Anda di halaman 1dari 16

PURIFIKASI DAN IDENTIFIKASI SENYAWA ANTIOKSIDAN

DARI SPONS Aaptos sp.


Muhammad Nursid*), Hedi Indra Januar*) dan Ekowati Chasanah*)

ABSTRAK
Penelitian untuk mengisolasi dan mengidentifikasi senyawa antioksidan dari spons
Aaptos sp. telah dilakukan. Uji antioksidan dilakukan dengan metode 2,2 difenil pikril hidrazil
(DPPH). Fraksinasi dan isolasi senyawa aktif dilakukan dengan menggunakan kromatografi
kolom C18, silika gel dan kromatografi lapis tipis preparatif. Identifikasi senyawa yang diperoleh
dilakukan berdasarkan atas data spektra massa menggunakan LC-PDA-MS dan dibandingkan
dengan pustaka digital MarinLit 2007. Hasil uji antioksidan menunjukkan bahwa sub fraksi 1
memiliki aktivitas antioksidan yang cukup baik dengan IC50 24,6 µg/ml. Sub fraksi 2 tidak
menunjukkan aktivitas antioksidan dengan IC50 > 1000 µg/ml. Identifikasi lebih lanjut terhadap
sub fraksi 1 menunjukkan bahwa senyawa kimia yang terdapat di dalamnya adalah aaptamin atau
isoaaptamin, sedangkan senyawa kimia yang terdapat pada sub fraksi 2 adalah 4-metilaaptamin
dan dimetiloksiaaptamin.
ABSTRACT : Purification and identification of antioxidant compound of Aaptos sp. sponge.
By : Muhamammd Nursid, Hedi Indra Januar and Ekowati Chasanah

Research to isolate and identify antioxidant compounds in Aaptos sp. sponge has been
carried out. Antioxidant test was performed using 2,2 diphenyl picrylhydrazyl (DPPH).
Fractionation and isolation of bioactive compound was carried out using C18 column
chromatography, silica gel column chromatography and preparative thin layer chromatography.
Compounds identification was performed using LC-PDA-MS and was compared to 2007
MarinLit digital library. Result of the study showed that sub fraction 1 had strong antioxidant
activity with IC50 value of 24.6 µg/ml. Sub fraction 2 did not show antioxidant activity with IC50
value of >1000 µg/ml. Further identification revealed that the chemical compound of sub
fraction 1 was aaptamine or isoaaptamine while the chemical compounds of sub fraction 2 were
4-methyl aaptamine and dimethyloxiaaptamine.
KEYWORDS : Purification, identification, antioxidant compound, Aaptos sp.

PENDAHULUAN

Sejak tahun 1969 sampai 1999 lebih kurang 300 paten telah dihasilkan dalam bidang

marine natural products. Setiap tahun sekitar 100 senyawa yang berhasil diinvestigasi. Sebagian

besar senyawa aktif dari lingkungan laut diteliti khasiatnya sebagai bahan antikanker (Proksch et

al., 2002).

*Peneliti pada Balai Besar Riset Pengolahan Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan
Spons dikenal sebagai organisme yang kaya dengan kandungan senyawa bioaktif.

Menurut Munro et al. (1999), spons merupakan biota laut yang paling banyak diteliti kandungan

senyawa bioaktifnya. Senyawa bioaktif dari spons sangat beragam dan secara kimia memiliki

struktur yang unik dan menarik untuk dijadikan sebagai senyawa pemandu (lead compound)

dalam sintesis obat-obat baru.

Aaptos merupakan salah satu genera spons yang banyak diteliti kandungan dan aktivitas

senyawa bioaktifnya. Spons ini banyak mengandung senyawa alkaloid yang memiliki aktivitas

antitumor, antimikrobial, antivirus dan lain-lain. Menurut Souza et al (2007), senyawa 4-

metilaaptamin yang diisolasi dari spons Aaptos aaptos dapat menghambat infeksi Herpes

Simplex Virus-1 (HSV-1). Nakamura et al. (1987) menemukan 2 senyawa baru golongan alkaloid

dari spons Aaptos aaptos yang berasal dari perairan Okinawa yaitu dimetilaaptamin dan

dimetil(oksi)aaptamin yang memiliki aktivitas sitotoksik dan antimikrobial. Laporan lain

menyebutkan bahwa isoaaptamin dari Aaptos memiliki aktivitas untuk mencegah infeksi

Staphylococcus aureus dengan menghambat enzim sortase A (SrtA) (Jang et al., 2007). Namun

demikian, laporan bahwa senyawa-senyawa aktif dari spons Aaptos juga memiliki bioaktivitas

untuk meredam radikal bebas 2,2 difenil pikril hidrazil (DPPH) masih jarang terpublikasi.

Jumlah spesies spons di dunia ini diperkirakan mencapai 5000 - 9000 jenis (Colin dan

Arneson, 1995) dan 700 jenis di antaranya terdapat di perairan Indoensia (Tanaka et al., 2002

dalam Dahuri, 2003). Berdasarkan besarnya jumlah jenis spons dari Indonesia maka menjadi hal

yang penting untuk melakukan investigasi kandungan senyawa bioaktif yang terdapat di

dalamnya.

Penelitian ini bertujuan untuk mengisolasi dan mengidentifikasi senyawa antioksidan dari

spons Aaptos sp. yang berasal dari Taman Nasional Laut Karimunjawa, Jawa Tengah. Penelitian

ini diharapkan dapat membantu dalam mengungkap nilai bioprospeksi yang terkandung dalam

spons yang berasal dari perairan Indonesia.


2
METODE PENELITIAN

Preparasi Bahan dan Ekstraksi

Spons KJ-05-06 diambil dari perairan Taman Nasional Laut Karimunjawa. Spesimen

langsung dipreservasi di lapangan dengan etanol teknis. Ekstraksi dilakukan di laboratorium

dengan cara sebagai berikut. Spesimen dipotong-potong kemudian dimaserasi dengan pelarut

etanol. Setelah 12 jam filtrat disaring dengan kertas Whatman no 42. Ekstraksi dilakukan

sebanyak 3 kali. Filtrat kemudian dievaporasi dengan rotavapor vakum pada suhu 4 oC sampai

etanol habis menguap. Sisa air yang terdapat pada ekstrak lalu dikeringkan dengan freeze dryer.

Fraksinasi dan Isolasi

Fraksinasi dan isolasi dilakukan dengan menggunakan kromatografi kolom. Purifikasi

didasarkan atas assay guided isolation. Bioassay yang digunakan sebagai pemandu isolasi adalah

uji antioksidan menggunakan radikal bebas 2,2 difenil pikril hidrazil (DPPH). Fraksinasi

terhadap ekstrak kasar dilakukan dengan kolom kromatografi fase balik C 18 menggunakan fase

gerak yang dimulai dari air 100 % kemudian polaritasnya diturunkan secara bertahap sampai

metanol (M) : etil asetat (EA) (5:1). Fraksi yang aktif lalu difraksinasi lebih lanjut menggunakan

kolom kromatografi fase normal silika gel dan dielusi dengan heksan (H) : etil asetat (5:1) dan

secara bertahap polaritasnya dinaikkan hingga metanol 100 %. Fraksi yang memiliki aktivitas

terbaik lalu dipurifikasi dengan menggunakan kromatogafi lapis tipis preparatif pada fase diam

silika gel dan fase gerak diklorometan : metanol (5:1).

Identifikasi senyawa yang diperoleh dilakukan berdasarkan analisis spektra massa

menggunakan LC-PDA-MS. Data ini digabung dengan data jenis spons dan hasilnya

dibandingkan dengan pustaka digital MarinLit 2007 Version # vpc13.5 (Blunt and Blunt, 2007)

3
Uji Antioksidan

Pengujian dilakukan dengan menggunakan mikroplat 96 sumuran (well) menurut Yong Li

et al. (2006). Ekstrak spons dibuat dengan 3 seri konsentrasi 10, 100 dan 1000 µg/ml dalam

larutan metanol p.a. Ekstrak spons pada setiap seri konsentrasi dimasukkan ke dalam sumuran

sebanyak 160 µl. Kemudian ke dalam sumuran yang sudah berisi ekstrak di tambahkan larutan

DPPH masing-masing 40 µl. Larutan DPPH dibuat dengan cara melarutkan 3 mg DPPH dalam

10 ml metanol p.a. Sebagai kontrol ekstrak spons, sebanyak 160 µl ekstrak spons tiap seri

konsentrasi dimasukkan ke dalam sumuran lalu ditambahkan 40 µl metanol p.a. Kontrol negatif

(tanpa pemberian ekstrak spons) dibuat dengan cara menambahkan 160 µl metanol p.a dengan 40

µl DPPH, dan sebagai blanko digunakan 200 µl metanol p.a. Asam askorbat digunakan sebagai

kontrol positif menggunakan seri konsentrasi dan volume yang sama dengan perlakuan contoh.

Mikroplat kemudian diinkubasi pada suhu ruang selama 30 menit. Setelah 30 menit absorbansi

dari tiap sumuran dibaca dengan dynex microplate reader pada panjang gelombang 510 nm.

Persentase penghambatan radikal bebas ditentukan dengan rumus :


(A – B) – (C – D)
% hambatan = x 100 %
(A – B)
Di mana : A = absorbansi kontrol negatif
B = absorbansi blanko
C = absorbansi ekstrak spons
D = absorbansi kontrol ekstrak spons

Data persentase penghambatan digunakan untuk mencari nilai Inhibition Concentration

50 (IC50) dalam µg/ml. Nilai IC50 ditentukan dengan analisis probit menggunakan bantuan

perangkat lunak MINITAB versi 13.0.

4
HASIL DAN BAHASAN

Spons KJ-05-06 diambil dari Taman Nasional Laut Karimunjawa, Jawa Tengah. Spesimen

spons ini sekarang disimpan di laboratorium Bioteknologi Balai Besar Riset Pengolahan Produk

dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan sebagai koleksi. Hasil identifikasi sepesimen spons

KJ-05-06 yang dilakukan di Pusat Penelitian Oseanologi LIPI menunjukkan bahwa spons ini

termasuk dalam jenis Aaptos sp (Gambar 1).

Gambar 1. Spesimen spons Aaptos sp.


Figure 1. Specimen of Aaptos sp. sponge

Pengujian aktivitas antioksidan terhadap ekstrak kasar spons Aaptos sp. menghasilkan

nilai IC50 sebesar 30,5 µg/ml. Nilai IC50 sebesar ini menunjukkan bahwa dalam ekstrak kasar

Aaptos sp. terdapat substansi aktif antioksidan yang sangat potensial untuk diteliti lebih lanjut.

Tahap pertama untuk mengetahui senyawa antioksidan dari ekstrak kasar Aaptos sp. adalah

dengan melakukan fraksinasi menggunakan kolom kromatografi dengan fase diam C 18 dan dielusi

dengan eluen air 100%, air : metanol (5:1), air : metanol (1:1), air metanol (1:5), metanol 100%

dan metanol : etil asetat (5 : 1). Fraksinasi tahap pertama ini menghasilkan 6 fraksi. Hasil

fraksinasi dan uji antioksidan terhadap setiap fraksi yang dihasilkan disajikan pada Tabel 1.

5
Tabel 1. Hasil fraksinasi KJ-05-06 dan nilai IC50 uji antioksidan
Table 1. Result of KJ-05-06 fractionation and IC50 value of antioxidant test

Fase Gerak/ Berat (mg)/ Rendemen (%)/


No/No Fraksi/Fractions IC50 (ug/mL)
Eluent Weight (mg) Yields (%)
1 KJ05F1 W (100 %) 672.9 26.9 1272.6
2 KJ05F2 W:M (5:1) 818.7 32.7 263.8
3 KJ05F3 W:M (1:1) 224.9 8.9 10.7
4 KJ05F4 W:M (1:5) 120.1 4.8 46.8
5 KJ05F5 M (100%) 36.6 1.4 71.6
6 KJ05F6 M:EA (5 : 1) 6.3 0.3 24.3
Keterangan/Remark :
W = air/water, M = metanol/methanol, EA = etil asetat/ethyl acetate

Berdasarkan Tabel 1 dapat dilihat bahwa fraksi no. 3 (KJ05F3, cetak tebal) memiliki

aktivitas yang paling kuat dengan IC50 sebesar 10,7 ug/mL. Fraksinasi lebih lanjut fraksi KJ05F3

selanjutnya dilakukan dengan kromatografi kolom silika gel dengan fase gerak heksan : etil

asetat (5:1), etil asetat : metanol (10:1), etil asetat : metanol (1:1), etil asetat : metanol (1:10) dan

metanol 100 %. Hasil fraksinansi KJ05F3 dan nilai IC50 fraksi-fraksi yang dihasilkan disajikan

pada Tabel 2.

Tabel 2. Hasil isolasi KJ05F3 dan IC50 uji antioksidan


Table 2. Result of KJ05F3 isolation and IC50 value of antioxidant test

Fase Gerak/ Berat (mg)/ Rendemen (%)/


No/No Fraksi/Fractions IC50 (ug/mL)
Eluent Weight (mg) Yields (%)
1 KJ05F3.1 H:EA (5:1) - EA:M (10:1) 2 0.9 6619.6
2 KJ05F3.2 EA:M (10:1) - EA:M (1:1) 0.6 0.2 39759.3
3 KJ05F3.3 EA:M (1:1) 5.9 2.6 166.1
4 KJ05F3.4 EA:M (1:1) 67.5 30.1 13.2
5 KJ05F3.5 EA:M (1:1) - EA:M (1:10) 32.1 14.3 37.6
6 KJ05F3.6 M (100%) 11.6 5.1 183.6
Keterangan/Remark :
H = heksana/hexane, EA = etil asetat/ethyl acetate, M = metanol/methanol

Dari Tabel 2 di atas terlihat bahwa fraksi no. 4 (KJ05F3.4, cetak tebal) memiliki aktivitas

antioksidan yang paling kuat dengan IC50 13,2 ug/mL. Selain itu, rendemen yang dihasilkan dari

fraksi ini juga tinggi (30,1 %). Purifikasi fraksi KJ05F3.4 selanjutnya dilakukan dengan

6
menggunakan kromatografi lapis tipis (KLT) preparatif dengan fase diam silika gel dan dielusi

dengan fase gerak diklorometan : metanol = 5 : 1. Hasil KLT menunjukkan terdapat 2 buah sub

fraksi yang memisah dengan baik. Sub fraksi pertama (kode fraksi : KJ05F3.4.1) memiliki rf =

0,63 dan sub fraksi kedua (kode fraksi : KJ05F3.4.2) memiliki rf = 0,86 (Gambar 2).

Sub Fraksi 2 (KJ05F3.4.2)


Rf = 0,86

Sub Fraksi 1 (KJ05F3.4.1)


Rf = 0,63

Gambar 2. Hasil KLT preparatif fraksi KJ05F3.4 yang dideteksi pada sinar UV 366 nm
Figure 2. Result of preparative TLC of KJ05F3.4 fraction detected by 366 nm UV light

Kedua senyawa ini selanjutnya dianalisis menggunakan LCMS untuk melihat kemurnian

dan spektra massanya. Eluen yang digunakan dalam analisis LCMS adalah asetonotril 10 %

dalam air kemudian secara gradien menuju 100 % asetonitril. Kromatogram, spektra massa dan

serapan UV sub fraksi 1 disajikan pada Gambar 3.


Int . T IC(1.00)

150 e6

125 e6

100 e6

75 .0 e6

50 .0 e6

1 A
25 .0 e6 7

5 10 15 20 25 30 35 min
2

Int. 229

12.5e6
B
10.0e6

7500e3

5000e3

2500e3 291

122 212 472


258
143 163 196 311 337 373 392 409 447 489 520 563 581 652 712 762 792
0e3
100 150 200 250 300 350 400 450 500 550 600 650 700 750 m/z

mA bs 13.87 /1.00

60

236.54
50
252.69
246.47
C
40 221.67

30

373.00
374.26
375.52
378.04
379.30
20 398.24

10

200 300 400 500 600 700 nm

Gambar 3. Kromatogram LCMS (A), spektra massa (B), dan serapan UV (C) dari sub fraksi 1
Figure 3. LCMS Chromatogram (A), Mass spectra (B) and UV absorbance (C) of sub fraction 1
Kromatogram dari sub fraksi 1 (Gambar 3 A) terdiri dari dua puncak, puncak pertama

(puncak tajam) merupakan puncak absorbansi eluen dan puncak kedua yang terlihat lebih datar

8
dan memanjang merupakan absorbansi dari sub fraksi 1. Bentuk puncak sub fraksi 1 sesuai

dengan bentuk spot pada KLT yaitu memanjang dan berekor seperti yang terlihat pada Gambar

2. Dari data spektra massa pada Gambar 3 B, terdapat ion massa pada m/z 229 dan m/z 291.

Selisih dari kedua nilai ini sama dengan 62, adalah karakteristik untuk penambahan adduct ion

(AcN+Na)+. Oleh karena itulah pola massa untuk senyawa pada kromatogram di atas adalah

(M+H)+ yaitu pada m/z 229 dan (M+AcN+Na)+ pada m/z 291. Berdasarkan database MarinLit

(Blunt and Blunt, 2007), senyawa yang memiliki massa 229 (m+), serapan UV pada 235 dan 375

nm (Gambar 3 C) adalah aaptamin dan isoaaptamin. Kedua senyawa ini merupakan dua isomer

gugus fungsional. Perkiraan ini diperkuat secara taksonomis bahwa spons KJ-05-06 termasuk

dalam jenis Aaptos sp. yang dikenal sebagai spons penghasil senyawa aaptamin.

Hasil uji antioksidan menunjukkan bahwa sub fraksi 1 memiliki aktivitas antioksidan

yang kuat dengan nilai LC50 sebesar 24,6 µg.ml. Informasi mengenai aktivitas antioksidan dari

aaptamin masih sangat terbatas sehingga hasil penelitian ini memberikan informasi yang baru

tentang bioaktivitas aaptamin terhadap radikal bebas DPPH. Struktur aaptamin dan isoaaptamin

menurut Blunt and Blunt (2007) serta berat molekul (BM) dan serapan optimun UV disajikan

pada Gambar 4.

OCH3
O
H3CO Aaptamin HO Isoaaptamin
C13H12N2O2 C13H12N2O2
BM: (M): m/z 228 BM: (M): m/z 228
NH (M+H)+: m/z 229 (M+H)+: m/z 229
N
(M+Acn+Na)+: m/z 291 (M+Acn+Na)+: m/z 291
UV: 235 dan 375 nm UV: 235 dan 375 nm
N N
0523/1

Gambar 4. Struktur molekul aaptamin dan isoaaptamin


Figure 4. Molecular structure of aaptamine and isoaaptamine

Kromatogram dari dari sub fraksi 2 disajikan Gambar 5 A. Dari Gambar 5 A dapat

dilihat bahwa sub fraksi 2 memiliki 3 puncak. Puncak 1 merupakan absorbansi eluen dan puncak

9
2 serta 3 merupakan absorbansi sub fraksi 2. Spektra massa dan serapan UV puncak 2 pada

kromatogram disajikan pada Gambar 5 B dan 5 C.


Int . T IC(1.00)

45.0e6

A
40.0e6

35.0e6

30.0e6 3
25.0e6

20.0e6 2
15.0e6
1
10.0e6

5.0e6

5 10 15 20 25 30 35 min

Int. 446

5.0e6

4.0e6 B

3.0e6

2.0e6
234

1.0e6 213

337
122 170 208 250 275 294 330 369 390 410 449 483 506 548 569 601 624 644 681 722 751 781
0.0e6
100 150 200 250 300 350 400 450 500 550 600 650 700 750 m/z

m Abs 7.70 /1.0 0

140

130

120
234.06
C
110

219.20
100

90

80 374.26

70

418.46
419.72
422.25
423.52
60 307.62327.69 432.37

50

40

30

20

200 250 300 350 400 450 500 550 600 650 700 750 nm

Gambar 5. Kromatogram (A), spektra massa (B) dan serapan UV (C) dari puncak 1
Figure 5. Chromatogram (A), mass spectra (B) and UV absorbance (C) of peak 1

Spektra massa pada Gambar 5 B memberikan data ion molekul yang kuat berdasarkan

adanya adduct ion pada spektra. Berturut turut puncak (M+H)+ pada m/z 213, (M+Na)+ pada m/z

10
234, dan ion dimer (M+M+Na)+ pada 446, memberikan data bahwa ion molekul netral dari

senyawa ini adalah pada m/z 212. Spektra massa pada Gambar 5 B memberikan data ion

molekul yang kuat berdasarkan adanya adduct ion pada spektra. Berturut turut puncak (M+H)+

pada m/z 213, (M+Na)+ pada m/z 234, dan ion dimer (M+M+Na)+ pada 446, memberikan data

bahwa ion molekul netral dari senyawa ini adalah pada m/z 212. Bila data ini digabung dengan

data serapan UV pada 235, 269, 272, dan 415 nm serta data nama spesies spons maka

berdasarkan database MarinLit (Blunt and Blunt, 2007), puncak 2 merupakan senyawa alkaloid

yang mirip dengan aaptamin yaitu dimetiloksiaaptamin (Gambar 6).

OCH3 Dimetiloksiaaptamin
C12H8N2O2
O
BM: (M): m/z 212
(M+H)+: m/z 213
(M+Na)+: m/z 234
N
(M+M+Na)+: m/z 446
UV: 235, 269, 272, dan 415 nm
N
2266/3

Gambar 6. Struktur molekul dimetiloksiaaptamin


Figure 6. Molecular structure of dimethyloxyaaptamine

Int.
506

7500e3 Spektra massa dan serapan UV puncak 3 dari sub fraksi 2 (Gambar 5 A) disajikan pada

Gambar 7.
5000e3

264
2500e3 A
243
503 11
383
0e3 114 155 185 212 280 305 339 398 420 478 523 582 612 630 660 683 719 764782
100 150 200 250 300 350 400 450 500 550 600 650 700 750 m/z
m Abs 10.45 /1. 00

225
B
200
235.30

175

217.96
150

125 374.26

100

310.13
316.40
317.65
318.91
320.16
321.41
75
276.36

50

25

200 250 300 350 400 450 500 550 600 650 700 750 nm

Gambar 7. Spektra massa (A) dan serapan UV (B) puncak 2


Figure 7. Mass spectra (A) and UV absorbance (B) of peak 2

Spektra massa pada Gambar 7 A memberikan data ion molekul yang kuat berdasarkan

dengan adanya adduct ion pada spektra. Berturut turut puncak (M+H)+ pada m/z 243, (M+Na)+

pada m/z 264, dan ion dimer (M+M+Na) + pada 506, memberikan data bahwa ion molekul netral

dari senyawa ini adalah pada m/z 242. Berdasarkan data spektra massa, serapan UV pada panjang

gelombang 239, 258, 269 dan 416 nm dan database MarinLit menurut Blunt and Blunt (2007)

maka dapat disimpulkan bahwa senyawa dengan karakteristik spektroskopik seperti di atas

adalah senyawa 4-metilaaptamin seperti yang diperlihatkan pada Gambar 8.

O 4-metilaaptamine
C14H14N2O2
BM: (M) 242
(M+H)+ 243
N (M+Na)+ 264
(M+M+Na)+ 506 12
UV: 239, 258, 269, 216
N

14589/2
Gambar 8. Struktur molekul 4-metilaaptamin
Figure 8. Molecular structure of 4-methylaaptamine

Hasil uji antioksidan terhadap sub fraksi 1 dan 2 menunjukkan bahwa sub fraksi 2 yang

terdiri dari 2 senyawa yaitu dimetiloksiaaptamin dan 4-metilaaptamin tidak menunjukkan

aktivitas antioksidan karena IC50 > 1000 µg/ml. Aktivitas antioksidan fraksi KJ05F3.4 (IC50 =

13,2 µg/ml) (Tabel 3) masih lebih rendah dibanding aktivitas antioksidan fraksi asalnya yaitu

KJ05F3 (IC50 = 10,7 µg/ml) (Tabel 2), demikian juga aktivitas antioksidan sub fraksi 1 (IC50 =

24,6 µg/ml) lebih rendah dari fraksi asalnya yaitu fraksi KJ05F3.4 (IC 50 = 13,2 µg/ml).

Menurunya aktivitas antioksidan tersebut kemungkinan besar disebabkan oleh dekomposisi

ekstrak selama proses penyimpanan dan pemisahan (fraksinasi). Sebagaimana yang

dikemukakan oleh Rohman (2007), faktor-faktor seperti suhu, kelembaban, radiasi ultraviolet

dan proses oksidasi dapat menyebabkan kerusakan ekstrak atau sampel.

Dalam penelitian ini terungkap bahwa dari tiga senyawa yang diisolasi yaitu aaptamin,

dimetiloksiaaptamin dan 4-metilaaptamin, hanya aaptamin yang memiliki kemampuan meredam

radikal bebas DPPH. Berdasarkan hasil penelitian ini dapat diketahui bahwa aaptamin sebagai

salah satu senyawa alkaloid yang terkandung dalam spons Aaptos sp. memiliki aktivitas

antioksidan. Hal ini menambah informasi tentang bioaktivitas aaptamin yang sudah

dipublikasikan sebelumnya khususnya informasi tentang bioaktivitas spons Aaptos sp. dari

perairan Indonesia.

Contoh publikasi tentang bioaktivitas senyawa golongan aaptamin adalah seperti yang

diungkap oleh Coutinho et al. (2002) yang menyatakan bahwa senyawa 4-metilaaptamin

memiliki aktivitas sebagai anti HSV-1 dan antidetterant. Data dari MarinLit (Blunt and Blunt,

13
2007) juga mengungkapkan bahwa tiga dari empat senyawa golongan aaptamin yang ditemukan

pada Aaptos sp. keseluruhannya merupakan senyawa aktif terutama sebagai antitumor.

KESIMPULAN

Hasil uji antioksidan terhadap sub fraksi 1 menunjukkan bahwa sub fraksi 1 memiliki

aktivitas antioksidan dengan IC50 24,6 µg/ml. Sub fraksi 2 tidak menunjukkan aktivitas

antioksidan karena IC50 > 1000 µg/ml. Hasil purifikasi sub fraksi 1 menunjukkan bahwa senyawa

yang terdapat didalamnya adalah aaptamin atau isoaaptamin, sedangkan senyawa yang terdapat

pada sub fraksi 2 adalah 4-metilaaptamin dan dimetiloksiaaptamin.

DAFTAR PUSTAKA

Cautinho, A.F., Chanas, B., Souza, T.M.L., Frugrulhetti, I.C.P.P., Epifanio, R.A. 2002. Anti HSV-
1 alkoloids from a feeding deterrent marine sponge of genus Aaptos. Heterocycles, 57 (7) :
1265 – 1272

Colin, P.L and Arneson, C., 1995. Tropical Pacific Invertebrates. A Field guide to the Marine
Invertebrates Occuring on Tropical Pacific Coral Reefs, Seagrass Beds and Mangrove.
Coral Reef Press, California.

Dahuri, R., 2003, Keanekaragaman Hayati Laut, Gramedia Pustaka Utama, Jakarta

Jang, K.H., Chung, S.C., Shin, J., Lee, S.H., Kim, T.I., Lee, H.S., and Oh, K.B. 2007. Aaptamines
as sortase A inhibitors from the tropical sponge Aaptos aaptos. Biorganic & Medicinal
Chemistry Letters, 17 (19) : 5366 - 5369

Blunt, J.W. and Blunt, D.A. 2007. MarinLit-Marine Literature Database. 2007. Version #
vpc13.5. Revised by Munro, M.H.G. and Blunt, J.W. Maintained at various time by
Hickford, S.J.H., Vigneswaran, M., Celestine, Unger, R. E., Hu, S. Marine Chemistry
Group, Department of Chemistry-University of Caterbury. Christchurch, New Zealand

Munro, M.H.G., Blunt, J.W., Dumdei, E.J., Hickford, S.J.H., Lill, R.E., Li, S., Battershill, C.N.,
and Duckworth, A.R. 1999. The discovery and development of marine compound with
pharmaceutical potential. Journal of Biotechnology, 70 : 14 -25.

14
Nakamura, H., Kobayashi, J., Ohizumi, Y., and Hirata, Y. 1987. Aaptamines, novel
benzo[de][1,6]naphthyridines from the Okinawan marine sponge Aaptos aaptos. J. Chem.
Soc., 1 : 173 - 176

Proksch, P., Edrada, R.A., and Ebel R. 2002. Drugs from the sea – current stutus and microbial
implications. Appl. Microbiol. Biotechnol, 59 : 125 – 134.

Rohman, A. 2007. Kimia Farmasi Analisis. Pustaka Pelajar, Yogyakarta. 485 pp.

Souza, T.M., Abrantes, J.L., Epifanio, R.A., Fontes, C.F. and Frugulhetti, I.C. 2007. The
alkaloid 4-methylaaptamine isolated from the sponge Aaptos aaptos impairs herpes simplex
virus type 1 Penetration and immediate-early protein synthesis. Planta Medica, 3 : 200 –
205

Yong Li, Xifeng Li, U. Lee, J.S. Kang, H. D. Choi and B. W. Son. 2006. A New Radical
Scavenging Anthracene Glycoside, Asperflavin Ribofuranoside, and Polyketides from a
Marine Isolate of the Fungus Microsporum. Chem. Pharm. Bull. 54(6) : 882—883

15
16