Anda di halaman 1dari 29

LAPORAN KASUS

F20.0 SKIZOFRENIA PARANOID

Disusun Oleh

Sarah Ersha Mutiari I1011141035

Pembimbing
Mayor CKM dr. Lollyta C.S, Sp. KJ

KEPANITERAAN KLINIK
SMF KESEHATAN JIWA
RUMAH SAKIT TK.II DUSTIRA CIMAHI
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS TANJUNGPURA
2019

0
LEMBAR PERSETUJUAN

Telah disetujui laporan kasus dengan judul:


Skizofrenia Paranoid

Disusun sebagai salah satu syarat untuk menyelesaikan


Kepaniteraan Klinik Ilmu Kesehatan Jiwa

Cimahi, 3 Juli 2019


Pembimbing, Disusun oleh :

dr. Lollytha C. Simanjuntak, Sp. KJ Sarah Ersha Mutiari, S.Ked

1
BAB I
PENYAJIAN KASUS

I. IDENTITAS PASIEN
Nama : Tn. WS
Jenis Kelamin : Laki-laki
Usia : 52 tahun
Agama : Islam
Suku : Sunda
Pendidikan : SMA
Pekerjaan : Swasta
Status Pernikahan : Sudah Menikah
Status Pasien : BPJS
Ruang : Halimun
Masuk ke RS : 25 Juni 2019

II. RIWAYAT PSIKIATRIK


Anamesis dilakukan secara autoanamnesis pada tanggal 27 Juni 2019
serta secara alloanamnesis pada tanggal 25 Juni 2019 di Bangsal Halimun RS
Tingkat II Dustira, Cimahi.
a. Keluhan Utama
Merasakan hal yang gaib
b. Riwayat Penyakit Sekarang
Autoanamnesis pada tanggal 27 Juni 2019
Pasien datang diantar oleh istrinya ke Unit Gawat Darurat RS Tk II
Dustira karena telah mengalami hal yang gaib. Pasien sering melihat
bayangan, mendengar suara bisikan, mengaku telah dirasuki roh jahat.
Pasien merasa bahwa setelah roh jahat tersebut merasuki dirinya, tubuhnya
merasa drop, sehingga membuat pasien tidak ingin keluar rumah. Akan
tetapi, pasien merasa mempunyai tanggung jawab ke keluarga untuk

2
bekerja. Oleh karena itu pasien memaksakan diri untuk bekerja di kebun
pada Jum’at sore tanggal 21 Juni 2019.
Pasien bekerja di kebun milik temannya yang tidak jauh dari lokasi
rumahnya. Pada saat itu pasien mengaku berada sendirian di kebun, dan
merasakan hal gaib. Selain melihat bayangan, mendengar suara bisikan serta
dirasuki roh jahat, pasien mengaku selalu diikuti. Diikuti dan telah dirasuki
sebanyak 3 roh yang berasal dari udara, angin dan tanaman. Setelah itu
pasien merasakan tubuhnya semakin berat, sehingga memutuskan untuk
pulang kerumah.
Pada saat dirumah, pasien bercerita jika takut akan kegelapan. Tidak
ingin mematikan lampu di setiap ruang dirumahnya dan selalu ingin
memainkan musik gamelan serta berjoget. Pasien menganggap roh-roh yang
telah mengikutinya, silih berganti merasuki tubuhnya.
Alloanamnesis pada Istri pasien pada tanggal 25 Juni 2019
Menurut istri pasien, setelah pasien bekerja pada hari Jum’at sore
tanggal 21 Juni 2019, pasien pulang kerumah dan mengaku telah diikuti.
Setelah itu, istri pasien menganggap terjadinya perubahan sikap dan sifat
sang suami. Pasien sering tersenyum sendiri, sering berjoget dengan iringan
musik yang dimainkannya. Pasien juga takut akan kegelapan sehingga
memberikan pesan kepada sang istri untuk selalu menghidupkan lampu
disetiap ruangan dikala malam maupun siang. Sejak kejadian tersebut pasien
susah tidur di malam hari dan selalu gelisah serta cemas.
Sabtu pagi tanggal 22 Juni 2019, pasien dibawa istrinya “ruqiyah” dan
ke “orang pintar”. Pasien selalu uring-uringan (bingung) hingga hari
keempat setelah kejadian hingga dibawa ke Unit Gawat Darurat RS Tk II
Dustira pada hari Selasa tanggal 25 Juni 2019 pukul 14.00 WIB.
c. Riwayat Penyakit Dahulu
 Riwayat gangguan psikiatri
Pasien mengakui telah mengalami depresi dan penyakit gangguan jiwa
skizofrenia sejak 9 tahun yang lalu dan berobat rawat jalan di RS Dustira.
Namun tidak pernah kontrol lagi dikarenakan pasien sudah tidak
3
menunjukkan gejala penyakit tersebut.
 Kondisi medis umum
Mempunyai riwayat Arthritis Gout
 Riwayat penggunaan zat psikoaktif
Riwayat konsumsi alkohol (-)
Riwayat penggunaan NAPZA (-)
Riwayat merokok (+)
d. Riwayat kehidupan pribadi
 Prenatal dan perinatal
Menurut pasien sendiri, pasien lahir normal, dibantu oleh dukun beranak.
 Masa kanak-kanak awal (1-3 tahun)
Riwayat kejang demam (-), Perkembangan pasien sama dengan
perkembangan anak seusianya. Namun, pemberian makanan yang tidak
sesuai pada umurnya.
 Masa kanak pertengahan (3-11 tahun)
Riwayat kejang demam (-). Perkembangan dan pertumbuhan pasien sesuai
dengan anak seusianya, pasien juga memiliki teman, serta dapat
menyalurkan minat dan bakatnya seperti bermain futsal dan badminton.
 Riwayat masa kanak akhir dan remaja
Pasien memiliki teman yang jumlahnya semakin sedikit dikarenakan faktor
lingkungan. Lingkungan di masa SMA sangat berbeda dengan
kehidupannya sewaktu itu. Faktor ekonomi keluarga pasien menurun,
sehingga menuntut pasien untuk menjadi pengamen demi memenuhi
kebutuhannya. Dari perubahan lingkungan dan kebiasaan tersebut, pasien
sering merasa tertekan dikarenakan oleh teman-temannya.
e. Riwayat Masa Dewasa
 Pendidikan
Pasien merupakan tamatan SMA, tidak pernah tinggal kelas. Tidak bisa
melanjutkan studi ke jenjang selanjutnya, dikarenakan faktor biaya. Pasien
sering berdebar mengingat masa lalu, sedikit gelisah jika mengingat masa-
masa SMA. Pasien mengaku pernah dibully oleh temannya.
4
 Pekerjaan
Pasien di lingkungan kerja bersifat flexible. Selalu mengerjakan pekerjaan
yang memang sudah menjadi tugasnya, namun jarang berbicara kepada
rekan kerjanya.
 Perkawinan
Pasien sudah menikah. Menikah sejak pasien pindah kerja dari Bogor ke
Bandung dan memiliki 6 orang anak. 2 anak lahir prematur dan meninggal.
Hingga saat ini pasien memiliki 4 orang anak dan memiliki 1 orang
menantu. Istri pasien selalu menemani pasien melewati masa-masa sulit.
 Agama
Pasien beragama Islam, taat beribadah dan selalu sholat di masjid.
 Aktivitas sosial
Pasien mengikuti kegiatan sosial, jikalau tidak ada pekerjaan.
 Riwayat militer
Pasien bukan anggota militer.
 Riwayat pelanggaran hukum
Tidak diketahui.
f. Riwayat Keluarga
Menurut pasien dan istri, keponakan pasien yang bekerja di tempat
yang sama, sering melihat bayangan dan mengalami kesurupan.
g. Situasi Kehidupan Sekarang
Istri pasien beranggapan bahwa pasien telah mengalami perubahan
sifat dan perilaku serta pola pikir. Pasien sering gelisah dan cemas yang
membuat pasien berhari-hari tidak tidur.
h. Impian Fantasi dan Nilai-Nilai
Mempunyai ilmu bela diri serta dapat melihat kuntilanak. Pada saat bangun
tidur, pasien memperagakannya.

5
i. Persepsi Keluarga tentang Pasien
Keluarga merasa bingung karena pasien sudah mengalami dua kali
peristiwa seperti ini. 9 tahun yang lalu, pasien mengalami depresi. Kejadian-
kejadian tersebuat mempengaruhi kehidupan sosial dari anak ketiganya
yang masih bersekolah. Anaknya tidak ingin melanjutkan studinya.

III. STATUS PSIKIATRIKUS


Diperiksa tanggal 27 Juni 2019.
a. Deskripsi umum
1. Penampilan : Dekorum Baik, wajah bingung, terlihat sedikit gelisah
2. Perilaku dan aktivitas psikomotor : Tenang, cara berjalan baik, tidak
kooperatif, kontak mata tidak adekuat, tidak ada gerakan involunter,
agresifm dan impulsif.
3. Sikap terhadap pemeriksa : Tidak kooperatif.
4. Pembicaraan : Spontan, volume bicara normal menurun, artikulasi tidak
jelas, irelevan, pembicaraan dapat dimengerti namun tidak memiliki ide.
b. Mood, afek, dan keserasian
1. Mood : senang
2. Afek : netral
3. Kesesuaian : kesesuaian antara mood dan afek
c. Pikiran/proses pikir
1. Bentuk : Autistik
2. Arus :
 Produktivitas : Baik, pasien dapat menjawab pertanyaan
pemeriksa dengan spontan.
 Kontinuitas : Asosiasi Longgar, Gangguan arus pikir dengan ide
ide yang berpindah dari satu subjek ke subjek lain
yang tidak berhubungan sama sekali.
3. Isi : Ilusi (-), delusi (-), waham curiga (+), preokupasi (+)
d. Persepsi : Halusinasi auditorik (+), halusinasi visual (+), perilaku
halusinasi (+), ilusi (-)
6
e. Pengendalian impuls : sudah cukup baik, akan tetapi sehabis dilakukan
wawancara kepada pasien, pasien izin untuk minum air putih dikarenakan
mengaku gelisah dan sedikit cemas akan pertanyaan-pertanyaan yang
diberikan.
f. Sensorium dan kognisi
1. Taraf kesadaran
Kuantitas : E4V5M6
Kualitas : Compos Mentis
2. Orientasi
Waktu : Baik
Tempat : Baik
Orang : Baik
3. Daya ingat
Jangka panjang : Baik
Jangka pendek : Buruk
Segera : Baik
4. Konsentrasi dan perhatian: Baik
5. Kemampuan membaca dan menulis: Baik, sesuai dengan tingkat
pendidikan
6. Kemampuan visuospasial: Buruk
7. Kemampuan berpikir abstrak: Buruk
g. Daya nilai dan tilikan
1. Kesan nilai sosial : Baik
2. Daya nilai realita : Buruk
3. Tilikan :5

7
IV. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK LEBIH LANJUT
a. Pemeriksaan tanda vital
Kesadaran : Compos Mentis
Tekanan darah : 140/70 mmHg
Frekuensi pernafasan : 20 x/menit
Frekuensi nadi : 70 x/menit
Suhu : 36,6oC
Berat Badan : 53 kg
Tinggi Badan : 169 cm
BMI : 18,5
b. Status generalis
Kulit : Warna kulit coklat kehitaman, sianosis (-).
Kepala : Deformitas (-), luka lecet (-)
Rambut : Lurus, berwarna hitam.
Mata : Konjungtiva anemis (-/-), sklera ikterik (-/-)
THT : Deviasi septum nasi (-), perdarahan (-), mukosa
hidung hiperemik (-),
Mulut : Lidah kotor (-)
Leher : Pembesaran kelenjar getah bening leher (-)
Jantung : Bunyi jantung S1S2 reguler, murmur (-), gallop(-)
Paru : Suara napas dasar vesikuler (+/+), ronkhi (-/-),
wheezing (-/-), sonor di kedua lapang paru
Abdomen : Datar, bising usus 10x/menit, nyeri tekan (-)
Punggung : Simetris (+), deformitas (-)
Ekstremitas : Akral hangat, CRT < 2”, edema (-/-)
c. Status Neurologi
Glasgow Coma Scale (GCS) E4M6V5 = 15
Pupil : Bulat (+), Isokor (+), diameter 3mm/3mm
Refleks cahaya Langsung (+/+), dan Tidak langsung (+/+)
Tanda Rangsang Meningeal (TRM)
Kaku kuduk : (-)
8
Pemeriksaan Motorik :
5555 5555
5555 5555
Pemeriksaan Refleks :
Refleks Fisiologis
Biseps : (++/++)
Triceps : (++/++)
Patella : (++/++)
Tendo achilles : (++/++)
Refleks Patologis : Babinski (-)
Pemeriksaan Sensorik
Sensibilitas : Baik
Pemeriksaan Saraf Otonom
Inkontinensia alvi dan urin (-)

9
V. HASIL PEMERIKSAAN PENUNJANG
Pemeriksaan Laboratorium pada tanggal 25 Juni 2019
No Pemeriksaan Hasil Satuan Nilai Rujukan
I Hematologi
1 Hemoglobin 15,4 g/dl 13,0-18,0
2 Eritrosit 5,3 106/ul 4,0-5,5
3 Leukosit 11,1 103/ul 4,0-10
4 Hematokrit 44,2 % 38-51
5 Trombosit 338 103/ul 150-450

II MCV/MCH/MCHC
1 MCV 83,6 Fl 75,0-100,0
2 MCH 29,1 Pq 25,0-32,0
3 MCHC 34,8 g/dl 32,0-36,0
4 RDW 14,2 % 10,0-16,0
III HITUNG JENIS
1 Basofil 0,4 % 0,0-1,0
2 Eosinofil 0,8 % 1,0-4,0
3 Segmen 69,8 % 50,0- 80,0
4 Limfosit 18,8 % 25,0-50,0
5 Monosit 10,2 % 4,0-8,0
IV KIMIA KLINIK (FUNGSI HATI)
1 SGOT 38 u/l <38
2 SGPT 25 u/l <41
V KIMIA KLINIK (DIABETES CITO)
1 GDS 98 mg/dl <160

10
VI. DIAGNOSIS MULTIAKSIAL
Aksis 1 : F20 Gangguan skizofrenia
Aksis 2 : F60.0 Gangguan kepribadian paranoid
Aksis 3 : Tidak ada
Aksis 4 : Masalah berkaitan dengan lingkungan sosial
Aksis 5 : 80-71, gejala sementara, & dapat diatasi, disabilitas ringan dalam
sosial, pekerjaan sekolah, dan lain-lain.

VII. DAFTAR MASALAH


a. Organobiologik : Tidak ada
b. Psikologis : Wajah tampak bingung, bicara kurang, irelevan,
terbatas, mood senang, afek netral, kesesuaian afek in appropriate,
bentuk pikir autistik, asosiasi longgar, waham curiga, halusinasi
auditorik(+), visual (+) kesan nilai sosial dan nilai realita buruk
c. Sosial : Tidak ada. Pasien selalu melayani tamu yang
berkunjung ke ruang halimun.

VIII. PENATALAKSANAAN
a. Hospitalisasi
Rawat inap karena pasien gelisah dan cemas akan hal gaib.
b. Non-farmakologi :
Psikoterapi suportif keluarga dalam memotivasi, mendukung, dan
membantu kesembuhan pasien serta edukasi kepatuhan minum obat.
c. Farmakologi
Inj. Lodomer1x5 mg (I.M) selama 3 hari
Inj. Valdimex 1x5 mg (I.M) selama 3 hari
PO hexymer 2x2mg
Setelah injeksi selama 3 hari maka dilanjutkan dengan :
P.O Nopremia tab 2x2 mg
P.O Hexymer tab 2x2mg
11
P.O Clopine (Clozapin) tab 100 mg (0-0-1)

IX. PROGNOSIS
1. Prognosis Ke Arah Baik
a. Keluarga mendukung pasien untuk sembuh.
b. Tidak ditemukan tanda dan gejala efek samping pemakaian obat-obatan
antipsikotik.
c. Pasien saat ini lebih mudah dimintai keterangan mengenai penyakitnya
seiring proses penyembuhan dibandingkan keadaan pertama kali pasien
masuk UGD.
2. Prognosis Ke Arah Buruk
a. Sering memikirkan penyakitnya, menghkhawatirkan akan terjadi
depresi berulang.
b. Sering waham dikendalikan, keyakinan yang keliru bahwa keinginan,
pikiran atau perasaanya dikendalikan oleh kekuatan dari luar
c. Sering berhalusinasi melihat bayangan dan mendengar bisikan

Sehingga kesimpulan prognosis pada pasien berdasarkan wawancara diatas


sebagai berikut :
Quo ad Vitam : Dubia ad bonam
Quo ad Functionam : Dubia ad bonam
Quo ad Sanactionam : Dubia ad bonam

12
X. FOLLOW UP HARIAN
Tanggal S O A P
26-06-19 Pasien dalam Kesadaran:CM, SR -Inj. Lodomer 1x5 mg
kondisi cenderung TD:140/70, (I.M) selama 3 hari
tidur, tidak berbicara SpO2 : 98% -Inj. Valdimex 1x5 mg
dengan siapapun, HR:70x/menit (I.M) selama 3 hari
merasa cemas dan RR:20x/menit, -PO hexyver 2x2mg
gelisah pada malam Dekorum buruk,
hari, dan masih autistik, assosiasi
mendengar suara- longgar, perilaku
suara bisikan. makan terhadap pemeriksa
(+), minum (+). tidak kooperatif, tidak
adanya kontak mata,
pasif, mood biasa,
afek tumpul,
inappropriate. waham
curiga (+), halusinasi
suara (+),halusinasi
visual (+)
Tilikan 3
27-06-19 Pasien dalam Kesadaran:CM, SR -Inj. Lodomer 1x5 mg
kondisi tenang, TD:130/85 mmHg (I.M) selama 3 hari
masih merasa cemas SpO2 : 98% -Inj. Valdimex 1x5 mg
dan gelisah. Pasien HR:73x/menit (I.M) selama 3 hari
menjadi susah tidur, RR:20x/menit, -PO hexyver 2x2mg
kontak (+). Pasien Dekorum baik,
juga masih melihat autistik, perilaku
bayangan.(+) makan terhadap pemeriksa
(+), minum (+). kooperatif, kontak
mata (+), aktif, mood

13
senang, afek netral,
dan adanya keserasian
antara mood dan afek.
inappropriate,
agresivitas, impulsif
waham curiga (+),
halusinasi suara
(+),halusinasi visual
(-)
Tilikan 5
28-06-19 Pasien dalam Kesadaran:CM, SR -P.O Noprenia tab
kondisi lebih tenang, TD:120/80 mmHg 2x2 mg
gelisah sudah SpO2 : 98% -P.O Hexymer tab
berkurang, masih HR:77x/menit 2x2mg
sulit tidur, karena RR:20x/menit, -P.O Clopine
memiliki mimpi, Dekorum buruk, (Clozapin) tab 25 mg
kontak (+) makan negativistik, perilaku (0-0-1)
(+), minum (+). terhadap pemeriksa
Nyeri tenggorokan kooperatif, kontak
(+) mata adekuat, aktif,
mood senang, afek
netral, inappropriate,
agresivitas, impulatif
waham curiga (+),
halusinasi suara (-
),halusinasi visual (-)
Tilikan 5
29-06-19 Pasien dalam Kesadaran:CM, SR -PO Noprenia tab 2x2
kondisi lebih tenang, TD:140/90mmHg mg
gelisah sudah SpO2 : 98% -P.O Hexymer tab

14
berkurang, masih HR:76x/menit 2x2mg
sulit tidur, karena RR:20x/menit, -P.O Clopine
memiliki mimpi, Dekorum baik, (Clozapin) tab 25 mg
masih mendengar autistik, perilaku (0-0-1)
bisikan, kontak (+) terhadap pemeriksa
makan (+), minum kooperatif, kontak
(+). mata adekuat, aktif,
mood senang, afek
netral inappropriate,
agresivitas,
negativistik (+)
halusinasi suara (-
),halusinasi visual (-)
Tilikan 5
1-07-19 Pasien dalam Kesadaran:CM, SR -PO Noprenia tab 2x2
kondisi tenang, tidak TD:140/80mmHg mg
merasakan gelisah SpO2 : 98% -P.O Hexymer tab
lagi, sudah bisa HR:83x/menit 2x2mg
tidur, masih RR:20x/menit, -P.O Clopine
mendengar bisikan, Dekorum baik, (Clozapin) tab 25 mg
kontak (+) makan autistik, perilaku (0-0-1)
(+), minum (+). terhadap pemeriksa
kooperatif, kontak
mata adekuat, aktif,
mood senang, afek
netral, negativistik (-)
Tilikan 5

15
BAB II
PEMBAHASAN

I. Ikhtisar Penemuan Bermakna


Pasien datang diantar oleh diantar oleh istrinya ke Unit Gawat
Darurat RS Tk II Dustira karena telah mengalami hal yang gaib. Pasien
sering melihat bayangan, mendengar suara bisikan, mengaku telah dirasuki
roh jahat. Pasien merasa bahwa setelah roh jahat tersebut merasuki dirinya,
tubuhnya merasa drop, sehingga membuat pasien tidak ingin keluar rumah.
Akan tetapi, pasien merasa mempunyai tanggung jawab ke keluarga untuk
bekerja. Oleh karena itu pasien memaksakan diri untuk bekerja di kebun
pada Jum’at sore tanggal 21 Juni 2019.
Pasien bekerja di kebun milik temannya yang tidak jauh dari lokasi
rumahnya. Pada saat itu pasien mengaku berada sendirian di kebun, dan
merasakan hal gaib. Selain melihat bayangan, mendengar suara bisikan serta
dirasuki roh jahat, pasien mengaku selalu diikuti. Diikuti dan telah dirasuki
sebanyak 3 roh yang berasal dari udara, angin dan tanaman. Setelah itu
pasien merasakan tubuhnya semakin berat, sehingga memutuskan untuk
pulang kerumah.
Pada saat dirumah, pasien bercerita jika takut akan kegelapan. Tidak
ingin mematikan lampu di setiap ruang dirumahnya dan selalu ingin
memainkan musik gamelan serta berjoget. Pasien menganggap roh-roh yang
telah mengikutinya, silih berganti merasuki tubuhnya.
Menurut istri pasien, setelah pasien bekerja pada hari Jum’at sore
tanggal 21 Juni 2019, pasien pulang kerumah dan mengaku telah diikuti.
Setelah itu, istri pasien menganggap terjadinya perubahan sikap dan sifat
sang suami. Pasien sering tersenyum sendiri, sering berjoget dengan iringan
musik yang dimainkannya. Pasien juga takut akan kegelapan sehingga
memberikan pesan kepada sang istri untuk selalu menghidupkan lampu
disetiap ruangan dikala malam maupun siang. Sejak kejadian tersebut pasien
susah tidur di malam hari dan selalu gelisah serta cemas.
16
Sabtu pagi tanggal 22 Juni 2019, pasien dibawa istrinya “ruqiyah” dan
ke “orang pintar”. Pasien selalu uring-uringan (bingung) hingga hari
keempat setelah kejadian hingga dibawa ke Unit Gawat Darurat RS Tk II
Dustira pada hari Selasa tanggal 25 Juni 2019 pukul 14.00 WIB.
Pasien dan keluarga mengakui jika pasien sudah mengalami depresi
dan penyakit gangguan jiwa skizofrenia sejak 9 tahun yang lalu dan berobat
rawat jalan di RS Dustira. Namun tidak pernah kontrol lagi dikarenakan
pasien sudah tidak menunjukkan gejala penyakit tersebut.
Berdasarkan penampilan roman wajah tampak gelisah dan bingung,
dekorum baik, tidak kooperatif, kontak mata tidak adekuat, mood senang,
afek netral dan adanya keserasian antara mood dan afek.. Pada bentuk pikir
autistik, arus pikir asosiasi longgar dan isi pikir terdapat waham curiga (+).
Tilikan derajat 3 dimana pasien menerima dan menyalahkan faktor
lingkungan kerja yang menjadi peyebab dari penyakitnya. Pada pemeriksaan
fisik tidak didapatkan kelainan apapun. Pada pemeriksaan neurologis dan
hasil laboratorium, tidak didapatkan kelainan atau penyakit penyerta yang di
keluhkan oleh pasien.

II. Diagnosis
A. Aksis I
Berdasarkan ikhtisar penemuan bermakna, maka kasus ini
termasuk gangguan jiwa skizofrenia. Hal ini dikarenakan adanya gejala-
gejala pada pasien memenuhi kriteria diagnosis skizofrenia seperti
1,2
adanya halusinasi dan gejala positif. Pasien juga sering melihat
bayangan, mendengar suara bisikan, mengaku telah dirasuki roh jahat.
Pasien merasa bahwa setelah roh jahat tersebut merasuki dirinya,
tubuhnya merasa drop, sehingga membuat pasien tidak ingin keluar
rumah. Pasien mengaku selalu diikuti. Diikuti dan telah dirasuki
sebanyak 3 roh yang berasal dari udara, angin dan tanaman

17
Kriteria Diagnosis Skizofrenia Menurut PPDGJ-III :
1. Harus ada sedikitnya satu gejala berikut ini yang amat jelas (dan
biasanya dua gejala atau lebih bila gejala-gejala itu kurang jelas
atau kurang tajam) :
a. Pikiran
1) ”thought eco” = isi pikiran dirinya sendiri yang berulang atau
bergema dalam kepalanya (tidak keras), dan isi pikiran
ulangan, walaupun isinya sama, namun kualitasnya berbeda.
2) ”thought insertion or withdrawl” = isi pikiran yang asing dari
luar masuk ke dalam pikirannya (insertion) atau isi
pikirannya diambil keluar oleh sesuatu dari luar
dirinya`(withdrawl).
3) ”thought broadcasting” = isi pikirannya tersiar keluar
sehingga orang lain atau umum mengetahuinya.
b. Waham
1) ”delusion of control” = waham tentang dirinya dikendalikan
oleh suatu kekuatan tertentu dari luar.
2) ”delusion of passivity” = waham tentang dirinya tidak
berdaya dan pasrah terhadap suatu kekuatan dari luar.
3) ”delusion of influence” = waham tentang dirinya dipengaruhi
oleh suatu kekuatan tertentu dari luar.
4) “delusion perception” = pengalaman inderawi yang tak
wajar, yang bermakna sangat khas bagi dirinya, biasanya
bersifat mistik atau mukjizat.
c. Halusinasi auditorik
1) Suara halusinasi yang berkomentar secara terus menerus
terhadap perilaku pasien.
2) Mendiskusikan perihal pasien diantara mereka sendiri
(diantara berbagai suara yang berbicara).
3) Jenis suara halusinasi lain yang berasal dari salah satu bagian
tubuh.
18
d. Waham-waham menetap jenis lainnya yang menurut budaya
setempat dianggap tidak wajar dan sesuatu yang mustahil,
misalnya perihal keyakinan agama atau politik tertentu atau
kekuatan dan kemampuan di atas manusia biasa (misalnya
mampu mengendalikan cuaca atau berkomunikasi dengan
makhluk asing dari dunia lain).
2. Atau paling sedikit dua gejala dibawah ini yang harus selalu ada
secara jelas:
a. Halusinasi yang menetap dari panca-indera apa saja, apabila
disertai baik oleh waham yang mengembang maupun yang
setengah berbentuk tanpa kandungan afektif yang jelas, ataupun
disertai oleh ide-ide berlebihan yang menetap atau apabila
terjadi setiap hari selama berminggu-minggu atau berbulan-
bulan terus menerus.
b. Perilaku katatonik, seperti keadaan gaduh-gelisah, posisi tubuh
tertentu (posturing), atau fleksibilitas cerea, negativisme,
mutisme, dan stupor.
c. Arus pikiran yang terputus (break) atau yang mengalami sisipan
(interpolation) yang berakibat inkoherensi atau pembicaraan
yang tidak relevan atau neologisme.
d. Gejala gejala ”negatif” seperti sikap sangat apatis, bicara yang
jarang, dan respons emosional yang menumpul atau tidak wajar,
biasanya yang mengakibatkan penarikan diri dari pergaulan
sosial dan menurunnya kinerja sosial; tetapi harus jelas bahwa
semua hal tersebut tidak disebabkan oleh depresi atau medikasi
neuroleptika.
3. Adanya gejala gejala khas tersebut di atas telah berlangsung selama
kurun waktu satu bulan atau lebih (tidak berlaku untuk setiap fase
nonpsikotik prodromal).
4. Harus ada suatu perubahan yang konsisten dan bermakna dalam
mutu keseluruhan dari beberapa aspek perilaku pribadi (personal
19
behaviour), bermanifestasi sebagai hilangnya minat, hidup tak
bertujuan, sikap larut dalam diri sendiri, tidak berbuat sesuatu, dan
penarikan diri secara sosial.3
B. Aksis II
Diagnosa Aksis II adalah F60.0 Gangguan Kepribadian Paranoid
Berdasarkan gejala-gejala yang terdapat pada skizofrenia
paranoid yaitu waham (delusion), yang menonjol misalnya waham kejar
seperti telah dirasuki roh jahat yang selalu mengikuti pasien. Pasien
merasa diikuti dan telah dirasuki sebanyak 3 roh yang berasal dari
udara, angin dan tanaman. Gejala yang kedua yaitu Halusinasi yang
menonjol misalnya halusinasi auditorik,seperti mendengar suara bisikan
serta halusinasi visual, seperti melihat bayangan. Terakhir gejala
gangguan afektif, yaitu dorongan kehendak untuk mengikuti gangguan-
gangguan yang dimaksud seperti tidak ingin mematikan lampu di setiap
ruang dirumahnya dan selalu ingin memainkan musik gamelan dan
berjoget.
C. Aksis III
Tidak ada
D. Aksis IV
Pasien merupakan anak yang lahir dengan keadaan sosial
ekonomi menengah kebawah. Namun sempat mengalami keterpurukan
ekonomi pada saat pasien menyelesaikan pendidikan terakhirnya.
Pasien menyelesaikan sekolah hingga SMA. Pasien berhubungan
kurang baik dengan teman-temannya saat itu..
E. Aksis V
Global Assessment of Functioning (GAF) Scale pada pasien ini
adalah 80-71:gejala sementara & dapat diatasi, disabilitas ringan dalam
sosial, pekerjaan, sekolah, dan lain-lain.

20
III. Identifikasi Faktor Risiko pada Pasien
Terdapat beberapa faktor risiko yang teridentifikasi pada pasien secara
biopsikososial
A. Biologi
Secara genetik, faktor resiko skizofrenia pada pasien tidak
teridentifikasi dengan jelas. Keluarga menyangkal adanya riwayat
keluarga memiliki penyakit yang sama.
B. Psikologi
Secara psikologi faktor resiko pada pasien merupakan stresor
psikososial yang terjadi dalam kehidupan pasien. Pasien tinggal
bersama istri dan keempat orang anaknya, dan pasien selalu
mengkhawatirkan kondisi kesehatan pasien yang dapat mempengaruhi
keadaan anak-anak pasien. Pasien memiliki hubungan yang sangat baik
dengan anak-anaknya. Menurut pengakuan pasien bahwa pasien
menyukai dekat dengan orang disekitarnya termasuk tetangga dan
orang baru yang ditemui oleh pasien.
C. Sosial
Secara kondisi sosial pasien merupakan anak yang lahir dengan
keadaan sosial ekonomi menengah kebawah. Namun sempat
mengalami keterpurukan ekonomi pada saat pasien menyelesaikan
pendidikan terakhirnya. Pasien menyelesaikan sekolah hingga SMA.
Pasien berhubungan kurang baik dengan teman-temannya saat itu.
IV. Psikodinamika
Pasien sudah menikah. Pasien merupakan anak keenam dari
delapan bersaudara. Pasien bekerja disalah satu kebun milik temannya.
Keseharian pasien bekerja pada pagi dan sore hari. Siang hari pasien
pulang kerumah untuk istirahat, sholat dan makan siang bersama istri.
Pada sore hari pasien kembali bekerja dan pulang pada malam hari. Pada 9
tahun yang lalu, sebelum memiliki gangguan depresi, pasien mengaku
sering menyendiri, marah tanpa penyebab jelas, cemas dan gelisah. Pasien
juga sering banyak berbicara sendiri. Pasien juga sering mendengar suara
21
atau bisikan yang mengajak melakukan hal-hal negatif. Pasien sebelumnya
pernah terdiagnosis memiliki gangguan kejiwaan skizofrenia pada tahun
2001. Pada saat itu pasien menjalani rawat jalan di RS Dustira. Namun,
dalam proses rawat jalan pasien tidak meminum lagi obatnya. Pengobatan
terakhir, pasien tidak pernah kontrol lagi dikarenakan pasien sudah tidak
menunjukkan gejala penyakit tersebut.
V. Terapi
Non Farmakologi10
1. Perawatan di Rumah Sakit
Pasien diindikasikan untuk dirawat di rumah sakit dengan
tujuan untuk melakukan pemeriksaan penunjang untuk mengetahui
penyebab keluhan pada pasien, stabilisasi pengobatan dan untuk
perilaku yang mengganggu aktivitas sehari-harinya atau tidak pada
tempatnya.
2. Terapi Psikososial
Terapi psikososial mencakup berbagai metode untuk
meningkatkan kemampuan sosial, kecukupan diri, keterampilan
praktis, dan komunikasi interpersonal pada pasien ini. Selain itu
juga penting untuk memberi dukungan kepada pasien dan memberi
informasi yang cukup kepada pasien mengenai penyakitnya dan
mendukungnya untuk taat berobat.
Farmakologi10
1. Haloperidol
Haloperidol merupakan golongan butirofenon pertama dari
antipsikotik utama. Kerja terapeutik obat-obat antipsikotik
konvensional adalah menghambat reseptor D2 khususnya di jalur
mesolimbik. Hal ini menimbulkan efek berkurangnya
hiperaktivitas dopamin pada jalur ini, yang didalilkan sebagai
penyebab simtom positif pada psikosis. Haloperidol adalah salah
satu obat yang umumnya digunakan untuk mengobati pasien
agresif dan berbahaya, walaupun mempunyai efek samping yang
22
berat, termasuk sindrom ekstrapiramidal. Perilaku agresif kelihatan
berhubungan dengan gejala positif pada skizofrenia. Semua
antagonis reseptor dopamin diabsorpsi dengan baik setelah
pemberian oral, sedangkan pada preparat liquid lebih efisien
diabsorpsi dibandingkan dengan tablet atau kapsul. Puncak
konsentrasi plasma biasanya mencapai 1 hingga 4 jam setelah
pemberian oral dan 30 hingga 60 menit setelah pemberian
parenteral. Tingkat steady-state tercapai kira-kira dalam 3 hingga 5
hari. Waktu paruh obat-obat ini adalah kira-kira 24 jam. Dosis
penggunaan haloperidol injeksi untuk dewasa adalah 2-10 mg, tiap
jam atau tiap 4-8 jam sekali, dengan dosis maksimal 18 mg per
hari.1Orang dewasa dalam keadaan akut cukup sesuai dengan
menggunakan dosis ekivalen haloperidol 5 hingga 20 mg.
Haloperidol yang tersedia 0,5; 1; 2; 5; 10; 20 mg tablet.
Injeksi lodomer diindikasikan pada agitasi psikomotor pada
kelainan tingkah laku. Agitasi & agresif yang berhubungan dengan
psikosis akut misalnya mania, hipomania, skizofrenia akut,
konfusional toksik termasuk delirium. Pengobatan psikosis
termasuk delusi, halusinasi, paranoia atau gangguan jiwa efektif
dalam meredakan gejala psikosis jangka pemdek.
2. Diazepam
Diazepam merupakan derivate benzodiazepine dengan
masa paruh obat 10-20 jam. Diazepam bekerja menimbulkan masa
kantuk dengan mempengaruhi reseptor GABA yaitu sejenis
penghantar sinyal listrik saraf diotak yang mneimbulakn efek
menenangkan. Bekerja pada sistem GABA yaitu dengan
memperkuat frekuensi hambatan neuron GABA.
Injeksi Valdimex adalah obat yang digunakan untuk terapi
jangka pendek pada penderita ansietas (kecemasan), insomnia,
status epileptikus, kejang demam dan spasme otot. Terutama
digunakan untuk pengobatan jangka pendek pada ansietas,
23
insomnia, kejang demam, dan menghilangkan kejang otot rangka
karena spasme refleks patologi lokal dalam mengurangi gejala-
gejala agitasi akut, tremor dan halusinasi. Dapat diberikan dosis
sebanyak 5x1 ampul injeksi 5 mg/ml.
3. Triheksifenidil (THP)
Penggunaan triheksifenidil (THP) pada pasien skizoprenia
bertujuan untuk mencegah atau mengobati salah satu efek samping
dari penggunaan obat antipsikotik konvensional jangka pendek dan
panjang berupa sindrom ekstra piramidal atau extra pyramidal
syndrome (EPS). Efek samping EPS meliputi reaksi distonia akut,
akatisia dan parkinsonisme merupakan penyebab ketidakpatuhan
pasien meminum obat antipsikotik sehingga memicu munculnya
kekambuhan.5
THP bekerja melalui neuron dopaminergik, mekanismenya
meningkatkan pelepasan dopamine dari vesikel presinaptik,
penghambatan ambilan kembali dopamine dalam terminal saraf
presinaptik atau menimbulkan suatu efek agonis pada reseptor
dopamin. THP diberikan 1-4 mg diberikan 2-3 kali sehari. Dosis
tidak boleh melebihi 15 mg sehari, dosis dinaikkan sampai
diperoleh hasil yang diharapkan.6
Hexymer melalui kandungannya yaitu Triheksifenidil
Hidroklorida dari golongan psikotropika yang dapat mengatasi
gejala-gejala penyakit Parkinson. Memiliki efek samping seperti
penglihatan kabur, pusing, mulut kering serta gangguan saluran
cerna.efek samping lain yang bersifat psikis yaitu seperti
kebingungan, halusinasi, hilang ingatan, euphoria dan gelisah.
4. Risperidone
Risperidone merupakan anti psikotik turunan
benzisoxazole. Risperidone merupakan antagonis monoaminergik
selektif dengan afinitas tinggi terhadap reseptor serotonergic 5-HT2
dan dopaminergic D2. Risperidone berikatan dengan reseptor α1-
24
adrenergik. Risperione tidak memiliki afinitas terhadap reseptor
kolinergik. Meskipun risperidone merupakan antagonis D2, dimana
dapat memperbaiki gejala positif skizofrenia, hal tersebut
menyebabkan berkurangnya depresi aktivitas motorik. Antagonism
serotonin dan dopamine sentral yang seimbang dapat mengurangi
kecendrungan timbulnya efek samping ekstrapiramidal, sehingga
memperluas aktivitas terapeutik terhadap gejala negative dan
afektif dari skizofrenia.
Noprenia yang memiliki kandungan risperidone dengan
indikasi pemberian skozofrenia akut dan kronik, psikosis lain
dengan gejala positif seperti halusinasi, delusi, gangguan pola pikir
serta kecurigaan dan atau gejala negative seperti afek tumpul,
menarik diri secara sosial dan emosional serta sulit berbicara.
Mengurangi gejala afektif seperti depresi, perasaan bersalah dan
cemas yang berhubungan dengan skizofrenia.
5. Clozapine (Clopine 25 mg 0-0-1)
Clozapin merupakan antipsikotik atipikal pertama yang
ditemukan (dibenzodiazepine), tidak menyebabkan EPS (extra
pyramidal syndrome), tidak menyebabkan terjadinya tardive
dyskenesia, dan tidak terjadi peningkatan prolaktin, clozapin
mempunyai efikasi yang besar tetapi mempunyai efek samping
yang banyak (agranulositosis, kejang, sedasi dan peningkatan berat
badan) jika dibandingkan dengan jenis antipsikotik atipikal yang
lainnya. Clozapin bekerja dengan cara memblokade reseptor
5HT2A, D2, D1, D3, D4, 5HT1A, 5HT2c, 5HT3, 5HT6, 5HT7,
M1, H1. Clozapin dihubungkan dengan risiko tinggi rendahnya
tingkat sel darah putih yang mengakibatkan kematian. Oleh
karenanya untuk menekan risiko ini perlu dilakukan pemeriksaan
darah secara rutin. Risiko serius lainnya termasuk kejang, inflamasi
pada jantung, tingginya kadar gula darah dan pada orang lanjut

25
usia dengan psikosis sebagai akibat dari dementia dapat beresiko
pada kematian.8
Dosis rata-rata clozapine yang adekuat antara 250 mg – 450
mg per hari, pada penelitian melaporkan adanya efek keracunan
pada penggunaan clozapine, namun demikian efek ini disebabkan
karena penggunaan dalam dosis tunggal dan karena adanya infeksi
serta kontraindikasi akibat merokok. Akibat pertimbangan risiko
dan keuntungan penggunaan clozapine, maka clozapine tidak
digunakan sebagai terapi first line pada skiofrenia maupun
gangguan skizoafektif. Clozapine sering digunakan untuk
mengurangi efek samping otonom, seperti hipertensi ortostatik, dan
untuk mengambil keuntungan dari efek penenang clozapine.8
Clozapine merupakan obat antipsikotik atipikal yang
umumnya digunakan kepada pasien yang tidak responsif atau tidak
toleran dengan obat antipsikotik jenis lain, clozapine lebih efektif
dalam mengurangi gejala skizofrenia dari pada obat antipsikotik
tipikal, dengan efek lebih baik terutama bagi pasien yang resisten
obat. Tingkat perawatan ulang yang rendah dan tingkat diterima
kembali pasien lebih baik merupakan kelebhan clozapine. Namun
clozapine tidak dianjurkan pada pasien dengan usia lanjut yang
menderita demensia.

26
BAB III
KESIMPULAN

Pasien laki-laki berusia 52 tahun mengalami Skizofrenia dengan gangguan


kepribadian paranoid dikarenakan masalah yang berkaitan dengan lingkungan
sosial dan memiliki penilaian fungsi secara global dengan gejala sementara &
dapat diatasi, disabilitas ringan dalam sosial, pekerjaan, sekolah, dan lain-lain.
Gejala yang ditemukan pada kasus adalah pasien mengalami hal yang gaib.
Pasien sering melihat bayangan, mendengar suara bisikan, mengaku telah dirasuki
roh jahat yang selalu mengikutinya. Pasien merasa bahwa setelah roh jahat
tersebut merasuki dirinya, tubuhnya merasa drop, sehingga membuat pasien tidak
ingin keluar rumah.
Berdasarkan penampilan roman wajah tampak bingung dan terlihat sedikit
gelisah, dekorum baik, tenang, cara berjalan baik, tidak kooperatif, kontak mata
tidak adekuat, mood senang dengan afek netral. Antara mood dan afek terdapat
kesesuaian. Pada bentuk pikir autistik, arus pikir asosiasi longgar dan isi pikir
terdapat waham curiga (+).
Dari hasil follow up yang telah dilakukan didapatkan hasil pengobatan
berupa pasien lebih tenang, dapat tidur di malam hari, dan diizinkan untuk pulang
pada Senin, 1 Juli 2019.

27
DAFTAR PUSTAKA

1. Departemen Kesehatan R.I. Pedoman Penggolongan dan Diagnosis


Gangguan Jiwa di Indonesia III cetakan pertama. Jakarta: Direktorat Jenderal
PelayananMedik Departemen Kesehatan RI; 2013.
2. Kaplan, B.J., Sadock, V.A. Kaplan & Sadock's Synopsis of Psychiatry :
Behavioral; 2007.
3. Erlina, Soewadi & Dibyo P. Determinants of Outpatients AT Prof. H.B.
Saanin Mental Hospital Padang Sumatera Barat. Berita Kedokteran
Masyarakat; 2010: 26(2):71-80.
4. Stankewicz HA, Salen P. Alcohol Related Psychosis. Treasure Island (FL):
StatPearls Publishing; 2018.
5. Fahrul, Mukaddas Alwiyah, Faustine I..Rasionalitas Penggunaan Antipsikotik
Pada Pasien Skizofrenia Di Instalasi Rawat Inap Jiwa RSD Madani Provinsi
Sulawesi Tengah Periode Februari-April 2014. Jurnal of Natural Science:
2014 ; 3(2) : 18-29.
6. Expert Consensus Treatment Guidelines for Schizophrenia: A Guide for
Patients and Families. http://www.nmah.com diakses tanggal 7 Desember
2018.
7. Kuipers E, Kendall T, Antoniou J, et al. Skizofrenia: Core Interventions in the
Treatment and Management of Skizofrenia in Adults in Primary and
Secondary Care (Updated Edition). The British Psychological Society and The
Royal College of Psychiatrists; 2010.
8. Queirazza F, Semple DM and Lawrie SM. Transition to skizofrenia in acute
and transient psychotic disorders. The British Journal of Psychiatry; 2013;1–7.
9. Maslim, Rusdi. Buku Saku Diagnosis Gangguan Jiwa, Rujukan Ringkas
PPDGJ-III. Jakarta: Bagian Ilmu Kedokteran Jiwa FK Unika Atma Jaya:
2013. Hal. 74.
10. Maslim, Rusdi. Dr, SpKJ. Penggunaan Klinis Obat Psikotropik. Edisi Ketiga.
PT Nuh Jaya, Jakarta. 2016.

28