Anda di halaman 1dari 56

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Dasar Penyelenggaraan
Aparatur Sipil Negara (ASN) saat ini memiliki peranan penting dalam
penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan dalam usaha mencapai tujuan
nasional. Oleh sebab itu ASN dituntut supaya memiliki kesetiaan, kepatuhan dan
integritas penuh dalam menjalankan tugasnya serta ASN diharapkan dapat memusatkan
dan mengerahkan seluruh kemampuannya untuk mencapai tujuan nasional
sebagaimana tercantum dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945. Aparatur Sipil
Negara (ASN) adalah profesi bagi pegawai negeri sipil (PNS) dan pegawai pemerintah
dengan perjanjian kerja (PPPK) yang bekerja pada instansi pemerintah. Pegawai ASN
memiliki fungsi sebagai pelaksana kebijakan publik, pelayan publik, serta perekat dan
pemersatu bangsa. Selain itu, pegawai ASN juga berperan sebagai perencana,
pelaksana, dan pengawas penyelenggaraan tugas umum pemerintahan dan
pembangunan nasional melalui pelaksanaan kebijakan dan pelayanan publik yang
profesional, bebas dari intervensi politik, serta bersih dari praktik korupsi, kolusi dan
nepotisme.
Setiap warga negara Indonesia mempunyai hak dan kesempatan yang sama untuk
melamar menjadi PNS jika telah memenuhi semua persyaratan serta lulus dalam proses
seleksi melalui penilaian secara objektif berdasarkan kualifikasi yang dibutuhkan
kompetensi yang dimiliki terkait jabatan yang dilamar. Peserta yang lolos seleksi akan
diangkat menjadi calon PNS (CPNS). CPNS wajib menjalani masa percobaan selama
1 tahun, dan dalam periode tersebut harus melewati proses pendidikan dan pelatihan
dasar yang terintegrasi untuk membangun integritas, profesionalisme, rasa
nasionalisme dan kebangsaan serta membangun karakter yang berkepribadian yang
unggul dan bertanggung jawab dalam bidang tugasnya.
Dasar penyelenggaraan pelatihan dasar CPNS adalah mengacu pada UU Nomor
5 tahun 2014 tentang Aparatur Sipil Negara dan Peraturan Pemerintah No. 11 tahun
2017. Juga berpedoman pada Peraturan Lembaga Administrasi Negara No. 25 tahun
2017 tentang Pedoman Penyelenggaraan Pelatihan Dasar Calon PNS Golongan III.
Dalam pelatihan dasar CPNS, setiap peserta dipersiapkan, dibekali materi-materi
sehingga diharapkan dapat memiliki kemampuan mengaktualisasikan lima nilai dasar

1
ASN yaitu kemampuan mewujudkan akuntabilitas, kemampuan mengedepankan
kepentingan nasional, kemampuan menjunjung tinggi standar etika publik, kemampuan
berinovasi untuk peningkatan mutu, kemampuan untuk tidak korupsi.
Pembentukan karakter ASN yang sesuai dengan nilai dasar tersebut dilaksanakan
pada proses pendidikan dan pelatihan (diklat) sebagai tahap internalisasi. Melalui
proses diklat latihan dasar, CPNS mendapatkan penjelasan, pendalaman, penghayatan,
dan penguasaan nilai-nilai dasar tersebut. Selayaknya proses belajar yang baik, suatu
konsep akan dapat dikuasai secara penuh setelah diterapkan dalam proses keseharian.
Penerapan nilai-nilai inilah yang membutuhkan rangkaian proses perencanaan yang
dimulai dengan pendataaan tugas pokok (sasaran kerja pegawai) di satuan/unit kerja,
penetapan masalah dan pemecahan isu untuk kemudian merujuk penerapan nilai-nilai
dasar dalam kegiatan tersebut. Proses ini dikenal dengan istilah aktualisasi.
Pelaksanaan Pelatihan dasar CPNS dilakukan sebagai syarat untuk dapat diangkat
menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS) yang diharapkan memiliki nilai-nilai dasar
akuntabilitas, nasionalisme, etika publik, komitmen mutu dan anti korupsi serta
memahami pentingnya peranan PNS dalam pelayanan publik yang optimal, manajemen
ASN dan mengetahui Whole of Government. Maka disusunlah aktualisasi ini sebagai
salah satu syarat untuk dapat menyelesaikan pelatihan dasar CPNS.

Pola Penyelenggaraan Pelatihan Dasar


Pendidikan dan pelatihan dasar CPNS Kemenkes Golongan III dan II angkatan
I dan II diselenggarakan selama 116 hari kerja dari tanggal 2 April 2018 hingga 23
September 2018 yang terdiri dari 3 tahap:
o Tanggal 3 April 2018 – 19 Mei 2018 on campus di Balai Pelatihan Kesehatan
(Bapelkes) Batam.
o Tanggal 21 Mei 2018 – 21 September 2018 off campus untuk melaksanakan
kegiatan aktualisasi di unit kerja masing-masing, dalam hal ini untuk penulis di
Rumah Sakit Kusta Rivai Abdullah Palembang
o Tanggal 23 September 2018 – 27 September 2018 evaluasi aktualisasi di Balai
Pelatihan Kesehatan (Bapelkes) Batam
Kompetensi yang dibangun selama Pelatihan Dasar
Kompetensi yang dibangun dalam Pelatihan Dasar Calon PNS Golongan III adalah
kompetensi PNS sebagai pelayan masyarakat yang profesional, yang diindikasikan dengan

2
kemampuan:

1. Menunjukkan sikap perilaku bela negara


2. Mengaktualisasikan nilai-nilai dasar PNS dalam pelaksanaan tugas jabatannya;
3. Mengaktualisasikan kedudukan dan peran PNS dalam kerangka NKRI;
4. Menunjukkan penguasaan kompetensi teknis yang dibutuhkan sesuai bidang tugas.

Pembentukan kompetensi ASN yang sesuai dengan kemampuan diatas


dilaksanakan pada proses pendidikan dan pelatihan (diklat) sebagai tahap internalisasi.
Dengan proses pendidikan dan latihan dasar, CPNS mendapatkan penjelasan,
pendalaman, penghayatan, dan penguasaan terhadap kompetensi tersebut. Selain itu,
peserta pelatihan dasar CPNS Golongan III memiliki kemampuan untuk menganalisis dampak
apabila kompetensi sikap perilaku bela negara, nilai nilai dasar PNS, dan kedudukan dan peran
PNS dalam kerangka NKRI tidak diterapkan dalam tugasnya di satuan kerjanya.

Tahapan Aktualisasi
Aktualisasi dilakukan dengan terlebih dahulu mengidentifikasi isu-isu yang ada
di tempat kerja dan menganalisanya untuk mendapatkan isu terpilih menggunakan
kriteria analisa yaitu USG (Urgency, Seriousness and Growth), kemudian
menentukan langkah-langkah kegiatan dalam rangka menyelesaikan isu yang telah
dipilih dengan mengaktualisasikan nilai-nilai dasar profesi PNS meliputi
Akuntabilitas, Nasionalisme, Etika publik, Komitmen mutu dan Anti Korupsi serta
melihat aspek pelayanan publik manajemen ASN dan Whole of Government.
Aktualisasi ini akan dilaksanakan mulai tanggal 21 Mei 2018 sampai dengan tanggal
21 September 2018 di lingkungan triase Instalasi Gawat Darurat RSUP dr.
Mohammad Hoesin Palembang dengan rincian sebagai berikut:

a) Merancang aktualisasi
Dalam merancang aktualisasi, setiap peserta dituntut untuk:
 Mengidentifikasi, menyusun dan menetapkan isu atau permasalahan yang
terjadi dan harus segera dipecahkan.
 Mengajukan gagasan pemecahan isu dengan menyusunnya dalam daftar
rencana, tahapan, dan output kegiatan.
 Mendeskripsikan keterkaitan antara isu dan kegiatan yang diusulkan dengan
mata pelatihan Manajemen ASN, Pelayanan Publik, dan Whole Of

3
Government dalam satu atau keseluruhan perspektif mata pelatihan, baik
secara langsung maupun tidak langsung.
 Mendeskripsikan rencana pelaksanaan kegiatan dan kontribusi hasil kegiatan
yang didasari aktualisasi nilai-nilai dasar PNS.
 Mendeskripsikan hasil kegiatan yang dilandasi oleh substansi mata pelatihan
terhadap pencapaian visi, misi, tujuan organisasi, dan penguatan terhadap
nilai-nilai organisasi.

b) Mempresentasikan rancangan aktualisasi


Tujuan presentasi yaitu untuk mendapatkan masukan agar rancangan aktualisasi
tersebut layak dan logis diterapkan. Komponen utama yang harus dipresentasikan
peserta adalah:
 Argumentasi terhadap core issue yang dipilih, konsep pokok mata pelatihan
yang melandasi core issue, dan penetapan inisiatif pemecahan core issue
yang dipilih
 Usulan-usulan inisiatif, baik berupa pikiran konseptual dan/atau aktivitas-
aktivitas dalam rangka memecahkan core issue tersebut
 Kontribusi hasil kegiatan terhadap visi, misi dan tujuan organisasi
 Kontribusi hasil kegiatan terhadap penguatan nilai-nilai organisasi

c) Melakukan aktualisasi
Setelah kembali di tempat kerja, pserta dituntut untuk segera melaksanakan
kegiatan-kegiatan yang telah direncanakan dengan penuh disiplin dan tanggung
jawab, sesuai dengan jadwal yang telah direncanakan. Ada 3 hal yang perlu
dilakukan peserta saat off campus, yaitu:
 Mendalami core issue yang dipilih dan dukungan konsep pokok mata
pelatihan yang melandasi pemilihan core issue dan penetapan inisiatif
pemecahan core issue yang dipilih.
 Menerapan terhadap usulan-usulan inisiatif baik berupa pikiran konseptual
dan/atau aktivitas-aktivitas dalam rangka memecahkan core issue.
 Menganalisis dampak hasil inisiatif dan menjaga keberlangsungan inisiatif
yang telah dilakukan.

4
d) Melaporkan aktualisasi
Selama off campus, peserta membuat laporan aktualisasi harian atau mingguan
atau periode tertentu di bawah bimbingan coach atau mentor. Muatan laporan
aktualisasi yaitu deskripsi core issue yang terjadi dan strategi pemecahannya,
proses menerapkan inisiatif gagasan kreatif yang telah dirancang yang didukung
dengan dukungan bukti-bukti pembelajaran seperti doumen, notulensi, video
serta analisis terhadap dampak yang ditimbulkan dan analisi dampak jika nilai-
nilai dasar PNS tidak diterapkan dalam pelaksanaan tugas jabatannya.

e) Mempresentasikan laporan aktualisasi


Presentasi laporan aktualisasi bertujuannya untuk mendapatkan penilaian atas
aktualisasi yang telah dilakukan dan mendapatkan masukan agar ke depan
kualitas aktualisasi dapat dilanjutkan dalam pelaksanaan tugas dan jabatannya.
Komponen utama yang harus dipresentasikan peserta yaitu:
 Argumentasi terhadap core issue yang dipilih yang didukung konsep pokok
mata pelatihan dan penetapan inisiatif pemecahan core issue yang dipilih
 Proses dan kualitas mengelola dan menjalankan inisiatif dan identifikasi
dampak hasil inisiatif, level dampak dan keberlangsungan inisiatif
 Kontribusi hasil kegiatan terhadap visi, misi dan tujuan organisasi
 Kontribusi hasil kegiatan terhadap penguatan nilai-nilai organisasi
 Hasil analisis konseptual, dampak apabila nilai-nilai dasar PNS tidak
diaplikasikan dalam pelaksanaan tugas dan jabatannya.
f) Pembimbing
Pembimbing yang terlibat dalam pembelajaran aktualisasi adalah pengajar yang
memiliki kompetensi untuk memfasilitasi pembelajaran agenda habituasi dan
penguatan kompetensi teknis bidang tugas di tempat kerja. Pembimbing terdiri
dari coach dan mentor.

a. Profil Organisasi
RSUP Dr.Mohammad Hoesin Palembang pada awalnya bernama Rumah Sakit
Umum Pusat Palembang beroperasional sejak tanggal 3 Januari 1957 dimulai dengan
fasilitas sederhana pada pelayanan rawat jalan serta pelayanan penunjang yang terbatas.

5
Pada bulan November 1957 pelayanan berkembang dengan adanya pelayanan rawat
inap dengan jumlah tempat tidur 78 unit, disertai penambahan fasilitas lainnya dan
ditetapkan sebagai RS Type C.
Di bidang Pendidikan Kedokteran pada tahun 1972 RSUP Palembang
ditetapkan sebagai Rumah Sakit Pendidikan Type B yang sudah dilengkapi dengan
fasilitas pelayananan yang memadai dan cukup lengkapnya tenaga dokter spesialis
serta sebelumnya telah berkembang menjadi tempat pendidikan paramedis di tahun
1959 dan berkerjasama dengan Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya di tahun
1968 . Pada tahun 1980 RSUP Dr.Mohammad Hoesin Palembang mulai dijadikan
sebagai tempat pendidikan Dokter Spesialis Universitas Sriwijaya.
Adanya kebijakan pemerintah terhadap beberapa Rumah Sakit Vertikal agar
dapat meningkatkan mutu layanannya maka salah satunya RSUP Dr. Mohammad
Hoesin Palembang dinyatakan sebagai Rumah sakit Swadana berdasarkan keputusan
Menteri Kesehatan RI Nomor: 1134/MENKES/SK/1993 tanggal 10 Desember 1993.
RSUP Palembang resmi menggunakan nama RSUP Dr. Mohammad Hoesin
Palembang pada tanggal 4 Oktober 1997 berdasarkan SK Menteri Kesehatan
RI Nomor: 1297/MENKES/SK/XI/1997.
Di bidang organisasi RSUP Dr. Mohammad Hoesin Palembang telah
mengalami beberapa kali perubahan struktur organisasi salah satunya pada tahun 1994
struktur organisasi RSUP Dr. Mohammad Hoesin Palembang berdasarkan SK Menteri
Kesehatan RI nomor: 549/MENKES/SK/VI/1994 tanggal 13 Juni 1994. Perubahan ini
seiring dengan perubahan status RS menjadi Unit Swadana. Pada tahun 2000
berdasarkan PP nomor: 122/2000, RSUP dr. Mohammad Hoesin Palembang ditetapkan
manjadi Rumah Sakit Perusahaan Jawatan, karena perubahan status tersebut maka
terjadi perubahan susunan organisasinya sesuai Peraturan Perusahaan Jawatan dimana
tidak adanya peraturan eselonisasi. Struktur Organisasi dan tata kerja RSUP
Dr.Mohammad Hoesin Palembang diatur berdasarkan SK No: YM.00.03.2.2.330
tanggal 13 Maret 2002.
Pada tahun 2005 adanya kebijakan pemerintah terhadap 13 rumah sakit vertikal
termasuk RSUP Dr. Mohammad Hoesin Palembang berdasarkan SK MENKES RI
nomor: 1243/MENKES/SK/VIII/2005, tentang penetapan 13 (tigabelas) eks rumah
sakit Perusahaan Jawatan (PERJAN) menjadi unit pelaksana teknis (UPT) Depertemen
Kesehatan RI dengan menerapkan Pola Pengelolaan Keuangan Badan Layanan
Umum(BLU).

6
RSMH merupakan Rumah sakit pendidikan utama Fakultas Kedokteran
Universitas Sriwijaya sesuai SK Menkes Nomor HK.0202/MENKES/192/2015 tanggal
27 Mei 2015 dengan mewujudkan Academic Health System (AHS). Selain itu sesuai
dengan PERMENKES No. HK.02.02/MENKES/390/2014 tanggal 17 Oktober 2014
ditetapkan menjadi Rumah Sakit Pusat Rujukan Nasional.

b. Visi, Misi, Motto, Tata Nilai, dan Perilaku Utama


Visi
Menjadi rumah sakit pendidikan dan rujukan nasional yang berstandar internasional
tahun 2019
Misi
1. Menyelenggarakan pelayanan, pendidikan dan penelitian berstandar
internasional
2. menyelenggarakan promosi kesehatan secara komprehensif dan berkelanjutan
3. Menjalin kemitraan dan melaksanakan sistem rujukan dengan rumah sakit
jejaring
4. Meningkatkan kompetensi, kinerja dan kesejahteraan pegawai
Motto
Kesembuhan dan kepuasan Anda merupakan kebahagiaan kami
Tata Nilai
Sinergi, Integritas, Profesional
Perilaku Utama
 Koordinasi, Kolaborasi, dan Satu Persepsi
 Jujur, Disiplin, Konsisten, Komitmen, dan Menjadi Teladan
 Tanggung Jawab, Kompeten, Bekerja tuntas, Akurat, Efisien dan Efektif

7
c.Struktur Organisasi
Gambar 1.1 Struktur Organisasi RSUP dr Mohammad Hoesin

SMF DOKTER UMUM

KETUA : dr.Riza Chandra


Anggota :
dr.Ratih Riesafitri
dr. Feberuyanti
dr.Arif Yudha Prawira
dr. Winny A G, M.MRS
dr.Sri Aulia
dr. Yenny

1.2. Tujuan dan Manfaat


2.1. Bagi Peserta
Dalam aktualisasi pembelajaran ini diharapkan peserta mampu
mengimplementasikan nilai-nilai dasar profesi ASN sesuai indikator yang terkandung
dalam Akuntabilitas, Nasionalisme, Etika publik, Komitmen mutu dan Anti korupsi
(ANEKA) dalam melaksanakan tugas serta mengaktualisasi pemahaman mengenai
peran ASN dalam pelayanan publik, manajemen ASN dan Whole of Government.
Setelah mendapatkan materi tentang nilai-nilai dasar ASN, peserta diklat
diharapkan mampu memahami, internalisasi dan melakukan implementasi nilai-nilai
tersebut melalui proses aktualisasi di unit satuan kerja dan peserta diharapkan dapat
memahami kegunaan proses aktualisasi ini pada visi dan misi organisasi.
2.2 Bagi Organisasi
Manfaat yang didapatkan dari pembelajaran ini terhadap organisasi adalah
adanya perubahan dan perbaikan sistem pada instansi atau satuan kerja tempat peserta

8
bekerja. Dengan adanya aktualisasi nilai dasar profesi ASN diharapkan peserta mampu
membawa perubahan perilaku yang berdampak positif bagi kemajuan Rumah Sakit
sehingga dapat memberikan pelayanan paripurna bagi msayarakat.

1.3. Ruang Lingkup Aktualisasi

Pendidikan dan pelatihan dasar CPNS Kemenkes Golongan III angkatan I dan
II diselenggarakan selama 116 hari kerja dari tanggal 2 April 2018 hingga 28 September
2018 yang terdiri dari 3 tahap:

1. Tanggal 2 April – 18 Mei 2018 on campus di Balai Pelatihan Kesehatan


(Bapelkes) Batam.

2. Tanggal 21 Mei – 21 September 2018 off campus untuk melaksanakan


kegiatan aktualisasi di unit kerja masing-masing, dalam hal ini untuk
penulis di Rumah Sakit Umum Pusat dr. Mohammad Hoesin Palembang.

3. Tanggal 24-28 September 2018 evaluasi aktualisasi di Balai Pelatihan


Kesehatan (Bapelkes) Batam.

Ruang lingkup rancangan kegiatan aktualisasi ini meliputi persiapan,


pelaksanaan, pelayanan serta evaluasi di Triase Instalasi Gawat Darurat Rumah Sakit
Mohammad Hoesin Palembang, yang menerapkan nilai-nilai akuntabilitas,
nasionalisme, etika publik, komitmen mutu, dan anti korupsi sebagai Aparatur Sipil
Negara (ASN) serta dengan menimbang aspek pelayanan publik, manajemen ASN serta
Whole of Government. Ruang lingkup (lokus dan fokus) rancangan kegiatan aktualisasi ini
meliputi:

1. Persiapan petugas kesehatan di triase dalam penerimaan pasien di triase IGD.


2. Optimalisasi standar operasional prosedur penerimaan dan pelayanan pasien.
3. Persiapan instrumen bantu yang menunjang kegiatan pelayanan pasien di
triase.

Waktu yang diharapkan mulai dari datangnya pasien sampai pasien mendapatkan
pelayanan kesehatan oleh dokter adalah maksimal 5 menit. Diharapkan target tersebut dapat
dicapai, dengan menerapkan nilai-nilai akuntabilitas, nasionalisme, etika publik, komitmen
mutu, dan anti korupsi sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN) serta dengan menimbang aspek
pelayanan publik, manajemen ASN serta Whole of Government.

9
1.4. Data Diri Peserta

Penulis adalah peserta Pelatihan Dasar CPNS Kemenkes golongan III angkatan I yang
mengikuti program pelatihan dasar bulan April - September 2018. Penulis ditempatkan di
bagian staf medik fungsional dokter umum yang ditugaskan sebagai dokter triase pada triase
Instalasi Gawat Darurat RSUP dr. Mohammad Hoesin Palembang.
Tugas jabatan dan target yang harus dicapai oleh seorang staf medis dimuat dalam
Sasaran Kinerja Pegawai (SKP). Selain sebagai deskripsi tugas, SKP juga merupakan alat
kendali agar setiap kegiatan pelaksanaan tugas pokok setiap PNS selaras dengan tujuan yang
telah ditetapkan dalam rencana strategis organisasi. Setiap kegiatan tugas jabatan yang akan
dilakukan harus berdasarkan tugas dan fungsi, wewenang, tanggung jawab dan uraian tugas
yang telah ditetapkan dalam Struktur Organisasi dan Tata Kerja. SKP wajib disusun oleh
seluruh PNS, baik jabatan struktural maupun fungsional sesuai dengan rencana kerja organisasi
yang kemudian dinilai oleh atasan langsung.

1.5. Analisis Isu


1. Enviromental Scanning
Isu adalah sebuah masalah yang belum terpecahkan yang siap diambil
keputusannya. Isu merepresentasikan suatu kesenjangan antara praktik organisasi
dengan harapan-harapan para stakeholder. Berdasarkan definisi tersebut, isu
merupakan suatu hal yang terjadi baik di dalam maupun di luar organisasi yang apabila
tidak ditangani secara baik akan memberikan efek negatif terhadap organisasi bahkan
dapat berlanjut pada tahap krisis.
Penulis merupakan dokter umum yang bertugas memberikan pelayanan di triase
Instalasi Gawat Darurat, selama 1 bulan berkerja di triase penulis melihat terdapat
berbagai masalah yang terjadi diantaranya yaitu sedikitnya pengetahuan pasien tentang
pelayanan gawat darurat dengan menggunakan JKN sering terjadi di Instalasi Gawat
Darurat rumah sakit mengakibatkan banyaknya pasien yang datang ke IGD untuk
menerima pelayanan seringkali bukan merupakan kasus kegawatan, namun harus tetap
dilayani. Hal ini membuat antrian dan tumpukan pasien di IGD meningkat, dilain pihka
jumlah tenaga kesehatan yang tidak diimbangi dengan peningkatan jumlah kunjungan
pasien di IGD membuat pelayanan di IGD belum optimal.

10
Selanjutnya untuk beberapa kasus penyakit yang sering datang seperti stroke
perlu lebih dioptimalisasi. Stroke adalah suatu tanda klinis yang berkembang cepat
akibat gangguan otak fokal (atau global) dengan gejala-gejala yang berlangsung
selama 24 jam atau lebih dan dapat menyebabkan kematian tanpa adanya penyebab
lain yang jelas selain vaskuler. Penyakit stroke merupakan kelainan neurologi yang
paling tinggi insiden dan prevalensinya di rumah sakit di Indonesia dan penyakit dengan
tingkat kecacatan tinggi pada usia di atas 45 tahun. Oleh karena itu diperlukannya
penanganan pasien stroke yang optimal dan cepat.
Selain itu meningkatnya jumlah kunjungan pasien ke Instalasi gawat darurat
belum diiringi peningkatan jumlah tenaga kesehatan yang bertugas di Instalasi tersebut.
Dengan petugas yang terbatas pengaturan dan penjadwalan kerja sangatlah penting, hal
ini perlu diperhatian sehingga tidak mengakibatkan dampak pada pelayanan kepada
pasien. Sehingga diharapkan dengan pengaturan dan penjadwalan kerja yang baik bagi
petugas kesehatan yang ada di triase IGD dapat meningkatkan pelayanan yang optimal
kepada pasien.
Berkaitan dengan rancangan aktualisasi ini, sumber isu yang diangkat berasal
dari tugas pokok dan fungsi (Tupoksi), Sasaran Kinerja Pegawai (SKP), kegiatan yang
diinisiatif oleh penulis melalui persetujuan coach dan mentor, serta penugasan dari
atasan. Berdasarkan kaitannya dengan Manajemen ASN, Whole of Government (WoG),
dan Pelayanan Publik, penulis menemukan beberapa isu sebagai berikut:
1. Belum optimalnya pengetahuan pasien tentang pelayanan gawat darurat dengan
menggunakan JKN.
2. Optimalisasi Response Time triase pada kasus stroke di Instalasi Gawat Darurat
RS. Dr.Moh. Hoesin
3. Belum optimalnya jadwal jaga dokter triase RSUP dr. Moh. Hoesin.

2.Alat Bantu Analisis


Berdasarkan identifikasi isu yang telah dipaparkan, perlu dilakukan proses
identifikasi isu untuk menentukan isu mana yang merupakan prioritas yang dapat
dicarikan solusi oleh penulis. Proses identifikasi isu tersebut menggunakan alat bantu
penetapan kriteria kualitas isu. dengan metode USG (Urgency, Seriousness, dan
Growth) untuk memilih isu yang akan dicarikan solusinya. Urgency adalah seberapa

11
mendesak isu tersebut harus dibahas, dianalisa dan ditindaklanjuti. Seriousness adalah
seberapa serius isu tersebut harus dibahas, dianalisa dan ditindaklanjuti. Sedangkan
Growth adalah seberapa besar kemungkinan memburuknya isu tersebut jika tidak
ditangani segera.
Secara lengkap analisis penilaian kualitas isu dengan metode USG dapat dilihat
pada tabel dibawah ini:

Tabel 1.1 Analisa Isu dengan Metode USG

No Isu U S G Total Peringkat


Belum optimalnya pengetahuan pasien tentang
pelayanan gawat darurat dengan menggunakan
1. 4 3 3 10 2
JKN

Optimalisasi Response Time triase pada kasus


2. stroke di Instalasi Gawat Darurat RS. Dr.Moh. 4 4 4 12 1
Hoesin
Belum optimalnya jadwal jaga dokter triase
3. RSUP dr. Moh. Hoesin 3 2 2 7 3

Keterangan :
Skala Likert 1-5 (5= sangat besar, 4 = besar, 3= sedang, 2= kecil, 1= sangat kecil)
Berdasarkan hasil penilaian prioritas masalah menggunakan USG, skor tertinggi
ada pada masalah “Optimalisasi waktu respon triase kasus stroke IGD RS. Dr.Moh.
Hoesin”. Masalah ini memiliki skor nilai 12 dan menjadi masalah prioritas yang akan
dibahas dalam rancangan aktualisasi.

3 Rumusan Isu
Berdasarkan analisa dengan metode USG penulis memilih isu “Optimalisasi
Response Time triase pada kasus stroke di Instalasi Gawat Darurat Rumah Sakit
Dr.Moh. Hoesin” (Manajemen ASN).

12
4. Identifikasi Sumber ISU

Instalasi Gawat Darurat (IGD) adalah salah satu unit di rumah sakit yang harus
dapat memberikan pelayanan darurat kepada masyarakat yang menderita penyakit akut
dan mengalami kecelakaan, sesuai dengan standar operasional prosedur yang berlaku.
Pelayanan gawat darurat memerlukan pertolongan penanganan segera yaitu cepat, tepat dan
cermat untuk menentukan prioritas kegawatdaruratan pasien untuk mencegah kecatatan dan
kematian. Standar proses tatalaksana pasien di IGD dimulai dari proses triase, primary
dan secondary survey sampai dengan proses evaluasi dan dokumentasi.
Triase adalah kegiatan untuk memilah pasien yang diterapkan baik pada kondisi
bencana atau musibah maupun pada pelayanan sehari-hari di Instalasi Gawat Darurat
(IGD). Waktu tanggap atau response time adalah kecepatan pelayanan dokter di gawat darurat
adalah kecepatan pasien dilayani sejak pasien datang sampai mendapat pelayanan kesehatan.
Kecepatan dan ketepatan pertolongan yang diberikan pada pasien yang datang ke Instalasi
Gawat Darurat (IGD) oleh petugas kesehatan memerlukan kompetensi dan kemampuan yang
sesuai standar sehingga dapat menjamin suatu penanganan gawat darurat dengan waktu tanggap
atau response time yang baik dan tepat.
Stroke adalah suatu tanda klinis yang berkembang cepat akibat gangguan otak
fokal (atau global) dengan gejala-gejala yang berlangsung selama 24 jam atau lebih
dan dapat menyebabkan kematian tanpa adanya penyebab lain yang jelas selain
vaskuler. Penyakit stroke merupakan kelainan neurologi yang paling tinggi insiden dan
prevalensinya di rumah sakit di Indonesia dan penyakit dengan tingkat
kecacatan tinggi pada usia di atas 45 tahun. Menurut WHO, angka kecacatan akibat
stroke sekitar 50 sampai 60 persen dari prevalensi stroke. Seperlima sampai setengah
penderita stroke dapat melaksanakan aktivitas kehidupan sehari hari tanpa bantuan
tetapi seperempat sampai dua pertiga penderita stroke menyandang cacat permanen
biasanya penderita pasca stroke akan mengalami gangguan sensorik motorik
pemahaman bahasa, berpikir, memori dan emosi secara mendadak yang dapat
menyebabkan ketidakmandirian dalam melaksanakan aktivitas kehidupan sehari-hari.
Di satuan kerja RSUP Dr. Mohammad Hoesin Palembang yang terjadi adalah
sistem triase sudah ada namun dalam pelaksanaannya terdapat beberapa kendala yang
menyebabkan response time pada kasus stroke yang harus dioptimalisasi sehingga
penulis merasa diperlukan optimalisasi sistem triase oleh tenaga kesehatan untuk
mewujudkan pelayanan yang bermutu.
Optimalisasi sistem triase perlu dilaksanakan karena Triase adalah kunci dalam

13
pemberian perawatan di Instalasi Gawat Darurat (IGD) dan merupakan salah satu
komponen penting dalam penilaian masyarakat terhadap pelayanan keseluruhan di
rumah sakit dimana saat sekarang pelyanan kesehatan selalu menjadi sorotan bagi
semua masyarakat (Aktual). ptimalisasi sistem di triase merupakan isu yang kompleks
karena tidak melibatkan satu Instalasi di Rumah Sakit saja namun melibatkan banyak
bagian ataupun departemen ataupun Instalasi lainnya untuk berkoordinasi
(Problematik). Optimalisasi sistem triase yang berjalan akan menghasilkan response
time yang cepat sangat berpengaruh bagi pelayanan kesehatan bagi pasien yang masuk
melalui Instalasi Gawat Darurat RSUP.Mohammad Hoesin (Khalayak). Salah satu
indikator keberhasilan penanggulangan medik penderita gawat darurat adalah
kecepatan memberikan pertolongan yang memadai kepada penderita gawat darurat
sehingga optimalisasi response time triase yang baik perlu dibahas untuk memberikan
pelayanan kesehatan yang baik bagi pasien ataupun masyarakat.(Layak)
Sumber isu diangkat dari kondisi dan tuntutan di lingkungan kerja terutama dari
kenyataan yang terjadi, dimana response time pada pasien dengan kasus stroke masih lebih dari
5 menit. Dari hasil analisis, banyak faktor yang menyebabkan lamanya response time. Beberapa
diantaranya adalah:
1. Perlunya optimalisasi penerapan SOP penerimaan pasien oleh petugas
kesehatan di triase.
2. Perlunya koordinasi dengan Departemen Saraf untuk meningkatkan
kemampuan dan pengetahuan petugas kesehatan di triase tentang penyakit
stroke.
3. Perlunya optimalisasi sistem rujukan terintegrasi (SISRUTE) bagi petugas
kesehatan yang ada di triase
4. Perlunya instrumen bantu bagi petugas kesehatan di triase untuk meningkatkan
kemampuan pengenalan kasus stroke.
5. Kurangnya pengetahuan pasien akan kondisi-kondisi stroke sehingga
terkadang pasien datang dalam kondisi yang sudah terlambat untuk dilakukan
pertolongan optimal.

Salah satu indikator keberhasilan penanggulangan medik penderita gawat


darurat adalah kecepatan memberikan pertolongan yang memadai kepada penderita
gawat darurat. Kecepatan dan ketepatan pertolongan yang diberikan pada pasien yang
datang ke Instalasi Gawat Darurat (IGD) memerlukan standar sesuai dengan

14
kompetensi dan kemampuannya sehingga dapat menjamin suatu penanganan gawat
darurat dengan response time yang cepat dan penanganan yang tepat. Apabila response
time triase kasus stroke belum optimal, maka menyebabkan lamanya penanganan pasien
stroke selanjutnya yang akan berdampak:
1. Meningkatkan perburukan penyakit bagi pasien.
2. Meningkatkan resiko kecacatan bagi pasien.
3. Meningkatkan biaya kesehatan bagi pasien.
4. Pasien yang cacat menjadi beban bagi keluarga.

Optimalisasi pengenalan dan penanganan awal yang baik tentang stroke


diharapkan dapat membantu upaya pencegahan perburukan dan kecacatan serta
pemulihan penderita stroke. Dalam sistem triase di IGD, aktor yang terlibat adalah
tenaga kesehatan. Tenaga kesehatan yang dimaksud adalah dokter umum dan perawat
yang bertugas jaga di IGD. Dalam perananannya di IGD, tenaga kesehatan dan dokter
jaga triase IGD adalah orang yang pertama kali menerima pasien, dan akan
mengklasifikasikan pasien sesuai dengan keilmuannya dan diaplikasikan dengan sistem
triase.

Lembar Konfirmasi
PERSETUJUAN COACH DAN MENTOR
COACH, MENTOR,

Ns. Syamrina M. Aris, SST, S.Kep, M.Kes dr. Riza Candra Wijaya
NIP. 197203241992032001 NIP. 196606061999031002
Widya Iswara Ka. SMF Dokter Umum
TGL. 7 Mei 2018 TGL. 7 Mei 2018

Judul Laporan Aktualisasi


Optimalisasi Response Time Triase Pada Kasus Stroke di Instalasi Gawat Darurat RS.
Dr.Mohammad Hoesin

15
BAB II
NILAI – NILAI DASAR DAN KEDUDUKAN
SERTA PERAN PNS DALAM NKRI

2.1. Konsep Nilai – Nilai Dasar PNS


Dalam sistem pembelajaran Pelatihan Dasar Calon PNS, setiap peserta pelatihan dituntut
untuk mampu mengimplementasikan serta mengaktualisasikan substansi materi
pembelajaran nilai-nilai dasar profesi PNS yaitu Akuntabilitas PNS, Nasionalisme, Etika
Publik, Komitmen Mutu, dan Anti Korupsi yang diakronimkan menjadi ANEKA.
A. Akuntabilitas
a. Pengertian
Akuntabilitas merujuk pada kewajiban setiap individu, kelompok atau institusi
untuk memenuhi tanggung jawab yang menjadi amanahnya. Akuntabilitas sering
disamakan dengan responsibilitas atau tanggung jawab, akan tetapi pada dasarnya
kedua konsep tersebut memiliki arti yang berbeda. Responsibilitas adalah kewajiban
untuk bertanggung jawab, sedangkan akuntabilitas adalah kewajiban
pertanggungjawaban yang harus dicapai.

b. Aspek – Aspek Akuntabilitas


1) Akuntabilitas adalah sebuah hubungan (Accountability is a relationship)
2) Akuntabilitas berorientasi pada hasil (Accountability is results oriented)
3) Akuntabilitas membutuhkan adanya laporan (Accountability requires reporting)
4) Akuntabilitas memerlukan konsekuensi (Accountability is meaningless without
consequences)
5) Akuntabilitas memperbaiki kinerja (Accountability improves performance)

c. Fungsi utama akuntabilitas


1) Untuk menyediakan kontrol demokratis (peran demokrasi); dengan membangun
suatu sistem yang melibatkan stakeholders dan users yang lebih luas (termasuk
masyarakat, pihak swasta, legislatif, yudikatif dan di lingkungan pemerintah itu
sendiri baik di tingkat kementrian, lembaga maupun daerah);
2) Untuk mencegah korupsi dan penyalahgunaan kekuasaan (peran konstitusional);
3) Untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas (peran belajar).

16
d. Menciptakan Lingkungan Kerja yang Akuntabel
1) Kepemimpinan
2) Transparansi
3) Integritas
4) Tanggung jawab (Responsibilitas)
5) Keadilan
6) Kepercayaan
7) Keseimbangan
8) Kejelasan
9) Konsistensi

B. Nasionalisme
Nasionalisme Pancasila adalah pandangan atau paham kecintaan manusia
Indonesia terhadap bangsa dan tanah airnya yang didasarkan pada nilai-nilai Pancasila.
Prinsip nasionalisme bangsa Indonesia dilandasi nilai-nilai Pancasila yang diarahkan agar
bangsa Indonesia senantiasa: menempatkan persatuan kesatuan, kepentingan dan
keselamatan bangsa dan negara di atas kepentingan pribadi atau kepentingan golongan;
menunjukkan sikap rela berkorban demi kepentingan bangsa dan negara; bangga sebagai
bangsa Indonesia dan bertanah air Indonesia serta tidak merasa rendah diri; mengakui
persamaan derajat, persamaan hak dan kewajiban antara sesama manusia dan sesama
bangsa; menumbuhkan sikap saling mencintai sesama manusia; mengembangkan sikap
tenggang ras.

C. Etika Publik
a. Pengertian Etika
Etika lebih adalah refleksi atas baik/ buruk, benar/salah yang harus dilakukan
atau bagaimana melakukan yang baik atau benar, sedangkan moral mengacu pada
kewajiban untuk melakukan yang baik atau apa yang seharusnya dilakukan.
b. Pengertian Kode Etik
Kode Etik adalah aturan-aturan yang mengatur tingkah laku dalam suatu
kelompok khusus, sudut pandangnya hanya ditujukan pada hal-hal prinsip dalam
bentuk ketentuanketentuan tertulis. Adapun Kode Etik Profesi dimaksudkan untuk
mengatur tingkah laku/etika suatu kelompok khusus dalam masyarakat melalui
ketentuan-ketentuan tertulis yang diharapkan dapat dipegang teguh oleh sekelompok

17
profesional tertentu.
c. Nilai – Nilai Dasar Etika Publik
Nilai-nilai dasar etika publik sebagaimana tercantum dalam Undang-Undang ASN,
yakni sebagai berikut:
1. Memegang teguh nilai-nilai dalam ideologi Negara Pancasila.
2. Setia dan mempertahankan Undang-Undang Dasar Negara Kesatuan Republik
Indonesia 1945.
3. Menjalankan tugas secara profesional dan tidak berpihak.
4. Membuat keputusan berdasarkan prinsip keahlian.
5. Menciptakan lingkungan kerja yang non diskriminatif.
6. Memelihara dan menjunjung tinggi standar etika luhur.
7. Mempertanggungjawabkan tindakan dan kinerjanya kepada publik.
8. Memiliki kemampuan dalam melaksanakan kebijakan dan program pemerintah.
9. Memberikan layanan kepada publik secara jujur, tanggap, cepat, tepat, akurat,
berdaya guna, berhasil guna, dan santun.
10. Mengutamakan kepemimpinan berkualitas tinggi.
11. Menghargai komunikasi, konsultasi, dan kerjasama.
12. Mengutamakan pencapaian hasil dan mendorong kinerja pegawai.
13. Mendorong kesetaraan dalam pekerjaan.
14. Meningkatkan efektivitas sistem pemerintahan yang demokratis sebagai perangkat
sistem karir.

D. Komitmen Mutu
Konsep mutu berkembang seiring dengan berubahnya paradigma organisasi
terkait pemuasan kebutuhan manusia, yang semula lebih berorientasi pada terpenuhinya
jumlah (kuantitas) produk sesuai permintaan, dan kini, ketika aneka ragam hasil
produksi telah membanjiri pasar, maka kepuasan customers lebih dititik beratkan pada
aspek mutu (kualitas) produk. Mutu sudah menjadi salah satu alat vital untuk
mempertahankan keberlanjutan organisasi dan menjaga kredibilitas institusi.
Banyak definisi mutu yang dikemukakan oleh para ahli diantaranya, Goetsch
and Davis (2006: 5) berpendapat bahwa belum ada definisi mutu yang dapat diterima
secara universal, namun mereka telah merumuskan pengertian mutu sebagai berikut.
“Quality is a dynamic state associated with products, services, people, processes, and
environments that meets or exceeds expectation.” Menurut definisi yang dirumuskan

18
Goetsch dan Davis, mutu merupakan suatu kondisi dinamis berkaitan dengan produk,
jasa, manusia, proses, dan lingkungan yang sesuai atau bahkan melebihi harapan
konsumen atau pengguna. Sejalan dengan pendapat tersebut, William F. Christopher dan
Carl G. Thor (2001: xi), menyatakan bahwa: “Quality can be defined as producing and
delivering to customers without error and without waste superior customer values in the
products and services that each customer needs and wants Quality is depend on one
mind individually.” Dalam pandangan Christopher dan Thor, penilaian atas mutu
produk/jasa bergantung pada persepsi individual berdasarkan kesesuaian nilai yang
terkandung di dalamnya dengan kebutuhan dan keinginannya, tanpa kesalahan dan
pemborosan.
Zeithmalh, dkk (1990: 23) menyatakan bahwa terdapat sepuluh ukuran dalam
menilai mutu pelayanan, yaitu Tangible (nyata/berwujud), Reliability (kehandal an),
Responsiveness (Cepat tanggap), Competence (kompetensi), Access (kemudahan),
Courtesy (keramahan), Communication (komunikasi), Credibility (kepercayaan),
Security (keamanan), Understanding the Customer (Pemahaman pelanggan).

E. Anti Korupsi
a. Pengertian
Korupsi berasal dari bahasa latin Coruptio dan Corruptus yang berarti
kerusakan atau kebobrokan. Dalam bahasa Yunani Corruptio yang berarti perbuatan
yang tidak baik, buruk, curang, dapat disuap, tidak bermoral, menyimpang dari
kesucian, melanggar norma – norma agama, material, mental, dan hokum.
b. 7 Jenis Korupsi
 Korupsi Transaktif
 Korupsi Ekstroaktif
 Korupsi Investif
 Korupsi Nepotistik
 Korupsi Autogenik
 Korupsi Suportif
 Korupsi Defensif

c. Tindak Pidana Korupsi


Setiap negara mempunyai undang-undang yang berbeda terkait dengan Tindak

19
Pidana Korupsi. Menurut UU No. 31/1999 jo No. UU 20/2001, terdapat 7 kelompok
tindak pidana korupsi yang terdiri dari :
1. Kerugian keuangan Negara
2. Suap-menyuap
3. Pemerasan
4. Perbuatan Curang
5. Penggelapan dalam Jabatan
6. Benturan Kepentingan dalam Pengadaan
7. Gratifikasi.
Seeding Of Integrity merupakan upaya untuk menanamkan pengaruh integritas
pada bawah sadar hingga dapat membentuk perilaku, kebiasaan dan budaya integritas.
Seakan menjadi suatu pertempuran antara integritas dan korupsi, saling memperkuat
untuk mempengaruhi pegawai negeri di Indonesia. Terdapat 3 aspek penting yang
perlu disadari terkait pertempuran antara integritas dan korupsi:
1. Koruptor menggoda biasanya pada saat seseorang sedang di luar sistem
2. Koruptor menggoda biasanya pada saat keadaan sepi dan rahasia
3. Koruptor menggoda dengan beragam cara dan menggunakan pengaruh yang
sebelumnya diluar perkiraan (WOW effect)
Kesadaran anti korupsi Anda akan memberikan makna bagi kehidupan Anda
jika kesadaran tersebut terbukti atau telah diikuti dengan upaya dan tindakan nyata
dalam menghindari korupsi. Anda tidak memberikan ruang dan waktu sedikitpun
untuk munculnya niat dan kesempatan korupsi dalam perjalanan karir dan pengabdian
Anda sebagai pegawai negeri sipil atau bagian dari masyarakat Indonesia. Niat,
semangat dan komitmen Anda akan menjadi modal untuk belajar dan menguasai serta
mempraktekan kompetensi yang dapat menghindarkan diri Anda dari perilaku dan
tindak pidana korupsi
Spiritual Accountability yang baik akan menghasilkan niat baik, yang akan
menghasilkan visi dan misi yang baik, selanjutnya akan diterjemahkan dalam usaha
yang terbaik untuk mendapatkan hasil terbaik. Hubungan konsekuensi tersebut
idealnya dapat menjamin bahwa pemilik spiritual accountability yang baik akan
mendorong public accountability yang baik pula, dan tentunya tidak akan tergerak dan
mempunyai niat sedikit pun untuk membuat kerusakan di muka termasuk didalamnya
adalah melakukan korupsi, sebaliknya justeru akan mempunyai niat yang sangat kuat
untuk menghindari korupsi. Kualitas spiritual accountability yang baik secara otomatis

20
membuat manusia berhati-hati atas akibat perbuatannya

2. Konsep Kedudukan dan Peran PNS dalam NKRI


a. Whole Of Govermment (WoG)
1) Pengertian
WoG adalah sebuah pendekatan penyelenggaraan pemerintahan yang
menyatukan upaya-upaya kolaboratif pemerintahan dari keseluruhan sektor dalam
ruang lingkup koordinasi yang lebih luas guna mencapai tujuantujuan pembangunan
kebijakan, manajemen program dan pelayanan publik. Oleh karenanya WoG juga
dikenal sebagai pendekatan interagency, yaitu pendekatan yang melibatkan sejumlah
kelembagaan yang terkait dengan urusan-urusan yang relevan.
Pendekatan WoG ini sudah dikenal dan lama berkembang terutama di negara-
negara Anglo-Saxon seperti Inggris, Australia dan Selandia Baru. Di Inggris,
misalnya, ide WoG dalam mengintegrasikan sektorsektor ke dalam satu cara pandang
dan sistem sudah dimulai sejak pemerintahan Partai Buruhnya Tony Blair pada tahun
1990-an dengan gerakan modernisasi program pemerintahan, dikenal dengan istilah
joined-up government‟ (Bissessar, 2009; Christensen & L\a egreid, 2006). Di
Australia, WoG dimotori oleh Australian Public Service (APS) dalam laporannya
berjudul Connecting Government: Whole of Government Responses to Australia's
Priority Challenges pada tahun 2015.
Karakteristik pendekatan WoG dapat dirumuskan dalam prinsip-prinsip
kolaborasi, kebersamaan, kesatuan, tujuan bersama, dan mencakup keseluruhan aktor
dari seluruh sektor dalam pemerintahan
2) Pentingnya WoG
WoG dianggap penting kehadirannya dalam penyelenggaraan pemerintahan, hal ini
memiliki alasan sebagai berikut :
 Faktor eksternal diantaranya dorongan publik dalam mewujudkan integrasi
kebijakan, program pembangunan dan pelayanan agar tercipta penyelenggaraan
pemerintahan yang lebih baik. Selain itu perkembangan teknologi informasi,
situasi dan dinamika kebijakan yang lebih kompleks juga mendorong pentingnya
WoG dalam menyatukan institusi pemerintah sebagai penyelenggara kebijakan
dan layanan publik.

21
 Faktor internal terdapat fenomena ketimpangan kapasitas sektoral akibat dari
adanya adanya kompetisi antar sektor dalam pembangunan. Satu sektor bisa
menjadi sangat superior terhadap sektor lain, atau masing-masing sektor tumbuh
namun tidak berjalan beriringan, melainkan justru kontraproduktif atau ‘saling
membunuh’. Masing-masing sektor menganggap bahwa sektornya lebih penting
dari yang lainnya. Sebuah contoh misalnya, sektor lingkungan hidup memandang
bahwa pelestarian alam, terutama hutan, merupakan prioritas dalam pembangunan,
sehingga perlu mendapatkan prioritas dukungan kebijakan dan keuangan yang
lebih. Sementara di sisi lain sektor pertambangan memandang bahwa
pembangunan memerlukan modal besar, dan hanya tambanglah yang bisa
menyediakan.
 Dalam konteks Indonesia, keberagaman latar belakang nilai, budaya, adat istiadat,
serta bentuk latar belakang lainnya mendrong adanya potensi disintegrasi bangsa.
Pemerintah sebagai institusi formal berkewajiban untuk mendorong tumbuhnya
nilainilai perekat kebangsaan yang akan menjamin bersatunya elemen-elemen
kebangsaan ini dalam satu frame NKRI.
3) Praktek WoG
o Penguatan Koordinasi Antar Lembaga
Penguatan koordinasi dapat dilakukan jika jumlah lembaga-lembaga yang
dikoordinasikan masih terjangkau dan manageable. Dalam prakteknya, span of
control atau rentang kendali yang rasional akan sangat terbatas. Salah satu
alternatifnya adalah mengurangi jumlah lembaga yang ada sampai mendekati
jumlah yang ideal untuk sebuah koordinasi. Dengan jumlah lembaga yang rasional,
maka koordinasi dapat dilakukan lebih mudah.
o Membentuk Lembaga Koordinasi Khusus
Pembentukan lembaga terpisah dan permanen yang bertugas dalam
mengkoordinasikan sektor atau kementerian adalah salah satu cara melakukan
WoG. Lembaga koordinasi ini biasanya diberikan status kelembagaan setingkat
lebih tinggi, atau setidaknya setara dengan kelembagaan yang dikoordinasikannya.
o Membentuk Gugus Tugas
Gugus tugas merupakan bentuk pelembagaan koordinasi yang dilakukan di luar
struktur formal, yang sidatnya tidak permanen. Pembentukan gugus tugas biasanya
menjadi salah satu cara agar sumber daya yang terlibat dalam koordinasi tersebut

22
dicabut sementara dari lingkungan formalnya untuk berkonsentrasi dalam proses
koordinasi tadi.
o Koalisi Sosial
Koalisi sosial ini merupakan bentuk informal dari penyatuan koordinasi antar
sektor atau lembaga, tanpa perlu membentuk pelembagaan khusus dalam
koordinasi ini.

b. Manajemen Aparatur Sipil Negara


Untuk mewujudkan birokrasi yang professional dalam menghadapi tantangan-
tantangan tersebut, pemerintah melalui UU Nomor 5 Tahun 2014 tentang Aparatur Sipil
Negara telah bertekad untuk mengelola aparatur sipil negara menjadi semakin professional.
Undang-undang ini merupakan dasar dalam manajemen aparatur sipil negara yang bertujuan
untuk membangun aparat sipil negara yang memiliki integritas, profesional dan netral serta
bebas dari intervensi politik, juga bebas dari praktek KKN, serta mampu menyelenggarakan
pelayanan publik yang berkualitas bagi masyarakat.
1) Kedudukan ASN
Manajemen ASN adalah pengelolaan ASN untuk menghasilkan Pegawai ASN
yang professional, memiliki nilai dasar, etika profesi, bebas dari intervensi politik,
bersih dari praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme. Manajemen ASN lebih menekankan
kepada pengaturan profesi pegawai sehingga diharapkan agar selalu tersedia sumber
daya aparatur sipil Negara yang unggul selaras dengan perkembangan jaman.
Pegawai ASN berkedudukan sebagai aparatur negara yang menjalankan kebijakan
yang ditetapkan oleh pimpinan instansi pemerintah serta harus bebas dari pengaruh
dan intervensi semua golongan dan partai politik.
2) Peran ASN
Untuk menjalankan kedudukannya tersebut, maka Pegawai ASN berfungsi sebagai
berikut:
 Pelaksana kebijakan publik
 Pelayan publik
 Perekat dan pemersatu bangsa
Selanjutnya Pegawai ASN bertugas:
 Melaksanakan kebijakan yang dibuat oleh Pejabat Pembina Kepegawaian
sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan
 Memberikan pelayanan public yang professional dan berkualitas

23
 Mempererat persatuan dan kesatuan Negara Kesatuan Republik Indonesia
3) Hak dan Kewajiban ASN
Hak PNS dan PPPK yang diatur dalam UU ASN sebagai berikut :
PNS berhak memperoleh
 gaji, tunjangan, dan fasilitas
 cuti
 jaminan pensiun dan jaminan hari tua
 perlindungan
 pengembangan kompetensi
Sedangkan PPPK berhak memperoleh
 gaji dan tunjangan
 cuti
 perlindungan
 pengembangan kompetensi

Berdasarkan Pasal 92 UU ASN Pemerintah juga wajib memberikan perlindungan


berupa
 jaminan kesehatan
 jaminan kecelakaan kerja
 jaminan kematian
 bantuan hukum.
Kewajiban pegawai ASN yang disebutkan dalam UU ASN adalah
 setia dan taat pada Pancasila, Undang-Undang Dasar Negara Republik
Indonesia Tahun 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia, dan pemerintah
yang sah
 menjaga persatuan dan kesatuan bangsa
 melaksanakan kebijakan yang dirumuskan pejabat pemerintah yang berwenang
 menaati ketentuan peraturan perundang-undangan
 melaksanakan tugas kedinasan dengan penuh pengabdian, kejujuran, kesadaran,
dan tanggung jawab
 menunjukkan integritas dan keteladanan dalam sikap, perilaku, ucapan dan
tindakan kepada setiap orang, baik di dalam maupun di luar kedinasan
 menyimpan rahasia jabatan dan hanya dapat mengemukakan rahasia jabatan
sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan

24
 bersedia ditempatkan di seluruh wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Pengelolaan atau manajemen ASN pada dasarnya adalah kebijakan dan praktek
dalam mengelola aspek manusia atau sumber daya manusia dalam organisasi
Manajemen ASN 32 termasuk dalam hal ini adalah pengadaan, penempatan,
mutasi, promosi, pengembangan, penilaian dan penghargaan. UU No 5 tentang
ASN secara detail menyebutkan pengelolaan pegawai ini baik untuk PNS maupun
PPPK seperti disebutkan pada bagian Merit sistem.
Manajemen PNS Meliputi penyusunan dan penetapan kebutuhan, pengadaan,
pangkat dan jabatan, pengembangan karier, pola karier, promosi, mutasi, penilaian
kinerja, penggajian dan tunjangan, penghargaan, disiplin, pemberhentian, jaminan
pensisun dan hari tua, dan perlindungan. Manajemen PNS pada Instansi Pusat
dilaksanakan oleh pemerintah pusat sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-
undangan. Manajemen PNS pada Instansi Daerah dilaksanakan oleh pemerintah
daerah sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
a) Penyusunan dan Penetapan Kebutuhan
Setiap Instansi Pemerintah wajib menyusun kebutuhan jumlah dan jenis jabatan
PNS berdasarkan analisis jabatan dan analisis beban kerja. Penyusunan 33
Manajemen ASN kebutuhan jumlah dan jenis jabatan PNS dilakukan untuk
jangka waktu 5 (lima) tahun yang diperinci per 1 (satu) tahun berdasarkan
prioritas kebutuhan. Berdasarkan penyusunan kebutuhan tersebut, Menteri
menetapkan kebutuhan jumlah dan jenis jabatan PNS secara nasional.
b) Pengadaan
Pengadaan PNS merupakan kegiatan untuk mengisi kebutuhan Jabatan
Administrasi dan/atau Jabatan Fungsional dalam suatu Instansi Pemerintah.
Pengadaan PNS di Instansi Pemerintah dilakukan berdasarkan penetapan
kebutuhan yang ditetapkan oleh Menteri. Pengadaan PNS dilakukan melalui
tahapan perencanaan, pengumuman lowongan, pelamaran, seleksi, pengumuman
hasil seleksi, masa percobaan, dan pengangkatan menjadi PNS.
c) Pangkat dan Jabatan
PNS diangkat dalam pangkat dan jabatan tertentu pada Instansi Pemerintah.
Pengangkatan PNS dalam jabatan tertentu ditentukan berdasarkan perbandingan
objektif antara kompetensi, kualifikasi, dan persyaratan yang dibutuhkan oleh
jabatan dengan kompetensi, kualifikasi, dan persyaratan yang dimiliki oleh
pegawai.

25
c. Pelayanan Publik
1) Pengertian
Pelayanan publik adalah “Sebagai segala bentuk kegiatan pelayanan umum yang
dilaksanakan oleh Instansi Pemerintahan di Pusat dan Daerah, dan di lingkungan
BUMN/BUMD dalam bentuk barang dan /atau jasa, baik dalam pemenuhan kebutuhan
masyarakat. (Lembaga Administrasi Negara: 1998) Sementara Departemen Dalam
Negeri menyebutkan bahwa: Pelayanan publik adalah suatu proses bantuan kepada
orang lain dengan cara-cara tertentu yang memerlukan kepekaan dan hubungan
interpersonal tercipta kepuasan dan keberhasilan. Setiap pelayanan menghasilkan
produk, baik berupa barang dan jasa (Pengembangan Kelembagaan Pelayanan
Terpadu Satu Pintu, 2004).
Sedangkan definisi yang saat ini menjadi rujukan utama dalam penyelenggaraan
pelayanan publik sebagaimana termuat dalam Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2009
Tentang Pelayanan Publik, dijelaskan bahwa pelayanan publik adalah kegiatan atau
rangkaian kegiatan dalam rangka pemenuhan kebutuhan pelayanan sesuai 9 Pelayanan
Publik dengan peraturan perundang-undangan bagi setiap warga negara dan penduduk
atas barang, jasa, dan/atau pelayanan administratif yang disediakan oleh
penyelenggara pelayanan publik.
2) Jenis Barang dan Jasa
Menurut para ahli tersebut, barang/jasa publik adalah barang/jasa yang memiliki
rivalry (rivalitas) dan excludability (ekskludabilitas) yang rendah. Rivalitas yang
rendah maknanya adalah barang/jasa tertentu yang telah dikonsumsi (digunakan) oleh
seorang individu tidak akan habis dan masih akan dapat digunakan oleh individu yang
lain tanpa mengurangi manfaat dari barang/jasa tersebut serta kepuasan individu yang
menggunakannya kemudian.
Sedangkan ekskludabilitas yang rendah maknanya, produsen atau “pemilik”
barang/jasa tersebut sulit untuk melakukan upaya guna mencegah banyak orang untuk
dapat menikmati barang/jasa yang dihasilkannya, sebab biaya untuk mencegah
individu-individu lain tidak dapat menikmati barang/jasa yang mereka hasilkan jauh
lebih mahal dibanding keuntungan yang akan mereka peroleh. Jika ada barang/jasa
yang memenuhi dua karakteristik tersebut maka kemudian disebut sebagai barang/jasa
publik. Dengan kata lain, barang/jasa publik dapat dikonsumsi secara bersama-sama
(joint consumption)

26
3) Pelayanan Publik dari Sederhana Menjadi Kompleks
Jenis barang/jasa yang dapat dikategorikan sebagai barang/jasa publik memiliki
spektrum yang sangat luas, yaitu dari jenis barang/jasa yang dapat dikategorikan
sebagai barang publik murni (pure public goods) sampai barang/jasa yang sebenarnya
masuk kategori sebagai barang privat (private goods). Adanya fenomena barang/jasa
publik menuntut kehadiran pemerintah untuk bertanggung jawab menyediakan
barang/jasa publik yang dibutuhkan oleh masyarakat tersebut dalam bentuk pelayanan
publik.
Undang-undang No. 25 Tahun 2009 agar memahami persoalan yang akan didiskusikan
dalam dua paragraf berikut :
Pertama, ruang lingkup pelayanan yang disebut sebagai pelayanan publik sangat
terbatas, yaitu sebagaimana diatur dalam Pasal 5 ayat 2, yang menyebut bahwa
pelayanan publik meliputi: pendidikan, pengajaran, pekerjaan dan usaha, tempat
tinggal, komunikasi dan informasi, lingkungan hidup, kesehatan, jaminan sosial,
energi, perinstansi pemerintahan, perhubungan, sumber daya alam, dan pariwisata.
Kedua, bentuk kegiatan pelayanan publik sebagaimana diatur dalam pasal 5 ayat 3
dan 4 juga sangat sempit karena pelayanan kebutuhan barang publik bagi masyarakat
hanya diartikan sebagai pengadaan barang/jasa di instansi pemerintah.

27
BAB III

RANCANGAN AKTUALISASI

3.1 Rancangan Aktualisasi

Tabel 3.1 Jumlah, Jenis, dan Sumber Kegiatan


No Kegiatan Sumber kegiatan
1. Koordinasi pelaksanaan dengan kepala Kreatifitas
instalasi dan kepala ruangan instalasi terkait
optimalisasi response time kasus stroke serta
pengumpulan data awal response time kasus
stroke

2. Telaah standar operasional prosedur (SOP) Kreatifitas


triase tentang penerimaan pasien di Instalasi
Gawat Darurat RSUP dr. Moh. Hoesin

3. Koordinasi dengan Departemen Saraf RSUP Kreatifitas


dr. M. Hoesin tentang standar operasional
Prosedur penanganan kasus stroke di triase

4. Optimalisasi standar operasional prosedur Kreatifitas


(SOP) penerimaan rujukan pasien via telepon
atau sistem rujukan terintegrasi (SISRUTE)
dengan departemen neurologi

5. Pembuatan leaflet bagan penanganan stroke di Kreatifitas


triase IGD RSUP dr. M. Hoesin

6. Sosialisasi pada pasien/keluarga pasien melalui Kreatifitas


poste/banner tentang penyakit stroke

7. Sosialisasi oleh Departemen Saraf RSUP Dr. Kreatifitas


M. Hoesin mengenai penanganan stroke
kepada petugas kesehatan di triase IGD

8. Evaluasi Kreatifitas
hasil kegiatan optimalisasi response time kasus
stroke di triase IGD RSUP dr. M. Hoesin

a. Unit Kerja
Triase Instalasi Gawat Darurat RSUP dr. Mohammad Hoesin
b. Identifikasi Isu
Gawat darurat adalah suatu keadaan yang mana penderita memerlukan
pemeriksaan medis segera, apabila tidak dilakukan akan berakibat fatal bagi penderita.
Pelayanan gawat darurat memerlukan pertolongan penanganan segera yaitu cepat, tepat
dan cermat untuk menentukan prioritas kegawatdaruratan pasien untuk mencegah
kecatatan dan kematian. Standar proses tatalaksana pasien di IGD dimulai dari proses

28
triase, primary dan secondary survey sampai dengan proses evaluasi dan dokumentasi.
Triase adalah kunci dalam pemberian perawatan di Instalasi Gawat Darurat (IGD)
dimana triase merupakan sebuah istilah yang digunakan untuk menggambarkan
pemilahan atau pengelompokkan pasien berdasarkan prioritas pengobatan di IGD.
Stroke adalah suatu tanda klinis yang berkembang cepat akibat gangguan otak fokal
(atau global) dengan gejala-gejala yang berlangsung selama 24 jam atau lebih dan
dapat menyebabkan kematian tanpa adanya penyebab lain yang jelas selain vaskuler.
Penyakit stroke merupakan kelainan neurologi yang paling tinggi insiden dan
prevalensinya di rumah sakit di Indonesia dan penyakit dengan tingkat kecacatan tinggi
pada usia di atas 45 tahun. Menurut WHO, angka kecacatan akibat stroke sekitar 50
sampai 60 persen dari prevalensi stroke.
Di satuan kerja RSUP Dr. Mohammad Hoesin Palembang yang terjadi adalah
sistem triase sudah ada namun dalam pelaksanaannya terdapat beberapa kendala yang
menyebabkan response time pada kasus stroke yang harus dioptimalisasi sehingga
penulis merasa diperlukan optimalisasi sistem triase oleh tenaga kesehatan untuk
mewujudkan pelayanan yang bermutu.
c. Isu yang Diangkat
Optimalisasi Response Time triase pada kasus stroke di Instalasi Gawat Darurat
RSUP. Dr.Mohammad Hoesin
d. Dampak Jika Isu Tidak Diatasi
Apabila response time triase kasus stroke belum optimal, maka menyebabkan
lamanya penanganan pasien stroke selanjutnya yang akan berdampak:
1. Meningkatkan perburukan penyakit bagi pasien
2. Meningkatkan resiko kecacatan bagi pasien
3. Meningkatkan biaya kesehatan bagi pasien
4. Pasien yang cacat menjadi beban bagi keluarga
e. Gagasan Pemecahan Isu
Gagasan penulis untuk memecahkan isu Optimalisasi Response Time triase
pada kasus stroke di Instalasi Gawat Darurat RSUP. Dr.Moh. Hoesin yang dipilih
adalah mengoptimalisasi peran petugas kesehatan di triase dengan cara
berkoordinasikan dengan departemen saraf untuk meningkatkan kemampuan
pengenalan penyait stroke melalui penyuluhan dan diskusi, selain itu dengan
mengoptimalkan sistem rujukan terintegrasi (SISRUTE) dan juga membuat instrumen
bantu pengenalan penyakit stroke.

29
Tabel 3.2 Kegiatan Optimalisasi Response Time triase pada kasus stroke di Instalasi Gawat Darurat RSUP. Dr.Mohammad Hoesin

KONTRIBUSI PENGUATAN
OUTPUT/HASIL TERHADAP VISI DAN NILAI-NILAI
NO KEGIATAN TAHAPAN KEGIATAN NILAI-NILAI DASAR
KEGIATAN MISI ORGANISASI ORGANISASI
(Manfaat) (Dampak Positif)

1 2 3 4 5 6 7
1. Koordinasi 1. Berkoordinasi pada kepala 1. Izin dari kepala Akuntabilitas Kegiatan ini sesuai dengan1. Kegiatan
pelaksanaan kepala instalasi igd untuk instalasi igd. Tanggung jawab misi rumah sakit yang 1 dan Koordinasi
dengan kepala pengambilan data dan  Mengumpulkan data 4 yaitu pelaksanaan
instalasi dan pelaksanaan kegiatan dan meminta izin “Menyelenggarakan aktualisasi
kepala ruangan optimalisasi response time dengan penuh pelayanan, pendidikan dan Pengumpulan
instalasi terkait kasus stroke serta tanggung jawab penelitian berstandar data awal
optimalisasi pengumpulan data awal Partisipatif internasional” dan response time
response time response time kasus stroke  Berpartisipasi untuk “Meningkatkan kompetensi, kasus stroke yang
kasus stroke serta memajukan mutu kinerja dan kesejahteraan terdiri atas
pengumpulan data 2. Berkoordinasi pada kepala 2. Izin dari kepala pelayanan rumah pegawai” tahapan
awal response time ruangan igd unutk ruangan igd sakit koordinasi dan
kasus stroke pengambilan data dan pengumpulan
pelaksanaan kegiatan Nasionalisme data akan
optimalisasi response time Musyawarah mufakat menguatkan nilai
kasus stroke serta  Berkoordinasi 2. Sinergi,
pengumpulan data awal dengan atasan Perilaku Utama:
response time kasus stroke dalam rangka Koordinasi,
pelaksanaan kolaborasi, satu
aktualisasi persepsi dalam
meningkatkan
mutu dan
Etika Publik keselamatan.
Jujur
 Mengumpulkan
data- data yang
valid
Integritas
 Konsisten dalam
membuat SOP dan 3. Integritas
melaksanakannya Perilaku Utama:

30
KONTRIBUSI PENGUATAN
OUTPUT/HASIL TERHADAP VISI DAN NILAI-NILAI
NO KEGIATAN TAHAPAN KEGIATAN NILAI-NILAI DASAR
KEGIATAN MISI ORGANISASI ORGANISASI
(Manfaat) (Dampak Positif)

1 2 3 4 5 6 7
kelak Jujur, disiplin,
Cermat konsisten,
 Membuat SOP komitmen dan
dengan teliti dan menjadi teladan.
mempertimbangkan
banyak faktor 4. Profesional
Hormat Perilaku Utama:
 Menghormati Tanggung jawab,
masukan dari atasan kompeten,
Sopan bekerja tuntas,
 Sopan dalam akurat, efektif
meminta izin. dan efisien.

3. Mencatat data informasi 3. Data informasi awal. Akuntabilitas


awal response time pasien 4. Tanggung jawab
stroke.  Mengumpulkan data
dan meminta izin
dengan penuh
tanggung jawab
Kejelasan target
 Data valid
menunjukkan aspek
kejelasan
Partisipatif
 Berpartisipasi untuk
memajukan mutu
pelayanan rumah
sakit

31
KONTRIBUSI PENGUATAN
OUTPUT/HASIL TERHADAP VISI DAN NILAI-NILAI
NO KEGIATAN TAHAPAN KEGIATAN NILAI-NILAI DASAR
KEGIATAN MISI ORGANISASI ORGANISASI
(Manfaat) (Dampak Positif)

1 2 3 4 5 6 7
Komitmen Mutu
Efektivitas
 Pengambilan data
dimaksudkan untuk
menganailis
response time
dengan tujuan
meningkatkan
efektivitas
pelayanan

Anti Korupsi
Jujur
 Pengambilan data-
data valid
Disiplin
 Pengambilan data
dengan tepat waktu
Bertanggung jawab
 Data diambil dan
dianalisis dengahn
tanggung jawab

Kerja keras
 Data diambil
disertai dengan
semangat kerja
keras

32
KONTRIBUSI PENGUATAN
OUTPUT/HASIL TERHADAP VISI DAN NILAI-NILAI
NO KEGIATAN TAHAPAN KEGIATAN NILAI-NILAI DASAR
KEGIATAN MISI ORGANISASI ORGANISASI
(Manfaat) (Dampak Positif)

1 2 3 4 5 6 7
2. Telaah standar 1. Mentelaah SOP tentang 1. Telaah SOP Akuntabilitas Kegiatan ini sesuai dengan Kegiatan
operasional penerimaan pasien di IGD penerimaan pasien. Tanggung jawab misi rumah sakit yang 1 dan menelaah SOP
prosedur (SOP) yang sedang berlaku.  Mencari SOP dan 4 yaitu triase tentang
triase tentang menlaah dengan “Menyelenggarakan penerimaan
penerimaan pasien literatur dengan pelayanan, pendidikan dan pasien yang
di Instalasi Gawat penuh tanggung penelitian berstandar terdiri atas
Darurat RSUP dr. jawab internasional” dan tahapan kegiatan
Moh. Hoesin Mendahulukan kepentingan “Meningkatkan kompetensi, menelaah SOP,
publik kinerja dan kesejahteraan mencari literatur
 SOP ditelaah pegawai” dan
dengan tujuan untuk mendiskusikanny
kepentingan a akan
masyarakat (pasien) meningkatkan
Partisipatif nilai nilai rs yaitu
 Berpartisipasi untuk 5. Profesional
memajukan mutu Perilaku Utama:
pelayanan rumah Tanggung jawab,
sakit kompeten,
bekerja tuntas,
Etika Publik akurat, efektif
Jujur dan efisien.
 SOP ditelaah
dengan data-data
literatur yang valid
Integritas
 Konsisten dalam
menelaah SOP dan
melaksanakannya
kelak

33
KONTRIBUSI PENGUATAN
OUTPUT/HASIL TERHADAP VISI DAN NILAI-NILAI
NO KEGIATAN TAHAPAN KEGIATAN NILAI-NILAI DASAR
KEGIATAN MISI ORGANISASI ORGANISASI
(Manfaat) (Dampak Positif)

1 2 3 4 5 6 7
Cermat
 Menelaah SOP
dengan teliti dan
mempertimbangkan
banyak faktor

Komitmen Mutu
Efektivitaa dan efisiensi
 Telaah SOP
dimaksudkan untuk
meningkatkan
efektivitas dan
efisiensi pelayanan.
Inovasi
 Menemukan inovasi
dari telaah SOP
yang berlaku.
Berorientasi mutu
 Telaah SOP
dimaksudkan untuk
meningkatkan mutu
pelayanan kepada
pasien.

34
KONTRIBUSI PENGUATAN
OUTPUT/HASIL TERHADAP VISI DAN NILAI-NILAI
NO KEGIATAN TAHAPAN KEGIATAN NILAI-NILAI DASAR
KEGIATAN MISI ORGANISASI ORGANISASI
(Manfaat) (Dampak Positif)

1 2 3 4 5 6 7

2. Melakukan pencarian literatur


2. Literatur tentang Akuntabilitas
terbaru tentang sistem sistem penerimaan Kejelasan target
penerimaan pasien di triase pasien di triase  Referensi valid
Intsalasi Gawat Darurat. Intsalasi Gawat menunjukkan aspek
Darurat. kejelasan
Partisipatif
 Berpartisipasi untuk
memajukan mutu
pelayanan rumah
sakit

Etika Publik
Jujur
 SOP ditelaah
dengan data-data
literatur yang valid
Cermat
 Menelaah SOP
dengan teliti dan
mempertimbangkan
banyak faktor

Komitmen Mutu
Efektivitas dan efisiensi
 Telaah SOP
dimaksudkan untuk
meningkatkan
efektivitas dan
efisiensi pelayanan.

35
KONTRIBUSI PENGUATAN
OUTPUT/HASIL TERHADAP VISI DAN NILAI-NILAI
NO KEGIATAN TAHAPAN KEGIATAN NILAI-NILAI DASAR
KEGIATAN MISI ORGANISASI ORGANISASI
(Manfaat) (Dampak Positif)

1 2 3 4 5 6 7
Inovasi
 Menemukan inovasi
dari telaah SOP
yang berlaku dari
literatur.
Berorientasi mutu
 Telaah SOP
dimaksudkan untuk
meningkatkan mutu
pelayanan kepada
pasien.

3. Mendiskusikan dengan 3. Hasil diskusi Akuntabilitas


sesama petugas triase kaitan tentangsistem Mendahulukan kepentingan
sop dengan literatur. penerimaan pasien publik
dengan sesama  SOP ditelaah dan
petugas triase didiskusikan dengan
tujuan untuk
kepentingan
masyarakat (pasien)
Etika Publik
Hormat
 Menghormati
masukan dari
sejawat
Sopan
 Sopan dalam
berdiskusi dengan
sejawat

Nasionalisme

36
KONTRIBUSI PENGUATAN
OUTPUT/HASIL TERHADAP VISI DAN NILAI-NILAI
NO KEGIATAN TAHAPAN KEGIATAN NILAI-NILAI DASAR
KEGIATAN MISI ORGANISASI ORGANISASI
(Manfaat) (Dampak Positif)

1 2 3 4 5 6 7

Musyawarah mufakat
 Berkoordinasi
dengan atasan
dalam rangka
pelaksanaan
aktualisasi

3. Koordinasi dengan 1. Berdiskusi dengan bagian1. 1. Hasil diskusi sop Akuntabilitas Kegiatan ini sesuai dengan Kegiatan
Departemen Saraf saraf tentang Standar kasus stroke di triase Tanggung jawab misi rumah sakit yang 4 Koordinasi
RSUP dr. M. operasional prosedur  Mencari SOP dan yaitu “Meningkatkan dengan bagian
Hoesin tentang penanganan kasus stroke di menlaah dengan kompetensi, kinerja dan saraf tentang SOP
standar triase. literatur dan kesejahteraan pegawai” penanganan kasus
operasional didiskusikan stroke di triase
Prosedur dengan penuh dengan tahapan
penanganan kasus tanggung jawab diskusi dengan
stroke di triase Partisipatif depaartemen
 Berpartisipasi untuk saraf untuk
memajukan mutu mendapatkan
pelayanan rumah SOP
sakit penatalaksanaan
Etika Publik yang benar dan
Hormat mendapatkan
 Menghormati bantuan dalam
masukan dari penyuluhan
sejawat kepada petugas
Sopan triase akan
 Sopan dalam menguatkan nilai
berdiskusi dengan rumah sakit yaitu
sejawat :
6. Sinergi,

37
KONTRIBUSI PENGUATAN
OUTPUT/HASIL TERHADAP VISI DAN NILAI-NILAI
NO KEGIATAN TAHAPAN KEGIATAN NILAI-NILAI DASAR
KEGIATAN MISI ORGANISASI ORGANISASI
(Manfaat) (Dampak Positif)

1 2 3 4 5 6 7
Komitmen Mutu Perilaku Utama:
Efektivitasa dan efisiensi Koordinasi,
 Diskusi SOP kolaborasi, satu
dimaksudkan untuk persepsi dalam
meningkatkan meningkatkan
efektivitas dan mutu dan
efisiensi pelayanan. keselamatan.
Inovasi
 Menemukan inovasi 7. Profesional
dari hasil diskusi Perilaku Utama:
tentang SOP yang Tanggung jawab,
berlaku. kompeten,
Berorientasi mutu bekerja tuntas,
 diskusi SOP akurat, efektif
dimaksudkan untuk dan efisien.
meningkatkan mutu
pelayanan kepada
pasien.

2. Berkoordinasi dengan
2. Bantuan mentor dari Akuntabilitas
departemen saraf untuk departemen saraf Partisipatif
meminta bantuan sosialisai untuk sosialisasi dan  Berpartisipasi untuk
dan demonstrasi demonstrasi pada memajukan mutu
penanganan kasus stroke dokter triase pelayanan rumah
kepada dokter triase. sakit

3. Berkoordinasi untuk3. Bantuan mentor dari Etika Publik


meminta bantuan sosialisai departemen saraf Hormat
dan demonstrasi untuk sosialisasi dan  Menghormati
penanganan stroke untuk demonstrasi pada masukan dari

38
KONTRIBUSI PENGUATAN
OUTPUT/HASIL TERHADAP VISI DAN NILAI-NILAI
NO KEGIATAN TAHAPAN KEGIATAN NILAI-NILAI DASAR
KEGIATAN MISI ORGANISASI ORGANISASI
(Manfaat) (Dampak Positif)

1 2 3 4 5 6 7
perawat triase. perawat triase sejawat
Sopan
 Sopan dalam
berdiskusi dengan
sejawat

3.Komitmen Mutu
Efektivitas dan efisiensi
 Telaah SOP
dimaksudkan untuk
meningkatkan
efektivitas dan
efisiensi pelayanan.
Berorientasi mutu
 Telaah SOP
dimaksudkan untuk
meningkatkan mutu
pelayanan kepada
pasien.

39
KONTRIBUSI PENGUATAN
OUTPUT/HASIL TERHADAP VISI DAN NILAI-NILAI
NO KEGIATAN TAHAPAN KEGIATAN NILAI-NILAI DASAR
KEGIATAN MISI ORGANISASI ORGANISASI
(Manfaat) (Dampak Positif)

1 2 3 4 5 6 7
4. Optimalisasi 1. Mencari standar operasional Sop penggunaan Akuntabilitas Kegiatan ini sesuai dengan 1. Kegiatan
standar prosedur penerimaan pasien sistem rujukan Tanggung jawab misi rumah sakit yang ke-1 Optimalisasi SOP
operasional rujukan melalui telepon/ terintegrasi  Mencari SOP dan ,3 dan 4 yaitu penerimaan
prosedur (SOP) sisrute triase IGD RSUP. Dr. (SISRUTE) dan menlaah dengan “Menyelenggarakan rujukan pasien
penerimaan M.Hoesin peneriman pasien literatur dengan pelayanan, pendidikan dan via telepon atau
rujukan pasien via rujukan via telpon penuh tanggung penelitian berstandar SISRUTE akan
telepon atau sistem jawab internasional” dan meningktakan
rujukan “Menjalin kemitraan dan nilai rumah sakit
terintegrasi melaksanakan sistem yaitu
(SISRUTE) rujukan dengan rumah sakit 2.
dengan jejaring” serta3. Profesional
departemen 2. Berdiskusi dan berkoordinasi Hasil diskusi dengan Etika Publik “Meningkatkan kompetensi, Perilaku Utama:
neurologi dengan bagian saraf tentang bagian saraf tentang Jujur kinerja dan kesejahteraan Tanggung jawab,
sop penerimaan pasien sop penerimaan  SOP ditelaah pegawai” kompeten,
rujukan via telepon/ sisrute rujukan pasien via dengan data-data bekerja tuntas,
kasus stroke di triase IGD. telepon/ sisrute triase literatur yang valid akurat, efektif
kasus stroke yang Cermat dan efisien.
benar  Menelaah SOP
dengan teliti dan
mempertimbangkan
banyak faktor
Hormat
 Menghormati
masukan dari
sejawat
Sopan
 Sopan dalam
berdiskusi dengan
sejawat

40
KONTRIBUSI PENGUATAN
OUTPUT/HASIL TERHADAP VISI DAN NILAI-NILAI
NO KEGIATAN TAHAPAN KEGIATAN NILAI-NILAI DASAR
KEGIATAN MISI ORGANISASI ORGANISASI
(Manfaat) (Dampak Positif)

1 2 3 4 5 6 7
Nasionalisme

Musyawarah mufakat
 Berkoordinasi
dengan atasan
dalam rangka
pelaksanaan
Aktualisasi

3. Sosialisasi kepada petugas Notulensi Sosialisasi Akuntabilitas


kesehatan di triase IGD kepada petugas Partisipatif
RSUP dr. M. Hoesin tentang kesehatan tentang sop  Berpartisipasi untuk
sop penerimaan pasien penerimaan via memajukan mutu
rujukan via telepon atau telepon atau sistem pelayanan rumah
sistem rujukan terintegrasi rujukan terintegrasi sakit
(SISRUTE). (SISRUTE)..
Etika Publik
Hormat
 Menghormati
masukan dari
sejawat
Sopan
 Sopan dalam
berdiskusi dengan
sejawat

41
KONTRIBUSI PENGUATAN
OUTPUT/HASIL TERHADAP VISI DAN NILAI-NILAI
NO KEGIATAN TAHAPAN KEGIATAN NILAI-NILAI DASAR
KEGIATAN MISI ORGANISASI ORGANISASI
(Manfaat) (Dampak Positif)

1 2 3 4 5 6 7
5. Pembuatan leaflet 1. Mendiskusikan dengan Hasil diskusi dengan Akuntabilitas Kegiatan ini sesuai dengan1. Kegiatan
bagan penanganan Departemen Saraf RSUP dr. bagian saraf dan Tanggung jawab misi rumah sakit yang 1 dan pembuatan leaflet
stroke di triase M.Hoesin leaflet leaflet penanganan  Mencari SOP dan 4 yaitu bagan
IGD RSUP dr. M. penanganan stroke di triase stroke di triase menlaah dengan “Menyelenggarakan penanganan
Hoesin literatur dan pelayanan, pendidikan dan stroke di triase
didiskusikan penelitian berstandar IGD yang terdiri
dengan penuh internasional” dan atas tahapan
tanggung jawab “Meningkatkan kompetensi, kegiatan diskusi
Partisipatif kinerja dan kesejahteraan leaflet
 Berpartisipasi untuk pegawai” tatalaksanan,
memajukan mutu pembuatan leaflet
pelayanan rumah dan sosialisasi
sakit leaflet ke petugas
triase akkan
2. Etika Publik meningkatkan
Hormat nilai rumah sakit
 Menghormati yaitu :
masukan dari 2.
sejawat 3. Sinergi,
Sopan Perilaku Utama:
 Sopan dalam Koordinasi,
berdiskusi dengan kolaborasi, satu
sejawat persepsi dalam
meningkatkan
mutu dan
2. Membuat leaflet Leaflet 1.Akuntabilitas keselamatan.
penanganan stroke di triase Partisipatif .
Instalasi Gawat Darurat.  Berpartisipasi untuk 4. Profesional
memajukan mutu Perilaku Utama:
pelayanan rumah Tanggung jawab,
sakit kompeten,

42
KONTRIBUSI PENGUATAN
OUTPUT/HASIL TERHADAP VISI DAN NILAI-NILAI
NO KEGIATAN TAHAPAN KEGIATAN NILAI-NILAI DASAR
KEGIATAN MISI ORGANISASI ORGANISASI
(Manfaat) (Dampak Positif)

1 2 3 4 5 6 7
bekerja tuntas,
2. Etika Publik akurat, efektif
Cermat dan efisien.
 Leaflet dibuat
dengan teliti dan
mempertimbangkan
banyak faktor

3. Komitmen Mutu
Efektivitas dan efisiensi
 Leaflet dibuat untuk
meningkatkan
efektivitas dan
efisiensi pelayanan.
Inovasi
 Menemukan inovasi
dari leaflet
Berorientasi mutu
 Leaflet dibuat untuk
meningkatkan mutu
pelayanan.

3. Berkoordinasi dengan Izin pemasangan dari Akuntabilitas


petugas igd untuk izin petugas igd Partisipatif
peletakan leaflet  Berpartisipasi untuk
memajukan mutu
pelayanan rumah
sakit

43
KONTRIBUSI PENGUATAN
OUTPUT/HASIL TERHADAP VISI DAN NILAI-NILAI
NO KEGIATAN TAHAPAN KEGIATAN NILAI-NILAI DASAR
KEGIATAN MISI ORGANISASI ORGANISASI
(Manfaat) (Dampak Positif)

1 2 3 4 5 6 7

4. Sosialisasi leaflet kepada Notulensi sosialisasi Akuntabilitas


petugas kesehatan di triase Partisipatif
IGD RSUP dr. M. Hoesin Dengan sosialisasi petugas
kesehatan ikut berpartisipasi
untuk memajukan mutu
pelayanan rumah sakit
6. Sosialisasi pada 1. Mendiskusikan dan Hasil diskusi dan Akuntabilitas Kegiatan ini sesuai dengan4. Kegiatan
pasien/keluarga meminta persetujuan dari persetujuan dari Tanggung jawab misi rumah sakit yang ke-2 sosialisasi pada
pasien tentang Departemen Saraf RSUP dr. bagian saraf tentang  Mencari literatur “Menyelenggarakan pasien/keluarga
penyakit stroke M.Hoesin tentang poster/banner yang bermanfaat promosi kesehatan secara pasien tentang
melaui banner/poster penyakit penyakit stroke untuk membantu komprehensif dan penyakit stroke
banner/poster. stroke. pasien dan atau berkelanjutan” melaui poster.
keluarga pasien 5.
dalam mengenali 6. Sinergi,
stroke Perilaku Utama:
Koordinasi,
Partisipatif kolaborasi, satu
 Berpartisipasi untuk persepsi dalam
memajukan mutu meningkatkan
pelayanan rumah mutu dan
sakit keselamatan.

Etika Publik
Hormat
 Menghormati
masukan dari
sejawat
Sopan
 Sopan dalam
berdiskusi dengan

44
KONTRIBUSI PENGUATAN
OUTPUT/HASIL TERHADAP VISI DAN NILAI-NILAI
NO KEGIATAN TAHAPAN KEGIATAN NILAI-NILAI DASAR
KEGIATAN MISI ORGANISASI ORGANISASI
(Manfaat) (Dampak Positif)

1 2 3 4 5 6 7
sejawat

Poster informasi Akuntabilitas


2. Membuat poster informasi stroke untuk pasien Partisipatif
stroke untuk pasien.  Berpartisipasi untuk
memajukan mutu
pelayanan rumah
sakit
Etika Publik
Cermat
 poster dibuat
dengan teliti dan
mempertimbangkan
banyak faktor dan
disesuaikan dengan
penerima informasi
yaitu pasien
3. Komitmen Mutu
Efektivitas dan efisiensi
 poster dibuat untuk
meningkatkan
efektivitas dan
efisiensi pelayanan.
Inovasi
 Menemukan inovasi
dari poster
Berorientasi mutu
 poster dibuat untuk
meningkatkan mutu
pelayanan.

45
KONTRIBUSI PENGUATAN
OUTPUT/HASIL TERHADAP VISI DAN NILAI-NILAI
NO KEGIATAN TAHAPAN KEGIATAN NILAI-NILAI DASAR
KEGIATAN MISI ORGANISASI ORGANISASI
(Manfaat) (Dampak Positif)

1 2 3 4 5 6 7
3. Meminta izin kepada Izin pemasangan Etika Publik
petugas IGD untuk banner Hormat
pemasangan banner/poster.  Menghormati
masukan dari
sejawat
Sopan
Sopan dalam berdiskusi
dengan sejawat
7. Sosialisasi oleh 1. Penyuluhan / demonstrasi 1. 1. Dokumentasi , Akuntabilitas Kegiatan ini sesuai dengan Kegiatan
Departemen Saraf oleh Departemen Saraf demonstrasi/ Tanggung jawab misi rumah sakit yang 1 dan Sosialisasi
RSUP Dr. M. RSUP Dr. M. Hoesin penyuluhan untuk  Melakuakan 4 yaitu penanganan
Hoesin mengenai mengenai tatalaksana kasus dokter triase soisialisasi untuk “Menyelenggarakan stroke kepada
penanganan stroke stroke di triase untuk dokter meningkatkan pelayanan, pendidikan dan petugas kesehatan
kepada petugas triase kemampuan sebagai penelitian berstandar di triase IGD
kesehatan di triase tanggung jawab internasional” dan akan
IGD petugas kesehatan “Meningkatkan kompetensi, meningkatkan
2. Penyuluhan / demonstrasi 2. 2. Dokumentasi, untuk meningkatkan kinerja dan kesejahteraan nilai rumah sakit
oleh Departemen Saraf demonstrasi/ kemampuan pegawai” yaitu
RSUP Dr. M . Hoesin penyuluhan 8. Kegiatan
mengenai tatalaksana kasus tatlaksana kasus Kejelasan target Koordinasi
stroke di triase untuk stroke di triase untuk  Targetnya pelaksanaan
perawat triase dan petugas perawat triase mendapatkan cara aktualisasi
rs lain yang ada di triase. penanganan kasus Pengumpulan
stroke yang efektif data awal
dan efisien response time
3. Tanya jawab dan 3. 3. Notulensi tanya kasus stroke yang
pengisisan kuosioner jawab dan kuosioner Mendahulukan kepentingan terdiri atas
publik tahapan
 Sosialisasi bertujuan koordinasi dan
meningkatkan pengumpulan
kemampuan petugas

46
KONTRIBUSI PENGUATAN
OUTPUT/HASIL TERHADAP VISI DAN NILAI-NILAI
NO KEGIATAN TAHAPAN KEGIATAN NILAI-NILAI DASAR
KEGIATAN MISI ORGANISASI ORGANISASI
(Manfaat) (Dampak Positif)

1 2 3 4 5 6 7
kesehatan untuk data akan
kepentingan menguatkan nilai
pelayanan publik 9. Sinergi,
Partisipatif Perilaku Utama:
 Sengan sosialisasi Koordinasi,
petugas kesehatan kolaborasi, satu
ikut berpartisipasi persepsi dalam
untuk memajukan meningkatkan
mutu pelayanan mutu dan
rumah sakit keselamatan.
Nasionalisme
Transparan 10. Integritas
 Sosialisasi Perilaku Utama:
dilakuakan dengan Jujur, disiplin,
jelas konsisten,
Integritas komitmen dan
 Dengan mengikuti menjadi teladan.
sosialisasi, petugas
kesehatan 11. Profesional
menjalankan tugas Perilaku Utama:
dengan Tanggung jawab,
Gotong royong kompeten,
 Sosisalisasi diikuti bekerja tuntas,
seluruh petugas akurat, efektif
kesehatan di triase dan efisien.
dan
mendiskusikannya
bersama
Bersikap adil
 Sosialisasi
dilakuakn kepada

47
KONTRIBUSI PENGUATAN
OUTPUT/HASIL TERHADAP VISI DAN NILAI-NILAI
NO KEGIATAN TAHAPAN KEGIATAN NILAI-NILAI DASAR
KEGIATAN MISI ORGANISASI ORGANISASI
(Manfaat) (Dampak Positif)

1 2 3 4 5 6 7
seluruh petugas
kesehatan di triase
dengan
memperhatikan
kewanangan dan
tanggung jawab
masing-masing.
Etika Publik
Cermat
 Membuat SOP
dengan teliti dan
mempertimbangkan
banyak faktor
Disiplin
 Sosialisasi untuk
meningkatkan
kemampuan dan
kedisiplinan
mengikuti sop
penanganan kasus
stroke di triase tidak
Hormat
 Menghormati
masukan dari
sejawat
Sopan
 Sopan dalam
berdiskusi dengan
sejawat

48
KONTRIBUSI PENGUATAN
OUTPUT/HASIL TERHADAP VISI DAN NILAI-NILAI
NO KEGIATAN TAHAPAN KEGIATAN NILAI-NILAI DASAR
KEGIATAN MISI ORGANISASI ORGANISASI
(Manfaat) (Dampak Positif)

1 2 3 4 5 6 7
4. Komitmen Mutu
Efektivitas dan efisiensi
 Sosialisasi bertujuan
untuk meningkatkan
efektivitas dan
efisiensi dalam
penanganan kasus
stroke di triase
8. Evaluasi 1. Mencatat response time Data response time Akuntabilitas Kegiatan ini sesuai dengan Kegiatan evaluasi
hasil kegiatan setelah dilakukan setelah dilakukan Tanggung jawab misi rumah sakit yang ke-112. hasil kegiatan
optimalisasi sosialisasi dan kegiatan aktualisasi  Mencatat data dan dan 4 yaitu aktualisasi yang
response time demonstrasi serta memantau “Menyelenggarakan terdiri atas
kasus stroke di penyuluhan penanganan pelaksanaan pelayanan, pendidikan dan tahapan kegiatan,
triase IGD RSUP kasus stroke dengan penuh penelitian berstandar monitoring lalu
dr. M. Hoesin tanggung jawab internasional” dan diskusi akan
“Meningkatkan kompetensi, meningkatkan
Etika Publik kinerja dan kesejahteraan nilai rumah sakit
Jujur pegawai” yaitu Sinergi,
 data-data diambil Perilaku Utama:
dengan yang valid Koordinasi,
dan tidak di kolaborasi, satu
manipulasi persepsi dalam
meningkatkan
Integritas mutu dan
 Konsisten keselamatan.
melaksanakan
kegiatan 13. Integritas
Cermat Perilaku Utama:
Mengambil data dengan teliti Jujur, disiplin,
konsisten,

49
KONTRIBUSI PENGUATAN
OUTPUT/HASIL TERHADAP VISI DAN NILAI-NILAI
NO KEGIATAN TAHAPAN KEGIATAN NILAI-NILAI DASAR
KEGIATAN MISI ORGANISASI ORGANISASI
(Manfaat) (Dampak Positif)

1 2 3 4 5 6 7
komitmen dan
2. Mencatat kendala yang Laporan catatan Akuntabilitas menjadi teladan.
terjadi saat pelaksanaan kendala yang terjadi Mendahulukan kepentingan
optimalisasi response publik 14. Profesional
time kasus stroke di  Response time yang Perilaku Utama:
triase IGD RSUP dr. M. baik adalah tujuan Tanggung jawab,
Hoesin yang diharapkan kompeten,
supaya penanganan bekerja tuntas,
pada pasien stroke akurat, efektif
optimal dan efisien.
7.
Partisipatif
 Kegiatan yang
dilakukan seluruh
pegawai rs di triase
turut serta dalam
memajukan mutu
pelayanan rumah
sakit

3. Mendiskusikan hasil data Hasil diskusi data Akuntabilitas


yang didapatkan dengan response setelah Partisipatif
petugas kesehatan triase dilakuakan kegiatan  Sengan diskusi hasil
evaluasi, petugas
kesehatan ikut
berpartisipasi untuk
memajukan mutu
pelayanan rumah
sakit

50
KONTRIBUSI PENGUATAN
OUTPUT/HASIL TERHADAP VISI DAN NILAI-NILAI
NO KEGIATAN TAHAPAN KEGIATAN NILAI-NILAI DASAR
KEGIATAN MISI ORGANISASI ORGANISASI
(Manfaat) (Dampak Positif)

1 2 3 4 5 6 7

Komitmen Mutu
Efektivitas dan efisiensi
 Dengan berdiskusi
akan memperoleh
epemecahan
kendala yang efektif
dan efisien.
Inovasi
 Menemukan solusi
dari kendala yang
terjadi selama
kegiatan dan
didiskusikan untuk
menemukan inovasi
tambahan.

Berorientasi mutu
 kegiatan
dimaksudkan untuk
meningkatkan mutu
pelayanan kepada
pasien.

51
3.2 Jadwal Kegiatan

Pendidikan dan pelatihan dasar CPNS Kemenkes Golongan III angkatan I dan II diselenggarakan selama 116 hari kerja dari tanggal
2 April 2018 hingga 28 September 2018, dimana tahap pelaksanaan rancangan aktualisasi dimulai dari Tanggal 21 Mei – 21 September
2018 di Rumah Sakit Umum Pusat dr. Mohammad Hoesin Palembang.

Tabel 3.3 Jadwal kegiatan


No Kegiatan Tahapan Kegiatan Hasil Kegiatan Mei Juni Juli Agustus September
4 1 2 3 4 5 1 2 3 4 5 1 2 3 4 5 1 2 3
1. Koordinasi pelaksanaan 1.Berkoordinasi pada kepala5. Izin dari kepala
dengan kepala instalasi dan kepala instalasi igd untuk instalasi igd.
kepala ruangan instalasi pengambilan data dan
terkait optimalisasi pelaksanaan aktualisasi
response time kasus stroke 2.Berkoordinasi pada kepala6. Izin dari kepala
serta pengumpulan data ruangan igd unutk ruangan igd
awal response time kasus pengambilan data dan
stroke pelaksanaan kegiatan
optimalisasi response time
kasus stroke serta
pengumpulan data awal
response time kasus stroke
3. Mencatat data informasi 7. Data informasi awal.
awal response time pasien
stroke.
2 Telaah standar operasional 1.Mentelaah SOP tentang 4. Telaah SOP
prosedur (SOP) triase penerimaan pasien di IGD penerimaan pasien.
tentang penerimaan pasien yang sedang berlaku.
di Instalasi Gawat Darurat 2.Melakukan pencarian 5. Literatur tentang
RSUP dr. Moh. Hoesin literatur terbaru tentang sistem penerimaan
sistem penerimaan pasien di pasien di triase.
triase Intsalasi Gawat
Darurat.
3. Mendiskusikan dengan Hasil diskusi..
sesama petugas triase kaitan
sop dengan literatur.

52
No Kegiatan Tahapan Kegiatan Hasil Kegiatan Mei Juni Juli Agustus September
4 1 2 3 4 5 1 2 3 4 5 1 2 3 4 5 1 2 3
3 Koordinasi dengan 1.Berdiskusi dengan bagian 4. Hasil diskusi sop
Departemen Saraf RSUP saraf tentang Standar kasus stroke di triase
dr. M. Hoesin tentang operasional prosedur
standar operasional penanganan kasus stroke di
Prosedur penanganan kasus triase.
stroke di triase 2. Berkoordinasi dengan Bantuan mentor dari
departemen saraf untuk departemen saraf
meminta bantuan sosialisai untuk sosialisasi dan
dan demonstrasi penanganan demonstrasi pada
kasus stroke kepada dokter dokter triase
triase.
3.Berkoordinasi untuk Bantuan mentor dari
meminta bantuan sosialisai departemen saraf
dan demonstrasi penanganan untuk sosialisasi dan
stroke untuk perawat triase. demonstrasi pada
perawat triase dan
petugas triase yang
lainnya
4 Optimalisasi standar 1. Mencari standar Sop penggunaan
operasional prosedur operasional prosedur SISRUTE dan
(SOP) penerimaan rujukan penerimaan pasien rujukan peneriman pasien via
pasien via telepon atau melalui telepon/ sisrute triase telpon
sistem rujukan terintegrasi IGD RSUP. Dr. M.Hoesin
(SISRUTE) dengan 2. Berdiskusi dan Hasil diskusi dengan
departemen neurologi berkoordinasi dengan bagian bagian saraf tentang
saraf tentang sop penerimaan sop penerimaan
pasien rujukan via telepon/ pasien via telepon/
sisrute kasus stroke di triase sisrute triase kasus
IGD. stroke yang benar

3.Sosialisasi kepada petugas Notulensi Sosialisasi


kesehatan tentang sop kepada petugas
penerimaan via telepon atau kesehatan tentang sop
SISRUTE. penerimaan via
telepon atau
SISRUTE.

53
No Kegiatan Tahapan Kegiatan Hasil Kegiatan Mei Juni Juli Agustus September
4 1 2 3 4 5 1 2 3 4 5 1 2 3 4 5 1 2 3
5 Pembuatan leaflet bagan 1.Mendiskusikan dengan Hasil diskusi dengan
penanganan stroke di triase Departemen Saraf RSUP dr. bagian saraf dan
IGD RSUP dr. M. Hoesin M.Hoesin leaflet penanganan leaflet tatat laksana
stroke di triase stroke di triase

2. Membuat leaflet Leaflet.


penanganan stroke di triase
Instalasi Gawat Darurat.

3.Berkoordinasi dengan Izin pemasangan dari


petugas igd untuk izin petugas igd.
pemasangan banner/leaflet

4.Sosialisasi leaflet kepada Notulensi sosialisasi.


petugas kesehatan.

6 Sosialisasi pada 1.Mendiskusikan dan Hasil diskusi dan


pasien/keluarga pasien meminta persetujuan dari persetujuan dari
melalui poste/banner Departemen saraf tentang bagian saraf tentang
tentang penyakit stroke poster/banner penyakit poster/banner
stroke. penyakit stroke

2.Membuat poster/banner Poster/banner


informasi stroke untuk informasi stroke
pasien. untuk pasien
3.Meminta izin ke ruangan Izin ke ruangan
pemasangan poster/banner. pemasangan banner

54
No Kegiatan Tahapan Kegiatan Hasil Kegiatan Mei Juni Juli Agustus September
4 1 2 3 4 5 1 2 3 4 5 1 2 3 4 5 1 2 3
7. Sosialisasi oleh 1. Penyuluhan / demonstrasi4. Notulen, demonstrasi/
Departemen Saraf RSUP oleh Departemen Saraf RSUP penyuluhan untuk
Dr. M. Hoesin mengenai Dr. M. Hoesin mengenai dokter triase
penanganan stroke kepada tatalaksana kasus stroke di
petugas kesehatan di triase triase untuk dokter triase
IGD

2.Penyuluhan / demonstrasi 5. Notulen, demonstrasi/


oleh Departemen Saraf RSUP penyuluhan
Dr. M . Hoesin mengenai tatlaksana kasus
tatalaksana kasus stroke di stroke di triase untuk
triase untuk perawat triase perawat triase
dan petugas rs lain yang ada
di triase

3.Tanya jawab dan Notulensi tanya jawab


pengisisan kuosioner dan kuosioner

8. Evaluasi 1. Mencatat response time Data response time


hasil kegiatan optimalisasi setelah dilakukan sosialisasi setelah dilakukan
response time kasus stroke dan demonstrasi serta kegiatan aktualisasi
di triase IGD RSUP dr. M. penyuluhan penanganan
Hoesin kasus stroke

2. Mencatat kendala yang Laporan catatan


terjadi saat pelaksanaan kendala yang terjadi
optimalisasi response time
kasus stroke di triase IGD
RSUP dr. M. Hoesin

3. Mendiskusikan hasil data Hasil diskusi data


yang didapatkan dengan response setelah
petugas kesehatan triase dilakuakan kegiatan

55
Bab IV
PENUTUP

4. 1 Kesimpulan
Dengan adanya perancangan aktualisasi nilai-nilai dasar profesi PNS yaitu
ANEKA (Akuntabilitas, Nasionalisme, Etika Publik, Komitmen Mutu, dan Anti
Korupsi) yang diterapkan pada 8 (delapan) kegiatan yang akan dilaksanakan dengan
mencirikan nilai-nilai dasar profesi PNS, seorang PNS dokter mampu meningkatkan
kompetensinya dalam melaksanakan tugas dan fungsinya sebagai pelaksana pelayan
publik. Seorang PNS dokter diharapkan dapat memberikan solusi dalam mengatasi
permasalahan-permasalahan yang terkait ANEKA di satuan kerja khususnya di RSUP
Dr. Mohammad Hoesin, sehingga dapat mendorong tercapainya misi rumah sakit
yaitu, menyelenggarakan pelayanan, pendidikan dan penelitian berstandar
internasional, menyelenggarakan promosi kesehatan secara komprehensif dan
berkelanjutan, menjalin kemitraan dan melaksanakan sistem rujukan dengan rumah
sakit jejaring, meningkatkan kompetensi, kinerja dan kesejahteraan pegawai.

56