Anda di halaman 1dari 14

BAGIAN ILMU KULIT DAN KELAMIN TUGAS REFERAT

FAKULTAS KEDOKTERAN APRIL 2019


UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA

SYRINGOMA

Oleh:
AFRILIA CHAERUNNISA
111 2018 2118

Pembimbing Supervisor :
dr. Indira Eka Alisa Sp.KK, M.Kes

DIBAWAKAN DALAM RANGKA TUGAS KEPANITERAAN KLINIK


BAGIAN ILMU KULIT DAN KELAMIN
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
MAKASSAR
2019
HALAMAN PENGESAHAN

Yang bertandatangan di bawah ini menyatakan bahwa:

Nama : Afrilia Chaerunnisa


NIM : 111 2018 2118
Universitas : Univeristas Muslim Indonesia
Judul Refarat : Syringoma

Adalah benar telah menyelesaikan lapsus berjudul “Syringoma” dan telah


disetujui serta telah dibacakan dihadapan pembimbing dan supervisor dalam
rangka kepaniteraan klinik pada bagian Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin Fakultas
Kedokteran Universitas Muslim Indonesia.

Makassar, 11 April 2019


Supervisor Pembimbing

dr. Indira Eka Alisa Sp.KK, M.Kes


BAB I
PENDAHULUAN

Syringoma berasal dari kata Yunani syrnx, yang berarti pipa atau tabung. Ini

adalah tumor kulit jinak yang berasal dari kelenjar eccrine. Syringoma adalah

papula asimtomatik, tegas, bervariasi bentuknya miliar dan lentikuler dengan

diameter berukuran 1 - 5 mm. Permukaan syringoma berbentuk kubah yang

rendah atau flattopped. Lesi biasanya tumbuh lambat, kecil dan berwarna kulit

dan biasanya tampak pada wajah ketika masa puberitas. Meski biasanya papulnya

berwarna kulit, namun kadang syringoma juga bisa berwarna kuning, dan merah

kecoklatan, bahkan untuk yang berkulit gelap akan tampak ungu kebiru-biruan.1,2

Sejak pertama kali ditemukannya siringoma, tes antibody, antikeratin,

monoklonal, mikroskop elektron, dan histokimia semuanya telah mengkonfirmasi

sifat keringat kelenjar ekcrine intraepidermal dari penyakit ini. Siringoma

biasanya sporadik atau terjadi spontan. Beberapa kasus terjadi dengan latar

belakang familial yang diturunkan secara autosomal dominan. Meskipun belum

ada studi insiden siringoma yang dihubungkan dengan ras tertentu, siringoma

eruptif secara statistik lebih sering ditemukan pada orang Afro-Amerika dan

Asia.Biasanya onset inisial di masa pubertas dengan lesi bertambah beberapa

waktu kemudian.2,3

Syringomas paling sering ditemukan pada daerah kelopak mata bawah atau

atas, pipi dan dahi. Syringoma juga bisa muncul didaerah lain seperti leher atas,

dada, ekstremitas atas, aksila, lengan bawah volar, periumbilical dan daerah

genital.3,4
Syringoma adalah tumor jinak yang sering ditangani melalui tindakan

pembedahan, namun untuk kasus tertentu tidak memerlukan terapi atau diberikan

terapi non-pembedahan tetapi penulis merasa perlu untuk mengkaji lebih jauh

mengenai penyakit ini, karena mengingat prevalensi dari syringoma adalah

kebanyakan ras Asia dimana Indonesia merupakan salah satunya walaupun saat

ini belum ada epidemiologi yang mendata secara langsung.2,3


BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. DEFINISI

Syringoma berasal dari kata Yunani syrnx, yang berarti pipa atau tabung.

Ini adalah tumor kulit jinak yang berasal dari kelenjar eccrine. Syringoma adalah

papula asimtomatik, tegas, bervariasi bentuknya miliar dan lentikuler dengan

diameter berukuran 1 - 5 mm, Papul jarang mencapai 10 mm. Permukaan

syringoma berbentuk kubah yang rendah atau flattopped. Lesi biasanya tumbuh

lambat, kecil dan berwarna kulit dan biasanya tampak pada wajah ketika masa

puberitas. Meski biasanya papulnya berwarna kulit, namun kadang syringoma

juga bisa berwarna kuning, dan merah kecoklatan, bahkan untuk yang berkulit

gelap akan tampak ungu kebiru-biruan.3,4

B. EPIDEMIOLOGI

Beberapa kasus terjadi dengan latar belakang familial yang diturunkan

secara autosomal dominan. Meskipun belum ada studi insiden syringoma yang

dihubungkan dengan ras tertentu, syringoma eruptif secara statistik lebih sering

ditemukan pada orang Afro-Amerika dan Asia.2,3

Syringoma atau hidradenomes eruptifs, syringocystadenoma, syringo-

cystoma adalah tumor jinak adenoma duktus kelenjar ekrin intraepidermis yang

biasanya multipel. Siringoma sangat jarang ditemukan pada populasi umum, di

Amerika terdapat sekitar 1% populasi siringoma. Wanita lebih sering mengalami


siringoma dibanding pria. Biasanya onset inisial di masa pubertas dengan lesi

bertambah beberapa waktu kemudian.2

C. ETIOLOGI

Syringoma diasosiasikan dengan sindrom yang paling sering ialah Down

syndrome dan sindrom unik lainnya ialah Nicolau-Balus syndrome yaitu suatu

sindrom yang terdiri dari siringoma eruptif tipe diseminata mikropapuler, kista

ilium, dan atrofoderma vermikulata. Sangat jarang, siringoma diasosiasikan

dengan Brooke- Spiegler syndrome, suatu penyakit autosomal dominan. Beberapa

literatur menyebutkan pengaruh hormon terhadap terjadinya syringoma. Hal ini

dikonfirmasi dengan adanya peningkatan insiden syringoma pada wanita sebelum

dan sekitar masa pubertas dengan keluhan pruritus setiap siklus menstruasi. Juga

dilaporkan manifestasi siringoma vulva selama kehamilan.Pengaruh hormonal

lainnya ialah adanya laporan clear-cell syringoma yang diasosiasikan dengan

2,3
diabetes melitus.

D. PATOMEKANISME

Syringoma berasal dari saluran ekrin yang berada di intradermal. Menurut

peneliti faktor-faktor lokal termasuk obstruksi duktus oleh sumbatan keratin yang

menyebabkan proliferasi duktus dari kelenjar ekrin sehingga berperan dalam

patogenesis terjadinya inflamasi.


E. DIAGNOSIS

Diagnosis penyakit ini ditegakkan atas dasar anamnesis dan histopatologi.

Anamnesis : Berdasarkan teori mengenai gejala klinis syringoma, dapat dimulai

dengan munculnya papul-papul kecil di bawah mata yang berukuran miliar atau

lenticular, berwarna seperti kulit, berbatas tegas tanpa disertai gejala yang khas.3,4

Gambar 1. Syringoma

Gambar 2. Syringoma secara close up


histologi : dapat ditemukan proliferasi duktus di dermis yang dilapisi oleh dua

lapisan epitel cuboidal dan dikelilingi oleh stroma fibrotik.

Gambar 3. Histologi Syringoma

F. DIAGNOSIS BANDING

1. Milia

Adapun diagnosis banding dari kasus ini adalah milia dan akne. Milia

adalah kista epithelial yang berasal dari penyumbatan saluran kelenjar ekrin.

Frekuensi kejadian milia sama pada pria dan wanita, biasanya pada usia dewasa

dan dapat pula muncul pada bayi baru lahir. Iklim panas banyak keringat

mempermudah timbulnya penyakit ini. Kista tampak berupa bintik-bintik kecil

berukuran miliar, multiple, berwarna putih, dan sering kali berkelompok. Milia

berukuran kecil, garis tengahnya jarang melebihi 2 mm. milia biasanya berwarna

krim pucat atau putih. Pada neonatus, lesi terebar di wajah. Pada orang dewasa,

milia akibat trauma ataau lepuh dapat timbul dimana saja. Lokasi tersering pada
daerah bawah mata, wajah, konjungtiva dan korpus penis. Gambaran

histopatologi penyakit ini berupa suatu retensi kista, dengan dinding terdiri dari

sel-sel epidermis dan berisi cairan putih kuning.1

Gambar 4. Milia di daerah bawah mata

2. Akne Vulgaris

Akne vulgaris adalah penyakit peradangan menahun folikel pilosebasea

yang umumnya terjadi pada masa remaja dan dapat sembuh sendiri. Gambaran

klinis akne vulgaris sering polimorfi; terdiri atas berbagai kelainan kulit berupa

komedo, papul, pustule, nodus, dan jaringan parut yang terjadi akibat kelainan

kulit berupa komedo, papul, pustule, nodus, dan jaringan parut yang terjadi akibat

kelainan aktif tersebut, baik jaringan parut yang hipotrofik maupun hipertropik.

Meskipun penyebab penyakit ini belum diketahui namunada berbagai factor yang

dikaitkan.11
- Perubahan pola keratinisasi dalam folikel. Keratinisasi dalam filokel yang

biasanya berlangsunglonggar berubah menjadi padat sehingga sukar lepas

dari saluran folikel tersebut.

- Produksi sebum yang meningkat yang menyebabkan meningkatkan unsur

komedogenik dan inflamtogenikpenyebab terjadinya lesi akne.

- Terbentuknya fraksi asam lemakbebas penyebab terjadinya proses inflamasi

folikel dalam sebum dan kekentalan sebum yang penting pada patobenesis

penyakit.

- Peningkatan jumlah flora folikel yang berperan proses kemotaktik inflamasi

serta pembentukan enzim lipolitik pengubah fraksi lipid sebum.

- Terjadi respon hospes berupa pembentukan circulating antibodies yang

memperberat akne.

- Peningkatan kadar hormone androgen, anabolic, kortikosteroid, gonadotropin

serta ACTH yang mungkin menjadi faktor penting pada kegiata kelenjar

sebasea.

- Terjadi stress spikis yang dapat memicu kegiatan kelenjar sebasea, baik

secara langsung atau melalui rangsangan terhadap kelenjar hipopisis.

Tempat predileksi akne vulgaris adlah di daerah muka, bahu, dada bagian atas dan

punggung bagian atas. Lokasi kulit lain, misalnya leher, lengan atas dan glutea

kadang-kadang terkena. Erupsi kulit polimorfik dengan gejala predominan salah

satunya, komedo, papul, yang tidak meradang dan pustule, nodus dan kista yang

meradang. Dapat di sertai rasa gatal. Diangnosis akne vulgaris ditegakkan atas

dasar klinis dan pemeriksaan ekskohleasi sebum, yaitu pengeluaran sumbatan


sebum dengan komedi ekstraktor (sendok unna). Sebum yang menyumbat folikel

tampak sebagai massa padat seperti lilin atau massa lebih lunak bagai nasi yang

ujungnya kadang berwarna hitam. Pemeriksaan histopatologi memperlihatkan

gambaran yang tidak spesifik berupa sebukan sel radang kronis disekitar folikel

pilosebasea dengan massa sebum didalam folikel.

Gambar 4. Acne secara close up (tampakan komedo)

Gambar 5. Acne Vulgaris


G. TERAPI

Pengobatan bertujuan destruksi tumor dengan skar minimal. Pilihan

pengobatan antara lain dengan bedah eksisi, kuretase, krioterapi, chemical

peeling, dermabrasi, elektrodesikasi dan terapi laser. Beberapa teknik pengobatan

siringoma yang belakangan ini banyak dikembangkan antara lain elektrodesikasi

menggunakan short burst high frequency low voltage intralesional dengan

memakai elektroda jarum halus atau jarum epilasi, atau kombinasi laser CO2

vaporisasi dengan aplikasi asam trikloroasetat 50% memberi- kan hasil yang

cukup memuaskan, tanpa jaringan parut dan bebas lesi 6 bulan hingga 4 tahun.3,4

Pengobatan untuk syringomas biasanya tidak diperlukan, dan sering

dilakukan pada area tubuh yang terlihat dengan alasan kosmetik, atau jika

simtomatik. Syringoma biasanya tidak memperbaiki terapi medis berikut dengan

steroid atau salep topikal, dan dengan demikian perawatan harus dilakukan

dengan pembedahan. Pembedahan yang di anjurkan baik dengan eksisi,

elektrodikasi, dan pengobatan laser karbon dioksida dapat dilakukan dengan hasil

yang memuaskan. Meski pruritis bisa diatasi, kekambuhan tumor dan

pembentukan parut setelah pengobatan biasa terjadi.5

H. PROGNOSIS

 Qou ad vitam : bonam

 Qou ad function : bonam

 Qou ad sanationam : bona


BAB IV

KESIMPULAN

Siringoma adalah tumor jinak kelenjar ekrin. Memiliki gambaran klinis

papul yang berbatas tegas, berwarna kulit sampai kecoklatan pada kelopak mata

bagian bawah. Syringoma sebagian besar hadir pada kelompok remaja dengan

papula di bagian atas tubuh. Ukuran papul sekitar 1 - 5 mm, biasanya < 3 mm dan

jarang mencapai 10 mm, paling sering terkena di daerah kelopak mata bawah dan

malar atas. Umumnya keluhan muncul tanpa memiliki gejala khusus.

Prinsip dasar penanganan elektro cauter pada Syringoma adalah untuk

menghilangkan papul-papul dengan jumlah banyak yang ada di bawah mata.

Namun terapi yang diberikan tidak dapat memastikan gejala tidak akan muncul

kembali, di sebabkan penyebab munculnya gejala belum diketahui secara pasti.


DAFTAR PUSTAKA

1. Elsayed, M., & Assaf, M. 2009. Familial Eruptive Syringoma. Egyptian


Dermatology Online Journal, 5 (1), 1-2

2. Istiqamah, Dian. Syringoma. Makassar: Bagian Ilmu Penyakit Kulit


Kelamin Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Makassar

3. Mawu F. O. Tumor Jinak Pada Kulit Wajah. Manado: Bagian Kulit dan
Kelamin Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi’

4. Gusti, I Agung, Rata. 2011. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin. Jakarta:
FKUI. Edisi Keenam. Hal 230.

5. Straus, Stephen E. Oxman, Michael N. Schmader, Kenneth E. Varicella.


In: Fitzpatrick’s Dermatology in General Medicine; seventh edition, vol 1
and 2. 2008. P.1885-1895.