Anda di halaman 1dari 20

I.

Judul
Evaluasi Kinerja Unit Crushing Plant Pada Tambang Sirtu Untuk Mencapai
Target Produksi Pada PT. Cipta Jaya Mulia Kabupaten Jayawijaya, Provinsi Papua

II. Latar Belakang


Seiring dengan pertumbuhan pembangunan yang semakin pesat di Indonesia,
kebutuhan akan bahan galian golongan C dan hasil pemanfatannya semakin hari akan
semakin bertambah, oleh karena itu diperlukan kegiatan penambangan bahan galian
dan pengolahannya demi memenuhi kebutuhan. Dalam hal ini salah satu komoditi
yang menunjang adalah penambangan sirtu yang artinya pasir dan batu. Sirtu terjadi
karena akumulasi pasir dan batuan terendapkan di daerah daerah relatif rendah atau
lembah.
Dalam bidang usaha pertambangan hal yang utama dalam tahapan
pertambanagan adalah peroduksi. Namun disamping itu ada satu tahapan proses
penambangan sirtu yang berperan penting dalam menentukan kelangsungan usaha
pertambangan yaitu pengolahan sirtu. Unit pengolahan sirtu (Sirtu Stone processing
Unit) sangat pengting dalam pengolahan sirtu karena unit pengolahan ini merupakan
adalah salah satu penentu dari kualitas dan kuantitas produk yang dihasilkan.
Pengolahan sirtu yang dilakukan adalah proses pengecilan material dengan
peremukan sesuai dengan ukuran sirtu yang diinginkan konsumen pasar.
PT. Cipta Jaya Mulia (CMJ ) Kabupaten Jayawijaya Provinsi Papua merupakan
salah satu usaha pertambangan milik Pemerintah Kabupaten Jayawijaya, yang
bergerak dibidang kontruksi. Kegiatan penambangan dilakuakan dengan sistem
kontrak, lokasih penambangan berada dipinggiran sungai Wouma, material yang
ditambang ( mineral non logam) yang dikenal dengan tambang sirtu.
Dalam Tahapan pengolahan dan pemurnian PT. Cipta Jaya Mulia hanya
melakukan pengolahannya terhadap sirtu guna penyegeraman ukuran material batuan
, karena batuan yang ditambang ukurannya tidak seragam.

1
III. Permasalahan
Masalah yang diamati antara lain:
1. Mengetahui produktifitas unit Crushing Plant.
2. Mengetahui kegiatan yang berlangsung dapat memenuhi target produksi yang dit
etapkan.
3. Mengetahui hambatan-hambatan yang terjadi pada unit crushing plant.
4. Optimalisasi produksi crusher

IV. Batasan masalah


Batasan masalah penelitian dibatasih pada:
1. Evaluasi produksi crusher.
2. Menghitung produksi crusher.
3. Perhitungan kapasitas crushing plant hanya sebatas pada unit hopper, crusher,
dan belt conveyor tampa mengaji masalah ekonomi.
4. Penelitian dilakukan dengan mengamati alat dari unit yang dianalisis hanya
sebatas unit crushing plant

V. Tujuan dan Manfaat


Adapun tujuan dilakukannya penelitian pada alat unit crushing plant adalah:
1. Mengetahui produksi crusher.
2. Mengetahui kapasitas aktual pada unit crushing plant.
3. Mengetahui hitungan pada masing-masing komponen crushing plant.
4. Mengetahui faktor-faktor hambatan produksi pada crushing plant.
Manfaat yang diambil dari penelitian adalah:
1. Dapat membantu dalam proses untuk memperoleh data aktual berhubungan
dengan penelitian yaitu mengenai evaluasi kinerja unit produktivitas crushing
plant untuk mengoptimalkan target produksi.
2. Mengetahui kondisi aktual yang terjadi dalam kegiatan pengolahan.
3. Mengetahui produktifitas unit crushing plant.
4. Mengetahui hambatan-hambatan yang terjadi pada unit crushing plant.

2
5. Mengetahui apakah kegiatan yang berlangsung dapat memenuhi target produksi
yang ditetapkan.

VI. Hipotesis
VII. Tinjauan Geologi Regional
VIII. Tinjauan Pustaka
Setiap proses pengolahan bahan galian industri sudah pasti melakukan proses
pengecilan ukuran material. Proses pengolahan dilakukan dengan cara kominusi.

8.1 Tahapan Kominusi


Kominusi adalah proses pengecilan ukuran butir atau meliberasi bijih dengan
harapan agar sifat mineralnya tampak murni/ asli dan terbebas dari gangue mineral.
Proses mereduksi ukuran butir material dilakukan melalui dua kegiatan, yaitu
crushing (peremukan) gaya yang dominan adalah compressive strength, dan grinding
(penggilingan) gaya yang dominan adalah impact, abrasion dan shear stress.
Kominusi dilakukan dalam tiga tahap, yaitu :
1. Primary crushing umpan yang dimasukkan berkisar 1500 mm, biasanya
merupakan hasil tambang. Alat yang digunakan adalah Jaw Crusher dan Gyratory
Crusher.
2. Secondary crushing, umpan yang dimasukkan berkisar 150 mm , biasanya berasal
dari produk primary crushing. Alat yang digunakan adalah Jaw Crusher ukuran
kecil, Gyratory Crusher ukuran kecil, Cone Crusher, Hammer Crusher, dan Roll
crusher.
3. Fine crushing, umpan yang dimasukkan merupakan produk dari secondary
crushing. Dengan ukuran umpan berkisar 25,4 mm. Alat yang digunakan adalah
Roll Crusher, Dry Ball Mill.
Proses peremukan atau pengecilan ukuran butir batuan harus dilakukan secara
bertahap karena keterbatasan kemampuan alat untuk mereduksi batuan berukuran
besar sampai menjadi butiran – butiran kecil seperti yang dikehendaki.

3
Dalam pelaksanaannya proses peremukan bias dilakukan dengan dua macam
siklus, yaitu siklus terbuka dan siklus tertutup.

Gambar 7.1 Open circuit Crushing

Gambar 7.2 Close circuit crushing

8.2 Kegiatan Unit Peremuk


Peremukan material dimaksud untuk memperkecil ukuran material agar dapat
digunakan pada proses berikutnya. Kegiatan peremukan memerlukan beberapa
peralatan, yaitu hopper, feeder, mesin peremuk (crusher), ayakan (screen), ban
berjalan (conveyor) dan peralatan tambahan lain yang saling berkaitan.

4
Untuk memperkecil material hasil penambangan yang umumnya masih
berukuran bongkah digunakan alat peremuk. Mula-mula material hasil penambangan
masuk melalui hopper yang kemudian diterima vibrating feeder sebelum masuk ke
dalam mesin peremuk. Hasil dari peremukan kemudian dilakukan pengayakan yang
akan menghasilkan dua macam produk yaitu produk yang lolos ayakan yang disebut
undersize yang merupakan produk yang akan diolah lebih lanjut dan material yang
tidak lolos ayakan yang disebut oversize yang merupakan produkta yang akan
dikembalikan lagi ke dalam mesin peremuk melalui conveyor.

8.3 Peralatan Pada Unit Crushing Plant


Peralatan-peralatan yang biasanya digunakan pada unit peremuk (crushing
plant) adalah sebagai berikut :
a. Hopper
Hopper adalah alat pelengkap pada rangkaian unit peremuk yang berfungsi
sebagai tempat penerima material umpan yang berasal dari lokasi penambangan
sebelum material tersebut masuk ke dalam alat peremuk.
b. Vibrating Fedeer
Merupakan susunan batang-batang baja yang membentuk ukuran lubang
bukaan tertentu. Vibrating Feeder berfungsi sebagai pengumpan mesin peremuk,
juga untuk memisahkan material umpan yang sudah memenuhi ukuran yang
diharapkan. Dengan adanya alat ini maka material umpan yang telah memenuhi
ukuran produk tidak perlu dilakukan pengecilan ukuran lagi. Produksi teoritis
vibrating feeder didasarkan pada rumus :
𝐾 = 𝑇 × 𝐿 × 𝑉 × 𝐵𝑖 (8.1)
dimana :
K = Produksi nyata vibrating feeder (ton/jam)
T = Tebal material pada vibrating feeder (m)
L = Lebar feeder (m)
V = Kecepatan vibrating feeder (m/jam)
Bi = Bobot isi material (ton/m3)

5
c. Alat Peremuk ( Roll Crusher)
Alat ini terdiri dari dua buah silinder baja dan masing-masing dihubungkan
pada as (poros) tersendiri. Silinder ini berputar berlawanan arah sehingga material
yang ada diatas roll akan terjepit dan hancur.

Gambar 7.3
Gambar beberapa tipe shell pada roll crusher (a) two corrugated shells, (b)
one corrugated and one smoth shell, (c) one step tooth and one smooth
shell, (d) two step tooth shells synchronized, (e) two smooth shells

Kapasitas roller tergantung pada kecepatan, lebar permukaan, diameter roll


crusher dan jarak antara roll yang satu dengan lainnya. Kapasitas roll crusher (C)
dinyatakan dengan rumus berikut :
𝐶 = 0,0034 × 𝑁 × 𝐷 × 𝑊 × 𝐺 × 𝑠 (8.2)
Dimana,
N = Jumlah putaran ( rpm)
W = Lebar permukaan roll (inchi)
D = Diameter roll( inchi)

6
G = Berat jenis material
s = Jarak antar roll (inchi)
a) Ribbon factor, adalah perbandingan antara volume batuan yang dihancurkan
dengan volume batuan yang lolos melalui roll.
2900 𝑇𝑎
𝑟= (8.3)
𝐿×𝑠×𝑊

Dimana,
Ta = Kapasitas roller sebenarnya
S = Jarak antar roll (inchi)
L = Kecepatan roller (ft/menit)
W = Lebar permukaan roll (inchi)
Hancurnya material pada roll crusher dibedakan menjadi :
1) Choke crushing, yaitu penghancuran material yang tidak saja dilakukan oleh
permukaan roll tetapi juga oleh sesama material. Keuntungan dari choke crushing
adalah:
 Penghancuran yang terjadi adalah ore on ore juga ore on metal
 Kapasitas lebih besar
2) Free crushing, yaitu material yang masuk langsung dihancurkan oleh roll.
Hubungan antara diameter roll dengan ukuran umpan adalah sebagai berikut:
𝑆 = 0,0476 × 𝐷 (8.4)
Diamana,
S = Diameter umpan (inchi)
D = Diameter roll (inchi)
Kecepatan crushing tergantung pada kecepatan pemberian umpan (feed rate)
dan macam reduksi yang diinginkan.

d. Ayakan Getar (Vibrating Screen)


Adalah alat yang digunakan untuk memisahkan ukuran material hasil proses
peremukan berdasarkan besarnya bukaan pada ayakan tersebut yang dinyatakan

7
dengan mesh. Pengertian mesh adalah jumlah lubang bukaan yang terdapat dalam 1
inchi panjang. Kapasitas dari ayakan dihitung dengan menggunakan rumus seperti
pada vibrating screen. Proses pengayakan dipengaruhi oleh faktor-faktor :
- lamanya waktu pengayakan
- banyaknya material halus dalam umpan
- kandungan air dalam material
- bentuk dari lubang ayakan
Untuk menghitung efisiensi dari ayakan diperoleh dari perbandingan antara
berat material yang benar-benar lolos ayakan dengan berat material yang seharusnya
lolos ayakan. Efisiensi dinyatakan dalam persen.
Kapasitas teoritis dari ayakan getar dapat diketahui dengan menggunakan rumus
(Kurimoto):
C
A
BxGxVxHxExMxOxDxTxW
maka, (8.5)
C  AxBxGxVxHxExMxOxDxTxW
keterangan :
 C = kapasitas teoritis ayakan getar.
 A = luas ayakan ( m2 )
 B = ukuran lubang bukaan
 G = faktor “bulk density”
 V = % “oversize” pada lubang bukaan
 H = % “halfsize” pada lubang bukaan
 E = effisiensi ayakan.
 M = kandungan air pada material.
 O = % “open area”.
 D = faktor deck location.
 T = faktor opening.
 W = faktor kelembaban ayakan.

8
Untuk mengetahui efisiensi ayakan diperoleh dari perbandingan antara berat
material (undersize) yang bener–benar lolos ayakan dengan material (undersize) yang
seharusnya lolos ayakan. Efisiensi dinyatakan dalam persen. Rumus effisiensi pada (
Norberg ) :
𝐵𝑒𝑟𝑎𝑡 𝑝𝑟𝑜𝑑𝑢𝑘 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑏𝑒𝑛𝑎𝑟 𝑏𝑒𝑛𝑎𝑟 𝑙𝑜𝑙𝑜𝑠 𝑎𝑦𝑎𝑘𝑎𝑛
𝐸= 𝑥 100% (8.6)
𝐵𝑒𝑟𝑎𝑡 𝑝𝑟𝑜𝑑𝑢𝑘 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑠𝑒ℎ𝑎𝑟𝑢𝑠𝑛𝑦𝑎 𝑙𝑜𝑙𝑜𝑠 𝑎𝑦𝑎𝑘𝑎𝑛

e. Ban Berjalan (Conveyor)


Conveyor merupakan alat angkut pada unit peremukan yang berfungsi untuk
mengembalikan material hasil peremukan yang tidak lolos ayakan untuk dilakukan
proses peremukan lagi. Conveyor digerakkan oleh motor penggerak yang dipasang
pada head pulley. Conveyor akan kembali ke tempat semula karena di belokkan oleh
pulley awal dan pulley akhir. Material yang didistribusikan melalui pengumpan akan
dibawa oleh ban berjalan dan berakhir pada head pulley. Pada saat proses kerja di unit
peremuk dimulai, conveyor harus bergerak lebih dulu sebelum alat peremuk bekerja.
Hal ini bertujuan untuk mencegah terjadinya kelebihan muatan (over load) pada
conveyor.
Faktor-faktor yang berpengaruh pada pemakaian conveyor adalah :
- Sifat fisik dan keadaan material
- Keadaan topografi
- Jarak pengangkutan
- Produksi
Dalam menghitung kapasitas teoritis harus ditentukan luas penampang
melintang muatan di atas conveyor, yaitu :
(8.7)
𝐴 = 𝐾(0,9 𝐵 − 0,05)2

dimana :
A = luas penampang melintang muatan di atas ban berjalan ( m2 )
K = koefisien dari luas penampang melintang di atas ban berjalan dan harganya
tergantung harga trough angle dan surcharge angle
B = lebar conveyor ( m )

9
Sedangkan kapasitas teoritis conveyor dihitung dengan :
𝑄𝑡 = 60 × 𝐴 × 𝑉 × 𝐵𝑖 × 𝑆 (8.8)
dimana :
Qt = kapasitas teoritis conveyor (ton / jam)
A = luas penampang melintang muatan di atas ban berjalan ( m2 )
V = kecepatan ban berjalan (m / menit)
Bi = bobot isi material yang diangkut (ton / jam)
S = koefisien harga yang dipengaruhi kemiringan ban berjalan

8.4 Unsur – Unsur yang Mempengaruhi Produksi


8.4.1 Neraca Bahan (Material Balance)
Neraca bahan adalah suatu neraca kesetimbangan pada pengolahan bahan
galian dimana jumlah partikel umpan yang masuk dalam alat pengolahan jumlahnya
akan sama dengan jumlah material yang keluar. Untuk mencari neraca bahan
dirumuskan dengan :
𝐹 =𝐶+𝑇 (8.9)
dimana :
F = berat material umpan (ton)
C = berat konsentrat (ton)
T = berat tailing (ton)

8.4.2 Recovery
Recovery adalah perbandingan antara berat konsentrat dibandingkan dengan
berat umpan. Recovery berguna untuk mengetahui perolehan atau hasil dari suatu
proses peremukan yang dinyatakan dalam persen.
𝑐
𝑅 = 𝑓 × 100% (8.10)

dimana :
R = recovery (%)
C = konsentrat (ton)

10
F = umpan (ton)

8.4.3 Reduction Ratio


Reduction ratio sangat menentukan keberhasilan suatu peremukan, karena besar
kecilnya nilai reduction ratio ditentukan oleh kemampuan alat peremuk untuk
mengecilkan ukuran material yang akan diremuk. Untuk itu harus dilakukan
pengamatan terhadap tebal material umpan maupun tebal material produk.
Reduction ratio adalah perbandingan ukuran terbesar umpan dengan ukuran
terbesar produk. Pada primary crushing besarnya reduction ratio adalah 4 – 7 dan
pada secondary crushing besarnya reduction ratio adalah 7 – 20. Besarnya reduction
ratio merupakan batasan agar kerja alat efektif.
𝑡𝐹 𝑤𝐹
𝑅𝐿 = 𝑡𝑃 = 𝑤𝑃 (8.11)

dimana :
RL = limiting reduction ratio
tF = tebal umpan (cm)
tP = tebal produk (cm)
wF = lebar umpan (cm)
wP = lebar produk (cm)

8.4.4 Ketersediaan Crusher


Adalah pengertian yang dapat menunjukkan keadaan alat mekanis tersebut,
misalnya kesediaan fisik dan efektivitas penggunaannya yang menyatakan apakah
jam kerja alat tercapai sesuai dengan yang diharapkan atau tidak.
a. Mechanical Availability
Adalah cara untuk mengetahui kondisi alat yang sesungguhnya dari alat yang sedang
digunakan.

𝑊
𝑀𝐴 = 𝑊+𝑅 × 100% (8.12)

dimana :

11
W = jumlah jam kerja alat tanpa mengalami kerusakan
R = jumlah jam perbaikan
b. Physical Availability
Adalah berguna untuk menunjukkan ketersediaan keadaan fisik alat yang
sedang digunakan.

𝑊+𝑆
𝑃𝐴 = 𝑊+𝑅+𝑆 × 100 (8.13)

dimana :
S = Jumlah jam alat tidak dapat digunakan tapi tidak mengalami kerusakan
W + R + S = Seluruh jam kerja dimana alat dijadwalkan untuk dioperasikan
c. Use of Availability
Menunjukkan persen waktu yang digunakan alat untuk beroperasi pada saat alat dapat
digunakan.

𝑊
𝑈𝐴 = 𝑊+𝑆 × 100% (8.14)

dimana :
UA = Memperlihatkan efektivitas alat yang tidak sedang rusak dapat dimanfaatkan.
d. Efective Utilization (Eut)
Cara menunjukkan berapa persen seluruh waktu kerja yang dapat dimanfaatkan untuk
kerja produktif.

𝑊
𝐸𝑢𝑡 = 𝑊+𝑅+𝑆 × 100% (8.15)

e. Efektifitas Penggunaan
Untuk mengetahui tingkat penggunaan alat peremuk dan kemampuan yang bisa
dicapai.

12
𝑲𝒂𝒑𝒂𝒔𝒊𝒕𝒂𝒔 𝑵𝒚𝒂𝒕𝒂
𝑬𝑷 = × 𝟏𝟎𝟎% (8.17)
𝑲𝒂𝒑𝒂𝒔𝒊𝒕𝒂𝒔 𝒅𝒊𝒂𝒎

f. Waktu Produksi Effektif


Perbandingan antara waktu produksi sesungguhnya dengan waktu produksi
seharusnya.

8.4.5 Kehilangan pada Kegiatan Pengolahan (Processing Losses)


Dalam pekerjaan kominusi untuk pengolahan batubara terdapat processing
losses. Processing Losses adalah hilang atau berkurangnya batubara pada proses
pengolahan (peremukan dan penyaringan) karena terbawa air atau angin, ataupun
karena efisiensi alat.
Beberapa faktor yang dapat menyebabkan terjadinya processing losses adalah
sebagai berikut :
1. Batubara hasil crusher yang menjadi debu.
2. Kegiatan penyemprotan air untuk mengurangi polusi debu dapat menyebabkan
batubara terbuang bersama air.
3. Bongkahan batuan yang besarnya melebihi lubang bukaan hopper harus
diremukkan terlebih dahulu, dalam proses peremukan ini serpihan batubara dapat
tercecer.
4. Dilakukan hand picking (hand sorting).
5. Jika pengolahan menggunakan metode pencucian batubara berdasarkan berat
jenis batubara, maka dapat terjadi batubara ikut terbuang bersama tailing karena
aliran air.
6. Batubara jatuh atau tertinggal di alat pada saat proses pengolahan.

IX. Metode Penelitian


Metode penelitian yang penulis gunakan dalam penelitian ini adalah metode
deskriptif kuantitatif, metode deskriptif kuantitatif bertujuan untuk memberikan
gambaran atau lukisan secara sistematis, faktual dan akurat mengenai fakta-fakta,
sifat-sifat serta hubungan antar fenomena yang diselidiki dengan menggunakan data

13
berupa angka sebagai alat menganalisis keterangan mengenai apa yang ingin
diketahui. (Sukandarumidi 2006).

9.1 Waktu dan Tempat


Waktu penelitian ini direncanakan berlangsung selama ± 1 bulan, yaitu bulan
Oktober 2019, yang bertempat di PT. Cipta Jaya Mulia (Kabupaten Jayawijaya,
Provinsi Papua). Di bawah ini adalah tabel rencana penelitiannya.
Tabel 8.1 Waktu Pelaksanaan Penelitian
Waktu (Minggu)
September November
No Jenis Kegiatan
2019 Oktober 2019 2019
1 2 3 4 1 2 3 4 5 1 2 3 4
1 Studi Literatur
2 Pengambilan Data
3 Analisis Data
Penyususnan
4 Laporan

: Waktu Pelaksanaan

9.2 Bahan dan Alat


Untuk mendukung dalam penelitian ini bahan tidak digunakan , sedangkan alat
digunakan adalah :

9.3 Prosedur penelitian


Rancangan kegiatan penelitian ini terdiri dari 4 tahapan yaitu tahap persiapan,
tahap pengumpulan data, tahap pengolahan data, dan tahap penyusunan laporan akhir.
a). Tahap Persiapan
Pada tahap ini dilakukan usulan tugas akhir. Sasaran utama studi pendahuluan
adalah gambaran umum daerah penelitian. Studi literatur dilakukan dengan mencari
bahan-bahan pustaka yang menunjang kegiatan penelitian, yang diperoleh dari :
- Instansi terkait
- Perpustakaan

14
- Grafik dan tabel
- Imformasi penunjang lainnya
b). Pengamatan Dilapangan
Pengambilan data dilapangan bertujuan untuk melihat langsung kondisi
lapangan daerah penelitian dan mengumpulkan data-data lapangan.
c). Pengambilan Data
Pelaksanaan untuk memperoleh data diperlukan dari beberapa sumber dalam
penyusunan skripsi.
d). Pengelompokkan Data
- Mengumpulkan data dan mengelompokkan data agar lebih mudah dianalisis
- Mengetahui keakuratan data sehingga kerja menjadi efisien
- Mengolah nilai karakteristik data-data yang mewakili opjek pengmatan
e). Pengolahan Data
Dilakukan dengan melakukan beberapa perhitungan dan pengambaran
selanjutkan disajikan dalam bentuk tabel, grafik, atau perhitungan penyelesaian.
f). Kesimpulan
Diperoleh setelah dilakukan korelasi antara hasil pengolahan dengan
permasalahan yang diteliti. Kesimpulan merupakan hasil akhir dari semua masalah
yang dibahas.

15
DIAGRAM ALIR PENELITIAN

Mulai

Rumusan Permasalahan
1. Mengetahui produktifitas unit Crushing Plant.
2. Mengetahui kegiatan yang berlangsung dapat memenuhi target
produksi yang ditetapkan.
3. Mengetahui hambatan-hambatan yang terjadi pada unit crushing plant.
4. Optimalisasi produksi crusher

Studi Literatur

Pengambilan data

Data Primer Data Sekunder


 Proses peremukan material (sirtu)  Kondisi dan kesampaian daerah
 Analisis terhadap ukuran material penelitian
masuk dan material keluar double  Target produksi perusahaan saat
roll crusher penelitian
 Laju pengumpanan material  Kondisi geologi daerah penelitian
(feeding) oleh conveyor  Spesifikasi peralatan crushing plant.

Pengolahan Data
 Analisis waktu kerja efektif crushing plant
 Perhitungan produksi crushing plant teoritis dan aktual
saat ini.
 Analisis pengaruh kecepatan pengumpanan material
terhadap kapasitas crushing plant.
 Analisa besarnya processing losses
 Analisa nisbah reduksi (reduction ratio) crusher.
 Membuat kurva hubungan kecepatan pengumpanan
dengan kapasitas crusher.

Hasil & Pembahasan

Kesimpulan & saran

Selesai

Gambar 9.1 Diagram Alir Penelitian

16
9.4 Variabel Pengamatan
Variabel pengamatan merupakan semua objek yang akan diamati dilapangan.
Pada penelitian ini variabel penelitian yang akan diamati meliputi :
1. Kondisi daerah penelitian
2. Proses pengolahan sirtu
3. Speksifikasi unit crushing plant
4. Target produksi perusahan
9.5 Pengolahan dan Analisis Data
Pengolahan data hasil penelitian dilakukan dengan perhitungan berdasarkan
teori yang ada dan data hasil penelitian
 Perhitungan Produksi
Perhitungan hasil produksi didapatkan dari rumus-rumus :
- Neraca bahan
- Recovery
- Reduction Ratio
 Jam Kerja
Perhitungan jam kerja yang meliputi jam kerja alat dan operator didapatkan
dengan pengukuran langsung di unit pengolahan dan rumus-rumus yang ada.
 Kondisi Alat
Untuk kondisi alat pengolahan dilakukan dengan pengamatan keadaan alat
secara langsung dan kondisi secara teoritis dengan menggunakan rumus yang ada.
 Kondisi Material
Untuk mengetahui tentang kondisi material sebelum dan setelah pengolahan
dilakukan dengan pengamatan langsung dan pengukuran untuk ukuran material.
a) Analisa data
Dari rumusan-rumusan yang telah didapat kemudian dilakukan analisa untuk
menemukan jawaban atas pertanyaan perihal rumusan dan hal-hal yang diperoleh
dalam penelitian.

17
Analisis Crushing Plant
untuk Pengoptimalan Hasil Produksi

Perumusan Masalah dan


Studi Literatur

Pengambilan Data

Data Primer Data Sekunder


 Kinerja aktual peralatan unit crushing Plant  Data produksi sirtu
 Cycle Time loade atau alat pengumpan  spesifikasi alat – alat yang
 Produktivitas hopper Bucket Capacity digunakan
 Produktivitas belt conveyor  kondisi dan kesampaian daerah
 Jam kerja aktual penelitian
 Kondisi geologi dan morfologi
daerah penelitian

Pengolahan Data
 Perhitungan kapasitas produksi pada Hopper,
 Perhitungan produksi Crusher
 Perhitungan kapasitas Belt Conveyor

Analisis
 Mengevaluasi ketercapaian target produksi pada unit crushing Plant
 Produktivitas per unit crushing Plant dalam pencapaian target produksi

Optimal Belum optimal

Analisis Permasalahan

Usaha optimalisai
produktivitas unit
peremuk
Solusi pemecahan masalah
dan rekomendasi

Kesimpulan

Gambar 9.2 Diagram Alir Pengolahan Dan Analisis Data

18
9.6 Outline penelitian
HALAMAN JUDUL
HALAMAN TUJUAN
HALAMAN PENGESAHAN
PERNYATAAN KEASLIAN PENELITIAN
ABSTRAK
HALAMAN PERSEMBAHAN
KATA PENGANTAR
RIWAYAT HIDUP
DAFTAR ISI
DAFTAR LAMPIRAN
DAFTAR GAMBAR
DAFTAR TABEL
DAFTAR LAMPIRAN
DAFTAR SINGKATAN DAN SIMBOL
I. PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
1.2. Masalah Penelitian
1.3. Batasan Masalah
1.4. Tujuan dan Manfaat Penelitian

II. TINJAUAN UMUM DAERAH


2.1. Keadaan Umum Daerah
2.2. Lokasi dan Kesampaian Daerah
2.3. Vegetasi
2.4. Kondisi Geologi
2.5. Sejarah Singkat Perusahaan
III. TINJAUAN PUSTAKA
3.1 Penelitian Terhahulu
3.2 Tahapan Kominusi

19
3.3 Kegiatan Unit Peremuk
3.4 Peralatan Pada Unit Crushing Plant
3.5 Unsur – Unsur yang Mempengaruhi Produksi
IV. METODE PENELITIAN
4.1. Waktu dan Tempat
4.2. Alat dan Bahan
4.3 Prosedur Penelitian
4.4 Variabel Pengamatan
4.5 Analisis Data
V. HASIL DAN PEMBAHASAN
5.1. Hasil
5.2. Pembahasan
VI. PENUTUP
1.1 Kesimpulan
1.2 Saran

DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN

20

Anda mungkin juga menyukai