Anda di halaman 1dari 9

DATA PERCOBAAN

PRAKTIKUM I
- Baseband Communication
- Roll-off factor 0.11
Figure

Statistik WBU Console saat Tx dan Rx


- Sample Modem Roll Off Factor 0.51

- Sample Modem Roll Off Factor 0.91


PRAKTIKUM II
Data I GENERATE
- Experiment = QPSK | IF
- Frek. Offset = 0 Hz
- Phs. Offset = 0 Degree
- SNR = 100 dB
Figure

Data II (Generate)
- Experiment = QPSK | IF
- Frek. Offset = 120Hz
- Phs. Offset = 60 Degree
- SNR = 100 dB
Figure :

Statistik WBU Console Tx dan Rx


Data III ANALYZE
- Experiment = QPSK | IF
- Frek. Offset = 0 Hz
- Phs. Offset = 0 Degree
- SNR = 50 dB

Figure

Data IV ANALYZE II
- Experiment = QPSK | IF
- Frek. Offset = 120 Hz
- Phs. Offset = 60 Degree
- SNR = 50 dB
1. Data V (Langkah 11, saat semua port modul terhubung)
- Experiment = QPSK | IF
- Frek. Offset = 0 Hz
- Phs. Offset = 0 Degree
- SNR = 100 dB

GENERATE
Figure

ANALYZE
Figure (60 Hz, 50 dB, 0 Degree)
PRAKIKUM III
Tx dan Rx100k

Step Siza Analyze


Data II
- Experiment = LE – Linear Equalizer
- Channel = BENIGN
- No of Taps = 5
- Step Size = 0.02
- Delay = 0.05

GENERATE
Figure
ANALISA DATA
PRAKTIKUM I
Pada praktikum kali ini dilakukan simulasi komunikasi baseband menggunakan modul WICOM-T
dengan penggunaan kabel BNC to BNC yang menghubungkan Tx dan Rx secara loopback. Adapun
dilakukan melihat gambar output sinyal yang dibangkitkan sebelum dikirim ke sisi penerima dan
gambar output sinyal yang telah terkirim ke sisi penerima dengan jumlah packet data sebesar ± 100.000
packet.. Ada 3 Roll-off yang digunakan, yaitu 0.11, 0.51 dan 0.91 Faktor roll-off berperan dimana
semakin kecil roll-off maka lebih sedikit bandwidth, tapi lebih sensitif terhadap adanya kesalahan waktu
begitupun sebaliknya.dapat terlihat jelas pada hasil praktikum bahwa gelombang yang dihasilkan pada
RC Pulse shape akan semakn kecil jika,roll-off factornya semakin besar. Selain itu, pada channel before
shaping, semakin besar roll-off nya maka semakin banyak sample indeks yang terbentuk pada
magnitude yang negative, sebaliknya, magnitude sample indeks pada magnitude positif makin sedikit.
Pada pulse change, semakin tinggi Roll-off, gelombang yang dihasilkan akan memiliki magnitude yang
semakin tinggi bahkan menghasilkan gelombang baru. Untuk Qchannelnya, semakin tinggi Roll-offnya
maka semakin rapat pula gelombang yang dihasilkan.

1. PRAKTIKUM II
Pada percobaan ini, dilakukan simulasi QPSK (Quadrature Phase Shift Keying) menggunakan modul
WICOMM-T dengan system loopback dan penggunaan antenna sebagai media transmisi untuk
mengidentifikasi sinyal yang ditransmisikan. Seperti halnya Job I, jumlah packet data yang dikirimkan
sebesar ± 100.000 packet.
Pada praktikum generate, terlihat jelas bahwa sinyal atau gelombang yang dihasilkan saat 0 degree
sangat rapi dibandingkan 60 degree yang tinggi gelombangnya tidak sama rata. Krapatan gelombang
tergantung pada frekuensinya. Makin tinggi frekuensi, aka makin rapat pula gelombangnya
QPSK menggunakan empat titik pada diagram konstilasi, terletak di sekitar suatu lingkaran.
Dengan empat tahap, QPSK dapat mendekode dua bit per simbol. Hal ini berarti dua kali dari BPSK.
Analisis menunjukkan bahwa ini mungkin digunakan untuk menggandakan data rate jika dibandingkan
dengan sistem BPSK. Simbol QPSK tidak mewakili 0 atau 1 tetapi mewakili 00, 01, 10, atau 11.

Selain itu, nilai parameter frekuensi offset, phase offset dan Signal to Noise Ratio (SNR)
mempengaruhi hasil keluaran sinyal dan kemungkinan error. Nilai parameter phase offset
mempengaruhi lokasi sudut titik (point) pada received signal. Sedangkan SNR mempengaruhi nilai bit
error yang terjadi dimana semakin besar nilai SNR akan mempengaruhi kualitas transmisi yang
digunakan.

Konfigurasi dengan menggunakan loop-back secara langsung dengan kabel BNC to BNC terlihat
lebih rapat dan sedikit data error yang ditunjukkan, secara keseluruhan dengan menggunakan kabel
BNC to BNC untuk konfigurasi ini terlihat lebih efisien dari segi data yang terkirim dan kurangnya
data error yang ditimbulkan selama sesuai dengan parameter yang cocok. Sedangkan untuk
konfigurasi dengan IF loop-back menggunakan kabel SMA terlihat pada grafik diatas bahwa titik
kumpul data lebih longgar dari pada konfigurasi loop-back secara langsung dengan BNC to BNC.

Penggunaan konfigurasi IF loop-back dengan menggunakan transmisi kabel SMA memiliki


kekurangan dimana pada sinyal yang diterima kurang sempurna bila dibandingkan dengan transmisi
langsung loop-back dengan BNC to BNC. Hal ini menyimpulkan bahwa dengan menggunakan
parameter dan media transmisi yang sesuai akan memberikan respon yang diinginkan, bila
dibandingkan dengan gambar hasil percobaan, untuk QPSK dengan menggunakan kabel BNC to
BNC lebih baik dibandingkan kabel SMA.

PRAKTIKUM III
Pada percobaan ini, dilakukan experiment Linear Equalizer dengan penggunaan channel yang berbeda
seperti Benign, Moderate dan Severe dengan jumlah packet sebesar ± 100.000 packet.

Adapun tujuan dari equalizer adalah untuk mengurangi interferensi intersymbol karena efek noise dan
fading. Equalizer linier adalah filter yang dapat membatalkan efek saluran ini. Berikut merupakan table
percobaan yang didapat sesuai percobaan yang dilakukan.

Seperti kita ketahui bahwa frekuensi offset adalah pergeseran kecil yang disengaja untuk mengurangi
interferensi dengan pemancar lain.

Dan terlihat bahwa kanal benign memiliki kemungkinan data error tinggi dibandingkan dengan kedua
kanal lainnya namun memiliki respon impuls cenderung lebih kecil dibandingkan kedua kanal.

Secara garis besar, perbedaan ketiga kanal terletak pada kehandalan dalam mengurangi noise yang
dikirim ke sisi penerima, terlihat pada kanal BENIGN range untuk SNR pada kurva SNR-BER rata-rata
rendah.

KESIMPULAN
Wireless Communication, atau kadang-kadang hanya Wireless, adalah transfer informasi atau
power antara dua atau lebih titik yang tidak terhubung oleh konduktor listrik. Teknologi Wireless yang
paling umum menggunakan gelombang radio. Pada praktikum ini dilakukan komunikasi baseband,
QPSK dan ALE (Adaptive Line Equalizer) yang mana masing-masing juga memberikan kinerja dan
keunggulan yang berbeda tetapi memiiki sedikit kemiripan. Adapun penggunaan kabel jumper dan
penggunaan antenna merupakan tolak ukur dalam menganalisa manakah media transmisi yang lebih
efisien, tentunya masing-masing memiliki kekurangan dan kelebihan. Percobaan wireless comunication
memperlihatkan sinyal (data) yang dikirim mengalami perubahan karena redaman, noise dan gangguan
lain seperti distorsi dan delay.

Setiap sistem komunikasi memiliki daerah kerja yang sesuai dengan kriteria sistem tersebut, seperti
penggunaan kabel jumper BNC to BNC untuk komunikasi baseband hampir mendekati sinyal yang
dibangkitkan disisi pengirim, tetapi kurang cocok untuk penggunaan komunikasi dengan antena jarak
jauh. Penggunaan sistem untuk media transmisi khususnya antena/wireless akan sangat dipengaruhi
oleh lingkungan sekitar seperti noise dan jarak antara pengirim dan penerima.