Anda di halaman 1dari 37

MODUL III PENDALAMAN MATERI PEMBELAJARAN /ANAK TUNAGRAHITA

Logo (Kosongkan)

Penulis

Dra. Mahmudah, M.Kes

Daftar Isi

I.

Pendahuluan

A. Rasionalisasi dan Deskripsi Singkat

1

Rasionalisasi

Peningkatan mutu pengajaran di sekolah diupayakan dengan beberapa cara, salah satunya adalah melalui Pendidikan Profesi Guru (PPG) Dalam Jabatan. Guru diharapkan mampu melaksanakan kegiatan belajar mengajar sesuai dengan kompetensi dasar guru antara lain kompetensi pedagogik dan

kompetensi profesional. Pelaksanaan PPG Dalam Jabatan bagi guru peserta didik berkebutuhan khusus sebagai acuan yang digunakan adalah Modul tentang Pembelajaran Anak Tunagrahita. Modul tersebut memberikan arahan dan pegangan bagi peserta PPG Dalam Jabatan dalam mengkaji, menganalisis dan mengaplikasikan pembelajaran pada Anak Tunagrahita.

Modul pembelajaran Anak Tunagrahita berisi: pengertian belajar dan pembelajaran, azas-azas belajar, prinsip-prinsip belajar, perencanaan program pembelajaran, pembelajaran membaca, menulis dan menghitung. Modul ini akan di jabarkan menjadi empat kegiatan belajar, setiap kegiatan belajar meliputi: Capaian Pembelajaran Mata Kegiatan (mengacu pada CP Pengetahuan dan Keterampilan PPG Pra Jabatan),

Sub Capaian Pembelajaran Mata Kegiatan, Pokok-Pokok Materi, Uraian Materi, Rangkuman, Tugas, Tes Formatif dan Kunci jawaban

2.

Deskripsi Singkat

Peserta Program Pendidikan Profesi Guru (PPG) dalam Jabatan mampu mendeskripsikan, mengkaji, memahami, menganalisis dan mengaplikasikan tentang pembelajaran anak tunagrahita yang meliputi: pengertian belajar dan pembelajaran, prinsip-prinsip pembelajaran, strategi pembelajaran, perencanaan program pembelajaran, pembelajaran membaca, menulis dan menghitung.

B. Relevansi

Peserta PPG dalam Jabatan sebaiknya memiliki pemahaman dan penguasaan tentang pembelajaran anak tunagrahita. Berkaitan dengan hal tersebut, untuk memperoleh informasi tentang adanya pembelajaran anak tunagrahita, peserta PPG dalam Jabatan bisa melakukan pendalaman tentang pengertian belajar dan pembelajaran, prinsip-prinsip pembelajaran, strategi pembelajaran, perencanaan program pembelajaran, pembelajaran membaca, menulis dan menghitung pada anak tunagrahita. Pemahaman terrsebut akan dijadikan dasar untuk perencanaan program pembelajaran yang bersifat realistis sesuai dengan kenyataan obyektif tentang anak tunagrahita. Pemahaman tentang pengertian belajar dan pembelajaran, prinsip-prinsip pembelajaran, strategi pembelajaran, perencanaan program pembelajaran, pembelajaran membaca, menulis dan menghitung. yang tepat berguna untuk membantu anak tunagrahita berkembang secara optimal, baik fisik, sosial dan emosional serta intelektual. Melalui modul ini peserta PPG dalam Jabatan akan dibekali pengertian belajar dan pembelajaran, prinsip-prinsip pembelajaran, strategi pembelajaran, perencanaan program pembelajaran, pembelajaran membaca, menulis dan menghitung untuk anak tunagarhita, agar peserta PPG dalam Jabatan dapat meningkatkan pengetahuan, wawasan dan keterampilan sehingga kompetens i yang dimiliki meningkat, terutama kompetensi pedagogik dan profesional,

C. Petunjuk belajar

Modul ini disusun agar peserta PPG dalam jabatan memiliki pemahaman tentang materi pembelajaran anak dengan hambatan intelektual/anak tunagrahita antara lain: pengertian belajar dan pembelajaran, prinsip-prinsip pembelajaran, strategi pembelajaran, perencanaan program pembelajaran, pembelajaran membaca, menulis dan menghitung. Untuk mengembangkan wawasan dan pemahaman terhadap isi materi dalam modul ini, maka di pandang perlu peserta PPG dalam jabatan untuk dapat memperkaya materi baik melalui jurnal, akses internet, media/video-video pembelajaran maupun referensi lainnya yang berhubungan dengan anak tunagrahita.

Untuk mengoptimalkan pemanfaatan modul pembelajaran anak tunagrahita, peserta PPG dalam Jabatan perlu memperhatikan beberapa langkah berikut:

1. Bacalah modul ini secara bertahap dimulai dari materi kegiatan belajar 1 sampai selesai, termasuk di dalamnya tugas sebelum melangkah ke materi kegiatan belajar berikutnya

2. Buatlah catatan-catatan singkat jika ditemukan hal-hal yang perlu pengkajian

lebih lanjut.

3. Lakukanlah berbagai latihan sesuai dengan petunjuk yang ada pada masing-

masing materi kegiatan belajar. Demikian pula dengan tugas pada setiap

kegiatan belajar.

4. Pelajarilah keseluruhan materi modul ini secara intensif. Modul ini dirancang

sebagai bahan dan kegiatan belajar peserta PPG dalam Jabatan

II. Kegiatan Belajar

A.

Capaian Pembelajaran Mata Kegiatan

Menguasai konsep teoritis anak berkebutuhan khusus sebagai dasar untuk mengembangkan layanan pendidikan yang tepat bagi anak tunagrahita anak berkebutuhan khusus;

B.

Sub Capaian Pembelajaran Mata Kegiatan

1.

Mampu menjelaskan Pengertian belajar dan pembelajaran, prinsip-prinsip pembelajaran, strategi pembelajaran dan perencanaan program pembelajaran

2.

Mampu memahami akan pembelajaran membaca, pembelajaran membaca untuk anak tunagrahita, pendekatan, implementasi pembelajaran membaca

3.

Mampu merancang pembelajaran menulis: menulis bahasa di dalam kurikulum kegiatan pra menulis, menulis tangan, mengeja, ekspresi menulis, pembelajaran menulis untuk anak tunagrahita,

C.

Pokok-Pokok Materi

1. Pengertian belajar dan pembelajaran, prinsip-prinsip pembelajaran, strategi pembelajaran dan perencanaan program pembelajaran

2. Pembelajaran membaca, pembelajaran membaca untuk anak tunagrahita, pendekatan, implementasi pembelajaran membaca

3. Pembelajaran menulis: menulis bahasa di dalam kurikulum kegiatan pra menulis, menulis tangan, mengeja, ekspresi menulis, pembelajaran menulis untuk anak tunagrahita,

D. Uraian Materi

1. Pengertian Belajar dan Pembelajaran

Menurut Winkel, belajar adalah semua aktivitas mental atau psikis yang berlangsung dalam interaksi aktif dalam lingkungan yang menghasilkan perubahan-perubahan dalam pengelolaan pemahaman. Menurut Gagne, belajar

merupakan sejenis perubahan yang diperlihatkan dalam perubahan tingkah laku yang keadaannya berbeda dari sebelum individu berada dalam situasi belajar dan sesudah melakukan tindakan yang serupa itu. Perubahan terjadi akibat adanya suatu pengalaman atau latihan. Berbeda dengan perubahan serta-merta akibat refleks atau perilaku yang bersifat naruliah. Sedangkan pengertian pembelajaran menurut Sagala (2009), yaitu membelajarkan siswa menggunakan prinsip maupun teori pembelajaran yang merupakan penentu utama keberhasilan pendidikan. Menurut Hamalik (2006), pembelajaran adalah suatu kombinasi yang tersusun meliputi unsur-unsur manusiawi, material fasilitas, perlengkapan dan prosedur yang saling mempengaruhi tercapainya tujuan pembelajaran

.

2. Prinsip-prinsip Pembelajaran AnakTunagrahita

a. Perhatian dan Motivasi

Perhatian mempunyai peranan yang penting dalam kegiatan belajar.

Perhatian terhadap pelajaran akan timbul pada siswa apabila bahan pelajaran sesuai dengan kebutuhannya. Di samping perhatian, motivasi mempunyai peranan penting dalam kegiatan belajar. Motivasi adalah tenaga yang menggerakkan dan mengarahkan aktivitas seseorang. Anak tunagrahita harus selalu dilatih inderanya untuk memperhatikan

rangsangan yang muncul dalam proses pembelajaran. Peningkatan/pengembangan perhatian yang dimiliki tersebut akan mempengaruhi motivasi. Motivasi bagianak tunagrahita harus dibangkitkan

dan dikembangkan secara terus menerus dengan menentukan dan mengetahui tujuan belajar yang hendak dicapai, menanggapi dengan positif

pujian orang lain, menentukan target penyelesaian tugas belajar dan perilaku sejenis lainnya.

b. Keaktifan

Anak yang memiliki sifat aktif dalam proses pembelajaran akan mempunyai dorongan untuk berbuat sesuatu, mempunyai kemauan dan aspirasinya sendiri. Untuk dapat memproses dan mengolah hasil belajarnya secara efektif, siswa dituntut untuk aktif secara fisik, intelektual dan emosional. Implikasi prinsip keaktifan anak tunagrahita berwujud perilaku-perilaku seperti maju di

depan kelas, membaca teks dengan nyaring, menjawab pertanyaan guru dan perilaku sejenis lainnya.

c. Keterlibatan Langsung/Berpengalaman

Dalam belajar melalui pengalaman langsung siswa tidak sekadar mengamati secara langsung tetapi ia harus menghayati, terlibat langsung dalam perbuatan, dan bertanggungjawab terhadap hasilnya. Dengan keterlibatan secara langsung ini, secara logis akan menyebabkan anak tunagrahita memperoleh pengalaman atau berpengalaman sehingga diharapkan dapat membangkitkan sikap keaktifannya.

d. Pengulangan

Metode drill adalah bentuk belajar yang menerapkan prinsip pengulangan. Adanya prinsip pengulangan bagi anak tunagrahita adalah kesadaran untuk bersedia mengerjakan latihan-latihan yang berulang untuk satu macam permasalahan. Dengan kesadaran ini anak tunagrahita tidak merasa bosan dalam melakukn pengulangan.

e. Keperagaan

Anak tunagrahita memiliki kecerdasan dibawah rata-rata, akibatnya mereka mengalami kesulitan dalam menangkap informasi, keterbatasan daya tangkap yang konkret, mengalami kesulitan dalam menangkap hal-hal yang abstrak. Untuk itu, guru dalam membelajarkan anak hendaknya menggunakan alat-alat peraga yang memadai agar anak terbantu dalam menangkap pesan. Alat peraga hendaknya disesuaikan dengan bahan, suasana, dan perkembangan anak tunagrahita.

f. Balikan dan Penguatan

Menurut Thorndike, siswa akan belajar lebih bersemangat apabila mengetahui dan mendapatkan hasil yang baik. Hasil yang baik akan menjadi

balikan yang menyenangkan dan berpengaruh baik bagi usaha selanjutnya.

Namun menurut Skinner, penguatan positif maupun negatif dapat

memperkuat belajar. Anak tunagrahita selalu membutuhkan suatu kepastian

dari kegiatan yang dilakukan, apakah benar atau salah. Dengan demikian

anak tunagrahita akan selalu memiliki pengetahuan tentang hasil yang

sekaligus merupakan penguat bagi dirinya sendiri.

g. Perbedaan Individual Setiap siswa merupakan individual yang unik artinya tidak ada dua orang

siswa yang sama persis, tiap siswa memiliki perbedaan satu dengan yang

lain. Perbedaan itu terdapat pada karakteristik psikis, kepribadian dan sifat-

sifatnya. Setiap anak tunagrahita pun memiliki karakteristik masing-masing

seperti anak tunagrahita ringan dan sedang. Karena hal inilah, setiap anak

tunagrahita belajar menurut tempo (kecepatan) masing-masing. Untuk

memberikan layanan pembelajaran di sekolah akan disesuaikan dengan

kemampuan masing-masing, sehingga program pembelajaran akan mengacu

pada perbedaan individu masing-masing siswa.

3. Strategi Pembelajaran Anak Tunagrahita

Menurut Sanjaya (2007), strategi pembelajaran berarti pola umum perbuatan

guru terhadap siswa di dalam perwujudan kegiatan belajar mengajar.

Strategi pembelajaran yang dapat diberikan kepada anak dengan hambatan

intelektual/anak tunagrahita yaitu:

a. Direct Instruction

Merupakan metode pengajaran yang menggunakan pendekatan selangkah-

selangkah yang terstruktur dengan cermat, dalam memberikan instruksi atau

perintah. Strategi pembelajaran langsung merupakan pembelajaran yang

banyak diarahkan oleh guru. Strategi ini efektif untuk menentukan informasi

atau membangun keterampilan anak tunagrahita tahap demi tahap.

b. Cooperative Learning

Penerapan strategi pembelajaran kooperatif paling efektif pada kelompok

siswa yang memiliki kemampuan/intelegensi heterogen. Strategi

pembelajaran ini akan lebih relevan dengan kebutuhan anak tunagrahita

yang kecepatan berlajarnya tertinggal dari anak normal. Strategi

pembelajaran kooperatif bertitik tolak dari semangat kerja saja, dimana

mereka yang lebih pandai dapat membantu temannya yang masih mengalami kesulitan dalam suasana keakraban dan kekeluargaan.

Pembelajaran kooperatif merujuk pada berbagai macam metode pengajaran

dimana anak tunagrahita bekerja dalam kelompok-kelompok kecil untuk membantu satu sama lainnya dalam memahami pelajaran. Kelompok belajar yang mencapai hasil belajar yang maksimal diberikan penghargaan. Pemberian penghargaan ini untuk merangsang timbulnya motivasi anak tunagrahita dalam belajar.

c. Strategi pembelajaran individual

Pembelajaran individual adalah pembelajaran yang diberikan kepada anak tunagrahita secara perorangan/individu. Strategi pembelajaran individual ini

merupakan salah satu pembelajaran yang dilaksanakan dengan mengatur kelas sedimikian rupa sehingga memberikan pengalaman belajar yang

efektif dan efisien kepada setiap individu di dalam kelas. Selain itu strategi pembelajaran individual ini lebih cocok digunakan untuk memberikan layanan pembelajaran pada anak tunagrahita yang disesuaikan dengan karakteristik individu masing-masing anak.

4. Perencanaan Program Pembelajaran Anak Tunagrahita

a.

Pengertian Perencanaan Program Pembelajaran

Rencana program pembelajaran adalah rencana pembelajaran yang dikembangkan secara rinci dari suatu materi pokok atau tema tertentu yang mengacu pada silabus (Kemdikbud, 2013: 37).

Suatu rencana kegiatan pembelajaran tatap muka untuk satu pertemuan atau lebih dikembangkan secara rinci dari suatu materi pokok atau tema tertentu yang mengacu pada silabus untuk mengarahkan kegiatan pembelajaran siswa dalam upaya mencapai Kompetensi Dasar (KD). (Kemdikbud, 2013: 9)

b.

.

Komponen-komponen Perencanaan Program Pembelajaran

1). Identitas sekolah yaitu nama satuan pendidikan;

2)

3) Kelas/semester;

Identitas mata pelajaran atau tema/subtema;

4)

Materi pokok;

5)

Alokasi waktu

Ditentukan sesuai dengan keperluan untuk pencapaian KD dan beban belajar dengan mempertimbangkan jumlah jam pelajaran yang tersedia dalam silabus dan KD yang harus dicapai

6) Kompetensi Inti (KI)

Merupakan gambaran secara kategorial mengenai kompetensi dalam aspek sikap, pengetahuan, dan keterampilan yang harus dipelajari siswa untuk suatu jenjang sekolah, kelas, dan matapelajaran

7) Kompetensi dasar dan indikator pencapaian kompetensi

Kompetensi Dasar; merupakan kemampuan spesifik yang mencakup sikap, pengetahuan, dan keterampilan yang terkait muatan

atau mata pelajaran; Indikator pencapaian merupakan penanda pencapaian kompetensi dasar yang ditandai oleh perubahan perilaku yang dapat diukur yang mencakup sikap, pengetahuan, dan keterampilan.

Indikator dikembangkan sesuai dengan karakteristik siswa, satuan pendidikan, dan potensi daerah. Indikator digunakan sebagai dasar untuk menyusun alat penilaian. 8) Tujuan pembelajaran

Dirumuskan berdasarkan KD dengan menggunakan kata kerja operasional yang dapat diamati dan diukur, yang mencakup sikap, pengetahuan, dan keterampilan.

Dapat diorganisasikan mencakup seluruh KD atau diorganisasikan untuk setiap pertemuan.

Mengacu pada indikator dan mengandung aspek: audience (peserta didik) dan behavior (aspek kemampuan), condition (kondisi), dan degree. 9) Materi pembelajaran

Rincian dari materi pokok yang memuat fakta, konsep, prinsip, dan prosedur yang relevan, dan ditulis dalam bentuk butir-butir sesuai dengan rumusan indikator ketercapaian kompetensi.

10) Metode pembelajaran

Merupakan rincian dari kegiatan pembelajaran, digunakan oleh pendidik untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik mencapai KD yang disesuaikan dengan karakteristik peserta didik dan KD yang akan dicapai.

11) Media, alat, dan sumber pembelajaran

Media pembelajaran, berupa alat bantu proses pembelajaran untuk menyampaikan materi pelajaran.

Alat pembelajaran adalah alat bantu pembelajaran; yaitu alat bantu pembelajaran yang memudahkan memberikan pengertian kepada siswa. Sumber belajar, dapat berupa buku, media cetak dan elektronik, alam sekitar, atau sumber belajar lain yang relevan. 12) Langkah-langkah Kegiatan Pembelajaran

Langkah-langkah kegiatan pembelajaran berisi pendahuluan, kegiatan Inti: mengacu pada pendekatan saintifik yaitu mengamati, menanya, menalar, mengasosiasi dan mengkomunikasikan (Permendikbud No. 81 A tahun 2013). Dan penutup 13) Penilaian Berisi jenis/teknik penilaian. Bentuk instrumen.

Pedoman perskoran.

Pembelajaran Membaca

1. Pengertian Membaca

Kemampuan membaca adalah sebagai kebutuhan dasar di dalam masyarakat modern. Kemampuan ini sebagai substansi akademik yang sulit dipelajari terutama pada subjek anak tunagrahita. Untuk itu, program pembelajaran membaca diusahakan sebagai program akademik yang fungsional untuk kehidupan sehari-hari Materi program akademik fungsional di antaranya membaca, menulis, dan berhitung dalam kehidupan sehari-hari. Adapun bentuk pembelajaran membaca fungsional bagi anak tunagrahita adalah sebagai berikut.

Membaca fungsional adalah salah satu substansi pelajaran di sekolah khusus bagi anak tunagrahita, khususnya anak tunagrahita ringan. Pelajaran

itu diberikan agar supaya anak tunagrahita mampu untuk mereaksi aktivitas sehari-hari dalam hal membaca dan menulis dalam tuntutan kehidupan modern (Snell, 1983:446).

2. Pembelajaran Membaca Fungsional bagi anak tunagrahita Ringan

Membaca fungsional bagi anak tunagrahita ringan yang mampu dihayati sebagai bagian pokok dalam kehidupan sehari-hari ialah membaca yang dilakukan dalam kehidupan sehari-hari mereka. Pada umumnya, setiap hari diperkenalkan dengan kosakata yang tercetak tentang petunjuk di tempat umum, label produk makanan, label produk obat, petunjuk kegiatan di dalam rumah seperti cara penggunaan alat rumah tangga, membaca telepon, nama fasilitas umum, serta membaca berbagai petunjuk resep makanan. Membaca harus selalu diintegrasikan pada semua kegiatan, demikian juga tempat-tempat yang dipandang strategis dan krusial selalu diberi simbol tulisan yang tercetak. Kegiatan membaca yang diintegrasikan secara kontinu dalam kehidupan sehari-hari ialah usaha memberi rangsangan simbol yang tercetak secara menyeluruh. Rangsangan itu selalu diperkuat untuk mengucapkan bunyinya, melihat dan meraba bentuk hurufnya. Hal ini memperkuat asosiasi antara fungsi huruf, bunyi huruf, benda atau peristiwa yang dipesankan melalui simbol yang tercetak. Penggunaan pendekatan membaca yang terdiri dari keterampilan word recognition, word analysis, literal comprehesion, interpretation, dan application,

Pembelajaran membaca fungsional bagi anak dengan hambatan intelektual/anak tunagrahita ringan dapat dipadukan mulai dari pendekatan whole language, pendekatan word recognition, dan fase-fase proses pembelajaran. Keterpaduan pendekatan itu akan melengkapi suatu proses belajar membaca bagi anak dengan hambatan intelektual/anak tunagrahita ringan, karena tugas membaca bagi mereka merupakan tugas yang kompleks

Pembelajaran membaca fungsional tersebut dapat diintegrasikan dengan pembeajaran menulis yang dilakukan secara simultan, dan anak tunagrahita ringan dibiasakan juga untuk ditugaskan menulis yang berkaitan

dengan peristiwa sehari-hari. Misalnya dalam kegiatan berbelanja, hal-hal yang dibeli tugaskan untuk menulis.

3. Membaca bagi Anak Tunagrahita Sedang

Membaca bagi hambatan mental sedang lebih ditekankan membaca sosial, membaca yang berkaitan dengan tugas-tugas mengenal label-label benda, tempat, petunjuk jalan, petunjuk menggunakan tempat umum.

Pembelajaran membaca bagi anak tunagrahita sedang yang terbaik dilakukan secara konteks. Cara tersebut maksudnya setiap diperkenalkan suatu tulisan, sekaligus ditunjukkan logo/simbol grafisnya yang menandakan maksud tersebut.

4. Pendekatan dalam Pembelajaran Membaca

Pengenalan kata sebagai keterampilan dasar indivisu mampu membaca memerlukan berbagai pendekatan di dalam pembelajarannya.

Pendekatan itu dapat dikatakan sebagai metode, media, atau filosofi. Pendekatan tersebut antara lain:

E. Pendekatan psikolinguistik

Proses ini menekankan bahwa pembaca mengambil bentuk makna dari kalimat atau paragraf yang membantu menerkanya. Proses ini lebih disebut makna kontekstual, yaitu makna kata bergantung pada hubungan kata dalam kalimat, dan hubungan dalam paragraf. Proses ini sering juga disebut dengan ‘top down approach’ dan jarang memerlukan persandian suatu kata dari bentuk huruf dan suku katanya. Pendekatan top down approach menyediakan tiga cara pokok, meliputi: semantik, sintaksis, serta grapho- phonic (koresponden antara simbol dalam coretan dan bunyi ucapan dari yang tersajikan secara grafis/bentuk hurufnya) tersebut.

F. Pendekatan pengkodean huruf

Pendekatan decoding skill ini sebagai jawaban atas problem yang dialami anak dengan menggunakan pendekatan psikolinguistik. Pendekatan ini dimulai menyembunyikan huruf atas dasar bunyinya, kemudian diajak merangkai huruf tersebut menjadi suku kata, dilanjutkan kata sampai kalimat. Pendekatan ini lebih berpandangan secara ‘bottop-up approch

Implementasi Pembelajaran Membaca

Kegiatan pra-membaca

Adapun kegiatan pra-membaca meliputi:

- Latihan persepsi auditorik

- Persepsi auditorik yaitu kemampuan untuk mengenal dan mengerti sesuai yang telah didengarnya. Adapun bentuk latihannya meliputi:

Kesadaran fonologis, suatu bahasa dapat dipilah dalam kata, suku kata, dan fonem. Hal ini merupakan dasar yang utama untuk belajar membaca. Latihan ini berupa memilih kata-kata, mencari kata-kata yang bersajak, mencari kata dengan konsonan awal yang sama, misalnya; santi-sabun.

Deskriminasi auditorik, ialah kemampuan untuk membedakan suara fonem dan persamaan/perbedaan kata-kata. Latihan untuk hal ini dengan cara mata ditutup dan menebak arah datangnya suara, mencari sumber suara, dan menebak jenis suara.

Memori auditorik, ialah kemampuan untuk menyimpan dan mengingat kembali sesuatu yang telah didengar. Latihannya menghafal lagu anak-anak, melaksanakan 5 buah perintah, mengulang kalimat yang telah diucapkan sebelumnya dengan beberapa waktu.

Sikuens auditorik, suatu kemampuan untuk mengingat urutan dalam yang benar dari urutan nama bulan, alfabet, nomor- nomor tertentu.

Auditory blending, yaitu kemampuan untuk menyatukan beberapa satuan fonem menjadi sebuah kata, misalnya b -o-l-a menjadi bola.

Latihan persepsi visual

Persepsi visual memegang peranan penting dalam hal membaca, dan persepsi ini dibagi meliputi:

Hubungan spasial, yang menyatakan persepsi kedudukan suatu objek di dalam ruang.

Diskriminasi visual, suatu kemampuan untuk membedakan satu objek dengan objek yang lain.

Diskriminasi suatu bentuk dari latar belakangnya. Kemampuan ini menemukan suatu objek dari latar belakangnya Visual closure, suatu kemampuan untuk mengenal suatu objek meskipun keadaannya tidak utuh Pengenalan objek. Latihan mengenal sifat objek yang dilihat, seperti mengenal bentuk geometri, bentuk binatang, dan bentuk wajah. Memori visual, ialah kemampuan untuk mengingat kembali sesuatu yang telah dilihatnya.

Persepsi visual pada benda dan kata. Sering ditemukan adanya perbedaan antara persepsi benda, kata, dan huruf. Suatu benda akan tetap dianggap sebagai benda tersebut meskipun bentuknya berubah. Persepsi seluruhnya dan sebagian. Ada siswa yang selalu melihat secara keseluruhan dan ada yang hanya melihat pada sebagian atau detailnya saja. Latihan persepsi taktil dan kinestetik Persepsi taktil diperoleh dengan perabaan melalui jari-jari dan permukaan kulit, sedangkan persepsi kinestetik diperoleh dengan gerakan badan dan perasaan otot. Latihan formasi dari sistema persepsi Latihan yang mengintegrasikan beberapa sistem persepsi sebagai berikut:

Pada integrase auditorik ke visual dengan menyuruhnya mendengar irama music dan kemudian menggambarkan irama tersebut dengan tulisan. Pada integrase taktil ke motorik visual, misalnya dengan meraba benda dalam karung yang tertutup dan kemudian dapat menggambarkan benda tersebut. Pada latihan integrasi visual ke auditorik verbal dengan memperlihatkan gambar benda, kemudian menyuruhnya menceritakan secara oral.

Kegiatan membaca yang diintegrasikan secara kontinu dalam kehidupan sehari-hari ialah usaha memberi rangsangan simbol yang tercetak secara menyeluruh. Ransangan itu selalu diperkuat untuk mengucapkan bunyinya, hal ini memperkuat asosiasi antara fungsi huruf, bunyi huruf benda atau peristiwa yang dipesankan melalui simbol tercetak. Penguatan rangsang ini disertai penggunaan alat peraga berupa kartu huruf dan kartu kata yang setiap menemui atau melakukan kegiatan dengan benda tertentu selalu disusun untuk dinyatakan sebagai simbolnya. Pembelajaran membaca bagi anak tunagrahita ringan dapat dipadukan mulai dari pendekatan whole language, pendekatan word recognition, dan fase-fase proses pembelajarannya. Keterpaduan pendekatan itu akan melengkapi suatu proses belajar membaca bagi anak tunagrahita ringan karena tugas membaca bagi mereka merupakan tugas yang kompleks. Keterpaduan itu disebut dengan pendekatan eklektik.

Pembelajaran Menulis 1. Menulis Bahasa di dalam kurikulum

Kegiatan menulis merupakan penyampaian pesan melalui simbol bunyi yang berbentuk grafis. Penyampaian pesan melalui simbol bunyi itu melibatkan kemampuan individu untuk proses encoding. Jika membaca merupakan memaknai code (decoding). Kebalikannya menulis makna pesan itu disampaikan melalui code grafis. Untuk itu kemampuan menulis perlu dibelajarkan setelah pembelajaran membaca, karena kemampuan pengkodean/pensimbolan dari simbol bunyi suatu bahasa perlu dikuasai dahulu saat pembelajaran membaca. Penguasaan kode/simbol bunyi yang berbentuk grafis tersebut sebagai dasar individu untuk menyampaikan kembali dengan kode yang telah dikuasai. Proses membaca sebagai proses penguasaan kode secara bunyinya dan makna bahasa, selanjutnya untuk menulis penguasaan kode itu harus disertai kemampuan membuat bentuk atau mengkodean kembali melalui bentuk grafis yang dicetak atau dibentuk dengan tangan/menulis tangan. Aktivitas menulis yang kompleks tersebut meliputi: aktivitas penyampaian pesan, pesan disampaikan dengan bahasa, bahasa disimpulkan dengan grafis, membuat grafis harus menguasai simbol bunyinya, mampu menyampaikan

dengan struktur yang runtut, serta tangan, lengan dan kordinasi mata mampu untuk melukis grafis sebagai simbol pesan yang disampaikan dengan bahasa. Kompleksitas dari aktivitas menulis tersebut mendasari bahwa untuk pembelajaran menulis perlu disistematika dengan tahapan proses menulis tersebut, meliputi :` Penyampaian pesan dengan berbicara dan mendengarkan. Penggunaan bahasa sebagai alat komunikasi. Pemahaman tentang bentuk-bentuk sibol grafis memlalui membaca. Koordinasin mata dan tangan untuk membentuk grafis yang melambangkan bunyi. Mampu mengekspresikan pesan dengan bahasa yang terstruktur. Pesan yang terstruktur disampaikan lewat simbol grafis

3. Kegiatan Pra-menulis

Dalam kegiatan ini antara lain: 1. Latihan melempar dan menangkap bila dengan berbagai ukuran, dan latihan menangkap biasanya lebih sukar dari pada latihan melempar; 2. Latihan koordinasi mata dan tangan, termasuk menuang air dalam gelas yab]ng ukuranya kecil, menggunting, mewarnai, memalu paku, dan menebalkan garis pada pola gambar tertentu; 3. Latihan menulis dengan kapur atau spidol besar dilakukan sebelum memakai pensil, menulis dengan spidol besar atau kapur memberikan kesempatan untuk menggunakan otot bahu dan siku-siku. Hal ini sangat membantu latihan persiapan yang mempergunakan otot-otot tangan lebih sukar. Kegiatanya berupa meghubungkan titik dengan titik, membuat lingkaran atau bentuk geomtri dilanjutkan membuat huruf dan angka.

3. Menulis tangan.

Menurut Hagin via lovity Mulyono Abdurrahman (1999:228) ada lima alasan perlunya anak diajari menulis huruf cetak lebih dulu pada awal belajar menulis tangan, sebagai berikut :

a. Huruf cetak lebih mudah dipelajari karena bentuknya sederhana;

h. Buku-buku menggunakan huruf cetak sehingga anak-anak tidak mengakomodasi antara bentuk tulisan huruf cetak kedalam bentuk huruf sambung;

i. Tulisan dengan huruf cetak lebih muda dibaca daripada tulisan dengan huruf sambung;

j. Huruf cetak digunakan untuk kehidupan sehari-hari seperti mengisi formulir atau berbagai dokumen; dan

k. Kata-kata yang ditulis dengan huruf cetak lebih mudah dieja karena huruf-huruf tersebut berdiri sendiri

Selanjutnya, para ahli yang menyarankan agar anak diajar menulis dengan huruf sambung lebih dahulu bertolak dari tiga alasan, yaitu:

a.

Tulisan sambung memudahkan anak untuk mengenal kata-kata sebagai kesatuan.

b.

Tidak memungkinkan anak menulis terbalik-nalik; dan

c.

Menulis dengan huruf sambung lebih cepat karena tidak ada gerakan pena terhenti untuk tiap huruf.

1.

Mengeja.

Menurut polloway & patton (1993:255) kemampuan atau kompetensi mengeja meliputi :

2 Penguasaan huruf-huruf dari alphabetis (recognizes letters of the alphabet).

3 Penguasaan kata (recognizes words).

4 Mengatakan kata-kata yang dikuasai (say words that can be recognizes)

5 Menguasai persamaan dan perbedaan dalam kata ( recognizes similarities and differences in words )

6 Membedakan perbedaan antara bunyi-bunyi pada kata ( differentiates between different sounds in words)

7 Menghubungkan bunyi-bunyi tertentu deangan simbol-simbol dari huruf (Associates certain sounds (phonemes) with symbols or letters )

8 Mengeja secara fonetis kata-kata yang beraturan (spells phonetically irregular words).

9 Membangkitkan

keteraturan

kata-kata

yang

bervariasi

ejanya

dan

problem-

problem

problems)

katannya

(Generates

rules

for

spelling

various

words and words

10. Menggenakan secara benar ejaan kata dalam komposisi menulis (User correctly spelled words in written compositions).

5)

Ekspresi menulis.

Ekspresi menulis merupakan bagian akhir dari tingkatan kemampuan menulis, karena berbagai kemampuan yang dipelajari sebelumya akan berujung untuk

mengekspresikan perasaan, ide atau penyampaian pesan melalui simbol-simbol tertulis.

Berkaitan fungsi menulis untuk kemandirian oleh hansen yang dikutip lovvit Mulyono Abdurrahman (1999:228) disarankan tentang susunan tahapan mengajar menulis ekspresif sebagai berikut :

Menulis perintah dan pemberitahuan; Menulis laporan tentang artikel atau cerita;

Merangkum bacaan, pembicaraan, laporan tertulis, dan diskusi kelas; Menulis pengalaman pribadi; Menulis karangan imajinatif; Menulis surat untuk tujuan sosial dan bisnis;

Menulis untuk majalah atau koran sekolah; Menulis untuk mengorganisasikan dan mengembangkan ide; dan Menulis peringatan untuk diri sendiri dan orang lain.

Pembelajaran Menulis Bagi Anak Tunagrahita.

Pembelajaran menulis ini dapat diintegrasikan ke pembelajaran membaca, setelah motorik halusnya siap, mampu memegang pensil dengan benar, dan

menguasai membaca beberapa kata dengan ejaan yang benar. Seperti halnya pembelajaran membaca, pembelajaran menulis perlu juga dipadukan dengan pembelajaran bidang studi lainya atau kegiatan sehari-hari di sekolah. Keterpaduan tersebut agar supaya kegiatan belajar menulis sebagai bagaian dari kehidupan sehari-hari atau selama belajar di sekolah. Hal itu diharapkan untuk memperoleh

konteks menulis dalam kehidupan sehari-hari.

Tujuan utama dari pelajaran menulis bagi anak tunagrahita ringan agar mampu mengadakan komunikasi, juga menopang kemandirian di masyarakat. Misalnya menulis pengiriman pesan singkat (SMS/Short message send) dengan menggunakan telepon selular, menulis surat ijin, mengisi formulir untuk pendaftaran atau pengurusan yang terkait sebagai warga negara. Untuk itu, pembelajaran menulis bagi anak tunagrahita ringan meliputi :

a Menulis surat yang sederhana,

b Menjawab surat,

c Menulis undangan, serta menjawabnya,

d Menulis

e Mengisi surat-surat untuk aplikasi di bank, misalnya pengisian slip tabungan,

f Mencatat nomor telepon,

g Mencatat bahan-bahan yang akan dibeli ketika berbelanja, maupun mencatat

alamat secara sempurna, mengisi formulir,

pengeluaranya.

Uraian Materi Pembelajaran Matematika

Fungsi Matematika bagi Anak Tunagrahita

Matematika merupakan sesuatu substansi yang sangat penting dalam kehidupan

sehari-hari. Misalnya dalam penggunaan uang akan melibatkan konsep dan

keterampilan matematik. Untuk itu, keterampilan penggunaan konsep matematika

harus dibelajarkan kepada setiap siswa, begitu juga siswa-siswa yang memiliki

hambatan khusus, seperti pada anak tunagrahita. Pembelajaran matematika bagi

mereka agar mampu menggunakan di dalam kehidupan, dipekerjaan,dikeluarga dan

masyarakat.

Atas dasar perlunya konsep dan keterampilan matematik dalam segala sektor kehidupan, maka tujuan pembelajaran matematika difokuskan penguasaan keterampilan menghitung dan penghafalan

berdasarkan fakta-fakta dengan sedikit penekanan untuk penggunaannya.

Keterampilan menghitung (arithmetic) diutamakan untuk anak tunagrahita, karena itu sebagai bagian dari matematika yang dasar. Penggunaan bidang pemecahan masalah terutama untuk kegunaan dalam

kehidupan sehari-hari. Misalnya: anak diajarkan untuk menaksir di yang porsi

makanan dibutuhkan tiap hari dan dilakukan makan pada waktu-waktu tertentu,

waktu untuk belajar, untuk beribadah, dan untuk istirahat. Semua kegiatan itu

membutuhkan pembagian waktu dan volume. Saat pembagian dan penentuan

tersebut diperlukan pemecahan masalah dengan menaksirnya. Makan diperlukan

volume dengan ukuran/takaran gelas dan piring, waktu memerlukan rentangan jam

dan menit, serta disesuaikan dengan berputarnya matahari

Semua kegiatan yang perlu dilakukan dalam kehidupan sehari-hari perlu

penggunaan matematika. Untuk itu, matematika yang dibelajarkan bagi tunagrahita

menopang dalam menjalankan kehidupan sehari-hari.

Dasar-dasar.Pembelajaran Matematika

1.

Pembelajaran matematika bagi anak tunagrahita, ringan maupun sedang

yang disarikan dari sumber Sumber Wehman & Laughlin (981:338-346) meliputi :

2. Menghitung yang keterampilan ini merupakan hubungan dengan kuantitas dan

keanekaragaman pengoperasiannya. Anak tunagrahita perlu memiliki keterampilan itu dalam rangka aktivitas pemecahan masalah dalam kehidupan

dan aplikasi bidang pekerjaan/vokasional.

a. Pembelajaran bilangan (number). Pembelajaran dalam bidang ini berujud belajar memberi label yang menandakan suatu susunan elemen-elemen.

Anak dengan hambatan intelektual/anak tunagrahita harus belajar untuk bidang yang berhubungan dengan angka kardinal (satu, dua, atau tiga bola),

angka ordinal (dalam urutan ke satu, ke dua, ke tiga. dan angka rasional setengahnya, sepertiganya, seperempatnya). Konsep pembelajaran

keterampilan tersebut memerlukan tentang konsep kuantitas dan kontinum.

b. Pengangkaan (numeration). Pengangkaan adalah proses mengekspresikan bilang yang terkait dengan besarannya dengan symbol/angka. Pengangkaan termasuk kata bilangan, angka arabic angka romawi, decimal/pecahan dan nilai tempat. Siswa untuk memiliki konsep angka perlu belajar tentang hubungan pasanganan belajar terkait dengan secara verbal.

c. Hubungan (relation). Hubungan melibatkan korespondensi dua atau lebih tentang suatu susunan. Ketrampilan khusus ini termasuk konsep sama dan

ketidaksamaan, penempatan (di tengah, di belakang,dimuka), dan perbandingan (rasio). Seluruh keterampilan itu membutuhkan pembelajaran konsep, dan penanamannya dapat menggunakan bantuan benda konkret dangambar permainan.

d. Pengukuran (measurement). Pengukuran termasuk penggunaan bilangan untuk nendeskripsikan objek dan hubungan tentang waktu, uang, temperatur, cairan, berat, dan unit-unit yang secara garis lurus (linear). Konsep tersebut diperlukan berbeda-beda. pembelajaran konsep tentang unit-unit yang berbeda-beda.

e. Pengoperasian angka (operations with numbers). Pengoperasian dengan

manipulasi angka. Termasuk keterampilan menghitung, menambah,

mengurang, mengalikan, dan membagi. Keterampilan tersebut diperlukan

pembelajaran

konsep,

dan

dapat

dibelajarkan

kepada

siswa

melalui

permainan.

f. Pengoperasian angka rasional (operations with rational numbers).

Keterampilan ini adalah perluasan dari keterampilan pengoperasian angka dengan bilangan pecahan.

g. Pemecahan masalah (problem solving). Keterampilan ini melibatkan

penggunaan hitung untuk menjelaskan hal-hal yang belum diketahui dalam

menspesifikan hari. Tiga langkah pokok dalam pemecahan masalah meliputi

problem, mendapatkan data yang terkait, serta menentukan dan

mengaplikasikan operasinya. Tipe khusus ini diperlukan pembelajaran sesuai

tipe problemnya.

Delapan bidang hitungan untuk anak tunagrahita tersebut diberikan dengan

mempertimbangkan taraf perkembangan kemampuan yang telah dicapai, serta

usia mental anak tunagrahita bersangkutan.

Matematika bagi Anak dengan Anak Tunagrahita

a. Keterampilan Pra-hitung

Keterampilan pra-hitung adalah proses kemampuan dari siswa untuk kesiapan

belajar berhitung. Kemampuan itu harus dilatihkan sebelumnya untuk mampu

belajar berhitung sesungguhnya. Kesiapan belajar berhitung tunjukkan oleh

kemampuan anak mulai menghitung tanpa makna, dan hal itu melalui berlatih

menghubungkan angka dengan suatu susunan objek tertentu, akhimya siswa

mampu mengenal makna angka-angka yang berbeda dan menulisnya.

b. Operasi Penambahan (addition)

Maksudnya konsep menambah adalah salah satu operasi hitung untuk

mengkombinasikan kuantitas. Penambahan meliputi istilah pengoperasiannya,

sifat- sifatnya dan kombinasinya Maksudnya prinsip penambahan yang menunjukkan sifat tanpa menghitung hasilnya.

a + b = b + a

3 + 2 = 2 + 3

Sifat-sifat penambahan tersebut merupakan prinsip-prinsip komulatif yang menunjukkan arah jumlah.

a. Penambahan kombinasi dasar Penambahan kombinasi dasar adalah variasi yang melibatkan jumlah 0 sampai 9. siswa dapat menghitung berbagai jumlah itu dengan berbagai variasi melalui jembatan atau pengelompokkan.

b. Penambahan tahap lebih tinggi Tahapan ini meliputi kombinasi dasar dalam salah satu nilai tempat terdiri satuan Puluhan, dua puluhan. Jembatan diperlukan jika pada satuan jumlahnya lebih dari sepuluh dengan cara menyimpan untuk ditempatkan pada nilai tempat yang lebih tinggi.

c. Penambahan dengan aneka digit (multiple digit addition) Pada tahap ini dengan angka bermacam-macam yang ditambahkan, di antaranya 1 digit, 2 digit, 3 digit. Berbagai prinsip algoritma (prosedur sistematis untuk pemecahan masalah matematis) dan masalah yang perlu pengelompokan kembali (regrouping), atau menyimpan puluhan, ratusan, dan seterusnya diperlukan pada tahap aneka digit dalam penambahan.

d. Penambahan dengan kolum Penambahan dengan kolum melibatkan dua atau lebih proses penambahan. Penambahan kolum tunggal meliputi kombinasi dasar, penambahan tahap lebih tinggi dan penjembatan.

2+ 7 = 9 kombinasi dasar

9 + 5 = 14 kombinasi dasar

14+ 4 = 18 penambahan tahab lebih tinggi

18 + 5 = 23 penambahan

tahap lebih tinggi

c. Operasi Pengurangan (Sultraction)

dengan jembatan

Pengurangan merupakan operasi hitung untuk mendapatkan perbedaan di antara kuantitas. Operasi Pengurangan kebalikannya dari

penambahan.

9. Kombinasi penguangan

Kombinasi pengurangan merupakan kombinasi yang meliputi angka 0 sampai

E. Rangkuman

1.

Belajar merupakan sejenis perubahan yang diperlihatkan dalam perubahan tingkah laku yang keadaannya berbeda dari sebelum individu berada dalam situasi belajar dan sesudah melakukan tindakan yang serupa itu. Perubahan

terjadi akibat adanya suatu pengalaman atau latihan. Berbeda dengan perubahan serta-merta akibat refleks atau perilaku yang bersifat naruliah.

2.

Prinsip-prinsip

Pembelajaran Anak dengan Hambatan

Intelektual/AnakTunagrahita

a.

Perhatian dan Motivasi

b.

Keaktifan

c.

Keterlibatan Langsung/Berpengalaman

d.

Pengulangan

e.

Keperagaan

f.

Balikan dan Penguatan

g.

Perbedaan Individual

3. Strategi pembelajaran yang dapat diberikan kepada anak tunagrahita yaitu:

Direct Instruction

Cooperative Learning Strategi pembelajaran individual

4. Komponen-komponen Perencanaan Program Pembelajaran a. Identitas sekolah yaitu nama satuan pendidikan;

b.

Identitas mata pelajaran atau tema/subtema;

c.

Kelas/semester;

d.

Materi pokok;

e.

Alokasi waktu

f.

Kompetensi Inti (KI)

g.

Kompetensi dasar dan indikator pencapaian kompetensi

h.

Tujuan pembelajaran

i.

Materi pembelajaran

j.

Metode pembelajaran

k.

Media, alat, dan sumber pembelajaran

l.

Langkah-langkah Kegiatan Pembelajaran

m.

Penilaian

5.

Kemampuan membaca adalah sebagai kebutuhan dasar di dalam masyarakat modern. Kemampuan ini sebagai substansi akademik yang sulit dipelajari terutama pada subjek didik yang mengalami hambatan mental. Membaca fungsional adalah salah satu substansi pelajaran di sekolah khusus bagi tunagrahita, khususnya tunagrahita ringan. Pelajaran itu diberikan supaya

anak tunagrahita ringan mampu untuk mereaksi aktivitas sehari-hari dalam hal membaca dan menulis dalam tuntutan kehidupan modern.

6.

Pendekatan dalam Pembelajaran Membaca

Pendekatan psikolinguistik Pendekatan pengkodean huruf

7.

Pembelajaran membaca bagi hambatan mental ringan dapat dipadukan m ulai dari pendekatan whole language, pendekatan word recognition, dan fase-fase proses pembelajarannya. Keterpaduan pendekatan itu akan melengkapi suatu proses belajar membaca bagi anak hambatan mental kategori mampu didik, karena tugas membaca bagi mereka merupakan tugas yang kompleks. Keterpaduan itu disebut dengan pendekatan eklektik.

8.

Kegitan menulis merupakan penyampaianpesan melalui simbol bunyi yang berbentuk grafis. Penyampaian pesan melalui simbol bunyi itu melibatkan kemampuan individu untuk proses encoding. Jika membaca merupakan memaknai code (decoding). Kebalikannya menulis makna pesan itu disampaikan melalui code grafis. Untuk itu kemampuan meulis perlu dibelajarkan setelah pembelajaran membaca, karena kemampuan

pengkodean/pensimbolan dari simbol bunyi suatu bahasa perlu dikuasai

dahulu saat pembelajaran membaca. Penguasaan kode/simbol bunyi yang berbentuk grafis tersebut sebagai dasar individu untuk menyampaikan kembali dengan kode yang telah dikuasai. Proses membaca sebagai proses penguasaan kode secara bunyinya dan makna bahasa, selanjutynya untuk menulis penguasaan kode itu harus disertai kemampuan membuat bentuk atau mengkodean kembali melalui bentuk grafis yang dicetak atau dibentuk dengan tangan/menulis tangan

9. Pembelajaran menulis bagi tunagarhita lebih ditekankan untuk menopang kemandirian di kehidupan dewasa. Pembelajaran bidang ini dapat diintegrasikan ke pembelajaran membaca, setelah mereka motorik halusnya siap, mampu memegang pensil dengan benar, dan menguasai membaca beberapan kata dengan ejaan yang benar. Tujuan utama dari pelajaran menulis bagi anak tunagrahita ringan agar mampu mengadakan komunikasi, juga menopang kemandirian di masyarakat.

10. Matematika merupakan substansi bidang studi yang menopang pemecahan masalah dalam segala sektor kehidupan. Matematika merupakan sesuatu substansi yang sangat penting dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya dalam penggunaan uang akan melibatkan konsep dan keterampilan matematik. Untuk itu, keterampilan penggunaan konsep matematika harus dibelajarkan kepada setiap siswa, begitu juga siswa-siswa yang memiliki hambatan khusus, seperti pada hambatan mental. Pembelajaran matematika bagi mereka agar mampu menggunakan di dalam kehidupan, dipekerjaan,dikeluarga dan masyarakat.

11. Dasar-dasar.Pembelajaran Matematika bagi siswa yang mengalami hambatan mental, khususnya tunagrahita ringan maupun sedang yang disarikan dari sumber Sumber Wehman & Laughlin (981:338-346) meliputi : Menghitung, Pembelajaran bilangan (number), Pengangkaan (numeration), Hubungan (relation), Pengukuran (measurement), Pengoperasian angka (operations with numbers), Pengoperasian angka rasional (operations with rational numbers), dan Pemecahan masalah (problem solving).

12. Matematika bagi Anak tunagrahita Ringan yaitu keterampilan pra-hitung , Operasi Penambahan (addition), dan Operasi Pengurangan (Sultraction). Dalam Operasi penambahan terdapat mavcam-macam penambahan yaitu Penambahan kombinasi dasar, Penambahan tahap lebih tinggi, Penambahan dengan aneka digit (multiple digit addition), dan Penambahan dengan kolum.

Operasi Pengurangan (Sultraction. Operasi Pengurangan kebalikannya dari penambahan.

A. Tugas

Setelah memahami pengertian belajar, pembelajaran, prinsip-prinsip pembelajaran, strategi pembelajaran dan perencanaan program pembelajaran anak tunagrahita, maka peserta PPG dalam jabatan ditugaskan untuk:

1. Diskusikan tentang pengertian belajar, pembelajaran, prinsip-prinsip

pembelajaran, strategi pembelajaran dan perencanaan program pembelajaran anak tunagrahita

2. Hasil diskusi buatlah makalah tentang prinsip-prinsip pembelajaran dan strategi pembelajaran anak tunagrahita

3. Presentasikan hasil observasi, untuk mendapatkan masukan, saran dari peserta lain, agar makalah semakin sempurna.

Tugas Kegiatan II

a. Buatlah intrumen pengamatan untuk mengetahui kemampuan awal membaca anak tunagrahita ringan. Kelas disesuaikan dengan dimana peserta PPG dalam jabatan mengajar.

b. Pilihlah salah satu KI dan KD bahasa indonesia, klas dan semester lalu buatlah rencana program pembelajaran membaca sesuai dengan KI dan KD yang telah dipilih.

c. Rencana program pembelajaran mengacu pada pendekatan saintifik.

Tugas Kegiatan III

Buatlah intrumen pengamatan untuk mengetahui kemampuan awal menulis anak tunagrahita ringan. Kelas disesuaikan dengan dimana peserta PPG dalam jabatan mengajar.

1. Pilihlah salah satu KI dan KD bahasa indonesia, klas dan semester lalu buatlah rencana program pembelajaran menulis sesuai dengan KI dan KD yang telah

dipilih.

2. Rencana program pembelajaran mengacu pada pendekatan saintifik.

Tugas Kegiatan IV 1.Buatlah intrumen pengamatan untuk mengetahui kemampuan awal berhitung anak

tunagrahita ringan. Kelas disesuaikan dengan dimana peserta PPG dalam jabatan mengajar.

2.Buatlah rencana program pembelajaran berhitung sesuai dengan anak tunagrahita

ringan dengan memilih KI dan KD, klas, semester

3.Rencana program pembelajaran menggunakan pendekatan saintifik

Tes Formatif I

1.

Suatu kombinasi yang tersusun meliputi unsur-unsur manusiawi, material fasilitas,

perlengkapan

dan

prosedur

yang saling mempengaruhi tercapainya tujuan

pembelajaran merupakan pengertian dari

 

a.

Belajar

b.

Mengajar

 

c. Pembelajaran

d. Pengajaran

2.

Peningkatan/pengembangan

perhatian

yang

dimiliki

tersebut

akan

mempengaruhi

a. Motivasi

b. Bakat

c. Minat

d. Konsentrasi

3. Untuk dapat memproses dan mengolah hasil belajarnya secara efektif, siswa

dituntut untuk

a. Konsentrasi

b. Perhatian

c. Aktif

d. Mengulangi

secara fisik, intelektual dan emosional.

4. Dengan keterlibatan secara langsung ini, secara logis akan menyebabkan anak

dengan hambatan intelektual/tunagrahita memperoleh

a. Ilmu

b. Pengalaman

c.

Manfaat

d. Keuntungan

5. Metode drill adalah bentuk belajar yang menerapkan prinsip

6.

a. Langsung

b. Demonstrasi

c. Kreatif

d. Pengulangan

Tuntutan

memperoleh, mengolah dan memproses pesan merupakan implikasi dari prinsip .

a. Perhatian dan motivasi

b. Pengulangan

c. Tantangan

d. Pengalaman

dimilikinya

kesadaran

diri

akan

adanya

kebutuhan

untuk

selalu

7. Setiap siswa merupakan individual yang unik, artinya

a. tidak ada dua orang siswa yang sama persis

b. dua orang memiliki kesamaan

c. setiap orang hanya memiliki kelebihan

d. setiap orang hanya memiliki kekurangan

8. Pola umum perbuatan guru terhadap siswa di dalam perwujudan kegiatan belajar mengajar merupakan pengertian dari

a. Prinsip pembelajaran

b. Strategi pembelajaran

c. Tujuan pembelajaran

d. Manfaat pembelajaran

9. Strategi pembelajaran yang dapat diberikan kepada anak dengan hambatan intelektual/anak tunagrahita yaitu sebagai berikut, kecuali

a. Cooperative Learning

b. Individual Learning

c. Face to face

d. Direct Instruction

10. proses mempersiapkan kegiatan-kegiatan secara sistematis yang akan dilakukan untuk mencapai tujuan tertentu merupakan pengertian dari

a. Program

b. Pencapaian

d.

Perencanaan

Tes Formatif II

. Tes Formatif Petunjuk: pilihlah jawaban yang paling benar

1.Materi program akademik fungsional di antaranya adalah

a. Membaca, menulis, dan berhitung

b. Menggambar, menulis, dan berhitung

c. Menulis, menggambar, dan berhitung

d. Menari, menulis, dan berhitung.

2 Kegiatan membaca yang diintegrasikan secara kontinyu dalam kehidupan sehari-

hari

menyeluruh. Rangsangan itu selalu diperkuat untuk mengucapkan bunyinya,

melihat

fungsi kecuali

dan meraba bentuk hurufnya. Hal ini memperkuat asosiasi antara

usaha untuk memberi rangsangan simbol yang tercetak secara

ialah

a.huruf,

b.bunyi huruf

c.angka

d.benda

3 Penggunaan pendekatan membaca terdiri dari keterampilan antara lain, kecuali

a.word recognition,

b. word competion

c. literal comprehesion,

d interpretation 4. Word analysis terdiri: kecuali a.mengidentifikasi kata dasar

b.mengidentfikasi makna kata majemuk c.mendengarkan suara dari kata d.mengidentifikasi arti singkatan 5.Literal comprehesion di antaranya: kecuali

a.penggunaan pendahuluan,

b.membaca detail,

c.menyaring dan meneliti ide pokok.

d.mengidentifikasi arti singkatan

6. Membaca bagi anak dengan hambatan intelektual/anak tunagrahita sedang lebih ditekankan

a. membaca kalimat panjang-panjang

b. membaca kalimat sederhana dan berlabel

c. membaca kalimat berparagraf

d. membaca kalimat sederhana

7.Dalam pendekatan psikodinamik proses ini menekankan bahwa pembaca

mengambil bentuk makna dari kalimat atau paragraf yang membantu menerkanya.

Proses ini lebih disebut makna

a. Literal

b. kontekstual,

c.Realistis

d. Dinamis

8.Persepsi auditorik yaitu kemampuan untuk mengenal dan mengerti sesuai yang

telah didengarnya. Adapun bentuk latihannya meliputi:

a.Hubungan spasial

b.Auditory bleending

c .Diskriminasi visual

d.Visual closure

9.Persepsi visual memegang peranan penting dalam hal membaca, dan persepsi ini

dibagi meliputi:

a.Memori auditorik

b.Sikuens auditorik,

c.Pengenalan objek.

d.Deskriminasi auditorik,

10 Keterpaduan pendekatan itu akan melengkapi suatu proses belajar membaca

bagi anak dengan hambatan intelektual/anak tunagrahita ringan, karena tugas

membaca bagi mereka merupakan tugas yang kompleks. Keterpaduan itu disebut

dengan pendekatan

a.Pendekatan eklektik.

b.Pendekatan realistik

c.Pendekatan problematik d.Pendekatan konseptual

Test Formatif III Petunjuk: Pilihlah jawaban yang paling benar

1. Kegiatan menulis merupakan penyampaianpesan melalui simbol bunyi yang

Penyampaian pesan melalui simbol bunyi itu melibatkan

berbentuk grafis.

kemampuan individu untuk proses

a. Decoding

b. Encoding

c. Membaca

d. Menulis

2 Aktivitas menulis memiliki tahapan yang kompleks. Berikut ini tahapan yang

benar adalah :

a. .aktivitas penyampaian pesan, pesan disampaikan dengan bahasa, bahasa

disimpulkan dengan grafis,

b. Pemahaman tentang bentuk-bentuk sibol grafis memlalui membaca, bahasa

disimpulkan oleh grafis.

c. pesan disampaikan dengan bahasa, aktivitas penyampaian pesan, bahasa

disimpulkan dengan grafis,

d. pesan disampaikan dengan bahasa , Pesan yang terstruktur disampaikan

lewat simbol suara, bahasa disimpulkan dengan grafis,

3 Kompleksitas dari aktivitas menulis mendasari bahwa, untuk pembelajaran

menulis perlu sistematika dengan tahapan proses menulis tersebut, meliputi

antara lain kecuali

a.Pesan yang terstruktur disampaikan lewat simbol suara

b. Penyampaian pesan dengan berbicara dan mendengarkan.

c. Penggunaan bahasa sebagai alat komunikasi.

d. Pemahaman bentuk-bentuk simbol grafis melalui membaca.

4.Salah satu kegiatan pra menulis yaitu kecuali

a.Latihan membuat lingkaran, garis lengkung, datar.

b. Latihan koordinasi mata dan tangan

c.Latihan menekuk-nekuk badan d.Latihan menghubungkan titik-titik menjadi garis

5.

Alasan perlunya anak anak dengan hambatan intelektual/anak tunagrahita diajari menulis huruf cetak lebih dulu pada awal belajar menulis tangan, sebagai berikut

:

a.

Huruf cetak lebih mudah dipelajari karena bentuknya sederhana;

b.

Tulisan cetak memudahkan anak untuk mengenal kata-kata sebagai kesatuan.

c.

Tidak memungkinkan anak menulis terbalik-nalik

d.

Menulis dengan huruf cetak lebih cepat karena tidak ada gerakan pena terhenti untuk tiap huruf.

6.

Para ahli yang menyarankan agar anak diajar menulis dengan huruf sambung lebih dahulu bertolak dari tiga alasan, yaitu: kecuali

a. Tulisan sambung memudahkan anak untuk mengenal kata-kata sebagai kesatuan.

b. Tidak memungkinkan anak menulis terbalik-nalik

c. Kata-kata yang ditulis dengan huruf sambung lebih mudah dieja karena huruf-huruf tersebut berdiri sendiri

d. Menulis dengan huruf sambung lebih cepat karena tidak ada gerakan pena terhenti untuk tiap huruf

7.

Menurut polloway & patton kemampuan atau kompetensi mengeja meliputi :

a. Penguasaan huruf-huruf dari alphabetis (recognizes letters of the alphabet).

b. Penguasaan kata (recognizes words).

 

c. Mengatakan kata-kata yang dikuasai (say words that can be recognizes)

d. Betul semua

 

8.

Berkaitan fungsi menulis untuk kemandirian oleh hansen yang dikutip lovvit

Mulyono

Abdurrahman

(1999:228)

disarankan tentang susunan tahapan

mengajar menulis ekspresif sebagai berikut :

a. Merangkum bacaan, pembicaraan, laporan tertulis, dan diskusi kelas;

b. Menulis pengalaman pribadi;

 

c. Menulis karangan imajinatif;

d. Betul semua

 

9.

Pembelajaran menulis bagi hambatan mental lebih ditekankan untuk

a. Untuk kebutuhan sehari-hari

b. Untuk menopang kemandirian di kehidupan dewasa.

c. Untuk membentuk karakter

d. Untuk mengurangi perilaku negatif

10. Tujuan utama dari pelajaran menulis bagi anak hambatan mental ringan agar

mampu mengadakan komunikasi, juga menopang kemandirian di masyarakat.

Misalnya

a. Menulis pengiriman pesan singkat (SMS/Short message send) dengan

menggunkan telepon selular

b. Menulis melalui Aplikasi Komputer

c. Menulis di majalah dan koran

d. Menyalin pembelajaran yang ditulis oleh guru disekolah

Kunci jawaban Test Formatif I

1.C

2.A

3.A

4.B

5.D

6.C

7.A

8.B

9.C

10.D

Kunci Jawaban Test Formatif II

1. A

2. C

3. B

4. C

5. D

6. B

7. B

8.

B

9. C

10. A

Kunci Jawaban Test Formatif III

1. B

2. A

3. A

4. C

5. C

6. C

7. D

8. D

9. B

A

10.