Anda di halaman 1dari 5

NAMA KELOMPOK: Kelas : Manajemen 16 C

1. Devia Virnanda S. (16.0101.0128) Konsentrasi : SDM

2. Cindy Ariesta (16.0101.0138)

3. Meti Azumastuti (16.0101.0144)

4. Iswanti (16.0101.0157)

5. Siti A'syah (16.0101.0158)

1. Analisis Diskriminan
Analisis diskriminan adalah metode analisis multivariat yang bertujuan untuk memisahkan
dan mengalokasikan objek pengamatan ke dalam kelompok sehingga setiap objek menjadi
anggota dari salah satu kelompok dan tidak ada objek yang menjadi anggota lebih dari satu
kelompok. Prosedur analisis diskriminan dilakukan dengan membentuk fungsi diskriminan
berdasarkan kombinasi linear dari variabel bebas yang diteliti. Fungsi diskriminan yang
terbentuk digunakan untuk pengelompokan pada kasus baru yang belum diketahui keanggotaan
kelompoknya. Nilai diskriminan dari setiap objek yang terlibat merupakan petunjuk termasuk
dalam kelompok mana objek tersebut berasal (Johnson dan Wichern, 2007). Ada beberapa
fungsi diskriminan yang dapat digunakan untuk klasifikasi dalam analisis diskriminan, yaitu
linier dan kuadratik. Fungsi diskriminan linier ditunjukkan dengan persamaan berikut:
𝑍𝑗𝑘 = 𝑎 + 𝑊1 𝑋1𝑘 + 𝑊2 𝑋2𝑘 + … + 𝑊𝑛 𝑋1𝑛
dimana :
𝑍𝑗𝑘 = Z score diskriminan dari fungsi dikriminan ke-j untuk objek ke-k
𝑎 = intercept
𝑊𝑖 = koefisien diskriminan dari variable bebas ke-i
𝑋𝑖𝑘 = nilai variable bebas ke-i untuk objek ke-k
Jika dianalogikan dengan regresi linier, maka analisis diskriminan merupakan
kebalikannya. Pada regresi linier, variabel respon yang harus mengikuti distribusi
normal dan homoskedastis, sedangkan variabel penjelas diasumsikan fixed, artinya
variabel penjelas tidak disyaratkan mengikuti sebaran tertentu. Untuk analisis
diskriminan, variabel penjelasnya seperti sudah disebutkan di atas harus mengikuti distribusi
normal dan homoskedastis, sedangkan variabel responnya fixed.
Sebelum melakukan analisis diskriminan, hal yang perlu dilakukan yaitu menguji
ketepatan variabel; yaitu apakah keseluruhan variabel yang terkumpul secara keseluruhan dapat
digunakan lebih lanjut dalam analisis diskriminan, atau terdapat variabel yang terpaksa harus
disingkirkan dalam pelaksanaan analisis diskriminan. Untuk itu, tahap pertama yang harus
dilakukan yaitu melakukan uji variable selanjutnya baru dilakukan analisis diskriminan.
2. Penggunaan analisis diskriminan dan asumsinya
Analisis diskriminan digunakan pada saat kita menghadapi dua kondisi ini (1) sampel kita
bisa dikelompokkan ke dalam dua (atau lebih) grup dan (2) masing-masing grup tersebut
memiliki fitur atau variabel yang bisa digunakan untuk "meramal" keanggotaan unit sampel ke
dalam salah satu grup. Selain itu penggunaan analisis diskriminan perlu memerhatikan apakah
asumsi-asumsi di bawah ini dapat dipenuhi.
1. Multivariate normality. Semua variabel diskriminator secara bersama-sama bersistribusi
normal. Asumsi ini diperlukan untuk keperluan uji signifikansi.sayangnya tidak ada batas yang
jelas mengenai sampai sejauh mana penyimpangan terhadap normalitas ini "diperbolehkan".
2. Matrik kovarians dua kelompok relatif sama atau dengan kata lain kondisi homoskedastisitas
terpenuhi. Pelanggaran pada asumsi ini akan mempwngaruhi ketepatan klasifikasi dan hasil uji
signifikansi. Pengujian dapat dilakukan dengan Box's M.
3. Contoh penerapan analisis diskriminan dalam penelitian SDM
a. Metode Penelitian
Data yang digunakan untuk penelitian ini ialah data sekunder dari kuesioner yang dibagikan
kepada karyawan PT. Bitung Mina Utama yang termasuk dalam sampel. Variabel dalam
penelitian ini terbagi atas dua bagian yaitu variabel independen (variabel bebas) dan variable
dependen (variabel terikat). Variabel bebas yang digunakan dalam penelitian ini ada tiga yaitu:
budaya organisasi (X1), kepuasan kerja (X2), dan komitmen organisasional (X3). Sedangkan untuk
variable terikatnya ialah intention to leave (Y). Untuk setiap variable bebas mempunyai beberapa
item pertanyaan dan kemudian akan dijumlahkan sehingga didapatkan jumlah skor dari semua
pertanyaan tiap variabel. Jumlah skor dari tiap variabel bebas ini yang nantinya akan diproses
dengan analisis diskriminan. Untuk variabel terikat, jumlah skor dari setiap item pertanyaan
dibagi menjadi dua kategori yaitu dengan member nilai 0 untuk jumlah skore dibawah atau sama
dengan nilai 21 dan nilai 1 untuk jumlah skor diatas nilai 21.
b. Menggunakan Software SPSS
Pada menu Analyze, pilih submenu Classify, lalu pilih Discriminant…. Kemudian di
bagian Grouping Variable diisi dengan variabel respon dan harus didefinisikan range- nya pada
bagian Define Range untuk penelitian ini menggunakan nilai minimal 0 dan maksimalnya 1.
Untuk bagian Independents pilih use stepwise method. Pada bagian Statistics aktifkan Mean,
Univariate ANOVAs, Box’s M, Fisher’s dan Unstandardized kemudian klik Continue. Pada
bagian Method aktifkan pilihan Mahalanobis distance. Kemudian pada bagian Criteria klik pada
pilihan Use probability of F, namun jangan mengubah isi yang sudah ada. Abaikan bagian yang
lain, lalu tekan Continue. Pada bagian Classify aktifkan pilihan Casewise results, Leave-oneout-
classification dan Summary Table. Abaikan bagian yang lain, lalu tekan tombol Continue untuk
kembali ke menu utama. Kemudian dari tampilan menu utama, abaikan bagian yang lain dan
tekan OK.
4. Hasil dan Pembahasan

Dilihat dari p-value dari tabel di atas, ketiga variable berbeda secara signifikan untuk dua
grup diskrminan. Dengan demikian, intention to leave dipengaruhi oleh budaya organisasi,
kepuasan kerja dan komitmen organisasional.

Dari table memperlihatkan bahwa angka Sig. berada jauh diatas 0.05, yang berarti group
covariance matrices adalah sama. Hal ini berarti data di atas sudah memenuhi asumsi analisis
diskriminan, sehingga proses bisa dilanjutkan.

Terlihat angka Log Determinant untuk kategori tidak ada intention to leave (4,411) dan
ada intention to leave (4,270) tidak berbeda banyak sehingga group covariance matrices akan
relative sama untuk kedua grup.
Dari table terlihat bahwa karyawan yang tidak mempunyai intention to leave, mempunyai
skor rata – rata untuk budaya organisasi, kepuasan kerja, dan komitmen organisasional secara
berturut – turut ialah 35,1579 , 62,5526 , dan 45,8947. Sedangkan untuk karyawan yang
mempunyai intention to leave mempunyai skor rata – rata untuk budaya organisasi, kepuasan
kerja, dan komitmen organisasional secara berturut – turut ialah 29,0244 , 50,6585, dan 30,9512.

Canonical Correlation mengukur keeratan hubungan antara discriminant score dengan


grup (dalam hal ini, karena ada dua tipe karyawan, maka ada dua grup). Angka 0,653
menunjukkan keeratan yang cukup tinggi, dengan ukuran skala asosiasi antara 0 sampai 1.

Tabel di atas menyatakan angka Wilk' s Lambda 0,573, hal ini berarti sebesar 57,3%
varians tidak dapat dijelaskan oleh perbedaan grup - grup. Angka Chi-Square sebesar 19,321
dengan tingkat signifikansi yang tinggi menunjukkan perbedaan yang jelas antara dua grup
karyawan (mereka yang tidak mempunyai intention to leave dengan mereka yang mempunyai
intention to leave).

Dari table di atas daapt dibentuk fungsi linier sebagai berikut :


Z Score = - 4,354 + 0,114 Budaya_Organisasi
Kegunaan fungsi ini untuk mengetahui sebuah case (dalarn kasus ini adalah seorang
karyawan) masuk pada grup yang tidak mempunyai intention to leave, ataukah tergolong pada
grup yang mempunyai intention to leave.

Dari table di atas dapat dihitung cutting score

Nilai cutting score tersebut akan dibandingkan dengan nilai-nilai discriminant score tiap
observasi, sehingga dapat diklasifikasikan suatu observasi akan termasuk ke dalam kelompok
yang mana.

Tabel di atas menunjukkan bahwa ketepatan model mencapai 84,8%. Oleh karena angka
ketepatan model tinggi maka model diskriminan bisa digunakan untuk analisis diskriminan.
REFERENSI
1. Gudono (2011). Analisis Data Multivariat (edisi pertama). Yogyakarta:BPEE
2. http://www.academia.edu/16702752/Analisis_Diskriminan
3. http://www.informatika.unsyiah.ac.id/uman/analisisdiskriminanmatematika.pdf

Anda mungkin juga menyukai