Anda di halaman 1dari 9

IRONI CALON TUNGGAL MELAWAN KOTAK KOSONG

DALAM PESTA DEMOKRASI DI INDONESIA

Nama : Febri Fitriana

NIM : 030757591

Jurusan : S1 Akuntansi

UPBJJ : Surakarta

UNIVERSITAS TERBUKA
2018
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Di tahun 2018 ini, sebanyak 171 daerah akan melangsungkan pemilihan kepala
daerah serentak. Ini adalah pilkada serentak ketiga yang terjadi di Indonesia setelah
2015 dan 2017. Pilkada serentak gelombang ketiga, yang akan berlangsung 27 Juni
2018, saat ini masih memasuki tahapan verifikasi pemenuhan syarat pencalonan dan
syarat bakal calon kepala daerah dan wakil kepala daerah.

Pada pilkada tahun ini fenomena munculnya calon tunggal lebih banyak dibanding
tahun sebelumnya. Kemunculan calon tunggal tersebut sebagian besar disebabkan
adanya petahana yang ”memborong” kursi DPRD setempat sehingga tidak membuka
peluang bagi munculnya pasangan calon alternatif. Selain itu pasangan calon alternatif
yang ”menantang” biasanya berasal dari jalur perseorangan. Jika berkas dukungan
pasangan calon perseorangan ini setelah diverifikasi oleh KPU di daerah dinyatakan
kurang atau tidak memenuhi syarat, pilkada dengan calon tunggal akan bertambah.

Kondisi ini, salah satunya, muncul akibat beratnya proses pencalonan pilkada
dengan calon tunggal. Syarat bagi kandidat perseorangan begitu berat karena harus
mengumpulkan dukungan dari 6,5-10 persen dari daftar pemilih tetap pemilihan
terdahulu. Syarat dukungan dari jalur parpol juga terlalu tinggi, yakni 20 persen kursi
DPRD atau 25 persen suara sah. Selain karena beratnya syarat pencalonan, ada pula
yang menilai kondisi ini muncul karena ketiadaan ambang batas atas dukungan parpol
untuk satu pasangan calon kepala daerah.

B. Permasalahan
1. Apa yang dimaksud dengan calon tunggal dalam pemilu?
2. Apakah adanya calon tunggal justru menciderai pesta demokrasi?
3. Bagaimana proses pilkada dengan calon tunggal dilaksanakan?
C. Tujuan Penulisan
1. Mengetahui apa itu fenomena calon tunggal dalam pilkada
2. Meningkatkan pemahaman tentang pesta demokrasi di Indonesia
3. Mengetahui tentang proses pemilu dengan calon tunggal

D. Manfaat Penulisan

Secara akademis, semoga makalah ini bisa dijadikan referensi dalam pembahasan
demokrasi di Indonesia. Terutama dengan maraknya calon tunggal dalam pemilu. Serta
juga menambah wawasan para pembaca mengenai proses pemilu.

Secara praktis, makalah ini diharapkan memberi manfaat bagi para pihak yang
berkencimpung dalam penyelenggaraan pemilu. Melalui makalah ini diharapkan
kegiatan demokrasi dapat berjalan sesuai aturan yang dan bersaing secara sehat.
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

Munculnya pasangan calon tunggal sebenarnya berawal dari Putusan Mahkamah


Konstitusi (MK) pada September 2015, yang melegalkan pasangan calon tunggal dalam
Pilkada. Yang dimaksud calon tunggal adalah kondisi dimana hanya ada satu pasang calon
yang mendaftarkan diri dalam pilkada tanpa adanya pesaing.

Keputusan tersebut, semula diharapkan menjadi solusi, atas kebuntuan demokrasi.


UU No. 8/2015 yang sekarang telah diubah menjadi UU No. 10/2016 tentang Pilkada
mensyaratkan minimal dua pasangan calon kepala daerah. MK dengan pertimbangan untuk
memberi kepastian berjalannya demokrasi, memutuskan pilkada tetap dilaksanakan
sekalipun meski hanya dengan calon tunggal.

Melalui keputusan MK No.100/PUU-XII/2015 daerah dengan calon tunggal, hanya


ada pilihan setuju atau tidak terhadap calon tersebut. Keputusan MK tersebut kemudian
diadopsi dalam Pasal 54C UU No.10/2016 tentang Pilkada. Pasal itu menyatakan pemilihan
pasangan calon tunggal bisa dilaksanakan jika setelah penundaan dan memperpanjang
pendaftaran tetap hanya ada satu pasangan bakal calon yang mendaftar. Lalu dari hasil
penelitian, pasangan calon tersebut memenuhi syarat.

Kemunculan calon tunggal sebagian besar disebabkan adanya petahana yang


”memborong” kursi DPRD setempat sehingga tidak membuka peluang bagi munculnya
pasangan calon alternatif. Sebenarnya, pengaturan dalam UU No 10/2016 menyebutkan,
saat pembukaan kembali pendaftaran calon di daerah dengan pasangan calon tunggal,
partai politik bisa mencabut dukungan dari calon tunggal itu sepanjang kursi DPRD yang
”tersisa” tidak lagi cukup untuk mengusung calon tambahan. Secara ideal, diharapkan
parpol berinisiatif ”memecah” diri dari koalisi ”borongan” untuk membentuk koalisi baru
sehingga muncul dua pasangan calon.

Alhasil, pilkada dengan calon tunggal tetap menjamur. Putusan MK mengenai


pilkada dengan calon tunggal yang semula dijadikan sebagai solusi pada akhirnya justru
dimanfaatkan petahana untuk mengamankan kursi. Kondisi ini kemudian menimbulkan
masalah bagi demokrasi lokal. Pasalnya, esensi dari demokrasi ialah kontestasi guna
mencari calon yang terbaik untuk menjalankan amanah pemilih.
Pilkada dengan calon tunggal pada 2018 juga bertambah dibandingkan dengan
pilkada serentak 2015 dan 2017. Hingga tahap pendaftaran pasangan calon, sudah ada 12
daerah yang hanya punya satu pasangan calon. Daerah tersebut ialah Padang Lawas Utara
(Sumut), Kota Prabumulih (Sumsel), Pasuruan (Jatim), Lebak, Kota dan Kabupaten
Tangerang (Banten), Tapin (Kalsel), Minahasa Tenggara (Sulut), Enrekang (Sulsel),
Mamasa (Sulbar), Puncak dan Jayawijaya (Papua).

Jumlah pasangan calon tunggal ini bisa bertambah setelah penetapan pasangan
calon oleh KPU pada 12 Februari. Pasalnya, dari 35 daerah yang hanya punya dua
pasangan calon, ada sejumlah daerah yang punya petahana yang memborong kursi parpol,
sedangkan pasangan calon alternatif yang ”menantang” berasal dari jalur perseorangan.
Jika berkas dukungan pasangan calon perseorangan ini setelah diverifikasi oleh KPU di
daerah dinyatakan kurang atau tidak memenuhi syarat, pilkada dengan calon tunggal akan
bertambah.

Kondisi ini, salah satunya, muncul akibat beratnya proses pencalonan pilkada
dengan calon tunggal. Syarat bagi kandidat perseorangan begitu berat karena harus
mengumpulkan dukungan dari 6,5-10 persen dari daftar pemilih tetap pemilihan terdahulu.
Syarat dukungan dari jalur parpol juga terlalu tinggi, yakni 20 persen kursi DPRD atau 25
persen suara sah. Selain karena beratnya syarat pencalonan, ada pula yang menilai kondisi
ini muncul karena ketiadaan ambang batas atas dukungan parpol untuk satu pasangan
calon kepala daerah.
BAB III

ANALISIS KASUS

Dalam pilkada dengan calon tunggal akan ada “kotak kosong” yang disediakan
Komisi Pemilihan Umum (KPU). Jika pemilih lebih banyak memberikan suara untuk “kotak
kosong”, maka pilkada harus diulang.

Fenomena calon tunggal yang kalah dengan “kotak kosong” pernah terjadi di Pati
pada pilkada tahun 2017 lalu. Saat itu Pati hanya mempunyai satu pasangan kandidat, yakni
calon petahana Haryanto-Saiful Arifin (Harfin). Nyatanya kekalahan kandidat Harfin tersebut
terjadi di Pati yang notabene mempunyai 1,5 juta penduduk. Padahal kandidat Harfin
didukung banyak partai politik.

Pilkada Pati ini sebenarnya sudah bisa diduga jauh-jauh hari. Calon tunggal yang
merupakan petahana sudah diperkirakan akan tetap bertengger meski mendapat
rongrongan dari kotak kosong. Namun ada yang perlu dicermati dari hasil Pilkada Pati ini,
yakni suara dari kotak kosong.

Dalam coblosan yang digelar Rabu 15 Februari 2017, suara dari kotak kosong
memang tak bisa dipandang sebelah mata. Hasil penghitungan sementara yang dilakukan
KPU perolehan suara kotak kosong mencapai 25 persen. Sebuah angka yang tak bisa
dipandang enteng untuk ukuran pilkada. Dari suara sah sebanyak 674.481, kotak kosong
berhasil meraih 171.060 suara atau 25.33 persen (penghitungan data masuk 97.17 persen).

Pelaksanaan Pilkada Serentak 2018 sudah dipastikan akan diwarnai fenomena


munculnya calon tunggal melawan kotak kosong. Setidaknya ada 11 daerah yang
berpotensi pasangan calon akan melawan kotak kosong.

Munculnya 11 pasangan calon hanya melawan kotak kosong memiliki tiga indikasi.
Indikasi pertama, gagalnya pengkaderan partai politik dalam menyiapkan kader-kader
terbaiknya di suatu daerah untuk muncul dan maju sebagai calon kepala daerah.

Kedua, setelah gagal menciptakan kader-kadernya di wilayah, partai akhirnya


bersikap instan mengambil tokoh yang sudah populer, punya uang, lebih-lebih yang sudah
memegang infrastruktur atau jabatan politik.

Ketiga, realistis. Pada akhirnya, di penghujung masa pendaftaran, partai politik


bersikap realistis dengan realita politik yang ada, guna memenuhi pencalonan di daerah
agar tidak ketinggalan gerbong kereta koalisi.
Pengalaman menunjukkan, dalam Pilkada 2017, semua calon tunggal ahirnya
dilantik menjadi kepala daerah setelah dalam pilkada semuanya menang mutlak
mengalahkan “Kotak Kosong” yang juga dipilih oleh masyarakat. Meski hanya ada satu
pasangan calon, dalam praktekanya bukan berarti tak ada lawan. Lawan tetap ada, hanya
lawannya tidak ada yang mengusung dan mendaftarkan ke KPU, lawan dari calon tunggal
tak lain adalah aturan perundang undangan yang membolehkan "Kotak Kosong" untuk di
pilih oleh masyarakat.
BAB IV

SIMPULAN DAN REKOMENDASI

A. Simpulan

Dalam praktek demokrasi di Indonesia terutama dalam pilkada sering kali timbul
fenomena calon tunggal yakni adanya satu pasangan dalam pemilu tanpa adanya
pasangan pesaing. Hal ini dikarenakan beberapa faktor antara lain adanya calon
petahana yang lebih kuat serta didukung banyak partai politik. Sementara syarat
pencalonan cukup berat. Pada hakikatnya hal semacam ini sah-sah saja selama
pasangan calon tersebut memenuhi syarat yang sudah ditetapkan.

Lalu dalam prosesnya, pihak KPU akan memberikan tenggang waktu lebih bagi
siapa saja yang ingin mencalonkan diri menjadi pesaing. Bila sampai batas waktu
tersebut tidak ada calon lain yang mandaftar maka pilkada mau tak mau dilaksanakan
dengan calon tunggal.

Agar pilkada tidak menciderai pesta demokrasi, maka para pemilih diberi hak untuk
memilih antara setuju atau tidak atas calon tunggal tersebut. Barulah kegiatan pilkada itu
bisa disimpulkan telah mencerminkan kegiatan demokrasi yang sehat.

Sebenarnya fenomena calon tunggal ini bisa kita minimalisir. Yakni dapat dilakukan
adalah dengan partai politik mencabut dukungan dari calon tunggal lalu membuat koalisi
baru. Hal ini akan dapat menambah pilihan calon dalam pilkada sehingga bisa disebut
ideal.

B. Rekomendasi
1. Perlu adanya penyebaran dukungan bagi para pihak yang berniat mencalonkan
diri dalam pilkada guna membawa daerah tersebut kearah yang lebih baik
2. Adanya peraturan yang lebih signifikan mengenai praktek calon tunggal dalam
pilkada
3. Masyarakat harus berperan aktif dalam mencari sosok pemimpin yang akan
membawa kemajuan bagi mereka
4. Dalam praktek pilkada seharusnya dapat dilaksanakan secara ideal dan sehat
5. Adanya transparansi dalam pilkada merupakan hal wajib dilakukan pihak
penyelenggara
BAB V

DAFTAR PUSTAKA

https://nasional.kompas.com/read/2018/01/02/18151171/fenomena-calon-tunggal-di-pilkada-
serentak-2018-diprediksi-meningkat

https://kompas.id/baca/polhuk/politik/2018/01/30/saatnya-mengatasi-calon-tunggal/

http://www.hukumonline.com/berita/baca/lt562df12d96e3a/ini-aturan-pasangan-calon-
tunggal-pilkada

http://www.hukumonline.com/berita/baca/lt58b3af97dc8dd/begini-dasar-hukum-sengketa-
calon-tunggal-pilkada-di-mk

https://www.suara.com/news/2017/02/16/113106/unik-calon-tunggal-pilkada-pati-dikalahkan-
kotak-kosong

https://nasional.sindonews.com/read/1272779/12/fenomena-kotak-kosong-di-pilkada-bentuk-
gagalnya-pengkaderan-parpol-1515647189