Anda di halaman 1dari 31

BAB I

LAPORAN PENDAHULUAN

Kosep Penyakit
A. Definisi
Coronary Artery Disease (CAD) atau penyakit arteri koroner atau
disebut juga penyakit jantung koroner (Coronary Heart Disease/CHD) adalah
istilah umum untuk penumpukan plak di arteri jantung yang bisa
menyebabkan serangan jantung (AHA, 2015). CAD terjadi ketika arteri yang
memasok darah ke otot jantung menjadi mengeras dan menyempit. Hal ini
disebabkan oleh penumpukan kolesterol dan bahan lainnya, yang disebut plak,
di dinding bagian dalamnya. Penumpukan ini disebut aterosklerosis. Lama-
kelamaan akan menghambat aliran darah di arteri. Akibatnya, otot jantung
tidak bisa mendapatkan darah atau oksigen yang dibutuhkannya. Hal ini dapat
menyebabkan nyeri dada (angina) atau serangan jantung. Sebagian besar
serangan jantung terjadi saat gumpalan darah tiba-tiba memotong suplai darah
jantung, menyebabkan kerusakan jantung permanen. (Ratini, 2018).

B. Etiologi
Menurut Udjianti (2010), etiologi CAD meliputi:
1. Penyebab paling umum CAD adalah aterosklerosis.Aterosklerosis
digolongkan sebagai akumulasi sel-sel otot halus, lemak, dan jarigan
konektif di sekitar lapisan intima arteri. Suatu plak fibrous adalah lesi
khas dari aterosklerosis. Lesi ini dapat bervariasi ukurannya dalam
dinding pembuluh darah, yang dapat mengakibatkan obstruksi aliran darah
parsial maupun komplet. Komplikasi lebih lanjut dari lesi tersebut terdiri
atas plak fibrous dengan deposit kalsium, disertai oleh pembentukan
thrombus.Obstruksi pada lumen mengurangi atau menghentikan aliran
darah kepada jaringan di sekitarnya.
2. Penyebab lain adalah spasme arteri koroner. Penyempitan dari lumen
pembuluh darah terjadi bila serat otot halus dalam dinding pembuluh
darah berkontraksi (vasokontriksi). Spasme arteri koroner dapat
menggiring terjadinya iskemik aktual atau perluasan dari infark miokard.
Penyebab lain di luar ateroskelorik yang dapat mempengaruhi diameter
lumen pembuluh darah koroner dapat berhubungan dengan abnormalitas
sirkulasi. Hal ini meliputi hipoperfusi, hipovolemik, polisitemia, dan
masalah-masalah atau gangguan katup jantung.

Menurut Mayo Clinic (2017), faktor risiko penyakit arteri koroner meliputi:
1. Usia.
Cukup bertambah tua meningkatkan risiko arteri yang rusak dan
menyempit.
2. Riwayat keluarga.
Riwayat keluarga penyakit jantung dikaitkan dengan risiko penyakit arteri
koroner yang lebih tinggi, terutama jika seorang kerabat dekat
mengembangkan penyakit jantung pada usia dini.
3. Merokok.
Orang yang merokok memiliki peningkatan risiko penyakit jantung secara
signifikan.
4. Tekanan darah tinggi.
Tekanan darah tinggi yang tidak terkontrol dapat menyebabkan
pengerasan dan penebalan arteri Anda, mempersempit saluran yang
melaluinya darah bisa mengalir.
5. Kadar kolesterol darah tinggi.
Kadar kolesterol tinggi dalam darah dapat meningkatkan risiko
terbentuknya plak dan aterosklerosis. Kolesterol tinggi dapat disebabkan
oleh tingkat tinggi low-density lipoprotein (LDL), yang dikenal sebagai
kolesterol "jahat". Tingkat rendah lipoprotein densitas tinggi (HDL), yang
dikenal sebagai kolesterol "baik", bisa menjadi tanda aterosklerosis.
6. Diabetes.
Diabetes dikaitkan dengan peningkatan risiko penyakit arteri koroner.
Diabetes tipe 2 dan penyakit arteri koroner memiliki faktor risiko yang
sama, seperti obesitas dan tekanan darah tinggi.
7. Kegemukan atau obesitas.
Kelebihan berat badan biasanya memperburuk faktor risiko lainnya.
8. Tidak aktif secara fisik
Kurang olahraga juga dikaitkan dengan penyakit arteri koroner dan
beberapa faktor risikonya juga.

9. Tegangan tinggi.
Stres yang tidak henti-hentinya dalam hidup dapat merusak arteri dan juga
memperburuk faktor risiko penyakit arteri koroner lainnya.

C. Manifestasi
Menurut (Lewis, Dirksen, Heitkemper, & Bucher, 2014), manifestasi klinik
yang biasa terjadi pada kasus CAD meliputi:
1. Nyeri dada
Nyeri dada yang tiba-tiba dan berlangsung terus menerus, terletak
dibagian bawah sternum dan perut atas, adalah gejala utama yang biasanya
muncul. Nyeri akan terasa semakin berat sampai tidak tertahankan. Rasa
nyeri yang tajam dan berat, biasa menyebar kebahu dan lengan biasanya
lengan kiri. Tidak seperti nyeri angina, nyeri ini muncul secara spontan
(bukan setelah kerja berat atau gangguan emosi) dan menetap selama
beberapa jam sampai beberapa hari dan tidak akan hilang dengan istirahat
maupunnitrogliserin. Pada beberapa kasus nyeri bisa menjalar ke dagu dan
leher.

2. Perubahan pola EKG


a. Normal pada saat istirahat, tetapi bisa depresi pada segmen ST.
Gelombang T inverted menunjukkan iskemia, gelombang Q
menunjukkan nekrosis
b. Distrimia dan Blok Jantung. Disebabkan kondisi yang mempengaruhi
sensitivitas sel miokard ke impuls saraf seperti iskemia,
ketidakseimbangan elektrolit dan stimulus sarat simpatis dapat berupa
bradikardi, takikardi, premature ventrikel, contraction (ventrikel ekstra
systole), ventrikel takikardi dan ventrikel fibrilasi
3. Sesak napas
Keluhan ini timbul sebagai tanda mulainya gagal jantung dimana jantung
tidak mampu memompa darah ke paru-paru sehingga oksigen di paru-
paru juga berkurang.
4. Diaphoresis
Pada fase awal infark miokard terjadi pelepasan katekolamin yang
meningkatkan stimulasi simpatis sehingga terjadi vasokonstriksi
pembuluh darah perifer sehingga kulit akan menjadi lembab, dingin, dan
berkeringat.

5. Pusing
Pusing juga merupakan salah satu tanda dimana jantung tidak bisa
memompa darah ke otak sehingga suplai oksigen ke otak berkurang.
6. Kelelahan
Kelelahan disebabkan karena jantung kekurangan oksigen akibat
penyempitan pembuluh darah.
7. Mual dan muntah
Nyeri yang dirasakan pada pasien dengan penyakit jantung adalah di dada
dan di daerah perut khususnya ulu hari tergantung bagian jantung mana
yang bermasalah. Nyeri pada ulu hati bisa merangsang pusat muntah.
Area infark merangsang refleks vasofagal

D. Komplikasi
Menurut Institute for Quality and Efficiency in Health Care (2017),
komplikasi CAD meliputi:
a. Aritmia merupakan yang paling sering ditemui. Aritmia yaitu
gangguan dalam irama jantung yang bisa menimbulkan perubahan
eloktrofisiologi otot-otot jantung. Perubahan elektrofisiologi ini
bermanifestasi sebagai perubahan bentuk potensial aksi yaitu rekaman
grafik aktivitas listrik sel. Misalnya perangsangan simpatis akan
meningkatkan kecepatan denyut jantung. Jika jantung tidak mendapat
oksigen yang cukup maka bagian dari jaringan jantung yang mengatur
detak jantung akan rusak. Hal tersebut dapat menyebabkan denyut
jantung menjadi tidak teratur selain itu dapat menyebabkan jantung
berdebar, kelelahan dan pusing.
b. Gagal Jantung Kongestif merupakan kongesti sirkulasi akibat
disfungsi miokard. Disfungsi ventrikel kiri atau gagal jantung kiri akan
menimbulkan kongesti pada vena pulmonalis sedangkan pada
disfungsi ventrikel kanan akan menimbulkan kongesti pada vena
sistemik.
c. Syok kardikardiogenik yang diakibatkan oleh disfungsi nyata ventrikel
kiri sesudah mengalami infark yang massif. Timbulnya lingkaran setan
perubahan hemodinamik progresif hebat yang irreversible yaitu
penurunan perfusi perifer, penurunan perfusi koroner, peningkatan
kongesti paru yang bisa berakhir dengan kematian.
d. Disfungsi Otot Papillaris. Disfungsi iskemik atau rupture nekrotik otot
papilaris akan mengganggu fungsi katup mitralis. Inkompetensi katup
mengakibatkan aliran balik dari ventrikel kiri ke atrium kiri sebagai
akibat pengurangan aliran ke aorta dan peningkatan kongesti pada
atrium kiri dan vena pulmonalis.
e. Ventrikuler Aneurisma. Aneurisma ini biasanya terjadi pada
permukaan atrium atau apek jantung. Aneurisma ventrikel akan
mengembang bagaikan balon pada setipa sistolik, teregang secara pasif
oleh sebagian curah sekuncup. Aneurisma ventrikel dapat
menimbulkan 3 masalah yaitu gagal jantung kongestif kronik,
embolisasi sistemik dari thrombus mural dan aritmia ventrikel
refrakter.
f. Perikarditis Infark transmural dapat membuat lapisan epikardium
yang langsung berkontak dengan pericardium menjadi kasar, sehingga
merangsang permukaan pericardium dan menimbulkan reaksi
peradangan.
g. Emboli Paru yang bisa menyebabkan episode dipsnea, aritmia atau
kematian mendadak. Trombosis vena profunda lebih lazim pada
pasien payah jantung kongestif yang parah

E. Pemeriksaan Penunjang
1. Echo cardiogram
Pemeriksaan ini dilakukan untuk mengetahui kondisi, bentuk dan ukuran
jantung melalui ultrasound dari bilik-bilik jantung. Selain itu pemeriksaan
ini juga dapat dilakukan untuk melihat fungsi dan kerja jantung, melihat
adanya thrombus pada bagian jantung, mengetahui kekuatan otot jantung
serta memeriksa kerusakan pada katup jantung.
2. Kateterisasi Jantung (Angiografi Koroner)
Kateterisasi jantung adalah prosedur diagnostik invasif dimana satu atau
lebih kateter dimasukkan ke jantung dan pembuluh darah tertentu untuk
mengecek aliran darah dan oksigen di berbagai ruang jantung. Saat
kateterisasi jantung, dapat juga dilakukan angiografi koroner
menggunakan pewarna khusus dalam pembuluh darah dan X-ray untuk
menunjukkan bagian dalam pembuluh darah. Hal ini dilakukan untuk
mengkaji patensi arteri koronaria dan mengetahui apakah terdapat
gangguan atau penyempitan pada arteri koroner pasien. Pemeriksaan ini
juga dapat dilakukan untuk menentukan terapi yang diperlukan mis.
Percutaneus transluminal coronary angioplasty (PTCA) atau pembedahan
bypass koroner maupun Percutaneous Coronary Intervention (PCI) bila
ada aterosklerosis. (Smeltzer, Bare, & Hinkle, 2010).
3. Elektrokardiogram (EKG)
Elektrokardiogram mencerminkan aktivitas listrik jantung yang
disadap dari berbagia sudut pada permukaan kulit. Perubahan pada
elektrokardiografi secara konsisten akibat iskemia atau infark akan
nampak pada lead tertentu.
4. Pemeriksaan darah lengkap dan kimia darah yang meliputi : profil lipid
(kolesterol total, trigliserida, dan lipoprotein)
5. Cardiac Stress Testing
Normalnya, arteri koroner akan berdilatasi sampai 4x dari diameter
normalnya untuk meningkatkan aliran darah yang membawa nutrisi dan
oksigen. Arteri yang tersumbat oleh plak akan menurunkan aliran darah
ke miokardium dan menyebabkan iskemik. Tes toleransi jantung yang
terdiri dari tes toleransi latihan (treadmill) dan tes toleransi pengobatan
(pharmacologic stress test) membantu untuk :
a. Mendiagnosis CAD
b. Membantu mendiagnosis penyebab nyeri dada
c. Menentukan kapasitas fungsional jantung setelah Infark Miokard
atau pembedahan jantung.
d. Mengakji efektivitas terapi pengobatan antiangina dan antidisritmia
e. Mengidentifikasi disritmia yang terjadi selama latihan fisik
f. Membantu pengembangan program kesegaran jasmani.
Tes toleransi latihan (Treadmill) dilakukan dengan cara pasien berjalan
pada ban berjalan, sepeda statis, atau naik turun tangga. Elektroda EKG
dipasang pada pasien dan pencatatan dilakukan sebelum, selama dan
setelah tes. Tes toleransi pengobatan dilakukan pada pasien yang tidak
dapat melakukan aktivitas fisik atau treadmill. 2 agen vasodilatasi yaitu
dipyridamole (Persantine) dan adenosine (Adenocard), diberikan melalui
intravena untuk melihat efek dari dilatasi maksimal arteri koronaria.
(Lewis, Dirksen, Heitkemper, & Bucher, 2014)

F. Penatalaksanaan
Berbagai obat-obatan membantu pasien dengan penyakit arteri jantung.
Yang paling umum diantaranya:
1. Aspirin / Klopidogrel / Tiklopidin.
Obat-obatan ini mengencerkan darah dan mengurangi kemungkinan
gumpalan darah terbentuk pada ujung arteri jantung menyempit, maka dari
itu mengurangi resiko serangan jantung.
2. Beta-bloker (misalnya Atenolol, Bisoprolol, Karvedilol).
Obat ini berfungsi menurunkan konsumsi oksigen dengan
menghambat impuls simpatis ke jantung. Hasilnya terjadi penurunan
frekuensi jantung, tekanan darah, dan waktu kontraktilitas jantung yang
menciptakan suatu keseimbangan antara kebutuhan oksigen jantung dan
jumlah oksigen yang tersedia.
3. Nitrogliserin (misalnya Isosorbide Dinitrate).
Obatan-obatan ini bekerja membuka arteri jantung, dan kemudian
meningkatkan aliran darah ke otot jantung dan mengurangi gejala nyeri
dada. Bentuk nitrat bereaksi cepat, Gliseril Trinitrat, umumnya diberikan
berupa tablet atau semprot di bawah lidah, biasa digunakan untuk
penghilang nyeri dada secara cepat.
4. Angiotensin-Converting Enzyme Inhibitors (misalnya Enalapril,
Perindopril) and Angiotensin Receptor Blockers (misalnya Losartan,
Valsartan).
Obatan-obatan ini memungkinkan aliran darah ke jantung lebih
mudah, dan juga membantu menurunkan tekanan darah.
5. Obatan-obatan penurun lemak (misalnya Fenofibrat, Simvastatin,
Atorvastatin, Rosuvastatin).
Obatan-obatan ini menurunkan kadar kolesterol jahat (Lipoprotein
Densitas-Rendah), yang merupakan salah satu penyebab umum untuk
penyakit jantung koroner dini atau lanjut.
6. PCI ( Percutaneus Coronary Intervention) atau angioplasti koroner
Percutaneus Coronary Intervention merupakan suatu prosedur untuk
mengatasi stenosis atau penyempitan di arteri koronaria. Prosedur ini
digunakan untuk mengurangi gejala penyakit arteri koroner seperti nyeri
dada, sesak serta gagal jantung. PCI dapat mencegah terjadinya infark
miokard serta mengurangi angka kematian. Angioplasti merupakan
prosedur yang tidak seinvasif CABG. Kateter yang berbentuk balon dan
stent dimasukkan ke arteri koroner yang mengalami gangguan dan
diletakkan di antara daerah aterosklerotik. Balon kemudian dikembangkan
dan dikempiskan dengan cepat untuk memecah plak. Prosedur PCI
dilakukan di laboratorium kateterisasi jantung. (Smeltzer, Bare, & Hinkle,
2010)
7. CABG (Coronary Artery Bypass Graft)
CABG merupakan prosedur operasi yang digunakan untuk mengatasi
penyakit jantung koroner atau CAD dengan membuat rute baru di sekitar
arteri yang menyempit atau tersumbat agar darah tetap lancar hingga ke otot
jantung sehingga jantung mendapatkan oksigen dan nutrisi yang cukup.
Pembuatan rute tersebut menggunakan pembuluh darah dari bagian tubuh
lainnya seperti pembuluh darah dari kaki (vena saphena), dada (arteri
maamria interna) atau lengan (arteri radialis) (Alodokter, 2016).
DAFTAR PUSTAKA

Alodokter. (2016). Mengenal Makna Prosedur CABG. Retrieved from Alodokter:


https://www.alodokter.com/mengenal-makna-prosedur-cabg

Bulechek, G. M., Butcher, H., Dochterman, J., & Wagner, C. (2016). Nursing
Interventions Classification (NIC) Edisi Keenam Bahasa Indonesia.
Singapore: Elsevier.

Institute for Quality and Efficiency in Health Care. (2017, July 27). Complication of
Coronary Artery Disease. Retrieved from PubMed Health:
https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmedheatlh/PMH0086330/

Lewis, S. L., Dirksen, S. R., Heitkemper, M., & Bucher, L. (2014). Medical-surgical
nursing (9 ed.). Missouri: Elsevier.

Mayo Clinic. (2017, August 4). Coronary Artery disease. Retrieved August 14, 2017,
from Mayo clinic: http://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/coronary-
artery-disease/symptoms-causes/dxc-20165314

Moorhead, S., Johnson, M., Maas, M., & Swanson, E. (2016). Nursing Outcomes
Classification (NOC) : Pengukuran Outcomes Kesehatan Edisi Kelima
Bahasa Indonesia. Singapore: Elsevier.

NANDA International. (2016). Nanda International Inc. Diagnosis Keperawatan:


Definisi & Klasifikasi 2015-2017 Edisi 10. Jakarta : RGC.

Ratini, M. (2018, January 7). Coronary Artery Disease. Retrieved from WebMD
Medical Reference: https://www.webmd.com/heart-disease/guide/heart-
disease-coronary-artery-disease
Smeltzer, S. C., Bare, B. G., & Hinkle, J. L. (2010). Textbook of medical-surgical
nursing (12 ed., Vol. 1). Philadelphia: Lippincott William & Wilkins.

Udjianti, W. J. (2010). Keperawatan Kardiovaskuler. Jakarta: Salemba Medika.

BAB II

KASUS

Tn. J berusia 72 tahun mengeluh nyeri dada keluhah dirasakan 4 hari sebelum masuk

rumah sakit, nyeri dada bertambah saat tn. J banyak beraktivitas dan berkuarang saat

beristirahat, nyeri dada dirasakan seperti tertahan beban berat, nyeri dirasakan

menjalar sampai ke punggung, skala nyeri 4 (0-10), nyeri dada sirasakan hialng

timbul dirasakan, saat ini tn. J dirawat diruang ciccu lantai 6 dengan keluahn klien

mengalami penurunan kesadaran dengan GCS sopor, klien terpasang ventilator.

Hasil pemeriksaan TTV didapatkan Hasil:

TD : 160/80 mmHg

Nadi : 80x/menit

Respirasi : 22x/menit

Suhu : 36,5C

Hasil Lab : tanggal 25 Juli 2019

Jenis pemeriksaan Hasil Satuan Nilai rujukan

Hematologi 14 parameter
Hemoglobin 9.3 g/dl 14-17.4

Hematocrit 27.5 % 41.5-50.4

Eritrosit 3.28 Juta/ul 4.4-6.0

Leukosit 21.74 10”3/ul 450-11.0

Trombosit 149 Ribu/ul 150-450

Indeks eritrosit

Mcv 83.8 fl 80-96

Mch 28.4 pg 27,5-33,5

Mchc 33.8 %

Basophil 0 % 0-1

Eusinofil 1 % 0-4

Netrofil batang 0 % 3-5

Netrofil segmen 88 % 45-73

Limfosit 6 % 18-44

Monosit 5 % 3-5

Prototombin time

Pt 11.30 Detik 11-15

Inr 1.01 Detik 9.1-13.1

Aptt 27.30 Detik 21.41

Glukosa puasa 197 Mg/dl 70-100

Ureum 196.0 Mg/dl 15.39


Kreatinin 4.59 Mg/dl 0.80-1.30

Kalium 3.9 Meq/dl 3.5-5.1

Kalsium 4.61 Meq/ dl 4.5-5.6

Fibrinogen 593.4 Mg/dl 238-498

d- dimer kuantitatif 2.15 Mg/dl <0.55

Analisa gas darah

Ph 7,396 mmhg 7.35-7.45

Pco2 35.7 mmhg 35.0-45.0

Po2 92.7 mmhg 80-105

Status asam basa

Hco3 22.1 mmol 22-26

Co2 23.2 mmol 23.05-27.35

Standar be -1.7 mmol (-2)-(+2

Saturasi o2 96.3 % 95-100%

Pemeriksaan : thorak PA tanggal 20 -07- 2019

KESIMPULAN

Kesan : bronchopneumonial bilateral

Pembesaran KGBperiperal kanan

Kardiomegali tanpa bendungan paru dd/posis


BAB III

ASUHAN KEPERAWATAN

ASUHAN KEPERAWATAN PADA TN J (72 TAHUN) PADA


GANGGUAN SISTEM KARDIVASKULER DIAGNOSA CAD STEMI
ELEVASI MIOKARD INFARK INFERIOR III RESOIRATORY
FAILURE
RSUP Dr HASAN SADIKIN BANDUNG

A. Pengkajian
1) Identitas Klien
Nama : Tn J
Umur : 72 tahun
Agama : Kristen
Jenis kelamin : laki-laki
Pekerjaan : swasta
Status Perkawinan : Menikah
Alamat : sukasari gegerkalong bandung
Tanggal masuk RS : 16- 07- 2019
Tanggal pengkajian : 27 -07 - 2019
Diagnosa medis : cad stemi elevasi miokard infark inferior III
respiratory failure

2) Riwayat kesehatan
a. Keluhan Utama
Penurunan kesadaran
b. Riwayat Kesehatan sekarang
Saat dilakukan pengkajian pada tanggal 27 juli 2019 pasien mengalami
penurunan kesadaran dengan nilai gcs (3), Muntah (-) lemah anggota
gerak (+), demam (-) ± 4 SMRS klien mengeluhkan nyeri dada, aktivitas
adl klien dibantu oleh keluarga dan perawat,klien terpaang alat bantu
napas ventilator dengan mode spontan 10, peep 5, Fio2 40%, klien tampak
berbaring dengan kondisi klien lemah.

.
c. Riwayat Kesehatan Dahulu
Klien memiliki riwayat penyakit diabetes mellitus sejak kurang lebih 2
tahun yang lalu, klien juga memiliki riwayat penyakit hipertensi.
3) Pemeriksaan Fisik
a. Keadaan umum
Penampilan umum : Pasien penurunan kesadran
Kesadaran : sopor
GCS : 15 ( E : 2, V : T , M :2)
b. Tanda-tanda vital
Tekanan darah : 160/80 mmHg
Nadi : 80 x/menit
Respirasi : 22x/menit
Suhu : 36,5°C
c. Sistem Integumen
- Rambut
Warna rambut hitam, distribusi merata, keadaan rambut
kotor,tidak terdapat lesi pada kulit kepala.
- Kulit
Kulit pasien berwarna sawo matang, terdapat edema di
ektremitas atas kanan dan kiri dan ektremitas bawah kaki kiri
dan kanan,. turgor kulit baik kembali > 2 detik,kulit kering
d. Sistem Penglihatan
Konjungtiva berwarna pucat, sklera putih, pasien tidak menggunakan
alat bantu penglihatan, reflek cahaya (+). Ukuran pupil 2.
e. Sistsem pendengaran
Bentuk telinga simestris antara telinga kanan dan telinga kiri. Telinga
tampak bersih tidak terdapat serumen, pasien tidak menggunakan alat
bantu pendengaran.

f. Sistem Pernafasan
- Hidung
Tidak terdapat sekret ataupun lesi, bentuk hidung simetris.
Tidak terdapat pernafasan cuping hidung.
- Dada
Tidak terdapat retraksi dinding dada, suara nafas vesikuler,
terdapat suara nafas tambahan ronchi. Frekuensi pernafasan
22x/menit, klien terpasang ventilator dengan mode spontsn ps
10. Peep 5, fio2 40 %, terpasang ett dengan no 7,5 kedalaman
21.
g. Sistem Pencernaan
- Mulut
Warna bibir pucat, tidak terdapat stomatitis ataupun lesi.
Keadaan mulut pasien kering, rreflek menelan (-) pasien di
terpasang ngt nutrisi yang diberkan 6x200 cc/ 24 jam.
- Abdomen
Bentuk abdomen buncit ,belum terdengar bising usus 8x/menit
, teraba pembesaran hepar
h. Sistem Kardiovaskuler
terdapat pembesaran jantung, suara jantung normal lupdup, tidak
terdapat suara / bunyi jantung tambahan murmur gallop (-). Tekanan
darah 160/ 80 mmHg, nadi 80x/menit. Adanya peninggian jvp (5x2)
cmho2, klien terpasang monitor.
i. Sistem Endokrin
terdapat pembesaran KGB, tidak terdapat pembesaran kelenjar
Tiroid.
j. System persarafan
Tidak terkaji
k. Sistem perkemihan
Urin warna kuning jernih, klien terpasang kateter dengan jumlah 60-80
cc/jam
l. Sistem Muskuloskeletal
- Ekstremitas atas
Bentuk simetris antara tangan kanan dan tangan kiri pasien,
terdapat edema, tidak terdapat lesi. Terpasang infus Nacl 500cc
di tangan kiri dengan 20 tetes/menit. Kedua tangan dapat
digerakan dengan bebas tetapi kekuatan otot 2
- Ektremitas bawah
Bentuk simetris antara kaki kanan dan kaki kiri, terdapat
edema , kekuatan otot 2.

Therapy yang diberikan


1) Insulin drip /unit/ jam
2) Aspilet tab 80 mg
3) Clopidogrel 75 mg
4) Atorvastatin tab 40 mg
5) Laxadyn syrup 1x15 cc
6) Lansoprazol 30 mg
7) Ceftadizin 1amp
8) Amlodipine 5 mg
9) Nebulizer nacl 0,9 %
10) Pct 3x 1gr
11) Heparin

B. ANALISA DATA
No Data Etiologi Masalah

1 Ds : Hilangnya Gangguan
jaringan kontraktil ventilasi spontan
infark miokard
Do: 
Kontraktilitas
- Pasien terpasang ett miokard
- Pasien terpasang ventilator 
- Dengan mode spontan ps 10, Beban jantung
peep 5 , fio2 40 % menngkat
- Ttv
RR : 22 x menit 
Ph : 7.396
Peningkatan LUED
Pco2: 35.7
Hco3 : 22.1 

Tekanan vena
pulmonal meningkat

Peninkatan tekanan
kapiler paru

Gangguan ventilasi
spontan

2 DS: Aterosklerosis Resiko


 penurunan curah
DO:
jantung
- Pasien tampak lemas Penurunan perfusi
- Pasien bed rest jaringan
- Pasien pengalami penurunan 
kesadaran
TD: 160/80 mmHg, RR: 22x/ Kontraktilitas
miokard menurun
menit, N: 80x/menit

Penrununan cardiac
output

Resiko penurunan
curah jantung

3 Ds : Penurunan Ketidakefektifan
kesadaran bersihan jalan
Do :  napas
- Pasien terpasang g.g saraf pernapsan
ventilator dan otot pernapasan

- Terdapat suara napas
tambhan rochi Gg endothelium
- Pasien mengalami kapiler
penurunan kesadran 
- Kesadaran klien sopor Cairan masuk ke
intertisial

meningkat tekanan
jalan napas

Reflex batuk ( -) dan


kehilangan fungsi
silia saluran
pernapasan

Ketidakefektifan
bersihan jalan napas

4 Ds : Factor genetic Ketidakefektifan


 peningkatan
Do : Penerunan produksi glukosa
- Gds : 197 mg/dl insulin
- Diit : 6x200 cc/24 jam  ( hyperglikemia
)
Penurunan dlukosa
dalam sel

Peningkatan kadar
glukosa

Ketidakefektifan
peningkatan glukosa

( hyperglikemia )

5 Ds : CAD Stemi

Do :
- Kulit klien tampak Penurunan kesadaran
kering 
- Mulutklien tampak kotor
- Klien mengalami Tirah baring lama
penurunan kesadran 
- ADL klien di bantu total
Kelemahan fisik

Deficit perawatan diri

B. DIAGNOSA KEPERAWATAN
1) Gangguan ventilasi spontan berhubungan dengan complain paru
2) Resiko penurinan curah jantung berhubungan dengan perubahan
kontraktilitas miokard
3) Ketidakefektifan bersihan jlan napas tidak efektif berhubungan
dengan penumpukan secret
4) Ketidakefektifan kadar glukosa darah berhubungan dengan
manajemen diabetes
5) Deficit perawatan diri berhubungan dengan tirah baring lama
ditandai denagn penrunan kesadaran.
No Dx NOC NIC Tangg Implementasi Evaluasi Paraf
al
1 Dx I Tujuan : setelah 30 juli 1 memantau adanya kegagalan - S:
dilakukan tindakan 1. pantau adanya 2019 pernapasan yang akan terjadi O:
asuhan keperawatan kegagalan 2 memantau adanya penurunan - Tensi 160/80
3x24 jam menunjukan pernapasan volume ekshalasi dan mmHg,
kriteria hasil yang akan peningkatan tekanan inspirasi - Nadi 80 x /
terjadi pada pasien menit.
- Mempunyai tingkat 2. Pantau adanya 3 memantau keefektifan - Respirasi
energi dan fungsi otot penurunan ventilasi mekanik pada 22x/menit
yang adekuat untuk volume kondisi fisiologis dan Suhu 36,5 0C
mendapatkan ekshalasi dan psikologis pasien Psien masih
pernapasan spontan peningkatan 4 memantau adanya efek yang terpasang
- Menerima nutrisi tekanan merugikan dari ventilasi ventilator
adekuat sebelum, inspirasi pada mekanik : infeksi, A : masalah belum
selama, dan setelah pasien barotrauma, dan penurunan teratasi
proses penyapihan dari 3. Pentau curah jantung P : intervensi
ventilator keefektifan 5 memantau efek perubahan dilanjutkan
- Mempunyai nilai gas ventilasi ventilator terhadap oksigenasi
darah dan saturasi mekanik pada : GDA, SaO2, SvO2, CO2
oksigen dalam rentang kondisi akhir-tidal, Qgp/Qt dan
yang berterima fisiologis dan tingkat A-aDO2 serta respons
- Menunjukkan status psikologis subjektif pasien
neurologis yang pasien 6 memantau derajat pirau,
adekuat untuk 4. Pantau adanya kapasitas vital, Vd/VT,
mempertahankan efek yang MVV, daya inspirasi, FEV1,
pernapasan spontan merugikan dari dan kesiapan untuk
ventilasi penyapihan dari ventilasi
mekanik : mekanik, sesuai protokol
infeksi,
barotrauma, institus
dan penurunan
curah jantung
5. Pantau efek
perubahan
ventilator
terhadap
oksigenasi :
GDA, SaO2,
SvO2, CO2
akhir-tidal,
Qgp/Qt dan
tingkat A-
aDO2 serta
respons
subjektif pasien
6. Pantau derajat
pirau, kapasitas
vital, Vd/VT,
MVV, daya
inspirasi,
FEV1, dan
kesiapan untuk
penyapihan dari
ventilasi
mekanik, sesuai
protokol
institus
2 Dx II Tujuan : setelah 30 Juli S:
dilakukan tindakan 1. monitor TD, 2019 1.memonitor TD, nadi suhu dan O:
asuhan keperawatan nadi suhu dan RR - Pasien
3x24 jam menunjukan RR 2.memonitor VS saat pasien penurunan
kriteria hasil 2. monitor VS berbaring, duduk atau berdiri kesadaran
 tanda vital dalam saat pasien 3.mengauskultasi TD pada kedua - Pasien bed rest
rentang normal berbaring, lengan dan bandingkan - TD: 160/80
(tekanan darah, duduk atau 4.memonitor TD, nadi, suhu dan mmHg, RR:
nadi, respirasi) berdiri RR sebelum, selama dan 22x/ menit, N:
3. auskultasi TD setelah aktivitas 80x/menit
 dapat pada kedua 5.memonitor jumlah, bunyi dan - Pasien
mentoleransi lengan dan irama jantung terpasang
aktivitas, tidak bandingkan 6.memonitor frekuensi dan irama ventilator
ada kelelahan 4. monitor TD, pernafasan A : masalah belum
 tidak ada edema nadi, suhu dan 7.memonitor pola pernafasan teratasi
paru, perifer dan RR sebelum, abnormal P : intervensi
tidak ada asites selama dan 8.memonitor suhu, warna dan dilanjutkan
 tidak ada setelah kelembaban kulit
penurunan aktivitas 9.memonitor sianosis perifer
kesadaran 5. monitor 10. memonitor adanya cushing
 AGD dalam jumlah, bunyi triad (tekanan nadi yang
batas normal dan irama melebar, bradikardi,
 tidak ada jantung peningkatan sistolik)
distensi vena 6. monitor 11. mengkelola pemberian
leher frekuensi dan antikoagulan untuk mencegah
 warna kulit irama trombus perifer
normal. pernafasan 12. meminimalkan stress
7. monitor pola lingkungan
pernafasan
abnormal
8. monitor suhu,
warna dan
kelembaban
kulit
9. monitor
sianosis
perifer
10. monitor
adanya
cushing triad
(tekanan nadi
yang melebar,
bradikardi,
peningkatan
sistolik)
11. kelola
pemberian
antikoagulan
untuk
mencegah
trombus
perifer
12. minimalkan
stress
lingkungan
3 Dx III Tujuan : setelah  pastikan 30 juli  pastikan kebutuhan oral / S:
dilakukan tindakan kebutuhan oral / 2019 trachel suctioning O:
asuhan keperawatan trachel suctioning  anjurkan pasien untuk - Pasien
3x24 jam menunjukan  anjurkan pasien istirahat dan nafas dalam penurunan
kriteria hasil untuk istirahat dan  posisikan pasien untuk kesadaran
 suara nafas yang nafas dalam memaksimalkan ventilasi - Pasien bed rest
bersih, tidak ada  posisikan pasien  lakukan fisioterapi dada jika - TD: 160/80
sianosis dan untuk perlu mmHg, RR:
dyspneu memaksimalkan  keluarkan sekret dengan 22x/ menit, N:
(mampu ventilasi batuk efektif atau suction 80x/menit
mengeluarkan  lakukan  auskultasi suara nafas, catat - Pasien
sputum, bernafas fisioterapi dada jika adanya suara tambahan terpasang
dengan mudah, ventilator
perlu  berikan bronkodilator
tidak ada pursed  keluarkan sekret - Terdengar
 monitor status hemodinamik
lips) suara napas
 menunjukkan
dengan batuk  berikan pelembab udara tambahan
efektif atau suction kassa basah NaCL lembab
jalan nafas yang  auskultasi suara rochi
paten  berikan antibiotik - Klien
nafas, catat adanya  atur intake untuk cairan
 saturasi oksigen terpasang ett
suara tambahan mengoptimalkan keseimbangan
dalam batas A : masalah belum
 berikan  monitor respirasi dan status
normal teratasi
bronkodilator oksigen
 fhoto torak P : intervensi
 monitor status  pertahankan hidrasi yang
dalam batas dilanjutkan
hemodinamik adekuat untuk mengencerkan
norma
 berikan sekret
pelembab udara
kassa basah NaCL
lembab
 berikan
antibiotik
 atur intake untuk
cairan
mengoptimalkan
keseimbangan
 monitor respirasi
dan status oksigen
 pertahankan
hidrasi yang
adekuat untuk
mengencerkan
sekret
4 Dx Tujuan : setelah  Manajemen 30 juli  Manajemen Hiperglikemia S:
IV dilakukan tindakan 2019 O:
keperawatan Hiperglikemia (2120
asuhan  Gds : 197
3x24 jam menunjukan (2120)  memonitor tanda dan gejala mg/dl
kriteria hasil  Diit : 6x
 Kadar glukosa klien  Monitor tanda hiperglikemia
200 cc/24
terkontrol
dan gejala  Memonitor kadar glukosa jam
 Kadar gula darah
dalam rentang hiperglikemia darah A : masalah belum
normal ,
 nilai normal GDP :  Monitor kadar  Memonitor nadi dan teratasi
60-100mg/dl P : intervensi
 nilai GDS 70- 110 glukosa darah tekanan darah dilanjutkan
mg/dl
 Monitor nadi  memberikan insulin
dan tekanan darah  memerikan cairan IV
 Berikan insulin  mendorong asupan cairan
 Berikan cairan oral
IV  mereview riwayat glukosa
 Dorong asupan darah
cairan oral
 Review
riwayat glukosa
darah

5 Dx V Tujuan : setelah  monitor 30 juli  memonitor kemampuan S:


dilakukan tindakan kemampuan 2019 klien untuk perawatan diri O:
asuhan keperawatan klien untuk yang mandiri - Pasien
3x24 jam menunjukan perawatan diri  memonitor kebutuhan klien penurunan
kriteria hasil yang mandiri untuk alat - alat bantu kesadaran
 Integritas kulit  monitor kebersihan diri, - Kulit klien
yang baik kebutuhan berpakaian, berhias, bersih
 Tidak adanya klien untuk toileting dan makan - Mulut klien
luka decubitus alat - alat  menyediakan bantuan bersih
akibat tirah bantu sampai klien mampu - Badan klien
baring kebersihan secara utuh untuk tidak berbau
 klien terbebas diri, melakukan perawatan diri A : masalah
dari bau badan berpakaian,  mendorong klien untuk teratasi
 menyatakan berhias, melakukan secara mendiri, P : intervensi
kenyamanan toileting dan tapi beri bantuan ketika dilanjutkan
terhadap makan klien tidak mampu untuk
kemampuan  sediakan melakukan nya
untuk bantuan  mengajarkan klien /
melakukan sampai klien keluarga untuk mendorong
aktifitas mampu secara kemandirian, untuk
 dapat melakukan utuh untuk memberikan bantuan
aktivitas dengan melakukan hanya jika pasien tidak
bantuan perawatan diri mampu untuk melakukan
 dorong klien nya
untuk  memberi aktivitas rutin
melakukan sehari - hari sesuai
secara kemampuannya
mendiri, tapi
beri bantuan  mepertimbangkan usia klien
ketika klien jika mendorong
tidak mampu pelaksanaan aktivitas
untuk sehari - hari.
melakukan
nya
 ajarkan klien /
keluarga untuk
mendorong
kemandirian,
untuk
memberikan
bantuan hanya
jika pasien
tidak mampu
untuk
melakukan
nya
 beri aktivitas
rutin sehari -
hari sesuai
kemampuanny
a

 pertimbangkan
usia klien jika
mendorong
pelaksanaan
aktivitas
sehari - hari.