olah Raga 10 10 100,00
3. Pemeriksaan kesegaran jasmani anak sekolah 731 731 100,00
4. Pemeriksaan kesegaran jasmani pada atlet 0 0 0,00

Upaya kesehatan olah raga adalah salah satu upaya kesehatan yang
bertujuan untuk meningkatkan derajat kesehatan dan kebugaran jasmani
melalui aktivitas fisik dan atau olah raga. Dalam rencana pembangunan
kesehatan menuju Indonesia Sehat 2010, program kesehatan olahraga
merupakan salah satu program dari pokok program prilaku hidup sehat dan
pemberdayaan masyarakat. Kesehatan olahraga telah ditetapkan sebagai
salah satu indikator keberhasilan Prilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS).
Kesehatan Olahraga (Kesorga) merupakan program pengembangan yang
memiliki kegiatan cukup banyak, dan dilaksanakan di masing-masing wilayah
desa di wilayah kerja Puskesmas Selemadeg Barat.
6. Pencegahan dan Penanggulangan Penyakit Gigi

Profil Kesehatan Puskesmas Pontap Tahun 2018 Page | 37


Capaian program Pencegahan dan Penanggulangan Penyakit Gigi di
Puskesmas Pontap seperti terlihat pada grafik di bawah ini
TARGET PENCA
NO JENIS KEGIATAN %
SASARAN PAIAN

VII. Pencegahan dan Penanggulangan Penyakit Gigi


1. Pembinaan kesehatan gigi di Posyandu 19 19 100,00
2. Pembinaan kesehatan gigi pada TK 12 12 0,00
3. Pembinaan dan bimbingan sikat gigi massal pada SD / MI 11 11 0,00
4. Perawatan kesehatan gigi pada SD /MI UKGS tahap III 11 11 100,00
5. Murid SD/MI mendapat perawatan kesehatan gigi UKGS tahap III 731 731 100,00
6. Gigi tetap yang dicabut 106 106 100,00
7. Gigi tetap yang ditambal permanen 18 18 0,00

7. Perawatan Kesehatan Masyarakat


Capaian program kesehatan masyarakat di Puskesmas Pontap
seperti terlihat pada grafik di bawah ini

TARGET PENCA
NO JENIS KEGIATAN %
SASARAN PAIAN

VIII. Perawatan Kesehatan Masyarakat


1. Kegiatan asuhan keperawatan pada keluarga 36 36 100,00
2. Kegiatan asuhan keperawatan pada kelompok masyarakat ……………….. ……………….. ………………..
3. Pemberdayaan dalam upaya kemandirian pada keluarga lepas asuh 36 36 100,00
4. Pemberdayaan dalam upaya kemandirian pada kelompok lepas asuh ……………….. ……………….. ………………..

8. Bina Kesehatan Tradisional


Pengembangan kesehatan tradisional di pukesmas ditekankan pada
upaya promotif dan preventif dengan pemberdayaan masyarakat melalui
pemanfaatan TOGA dan akupresur. hal ini sejalan dengan indikator rencana
strategis (RENSTRA) Kementerian Kesehatan di bidang Pelayanan
Kesehatan Tradisional, alternatif dan komplementerer tahun 2015-
2019.Capain Program Pelayanan Kesehatan Tradisional Komplementer
dapat dilihat pada tabel dibawah ini :
TARGET PENCA
NO JENIS KEGIATAN %
SASARAN PAIAN

IX. Bina Kesehatan Tradisional


1. Pembinaan TOGA dan pemanfaatannya pada sasaran masyarakat 8 8 100,00
2. Pembinaan pengobatan Tradisional yang menggunakan tanaman obat 8 8 100,00
3. Pembinaan pengobatan Tradisional dengan keterampilan 8 8 100,00
4. Pembinaan pengobatan Tradisional lainnya 0 0 0,00

Tanaman obat keluarga merupakan beberapa jenis tanaman obat


pilihan yang ditanam di pekarangan rumah atau lingkungan sekitar rumah.
Tanaman obat yang dipilih biasanya tanaman obat yang dapat digunakan
untuk pertolongan pertama atau obat – obat ringan seperti deman dan batuk.
Tanaman obat yang sering ditanam di pekarangan rumah antara lain sirih,
kunyit, temulawak, kumis kucing, sambiloto, dan lain – lain
Dalam upaya meningkatkan kesadaran masyarakat tentang
pentingnya membudiyakan tanaman obat keluarga akan terus dilaksanakan
penyuluhan dan pembinaan kepada keluarga dalam wilayah Puskesmas
Pontap.

Profil Kesehatan Puskesmas Pontap Tahun 2018 Page | 38


9. Bina Kesehatan Kerja
Capaian program bina kesehatan kerja di Puskesmas Pontap seperti
terlihat pada grafik di bawah ini

TARGET PENCA
NO JENIS KEGIATAN %
SASARAN PAIAN

X. Bina Kesehatan Kerja


1. Pelayanan Kesehatan Kerja Formal :
a. Cakupan Pelayanan kesehatan kerja pada pekerja formal (80% --- 2010) 0 0 0,00
2. Pelayanan Kesehatan Kerja Non Formal :
a. Pos UKK berfungsi dengan baik 2 2 100,00
b. Pos UKK menuju SIMASKER 2 2 100,00
c. Pelayanan Kesehatan oleh tenaga kesehatan pada pekerja di pos UKK 96 96 100,00

Upaya pelayanan yang diberikan kepada masyarakat pekerja secara


minimal dan paripurna meliputi upaya peningkatan kesehatan kerja,
pencegahan, penyembuhan dan pemulihan PAK, PAHK, KAK oleh institusi
pelayanan kesehatan kerja dasar. Adapun kendala yang dihadapi dalam
pelaksanaan program yaitu :
a. Kesulitan mengumpulkan para pekerja
b. Waktu yang diberikan perusahaan terutama dalam memberikan
penyuluhan dan pemeriksaan kesehatan terbatas
c. Pemeriksaan yang sudah dijadwalkan terkadang tidak terlaksana karena
kesibukan dari pekerja tersebut
d. Keterbatasan SDM yang dimiliki
C. Upaya Kesehatan Perorangan, Kefarmasian dan Laboratorium
1. Pelayanan Pemeriksaan Umum
Upaya pelayanan kesehatan dalam gedung yang dilaksanakan di
Puskesmas Pontap meliputi pelayanan rawat Jalan dan rencananya akan
diadakan rawat inap juga.
2. Pelayanan Kesehatan gigi dan Mulut
Unit pelayanan yang menangani pemeriksaan dan perawatan gigi
dengan jenis-jenis pelayanan seperti: ekstraksi gigi, pembersihan plak dan
karang gigi, penambalan gigi dan pemeliharaan gigi. Unit ini dilengkapi
dengan satu dental unit yang ditangani oleh dua orang dokter gigi dan dua
orang perawat gigi.
3. Pelayanan KIA/KB yang bersifat UKP
a. Pemeriksaan Ibu hamil :
Pelayanan KIA di Puskesmas Pontap memiliki pelayanan dalam
gedung diantarnya:
1) Pelayanan ANC terpadu diberikan oleh tenaga kesehatan yang
kompeten yang meliputi

Profil Kesehatan Puskesmas Pontap Tahun 2018 Page | 39


a) Anamnesa
b) Pemeriksaan : fisik (umum/kebidanan) psikologis (kejiwaan) ibu
hamil dan lab (atas indikasi)
c) Penanganan dan tindak lanjut kasus (sesuai risiko yg ada) 2)
Standar pelayan minimal Ibu hamil :
a) Timbang BB dan ukur TB
b) Ukur LILA
c) Ukur Tekanan darah
d) Ukur Tinggi fundus uteri
e) Hitung denyut jantung janin (DJJ)
f) Tentukan presentasi janin
g) Pemberian imunisasi TT lengkap
h) Pemberian Tablet besi minimal 90 tablet selama kehamilan
i) Permeriksaan lab rutin dan khusus(PMS)
j) Tatalaksana/ penanganan kasus
2) KIE Efektif (Temu wicara/konseling) termasuk Program
Perencanaan Persalinan dan Pencegahan Komplikasi (P4K) dan KB
pasca persalinan
3) Pemeriksaan laboratorium rutin ibu
4) Pertolongan persalinan normal dan mampu PONED di Puskesmas
Pontap
5) Pelayanan Ibu Nifas meliputi : Pemeriksaan TD, Nadi, Respirasi,
suhu, Pemeriksaan tinggi FU (involusi uterus), Pemeriksaan lokhia
dan pengeluaran pervaginam lainnya. Pemeriksaan payudara dan
anjuran ASI eksklusif 6 bln, Pemberian kapsul vit A 200.000 IU 2x
(sgr stlh melahirkan dan 24 jam berikutnya), Pelayanan KB pasca
salin
6) Penanganan Neonatal
4. MTBS
MTBS Program mencakup manajemen terpadu bayi muda umur 1
hari- 2 bulan, baik dalam keadaan sehat maupun sakit. Pengembangan
pendekatan MTBS adalah keterpaduan pelayanan tidak hanya kuratif saja,
namun sekaligus pelayanan preventif seperti imunisasi, pemberian Vit A,
menilai dan memperbaiki cara pemberian ASI serta memberikan konseling
kepada ibu tentang cara merawat dan mengobati anak sakit di rumah.

Profil Kesehatan Puskesmas Pontap Tahun 2018 Page | 40


5. Pelayanaan Kegawat Daruratan
Unit pelayanan ini menangani kasus-kasus yang bersifat kegawat
daruratan, yang terdiri dari kasus darurat bedah dan darurat non bedah. Unit
ini ditangani oleh satu orang dokter umum dan 3 orang perawat dan bidan.
Untuk menunjang kinerja dan kelancaran pelayanan selama 24 jam.
6. Pengobatan
Obat dan perbekalan kesehatan merupakan sarana penunjang
keberhasilan pelayanan kesehatan khususnya penyembuhan penyakit.
Kedudukan obat dalam pelayanan kesehatan sangat penting, karena itu
jumlah persediaan, distribusi dan pelayanan obat diharapkan menjangkau
seluruh lapisan masyarakat Penyediaan kebutuhan obat dan perbekalan di
puskesmas selama ini dilakukan oleh dinas kesehatan kabupaten.
Disamping itu puskesmas juga menganggarkan dana untuk kebutuhan obat-
obatan bila pemenuhan obat-obatan dari dinas kesehatan kurang sesuai
dengan kebutuhan dari Puskesmas
Capaian program pengobatan di Puskesmas Pontap seperti terlihat
pada tabel di bawah ini
TARGET PENCA
NO JENIS KEGIATAN %
SASARAN PAIAN

VI. UPAYA PENGOBATAN


A. Pengobatan
1. Cakupan pelayanan kesehatan dasar masyarakat miskin ( 100% ------ 2015) (kunj. Lama + Baru) 15107 15107 100,00
2. Kunjungan rawat jalan
a. Rawat jalan umum (15% ------ 2010) (kunj.baru) 135 135 100,00
b. Rawat jalan gigi. ( 4% ) (kunj.baru +lama) 2556 2556 100,00

7. Pemeriksaan Laboratorium
Laboratorium merupakan penunjang dalam upaya menentukan
diagnose penyakit pasien secara tepat dan akurat. Tindakan atau treatment
medis yang akan diberikan kepada pasien sangat mempertimbangkan hasil
laboratorium yang diperoleh. Jenis-jenis pemeriksaan laboratorium yang
dapat dilaksanakan di Puskesmas Pontap terdiri dari : pemeriksaan kimia
klinik dan pemeriksaan rutin.
Pemeriksaan laboratorium merupakan salah satu pemeriksaan
penunjang untuk memperkuat penegakkan diagnosa suatu penyakit.
Pemeriksaan laboratorium yang dapat dilakukan di Puskesmas Pontap
meliputi pemeriksaan darah, urine, kimia darah, gula darah, darah mal dan
BTA.Jenis dan jumlah pemeriksaan laboratorium yang dapat dilakukan di
Puskesmas Selemadeg Baratdapat dilihat pada tabel berikut
Capaian pemeriksaan laboratorium di Puskesmas Pontap seperti
terlihat pada tabel di bawah ini

Profil Kesehatan Puskesmas Pontap Tahun 2018 Page | 41


TARGET PENCA
NO JENIS KEGIATAN %
SASARAN PAIAN

B. Pemeriksaan Laboratorium *) #REF!


1. Pemeriksaan Hemoglobin pada ibu hamil (∑ Bumil …..) 91 91 100,00
2. Pemeriksaan sputum TB ( Target = 21 / 1000 x jlh pddk ) 53 53 100,00
3. Pemeriksaan Hemoglobin pada Ibu Hamil 1 1 100,00
4. Pemeriksaan darah trombosit tersangka DBD 4 4 100,00
5. Pemeriksaan darah malaria 14 14 100,00
6. Pemeriksaan test kehamilan 65 65 100,00
7. Pemeriksaan Spetum TB 53 53 100,00
8. Pemeriksaan Urine Protein pada ibu Hamil 55 55 100,00

D. Kegiatan manajemen puskesmas


1. Manajemen operasional puskesmas
Capaian manajemen operasional di Puskesmas Pontap seperti terlihat
pada grafik di bawah ini
NO JENIS VARIABEL SKALA 1 SKALA 2 SKALA 3 NILAI
NILAI = 4 NILAI = 7 NILAI = 10 HASIL
1. Membuat data pencapaian / cakupan kegiatan pokok tahun lalu Ya, sebagian Ya, sebagian Ya, semuanya 10
< 50 % 50 - 80 % 100%
2. Menyusun RUK melalui analisa dan perumusan masalah berdasarkan Ya, beberapa YA, sebagian Ya, seluruhnya 10
prioritas ada analisa ada analisa ada analisa
perumusan perumusan perumusan
3. Menyusun RPK secara terperinci dan lengkap Ya, terinci Ya, terinci Ya, terinci 10
sebagian kecil sebagian besar semuanya
4. Melaksanakan Mini Lokakarya Bulanan di Puskesmas <5 5-8 9 - 12 7
kali / tahun kali / tahun kali / tahun
5. Melaksanakan Mini Lokakarya Tribulanan ( Lintas Sektoral ) <2 2-3 4 7
kali / tahun kali / tahun kali / tahun
6. Membuat dan mengirimkan laporan bulanan ke Kabupaten / Kota tepat <6 6 -9 10 - 12 10
waktu kali / tahun kali / tahun kali / tahun
7. Membuat data 10 penyakit terbanyak setiap bulan <6 6-8 9 -12 10
kali / tahun kali / tahun kali / tahun
2. MANAJEMEN ALAT DAN OBAT
Capaian manajaem obat di Puskesmas Pontap seperti terlihat pada
grafik di bawah ini
NO JENIS VARIABEL SKALA 1 SKALA 2 SKALA 3 NILAI
NILAI = 4 NILAI = 7 NILAI = 10 HASIL
1. Membuat Kartu Inventaris dan menempatkan pada masing-masing < 60 % 61 - 80 % 81 - 100 % 10
ruangan ruangan
2. Membuat up dating daftar inventaris alat <3 4-6 Tiap bulan 7
kali / tahun kali / tahun
3. Mencatat penerimaan dan pengeluaran obat disetiap unit pelayanan Ya, beberapa Ya, sebagian Ya, seluruhnya 10
unit besar
4. Membuat Kartu Stock untuk setiap obat / bahan di gudang obat secara Ya, beberapa Ya, sebagian Ya, seluruh 10
rutin item obat besar item obat item obat

5. Menerapkan FIFO dan FEFO Ya, beberapa Ya, sebagian Ya, seluruh 10
item obat besar item obat item obat

Profil Kesehatan Puskesmas Pontap Tahun 2018 Page | 42


3. Manajemen Keuangan
Capaian manajemen keuang di Puskesmas Pontap seperti terlihat pada
tabel di bawah ini

NO JENIS VARIABEL SKALA 1 SKALA 2 SKALA 3 NILAI


NILAI = 4 NILAI = 7 NILAI = 10 HASIL

1. Membuat catatan bulanan uang masuk keluar kedalam buku kas Ya, Ya, Ya, 10
tidak tentu setiap 3 bulan setiap bulan
2. Kepala Puskesmas melakukan pemeriksaan keuangan secara berkala Ya, Ya, Ya, 10
tidak tentu setiap 3 bulan setiap bulan

4. Manajemen Ketenagaan
Capaian manajem keuangah m di Puskesmas Pontap seperti terlihat
pada tabel di bawah ini
NO JENIS VARIABEL SKALA 1 SKALA 2 SKALA 3 NILAI
NILAI = 4 NILAI = 7 NILAI = 10 HASIL
1. Membuat daftar / catatan kepegawaian petugas Ya, beberapa Ya, sebagian Ya, semua 10
pegawai besar pegawai pegawai
2. Membuat uraian tugas dan tanggung jawab setiap petugas Ya, beberapa Ya, sebagian Ya, semua 10
petugas besar petugas petugas
3. Membuat rencana kerja bulanan bagi setiap petugas sesuai tugas, Ya, beberapa Ya, sebagian Ya, semua 7
wewenang dan tanggung jawab petugas besar petugas petugas
4. Membuat laporan bulanan bagi setiap petugas Ya, beberapa Ya, sebagian Ya, semua 10
petugas besar petugas petugas
5. Membuat penilaian DP3 bagi setiap petugas tepat waktu Ya, beberapa Ya, sebagian Ya, semua 10
petugas besar petugas petugas

E. Capaian Standar Pelayanan Minimal


Capaian manajem keuangah m di Puskesmas Pontap seperti terlihat pada tabel di
bawah ini

TARGET
CAPAIAN
NO URAIAN CAPAIAN SASARAN REALISASI KET
(%)
(%)
Pelayanan
1 Kesehatan Ibu Hamil
Jumlah ibu hamil yang
mendapatkan
pelayanan K4 di
100 445 468 105,17
fasilitas pelayanan
kesehatan milik
pemerintah dan swasta
Pelayanan
Kesehatan Ibu
2 Bersalin
Jumlah ibu bersalin
yang mendapatkan
pelayanan persalinan 100 425 446 104,94
sesuai standar di
fasilitas kesehatan
Pelayanan
Kesehatan Bayi Baru
3 Lahir

Profil Kesehatan Puskesmas Pontap Tahun 2018 Page | 43


Jumlah bayi baru lahir
usia 0-28 hari yang
mendapatkan
100 404 481 119,06
pelayanan kesehatan
bayi baru lahir sesuai
dengan standar
Pelayanan
4 Kesehatan Balita
Jumlah balita 0–59
bulan yang mendapat
pelayanan kesehatan
100 1262 1262 100,00
balita sesuai standar
dalam kurun waktu
satu tahun
Pelayanan
Kesehatan pada Usia
5 Pendidikan Dasar
Jumlah anak usia
pendidikan dasar kelas
1 dan 7 yang
mendapat pelayanan 100 731 731 100,00
skrining kesehatan di
satuan pendidikan
dasar
Pelayanan
Kesehatan pada Usia
6 Produktif
Jumlah pengunjung
usia 15–59 tahun
mendapat pelayanan
skrining kesehatan 100 9588 9588 100,00
sesuai standar dalam
kurun waktu satu
tahun
Pelayanan
Kesehatan pada Usia
7 Lanjut
Jumlah pengunjung
berusia 60 tahun ke
atas yang mendapat
skrining kesehatan 100 1800 1800 100,00
sesuai standar minimal
1 kali dalam kurun
waktu satu tahun
Pelayanan
Kesehatan Penderita
8 Hipertensi
Jumlah penderita
hipertensi yang
mendapatkan
pelayanan kesehatan 100 116 116 100,00
sesuai standar dalam
kurun waktu satu
tahun

Profil Kesehatan Puskesmas Pontap Tahun 2018 Page | 44


Pelayanan
Kesehatan Penderita
Diabetes Melitus
9 (DM)
Jumlah penyandang
DM yang
mendapatkan
pelayanan kesehatan 100 815 815 100,00
sesuai standar dalam
kurun waktu satu
tahun
Pelayanan
Kesehatan Orang
dengan Gangguan
10 Jiwa (ODGJ) Berat
Jumlah ODGJ berat
(psikotik) di wilayah
kerja kab/kota yang
mendapat pelayanan
kesehatan jiwa 100 27 27 100,00
promotif preventif
sesuai standar dalam
kurun waktu satu
tahun
Pelayanan
Kesehatan Orang
dengan Tuberkulosis
11 (TB)
Jumlah orang yang
mendapatkan
pelayanan TB sesuai 100 57 57 100,00
standar dalam kurun
waktu satu tahun
Pelayanan
Kesehatan Orang
dengan Risiko
12 Terinfeksi HIV
Jumlah orang berisiko
terinfeksi HIV yang
mendapatkan
pemeriksaan HIV
100 470 470 100,00
sesuai standar di
fasyankes dalam
kurun waktu satu
tahun

F. Rekapitulasi Indeks Keluarga Sehat Puskesmas Pontap

Krlurahan Cakup
N an
Indikator Ponta Ponja Salotell Ammasan Batup Pengg
o PKM
p lae ue gan asi oli
(%)
A B C D E F G H I

Profil Kesehatan Puskesmas Pontap Tahun 2018 Page | 45


1 Keluarga
mengikuti 38,7% 35,8% 26,0% 22,9% 28,2% 34,3% 34,2%
program KB *)
2 Persalinan Ibu di
fasilitas 100,0 100,0
98,6% 98,4% 100,0% 100,0% 98,7%
pelayanan % %
kesehatan
3 Bayi
mendapatkan 100,0
92,0% 85,1% 94,4% 100,0% 96,4% 92,9%
imunisasi dasar %
lengkap *)
4 Bayi
mendapatkan ASI 91,4% 58,0% 69,2% 0 92,9% 90,7% 91,4%
Eksklusif
5 Pertumbuhan
73,0% 46,3% 67,7% 98,5% 62,3% 44,4% 76,9%
Balita dipantau
6 Penderita TB
Paru yang berobat 00,0% 71,4% 00,0% 00,0% 00,0% 00,0% 90,8%
sesuai standar
7 Penderita
hipertensi yang 01,1% 01,1% 00,0% 00,0% 00,0% 00,9% 19,0%
berobat teratur
8 Penderita
gangguan jiwa
berat, diobati dan 25,0% 35,3% 0 0 0 0 96,4%
tidak
ditelantarkan
9 Anggota keluarga
tidak ada yang 32,9% 37,8% 38,9% 48,9% 55,7% 44,3% 37,6%
merokok *)
1 Keluarga sudah
0 menjadi anggota 98,6% 96,4% 96,1% 99,8% 97,6% 98,1% 98,9%
JKN
1 Keluarga
1 memiliki
100,0
akses/menggunak 99,7% 99,7% 99,5% 99,8% 99,8% 99,7%
%
an sarana air
bersih
1 Keluarga
2 memiliki
akses/menggunak 99,4% 97,5% 94,2% 100,0% 99,7% 99,8% 99,6%
an jamban
keluarga

Profil Kesehatan Puskesmas Pontap Tahun 2018 Page | 46


BAB IV
PENUTUP

Demikian Profil Puskesmas Pontap Tahun 2018 telah selesai


disusun. Diharapkan profil ini dapat memberikan gambaran tentang
kondisi kesehatan yang menyeluruh dan memadai sehubungan dengan
upaya-upaya yang telah dilakukan oleh puskesmas sesuai kapasitasnya
di wilayah kerja Puskesmas Tembok Dukuh.
Profil ini bisa dipakai sebagai salah satu acuan dalam pengambilan
keputusan untuk menetukan langkah-langkah konkrit dalam
meningkatkan derajat kesehatan di wilayah kerja pukesmas.
Saran dan kritik yang membangun kami harapkan untuk perbaikan
yang akan kami lakukan secara berkesinambungan agar Visi, Misi UPTD
Puskesmas Pontap tercapai.
Terima kasih atas semua bantuan dan partisipasi yang telah
diberikan oleh semua pihak terkait sehingga Profil UPTD Puskesmas
Tembok Dukuh tahun 2018 telah selesai disusun.

Profil Kesehatan Puskesmas Pontap Tahun 2018 Page | 47