Anda di halaman 1dari 25

PRAKTIKUM LINGKUNGAN TAMBANG

LABORATORIUM LINGKUNGAN TAMBANG


JURUSAN TEKNIK PERTAMBANGAN
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
PENGUKURAN TINGKAT KEBISINGAN DI LINGKUNGAN

BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Pengertian bunyi menurut fisika, bunyi termasuk salah satu jenis gelombang
yang dapat dirasakan oleh indera pendengaran (telinga). Dalam fisika, pengertian
bunyi adalah sesuatu yang dihasilkan dari benda yang bergetar. Benda yang
menghasilkan bunyi disebut sumber bunyi. Sumber bunyi yang bergetar akan
menggetarkan molekul-molekul udara yang ada disekitarnya. Dengan demikian,
syarat terjadinya bunyi adalah adanya benda yang bergetar. Perambatan bunyi
memerlukan medium. Kita dapat mendengar bunyi jika ada medium yang dapat
merambatkan bunyi. . Syarat terjadi dan terdengarnya bunyi adalah ada benda yang
bergetar (sumber bunyi), ada medium yang merambatkan bunyi dan ada penerima
yang berada di dalam jangkauan sumber bunyi.
Menurut batasan WHO (dalam Bell, 2005), kebisingan adalah suara yang
tidak dikehendaki. Oleh karena itu kebisingan sangat mengganggu aktivitas
kehidupan. Kebisingan adalah sesuatu yang sifatnya subjektif dan psikologis.
Dikatakan subjektif karena sangat bergantung pada orang yang bersangkutan,
misalnya suara bercakap-cakap di dalam bioskop yang mengganggu sebagian orang,
namun suara ribut di suatu pasar bukanlah masalah bagi orang disekelilingnya.
Beberapa jenis suara dapat lebih mengganggu daripada yang lain, suara yang keras
lebih sering mengganggu daripada bunyi pelan karena itu suara dapat menjadi
gangguan yang sangat tidak diinginkan. Hal ini secara psikologis dapatmengganggu
kondisi emosi seseorang sehingga dapat menjadi suatu masalah.
Bunyi infrasonic adalah bunyi yang tidak dapat didengar oleh telinga normal
manusia. Apabila frekuensi bunyi normal yang dapat didengar bisa sampai 20 Hertz,
maka bunyi infrasonic tidak sampai 20 Hz, mungkin 19 Hz ke bawah. Bunyi
audiosonic adalah bunyi yang dapat didengar oleh telinga normal manusia. Frekuensi
bunyi normal yang dapat didengar berkisar dari 20 Hz sampai 20.000 Hz. Bunyi
utlrasonic adalah bunyi yang tidak dapat didengar oleh telinga normal manusia.
Apabila frekuensi bunyi normal yang dapat didengar bisa sampai 20 Hertz, maka
bunyi ultrasonic adalah di atas 20.000 Hz.

MUHAMMAD SALEH RENOAT INDRA


09320150179 09320140095
PRAKTIKUM LINGKUNGAN TAMBANG
LABORATORIUM LINGKUNGAN TAMBANG
JURUSAN TEKNIK PERTAMBANGAN
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
PENGUKURAN TINGKAT KEBISINGAN DI LINGKUNGAN

1.2. Maksud dan Tujuan

1.2.1 Maksud
Adapun maksud dari praktikum pengukuran tingkat kebisingan di ligkungan
yaitu agar kami dapat mengetahui bagaimana tingkat kebisingan yang ada disekitar
kita yang sesuai dengan batasan normal yang dibutuhkan oleh mahluk hidup dan juga
dapat mengimplementasikan dalam dunia pertambangan yang tarkait masalah
kebisingan lingkungan tambang.
1.2.2 Tujuan Praktikum
1. Kami mampu mengukur tingkat suara menggunakan sound level meter (SLM).
2. Kami mampu menghitung tingkat kebisingan di lingkungan.
3. Kami mampu menghitung sebaran bising dari garis (line source).

1.3. Alat dan Bahan

1.3.1 Alat
1. Sound level meter
2. Alat tulis menulis
3. Kalkulator
4. Stopwatch
5. Papan pengalas
1.3.2 Bahan
1. Kertas Hvs
2. Tabel untuk pengambilan data

MUHAMMAD SALEH RENOAT INDRA


09320150179 09320140095
PRAKTIKUM LINGKUNGAN TAMBANG
LABORATORIUM LINGKUNGAN TAMBANG
JURUSAN TEKNIK PERTAMBANGAN
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
PENGUKURAN TINGKAT KEBISINGAN DI LINGKUNGAN

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Pengertian Bunyi

Pengertian bunyi menurut fisika, bunyi termasuk salah satu jenis gelombang
yang dapat dirasakan oleh indera pendengaran (telinga). Dalam fisika, pengertian
bunyi adalah sesuatu yang dihasilkan dari benda yang bergetar. Benda yang
menghasilkan bunyi disebut sumber bunyi. Sumber bunyi yang bergetar akan
menggetarkan molekul-molekul udara yang ada disekitarnya. Dengan demikian,
syarat terjadinya bunyi adalah adanya benda yang bergetar. Perambatan bunyi
memerlukan medium. Kita dapat mendengar bunyi jika ada medium yang dapat
merambatkan bunyi. Ada beberapa syarat yang harus dipenuhi agar bunyi dapat
terdengar. Syarat terjadi dan terdengarnya bunyi adalah:
1. ada benda yang bergetar (sumber bunyi).
2. ada medium yang merambatkan bunyi dan
3. ada penerima yang berada di dalam jangkauan sumber bunyi.
Bunyi memiliki cepat rambat yang terbatas. Bunyi memerlukan waktu untuk
berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Cepat rambat bunyi sebenarnya tidak
terlampau besar. Cepat rambat bunyi jauh lebih kecil dibandingkan denga cepat
rambat cahaya. Bahkan sekarang orang telah mampu membuat pesawat yang dapat
terbang beberapa kali daripada cepat rambat bunyi. Cepat rambat bunyi sering
dirumuskan sebagai berikut

2.2. Defenisi Kebisingan

Kebisingan adalah semua suara yang tidak dikehendaki yang bersumber dari
alat-alat proses produksi dan atau alat-alat kerja yang pada tingkat tertentu dapat
menimbulkan gangguan pendengaran. Suara keras, berlebihan atau berkepanjangan
dapat merusak jaringan saraf sensitif di telinga, menyebabkan kehilangan
pendengaran sementara atau permanen. Hal ini sering diabaikan sebagai masalah
kesehatan, tapi itu adalah salah satu bahaya fisik utama. Batasan pajanan terhadap
kebisingan ditetapkan nilai ambang batas sebesar 85 dB selama 8 jam sehari (ILO,
2013). Kebisingan adalah semua suara yang tidak dikehendaki yang bersumber dari

MUHAMMAD SALEH RENOAT INDRA


09320150179 09320140095
PRAKTIKUM LINGKUNGAN TAMBANG
LABORATORIUM LINGKUNGAN TAMBANG
JURUSAN TEKNIK PERTAMBANGAN
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
PENGUKURAN TINGKAT KEBISINGAN DI LINGKUNGAN

alat-alat proses produksi dan/atau alat-alat kerja yang pada tingkat tertentu dapat
menimbulkan gangguan pendengaran. NAB kebisingan ditetapkan sebesar 85 desibel
A (dBA).
Bunyi atau suara didengar sebagai rangsangan pada sel saraf pendengar
dalam telinga oleh gelombang longitudinal yang ditimbulkan getaran dari sumber
bunyi atau suara dan gelombang tersebut merambat melalui media udara atau
penghantar lainnya, dan manakala bunyi atau suara tersebut tidak dikehendaki oleh
karena mengganggu atau timbul di luar kemauan orang yang bersangkutan, maka
bunyi-bunyian atau suara demikian dinyatakan sebagai kebisingan. Jadi kebisingan
adalah bunyi atau suara yang keberadaannya tidak dikehendaki (noise is unwanted
sound). Dalam rangka perlindungan kesehatan tenaga kerja kebisingan diartikan
sebagai semua suara atau bunyi yang tidak dikehendaki yang bersumber dari alat-alat
proses produksi atau alat-alat kerja yang pada tingkat tertentu dapat menimbulkan
gangguan pendengaran. Terdapat dua karakteristik utama yang menentukan kualitas
suatu bunyi atau suara, yaitu frekuensi dan intensitasnya. Telinga manusia mampu
mendengar frekuensi bunyi atau suara antara 16-20.000 Hz. Intensitas atau arus
energi per satuan luas biasanya dinyatakan dalam suatu satuan logaritmis yang
disebut desibel (dB) dengan memperbandingkannya dengan kekuatan standar 0,0002
dine (dyne)/cm² yaitu kekuatan bunyi dengan frekuensi 1.000 Hz yang tepat dapat
didengar telinga normal.

2.3. Jenis Kebisingan

Di tempat kerja, kebisingan diklasifikasikan ke dalam dua


jenis golongan besar, yaitu kebisingan tetap (steady noise) dan
kebisingan tidak tetap (nonsteady noise).
1. Kebisingan tetap (steady noise) dibagi menjadi dua jenis, yaitu:
a. Kebisingan dengan frekuensi terputus (discrete frequency noise)
Kebisingan ini berupa “nada-nada” murni pada frekuensi
yang beragam, contohnya suara mesin, suara kipas dan
sebagainya.
b. Broad band noise

MUHAMMAD SALEH RENOAT INDRA


09320150179 09320140095
PRAKTIKUM LINGKUNGAN TAMBANG
LABORATORIUM LINGKUNGAN TAMBANG
JURUSAN TEKNIK PERTAMBANGAN
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
PENGUKURAN TINGKAT KEBISINGAN DI LINGKUNGAN

Kebisingan dengan frekuensi terputus dan broad band noise


samasama digolongkan sebagai kebisingan tetap (steady noise).
Perbedaannya adalah broad band noise terjadi pada frekuensi yang
lebih bervariasi (bukan “nada” murni).
2. Kebisingan tidak tetap (unsteady noise) dibagi menjadi 3
macam, yaitu:
a. Kebisingan fluktuatif (fluctuating noise)
Kebisingan yang selalu berubah-ubah selama rentang waktu
tertentu.
b. Intermittent noise
Sesuai dengan terjemahannya, intermittent noise adalah
kebisingan yang terputus-putus dan besarnya dapat berubah-ubah,
contohnya adalah kebisingan lalu lintas.
c. Impulsive noise
Kebisingan impulsif dihasilkan oleh suara-suara berintensitas
tinggi (memekakkan telinga) dalam waktu relatif singkat, misalnya
suara ledakan senjata api dan alat-alat sejenisnya.
Sedangkan menurut Suma’mur (2009) jenis kebisingan yang
sering ditemukan adalah :
1. Kebisingan menetap berkelanjutan tanpa putus-putus dengan
spektrum frekuensi yang lebar (steady state, wide band noise).
2. Kebisingan menetap berkelanjutan dengan spektrum frekuensi
tipis (steady state, narrow band noise).
3. Kebisingan terputus-putus (intermittent noise)
4. Kebisingan impulsif (impact or impulsive noise)
5. Kebisingan impulsif berulang

2.4. Sumber Kebisingan

Di tempat kerja disadari maupun tidak cukup banyak fakta


yang menunjukkan bahwa perusahaan beserta aktivitas-
aktivitasnya ikut menciptakan dan menambah keparahan tingkat
kebisingan di tempat kerja misalnya mengoperasikan mesin-mesin

MUHAMMAD SALEH RENOAT INDRA


09320150179 09320140095
PRAKTIKUM LINGKUNGAN TAMBANG
LABORATORIUM LINGKUNGAN TAMBANG
JURUSAN TEKNIK PERTAMBANGAN
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
PENGUKURAN TINGKAT KEBISINGAN DI LINGKUNGAN

produksi yang sudah cukup tua; terlalu sering mengoperasikan


mesin-mesin kerja pada kapasitas kerja cukup tinggi dalam periode
operasi cukup panjang; sistem perawatan dan perbaikan mesin-
mesin produksi ala kadarnya misalnya mesin diperbaiki hanya pada
saat mesin mengalami kerusakan parah; melakukan modifikasi/
perubahan/penggantian secara parsial pada komponen-komponen
mesin produksi tanpa mengindahkan kaidah-kaidah yang benar,
termasuk menggunakan komponen-komponen mesin tiruan,
dimana:
1. Pemasangan dan peletakan komponen-komponen mesin secara
tidak tepat (terbalik atau tidak, rapat atau longgar), terutama
pada bagian penghubung antara modul mesin (bad connection).
2. Pengguna alat –alat yang tidak sesuai dengan fungsinya,
misalnya menggunakan palu (hammer) atau alat pemukul
sebagai alat pembengkok benda-benda metal atau alat bantu
pembuka baut.
Di tempat kerja, jenis dan jumlah sumber suara sangat
beragam (Tambunan, 2005). Beberapa diantaranya adalah:
1. Suara mesin
Jenis mesin penghasil suara di tempat kerja sangat bervariasi,
demikian pula karakteristik suara yang dihasilkan. Contohnya
adalah mesin pembangkit tenaga listrik seperti genset, mesin
diesel, dan sebagainya. Di tempat kerja, mesin pembangkit tenaga
listrik umumnya menjadi sumber-sumber kebisingan berfrekuensi
rendah (<400 Hz).
2. Benturan antara alat kerja dan benda kerja
Proses menggerinda permukaan metal dan umumnya pekerjaan
penghalusan permukaan benda kerja, penyemprotan, pengupasan
cat (sand blasting), pengelingan (riveting), memalu (hammering),
dan pemotongan seperti pada proses penggergajian kayu dan
metal cutting, merupakan sebagian contoh bentuk benturan antara
alat kerja dan benda kerja (material-material solid, liquid, atau

MUHAMMAD SALEH RENOAT INDRA


09320150179 09320140095
PRAKTIKUM LINGKUNGAN TAMBANG
LABORATORIUM LINGKUNGAN TAMBANG
JURUSAN TEKNIK PERTAMBANGAN
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
PENGUKURAN TINGKAT KEBISINGAN DI LINGKUNGAN

kombinasi antara keduanya) yang menimbulkan kebisingan.


Penggunaan gergaji bundar (circular blades) dapat menimbulkan
kebisingan antara 80-120 dB.
3. Aliran material
Aliran gas, air atau material-material cair dalam pipa distribusi
material di tempat kerja, apalagi yang berkaitan dengan proses
penambahan tekanan (high pressure processes) dan pencampuran,
sedikit banyak akan menimbulkan kebisingan di tempat kerja.
Demikian pula pada proses-proses transportasi material-material
padat seperti batu, kerikil, potongan-potongan metal yang melalui
proses pencurahan.
4. Manusia
Dibandingkan dengan sumber suara lainnya, tingkat kebisingan
suara manusia memang lebih kecil. Namun demikian, suara
manusia tetap diperhitungkan sebagai sumber suara di tempat
kerja.
2.5. Nilai Ambang Batas (NAB) Kebisingan

Berdasarkan peraturan menteri tenaga kerja dan transmigrasi


Nomor 13 Tahun 2011 bahwa Nilai Ambang Batas yang selanjutnya
disingkat NAB adalah standar faktor bahaya di tempat kerja
sebagai kadar/intensitas rata-rata tertimbang waktu (time
weighted average) yang dapat diterima tenaga kerja tanpa
mengakibatkan penyakit atau gangguan kesehatan, dalam
pekerjaan sehari-hari untuk waktu tidak melebihi 8 jam sehari atau
40 jam seminggu. NAB kebisingan ditetapkan sebesar 85 decibel A
(dBA). Tidak boleh terpajan lebih dari 140 dBA, walaupun sesaat.
Di dalam menetapkan standar NAB pada suatu level atau
intensitas tertentu, tidak akan menjamin bahwa semua orang yang
terpapar pada level tersebut secara terus menerus akan terbebas
dari gangguan pendengaran, karena hal itu tergantung pada respon
masing-masing individu (Keputusan MENLH, 1996).
Tabel 2.1. Nilai Ambang Batas Kebisingan

MUHAMMAD SALEH RENOAT INDRA


09320150179 09320140095
PRAKTIKUM LINGKUNGAN TAMBANG
LABORATORIUM LINGKUNGAN TAMBANG
JURUSAN TEKNIK PERTAMBANGAN
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
PENGUKURAN TINGKAT KEBISINGAN DI LINGKUNGAN

Intensitas
Waktu pemaparan per
kebisingan
hari
dalam dBA
8 85
4 88
Jam
2 91
1 94

30 97
15 100
7.5 103
Menit
3.75 106
1.88 109
0.94 112

28.12 115
14.06 118
7.03 121
3.52 124
1.76 Detik 127
0.88 130
0.44 133
0.22 136
0.11 139

Seperti diketahui, NAB kebisingan di tempat kerja yang


berlaku di Indonesia adalah 85 dB(A), sedangkan jumlah, jenis
pengukuran dan penilaian berkala ditentukan oleh sifat dan
besarnya bahaya yang mungkin ditimbulkan oleh kebisingan. Oleh
karena itu, perlu diusahakan agar kebisingan di tempat kerja lebih
rendah dari NAB tersebut, melalui tindakan teknis, dan apabila
tidak mungkin dilakukan, pemakaian alat pelindung diri yang
memenuhi syarat harus diadakan.

2.6. Dampak Kebisingan

Kebisingan mempunyai efek yang merugikan terhadap


produktivitas kerja. Pengaruh kebisingan pada tenaga kerja adalah
adanya gangguan-gangguan seperti di bawah ini :
1. Gangguan Fisiologis

MUHAMMAD SALEH RENOAT INDRA


09320150179 09320140095
PRAKTIKUM LINGKUNGAN TAMBANG
LABORATORIUM LINGKUNGAN TAMBANG
JURUSAN TEKNIK PERTAMBANGAN
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
PENGUKURAN TINGKAT KEBISINGAN DI LINGKUNGAN

Pengaruhnya berupa peningkatan sensitivitas tubuh seperti


peningkatan sistem kardiovaskular dalam bentuk kenaikan tekanan
darah dan peningkatan denyut jantung. Pengaruh utama kebisingan
terhadap kesehatan adalah kerusakan pada indra pendengar yang
dapat menyebabkan ketulian progresif. Efek kebisingan pada
pendengaran biasanya bersifat sementara dan pemulihan dapat
terjadi secara cepat. Namun, apabila seseorang berada terus-
menerus di tempat yang bising dan terpajan pada kebisingan itu,
orang tersebut akan kehilangan daya dengar yang sifatnya
menetap dan tidak dapat pulih kembali. Ketulian biasanya dimulai
pada frekuensi suara sekitar 4.000 Hz yang kemudian meningkat
dan meluas ke frekuensi di sekitarnya dan akhirnya mengenai
frekuensi yang digunakan untuk percakapan.
2. Gangguan Psikologis
Gangguan fisiologis lama-lama bisa menimbulkan gangguan
psikologis. Suara yang tidak dikehendaki dapat menimbulkan stres,
gangguan jiwa, sulit konsentrasi dan berfikir, dan lain-lain.
Kebisingan juga dapat mengganggu kualitas tidur (noise induced
sleep). Tingkat gangguan tidur sangat bervariasi pada setiap orang,
mulai dari ringan hingga berat, misalnya sering terbangun tanpa
sebab yang jelas, tidak tenang/sering berpindah posisi
tidur/frekuensi gerakan tubuh cukup tinggi, perubahan pada
gerakan mata (rapid eye movement).
Intensitas kebisingan sering dapat menyebabkan penurunan
performansi kerja, sebagai salah satu penyebab stres dan
gangguan kesehatan lainnya. Stres yang disebabkan karena
pemaparan kebisingan dapat menyebabkan terjadinya kelelahan
dini, kegelisahan dan depresi. Stres karena kebisingan juga
menyebabkan cepat marah, sakit kepala dan gangguan tidur.
Kondisi psikis seseorang dapat mempengaruhi tekanan
darah, misalnya kondisi psikis seseorang yang mengalami stres
atau tekanan. Bekerja ditempat bising yang mencapai 60 desibel

MUHAMMAD SALEH RENOAT INDRA


09320150179 09320140095
PRAKTIKUM LINGKUNGAN TAMBANG
LABORATORIUM LINGKUNGAN TAMBANG
JURUSAN TEKNIK PERTAMBANGAN
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
PENGUKURAN TINGKAT KEBISINGAN DI LINGKUNGAN

dapat meningkatkan kadar hormon stres, seperti epinerin, non-


epinerin dan kortisol tubuh. Peningkatan epineprin, nor epineprin
dan kortisol akan mengakibatkan terjadinya perubahan irama
jantung dan tekanan darah. Bising yang terus menerus diterima
tenaga kerja akan menimbulkan gangguan proses fisiologis jaringan
otot dalam tubuh dan memicu emosi yang tidak stabil.
Ketidakstabilan emosi tersebut dapat memacu jantung untuk
bekerja lebih keras memompa darah ke seluruh tubuh dalam waktu
yang lama tekanan darah akan naik sehingga menyebabkan
hipertensi.
3. Gangguan Komunikasi dengan Pembicaraan
Kebisingan berpengaruh pada komunikasi dengan
pembicaraan. Risiko potensial pada pendengaran terjadi, apabila
komunikasi dengan pembicaraan harus dilakukan secara berteriak.
Gangguan komunikasi semacam itu dapat menyebabkan gangguan
pada pekerjaan atau bahkan mengakibatkan kesalahan dan
kecelakaan kerja terutama pada pekerja baru.
4. Efek Pada Pekerjaan
Kebisingan dapat mengganggu konsentrasi pekerja pada
pekerjaannya, terutama suara yang bernada tinggi, karena dapat
menimbulkan reaksi psikologis dan kelelahan. Pada pekerjaan yang
lebih banyak menggunakan otak, kebisingan sebaiknya ditekan
serendah mungkin

2.6. Hirarki Pengendalian Kebisingan

Teknik pengendalian kebisingan dapat dilakukan berdasarkan


hirarki pengendalian sebagai berikut:
1. Eliminasi sumber kebisingan
Eliminasi adalah memodifikasi desain untuk menghilangkan
bahaya, tujuannya adalah untuk menghilangkan kemungkinan
kesalahan manusia dalam menjalankan suatu sistem karena
adanya kekurangan pada desain.

MUHAMMAD SALEH RENOAT INDRA


09320150179 09320140095
PRAKTIKUM LINGKUNGAN TAMBANG
LABORATORIUM LINGKUNGAN TAMBANG
JURUSAN TEKNIK PERTAMBANGAN
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
PENGUKURAN TINGKAT KEBISINGAN DI LINGKUNGAN

a. Pada teknik eliminasi ini dapat dilakukan dengan penggunaan


tempat kerja atau pabrik baru sehingga pengendalian dapat
diminimalkan.
b.Pada tahap tender mesin-mesin yang akan dipakai, harus
mensyaratkan maksimum intensitas kebisingan yang
dikeluarkan dari mesin baru.
c. Pada tahap pembuatan pabrik dan pemasangan mesin,
konstruksi bangunan harus dapat meredam kebisingan serendah
mungkin.
2. Substitusi
Substitusi adalah mengganti bahan kurang berbahaya atau
mengurangi energi system. Subtitusi dalam pengendalian
kebisingan dengan menggantikan alat, perkakas, dan proses yang
dapat menimbulkan kebisingan dengan alat atau sistem yang lebih
silent.
3. Engineering control
Engineering Control adalah modifikasi/ perancangan alat/
mesin/ tempat kerja yang lebih aman. Tiga komponen penting
yang harus diperhatikan untuk melakukan pengendalian
kebisingan (engineering control principle) adalah:
a. Sumber kebisingan (noise source)
b.Media perantara kebisingan
c. Penerima kebisingan (noise receiver), dalam hal ini pekerja
Penggunaan material akustik (acoustic materials) sebagai
peredam/penyerap suara adalah cara pengendalian bahaya yang
sering digunakan untuk mengurangi energi suara dalam ruangan.
Contoh material akustik antara lain melamine foam, vinyl
polyurethane.
Beberapa pengendalian kebisingan secara engineering
control:
a. Penghalang kebisingan (sound barrier), selain sebagai penambah
kesegaran suasana di tempat kerja, pepohonan di sekitar tempat

MUHAMMAD SALEH RENOAT INDRA


09320150179 09320140095
PRAKTIKUM LINGKUNGAN TAMBANG
LABORATORIUM LINGKUNGAN TAMBANG
JURUSAN TEKNIK PERTAMBANGAN
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
PENGUKURAN TINGKAT KEBISINGAN DI LINGKUNGAN

kerja dapat digolongkan sebagai salah satu jenis penghalang


kebisingan alami yang dapat mengurangi jangkauan penyebaran
kebisingan yang berasal dari tempat kerja menuju ke lingkungan
di sekitar tempat kerja. Namun umumnya, efektifitas fungsional
penghalang kebisingan alami sangat rendah karena
keberadaannya hanya dalam jumlah kecil. Di tempat kerja,
fungsi sound barrier tidak sekedar menghambat perjalanan
gelombang suara saat menuju lingkungan di sekitar lingkungan
tempat kerja. Sound barrier juga digunakan untuk semaksimal
mungkin mereduksi dan mengeliminasi bahaya kebisingan bagi
pekerja di dalam tempat kerja.
b. Pengendalian kebisingan pada sumber suara dilakukan dengan
menutup mesin atau mengisolasi mesin sehingga terpisah
dengan pekerja. Teknik ini dapat dilakukan dengan mendesain
mesin memakai remote control. Selain itu dapat dilakukan
redesain landasan mesin dengan bahan anti getaran.
c. Pengendalian kebisingan pada bagian transmisi kebisingan.
Apabila teknik pengendalian pada sumber suara sulit dilakukan,
maka teknik selanjutnya adalah dengan memberi pembatas
atau sekat antara mesin dan pekerja. Cara lain adalah dengan
menambah atau melapisi dinding, plafon dan lantai dengan
bahan penyerap suara cara tersebut dapat mengurangi
kebisingan antara 3-7 dB (Sanders dan McCormick, 1987 dalam
Tarwaka, 2004).
d. Melakukan perawatan mesin secara berkala.
Pada prinsipnya pengendalian engineering control dalam
kebisingan di tempat kerja terdiri dari:
a. Desain ulang peralatan untuk mengurangi kecepatan atau bagian yang
bergerak, menambah muffler pada masukan maupun keluaran suatu
buangan, mengganti alat yang telah usang dengan yang lebih baru
dan desain peralatan yang lebih baik.
b. Melakukan perbaikan dan perawatan dengan mengganti bagian yang
bersuara dan melumasi semua bagian yang bergerak.

MUHAMMAD SALEH RENOAT INDRA


09320150179 09320140095
PRAKTIKUM LINGKUNGAN TAMBANG
LABORATORIUM LINGKUNGAN TAMBANG
JURUSAN TEKNIK PERTAMBANGAN
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
PENGUKURAN TINGKAT KEBISINGAN DI LINGKUNGAN

c. Mengisolasi peralatan dengan cara menjauhkan sumber dari


pekerja/penerima, menutup mesin ataupun membuat
barrier/penghalang.
d. Meredam sumber bising dengan jalan memberi bantalan karet untuk
mengurangi getaran peralatan dari logam, mengurangi jatuhnya
sesuatu benda dari atas ke dalam bak maupun pada sabuk roda.
e. Menambah sekat dengan bahan yang dapat menyerap bising pada
ruang kerja. Pemasangan peredam ini dapat dilakukan pada dinding
suatu ruangan bising.
4. Pengendalian secara administratif
Peraturan perusahaan dan prosedur-prosedur operasional
standar (Standart Operating Procedures) adalah bahasa dan
instrumen formal di dalam sebuah perusahaan yang harus
digunakan dan dipatuhi oleh seluruh pekerja perusahaan. Pada
instrumen ini, terdapat penjelasan tertulis tentang apa saja yang
harus dan tidak boleh dilakukan oleh pekerja saat bekerja,
termasuk segala sesuatu yang berkaitan dengan kehadiran
kebisingan sebagai bahaya potensial. Bentuk-bentuk pengendalian
administratif tersebut antara lain (Tambunan, 2005):
a. Menetapkan peraturan tentang rotasi pekerjaan (job rotation)
merupakan salah satu pengendalian administratif yang
direkomendasikan oleh ahli-ahli K3 untuk mengurangi akumulasi
dampak kebisingan pada pekerja.
b. Menetapkan peraturan tentang keharusan bagi pekerja untuk
beristirahat dan makan di tempat khusus yang tenang atau tidak
bising. Seandainya tempat istirahat ini masih terdapat dalam
lokasi kebisingan maka untuk tempat istirahat tersebut harus
diberi penanganan lebih dalam hal pengurangan kebisingan.
c. Menetapkan peraturan tentang sanksi (tindakan indisipliner) bagi
pekerja yang melanggar ketetapan perusahaan berkaitan
dengan masalah pengendalian bahaya kebisingan.
5. Alat Pelindung Diri (APD)

MUHAMMAD SALEH RENOAT INDRA


09320150179 09320140095
PRAKTIKUM LINGKUNGAN TAMBANG
LABORATORIUM LINGKUNGAN TAMBANG
JURUSAN TEKNIK PERTAMBANGAN
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
PENGUKURAN TINGKAT KEBISINGAN DI LINGKUNGAN

Macam –macam alat pelindung diri yang digunakan untuk


mengurangi kebisingan adalah sebagai berikut:
a. Sumbat telinga (earplug), dapat mengurangi kebisingan 8-30
dB. Biasanya digunakan untuk proteksi sampai dengan 100 dB.
Beberapa tipe dari sumbat telinga antara lain; Formable type,
Costum-molded type, Premolded type).
b. Tutup telinga (earmuf), dapat menurunkan kebisingan 25-40
dB. Digunakan untuk proteksi sampai dengan 110 dB.
c. Helm (Helmet), mengurangi kebisingan sampai antara 40-50 dB.
Untuk lebih spesific, dari masing-masing alat pelindung
telinga memiliki kemampuan mereduksi sesuai dengan
kapasitasnya masing-masing sesuai dengan NRRnya atau Noise
Reduction Rating. NRR adalah ukuran kemampuan sebuah alat
pelindung pendengaran untuk mengurangi tingkat kebisingan
(dinyatakan dengan dB). Metode ini dikembangkan oleh
Environment Protection Agency (EPA) dan merupakan bentuk
penyederhanaan dari metode National Institute for Occupational
Safety and Health (NIOSH). Makin tinggi nilai NRR makin besar
tingkat kebisingan yang direduksi oleh alat pelindung telinga
tersebut.

MUHAMMAD SALEH RENOAT INDRA


09320150179 09320140095
PRAKTIKUM LINGKUNGAN TAMBANG
LABORATORIUM LINGKUNGAN TAMBANG
JURUSAN TEKNIK PERTAMBANGAN
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
PENGUKURAN TINGKAT KEBISINGAN DI LINGKUNGAN

BAB III
PROSEDUR PERCOBAAN

Dalam percobaan pengukuran tingkat kebisingan di lingkungan yang


dilakukan yaitu pertama melakukan persiapan pengukuran yaitu dengan mengecek
baterai dengan melihat indikator baterai pada layar dan melakukan kalibrasi.
Setelah alat selesai disiapkan langkah selanjutnya yaitu melakukan pengukuran
kebisingan di lingkungan. Pada saat melakukan pengukuran pastikan posisi alat ±
1,2 m dari lantai/ tanah, tidak terhalang bangunan, pohon, papan reklame dan
sejenisnya, ada jarak dari barrier (≥ 3 meter), dan tidak dalam kondisi hujan.
Sebelum menekan tombol “start” pastikan alat telah disetting dengan benar sesuai
bising yang akan diukur.
Pengambilan data pada alat SLM sesuai waktu yang telah ditentukan yaitu
10 menit dengan pengukuran manual. Untuk pengukuran secara manual, data
kebisingan dikumpulkan selama waktu pengukuran adalah 10 menit. Dalam
mengambil data atau pencatatan data yaitu mencatat nilai kebisingan tiap 5 detik
dan ketinggian mikrofon adalah 1,2 m dari permukaan tanah selama 10 menit untuk
memperoleh data sebanyak 120 data.

MUHAMMAD SALEH RENOAT INDRA


09320150179 09320140095
PRAKTIKUM LINGKUNGAN TAMBANG
LABORATORIUM LINGKUNGAN TAMBANG
JURUSAN TEKNIK PERTAMBANGAN
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
PENGUKURAN TINGKAT KEBISINGAN DI LINGKUNGAN

BAB 1V
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil

4.1.1 Data dilapangan


Detik
Hasi
Ke 5 10 15 20 25 30 35 40 45 50 55 60
l
1 64 65 58 62 72 60 67 63 61 67 70 67 66
2 62 68 58 66 61 65 63 63 58 59 57 70 64
3 59 60 61 67 68 59 60 70 62 66 65 55 64
4 56 62 58 58 70 60 55 58 56 62 60 63 72
5 57 62 64 58 66 64 56 60 57 67 60 67 73
Menit 6 57 57 60 54 60 64 61 60 65 60 58 55 60
7 68 64 53 63 56 71 54 60 59 57 58 67 65
8 56 60 58 59 55 54 62 64 63 64 60 60 61
9 65 61 66 58 57 55 70 68 66 59 64 62 64
10 54 52 60 55 52 60 63 59 57 61 69 71 64
Total 653

100,1 (L1) + 100,1 (L2) + 100,1 (L3) + 100,1 (L4) + 100,1 (L5) + 100,1 (L6)
1
Leq (1 menit) = 10 log
6
.5
100,1 (L7) + 100,1 (L8) + 100,1 (L9) + 100,1 (L10) + 100,1 (L11) + 100,1 (L12)

100,1 (64) + 100,1 (65) + 100,1 (58) + 100,1 (62) + 100,1 (72) + 100,1 (60)
1
1 = 10 log
6
.5
100,1 (67) + 100,1 (63) + 100,1 (61) + 100,1 (67) + 100,1 (70) + 100,1 (67)

2511886,432 + 3162277,66 + 630957,3445 + 1584893,192 +


1
= 10 log 15848931,92 + 1.000.000 + 5011872,336 + 1995262,315 + .
6
5
1258925,412 + 5011872,336 + 10.000.000 + 5011872,236

1
= 10 log ( 265143756,4 )
6
= 10 log 4419062,607
= 66 dB (A)

100,1 (62) + 100,1 (68) + 100,1 (58) + 100,1 (66) + 100,1 (61) + 100,1 (65)
1
2 = 10 log
6

MUHAMMAD SALEH RENOAT INDRA


09320150179 09320140095
PRAKTIKUM LINGKUNGAN TAMBANG
LABORATORIUM LINGKUNGAN TAMBANG
JURUSAN TEKNIK PERTAMBANGAN
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
PENGUKURAN TINGKAT KEBISINGAN DI LINGKUNGAN

.5
100,1 (63) + 100,1 (63) + 100,1 (58) + 100,1 (59) + 100,1 (57) + 100,1 (70)

1584893,192 + 6309573,445 + 630957,3447 + 3981071,706 +


1
= 10 log 1258925,42 + 3162277,66 + 1995262,315 + 1995262,315 + .
6
5
630957,3445 + 794328,2347 + 501187,2336 + 10.000.000

1
= 10 log ( 164223481,1 )
6
= 10 log 2737058,018
= 64 dB (A)

100,1 (59) + 100,1 (60) + 100,1 (61) + 100,1 (67) + 100,1 (68) + 100,1 (59)
1
3 = 10 log
6
.5
100,1 (60) + 100,1 (70) + 100,1 (62) + 100,1 (66) + 100,1 (65) + 100,1 (55)

794328,2347 + 1,000,000 + 630957,3447 + 3981071,706 +


1
= 10 log 1258925,42 + 3162277,66 + 1995262,315 + 1995262,315 + .
6
5
630957,3445 + 794328,2347 + 501187,2336 + 10.000.000

1
= 10 log ( 164223481,1 )
6
= 10 log 2737058,018
= 64 dB (A)

100,1 (56) + 100,1 (62) + 100,1 (58) + 100,1 (58) + 100,1 (70) + 100,1 (60)
1
4 = 10 log
6
.5
100,1 (55) + 100,1 (58) + 100,1 (56) + 100,1 (62) + 100,1 (60) + 100,1 (63)

398107,1706 + 154893,192 + 630957,3445 + 630957,3445 +


1
= 10 log 10.000.000 + 1.000.000 + 316227,766 + 630957,3445 + .5
6
398107,1706 + 15,84893,192 + 1.000.000 + 1995262,315

1
= 10 log (92871125,77)
6
= 10 log 15478520,96
= 72 dB (A)

MUHAMMAD SALEH RENOAT INDRA


09320150179 09320140095
PRAKTIKUM LINGKUNGAN TAMBANG
LABORATORIUM LINGKUNGAN TAMBANG
JURUSAN TEKNIK PERTAMBANGAN
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
PENGUKURAN TINGKAT KEBISINGAN DI LINGKUNGAN

100,1 (57) + 100,1 (62) + 100,1 (64) + 100,1 (58) + 100,1 (66) + 100,1 (64)
1
5 = 10 log
6
.5
100,1 (56) + 100,1 (60) + 100,1 (57) + 100,1 (67) + 100,1 (60) + 100,1 (67)

501187,2336 + 154893,192 + 251886,432 + 630957,3445 +


1
= 10 log 3981071,706 + 251886,432 + 398107,1706 + 1.000.000 + .5
6
501187,2336 + 501187,2336 + 1.000.000 + 501187,2336

1
= 10 log (123224607,1)
6
= 10 log 20537434,52
= 73 dB (A)

100,1 (57) + 100,1 (57) + 100,1 (60) + 100,1 (54) + 100,1 (60) + 100,1 (64)
1
6 = 10 log
6
.5
100,1 (61) + 100,1 (60) + 100,1 (65) + 100,1 (60) + 100,1 (58) + 100,1 (55)

501187,2336 + 501187,2336 + 1.000.000+ 25118,6432 +


1
= 10 log 1.000.000 + 251886,432 + 1258925,42 + 1.000.000 + .5
6
3162277,66 + 1.000.000 + 630957,3445 + 316227,766

1
= 10 log (65669188,66)
6
= 10 log 1094486,47
= 60 dB (A)

100,1 (68) + 100,1 (64) + 100,1 (53) + 100,1 (63) + 100,1 (56) + 100,1 (71)
1
7 = 10 log
6
.5
100,1 (54) + 100,1 (60) + 100,1 (59) + 100,1 (67) + 100,1 (58) + 100,1 (67)

6309573,445 + 2511886,432 + 199526,2315 + 1995262,315 +


1
= 10 log 398107,1706 + 121489254,12 + 251188,6432 + 1.000.000 + .
6
5
794328,2347 + 501187,2336 + 630957,3445 + 5011872,336

1
= 10 log (189359217,5)
6

MUHAMMAD SALEH RENOAT INDRA


09320150179 09320140095
PRAKTIKUM LINGKUNGAN TAMBANG
LABORATORIUM LINGKUNGAN TAMBANG
JURUSAN TEKNIK PERTAMBANGAN
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
PENGUKURAN TINGKAT KEBISINGAN DI LINGKUNGAN

= 10 log 3155986,958
= 65 dB (A)

100,1 (56) + 100,1 (60) + 100,1 (58) + 100,1 (59) + 100,1 (55) + 100,1 (54)
1
8 = 10 log
6
.5
100,1 (62) + 100,1 (64) + 100,1 (63) + 100,1 (64) + 100,1 (60) + 100,1 (60)

398107,1706 + 1.000.000 + 630957,3445 + 794328,2347 +


1
= 10 log 316227,766 + 251188,6432 + 1584893,192 + 251188,6432 + .
6
5
1995262,315 + 2511886,432 + 1.000.000 + 1.000.000

1
= 10 log (69973687,65)
6
= 10 log 1166228,128
= 61 dB (A)

100,1 (65) + 100,1 (61) + 100,1 (66) + 100,1 (58) + 100,1 (57) + 100,1 (55)
1
9 = 10 log
6
.5
100,1 (70) + 100,1 (68) + 100,1 (66) + 100,1 (59) + 100,1 (64) + 100,1 (62)

3162277,66 + 1258925,42 + 3981071,706 + 630957,3445 +


1
= 10 log 501187,2336 + 3162277,766 + 1.000.000 + 6309573,445 + .
6
5
3981071,706 + 794328,2347 + 2511886,432 + 1584893,192

1
= 10 log (147380876,8)
6
= 10 log 2456347,947
= 64 dB (A)

100,1 (54) + 100,1 (52) + 100,1 (60) + 100,1 (55) + 100,1 (52) + 100,1 (60)
1
10 = 10 log
6
.5
100,1 (63) + 100,1 (59) + 100,1 (57) + 100,1 (61) + 100,1 (69) + 100,1 (71)

251188,6432 + 158489,3192 + 1.000.000 + 316227,766+


1
= 10 log 158489,3192 + 1.000.000 + 1995262,315 + 794328,2347 + .
6
5

MUHAMMAD SALEH RENOAT INDRA


09320150179 09320140095
PRAKTIKUM LINGKUNGAN TAMBANG
LABORATORIUM LINGKUNGAN TAMBANG
JURUSAN TEKNIK PERTAMBANGAN
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
PENGUKURAN TINGKAT KEBISINGAN DI LINGKUNGAN

501187,2336 + 1258925,42 + 7943282,347 + 12589254,12

1
= 10 log (139833173,6)
6
= 10 log 2330552,892
= 64 dB (A)

100,1 (66) + 100,1 (64) + 100,1 (65) + 100,1 (72) + 100,1 (73) + 100,1 (60)
1
Leq ( 10 menit ) = 10 log
10
.1
+ 100,1 (65) + 100,1 (61) + 100,1 (64) + 100,1 (64)

3981071,706 + 2511886,432 + 3162277,66 + 15848931,92+


1
= 10 log 19952623,15 + 1.000.000 + 3162277,66 + 1258925,42 + .
10
1
2511886,432 + 2511886,432

= 10 log 256527631,2

= 84 dB (A)

4.1.2 Problem set

Leq Waktu Mewakili dB Keterangan

La Pukul 07.00 Pukul 06.00-09.00 74.6 Ta = 3 Jam


Lb Pukul 10.00 Pukul 09.00-11.00 Tb = 2 Jam
Lc Pukul 14.00 Pukul 11.00-17.00 78.6 Tc = 6 Jam
Ld Pukul 20.00 Pukul 17.00-22.00 75.6 Td = 5 Jam
LS 16 Jam Siang Hari
Le Pukul 23.00 Pukul 22.00-24.00 54.6 Te = 2 Jam
Lf Pukul 01.00 Pukul 24.00-03.00 52.1 Tf = 3 Jam

MUHAMMAD SALEH RENOAT INDRA


09320150179 09320140095
PRAKTIKUM LINGKUNGAN TAMBANG
LABORATORIUM LINGKUNGAN TAMBANG
JURUSAN TEKNIK PERTAMBANGAN
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
PENGUKURAN TINGKAT KEBISINGAN DI LINGKUNGAN

Lg Pukul 04.00 Pukul 03.00-06.00 49.3 Tg = 3 Jam


LM 8 Jam Malam Hari
LSM 24 Jam

Nilai Leq (Total) Pada Proses Pengambilan Data dilapangan

1
LS = 10 log ( Ta x 10 0,1 (La) + Tb x 100,1(Lb) + Tc x 100,1(Lc) + Td x
16
100,1(Ld)
1
= 10 log ( 3 x 10 0,1 (74,6) + 2 x 100,1(84) + 6 x 100,1(78,6) + 5 x 100,1(75,6) )
16
¿
= 10 log 1
¿ 86520945,09 + 502377286,3 + 434661576 +
16
181539027,4 )
1
= 10 log ( 1205098835 )
16

= 10 log 75318677,19
= 78,7 dB

1
LM = 10 log ( 2 x 100,1(Le) + 3 x 100,1(Lf) + 3 x 100,1(Lg) )
8
1
= 10 log ( 2 x 100,1(54,6) + 3 x 100,1(52,1) + 3 x 100,1(49,3) )
8
1
= 10 log ( 576806,3006 + 486543,0292 + 255341,4115 )
8
1
= 10 log ( 1318690,741 )
8

= 10 log 164836,3427
= 52,1 dB
1
LSM = 10 log ( 16 x 100,1(Ls) + 8 x 100,1(Lm+5) )
24
1
= 10 log ( 16 x 100,1(78,7) + 8 x 100,1(52,1+5) )
24

MUHAMMAD SALEH RENOAT INDRA


09320150179 09320140095
PRAKTIKUM LINGKUNGAN TAMBANG
LABORATORIUM LINGKUNGAN TAMBANG
JURUSAN TEKNIK PERTAMBANGAN
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
PENGUKURAN TINGKAT KEBISINGAN DI LINGKUNGAN

1
= 10 log (1186096386 + 4102891,072 )
24

= 10 log 51171011,954
= 77,09 dB

4.2 Pembahasan

MUHAMMAD SALEH RENOAT INDRA


09320150179 09320140095
PRAKTIKUM LINGKUNGAN TAMBANG
LABORATORIUM LINGKUNGAN TAMBANG
JURUSAN TEKNIK PERTAMBANGAN
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
PENGUKURAN TINGKAT KEBISINGAN DI LINGKUNGAN

Berdasarkan pengamatan untuk pengujian menggunakan Sound Level Meter


(SLM) yang di donwload di Play stroy, pengamatan ini tidak terlalu akurat karena
alat yang di gunakan menggunakan aplikasi Handpone, maka data yang di dapat
terkadang tidak sesuai dengan perkiraan atau terkadang ada anomali. Sound Level
Meter (SLM) adalah suatu perangkat alat uji untuk mengukur tingkat kebisingan
suara, hal tersebut sangat di perlukan terutama untuk lingkungan industri, contoh
pada industri penerbangan dimana lingkungan sekitar harus diuji tingkat kebisingan
suara atau tekanan suara yang ditimbulkannya untuk mengetahui pengaruhnya
terhadap lingkungan sekitar, sesuai dengan pengertian Sound Level Meter (SLM)
kami mengambil data kebisingan di depan Kampus Universitas Muslim Indoneisa
dengan 10 data yang di ambil untuk data pertama atau menit 1 kami menggunakan
interval 5 detik, setiap 5 detik kami melihat alat sampai di mana tingkat kebisingan
begitupun sampai seterusnya sampai detik 60 dengan tingkat kebsingan yang di dapat
begitu berbeda karena kendarangan yang terkadang ramai dan tidak ada yang
langgar. Hasil perhitungan untuk tingkat kebisingan di depan Kampus Universitas
Muslim Indonesia dengan rata-rata 84 Hz, maka dia termasuk dalam peruntuhan
kawasan menurut Keputusan Mentri Negara Lingkungan Hidup tentang Baku Mutu
Kebisingan. Peruntuhan kawasan terkhusus lagi karena rata-ratanya 84 Hz maka dia
termasuk dalam kawasan stasiun kereta api

4.2.2 Problem set

Berdasarkan pengamatan untuk pengujian menggunakan Sound Level Meter


(SLM) yang di donwload di Play stroy, pengamatan ini tidak terlalu akurat karena
alat yang di gunakan menggunakan aplikasi Handpone, maka data yang di dapat
terkadang tidak sesuai dengan perkiraan atau terkadang ada anomali. Sound Level
Meter (SLM) adalah suatu perangkat alat uji untuk mengukur tingkat kebisingan
suara, hal tersebut sangat di perlukan terutama untuk lingkungan industri, contoh
pada industri penerbangan dimana lingkungan sekitar harus diuji tingkat kebisingan
suara atau tekanan suara yang ditimbulkannya untuk mengetahui pengaruhnya
terhadap lingkungan sekitar, sesuai dengan pengertian Sound Level Meter (SLM)

BAB V

MUHAMMAD SALEH RENOAT INDRA


09320150179 09320140095
PRAKTIKUM LINGKUNGAN TAMBANG
LABORATORIUM LINGKUNGAN TAMBANG
JURUSAN TEKNIK PERTAMBANGAN
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
PENGUKURAN TINGKAT KEBISINGAN DI LINGKUNGAN

PENUTUP

5.1 Kesimpulan

Sound Level Meter (SLM) adalah suatu perangkat alat uji untuk mengukur
tingkat kebisingan suara, hal tersebut sangat di perlukan terutama untuk lingkungan
industri, contoh pada industri penerbangan dimana lingkungan sekitar harus diuji
tingkat kebisingan suara atau tekanan suara yang ditimbulkannya untuk mengetahui
pengaruhnya terhadap lingkungan sekitar. Alat ini sangat membantu untuk
memperkecil kawasan sesuai dengan tingkat kebisingan.
Tingkat kebisingan dapat di dapat dengan menggunakan alat Sound Level
Meter (SLM) dengan alat dapat di ketahui tingkatan kebisingan sesuai dengan
tempatnya karena tidak semua tempat sama dengan kebisingannya, apabila tingkat
kebisingannya di atas rata-rata maka harus menggunakan ala.

5.2 Saran

5.2.1 Saran untuk asisten


Percobaan yang dimasukkan ke dalam mata acara alangka baiknya
diperhitungkan terlebih dahulu supaya bisa di laksakan dengan baik bukannya hanya
menjadi pajangan pada lembar kartu kontrol asistensi.
5.2.2 Saran untuk Laboratorium
Alat yang belum ada alangka baiknya diadakan kedepannya bukanya hanya
menambah mata acara tapi tidak ada alat.

MUHAMMAD SALEH RENOAT INDRA


09320150179 09320140095
PRAKTIKUM LINGKUNGAN TAMBANG
LABORATORIUM LINGKUNGAN TAMBANG
JURUSAN TEKNIK PERTAMBANGAN
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
PENGUKURAN TINGKAT KEBISINGAN DI LINGKUNGAN

DAFTAR PUSTAKA

www.google.com
(http://ujiorganoleptikresti.blogspot.com/2014/11/laporan-praktikum-teknik
laboratorium.html).

MUHAMMAD SALEH RENOAT INDRA


09320150179 09320140095