Anda di halaman 1dari 3

BAB VI

PEMBAHASAN

Merokok merupakan kebiasaan yang sangat umum di kalangan masyarakat

Indonesia, meliputi remaja. Merokok dapat memberikan dampak tehadap

kesehatan gigi dan mulut seperti penyakit rongga mulut yaitu penyakit periodontal

yang berupa gingivitis, perubahan warna pada gigi, karies, dan kehilangan gigi

(Dibadkk, 2016).

Berdasarkan hasil data yang diperoleh dari uji korelasi Rak Spearman

menunjukkan bahwa merokok dapat memberikan dampak pada status kebersihan

rongga mulut buruk (indeks OHI-S meningkat). Hal ini sesuai dengan hasil

penelitian yang dilakukan oleh Ratnasari (2014), yaitu nilai OHI-S mahasiswa

yang tidak merokok lebih baik dibandingkan nilai OHI-S mahasiswa yang

merokok Murniwati (2017).

Sebagian besar responden (51,9 %) mengkonsumsi jenis rokok biasa

(rokok filter). Hal ini dapat disebabkan karena promosi untuk jenis rokok biasa

(rokok filter) banyak dijumpai dalam kehidupan sehari-hari sehingga dapat

mempengaruhi ketertarikan mahasiswa untuk mengkonsumsi rokok putih. Secara

psikologis, mahasiswa menganggap jenis rokok biasa (rokok filter) lebih sesuai

dengan usianya yang masih muda Murniwati (2017).

Berdasarkan frekuensi merokok dalam penelitian ini, sebagian besar

responden (53,7 %) menkonsumsi rokok 1-10 batang dalam sehari.

33
34

Ketergantungan terhadap rokok sulit untuk dihentikan, karena kebiasaan merokok

dapat menimbulkan kenikmatan tersendiri bagi perokok tersebut sehingga

perokok sulit untuk menghentikan kebiasaannya yang disebabkan oleh nikotin.

Kadar 4-6 miligram/hari yang dihisap oleh orang dewasa dapat membuat

ketagihan sehingga jumlah konsumsi rokok per hari menjadi lebih banyak.

Penelitian ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Yunosa (2012) pada

mahasiswa Fakultas Hukum angkatan 2008 dan 2009 reguler Unand yang

menyebutkan bahwa 54,8% mahasiswa mengkonsumsi rokok 5-14 batang sehari

Murniwati (2017).

Rongga mulut adalah bagian tubuh yang pertama kali terpapar asap rokok

sehingga sangat mudah terpapar efek rokok karena merupakan tempat terjadinya

penyerapan zat hasil pembakaran rokok yang utama (Kavitha, 2011). Kandungan

rokok berupa tembakau, tar, nikotin, karbon monoksida, ammonia, dan derivat-

derivat lainnya dapat mengiritasi rongga mulut saat dikonsumsi karena adanya

pembakaran. Panas yang ditimbulkan dari pembakaran rokok dapat menyebabkan

gangguan vaskularisasi dan sekresi saliva. Selain itu bahan yang terkandung

dalam rokok dapat mengendap pada gigi menyebabkan permukaan gigi menjadi

kasar, sehingga plak dan bakteri mudah melekat. Hal tersebut dapat dijadikan

dasar, mengapa skor kalkulus pada perokok lebih tinggi dibanding bukan perokok.

(Rottie, 2016).

Merokok tidak hanya menimbulkan efek secara sistemik tetapi juga dapat

mempengaruhi kebersihan gigi dan mulut. Dari bahan – bahan yang terkandung

dalam rokok tersebut, tar adalah yang paling berpengaruh terhadap kebersihan dan
35

kesehatan gigi dan mulut, yang mempengaruhi indeks OHI-S. Tar adalah

kumpulan dari beribu-ribu bahan kimia dalam komponen pada asap rokok dan

bersifat karsinogen. Tar merupakan bagian partikel rokok sesudah kandungan

nikotin dan uap air. Pada saat rokok dihisap, tarmasuk kedalam rongga mulut

sebagai uap padat. Setelah dingin akan menjadi padat dan membentuk endapan

berwarna coklat pada permukaan gigi, dan menyebabkan permukaan gigi menjadi

kasar, sehingga mudah dilekati plak, plak yang lama mengendap pada permukaan

gigi yang tidak dibersihkan akan menjadi karang gigi (Emilia, 2007).

Kandungan nikotin dan tar juga dapat mengakibatkan bau mulut yang khas

pada perokok. Kebiasaan merokok dapat menyebabkan stain (pewarnaan pada

gigi) dalam jangka waktu yang lama noda tersebut dapat masuk kedalam lapisan

email gigi sehingga warna gigi menjadi lebih gelap coklat kehitaman merupakan

efek tembakau yang dapat muncul di beberapa permukaan gigi, paling banyak

ditemukan pada bagian dalam gigi seri permukaan lingual dan palatal gigi

anterior, baik rahang atas maupun rahang bawah (Azmi, 2013).

Perokok di NTT merupakan gabungan dari rokok hisap dan rokok kunyah

yang merupakan tradisi daerah. Faktor yang mendorong tingginya konsumsi

rokok masyarakat adalah iklan rokok, promosi dalam bentuk sponsor kegiatan

yang melibatkan para remaja, harga rokok yang relatif murah, kemudahan

membeli batangan, meningkatnya jumlah penjual rokok, mencontoh kebiasan

merokok dari orangtua, budaya dan adat kebiasaan (Perseveranda, 2018).