Anda di halaman 1dari 5

Ancaman RUU PKS Terhadap Masa Depan Pemuda dan Tatanan Kehidupan

Komnas Perlindungan Anak (KPAI) berkoordinasi dengan Kementerian Kesehatan melakukan survei di
berbagai kota besar di Indonesia menyatakan sebuah data, "62,7% remaja di Indonesia melakukan
hubungan seks di luar nikah." Tepatlah bila dikatakan Indonesia memasuki masa darurat seks bebas.
Generasi muda kita tengah hanyut dalam arus "zaman now", pergaulan muda-mudi yang sangat akrab
dengan seks bebas (hubungan seks sebelum menikah dan atau gonta-ganti pasangan seksual). Mau
disadari atau tidak, sesungguhnya suatu bahaya besar mengancam, bukan hanya bagi pribadi-pribadi
pelaku itu,tapi secara lebih luas berdampak pada masyarakat dan bangsa.

Pergaulan bebas memiliki dampak yang sangat mengerikan. Secara fisik, dampak perilaku seks bebas
akan berakibat pada penularan penyakit kelamin, mulai dari yang ringan hingga HIV/AIDS yang dapat
berujung kematian. Selain itu beresiko pula terhadap terjadinya kehamilan. Sementara kehamilan
remaja, bukan tanpa resiko. Potensi adanya kesulitan kehamilan dan persalinan, aborsi, penelantaran
anak bahkan pembuangan bayi. Aceh bahkan menjadi provinsi tertinggi di luar pulau jawa dalam hal
pembuangan bayi.

Secara psikis, mereka yang belum menikah tetapi sudah berhubungan seks beresiko mengalami
gangguan kejiwaan, emosi yang terganggu, putus asa, minder, rasa takut, stres, depresi, sampai
bunuh diri. Secara sosial, perilaku seks bebas dapat meningkatkan terjadinya putus sekolah,
kemiskinan, hubungan-hubungan yang terganggu, yang kesemuanya akan menjadi beban keluarga,
dan lebih luas menjadi beban masyarakat dan negara. Musibah terbesar dari tren pergaulan bebas ini
adalah bencana akidah dan meminta untuk diturunkannya azab Allah.

Nyata bahwa dengan darurat pergaulan bebas yang menimpa Indonesia saat ini akan berujung pada
hancurnya generasi. Apa yang bisa diharapkan dari generasi lemah dan lalai ini ? Namun bertolak
belakang dengan fakta itu, kini sebuah gelombang masyarakat yang terdiri dari kumpulan berbagai
aliansi peduli perempuan mendesak pengesahan Rancangan Undang-undang Penghapusan Kekerasan
Seksual.

Kegaduhan yang ditimbulkan oleh desakan pengesahan RUU Penghapusan Kekerasan Seksual
yang dibahas oleh komisi VIII DPR bidang Agama, Sosial dan Pemberdayaan Perempuan
menimbulkan ketertarikan penulis untuk menyampaikan sekelumit fakta yang tak tersentuh
oleh para penuntut pengesahan RUU PKS maupun para pendukungnya bahkan kalangan
pemerintah sekalipun.

Frasa “Kekerasan” adalah frasa yang multitafsir. Sengaja dipilih agar pemaknaannya dapat
ditarik kesana kemari sesuai kepentingan para pejuang RUU ini. Didalam Pasal 5 ayat (2)
RUU PKS menyebutkan bahwa bentuk kekerasan seksual meliputi pelecehan seksual, kontrol
seksual, perkosaan, eksploitasi seksual, penyiksaan seksual dan perlakuan dan penghukuman
lain tidak manusiawi yang menjadikan tubuh, seksualitas dan/organ reproduksi sebagai
sasaran. Logika seperti apa yang mendefinisikan perkosaan yang jelas-jelas sebagai sebuah
kejahatan seksual dianggap sebagai kekerasan seksual ? Bukankah semua perilaku yang
disebutkan didalam pasal tersebut adalah bentuk kejahatan seksual ? mengapa tidak
menggunakan frasa kejahatan agar semua menjadi jelas dan terang, tidak ambigu dan bias.

Definisi “kekerasan seksual” yang digunakan terfokus pada klausul “secara paksa,
bertentangan dengan kehendak seseorang, yang menyebabkan seseorang itu tidak mampu
memberikan persetujuan dalam keadaan bebas” memberi kesan bahwa sebuah perbuatan
seksual yang dilakukan tanpa paksaan, dikehendaki oleh satu sama lain-sekalipun relasinya
tidak setara –dan seseorang secara bebas memberikan persetujuannya, tidak dikatagorikan
sebagai perbuatan yang patut di sanksi. Sebagai contoh pada pasal 7 ayat (2) disebutkan
bahwa kontrol seksual meliputi Pemaksaan menggunakan atau tidak menggunakan busana
tertentu, Pemaksaan kehamilan, Pemaksaan aborsi, Pemaksaan sterilisasi dan Pemaksaan
perkawinan.
Jika seorang ibu mendidik anaknya berhijab sedang anak tidak mau berhijab maka ibu bisa
dipidana oleh anaknya sendiri karena tindakan ibu bisa dikenakan delik pemaksaan
menggunakan busana tertentu. Laki-laki boleh tidak mengenakan pakaian laki-laki namun
mengenakan pakaian perempuan. Sebaliknya perempuan juga boleh tidak menggunakan
pakaian perempuan karena melarangnya merupakan bentuk kontrol seksual. Para
perempuan juga berhak berpakaian minim, karena itu dianggap hak yang dilindungi undang-
undang.
Seorang suami juga bisa dipidana oleh istrinya ketika ia memaksakan kehamilan kepada istri
karena ini juga bentuk kontrol seksual. Pemaksaan Aborsi adalah bentuk kontrol seksual dan
bisa dikenakan sanksi, sebaliknya aborsi yang dilakukan sukarela justru tidak terkena sanksi,
berarti dibolehkan. Maka gelombang aborsi akibat freeseks dikalangan masyarakat yang
angkanya sekitar 2.000.000 kasus aborsi yang terjadi setiap tahunnya di Indonesia, yang
berarti ada 2.000.000 nyawa yang dibunuh setiap tahunnya secara keji tanpa banyak yang
tahu, Ini semua akan dilegalkan melalui RUU PKS ini. Mengerikan sekali bukan ?

Frasa kontrol seksual pada pasal 5 ayat (2) huruf b yang dikategorikan kekerasan seksual
artinya mendorong setiap orang untuk bebas memilih aktivitas seksual tanpa ada kontrol dari
pihak lain. Pihak yang melakukan kontrol seksual justru bisa dipidanakan. Orang tua tidak
boleh melarang anak lajangnya melakukan hubungan seks bebas karena bisa terkategori
kontrol sosial. Aktivitas LGBT juga terlindungi dengan frasa ini.
Pasal 6 tentang Bab Pencegahan, ayat 1 huruf a, yang isinya memasukkan materi
penghapusan Kekerasan Seksual sebagai bahan ajar dalam kurikulum, nonkurikulum,
dan/atau ekstrakurikuler pendidikan usia dini sampai perguruan tinggi. Setidaknya ada dua
hal yang perlu dikritisi jika pasal ini diimplementasikan. Pertama, tentang metode ajar ; alih-
alih mengajarkan tentang edukasi seks, malah justru memberi panduan anak-anak kita untuk
berperilaku seks bebas. Kedua, tentang studi empiris kasus pelecehan ataupun perilaku seks
bebas yang selama ini sudah liberal dengan dilegalkannya alat kontrasepsi (kondom) berlabel
"safe sex" sehingga dengan adanya pendidikan seks bernuansa liberal, semakin menambah
deretan angka kejahatan seksual.
Kebebasan seksual ini makin nampak pada pasal 7 ayat (1) yaitu adanya hak mengambil
keputusan yang terbaik atas diri, tubuh dan seksualitas seseorang agar melakukan atau
berbuat atau tidak berbuat. Artinya kebebasan seksual harus dilindungi. Termasuk ketika
memilih seks bebas, kumpul kebo, zina dan seks menyimpang semisal LGBT. Inilah pintu
legalitas bagi berbagai penyimpangan seksual mejadi legal. Bukan hanya orientasi seksual
menyimpang lesbi, gay, biseks, trangender bahkan pedofilia, masokisme, bestialitas,
frotteurisme, fetisisme, voyeurisme bahkan necrophilia. Disinilah misi tersembunyi dari RUU
PKS ini yaitu sebagai payung hukum bagi perzinaan, penyimpangan seksual, seks bebas dan
pelegalan aborsi.
Pasal 8 ayat (2) menyebutkan bahwa Tindak pidana perkosaan meliputi perkosaan di dalam
dan di luar hubungan perkawinan. Sesuai pasal ini, seorang istri bisa sesuka hatinya memilih
untuk melayani suami atau tidak. Jika suami memaksa untuk berhubungan, maka terkategori
pemerkosaan.
Dengan demikian pernyataan para pejuang pengesahan RUU PKS bahwa RUU ini penting
untuk melindungi perempuan adalah sebuah pemaksaan. Nyatanya hanya untuk melindungi
kaum rentan, yaitu kaum minoritas dalam perilaku seksualitasnya yaitu gay, lesbi,
transgender, biseks dan lain-lain. Pernyataan para pendukung RUU PKS bahwa RUU ini sangat
mendesak untuk diperjuangkan adalah benar. Hanya saja bukan untuk melindungi
perempuan tetapi untuk memuluskan agenda asing. Rena Herdiani, Wakil Ketua Bidang
Kalyanamitra yang menjadi anggota jaringan CEDAW Working Group Indonesia mengatakan
bahwa Indonesia mendapatkan rekomendasi dari Komite Konvensi Penghapusan Segala
Bentuk Diskriminasi terhadap Perempuan (CEDAW) PBB untuk membuat peraturan
perundang-undangan yang menghapus kekerasan berbasis gender.

Gender sendiri adalah pembedaan peran, kedudukan, tanggung jawab, dan pembagian kerja
antara laki-laki dan perempuan yang ditetapkan oleh masyarakat berdasarkan sifat
perempuan dan laki-laki yang dianggap pantas menurut norma, adat istiadat, kepercayaan
atau kebiasaan masyarakat. Ini adalah paradigma feminis. Kaum feminis, yang sudah pasti
membawa ide liberalisme karena ia adalah derivat dan ide turunan dari sistem Kapitalisme.
Padahal Kapitalisme inilah akar dari kisruh RUU PKS ini. Kapitalisme adalah sistem yang
menjadikan materi/uang sebagai tujuan kehidupan dengan azas memisahkan agama dari
kehidupan (sekulerisme).
Kekerasan seksual sejatinya berangkat dari kerusakan relasi antara perempuan dan laki-laki
di Barat. Pola relasi yang khas dengan menonjolkan aspek seksualitas antara laki-laki dan
perempuan tanpa batas atau dengan kata lain pergaulan bebas. Pola interaksi ini
menghantarkan masyarakatnya pada berbagai upaya untuk saling menarik perhatian lawan
jenis. Sekularisme telah menjadikan aurat menjadi aset dan tontonan. Tidak mengherankan
jika kemudian kejahatan seksual kian marak diberbagai belahan dunia. Indonesia diharuskan
meratifikasi serangkaian produk perundangan yang digadang mampu menghapus kekerasan
seksual berbasis gender sebagai konsekwensi keikutsertaannya dalam organisasi dunia
melalui Komite Konvensi Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi terhadap perempuan
(CEDAW).
Padahal, selama ini diskursus tentang feminisme dalam pandangan Islam sudah bertebaran,
karena memang ada kesalahan fundamental dan paradigmatik dari gerakan feminisme
(apapun mazhabnya), yakni penyetaraan gender. Sehingga, ketika ada upaya menggolkan
RUU PKS ini dari kaum feminis, maka sejatinya tidak akan jauh-jauh arahnya pada kesetaraan
gender yang berujung liberalisme seksual. Penggunaan frasa “kontrol tubuh” jelas
menunjukkan bahwa RUU PKS sejatinya adalah misi internasional untuk menyuburkan
perilaku sekuler liberal, menghapus kesakralan perkawinan, mengacaukan relasi suami istri,
menghancurkan generasi dengan seks bebas, lgbt, dan menyuburkan aborsi. Lebih jauh RUU
PKS ini sejatinya menikam syariah Islam.

Kekerasan Seksual Dalam Islam

Kejahatan seksual dalam Islam didefinisikan sebagai segala bentuk pelampiasan hasrat
seksual yang dilakukan secara tidak makruf dan ilegal. Segala kejahatan itu zarimah
(kriminal), termasuk di dalamnya berupa kejahatan yang bentuknya seksual, dan segala
jarimah menurut Islam pasti mengandung dosa. Tidak memandang lagi dilakukan atas dasar
suka sama suka maupun paksaan (baca: kekerasan). Karena memang standar Islam
menghukumi sesuatu bukanlah ukuran suka atau tidak suka, bukan menggunakan standar
HAM yang jelas-jelas beraroma liberalisme Barat.
Islam memiliki tata aturan tersendiri terkait pencegahan, penanganan, perlindungan,
pemulihan korban, serta penindakan pelaku kebebasan atau kejahatan seksual. Berikut
beberapa aturannya:
(1) Upaya pencegahan atau preventif agar tidak terjadi pelecehan seksual, kejahatan,
maupun kekerasan seksual, maka Islam memiliki aturan tentang busana (pakaian)
wanita ketika keluar rumah berupa hijab syar’i (Qs. An-Nur :30-31 dan QS. Al Ahzab:59).
Interaksi antara kaum pria-wanita dilarang mengandung unsur khalwat.
“Janganlah seorang laki-laki itu berkhalwat (menyendiri) dengan seorang wanita kecuali
ada mahram yang menyertai wanita tersebut.” (HR. Bukhari, Muslim)
“Ingatlah, bahwa tidaklah seorang laki-laki itu berkhalwat dengan seorang wanita
kecuali yang ketiganya adalah setan.” (HR. Ahmad, At-Tirmidzi dan Al-Hakim)
“Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan
yang keji. Dan suatu jalan yang buruk.” (QS. Al-Israa’: 32)
(2) Interaksi yang berpotensi terjadinya pelecehan, kekerasan, hingga kejahatan seksual
adalah campur baurnya kaum laki-laki dengan wanita, maka Islam mencegahnya
dengan larangan ikhtilat (campur baur antara laki-laki dan perempuan).
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Sebaik-baiknya shaf laki-laki adalah yang pertama, dan sejelek-jeleknya adalah yang
terakhir. Sedangkan sebaik-baiknya shaf perempuan adalah yang terakhir dan yang
paling jeleknya adalah yang pertama.” (HR. Muslim)
(3) Meskipun sudah menikah, berstatus suami-istri, Islam juga mewanti-wanti, bahwa
hubungan seksual itu sebagai bentuk sedekah. Akan tetapi, jika sudah menikah pun
Islam tidak membolehkan seorang laki-laki (suami) sembarangan dalam melakukan
hubungan seksual terhadap istrinya. Seperti larangan untuk mendatangi istri dari
duburnya, atau mendatanginya di saat haid.
“Tahukah engkau jika seseorang memenuhi syahwatnya pada yang haram, dia berdosa.
Demikian pula jika ia memenuhi syahwatnya itu pada yang halal, ia mendapat pahala”.
(HR. Muslim).
Rasulullah shalallahu’alaihi wasallam bersabda, "Terkutuklah orang yang mendatangi
perempuan (istrinya) di duburnya (sodomi)." (HR. Ahmad, Abu Daud, an-Nasa`i).
“Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik kepada keluarganya, dan aku adalah orang
yang paling baik perlakuannya kepada keluargaku.” (HR. Ibnu Majah).
“Barang siapa yang menyetubuhi wanita haid atau menyetubuhi wanita di duburnya,
maka ia telah kufur terhadap apa yang diturunkan kepada Muhammad –shallallahu
‘alaihi wa sallam-.” (HR. Tirmidzi, Ibnu Majah).
(4) Hukuman sanksi bagi pelaku zina maupun aktivitas seksual yang menyimpang seperti
LBGT, inses, maupun berhubungan seks dengan hewan pun Islam sudah memiliki
hukum untuk menyelesaikannya.
Larangan menikah dengan hubungan sedarah (mahram). (QS. an-Nisa: 23)
“Barang siapa yang mengetahui ada yang melakukan perbuatan liwath (sodomi)
sebagaimana yang dilakukan oleh Kaum Luth, maka bunuhlah kedua pasangan liwath
tersebut.” (HR. Abu Daud, At Tirmidzi dan Ibnu Majah)
"Siapa saja yang menyetubuhi binatang, maka bunuhlah ia, dan bunuh pula binatang
tersebut.” (HR at-Tirmidzi, Abi Dawud, Ibni Majah).
Seorang pezina, bisa jadi seorang yang belum menikah (ghair muhshan) atau yang
sudah menikah (muhshan). Apabila seorang yang merdeka, muhshan, mukallaf, tidak
dipaksa berzina, maka haddnya (hukuman, red.) adalah dirajam sampai meninggal
dunia.
Dari Zaid bin Khalid al-Juhani, ia berkata, “Aku mendengar Nabi Shallallahu ‘alaihi wa
sallam menyuruh agar pezina yang belum menikah dicambuk seratus kali dan
diasingkan selama setahun.” (HR. Bukhari).
Dari al-Barra’ Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Aku bertemu pamanku yang sedang
membawa bendera. Aku pun bertanya kepadanya, ‘Hendak ke mana engkau?’ Ia
menjawab, ‘Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutusku untuk mendatangi
seorang laki-laki yang menikahi istri ayahnya setelah kematiannya, agar aku
memenggal lehernya dan mengambil hartanya.’” (Ibni Majah, Abi Dawud, an-Nasa-i).
Jika semua pihak ingin melindungi perempuan dari kekerasan seksual maka solusi terbaik
adalah diterapkannya Syariah Islam. RUU PKS tidak akan pernah bisa menyelesaikan masalah
tersebut justru menjadi gerbang bagi gelombang kejahatan yang lebih besar dan kerusakan
tatanan masyarakat yang lebih parah.