Anda di halaman 1dari 370

MODUL

PENGEMBANGAN KEPROFESIAN BERKELANJUTAN

KOMPETENSI KEAHLIAN
TEKNIK AUDIO VIDEO
EKOLAH MENENGAH KEJURUAN (SMK)
TERINTEGRASI PENGUATAN PENDIDIKAN KARAKTER DAN
PENGEMBANGAN SOAL

KELOMPOK KOMPETENSI B

PROFESIONAL
TEKNIK KERJA BENGKEL
Penulis:
Rugianto, SPd., MT.
Penyunting:
Drs. Widiharso, MT

PEDAGOGIK
TEORI BELAJAR DAN PRINSIP – PRINSIP
PEMBELAJARAN YANG MENDIDIK
Penulis:
Drs. Astu Widodo, M.Pd.
Penyunting:
Dr. Muljo Raharjo, S.T. M.Pd.

Copyright@2016
Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidik danTenaga Kependidikan Bidang
Otomotif dan Elektronika,
Direktorat Jendral Guru dan Tenaga Kependidikan.

Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang


Dilarang mengcopy sebagian atau keseluruhan isi buku ini untuk kepentingan
komersial tanpa izin tertulis dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.
Teknik Audio Video KK B

Kata Sambutan
Peran guru profesional dalam proses pembelajaran sangat penting sebagai kunci
keberhasilan belajar siswa. Guru profesional adalah guru yang kompeten
membangun proses pembelajaran yang baik sehingga dapat menghasilkan
pendidikan yang berkualitas dan berkarakter prima. Hal tersebut menjadikan guru
sebagai komponen yang menjadi fokus perhatian Pemerintah maupun
Pemerintah Daerah dalam peningkatan mutu pendidikan terutama menyangkut
kompetensi guru.

Pengembangan profesionalitas guru melalui Program Pengembangan


Keprofesian Berkelanjutan merupakan upaya Kementerian Pendidikan dan
Kebudayaan melalui Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan dalam
upaya peningkatan kompetensi guru. Sejalan dengan hal tersebut, pemetaan
kompetensi guru telah dilakukan melalui Uji Kompetensi Guru (UKG) untuk
kompetensi pedagogik dan profesional pada akhir tahun 2015. Peta profil hasil
UKG menunjukkan kekuatan dan kelemahan kompetensi guru dalam
penguasaan pengetahuan pedagogik dan profesional. Peta kompetensi guru
tersebut dikelompokkan menjadi 10 (sepuluh) kelompok kompetensi. Tindak
lanjut pelaksanaan UKG diwujudkan dalam bentuk pelatihan guru paska UKG
pada tahun 2016 dan akan dilanjutkan pada tahun 2017 ini dengan Program
Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan bagi Guru. Tujuannya adalah untuk
meningkatkan kompetensi guru sebagai agen perubahan dan sumber belajar
utama bagi peserta didik. Program Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan
bagi Guru dilaksanakan melalui tiga moda, yaitu: 1) Moda Tatap Muka, 2) Moda
Daring Murni (online), dan 3) Moda Daring Kombinasi (kombinasi antara tatap
muka dengan daring).

Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan


(PPPPTK), Lembaga Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga
Kependidikan Kelautan Perikanan Teknologi Informasi dan Komunikasi (LP3TK
KPTK) dan Lembaga Pengembangan dan Pemberdayaan Kepala Sekolah
(LP2KS) merupakan Unit Pelaksana Teknis di lingkungan Direktorat Jenderal
Guru dan Tenaga Kependidikan yang bertanggung jawab dalam
mengembangkan perangkat dan melaksanakan peningkatan kompetensi guru
sesuai bidangnya. Adapun perangkat pembelajaran yang dikembangkan tersebut

Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan | i


adalah modul Program Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan bagi Guru
moda tatap muka dan moda daring untuk semua mata pelajaran dan kelompok
kompetensi. Dengan modul ini diharapkan program Pengembangan Keprofesian
Berkelanjutan memberikan sumbangan yang sangat besar dalam peningkatan
kualitas kompetensi guru.

Mari kita sukseskan Program Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan ini


untuk mewujudkan Guru Mulia Karena Karya.

Jakarta, Juni 2017

ii | Modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan


Teknik Audio Video KK B

Kata Pengantar

Puji dan syukur kita panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa atas segala
limpahan rahmat dan karunianya sehingga Pusat Pengembangan dan
Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan Bidang Otomotif dan
Elektronika (PPPPTK BOE) Malang dapat menyelesaikan revisi modul ini dengan
baik. Revisi modul ini merupakan penyempurnaan dari modul Guru Pembelajar
yang telah disusun pada tahun 2016. Fokus revisi terletak pada pengintegrasian
Penguatan Pendidikan Karakter dan pengembangan soal.

Modul ini disusun sebagai bahan ajar program Peningkatan Keprofesian


Berkelanjutan yang diselenggarakan baik oleh PPPPTK/LPPKS/LPPPTK
Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan, Kementerian Pendidikan
dan Kebudayaan maupun oleh instansi terkait lainnya.

Peningkatan Keprofesian Berkelanjutan merupakan upaya yang ditempuh untuk


meningkatkan profesionalisme guru melalui peningkatan kompetensi khususnya
kompetensi pedagogik dan kompetensi profesional. Melalui modul ini diharapkan
kempetensi guru dapat ditingkatkan baik melalui kegiatan Peningkatan
Keprofesian Berkelanjutan moda Tatap Muka, Daring (Dalam Jaringan), maupun
Daring Kombinasi.

Akhir kata, kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada


semua pihak yang telah membantu sehingga modul ini dapat diselesaikan dan
kami mohon masukan, saran, dan kritik dari para pembaca demi penyempurnaan
modul ini dimasa mendatang. Selanjutnya kepada para pembaca kami ucapkan
selamat belajar, semoga mendapatkan hasil yang maksimal. Amin.

Malang, Juli 2017


Kepala PPPPTK BOE Malang,

Dr. Sumarno
NIP 195909131985031001

Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan | iii


MODUL
PENGEMBANGAN KEPROFESIAN BERKELANJUTAN

KOMPETENSI KEAHLIAN
TEKNIK AUDIO VIDEO
SEKOLAH MENENGAH KEJURUAN (SMK)
TERINTEGRASI PENGUATAN PENDIDIKAN KARAKTER DAN
PENGEMBANGAN SOAL

KELOMPOK KOMPETENSI B

PROFESIONAL
TEKNIK KERJA BENGKEL

Penulis:
Rugianto, SPd., MT.
Penelaah:
Drs. Widiharso, MT

Copyright@2016
Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidik danTenaga Kependidikan Bidang
Otomotif dan Elektronika,
Direktorat Jendral Guru dan Tenaga Kependidikan.

Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang


Dilarang mengcopy sebagian atau keseluruhan isi buku ini untuk kepentingan
komersial tanpa izin tertulis dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.
`

Teknik Audio Video KK B

Daftar Isi

Hal
Kata Sambutan.................................................................................................... i
Kata Pengantar ................................................................................................. iii
Daftar Isi ............................................................................................................ ix
Daftar Gambar ................................................................................................... xi
Daftar Tabel ...................................................................................................... xv
Pendahuluan ...................................................................................................... 1
A. Latar belakang ........................................................................................ 1
B. Tujuan Pembelajaran .............................................................................. 4
C. Peta Kompetensi ..................................................................................... 7
D. Ruang Lingkup ........................................................................................ 8
E. Saran Cara Penggunaan Modul .............................................................. 9
Kegiatan Pembelajaran 1 Aturan K3 sesuai standar (Depnaker, OSHA) ..... 17
A. Tujuan ................................................................................................... 17
B. Indikator Pencapaian Kompetensi ......................................................... 17
C. Uraian Materi ........................................................................................ 17
D. Aktifitas Pembelajaran........................................................................... 35
E. Latihan/Tugas ....................................................................................... 38
F. Rangkuman........................................................................................... 39
G. Umpan Balik dan Tindak Lanjut ............................................................. 41
Kegiatan Pembelajaran 2 Kaidah-Kaidah K3, Teknik Sambung, dan Tata
Kelola Bengkel ................................................................................................. 43
A. Tujuan ................................................................................................... 43
B. Indikator Pencapaian Kompetensi ......................................................... 43
C. Uraian Materi ........................................................................................ 43
D. Aktifitas Pembelajaran........................................................................... 85
E. Latihan/Tugas ....................................................................................... 92
F. Rangkuman........................................................................................... 92
G. Umpan Balik dan Tindak Lanjut ............................................................. 96
Kegiatan Pembelajaran 3 Penggunaan Standar K3, Peralatan Kerja Bangku,
dan Peralatan Teknik Sambung, serta Prosedur Perawatan dan Perbaikan
Peralatan Bengkel............................................................................................ 97

Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan | ix


A. Tujuan ................................................................................................... 97
B. Indikator Pencapaian Kompetensi ......................................................... 97
C. Uraian Materi......................................................................................... 97
D. Aktifitas Pembelajaran......................................................................... 140
E. Latihan/Tugas ..................................................................................... 148
F. Rangkuman ......................................................................................... 148
G. Umpan Balik dan Tindak Lanjut ........................................................... 152
Kegiatan Pembelajaran 4 Proyek Bengkel Elektronika ............................... 153
A. Tujuan ................................................................................................. 153
B. Indikator Pencapaian Kompetensi ....................................................... 153
C. Uraian Materi....................................................................................... 153
D. Aktifitas Pembelajaran......................................................................... 175
E. Latihan/Tugas ..................................................................................... 181
F. Rangkuman ......................................................................................... 181
G. Umpan Balik dan Tindak Lanjut ........................................................... 183
Pengembangan Soal...................................................................................... 185
A. Kaidah Penulisan Soal Bentuk Pilihan Ganda ..................................... 186
B. Kaidah penulisan soal uraian .............................................................. 187
Kunci Jawaban Kegiatan Pembelajaran ....................................................... 191
A. Kegiatan Pembelajaran 1 .................................................................... 191
B. Kegiatan Pembelajaran 2 .................................................................... 193
C. Kegiatan Pembelajaran 3 .................................................................... 197
D. Kegiatan Pembelajaran 4 .................................................................... 198
Evaluasi .......................................................................................................... 201
A. Soal Evaluasi ...................................................................................... 201
B. Kunci Jawaban Evaluasi ..................................................................... 206
Penutup .......................................................................................................... 207
A. Kesimpulan ......................................................................................... 207
B. Tindak Lanjut....................................................................................... 208
Daftar Pustaka................................................................................................ 209
Glosarium ....................................................................................................... 211

x | Modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan


`

Teknik Audio Video KK B

Daftar Gambar
Gambar 1 Alur Model Pembelajaran Tatap Muka ............................................... 9
Gambar 2 Alur Pembelajaran Tatap Muka Penuh ............................................. 10
Gambar 3 Alur Pembelajaran Tatap Muka model In-On-In ............................... 12
Gambar 1.1. Label penandaan anjuran dalam pelaksanaan K3 ......................... 21
Gambar 1.2. Jenis–jenis APD yang seharusnya ................................................ 23
Gambar 1.3. Rambu/Simbol Peringatan ............................................................ 25
Gambar 1.4. Tanda-tanda alat pelindung diri ..................................................... 28
Gambar 1.5. Pakaian kerja bengkel ................................................................... 28
Gambar 1.6. Sepatu pengaman ......................................................................... 29
Gambar 1.7. Kacamata pengaman .................................................................... 29
Gambar 1.8. Helm ............................................................................................. 30
Gambar 1.9. Macam-macam masker pelindung................................................. 30
Gambar 1.10. Sarung tangan pelindung ............................................................ 30
Gambar 1.11. Pelindung suara bising ................................................................ 31
Gambar 1.12. Pelindung mesin bor ................................................................... 33
Gambar 2.1. Macam-macam kabel .................................................................... 49
Gambar 2.2. Kabel NYA .................................................................................... 52
Gambar 2.3. Kabel NYM .................................................................................... 52
Gambar 2.4. Kabel NYAF .................................................................................. 53
Gambar 2.5. Kabel NYMHY ............................................................................... 54
Gambar 2.6. Kabel NYY .................................................................................... 55
Gambar 2.7. Kabel Telepon ............................................................................... 56
Gambar 2.8. Aerial cable ................................................................................... 56
Gambar 2.9. Indoor cable .................................................................................. 56
Gambar 2.10. Burial cable ................................................................................. 57
Gambar 2.11. Kabel koaxial ............................................................................... 57
Gambar 2.12. Kabel serat optik ......................................................................... 58
Gambar 2.13. Susunan serat optik .................................................................... 59
Gambar 2.14. Step index multimode .................................................................. 60
Gambar 2.15. Step indek single mode ............................................................... 60
Gambar 2.16. Kabel USB .................................................................................. 61
Gambar 2.17. Simbol grounding ........................................................................ 64

Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan | xi


Gambar 2.18. Sambungan kabel cara ekor babi (pig tail) .................................. 65
Gambar 2.19. Sambungan kabel cara puntir ...................................................... 67
Gambar 2.20. Sambungan kabel cara bolak balik ( Turn Back ) ........................ 67
Gambar 2.21. Sambungan kabel bernadi banyak .............................................. 68
Gambar 2.22. Cabang kabel datar (Plain joint) .................................................. 69
Gambar 2.23. Cabang kabel simpul (Knotted tap joint) ...................................... 69
Gambar 2.24. Blok Diagram Pembuatan PCB ................................................... 71
Gambar 2.25. Struktur Kerja Pembuatan PCB ................................................... 74
Gambar 3.1. Tipe Penggores ............................................................................. 99
Gambar 3.2. Bagian Cap (stamp) .................................................................... 100
Gambar 3.3. Tanda/Cap (Stamp) ..................................................................... 100
Gambar 3.4. Cap (Stamp) huruf dan nomor ..................................................... 100
Gambar 3.5. Penitik ......................................................................................... 100
Gambar 3.6. Jangka Tusuk .............................................................................. 101
Gambar 3.7. Jangka Hati ................................................................................. 101
Gambar 3.8. Macam-macam Pahat ................................................................. 101
Gambar 3.9. Ukuran Kikir ................................................................................ 102
Gambar 3.10. Macam-macam kikir .................................................................. 102
Gambar 3.11. Gergaji Tangan ......................................................................... 103
Gambar 3.12. Gigi Pemotong satu sisi ............................................................. 103
Gambar 3.13. Gigi pemotong dua sisi .............................................................. 103
Gambar 3.14. Bentuk gigi gergaji silang........................................................... 104
Gambar 3.15. Bentuk gigi gergaji lurus ............................................................ 104
Gambar 3.16. Macam-macam Bentuk Tangkai Mata Bor ................................. 104
Gambar 3.17. Mata bor .................................................................................... 105
Gambar 3.18. Sudut mata bor.......................................................................... 105
Gambar 3.19. Me-reamer ................................................................................ 105
Gambar 3.20. Reamer tangan beralur ............................................................. 106
Gambar 3.21. Reamer beralur lurus................................................................. 106
Gambar 3.22. Sney dan rumah sney dipasang pada tangkai pemutar ............. 106
Gambar 3.23. Satu Set Tap ............................................................................. 107
Gambar 3.24. Tangkai Tap .............................................................................. 107
Gambar 3.25. Gunting tangan lurus ................................................................. 108

xii | Modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan


`

Teknik Audio Video KK B

Gambar 3.26. Gunting tangan kombinasi ......................................................... 108


Gambar 3.27. Gunting tangan paruh burung.................................................... 108
Gambar 3.28. Gunting tangan dirgantara ......................................................... 109
Gambar 3.29. Gunting tangan Bulldog ............................................................. 110
Gambar 3.30. Gunting tangan Lingkaran ......................................................... 111
Gambar 3.31. Gunting tangan Trojan............................................................... 111
Gambar 3.32. Macam-macam palu .................................................................. 111
Gambar 3.33. Palu lunak (Rubber-Mallet) ........................................................ 112
Gambar 3.34. Macam palu pembentuk ............................................................ 113
Gambar 3.35. Meja datar ................................................................................. 113
Gambar 3.36. Ragum rahang depan tetap ....................................................... 114
Gambar 3.37. Ragum rahang belakang tetap .................................................. 114
Gambar 3.38. Tang (plier)................................................................................ 115
Gambar 3.39. Kunci pas .................................................................................. 116
Gambar 3.40. Kunci ring .................................................................................. 116
Gambar 3.41. Kunci ellen ................................................................................ 116
Gambar 3.42. Kunci soket ............................................................................... 116
Gambar 3.43. Pipe wrench .............................................................................. 117
Gambar 3.44. Obeng ....................................................................................... 117
Gambar 3.45. Solder listrik .............................................................................. 118
Gambar 3.46. Penyangga solder ..................................................................... 118
Gambar 3.47. Timah solder ............................................................................. 120
Gambar 3.48. Macam-macam bentuk timah solder .......................................... 122
Gambar 3.49. Flux untuk segala penyolderan.................................................. 123
Gambar 3.50. Macam –macam baut solder ..................................................... 123
Gambar 3.51. Baut-solder-tetap....................................................................... 124
Gambar 3.52. Baut solder pistol....................................................................... 124
Gambar 3.53. Baut solder mini ........................................................................ 125
Gambar 3.54. Baut solder pena ....................................................................... 125
Gambar 3.55. Baut-solder listrik untuk pekerjaan biasa ................................... 125
Gambar 3.56. Baut-solder untuk pekerjaan industry ........................................ 126
Gambar 3.57. Cara menyolder......................................................................... 128
Gambar 3.58. Pemasangan komponen ........................................................... 128

Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan | xiii


Gambar 3.59. Hasil solderan ........................................................................... 129
Gambar 3.60. Jepit buaya ................................................................................ 129
Gambar 3.61. Penyedot timah/atractor ............................................................ 130
Gambar 3.62. Pita tembaga ............................................................................. 131
Gambar 4.1. Stenciling .................................................................................... 165
Gambar 4.2. Solder paste stencil, biasa disebut „foil‟ ....................................... 166
Gambar 4.3. Pasta Solder ............................................................................... 166
Gambar 4.4. Proses pemberian pasta solder ................................................... 166
Gambar 4.5. Penempatan komponen SMD ..................................................... 166
Gambar 4.6. Komponen ditempatkan pada pasta solder ................................. 167
Gambar 4.7. A populated board as it slowly enters the reflow oven ................. 167
Gambar 4.8. Komponen sudah tersolder di PCB ............................................. 168
Gambar 4.9. Manual Soldering ........................................................................ 168
Gambar 4.10. Manual soldering (lanjutan) ....................................................... 169
Gambar 4.11. Optical inspection ...................................................................... 169
Gambar 4.12. Hasil PCB yang diperiksa pada AOI .......................................... 170
Gambar 4.13. Pengujian PCB yang sudah dicek AOI ...................................... 170
Gambar 4.14. Proses washing ......................................................................... 171
Gambar 4.15. Mesin pencuci rangkaian elektronika ......................................... 171
Gambar 4.16. Pembersihan dengan angin tekanan tinggi ................................ 172
Gambar 4.17. Hasil akhir rangkaian elektronika ............................................... 173
Gambar 4.18. Pengemasan kedalam plastik .................................................... 173
Gambar 4.19. Board yang sudah dikemas kedalam plastic .............................. 173

xiv | Modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan


`

Teknik Audio Video KK B

Daftar Tabel
Tabel 1 Tabel Komptensi Keahlian ...................................................................... 7
Tabel 2 Daftar Lembar Kerja Modul ................................................................... 14
Tabel 1. 1. Rambu-rambu Warna dalam penerapan K3 ..................................... 26
Tabel 2. 2. Nomenklatur kode – kode kabel di Indonesia .................................. 49
Tabel 2. 3. Karakteristik kelistrikan kabel NYA ................................................... 52
Tabel 2. 4. Karakteristik kelistrikan kabel NYM .................................................. 53
Tabel 2. 5. Karakteristik kelistrikan kabel NYAF ................................................. 54
Tabel 2. 6. Karakteristik kelistrikan kabel NYMHY ............................................. 54
Tabel 2. 7. Karakteristik kelistrikan NYY ............................................................ 55
Tabel 2. 8. Karakteristik kelistrikan Aerial Cable ................................................ 56
Tabel 2. 9. Karakteristik kelistrikan Indoor cable ................................................ 57
Tabel 2. 10. Karakteristik kelistrikan Burial cable ............................................... 57
Tabel 2. 11. Karakteristik penggunaan kabel koaxial ......................................... 58
Tabel 2. 12. Kelas kebakaran ............................................................................ 81
Tabel 2. 13. Jenis Alat Pemadam kebakaran ..................................................... 82
Tabel 3. 1. Ukuran mata (mili) gergaji .............................................................. 104
Tabel 3. 2. Bahan timah solder dan suhu lelehnya........................................... 121
Tabel 3. 3. Urutan penyolderan........................................................................ 129

Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan | xv


`

Teknik Audio Video KK B

Pendahuluan

A. Latar belakang

Program Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan bagi Guru sebagai


salah satu strategi pembinaan guru dan tenaga kependidikan diharapkan
dapat menjamin guru dan tenaga kependidikan mampu secara terus
menerus memelihara, meningkatkan, dan mengembangkan kompetensi
sesuai dengan standar yang telah ditetapkan. Pelaksanaan kegiatan
Program Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan bagi Guru akan
mengurangi kesenjangan antara kompetensi yang dimiliki guru dan tenaga
kependidikan dengan tuntutan profesional yang dipersyaratkan.

Guru dan tenaga kependidikan wajib melaksanakan Program


Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan bagi Guru baik secara mandiri
maupun kelompok. Khusus untuk Program Pengembangan Keprofesian
Berkelanjutan bagi Guru dalam bentuk diklat dilakukan oleh lembaga
pelatihan sesuai dengan jenis kegiatan dan kebutuhan guru.
Penyelenggaraan diklat Program Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan
bagi Guru dilaksanakan oleh PPPPTK dan LPPPTK KPTK atau penyedia
layanan diklat lainnya. Pelaksanaan diklat tersebut memerlukan modul
sebagai salah satu sumber belajar bagi peserta diklat. Modul merupakan
bahan ajar yang dirancang untuk dapat dipelajari secara mandiri oleh
peserta diklat berisi materi, metode, batasan-batasan, dan cara
mengevaluasi yang disajikan secara sistematis dan menarik untuk mencapai
tingkatan kompetensi yang diharapkan sesuai dengan tingkat
kompleksitasnya.

Modul diklat Program Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan bagi Guru


ini merupakan substansi materi pelatihan yang dikemas dalam suatu unit
program pembelajaran yang terencana guna membantu pencapaian
peningkatan kompetensi yang didesain dalam bentuk printed materials
(bahan tercetak). Modul Diklat Program Pengembangan Keprofesian
Berkelanjutan bagi Guru ini berbeda dengan handout, buku teks, atau bahan
tertulis lainnya yang sering digunakan dalam kegiatan pelatihan guru, seperti

Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan | 1


Pendahuluan

diktat, makalah, atau ringkasan materi/bahan sajian pelatihan. Modul Diklat


Program Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan bagi Guru pada intinya
merupakan model bahan belajar (learning material) yang menuntut peserta
pelatihan untuk belajar lebih mandiri dan aktif.

Guru perlu meningkatkan kompetensi profesionalismenya terkait dengan


disiplin ilmu elektronika, khususnya pada topik Teknik Kerja Bengkel para
guru harus terus dimantapkan, ditingkatkan, dan dikembangkan.
Pemantapan tersebut tidak hanya terkait pengetahuan konseptual dan
prosedural tetapi juga pemantapan kemampuan guru dalam menyelesaikan
proses pembelajaran Teknik Kerja Bengkel di dalam kelas dan masalah
dunia nyata atau kehidupan sehari-hari dengan tidak meninggalkan
penguatan pendidikan karakter (PPK). Hal itu tertuang dalam Permendiknas
No 16 Tahun 2007 tentang Standar Kompetensi Guru pada Kompetensi
Profesional pada pasal 1 ayat (1) menyatakan bahwa setiap guru wajib
memenuhi standar kualifikasi akademik dan kompetensi guru yang berlaku
secara nasional.

Lebih lanjut, dalam salah satu butir Nawacita Presiden Joko Widodo adalah
memperkuat pendidikan karakter bangsa dengan melakukan Gerakan
Nasional Revolusi Mental (GNRM) yang akan diterapkan di seluruh sendi
kehidupan berbangsa dan bernegara, termasuk di dalam dunia pendidikan.
Oleh karena itu, Pendidikan karakter perlu digaungkan dan diperkuat
menjadi gerakan nasional pendidikan karakter bangsa melalui program
nasional Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) dalam lembaga pendidikan,
melalui harmonisasi olah hati (etik), olah rasa (estetik), olah pikir (literasi),
dan olah raga (kinestetik) dengan dukungan pelibatan publik dan kerja sama
antara sekolah, keluarga, dan masyarakat yang merupakan bagian dari
GNRM. Bagian-bagian itu tidak boleh dipisahkan agar kita dapat memajukan
kesempurnaan hidup anak-anak kita.

Implementasi PPK dalam modul ini lebih ditekankan pada aktivitas


pembelajaran yang berupa pemaduan di dalam kelas berupa penambahan
dan pengintensifan kegiatan-kegiatan yang berorientasi pada
pengembangan karakter siswa. Dalam rangka mendukung kebijakan
gerakan PPK, modul ini mengintegrasikan lima nilai utama karakter bangsa,

2 | Modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan


`

Teknik Audio Video KK B

yaitu: religius, nasionalis, mandiri, gotong royong, dan integritas. Kelima nilai
utama tersebut terintegrasi pada kegiatan-kegiatan pembelajaran yang ada
pada modul. Adapun sub nilai religius antara lain: cinta damai, toleransi,
menghargai perbedaan agama dan kepercayaan, teguh pendirian, percaya
diri, kerja sama antar pemeluk agama dan kepercayaan, antibuli dan
kekerasan, persahabatan, ketulusan, tidak memaksakan kehendak,
mencintai lingkungan, melindungi yang kecil dan tersisih. Sedangkan sub
nilai nasionalis meliputi: apresiasi budaya bangsa sendiri, menjaga kekayaan
budaya bangsa, rela berkorban, unggul, dan berprestasi, cinta tanah air,
menjaga lingkungan, taat hukum, disiplin, menghormati keragaman budaya,
suku, dan agama. Sub nilai mandiri antara lain: etos kerja (kerja keras),
tangguh tahan banting, daya juang, profesional, kreatif, keberanian, dan
menjadi pembelajar sepanjang hayat. Sub nilai gotong royong antara lain:
menghargai, kerja sama, inklusif, komitmen atas keputusan bersama,
musyawarah mufakat, tolong menolong, solidaritas, empati, anti diskriminasi,
anti kekerasan, dan sikap kerelawanan. Terakhir, sub nilai integritas meliputi:
kejujuran, cinta pada kebenaran, setia, komitmen moral, anti korupsi,
keadilan, tanggung jawab, keteladanan, dan menghargai martabat individu
(terutama penyandang disabilitas).

Berdasarkan hal-hal tersebut di atas, maka modul ini ditulis dalam rangka
memfasilitasi para guru SMK Kompetensi Keahlian Teknik Elektronika Audio
Video untuk menjadi guru pembelajar sepanjang hayat dan dapat
meningkatkan kompetensi profesionalnya secara berkelanjutan dalam
mengkaji materi Teknik Kerja Bengkel. Dalam modul ini akan dibahas Teknik
Kerja Bengkel disertai contoh aplikasinya dengan mengimplementasikan
PPK dalam aktivitas pembelajaran. Berbagai konsep, prinsip, dan prosedur
serta aktivitas belajar dan latihan ditulis sebagai bentuk pembinaan bagi para
guru dan tenaga kependidikan. Pembinaan ini penting dilakukan untuk
mengurangi kesenjangan antara kompetensi yang dimiliki guru dan tenaga
kependidikan dengan tuntutan profesional yang disyaratkan. Untuk itu,
sudah seharusnya para guru berkesadaran untuk melakukan upaya dalam
meningkatkan keprofesionalannya secara berkesinambungan dan
berkelanjutan.

Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan | 3


Pendahuluan

Setelah mempelajari modul ini, guru diharapkan dapat meningkatkan


kompetensi pedagogik dan professional secara mandiri. Selain itu,
guru juga diharapkan mampu menguatkan karakter para peserta didik
melalui tindakan dan tutur katanya selama proses pembelajaran
berdampingan dengan pengembangan intelektualnya. Pada dasarnya
pendidikan di Indonesia bertujuan untuk mengembangkan potensi-
potensi intelektual dan karakter peserta didik.

B. Tujuan Pembelajaran

Modul Program Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan bagi Guru ini


bertujuan untuk memfasilitasi peserta dengan sikap, keterampilan dan
pengetahuan yang dipersyaratkan pada kegiatan pembelajaran. Sikap,
pengetahuan dan keterampilan tersebut merupakan kompetensi-kompetensi
profesional yang mengacu pada Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia.
Dan juga dapat mengembangkan cara berfikir kritis kreatif, pemecahan
masalah, bekerja dalam tim untuk mengalami dan mengeksplorasi relevansi
permasalahan dunia nyata berkenaan dengan pertanyaan, masalah, dan
tantangan yang belum terjawab, dan kemudian membagikan pengalaman
apa yang telah mereka pelajari (think-pair-share). Sehingga setelah
mengikuti pembelajaran ini peserta diharapkan memiliki kompetensi yang
meningkat dibanding sebelumnya, khususnya terkait hal-hal sebagai berikut:
1. menganalisis aturan K3 sesuai standar (Depnaker, OSHA) dengan
benar,
2. mengevaluasi kaidah-kaidah K3, kerja bangku, teknik sambung, dan tata
kelola bengkel sesuai standar dengan benar,
3. mengevaluasi penggunaan standard K3, kerja bangku, teknik sambung,
dan tata kelola bengkel sesuai standar dengan benar,
4. mengkreasi proyek bengkel elektronika sebagai implementasi K3, kerja
bangku, teknik sambung dan montase, serta tata kelola bengkel sesuai
standar dengan benar.

Kemampuan ini merupakan bagian dari pengembangan keprofesian


berkelanjutan agar para guru dapat mengembangkan keilmuan yang

4 | Modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan


`

Teknik Audio Video KK B

diampunya secara kreatif di lingkup pendidikan kejuruan yang akan


menyumbang pengembangan profesi di Kompetensi Keahlian Teknik
Elektronika Audio Video.

Setelah mempelajari kegiatan pembelajaran, peserta Program


Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan (PKB) dapat menerapkan konsep
rekayasa, dan melakukan observasi/wawancara/eksperimen untuk
menerapkan keilmuan (science), terbentuk sikap jujur, dan dapat
menerapkan sikap cara berfikir kritis dan kreatif seperti yang ditunjukkan alur
diagram gambar di bawah, serta didukung oleh keterampilan efektifitas
pribadi yang dibutuhkan untuk karir keahlian.

Selain kompetensi di bidang akademis, peserta mampu memiliki 6


kompetensi efektifitas pribadi, dibutuhkan untuk sukses di bidang karir
keahlian, antara lain;

1. keterampilan interpersonal, sehingga mampu:


 berinteraksi secara tepat dan hormat dengan atasan ataupun
rekan kerja,
 bekerja secara efektif dengan orang-orang yang memiliki
kepribadian dan latar belakang,
 menghormati pendapat, perspektif, adat istiadat, dan
perbedaan individu orang lain,
 dalam menjaga alur kerja, gunakan strategi dan solusi yang
tepat untuk menangani konflik dan perbedaan,
 bersifat fleksibel dan berpikiran terbuka ketika berhadapan
dengan berbagai macam perilaku orang,

Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan | 5


Pendahuluan

 mendengarkan dan mempertimbangkan sudut pandang orang


lain,
2. integritas, sehingga mampu:
 menampilkan perilaku dapat diterima baik secara sosial
maupun pekerjaan,
 memperlakukan orang lain dengan kejujuran, keadilan, dan
rasa hormat,
 mematuhi standar etika sesuai dengan bidang pekerjaannya,
 memiliki tanggung jawab untuk mencapai sasaran-sasaran
kerja dalam jangka waktu yang dapat diterima,
 menerima tanggung jawab atas keputusan dan tindakan
seseorang,
3. profesional, sehingga mampu:
 mempertahankan sikap dan diterima secara sosial,
 menunjukkan kontrol diri, memiliki ketenangan ketika berurusan
dalam situasi dibawah tekanan,
 menerima kritik dan berusaha untuk belajar dari kesalahan,
 menunjukkan sikap positif terhadap pekerjaan,
 mengikuti aturan, standar berpakaian dan kebersihan pribadi
(tidak jorok),
 menahan diri dari penyalahgunaan wewenang,
4. prakarsa, sehingga mampu:
 menunjukkan kemauan untuk bekerja keras,
 mengambil inisiatif, bertanggung jawab dan menyukai
tantangan baru,
 mengejar target bekerja dan berusaha untuk menyelesaikan
tugas-tugas dengan tepat waktu dengan hasil yang realistis,
 merusaha untuk melebihi standar dan harapan,
5. Keteguhan dan Kehandalan, sehingga mampu:
 menampilkan perilaku yang bertanggung jawab selama di
tempat kerja,

6 | Modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan


`

Teknik Audio Video KK B

 berperilaku secara konsisten (mudah ditebak) dan handal,


 memenuhi kewajiban, kelengkapan tugas dan memenuhi
tenggat waktu,
 mengikuti petunjuk secara verbal atau tertulis,
 mematuhi aturan organisasi, kebijakan, dan prosedur,
6. Motivasi Belajar (Kolaborasi) Sepanjang Hayat sehingga
mampu:
 menunjukkan kemauan untuk belajar, menerapkan
pengetahuan dan Keterampilan baru,
 menunjukkan minat belajar seumur hidup (sepanjang hayat)
secara profesional dan pengembangan diri,
 memperluas pengetahuan dan menerapkan dalam
keterampilan,
 menggunakan pengetahuan dan keterampilan untuk
menyelesaikan tugas-tugas tertentu,
 belajar secara kolaboratif melalui internet untuk mengikuti
perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi baru,
 membekali diri dengan pengetahuan tentang kesadaran
teknologi hijau (kesepahaman agenda abad 21).

C. Peta Kompetensi

Tabel 1 Tabel Komptensi Keahlian


Standar Kompetensi Guru
Kompetensi Indikator Esensial/ Indikator
No Kompetensi Kompetensi Guru
Utama Pencapaian Kompetensi (IPK)
Inti Guru Paket Keahlian

2.1.1. Menguraikan symbol K3


2.1. Menganalisis aturan
berdasarkan standar
K3 sesuai standar
Menguasai 2.1.2. Mengidentifikasi peralatan
(Depnaker, OSHA).
materi, struktur, K3 sesuai jenis dan fungsinya
konsep dan pola 2.2.1. Memeriksa kaidah-kaidah
pikir keilmuan K3 sesuai standar
Profesional 2.2. Mengevaluasi
yang 2.2.2. Memeriksa kaidah-kaidah
kaidah-kaidah K3, kerja
mendukung kerja bangku sesuai standar
bangku, teknik
mata pelajaran 2.2.3. Memeriksa kaidah-kaidah
sambung, dan tatakelola
yang diampu teknik sambung sesuai standar
bengkel.
2.2.4. Memeriksa kaidah-kaidah
tata kelola bengkel sesuai

Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan | 7


Pendahuluan

Standar Kompetensi Guru


Kompetensi Indikator Esensial/ Indikator
No Kompetensi Kompetensi Guru
Utama Pencapaian Kompetensi (IPK)
Inti Guru Paket Keahlian

standar
2.3.1. Menemukan kesalahan
secara sistimatis tentang
penggunaan standard K3
2.3.2. Menemukan kesalahan
secara sistimatis tentang
2.3. Mengevaluasi prosedur penggunaan peralatan
penggunaan standard kerja bangku
K3, kerja bangku, teknik 2.3.3. Menemukan kesalahan
sambung, dan tata secara sistimatis tentang
kelola bengkel. prosedur penggunaan peralatan
teknik sambung
2.3.4.Menemukan kesalahan
secara sistimatis tentang
prosedur perawatan dan
perbaikan peralatan bengkel
2.4.1. Merancang desain proyek
sebagai produk bengkel
elektronika
2.4.2. Memproduksi proyek
2.4. Mengkreasi proyek sebagai produk bengkel
bengkel elektronika. elektronika
2.4.3. Merencanakan panduan
perakitan (buku manual) produk
bengkel elektronika memenuhi
standar K3.

D. Ruang Lingkup

Pada modul diklat program pengembangan keprofesian berkelanjutan ini


akan membahas materi tentang Teknik Kerja Bengkel untuk Kompetensi
Keahlian Teknik Elektronika Audio Video dikemas dalam 4 kegiatan
pembelajaran, meliputi:
1. kegiatan pembelajaran 1 bertujuan untuk memfasilitasi peserta mampu
menguasai sikap, pengetahuan dan keterampilan yang dipersyaratkan
pada kegiatan pembelajaran tentang analisis aturan K3 sesuai standar
(Depnaker, OSHA),
2. kegiatan pembelajaran 2 bertujuan untuk memfasilitasi peserta mampu
menguasai sikap, pengetahuan dan keterampilan yang dipersyaratkan
pada kegiatan pembelajaran tentang evaluasi kaidah-kaidah K3, teknik
sambung, dan tata kelola bengkel,
3. kegiatan pembelajaran 3 bertujuan untuk memfasilitasi peserta mampu
menguasai sikap, pengetahuan dan keterampilan yang dipersyaratkan
pada kegiatan pembelajaran tentang evaluasi penggunaan standard K3,
kerja bangku, teknik sambung, dan tata kelola bengkel,

8 | Modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan


`

Teknik Audio Video KK B

4. kegiatan pembelajaran 4 bertujuan untuk memfasilitasi peserta mampu


menguasai sikap, pengetahuan dan keterampilan yang dipersyaratkan
pada kegiatan pembelajaran tentang kreasi proyek bengkel elektronika
meliputi merancang desain proyek sebagai produk bengkel elektronika,
memproduksi proyek sebagai produk bengkel elektronika, dan
merencanakan panduan perakitan (buku manual) produk bengkel
elektronika memenuhi standar K3.

E. Saran Cara Penggunaan Modul

Secara umum, cara penggunaan modul pada setiap Kegiatan Pembelajaran


disesuaikan dengan skenario setiap penyajian mata diklat. Modul ini dapat
digunakan dalam kegiatan pembelajaran guru, baik untuk moda tatap muka
dengan model tatap muka penuh maupun model tatap muka In-On-In. Alur
model pembelajaran secara umum dapat dilihat pada bagan di bawah ini.

Gambar 1 Alur Model Pembelajaran Tatap Muka

1. Deskripsi Kegiatan Diklat Tatap Muka Penuh


Kegiatan pembelajaran diklat tatap muka penuh adalah kegiatan fasilitasi
peningkatan kompetensi guru melalui model tatap muka penuh yang
dilaksanakan oleh unit pelaksana teknis di lingkungan Ditjen Guru dan
Tenaga Kependidikan (GTK) maupun lembaga diklat lainnya. Kegiatan tatap

Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan | 9


Pendahuluan

muka penuh ini dilaksanakan secara terstruktur pada suatu waktu yang di
pandu oleh fasilitator.
Tatap muka penuh dilaksanakan menggunakan alur pembelajaran seperti
pada gambar di bawah.

Gambar 2 Alur Pembelajaran Tatap Muka Penuh

Kegiatan pembelajaran tatap muka pada model tatap muka penuh dapat
dijelaskan sebagai berikut.
a. Pendahuluan
Pada kegiatan pendahuluan fasilitator memberi kesempatan kepada
peserta diklat untuk mempelajari:
1) latar belakang yang memuat gambaran materi
2) tujuan kegiatan pembelajaran setiap materi
3) kompetensi atau indikator yang akan dicapai melalui modul.
4) ruang lingkup materi kegiatan pembelajaran
5) langkah-langkah penggunaan modul
b. Mengkaji Materi
Pada kegiatan mengkaji materi modul profesional kelompok kompetensi B
(Teknik Kerja Bengkel), fasilitator memberi kesempatan kepada guru
sebagai peserta untuk mempelajari materi yang diuraikan secara singkat

10 | Modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan


`

Teknik Audio Video KK B

sesuai dengan indikator pencapaian hasil belajar. Guru sebagai peserta


dapat mempelajari materi secara individual, berpasangan, maupun
berkelompok dan dapat mengkonfirmasi permasalahan kepada fasilitator.

c. Melakukan aktivitas pembelajaran


Pada kegiatan ini peserta melakukan kegiatan pembelajaran sesuai
dengan rambu-rambu atau instruksi yang tertera pada modul dan dipandu
oleh fasilitator. Kegiatan pembelajaran pada aktivitas pembelajaran ini
akan menggunakan pendekatan yang secara langsung berinteraksi di
kelas pelatihan bersama fasilitator dan peserta lainnya, baik itu dengan
menggunakan diskusi tentang materi, melaksanakan praktik, dan latihan
kasus.
Lembar kerja pada pembelajaran tatap muka penuh adalah bagaimana
menerapkan pemahaman materi-materi yang berada pada kajian materi.
Pada aktivitas pembelajaran materi ini juga peserta secara aktif menggali
informasi, mengumpulkan dan mengolah data sampai pada peserta dapat
membuat kesimpulan kegiatan pembelajaran.

d. Presentasi dan Konfirmasi


Pada kegiatan ini peserta melakukan presentasi hasil kegiatan sedangkan
fasilitator melakukan konfirmasi terhadap materi dan dibahas bersama.
Pada bagian ini, peserta dan penyaji me-review materi berdasarkan
seluruh kegiatan pembelajaran

e. Refleksi
Pada bagian ini peserta dan penyaji me-review atau melakukan refleksi
materi berdasarkan seluruh kegiatan pembelajaran, kemudian didampingi
oleh panitia menginformasikan tes akhir yang akan dilakukan oleh seluruh
peserta yang dinyatakan layak tes akhir.

2. Deskripsi Kegiatan Diklat Tatap Muka In-On-In


Kegiatan diklat tatap muka dengan model In-On-In adalah kegiatan fasilitasi
peningkatan kompetensi guru yang menggunakan tiga kegiatan utama, yaitu
In Service Learning 1 (In-1), On the Job Learning (On), dan In Service

Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan | 11


Pendahuluan

Learning 2 (In-2). Secara umum, kegiatan pembelajarannya tergambar pada


alur berikut ini.

Gambar 3 Alur Pembelajaran Tatap Muka model In-On-In

Kegiatan pembelajaran tatap muka pada model In-On-In dapat dijelaskan


sebagai berikut:
a. Pendahuluan
Pada kegiatan pendahuluan disampaikan bertepatan pada saat
pelaksanaan In service learning 1 fasilitator memberi kesempatan kepada
peserta diklat untuk mempelajari:
• latar belakang yang memuat gambaran materi
• tujuan kegiatan pembelajaran setiap materi
• kompetensi atau indikator yang akan dicapai melalui modul
• ruang lingkup materi kegiatan pembelajaran
• langkah-langkah penggunaan modul.
b. In Service Learning 1 (IN-1)
• Mengkaji Materi

12 | Modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan


`

Teknik Audio Video KK B

Pada kegiatan mengkaji materi modul kelompok kompetensi B. Teknik


Kerja Bengkel, fasilitator memberi kesempatan kepada guru sebagai
peserta untuk mempelajari materi yang diuraikan secara singkat sesuai
dengan indikator pencapaian hasil belajar. Guru sebagai peserta dapat
mempelajari materi secara individual maupun berkelompok dan dapat
mengkonfirmasi permasalahan kepada fasilitator.
• Melakukan aktivitas pembelajaran
Pada kegiatan ini peserta melakukan kegiatan pembelajaran sesuai
dengan rambu-rambu atau instruksi yang tertera pada modul dan
dipandu oleh fasilitator. Kegiatan pembelajaran pada aktivitas
pembelajaran ini akan menggunakan pendekatan/metode yang secara
langsung berinteraksi di kelas pelatihan, baik itu dengan menggunakan
metode berfikir reflektif, diskusi, brainstorming, simulasi, maupun studi
kasus yang kesemuanya dapat melalui Lembar Kerja yang telah
disusun sesuai dengan kegiatan pada IN1.
Pada aktivitas pembelajaran materi ini peserta secara aktif menggali
informasi, mengumpulkan dan mempersiapkan rencana pembelajaran
pada on the job learning.
c. On the Job Learning (ON)
• Mengkaji Materi
Pada kegiatan mengkaji materi modul kelompok kompetensi B. Teknik
Kerja Bengkel, guru sebagai peserta akan mempelajari materi yang
telah diuraikan pada in service learning 1 (IN1). Guru sebagai peserta
dapat membuka dan mempelajari kembali materi sebagai bahan dalam
mengerjakan tugas-tugas yang ditagihkan kepada peserta.
• Melakukan aktivitas pembelajaran
Pada kegiatan ini peserta melakukan kegiatan pembelajaran di
sekolah maupun di kelompok kerja berbasis pada rencana yang telah
disusun pada IN1 dan sesuai dengan rambu-rambu atau instruksi yang
tertera pada modul. Kegiatan pembelajaran pada aktivitas
pembelajaran ini akan menggunakan pendekatan/metode praktik,
eksperimen, sosialisasi, implementasi, peer discussion yang secara
langsung di dilakukan di sekolah maupun kelompok kerja melalui

Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan | 13


Pendahuluan

tagihan berupa Lembar Kerja yang telah disusun sesuai dengan


kegiatan pada ON.
Pada aktivitas pembelajaran materi pada ON, peserta secara aktif
menggali informasi, mengumpulkan dan mengolah data dengan
melakukan pekerjaan dan menyelesaikan tagihan pada on the job
learning.
d. In Service Learning 2 (IN-2)
Pada kegiatan ini peserta melakukan presentasi produk-produk tagihan
ON yang akan di konfirmasi oleh fasilitator dan dibahas bersama.
e. Refleksi
Pada bagian ini peserta dan penyaji me-review atau melakukan refleksi
materi berdasarkan seluruh kegiatan pembelajaran, kemudian didampingi
oleh panitia menginformasikan tes akhir yang akan dilakukan oleh seluruh
peserta yang dinyatakan layak tes akhir.
3. Lembar Kerja
Modul pembinaan karir guru kelompok kompetensi B. Teknik Kerja Bengkel
terdiri dari beberapa kegiatan pembelajaran yang didalamnya terdapat
aktivitas-aktivitas pembelajaran sebagai pendalaman dan penguatan
pemahaman materi yang dipelajari.
Modul ini mempersiapkan lembar kerja yang nantinya akan dikerjakan oleh
peserta, lembar kerja tersebut dapat terlihat pada table berikut.
Tabel 2 Daftar Lembar Kerja Modul
No Kode LK Nama LK Keterangan
1. LK 1.1 Observasi Simbol K3 sebagai penerapan/penggunaan TM; IN 1
aturan K3 berdasarkan standar
2. LK 1.2 Observasi Peralatan K3 sebagai penerapan/penggunaan TM; ON
aturan K3 berdasarkan standar
3. LK 2.1 Observasi Kaidah-kaidah K3 dengan menerapkan aturan TM; 1N 1
K3 berdasarkan standar
4. LK 2.2 Melakukan Kaidah-kaidah teknik sambung dengan aturan TM; ON
K3 berdasarkan standar
5. LK 2.3 Observasi tata kelola bengkel sebagai TM; ON
penerapan/penggunaan aturan K3 berdasarkan standar
6. LK 3.1 Observasi untuk menemukan kesalahan secara sistimatis TM; IN 1
tentang penggunaan standard K3
7. LK 3.2 Observasi untuk menemukan kesalahan secara sistimatis TM; ON
tentang prosedur penggunaan peralatan kerja bangku
8 LK 3.3 Observasi untuk menemukan kesalahan secara sistimatis TM; ON
tentang prosedur penggunaan peralatan teknik sambung
9 LK 3.4 Observasi untuk menemukan kesalahan secara sistimatis TM; ON

14 | Modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan


`

Teknik Audio Video KK B

tentang prosedur perawatan dan perbaikan peralatan


bengkel
10 LK 4.1 Merancang desain proyek sebagai produk bengkel TM; IN1
elektronika
11 LK 4.2 Memproduksi proyek sebagai produk bengkel elektronika TM; ON
12 LK 4.3 Merencanakan panduan perakitan (buku manual) produk TM; ON
bengkel elektronika memenuhi standar K3

Keterangan.
TM : Digunakan pada Tatap Muka Penuh
IN1 : Digunakan pada In service learning 1
ON : Digunakan pada on the job learning

Untuk membantu peserta diklat dalam menguasai modul secara optimal, maka
hendaklah melakukan evaluasi secara mandiri dan jujur serta mencocokkan
dengan kuncinya apabila sudah selesai. Apabila nilai latihan mencapai lebih dari
75%, maka peserta diklat dapat melanjutkan ke kegiatan pembelajaran
berikutnya. Apabila nilai latihan belum mencapai 75%, maka pelajari kembali
materinya dengan penuh semangat dan tidak mudah putus asa. Jika masih
menemui kesulitan diskusikan dengan teman sejawat. Setelah itu, peserta diklat
kerjakan kembali latihannya secara mandiri.
Selamat belajar, semoga kesuksesan selalu menyertai Anda.

Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan | 15


`

Teknik Audio Video KK B

Kegiatan Pembelajaran 1
Aturan K3 sesuai standar (Depnaker, OSHA)

A. Tujuan

Setelah menyelesaikan materi pembelajaran ini, peserta diharapkan dapat


menganalisis aturan K3 sesuai standar (Depnaker, OSHA) dengan benar.

B. Indikator Pencapaian Kompetensi

Setelah menyelesaikan materi pembelajaran ini, peserta diharapkan dapat:


1. menguraikan symbol K3 berdasarkan standar,
2. mengidentifikasi peralatan K3 sesuai jenis dan fungsinya.

C. Uraian Materi

1. Simbol K3 berdasarkan standar di Laboratorium/Bengkel


Elektronika Audio Video
a. Keselamatan & Kesehatan Kerja (K3) di Laboratorium/Bengkel

Keselamatan kerja diartikan sebagai suatu upaya agar pekerja


selamat di tempat kerjanya sehingga terhindar dari kecelakaan
termasuk juga untuk menyelamatkan peralatan serta produksinya.
Kesehatan kerja diartikan sebagai suatu upaya untuk menjaga
kesehatan pekerja dan mencegah pencemaran disekitar tempat
kerjanya (masyarakat dan lingkungan). Di Undang-undang No. 14,
Tahun 1969 tentang : Ketentuan Pokok Mengenai Tenaga Kerja,
disebutkan bahwa “Tiap tenaga kerja berhak mendapat perlindungan
atas keselamatan, kesehatan, kesusilaan, dan pemeliharaan moral
kerja serta perlakuan yang sesuai dengan martabat manusia, moral

Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan | 17


Kegiatan Pembelajaran 1

dan agama. Kemudian menurut UU No.1 Tahun 1970, mengatur


tentang keselamatan kerja di segala tempat kerja, baik di darat, di
dalam tanah, di permukaan air, di dalam air, maupun di udara yang
berada di wilayah kekuasaan hukum Republik Indonesia. Kemudian
menurut ILO (International Labour Organisation) fungsi kesehatan
kerja adalah : melindungi pekerja terhadap gangguan kesehatan yang
mungkin timbul dari pekerjaan dan lingkungan kerja.

Membantu pekerja menyesuaikan diri dengan pekerjaan baik fisik


maupun mental serta menyadari kewajiban terhadap pekerjaannya.
Memperbaiki, memelihara keadaan fisik mental maupun sosial pekerja
sebaik mungkin. Secara umum tujuan Kesehatan & Keselamatan Kerja
(K3) adalah sebagai berikut:
 melindungi tenaga kerja atas hak keselamatan dalam melakukan
pekerjaan untuk kesejahteraan hidup dan meningkatkan produksi
serta produktivitas nasional,
 menjamin terpeliharanya sumber produksi dan pendayagunaannya
secara aman,efisien dan efektif,
 menjamin keselamatan dan kesehatan orang lain yang berada di
tempat dan sekitar pekerjaan itu,
 khusus dari segi kesehatan, mencegah dan membasmi penyakit
akibat pekerjaan.

Tujuan tindakan Keselamatan & Kesehatan Kerja (K3) adalah mencegah


terjadinya kecelakaan di workshop; mencegah timbulnya penyakit akibat
pekerjaan; mencegah/ mengurangi kematian; mencegah/mengurangi
cacad tetap; mengamankan material, konstruksi, pemakaian,
pemeliharaan bangunan-bangunan, alat-alat kerja, mesin-mesin, instalasi
dan sebagainya; meningkatkan produktiffitas kerja tanpa memeras tenaga
dan menjamin kehidupan produktifitasnya; mencegah pemborosan
tenaga kerja, modal, alat-alat dan sumber-sumber produksi lainnya
sewaktu kerja dsb; menjamin kegembiraan semangat kerja; dan
memperlancar, meningkatkan dan mengamankan produksi, industri dan
pembangunan.

b. Ruang Lingkup K3

18 | Modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan


`

Teknik Audio Video KK B

Ruang lingkup tindakan K3 dilakukan di setiap pekerjaan, kapanpun dan


di manapun. Tindakan keselamatan kerja dilakukan di tempat kerja, di
lingkungan keluarga /rumah tangga, lingkungan masyarakat. Adapun
syarat-syarat pelaksanaan K3 diperuntukan untuk:
 mencegah dan mengurangi kecelakaan,
 membuat jalan penyelamatan (emergency exit),
 memberi pertolongan pertama(first aids/PPPK),
 memberi peralatan pelindung pada pekerja dan alat kerja,
 mempertimbangkan faktor-faktor kenyamanan kerja,
 mencegah dan mengendalikan timbulnya penyakit fisik dan psychis,
 memelihara ketertiban dan kebersihan kerja,
 mengusahakan keserasian antar pekerja, perkakas, lingkungan dan
proses kerja.

Adapun aspek keselamatan kerja jika dilakukan di bengkel perlu ada


tanggung jawab moral dan komitmen, adanya kemampuan sumber daya
manusia, dan tindakan pencegahan. Tujuan utama kesehatan kerja
antara lain meliputi : pencegahan dan pemberantasan penyakit-penyakit
dan kecelakaan akibat kerja; pemeliharaan dan peningkatan kesehatan
dan gizi tenaga kerja; perawatan, efisiensi dan produktifitas tenaga kerja;
Pemberantasan kelelahan tenaga kerja dan meningkatkan kegairahan
serta kenikmatan kerja; perlindungan masyarakat luas dari bahaya-
bahaya yang mungkin ditimbulkan oleh produk-produk kesehatan.

Di samping itu, tujuan Keselamatan Kerja meliputi: melindungi tenaga


kerja atas hak keselamatan dalam melakukan pekerjaan; untuk
kesejahteraan hidup dan meningkatkan produksi serta produktifitas
nasional; menjamin keselamatan setiap orang lain yang berada di tempat
kerja; sumber produksi dipelihara dan dipergunakan secara aman dan
efisien; dan Sasaran utama keselamatan kerja adalah tempat kerja.

Syarat Keselamatan Kerja harus mengarah pada:


 mencegah dan mengurangi terjadinya kecelakaan,
 mencegah, mengurangi, dan memadamkan kebakaran,
 mencegah dan mengurangi bahaya peledakan,

Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan | 19


Kegiatan Pembelajaran 1

 memberi kesempatan atau jalan menyelamatkan diri pada waktu


kebakaran,
 memberi pertolongan pada kecelakaan,
 membeli alat-alat pelindung diri pada para pekerja.

Dengan terjaminnya tercapainya tujuan dan persyaratan keselamatan


kerja akan mempengaruhi pekerja atau siapa saja yang terkait dengan
pekerjaan tersebut. Tidak hanya orang yang terkait di dalamnya, akan
tetapi juga lingkungan dan benda kerja yang diproses.

Untuk itu, perlu dilakukan tindakan preventif, dengan cara setiap


pekerjaan harus dilakukan secara benar sesuai dengan Standart
Operational Procedure (SOP), ada alur kerja yang jelas:
 menyiapkan dokter kesehatan,
 dilakukanya pelatihan PPPK bagi semua SDM yang terlibat dalam
pekerjaan, pembentukan seksi dan pasukan khusus, perencanaan
gedung, ruang, bengkel tempat kerja sesuai standar, pemahaman
terhadap UU K3,
 kedisiplinan, ketaatan dan kepatuhan,
 kontrol, evaluasi dan pengembangan preplacement; pemeriksaan
periodik,
 perencanaan jangka pendek dan panjang,
 pendidikan dan pelatihan tentang potensi dan bahaya akibat kerja;
melakukan studi banding; mendatangkan ahli; epidemiology study;
ergonomy; pencatatan dan pelaporan; dan dilakukan immunisasi.

Namun demikian, walaupun masalah K3 telah dirancang dan disiapkan


dengan sebaik-baiknya, tetap saja ada kesalahan yang mengakibatkan
terjadinya kecelakaan. Hal ini diakibatkan oleh beberapa faktor, antara
lain:
 pribadi yang tidak siap bekerja,
 suasana tidak kondusif dan nyaman,
 pekerja yang tidak kompeten,
 alat/peralatan yang tidak sesuai peruntukannya,
 kondisi alat/peralatan yang tidak aman,
 lingkungan kerja tidak siap / berbahaya,

20 | Modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan


`

Teknik Audio Video KK B

 penerangan tidak cukup / berlebihan Kotor dan tidak teratur,


 perlengkapan keselamatan kerja yang kurang,
 bekerja tidak sesuai SOP,
 tidak ada rambu-rambu / tanda-tanda,
 tidak ada aturan,
 tidak ada alat keselamatan kerja; dan sebagainya.

Untuk itu maka perlu memperhatikan beberapa hal yang bisa dilakukan,
agar kesalahan atau kecelakaan dapat seminimal mungkin. Hal-hal yang
harus diperhatikan antara lain : Alat Pelindung Diri (APD) dipakai sesuai
peraturan dan peruntukkannya. Perhatikan petunjuk gambar APD pada
gambar berikut:

Simbol APD Arti Label Simbol APD Arti Label


Gunakan alas Gunakan
kaki atau sepatu pelindung wajah
boot / Face Shield

Gunakan masker Gunakan sarung


/ respirator tangan

Gunakan
Kacamata /
googles

Gambar 1.1. Label penandaan anjuran dalam pelaksanaan K3


Sumber: https://jujubandung.wordpress.com/2012/08/25/simbol-alat-pelindung-diri-apd-versi-ghs/

Hal lain yang harus menjadi perhatian antara lain meliputi:


 pakaian, rambut, dan kuku,
 patuhi aturan perletakan alat kerja,
 pembuangan bahan bekas, pakaian kerja,
 membuat laporan kejadian,
 melaksanakan dengan tertib aturan, peraturan, tata tertib, Undang-
undang tentang K3,
 jangan gunakan peralatan rusak,
 bersihkan mesin sesudah dipakai,
 pastikan tak ada peralatan tertinggal,
 listrik mati/off sebelum ditinggal,
 semua peralatan telah dikembalikan ke tempat semula, Jangan
gunakan peralatan tanpa hak,

Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan | 21


Kegiatan Pembelajaran 1

 saat akan menjalankan mesin pastikan semua kencang, terikat, tak


ada perlengkapan mengganggu,
 lantai bersih,
 membuat laporan akhir,
 mengisi log book pemakaian alat / mesin,
 pekerja paham K3,
 dapat menggunakan perlengkapan K3,
 menggunakan pakaian kerja standard,
 memahami sistem evakuasi, oleh karena itu perlu disiapkan dan
dipastikan bahwa semua peralatan harus layak pakai.

Tak ada hal yang mencurigakan menjadi penyebab keadaan membuat


tidak sehat dan berbahaya. Sistem alarm bekerja dan sistem keselamatan
kerja bekerja dengan baik. Perlu latihan/simulasi penanggulangan bahaya
dan evakuasi. Inspeksi dan tindakan Maintenance and Repair (M&R)
secara periodik terhadap semua hal yang berpotensi menjadi penyebab
sakit/kecelakaan. Tak boleh menjalankan/menggunakan alat/mesin tanpa
memiliki kompetensi Alat Pelindung Diri (APD) yang lain yang masih layak
pakai, dapat dilihat pada gambar berikut ini.

No Alat/Perlengkapan Nama/Penggunaan

1 Safety Shoes, berfungsi sebagai alat


pengaman saat bekerja ditempat
yang becek ataupun berlumpur.
Kebanyaakan dilapisi dengan metal
untuk melindungi kaki dari benda
tajam atau berat, benda panas,
cairan kimia dan sebagainya.

2 Safety Helmet, berfungsi sebagai


pelindung kepala dari benda yang
bisa mengenai kepala secara
langsung.

22 | Modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan


`

Teknik Audio Video KK B

Respirator, berfungsi sebaagai


penyaring udara yang dihirup saat
bekerja di tempat dengan kualitas
udara buruk seperti berdebu,
beracun, dan sebagainya.

Gambar 1.2. Jenis–jenis APD yang seharusnya


Sumber: http://inspirasiku-deblitar.blogspot.co.id/2011/03/jenis-jenis-apd.html

Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan | 23


Kegiatan Pembelajaran 1

c. Rambu-Rambu K3 di Laboratorium/Bengkel

Tanda bahaya dan peringatan disebut juga tanda instruksi yang harus
dicantumkan pada setiap mesin, ruangan yang mengandung unsur
bahaya, ditempat yang berbahaya, dimana sering terjadi kecelakaan atau
ditempat Pembuatan panduan pelayanan kesehatan dan dan
keselamatan di sekitar lingkungan tempat kerja penyimpanan zat kimia
yang mempunyai tanda khusus sesuai dengan sifat kimia tersebut.

Tanda-tanda instruksi sangat membantu setiap orang melihatnya untuk


memperingatkan atau menyadarkan dari kemungkinan terjadinya
bahaya/kecelakaan yang dapat menimpanya. Prosedur pembuatan tanda
instruksi dan cara penempatannya, sebagai berikut:
1) setiap tangga, lantai berlubang dan terowongan, dimana pekerja akan
melaluinya harus diberi tanda dengan simbul untuk mencegah bahaya
terjatuh, patah kaki dan lainnya,
2) ruangan atau tempat yang menyimpan bahan/zat yang mudah
terbakar misalnya bensin, zat kimia, kapas, kain dan lainnya, maka
didepan pintu masuk, lemari diberi tanda /simbul mudah terbakar,
3) ruangan atau tempat yang menyimpan bahan/zat yang mengandung
gas beracun misalnya zat kimia yang mengandung racun, maka
didepan pintu masuk, lemari zat diberi tanda /simbul gas beracun,
4) tanda atau simbol bahaya harus kelihatan jelas bila pekerja
melakukan pekerjaan dengan menggunakan warna merah sebagai
warna utama, papan dibagian atas diberi warna hitam, sebelah bawah
diberi cat warna putih.

Penggunaan papan penanda keselamatan yang benar di tempat kerja


dapat:
1) menggalakkan instruksi – instruksi dan aturan – aturan keselamatan
kerja,
2) memberikan informasi atas resiko dan tindakan pencegahan yang
harus di ambil.

Terdapat tiga kelompok penanda keselamatan yang dapat digunakan di


tempat kerja yaitu:

24 | Modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan


`

Teknik Audio Video KK B

1) Penanda Keselamatan Kerja digunakan untuk memberikan informasi


dalam kondisi kerja normal,
2) Penanda Peringatan Bahaya di gunakan untuk mengidentifikasi
beberapa subtansi berbahaya dan perlu dimasukkan sebagai bagian
dari pelabelan subtansi-subtansi berbahaya,
3) Papan Hazhem digunakan untuk memberikan peringatan dalam
kondisi darurat mengenai sifat subtansi-subtansi yang mungkin
terlibat dalam kebakaran atau kecelakaan di jalan raya. Untuk
kendaraan transportasi telah dilengkapi dengan sebuah kartu term
yang di pegang oleh pengemudi.

Pemasangan rambu-rambu keselamatan bertujuan sebagai upaya untuk


mengatasi kecelakaan dan gangguan kesehatan dapat diberi peringatan
yang berupa rambu atau simbol, misalnya tanda larangan, peringatan,
perintah atau anjuran.

Gambar 1.3. Rambu/Simbol Peringatan


Sumber: https://hermashinta.wordpress.com/2012/10/06/rambu-rambu-keselamatan-safety-signs/

Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan | 25


Kegiatan Pembelajaran 1

Tindakan preventif terhadap terjadinya kecelakaan kerja dapat dilakukan


melalui pemasangan rambu-rambu keselamatan kerja. Pemasangan
rambu-rambu keselamatan dilakukan sebagai upaya untuk mengatasi
kecelakaan dan gangguan kesehatan dapat diberi peringatan berupa
rambu-rambu atau simbol, misalnya tanda larangan, peringatan, perintah
atau anjuran. Pada tabel berikut diberikan beberapa contoh rambu-
rambu berdasarkan warna dalam penerapan K3.

Tabel 1. 1. Rambu-rambu Warna dalam penerapan K3

Upaya yang bisa diusahakan untuk meminimalkan terjadinya kecelakaan


disarankan dalam suatu tempat kerja, baik di laboratorium, bengkel atau
tempat kerja lainnya bisa dilakukan antara lain : dipasang alat deteksi
(heat, smoke detector), Breakglass, Alarm, Camera, Alat / tabung
pemadam kebakaran, Sprinkler 68 oC, Hydrant, Alat Evakuasi (Tangga,
Lift, Helipet, dll.) Di samping itu, perlu disiapkan K3 di Bengkel, adanya
pengawasan, peringatan cara kerja salah, dipasang tanda / rambu, alat /
mesin rusak jangan dioperasikan, alat pelindung (Kacamata, penutup
telinga, topi, “Sarung tangan” dan sebagainya). Terjaminnya ventilasi
udara, penerangan dan pencahayaan yang cukup, dipasang blower /
vacum, dan sekring, kabel listrik yang terstandar, dan terpeliharanya
Kebersihan Budaya kerja tidak tahu, tidak peduli dan masa bodoh, cara
kerja salah, dan tidak sanggup melaksanakan tindakan K3 harus dihindari
jauh-jauh.

Sebaliknya yang harus didekati adalah budaya kebersihan, dan budaya


disiplin SOP. Salah satu yang bisa dilakukan antara lain:
 melakukan pemeliharaan dan perbaikan alat rusak,
 memperhatikan peletakan alat sewaktu kerja,

26 | Modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan


`

Teknik Audio Video KK B

 pengaturan posisi badan/indera: tangan, mata, telinga, kaki hidung


dan sebagainya.

Berdasarkan hasil penelitian ditemukan bahwa 80~90% kecelakaan


terjadi akibat dari faktor manusia. Unsur-unsur tersebut menurut Buku
yang berjudul “Management Losses, pada bagian bab yang berjudul The
Caosis and effects of loss, dikatakan antara lain : pertama, adanya
ketidakseimbangan fisik tenaga kerja, misalnya : tidak sesuai dengan
berat badan, kekuatan dan jangkauan; posisi tubuh yang menyebabkan
menjadi lemah, kepekaan tubuh, kepekaan panca indera terhadap bunyi,
cacat fisik atau cacat sementara. Kedua, ketidak seimbangan
kemampuan psikologis pekerja, misalnya: rasa takut, emosional,
gangguan jiwa, tingkat kecakapan, tidak mampu memahami pekerjaan,
kelambanan, keterampilan kurang , dan sedikit ide. Ketiga, faktor kurang
pengetahuan, misalnya: kurang pengalaman, kurang orientasi, kurang
latihan memahami tombol-tombol, kurang latihan memahami data, dan
salah pengertian terhadap suatu perintah. Keempat, kurang terampil,
misalnya: kurang melakukan latihan, penampilan kurang, kurang kreatif
dan salah pengertian terhadap pemahaman suatu perintah. Kelima, faktor
stress mental, misalnya: emosi berlebihan, beban mental berlebihan,
pendiam dan menutup diri, problem dengan yang sulit difahami, sakit
mental, dan frustasi. Keenam, stress fisik, misalnya: badan sedang sakit,
beban tugas berlebihan, kurang istirahat, kelelahan sensor, terpapar
panas yang tinggi, kekurangan oksigen dan gerakan terganggu.

2. Peralatan K3 sesuai jenis dan fungsinya


a. Alat Pelindung Diri (APD)

Alat Pelindung Diri (APD) merupakan perlengkapan keselamatan bagi


operator atau pekerja dalam setiap mengoperasikan peralatan alat-
alat teknik dan sebuah mesin. Setiap orang yang bekerja dengan
peralatan baik peralatan manual ataupun otomatis wajib mengetahui
perlengkapan perlindungan diri. Didalam bengkel-bengkel
permesinan juga harus dicantumkan tanda-tanda penggunaan alat

Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan | 27


Kegiatan Pembelajaran 1

pelindung diri (APD), supaya setiap orang yang bekerja di dalamnya


selalu ingat untuk melengkapi dirinya dengan alat pelindung diri.

Gambar 1.4. Tanda-tanda alat pelindung diri


Sumber: http://topsafetyequipment.com/

1) Pakaian Kerja
Pakaian kerja yang dipakai oleh operator harus mempunyai syarat-
syarat tidak mengganggu pergerakan tubuh operator dan tidak terasa
panas waktu dipakai. Karena dinegara kita beriklim tropis maka
disarankan untuk pakaian kerja dibuat dari bahan Cotton. Pakaian
kerja sebaiknya yang tidak ada bagian-bagiannya yang terjurai atau
melambai-lambai supaya tidak terlilit putaran sumbu utama.

Gambar 1.5. Pakaian kerja bengkel


Sumber: http://ahoyfashionseragam.blogspot.co.id/2015/06/contoh-seragam-bengkel-
wearpack.html

2) Sepatu kerja
Sepatu yang dikenakan oleh operator harus benar-benar dapat
memberikan perlindungan terhadap kaki operator. Berdasarkan
standart yang telah ditentukan bahwa sepatu kerja dibuat dari bahan

28 | Modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan


`

Teknik Audio Video KK B

kulit, sedangkan alas dibuat dari karet yang elastis tetapi tidak mudah
rusak karena berinteraksi dengan minyak pelumas (oli) dan biasanya
untuk bagian ujung masih dilapisi oleh plat besi yang digunakan untuk
melindungi kaki apabila terjatuh oleh benda-benda yang berat.

Gambar 1.6. Sepatu pengaman


Sumber: http://www.fwb.co.uk/ppe-workwear

3) Kaca Mata

Kaca mata digunakan untuk melindungi mata operator dari bram-bram


yang melayang pada saat kerja di mesin perkakas. Oleh karena itu
kaca mata yang dipakai oleh operator harus memenuhi syarat-syarat
berikut: mampu menutup semua bagian-bagian mata dari
kemungkinan terkena bram, tidak mengganggu penglihatan operator
dan yang terakhir harus memiliki lubang sebagai sirkulasi udara ke
mata.

Gambar 1.7. Kacamata pengaman


Sumber: http://www.fwb.co.uk/ppe-workwear

4) Helm/topi

Helm digunakan untuk melindungi kepala dari benda-benda yang


jatuh dari atas pada saat bekerja. Helm harus terbuat dari bahan yang
kuat dan tidak mudah pecah jika terkena serpihan benda dari atas.

Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan | 29


Kegiatan Pembelajaran 1

Selain itu untuk menghindari terlilitnya rambut operator yang panjang


pada putaran sumbu utama.

Gambar 1.8. Helm


Sumber: http://www.fwb.co.uk/ppe-workwear

5) Masker

Masker pelindung digunakan apabila benda kerja yang dikerjakan


menimbulkan serbuk atau debu, bau seperti bahan kayu, plastik,
aluminium atau bau yang menyengat.

Gambar 1.9. Macam-macam masker pelindung


Sumber: http://sepatusafety.indonetwork.co.id/group+203385/dust-mask.htm

6) arung tangan

Sarung tangan digunakan untuk melindungi diri dari benda kerja yang
dikerjakan panas atau yang mengandung bahan kimia. Sarung tangan
sendiri terbuat bahan yang berbeda-beda tergantung penggunaannya.
Bahan sarung tangan antara lain terbuat dari karet, kulit atau kain.

Gambar 1.10. Sarung tangan pelindung


sarung tangan kain, kulit dan karet

30 | Modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan


`

Teknik Audio Video KK B

Sumber: https://www.northernsafety.com/News/Article/800775819/Hand-protection-with-plastic-
dots-gives-workers-a-steady-grip-for-added-safety-

7) Pelindung telinga

Untuk menghindari suara yang berlebihan ditempat kerja, sebaiknya


menggunakan pelindung telinga. Suara bising bisa berdampak pada
kesehatan apabila terjadi secara berulang-ulang dalam kurun waktu
yang cukup lama, terutama gangguan pendengaran.

Gambar 1.11. Pelindung suara bising


Sumber: http://hearingaid.work/in-ear-electronic-hearing-protection/

8) Keselamatan kerja menggunakan perkakas tangan

Beberapa pelaksanaan peraturan yang diijinkan dan perlu


diperhatikan, dalam mempergunakan peralatan tangan untuk
melindungi dari kecelakaan antara lain:
a) hanya peralatan dengan mempergunakan bahan perkakas dari
kwalitas baik yang dipakai,
b) memilih peralatan dengan kekerasan yang benar. Untuk
peralatan yang bersifat keras akan timbul serpihan pada pangkal,
untuk yang bersifat lunak benda itu akan majal pada pangkal,
c) memilih peralatan yang sesuai dengan genggaman ukuran
tangan,
d) pada bagian yang mengandung tegangan/arus listrik,
pergunakanlah peralatan yang memakai isolasi,

Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan | 31


Kegiatan Pembelajaran 1

e) untuk suara keras/ledakan yang membahayakan pendengaran,


maka pergunakanlah penutup telinga,
f) bila ada peralatan/instrument yang lepas dari mesin, maka
segera dihentikan atau diganti,
g) pegangan/tangkai harus bersih,
h) penggunaan peralatan untuk tujuan yang sesuai dengan
fungsinya,
i) peralatan harus mempunyai gagang yang tepat,
j) peralatan disusun (ditempatkan) sesuai pada tempatnya dengan
rapi,
k) ujung yang runcing dan tajam harus diberi pelindung,
l) peralatan tidak boleh disimpan dalam saku,
m) peralatan tidak boleh diletakkan dibelakang mesin yang sedang
berjalan/berputar,
n) pada saat mempergunakan tangga (naik), tidak boleh ada
tongkat yang melintang atau peralatan lainnya yang ada pada
genggaman tangan.

9) Keselamatan kerja menggunakan mesin bor konvensional

Mesin dan alat-alat mekanik sebaiknya dilengkapi dengan pengaman


mesin bor. Dengan adanya pengaman mesin bor, maka angka
kecelakaan yang diakibatkan oleh mesin dapat dihindari. Untuk
menjaga keselamatan mesin-mesin perkakas, maka hal-hal yang
harus diperhatikan adalah:
a) putaran mesin bor,
b) kecepatan penyayatan,
c) kedalaman penyayatan,
d) alat potong.

Keempat hal di atas adalah faktor-faktor yang dapat menyebabkan


kerusakan-kerusakan mesin sewaktu digunakan untuk menyayat
benda kerja. Karena tanpa adanya keselarasan antara putaran mesin,
kecepatan penyayatan, kedalaman dan alat potong, maka pada waktu
digunakan untuk menyayat mesin akan timbul suatu getaran, hal inilah
yang penyebab terjadinya kerusakan komponen mesin.

32 | Modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan


`

Teknik Audio Video KK B

Pemasangan pengaman mesin bor sebaiknya memberikan


perlindungan yang optimal dan tidak boleh mengganggu proses
pengoperasian mesin bor. Dari segi konstruksi, pengaman
direncanakan yang bisa dibuka tutup supaya pada saat pemasangan
benda kerja bisa leluasa. Selain itu penglihatan operator juga tidak
boleh terganggu, sebaiknya pengaman memakai pembatas akrilik
yang bening dan transparan.

Pengaman mesin bor ini difungsikan supaya serpihan-serpihan (bram)


hasil sayatan tidak mengenai operator. Selain serpihan sayatan yang
terlempar terkadang air pendingin juga ikut tercecer kemana-mana
bersamaan putaran spindel. Hal ini jika dibiarkan akan mengakibatkan
lantai menjadi basah dan operator bisa jatuh terpeleset.

Gambar 1.12. Pelindung mesin bor

10) Keselamatan benda kerja

Untuk mendapatkan hasil akhir benda kerja yang maksimal pada


keselamatan benda kerja maka keselamatan kerja pada operator,
mesin bor, alat-alat pendukung proses permesinan harus terpenuhi
terlebih dahulu, karena hal ini akan mempengaruhi hasil akhir dari
proses. Penjepitan benda kerja pada pencekam dan letak posisi
benda kerja yang tidak kokoh akan mengakibatkan proses
penyayatan tidak maksimal bahkan bisa mengakibatkan benda kerja
terlepas dari pencekam.

Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan | 33


Kegiatan Pembelajaran 1

Keselamatan kerja dalam menggunakan mesin perkakas


konvensional secara umum dapat diringkas sebagai berikut:
a) gunakanlah pakaian kerja,
b) jangan memakai cincin pada jari tangan,
c) pakailah kacamata pengaman dan penutup rambut,
d) jepitlah benda kerja dengan kokoh, terutama benda kerja yang
cenderung bergetar, seperti benda kerja tipis,
e) khusus pengoperasian mesin bor berilah alat penyangga pada
benda kerja yang menonjol panjang dari meja bor,
f) jika pendinginan pada mesin perkakas tidak bekerja otomatis,
maka lebih baik berilah cairan pendingin menggunakan kuas,
g) usahakan agar lantai selalu bersih dan benda-benda ditumpuk
dengan baik untuk menghindari timbulnya kecelakaan.

34 | Modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan


`

Teknik Audio Video KK B

D. Aktifitas Pembelajaran

1. Untuk dapat memahami simbol K3 dan peralatan K3 sebagai wujud


penerapan/penggunaan aturan K3 berdasarkan standar dalam bidang
bengkel/laboratorium Teknik Elektronika Audio Video, lakukan diskusi,
brainstroming dalam kelompok kecil. Selama proses diskusi gunakan cara
berfikir kritis, proses pengambilan keputusan (decision making),
perencanaan strategi (strategic planning), proses ilmiah (scientific
process), dan pemecahan masalah (problem solving).

2. Pada aktifitas pembelajaran ini, peserta diberi tugas melakukan observasi


tentang penerapan/penggunaan aturan K3 berdasarkan standar berupa
simbol K3 dan peralatan K3 secara detail yang digunakan dalam
bengkel/laboratorium Teknik Elektronika Audio Video dilokasi diklat /
tempat kerjanya.

3. Selama proses pembelajaran, peserta hendaknya melakukan observasi


dengan teliti, kreatif, dan penuh tanggung jawab serta dapat bekerjasama
dalam kelompok/mandiri penerapan/penggunaan aturan K3 berdasarkan
standar berupa simbol K3 dan peralatan K3 dalam Teknik Elektronika
Audio Video dengan benar.

4. Lembar Kerja (LK) yang digunakan dalam melakukan observasi adalah


sebagai berikut:

LK 1.1 : Observasi Simbol K3 sebagai penerapan/penggunaan aturan


K3 berdasarkan standar.

Tujuan Pembelajaran:

Setelah menyelesaikan kegiatan pembelajaran ini, peserta diharapkan dapat


menunjukkan Simbol K3 sebagai wujud penerapan/penggunaan aturan K3
berdasarkan standar dengan benar

Alat-alat / Bahan yang digunakan dalam melakukan observasi: LK, alat tulis,
kamera

Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan | 35


Kegiatan Pembelajaran 1

Langkah Kerja:

1. Buatlah tabel penerapan/penggunaan aturan K3 berdasarkan standar


berupa simbol K3 secara detail yang sudah diterapkan dalam
bengkel/laboratorium Teknik Elektronika Audio Video anda! Ambil
gambar menggunakan camera pada simbol K3 yang anda lihat di
bengkel/laboratorium Teknik Elektronika Audio Video dan berilah
penjelasannya serta masukkan dalam tabel berikut!

Tabel penerapan/penggunaan aturan K3 berdasarkan standar berupa


simbol K3

Foto/Gambar Simbol K3
No Keterangan
Hasil Observasi
1

2. Berdasarkan hasil observasi di lingkungan bengkel/laboratorium anda,


apakah aturan K3 berupa simbol-simbol K3 sesuai standar sudah
diterapkan? Jika masih ada yang belum diterapkan, peluang apa saja
yang bisa anda lakukan untuk menerapkan aturan K3 sesuai standar?

Untuk itu buatlah analisa data berupa kondisi ideal, kondisi nyata,
kesenjangan antara kondisi ideal dan kondisi nyata, serta solusi yang
diusulkan tentang penerapan/penggunaan aturan K3 berdasarkan
standar berupa simbol K3 di bengkel/laboratorium Teknik Elektronika
Audio Video tempat anda bekerja!

36 | Modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan


`

Teknik Audio Video KK B

Tabel analisa penerapan/penggunaan aturan K3 berdasarkan standar


berupa simbol K3

No Kondisi ideal Kondisi nyata Kesenjangan Solusi


1

LK 1.2 : Observasi Peralatan K3 sebagai penerapan/penggunaan aturan


K3 berdasarkan standar.

Tujuan Pembelajaran:

Setelah menyelesaikan kegiatan pembelajaran ini, peserta diharapkan dapat


menunjukkan Peralatan K3 sebagai wujud penerapan/penggunaan aturan
K3 berdasarkan standar dengan benar.

Alat-alat / Bahan yang digunakan dalam melakukan observasi: LK, alat tulis,
kamera.

Langkah Kerja:

1. Buatlah tabel penerapan/penggunaan aturan K3 berdasarkan standar


pada Peralatan K3 secara detail yang sudah diterapkan dalam
bengkel/laboratorium Teknik Elektronika Audio Video anda! Ambil
gambar Peralatan K3 tersebut dan berilah penjelasannya serta
masukkan dalam table berikut!

Tabel penerapan/penggunaan aturan K3 berdasarkan standar pada


Peralatan K3.

Foto/Gambar Peralatan K3
No Keterangan
Hasil Observasi
1

Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan | 37


Kegiatan Pembelajaran 1

Foto/Gambar Peralatan K3
No Keterangan
Hasil Observasi
3

2. Berdasarkan hasil observasi di lingkungan bengkel/laboratorium anda,


apakah aturan K3 pada Peralatan K3 sesuai standar sudah diterapkan?
Jika masih ada yang belum diterapkan, peluang apa saja yang bisa anda
lakukan untuk menerapkan aturan K3 sesuai standar?

Untuk itu buatlah analisa data berupa kondisi ideal, kondisi nyata,
kesenjangan antara kondisi ideal dan kondisi nyata, serta solusi yang
diusulkan tentang penerapan/penggunaan aturan K3 berdasarkan
standar pada peralatan K3 di bengkel/laboratorium Teknik Elektronika
Audio Video tempat anda bekerja!

Tabel analisa penerapan/penggunaan aturan K3 berdasarkan standar


pada peralatan K3.

No Kondisi ideal Kondisi nyata Kesenjangan Solusi


1

E. Latihan/Tugas

1. Uraikan simbol K3 berdasarkan standar!


2. Identifikasikan peralatan K3 sesuai jenis dan fungsinya!

38 | Modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan


`

Teknik Audio Video KK B

F. Rangkuman

1. Simbol K3 berdasarkan standar

Tujuan Kesehatan & Keselamatan Kerja (K3) adalah sebagai berikut:


 melindungi tenaga kerja atas hak keselamatan dalam melakukan
pekerjaan untuk kesejahteraan hidup dan meningkatkan produksi
serta produktivitas nasional,
 menjamin keselamatan dan kesehatan orang lain yang berada di
tempat dan sekitar pekerjaan itu,
 menjamin terpeliharanya sumber produksi dan pendayagunaannya
secara aman,efisien dan Efektif,
 khusus dari segi kesehatan, mencegah dan membasmi penyakit
akibat pekerjaan.

Syarat-syarat pelaksanaan K3 diperuntukan untuk:


 mencegah dan mengurangi kecelakaan,
 membuat jalan penyelamatan (emergency exit),
 memberi pertolongan pertama(first aids/PPPK),
 memberi peralatan pelindung pada pekerja dan alat kerja,
 mempertimbangkan faktor-faktor kenyamanan kerja,
 mencegah dan mengendalikan timbulnya penyakit fisik dan psychis,
 memelihara ketertiban dan kebersihan kerja,
 mengusahakan keserasian antar pekerja, perkakas, lingkungan dan
proses kerja.

Rambu-rambu, tanda bahaya dan peringatan disebut juga tanda instruksi


yang harus dicantumkan pada setiap mesin, ruangan yang mengandung
unsur bahaya, ditempat yang berbahaya, dimana sering terjadi
kecelakaan atau ditempat pembuatan panduan pelayanan kesehatan dan
dan keselamatan di sekitar lingkungan tempat kerja penyimpanan zat
kimia yang mempunyai tanda khusus sesuai dengan sifat kimia tersebut.
Tanda-tanda instruksi sangat membantu setiap orang melihatnya untuk
memperingatkan atau menyadarkan dari kemungkinan terjadinya
bahaya/kecelakaan yang dapat menimpanya. Prosedur pembuatan tanda
instruksi dan cara penempatannya, sebagai berikut:

Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan | 39


Kegiatan Pembelajaran 1

 setiap tangga, lantai berlubang dan terowongan, dimana pekerja akan


melaluinya harus diberi tanda dengan simbul untuk mencegah bahaya
terjatuh, patah kaki dan lainnya,
 ruangan atau tempat yang menyimpan bahan/zat yang mudah
terbakar misalnya bensin, zat kimia, kapas, kain dan lainnya, maka
didepan pintu masuk, lemari diberi tanda /simbul mudah terbakar,
 ruangan atau tempat yang menyimpan bahan/zat yang mengandung
gas beracun misalnya zat kimia yang mengandung racun, maka
didepan pintu masuk, lemari zat diberi tanda /simbul gas beracun,
 tanda atau simbol bahaya harus kelihatan jelas bila pekerja
melakukan pekerjaan dengan menggunakan warna merah sebagai
warna utama, papan dibagian atas diberi warna hitam, sebelah bawah
diberi cat warna putih.

2. Peralatan K3 sesuai jenis dan fungsinya

Alat Pelindung Diri (APD) merupakan perlengkapan keselamatan bagi


operator atau pekerja dalam setiap mengoperasikan peralatan alat-alat
teknik dan sebuah mesin. Setiap orang yang bekerja dengan peralatan
baik peralatan manual ataupun otomatis wajib mengetahui perlengkapan
perlindungan diri:
 pakaian kerja yang dipakai oleh operator harus mempunyai syarat-
syarat tidak mengganggu pergerakan tubuh operator dan tidak terasa
panas waktu dipakai,
 sepatu yang dikenakan oleh operator harus benar-benar dapat
memberikan perlindungan terhadap kaki operator,
 kaca mata digunakan untuk melindungi mata operator dari bram-bram
yang melayang pada saat kerja di mesin perkakas.,
 helm digunakan untuk melindungi kepala dari benda-benda yang jatuh
dari atas pada saat bekerja. Helm harus terbuat dari bahan yang kuat
dan tidak mudah pecah jika terkena serpihan benda dari atas,
 masker pelindung digunakan apabila benda kerja yang dikerjakan
menimbulkan serbuk atau debu, bau seperti bahan kayu,
plastik,aluminium atau bau yang menyengat,

40 | Modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan


`

Teknik Audio Video KK B

 sarung tangan digunakan untuk melindungi diri dari benda kerja yang
dikerjakan panas atau yang mengandung bahan kimia,
 untuk menghindari suara yang berlebihan ditempat kerja, sebaiknya
menggunakan pelindung telinga,
 dalam mempergunakan peralatan tangan untuk melindungi dari
kecelakaan antara lain: hanya peralatan dengan mempergunakan
bahan perkakas dari kwalitas baik yang dipakai, memilih peralatan
dengan kekerasan yang benar,
 pada pengaman mesin bor ini difungsikan supaya serpihan-serpihan
(bram) hasil sayatan tidak mengenai operator,
 keselamatan kerja dalam menggunakan mesin perkakas konvensional
meliputi: gunakanlah pakaian kerja, jangan memakai cincin pada jari
tangan, pakailah kacamata pengaman dan penutup rambut, jepitlah
benda kerja dengan kokoh, dan usahakan agar lantai selalu bersih
dan benda-benda ditumpuk dengan baik untuk menghindari timbulnya
kecelakaan.

G. Umpan Balik dan Tindak Lanjut

1. Umpan Balik
Setelah mempelajari kegiatan pembelajaran ini, periksa penguasaan
pengetahuan dan keterampilan anda menggunakan daftar periksa di bawah
ini:
No Indikator Ya Tidak Bukti
1. Menguraikan symbol K3 berdasarkan
standar
2. Mengidentifikasi peralatan K3 sesuai jenis
dan fungsinya

2. Tindak Lanjut
a. Buat rencana pengembangan dan implementasi di lingkungan bengkel
kerja anda.
b. Gambarkan suatu situasi atau isu di dalam bengkel anda yang mungkin
dapat anda ubah atau tingkatkan dengan mengimplementasikan sebuah
rencana tindak lanjut.

Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan | 41


Kegiatan Pembelajaran 1

c. Apakah judul rencana tindak lanjut anda?


d. Apakah manfaat/hasil dari rencana aksi tindak lanjut anda tersebut?
e. Uraikan bagaimana rencana tindak lanjut anda memenuhi kriteria SMART
(spesifik, dapat diukur, dapat dicapai, relevan, rentang/ketepatan waktu).

42 | Modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan


`

Teknik Audio Video KK B

Kegiatan Pembelajaran 2
Kaidah-Kaidah K3, Teknik Sambung, dan Tata
Kelola Bengkel

A. Tujuan

Setelah menyelesaikan materi pembelajaran ini, peserta diharapkan dapat


mengevaluasi kaidah-kaidah K3, teknik sambung, dan tata kelola bengkel
sesuai standar dengan benar.

B. Indikator Pencapaian Kompetensi

Setelah menyelesaikan materi pembelajaran ini, peserta diharapkan dapat:


1. memeriksa kaidah-kaidah K3 sesuai standar,
2. memeriksa kaidah-kaidah teknik sambung sesuai standar,
3. memeriksa kaidah-kaidah tata kelola bengkel sesuai standar.

C. Uraian Materi

1. Kaidah-Kaidah K3
a. Hukum Keselamatan dan Kesehatan Kerja di Indonesia

Keselamatan dan kesehatan kerja (K3) merupakan instrumen yang


memproteksi pekerja, perusahaan, lingkungan hidup, dan masyarakat
sekitar dari bahaya akibat kecelakaan kerja. Perlindungan tersebut
merupakan hak asasi yang wajib dipenuhi oleh perusahaan. K3 bertujuan
mencegah, mengurangi, bahkan menihilkan risiko kecelakaan kerja (zero
accident). Penerapan konsep ini tidak boleh dianggap sebagai upaya
pencegahan kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja yang

Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan | 43


Kegiatan Pembelajaran 2

menghabiskan banyak biaya (cost) perusahaan, melainkan harus


dianggap sebagai bentuk investasi jangka panjang yang memberi
keuntungan yang berlimpah pada masa yang akan datang.

Pada awal revolusi industri, K3 belum menjadi bagian integral dalam


perusahaan. Pada era in kecelakaan kerja hanya dianggap sebagai
kecelakaan atau resiko kerja (personal risk), bukan tanggung jawab
perusahaan. Pandangan ini diperkuat dengan konsep common law
defence (CLD) yang terdiri atas contributing negligence (kontribusi
kelalaian), fellow servant rule (ketentuan kepegawaian), dan risk
assumption (asumsi resiko) (Tono, Muhammad: 2002). Kemudian konsep
ini berkembang menjadi employers liability yaitu K3 menjadi tanggung
jawab pengusaha, buruh/pekerja, dan masyarakat umum yang berada di
luar lingkungan kerja.Dalam konteks bangsa Indonesia, kesadaran K3
sebenarnya sudah ada sejak pemerintahan kolonial Belanda. Misalnya,
pada 1908 parlemen Belanda mendesak Pemerintah Belanda
memberlakukan K3 di Hindia Belanda yang ditandai dengan penerbitan
Veiligheids Reglement, Staatsblad No. 406 Tahun 1910. Selanjutnya,
pemerintah kolonial Belanda menerbitkan beberapa produk hukum yang
memberikan perlindungan bagi keselamatan dan kesehatan kerja yang
diatur secara terpisah berdasarkan masing-masing sektor ekonomi.
Beberapa di antaranya yang menyangkut sektor perhubungan yang
mengatur lalu lintas perketaapian seperti tertuang dalam Algemene
Regelen Betreffende de Aanleg en de Exploitate van Spoor en
Tramwegen Bestmend voor Algemene Verkeer in Indonesia (Peraturan
umum tentang pendirian dan perusahaan Kereta Api dan Trem untuk lalu
lintas umum Indonesia) dan Staatblad 1926 No. 334, Schepelingen
Ongevallen Regeling 1940 (Ordonansi Kecelakaan Pelaut), Staatsblad
1930 No. 225, Veiligheids Reglement (Peraturan Keamanan Kerja di
pabrik dan tempat kerja), dan sebagainya. Kepedulian tinggi pada awal
zaman kemerdekaan, aspek K3 belum menjadi isu strategis dan menjadi
bagian dari masalah kemanusiaan dan keadilan. Hal ini dapat dipahami
karena Pemerintahan Indonesia masih dalam masa transisi penataan
kehidupan politik dan keamanan nasional. Sementara itu, pergerakan

44 | Modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan


`

Teknik Audio Video KK B

roda ekonomi nasional baru mulai dirintis oleh pemerintah dan swasta
nasional.

K3 baru menjadi perhatian utama pada tahun 70-an searah dengan


semakin ramainya investasi modal dan pengadopsian teknologi industri
nasional (manufaktur). Perkembangan tersebut mendorong pemerintah
melakukan regulasi dalam bidang ketenagakerjaan, termasuk pengaturan
masalah K3. Hal ini tertuang dalam UU No. 1 Tahun 1970 tentang
Keselamatan Kerja, sedangkan peraturan perundang-undangan
ketenagakerjaan sebelumnya seperti UU Nomor 12 Tahun 1948 tentang
Kerja, UU No. 14 Tahun 1969 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok
Mengenai Tenaga Kerja tidak menyatakan secara eksplisit konsep K3
yang dikelompokkan sebagai norma kerja. Setiap tempat kerja atau
perusahaan harus melaksanakan program K3. Tempat kerja dimaksud
berdimensi sangat luas mencakup segala tempat kerja, baik di darat, di
dalam tanah, di permukaan tanah, dalam air, di udara maupun di ruang
angkasa.

Pengaturan hukum K3 dalam konteks di atas adalah sesuai dengan


sektor/bidang usaha. Misalnya, UU No. 13 Tahun 1992 tentang
Perkerataapian, UU No. 14 Tahun 1992 tentang Lalu Lintas dan Angkutan
Jalan (LLAJ), UU No. 15 Tahun 1992 tentang Penerbangan beserta
peraturan-peraturan pelaksanaan lainnya. Selain sekor perhubungan di
atas, regulasi yang berkaitan dengan K3 juga dijumpai dalam sektor-
sektor lain seperti pertambangan, konstruksi, pertanian, industri
manufaktur (pabrik), perikanan, dan lain-lain. Di era globalisasi saat ini,
pembangunan nasional sangat erat dengan perkembangan isu-isu global
seperti hak-hak asasi manusia (HAM), lingkungan hidup, kemiskinan, dan
buruh. Persaingan global tidak hanya sebatas kualitas barang tetapi juga
mencakup kualitas pelayanan dan jasa. Banyak perusahaan multinasional
hanya mau berinvestasi di suatu negara jika negara bersangkutan
memiliki kepedulian yang tinggi terhadap lingkungan hidup. Juga
kepekaan terhadap kaum pekerja dan masyarakat miskin. Karena itu
bukan mustahil jika ada perusahaan yang peduli terhadap K3,
menempatkan ini pada urutan pertama sebagai syarat investasi.

Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan | 45


Kegiatan Pembelajaran 2

46 | Modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan


`

Teknik Audio Video KK B

b. Occupational Safety and Health Act

Occupational Safety and Health Act of 1970 (OSH Act), Duty Klausul
Umum, mengharuskan pimpinan perusahaan / majikan harus
memberikan kepada masing-masing kerja karyawan dan tempat kerja
yang bebas dari bahaya yang diakui yang menyebabkan atau mungkin
menyebabkan kematian atau kerusakan fisik yang serius kepada para
karyawannya. Oleh karena itu, bahkan jika standar OSHA belum
diumumkan yang berhubungan dengan bahaya tertentu atau operasi
berbahaya, perlindungan pekerja dari semua bahaya atau operasi
berbahaya mungkin dilaksanakan menurut pasal 5 (a) (1) UU OSH.
Misalnya, praktek-praktek terbaik yang dikeluarkan oleh organisasi non-
peraturan seperti the National Institute for Occupational Safety and Health
(NIOSH), the Centers for Disease Control and Prevention (CDC), the
National Research Council (NRC), and the National Institutes of Health
(NIH), dapat dilaksanakan menurut pasal 5 (a) (1).

Standar OSHA utama yang berlaku untuk semua laboratorium


nonproduction tercantum di bawah ini. Meskipun ini bukan daftar lengkap,
itu termasuk standar yang mencakup bahaya besar bahwa para pekerja
yang paling mungkin untuk menghadapi tugas-tugas sehari-hari mereka.

Hal-hal yang harus diterapkan dalam aspek standar yang berlaku untuk
kondisi kerja laboratorium khusus antara lain seperti:
 The Occupational Exposure to Hazardous Chemicals in Laboratories
standard (29 CFR 1910.1450),
 The Hazard Communication standard (29 CFR 1910.1200),
 The Bloodborne Pathogens standard (29 CFR 1910.1030),
 The Personal Protective Equipment (PPE) standard (29 CFR
1910.132),
 The Eye and Face Protection standard (29 CFR 1910.133),
 The Respiratory Protection standard (29 CFR 1910.134),
 The Hand Protection standard (29 CFR 1910.138),
 The Control of Hazardous Energy standard (29 CFR 1910.147),

Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan | 47


Kegiatan Pembelajaran 2

Bagian berikut dari dokumen ini diatur berdasarkan classes of hazards /


kelas bahaya, yaitu, kimia, biologi, fisik, keamanan dan bahaya lainnya.
Organisasi bagian dan / atau subbagian ini mungkin agak berbeda.
Sebagai contoh, standar laboratorium OSHA dijelaskan secara lebih rinci
daripada standar lainnya dalam dokumen ini. Hal ini karena ini adalah
satu-satunya standar yang khusus untuk laboratorium (yaitu, laboratorium
nonproduction). Dalam semua bagian lainnya, hanya aspek-aspek
tertentu dari berbagai standar yang dianggap paling relevan dengan
laboratorium non-produksi yang dibahas. Dalam bagian dari dokumen ini
di mana tidak ada standar OSHA khusus yang berlaku, bimbingan dalam
Lembar form Fakta atau Quick Cards dapat diberikan yaitu:
 Chemical Hazards: Laboratory Standard, Hazard Communication
Standard, Specific Chemical Hazards (Air Contaminants Standard,
Formaldehyde Standard, Latex ),Chemical Fume Hoods,
 Biological Hazards: Biological Agents (other than Bloodborne
Pathogens) and BiologicalToxins, Bloodborne Pathogens, Research
Animals, Biological Safety Cabinets (BSCs),
 Physical Hazards and Others: Ergonomic Hazards, Ionizing Radiation,
Non-ionizing Radiation, Noise,
 Safety Hazards : Autoclaves and Sterilizers, Centrifuges, Compressed
Gases , Cryogens and Dry Ice, Electrical, Fire, Lockout/Tagout, Trips,
Slips and Falls,

2. Kaidah-Kaidah Teknik Sambung


a. Teknik Kabel

Ada tiga hal pokok dari kabel yaitu:


1) konduktor/penghantar, merupakan media untuk menghantarkan arus
listrik,
2) isolator, merupakan bahan dielektrik untuk mengisolasi dari
penghantar yang satu terhadap yang lain dan juga terhadap
lingkungan lingkungannya,
3) pelindung luar, yang memberikan perlindungan terhadap kerusakan
mekanis, pengaruh bahan- bahan kimia elektrolysis, api atau
pengaruh pengaruh luar lainnya yang merugikan.

48 | Modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan


`

Teknik Audio Video KK B

Berdasarkan fungsinya kabel dapat digunakan sebagai:

1) Penghantar arus listrik tenaga (Power Cable).

Jenis kabel yang sering digunakan pada instalasi penerangan


maupun instalasi tenaga adalah NYA, NYAF, NYM, NYMHY, NYY,
NYFGBY dan lain-lain. Penentuan besar kecil dan jumlah serabut/inti
yang digunakan dapat diketahui dari PUIL (Persyaratan Umum
Instalasi Listrik).

Gambar 2.1. Macam-macam kabel


Sumber: http://blog.kangmiftah.com/2014/01/beberapa-jenis-kabel-listrik-

Maksud dari singkatan nama-nama/kode kabel tersebut dapat dilihat


pada tabel berikut:
Tabel 2. 2. Nomenklatur kode – kode kabel di Indonesia

Huruf Keterangan

N Kabel standard dengan penghantar/inti tembaga.


NA Kabel dengan aluminium sebagai penghantar.
Y Isolasi PVC
G Isolasi Karet
A Kawat Berisolasi
Y Selubung PVC (polyvinyl chloride) untuk kabel luar
M Selubung PVC untuk kabel luar
R Kawat baja bulat (perisai)
Gb Kawat pipa baja (perisai )
B Pipa baja
I Untuk isolasi tetap diluar jangkauan tangan
re Penghantar padat bulat
rm Penghantar bulat berkawat banyak
Se Penghantar bentuk pejal (padat)
Sm Penghantar dipilin bentuk sektor
f Penghantar halus dipintal bulat
ff Penghantar sangat fleksibel
Z Penghantar z
D Penghantar 3 jalur yang di tengah sebagai pelindung.
H Kabel untuk alat bergerak
Rd Inti dipilih bentuk bulat
Fe Inti pipih
-1 Kabel dengan system pengenal warna urat dengan hijau – kuning
-0 Kabel dengan system pengenal warna urat tanpa hijau –kuning.

Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan | 49


Kegiatan Pembelajaran 2

Syarat Penandaan
1) Kode Pengenal
Huruf kode Komponen
NYA re rm
N = Kabel jenis standar dengan tembaga sebagai
penghantar
Y = Isolasi PVC
A = Kawat berisolasi
re = Penghantar padat bulat
rm = penghantar bulat berkawat banyak.

NYM re rm -1 -0
N = Kabel jenis standar dengan tembaga sebagai
penghantar
Y = Isolasi PVC
M = Selubung PVC
re = Penghantar padat bulat
rm = penghantar bulat berkawat banyak.
-1 = Kabel dengan sistem pengenal warna urat hijau-kuning
-o = Kabel dengan sistim pengenal warna urat tanpa hijau
kuning

Contoh :
Kabel NYA 4 re 1000 V, menyatakan suatu kawat berisolasi
untuk tegangan nominal 1000 V, berisolasi PVC sesuai dengan
spesifikasi ini dan mempunyai penghantar tembaga padat bulat
dengan luas penampang nominal 4 mm ².

Kabel NYM – 0 4 x 2,5 rm 500 V, menyatakan suatu kabel berinti


banyak untuk tegangan nominal 500 V, berisolasi dan
berselubung PVC dan mempunyai penghantar tembaga bulat
berkawat banyak dengan luas penampang nominal 2,5 mm ²,
dengan sistim pengenal warna urat tanpa hijau- kuning.

50 | Modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan


`

Teknik Audio Video KK B

2) Tanda Kabel

Isolasi harus diberi warna hijau-kuning (untuk penghantar


tanah/grounding), atau biru muda atau hitam atau kuning atau
merah.

Tanda memenuhi standar SII dan tanda pengenal “Produsen”

Standar Warna

Warna kabel ini diperuntukkan bagi penggunaan untuk sistim


tenaga. Untuk kabel informasi dan data sampai saat ini belum ada
standar pemberian warna kabel.

Warna untuk kabel tenaga ini meliputi (sesuai standard PUIL):


- Earth/pertanahan: Warna majemuk hijau- kuning, tak boleh
untuk tujuan lain.
- Kawat netral/Tengah: warna biru, bila instalasi tanpa
hantaran netral, warna biru boleh digunakan.
- Kawat fase/live/hidup:
Fase 1 ( Fase R ) : Merah
Fase 2 ( Fase S ) : Kuning
Fase 3 ( Fase T ) : Hitam
Atau
Earth/ Pentanahan : Hijau/Hijau + garis kuning
Netral : Hitam
Fase 1 ( R ) : Merah
Fase 2 ( S ) : Kuning
Fase 3 ( T ) : Biru
Standard pemasangan kabel pada 3 pins plug power 220 V &
socketnya adalah :
Live ( L ) : Brown/coklat
Neutral ( N ) : Blue/biru
Earth ( E ) : Green/Yellow (Hijau garis kuning)
Berikut ini beberapa jenis kabel yang banyak digunakan untuk
instalasi rumah ataupun pabrik:

Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan | 51


Kegiatan Pembelajaran 2

Kabel NYA

Yaitu kabel dengan penghantar/inti tembaga berselubung PVC


Gambar Konstruksi

Isolasi PVC Penghantar tembaga

Gambar 2.2. Kabel NYA


Sumber: http://harga-kabel.blogspot.co.id/2013/07/kabel-nya-1x25-mm2.html
Tabel 2. 3. Karakteristik kelistrikan kabel NYA

Resistansi pada 20º C


Ukuran
(mm²) Penghantar Penyekat
(ohm/km) (m ohm.km)
1 23.4 51
1.5 11.9 51
2.5 7.14 48
4 4.47 44
6 2.97 37
Dari data di atas misalnya untuk kabel ukuran 1 mm² pada
temperatur 20º C untuk penghantarnya memiliki resistansi sebesar
32.4 ohm setiap 1 km panjang kabel dan untuk penyekatnya
memiliki resistansi sebesar 51 M ohm setiap 1 km panjang kabel.

Kabel NYM

Yaitu kabel jenis standar dengan tembaga sebagai penghantar


berisolasi PVC dan berselubung PVC

Tegangan kerja 500 V

Gambar konstruksi

Gambar 2.3. Kabel NYM


Sumber: http://www.zmscable.com/Electric-wire/Index_2.Html

52 | Modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan


`

Teknik Audio Video KK B

Keterangan :
1. Penghantar tembaga
2. Isolasi PVC
3. Selubung dalam PVC
4. Selubung luar PVC

Tabel 2. 4. Karakteristik kelistrikan kabel NYM


Arus
Reaktance Hubung
Resistansi pada 20º C
Jumlah Ukuran per konduktor singkat
Inti (mm²) 1sec
Penghantar Penyekat
Ohm/km kA
(ohm/km) (m ohm.km)
2 1.5 0.108 0.17 12.1 50
2.5 0.104 0.29 7.41 50
4 0.100 0.46 4.61 50
6 0.094 0.70 3.08 50
10 0.088 1.16 1.83 50
3 1.5 0.108 0.17 12.1 50
2.5 0.104 0.29 7.41 50
4 0.100 0.46 4.61 50
6 0.094 0.70 3.08 50
10 0.088 1.16 1.83 50

Kabel NYAF

Merupakan jenis kabel fleksibel dengan penghantar tembaga


serabut berisolasi PVC. Digunakan untuk instalasi panel panel
yang memerlukan fleksibilitas yang tinggi.
Gambar Konstruksi:

Gambar 2.4. Kabel NYAF


Sumber: http://www.alibaba.com/product-detail/H07V-K-NYAF-Cable-
16mm2_60249918860.html

Keterangan :
1. Penghantar tembaga (fleksibel)
2. Selubung luar PVC

Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan | 53


Kegiatan Pembelajaran 2

Tabel 2. 5. Karakteristik kelistrikan kabel NYAF


Arus
Reaktance
Hubung
per Resistansi pada 20º C
Jumlah Ukuran singkat
konduktor
Inti (mm²) 1sec
Penghantar Penyekat
Ohm/km kA
(ohm/km) (m ohm.km)
1 0.5 2.5 0.06 37.1 65
0.75 2.5 0.09 24.7 58
1 2.5 0.12 18.5 53
1.5 2.5 0.17 12.7 50
2.5 2.5 0.29 7.6 46

Kabel NYMHY (rd)

Merupakan jenis kabel fleksibel dengan tembaga serabut sebagai


penghantar, berisolasi PVC dan nerselubung PVC. Kabel ini
banyak digunakan untuk instalasi yang yang bergerak atau
peralatan listrik tangan.

Gambar konstruksi :

Keterangan :
1.Penghantar tembaga (pleksibel)
2. Isolasi PVC
3. Selubung dalam PVC
4. Selubung luar PVC
Gambar 2.5. Kabel NYMHY
Sumber: http://pucktr.jatimprov.go.id/infobahanbangunan/produk_detail/121/38/kabel-listrik-low-
voltage
Tabel 2. 6. Karakteristik kelistrikan kabel NYMHY
Arus
Reaktance per Resistansi pada
Hubung
konduktor 20º C
Jumlah Ukuran singkat 1sec
Inti (mm²) Peng Penyekat
Ohm/km kA hantar (mohm/
(ohm/km) km)
2 0.75 2 0.09 26 58
1 2 0.12 19.5 53
1.5 2 0.17 13.3 50
2.5 2 0.29 7.98 46
3 0.75 2 0.09 26 58
1 2 0.12 19.5 53
1.5 2 0.17 13.3 50
2.5 2 0.29 7.98 46

54 | Modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan


`

Teknik Audio Video KK B

Kabel NYY

Merupakan kabel jenis standar dengan tembaga sebagai


penghantar berselubung PVC dan berisolasi PVC.

Gambar Konstruksi:

Gambar 2.6. Kabel NYY


Sumber: http://www.caledonian-cables.com/product/industrial_cables/NYY-J.html

Keterangan :
1. Penghantar tembaga
2. Isolasi PVC
3. Selubung dalam PVC
4. Selubung luar PVC

Tabel 2. 7. Karakteristik kelistrikan NYY


Reaktance per Arus Hubung
Resistansi pada 20º C
konduktor singkat 1sec
Jumlah Ukuran
Peng
Inti (mm²) Penyekat
Ohm/km kA hantar
(mohm/km)
(ohm/km)
2 1.5 0.108 0.17 12.1 62
2.5 0.104 0.29 7.28 57
4 0.100 0.46 4.56 52
6 0.094 0.70 3.03 44
10 0.088 1.16 1.81 36
3 1.5 0.108 0.17 12.1 62
2.5 0.104 0.29 7.28 57
4 0.100 0.46 4.56 52
6 0.094 0.70 3.03 44
10 0.088 1.16 1.81 36

3) Penghantar Arus Listrik Data dan Informasi

a) Kabel Telepon

Ada beberapa macam kabel telepon diantaranya, aerial cable


(kabel atas tanah), indoor cable (kabel rumah), burial cable
(kabel tanam) dll.

Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan | 55


Kegiatan Pembelajaran 2

Gambar 2.7. Kabel Telepon


Sumber: http://www.alrififorcables.com/wireAndcables.aspx

 Aerial Cable ( Kabel atas tanah)

Kabel jenis ini biasanya digunakan diluar ruangan atau


diudara bebas yang dipasang antara satu tiang telepon
dengan tiang yang lainnya.

Gambar konstruksinya:

Gambar 2.8. Aerial cable


Sumber: http://gudangkabel.com/30-kabel-fiber-optic-aerial-fiber-optic-figur-8

Keterangan :
1. Penghantar tembaga dengan isolasi polyethylene
2. Pita polyester
3. Kawat galvanis baja bulat
4. Selubung luar polyethylene

Tabel 2. 8. Karakteristik kelistrikan Aerial Cable

Diameter
Kapasi
nominal Resistansi pada 20º C Uji Tegangan
tansi diri
penghantar

Penghantar Penyekat
(mm) μf/km Volt
(ohm/km) (m ohm/km)
0.6 65 10000 55 500
0.8 36.5 10000 55 500
1.0 23.4 10000 62 500

Indoor Cable ( Kabel rumah )

Gambar 2.9. Indoor cable


Sumber: http://www.kelanicables.com/category/product-categories/indoor-cables/

56 | Modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan


`

Teknik Audio Video KK B

Keterangan :
1. Penghantar tembaga dengan isolasi PVC
2. Pita non hygroscopic
3. Selubung luar PVC

Tabel 2. 9. Karakteristik kelistrikan Indoor cable


Diameter
Kapasitansi Uji
nominal Resistansi pada 20º C
diri Tegangan
penghantar
Penghantar Penyekat
(mm) μf/km Volt
(ohm/km) (m ohm.km)
0.6 65 100 120 500

 Buried Cable ( Kabel tanah/tanam langsung)

Gambar 2.10. Burial cable


Sumber: http://www.showmecables.com/product/6-pair-cat3-cable-direct-burial-
per-ft.aspx

Keterangan :
1. Penghantar tembaga
2. penyekat polyethylene

Tabel 2. 10. Karakteristik kelistrikan Burial cable


Diameter
Uji Tegangan
nominal Resistansi pada 20ºC
penghantar
Penghantar Penyekat
(mm) Volt
(ohm/km) (m ohm.km)
0.6 65 10000 500

b) Kabel Coaxial

Kabel ini memiliki impedansi rendah sekitar 80 ohm, redaman


yang rendah dan umumnya digunakan untuk frekuensi tinggi.
Contoh: Kabel antenna.

Pelapis inti
Kabel serabut

Kabel inti
Gambar 2.11. Kabel koaxial
Sumber: https://www.youtube.com/watch?v=NEi0SXhqObQ

Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan | 57


Kegiatan Pembelajaran 2

Contoh kabel coaxial RG 59 U-85 memiliki spesifikasi sebagai


berikut:
- Impedansi 80 Ohm.
- Kapasitansi 16,3 pf/ft
- Nominal attenuation/pelemahan nominal
Tabel 2. 11. Karakteristik penggunaan kabel koaxial

Frekuensi (Mhz) dB /100 ft


50 2.0
100 2.6
200 4
500 7
900 9.1
c) Kabel Serat Optik

Kabel serat optik merupakan salah satu media transmisi yang


dapat menyalurkan informasi dengan kapasitas yang besar dan
dengan kehandalan yang tinggi. Berbeda dengan media transmisi
lainnya, serat optik gelombang pembawanya bukan gelombang
elektromagnetik atau listrik, melainkan merupakan sinar atau
cahaya laser. Dipilihnya penggunaan serat optik pada bidang
Audio Video agar diperoleh sistem dengan kapasitas besar dan
kecepatan tinggi untuk mengirimkan aneka informasi (suara data
dan gambar).

Gambar 2.12. Kabel serat optik


Sumber: https://davidadinugroho.wordpress.com/2014/10/24/jenis-tipe-kabel-jaringan/

Bila cahaya memasuki salah satu ujung serat optik, sebagian


besar cahaya terkurung didalam serat dan akan dituntun ke ujung
jauh. Serat optik atau juga disebut penuntun cahaya (light guide).
Cahaya tetap berada didalam serat karena dipantulkan secara
total oleh permukaan bagian dalam serat. Total Internal Reflection
dalam serat optik dapat terjadi bila:

58 | Modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan


`

Teknik Audio Video KK B

 indek bias inti lebih besar dari pada cladding,


 sudut masuk cahaya harus lebih besar dari sudut kritis.

Struktur Dasar Serat Optik

Suatu serat optik umumnya terdiri dari inti dan selubung yang
terbuat dari gelas silica. Indek bias selubung sedikit lebih rendah
dari intinya sehingga terjadi perambatan gelombang hanya dalam
intinya saja sebab terjadi pantulan nol. Serat optik tersusun dari
beberapa bagian yang memiliki fungsi dan indeks bias yang
berbeda. Susunan serat optik adalah seperti gambar berikut:

Gambar 2.13. Susunan serat optik


Sumber: https://davidadinugroho.wordpress.com/2014/10/24/jenis-tipe-kabel-jaringan/

Core (inti) terbuat dari bahan kuarsa dengan kualitas tinggi


berfungsi untuk melewatkan cahaya yang merambat dari satu
ujung ke ujung lainnya.

Cladding (Selubung) Berfungsi sebagai cermin, untuk


memantulkan cahaya agar dapat merambat ke ujung yang lain
terbuat dari bahan gelas dengan indeks lebih kecil dari core (inti).

Coating (jaket) berfungsi sebagai pelindung mekanis dan tempat


code warna. Coating terbuat dari bahan plastik untuk melindungi
serat optik dari kerusakan, tekanan perubahan temperatur dan
sebagainya.

Ada dua jenis serat optik yang saat ini berhasil dikembangkan
yaitu serat optik singlemode dan serat optik multimode.

Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan | 59


Kegiatan Pembelajaran 2

Gambar 2.14. Step index multimode


Serat optik multimode mempunyai inti dengan diameter 50 μm –
200 μm. Keuntungan dari jenis ini adalah inti yang besar sehingga
memudahkan dalam hal penyambungan. Sedang kerugiannya
adalah terjadi redaman yang cukup besar (5 – 30 dB/km),
sehingga cocok untuk transmisi jarak pendek.

Serat optik single mode mempunyai diameter inti 2 – 10 μm


dengan selubung 125 μm sehingga dalam penyambungan dan
pengukuran menjadi lebih sulit.

Disamping itu sumber cahayanya harus mempunyai bidang


spektrum yang sempit dan sangat terang. Besar redaman jenis ini
relatif kecil yaitu 0,2 -0,5 dB/km dan sangat baik digunakan pada
transmisi jarak jauh dengan kapasitas yang besar.

Gambar 2.15. Step indek single mode


Keunggulan Serat Optik:
 redaman transmisi yang kecil,
 bandwidth yang lebar,
 ukuran yang kecil dan ringan,
 tidak ada interferensi cross talk,
 kebal terhadap induksi,
 keamanan rahasia informasi lebih baik,
 adanya isolasi antara pengirim dan penerima,

60 | Modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan


`

Teknik Audio Video KK B

 tidak ada ground loop,


 tidak akan terjadi hubungan api saat kontak atau serat optik
terputus,
 tidak berkarat, tahan temperatur tinggi dan konsumsi daya
yang rendah.
Kelemahan Serat Optik:
 tidak menyalurkan energi listrik,
 perangkat sambung relatif lebih rumit,
 perangkat terminasi lebih mahal,
 perbaikan lebih sulit.

d) Kabel USB ( Universal Serial Bus )

Digunakan untuk koneksi komputer dengan pheripheral atau


peralatan tambahan pada komputer.

Gambar 2.16. Kabel USB


Sumber: http://www.pbtricks.com/get-2-branded-charger-usb-cable-2-0-for-only-rs49/

4) Standar Kabel pada Perangkat Audio-Video

Pengembangan teknologi ternyata tidak terbatas pada perangkat saja.


Kabel pun tak luput dari perhatian. Terkadang dalam suatu sistem
audio-video perkabelan cenderung kurang diperhatikan. Padahal
kabel sebagai penghantar sinyal dapat mempengaruhi kualitas suara
yang dihasilkan dari suatu sistem. Idealnya sebuah kabel berfungsi
sebagai penghantar gelombang listrik yang tidak boleh menambah
atau mengurangi karakter sinyal yang dihantarkan.

Kabel yang baik adalah kabel yang memiliki distorsi/cacat paling


rendah bahkan kalau bisa tanpa distorsi terhadap sinyal yang
dihantarkannya. Dalam suatu sistem high end (sistem dengan
teknologi tinggi) syarat ini mutlak dibutuhkan dalam pemilihan kabel
yang akan digunakan.

Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan | 61


Kegiatan Pembelajaran 2

Terkait dengan hal ini ada beberapa hal yang patut dipertimbangkan
dari suatu kabel. Resistansi, kapasitansi dan induktansi merupakan
beberapa faktor penting yang bisa mempengaruhi penampilan sistem
secara keseluruhan. Disamping itu ada aspek lain yang
mempengaruhi kualitas sebuah kabel yaitu tipe konduktor dan
kemurniannya (purity).

Saat ini dipasaran terdapat beberapa format kabel video seperti:


coaxial composit, RCA-komposit, s-video 3RCA, 5 RCA. Kabel video
berbeda dengan kabel audio analog dimana kabel audio berfungsi
mentransfer sinyal berfrekuensi rendah 20 -20 Khz. Sedangkan kabel
video berfungsi untuk mentransfer sinyal frekuensi tinggi 8 Mhz -10
Mhz untuk format NTSC.

Bertolak dari hal tersebut untuk menyalurkan sinyal video diperlukan


kabel khusus dengan karakteristik impedansi yang cocok yaitu
sebesar 75 ohm sedangkan untuk sinyal audio umumnya memiliki
karakteristik impedansi 35 – 50 ohm. Untuk mendapatkan kabel video
komposit/komponen yang benar-benar 75 ohm harus memperhatikan
faktor sebagai berikut: konstruksi kabel, material konduktor, bahan
dielektrik (penyekat), konektor RCA 75 ohm dan juga penyolderan
serta perlindungan kabel.

Bahan Konduktor:

Konduktor sebagai media penghantar listrik memiliki peran yang


besar dalam mementukan kualitas kabel. Bahan konduktor yang
sering dipakai untuk kabel dapat dijabarkan sebagai berikut:
 Tough Pitch Copper/Silver, adalah bahan konduktor yang umum
dipakai untuk kabel listrik. Jenis konduktor ini adalah jenis yang
paling murah dan kualitas yang kurang baik untuk sinyal audio,
 Metal alloy Konduktor, adalah bahan konduktor dengan campuran
yang unik,
 Oxygen Free Copper (OFC) adalah bahan konduktor tembaga
dengan kadar oksigen yang rendah,

62 | Modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan


`

Teknik Audio Video KK B

 Silver plated OFC, adalah bahan konduktor tembaga bebas


oksigen yang dilapisi perak,
 Bahan Insulasi/ Dielektrik atau sering disebut dielektrik berfungsi
sebagai pelindung konduktor, menghilangkan sinyal radio
frekuensi, mengurangi problem skin efek dll. Kita mengenal
beberapa bahan insulasi yang sering di pakai di kabel audio yaitu:
PVC, plastik, FPE, PP, teplon, dll,
 Konektor atau sering kita sebut jack, pin, spade dan banana
sebagai ujung tombak kabel audio–video juga memegang peran
yang penting. Semakin baik bahan konektor yang digunakan,
semakin baik pula tingkat efesien transmisi yang dihasilkan,

5) Grounding (Pentanahan)

Pembumian dimaksudkan untuk meniadakan beda potensial sehingga


bila ada kebocoran tegangan atau arus bocor maka kebocoran
tersebut akan dibuang ke bumi. Kebocoran yang dimaksud adalah
adanya arus/tegangan yang pada keadaan normal bagian tersebut
tidak bertegangan. Hal ini untuk memberikan perlindungan kepada
pekerja listrik selain untuk mengamankan peralatan.

Grounding memiliki 3 fungsi utama:


a) Perlindungan dari Tegangan Tinggi
Kilat atau petir dengan tegangan yang tinggi dapat berbahaya
pada distribusi listrik sistem kawat. Grounding dipasang pada
sistem instalasi listrik di rumah atau tempat kerja yang mengurangi
atau menghindari kerusakan atau bahaya yang disebabkan oleh
tegangan tinggi tersebut
b) Penstabil Tegangan
Banyak terdapat sumber tegangan. Tiap transformer dapat
dimasukan dalam sumber khusus. Jika tidak terdapat titik referensi
umum untuk semua sumber tegangan ini, akan terjadi kesulitan
yang sangat sulit untuk dihitung hubungannya masing-masing.
c) Mengatasi arus yang berlebih

Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan | 63


Kegiatan Pembelajaran 2

Fungsi ini merupakan fungsi paling penting untuk dimengerti.


Sistem grounding menyediakan level keselamatan tertentu untuk
manusia dan peralatan dari bahaya/kerusakan.
Alasan utama mengapa grounding digunakan dalam penyaluran
listrik adalah karena faktor keamanan. Ketika semua bagian
logam dalam peralatan listrik digrounding lalu jika isolasi di dalam
peralatan gagal, maka tidak ada tegangan berbahaya yang terjadi.
Lalu ketika kabel bertegangan bersentuhan dengan bagian yang
dibumikan/digroundkan lalu rangkaian terhubung singkat atau
konsleting maka sekring akan dengan segera putus. Ketika
sekring putus maka bahaya akan dapat dicegah. Keamanan
merupakan fungsi utama Grounding. Sistem grounding dirancang
agar mereka benar-benar menyediakan fungsi keamanan yang
dibutuhkan. Grounding mempunyai beberapa fungsi lain namun
keselamatan merupakan hal yang tidak bisa dikompromikan lagi.

Di bawah ini merupakan simbol umum pada Ground. Simbol


pertama biasa disebut “earth ground” dan biasanya di gunakan
pada chasis atau sambungan ground pengaman. Yang kedua dan
ketiga dapat dipertukarkan walaupun kadang-kadang salah satu
digunakan untuk analog dan yang satu digunakan untuk digital
ground, istimewanya keduanya harus dipisah jika ada dalam satu
sirkuit.

Gambar 2.17. Simbol grounding

Dalam sistim elektronika kususnya sistem Audio Video ”. Ground


berarti sebuah titik referensi umum atau tegangan potensial yang
diibaratkan sebagai “tegangan nol”. Ground bersifat relatif,
sehingga anda bisa memilih titik di mana saja dalam sirkuit untuk
dijadikan Ground dan mereferensikan semua tegangan lain ke
sana. Grounding juga mempunyai fungsi untuk menetralisir atau
menghilangkan noise atau cacat yang ada pada sistem perangkat

64 | Modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan


`

Teknik Audio Video KK B

tersebut. Noise ini disebabkan oleh beberapa sebab diantaranya


kualitas penyedia daya yang kurang baik, kualitas komponen yang
tidak standar. Sistem grounding pada peralatan listrik maupun
elektronika adalah kabel ketiga yang biasanya berwarna hijau dan
dihubungkan pada chasis sehingga seluruh logam akan ada pada
tegangan Ground, yang mana memberikan beberapa
perlindungan dari frekuensi radio dan gangguan elektromagnetik
lainnya.

b. Teknik Sambung

Menyambung kabel cara ekor babi (pig tail)

Sambungan ini digunakan untuk menyambung atau mencabangkan satu


atau beberapa kabel pada satu titik. Penyambungan cara ini sering
dijumpai pada kotak sambung dan umumnya dipasang "lasdop" sebagai
pengikat dan sekaligus sebagai isolasi.

Bentuk sambungan ekor babi ditunjukkan seperti gambar di bawah ini:

Gambar 2.18. Sambungan kabel cara ekor babi (pig tail)


Sumber: http://staff.uny.ac.id/sites/default/files/pendidikan/Drs.Sukir,M.T./Jobsheet-Praktik-Instalasi-Listrik-Residensial.pdf

Menyambung kabel cara puntir

Sambungan ini digunakan untuk menyambung antara dua kabel yang


berbentuk satu garis lurus .

Menyambung cara puntir ini dibedakan menjadi dua jenis yaitu


sambungan bell hangers dan sambungan western union. Perbedaan dari
kedua bentuk sambungan puntir tersebut terletak pada jumlah
puntirannya, sedangkan cara menyambungnya adalah sama. Sambungan
ini digunakan untuk menyambung kabel yang kurang panjang.
Penyambungan cara ini sering dijumpai pada pekerjaan instalasi
penerangan dalam rumah.

Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan | 65


Kegiatan Pembelajaran 2

66 | Modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan


`

Teknik Audio Video KK B

Bentuk sambungan ditunjukkan seperti gambar dibawah ini:


a. bentuk sambungan puntir Bell hangers,

b. bentuk sambungan puntir Western union,

Gambar 2.19. Sambungan kabel cara puntir


Sumber: http://staff.uny.ac.id/sites/default/files/pendidikan/Drs.Sukir,M.T./Jobsheet-Praktik-Instalasi-Listrik-Residensial.pdf

Menyambung kabel cara bolak balik ( Turn Back )

Menyambung cara bolak balik ini dimaksudkan untuk mendapatkan


sambungan yang lebih kuat terhadap rentangan maupun tarikan.

Umumnya kabel yang digunakan untuk sambungan ini adalah kabel


dengan penampang 4 mm2 karena mudah ditekuk dan dipuntir dengan
tangan.

Untuk kabel yang ukuran lebih besar dilakukan dengan cara sambungan
bolak balik “Britannia“ atau dengan model sambungan “Scarf“.

Bentuk sambungan ditunjukkan seperti gambar dibawah ini:

a. Bentuk sambungan bolak balik. b. Bentuk sambungan


Britannia.

c. Bentuk sambungan Scarf.

Gambar 2.20. Sambungan kabel cara bolak balik ( Turn Back )


Sumber: http://staff.uny.ac.id/sites/default/files/pendidikan/Drs.Sukir,M.T./Jobsheet-Praktik-Instalasi-Listrik-Residensial.pdf

Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan | 67


Kegiatan Pembelajaran 2

Menyambung kabel bernadi banyak

Menyambung kabel bernadi banyak tidak bisa dilakukan dengan cara-


cara menyambung kabel bernadi tunggal seperti yang dipraktekkan
diatas, sebab hasilnya tidak akan bagus dan tidak rapi. Untuk itu perlu
cara khusus yaitu dengan menganyam sesuai dengan arah alurnya atau
yang lebih dikenal dengan cara “Single Wrapped Cable Spice”.

Bentuk sambungan kabel bernadi banyak ditunjukkan seperti gambar di


bawah ini:

Gambar 2.21. Sambungan kabel bernadi banyak


Sumber: http://staff.uny.ac.id/sites/default/files/pendidikan/Drs.Sukir,M.T./Jobsheet-Praktik-Instalasi-Listrik-Residensial.pdf

Mencabang kabel datar (Plain joint)

Pada hantaran yang panjang, misalnya antara rol-rol sekat dapat


dilakukan pencabangan tanpa harus memutus kabel utamanya,
melainkan hanya dikupas kabelnya sepanjang kebutuhan. Bentuk
pencabangan datar ini bisa untuk cabang tunggal (Single Plain joint) atau
bisa juga dalam bentuk cabang ganda (Cross Plain Joint).

68 | Modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan


`

Teknik Audio Video KK B

Bentuk pencabangan kabel ditunjukkan seperti gambar di bawah ini:

a. bentuk cabang tunggal


(Single Plain joint).

b. bentuk cabang silang


empat (Cross Joint).

Gambar 2.22. Cabang kabel datar (Plain joint)


Sumber: http://staff.uny.ac.id/sites/default/files/pendidikan/Drs.Sukir,M.T./Jobsheet-Praktik-Instalasi-Listrik-Residensial.pdf

Memcabang kabel simpul (Knotted tap joint)

Pencabangan kabel dengan cara ini akan menghasilkan jenis


pencabangan kabel datar yang lebih kuat. Untuk itu bentuknya hampir
menyerupai pencabangan datar. Bentuk pencabangan datar ini bisa untuk
cabang simpul tunggal atau bisa juga dalam bentuk cabang simpul
ganda.

Bentuk pencabangan kabel ditunjukkan seperti gambar dibawah ini:


a. Bentuk cabang simpul
tunggal

b. bentuk cabang simpul


ganda

Gambar 2.23. Cabang kabel simpul (Knotted tap joint)


Sumber: http://staff.uny.ac.id/sites/default/files/pendidikan/Drs.Sukir,M.T./Jobsheet-Praktik-Instalasi-Listrik-Residensial.pdf

c. Papan Rangkaian Tercetak (PRT)

Papan Rangkaian Tercetak (PRT) atau sering juga disebut PCB (Printed
Circuit Board) merupakan papan pemasangan komponen elektronika
yang jalur hubungannya menggunakan papan berlapis tembaga.

Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan | 69


Kegiatan Pembelajaran 2

Pembentukan jalur PCB dilakukan dengan cara etching (pelarutan),


dimana sebagian tembaga dilepaskan secara kimia dari suatu papan lapis
tembaga kosong (blangko). Tembaga yang tersisa beserta alasnya itulah
yang akan membentuk jalur pengawatan PCB.

Papan Berlapis Tembaga

Papan berlapis tembaga disebut juga Cupper Clade Board. Pembuatan


papan berlapis tembaga dilakukan dengan cara laminasi yaitu melekatkan
lembaran tipis tembaga dengan ketebalan 0,0014 inchi sampai dengan
0,0042 inchi di atas substrat atau alas. Substrat terbuat dari bahan
Phenolik atau bahan serat gelas (fibre glass). Papan rangkaian yang
terbuat dari bahan Phenolik tidak boleh digunakan pada frekuensi di atas
10 MHZ, karena akan mengakibatkan kerugian signal. Papan Phenolik
biasanya berwarna coklat. Papan rangkaian yang terbuat dari bahan serat
gelas mampu menangani frekuensi sampai dengan 40 MHz. Papan ini
mempunyai warna kehijauan dan semi transparan.

Langkah-langkah Membuat PCB

Pembuatan PCB diawali dengan merancang tata letak dan jalur rangkaian
berdasarkan diagram skema. Untuk mempermudah dalam merancang
tata letak digunakan kertas grid. Tata letak yang dihasilkan kemudian
digunakan untuk merancang jalur rangkaian dengan menggunakan kertas
trasparan. Caranya yaitu dengan meletakan kertas transparan (tembus
cahaya) di atas gambar tata letak kemudian gambar jalur rangkaian.
Selain kertas transparan dapat digunakan kertas kalkir atau plastik
transparasi untuk OHP. Gambar jalur rangkaian pada kertas transparan
ini dapat disebut sebagai film. Disebut film positip jika gambar jalur
rangkaian dibuat hitam . Disebut film negatif jika yang dihitamkan adalah
dasarnya, sedang yang bening sebagai jalur rangkaian-nya.

Gambar jalur rangkaian pada kertas transparan (film) kemudian disalin ke


atas papan lapis tembaga kosong. Penyalinan ini dapat dipilih salah satu
diantara tiga metode, yaitu metode gambar langsung, metode fotografik
atau metode sablon. Metode gambar langsung, jalur rangkaian digambar
langsung di atas bahan papan lapis tembaga kosong dengan

70 | Modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan


`

Teknik Audio Video KK B

menggunakan tinta / cat atau bahan tempel yang tahan (resist) terhadap
cairan pelarut.

Langkah-langkah pembuatan papan rangkaian tercetak ditunjukan dalam


gambar di bawah.

Gambar 2.24. Blok Diagram Pembuatan PCB

Pada metode fotografik, gambar jalur rangkaian pada film (kertas tembus
cahaya) diletakan di atas papan lapis tembaga kosong yang sudah
dipekacahayakan (dilapisi bahan foto resist). Kemudian secara fotografi,
papan beserta film disinari (ekspose) untuk memindahkan bayangan
gambar jalur rangkaian ke atas papan lapis tembaga kosong. Pada
metode sablon, gambar jalur rangkaian pada film (kertas tembus cahaya)
dipindahkan ke screen yang kemudian digunakan untuk membuat gambar
jalur rangkaian pada papan lapis tembaga kosong.
Gambar jalur rangkaian pada papan lapis tembaga difungsikan sebagai
bahan pelindung (resist). Setelah pelarutan dengan cairan pelarut yang
disebut etchant, semua lembaran tembaga kecuali yang tertutup atau
tergambar oleh bahan resist akan dilarutkan. Hasilnya merupakan jalur
rangkaian yang tertinggal pada bahan alas.

Langkah selanjutnya adalah membersihkan PCB dari bahan pelarut


tembaga maupun bahan gambar kemudian dikeringkan. Setelah PCB

Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan | 71


Kegiatan Pembelajaran 2

kering, dilakukan pengeboran atau pembuatan lubang-lubang kaki


komponen serta penyelesaian akhir pembuatan PCB.

Struktur Kerja / Materi

Struktur kerja pembuatan papan rangkaian tercetak adalah sebagai


berikut:
1) Menyiapkan gambar
Fotokopilah gambar tata letak dan jalur rangkaian yang telah dibuat.
Gambar hasil fotokopi yang akan digunakan, sedang gambar aslinya
disimpan sebagai master dan dapat digunakan lagi pada masa
mendatang. Digunakan gambar fotokopi karena gambar akan rusak
setelah digunakan untuk menandai titik-titik bantalan.
2) Menyiapkan papan lapis tembaga kosong
Potonglah papan lapis tembaga kosong sesuai dengan ukuran akhir,
tapi beberapa orang lebih suka memotongnya lebih besar dan
memotongnya lagi setelah pelarutan. Pinggiran yang kasar diratakan
dengan kikir, dengan cara sebagai berikut:
a) bersihkan permukaan papan lapis tembaga,
b) permukaan papan lapis tembaga kosong harus bersih dari segala
bentuk minyak, gemuk dan semacamnya agar pelarutan dapat
dilakukan dengan berhasil.

Cara pembersihannya adalah sebagai berikut:


a) basahi permukaan tembaga dengan air yang mengalir,
b) bubuhkan bubuk gosok secukupnya diatas permukaan tembaga,
c) dengan kain halus atau kertas pembersih, gosoklah pada seluruh
permukaan tembaga sampai cukup mengkilap, jangan menggosok
terlalu keras karena bisa merusakan lapisan tembaga,
d) sesudah digosok, bersihkan di bawah air mengalir, apabila papan
telah bersih dari minyak dan oksida maka air akan mengalir
keseluruh permukaannya, bila masih ada kontaminasi / minyak, air
akan menghindari daerah ini, setelah bersih jangan lagi
menyentuh permukaan tembaga dengan tangan, lemak-lemak

72 | Modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan


`

Teknik Audio Video KK B

pada badan akan berkontaminasi dengan permukaan papan,


mulai sekarang untuk menanganinya dengan memegang tepinya,
e) bersihkan air pada permukaan papan dengan meletakannya
secara berdiri dan biarkan air mengalir ke bawah atau keringkan
dengan kain yang bersih.
3) Membuat tanda titik bantalan
Letakan salinan tata letak / jalur (fotokopi) di atas papan lapis
tembaga kosong yang sudah dipotong dengan ukuran yang sama dan
ditahan dengan pita perekat. Ketoklah titik-titik pada salinan tata letak
/ jalur dengan penitik. Perlu diperhatikan pada saat menitik jangan
diketok terlalu keras karena bisa menyebabkan pecahnya papan.
Tanda titik hanya sekedar menandai bahwa pada titik tersebut akan
dibuat bulatan bantalan. Setelah semua tanda titik diketok maka
salinan tata letak / jalur (fotokopi) dilepaskan.
4) Membuat bulatan bantalan dan jalur
Pembuatan bulatan bantalan dan jalur rangkaian dapat menggunakan
bermacam-macam bahan resist dan metoda. Pemilihan bahan dan
metode disesuikan dengan anggaran dan ketrampilan dalam
menggambar. Hal lain yang perlu diperhatikan dalam pemilihan bahan
adalah tersedianya bahan penghapus bahan resist. Penghapus
digunakan untuk pembenahan apabila terjadi kesalahan dan
diperlukan sesudah pelarutan, karena sebelum dilakukan penyolderan
resist harus dihapus dahulu.
Metode yang digunakan di sesuaikan dengan bahan. Metode cap
menggunakan bahan tinta pelindung (resist ink). Metode tempel
menggunakan pola-pola resist yang di pindahkan, misalya bahan
rugos. Metode gambar langsung menggunakan pena dengan tinta
resist / spidol permanen. Metode - metode diatas bisa digunakan
secara saling melengkapi.
5) Sentuhan akhir
Periksa gambar yang telah dibuat, apakah gambar telah sama
dengan gambar master atau belum. Struktur kerja atau langkah kerja
pembuatan papan rangkaian tercetak dapat dijelaskan dengan
menggunakan gambar di bawah.

Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan | 73


Kegiatan Pembelajaran 2

Gambar 2.25. Struktur Kerja Pembuatan PCB


3. Kaidah-Kaidah Tata Kelola Bengkel
Penyimpanan/pengelolaan alat, peralatan dan bahan laboratorium
merupakan bagian dari manajemen laboratorium. Manajemen Laboratorium
(Laboratory Management) adalah usaha untuk mengelola laboratorium
berdasar konsep manajemen baku. Bagaimana suatu laboratorium dapat
dikelola dengan baik sangat ditentukan oleh beberapa faktor yang sangat
berkaitan satu dengan lainnya. Beberapa peralatan laboratorium yang
canggih dengan staf profesional yang terampil, belum tentu dapat beroperasi
dengan baik , jika tidak didukung oleh adanya manajemen laboratorium yang

74 | Modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan


`

Teknik Audio Video KK B

baik. Oleh karena itu manajemen laboratorium adalah suatu bagian yang tak
dapat dipisahkan dari kegiatan laboratorium sehari-hari.

a. Manajemen / Pengelolaan Laboratorium.

Untuk mengelola laboratorium dengan baik kita harus mengenal


perangkat-perangkat manajemen apa yang harus dikelola. Semua
perangkat-perangkat ini jika dikelola secara optimal, akan mendukung
terwujudnya penerapan manajemen laboratorium yang baik. Dengan
demikian manajemen laboratorium dapat dipahami sebagai suatu
tindakan pengelolaan yang kompleks dan terarah, sejak dari perencanaan
tata ruang sampai dengan perencanaan semua perangkat penunjang
lainnya, dengan sebagai pusat aktivitas adalah tata ruang.
Rincian kegiatan pada masing masing perangkat laboratorium:
1) Tata Ruang ( Lab lay out )

Untuk tata ruang, sebaiknya ditata sedemikian rupa sehingga


laboratorium dapat berfungsi dengan baik. Tata ruang yang
sempurna, sejak dimulai perencanaan gedung pada waktu dibangun.
Tata ruang yang baik (kondisi ideal) sebuah laboratorium harus
mempunyai:

a) pintu masuk (in),


b) pintu keluar (out),
c) pintu darurat (emergency-exit),
d) ruang persiapan (preparation room),
e) ruang peralatan (equipment-room),
f) ruang penyimpanan / gudang (storage-room),
g) ruang staf (Staff-room),
h) ruang teknisi/laboran,
i) ruang bekerja (activity-room),
j) ruang istirahat / ibadah,
k) ruang prasarana kebersihan,
l) ruang peralatan keselamatan kerja,
m) lemari praktikan (locker),
n) lemari gelas (glass-room),

Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan | 75


Kegiatan Pembelajaran 2

o) lemari alat-alat optik (opticals-room),


p) pintu jendela berkassa, agar serangga dan burung tidak dapat
masuk,
q) fan / kipas angina,
r) ruang AC untuk alat-alat tertentu yang memerlukan persyaratan
tertentu.

2) Alat yang baik dan terkalibrasi

Pengenalan terhadap peralatan laboratorium merupakan kewajiban


bagi setiap petugas laboratorium untuk mengetahuinya, terutama
mereka yang akan mengoperasikan peralatan tersebut. Setiap alat
yang akan dioperasikan itu harus benar-benar dalam kondisi:
a) siap pakai (ready for use),
b) bersih,
c) terkalibrasi,
d) tidak rusak,
e) beroperasi dengan baik.

Peralatan yang ada juga harus disertai dengan buku petunjuk


pengoperasian (manual-operation). Hal ini untuk mengantisipasi bila
terjadi kerusakan, buku manual tersebut dapat dimanfaatkan oleh
teknisi/laboran untuk seperlunya. Teknisi laboratorium yang ada harus
senantiasa berada di tempat, karena setiap kali peralatan
dioperasikan kemungkinan alat tidak dapat beroperasi dengan baik
dapat saja terjadi.

Beberapa peralatan laboratorium yang dimiliki kiranya dapat disusun


secara teratur pada suatu tempat tertentu, berupa rak atau pada meja
yang disediakan. Peralatan berfungsi untuk melakukan suatu kegiatan
pekerjaan, percobaan atau demonstrasi tertentu yang menghendaki
adanya bantuan peralatan. Untuk itu peralatan laboratorium harus
berada dalam kondisi yang baik. Alat-alat ini disusun secara teratur,
sesuai dengan fungsinya masing-masing.

Untuk perawatan alat dan bahan serta peralatan laboratorium


sebaiknya dikelompokkan berdasarkan penggunaannya. Setelah

76 | Modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan


`

Teknik Audio Video KK B

selesai digunakan harus segera dibersihkan kembali dan disusun


seperti semula. Semua alat-alat ini sebaiknya diberi penutup (cover),
misal plastik transparan, terutama terutama alat-alat yang memang
memerlukannya. Alat-alat yang tidak berpenutup akan cepat berdebu,
kotor dan akhirnya dapat merusak alat yang bersangkutan.
a) Alat
Alat-alat harus dalam keadaan bersih, apalagi peralatan yang
sering dipakai. Untuk alat-alat yang memerlukan penanganan
khusus, sebaiknya dicek sebelum dipakai. Semua alat-alat ini
seharusnya ditempatkan pada lemari khusus.
b) Bahan
Untuk bahan-bahan, sebaiknya ditempatkan pada ruang yang
bersih dengan suhu ruang yang standart. Ruangan perlu
dilengkapi fan/Air Conditioning, agar udara/uap yang ada dapat
terpompa keluar.
c) Alat-alat khusus
Alat-alat khusus seharusnya disimpan pada tempat yang kering
dan tidak lembab. Kelembaban yang tinggi akan menyebabkan
lensa-lensa berjamur, jika jamur ini banyak, maka alat akan rusak
dan tidak dapat dipakai sama sekali. Sebagai tindakan
pencegahan, peralatan selalu ditempatkan dalam kotaknya, yang
biasanya dilengkapi dengan silica-gel dan sebelum disimpan dicek
kembali kebersihannya. Peralatan ini seharusnya ditempatkan di
dalam lemari-lemari khusus yang dikendalikan kelembabannya.
Untuk lemari biasanya diberi lampu pijar 10-15 watt, agar ruang ini
tetap selalu panas / kering dan akan mengurangi kelembaban
udara (dehumidifier-air). Untuk alat optik seperti lensa pembesar
(loupe), alat kamera optik, kamera digital, microphoto-camera,
juga ditempatkan pada lemari khusus yang tidak lembab .

3) Infrastruktur Laboratorium

a) Laboratory assesment

Mencakup tentang lokasi laboratorium, konstruksi laboratorium


dan fasilitas lain, termasuk pintu utama, pintu emergency, jenis

Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan | 77


Kegiatan Pembelajaran 2

meja/pelataran, jenis atap, jenis dinding, jenis lantai, jenis pintu,


jenis lampu yang dipakai, kamar penangas, jenis pembuangan
limbah, jenis ventilasi, jenis AC, jenis tempat penyimpanan, jenis-
jenis lemari bahan kimia, alat optik, timbangan, instrumen yang
lain, kondisi laboratorium, dan sebagainya.

b) Fasilitas Umum (General services)

Mencakup tentang kebutuhan listrik, stabilitas tegangan, sumber


listrik, distribusi arus, jenis panel listrik, jenis soket, sumber air dan
pendistribusiannya cukup atau tidak, jenis kran, jenis bak
pembuangan air, apakah tekanan air cukup atau tidak, instalasi
air, instalasi listrik, keadaan toilet/kamar kecil, jenis kamar/ruang
persiapan dan kamar khusus lainnya misal perbaikan/bengkel,
penyediaan tenaga teknisi, penyediaan dana, dan sebagainya.

c) Administrasi Laboratorium

Administrasi laboratorium meliputi segala kegiatan administrasi


yang ada di laboratorium, yang antara lain terdiri atas:
 inventarisasi peralatan laboratorium yang ada,
 daftar kebutuhan alat baru, atau alat tambahan, alat-alat yang
rusak, dan atau alat-alat yang dipinjam/dikembalikan,
 keluar masuk surat menyurat,
 daftar pemakaian laboratorium, sesuai dengan jadwal kegiatan
praktikum / percobaan yang ada,
 daftar inventarisasi bahan-bahan,
 daftar penerimaan barang serta daftar pembelian barang,
 daftar inventaris alat–alat mebelair (kursi, meja, bangku,
lemari, dsb),
 sistem evaluasi dan pelaporan.

Kegiatan administrasi adalah merupakan kegiatan rutin yang


berkesinambungan, karenanya perlu dipersiapkan dan
dilaksanakan dengan baik dan teratur.

78 | Modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan


`

Teknik Audio Video KK B

d) Inventarisasi dan Keamanan Laboratorium

Kegiatan inventarisasi dan keamanan laboratorium meliputi


aktifitas berikut ini:
 Semua kegiatan inventarisasi (Inventory=Inventarisasi), seperti
yang telah disebutkan di atas pada semua peralatan, bahan
dan barang-barang yang ada di laboratorium, secara detail.
Inventarisasi ini juga harus memuat sumbernya (dari mana
asal barang tersebut). Misalnya: hibah, droping dari proyek,
dari dana masyarakat lewat komite sekolah, dll.
 Keamanan yang dimaksud di sini adalah apakah peralatan
tersebut tetap ada di laboratorium, atau ada yang
meminjamnya. Apakah ada yang hilang, dicuri, pindah tempat
atau rusak / sedang diperbaiki tetapi tidak dilaporkan keadaan
sebenarnya. Perlu diingat bahwa barang-barang dan semua
peralatan laboratorium yang ada adalah milik negara maupun
yayasan, jadi tidak boleh ada yang hilang.

Tujuan yang akan dicapai dari inventarisasi dan keamanan ini


adalah:
 mencegah kehilangan dan penyalahgunaan,
 mengurangi biaya-biaya operasional,
 meningkatkan proses pekerjaan dan hasilnya,
 meningkatkan kualitas kerja,
 mengurangi resiko kehilangan,
 mencegah pemakaian berlebihan,
 meningkatkan kerjasama.

e) Penggunaan Laboratorium

Hal-hal yang perlu diperhatian dalam penggunaan laboratorium


meliputi:
 Tanggung jawab
Pimpinan pengelola laboratorium, anggota laboratorium (guru-
guru pengguna lab), teknisi dan laboran bertanggung jawab
penuh terhadap segala kecelakaan yang mungkin timbul.

Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan | 79


Kegiatan Pembelajaran 2

Karenanya pimpinan pengelola laboratorium di Sekolah


Menengah dipegang oleh guru yang berpengalaman dan
memiliki keahlian yang sesuai. Demikian juga dengan teknisi
dan laboran.
 Kerapian
Semua koridor, jalan keluar dan alat pemadam api harus
bebas dari hambatan seperti botol-botol dan kotak-kotak.
Lantai harus bersih dan bebas minyak, air dan material lain
yang mungkin menyebabkan lantai licin. Semua alat-alat dan
reagent harus segera dikembalikan ke tempat semula setelah
digunakan.
 Kebersihan masing-masing pekerja di laboratorium.
 Perhatian terhadap tugas masing-masing harus berada pada
pekerjaan mereka masing-masing, jangan mengganggu
pekerjaan orang lain. Percobaan yang memerlukan perhatian
penuh tidak boleh ditinggalkan.
 Pertolongan pertama ( First-Aid)
Semua kecelakaan bagaimanapun ringannya harus segera
ditangani ditempat pertolongan pertama. Bila mata terpercik,
harus segera digenangi air dalam jumlah banyak. Jika tidak
bisa segera dibawa ke dokter. Jadi setiap labotratorium harus
memiliki kotak PPPK, dan harus selalu dikontrol isinya.
 Pakaian
Saat bekerja di laboratorium dilarang memakai baju longgar,
kancing terbuka, berlengan panjang, kalung teruntai, anting
besar, dan lain-lain yang mungkin dapat ditangkap oleh mesin,
ketika sedang bekerja dengan mesin-mesin yang
bergerak/berputar. Yang paling penting rambut harus dilindung
dari mesin-mesin yang bergerak.
 Berlari di laboratorium
Tidak dibenarkan berlari-lari di laboratorium atau di koridor,
berjalanlah di tengah koridor untuk menghindari bertabrakan
dengan orang dari pintu yang hendak masuk.

80 | Modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan


`

Teknik Audio Video KK B

 Pintu-pintu
Pintu-pintu harus dilengkapi dengan jendela pengintip untuk
mencegah terjadinya kecelakaan (misalnya: kebakaran).
 Alat-alat
Alat-alat seharusnya ditempatkan di tengah meja, agar alat-
alat tersebut tidak jatuh ke lantai. Selain itu, peralatan
sebaiknya juga ditempatkan dengan sumber listrik, jika
memang peralatan tersebut memerlukan listrik untuk sumber
energinya. Demikian juga untuk alat-alat yang menggunakan
air diletakkan di dekat kran air. Alat-alat yang memerlukan
pencahayaan matahari ditempatkan didekat jendela. Alat-alat
yang memerlukan kamar gelap diletakkan di kamar gelap, dll.

b. Penanganan Kebakaran

Di dalam laboratorium harus tersedia alat pemadam kebakaran yang


sesuai dengan jenis kebakaran yang mungkin timbul di laboratorium
tersebut.

Di bawah ini diberikan bahan-bahan yang dapat menimbulkan kebakaran


beserta klasifikasinya.

Tabel 2. 12. Kelas kebakaran


Kelas Kebakaran (fire class) Bahan yang mudah terbakar (burning
material)
Kelas A Kertas, kayu, tekstil, plastik, bahan-bahan
pabrik
Kelas B Larutan yang mudah terbakar
Kelas C Gas yang mudah terbakar
Kelas E Alat-alat listrik

Bahan-bahan yang lain, jika terbakar sulit untuk diklasifikasikan , karena


berubah dari padat, menjadi cair atau dari cair menjadi gas pada
temperatur yang tinggi. Perlu diingat bahwa: “Nyawa Anda lebih berharga
daripada peralatan/bangunan yang ada”. Oleh karenanya peralatan
pemadam kebakaran harus tersedia di laboratorium.

Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan | 81


Kegiatan Pembelajaran 2

Tabel 2. 13. Jenis Alat Pemadam kebakaran

Type Kelas Kebakaran Warna Tabung

Air A,B,C Merah


Busa (foam) A,B Krem
Tepung (powder) A,B,C,E Biru
Halon (Halogen) A,B,C,E Hijau
Karbodioksida (CO2) A,B,C,E Hitam
Pasir A,B -

c. Organisasi Laboratorium

Organisasi laboratorium meliputi struktur organisasi, deskripsi pekerjaan,


serta susunan personalia yang mengelola laboratorium tersebut.
Penanggung jawab tertinggi di laboratorium tersebut adalah Ketua
Laboratorium. Ketua Laboratorium bertanggung jawab terhadap semua
kegiatan yang dilakukan dan juga bertanggung jawab terhadap seluruh
peralatan yang ada. Para anggota laboratorium yang berada di bawah
ketua laboratorium juga harus sepenuhnya bertanggung jawab terhadap
semua pekerjaan yang dibebankan padanya. Demikian pula teknisi dan
laboran.

d. Fasilitas Pendanaan

Ketersediaan dana sangat diperlukan dalam operasional laboratorium.


Tanpa adanya dana yang cukup, kegiatan laboratorium akan berjalan
tersendat-sendat, bahkan mungkin tidak dapat beroperasi dengan baik.
Dana dapat diperoleh dari :
1) dana dari pemerintah,
2) dana dari masyarakat (lewat Komite Sekolah),
3) bantuan proyek (droping dari pemerintah),
4) sumber lain.

Jika selama ini misalkan tidak ada dana yang berasal dari pemerintah
(untuk sekolah negeri), maka pihak sekolah harus berani mendesak
kepada Depdiknas agar disediakan anggaran misal lewat APBD / APBN
untuk keperluan pengembangan laboratorium dan biaya operasional.
Unsur pimpinan sekolah hendaknya sedikit banyak juga mengetahui

82 | Modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan


`

Teknik Audio Video KK B

tentang seluk beluk laboratorium agar dapat mengetahui apakah alat /


bahan / barang yang diusulkan oleh pengelola laboratorium untuk
diadakan apakah memang benar-benar diperlukan dan nantinya akan
dipergunakan atau tidak. Jika alat / bahan / barang yang akan dibeli
diadakan lewat proyek, sebaiknya pengelola lab dalam membuat usulan
harus tahu persis spesifikasi dan harga barang yang akan dibeli, agar
dana yang tersedia dapat digunakan seoptimal mungkin.

e. Disiplin yang tinggi

Disiplin yang tinggi dari teknisi, laboran dan semua pengelola


laboratorium akan mendukung terwujudnya efisensi kerja yang tinggi.
Kedisiplinan sangat dipengaruhi oleh pola kebiasaan dan perilaku dari
manusianya sendiri. Oleh sebab itu mereka seharusnya dapat menyadari
akan tugas, wewenang dan fungsinya. Sesama laboran, teknisi, dan guru
pengelola lab harus ada kerja sama yang baik, sehingga setiap keslitan
dapat dipecahkan bersama. Yang juga tidak kalh pentingnya adalah
kerjasama pengelola lab dengan unsur pimpinan sekolah yang
menangani sarana dan prasarana sekolah.

f. Keterampilan

Ketrampilan para tenaga laboran / teknisi harus selalu ditingkatkan


kualitasnya. Peningkatan ketrampilan mungkin dapat diperoleh melalui
pendidikan tambahan seperti pendidikan ketrampilan khusus, penataran,
workshop, magang dll. Peningkatan ini diharapkan dapat meningkatkan
peran aktif mereka di laboratorium masing-masing. Peningkatan
ketrampilan dapat juga dilakukan melalui bimbingan dari guru pengelola
lab yang kompeten.

g. Peraturan Dasar

Beberapa peraturan dasar untuk menjamin kelancaran jalannya kegiatan


di laboratorium antara lain:
1) dilarang makan/minum di dalam laboratorium,
2) dilarang merokok, karena mengandung potensi bahaya seperti:
a) Kontaminasi melalui tangan,
b) Ada api/uap/gas yang bocor/mudah terbakar,

Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan | 83


Kegiatan Pembelajaran 2

c) Uap / gas beracun akan tersiap melalui pernafasan,


3) dilarang meludah, akan menyebabkan terjadinya kontaminasi,
4) dilarang berlari, terutama bila ada bahaya kebakaran, gempa dan
sebagainya. Jadi harus tetap berjalan saja,
5) dilarang bermain dengan peralatan laboratorium yang belum diketahui
cara penggunaannya, sebaiknya tanyakan pada orang yang tahu atau
pada teknisi,
6) diharuskan selalu menulis label yang lengkap, terutama pada bahan-
bahan kimia,
7) dilarang mengisap / menyedot dengan mulut segala bentuk pipet.
Semua alat harus menggunakan bola karet pengisap (pipet-pump),
8) diharuskan memakai baju laboratorium, dan juga sarung tangan
terutama saat menuang bahan-bahan kimia yang berbahaya seperti
asam sulfat,
9) untuk peralatan laboratorium yang spesifik yang sudah ada manual
dari pabriknya, dilarang membuat sendiri peraturan penggunaan alat
tersebut apalagi bila bertentangan dengan manual yang telah ada.

h. Jenis Pekerjaan

Berbagai jenis pekerjaan yang ada di laboratorium harus dibicarakan


bersama antara pimpinan laboratorium, anggota dan teknisi serta
laboran. Pemahaman atas jenis pekerjaan di laboratorium bertujuan
untuk:
1) meningkatkan efisiensi penggunaan bahan-bahan kimia, air, listrik,
gas dan alat-alat lab,
2) meningkatkan efisiensi biaya,
3) meningkatkan efisiensi tenaga dan waktu,
4) mempercepat pelaksanaan pekerjaan,
5) meningkatkan kualitas guru anggota pengelola lab,
6) meningkatkan kualitas teknisi dan laboran,
7) guru, teknisi dan laboran harus bekerja sama dalam satu team work.

84 | Modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan


`

Teknik Audio Video KK B

D. Aktifitas Pembelajaran

1. Untuk dapat memahami kaidah-kaidah K3, teknik sambung, dan tata


kelola bengkel yang digunakan dalam bengkel/laboratorium Teknik
Elektronika Audio Video, lakukan diskusi, brainstroming dalam kelompok
kecil. Selama proses diskusi gunakan cara berfikir kritis, proses
pengambilan keputusan (decision making), perencanaan strategi
(strategic planning), proses ilmiah (scientific process), dan pemecahan
masalah (problem solving).
2. Pada aktifitas pembelajaran ini, peserta diberi tugas melakukan observasi
tentang kaidah-kaidah K3, teknik sambung, dan tata kelola bengkel yang
digunakan dalam bengkel/laboratorium Teknik Elektronika Audio Video
dilokasi diklat / tempat kerjanya.

3. Selama proses pembelajaran, peserta hendaknya melakukan observasi


dengan teliti, kreatif, dan penuh tanggung jawab serta dapat bekerjasama
dalam kelompok/mandiri dalam menerapkan kaidah-kaidah K3, teknik
sambung, dan tata kelola bengkel Teknik Elektronika Audio Video dengan
benar.

4. Lembar Kerja (LK) yang digunakan dalam melakukan observasi adalah


sebagai berikut:

LK 2.1 : Observasi Kaidah-kaidah K3 dengan menerapkan aturan K3


berdasarkan standar.

Tujuan Pembelajaran:

Setelah menyelesaikan kegiatan pembelajaran ini, peserta diharapkan dapat


menunjukkan kaidah-kaidah K3 sebagai wujud penerapan/penggunaan
aturan K3 berdasarkan standar dengan benar

Alat-alat / Bahan yang digunakan dalam melakukan observasi: LK, alat tulis

Langkah Kerja:

1. Lakukan observasi laboratorium/bengkel tempat anda diklat/kerja


tentang kaidah-kaidah K3 sebagai wujud penerapan/penggunaan aturan

Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan | 85


Kegiatan Pembelajaran 2

K3 berdasarkan standar yang sudah diterapkan dalam


bengkel/laboratorium Teknik Elektronika Audio Video anda!

Tabel observasi kaidah-kaidah K3 sebagai wujud


penerapan/penggunaan aturan K3 berdasarkan standar
No Poin yang dicek/ Catatan
Daftar tugas/ instruksi
diobservasi
1 Pemeriksaan keadaan di
tempat dan lingkungan kerja
untuk mengetahui dengan
pasti potensi resiko
kecelakaan yang bisa
terjadi.
2 Pemberian proteksi atau
singkirkan bahan ataupun
barang yang berpotensi
menimbulkan bahaya di
tempat kerja, sehingga
resiko bahaya menjadi
dapat diminimasi sekecil
mungkin.
3 Pemeliharaan tempat kerja
agar tetap bersih, aman dan
nyaman serta terhindar dari
bahan dan barang yang
dapat menimbulkan bahaya,
sehingga tempat kerja
menjadi aman dari bahaya
yang mungkin timbul.
4 Penempatan bahan dan
barang yang berbahaya di
tempat yang sudah
ditentukan.
5 Penentuan dampak dari
kecelakaan kerja agar dapat
dilakukan antisipasi yang
tepat bila terjadi kecelakaan
kerja.
6 Cara menghindari pekerjaan
yang dapat menimbulkan
bahaya dan resiko
kecelakaan kerja sehingga
kecelakaan kerja dapat
ditekan sekecil mungkin.
7 Penerapan prosedur K3
untuk pengendalian bahaya
dan resiko kecelakaan kerja
secara konsisten.
8 Cara menjalankan semua
prosedur terkait dengan
pencegahan K3 di tempat
dan lingkungan kerja
dengan patuh.
9 Penggunaan alat pelindung
diri (APD) dan (APK) sesuai

86 | Modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan


`

Teknik Audio Video KK B

No Poin yang dicek/ Catatan


Daftar tugas/ instruksi
diobservasi
dengan ketentuan K3.

2. Berdasarkan hasil observasi di lingkungan bengkel/laboratorium anda,


apakah kaidah-kaidah K3 sesuai standar sudah diterapkan? Jika masih
ada yang belum diterapkan, peluang apa saja yang bisa anda lakukan
untuk menerapkan aturan K3 sesuai standar?

Untuk itu buatlah analisa data berupa kondisi ideal, kondisi nyata,
kesenjangan antara kondisi ideal dan kondisi nyata, serta solusi yang
diusulkan tentang penerapan/penggunaan aturan K3 berdasarkan
standar berupa kaidah-kaidah K3 di bengkel/laboratorium Teknik
Elektronika Audio Video tempat anda bekerja!

Tabel analisa penerapan/penggunaan aturan K3 berdasarkan standar


berupa kaidah-kaidah K3

No Kondisi ideal Kondisi nyata Kesenjangan Solusi


1

LK 2.2 : Melakukan Kaidah-kaidah teknik sambung dengan aturan K3


berdasarkan standar

Tujuan Pembelajaran:
Setelah menyelesaikan kegiatan pembelajaran ini, peserta diharapkan
dapat menerapkan kaidah-kaidah teknik sambung berdasarkan standar
dengan benar.

Alat-alat yang digunakan dalam melakukan pengukuran:


 Toolset 1 set
 Camera 1 unit

Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan | 87


Kegiatan Pembelajaran 2

Bahan yang digunakan dalam melakukan pengukuran:


 Kabel NYA 10 meter

Tugas 2.2a. Observasi penggunaan macam-macam kabel.


Buatlah tabel Observasi penggunaan macam-macam kabel yang sudah
diterapkan dalam bengkel/laboratorium Teknik Elektronika Audio Video
anda! Ambil gambar hasil Observasi penggunaan macam-macam kabel
tersebut dan berilah penjelasannya serta masukkan dalam table berikut!

Tabel Observasi penggunaan macam-macam kabel.

Foto/Gambar penggunaan
No Jenis kabel macam-macam kabel Keterangan
Hasil Observasi
1 NYA

2 NYM

3 NYAF

4 NYMHY

5 NYY

6 Telepon

7 Coaxial

8 Audio/Video

Tugas 2.2b. Pembuatan macam-macam sambungan menggunakan


kabel NYA.
Langkah pembuatan:
1) Siapkan peralatan toolset dan bahan praktek pendukung seperti di
atas!
2) Buatlah macam-macam sambungan menggunakan kabel NYA,
berdasarkan teori yang telah anda pelajari pada kegiatan pembelajaran
ini! Konsultasikan dengan instruktur anda!
a) Menyambung kabel cara ekor babi (piq tail).
b) Menyambung kabel cara puntir bell hangers.
c) Menyambung kabel cara puntir western union.
d) Menyambung kabel cara bolak balik.

88 | Modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan


`

Teknik Audio Video KK B

e) Menyambung kabel cara britannia.


f) Menyambung kabel cara scraft.
g) Menyambung kabel bernadi banyak.
h) Mencabang kabel datar single plain joint.
i) Mencabang kabel datar cross joint.
j) Mencabang kabel simpul (knotted tap joint) tunggal.
k) Mencabang kabel simpul (knotted tap joint) ganda.

Tugas 2.2c. Observasi Tempat dan Peralatan Pembuatan PRT.


Buatlah tabel Observasi Tempat dan Peralatan Pembuatan PRT yang
sudah diterapkan dalam bengkel/laboratorium Teknik Elektronika Audio
Video anda! Ambil gambar hasil Observasi Tempat dan Peralatan
Pembuatan PRT tersebut dan berilah penjelasannya serta masukkan
dalam table berikut!

Tabel Observasi Tempat dan Peralatan Pembuatan PRT.

Foto/Gambar Tempat dan


No Uraian Peralatan Pembuatan PRT Keterangan
Hasil Observasi
1

Berdasarkan hasil observasi di lingkungan bengkel/laboratorium anda,


apakah Tempat dan Peralatan Pembuatan PRT sesuai standar sudah
diterapkan? Jika masih ada yang belum diterapkan, peluang apa saja
yang bisa anda lakukan untuk menerapkan aturan K3 sesuai standar?

Untuk itu buatlah analisa data berupa kondisi ideal, kondisi nyata,
kesenjangan antara kondisi ideal dan kondisi nyata, serta solusi yang
diusulkan tentang Tempat dan Peralatan Pembuatan PRT sebagai wujud
penerapan/penggunaan aturan K3 berdasarkan standar di

Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan | 89


Kegiatan Pembelajaran 2

bengkel/laboratorium Teknik Elektronika Audio Video tempat anda


melaksanakan diklat / bekerja!

Tabel analisa penerapan/penggunaan aturan K3 berdasarkan standar


berupa Tempat dan Peralatan Pembuatan PRT.

No Kondisi ideal Kondisi nyata Kesenjangan Solusi


1

LK 2.3 : Observasi tata kelola bengkel sebagai penerapan/penggunaan


aturan K3 berdasarkan standar.

Tujuan Pembelajaran:

Setelah menyelesaikan kegiatan pembelajaran ini, peserta diharapkan dapat


menunjukkan tata kelola bengkel sebagai wujud penerapan/penggunaan
aturan K3 berdasarkan standar dengan benar

Alat-alat / Bahan yang digunakan dalam melakukan observasi/wawancara:


LK, alat tulis dan camera.

Langkah Kerja:

1. Lakukan observasi dan wawancara dengan pimpinan


laboratorium/bengkel tempat anda diklat/kerja tentang tata kelola
bengkel sebagai wujud penerapan/penggunaan aturan K3 berdasarkan
standar yang sudah diterapkan dalam bengkel/laboratorium Teknik
Elektronika Audio Video anda!

90 | Modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan


`

Teknik Audio Video KK B

Tabel tata kelola bengkel sebagai wujud penerapan/penggunaan aturan


K3 berdasarkan standar

No Topik Wawancara Jawaban


1 Tata ruang

2 Peralatan (terkalibrasi dan siap


dipakai)
3 Infrastruktur laboratorium

4 Fasilitas umum

5 Administrasi laboratorium

6 Inventarisasi dan keamanan


laboratorium
7 Penggunaan laboratorium

8 Penanganan kebakaran

9 Organisasi laboratorium

10 Pendanaan fasilitas

11 Tata tertip di
bengkel/laboratorium

2. Berdasarkan hasil observasi/wawancara di lingkungan


bengkel/laboratorium anda, apakah tata kelola bengkel sesuai standar
sudah diterapkan? Jika masih ada yang belum diterapkan, peluang apa
saja yang bisa anda lakukan untuk menerapkan aturan K3 sesuai
standar?

Untuk itu buatlah analisa data berupa kondisi ideal, kondisi nyata,
kesenjangan antara kondisi ideal dan kondisi nyata, serta solusi yang
diusulkan tentang tata kelola bengkel sebagai wujud
penerapan/penggunaan aturan K3 berdasarkan standar di
bengkel/laboratorium Teknik Elektronika Audio Video tempat anda
melaksanakan diklat / bekerja!

Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan | 91


Kegiatan Pembelajaran 2

Tabel analisa penerapan/penggunaan aturan K3 berdasarkan standar


berupa tata kelola bengkel.

No Kondisi ideal Kondisi nyata Kesenjangan Solusi


1

E. Latihan/Tugas

1. Tunjukkan kaidah-kaidah K3 sesuai standar !

2. Tunjukkan kaidah -kaidah teknik sambung sesuai standar !

3. Tunjukkan kaidah -kaidah tata kelola bengkel sesuai standar !

F. Rangkuman

1. Kaidah-kaidah K3 sesuai standar !

K3 baru menjadi perhatian utama pada tahun 70-an searah dengan


semakin ramainya investasi modal dan pengadopsian teknologi industri
nasional (manufaktur). Perkembangan tersebut mendorong pemerintah
melakukan regulasi dalam bidang ketenagakerjaan, termasuk pengaturan
masalah K3. Hal ini tertuang dalam UU No. 1 Tahun 1970 tentang
Keselamatan Kerja, sedangkan peraturan perundang-undangan
ketenagakerjaan sebelumnya seperti UU Nomor 12 Tahun 1948 tentang
Kerja, UU No. 14 Tahun 1969 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok
Mengenai Tenaga Kerja tidak menyatakan secara eksplisit konsep K3
yang dikelompokkan sebagai norma kerja. Setiap tempat kerja atau
perusahaan harus melaksanakan program K3.

Menurut Standar OSHA utama yang berlaku untuk semua laboratorium


nonproduction, Pengusaha harus menyadari sepenuhnya standar dan

92 | Modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan


`

Teknik Audio Video KK B

harus menerapkan semua aspek dari standar yang berlaku untuk kondisi
kerja laboratorium khusus di fasilitas mereka, seperti:
 The Occupational Exposure to Hazardous Chemicals in Laboratories
standard (29 CFR 1910.1450),
 The Hazard Communication standard (29 CFR 1910.1200),
 The Bloodborne Pathogens standard (29 CFR 1910.1030),
 The Personal Protective Equipment (PPE) standard (29 CFR
1910.132),
 The Eye and Face Protection standard (29 CFR 1910.133),
 The Respiratory Protection standard (29 CFR 1910.134),
 The Hand Protection standard (29 CFR 1910.138),
 The Control of Hazardous Energy standard (29 CFR 1910.147).

2. Kaidah-kaidah teknik sambung sesuai standar !

a. Teknik Kabel.

Ada tiga hal pokok dari kabel yaitu:


1) konduktor/penghantar, merupakan media untuk menghantarkan
arus listrik,
2) iIsolator, merupakan bahan dielektrik untuk mengisolasi dari
penghantar yang satu terhadap yang lain dan juga terhadap
lingkungan lingkungannya,
3) pelindung luar, yang memberikan perlindungan terhadap
kerusakan mekanis, pengaruh bahan- bahan kimia elektrolysis,
api atau pengaruh pengaruh luar lainnya yang merugikan.

Berdasarkan fungsinya kabel dapat digunakan sebagai:


1) penghantar arus listrik tenaga (Power Cable), jenis kabel yang
sering digunakan pada instalasi penerangan maupun instalasi
tenaga adalah NYA, NYAF, NYM, NYMHY, NYY, NYFGBY dan
lain-lain. Penentuan besar kecil dan jumlah serabut/inti yang
digunakan dapat diketahui dari Persyaratan Umum Instalasi Listrik
(PUIL),

Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan | 93


Kegiatan Pembelajaran 2

2) penghantar arus listrik data dan informasi, seperti kabel telepon


(aerial cable (kabel atas tanah), indoor cable (kabel rumah), burial
cable (kabel tanam) dll), kabel koaksial, kabel serat optik,
3) standar kabel pada perangkat audio-video seperti: coaxial
composit, RCA-komposit, s-video 3RCA,5 RCA.
b. Teknik sambung
1) menyambung kabel cara ekor babi (pig tail), sambungan ini
digunakan untuk menyambung atau mencabangkan satu atau
beberapa kabel pada satu titik. Penyambungan cara ini sering
dijumpai pada kotak sambung dan umumnya dipasang "lasdop"
sebagai pengikat dan sekaligus sebagai isolasi,
2) menyambung kabel cara punter, sambungan ini digunakan untuk
menyambung antara dua kabel yang berbentuk satu garis lurus,
menyambung cara puntir ini dibedakan menjadi dua jenis yaitu
sambungan bell hangers dan sambungan western union,
3) Menyambung kabel cara bolak balik (Turn Back), menyambung
cara bolak balik ini dimaksudkan untuk mendapatkan sambungan
yang lebih kuat terhadap rentangan maupun tarikan. Umumnya
kabel yang digunakan untuk sambungan ini adalah kabel dengan
penampang 4 mm2 karena mudah ditekuk dan dipuntir dengan
tangan. Untuk kabel yang ukuran lebih besar dilakukan dengan
cara sambungan bolak balik “Britannia“ atau dengan model
sambungan “Scarf“,
4) menyambung kabel bernadi banyak, menyambung kabel bernadi
banyak tidak bisa dilakukan dengan cara-cara menyambung kabel
bernadi tunggal seperti yang dipraktekkan diatas, sebab hasilnya
tidak akan bagus dan tidak rapi. Untuk itu perlu cara khusus yaitu
dengan menganyam sesuai dengan arah alurnya atau yang lebih
dikenal dengan cara “Single Wrapped Cable Spice”,
5) mencabang kabel datar (Plain joint), pada hantaran yang panjang,
misalnya antara rol-rol sekat dapat dilakukan pencabangan tanpa
harus memutus kabel utamanya, melainkan hanya dikupas
kabelnya sepanjang kebutuhan. Bentuk pencabangan datar ini

94 | Modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan


`

Teknik Audio Video KK B

bisa untuk cabang tunggal (Single Plain joint) atau bisa juga dalam
bentuk cabang ganda (Cross Plain Joint),
6) memcabang kabel simpul (Knotted tap joint), Pencabangan kabel
dengan cara ini akan menghasilkan jenis pencabangan kabel
datar yang lebih kuat. Untuk itu bentuknya hampir menyerupai
pencabangan datar. Bentuk pencabangan datar ini bisa untuk
cabang simpul tunggal atau bisa juga dalam bentuk cabang simpul
ganda,
b. Papan Rangkaian Tercetak (PRT), atau sering juga disebut PCB
(Printed Circuit Board) merupakan papan pemasangan komponen
elektronika yang jalur hubungannya menggunakan papan berlapis
tembaga. Pembentukan jalur PCB dilakukan dengan cara etching
(pelarutan), dimana sebagian tembaga dilepaskan secara kimia
dari suatu papan lapis tembaga kosong (blangko). Tembaga yang
tersisa beserta alasnya itulah yang akan membentuk jalur
pengawatan PCB.

3. Kaidah-kaidah tata kelola bengkel sesuai standar

Penyimpanan/pengelolaan alat, peralatan dan bahan laboratorium


merupakan bagian dari manajemen laboratorium. Manajemen
Laboratorium (Laboratory Management) adalah usaha untuk mengelola
laboratorium berdasar konsep manajemen baku.

Untuk mengelola laboratorium dengan baik kita harus mengenal


perangkat-perangkat manajemen yang harus dikelola meliputi: Tata
ruang, Alat dan peralatan yang baik dan terkalibrasi, Infrastruktur,
Administrasi laboratorium, Organisasi laboratorium, Fasilitas pendanaan,
Inventarisasi dan keamanan, Pengamanan laboratorium, Disiplin yang
tinggi, Keterampilan SDM, Peraturan Dasar, Penanganan masalah umum
dan Jenis-jenis pekerjaan.

Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan | 95


Kegiatan Pembelajaran 2

G. Umpan Balik dan Tindak Lanjut

1. Umpan Balik
Setelah mempelajari kegiatan pembelajaran ini, periksa penguasaan
pengetahuan dan keterampilan anda menggunakan daftar periksa di bawah
ini:

No Indikator Ya Tidak Bukti


1. Memeriksa kaidah-kaidah K3 sesuai
standar
2. Memeriksa kaidah-kaidah teknik sambung
sesuai standar
3. Memeriksa kaidah-kaidah tata kelola
bengkel sesuai standar

2. Tindak Lanjut
a. Buat rencana pengembangan dan implementasi di lingkungan bengkel
kerja anda.
b. Gambarkan suatu situasi atau isu di dalam bengkel anda yang mungkin
dapat anda ubah atau tingkatkan dengan mengimplementasikan sebuah
rencana tindak lanjut.
c. Apakah judul rencana tindak lanjut anda?
d. Apakah manfaat/hasil dari rencana aksi tindak lanjut anda tersebut?
e. Uraikan bagaimana rencana tindak lanjut anda memenuhi kriteria SMART
(spesifik, dapat diukur, dapat dicapai, relevan, rentang/ketepatan
waktu).

96 | Modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan


`

Teknik Audio Video KK B

Kegiatan Pembelajaran 3
Penggunaan Standar K3, Peralatan Kerja Bangku,
dan Peralatan Teknik Sambung, serta Prosedur
Perawatan dan Perbaikan Peralatan Bengkel

A. Tujuan

Setelah menyelesaikan materi pembelajaran ini, peserta diharapkan dapat


mengevaluasi penggunaan standard K3, kerja bangku, teknik sambung, dan
tata kelola bengkel sesuai standar dengan benar.

B. Indikator Pencapaian Kompetensi

Setelah menyelesaikan materi pembelajaran ini, peserta diharapkan dapat:


1. menemukan kesalahan secara sistimatis tentang penggunaan standard
K3,
2. menemukan kesalahan secara sistimatis tentang prosedur penggunaan
peralatan kerja bangku,
3. menemukan kesalahan secara sistimatis tentang prosedur penggunaan
peralatan teknik sambung,
4. menemukan kesalahan secara sistimatis tentang prosedur perawatan dan
perbaikan peralatan bengkel.

C. Uraian Materi

1. Penggunaan Standar K3
a. Kebiasaan untuk menggunakan pelindung

Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan | 97


Kegiatan Pembelajaran 3

Peralatan pelindung diri untuk pekerja pada dasarnya mempunyai


masalah tersendiri. Rendahnya motivasi dari pihak pekerja untuk
menggunakan peralatan itu hendaknya diimbangi dengan kesungguhan
pimpinan menerapkan aturan penggunaan peralatan itu.
Terdapat beberapa segi yang perlu perhatian dan pemecahan sekaligus
yaitu:
1) Untuk pertama kali menggunakan alat pelindung diri seperti helm,
sepatu kerja dan ikat pinggang pengaman memang kurang
menyenangkan pekerja. Memanjat dengan memakai sepatu bahkan
akan terasa kurang aman bagi yang tidak terbiasa, mula-mula terasa
memperlambat pekerjaan. Memakai sarung tangan juga mula-mula
akan terasa risih. Memang diperlukan waktu agar menggunakan alat
pelidung diri itu menjadi kebiasaan. Tetapi yang penting pada
akhirnya harus terbiasa.
2) Diperlukan tenaga pengawas K3 untuk mengingatkan dan
mengenakan sanksi bagi pelanggar yang tidak menggunakan alat
pelindung tersebut.
3) Untuk pembiayaan peralatan memang diperlukan dana, dan hal ini
tentu sudah dianggarkan. Karena itu hendaknya diadakan
inventarisasi dan prosedur penyimpanan, perbaikan, perawatan,
membersihkan dan menggantikan alat pelindung diri.

Alat Pelindung Diri yang umum dipakai dan sifatnya lebih mendasar.
Karena diluar itu sangat banyak sekali ketentuan-ketentuan yang harus
diingat baik bila mengerjakan sesuatu, menggunakan peralatan tertentu
dan menangani bahan tertentu.

Alat Pelindung Diri akan berfungsi dengan sempurna apabila dipakai


secara baik dan benar seperti berikut:
1) sediakanlah Alat Pelindung Diri yang sudah teruji dan telah memiliki
SNI atau standar Internasional lainnya yang diakui,
2) pakailah alat pelindung diri yang sesua dengan jenis pekerjaan
walaupun pekerjaan tersebut hanya memerlukan waktu singkat,
3) Alat Pelindung Diri harus dipakai dengan tepat dan benar,

98 | Modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan


`

Teknik Audio Video KK B

4) jadikanlah memakai alat pelindung diri menjadi kebiasaan. Ketidak


nyamanan dalam memakai alat pelindung diri jangan dijadikan alasan
untuk menolak memakainya,
5) Alat Pelindung Diri tidak boleh diubah-ubah pemakaiannya kalau
memang terasa tidak nyaman dipakai laporkan kepada atasan atau
pemberi kewajiban pemakaian alat tersebut,
6) Alat Pelindung Diri dijaga agar tetap berfungsi dengan baik,
7) semua pekerja, pengunjung dan mitra kerja ke tempat/lokasi/
bengkel/laboratorium/proyek yang mewajibkan menggunakan APD
harus memakai alat pelindung diri yang diwajibkan seperti topi
keselamatan dll.
2. Penggunaan Peralatan Kerja Bangku
a. Macam-macam Alat Penanda dan Fungsinya
1) Penggores
Fungsi penggores adalah untuk membuat garis, khususnya penandaan
garis pada permukaan logam benda kerja.
Tipe macam penggores yang sering digunakan di bengkel:
 Penggores sederhana
 Penggores dengan salah satu
ujungnya bengkok
 Penggores yang dapat
diubah-ubah ujungnya

 Penggores dengan ketinggian


yang dapat diatur sesuai
skala yang penggunaannya
dilakukan diatas meja
pengukur kerataan
 Menarik garis-garis
sejajar yang sama dengan
balok penggores
Gambar 3.1. Tipe Penggores
Sumber: http://afreimhmd21.blogspot.co.id/2014/05/alat-mekanik-kerja-bangku.html

2) Cap (Stamp)

Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan | 99


Kegiatan Pembelajaran 3

Cap digunakan untuk menandai logam dan beberapa bahan bukan


logam dengan nomor, huruf, angka dan tanda-tanda lainnya.
Bagian-bagian Cap

Gambar 3.2. Bagian Cap (stamp)

Cap Nomor

Cap Huruf

Cap tanda

Gambar 3.3. Tanda/Cap (Stamp)


Sumber: http://afreimhmd21.blogspot.co.id/2014/05/alat-mekanik-kerja-bangku.html

Cap huruf dan nomor


dapat diperoleh dalam set
yang berbedabeda ukuran
yang terdiri dari:
0,5; 0,75; 1,0; 1,5; 2,0; 2,5;
3,0;4,0; 5,0 mm; dst.
Gambar 3.4. Cap (Stamp) huruf dan nomor
Sumber: http://afreimhmd21.blogspot.co.id/2014/05/alat-mekanik-kerja-bangku.html

3) Penitik
Fungsi penitik adalah untuk membuat titik pusat lengkung atau titik-
titik garis.

Gambar 3.5. Penitik


Sumber: http://afreimhmd21.blogspot.co.id/2014/05/alat-mekanik-kerja-bangku.html

100 | Modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan


`

Teknik Audio Video KK B

4) Jangka
a) Jangka Tusuk
Jangka tusuk dipergunakan untuk melukis busur dan lingkaran
dengan teliti.

Gambar 3.6. Jangka Tusuk


Sumber: http://afreimhmd21.blogspot.co.id/2014/05/alat-mekanik-kerja-bangku.html

b) Jangka Hati
Jangka hati dipergunakan untuk membuat garis pada permukaan
logam sejajar dengan sisi benda.

Gambar 3.7. Jangka Hati


Sumber: http://afreimhmd21.blogspot.co.id/2014/05/alat-mekanik-kerja-bangku.html

b. Macam-macam Alat Pemotong dan Fungsinya


1) Pahat
Pahat (chisel) digunakan untuk keperluan-keperluan seperti
memotong, membuat alur, meratakan bidang, membentuk sudut dsb.
 Pahat pelat, digunakan untuk
meratakan bidang dan memotong
pelat logam.
 Pahat alur / roreh; digunakan untuk
membuat alur dan sponeng.
 Pahat setengah bulat; digunakan
untuk membuat alur setengah bulat
salutan minyak dalam bantalan.
Gambar 3.8. Macam-macam Pahat
Sumber: http://afreimhmd21.blogspot.co.id/2014/05/alat-mekanik-kerja-bangku.html

Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan | 101


Kegiatan Pembelajaran 3

2) Kikir
Kikir terbuat dari baja karbon tinggi yang ditempa yang disesuaikan
dengan ukuran panjang, bentuk, jenis dan gigi pemotongnya.

Gambar 3.9. Ukuran Kikir


Sumber: http://afreimhmd21.blogspot.co.id/2014/05/alat-mekanik-kerja-bangku.html

Kikir diklasifikasikan menurut ukuran panjang, badan, pahatan dan


bentuknya:
 Kikir plat (Flat file)

 Kikir setengah bulat


(Half round file)

 Kikir segi empat


(Square file)
 Kikir bulat (Round file)
 Kikir segi tiga (Three-
square file)

 Kikir pisau (Knife file)

Gambar 3.10. Macam-macam kikir


Sumber: http://afreimhmd21.blogspot.co.id/2014/05/alat-mekanik-kerja-bangku.html

Jenis kehalusan pahatan gigi kikir:


 pahatan kasar sekali (Rough)
 pahatan kasar (Bastard cut)
 pahatan setengah kasar (Second cut)
 pahatan halus (Smooth cut)
 pahatan halus sekali (Dead smooth)

102 | Modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan


`

Teknik Audio Video KK B

3) Gergaji tangan
Gergaji digunakan untuk memotong benda kerja yang selanjutnya
untuk dikerjakan kembali proses berikutnya, Bagian-bagian dari
gergaji adalah:
Bingkai/Sengkang
Terbuat dari pipa baja yang kuat dan kaku, Sengkang yang dapat
diatur digunakan untuk bermacam-macam panjang dari daun gergaji.
 Pegangan yang
baik dengan bentuk
seperti pemegang
pistol.
 Daun gergaji
dipasang pada
kedua pasak yang
terdapat pada
bingkai.
 Mur kupu-kupu
berfungsi sebagai
pengencang daun
gergaji.
Gambar 3.11. Gergaji Tangan
Sumber: http://afreimhmd21.blogspot.co.id/2014/05/alat-mekanik-kerja-bangku.html

Daun Gergaji
Daun gergaji terdiri dari dua macam letak gigi pemotong yaitu gigi
pemotong satu sisi (single cut) dan dua sisi (double cut).

Gambar 3.12. Gigi Pemotong satu sisi


Sumber: http://afreimhmd21.blogspot.co.id/2014/05/alat-mekanik-kerja-bangku.html

Gambar 3.13. Gigi pemotong dua sisi


Sumber: http://afreimhmd21.blogspot.co.id/2014/05/alat-mekanik-kerja-bangku.html

Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan | 103


Kegiatan Pembelajaran 3

Sedangkan bentuk gigi gergaji ada yang silang dan ada yang lurus.

Gambar 3.14. Bentuk gigi gergaji silang


Sumber: http://afreimhmd21.blogspot.co.id/2014/05/alat-mekanik-kerja-bangku.html

Gambar 3.15. Bentuk gigi gergaji lurus


Sumber: http://afreimhmd21.blogspot.co.id/2014/05/alat-mekanik-kerja-bangku.html

Tabel 3. 1. Ukuran mata (mili) gergaji

No Jumlah Gigi/Inci Kegunaan


1. 14 - 18 Untuk bahan pejal st.37, tembaga, kuningan, besi
tuang.

2. 22 – 24 Untuk bahan dengan bentuk tebal dan baja karbon


tinggi.
3. 28 – 32 Untuk bahan dengan bentuk tipis, pelat, kawat, pipa
yang tipis

4) Mata Bor
Mata bor atau bor spiral terdiri dari sudut tatal dan sudut bebas yang
biasa terdapat pada alat-alat potong.
Badan bor tidak silindris benar, garis tengah luarnya tirus, dari ujung
sampai batas tangkai, dengan kenaikan 0,05 mm setiap panjang 100
mm.

Gambar 3.16. Macam-macam Bentuk Tangkai Mata Bor


Sumber: http://aplikatorhiltiindonesia.com/kategori-12-mata%20bor.html

104 | Modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan


`

Teknik Audio Video KK B

Keterangan gambar mata bor:


 Bibir potong (Cutting Edge or
Lip)
 Alur (Flute)
 Badan (Body)
 Sudut bebas badan (Body
Clearance)
 Mata pemotong sisi (Margin)
 Tangkai (Shank)
Gambar 3.17. Mata bor
Sumber: http://danahauses.blogspot.co.id/2011/10/berbagai-jenis-mata-bor-fungsinya.html

Besar sudut mata bor tergantung pada bahan yang akan dibor:
 Sudut iris / puncak bor 118
digunakan untuk bahan baja
lunak,
 Sudut iris / puncak bor 136º
digunakan untuk bahan baja
keras,
 Sudut iris / puncak bor 105º
digunakan untuk bahan yang
lunak,
Gambar 3.18. Sudut mata bor
Sumber: http://danahauses.blogspot.co.id/2011/10/berbagai-jenis-mata-bor-fungsinya.html

5) Reamer Tangan (Peluas)


Reamer (peluas) adalah alat potong untuk memperhalus permukaan
lubang dan memperbesar lubang yang telah kita siapkan sebelumnya.

Gambar 3.19. Me-reamer


Sumber: http://www.slideshare.net/namanjain261/naman-jain-reaming-ppt

Alur Spiral
Digunakan untuk meluaskan dan menghaluskan lubang sehingga
mencapai ukuran yang diharapkan. Reamer beralur spiral hasil
pemotongannya lebih halus dan ringan.

Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan | 105


Kegiatan Pembelajaran 3

Gambar 3.20. Reamer tangan beralur


Sumber: http://www.indiamart.com/rechan-enterprises/products.html

Alur Lurus
Reamer beralur lurus sama dengan reamer yang beralur spiral
dipergunakan pada setiap pekerjaan memperluas lubang.

Gambar 3.21. Reamer beralur lurus


Sumber: http://www.arceurotrade.co.uk/

6) Pemotong Ulir Luar (Sney)


Untuk memotong ulir pada bagian luar atau pada batang baut dengan
tangan, dipergunakan sejenis alat yang dinamakan pengulir luar. Alat
bantu untuk memutarkan sney adalah rumah sney atau tangkai sney.

Gambar 3.22. Sney dan rumah sney dipasang pada tangkai pemutar
Sumber: http://chamick.blogspot.co.id/2012/11/tap-and-sney.html

7) Tap Tangan
Tap adalah alat untuk membuat ulir dalam dengan tangan, tap tangan
terdiri dari 3 buah dalam 1 set.

106 | Modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan


`

Teknik Audio Video KK B

 Tap no.1 (Tap konis), tap urutan


pertama pada penggunaannya,
dengan bentuk tirus di ujungnya
untuk mempermudah
pemotongan.
 Bentuk ulir yang dihasilkan dari
tap pertama 25% dari bentuk ulir
yang sesungguhnya.
 Tap no.2 (Tap antara), dipakai
Gambar 3.23. Satu Set Tap setelah no.1. Bentuk tirus pada
ujungnya lebih pendek dari pada
no.1
 Tap no.3 (Tap rata), adalah tap
yang terakhir dan yang
membentuk profil ulir yang penuh.
Bagian tirus pada ujungnya
sangat pendek sehingga dapat
mencapai dasar untuk lubang
yang tak tembus.
Sumber: http://chamick.blogspot.co.id/2012/11/tap-and-sney.html

Sedangkan sebagai alat pemegang dan pemutar pada waktu


pelaksanaan mengulir, dipergunakan tangkai tap (batang pemutar)

Gambar 3.24. Tangkai Tap


Sumber: http://chamick.blogspot.co.id/2012/11/tap-and-sney.html

8) Gunting tangan
Berikut ini akan ditunjukkan beberapa alat pemotong pelat tipis
konvensional namun yang paling canggih yang tersedia saat ini.
a) Gunting tangan lurus
Gunting tangan lurus digunakan untuk menggunting lurus.
Spesifikasi gunting ini adalah:
 3"/76 mm bergerigi pisau menyediakan lebih panjang daripada
kebanyakan alat potong yang lain,
 pisau bergerigi mencengkeram dan agresif untuk memotong
material,
 rasio kekuatan untuk memotong menyediakan sampai 5:1
dibanding dengan alat pemotong konvensional yang lain,
 pisau Chrome berlapis tahan karat dan korosi,

Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan | 107


Kegiatan Pembelajaran 3

 dilengkapi Spring loaded untuk membuka lebih cepat,


 Non-slip textured cushion grips
 Small closed position handle design untuk tangan kecil.
Gunting ini mempunyai rahang lurus yang panjangnya antara 3”,
sedang panjang seluruhnya adalah antara 10½”. Gunting ini
banyak digunakan untuk memotong kardus, shingles, wire mesh,
sheet metal, sheet vinyl dan banyak lagi.

Gambar 3.25. Gunting tangan lurus


Sumber: http://www.farnell.com/datasheets/50638.pdf

b) Gunting tangan kombinasi.


Gunting tangan kombinasi mempunyai ukuran yang sama dengan
gunting tangan lurus. Bedanya adalah pada penampang
potongnya; gunting tangan kombinasi memungkinkan untuk
memotong lengkung, sehingga dapat digunakan untuk memotong
bentuk bentuk yang tidak beraturan.

Gambar 3.26. Gunting tangan kombinasi


http://www.conrad.com/ce/en/product/

c) Gunting tangan paruh burung


Gunting ini dapat digunakan untuk memotong lengkung luar
ataupun lengkung dalam berdiameter kecil dan untuk memotong
pipa (membuat lubang pada pipa).

Gambar 3.27. Gunting tangan paruh burung


http://www.conrad.com/ce/en/product/

108 | Modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan


`

Teknik Audio Video KK B

d) Gunting tangan dirgantara


Gunting tangan dirgantara terdiri atas tiga bentuk, yakni: rahang
lurus dengan panjang 9¾” dan rahang 1½”, sedangkan gunting
tangan kiri dan kanan mempunyai panjang 9¾” dan rahang 13/8”
Sisi potongnya bergerigi dan dikeraskan, direkomendasikan untuk
memotong pelat max. Capacity low carbon cold rolled steel : 18
Gauge Steel (0,049"/1,22 mm).
Membedakan antara gunting kanan dan kiri dapat dengan melihat
sisi potong dan warna tangkainya. Sisi potong atas gunting kanan
terletak sebelah kanan, sedangkan sisi potong atas gunting kiri
terletak sebelah kiri. Penggunaan gunting kanan adalah untuk
memotong arah kiri, sedang gunting kiri sebaliknya.

Gambar 3.28. Gunting tangan dirgantara


Sumber: http://www.farnell.com/datasheets/50638.pdf

e) Gunting tangan bulldog


Gunting tangan bullgog digunakan untuk pemotongan pelat agak
tebal (max 1,65 mm) baik lurus maupun bentuk-bentuk tak teratur
atau lengkung. Kegunaan yang lain gunting ini adalah:
• untuk bentukan atau pemangkasan extra heavy stock,
• non-slip, rahang bergerigi terbuat dari tough
molybdenum steel allows for compound lever action,
• withstands strain of cutting heavy stock and tight curves,
• spring-action for fast, effortless feed,

Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan | 109


Kegiatan Pembelajaran 3

• handle of high tensile strength alloy steel exceeds hand


power limit,
• handy hang-up hole,
• non-slip, textured grips and safety latch for superior
control.
Gunting ini mirip seperti gunting tangan dirgantara tapi sisi
potongnya lebih pendek. Panjang seluruhnya adalah 91/4” dengan
7
sisi potong (rahang) sepanjang /8”. Direkommendasikan
digunakan untuk memotong max. capacity low carbon cold rolled
steel 16 Gauge Steel (0,65"/1,65 mm).

Gambar 3.29. Gunting tangan Bulldog


Sumber: http://www.farnell.com/datasheets/50638.pdf

f) Gunting tangan Lingkaran / Pipe and Duct.


Gunting tangan lingkaran digunakan untuk pemotong bentuk
lingkaran karena sisi potongnya lengkung. Kegunaan yang lain
gunting ini adalah:
• memotong bentuk kurva, lurus atau kombinasi,
• memotong any shape ducts, seams, lembaran logam, ubin
vinyl dan laminasi plastik,
• Non-slip serrated jaw of tough molybdenum steel allows for
compound lever action,
• Patented ball-bearing jaw action automatically adjusts blade
clearance for squarer, cleaner cuts,
• Spring-action for fast, effortless feed,
• Handle of high tensile strength alloy steel exceeds hand
power limit,
• Non-slip, textured grips and safety latch for superior control.
Ukuran dari gunting tangan lingkaran ini sama dengan gunting
tangan lurus yaitu panjang seluruh 91/4” dan rahang 9/16”.

110 | Modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan


`

Teknik Audio Video KK B

Gambar 3.30. Gunting tangan Lingkaran


Sumber: http://www.farnell.com/datasheets/50638.pdf

g) Gunting tangan Trojan.


Gunting ini dapat digunakan untuk memotong lurus dan lengkung.
Sisi potong cukup kecil sehingga memungkinkan untuk
pemotongan tajam tanpa membengkokkan pelat.
Digunakan untuk memotong lembaran logam, serta bahan lain
seperti wire mesh, kulit, dan atap sirap aspal. Penggunaan ideal
dengan kebanyakan bentuk persegi atau persegi panjang. Bekerja
dengan cara yang sama seperti gunting biasa, tetapi dapat
menangani bahan lebih tebal dan lebih keras. Ideal untuk
perbaikan rumah, proyek-proyek, tukang dan penggunaan
konstruksi. Ukuran dari gunting ini adalah W:105 H:345 L:25.

Gambar 3.31. Gunting tangan Trojan


Sumber: http://www.bunnings.com.au/trojan-300mm-tin-snips_p6010436

c. Alat bantu lainnya


1) Palu konde
Bentuk palu konde yang biasa dipergunakan di bengkel mesin:

Palu pen searah Palu konde Palu pen melintang


(straight hammer) (ball pan hammer) (cross hammer)
Gambar 3.32. Macam-macam palu
Sumber: https://qtussama.wordpress.com/materi-ajar-x-tkr/perlengkapan-peralatan-di-tempat-kerja/

Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan | 111


Kegiatan Pembelajaran 3

2) Palu lunak (mallet)


Palu lunak atau mallet digunakan untuk meratakan, membentuk pelat
dengan tanpa ada bekas pemukulan pada permukaan pelat.
Kepala palu lunak terbuat dari bahan plastik, kayu, karet, kulit,
tembaga, timah dll. dengan kepala palu yang dapat diganti apabila
terjadi kerusakan atau keausan.
Palu kayu, digunakan untuk membentuk pelat dari bahan stainless
steel atau galvanis. Palu plastik dan karet, digunakan untuk
menghasilkan bentuk dengan sedikit bekas pemukulan pada
permukaan pelat alumunium atau tembaga. Palu kulit, digunakan
pada pembentukan pelat-pelat lunak yang relatif tebal.

Gambar 3.33. Palu lunak (Rubber-Mallet)


Sumber: http://www.homedepot.com/p/HDX-16-oz-Rubber-Mallet-...

3) Palu pembentuk
Palu pembentuk dirancang untuk keperluan tertentu/ khusus, terdiri
dari beberapa macam bentuk yang dapat disesuaikan dengan
penggunaannya.
Macam-macam palu pembentuk beserta fungsinya adalah:
a) palu pengeling, digunakan untuk membentuk kepala paku
keeling,
b) palu pelipat, digunakan untuk merapatkan ujung pelat dan
pada pekerjaan pengawatan tepi,
c) palu pelengkung, digunakan untuk membuat cekungan pada
pelat,
d) palu peregang, digunakan untuk meregang atau
memperpanjang pelat,
e) palu penipis, digunakan untuk menipiskan ketebalan pelat,
f) palu perata, digunakan untuk pekerjaan penyelesaian.

112 | Modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan


`

Teknik Audio Video KK B

Gambar 3.34. Macam palu pembentuk


Sumber: http://yondimesin.blogspot.co.id/2014/12/pengerjaan-panas-hot-treatment.html

h) Meja datar
Meja datar digunakan sebagai landasan untuk penggambaran
benda, meja datar adalah alat dengan permukaan yang rata dan
keras sangat baik untuk penandaan yang teliti dan memeriksa
benda kerja.

Gambar 3.35. Meja datar

4) Penjepit (ragum)
Ragum adalah alat yang digunakan utuk menjepit benda kerja pada
waktu pekerjaan mekanik, seperti mengikir, memahat dll. Yang harus
dikerjakan. Pada penggunaanya ragum umumnya terbuat dari besi
tuang, kenyal atau tempa yang dipasang pada bangku kerja dengan
kuat. Berikut contoh jenis ragum yang sering digunakan:
a) Jenis penjepit depan tidak dapat digerakkan

Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan | 113


Kegiatan Pembelajaran 3

Dalam pekerjaan mesin dan pertukangan, ragum yang sering


digunakan adalah ragum sejajar. Rahang yang bergerak
digerakkan oleh poros berulir dan bergerak ke belakang.
Mulut (= pelapis rahang) dapat diganti dan dikeraskan.
Apabila ragum dipergunakan setiap hari, permukaan yang saling
bergesek dan bagian yang berulir harus dibersihkan dan dilumasi
sekurang-kurangnya sekali seminggu.

Gambar 3.36. Ragum rahang depan tetap


Sumber: https://iimartgaleri.wordpress.com/pisau/ragum-mini-alumunium/

b) Jenis penjepit belakang tidak dapat digerakkan


Jenis ini dirancang untuk menjepit benda kerja yang panjang atau
besar pada posisi tegak. Apabila rahang digerakan ke depan/
digunakan benda kerja akan menjulur ke bawah bebas dimuka
bangku kerja.

Gambar 3.37. Ragum rahang belakang tetap


Sumber: http://kenco.indonetwork.co.id/5491596/vises-ragum-gray-tools.htm

114 | Modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan


`

Teknik Audio Video KK B

5) Tang dan kunci


a) Tang (plier)
Ada berbagai macam bentuk tang yang digunakan untuk berbagai
tujuan, diantaranya adalah untuk memotong, membengkokkan,
memegang dan sebagainya.
a). Diagonal cutting plier,
digunakan untuk memotong
kawat baja, tang jenis ini
mempunyai dua sisi dan
rahang yang keras.
b). End cutting plier, digunakan
untuk memotong kawat
dengan rahang membuka
paralel 90º.
c). Flat nose plier, digunakan
untuk memegang benda yang
kecil dengan rahang segi
empat tirus pada bagain ujung.
d). Long nose plier, digunakan
untuk memegang benda yang
kecil dengan bentuk rahan
bulat tirus.

e). Round nose plier, digunakan


untuk membengkokkan kawat dan
pelat yang tipis.

f). Combination plier, digunakan untuk


berbagai pekerjaan ringan
menggunakan tangan.

Gambar 3.38. Tang (plier)


Sumber: https://qtussama.wordpress.com/materi-ajar-x-tkr/perlengkapan-peralatan-di-tempat-kerja/

Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan | 115


Kegiatan Pembelajaran 3

b) Kunci (wrench)
a) Kunci pas, digunakan untuk
memutar baut kepala segi enam
dengan ukuran tertentu seuai
dengan ukuran kepala baut.

Gambar 3.39. Kunci pas

b) Kunci ring (box wrench),


digunakan untuk membuka
baut kepala segi enam yang
mempunyai 12 sudut kunci
pada tempat-tempat yang
sempit. Gambar 3.40. Kunci ring

c) Kunci ellen (Hexagon


screwdrivers), digunakan
untuk memutar baut dengan
kepala soket yang berbentuk
sesi enam. Gambar 3.41. Kunci ellen

d) Kunci soket, pada satu set


kunci soket mempunyai
berbagai macam ukuran,
untuk memutarkan soket
pada kunci ini digunakan
batang pemutar khusus yang
dimasukkan pada kunci
Gambar 3.42. Kunci soket
soket. Pada bagian soket
kunci ini mempunyai sudut

116 | Modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan


`

Teknik Audio Video KK B

segi duabelas beraturan.


e) Pipe wrench/kunci (tang) pipa,
digunakan untuk memegang
benda yang berbentuk bulat,
baik pejal maupun berbentuk
pipa.
Pada bagian tangkainya
terdapat baut pengatur
kedudukan rahang. Gambar 3.43. Pipe wrench

Sumber: Sumber: https://qtussama.wordpress.com/materi-ajar-x-tkr/perlengkapan-peralatan-di-tempat-kerja/

6) Obeng
Obeng digunakan untuk memutar baut yang mempunyai kepala
beralur, baik yang beralur lurus maupun yang beralur silang. Pada
bagian pangkal obeng dilengkapi dengan pemegang yang biasanya
terbuat dari kayu ataupun plastik.

Gambar 3.44. Obeng


Sumber: https://www.milwaukeetool.com/hand-tools/screwdrivers/48-22-2008

3. Penggunaan Peralatan Teknik Sambung


a. Teknik soldering desoldering
Menyolder adalah proses membuat sambungan logam secara listrik dan
mekanis menggunakan logam tertentu (timah) dengan menggabung-
kannya dengan alat khusus (solder). Alat ini berfungsi untuk memanaskan
sambungan pada suhu tertentu. Solder memiliki sebuah elemen pemanas
yang menghasilkan panas. Pada ujung elemen pemanas terdapat “bit”,

Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan | 117


Kegiatan Pembelajaran 3

bagian inilah yang memegang peran penting dalam pemanasan dan


penyolderan.

Gambar 3.45. Solder listrik


Sumber: http://www.instructables.com/id/Proper-Soldering-Iron-cleaning-%26-maintenance/

Bagian pada elemen pemanasan dapat mencapai suhu 190 0C dan


bagian “bit” dapat mencapai 250 ºC. Agar tidak menimbulkan kerusakan
pada komponen atau kerusakan pada jalur PCB sebaiknya proses
penyolderan dilakukan tidak terlalu lama. Juga dipilih solder maupun
timah solder yang sesuai misalnya daya solder 25 W. Untuk menyolder
komponen yang tidak tahan panas sebaiknya dilengkapi dengan alat
penetral panas (heat sink) pada kaki komponen yang disolder. Disamping
itu apabila lalai dalam penggunaan dapat menyebabkan terjadinya luka
bakar yang cukup serius. Untuk mencegah hal ini, sebaiknya solder
ditaruh pada penyangga solder apabila tidak digunakan untuk beberapa
saat. Selain itu untuk membersihkan bit (ujung solder) perlu
menggunakan busa.

Gambar 3.46. Penyangga solder


Sumber: http://www.ebay.co.uk/bhp/soldering-iron

Solder memiliki berbagai macam jenis dari mulai berdaya 15 W sampai


dengan beberapa ratus watt. Keuntungan solder berdaya besar ialah

118 | Modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan


`

Teknik Audio Video KK B

panas dapat cepat mengalir pada sambungan sehingga sambungan


dapat cepat dibuat. Ini penting ketika akan menyolder pada bagian
permukaan logam yang besar. Namun tidak diperkenankan bila
digunakan pada peralatan elektronika yang sangat rentan terhadap panas
yang berlebihan. Solder yang umum digunakan untuk keperluan di
bengkel elektronika adalah solder dengan daya yang rendah berkisar
antara 25 W.
Dalam pekerjaan menyolder kualitas penyolderan yang diharapkan
haruslah memenuhi kriteria seperti berikut:
1) daya hantar listrik yang baik,
2) mempunyai ketahanan mekanik,
3) daya hantar panas yang baik,
4) mudah dibuat,
5) mudah diperbaiki,
6) mudah diamati.
Dalam hal melakukan pekerjaan menyolder, ada beberapa resiko yang
harus dihindari seperti berikut:
1) Bahaya Menyolder
Hampir semua kegiatan kerja praktek dibengkel maupun dilapangan
beresiko kecelakaan dan gangguan kesehatan. Demikian juga dalam
pengerjaan penyolderan seberapapun kecilnya kecelakan tetap ada
dan itu haruslah dilakukan tindakan pencegahannya. Karena
kecelakaan kerja merupakan suatu kerugian baik terhadap manusia,
alat kerja, bahan dan lingkungan kerja.
Ada tiga jenis kecelakaan dalam melakukan penyolderan, yaitu :
kecelakaan karena panas, karena sengatan listrik (electric schoc),
dan karena keracunan bahan kimia.
Kecelakaan karena panas: Yaitu kecelakaan yang ditimbulkan dari
pemanasan baut solder dan timah solder, Untuk tindakan
pencegahannya yaitu, memakai pakaian kerja yang benar (memakai
apron, sarung tangan-kulit dan sepatu kerja (booth).
Kecelakaan karena sengatan listrik yaitu kecelakaan akibat hubungan
pendek (electric short), akibatnya akan menimbulkan kerusakan pisik
maupun psikis bagi seseorang, kerusakan alat dan kerusakan

Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan | 119


Kegiatan Pembelajaran 3

pekerjaan. Pencegahan kecelakaan akibat listrik, yaitu kita harus


berhati-hati memeriksa keadaan instalasi maaupun paralatan listrik
jangan sampai terjadi kebocoran (uninsulation) pada jaringan listrik,
selalu mengikuti aturan/prosedur pemasangan listrik yang benar.
Kecelakaan karena keracunan, kecelakaan ini diakibatkan karena
kontaminasi bahan-bahan kimia beracun (poison mater) yang berasal
dari logam dasar (base metal) dari bahan solder terlebih lagi dari
bahan tambah (fluxes). Bahan-bahan berbahaya ini berupa uap
solder, cairan, serbuk atau pasta, apabila terhirup, terkena anggota
badan secara langsung maka akan menimbulkan akibat yang patal.
Sebelum memulai melakukan penyolderan ada beberapa hal yang
perlu diperhatikan dalam menyolder:
a) jangan pernah menyentuh ujung solder karena panasnya bisa
mencapai 400 ºC,
b) bekerja pada ruang yang berventelasi cukup baik,
c) hindari menghirup asap hasil solderan,
d) cuci tangan setelah memakai solder karena timah mengandung
zat yang berbahaya.
2) Timah solder dan bahan tambah menyolder
Timah solder adalah bahan logam yang digunakan untuk merekatkan
sambungan antar komponen. Timah solder terdiri dari campuran dari
Tin dan Lead (timah hitam). Campuran umum yang biasa digunakan
adalah 60% Tin dan 40% Lead dengan titik leleh 190 0C.

Gambar 3.47. Timah solder


Sumber: http://www.banggood.com/6337-0_5mm-Tin-Lead-Rosin-Core-Soldering-Iron-Wire-Reel-p-
946006.html

Tabel di bawah ini menampilkan berbagai perbandingan campuran


lain disertai suhu lelehnya.

120 | Modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan


`

Teknik Audio Video KK B

Tabel 3. 2. Bahan timah solder dan suhu lelehnya

Tin/Lead Titik Leleh (0C)


40/60 230
50/50 214
60/40 190
63/37 183
95/5 224

Melapisi permukaan ujung solder dengan timah biasa disebut dengan


istilah ‘tinning’.
Penimahan (tinning) ini sangat perlu terutama untuk-baut-solder yang
baru, gunanya agar timah patri mudah melekat pada ujung baut
solder. Untuk menghasilkan pekerjaan yang baik penimahan harus
mengikuti prosedur yang benar agar timah patri sebagai bahan
penyambung dapat melekat pada permukaan ujung baut-solder.
Langkah-langkah melakukan penimahan adalah sebagai berikut:
a) siapkan perlengkapan yang diperlukan untuk melakukan tinning,
seperti; alat pemanas, kikir kasar dan kikir sedang, cairan air
keras (NHCl), resin (arpus), dan bila perlu lap kain-pernel atau
majun,
b) bersihkan permukaan ujung kepala-baut solder dengan kikir
hingga rata dan halus,
c) bersihkan serbuk bekas kikir sampai bersih dengan kain atau
majun,
d) panaskan kepala-baut solder sampai kira-kira 170 oC (berwarna
merah kelabu),
e) celupkan pada larutan air-keras atau arpus,
f) gosokan pada timah padat sampai timahnya mencair dan melekat
dengan rata pada seluruh permukaan ujung kepala baut-solder,
g) bersihkan kembali permukaan kepala baut-solder dengan majun,
h) selanjutnya kita coba hasil penimahan tersebut dengan
o
memanaskan kembali baut-solder sampai kira-kira 210 C,
i) gosokan kembali pada timah dingin, apabila cairan timah melekat
pada seluruh permukaan kepala baut-solder itu berarti pekerjaan

Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan | 121


Kegiatan Pembelajaran 3

penimahan (tinning) berhasil. Akan tetapi bila tidak tandanya


tidak/belum maka pekerjaan penimahan itu harus diulang sampai
berhasil.

Timah
Timah atau timah putih, tahan terhadap pengaruh oksidasi udara,
bahan ini lebih keras dari timah hitam,agak kenyal sehingga dapat
dibuat dalam bentuk timah kawat. Timah tidak rusak oleh air maupui
udara, maka logam ini sangat baik dipakai sebagai logam pelindung
atau pembungkus (coating), akan tetapi bila dengan air laut terjadi
pembentukan timah chlorida.
Ada beberapa jenis timah yang digunakan untuk menyolder sesuai
kebutuhannya seperti ditunjukkan pada gambar berikut.

Gambar 3.48. Macam-macam bentuk timah solder

Bahan tambah (flux, pasta, air keras)


Dalam prakteknya untuk penyolderan dibutuhkan bahan tambah
(fluxes) yang berfungsi untuk membersihkan permukaan logam yang
akan disambung dari kotoran terutama yang bersifat kimia sehingga
cairan patri meresap pada kedua sisi permukaan logam.
Bahan tambah berupa resin (arpus), banyak dipakai sebagai bahan
tambah pada industri elektronika. Resin berasal dari penorehan getah
pohon pinus kualitasnya dilihat dari warnanya, dikenal sebagai air
putih (white water).

122 | Modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan


`

Teknik Audio Video KK B

Gambar 3.49. Flux untuk segala penyolderan

Disamping resin ada juga jenis bahan tambah lainnya diantaranya:


asam organik ,asam amino dan asam halogen.
3) Peralatan menyolder/mematri
Berikut ini dipaparkan peralatan menyolder/mematri yaitu:
a) baut solder (soldering iron),
b) dapur atau kompor pemanas (soldering torch),
c) meja patri atau bantalan patri.
Baut solder
Baut solder merupakan alat utama untuk pekerjan
menyolder/mematri, terdiri dari bagian-bagian kepala-baut solder (iron
tip), gagang/Pegangan (handle). Iron Tip/ujung solder
menghubungkan dan menyalurkan panas dari elemen pemanas ke
sambungan. Pada “tip” solder, umumnya terbuat dari tembaga atau
campuran tembaga karena kecapatan menyalurkan panas yang tinggi
(konduktif). Kekonduktifan tip akan mempengaruhi energi panas yang
dikirim dari elemen pemanas.
Dalam pemakian sehari-hari dapat kita jumpai dua jenis solder yaitu:
Solder tangan (hand solder) dan solder listrik (electric solder). Pada
gambar berikut ditunjukkan macam-macam bentuk baut solder:

Gambar 3.50. Macam –macam baut solder


Sumber: http://www.amazon.com/American-Beauty-Soldering-Iron-Model/dp/B000EIYEDC

Untuk pekerjaan pekerjaan dibengkel listrik/elektronik yang digunakan


adalah jenis solder listrik (electric solder) dengan model dan ukuran
yang berbeda-beda. Macam-macam model/bentuk kepala baut solder
listrik disesuaikan dengan kebutuhan, dan jenis pekerjannnya.

Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan | 123


Kegiatan Pembelajaran 3

Biasanya ukuran baut-solder listrik dinyatakan dalam Watt,


sedangkan modelnya ada yang tetap ditempat dan dilengkapi
asesoris yang lengkap. Model baut-solder ini banyak dipakai pada
pekerjaan elektronik dan pekerjaan instrumentasi, model ini disebut
baut-solder tetap (soldering stasion).

Gambar 3.51. Baut-solder-tetap


Sumber: http://www.amazon.com/Weller-WES51-Analog-Soldering-Station/dp/B000BRC2XU

Ada juga jenis baut-solder model pistol (solder iron gun) banyak
dipakai pada pekerjaan elektronik/listrik, pekerjaan instrumentasi,
komonikasi dan servis kelistrikan otomotip. Model baut-solder ini
banyak disukai karena praktis dan dapat dibawa dilapangan.

Gambar 3.52. Baut solder pistol


Sumber: http://www.dropshiponline.co.uk/product_info.php?products_id=3746

Selain itu ada yang lebih kecil lagi modelnya terutama sekali pada
pekerjaan elektronik dan instrumentasi yaitu baut-solder mini (mini
quick) dan pena solder (soldering-pen).

124 | Modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan


`

Teknik Audio Video KK B

Gambar 3.53. Baut solder mini


Sumber: http://www.banggood.com/TS100-Digital-OLED-Programable-Interface-DC-5525-
Soldering-Iron-Station-Built-in-STM32-Chip-p-984214.html

Gambar 3.54. Baut solder pena


Sumber: http://www.bunnings.com.au/tradeflame-10-in-1-mini-soldering-torch-kit-_p5910252

Model baut-solder listrik standar kapasitas panasnya ditentukan


dalam satuan Watt, untuk pekerjaan di bengkel elektronik antara 25
s.d 200 Watt, sedangkan untuk pekerjaan agak besar (heavy duty)
seperti yang digunakan pada pekerjaan industri pelat, menggunakan
baut-solder kapasitasnya yang lebih besar yaitu antara : 325 s.d 450
Watt.

Gambar 3.55. Baut-solder listrik untuk pekerjaan biasa


Sumber: http://www.aliexpress.com/popular/300w-soldering-iron.html

Untuk pekerjaan industri yang pekerjaannya terus menerus dipakai


model baut-solder untuk industri (solder iron for industri and
continious work).

Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan | 125


Kegiatan Pembelajaran 3

Gambar 3.56. Baut-solder untuk pekerjaan industry


Sumber: http://www.directindustry.com/product-manufacturer/express-soldering-iron-82502-
1901.html

4) Pemakaian solder
Dalam era globalisasi segala jenis produk industri manufaktur
berkembang sangat pesat seiring dengan tuntutan permintaan pasar
dan kemajuan industri. Persaingan yang sangat nyata (signifikan)
yaitu pada kualitas produk, oleh karena itu, pada penyolderanpun
dibutuhkan teknologi yang tinggi dan dikerjakan secara profesional.
Pemakaian peyolderan (soldering application) dikelompokkan
menjadi:
a) untuk pemakaian industri rumah tangga (home industry),
b) untuk pemakaian industri kemasan ringan (light container),
c) untuk pemakaian industri fabrikasi pelat tipis (light sheet metal
fabrication),
d) untuk pemakaian industri elektronika, listrik, teleAudio Video dan
intrumentasi.
Industri rumah tangga yaitu pembuatan perkakas dapur seperti
tempat air, jolang dan alat masak lainnya. Pekerjaan talang
(guthering) pada saluran air di atas atap.

Industri kemasan ringan, seperti untuk pembuatan kemasan


makanan, minuman, oli dan sebagainnya.

126 | Modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan


`

Teknik Audio Video KK B

Industri fabrikasi pelat tipis, meliputi pekerjaan pembuatan pipa


saluran (ducting) dengan menggunakan bahan pelat baja lapis seng
(BJLS) pelat aluminium, pelat baja tahan karat.
Industri elektronika
Pekerjaan penyolderan merupakan pekerjaan yang sangat vital dan
dominan pada industri elektronika. Seperti pada penyolderan
komponen ke jalur PCB, penyambungan kabel-kabel dengan
komponen diluar PCB. Produk elektronika sekarang sangat modern
dengan menggunakan komponen dalam ukuran yang sangat kecil
dan sangat rumit seperti pada chip IC maupun komponen
semikonduktor lainnya.
Pekerjaan patri di industri dilakukan secara manual maupun otomatis,
tergantung pada jenis dan jumlah pekerjannya. Pekerjaan yang
jumlahnya relatip kecil atau pekerejaan perbaikan, penyolderan
dikerjakan dengan cara manual. Akan tetapi bila pekerjaannya dalam
jumlah yang banyak dan bentuknya seragam serta berlangsung terus-
menerus menggunakan sistim ban berjalan (conveyor), penyolderan
dengan cara semi-otomatis, otomatis-penuh bahkan dengan cara
robot seperti yang dilakukan pada industri elektronika.
5) Kualitas Hasil Solder
Agar penyolderan menghasilkan produk yang berkualitas sesuai
persyaratan di industri, maka haruslah melalui tahapan tahapan
proses yang benar.
Prosedur proses penyolderan adalah sebagai berikut:
a) menyiapkan peralatan atau komponen yang akan disolder,
b) menyiapkan peralatan untuk menyolder,
c) memilih bahan solder,
d) membersihkan bagian yang akan disolder,
e) memanaskan baut solder sampai suhu yang cukup,
f) memanaskan bahan solder (timah) pada permukaan ujung baut
solder secukupnya,
g) melakukan penyolderan pada komponen yang telah disiapkan,
h) memeriksa hasil penyolderan.

Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan | 127


Kegiatan Pembelajaran 3

Persiapan menyoder, hal ini dilakukan agar proses penyolderan akn


lancar. Adapun persiapan menyolder tersebut meliputi:
a) Tempatkan solder pada tempatnya dan hubungkan jack solder
kesumber tegangan listrik (stop kontak). Solder membutuhkan
waktu beberapa menit untuk mendapatkan panas yang diinginkan
( ± 400 ºC),
b) Anda bisa memeriksa panas dengan melelehkan timah diujung
solder, setelah itu timah dapat dibersihkan dengan spon atau busa
yang agak basah.
Memulai menyolder
a) Pegang soder seperti memegang pensil pada bagian pegangan
(handle) solder. Selalu diingat untuk tidak memegang bagian
panas yang lain.

Gambar 3.57. Cara menyolder


Sumber: http://microtorches.ayay.com/SolderingIron.htm

b) Sentuhkan ujung soder ke media penyolderan (PCB) lalu tahan


beberapa detik dan langsung tempelkan timah diujung soder
sehingga timah meleleh pada komponen yang akan disolder,
c) Angkat solder beserta timah sehingga solderan terbentuk dan
diamkan beberapa saat.

Gambar 3.58. Pemasangan komponen


Sumber: https://learn.sparkfun.com/tutorials/pcb-basics

128 | Modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan


`

Teknik Audio Video KK B

Gambar 3.59. Hasil solderan


Sumber: http://www.ardumania.com/forums/viewtopic.php?f=4&t=44787

d) Perhatikan hasilnya; hasil yang baik jika solderan


berkilau/mengkilap dan membentuk kerucut. Jika tidak anda perlu
memanaskan dan membentuknya lagi.
Menggunakan Heat Sink.
Beberapa Komponen seperti transistor bisa saja rusak karena terlalu
panas saat menyolder. Untuk menghindari kerusakan tersebut
sebaiknya meggunakan peredam panas (heat sink) yang dijepitkan
diantara kali komponen dengan titik penyolderan. Jepit Buaya standar
dapat digunakan sebagai heat sink untuk melaksanakan penyolderan .

Gambar 3.60. Jepit buaya

Tabel 3. 3. Urutan penyolderan


No Komponen Gambar Keterangan
1 Resistors Tidak ada perhatian khusus yang dibutuhkan.

2 Dioda  Pasangkan pada kaki yang tepat


(Biasanya Katoda ditandai dengan
gelang warna putih)
 Hati hati dengan dioda germanium
karena tiidak tahan panas.
3 Tempat IC (soket)  Pastikan Sambungkan sesuai urutan kaki
IC yang benar
 Jangan pasang Chip IC terlebih dahulu.

4 Kapasitor non elko  Bisa dipasang dengan kaki terbolak balik


(< 1µF)  Hati hati dengan kapasitor polyster
karena tidak tahan panas.

5 Elektrolit  Pasangkan pada kaki yang tepat


Kapasitor(>1µF) biasanya ditandai dengan + dan -

Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan | 129


Kegiatan Pembelajaran 3

No Komponen Gambar Keterangan


6 LED  Pasangkan pada kaki yang tepat
Biasanya kaki katoda (-) lebih pendek
dari kaki anoda (+).

7 Transistor  Pasangkan pada kaki yang tepat


Hati-hati memasangkan karena jarak
antar kaki sempit dan tidak tahan panas.

8 Sambungan kabel  Gunakan kawat tunggal dengan lapisan


plastik
single core wire
9 Klip Baterai,  Pasangkan dengan hubungan yang tepat
buzzers dan bagian
lain yang memiliki
kabel sendiri

10 Kabel yang  Gunakan kawat beruntai yang lebih


menyatu pada PCB fleksibel/lentur .
stranded wire
termasuk saklar,  Jangan gunakan kawat tunggal karena
variable resistor bisa patah jika sering bergerak.
dan speaker
11 Chip (IC)  Pasangkan IC pada tempatnya dengan
benar.
 Hati-hati memasukkan kaki IC ke
soketnya dan pastikan semua kakinya
sudah masuk kemudian ditekan kedalam
dengan ibu jari.

6) Desoldering
Suatu saat Anda mungkin ingin agar hasil sambungan solder bisa
dilepas/dipisahkan atau kita ingin mengatur posisi kabel maupun
komponen, untuk itulah kita perlu melakukan kegiatan yang disebut
Desoldering.

Gambar 3.61. Penyedot timah/atractor


Sumber: https://www.bukalapak.com/p/elektronik/lain-lain-208/dsf5s-jual-alat-sedot-penyedot-electric-desoldering-iron-pump-
timah-sekaligus-pemanas-attractor-tool-2-in-1

Ada dua cara untuk melakukannya yaitu :


a) Memakai attracktor (penyedot timah).

130 | Modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan


`

Teknik Audio Video KK B

Langkah-langkah menggunakannya adalah sebagai berikut:


 tekan pompa/pegas sampai terkunci,
 setelah sambungan dipanaskan dengan solder dan timahnya
mencair, arahkan ujung attracktor ke titik sambungan,
 tekan tombol untuk melepaskan pegas sehingga menyedot
timah yang telah cair tadi ke dalam attracktor,
 ulangi cara di atas untuk menghilangkan atau membersihkan
sisa timah yang masih menempel pada sambungan,
 attracktor mungkin perlu dikosongkan isinya dengan membuka
sekrup jika sudah penuh.
b) memakai solder remover wick (pita tembaga)

Gambar 3.62. Pita tembaga


Sumber: http://www.intertronics.co.uk/products/wick.htm

Langkah-langkah menggunakannya adalah sebagai berikut:


 arahkan pita tembaga ke arah sambungan beserta ujung
solder yang sudah panas,
 seketika timah meleleh, dan timah tersebut akan langsung
tertarik ke pita tembaga,
 angkat pita tembaga terlebih dahulu baru kemudian solder
juga diangkat,
 potong dan buang ujung pita tembaga yang terkena timah,
 ulangi cara di atas untuk menghilangkan atau membersihkan
sisa timah yang masih menempel pada sambungan.
Setelah menghilangkan hampir seluruh timah dari sambungan,
Anda bisa melepas atau membetulkan kabel atau komponen dari
papan PCB . Jika sambungan tidak mudah terpisah, coba untuk

Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan | 131


Kegiatan Pembelajaran 3

memanaskan sambungan lagi dengan solder, lalu tarik kabel atau


komponen tersebut begitu timah meleleh.
Hati-hati karena panas dapat merambat melalui komponen
sehingga dapat membakar tangan Anda sendiri.
7) Pertolongan pertama akibat terbakar panas solder
Pada umumnya kecelakaan pada waktu menyolder biasanya tidak
terlalu parah dan pengobatannya pun tergolong mudah yaitu:
a) secepatnya dinginkan bagian tubuh yang terbakar dengan air
dingin
Diamkan bagian yang terbakar untuk selang waktu 5 menit
(disarankan 15 menit). Jika es ada mungkin bisa lebih membantu.,
tapi jangan sampai terlambat mendinginkan dengan air dingin.
b) jangan oleskan salep maupun krim
Luka akan cepat sembuh tanpa diberi salep maupun krim. Kain
kering akan berguna, misalnya sapu tangan untuk menutupi luka
dari lingkungan kotor.
c) cari bantuan medis jika luka yang timbul cukup luas
Yang perlu dilakukan untuk mencegah resiko terbakar:
a) selalu tempatkan solder pada tempatnya sehabis melakukan
penyolderan,
b) biarkan sambungan agar dingin selama beberapa saat sebelum
disentuh,
c) jangan pernah sekalipun menyentuh ujung solder kecuali jika anda
yakin bahwa solder dalam keadaan dingin.
4. Prosedur Perawatan dan Perbaikan Peralatan Bengkel
a. Jenis-jenis pemeliharaan peralatan
Pemeliharaan adalah suatu bentuk tindakan yang dilakukan dengan
sadar untuk menjaga agar suatu peralatan selalu dalam keadaan siap
pakai atau tindakan melakukan perbaikan sampai pada kondisi peralatan
tersebut dapat bekerja kembali. Secara garis besar pemeliharaan dapat
dibedakan menjadi dua, yaitu: pemeliharaan terencana dan pemeliharaan
tak terencana.
Pemeliharaan terencana adalah porses pemeliharaan yang diatur dan
diorganisasikan untuk mengantisipasi perubahan yang terjadi terhadap

132 | Modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan


`

Teknik Audio Video KK B

peralatan di waktu yang akan datang. Dalam pemeliharaan terencana


terdapat pengendalian dan pencatatan sesuai dengan rencana yang telah
ditentukan sebelumnya. Pemeliharaan terencana merupakan bagian dari
manajemen pemeliharaan yang terdiri atas pemeliharaan preventif,
pemeliharaan prediktif, dan pemeliharaan korektif.
Pemeliharaan preventif adalah pemeliharaan yang dilakukan pada selang
waktu tertentu dan pelaksanaannya dilakukan secara rutin dengan
beberapa instrumen yang dilakukan sebelumnya. Tujuannya untuk
mencegah dan mengurangi kemungkinan suatu komponen tidak
memenuhi kondisi normal. Pekerjaan yang dilakukan dalam pemeliharaan
preventif adalah mengecek, melihat, menyetel, mengkalibrasi, melumasi,
dan pekerjaan lain yang bukan penggantian suku cadang berat.
Pemeliharaan preventif membantu agar peralatan dapat bekerja dengan
baik sesuai dengan apa yang menjadi ketentuan pabrik pembuatnya.
Semua pekerjaan yang masuk dalam lingkup pemeliharaan preventif
dilakukan secara rutin dengan berdasarkan pada hasil kinerja alat yang
diperoleh dari pekerjaan pemeliharaan prediktif atau adanya anjuran dari
pabrik pembuat alat tersebut. Apabila pemeliharaan preventif dikelola
dengan baik maka akan dapat memberikan informasi tentang kapan
mesin atau alat akan diganti sebagian komponennya.

Pemeliharaan tak terencana adalah jenis pemeliharaan yang dilakukan


secara tiba-tiba karena suatu alat atau peralatan akan segera digunakan.
Seringkali terjadi bahwa peralatan baru digunakan sampai rusak tanpa
ada perawatan yang berarti, baru kemudian dilakukan perbaikan apabila
akan digunakan. Dalam manajemen nstru pemeliharaan, cara tersebut
dikenal dengan pemeliharaan tak terencana atau darurat (emergency
maintenance).
Pada umumnya metode yang digunakan dalam penerapan pemeliharaan
adalah metode darurat dan tak terencana. Metode tersebut membiarkan
kerusakan alat yang terjadi tanpa atau dengan sengaja sehingga untuk
menggunakan kembali peralatan tersebut harus dilakukan perbaikan atau
reparasi. Pemeliharaan tak terencana jelas akan mengganggu proses
produksi dan biasanya biaya yang dikeluarkan untuk perbaikan jauh lebih
banyak jika dibandingkan dengan pemeliharaan rutin.

Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan | 133


Kegiatan Pembelajaran 3

b. Tujuan pemeliharaan rutin


Dalam setiap tindakan pemeliharaan, tujuan pokoknya adalah untuk
mencegah terjadinya kerusakan peralatan dan mencegah adanya
perubahan fungsi alat serta mengoptimalkan usia pakai peralatan.
Reliabilitas alat dan kinerja yang baik hanya dapat dicapai dengan
melakukan program pemeliharaan yang terencana. Selain untuk nstrum
reliabilitas dan kinerja alat, program pemeliharaan terencana juga
mempunyai beberapa keuntungan yaitu dalam hal efisiensi keuangan,
perencanaan, standardisasi, keamanan kerja dan semangat kerja.
Secara garis besar terdapat empat tujuan pokok pemeliharaan preventif
yaitu:
1) memperpanjang usia pakai peralatan. Hal tersebut sangat penting
terutama apabila dilihat dari aspek biaya, karena untuk membeli satu
peralatan jauh lebih mahal apabila dibandingkan dengan memelihara
sebagian dari peralatan tersebut. Walaupun disadari bahwa kadang-
kadang untuk jenis barang tertentu membeli dapat lebih murah
apabila alat yang akan dirawat sudah sedemikian rusak,
2) menjamin peralatan selalu siap dengan optimal untuk mendukung
kegiatan kerja, sehingga diharapkan akan diperoleh hasil yang
optimal pula,
3) menjamin kesiapan operasional peralatan yang diperlukan terutama
dalam keadaan darurat, adanya unit cadangan, pemadam kebakaran
dan penyelamat,
4) menjamin keselamatan orang yang menggunakan peralatan tersebut.
c. Sistem pemeliharaan rutin
Untuk memenuhi prosedur pemeliharaan baku, harus disiapkan data
pemeliharaan seperti: peralatan yang perlu dipelihara, lokasi
penyimpanan alat, prosedur pemeliharaannya dan waktu pemeliharaan.
1) Peralatan yang perlu dipelihara
Sebelum nstru pemeliharaan terencana diterapkan, harus diketahui
peralatan apa saja yang sudah ada dan berapa jumlahnya. Untuk itu,
pekerjaan dapat dimulai dengan suatu daftar inventaris yang lengkap
untuk menjawab pertanyaan di atas. Hal tersebut merupakan
persyaratan utama dan layak dijadikan sebagai tugas pertama untuk

134 | Modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan


`

Teknik Audio Video KK B

menyusun nstru pemeliharaan yang baik. Daftar inventaris yang


akurat dan rinci dari segi teknis akan sangat berguna untuk nstru
pemeliharaan terencana. Selanjutnya daftar inventaris peralatan
tersebut dikelompokkan menjadi sejumlah kelompok yang sesuai
dengan jenisnya. Sebagai contoh: kelompok alat-alat tangan, alat-alat
khusus (Special service tool/SST), alat-alat ukur dan sebagainya.
2) Lokasi penyimpanan alat
Penempatan tiap peralatan harus jelas sesuai dengan
pengelompokannya sehingga memudahkan dalam pencarian alat
tersebut. Apabila terjadi pemindahan alat hendaknya bersifat
sementara dan setelah selesai digunakan dapat dikembalikan pada
tempat semula. Penyimpanan alat dan perkakas dapat dilakukan
pada: panel alat, ruang gudang, ruang pusat penyimpanan, dan kit
alat-alat.
a) Panel alat (tool panel)
Banyak pekerja yang lebih senang mengguna-kan panel alat
untuk menyimpan dan meletakkan alat-alat. Pada umumnya yang
diletakkan pada panel alat adalah sekelompok alat sejenis tetapi
yang berbeda ukurannya obeng atau tang dari berbagai ukuran.
Dengan panel alat tersebut petugas peminjaman alat lebih mudah
mengontrolnya. Panel alat dapat diatur letaknya menurut
keseringan penggunaan yang disusun dalam rentangan warna
yang kontras atau dalam warna-warna kombinasi yang serasi.
b) Ruang gudang alat
Kadang-kadang tidak cukup dinding untuk meletakkan panel alat
tersebut. Disamping itu penggunaan panel alat juga tidak sesuai
dengan sifat alat karena ada alat yang tidak baik untuk disimpan di
udara terbuka. Untuk menyimpan alat yang mempunyai sifat
demikian diperlukan almari kecil atau ruangan penyimpanan.
c) Ruang pusat penyimpanan
Cara lain untuk menyimpan alat dan perkakas adalah
menggunakan ruang pusat penyimpanan alat dan perkakas.
Ruangan tersebut dapat digunakan untuk menyimpan berbagai
alat untuk keperluan semua jenis alat yang ada. Penyimpanan
dengan cara ini lebih baik karena petugas peminjaman alat dapat

Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan | 135


Kegiatan Pembelajaran 3

dengan mudah mengadakan pengawasan. Kelemahannya ruang


pusat tersebut tidak dapat dekat dengan semua jenis kegiatan
yang memerlukan.

136 | Modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan


`

Teknik Audio Video KK B

d) Kit alat-alat
Kit alat-alat didesain untuk pekerja secara individual, berisi
sejumlah alat yang lengkap untuk suatu kegiatan perbaikan/servis.
Kebaikan kit alat-alat tersebut bahwa siapa saja yang
membutuhkan dapat dipenuhi dengan segera tanpa harus memilih
jenis-jenis alat yang diperlukan untuk saat itu.
3) Prosedur pemeliharaannya
Pemeliharaan preventif memerlukan suatu daftar seperti halnya
pekerjaan rutin, mencakup : jadwal pemeliharaan peralatan, data hasil
pengetesan, peralatan khusus (apabila diperlukan), keterangan
pengisian pelumas, buku petunjuk pemeliharaan, tingkat pengetahuan
pekerja terhadap pekerjaan tersebut.
Untuk memberikan informasi kepada bagian pemeliharaan, maka tiap
jadwal pemeliharaan dibuat pada kartu kontrol atau formulir yang
dapat memberi informasi dengan jelas. Pada setiap jadwal
pemeliharaan dituliskan identifikasi alat dengan nomor sandi, nama
alat, nomor pengganti, dan tanggal pemasangan pertama serta
pengerjaan perawatan yang telah dilakukan.
4) Waktu pemeliharaan
Pemeliharaan rutin dilakukan secara nstrume dengan selang waktu
tertentu berdasarkan hitungan bulan, hari atau jam. Selang waktu hari
atau bulanan dicatat seperti : 1 bulanan = 1 B, 3 bulanan = 3 B, 6
bulanan = 6 B atau waktu 120.000 jam, 5.000 jam, atau 1.000 jam.
Tanggal pekerjaan pemeliharaan dicatat pada papan yang diletakkan
di ruang penaggung jawab dan pencatatan tanggal pekerjaan
dilakukan pula pada lembar data peralatan. Informasi yang dicatat
termasuk waktu pakai alat, komponen yang diganti, dan kinerja
peralatan. Dari data yang dicatat tersebut dapat diproyeksikan dan
diramalkan waktu pakai alat, sehingga dapat direncanakan untuk
menggantinya pada saat yang ditentukan.
d. Rambu-rambu Pemeliharaan Peralatan
Pemeliharaan peralatan sangat erat kaitannya dengan masalah
pemakaian, perbaikan, dan penyimpanan serta pengadministrasiannya.
1) Perbaikan alat dibedakan antara perbaikan ringan yang dapat
dikerjakan sendiri oleh pekerja dan perbaikan khusus yang harus

Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan | 137


Kegiatan Pembelajaran 3

dilakukan oleh ahlinya. Peralatan yang diketahui rusak harus


dipisahkan dan ditindaklanjuti.
2) Penyimpanan peralatan berorientasi pada prinsip kebersihan dan
prinsip identifikasi. Kebersihan mencakup persyaratan sifat kering dan
tidak lembab. Rambu-rambu penyimpanan peralatan adalah sebagai
berikut:
a) peralatan percobaan disimpan menurut jenisnya (alat percobaan
Fisika, Kimia, dsb),
b) peralatan percobaan yang bersifat umum sebagai alat aneka
guna disimpan di tempat khusus yang mudah dan cepat
mendapatkannya,
c) peralatan yang memerlukan perlindungan dengan lapisan cat
atau pelumas perlu selalu diperiksa fungsi pelapisannya,
d) peralatan yang mempersyaratkan kondisi kering harus selalu
diperiksa tentang kelembaban tempat peyimpanannya,
e) peralatan yang terbuat dari logam, atau kayu yang pipih dan
panjang disimpan dalam posisi terletak mendatar/tidur untuk
menghindari pelengkungan tetap,
f) peralatan yang berbentuk memanjang dan rapuh, dalam
mobilitas pemindahannya harus selalu dibawa dalam posisi
tegak.
3) pemeliharaan dan pencegahan kerusakan dilakukan dengan
pemeriksan secara rutin dengan penjadwalan yang pasti. Dibedakan
antara pemeriksaan harian, mingguan, bulanan dan seterusnya.
Dengan pemeriksaan yang rutin dan terus menerus, maka setiap
gejala kerusakan akan segera dapat dideteksi dan ditindaklanjuti,
4) pengadministrasian peralatan dilakukan untuk mempermudah
pengendalian dalam hal pemakaian/penggunaan, penyimpanan,
perbaikan, perawatan dan pengadaan peralatan baru. Pengendalian
pengelolaan dan pengadmistrasian memerlukan perangkat instrument
yang berupa buku, lembar dan kartu, meliputi:
a) kartu stok; warna kartu dibedakan untuk masing-masing jenis
peralatan sesuai dengan pengelompokkannya,
b) buku inventaris; memuat nomor sandi, nama alat, ukuran,
merek/tipe, produsen, asal tahun, jumlah dan, kondisi,

138 | Modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan


`

Teknik Audio Video KK B

c) daftar peralatan ; memuat kode, nama alat, dan jumlah alat,


d) buku harian; digunakan untuk mencatat setiap kejadian yang
terjadi dan yang berkaitan dengan kegiatan di tempat kerja,
e) label; memuat kode alat, nama alat, jumlah dan kondisi alat. Label
dipasang di tempat penyimpanan alat,
f) format permintaan alat.

Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan | 139


Kegiatan Pembelajaran 3

D. Aktifitas Pembelajaran

1. Untuk dapat memahami Penggunaan Standar K3, Peralatan Kerja


Bangku, dan Peralatan Teknik Sambung, serta Prosedur Perawatan dan
Perbaikan Peralatan Bengkel yang terjadi di bengkel/laboratorium Teknik
Elektronika Audio Video, lakukan diskusi, brainstroming dalam kelompok
kecil. Selama proses diskusi gunakan cara berfikir kritis, proses
pengambilan keputusan (decision making), perencanaan strategi
(strategic planning), proses ilmiah (scientific process), dan pemecahan
masalah (problem solving).
2. Pada aktifitas pembelajaran ini, peserta diberi tugas menemukan
kesalahan secara sistimatis tentang Penggunaan Standar K3, Peralatan
Kerja Bangku, dan Peralatan Teknik Sambung, serta Prosedur Perawatan
dan Perbaikan Peralatan Bengkel yang terjadi di bengkel/laboratorium
Teknik Elektronika Audio Video dilokasi diklat / tempat kerjanya.

3. Selama proses pembelajaran, peserta hendaknya melakukan


observasi/wawancara dengan teliti, kreatif, dan penuh tanggung jawab
serta dapat bekerjasama dalam kelompok/mandiri dalam penerapan
Penggunaan Standar K3, Peralatan Kerja Bangku, dan Peralatan Teknik
Sambung, serta Prosedur Perawatan dan Perbaikan Peralatan Bengkel.

4. Lembar Kerja (LK) yang digunakan dalam melakukan observasi adalah


sebagai berikut:

LK 3.1 : Observasi untuk menemukan kesalahan secara sistimatis


tentang penggunaan standard K3.

Tujuan Pembelajaran:

Setelah menyelesaikan kegiatan pembelajaran ini, peserta diharapkan dapat


menemukan kesalahan secara sistimatis tentang penggunaan standard K3
dengan benar.

Alat-alat / Bahan yang digunakan dalam melakukan observasi: LK, alat tulis

Langkah Kerja:

140 | Modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan


`

Teknik Audio Video KK B

1. Lakukan observasi laboratorium/bengkel tempat anda diklat/kerja


tentang untuk menemukan kesalahan secara sistimatis tentang
penggunaan standard K3 dalam bengkel/laboratorium Teknik Elektronika
Audio Video anda!

Tabel observasi untuk menemukan kesalahan secara sistimatis tentang


penggunaan standard K3.

No Poin yang dicek/ Catatan


Daftar tugas/ instruksi
diobservasi
1 Pemeriksaan keadaan di
tempat dan lingkungan kerja
untuk mengetahui dengan
pasti potensi resiko
kecelakaan yang bisa
terjadi.
2 Pemberian proteksi atau
singkirkan bahan ataupun
barang yang berpotensi
menimbulkan bahaya di
tempat kerja, sehingga
resiko bahaya menjadi
dapat diminimasi sekecil
mungkin.
3 Pemeliharaan tempat kerja
agar tetap bersih, aman dan
nyaman serta terhindar dari
bahan dan barang yang
dapat menimbulkan bahaya,
sehingga tempat kerja
menjadi aman dari bahaya
yang mungkin timbul.
4 Penempatan bahan dan
barang yang berbahaya di
tempat yang sudah
ditentukan.
5 Penentuan dampak dari
kecelakaan kerja agar dapat
dilakukan antisipasi yang
tepat bila terjadi kecelakaan
kerja.
6 Cara menghindari pekerjaan
yang dapat menimbulkan
bahaya dan resiko
kecelakaan kerja sehingga
kecelakaan kerja dapat
ditekan sekecil mungkin.
7 Penerapan prosedur K3
untuk pengendalian bahaya
dan resiko kecelakaan kerja
secara konsisten.
8 Cara menjalankan semua
prosedur terkait dengan
pencegahan K3 di tempat
dan lingkungan kerja

Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan | 141


Kegiatan Pembelajaran 3

No Poin yang dicek/ Catatan


Daftar tugas/ instruksi
diobservasi
dengan patuh.
9 Penggunaan alat pelindung
diri (APD) dan (APK) sesuai
dengan ketentuan K3.

2. Berdasarkan hasil observasi di lingkungan bengkel/laboratorium anda,


apakah penggunaan standard K3 sesuai standar sudah diterapkan? Jika
masih ada yang belum diterapkan, apakah anda menemukan kesalahan
secara sistimatis tentang penggunaan standard K3 di lingkungan
bengkel/laboratorium anda?

Untuk itu buatlah analisa data berupa kesalahan secara sistimatis


tentang penggunaan standard K3 di lingkungan bengkel/laboratorium
anda, serta solusi yang diusulkan tentang penerapan/penggunaan
aturan K3 berdasarkan standar di bengkel/laboratorium Teknik
Elektronika Audio Video tempat anda bekerja!
Tabel analisa data kesalahan secara sistimatis tentang penggunaan
standard K3 di lingkungan bengkel/laboratorium.

Kesalahan secara sistimatis tentang Penyebab Solusi


No
penggunaan standard K3
1

LK 3.2 : Observasi untuk menemukan kesalahan secara sistimatis


tentang prosedur penggunaan peralatan kerja bangku.

Tujuan Pembelajaran:

Setelah menyelesaikan kegiatan pembelajaran ini, peserta diharapkan dapat


menemukan kesalahan secara sistimatis tentang prosedur penggunaan
peralatan kerja bangku dengan benar.

142 | Modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan


`

Teknik Audio Video KK B

Alat-alat / Bahan yang digunakan dalam melakukan observasi: LK, Camera,


alat tulis

Langkah Kerja:

1. Lakukan observasi laboratorium/bengkel tempat anda diklat/kerja


tentang untuk menemukan kesalahan secara sistimatis tentang prosedur
penggunaan peralatan kerja bangku dalam bengkel/laboratorium Teknik
Elektronika Audio Video anda!

Tabel observasi untuk menemukan kesalahan secara sistimatis tentang


prosedur penggunaan peralatan kerja bangku.

Foto/Gambar kesalahan
No Poin yang dicek/ secara sistimatis tentang Catatan
diobservasi prosedur penggunaan
peralatan kerja bangku
1

2. Berdasarkan hasil observasi di lingkungan bengkel/laboratorium anda,


apakah prosedur penggunaan peralatan kerja bangku sesuai standar
sudah diterapkan? Jika masih ada yang belum diterapkan, apakah anda
menemukan kesalahan secara sistimatis tentang prosedur penggunaan
peralatan kerja bangku di lingkungan bengkel/laboratorium anda?

Untuk itu buatlah analisa data berupa kesalahan secara sistimatis


tentang prosedur penggunaan peralatan kerja bangku di lingkungan
bengkel/laboratorium anda, serta solusi yang diusulkan tentang
penerapan/penggunaan aturan K3 berdasarkan standar di
bengkel/laboratorium Teknik Elektronika Audio Video tempat anda
bekerja!

Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan | 143


Kegiatan Pembelajaran 3

144 | Modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan


`

Teknik Audio Video KK B

Tabel analisa data kesalahan secara sistimatis tentang prosedur


penggunaan peralatan kerja bangku di lingkungan bengkel/laboratorium.

Kesalahan secara sistimatis tentang Penyebab Solusi


No prosedur penggunaan peralatan kerja
bangku
1

LK 3.3 : Observasi untuk menemukan kesalahan secara sistimatis


tentang prosedur penggunaan peralatan teknik sambung.

Tujuan Pembelajaran:

Setelah menyelesaikan kegiatan pembelajaran ini, peserta diharapkan dapat


menemukan kesalahan secara sistimatis tentang prosedur penggunaan
peralatan teknik sambung dengan benar.

Alat-alat / Bahan yang digunakan dalam melakukan observasi: LK, alat tulis

Langkah Kerja:

1. Lakukan observasi laboratorium/bengkel tempat anda diklat/kerja


tentang untuk menemukan kesalahan secara sistimatis tentang prosedur
penggunaan peralatan teknik sambung dalam bengkel/laboratorium
Teknik Elektronika Audio Video anda!

Tabel observasi untuk menemukan kesalahan secara sistimatis tentang


prosedur penggunaan peralatan teknik sambung.

Foto/Gambar kesalahan
No Poin yang dicek/ secara sistimatis tentang Catatan
diobservasi prosedur penggunaan
peralatan Teknik sambung
1

Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan | 145


Kegiatan Pembelajaran 3

Foto/Gambar kesalahan
No Poin yang dicek/ secara sistimatis tentang Catatan
diobservasi prosedur penggunaan
peralatan Teknik sambung
5

2. Berdasarkan hasil observasi di lingkungan bengkel/laboratorium anda,


apakah prosedur penggunaan peralatan teknik sambung sesuai standar
sudah diterapkan? Jika masih ada yang belum diterapkan, apakah anda
menemukan kesalahan secara sistimatis tentang prosedur penggunaan
peralatan teknik sambung di lingkungan bengkel/laboratorium anda?

Untuk itu buatlah analisa data berupa kesalahan secara sistimatis


tentang prosedur penggunaan peralatan teknik sambung di lingkungan
bengkel/laboratorium anda, serta solusi yang diusulkan tentang
penerapan/penggunaan aturan K3 berdasarkan standar di
bengkel/laboratorium Teknik Elektronika Audio Video tempat anda
bekerja!
Tabel analisa data kesalahan secara sistimatis tentang prosedur
penggunaan peralatan teknik sambung di lingkungan
bengkel/laboratorium.

Kesalahan secara sistimatis tentang


No prosedur penggunaan peralatan Penyebab Solusi
teknik sambung
1

LK 3.4 : Observasi untuk menemukan kesalahan secara sistimatis


tentang prosedur perawatan dan perbaikan peralatan bengkel.

Tujuan Pembelajaran:

Setelah menyelesaikan kegiatan pembelajaran ini, peserta diharapkan dapat


menemukan kesalahan secara sistimatis tentang prosedur perawatan dan
perbaikan peralatan bengkel dengan benar.

146 | Modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan


`

Teknik Audio Video KK B

Alat-alat / Bahan yang digunakan dalam melakukan observasi: LK, alat tulis

Langkah Kerja:

1. Lakukan observasi laboratorium/bengkel tempat anda diklat/kerja


tentang untuk menemukan kesalahan secara sistimatis tentang prosedur
perawatan dan perbaikan peralatan bengkel dalam bengkel/laboratorium
Teknik Elektronika Audio Video anda!

Tabel observasi untuk menemukan kesalahan secara sistimatis tentang


prosedur perawatan dan perbaikan peralatan bengkel.

Foto/Gambar kesalahan
No Poin yang dicek/ secara sistimatis tentang Catatan
diobservasi prosedur perawatan dan
perbaikan peralatan bengkel
1

2. Berdasarkan hasil observasi di lingkungan bengkel/laboratorium anda,


apakah prosedur perawatan dan perbaikan peralatan bengkel sesuai
standar sudah diterapkan? Jika masih ada yang belum diterapkan,
apakah anda menemukan kesalahan secara sistimatis tentang prosedur
perawatan dan perbaikan peralatan bengkel di lingkungan
bengkel/laboratorium anda?

Untuk itu buatlah analisa data berupa kesalahan secara sistimatis


tentang prosedur perawatan dan perbaikan peralatan bengkel di
lingkungan bengkel/laboratorium anda, serta solusi yang diusulkan
tentang penerapan/penggunaan aturan K3 berdasarkan standar di
bengkel/laboratorium Teknik Elektronika Audio Video tempat anda
bekerja!
Tabel analisa data kesalahan secara sistimatis tentang prosedur
perawatan dan perbaikan peralatan bengkel di lingkungan
bengkel/laboratorium.

Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan | 147


Kegiatan Pembelajaran 3

Kesalahan secara sistimatis tentang Penyebab Solusi


No
prosedur M&R peralatan bengkel
1

E. Latihan/Tugas

1. Tunjukkan kesalahan secara sistimatis tentang penggunaan standard K3!


2. Tunjukkan kesalahan secara sistimatis tentang prosedur penggunaan
peralatan kerja bangku!
3. Tunjukkan kesalahan secara sistimatis tentang prosedur penggunaan
peralatan teknik sambung!
4. Tunjukkan kesalahan secara sistimatis tentang prosedur perawatan dan
perbaikan peralatan bengkel!

F. Rangkuman

1. Penggunaan standard K3!


Alat Pelindung Diri akan berfungsi dengan sempurna apabila
dipakai secara baik dan benar yaitu:
 sediakanlah Alat Pelindung Diri yang sudah teruji dan telah memiliki
SNI atau standar Internasional lainnya yang diakui,
 pakailah alat pelindung diri yang sesuai dengan jenis pekerjaan
walaupun pekerjaan tersebut hanya memerlukan waktu singkat,
 Alat Pelindung Diri harus dipakai dengan tepat dan benar,
 jadikanlah memakai alat pelindung diri menjadi kebiasaan. Ketidak
nyamanan dalam memakai alat pelindung diri jangan dijadikan
alasan untuk menolak memakainya,

148 | Modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan


`

Teknik Audio Video KK B

 Alat Pelindung Diri tidak boleh diubah-ubah pemakaiannya kalau


memang terasa tidak nyaman dipakai laporkan kepada atasan atau
pemberi kewajiban pemakaian alat tersebut,
 Alat Pelindung Diri dijaga agar tetap berfungsi dengan baik,
 semua pekerja, pengunjung dan mitra kerja ke tempat/lokasi/
bengkel/laboratorium/proyek yang mewajibkan menggunakan APD
harus memakai alat pelindung diri yang diwajibkan seperti Topi
Keselamatan dll.
2. Penggunaan peralatan kerja bangku!
a. Macam-macam Alat Penanda dan Fungsinya
1) Penggores, berfungsi untuk membuat garis, khususnya
penandaan garis pada permukaan logam benda kerja.
2) Cap, digunakan untuk menandai logam dan beberapa bahan
bukan logam dengan nomor, huruf, angka dan tanda-tanda
lainnya.
3) Penitik, berfungsi untuk membuat titik pusat lengkung atau titik-titik
garis
4) Jangka tusuk, dipergunakan untuk melukis busur dan lingkaran
dengan teliti. Sedangkan Jangka hati dipergunakan untuk
membuat garis pada permukaan logam sejajar dengan sisi benda
b. Macam-macam Alat Pemotong dan Fungsinya
1) Pahat (chisel) digunakan untuk keperluan-keperluan seperti
memotong, membuat alur, meratakan bidang, membentuk sudut
dsb.
2) Kikir berfungsi untuk menghaluskan dan meratakan benda kerja,
terbuat dari baja karbon tinggi yang ditempa yang disesuaikan
dengan ukuran panjang, bentuk, jenis dan gigi pemotongnya.
3) Gergaji digunakan untuk memotong benda kerja yang selanjutnya
untuk dikerjakan kembali proses berikutnya.
4) Mata bor atau bor spiral untuk melubangi benda kerja, terdiri dari
sudut tatal dan sudut bebas yang biasa terdapat pada alat-alat
potong.

Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan | 149


Kegiatan Pembelajaran 3

5) Reamer (peluas) adalah alat potong untuk memperhalus


permukaan lubang dan memperbesar lubang yang telah kita
siapkan sebelumnya.
6) Pemotong Ulir Luar (Sney), untuk memotong ulir pada bagian luar
atau pada batang baut dengan tangan, dipergunakan sejenis alat
yang dinamakan pengulir luar. Alat bantu untuk memutarkan senei
adalah rumah senei atau tangkai senei.
7) Tap tangan, digunakan untuk membuat ulir dalam dengan tangan.
8) Gunting, digunakan untuk memotong lengkung luar ataupun
lengkung dalam berdiameter kecil dan untuk memotong pipa
(membuat lubang pada pipa), dll.
c. Lain-lain
1) Palu lunak atau mallet digunakan untuk meratakan, membentuk
pelat dengan tanpa ada bekas pemukulan pada permukaan pelat.
2) Kepala palu lunak terbuat dari bahan plastik, kayu, karet, kulit,
tembaga, timah dll. dengan kepala palu yang dapat diganti apabila
terjadi kerusakan atau keausan.
3) Palu kayu, digunakan untuk membentuk pelat dari bahan stainless
steel atau galvanis.
4) Palu plastik dan karet, digunakan untuk menghasilkan bentuk
dengan sedikit bekas pemukulan pada permukaan pelat
alumunium atau tembaga.
5) Palu kulit, digunakan pada pembentukan pelat-pelat lunak yang
relatif tebal.
6) Ragum adalah alat yang digunakan utuk menjepit benda kerja
pada waktu pekerjaan mekanik, seperti mengikir, memahat dll.
Yang harus dikerjakan. Pada penggunaanya ragum umumnya
terbuat dari besi tuang, kenyal atau tempa yang dipasang pada
bangku kerja dengan kuat.
3. Penggunaan peralatan teknik sambung!
Menyolder adalah proses membuat sambungan logam secara listrik dan
mekanis menggunakan logam tertentu (timah) dengan menggabung-
kannya dengan alat khusus (solder). Alat ini berfungsi untuk memanaskan
sambungan pada suhu tertentu.

150 | Modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan


`

Teknik Audio Video KK B

Timah solder adalah bahan logam yang digunakan untuk merekatkan


sambungan antar komponen. Timah solder terdiri dari campuran dari Tin
dan Lead (timah hitam). Campuran umum yang biasa digunakan adalah
60% Tin dan 40% Lead dengan titik leleh 190 0C.
Langkah menyolder yaitu:
a. Pegang soder seperti memegang pinsil pada bagian pegangan
(handle ) solder. Selalu diingat untuk tidak memegang bagian panas
yang lain.
b. Sentuhkan ujung soder ke media penyolderan ( PCB ) lalu tahan
beberapa detik dan langsung tempelkan timah diujung soder sehingga
timah meleleh pada komponen yang akan disoder.
c. Angkat solder beserta timah sehingga solderan terbentuk dan
diamkan beberapa saat.
d. Perhatikan hasilnya; hasil yang baik jika solderan berkilau/mengkilap
dan membentuk kerucut. Jika tidak anda perlu memanaskan dan
membentuknya lagi.
4. Perawatan dan perbaikan peralatan bengkel!
Pemeliharaan adalah suatu bentuk tindakan yang dilakukan dengan
sadar untuk menjaga agar suatu peralatan selalu dalam keadaan siap
pakai atau tindakan melakukan perbaikan sampai pada kondisi peralatan
tersebut dapat bekerja kembali. Secara garis besar pemeliharaan dapat
dibedakan menjadi dua, yaitu : pemeliharaan terencana dan
pemeliharaan tak terencana.

Sedangkan pengendalian pengelolaan dan pengadmistrasian


memerlukan perangkat instrument yang berupa buku, lembar dan kartu,
meliputi :
a. Kartu stok ; warna kartu dibedakan untuk masing-masing jenis
peralatan sesuai dengan pengelompokkannya.
b. Buku inventaris ; memuat nomor sandi, nama alat, ukuran, merek/tipe,
produsen, asal tahun, jumlah dan, kondisi
c. Daftar peralatan ; memuat kode, nama alat, dan jumlah alat
d. Buku harian ; digunakan untuk mencatat setiap kejadian yang terjadi
dan yang berkaitan dengan kegiatan di tempat kerja.

Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan | 151


Kegiatan Pembelajaran 3

e. Label ; memuat kode alat, nama alat, jumlah dan kondisi alat. Label
dipasang di tempat penyimpanan alat.
f. Format permintaan alat.

G. Umpan Balik dan Tindak Lanjut

1. Umpan Balik
Setelah mempelajari kegiatan pembelajaran ini, periksa penguasaan
pengetahuan dan keterampilan anda menggunakan daftar periksa di bawah
ini:
No Indikator Ya Tidak Bukti
1. Menemukan kesalahan secara sistimatis
tentang penggunaan standard K3
2. Menemukan kesalahan secara sistimatis
tentang prosedur penggunaan peralatan
kerja bangku
3. Menemukan kesalahan secara sistimatis
tentang prosedur penggunaan peralatan
teknik sambung
4. Menemukan kesalahan secara sistimatis
tentang prosedur perawatan dan perbaikan
peralatan bengkel

2. Tindak Lanjut
a. Buat rencana pengembangan dan implementasi di lingkungan bengkel
kerja anda.
b. Gambarkan suatu situasi atau isu di dalam bengkel/laboratorium anda
yang mungkin dapat anda ubah atau tingkatkan dengan
mengimplementasikan sebuah rencana tindak lanjut.
c. Apakah judul rencana tindak lanjut anda?
d. Apakah manfaat/hasil dari rencana aksi tindak lanjut anda tersebut?
e. Uraikan bagaimana rencana tindak lanjut anda memenuhi kriteria SMART
(spesifik, dapat diukur, dapat dicapai, relevan, rentang/ketepatan
waktu).

152 | Modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan


`

Teknik Audio Video KK B

Kegiatan Pembelajaran 4
Proyek Bengkel Elektronika

A. Tujuan

Setelah menyelesaikan materi pembelajaran ini, peserta diharapkan dapat


mengkreasi proyek bengkel elektronika sesuai standar dengan benar.

B. Indikator Pencapaian Kompetensi

Setelah menyelesaikan materi pembelajaran ini, peserta diharapkan dapat:

1. merancang desain proyek sebagai produk bengkel elektronika,

2. memproduksi proyek sebagai produk bengkel elektronika,

3. merencanakan panduan perakitan (buku manual) produk bengkel


elektronika memenuhi standar K3.

C. Uraian Materi

1. Desain Proyek sebagai Produk Bengkel Elektronika


Desain proyek/produk merupakan hal yang sangat penting dalam bidang
manufaktur. Desain produk yang baik akan dapat meningkatkan jumlah dan
harga jual dari produk, sehingga dapat meningkatkan keuntungan. Akan
tetapi, desain produk yang gagal mengakibatkan produk tidak terjual. Hal ini,
akan menimbulkan kerugian tidak hanya dibidang desain saja, bidang yang
lain pun akan terkena pengaruhnya.

Desain produk yang baik, harus memenuhi 3 (tiga) aspek penting yang sering
disebut segitiga aspek produk, yaitu kualitas yang baik, biaya rendah, dan
jadwal yang tepat.

Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan | 153


Kegiatan Pembelajaran 4

Aspek produk dikembangkan menjadi suatu persyaratan dalam desain, yaitu


desain harus dapat dirakit, didaur ulang, diproduksi, diperiksa hasilnya, bebas
korosi, biaya rendah, serta waktu yang tepat. Untuk itu dalam mendesain
suatu produk, harus memperhatikan secara detail tentang fungsi-fungsi dari
produk yang didesain. Guna mengetahui secara rinci tentang fungsi produk,
dapat dilakukan dengan beberapa metode pendekatan, mulai dari metode
yang sederhana hingga metode yang advance.

Disamping itu diperlukan pengembangan yang mempunyai tujuan sebagai


berikut:
a. merancang dan mengembangkan produk terbaru untuk memenuhi
keinginan pelanggan,
b. merancang dan mengembangkan produk untuk memenangkan
persaingan dari produk sejenis yang ada di pasaran,
c. merancang dan mengembangkan produk yang memiliki kegunaan yang
sangat praktis dan otomatis,
d. menciptakan pasar yang lebih baik dengan produk unggulan produk.

Adapun langkah-langkah pengembangan adalah:


a. menentukan produk yang akan dikembangkan beserta gambar produk
yang ada di pasaran,
b. mendapatkan alasan pengembangan baik dari kemungkinan peluang-
peluang yang ada maupun dari kebutuhan pelanggan melalui proses
interview,
c. mengelompokkan interpretasi kebutuhan pelanggan untuk mempermudah
pengidentifikasian,
d. konsep desain produk alternatif,
e. pemilihan konsep desain terbaik,
f. menentukan spesifikasi dari produk yang terpilih,
g. membuat pernyataan misi dari konsep produk yang terpilih,
h. menentukan prinsip kerja dari konsep produk yang terpilih.

Produk merupakan sesuatu yang dijual oleh perusahaan kepada pembeli.


Pengembangan produk merupakan serangkaian aktivitas yang dimulai dari
analisis persepsi dan peluang pasar, kemudian diakhiri dengan tahap
produksi, penjualan, dan pengiriman produk.

154 | Modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan


`

Teknik Audio Video KK B

Dari sudut pandang investor pada perusahaan yang berorientasi laba, usaha
pengembangan produk dikatakan sukses jika produk dapat diproduksi dan
dijual dengan menghasilkan laba.Namun laba seringkali sulit untuk dinilai
secara cepat dan langsung.

Terdapat 5 dimensi spesifik yang berhubungan dengan laba dan biasa


digunakan untuk menilai kinerja usaha pengembangan produk, yaitu:
a. Kualitas Produk, seberapa baik produk yang dihasilkan dari upaya
pengembangan dan dapat memuaskan kebutuhan pelanggan.
Kualitas produk pada akhirnya akan mempengaruhi pangsa
pasar dan menentukan harga yang ingin dibayar oleh pelanggan.
b. Biaya Produk, biaya untuk modal peralatan dan alat bantu serta
biaya produksi setiap unit disebut biaya manufaktur dari produk.
Biaya produk menentukan berapa besar laba yang dihasilkan oleh
perusahaan pada volume penjualan dan harga penjualan tertentu.
c. Waktu Pengembangan Produk, waktu pengembangan akan
menentukan kemampuan perusahaan dalam berkompetisi,
menunjukkan daya tanggap perusahaan terhadap perubahan
teknologi dan pada akhirnya akan menentukan kecepatan
perusahaan untuk menerima pengembalian ekonomis dari usaha
yang dilakukan tim pengembangan.
d. Biaya Pengembangan, biaya pengembangan biasanya merupakan
salah satu komponen yang penting dari investasi yang dibutuhkan
untuk mencapai profit.
e. Kapabilitas Pengembangan, kapabilitas pengembangan merupakan
asset yang dapat digunakan oleh perusahaan untuk
mengembangkan produk dengan lebih efektif dan ekonomis dimasa
yang akan datang.

Perancangan dan pembuatan suatu produk baik yang baru atau yang sudah
ada merupakan bagian yang sangat besar dari semua kegiatan teknik yang
telah ada. Kegiatan ini didapat dari persepsi tentang kebutuhan manusia,
kemudian disusul oleh penciptaan suatu konsep produk, perancangan

Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan | 155


Kegiatan Pembelajaran 4

produk, pengembangan dan penyempurnaan produk, dan diakhiri dengan


pembuatan dan pendistribusian produk tersebut.

Adapun proses pengembangan produk adalah langkah-langkah atau


kegiatan-kegiatan di mana suatu perusahaan berusaha untuk menyusun,
merancang, dan mengkomersialkan suatu produk.

a. Proses Pengembangan Generik


Proses pengembangan produk yang umum terdiri dari enam tahap, yaitu:
1) perencanaan, kegiatan perencanaan ini sering dirujuk karena
kegiatan ini mendahului persetujuan proyek dan proses peluncuran
pengembangan produk aktual,
2) Pengembangan konsep, pada fase pengembangan konsep,
kebutuhan pasar target diidentifikasi, alternatif konsep-konsep produk
dibangkitkan dan dievaluasi, dan satu atau lebih konsep dipilih untuk
pengembangan dan percobaan lebih jauh,
3) perancangan tingkatan sistem, fase perancangan tingkatan sistem
mencakup definisi arsitektur produk dan uraian produk menjadi
subsistem-subsistem serta komponen-komponen,
4) perancangan detail, fase perancangan detail mencakup spesifikasi
lengkap dari bentuk, material dan toleransi-toleransi dari seluruh
komponen unik pada produk dan identifikasi seluruh komponen
standar yang dibeli dari pemasok,
5) pengujian dan perbaikan, fase pengujian dan perbaikan melibatkan
konstruksi dan evaluasi dari bermacam-macam versi produksi awal
produk,
6) produksi awal, pada fase produksi awal, produk dibuat dengan
menggunakan sistem produksi yang sesungguhnya.

b. Pengembangan konsep : proses awal hingga akhir

Proses pengembangangan konsep mencakup kegiatan-kegiatan sebagai


berikut:
1) identifikasi kebutuhan pelanggan, sasaran kegiatan ini adalah untuk
memahami kebutuhan pelanggan dan mengAudio Videokannya
secara efektif kepada tim pengembangan,

156 | Modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan


`

Teknik Audio Video KK B

2) penetapan spesifikasi target, spesifikasi memberikan uraian yang


tepat mengenai bagaimana produk bekerja,
3) penyusunan konsep, sasaran penyusunan konsep adalah menggali
lebih jauh area konsep-konsep produk yang mungkin sesuai dengan
kebutuhan pelanggan,
4) pemilihan konsep, pemilihan konsep merupakan kegiatan dimana
berbagai konsep dianalisis dan secara berturut-turut dieliminasi untuk
mengidentifikasi konsep yang paling menjanjikan.
5) pengujian konsep, satu atau lebih konsep diuji untuk mengetahui
apakah kebutuhan pelanggan telah terpenuhi, mengidentifikasi
beberapa kelemahan yang harus diperbaiki selama proses
pengembangan selanjutnya,
6) penentuan Spesifikasi akhir, spesifikasi target yang telah ditentukan
diawal proses ditinjau kembali setelah proses dipilih dan diuji,
7) perencanaan proyek, pada kegiatan akhir pengembangan konsep ini,
tim membuat suatu jadual pengembangan secara rinci, menentukan
strategi untuk meminimasi waktu pengembangan dan mengidentifikasi
sumber daya yang digunakan untuk menyelesaikan proyek,
8) analisis ekonomi, tim dalam keproyekan, sering didukung oleh analisis
keuangan, membuat model ekonomis untuk produk baru,
9) analisa produk-produk pesaing, pemahaman mengenai produk
pesaing adalah penting untuk penentuan posisi produk baru yang
berhasil dan dapat menjadi sumber ide yang kaya untuk rancangan
produk dan proses produksi,
10) Pemodelan dan pembuatan prototipe, setiap tahapan dalam proses
pengembangan konsep melibatkan banyak bentuk model dan
prototipe.

Untuk mengembangkan suatu rencana produk dan pernyataan misi


proyek terdapat lima tahapan proses berikut:
1) mengidentifikasi peluang,
2) mengevaluasi dan memprioritaskan proyek,
3) mengalokasikan sumberdaya dan rencana waktu,
4) melengkapi perencanaan pendahuluan proyek,

Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan | 157


Kegiatan Pembelajaran 4

5) merefleksikan kembali hasil dan proses.

c. Membuat target spesifikasi

Target spesifikasi merupakan tujuan tim pengembangan yang berperan


dalam menjelaskan produk agar sukses di pasaran. Kemudian target
spsesifikasi ini akan diperbaiki tergantung kepada batasan konsep produk
yang akhirnya dipilih.

Proses pembuatan target spesifikasi terdiri dari 4 langkah yaitu:


1) menyiapkan gambar metrik dan menggunakan metrik-metrik
kebutuhan, jika diperlukan,
Metrik yang baik adalah yang merefleksikan secara langsung nilai
produk yang memuaskan kebutuhan pelanggan. Beberapa hal yang
harus dipertimbangkan ketika membuat daftar metrik yaitu:
 metrik harus komplit,
 metrik merupakan variabel yang berhubungan (dependent), bukan
variabel bebas (independent),
 metrik harus praktis,
 beberapa kebutuhan tidak dengan mudah diterjemahkan menjadi
metrik terukur,
2) mengumpulkan informasi tentang pesaing,
3) menetapkan nilai target ideal dan marginal yang dapat dicapai untuk
tiap metrik,
Nilai ideal adalah hasil terbaik yang diharapkan tim. Nilai yang dapat
diterima secara marginal adalah nilai metrik yang membuat produk
diterima secara komersial.

d. Menentukan spesifikasi akhir

Menentukan spesifikasi akhir sangat sulit karena adanya trade-offs, yaitu


hubungan berlawanan antara dua spesifikasi yang sudah melekat pada
konsep produk yang terpilih. Tahap paling sulit untuk memperbaiki
spesifikasi adalah memilih metode agar trade-off dapat terpecahkan.

e. Aktivitas penyusunan konsep

158 | Modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan


`

Teknik Audio Video KK B

Konsep produk adalah gambaran atau perkiraan mengenai teknologi,


prinsip kerja, dan bentuk produk. Konsep produk merupakan gambaran
singkat bagaimana produk memuaskan kebutuhan pelanggan.

f. Tahapan penentuan konsep produk

Adapun tahapan penentuan konsep produk adalah sebagai berikut:


1) memperjelas masalah, mencakup pengembangan sebuah pengertian
umum dan pemecahan sebuah masalah menjadi submasalah,
2) pencarian secara eksternal, bertujuan untuk menemukan pemecahan
keseluruhan masalah dan submasalah yang ditemukan selama
langkah memperjelas masalah,
3) pencarian secara Internal, merupakan penggunaan pengetahuan dan
kreativitas dari tim dan pribadi untuk menghasilkan konsep solusi,
4) menggali secara sistematis, ditujukan untuk mengarahkan ruang
lingkup kemungkinan dengan mengatur dan mengumpulkan
penggalan solusi yaitu yang merupakan solusi untuk sub-submasalah,
5) merefleksikan pada hasil dan proses, langkah refleksi diletakkan
paling akhir, refleksi sebaiknya dilakukan pada keseluruhan proses.

g. Penyusunan fungsi produk.

Secara umum fungsi produk di bagi menjadi dua, yaitu ; fungsi utama
(main function) dan fungsi tambahan (sub-function). Seperti diketahui,
bahwa suatu produk bisa terdiri dari 1 (satu) bagian (part) atau lebih.
Sedangkan sebuah bagian/part dapat terdiri dari satu atau lebih
komponen. Komponen terdiri dari beberapa elemen.

Berdasarkan atas struktur pembentukan suatu produk diatas, maka fungsi


suatu produk dapat dibagi menjadi fungsi utama (main function), fungsi
bagian (part – function), fungsi komponen (component function) dan
fungsi elemen (element function). Tetapi secara umum fungsi dibagi
menjadi 2 (dua), yaitu fungsi utama (overall function) dan fungsi bagian
(sub-function).

Untuk itu, setiap industri dalam merancang dan mengembangkan produk


yang baik, akan melakukan langkah yang berbeda-beda tergantung dari
jenis industri tersebut.

Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan | 159


Kegiatan Pembelajaran 4

160 | Modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan


`

Teknik Audio Video KK B

2. Produksi Proyek sebagai Produk Bengkel Elektronika


a. Pengertian Proses Produksi

Kegiatan utama yang bersangkutan dengan manajemen produksi adalah


proses produksi. Proses produksi adalah metode dan teknik untuk
menciptakan atau menambah kegunaan suatu barang atau jasa dengan
menggunakan sumber-sumber antara lain tenaga kerja, bahan-bahan,
dana dan sumberdaya lain yang dibutuhkan.

Produksi merupakan suatu sistem dan di dalamnya terkandung tiga


unsur, yaitu input, proses, dan output. Input dalam proses produksi terdiri
atas bahan baku/bahan mentah, energi yang digunakan dan informasi
yang diperlukan. Proses merupakan kegiatan yang mengolah bahan,
energi dan informasi perubahan sehingga menjadi barang jadi. Output
merupakan barang jadi sebagai hasil yang dikehendaki.

b. Jenis-jenis Proses Produksi

Proses produksi pada umumnya dapat dipisahkan menurut berbagai segi.


Pemilihan sudut pandang yang akan digunakan untuk pemisahan proses
produksi dalam perusahaan ini akan tergantung untuk apa pemisahan
tersebut dilaksanakan serta penentuan tipe produksi didasarkan faktor
seperti volume atau jumlah produk yang akan dihasilkan, kualitas produk
yang diisyaratkan dan peralatan yang tersedia untuk melaksanakan
proses.

Jenis proses produksi ditinjau dari segi arus proses produksi meliputi:

1) proses produksi terus-menerus (continuous processes), adalah


proses produksi yang mempunyai pola atau urutan yang selalu
sama dalam pelaksanaan proses produksi di dalam perusahaan
dengan ciri-ciri:
a) produksi dalam jumlah besar, variasi produk sangat kecil dan
sudah distandarisir,
b) menggunakan product lay out atau departmentation by product,
c) mesin bersifat khusus,
d) operator tidak mempunyai keahlian yang tinggi,

Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan | 161


Kegiatan Pembelajaran 4

e) salah satu mesin/ peralatan rusak atau terhenti, seluruh proses


produksi terhenti,
f) tenaga kerja sedikit,
g) persediaan bahan mentah dan bahan dalam proses kecil,
h) dibutuhkan maintenance specialist yang berpengetahuan dan
pengalaman yang banyak.

Adapun kelebihan proses ini adalah:


a) biaya per unit rendah bila produk dalam volume yang besar dan
distandardisir,
b) pemborosan dapat diperkecil karena menggunakan tenaga mesin,
c) biaya tenaga kerja rendah,
d) biaya pemindahan bahan di pabrik rendah karena jaraknya lebih
pendek.
Sedangkan kekurangan proses ini adalah:
a) terdapat kesulitan dalam perubahan produk,
b) proses produksi mudah terhenti yang menyebabkan kemacetan
seluruh proses produksi,
c) terdapat kesulitan menghadapi perubahan tingkat permintaan.
2) Proses produksi terputus-putus (intermitten processes)
Proses produksi terputus-putus adalah suatu proses produksi dimana
arus proses yang ada dalam perusahaan tidak selalu sama. Ciri-
cirinya adalah:
a) produk yang dihasilkan dalam jumlah kecil, variasi sangat besar,
b) menggunakan mesin-mesin bersifat umum dan kurang otomatis,
c) operator mempunyai keahlian yang tinggi,
d) proses produksi tidak mudah terhenti walaupun terjadi kerusakan
di salah satu mesin,
e) menimbulkan pengawasan yang lebih sukar,
f) persediaan bahan mentah tinggi,
g) membutuhkan tempat yang besar.

Kelebihan utama proses ini adalah fleksibilitas yang tinggi dalam


menghadapi perubahan produk yang berhubungan dengan mesin
bersifat umum yaitu system pemindahan menggunakan tenaga

162 | Modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan


`

Teknik Audio Video KK B

manusia, diperoleh penghematan uang dalam investasi mesin yang


bersifat umum dan proses produksi tidak mudah terhenti, walaupun
ada kerusakan di salah satu mesin.

Sedangkan kekurangan proses ini adalah:


a) dibutuhkan scheduling dan routing yang banyak karena produk
berbeda tergantung pemesanan,
b) pengawasan produksi sangat sukar dilakukan,
c) Ppersediaan bahan mentah dan bahan dalam proses cukup
besar,
d) biaya tenaga kerja dan pemindahan bahan sangat tinggi, karena
menggunakan banyak tenaga kerja dan mempunyai tenaga ahli.

3) Proses produksi campuran, merupakan penggabungan dari proses


produksi terus-menerus dan terputus-putus. Penggabungan ini
digunakan berdasarkan kenyataan bahwa setiap perusahaan
berusaha untuk memanfaatkan kapasitas secara penuh.

Jenis proses produksi ditinjau dari segi keutamaan proses produksi.

Pada umumnya manajemen perusahaan akan mengadakan pemisahan


jenis proses produksi dalam perusahaan atas dasar keutamaan proses
produksi dalam perusahaan yang bersangkutan yaitu proses produksi
utama dan proses produksi bukan utama.

Adapun proses produksi utama meliputi proses produksi terus-menerus,


proses produksi terputus-putus, proses produksi proses, proses produksi
proses yang sama, proses produksi proyek khusus, proses produksi
industri berat. Sedangkan Proses produksi bukan utama meliputi
penelitian, model, prototype, percobaan, demonstrasi.

Jenis proses produksi ditinjau dari segi penyelesaian proses


produksi

Tujuan pemisahan proses produksi menurut segi penyelesaian proses ini


pada umumnya untuk mengadakan pengendalian kualitas dari proses
produksi di dalam perusahaan yang bersangkutan. Pada umumnya dapat
dibagi menjadi beberapa jenis, yaitu:

Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan | 163


Kegiatan Pembelajaran 4

1) proses produksi tipe A, merupakan suatu tipe dari proses produksi


dimana dalam setiap tahap proses produksi yang dilaksanakan dalam
perusahaan dapat diperiksa secara mudah. Dengan demikian
pengendalian proses dapat dilaksanakan pada setiap tahap proses,
sesuai dengan yang dikehendaki oleh manajemen perusahaan yang
bersangkutan,

2) proses produksi tipe B, merupakan suatu proses produksi dimana di


dalam penyelesaian proses produksi dalam perusahaan yang
bersangkutan akan terdapat beberapa ketergantungan dari masing-
masing tahap proses produksi, pemeriksaan hanya dapat
dilaksanakan pada beberapa tahap tertentu saja. Dengan demikian
pengendalian proses produksi yang dilaksanakan dalam perusahaan
akan terbatas kepada beberapa tahap proses yang dapat diperiksa
secara mudah,

3) Proses produksi tipe C, perusahaan yang penyelesaian produksinya


termasuk di dalam kategori proses produksi tipe C ini adalah
perusahaan yang melaksanakan proses penggabungan atau
pemasangan (assembling). Pelaksana proses produksi dalam
perusahaan tersebut dilakukan dengan pemasangan atau
penggabungan komponen-komponen produk,

4) Proses produksi tipe D, proses produksi tipe ini merupakan proses


produksi yang dilaksanakan dalam perusahaan dengan menggunakan
mesin dan peralatan produksi otomatis. Mesin dan peralatan produksi
yang dipergunakan dalam perusahaan tersebut dilengkapi dengan
beberapa peralatan khusus untuk melaksanakan pengendalian proses
produksi dalam perusahaan yang bersangkutan.

5) Proses produksi tipe E, merupakan proses produksi dari perusahaan-


perusahaan dagang dan jasa. Pelaksanaan proses produksi yang
agak berbeda dengan perusahaan-perusahaan semacam ini menjadi
agak berbeda dengan beberapa perusahaan yang melaksanakan
processing dalam proses produksi yang dilaksanakan dalam
perusahaan yang bersangkutan.

164 | Modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan


`

Teknik Audio Video KK B

3. Panduan Perakitan Produk Bengkel Elektronika memenuhi


standar K3
Beberapa metode yang sangat lazim untuk perakitan elektronik. Kami
(https://learn.sparkfun.com/tutorials/electronics-assembly) telah menyusun
beberapa langkah-langkah dan pelajaran yang kita pelajari selama dekade
terakhir yaitu pembuatan papan rangkaian tercetak (PRT). Kami telah
berkembang ke titik di mana beberapa ini tidak masuk akal dilakukan, tetapi
jika Anda bertanya-tanya bagaimana kita melakukan apa yang kita lakukan.

Kita akan mulai dari awal produksi. Ini berarti desain telah diperiksa,
prototype telah dibuat, review, dan membuat prototipe berwarna hijau serta
siap produksi kami memiliki PCB dibuat merah.

Perakitan elektronik biasanya berjalan melalui tujuh langkah meliputi Paste


Stenciling, Placement, Reflow, Manual Assembly, Inspection and Testing,
Washing, Packaging.
a. Stenciling

Gambar 4.1. Stenciling


Sumber: https://learn.sparkfun.com/tutorials/electronics-assembly

Proses stenciling meliputi penyiapan solder paste stencil, biasa disebut


„foil‟ yaitu pasta yang dioleskan di atas stensil dengan squeegee logam,
dan pasta solder yaitu campuran dari paduan logam: 96,5% timah (Sn),
3% perak (Ag), dan 0,5% tembaga (Cu). Kebanyakan pasta memiliki
tanggal kedaluwarsa dan harus disimpan di tempat yang dingin. Setelah
itu dilakukan proses pemberian pasta solder.

Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan | 165


Kegiatan Pembelajaran 4

Gambar 4.2. Solder paste stencil, biasa disebut ‘foil’


Sumber: https://learn.sparkfun.com/tutorials/electronics-assembly

Gambar 4.3. Pasta Solder


Sumber: https://learn.sparkfun.com/tutorials/electronics-assembly

Gambar 4.4. Proses pemberian pasta solder


Sumber: https://learn.sparkfun.com/tutorials/electronics-assembly

b. Pick and Place


Setelah papan telah dilapisi pasta, komponen ditempatkan di atas papan
tersebut. Hal ini dapat dilakukan dengan tangan atau dengan mesin.
Menggunakan pinset adalah cara yang bagus untuk menempatkan
komponen.

Gambar 4.5. Penempatan komponen SMD


Sumber: https://learn.sparkfun.com/tutorials/electronics-assembly

166 | Modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan


`

Teknik Audio Video KK B

Untuk memulai penempatan semua komponen bisa dilakukan dengan


tangan. Tetapi jika jumlah lebih dari seratus unit, maka bisa
menggunakan mesin pick and plate (PNP).
c. Reflow
Setelah pick and plate, pasta harus dialirkan untuk membuat hasil solder
menjadi sempurna. Papan diletakkan pada papan berjalan yang bergerak
perlahan-lahan melalui oven besar, memperlihatkan papan untuk cukup
panas untuk melelehkan solder (sekitar 250°C). Sebagai papan bergerak
melalui oven, itu pertemuan zona suhu yang berbeda, yang
memungkinkan untuk pemanasan dan pendinginan pada tingkat yang
terkendali.

Gambar 4.6. Komponen ditempatkan pada pasta solder


Sumber: https://learn.sparkfun.com/tutorials/electronics-assembly

Di sini papan kontrol memiliki Portable Rotary dengan komponen


ditempatkan pada pasta solder. Pasta solder seperti mentega menempel
PCB. Komponen tinggal di tempat sementara papan perlahan bergerak
melalui oven reflow.

Gambar 4.7. A populated board as it slowly enters the reflow oven


Sumber: https://learn.sparkfun.com/tutorials/electronics-assembly

Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan | 167


Kegiatan Pembelajaran 4

Reflow oven adalah jenis seperti oven pizza. Board dinaikkan suhu
sekitar 250 °C (~ 480 °F) di mana titik pasta berubah menjadi logam cair.
Sebagai board keluar dari oven reflow, dengan cepat mendinginkan
menyolder semua komponen di tempat.
Pada awalnya, dapat dilihat gumpalan abu-abu sedikit pasta solder pada
berbagai bantalan. Pada sekitar 01:05, PCB pertama dilewatkan: fluks
dalam pasta mendapat runnier dan mulai terbentuk genangan air. Solder
logam belum mencair. Pada sekitar 03:10, solder mulai mencair, dan
tegangan permukaan dari solder cair menyebabkan genangan solder
meleleh untuk membentuk kemungkinan objek terkecil: gumpalan
berpusat pada pad. Anda juga dapat melihat sejauh mana solder dapat
memindahkan bagian di sekitar seperti reflows.

Gambar 4.8. Komponen sudah tersolder di PCB


Sumber: https://learn.sparkfun.com/tutorials/electronics-assembly

d. Manual Soldering

Gambar 4.9. Manual Soldering


Sumber: https://learn.sparkfun.com/tutorials/electronics-assembly

Setelah reflow, seorang teknisi mengambil papan dan manual menyorder


setiap PCB komponen. Dalam fasilitas produksi yang lebih besar, solder
dari melalui lubang komponen dapat dilakukan dengan menggunakan
teknik yang dikenal sebagai gelombang solder, di mana papan dilewatkan

168 | Modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan


`

Teknik Audio Video KK B

melalui gelombang berdiri dari solder cair, yang menyentuh kaki


komponen dan setiap logam terkena di papan PCB.

Gambar 4.10. Manual soldering (lanjutan)


Sumber: https://learn.sparkfun.com/tutorials/electronics-assembly

Karena campuran desain yang berbeda dan jumlah yang banyak, kami
telah menemukan cara yang lebih mudah untuk mendorong sebanyak
mungkin untuk komponen surface mount devices (SMD) dan solder
tangan setiap komponen. Kami menggunakan Hakko FX-888D solder
besi di lantai produksi.
e. Inspection and Testing

Gambar 4.11. Optical inspection


Sumber: https://learn.sparkfun.com/tutorials/electronics-assembly

Langkah selanjutnya adalah pemeriksaan optik. Inspeksi optik


menangkap masalah dengan bagian-bagian (resistor yang salah, topi
yang hilang, dll), menggunakan mesin AOI (automated optical inspection).
AOI menggunakan serangkaian kamera berkekuatan tinggi pada sudut
yang berbeda untuk melihat bagian yang berbeda dari koneksi solder
(kadang-kadang disebut fillet). Baik dan buruk fillet solder memantulkan
cahaya berbeda sehingga AOI menggunakan LED warna yang berbeda

Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan | 169


Kegiatan Pembelajaran 4

untuk menerangi dan memeriksa setiap koneksi, dengan akurasi besar,


dengan kecepatan tinggi.

Gambar 4.12. Hasil PCB yang diperiksa pada AOI


Sumber: https://learn.sparkfun.com/tutorials/electronics-assembly

Kami menjalankan mayoritas papan melalui otomatis inspeksi optik (AOI)


mesin kami. Inspeksi optik memeriksa untuk memastikan semua
komponen yang benar adalah di papan, di tempat yang tepat, dengan
fillet solder yang benar dan tidak ada jumper solder antara pin yang
berdekatan.

Gambar 4.13. Pengujian PCB yang sudah dicek AOI


Sumber: https://learn.sparkfun.com/tutorials/electronics-assembly

f. Washing
Berbagai langkah dari proses manufaktur meninggalkan residu di board.
Perlu diketahui bahwa solder meninggalkan sejumlah kecil fluks di board.
Selama periode bulan residu fluks ini menjadi lengket, dan dapat menjadi
sedikit asam yang menyebabkan melemahnya hasil solderan. Untuk
mencegah hal ini (dan untuk memberikan hasil yang terbaik) sebaiknya
mencuci setiap board yang dihasilkan.

170 | Modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan


`

Teknik Audio Video KK B

Gambar 4.14. Proses washing


Sumber: https://learn.sparkfun.com/tutorials/electronics-assembly

Gambar 4.15. Mesin pencuci rangkaian elektronika


Sumber: https://learn.sparkfun.com/tutorials/electronics-assembly

Untuk mendapatkan board bersih lagi kami memuat batch ke dalam apa
yang disebut 'mesin cuci '. Suhu ini tinggi, tekanan tinggi, semua pencuci
piring stainless steel menggunakan air deionisasi untuk menghilangkan
residu dari proses manufaktur.
Bagian-bagian mesin cuci menggunakan sistem loop tertutup. Setelah
selesai mencuci, air limbah dikumpulkan dalam baskom bawah mesin
cuci dan secara otomatis diuji untuk konduktivitas. Jika konduktivitas
listrik sangat rendah (jika resistance sangat tinggi) maka fase mencuci
selesai dan air limbah didaur ulang melalui filter kualitas yang sangat
tinggi. Selanjutnya untuk membersihkan sebagian air yang masih melekat
dilakukan penyeprotan angin dengan tekanan tinggi pada board tersebut.

Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan | 171


Kegiatan Pembelajaran 4

Gambar 4.16. Pembersihan dengan angin tekanan tinggi


Sumber: https://learn.sparkfun.com/tutorials/electronics-assembly

172 | Modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan


`

Teknik Audio Video KK B

g. Packaging

Gambar 4.17. Hasil akhir rangkaian elektronika


Sumber: https://learn.sparkfun.com/tutorials/electronics-assembly

Gambar 4.18. Pengemasan kedalam plastik


Sumber: https://learn.sparkfun.com/tutorials/electronics-assembly

Setelah batch papan bersih dan kering, mereka pergi ke kemasan di


mana setiap papan secara individual panas yang disegel ke dalam plastik
ESD.

Gambar 4.19. Board yang sudah dikemas kedalam plastic


Sumber: https://learn.sparkfun.com/tutorials/electronics-assembly

Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan | 173


Kegiatan Pembelajaran 4

Proses pengemasan perlu secepat mungkin, pastikan setiap produk siap


untuk dikirim. Kemasan produk yang baik dilengkapi label barcode. Label
barcode berisi nama produk, dan pengenal batch yang membantu dalam
melacak masalah.

174 | Modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan


`

Teknik Audio Video KK B

D. Aktifitas Pembelajaran

1. Untuk dapat memahami perancangan desain proyek sebagai produk


bengkel elektronika, produksi proyek sebagai produk bengkel
elektronika, dan perencanaan panduan perakitan (buku manual) produk
bengkel elektronika memenuhi standar K3, lakukan diskusi,
brainstroming dalam kelompok kecil. Selama proses diskusi gunakan
cara berfikir kritis, proses pengambilan keputusan (decision making),
perencanaan strategi (strategic planning), proses ilmiah (scientific
process), dan pemecahan masalah (problem solving).
2. Pada aktifitas pembelajaran ini, peserta diberi tugas merancang desain
proyek sebagai produk bengkel elektronika, memproduksi proyek
sebagai produk bengkel elektronika, dan merencanakan panduan
perakitan (buku manual) produk bengkel elektronika memenuhi standar
K3.

3. Selama proses pembelajaran, peserta hendaknya mengkreasi proyek


bengkel elektronika dengan teliti, kreatif, dan penuh tanggung jawab
serta dapat bekerjasama dalam kelompok/mandiri dalam merancang
desain proyek sebagai produk bengkel elektronika, memproduksi proyek
sebagai produk bengkel elektronika, dan merencanakan panduan
perakitan (buku manual) produk bengkel elektronika memenuhi standar
K3.

4. Lembar Kerja (LK) yang digunakan dalam melakukan mengkreasi proyek


bengkel elektronika adalah sebagai berikut:

LK 4.1 : Merancang desain proyek sebagai produk bengkel elektronika.

Tujuan Pembelajaran:

Setelah menyelesaikan kegiatan pembelajaran ini, peserta diharapkan dapat


merancang desain proyek sebagai produk bengkel elektronika dengan
benar.

Alat-alat / Bahan:

Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan | 175


Kegiatan Pembelajaran 4

 Laptop / computer dengan software untuk merancang desain


proyek sebagai produk bengkel elektronika.
 Kertas transfer material printing PCB.
 Ironing (seterika listrik).
 PCB polos single layer.
 Bahan Etching (FeCl, NaOH, dll).
 Mesin Cutting.
 Mesin Drilling.
 Mata bor (0,8; 1; 1,2; 1,4; 3) mm.
 Peralatan dan bahan masking.

Uraian Tugas:

Merancang dan membuat Single Layer PCB (Printed Circuit Board) secara
Manual dengan Metode Iron Transfer Artwork

Kompetensi ini berkaitan dengan pengetahuan, keterampilan dan sikap kerja


yang dibutuhkan untuk mempersiapkan PCB (Printed Circuit Board) dimana
persiapan dimulai dari membuat layout PCB pada suatu media sampai
dengan PCB siap dipakai untuk assembly part. Kegiatan ini dilakukan secara
manual dimana dilakukan oleh bagian Engineering untuk mengkonfirmasi
rangkaian dan desain PCB secara manual/ Handmade.

Langkah Kerja:
1. Siapkan Schematic Capture (memahami gambar rangkaian elektronika)
dan pekerjaan !
1.1. Identifikasikan simbol elektronika yang ada pada rangkaian
elektronika !
1.2. Identifikasikan dimensi bentuk dan spesifikasi dari komponen yang
ada !
1.3. Konfirmasikan kebenaran skema rangkaian kepada bagian yang
berwenang/instruktur !
2. Buatlah PCB Board Design – (Physical Layout PCB)!
2.1. Pahami standard Imperial dan Metric !
2.2. Pahami dan tetapkan jenis dan skala ukuran PCB !

176 | Modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan


`

Teknik Audio Video KK B

2.3. Gambar layout PCB dengan menggunakan bantuan Komputer


dengan program sederhana (contoh: Visio, PCB design software dll )!
2.4. Tetapkan design center pin layout PCB!
2.5. Periksa ulang layout artwork untuk menghindari kelalaian dan
kesalahan!
3. Buatlah Printing Artwork (kertas)!
3.1. Pahami jenis material untuk printing PCB !
3.2. Cetak layout PCB dalam bentuk Artwork pada media kertas transfer
material printing PCB!
3.3. Pahami dan tetapkan skala perbandingan printing PCB !
3.4. Pahami dan tetapkan orientasi Artwork (positive atau negative)!
4. Lakukan Iron Transfer Artwork!
4.1. Pahami dan terapkan keselamatan kerja terhadap proses transfer
artwork PCB !
4.2. Persiapkan kebutuhan peralatan dan bahan kimia Iron Transfer
Artwork !
4.3. Setting Printing Artwork pada PCB dan menjaga posisi Artwork PCB
sesuai Center Pin Artwork!
4.4. Jalankan proses Ironing !
4.5. Pahami dan antisipasi masalah-masalah PCB pada proses Ironing !
4.6. Lakukan tindakan pencegahan kecelakaan kerja sesuai dengan
persyaratan K3L yang berlaku!
5. Lakukan Laundry Sink !
5.1. Pahami dan terapkan keselamatan kerja terhadap bahaya tersengat
panas PCB !
5.2. Persiapkan kebutuhan laundry sink !
5.3. Lakukan proses soak/ perendaman dengan air mengalir!
5.4. Bersihkan kertas printing Artwork !
5.5. Pahami dan antisipasi Masalah-masalah proses Laundry Sink !
6. Lakukan Etching !
6.1. Pahami dan terapkan keselamatan kerja dan lingkungan terhadap
bahan kimia proses Etching !
6.2. Persiapkan kebutuhan peralatan dan bahan kimia Etching !
6.3. Persiapkan jenis bahan Etching !

Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan | 177


Kegiatan Pembelajaran 4

6.4. Ketahui dan tetapkan Komposisi pencampuran Etching (etchant


Mixture) !
6.5. Lakukan Etching dengan baik dan benar !
6.6. Hilangkan Photo-resist coating setelah etching!
6.7. Bersihkan Etching !
6.8. Pahami dan antisipasi masalah-masalah proses Etching !
7. Lakukan Cutting and Drilling!
7.1. Pahami dan terapkan perlakuan keselamatan kerja dan lingkungan
terhadap proses Cutting & Drilling !
7.2. Siapkan kebutuhan peralatan proses Cutting & Drilling !
7.3. Konfirmasi dan tetapkan diameter lubang PCB dan kesesuaian
diameter drill terhadap kaki komponen !
7.4. Lakukan Cutting dan Drilling dengan baik dan benar!
8. Lakukan masking (Bila diperlukan)!
8.1. Pahami dan tetapkan bagian layout PCB yang perlu di masking !
8.2. Persiapkan peralatan masking !
8.3. Lakukan proses masking dengan baik dan benar!
8.4. Tetapkan dan administrasikan catatan pelaksanaan pekerjaan
merancang dan membuat single layer PCB (Printed Circuit Board)
dibuat dengan menggunakan format yang sesuai dengan SOP!

LK 4.2 : Memproduksi proyek sebagai produk bengkel elektronika.

Tujuan Pembelajaran:

Setelah menyelesaikan kegiatan pembelajaran ini, peserta diharapkan dapat


memproduksi proyek sebagai produk bengkel elektronika dengan benar.

Alat-alat / Bahan:

1. Plier, tang potong, mistar, nipper, Wire stripper, pinset


2. Timah, flux, solder, busa, magnifier
3. Komponen sesuai daftar bahan pada PCB

Langkah Kerja:
Tugas 4.2a: Meng-assembly Komponen Elektronika pada PCB secara
Manual

178 | Modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan


`

Teknik Audio Video KK B

Kompetensi ini berkaitan dengan pengetahuan, keterampilan dan sikap kerja


yang dibutuhkan untuk merakit/memasang komponen-komponen elektronika
yang telah dispesifikasikan pada PCB sesuai dengan tempat dan
kedudukannya. Komponen-komponen tersebut dipasang secara manual
dengan bantuan alat-alat tertentu seperti plier, tang potong, mistar, nipper,
Wire stripper, pinset dan lain-lain sesuai standard kerja yang ada.
1. Pahami komponen Elektronika secara umum!
1.1. Identifikasi jenis macam komponen Resistor, Capasitor, Diode,
Elco, Transistor dengan pola sistematika komponen dikelompokkan
berdasar jenis dan spesifikasi teknik!
1.2. Pahami Simbol-simbol komponen Elektronika untuk mengasembly
secara benar!
1.3. Antisipasi masalah-masalah kerusakan komponen/ part karena
Elektrostatis maupun masalah handling part!
2. Pasang Part/Komponen!
2.1. Sesuaikan pemasangan komponen dengan simbol/ arah pattern
diagram dari PCB!
2.2. Tetapkan pemasangan komponen sesuai dengan Instruksi Kerja
dalam SOP!
2.3. Tetapkan tinggi part assembly, pemotongan kaki, pengupasan
wire, penekukan kaki disesuai dengan standard !
3. Periksa kelengkapan assembly dan kebersihannya!
3.1. Konfirmasikan komponen-komponen yang telah terpasang dengan
instruksi kerja yang ada!
3.2. Jaga PCB dan komponen dari kotoran dan kerusakan!
3.3. Bersihkan tempat kerja setelah menyelesaikan pekerjaan!

Tugas 4.2b: Menyolder Komponen Elektronik pada PCB secara Manual


Kompetensi ini berkaitan dengan pengetahuan, keterampilan dan sikap kerja
yang dibutuhkan untuk menyolder komponen-komponen elektronika yang
telah dispesifikasikan pada PCB sesuai dengan tempat dan kedudukannya.
Komponen-komponen tersebut disolder secara manual dengan bantuan
alat-alat tertentu seperti plier, tang potong, mistar, nipper,wire stripper,
pinset dan lain-lain sesuai standard kerja yang ada.

Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan | 179


Kegiatan Pembelajaran 4

1. Persiapkan peralatan penyolderan secara umum!


1.1. Identifikasi peralatan penyolderan standard seperti jenis timah, flux,
jenis solder, busa, magnifier, pinset, nipper dan lain-lain sesuai
standard!
1.2. Persiapkan peralatan solder sesuai instruksi kerja yang ditetapkan!
2. Menyolder komponen/ part pada PCB
2.1. Sesuai Jenis solder, Bit solder, daya solder, temperatur solder,
Solder wire dengan kondisi penyolderan!
2.2. Lakukan penyolderan dengan menjaga kesehatan dan
keselamatan kerja!
2.3. Bersihkan Bit solder dari kotoran!
2.4. Solder kaki komponen elektronik yang sudah terpasang di PCB
sesuai standard!
2.5. Solder jumper wire, vinyl wire, coper wire, pin connector pada
PCB sesuai standard!
2.6. Solder hubungan wire ke terminal dengan benar sesuai
persyaratan (Turrets, Cups, Slotted, Pierced, Bifurcated, Hooked)!
2.7. Penuhi Acceptance Criteria dengan baik!
3. Periksa hasil penyolderan dan kebersihannya!
3.1. Konfirmasikan hasil penyolderan komponen-komponen yang telah
terpasang berdasarkan Acceptance Criteria!
3.2. Jaga PCB dan komponen dari kotoran dan kerusakan!
3.3. Bersihkan tempat kerja setelah menyelesaikan pekerjaan!

LK 4.3 : Merencanakan panduan perakitan (buku manual) produk


bengkel elektronika memenuhi standar K3.

Tujuan Pembelajaran:

Setelah menyelesaikan kegiatan pembelajaran ini, peserta diharapkan dapat


merencanakan panduan perakitan (buku manual) produk bengkel elektronika
memenuhi standar K3 dengan benar.

Alat-alat / Bahan: Produk bengkel elektronika

Langkah Kerja:

180 | Modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan


`

Teknik Audio Video KK B

Rencanakan panduan perakitan (buku manual) produk bengkel elektronika


memenuhi standar K3 meliputi:

1. Mulailah dari awal produksi yaitu desain telah diperiksa, prototype telah
dibuat, review, dan membuat prototipe serta siap produksi PCB !

2. Uraikan proses perakitan elektronik biasanya berjalan melalui tujuh


langkah meliputi Paste Stenciling, Placement, Reflow, Manual Assembly,
Inspection and Testing, Washing, Packaging.

E. Latihan/Tugas

1. Bagaimana prosedur merancang desain proyek sebagai produk bengkel


elektronika?

2. Bagaimana prosedur memproduksi proyek sebagai produk bengkel


elektronika?

3. Bagaimana prosedur merencanakan panduan perakitan (buku manual)


produk bengkel elektronika memenuhi standar K3?

F. Rangkuman

1. Desain proyek sebagai produk bengkel elektronika

Tujuan desain proyek adalah:


a. merancang dan mengembangkan produk terbaru untuk memenuhi
keinginan pelanggan,
b. merancang dan mengembangkan produk untuk memenangkan
persaingan dari produk sejenis yang ada di pasaran,
c. merancang dan mengembangkan produk yang memiliki kegunaan
yang sangat praktis dan otomatis.
d. menciptakan pasar yang lebih baik dengan produk unggulan produk.

Langkah-langkah desain proyek:


a. menentukan produk yang akan dikembangkan beserta gambar produk
yang ada di pasaran,

Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan | 181


Kegiatan Pembelajaran 4

b. mendapatkan alasan pengembangan baik dari kemungkinan peluang-


peluang yang ada maupun dari kebutuhan pelanggan melalui proses
interview,
c. mengelompokkan interpretasi kebutuhan pelanggan untuk
mempermudah pengidentifikasian,
d. konsep desain produk alternatif,
e. pemilihan konsep desain terbaik,
f. menentukan spesifikasi dari produk yang terpilih,
g. membuat pernyataan misi dari konsep produk yang terpilih,
h. menentukan prinsip kerja dari konsep produk yang terpilih.

2. Produksi proyek sebagai produk bengkel elektronika

Jenis proses produksi ditinjau dari segi penyelesaian proses produksi.


Tujuan pemisahan proses produksi menurut segi penyelesaian proses ini
pada umumnya untuk mengadakan pengendalian kualitas dari proses
produksi di dalam perusahaan yang bersangkutan. Pada umumnya dapat
dibagi menjadi beberapa jenis, yaitu:
a. proses produksi tipe A, merupakan suatu tipe dari proses produksi
dimana dalam setiap tahap proses produksi yang dilaksanakan dalam
perusahaan dapat diperiksa secara mudah,
b. proses produksi tipe B, merupakan suatu proses produksi dimana di
dalam penyelesaian proses produksi dalam perusahaan yang
bersangkutan akan terdapat beberapa ketergantungan dari masing-
masing tahap proses produksi, pemeriksaan hanya dapat
dilaksanakan pada beberapa tahap tertentu saja,
c. proses produksi tipe C, perusahaan yang penyelesaian produksinya
termasuk di dalam kategori proses produksi tipe C ini adalah
perusahaan yang melaksanakan proses penggabungan atau
pemasangan (assembling),
d. Proses produksi tipe D, merupakan proses produksi yang
dilaksanakan dalam perusahaan dengan menggunakan mesin dan
peralatan produksi otomatis,

182 | Modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan


`

Teknik Audio Video KK B

e. proses produksi tipe E, merupakan proses produksi dari perusahaan-


perusahaan dagang dan jasa.
3. Panduan perakitan produk bengkel elektronika memenuhi standar
K3

Perakitan elektronik biasanya berjalan melalui tujuh langkah yaitu Paste


Stenciling, Placement, Reflow, Manual Assembly, Inspection and Testing,
Washing, Packaging

G. Umpan Balik dan Tindak Lanjut

1. Umpan Balik
Setelah mempelajari kegiatan pembelajaran ini, periksa penguasaan
pengetahuan dan keterampilan anda menggunakan daftar periksa di bawah
ini:

No Indikator Ya Tidak Bukti


1. Merancang desain proyek sebagai produk
bengkel elektronika
2. Memproduksi proyek sebagai produk
bengkel elektronika
3. Merencanakan panduan perakitan (buku
manual) produk bengkel elektronika
memenuhi standar K3

2. Tindak Lanjut
a. Buat rencana pengembangan dan implementasi di lingkungan bengkel
kerja anda.

b. Gambarkan suatu situasi atau isu di dalam bengkel/laboratorium anda


yang mungkin dapat anda ubah atau tingkatkan dengan
mengimplementasikan sebuah rencana tindak lanjut.

c. Apakah judul rencana tindak lanjut anda?

d. Apakah manfaat/hasil dari rencana aksi tindak lanjut anda tersebut?

e. Uraikan bagaimana rencana tindak lanjut anda memenuhi kriteria SMART


(spesifik, dapat diukur, dapat dicapai, relevan, rentang/ketepatan waktu).

Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan | 183


`

Teknik Audio Video KK B

Pengembangan Soal

(Lembar Kerja Pengembangan Soal)

Petunjuk:
1) Bacalah bahan bacaan Modul Penilaian dan Evaluasi Pembelajaran
Kelompok Kompetensi H (Pedagogik).
2) Buatlah 2 (dua) soal pilihan ganda dan 2 (dua) soal uraian HOTS (Higher
Order Thinking Skill) untuk tiap kegiatan pembelajaran dari modul Teknik
Kerja Bengkel.
3) Dalam pembuatan soal pilihlah standar kompetensi guru (dapat Anda lihat
pada sub bab Peta Kedudukan Modul) dan indikator pencapaian kompetensi
pada tiap kegiatan pembelajaran
4) Masing-masing soal dituliskan dalam tabel kisi – kisi soal.
Kompetensi Keahlian : Audio Video
Kelompok Kompetensi : B
Modul : Teknik Kerja Bengkel
Standar Kompetensi Guru Indikator Esensial/
Kompetensi Bentuk Soal
No Kompetensi Kompetensi Guru Indikator Pencapaian
Utama
Inti Guru Paket Keahlian Kompetensi (IPK)

2.1.1. Menguraikan
2.1. Menganalisis Pilihan Ganda
symbol K3 berdasarkan
aturan K3 sesuai / Uraian
standar
standar
2.1.2. Mengidentifikasi
(Depnaker, Pilihan Ganda
peralatan K3 sesuai jenis
OSHA). / Uraian
dan fungsinya
Menguasai
2.2.1. Memeriksa kaidah- Pilihan Ganda
materi,
kaidah K3 sesuai standar / Uraian
struktur,
konsep dan 2.2. Mengevaluasi 2.2.2. Memeriksa kaidah-
Pilihan Ganda
pola pikir kaidah-kaidah K3, kaidah kerja bangku
1 Profesional sesuai standar / Uraian
keilmuan yang kerja bangku,
mendukung teknik sambung, 2.2.3. Memeriksa kaidah-
Pilihan Ganda
mata dan tatakelola kaidah teknik sambung
sesuai standar / Uraian
pelajaran bengkel.
yang diampu 2.2.4. Memeriksa kaidah-
Pilihan Ganda
kaidah tata kelola bengkel
sesuai standar / Uraian
2.3. Mengevaluasi 2.3.1. Menemukan
penggunaan kesalahan secara Pilihan Ganda
standard K3, kerja sistimatis tentang / Uraian
bangku, teknik penggunaan standard K3

Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan | 185


Pengembangan Soal

Standar Kompetensi Guru Indikator Esensial/


Kompetensi Bentuk Soal
No Kompetensi Kompetensi Guru Indikator Pencapaian
Utama
Inti Guru Paket Keahlian Kompetensi (IPK)

sambung, dan tata 2.3.2. Menemukan


kelola bengkel. kesalahan secara
Pilihan Ganda
sistimatis tentang
prosedur penggunaan / Uraian
peralatan kerja bangku
2.3.3. Menemukan
kesalahan secara
Pilihan Ganda
sistimatis tentang
prosedur penggunaan / Uraian
peralatan teknik sambung
2.3.4.Menemukan
kesalahan secara
sistimatis tentang Pilihan Ganda
prosedur perawatan dan / Uraian
perbaikan peralatan
bengkel
2.4.1. Merancang desain
Pilihan Ganda
proyek sebagai produk
bengkel elektronika / Uraian
2.4.2. Memproduksi
Pilihan Ganda
2.4. Mengkreasi proyek sebagai produk
proyek bengkel bengkel elektronika / Uraian
elektronika. 2.4.3. Merencanakan
panduan perakitan (buku
Pilihan Ganda
manual) produk bengkel
elektronika memenuhi / Uraian
standar K3.

A. Kaidah Penulisan Soal Bentuk Pilihan Ganda

a. Materi
 Soal harus sesuai dengan indikator soal dalam kisi-kisi.
 Pilihan jawaban harus homogen dan logis ditinjau dari segi materi. Artinya
semua pilihan jawaban harus berasal dari materi yang sama seperti yang
terkandung dalam pokok soal, penulisannya harus setara, dan semua pilihan
jawaban harus berfungsi.
 Setiap soal harus mempunyai satu jawaban yang benar atau yang paling
benar.
b. Konstruksi
 Pokok soal harus dirumuskan secara jelas dan tegas.
 Rumusan pokok soal dan pilihan jawaban harus merupakan pernyataan
yang berkaitan dengan materi yang ditanyakan.
 Pokok soal jangan memberi petunjuk ke arah jawaban yang benar.
 Pokok soal jangan mengandung pernyataan yang bersifat negatif ganda.
 Panjang rumusan pilihan jawaban harus relatif sama.

186 | Modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan


`

Teknik Audio Video KK B

 Pilihan jawaban jangan mengandung pernyataan, "Semua jawaban salah",


atau "Semua jawaban benar".
 Pilihan jawaban yang berbentuk angka harus disusun berdasarkan urutan
besar kecilnya nilai angka tersebut, dan pilihan jawaban berbentuk angka
yang menunjukkan waktu harus disusun secara kronologis.
 Gambar, grafik, tabel, diagram, dan sejenisnya yang terdapat pada soal
harus jelas dan berfungsi.
 Butir materi soal jangan bergantung pada jawaban soal sebelumnya.
c. Bahasa
 Setiap soal harus menggunakan bahasa yang sesuai dengan kaidah Bahasa
Indonesia.
 Jangan menggunakan bahasa yang berlaku setempat.
 Pilihan jawaban jangan mengulang kata atau frase yang bukan merupakan
satu kesatuan pengertian. Letakkan kata tersebut pada pokok soal.

B. Kaidah penulisan soal uraian

a. Materi
 Soal harus sesuai dengan indikator
 Batasan jawaban yang diharapkan harus jelas
 Isi materi sesuai dengan pelajaran
 Isi materi yang ditanyakan sudah sesuai dengan jenjang sekolah/kelas
b. Konstruksi
Rumusan kalimat soal harus menggunakan kata tanya/perintah yang menuntut
jawaban terurai.
Buatkan petunjuk yang jelas tentang cara mengerjakan soal
Buatlah pedoman penskoran segera setelah soal disusun dengan pendekatan
skor 1 benar dan salah 0.
Hal-hal yang menyertai soal: tabel, gambar, grafik, peta, atau yang sejenisnya
harus disajikan dengan jelas dan terbaca.
c. Bahasa
Butir soal menggunakan kalimat yang sederhana dan komunikatif

Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan | 187


Pengembangan Soal

Butir soal tidak mengandung kata yang dapat menyinggung perasaan siswa
Butir soal tidak menggunakan kata yang menimbulkan penafsiran ganda

188 | Modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan


`

Teknik Audio Video KK B

KARTU SOAL
Kompetensi Keahlian :
Kelompok Kompetensi :
Nama Penyusun :

Standar Kompetensi Buku Sumber:


Guru
Soal

Materi

Indikator

No. Soal Kunci Jawaban

Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan | 189


`

Teknik Audio Video KK B

Kunci Jawaban Kegiatan Pembelajaran

A. Kegiatan Pembelajaran 1

1. Uraikan simbol K3 berdasarkan standar!

Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan | 191


Kunci Jawaban Kegiatan Pembelajaran

2. Identifikasi peralatan K3 sesuai jenis dan fungsinya!


Setiap orang yang bekerja dengan peralatan baik peralatan manual
ataupun otomatis wajib mengetahui perlengkapan perlindungan diri.
 pakaian kerja yang dipakai oleh operator harus mempunyai syarat-
syarat tidak mengganggu pergerakan tubuh operator dan tidak terasa
panas waktu dipakai,
 sepatu yang dikenakan oleh operator harus benar-benar dapat
memberikan perlindungan terhadap kaki operator. Berdasarkan
standart yang telah ditentukan bahwa sepatu kerja dibuat dari bahan
kulit, sedangkan alas dibuat dari karet yang elastis tetapi tidak mudah
rusak karena berinteraksi dengan minyak pelumas (oli) dan biasanya
untuk bagian ujung masih dilapisi oleh plat besi yang digunakan untuk
melindungi kaki apabila terjatuh oleh benda-benda yang berat,
 kaca mata digunakan untuk melindungi mata operator dari bram-bram
yang melayang pada saat kerja di mesin perkakas. Oleh karena itu
kaca mata yang dipakai oleh operator harus memenuhi syarat-syarat
berikut: mampu menutup semua bagian-bagian mata dari
kemungkinan terkena bram, tidak mengganggu penglihatan operator
dan yang terakhir harus memiliki lubang sebagai sirkulasi udara ke
mata,
 helm digunakan untuk melindungi kepala dari benda-benda yang jatuh
dari atas pada saat bekerja. Helm harus terbuat dari bahan yang kuat
dan tidak mudah pecah jika terkena serpihan benda dari atas,
 masker pelindung digunakan apabila benda kerja yang dikerjakan
menimbulkan serbuk atau debu, bau seperti bahan kayu,
plastik,aluminium atau bau yang menyengat,
 sarung tangan digunakan untuk melindungi diri dari benda kerja yang
dikerjakan panas atau yang mengandung bahan kimia,
 untuk menghindari suara yang berlebihan ditempat kerja, sebaiknya
menggunakan pelindung telinga. Suara bising bisa berdampak pada
kesehatan apabila terjadi secara berulang-ulang dalam kurun waktu
yang cukup lama, terutama gangguan pendengaran,

192 | Modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan


`

Teknik Audio Video KK B

 dalam mempergunakan peralatan tangan untuk melindungi dari


kecelakaan antara lain: hanya peralatan dengan mempergunakan
bahan perkakas dari kwalitas baik yang dipakai, memilih peralatan
dengan kekerasan yang benar. Untuk peralatan yang bersifat keras
akan timbul serpihan pada pangkal, untuk yang bersifat lunak benda
itu akan majal pada pangkal, memilih peralatan yang sesuai dengan
genggaman ukuran tangan, pada bagian yang mengandung
tegangan/arus listrik, pergunakanlah peralatan yang memakai isolasi
dan sebagainya,
 pada pengaman mesin bor ini difungsikan supaya serpihan-serpihan
(bram) hasil sayatan tidak mengenai operator. Selain serpihan
sayatan yang terlempar terkadang air pendingin juga ikut tercecer
kemana-mana bersamaan putaran spindel. Hal ini jika dibiarkan akan
mengakibatkan lantai menjadi basah dan operator bisa jatuh
terpeleset,
 keselamatan kerja dalam menggunakan mesin perkakas konvensional
meliputi: gunakanlah pakaian kerja, jangan memakai cincin pada jari
tangan, pakailah kacamata pengaman dan penutup rambut, jepitlah
benda kerja dengan kokoh, terutama benda kerja yang cenderung
bergetar, seperti benda kerja tipis, khusus pengoperasian mesin bor
berilah alat penyangga pada benda kerja yang menonjol panjang dari
meja bor, jika pendinginan pada mesin perkakas tidak bekerja
otomatis, maka lebih baik berilah cairan pendingin menggunakan
kuas, dan usahakan agar lantai selalu bersih dan benda-benda
ditumpuk dengan baik untuk menghindari timbulnya kecelakaan.

B. Kegiatan Pembelajaran 2

1. Tunjukkan kaidah-kaidah K3 sesuai standar !

 UU No. 1 Tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja, sedangkan


peraturan perundang-undangan ketenagakerjaan sebelumnya seperti
UU Nomor 12 Tahun 1948 tentang Kerja, UU No. 14 Tahun 1969

Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan | 193


Kunci Jawaban Kegiatan Pembelajaran

tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Mengenai Tenaga Kerja tidak


menyatakan secara eksplisit konsep K3 yang dikelompokkan sebagai
norma kerja. Setiap tempat kerja atau perusahaan harus
melaksanakan program K3.

 Menurut Standar OSHA utama yang berlaku untuk semua


laboratorium nonproduction, Pengusaha harus menyadari
sepenuhnya standar dan harus menerapkan semua aspek dari
standar yang berlaku untuk kondisi kerja laboratorium khusus di
fasilitas mereka, seperti:
 The Occupational Exposure to Hazardous Chemicals in
Laboratories standard (29 CFR 1910.1450),
 The Hazard Communication standard (29 CFR 1910.1200)
 The Bloodborne Pathogens standard (29 CFR 1910.1030)
 The Personal Protective Equipment (PPE) standard (29 CFR
1910.132)
 The Eye and Face Protection standard (29 CFR 1910.133)
 The Respiratory Protection standard (29 CFR 1910.134)
 The Hand Protection standard (29 CFR 1910.138)
 The Control of Hazardous Energy standard (29 CFR
1910.147)

2. Tunjukkan kaidah -kaidah teknik sambung sesuai standar !

a. Berdasarkan fungsinya, kabel dapat digunakan sebagai :

 penghantar arus listrik tenaga (Power Cable), jenis kabel yang


sering digunakan pada instalasi penerangan maupun instalasi
tenaga adalah NYA, NYAF, NYM, NYMHY, NYY, NYFGBY dan
lain-lain. Penentuan besar kecil dan jumlah serabut/inti yang
digunakan dapat diketahui dari Persyaratan Umum Instalasi Listrik
(PUIL),

 penghantar arus listrik data dan informasi, seperti kabel telepon


(aerial cable (kabel atas tanah), indoor cable (kabel rumah),

194 | Modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan


`

Teknik Audio Video KK B

burial cable (kabel tanam) dll), kabel koaksial,kabel serat


optik,

 standar kabel pada perangkat audio-video seperti: coaxial


composit, RCA-komposit, s-video 3RCA,5 RCA.

b. Berdasarkan cara menyambung, teknik sambung dapat dibedakan:

 menyambung kabel cara ekor babi (pig tail), sambungan ini


digunakan untuk menyambung atau mencabangkan satu atau
beberapa kabel pada satu titik. Penyambungan cara ini sering
dijumpai pada kotak sambung dan umumnya dipasang "lasdop"
sebagai pengikat dan sekaligus sebagai isolasi,

 menyambung kabel cara punter, sambungan ini digunakan untuk


menyambung antara dua kabel yang berbentuk satu garis lurus.
Menyambung cara puntir ini dibedakan menjadi dua jenis yaitu
sambungan bell hangers dan sambungan western union,

 menyambung kabel cara bolak balik (Turn Back), menyambung


cara bolak balik ini dimaksudkan untuk mendapatkan sambungan
yang lebih kuat terhadap rentangan maupun tarikan. Umumnya
kabel yang digunakan untuk sambungan ini adalah kabel dengan
penampang 4 mm2 karena mudah ditekuk dan dipuntir dengan
tangan. Untuk kabel yang ukuran lebih besar dilakukan dengan
cara sambungan bolak balik “Britannia“ atau dengan model
sambungan “Scarf“,

 menyambung kabel bernadi banyak, menyambung kabel bernadi


banyak tidak bisa dilakukan dengan cara-cara menyambung kabel
bernadi tunggal seperti yang dipraktekkan diatas, sebab hasilnya
tidak akan bagus dan tidak rapi. Untuk itu perlu cara khusus yaitu
dengan menganyam sesuai dengan arah alurnya atau yang lebih
dikenal dengan cara “Single Wrapped Cable Spice”,

 mencabang kabel datar (Plain joint), pada hantaran yang panjang,


misalnya antara rol-rol sekat dapat dilakukan pencabangan tanpa
harus memutus kabel utamanya, melainkan hanya dikupas

Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan | 195


Kunci Jawaban Kegiatan Pembelajaran

kabelnya sepanjang kebutuhan. Bentuk pencabangan datar ini


bisa untuk cabang tunggal (Single Plain joint) atau bisa juga dalam
bentuk cabang ganda (Cross Plain Joint),

 memcabang kabel simpul (Knotted tap joint), Pencabangan kabel


dengan cara ini akan menghasilkan jenis pencabangan kabel
datar yang lebih kuat. Untuk itu bentuknya hampir menyerupai
pencabangan datar. Bentuk pencabangan datar ini bisa untuk
cabang simpul tunggal atau bisa juga dalam bentuk cabang simpul
ganda.

c. Papan Rangkaian Tercetak (PRT), atau sering juga disebut PCB


(Printed Circuit Board) merupakan papan pemasangan komponen
elektronika yang jalur hubungannya menggunakan papan berlapis
tembaga. Pembentukan jalur PCB dilakukan dengan cara etching
(pelarutan), dimana sebagian tembaga dilepaskan secara kimia dari
suatu papan lapis tembaga kosong (blangko). Tembaga yang tersisa
beserta alasnya itulah yang akan membentuk jalur pengawatan PCB.

3. Tunjukkan kaidah -kaidah tata kelola bengkel sesuai standar !

Penyimpanan/pengelolaan alat, peralatan dan bahan laboratorium


merupakan bagian dari manajemen laboratorium. Manajemen
Laboratorium (Laboratory Management) adalah usaha untuk mengelola
laboratorium berdasar konsep manajemen baku. Bagaimana suatu
laboratorium dapat dikelola dengan baik sangat ditentukan oleh beberapa
faktor yang sangat berkaitan satu dengan lainnya. Beberapa peralatan
laboratorium yang canggih dengan staf profesional yang terampil, belum
tentu dapat beroperasi dengan baik , jika tidak didukung oleh adanya
manajemen laboratorium yang baik.

Untuk mengelola laboratorium dengan baik kita harus mengenal


perangkat-perangkat manajemen yang harus dikelola meliputi: Tata
ruang, Alat dan peralatan yang baik dan terkalibrasi, Infrastruktur,
Administrasi laboratorium, Organisasi laboratorium, Fasilitas pendanaan,
Inventarisasi dan keamanan, Pengamanan laboratorium, Disiplin yang

196 | Modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan


`

Teknik Audio Video KK B

tinggi, Keterampilan SDM, Peraturan Dasar, Penanganan masalah umum


dan Jenis-jenis pekerjaan.

C. Kegiatan Pembelajaran 3

1. Tunjukkan kesalahan secara sistimatis tentang penggunaan standard K3!


Penggunaan Alat Pelindung Diri yang tidak dipakai secara baik dan
benar yaitu:
a. Alat Pelindung Diri yang tidak memiliki SNI atau standar Internasional
lainnya yang diakui,
b. pemakaian alat pelindung diri yang tidak sesuai dengan jenis
pekerjaan walaupun pekerjaan tersebut hanya memerlukan waktu
singkat,
c. Alat Pelindung Diri tidak dipakai dengan tepat dan benar,
d. ketidak nyamanan dalam memakai alat pelindung diri sehingga
dijadikan alasan untuk menolak memakainya,
e. Alat Pelindung Diri boleh diubah-ubah pemakaiannya .
f. Alat Pelindung Diri tidak dijaga agar tetap berfungsi dengan baik.
g. semua pekerja, pengunjung dan mitra kerja ke tempat/lokasi/
bengkel/laboratorium/proyek yang mewajibkan menggunakan APD
tidak harus memakai alat pelindung diri yang diwajibkan seperti
Topi Keselamatan dll.
2. Tunjukkan kesalahan secara sistimatis tentang prosedur penggunaan
peralatan kerja bangku!
Beberapa kesalahan secara sistimatis tentang prosedur penggunaan
peralatan kerja bangku seperti berikut:
a. adanya kesamaan fungsi antara penggores, penitik dan jangka
penusuk,
b. adanya kesamaan fungsi antara palu lunak bahan plastik, kayu,
karet, kulit, tembaga, timah dll.
3. Tunjukkan kesalahan secara sistimatis tentang prosedur penggunaan
peralatan teknik sambung!

Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan | 197


Kunci Jawaban Kegiatan Pembelajaran

Beberapa kesalahan secara sistimatis tentang prosedur penggunaan


peralatan teknik sambung seperti berikut:
a. menaruh alat solder tidak pada stand solder, sehingga keselamatan
kerja tidak terjaga. Ujung solder yang panas bisa membakar meja,
kabel solder, dll,
b. memegang solder seperti memegang handle pancing pada bagian
pegangan (handle ) solder,
c. mengangkat solder tidak bersama-sama timah sehingga bentuk
solderan tidak lancip dan kusam / tidak mengkilat.
4. Tunjukkan kesalahan secara sistimatis tentang prosedur perawatan dan
perbaikan peralatan bengkel!

Tidak tersedianya pengendalian pengelolaan dan pengadmistrasian yang


memerlukan perangkat instrument yang berupa buku, lembar dan kartu,
meliputi:
a. kartu stok; warna kartu dibedakan untuk masing-masing jenis
peralatan sesuai dengan pengelompokkannya,
b. buku inventaris; memuat nomor sandi, nama alat, ukuran, merek/tipe,
produsen, asal tahun, jumlah dan, kondisi,
c. daftar peralatan; memuat kode, nama alat, dan jumlah alat,
d. buku harian; digunakan untuk mencatat setiap kejadian yang terjadi
dan yang berkaitan dengan kegiatan di tempat kerja,
e. label; memuat kode alat, nama alat, jumlah dan kondisi alat. Label
dipasang di tempat penyimpanan alat,
f. format permintaan alat.

D. Kegiatan Pembelajaran 4

1. Bagaimana prosedur merancang desain proyek sebagai produk bengkel


elektronika ?
a. Menentukan produk yang akan dikembangkan beserta gambar produk
yang ada di pasaran

198 | Modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan


`

Teknik Audio Video KK B

b. Mendapatkan alasan pengembangan baik dari kemungkinan peluang-


peluang yang ada maupun dari kebutuhan pelanggan melalui proses
interview.
c. Mengelompokkan interpretasi kebutuhan pelanggan untuk
mempermudah pengidentifikasian.
d. Konsep Desain produk alternatif.
e. Pemilihan Konsep Desain terbaik.
f. Menentukan spesifikasi dari produk yang terpilih.
g. Membuat pernyataan misi dari konsep produk yang terpilih.
h. Menentukan prinsip kerja dari konsep produk yang terpilih

2. Bagaimana prosedur memproduksi proyek sebagai produk bengkel


elektronika?

a. Proses produksi tipe A, suatu tipe dari proses produksi dimana dalam
setiap tahap proses produksi yang dilaksanakan dalam perusahaan
dapat diperiksa secara mudah. Dengan demikian pengendalian
proses dapat dilaksanakan pada setiap tahap proses, sesuai dengan
yang dikehendaki oleh manajemen perusahaan yang bersangkutan.

b. Proses produksi tipe B, suatu proses produksi dimana di dalam


penyelesaian proses produksi dalam perusahaan yang bersangkutan
akan terdapat beberapa ketergantungan dari masing-masing tahap
proses produksi, pemeriksaan hanya dapat dilaksanakan pada
beberapa tahap tertentu saja. Dengan demikian pengendalian proses
produksi yang dilaksanakan dalam perusahaan akan terbatas kepada
beberapa tahap proses yang dapat diperiksa secara mudah.

c. Proses produksi tipe C, perusahaan yang melaksanakan proses


penggabungan atau pemasangan (assembling). Pelaksana proses
produksi dalam perusahaan tersebut dilakukan dengan pemasangan
atau penggabungan komponen-komponen produk.

f. Proses produksi tipe D, proses produksi yang dilaksanakan dalam


perusahaan dengan menggunakan mesin dan peralatan produksi
otomatis. Mesin dan peralatan produksi yang dipergunakan dalam
perusahaan tersebut dilengkapi dengan beberapa peralatan khusus

Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan | 199


Kunci Jawaban Kegiatan Pembelajaran

untuk melaksanakan pengendalian proses produksi dalam


perusahaan yang bersangkutan.

g. Proses produksi tipe E, proses produksi dari perusahaan-perusahaan


dagang dan jasa. Pelaksanaan proses produksi yang agak berbeda
dengan perusahaan-perusahaan semacam ini menjadi agak berbeda
dengan beberapa perusahaan yang melaksanakan processing dalam
proses produksi yang dilaksanakan dalam perusahaan yang
bersangkutan.

3. Bagaimana prosedur merencanakan panduan perakitan (buku manual)


produk bengkel elektronika memenuhi standar K3?

Perakitan elektronik biasanya berjalan melalui tujuh langkah yaitu Paste


Stenciling, Placement, Reflow, Manual Assembly, Inspection and Testing,
Washing, Packaging.

200 | Modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan


`

Teknik Audio Video KK B

Evaluasi

A. Soal Evaluasi

Pilihlah jawaban yang anda anggap paling benar


1. Ketentuan Pokok Mengenai Tenaga Kerja, disebutkan bahwa “Tiap tenaga
kerja berhak mendapat perlindungan atas keselamatan, kesehatan,
kesusilaan, dan pemeliharaan moral kerja serta perlakuan yang sesuai
dengan martabat manusia, moral dan agama. Hal ini tercantum dalam
undang-undang Republik Indonesia:
A. UU No.1 Tahun 1969
B. UU No. 14, Tahun 1969
C. UU No.1 Tahun 1970
D. UU No.14 Tahun 1970
2. Undang-Undang yang mengatur tentang keselamatan kerja di segala tempat
kerja, baik di darat, di dalam tanah, di permukaan air, di dalam air, maupun
di udara yang berada di wilayah kekuasaan hukum Republik Indonesia
adalah:
A. UU No.1 Tahun 1969
B. UU No. 14, Tahun 1969
C. UU No.1 Tahun 1970
D. UU No.14 Tahun 1970
3. Gambar simbol keselamatan kerja berikut menunjukkan pentingnya
penggunaan peralatan K3, yaitu ….
A. masker Las
B. pelindung mata
C. respirator
D. pelindung wajah
4. Pada saat melakukan pekerjaan mengebor plat aluminium, alat kelengkapan
keselamatan yang sesuai dengan kaidah K3 adalah ….

Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan | 201


Evaluasi

A B C D
5. Rambu-rambu warna yang harus diperhatikan dalam penerapan K3 yang
berupa warna merah dengan kontras warna putih dan gambar berwarna
hitam berarti ....
A. hati hati/bahaya
B. larangan/berhenti
C. aman/PPPK
D. perintah/anjuran
6. Untuk menggergaji bahan pejal tembaga, kuningan, besi tuang maka
digunakan gergaji dengan ukuran mata gigi ….
A. 22 – 24 inchi
B. 28 – 32 inchi
C. 14 - 18 inchi
D. 10 - 12 inchi
7. Salah satu tujuan inventarisasi peralatan di bengkel/laboratorium adalah ....
A. menambah biaya-biaya operasional
B. mengontrol kehilangan dan penyalahgunaan alat
C. pemakaian akan semakin berlebihan
D. mencegah proses pekerjaan karena harus sesuai dengan SOP
8. Salah satu kesalahan yang terjadi saat melakukan pekerjaan mengebor plat
besi adalah ….
A. memakai sarung tangan kulit
B. tidak memakai penutup hidung
C. tidak memakai kacamata karena biar penglihatan lebih jelas
D. memakai sepatu K3
9. Salah satu kesalahan yang terjadi secara sistimatis tentang prosedur
penggunaan peralatan kerja bangku dalam meratakan, membentuk pelat
dari bahan stainless steel atau galvanis adalah menggunakan alat ....
A. palu kayu
B. palu karet

202 | Modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan


`

Teknik Audio Video KK B

C. palu kulit
D. palu lunak / mallet
10. Untuk melindungi diri dari benda kerja yang dikerjakan panas atau yang
mengandung bahan kimia, maka diwajibkan memakai alat pelindung diri
berupa....
A. masker
B. sarung tangan
C. pakaian kerja
D. helm
11. Kabel jenis standar dengan tembaga sebagai penghantar berisolasi PVC
dan berselubung PVC adalah ....
A. NYA
B. NYAF
C. NYM
D. NYMHY
12. Kabel yang memiliki impedansi rendah sekitar 80 ohm, redaman yang
rendah dan umumnya digunakan untuk frequensi tinggi disebut ....
A. Coaxial cable
B. Telephone cable
C. Buried cable
D. Aerial cable
13. Untuk kabel yang ukuran lebih besar dilakukan dengan cara sambungan
“Britannia“ atau dengan model sambungan “Scarf“, sambungan ini disebut
....
A. Menyambung kabel cara puntir
B. Menyambung kabel cara ekor babi (pig tail)
C. Menyambung kabel cara bolak balik ( Turn Back )
D. Mencabang kabel datar (Plain joint)
14. Bahan yang mudah terbakar berupa larutan yang mudah terbakar termasuk
kelas kebakaran ....
A. Kelas A
B. Kelas B
C. Kelas C
D. Kelas D

Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan | 203


Evaluasi

15. Kesalahan secara sistimatis tentang penggunaan standard K3 berikut adalah


....
A. Pemakaian alat pelindung diri yang sesuai dengan jenis pekerjaan
walaupun pekerjaan tersebut hanya memerlukan waktu singkat.
B. Alat Pelindung Diri dipakai dengan tepat dan benar.
C. Kenyamanan dalam memakai alat pelindung diri sehingga tidak
dijadikan alasan untuk menolak memakainya
D. Alat Pelindung Diri boleh memiliki SNI atau standar Internasional lainnya
yang diakui.
16. Kesalahan secara sistimatis tentang prosedur penggunaan peralatan kerja
bangku berikut adalah....
A. Palu lunak atau mallet digunakan untuk meratakan, membentuk pelat
dengan tanpa ada bekas pemukulan pada permukaan pelat.
B. Kepala palu lunak terbuat dari bahan plastik, kayu, karet, kulit, tembaga,
timah dll. dengan kepala palu yang dapat diganti apabila terjadi
kerusakan atau keausan.
C. Palu kayu, digunakan untuk membentuk pelat dari bahan stainless steel
atau galvanis.
D. Palu plastik dan karet, digunakan pada pembentukan pelat-pelat lunak
yang relatif tebal
17. Untuk mengetahui apakah kebutuhan pelanggan telah terpenuhi,
mengidentifikasi beberapa kelemahan yang harus diperbaiki selama proses
pengembangan selanjutnya merupakan alah satu pengembangan desain
proyek sebagai produk yaitu ....
A. Penyusunan konsep
B. Pemilihan konsep
C. Pengujian konsep
D. Penetapan spesifikasi target
18. Suatu proses produksi dimana di dalam penyelesaian proses produksi dalam
perusahaan yang bersangkutan akan terdapat beberapa ketergantungan dari
masing-masing tahap proses produksi, pemeriksaan hanya dapat
dilaksanakan pada beberapa tahap tertentu saja. Dengan demikian
pengendalian proses produksi yang dilaksanakan dalam perusahaan akan

204 | Modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan


`

Teknik Audio Video KK B

terbatas kepada beberapa tahap proses yang dapat diperiksa secara mudah
disebut....
A. Proses produksi tipe A
B. Proses produksi tipe B
C. Proses produksi tipe C
D. Proses produksi tipe D
19. Suatu proses dimana papan PCB diletakkan pada ban berjalan yang
bergerak perlahan-lahan melalui oven besar, memperlihatkan papan untuk
cukup panas untuk melelehkan solder (sekitar 250° C!). Sebagai papan
bergerak melalui oven, itu pertemuan zona suhu yang berbeda, yang
memungkinkan untuk pemanasan dan pendinginan pada tingkat yang
terkendali, disebut proses....
A. Reflow
B. Pick and Place
C. Stenciling
D. Soldering
20. Salah satu kesalahan yang terjadi saat melakukan pekerjaan
menyolder rangkaian adalah ….
A. tidak memakai kacamata
B. tidak memakai penutup telinga
C. tidak memakai penutup hidung
D. tidak memakai sarung tangan

Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan | 205


Evaluasi

B. Kunci Jawaban Evaluasi

1. B 6. C 11. C 16. D
2. C 7. B 12. A 17. C
3. A 8. C 13. C 18. B
4. D 9. D 14. B 19. A
5. B 10. B 15. D 20. C

206 | Modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan


`

Teknik Audio Video KK B

Penutup

A. Kesimpulan

Setelah menyelesaikan tahab demi tahap dalam mengikuti pembelajaran


Modul Program Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan bagi guru tentang
Teknik Kerja Bengkel ini peserta dapat:
1. menganalisis aturan K3 sesuai standar (Depnaker, OSHA) dengan
benar,
2. mengevaluasi kaidah-kaidah K3, kerja bangku, teknik sambung, dan tata
kelola bengkel sesuai standar dengan benar,
3. mengevaluasi penggunaan standard K3, kerja bangku, teknik sambung,
dan tata kelola bengkel sesuai standar dengan benar,
4. mengkreasi proyek bengkel elektronika sebagai implementasi K3, kerja
bangku, teknik sambung dan montase, serta tata kelola bengkel sesuai
standar dengan benar.

Kemampuan ini merupakan bagian dari pengembangan keprofesian


berkelanjutan sehingga para guru dapat mengembangkan keilmuan yang
diampunya secara kreatif di lingkup pendidikan kejuruan yang akan
menyumbang pengembangan profesi di Kompetensi Keahlian Teknik
Elektronika Audio Video.

Program Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan bagi Guru untuk modul


Teknik Kerja Bengkel ini diharapkan dapat memberikan kontribusi dan
manfaat dalam mendukung upaya guru dalam meningkatkan kompetensi dan
mengintegrasikan nilai-nilai pendidikan karakter dalam setiap kegiatan
pembelajaran maupun segala sisi kehidupan peserta didik. Dengan demikian
diharapkan guru dapat mengembangkan potensi intelektual dan karakter
peserta didik.

Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan | 207


Penutup

B. Tindak Lanjut

1. Peserta dimohon membuat rencana pengembangan dan implementasi di


lingkungan bengkel kerja anda berkaitan dengan 4 topik pembelajaran
yang sudah anda pelajari.
2. Peserta dimohon bisa menggambarkan suatu situasi atau isu di dalam
bengkel/laboratorium anda yang mungkin dapat anda ubah atau
3. Peserta dimohon menguraikan bagaimana rencana tindak lanjut anda
memenuhi kriteria SMART (spesifik, dapat diukur, dapat dicapai, relevan,
rentang/ketepatan waktu).

208 | Modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan


`

Teknik Audio Video KK B

Daftar Pustaka

1. Asnawi, Modul Pelaksanaan Pemeliharaan/Servis Kmponen


https://deltama13nugraha.files.wordpress.com/
2. Attitude Skills for Success at Work and in Life.
http://www.alliancetac.com/?PAGE_ID=2465
3. DS Walia, Jane Huria, and Ismael Cordero,. 2010. Equipment maintenance
and repair, http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC2975114/
4. Electronics Assembly
https://learn.sparkfun.com/tutorials/electronics-assembly
5. https://www.osha.gov/dte/grant_materials/fy07/sh-16615-
07/arc_flash_handout.pdf
6. I Komang Sumardika, Drs. , 2005, Ketrampilan dasar perbengkelan
7. Manajemen Bengkel, http://www.scribd.com/doc/105931877/ Manajemen
Bengkel.htm
8. Marfuatun, S.Pd.Si, mengakses lembar data keselamatan bahan di internet
9. Perawatan dan pemeliharaan peralatan laboratorium,
http://ekapakketu.blogspot.com/2011/07/perawatan-dan-pemeliharaan-
peralatan.html
10. Perawatan Peralatan Bengkel,
http://peralatan.wordpress.com/2012/11/26/perawatan-peralatan-
bengkel.htm
11. Pristiadi Utomo, 2011, Pengelolaan Alat dan Bahan Laboratorium Fisika,
12. Product Safety and Quality TUV Rheinland of North America, Inc.
13. PT. Pembangunan Sarana Perkasa, 2012, Sistem Manajemen Integrasi,
Jakarta
14. Sukir, Drs,.MT. 2013. Jobsheet Praktek Instalasi Listrik Residential,
Fakultas Teknik Universitas Negeri Yogyakarta
15. Tim Kurikulum SMK Perkapalan Fakultas Teknologi Kelautan ITS, 2003,
Menyambung dan mencabang kabel, Direktorat Pendidikan Menengah
Kejuruan
16. World Health Organization 2011, Introduction to medical equipment
inventory managemet, Switzerland : WHO Press

Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan | 209


`

Teknik Audio Video KK B

Glosarium

the Centers for Disease : adalah badan Departemen Kesehatan dan Layanan
Control and Prevention Masyarakat Amerika Serikat yang berbasis di
CDC DeKalb County, Georgia berdekatan dengan
kampus Universitas Emory dan sebelah timur kota
Atlanta. Badan ini berfungsi untuk meningkatkan
kesehatan dan keamanan publik dengan
menyediakan informasi kesehatan, dan
mempromosikan kesehatan dengan departemen
kesehatan negara dan organisasi lainnya.
Employers Liability : adalah Tanggung Jawab Hukum Pemberi Kerja
(employers) terhadap Tenaga Kerja (employees)
sehubungan dengan kecelakaan kerja (bodily injury)
atau penyakit (disease) yang diakibatkan oleh
kelalaian pemberi kerja didalam menyediakan
standard keamanan yang seharusnya disediakan
atau dipersyaratkan oleh undang-undang atau
peraturan yang berlaku.
First aids/PPPK : pertolongan pertama
Ground/tanah : sambungan listrik fisik ke bumi
Hazard electricity : bahaya akibat tegangan sentuh/sengatan listrik
Kesehatan kerja : suatu upaya untuk menjaga kesehatan pekerja dan
mencegah pencemaran disekitar tempat kerjanya
(masyarakat dan lingkungan).
Keselamatan kerja : suatu upaya agar pekerja selamat di tempat kerjanya
sehingga terhindar dari kecelakaan termasuk juga
untuk menyelamatkan peralatan serta produksinya.
the National Institutes of : adalah lembaga Departemen Kesehatan dan
Health - NIH Layanan Masyarakat Amerika Serikat dan lembaga
utama pemerintah Amerika Serikat yang menangani
penelitian biomedis dan kesehatan. Lawan dari

Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan | 211


Glosarium

institut ini di bidang ilmu pengetahuan dan rekayasa


adalah National Science Foundation. Lembaga ini
terdiri dari 27 institut berbeda, dan perkantoran yang
meliputi Office of the Director. Francis S. Collins
adalah Direktur institut saat ini.
the National Institute for : adalah sebuah kantor federal Amerika Serikat yang
Occupational Safety bertanggungjawab untuk melaksanakan riset dan
and Health - NIOSH memberi rekomendasi bagi pencegahan luka-luka
dan penyakit yang berhubungan dengan pekerjaan.
NIOSH adalah bagian dari Centers for Disease
Control and Prevention (CDC) dalam Department of
Health and Human Services Amerika Serikat.
The National Research : merupakan bagian dari Akademi Nasional Amerika
Council - NRC Serikat, yang juga meliputi: National Academy of
Engineering (NAE), Institute of Medicine (IOM),
National Research Council (NRC)
Occupational Safety : adalah bagian dari Departemen Tenaga Kerja
and Health Amerika Serikat yang dibentuk di bawah Undang-
Administration - OSHA Undang Keselamatan dan Kesehatan, yang
ditandatangani oleh Presiden Richard M. Nixon,
pada 29 Desember 1970. Misinya adalah untuk
mencegah cedera yang berhubungan dengan
pekerjaan, penyakit, dan kematian dengan
menerbitkan dan menegakkan peraturan (standar)
untuk kesehatan dan keselamatan kerja.
Occupational accident : adalah sebuah kejadian atau peristiwa yang berasal
(Kecelakaan kerja) dari, atau terjadi dalam, rangkaian pekerjaan yang
berakibat cedera fatal (fatal occupational injury) dan
cedera tidak fatal (non – occupational injury).
Personal protective : peralatan yang akan melindungi pengguna terhadap
Equipment - PPE risiko kesehatan atau keselamatan di tempat kerja.
International Labour : Organisasi Perburuhan Internasional atau adalah
Organization - ILO badan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang

212 | Modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan


`

Teknik Audio Video KK B

terus berupaya mendorong terciptanya peluang bagi


perempuan dan laki-laki untuk memperoleh
pekerjaan yang layak dan produktif secara bebas,
adil, aman dan bermartabat. Tujuan utama ILO
adalah mempromosikan hak-hak di tempat kerja,
mendorong terciptanya peluang kerja yang layak,
meningkatkan perlindungan sosial serta memperkuat
dialog untuk mengatasi permasalahan-permasalahan
yang terkait dengan dunia kerja
Personal risk (Risiko : adalah risiko yang mempengaruhi kapasitas atau
pribadi) kemampuan seseorang dalam memperoleh
keuntungan, contohnya adalah mati muda, uzur,
cacat fisik, dan kehilangan pekerjaan
Persyaratan Umum : adalah kumpulan peraturan yang harus ditaati dalam
Instalasi Listrik (PUIL) kelistrikan.

Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan | 213


pedagogik
MODUL
PENGEMBANGAN KEPROFESIAN BERKELANJUTAN

KOMPETENSI KEAHLIAN
TEKNIK AUDIO VIDEO
SEKOLAH MENENGAH KEJURUAN (SMK)
TERINTEGRASI PENGUATAN PENDIDIKAN KARAKTER
DAN PENGEMBANGAN SOAL

KELOMPOK KOMPETENSI B
PEDAGOGIK:
TEORI BELAJAR DAN PRINSIP-PRINSIP
PEMBELAJARAN YANG MENDIDIK
Penulis:
Astu Widodo, MPd
Penyunting:
Dr. Muljo Rahardjo, S.T., M.Pd.

Desain Grafis dan Ilustrasi:


Tim Desain Grafis

Copyright © 2017
Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan
Bidang Otomotif dan Elektronika
Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang


Dilarang mengcopy sebagian atau keseluruhan isi buku ini untuk kepentingan
komersial tanpa izin tertulis dari Kementerian Pendidikan Kebudayaan
Pedagogik KK B

Daftar Isi

Hal
Daftar Isi ............................................................................................................ iii
Daftar Gambar ................................................................................................... iv
Daftar Tabel ....................................................................................................... iv
Pendahuluan ...................................................................................................... 1
A. Latar Belakang ................................................................................... 1
B. Tujuan ................................................................................................ 2
C. Peta Kompetensi ................................................................................ 2
D. Ruang Lingkup ................................................................................... 3
E. Cara Penggunaan Modul ................................................................... 4
Kegiatan Pembelajaran 1 Teori Belajar Dan Prinsip-Prinsip Pembelajaran 13
A. Tujuan .............................................................................................. 13
B. Indikator Pencapaian Kompetensi .................................................... 13
C. Uraian Materi ................................................................................... 13
D. Aktivitas Pembelajaran ..................................................................... 33
E. Latihan/Kasus/Tugas ....................................................................... 34
F. Umpan Balik Dan Tindak Lanjut ....................................................... 34
Kegiatan Pembelajaran 2 Pendekatan, Strategi, Metode Dan Teknik
Pembelajaran ................................................................................................... 37
A. Tujuan .............................................................................................. 37
B. Indikator Pencapaian Kompetensi .................................................... 37
C. Uraian Materi ................................................................................... 38
D. Aktivitas Pembelajaran ..................................................................... 76
E. Latihan/Tugas .................................................................................. 77
F. Umpan Balik dan Tindak Lanjut........................................................ 77
Kunci Jawaban Latihan/Tugas ........................................................................ 91
Pengembangan Soal ..................................................................................... 105
Evaluasi .......................................................................................................... 107
Kunci Jawaban............................................................................................... 117
Penutup .......................................................................................................... 119

Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan | iii


Daftar Pustaka................................................................................................ 121
Lampiran ........................................................................................................ 125

Daftar Gambar

Gambar 1 Alur Model Pembelajaran Tatap Muka ............................................... 4


Gambar 2 Alur Pembelajaran Tatap Muka Penuh ............................................... 5
Gambar 3 Alur Pembelajaran Tatap Muka model In-On-In.................................. 7
Gambar 4 Tahap Pembelajaran Berbasis Proyek ............................................. 51

Daftar Tabel

Tabel 1 Daftar Lembar Kerja Modul ................................................................... 10


Tabel 2 Implikasi Teori Belajar ........................................................................... 20
Tabel 3 Perbedaan antara teori Behaviorisme, Kognitivisme, Konstruktivisme,
dan Humanisme................................................................................................. 23
Tabel 4 Implikasi Prinsip-Prinsip Pembelajaran ................................................. 30
Tabel 5 Deskripsi Langkah Pembelajaran Berpendekatan Saintifik.................... 40
Tabel 6 Tahap Pembelajaran Berbasis Masalah ................................................ 46
Tabel 7 Tahap dan Deskripsi Pelaksanaan Pembelajaran Model Discovery
Learning............................................................................................................. 48
Tabel 8. Tahap dan Deskripsi Pelaksanaan Pembelajaran Model Project Based
Learning............................................................................................................. 51
Tabel 9. Langkah Metode Drill dan Deskripsinya ............................................... 71

iv | Modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan


Pedagogik KK B

Daftar Lampiran

Lampiran 1. LK-01. Teori Belajar dan Implikasinya ................................. 111

Lampiran 2. LK-02. Prinsip-Prinsip Pembelajaran dan Implikasinya ....... 113

Lampiran 3. LK-03. Implementasi Teori belajar behaviorisme, 115


kognitivisme, konstrukivisme, dan humanistik dalam
pembelajaran ................................................

Lampiran 4. LK-04. Teori Belajar dan Prinsip-Prinsip Pembelajaran ...... 117

Lampiran 5. LK-05. Pendekatan dan Strategi Pembelajaran .................. 118

Lampiran 6. LK-06. Metode dan Teknik Pembelajaran............................ 122

Lampiran 7. LK-07. Rangkuman Pendekatan, Strategi, Metode dan 124


teknik Pembelajaran ................................................

Lampiran 8. LK-08. Rancangan Kegiatan Berpendekatan Saintifik ........ 125

Lampiran 9 LK-09. Pengembangan Soal ............................................... 128

Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan | v


Pedagogik KK B

Pendahuluan

A. Latar Belakang

Pendidikan nasional kita masih menghadapi berbagai macam persoalan.


Persoalan itu memang harus kita pecahkan dan dicari solusinya, masalah yang
ada karena substansi yang ditransformasikan selama proses pendidikan dan
pembelajaran selalu berada di bawah tekanan kemajuan ilmu pengetahuan,
teknologi, dan kemajuan masyarakat. Dalam hal ini perubahan kurikulum selalu
mengarah pada perbaikan sistem pendidikan. Perubahan tersebut dilakukan
karena dianggap belum sesuai dengan harapan yang diinginkan sehingga perlu
adanya revitalisasi kurikulum. Penyelenggaraan pendidikan sebagaimana yang
diamanatkan dalam Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem
Pendidikan Nasional diharapkan dapat mewujudkan proses berkembangnya
kualitas pribadi peserta didik sebagai generasi penerus bangsa di masa depan,
yang diyakini akan menjadi faktor determinan bagi tumbuh kembangnya bangsa
dan negara Indonesia sepanjang jaman.

Peningkatan mutu pendidikan akan berhasil dengan baik apabila ditunjang oleh
mutu guru yang baik. Peran guru sangat dibutuhkan untuk mencerdaskan
kehidupan bangsa, kehadiran guru profesional akan mampu memberikan
“kesejahteraan pedagogik” kepada setiap peserta didik yang akan meningkatkan
kecerdasan bangsa yang selanjutnya akan bermuara pada kesejahteraan umum.
Tidaklah berlebihan kalau dikatakan bahwa masa depan masyarakat, bangsa
dan negara di dunia ini termasuk di Indonesia sebagian besar ditentukan oleh
peran guru. Belajar merupakan kegiatan atau aktivitas kompleks manusia untuk
memperoleh pengetahuan, meningkatkan keterampilan, memperbaiki sikap dan
perilaku serta memperkuat kepribadian untuk mengembangkan pribadi
seutuhnya. Mengingat tugas pokok guru adalah mengajar, karena itu diwajibkan
untuk menguasai empat kompetensi, yaitu kompetensi pedagogik, kompetensi
sosial, kompetensi kepribadian dan kompetensi profesional.

Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan | 1


Pendahuluan

Kompetensi yang berkaitan dengan pelaksanaan proses pembelajaran adalah


kompetensi pedagogik. Agar proses pembelajaran yang dilakukan oleh guru
berjalan dengan baik dan lancar serta tujuan dapat tercapai secara optimal,
maka diperlukan dasar-dasar teori yang dapat menunjang pelaksanaan
pembelajaran.

Salah satu teori yang dapat dijadikan sebagai acuan dalam


mengimplementasikan kegiatan pembelajaran adalah teori belajar dan prinsip-
prinsip pembelajaran yang mendidik serta berbagai pendekatan, strategi,
metode, dan teknik pembelajaran yang mendidik secara kreatif dalam mata
pelajaran yang diampu. Oleh karena itu teori belajar dan prinsip-prinsip
pembelajaran yang mendidik serta berbagai pendekatan, strategi, metode, dan
teknik pembelajaran yang mendidik secara kreatif merupakan salah satu mata
diklat yang diberikan dalam diklat kompetensi pedagogik.

B. Tujuan

Tujuan disusunnya modul ini adalah untuk memberikan pemahaman yang


lengkap dan jelas tentang teori belajar dan prinsip-prinsip pembelajaran yang
mendidik dalam rangka menunjang peningkatan kompetensi guru dalam
mengembangkan pembelajaran berbasis karakter.

C. Peta Kompetensi

1. Memahami berbagai teori belajar dan prinsip-prinsip pembelajaran yang


mendidik terkait dengan mata pelajaran yang diampu.
2. Menerapkan berbagai pendekatan, strategi, metode, dan teknik pembelajaran
yang mendidik secara kreatif dalam mata pelajaran yang diampu.

2 | Modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan


Pedagogik KK B

POSISI MODUL

KODE UNIT NAMA UNIT KOMPETENSI


KOMPETENSI
PED0A00000-00 Perkembangan Peserta Didik
Teori Belajar dan Prinsip Pembelajaran yang
PED0B00000-00
mendidik
PED0C00000-00 Pengembangan Kurikulum
PED0D00000-00 Pembelajaran Yang Mendidik
Pemanfaatan Teknologi Informasi dan
PED0E00000-00
Komunikasi dalam Pembelajaran
PED0F00000-00 Pengembangan potensi peserta didik
PED0G00000-00 Komunikasi efektif
PED0H00000-00 Penilaian dan evaluasi pembelajaran
Pemanfaataan hasil penilaian dan evaluasi
PED0I00000-00
pembelajaran
Tindakan reflektif untuk peningkatan kualitas
PED0J00000-00
pembelajaran.

D. Ruang Lingkup

Modul teori belajar dan prinsip pembelajaran yang mendidik ini berisi tentang
materi yang berkaitan dengan:
1. Teori Belajar Dan Prinsip-Prinsip Pembelajaran

a. Teori Belajar dan Implikasinya

b. Prinsip Pembelajaran Yang Mendidik dan Implikasinya

2. Pendekatan, Strategi, Metode, Dan Teknik Pembelajaran Yang Mendidik


a. Pendekatan Pembelajaran
b. Strategi Pembelajaran
c. Metode dan Teknik Pembelajaran

Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan | 3


Pendahuluan

E. Cara Penggunaan Modul

Secara umum, cara penggunaan modul pada setiap Kegiatan Pembelajaran


disesuaikan dengan skenario setiap penyajian mata diklat. Modul ini dapat
digunakan dalam kegiatan pembelajaran guru, baik untuk moda tatap muka
dengan model tatap muka penuh maupun model tatap muka In-On-In. Alur model
pembelajaran secara umum dapat dilihat pada bagan dibawah.

Gambar 1 Alur Model Pembelajaran Tatap Muka

1. Deskripsi Kegiatan Diklat Tatap Muka Penuh


Kegiatan pembelajaran diklat tatap muka penuh adalah kegiatan fasilitasi
peningkatan kompetensi guru melalui model tatap muka penuh yang
dilaksanakan oleh unit pelaksana teknis di lingkungan ditjen. GTK maupun
lembaga diklat lainnya. Kegiatan tatap muka penuh ini dilaksankan secara
terstruktur pada suatu waktu yang di pandu oleh fasilitator.

Tatap muka penuh dilaksanakan menggunakan alur pembelajaran yang dapat


dilihat pada alur di bawah.

4 | Modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan


Pedagogik KK B

PENDAHULUAN

Mengkaji Materi
(Dipandu oleh fasilitator dan
dalam kelompok)

Melakukan aktivitas
pembelajaran
(diskusi/eksperimen/latihan/LK
) di tempat pelatihan.

Presentasi dan konfirmasi

Selesai Pelatihan
Persiapan Tes AKhir

Gambar 2 Alur Pembelajaran Tatap Muka Penuh

Kegiatan pembelajaran tatap muka pada model tatap muka penuh dapat
dijelaskan sebagai berikut.

a. Pendahuluan
Pada kegiatan pendahuluan fasilitator memberi kesempatan kepada peserta
diklat untuk mempelajari :

 latar belakang yang memuat gambaran materi

 tujuan kegiatan pembelajaran setiap materi

 kompetensi atau indikator yang akan dicapai melalui modul.

 ruang lingkup materi kegiatan pembelajaran

 langkah-langkah penggunaan modul

Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan | 5


Pendahuluan

b. Mengkaji Materi
Pada kegiatan mengkaji materi modul kelompok kompetensi B - Pedagogi
tentang Teori Belajar dan Prinsip-Prinsip Pembelajaran yang Mendidik,
fasilitator memberi kesempatan kepada guru sebagai peserta untuk
mempelajari materi yang diuraikan secara singkat sesuai dengan indikator
pencapaian hasil belajar.

Guru sebagai peserta dapat mempelajari materi secara mandiri maupun


berkelompok dan dapat mengkonfirmasi permasalahan kepada fasilitator.

c. Melakukan aktivitas pembelajaran


Pada kegiatan ini peserta melakukan kegiatan pembelajaran sesuai dengan
rambu-rambu atau instruksi yang tertera pada modul dan dipandu oleh
fasilitator. Kegiatan pembelajaran pada aktivitas pembelajaran ini akan
menggunakan pendekatan yang akan secara langsung berinteraksi di kelas
pelatihan bersama fasilitator dan peserta lainnya, baik itu dengan
menggunakan diskusi tentang materi, malaksanakan praktik, dan latihan
kasus.

Lembar kerja pada pembelajaran tatap muka penuh adalah bagaimana


menerapkan pemahaman materi-materi yang berada pada kajian materi.

Pada aktivitas pembelajaran materi ini juga peserta secara aktif menggali
informasi, mengumpulkan dan mengolah data sampai pada peserta dapat
membuat kesimpulan kegiatan pembelajaran.

d. Presentasi dan konfirmasi


Pada kegiatan ini peserta melakukan presentasi hasil kegiatan sedangkan
fasilitator melakukan konfirmasi terhadap materi dan dibahas bersama. pada
bagian ini juga peserta dan penyaji me-review materi berdasarkan seluruh
kegiatan pembelajaran

e. Persiapan Tes Akhir


Pada bagian ini fasilitator didampingi oleh panitia menginformasikan tes akhir
yang akan dilakukan oleh seluruh peserta yang dinyatakan layak mengikuti.

6 | Modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan


Pedagogik KK B

2. Deskripsi Kegiatan Diklat Tatap Muka In-On-In

Kegiatan diklat tatap muka dengan model In-On-In adalan kegiatan fasilitasi
peningkatan kompetensi guru yang menggunakan tiga kegiatan utama, yaitu
In Service Learning 1 (In-1), on the job learning (On), dan In Service Learning
2 (In-2). Secara umum, kegiatan pembelajaran diklat tatap muka In-On-In
tergambar pada alur berikut ini.

PENDAHULUAN

In Service Learning 1
Mengkaji Materi
(Mengkaji materi secara menyeluruh sebagai bekal pengetahuan
pada kegiatan on the job learning)

Melakukan aktivitas pembelajaran (berpikir


reflektif/diskusi/brainstorming/simulasi/studi kasus/LK).

On the Job Learning


Mengkaji Materi
(mengkaji materi secara mandiri dan berkomunikasi dengan
peserta lain atau fasilitator)

Melakukan aktivitas pembelajaran


(praktik/eksperimen/sosialisasi/implementasi/peer discussion/LK).

In Service Learning 2
Presentasi produk/tagihan on the job learning dan konfirmasi

Selesai Pelatihan
Persiapan Tes AKhir

Gambar 3 Alur Pembelajaran Tatap Muka model In-On-In

Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan | 7


Pendahuluan

Kegiatan pembelajaran tatap muka pada model In-On-In dapat dijelaskan


sebagai berikut,

a. Pendahuluan

Pada kegiatan pendahuluan disampaikan bertepatan pada saat pelaksanaan


In service learning 1 fasilitator memberi kesempatan kepada peserta diklat
untuk mempelajari:

 latar belakang yang memuat gambaran materi

 tujuan kegiatan pembelajaran setiap materi

 kompetensi atau indikator yang akan dicapai melalui modul.

 ruang lingkup materi kegiatan pembelajaran

 langkah-langkah penggunaan modul


b. In Service Learning 1 (IN-1)
 Mengkaji Materi
Pada kegiatan mengkaji materi modul kelompok kompetensi B - Pedagogik
tentang Teori Belajar dan Prinsip-Prinsip Pembelajaran yang Mendidik
fasilitator memberi kesempatan kepada guru sebagai peserta untuk
mempelajari materi yang diuraikan secara singkat sesuai dengan indikator
pencapaian hasil belajar. Guru sebagai peserta dapat mempelajari materi
secara individual maupun berkelompok dan dapat mengkonfirmasi
permasalahan kepada fasilitator.

 Melakukan aktivitas pembelajaran


Pada kegiatan ini peserta melakukan kegiatan pembelajaran sesuai
dengan rambu-rambu atau instruksi yang tertera pada modul dan dipandu
oleh fasilitator. Kegiatan pembelajaran pada aktivitas pembelajaran ini akan
menggunakan pendekatan/metode yang secara langsung berinteraksi di
kelas pelatihan, baik itu dengan menggunakan metode berfikir reflektif,
diskusi, brainstorming, simulasi, maupun studi kasus yang kesemuanya
dapat melalui Lembar Kerja yang telah disusun sesuai dengan kegiatan
pada In 1.

8 | Modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan


Pedagogik KK B

Pada aktivitas pembelajaran materi ini peserta secara aktif menggali


informasi, mengumpulkan dan mempersiapkan rencana pembelajaran pada
on the job learning.

c. On the Job Learning (ON)


• Mengkaji Materi
Pada kegiatan mengkaji materi modul kelompok kompetensi B - Pedagogik
tentang Teori Belajar dan Prinsip-Prinsip Pembelajaran yang Mendidik,
guru sebagai peserta akan mempelajari materi yang telah diuraikan pada in
service learning 1 (In 1). Guru sebagai peserta dapat membuka dan
mempelajari kembali materi sebagai bahan dalam mengerjaka tugas-tugas
yang ditagihkan kepada peserta.

• Melakukan aktivitas pembelajaran


Pada kegiatan ini peserta melakukan kegiatan pembelajaran di sekolah
maupun di kelompok kerja berbasis pada rencana yang telah disusun
pada IN1 dan sesuai dengan rambu-rambu atau instruksi yang tertera pada
modul. Kegiatan pembelajaran pada aktivitas pembelajaran ini akan
menggunakan pendekatan/metode praktik, eksperimen, sosialisasi,
implementasi, peer discussion yang secara langsung dilakukan di sekolah
maupun kelompok kerja melalui tagihan berupa Lembar Kerja yang telah
disusun sesuai dengan kegiatan pada On.

Pada aktivitas pembelajaran materi pada On, peserta secara aktif menggali
informasi, mengumpulkan dan mengolah data dengan melakukan
pekerjaan dan menyelesaikan tagihan pada on the job learning.

d. In Service Learning 2 (In-2)


Pada kegiatan ini peserta melakukan presentasi produk-produk tagihan On
yang akan di konfirmasi oleh fasilitator dan dibahas bersama. Pada bagian ini
juga peserta dan penyaji me-review materi berdasarkan seluruh kegiatan
pembelajaran

Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan | 9


Pendahuluan

e. Persiapan Tes Akhir


Pada bagian ini fasilitator didampingi oleh panitia menginformasikan tes
akhir yang akan dilakukan oleh seluruh peserta yang dinyatakan layak tes
akhir.

3. Lembar Kerja
Modul pengembangan keprofesian berkelanjutan kelompok komptetansi B -
Pedagogik tentang Teori Belajar dan Prinsip-Prinsip Pembelajaran yang
Mendidik, terdiri dari beberapa kegiatan pembelajaran yang didalamnya
terdapat aktivitas-aktivitas pembelajaran sebagai pendalaman dan penguatan
pemahaman materi yang dipelajari.

Modul ini mempersiapkan lembar kerja yang nantinya akan dikerjakan oleh
peserta, lembar kerja tersebut dapat terlihat pada tabel berikut.

Tabel 1 Daftar Lembar Kerja Modul

No Kode LK Nama LK Keterangan


1. LK-01. Teori Belajar dan Implikasinya TM, ON

2. LK-02. Prinsip-Prinsip Pembelajaran dan TM, ON


Implikasinya
3. LK-03. Implementasi Teori belajar behaviorisme, TM, ON
kognitivisme, konstrukivisme, dan
4. LK-04. humanistik
Teori dalam
Belajar pembelajaran
dan Prinsip-Prinsip TM, ON
Pembelajaran
5. LK-05. Pendekatan dan Strategi Pembelajaran TM

6. LK-06. Metode dan Teknik Pembelajaran TM, ON

7. LK-07. Rangkuman Pendekatan, Strategi, TM, ON


Metode dan teknik Pembelajaran
8. LK-08. Rancangan Kegiatan Berpendekatan ON
Saintifik
9. LK-09 Pengembangan Soal ON

10 | Modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan


Pedagogik KK B

Keterangan.

TM : Digunakan pada Tatap Muka Penuh

IN1 : Digunakan pada In service learning 1

ON : Digunakan pada on the job learning

Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan | 11


Pedagogik KK B

Kegiatan Pembelajaran 1
Teori Belajar Dan Prinsip-Prinsip Pembelajaran

A. Tujuan

Setelah mengikuti kegiatan pembelajaran 1 ini, melalui kegiatan individu dan


diskusi kelompok diharapkan peserta pelatihan dapat menjelaskan tentang teori
belajar dan prinsip pembelajaran, mampu menerapkan dalam kegiatan
pembelajaran sesuai dengan matapelajaran yang diampu serta mampu
menerapkan pendidikan Karakter.

B. Indikator Pencapaian Kompetensi

Kompetensi yang harus dicapai oleh guru pembelajar melalui modul ini, adalah
dengan indikator sebagai berikut:

1. Berbagai teori belajar (behavioristik, kognitifisme, konstruktifisme, dan


Humanisme) dijelaskan dengan benar

2. Implikasi dari keempat teori belajar (behaviorisme, kognitifisme,


konstruktifisme, dan Humanisme) dijelaskan dengan benar.

3. Keempat teori belajar (behaviorisme, kognitifisme, konstruktifisme, dan


Humanisme) dijelaskan perbedaannya dengan benar.

4. Prinsip-prinsip pembelajaran yang mendidik dijelaskan dengan tepat.

5. Implikasi prinsip-prinsip pembelajaran yang mendidik dijelaskan dengan


benar.

C. Uraian Materi

1. Teori Belajar dan Implikasinya


Teori belajar merupakan rangkaian dua kata yaitu teori dan belajar yang memiliki
satu pemahaman berkaitan dengan proses pembelajaran. Secara terpisah
sebenarnya masing-masing kata memiliki arti berbeda satu dengan yang lain.

Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan | 13


Kegiatan Pembelajaran 1

Belajar merupakan suatu proses usaha sadar yang dilakukan oleh individu untuk
suatu perubahan dari tidak tahu menjadi tahu, dari tidak memiliki sikap menjadi
bersikap benar, dari tidak terampil menjadi terampil melakukan sesuatu.
Sedangkan teori adalah seperangkat azaz tentang kejadian-kejadian yang
didalamnnya memuat ide, konsep, prosedur dan prinsip yang dapat dipelajari,
dianalisis dan diuji kebenarannya. Dengan demikian teori belajar adalah suatu
teori yang di dalamnya terdapat tata cara pengaplikasian kegiatan belajar
mengajar antara guru dan siswa, perancangan metode pembelajaran yang akan
dilaksanakan di kelas maupun di luar kelas. Secara ringkas dapat dikatakan teori
belajar merupakan hukum-hukum/prinsip-prinsip umum yang melukiskan kondisi
terjadinya belajar. Teori belajar dapat merupakan sumber hipotesis, kunci dan
konsep-konsep sehingga pengajar dapat lebih efektif dalam melaksanakan
pembelajaran.

Belajar adalah kegiatan psiko-fisik-sosio menuju ke perkembangan pribadi


seutuhnya (Suprijono, 2011). Kemudian Dimyati dan Mudjiono (2009, 7),
mendefinisikan belajar sebagai tindakan dan perilaku siswa yang kompleks. Dan
masih ada banyak lagi tentang pengertian belajar, namun secara umum memiliki
kesamaan.

a. Teori Belajar
Beberapa perspektif dalam teori belajar, empat diantaranya adalah
Behaviorisme, Kognitivisme, Konstruktivisme dan Humanistik

1) Teori belajar behaviorisme


Teori belajar behaviorisme merupakan teori dengan pandangan tentang
belajar adalah perubahan tingkah laku sebagai akibat dari stimulus dan
respon. Teori Belajar Classical Conditioning dari Pavlov, Connectionisin
dari Thorndike, dan Behaviorism dari Watson merupakan teori-teori dasar
dari aliran perilaku yang menjadi tonggak sejarah aliran perilaku dalam
teori belajar. Teori-teori ini kemudian dikembangkan dan atau dimodifikasi
oleh berbagai ahli menjadi beragam teori-teori baru dalam aliran perilaku,
yang kemudian disebut aliran perilaku baru (neo-Behaviorism). Tercatat
ahli-ahli yang tergabung dalam aliran perilaku baru antara lain:

14 | Modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan


Pedagogik KK B

 Thorndike dengan teori connectionism menyatakan bahwa belajar


merupakan proses coba-coba sebagai reaksi terhadap stimulus.
 Watson menyatakan bahwa belajar merupakan proses terjadi refleks
atau respon bersyarat melalui stimulus pengganti. Semua tingkah laku
lainnya terbentuk oleh hubungan stimulus respon baru melalui
connditioning.
 Clark Hull dengan teori sistem perilaku menyatakan bahwa kebutuhan
biologis dan pemuasan kebutuhan menjadi sentral dalam seluruh
kegiatan manusia. Kebutuhan yang timbul akan menyebabkan
terbentuknya suatu perilaku yang akan mereduksi kebutuhan secara
berangsur-angsur yang dapat dipelajari responnya.
 Edwin Guthrie dergan teori Contiguous Conditioning menyatakan bahwa
gabungan stimulus-stimulus yang disertai suatu gerakan, pada waktu
timbul kembali cenderung akan diikuti oleh gerakan yang sama. Respon
atas suatu situasi cendrung diulang, bilamana individu menghadapi
suatu yang sama.
 B.F. Skinner dengan teori Operant Conditioning menyatakan bahwa
hubungan antara stimulus dan respon yang terjadi melalui interaksi
dengan lingkungannya, yang kemudian menimbulkan perubahan tingkah
laku.
2) Teori belajar Kognitivisme
Istilah “Cognitive” berasal dari kata cognition artinya adalah pengertian.
Pengertian yang lebih luas, cognition (kognisi) adalah perolehan, penataan,
dan penggunaan pengetahuan. Selanjutnya, istilah kognitif menjadi populer
sebagai salah satu wilayah psikologi manusia / satu konsep umum yang
mencakup semua bentuk pengenalan yang meliputi setiap perilaku mental
yang berhubungan dengan masalah pemahaman, memperhatikan,
memberikan, menyangka, pertimbangan, pengolahan informasi,
pemecahan masalah, pertimbangan, membayangkan, memperkirakan,
berpikir dan keyakinan. Termasuk kejiwaan yang berpusat di otak ini juga
berhubungan dengan konasi (kehendak) dan afeksi (perasaan) yang
bertalian dengan rasa. Menurut para ahli jiwa aliran kognitivisme, tingkah
laku seseorang itu senantiasa didasarkan pada kognisi, yaitu tindakan

Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan | 15


Kegiatan Pembelajaran 1

mengenal atau memikirkan situasi dimana tingkah laku itu terjadi.


Beberapa ahli yang mengembangkan teori belajar kognitivisme antara lain:

 Gestalt dengan teori phenomena menyatakan bahwa proses belajar


adalah fenomena kognitif. Seseorang cenderung mempersepsikan apa
yang terlihat dari lingkungannya sebagai kesatuan yang utuh.
 Kurt Lewin dengan teori field theory menyatakan bahwa masing-masing
individu berada di dalam suatu medan kekuatan yang bersifat
psikologis. Medan dimana individu bereaksi disebut life space
(perwujudan lingkungan di mana individu bereaksi, misalnya ; orang –
orang yang dijumpainya, objek material yang ia hadapi serta fungsi
kejiwaan yang ia miliki).
 Jean Piaget dengan teori cognitive developmental menyatakan bahwa
proses berpikir sebagai aktivitas gradual dari fungsi intelektual dari
konkret menuju abstrak.
 Jerome Bruner dengan discovery learning menyatakan bahwa proses
belajar akan berjalan dengan baik dan kreatif jika seseorang
menemukan sendiri suatu konsep, teori, aturan, atau pemahaman
melalui contoh-contoh yang ia jumpai dalam kehidupan (enaktif, ikonik,
dan simbolik).
 Vygotsky menyatakan bahwa perolehan pengetahuan dan
perkembangan kognitif seorang seturut dengan teori sciogenesis.
Dimensi kesadaran social bersifat primer, sedangkan dimensi
individualnya bersifat turunan dan bersifat skunder. Artinya,
pengetahuan dan pengembangan kognitif individu berasal dari sumber-
sumber sosial di luar dirinya.
 David Ausubel dengan teori meaningful learning menyatakan bahwa
suatu proses belajar dimana informasi baru dihubungkan dengan
struktur pengertian yang sudah dipunyai seseorang yang sedang
belajar.

Teori belajar kognitif lebih mementingkan proses belajar dari pada hasil
belajar itu sendiri. Belajar tidak sekedar melibatkan hubungan antara
stimulus dan respon, lebih dari itu belajar melibatkan proses berpikir yang
sangat kompleks. Belajar adalah perubahan persepsi dan pemahaman.

16 | Modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan


Pedagogik KK B

Perubahan persepsi dan pemahaman tidak selalu berbentuk perubahan


tingkah laku yang bisa diamati.

3) Teori belajar Konstruktivisme

Konstruktivisme adalah sebuah filosofi pembelajaran yang dilandasi premis


(asumsi) bahwa dengan merefleksi pengalaman, kita membangun,
mengkonstruksi pengetahuan kita tentang dunia tempat kita hidup (Suyono
dan Hariyanto, 2011). Sedangkan menurut Cahyo (2013) konstruktivisme
merupakan salah satu filsafat pengetahuan yang menekan bahwa
pengetahuan adalah buatan kita sendiri sebagai hasil konstruksi kognitif
melalui kegiatan individu dengan membuat struktur, kategori, konsep, dan
skema yang diperlukan untuk membangun pengetahuan tersebut. Trianto
(2007) juga berpendapat bahwa teori pembelajaran konstruktivisme
merupakan teori pembelajaran kognitif baru dalam psikologi pendidikan
yang menyatakan bahwa siswa harus menemukan sendiri dan
mentransformasikan informasi kompleks, mengecek informasi baru dengan
aturan-aturan lama dan merevisi apabila aturan-aturan itu tidak sesuai lagi.
Dari ketiga definisi tersebut, dapat disimpulkan bahwa teori belajar
konstruktivisme merupakan teori belajar yang menuntut peserta didik
mengkonstruksi kegiatan belajar dan mentransformasikan informasi
kompleks untuk membangun pengetahuan secara mandiri. Beberapa ahli
yang mengembangkan teori belajar konstruktivisme antara lain:
 Jean Piaget dengan personal constructivism menyatakan bahwa
pengetahuan tidak diperoleh secara pasif oleh seseorang,
melainkan melalui tindakan. Sehingga penekanan proses untuk
menemukan teori atau pengetahuan yang dibangun
(mengkonstruksi kemampuan kognitif) dari realitas lapangan
(praktik).
 Vygotsky menyatakan bahwa teori ini menekankan pada sosiokultural
dan pembelajaran, artinya dalam mengkonstruksi pengetahuan
seseorang dipengaruhi oleh lingkungan sosial di sekitarnya (a.
Zone Of Proximal Development adalah jarak antara

Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan | 17


Kegiatan Pembelajaran 1

perkembangan sesungguhnya dengan tingkat perkembangan


potensial dimana siswa mampu mengkonstruksikan pengetahuan
dibawah bimbingan orang dewasa. b. Scaffolding merupakan
pemberian bantuan awal pembelajaran, kemudian mengurangi
bantuan dan mmemberikan kesempatan untuk mengambil alih
tanggung jawab yang makin besar setelah dapat melakukannya
sendiri).
 John Dewey menyatakan bahwa belajar tergantung pada pengalaman
dan minat peserta didik sendiri dan topik dalam kurikulum seharusnya
saling terintegrasi bukan terpisah atau tidak mempunyai kaitan satu
sama lain. Sehingga suasana belajar menyenangkan dan mendorong
untuk proaktif dan berpikir kratif dalam memecahkan setiap
permasalahan.
4) Teori belajar Humanisme
Humanistic theory telah dilukiskan sebagai angkatan ketiga dalam psikologi
modern. Teori ini menolak determinisme Freud dari instink dan
determinisme lingkungan dari teori pembelajaran. Pendukung humanis
memiliki pandangan yang sangat positif dan optimis tentang kodrat
manusia. Pandangan humanisme menyatakan bahwa manusia adalah
agen yang bebas dengan kemampuan superior untuk menggunakan
simbol-simbol dan berpikir secara abstrak. Jadi, orang mampu membuat
pilihan yang cerdas, untuk ber-tanggungjawab atas perbuatannya, dan
menyadari potensi penuhnya sebagai orang yang mengaktualisasikan diri.
Humanist memiliki pandangan holistik mengenai perkembangan manusia,
yang melihat setiap orang sebagai makhluk keseluruhan yang unik dengan
nilai independen. Dalam pandangan holistik, seseorang lebih dari sekedar
kumpulan dorongan, instink, dan pengalaman yang dipelajari. Tiga tokoh
terkemuka teori belajar humanistik antara lain:
 Abraham Maslow (1908–1970) menyatakan bahwa ada hierarki
kebutuhan manusia yaitu tingkat yang lebih rendah mempertahankan
hidup dan rasa aman, memiliki dan dicintai, kebutuhan akan harga diri
dalam kelompok mereka sendiri. Jika kebutuhan ini telah terpenuhi

18 | Modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan


Pedagogik KK B

orang akan kembali mencari kebutuhan yang lebih tinggi lagi, prestasi
intelektual, penghargaan estetis, dan akhirnya self-actualization.
 Carl Rogers (1902–1987) menyatakan bahwa belajar dipandang sebagai
fungsi keseluruhan pribadi. Mereka berpendapat bahwa belajar yang
sebenarnya tidak dapat berlangsung bila tidak ada keterlibatan
intelektual maupun emosional peserta didik. Oleh karena itu, menurut
teori belajar humanisme bahwa motivasi belajar harus bersumber pada
diri peserta didik.
 Arthur Combs (1912-1999) menyatakan bahwa belajar terjadi bila
mempunyai arti (meaning) bagi individu, guru tidak bisa mamaksakan
materi yang tidak disukai atau tidak relevan dengan kehidupan mereka.
Oleh karena itu bila terjadi tingkah laku menyimpang adalah “akibat
yang tidak ingin dilakukan, tetapi dia tahu bahwa dia harus melakukan”.

Humanisme menggunakan pandangan yang sangat positif dari sifat dasar


manusia dan mengatakan bahwa orang bebas menggunakan kemampuan
mereka yang unggul/superior untuk membuat pilihan cerdas dan
mewujudkan potensi penuh mereka sebagai orang yang
mengaktualisasikan diri.

Mencermati empat macam teori belajar tersebut, akan memandu guru


pembelajar untuk menentukan pilihan. Teori belajar mana yang paling
efektif untuk dapat digunakan sebagai acuan pengembangan pembelajaran
yang diampu. Tentu semua itu tergantung dari tujuan yang telah ditetapkan.
Tidak ada yang terbaik, yang terpenting adalah teori belajar mana yang
paling sesuai.

Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan | 19


Kegiatan Pembelajaran 1

b. Implikasi Teori Belajar

Implikasi teori belajar merupakan suatu bagian penting yang berpotensi dalam
mengoptimalkan peningkatan pendidikan dengan memanfaatkan dukungan
sarana dan prasarana yang tersedia. Bagi pendidik perlu memperhatikan teori
belajar tersebut, agar menjadikan pertimbangan dalam menetapkan proses
pembelajaran di kelas yang tepat sehingga menghasilkan proses
pengembangan pendidikan yang efisien. Berikut implikasi teori-teori belajar
dalam pembelajaran di kelas atau dalam dunia pendidikan dapat dilihat pada
tabel 2.
Tabel 2 Implikasi Teori Belajar

Teori Belajar Implikasi

Behaviorisme Pembelajaran yang dirancang dan berpijak pada teori


behaviorisme memandang bahwa pengetahuan adalah
obyektif, pasti, tetap, tidak berubah. Karena pengetahuan
telah terstruktur dengan rapi, sehingga belajar adalah
perolehan pengetahuan, sedangkan mengajar adalah
memindahkan pengetahuan (transfer of knowledge) ke
orang yang belajar, implikasinya antara lain:
1. Kegiatan pembelajaran berproses berdasarkan
bahan pembelajaran yang sudah siap, sehingga
tujuan pembelajaran yang harus dikuasai siswa
dapat disampaikan secara utuh oleh guru.
2. Guru tidak banyak memberi ceramah, tetapi
memberikan instruksi singkat dan diikuti contoh-
contoh baik yang dilakukan sendiri maupun melalui
simulasi.
3. Pembelajaran berorientasi pada hasil yang dapat
diukur dan diamati.
4. Evaluasi atau penilaian didasari atas perilaku yang
tampak.
5. Metode yang digunakan sangat cocok untuk
mendapatkan kemampuan praktek dan
pembiasaan yang mengandung unsur-unsur
kecepatan, spontanitas, kelenturan, reflek, daya
tahan dan sebagainya, contohnya: percakapan
bahasa asing, mengetik, menari, menggunakan
komputer, berenang, olahraga dan sebagainya.
Cocok diterapkan untuk melatih anak-anak yang
masih membutuhkan dominasi peran orang
dewasa, suka mengulangi dan harus dibiasakan,
suka meniru dan senang dengan bentuk-bentuk
penghargaan langsung seperti diberi permen atau

20 | Modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan


Pedagogik KK B

pujian.

Kognitivisme Pembelajaran yang dirancang dan berpijak pada teori


kognitivisme memandang bahwa tingkah laku seseorang
itu senantiasa didasarkan pada kognisi, implikasinya
antara lain:
1. Perlakuan individu didasarkan pada tingkat
perkembangan kognitif peserta didik
2. Pembangkitan motivasi berdasarkan atas
pengalaman atau pengetahuan yang telah dikuasai
peserta didik.
3. Kurikulum dan metode-metode berfungsi untuk
mengembangkan ketrampilan berfikir peserta didik.
4. Tujuan pembelajaran yang dirancang difokuskan
untuk mengembangkan kemampuan kognisi dengan
bantuan interaksi sosial.
5. Bentuk pengelolaan kelas berpusat pada aktivitas
peserta didik dan guru membimbing agar peserta
didik melaksanakan eksplorasi dan menemukan
sendiri, sehingga diperlukan partisipasi aktif peserta
didik dalam belajar.
6. Untuk lebih mengefektifkan pembelajaran sangat
diperlukan dukungan program-program
pengembangan pengetahuan secara terpadu.
(Adrian Yelon, 1977)

Konstruktivisme Pembelajaran yang dirancang dan berpijak pada teori


konstruktivisme memandang bahwa proses pembelajaran
merupakan proses mengondisikan siswa untuk melakukan
proses aktif membangun konsep baru, pengertian baru,
dan pengetahuan baru berdasarkan data hingga
menjadikan sebuah pengetahuan yang bermakna, dengan
memberikan kesempatan kepada siswa untuk
menemukan atau menerapkan sendiri ide-ide dan dengan
mengajak siswa agar menyadari dan menggunakan
strategi-strategi mereka sendiri untuk belajar, implikasinya
antara lain:
1. Pemberian kesempatan kepada peserta didik,
memerhatikan dan mengembangkan motivasi
terhadap topik materi pembelajaran (fase orientasi).
2. Bantuan kepada peserta didik meggali ide-ide yang
dimilikinya dengan memberi kesempatan untuk
mendiskusikan atau menggambarkan pengetahuan
dasar atau ide mereka (fase elisitasi).
3. Peserta didik melakukan klarifikasi ide dengan cara
mengontraskan ide-idenya dengan ide orang lain
(fase restrukturisasi ide)
4. Pengaplikasian ide atau pengetahuan peserta didik
yang dibentuk pada bermacam-macam situasi yang

Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan | 21


Kegiatan Pembelajaran 1

dihadapi (fase aplikasi ide).


5. Merevisi gagasannya dengan menambah suatu
keterangan atau dengan cara mengubahnya
menjadi lebih lengkap (fase reviu).

Humanisme Pembelajaran yang dirancang dan berpijak pada teori


humanisme memandang bahwa proses belajar harus
berhulu dan bermuara pada manusia itu sendiri, sehingga
belajar dianggap berhasil jika peserta didik memahami
lingkungannya dan dirinya sendiri. Teori ini
mengedepankan bagaimana memanusiakan manusia
serta peserta didik mampu mengembangkan potensi
dirinya, sehingga berimplikasi pada guru sebagai
fasilitator. Beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh guru
sebagai fasilitator, yaitu:
1. Guru sebaiknya memberi perhatian kepada
penciptaan suasana awal, situasi kelompok, atau
pengalaman kelas.
2. Guru hendaknya membantu memperoleh dan
memperjelas tujuan-tujuan perorangan di dalam
kelas dan juga tujuan-tujuan kelompok yang
bersifat umum.
3. Guru harus mempercayai adanya keinginan dari
masing-masing siswa untuk melaksanakan tujuan-
tujuan yang bermakna bagi dirinya, sebagai
kekuatan pendorong, yang tersembunyi di dalam
belajar yang bermakna tadi.
4. Guru harus mengatur dan menyediakan sumber
seluas-luasnya agar mudah dimanfaatkan peserta
didik dalam mencapai tujuan mereka.
5. Guru menempatkan dirinya sendiri sebagai suatu
sumber yang fleksibel untuk dapat dimanfaatkan
oleh peserta didik.
6. Guru mencoba untuk menanggapi dengan cara
yang sesuai, baik bagi individual ataupun bagi
kelompok
7. Guru harus mengambil prakarsa untuk ikut serta
dalam kelompok, perasaannya dan juga pikirannya
dengan tidak menuntut dan juga tidak
memaksakan, tetapi sebagai suatu andil secara
pribadi yang boleh saja digunakan atau ditolak
oleh siswa.
8. Guru harus mencoba untuk mengenali dan
menerima keterbatasan-keterbatasannya sendiri.

c. Perbedaan Keempat Teori Belajar


Dalam dunia pendidikan salah satu pertanyaan penting tentang belajar
dari guru adalah: Kondisi seperti apa yang paling efektif untuk

22 | Modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan


Pedagogik KK B

menciptakan perubahan yang diinginkan dalam tingkah laku? Atau


bagaimana bisa apa yang kita ketahui tentang belajar diterapkan dalam
instruksi? Sebelum kita menjawab pertanyaan tersebut, kita harus
melihat pada penjelasan-penjelasan psikologis tentang belajar,
khususnya tentang teori belajar. Secara luas teori belajar selalu
dikaitkan dengan ruang lingkup bidang psikologi atau bagaimanapun
juga membicarakan masalah belajar ialah membicarakan sosok
manusia, dengan segala tindakan dan keberpengaruhannya.

Pada satuan pendidikan umumnya terdapat pembelajaran-


pembelajaran yang berbeda antara tingkat satuan pendidikan yang satu
dengan yang lainnya. Hal ini dikarenakan adanya pendapat para ahli
yang berbeda-beda mengenai pembelajaran. Jadi, antara sekolah yang
satu dengan sekolah yang lain berbeda-beda dalam menerapkan teori
pembelajaran, yang mereka terapkan di sekolahnya yaitu teori
pembelajaran yang dianggapnya sejalan dengan pemikiran mereka.
Teori pembelajaran itu sendiri merupakan suatu pendekatan terhadap
suatu konsep yang membahas tentang upaya mengefektifkan proses
perubahan tingkah laku khususnya berkaitan dengan bidang
pengetahuan. Terdapat teori-teori dalam pembelajaran diantaranya
teori kognitivisme, teori konstruktivisme, teori humanisme, teori
behaviorisme seperti yang telah diuraikan atau dibahas di atas. Dari
beberapa teori tersebut terdapat perbedaan seperti yang dapat dilihat
pada Tabel 3.

Tabel 3 Perbedaan antara teori Behaviorisme, Kognitivisme, Konstruktivisme,


dan Humanisme

Teori Belajar Perbedaan

Behaviorisme Belajar adalah perubahan tingkah laku, yang


merupakan hasil dari stimulus-respon. Belajar
merupakan suatu proses usaha yang dilakukan
individu untuk memperoleh suatu perubahan tingkah
laku yang baru secara keseluruhan sebagai hasil
pengalaman individu itu sendiri dalam interaksi dengan

Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan | 23


Kegiatan Pembelajaran 1

lingkungannya (Ahmadi dan Supriyono, 1991: 121).


Aliran ini menganggap seseorang telah belajar jika ia
telah mampu menunjukkan perubahan tingkah laku.
Untuk membuat seseorang belajar, perlu adanya
stimulus yang diberikan oleh pendidik.
 Menekankan pada stimulus dan respon dalam
pembentukan perilaku.
 Setiap perilaku dapat dipelajari.
 Tingkah laku lama dapat diganti dengan tingkah laku
baru.
 Menekankan pada perubahan perilaku yang
teramati.

Kognitivisme Belajar merupakan usaha pemberian makna oleh


peserta didik pada pengalamannya melalui asimilasi
dan akomodasi yang menuju pada pembentukan
struktur kognitifnya, sehingga lebih menekankan pada
belajar merupakan suatu proses yang terjadi dalam
akal pikiran manusia. Belajar adalah suatu aktivitas
mental atau psikis yang berlangsung dalam interaksi
aktif dengan lingkungan yang menghasilkan
perubahan-perubahan dalam pengetahuan
pemahaman, ketrampilan dan nilai sikap (Winkel,
1996: 53).
Menekankan pada perubahan atau proses-proses
mental dan perilaku tidak kasat mata.

Konstruktivisme Belajar merupakan usaha pemberian makna oleh


peserta didik kepada pengalamannya melalui asimilasi
(proses merespon lingkungan sesuai dengan struktur
kognitif) dan akomodasi (proses memodifikasi struktur
kognitif) yang menuju pada pembentukan struktur
kognitifnya.
 Individu membangun pemahamannya melalui
eksplorasi
 Menyatakan bahwa peserta didik adalah orang yang
secara individual harus menemukan ,
mentransformasi, dan mengecek kemballi, serta
merevisi informasi yang lama.
 Siswa memiliki pemahaman satu persepsi.

Humanisme Pada dasarnya, teori humanistik adalah teori belajar


yang memanusiakan manusia. Pembelajaran
dipusatkan pada pribadi seseorang. Teori ini tidak
lepas dari pendidikan yang berfokus pada bagaimana
menghasilkan sesuatu yang efektif, bagaimana belajar
yang bisa meningkatkan kreativitas dan memanfaatkan
potensi yang ada pada seseorang.
 Menekankan pada keunikan sikap individu.

24 | Modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan


Pedagogik KK B

 Individu adalah orang yang bebas menentukan apa


yang dipelajarinya.
 Belajar dipandang sebagai pemerolehan informasi
atau pengalaman dan menemukan maknanya
secara personal atau pribadi.

2. Prinsip-Prinsip Pembelajaran dan Implikasinya

Pembelajaran adalah proses interaksi antar peserta didik, antara peserta didik
dengan tenaga pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar.
Prinsip belajar adalah konsep-konsep yang harus diterapkan didalam proses
belajar mengajar. Seorang guru akan dapat melaksanakan tugasnya dengan baik
apabila ia dapat menerapkan cara mengajar yang sesuai dengan prinsip-prinsip
orang belajar. Dalam perencanaan pembelajaran, prinsip-prinsip belajar dapat
mengungkap batas-batas kemungkinan dalam pembelajaran. Dalam
melaksanakan pembelajaran, pengetahuan tentang teori dan prinsip-prinsip
belajar dapat membantu guru dalam memilih tindakan yang tepat. Banyak teori
dan prinsip-prinsip belajar yang dikemukakan oleh para ahli, namun secara
umum memiliki persamaan.

a Prinsip-Prinsip Pembelajaran
Prinsip-prinsip belajar yang relatif berlaku umum menurut Rusman (2015)
antara lain berkaitan dengan perhatian dan motivasi, keaktifan, keterlibatan
langsung/berpengalaman, pengulangan, tantangan, balikan dan penguatan,
serta perbedaan individual.

1) Perhatian Dan Motivasi


Perhatian mempunyai peranan yang penting dalam kegiatan belajar. Dari
kajian teori belajar pengolahan informasi terungkap bahwa tanpa adanya
perhatian tidak mungkin terjadi belajar. Perhatian terhadap pelajaran akan
timbul pada peserta didik, apabila bahan pelajaran sesuai dengan
kebutuhannya. Apabila bahan pelajaran itu dirasakan sebagai sesuatu
yang dibutuhkan, diperlukan untuk belajar lebih lanjut atau diperlukan
dalam kehidupan sehari-hari, akan membangkitkan perhatian dan juga
motivasi untuk mempelajarinya. Apabila dalam diri peserta didik tidak ada

Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan | 25


Kegiatan Pembelajaran 1

perhatian terhadap pelajaran yang dipelajari, maka siswa tersebut perlu


dibangkitkan perhatiannya. Perhatian dapat membuat peserta didik untuk
mengarahkan diri pada tugas yang akan diberikan; melihat masalah-
masalah yang akan diberikan; memilih dan memberikan fokus pada
masalah yang harus diselesaikan.

Disamping perhatian, motivasi mempunyai peranan penting dalam kegiatan


belajar. Motivasi adalah tenaga yang menggerakkan dan mengarahkan
aktivitas seseorang. Motivasi mempunyai kaitan yang erat dengan minat.
Siswa yang memiliki minat terhadap bidang studi tertentu cenderung
tertarik perhatiannya sehingga timbul motivasi untuk mempelajarinya.
Misalnya, peserta didik yang menyukai pelajaran matematika akan merasa
senang belajar matematika dan terdorong untuk belajar lebih giat,
karenanya adalah kewajiban guru untuk bisa menanamkan sikap positif
pada diri siswa terhadap mata pelajaran yang menjadi tanggung jawabnya.
Apabila peserta didik mempunyai motivasi, ia akan bersungguh-sungguh
menunjukkan minat, mempunyai perhatian, dan rasa ingin tahu yang kuat
untuk ikut serta dalam kegiatan belajar; berusaha keras dan memberikan
waktu yang cukup untuk melakukan kegiatan tersebut; dan terus bekerja
sampai tugas-tugas tersebut terselesaikan.

2) Keaktifan
Anak mempunyai dorongan untuk berbuat sesuatu, mempunyai kemauan
dan aspirasinnya sendiri. Belajar tidak bisa dipaksakan oleh orang lain dan
juga tidak bisa dilimpahkan kepada orang lain. Belajar hanya mungkin
terjadi apabila anak aktif mengalami sendiri. John Dewey mengemukakan
bahwa belajar adalah menyangkut apa yang harus dikerjakan siswa untuk
dirinya sendiri, maka inisiatif harus datang dari siswa sendiri. Guru sekedar
pembimbing dan pengarah. Menurut teori kognetif, belajar menunjukan
adanya jiwa yang sangat aktif, jika mengolah informasi yang kita terima,
tidak sekedar menyimpannya saja tanpa mengadakan transformasi.
Keaktifan itu dapat berupa kegiatan fisik yang mudah diamati maupun
kegiatan psikis yang sulit diamati. Kegiatan fisik bisa berupa membaca,
mendengar, menulis, berlatih keterampilan dan sebaginya. Kegiatan psikis

26 | Modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan


Pedagogik KK B

misalnya menggunakan pengetahuan yang dimiliki dalam memecahkan


masalah yang dihadapi, membandingkan suatu konsep dengan yang lain,
menyimpulkan hasil percobaan dan lain sebagainya.

3) Keterlibatan Langsung/Berpengalaman
Belajar adalah mengalami, belajar tidak bisa dilimpahkan kepada orang
lain. Edgar Dale dalam penggolongan pengalaman belajar yang dituangkan
dalam kerucut pengalamannya mengemukakan bahwa belajar yang paling
baik adalah belajar melalui pengalaman langsung. Dalam belajar melalui
pengalaman langsung siswa yang tidak hanya mengamati secara langsung
tetapi ia harus menghayati, terlibat langsung dalam perbuatan, dan
bertanggung jawab terhadap hasilnya. Pembelajaran itu akan lebih
bermakna jika siswa "mengalami sendiri apa yang dipelajarinya" bukan
"mengetahui" dari informasi yang disampaikan guru. Dari berbagai
pandangan para ahli tersebut menunjukkan betapa pentingnya keterlibatan
siswa secara langsung dalam proses pembelajaran. Pentingnya
keterlibatan langsung dalam belajar dikemukakan oleh John Dewey
dengan "learning by doing"-nya. Seperti pendapat yang dikemukakan oleh
Confocius, bahwa:“ apa yang saya dengar, saya lupa; apa yang saya lihat,
saya ingat; dan apa yang saya lakukan saya paham”. Dari kata-kata bijak
ini kita dapat mengetahui betapa pentingnya keterlibatan langsung dalam
pembelajaran. Sementara itu serapan pengalaman belajar adalah sebagai
berikut: kita belajar 10% dari apa yang kita baca, 20% dari apa yang kita
dengar, 30% dari apa yang kita lihat, 50% dari apa yang kita lihat dan
dengar, 70% dari apa yang kita katakan, dan 90% dari apa yang kita
katakan dan lakukan. Dengan demikian guru dapat menetapkan rancangan
pengalaman pembelajaran yang dipengaruhkan kepada peserta didik
seperti apa yang efektif.

4) Pengulangan
Prinsip belajar yang menekankan perlunya pengulangan adalah teori
psikologi daya. Menurut teori ini belajar adalah melatih daya-daya yang ada
pada manusia yang terdiri atas daya mengamati, menanggap, mengingat,
mengkhayal, merasakan, berfikir dan sebagainya. Dengan mengadakan

Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan | 27


Kegiatan Pembelajaran 1

pengulangan maka daya-daya tersebut akan berkembang, seperti halnya


pisau yang selalu diasah akan menjadi tajam, maka daya yang dilatih
dengan pengadaan pengulangan-pengulangan akan sempurna. Dalam
proses belajar, semakin sering materi pelajaran diulangi maka semakin
ingat dan melekat pelajaran itu dalam diri seseorang.

Mengulang besar pengaruhnya dalam belajar, karena dengan adanya


pengulangan "bahan yang belum begitu dikuasai serta mudah terlupakan"
akan tetap tertanam dalam otak seseorang. Mengulang dapat secara
langsung sesudah membaca, tetapi juga bahkan lebih penting adalah
mempelajari kembali bahan pelajaran yang sudah dipelajari misalnya
dengan membuat ringkasan. Teori lain yang menekankan prinsip
pengulangan adalah teori koneksionisme-nya Thordike. Dalam teori
koneksionisme, ia mengemukakan bahwa belajar ialah pembentukan
hubungan antara stimulus dan respon, dan pengulangan terhadap
pengalaman-pengalaman itu memperbesar peluang timbulnya respon
benar.

5) Tantangan
Teori Medan (Field Theory) dari Kurt Lewin mengemukakan bahwa peserta
didik dalam situasi belajar berada dalam suatu medan atau lapangan
psikologis. Dalam situasi belajar peserta didik menghadapi suatu tujuan
tetapi selalu menghadapi hambatan yaitu mempelajari bahan pelajaran,
maka timbullah motif untuk mengatasi hambatan itu yaitu dengan
mempelajari bahan belajar tersebut. Apabila hambatan tersebut telah
diatasi artinya tujuan belajar telah tercapai maka ia akan memasuki dalam
medan baru dan tujuan baru, demikian seterusnya. Menurut teori ini belajar
adalah berusaha mengatasi hambatan-hambatan untuk mencapai tujuan.
Agar pada diri anak timbul motif yang kuat untuk mengatasi hambatan
dengan baik, maka bahan pelajaran harus menantang. Tantangan yang
dihadapi dalam bahan belajar membuat siswa bersemangat untuk
mengatasinya. Bahan pelajaran yang baru yang banyak mengandung
masalah yang perlu dipecahkan membuat siswa tertantang untuk
mempelajarinya. Penggunaan metode eksperimen, inquiri, discovery juga

28 | Modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan


Pedagogik KK B

memberikan tantangan bagi siswa untuk belajar secara lebih giat dan
sungguh-sungguh. Penguatan positif dan negatif juga akan menantang
siswa dan menimbulkan motif untuk memperoleh ganjaran atau terhindar
dari hukuman yang tidak menyenangkan.

6) Balikan dan Penguatan


Prinsip belajar yang berkaiatan dengan balikan dan penguatan adalah teori
belajar “operant conditioning” dari B.F. Skinner. Kunci dari teori ini adalah
hukum effeknya Thordike, hubungan stimulus dan respon akan bertambah
erat, jika disertai perasaan senang atau puas dan sebaliknya bisa lenyap
jika disertai perasaan tidak senang. Artinya jika suatu perbuatan itu
menimbulkan efek baik, maka perbuatan itu cenderung diulangi.
Sebaliknya jika perbuatan itu menimbulkan efek negatif, maka cenderung
untuk ditinggalkan atau tidak diulangi lagi. Siswa akan belajar lebih
semangat apabila mengetahui dan mendapat hasil yang baik. Apabila
hasilnya baik akan menjadi balikan yang menyenangkan dan berpengaruh
baik bagi usaha belajar selanjutnya. Namun dorongan belajar itu tidak saja
dari penguatan yang menyenangkan tetapi juga yang tidak menyenangkan,
atau dengan kata lain adanya penguatan positif maupun negatif dapat
memperkuat belajar. Siswa yang belajar sungguh-sungguh akan mendapat
nilai yang baik dalam ulangan. Nilai yang baik itu mendorong anak untuk
belajar lebih giat lagi. Nilai yang baik dapat merupakan operan conditioning
atau penguatan positif. Sebaliknya, anak yang mendapat nilai yang jelek
pada waktu ulangan akan merasa takut tidak naik kelas, karena takut tidak
naik kelas ia terdorong untuk belajar yang lebih giat. Disini nilai jelek dan
takut tidak naik kelas juga bisa mendorong anak untuk belajar lebih giat,
inilah yang disebut penguatan negatif.

7) Perbedaan Individual
Peserta didik merupakan makhluk individu yang unik yang mana masing-
masing mempunyai perbedaan yang khas, seperti perbedaan intelegensi,
minat, bakat, hobi, tingkah laku maupun sikap, mereka berbeda pula dalam
hal latar belakang kebudayaan, sosial, ekonomi dan keadaan orang
tuanya. Guru harus memahami perbedaan peserta didik secara individu,

Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan | 29


Kegiatan Pembelajaran 1

agar dapat melayani pendidikan yang sesuai dengan perbedaannya itu.


Peserta didik akan berkembang sesuai dengan kemampuannya masing-
masing. Setiap peserta didik memiliki tempo perkembangan sendiri-
sendiri, maka guru dapat memberi pelajaran sesuai dengan temponya
masing-masing. Perbedaan individual ini berpengaruh pada cara dan hasil
belajar peserta didik. Karenanya, perbedaan individu perlu diperhatikan
oleh guru dalam upaya pembelajaran. Sistem pendidikan klasik yang
dilakukan di sekolah kita kurang memperhatikan masalah perbedaan
individual, umumnya pelaksanaan pembelajaran di kelas dengan melihat
peserta didik sebagai individu dengan kemampuan rata-rata, kebiasaan
yang kurang lebih sama, demikian pula dengan pengetahuannya.

Prinsip-prinsip belajar lain yang disampaikan oleh Rothwal adalah berikut: (1)
Prinsip kesiapan individu yang memungkinkan ia dapat belajar, (2) Prinsip
Motivasi, (3) Prinsip persepsi, (4) Prinsip tujuan, (5) Prinsip perbedaan
individual, (6) Prinsip Transfer dan Retensi, (7) Prinsip belajar kognitif dalam
rangkan membentuk perilaku baru, berfikir, bernalar, dan berimajinasi, (8)
Prinsip belajar Afektif, (9) Prinsip Belajar Psikomotor, (10) Prinsip Belajar
Evaluasi.

b Implikasi prinsip pembelajaran

Implikasi dari prinsip-prinsip belajar yang secara umum berkaitan dengan


perhatian dan motivasi, keaktifan, keterlibatan langsung/berpengalaman,
pengulangan, tantangan, balikan dan penguatan, serta perbedaan individual
dapat dilihat pada Tabel 4.

Tabel 4 Implikasi Prinsip-Prinsip Pembelajaran

Prinsip Implikasi Bagi Guru Implikasi Bagi Siswa


Belajar

Perhatian Merangsang atau Siswa dituntut untuk


dan Motivasi menyiapkan bahan ajar memberikan perhatian terhadap
yang menarik. semua rangsangan yang
Mengkondisikan proses mengarah kearah tujuan belajar.
belajar aktif. Mengunakan Adanya tuntutan untuk selalu
metode yang bervariasi. memberikan perhatian ini,
menyebabkan siswa harus
membangkitkan perhatiannya

30 | Modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan


Pedagogik KK B

kepada segala pesan yang


dipelajari.

Keaktifan Memberikan kesempatan Dituntut dapat memproses dan


melakukan pengamatan, mengolah hasil belajarnya
penyelidikkan atau inkuiri secara efektif serta aktif baik
dan eksperimen. Serta secara fisik, intelektual dan
memberikan tugas emosional misal berwujud
individual dan kelompok perilaku-perilaku seperti mencari
melalui kontrol guru. sumber informasi yang
dibutuhkan, menganalisis hasil
percobaan, ingin tahu hasil dari
suatu reaksi kimia, karya tulis,
membuat klipping dan perilaku
lainnya.

Keterlibatan Menggunakan media Dengan keterlibatan langsung


Langsung/ secara langsung dan ini secara logis akan
Berpengalam melibatkan peserta didik menyebabkan peserta didik
an untuk melakukan berbagai memperoleh pengala man.
percobaan atau Peserta didik dituntut
eksperimen, mencari mengerjakan sendiri tugas yang
informasi, merangkum diberikan guru kepada mereka.
informasi dan Contohnya peserta didik
menyimpulkan informasi. melakukan reaksi kimia pada
suatu zat.

Pengulangan Merancang kegiatan Dituntut kesadaran peserta didik


pengulangan dan untuk bersedia mengerjakan
mengembangkan soal-soal latihan-latihan yang berulang
latihan dan bervariasi. untuk satu macam
permasalahan.

Tantangan Memberikan tugas-tugas Dituntut memiliki kesadaran


dan tanggungjawab pada diri peserta didik akan
untukmemecahkan adanya kebutuhan untuk selalu
masalah secara mandiri. memperoleh, memproses, dan
mengo lah pesan. Peserta didik
juga harus memiliki
keingintahuan yang besar
terhadap segala permasalahan
yang dihadapi.

Balikan atau Memberikan kepada Segera mencocokkan jawaban


Penguatan peserta didik jawaban yang dengan kunci jawaban, dan
benar, serta mengoreksi menerima kenyataan terhadap
sekaligus membahas nilai yang dicapai.
pekerjaan siswa.

Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan | 31


Kegiatan Pembelajaran 1

Perbedaan Mendorong peserta didik Memilih tempat duduk di kelas,


Individual dalam memahami potensi belajar sesuai tempo kecepatan
dirinya dan untuk masing-masing siswa.
selanjutnya mampu
merencanakan dan
melaksanakan suatu
kegiatan. Menentukan
metode yang dapat
melayani seluruh siswa,
karena heterogenitas

c Prinsip pembelajaran berdasarkan peraturan yang berlaku


Proses pembelajaran pada satuan pendidikan diselenggarakan secara
interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik
untuk berpartisipasi aktif dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat, dan
perkembangan fiisik serta psikologis peserta didik. Untuk itu setiap satuan
pendidikan melakukan perencanaan pembelajaran, pelaksanaan proses
pembelajaran serta penilaian proses pembelajaran untuk meningkatkan
eifisiensi dan efektivitas ketercapaian kompetensi lulusan.

Untuk mencapai kualitas yang telah dirancang dalam dokumen kurikulum,


sesuai dengan ketetapan Permendikbud No 22 tahun 2016 tentang Standar
Proses Pendidikan Dasar dan Menengah prinsip yang digunakan sebagai
berikut:
1. Dari peserta didik diberi tahu menuju peserta didik mencari tahu;
2. Dari guru sebagai satu-satunya sumber belajar menjadi belajar berbasis
aneka sumber belajar;
3. Dari pendekatan tekstual menuju proses sebagai penguatan penggunaan
pendekatan ilmiah;
4. Dari pembelajaran berbasis konten menuju pembelajaran berbasis
kompetensi;
5. Dari pembelajaran parsial menuju pembelajaran terpadu;
6. Dari pembelajaran yang menekankan jawaban tunggal menuju
pembelajaran dengan jawaban yang kebenarannya multi dimensi;
7. Dari pembelajaran verbalisme menuju keterampilan aplikatif;

32 | Modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan


Pedagogik KK B

8. Peningkatan dan keseimbangan antara keterampilan fisikal (hardskills) dan


keterampilan mental (softskills);
9. Pembelajaran yang mengutamakan pembudayaan dan pemberdayaan
peserta didik sebagai pembelajar sepanjang hayat;
10. Pembelajaran yang menerapkan nilai-nilai dengan memberi keteladanan
(ing ngarso sung tulodo), membangun kemauan (ing madyo mangun
karso), dan mengembangkan kreativitas peserta didik dalam proses
pembelajaran (tut wuri handayani);
11. Pembelajaran yang berlangsung di rumah di sekolah, dan di masyarakat;
12. Pembelajaran yang menerapkan prinsip bahwa siapa saja adalah guru,
siapa saja adalah peserta didik, dan di mana saja adalah kelas;
13. Pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi untuk meningkatkan
efisiensi dan efektivitas pembelajaran; dan
14. Pengakuan atas perbedaan individual dan latar belakang budaya peserta
didik.

D. Aktivitas Pembelajaran

Aktivitas pembelajaran pada kegiatan pembelajaran 1 tentang Teori Belajar dan


Prinsip-Prinsip Pembelajaran terdiri atas dua bagian: yaitu diskusi materi dan
aktivitas mengerjakan lembar kerja. Anda dipersilahkan melakukan aktivitas
pembelajaran tersebut secara mandiri dan kerjasama dengan disiplin dan penuh
tanggung jawab yang tinggi.
1. Diskusi Materi
Pada saat mempelajari materi, baca uraian materi sampai tuntas dengan teliti,
kritis, dan rasa ingin tahu yang tinggi dan buatlah rangkuman dengan kreatif
dalam bentuk peta pikiran (mindmap) secara mandiri kemudian diskusikan
dalam kelompok. Selanjutnya perwakilan kelompok bekerjasama
mempresentasikan hasil diskusi kelompok dan anggota kelompok lain
menghargai, memperhatikan dan menanggapinya secara aktif.
2. Lembar Kerja
Setelah mengkaji materi Teori Belajar dan Prinsip-Prinsip Pembelajaran
secara seksama, Anda dapat mencoba melakukan kegiatan yang dalam

Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan | 33


Kegiatan Pembelajaran 1

modul ini disajikan dalam lembar kerja. Pastikan Anda sudah menguasai
seluruh materi dalam modul.
Aktivitas dapat dilakukan secara mandiri atau dapat bekerjasama dalam
kelompok masing-masing serta menyelesaikan aktivitas secara disiplin
sesuai dengan waktu yang ditentukan dengan menggunakan Lembar Kerja 1
– 4 (terlampir).

E. Latihan/Kasus/Tugas

Kerjakan latihan berikut secara mandiri dan dengan penuh kejujuran, jawablah
dengan singkat dan jelas!
1. Jelaskan perbedaan antara teori behaviorisme, kognitivisme, konstruktivisme,
dan humanisme!

2. Jelaskan prinsip-prinsip pembelajaran secara umum dan implikasinya!

3. Jelaskan prinsip-prinsip yang digunakan dalam pembelajaran sesuai dengan


Permebndikbud no 22 tahun 2016 tentang Standar Proses Pendidikan Dasar
dan Menengah!

F. Umpan Balik Dan Tindak Lanjut

1. Umpan balik
a. Hal-hal apa saja yg sudah saudara kuasai berdasarkan pemahaman dan
pengalaman yang berkaitan dengan materi pokok teori belajar dan prinsip-
prinsip pembelajaran yang mendidik ?
b. Hal-hal apa saja yg masih belum saudara kuasai berdasarkan pemahaman
dan pengalaman yang berkaitan dengan materi pokok teori belajar dan
prinsip-prinsip pembelajaran yang mendidik ?
c. Saran apa yang dapat saudara sampaikan terkait dengan proses
pembahasan materi pokok teori belajar dan prinsip-prinsip pembelajaran
yang mendidik agar kegiatan berikutnya lebih baik / lebih berhasil ?

34 | Modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan


Pedagogik KK B

2. Tindak lanjut
Skor maksimal dari hasil mengerjakan latihan/tugas adalah 100. Nilailah diri
Anda dengan jujur dan profesional. Jika Anda memperkirakan bahwa pencapaian
Anda masih kurang dari 75% sebaiknya Anda ulangi kembali mempelajari bab ini
dengan pantang menyerah, disiplin dan kerja keras. Berdiskusi dan
bekerjasamalah dengan teman atau sejawat Anda dengan menumbuhkan sikap
saling menghargai, tidak memaksakan kehendak, berpikir terbuka dan tetap kritis
secara profesional bila ada bagian-bagian yang belum Anda kuasai.

Bagi Anda yang memperkirakan bahwa skor Anda minimal sudah mencapai
75%, berarti Anda telah menguasai materi Teori Belajar dan Prinsip-Prinsip
Pembelajaran dengan baik. Silahkan Anda lanjutkan mempelajari materi
selanjutnya. Selain itu, kemampuan Anda akan semakin kuat dengan dukungan
informasi yang bisa Anda dapatkan dari internet. Tetaplah menjadi guru yang
belajar sepanjang hayat, pantang menyerah dan disiplin dalam belajar.

Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan | 35


Pedagogik KK B

Kegiatan Pembelajaran 2
Pendekatan, Strategi, Metode Dan Teknik
Pembelajaran

A. Tujuan

Setelah mengikuti kegiatan pembelajaran 2 ini, melalui kegiatan individu dan


diskusi kelompok diharapkan peserta pelatihan dapat memahami tentang:
pendekatan pembelajaran khususnya berkaitan dengan saintifik, strategi dan
model-model pembelajaran, serta berbagai metode dan teknik pembelajaran
serta mampu menerapkan pendidikan Karakter.

B. Indikator Pencapaian Kompetensi

Kompetensi yang harus dicapai oleh guru pembelajar melalui modul ini, adalah
dengan adanya indikator sebagai berikut:
1. Pendekatan pembelajaran teacher center dan student center dijelaskan
dengan tepat
2. Pendekatan pembelajaran saintifik diterapkan sesuai dengan karakteristik
materi yang akan diajarkan.
3. Strategi pembelajaran (menurut Rowntree) dijelaskan dengan benar
4. Model-model pembelajaran (Problem based learning, Project based learning,
Discovery learning dan inquiry learning) dibedakan dengan tepat.
5. Berbagai strategi/model pembalajaran (Problem based learning, Project based
learning, Discovery learning dan inquiry learning) diterapkan sesuai dengan
karakteristik materi pelajaran.
6. Berbagai metode dan teknik pembelajaran dijelaskan dengan benar
7. Berbagai metode dan teknik pembelajaran diterapkan sesuai dengan tujuan
pembelajaran

Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan | 37


Kegiatan Pembelajaran 2

C. Uraian Materi

1. Pendekatan Pembelajaran
Menurut pendapat Wahjoedi, pendekatan pembelajaran adalah cara mengelola
kegiatan belajar dan perilaku peserta didik agar ia dapat aktif melakukan tugas
belajar sehingga dapat memperoleh hasil belajar secara optimal. Sedangkan
menurut Sanjaya (2008) pendekatan pembelajaran dapat diartikan sebagai
titik tolak atau sudut pandang kita terhadap proses pembelajaran, yang merujuk
pada pandangan tentang terjadinya suatu proses yang sifatnya masih sangat
umum. Di dalamnya mewadahi, menginspirasi, menguatkan, dan melatari
metode pembelajaran dengan cakupan teoretis tertentu. Berdasarkan kajian
terhadap pendapat ini, maka pendekatan merupakan langkah awal pembentukan
suatu ide dalam memandang suatu masalah atau obyek kajian. Pendekatan ini
akan menentukan arah pelaksanaan ide tersebut untuk menggambarkan
perlakuan yang diterapkan terhadap masalah atau obyek kajian yang akan
ditangani.

Roy Killen (1998) mencatat ada dua pendekatan dalam pembelajaran, yaitu
pendekatan yang berpusat pada guru (teacher-centred approaches) dan
pendekatan yang berpusat pada peserta didik (student-centred approaches).
Namun masih ada jenis pendekatan yang lain, misalnya pendekatan saintifik.
a. Pendekatan pembelajaran yang berorientasi pada guru (teacher
centered approach)
Pendekatan pembelajaran yang berorientasi pada guru memiliki ciri bahwa
manajemen dan pengelolaan pembelajaran ditentukan oleh guru. Peran
peserta didik pada pendekatan ini hanya melakukan aktivitas sesuai dengan
petunjuk guru. Selanjutnya pendekatan pembelajaran yang berpusat pada
guru menurunkan strategi pembelajaran langsung (direct instruction),
pembelajaran deduktif atau pembelajaran ekspositori. Pada strategi ini peran
guru sangat menentukan baik dalam pilihan isi atau materi pelajaran maupun
penentuan proses pembelajaran.

b. Pendekatan pembelajaran yang berorientasi pada peserta didik (student


centered approach).

38 | Modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan


Pedagogik KK B

Pendekatan pembelajaran berorientasi pada peserta didik adalah pendekatan


pembelajaran yang menempatkan peserta didik sebagai subjek belajar.
Pendekatan pembelajaran yang berorientasi pada peserta didik, menejemen,
dan pengelolaannya ditentukan oleh peserta didik. Pada pendekatan ini
peserta didik memiliki kesempatan yang terbuka untuk melakukan kreativitas
dan mengembangkan potensinya melalui aktivitas secara langsung sesuai
dengan minat dan keinginannya.

Pendekatan ini selanjutnya menurunkan strategi pembelajaran discovery dan


inkuiry serta strategi pembelajaran induktif. Pada strategi ini peran guru
sebagai fasilitator, dan pembimbing sehingga kegiatan belajar peserta didik
menjadi lebih terarah. Pendekatan pembelajaran sebagai pedoman umum
dalam menyusun langkah-Iangkah metode pengajaran yang akan digunakan.

c. Pendekatan Saintifik
1) Esensi Pendekatan Saintifik/Pendekatan Ilmiah
Proses pembelajaran dapat dipadankan dengan suatu proses ilmiah,
karena itu Pendekatan saintifik diyakini sebagai titian emas perkembangan
dan pengembangan sikap, keterampilan, dan pengetahuan peserta didik.
Dalam pendekatan atau proses kerja yang memenuhi kriteria ilmiah, para
ilmuan lebih mengedepankan penalararan induktif (inductive reasoning)
dibandingkan dengan penalaran deduktif (deductive reasoning).

Penalaran induktif memandang fenomena atau situasi spesifik, kemudian


menarik simpulan secara keseluruhan. Penalaran induktif menempatkan
bukti-bukti spesifik ke dalam relasi ide yang lebih luas. Metode ilmiah
umumnya menempatkan fenomena unik dengan kajian spesifik dan detail
untuk kemudian merumuskan simpulan umum. Metode ilmiah merujuk
pada teknik-teknik investigasi atas suatu atau beberapa fenomena atau
gejala, memperoleh pengetahuan baru, atau mengoreksi dan memadukan
pengetahuan sebelumnya. Untuk dapat disebut ilmiah, metode pencarian
(method of inquiry) harus berbasis pada bukti-bukti dari objek yang dapat
diobservasi, empiris, dan terukur dengan prinsip-prinsip penalaran yang
spesifik. Karena itu, metode ilmiah umumnya memuat serangkaian aktivitas

Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan | 39


Kegiatan Pembelajaran 2

pengumpulan data melalui observasi atau ekperimen, mengolah informasi


atau data, menganalisis, kemudian memformulasi, dan menguji hipotesis.
Pembelajaran dengan pendekatan saintifik dapat didefinisikan sebagai
pembelajaran yang dirancang sedemikian rupa sehingga peserta didik
secara aktif mengonstruk konsep, hukum atau prinsip melalui tahapan-
tahapan mengamati (untuk mengidentifikasi atau menemukan masalah),
merumuskan masalah, mengajukan atau merumuskan hipotesis,
mengumpulkan data dengan berbagai teknik, menganalisis data, menarik
kesimpulan dan mengomunikasikan konsep, hukum atau prinsip yang
“ditemukan”.

Penerapan pendekatan saintifik dalam pembelajaran melibatkan


keterampilan proses seperti mengamati, mengklasifikasi, mengukur,
meramalkan, menjelaskan, dan menyimpulkan. Dalam melaksanakan
proses-proses tersebut, bantuan guru diperlukan. Akan tetapi bantuan guru
tersebut harus semakin berkurang dengan semakin bertambah dewasanya
peserta didik atau semakin tingginya kelas peserta didik.

2) Langkah-langkah Pembelajaran dengan Pendekatan Saintifik


Langkah pembelajaran dengan pendekatan saintifik yang dikenal atau
sering disebut memiliki lima M yaitu: mengamati, menanya, mengumpulkan
informasi, mengasosiasi, dan mengomunikasikan secara jelas dapat dilihat
deskripsinya pada Tabel 5.

Tabel 5 Deskripsi Langkah Pembelajaran Berpendekatan Saintifik


Langkah
Deskripsi Kegiatan Bentuk Hasil Belajar
Pembelajaran
Mengamati Mengamati melalui indra Perhatian pada waktu
(observing) (membaca, mendengar, mengamati suatu objek/
menyimak, melihat, membaca suatu tulisan/
menonton, dan mendengar suatu
sebagainya) suatu obyek penjelasan, catatan yang
dengan atau tanpa alat. dibuat tentang yang
diamati, kesabaran, waktu
(on task) yang digunakan
untuk mengamati.

Menanya Membuat dan Jenis, kualitas, dan jumlah


(questioning) mengajukan pertanyaan, pertanyaan yang diajukan

40 | Modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan


Pedagogik KK B

tanya jawab, berdiskusi peserta didik (pertanyaan


tentang informasi yang faktual, konseptual,
belum dipahami, informasi prosedural, dan hipotetik).
tambahan yang ingin
diketahui, atau sebagai
klarifikasi.

Mengumpulkan Mengeksplorasi, Jumlah dan kualitas


informasi/ mencoba, berdiskusi, sumber yang
mencoba mendemonstrasikan, dikaji/digunakan,
(experimenting) meniru bentuk/gerak, kelengkapan informasi,
melakukan eksperimen, validitas informasi yang
membaca sumber lain dikumpulkan, dan
selain buku teks, instrumen/alat yang
mengumpulkan data dari digunakan untuk
nara sumber melalui mengumpulkan data.
angket, wawancara, dan
memodifikasi/
menambahi/mengem-
bangkan

Menalar/ Mengolah informasi yang Mengembangkan


Mengasosiasi sudah dikumpulkan, interpretasi, argumentasi
(associating) menganalisis data dalam dan kesimpulan mengenai
bentuk membuat kategori, keterkaitan informasi dari
mengasosiasi atau dua fakta/ konsep,
menghubungkan interpretasi argumentasi
fenomena/informasi yang dan kesimpulan mengenai
terkait dalam rangka keterkaitan lebih dari dua
menemukan suatu pola, fakta/ konsep/ teori,
dan menyimpulkan. menyintesis dan
argumentasi serta
kesimpulan keterkaitan
antarberbagai jenis fakta/
konsep/ teori/ pendapat;
mengembangkan
interpretasi, struktur baru,
argumentasi, dan
kesimpulan yang
menunjukkan hubungan
fakta/konsep/ teori dari
dua sumber atau lebih
yang tidak bertentangan;
mengembangkan
interpretasi, struktur baru,
argumentasi dan
kesimpulan dari konsep/
teori/ pendapat yang
berbeda dari berbagai
jenis sumber.

Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan | 41


Kegiatan Pembelajaran 2

Mengomunikasi Menyajikan laporan dalam Menyajikan hasil kajian


kan bentuk bagan, diagram, (dari mengamati sampai
(communicating atau grafik; menyusun menalar) dalam bentuk
) laporan tertulis; dan tulisan, grafis, media
menyajikan laporan elektronik, multi media
meliputi proses, hasil, dan dan lain-lain.
kesimpulan secara lisan.

2. Strategi dan Model Pembelajaran


Strategi dan model pembelajaran sangat perlu mendapat perhatian. Karena
pemilihan strategi dan model pembelajaran yang tepat akan menunjang
keberhasilan pencapaian tujuan pembelajaran, menciptakan suasana
pembelajaran yang menyenangkan dan menggairahkan sehingga mampu
meningkatkan peran aktif peserta didik.
a. Strategi Pembelajaran
Dalam dunia pendidikan, strategi diartikan sebagai plan, method, or series of
activities designed to achieves a particular educational goal. Jadi, dengan
demikian strategi pembelajaran dapat diartikan sebagai perencanaan yang
berisi tentang rangkaian kegiatan yang didesain untuk mencapai tujuan
pendidikan (Martinis Yamin, 2009).
Strategi pembelajaran sifatnya masih konseptual dan untuk
mengimplementasikan digunakan berbagai metode pembelajaran tertentu.
Dengan kata lain, strategi merupakan “a plan of operation achieving
something” sedangkan metode adalah “a way in achieving something”
(Sanjaya, 2008). Jadi, metode pembelajaran merupakan cara yang digunakan
untuk mengimplementasikan rencana yang sudah disusun dalam bentuk
kegiatan nyata dan praktis untuk mencapai tujuan pembelajaran.

a) Jenis Strategi Pembelajaran


Menurut Rowntree (Sanjaya, 2008), strategi pembelajaran dibedakan
dalam tiga kelompok, yaitu: strategi penyampaian penemuan (exposition-
discovery learning), strategi pembelajaran kelompok, dan strategi
pembelajaran individual (groups-individual learning).

42 | Modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan


Pedagogik KK B

1) Strategi Penyampaian (exposition-discovery))


Strategi pembelajaran eksposition merupakan strategi pembelajaran
yang menekankan kepada proses penyampaian materi secara intensif
dari seorang guru kepada sekelompok peserta didik dengan maksud
agar peserta didik dapat menguasai materi pelajaran secara optimal.
Berbeda dengan strategi discovery, yang mana bahan pelajaran dicari
dan ditemukan sendiri oleh peserta didik melalui berbagai aktivitas,
sehingga tugas pendidik lebih banyak sebagai fasilitator dan
pembimbing. Karena sifatnya yang demikian strategi ini sering disebut
juga sebagai strategi pembelajaran tidak langsung.

2) Strategi Pembelajaran Kelompok


Belajar kelompok dilakukan secara beregu. Bentuk belajar kelompok ini
bisa dalam pembelajaran kelompok besar atau klasikal; atau bisa juga
dalam kelompok-kelompok kecil. Strategi ini tidak memperhatikan
kecepatan belajar individual, semua dianggap sama. Oleh karena itu,
dalam belajar kelompok dapat terjadi peserta didik yang memiliki
kemampuan tinggi akan terhambat oleh peserta didik yang
kemampuannya biasa-biasa saja. Begitu pula sebaliknya, peserta didik
yang memiliki kemampuan kurang akan merasa tergusur oleh peserta
didik yang kemampuannya tinggi.

3) Strategi Pembelajaran Individual


Strategi pembelajaran individual dilakukan peserta didik secara mandiri.
Kecepatan, kelambatan, dan keberhasilan peserta didik sangat
ditentukan oleh kemampuan individu peserta didik yang bersangkutan.
Bahan pelajaran serta bagaimana mempelajarinya didesain untuk
belajar sendiri. Contoh dari strategi pembelajaran ini adalah belajar
melalui modul atau melalui kaset audio.

b) Pertimbangan Penentuan Strategi Pembelajaran


Beberapa faktor yang perlu dipertimbangkan dalam menentukan strategi
pembelajaran tertulis di bawah ini.

Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan | 43


Kegiatan Pembelajaran 2

1) Tujuan Pembelajaran
Tujuan merupakan faktor yang paling pokok, sebab semua faktor yang
ada di dalam situasi pembelajaran, termasuk strategi pembelajaran,
diarahkan dan diupayakan semata-mata untuk mencapai tujuan. Tujuan
pengajaran menggambarkan tingkah laku yang harus dimiliki
mahapeserta didik setelah proses pembelajaran selesai dilaksanakan.
Tingkah laku tersebut dalam dikeleompokkan ke dalam kelompok
pengetahuan (aspek kognitif), keterampilan (aspek psikomotorik), dan
sikap (aspek afektif)

2) Materi Pembelajaran
Dilihat dari hakikatnya, ilmu atau materi pelajaran memiliki karakteristik
yang berbeda-beda. Karakteristik ilmu atau materi pelajaran membawa
implikasi terhadap penggunaan cara dan teknik dalam pembelajaran.
Secara teoritis di dalam ilmu atau materi terdapat beberapa sifat materi,
yaitu fakta, konsep, prinsip, masalah, prosedur (keterampilan), dan sikap
(nilai).

3) Peserta didik
Peserta didik sebagai pihak yang berkepentingan di dalam proses
pembelajaran, sebab tujuan yang harus dicapai semata-mata untuk
mengubah perilaku peserta didik itu sendiri. Beberapa hal yang perlu
dipertimbangkan ialah jumlah peserta didik yang terlibat di dalam proses
pembelajaran.
4) Waktu
Faktor waktu dapat dibagi dua, yaitu yang menyangkut jumlah waktu
dan kondisi waktu. Hal yang menyangkut jumlah waktu adalah berapa
jumlah jam pelajaran yang tersedia untuk proses pembelajaran.
Sedangkan yang menyangkut kondisi waktu ialah kapan pembelajaran
itu dilaksanakan. Pagi, siang, sore atau malam, kondisinya akan
berbeda. Hal tersebut akan berpengaruh terhadap proses pembelajaran
yang terjadi.

5) Guru

44 | Modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan


Pedagogik KK B

Faktor guru, Teknik penyajian yang paralel adalah teknik penemuan,


teknik penyajian kasus, dan teknik nondirektif. Faktor guru adalah salah
satu faktor penentu, pertimbangan semua faktor di atas akan sangat
bergantung kepada kreativitas guru. Dedikasi dan kemampuan gurulah
yang pada akhirnya mempengaruhi proses pembelajaran.

b. Model Pembelajaran
Proses belajar mengajar dalam Kurikulum 2013 yang menggunakan
pendekatan saintifik, mengharuskan seorang guru menggunakan model atau
metode yang sejalan dengan pendekatan tersebut. Model pembelajaran yang
diamanatkan dalam implementasi Kurikulum 2013, antara lain model problem
based learning, discovery based learning, dan project based learning, yang
memungkinkan siswa dapat terjun langsung dalam pemecahan masalah dan
menemukan data di lapangan sebagai pondasi dalam menemukan ilmu
pengetahuan.

Model pembelajaran adalah kerangka konseptual yang digunakan sebagai


pedoman dalam melakukan pembelajaran yang disusun secara sistematis
untuk mencapai tujuan belajar yang menyangkut sintaksis, sistem sosial,
prinsip reaksi dan sistem pendukung (Joyce, 1980). Sedangkan menurut
Arends dalam Trianto (2007), mengatakan “model pembelajaran adalah suatu
perencanaan atau suatu pola yang digunakan sebagai pedoman dalam
merencanakan pembelajaran di kelas. Sehingga model pembelajaran dapat
dikonsepkan pengertiannya menjadi suatu kerangka konseptual yang
melukiskan prosedur yang sistematis dalam mengorganisasikan pengalaman
belajar untuk mencapai tujuan belajar tertentu.

Model pembelajaran mempunyai peran yang sangat penting dalam proses


pembelajaran. Model yang dipilih dan ditetapkan guru harus sesuai dengan
karakteristik peserta didik dan khususnya tujuan pembelajaran yang akan
dicapai. Dengan model pembelajaran yang sesuai diharapkan siswa menjadi
aktif dan dapat berpengaruh pada hasil belajar peserta didik.
1. Problem Based Learning
Pembelajaran berbasis masalah (problem based learning disingkat PBL)
merupakan salah satu model pembelajaran inovatif yang dapat

Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan | 45


Kegiatan Pembelajaran 2

memberikan kondisi belajar aktif kepada peserta didik. PBL adalah suatu
model pembelajaran yang melibatkan siswa untuk memecahkan suatu
masalah melalui tahap-tahap metode ilmiah sehingga siswa dapat
mempelajari pengetahuan yang berhubungan dengan masalah tersebut
dan sekaligus memiliki ketrampilan untuk memecahkan masalah (Ward,
2002; Stepien, dkk.,1993). Selaras denagn itu Boud dan felleti, (1997),
Fogarty(1997) menyatakan bahwa PBL adalah suatu pendekatan
pembelajaran dengan membuat konfrontasi kepada peserta didik dengan
masalah-masalah praktis, berbentuk ill-structured (masalah tidak
dideskripsikan secara jelas) atau sering disebut juga dengan istilah open
ended melalui stimulus dalam belajar. Dengan demikian pembelajaran
berbasis masalah merupakan strategi pembelajaran yang menggunakan
masalah dunia nyata sebagai suatu konteks untuk belajar tentang cara
berpikir kritis dan keterampilan pemecahan masalah, serta untuk
memperoleh pengetahuan dan konsep yang esensial dari materi pelajaran.

Langkah-langkah model problem based learning (pembelajaran berbasis


masalah) antara lain: orientasi masalah, organisasi belajar, penyelidikan
individu maupun kelompok, pengembangan dan penyajian hasil, analisis
dan evaluasi proses hasil pemecahan masalah. Untuk lebih jelas tahap dan
deskripsinya dapat dilihat pada Tabel 6.

Tabel 6 Tahap Pembelajaran Berbasis Masalah

Tahap Deskripsi Kegiatan

I. Orientasi Guru menjelaskan tujuan pembelajaran,


Masalah menjelaskan logistik yang diperlukan, pengajuan
masalah, memotivasi siswa untuk terlibat dalam
aktivitas pemecahan masalah yang dipilihnya.

II. Mengorganisasi Guru membagi peserta didik menjadi kelompok-


Belajar kelompok kecil, membantu siswa mendefenisikan
dan mengorganisasikan tugas belajar yang
berhubungan dengan masalah tersebut.

III. Penyelidikan Guru mendorong peserta didik untuk


Individu mengumpulkan informasi yang diperlukan,
Maupun melaksanakan eksperimen dan penyelidikan untuk
Kelompok mendapatkan penjelasan dan pemecahan masalah.

46 | Modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan


Pedagogik KK B

IV. Pengembangan Guru membantu peserta didik dalam merencanakan


dan Penyajian dan menyiapkan hasil kerja atau karya antara lain
Hasil berupa: laporan, dokumentasi, atau model dan
membantu mereka berbagi tugas dengan sesama
temannya.

V. Analisis dan Guru membantu peserta didik untuk melakukan


Evaluasi refleksi atau evaluasi terhadap proses dan hasil
Proses Hasil penyelidikan yang mereka lakukan.
Pemecahan
Masalah

2. Discovery Based Learning


Discovery Based Learning merupakan model pembelajaran yang
diperkenalkan oleh Jerome Bruner, dan merupakan pembelajaran berbasis
penyelidikan (inquiry). Teori ini sangat populer dalam mendorong peserta
didik untuk membangun pengetahuan dan pengalaman yang dimiliki,
menggunakan intuisi, imajinasi dan kreativitas mereka, dan mencari
informasi baru untuk menemukan fakta, korelasi dan kebenaran baru.
Mengingat bahwa belajar tidak sama dengan penyerapan apa yang
dikatakan atau dibaca, tapi justru peserta didik secara aktif mencari
jawaban dan solusinya. Menurut Bruner (1961): pembelajaran penemuan
adalah teori pembelajaran konstruktivis berbasis penyelidikan yang terjadi
dalam situasi pemecahan masalah dimana pelajar memanfaatkan
pengalaman masa lalunya dan pengetahuan yang ada untuk menemukan
fakta dan hubungan dan kebenaran baru untuk dipelajari. Selanjutnya
ditegaskan dalam pernyataannya “Practice in discovering for oneself
teaches one to acquire information in a way that makes that information
more readily viable in problem solving" (Berlatih dalam menemukan sendiri
mengajarkan seseorang untuk memperoleh informasi yang membuat lebih
mudah dalam memecahankan masalah).

Discovery learning merupakan suatu pembelajaran proses yang berfokus


pada pengaktifan peserta didik untuk menemukan konsep, makna, dan
hubungan kausal (hubungan sebab akibat atau dampak) melalui
pengorganisasian pembelajaran yang dilakukan oleh peserta didik.

Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan | 47


Kegiatan Pembelajaran 2

Pengaplikasian model discovery learning dalam pembelajaran antara lain:


fase persiapan dan fase pelaksanaan, berikut akan diuraikan di bawah..
1) Persiapan menurut Budiningsih (2005) meliputi:
 Menentukan tujuan pembelajaran
 Melakukan identifikasi karakteristik siswa (kemampuan awal, minat,
gaya belajar, dan sebagainya)
 Memilih materi pelajaran.
 Menentukan topik-topik yang harus dipelajari siswa secara induktif
(dari contoh-contoh generalisasi)
 Mengembangkan bahan-bahan belajar yang berupa contoh-contoh,
ilustrasi, tugas dan sebagainya untuk dipelajari siswa
 Mengatur topik-topik pelajaran dari yang sederhana ke kompleks, dari
yang konkret ke abstrak, atau dari tahap enaktif, ikonik sampai ke
simbolik
 Melakukan penilaian proses dan hasil belajar siswa
2) Pelaksanaan
(a) Stimulation (stimulasi/pemberian rangsangan)
(b) Problem statement (pernyataan/ identifikasi masalah)
(c) Data collection (Pengumpulan Data)
(d) Data Processing (Pengolahan Data)
(e) Verification (Pembuktian)
(f) Generalization (menarik kesimpulan/generalisasi)
Untuk memperjelas pelaksanaan pembelajaran dalam model discovery
learning ini dapat dilihat pada Tabel 7.

Tabel 7 Tahap dan Deskripsi Pelaksanaan Pembelajaran Model Discovery


Learning

Tahap Deskripsi Kegiatan

I. Stimulation Peserta didik dihadapkan pada sesuatu yang


(stimulasi/pem menimbulkan kebingungannya, kemudian
berian dilanjutkan untuk tidak memberi generalisasi, agar
rangsangan) timbul keinginan untuk menyelidiki sendiri. Di
samping itu guru dapat memulai kegiatan
pembelajaran dengan mengajukan pertanyaan,
anjuran membaca buku, dan aktivitas belajar
lainnya yang mengarah pada persiapan

48 | Modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan


Pedagogik KK B

pemecahan masalah. Stimulasi pada tahap ini


berfungsi untuk menyediakan kondisi interaksi
belajar yang dapat mengembangkan dan
membantu peserta didik dalam mengeksplorasi
bahan.

II. Problem Guru memberi kesempatan kepada peserta didik


statement untuk mengidentifikasi sebanyak mungkin agenda-
(pernyataan/ agenda masalah yang relevan dengan bahan
identifikasi pelajaran, kemudian salah satunya dipilih dan
masalah) dirumuskan dalam bentuk hipotesis (jawaban
sementara atas pertanyaan masalah)

III. Data collection Ketika eksplorasi berlangsung guru juga memberi


(Pengumpulan kesempatan kepada para peserta didik untuk
Data) mengumpulkan informasi yang relevan sebanyak-
banyaknya guna membuktikan benar atau tidaknya
hipotesis (Syah, 2004:244). Pada tahap ini
berfungsi untuk menjawab pertanyaan atau
membuktikan benar tidaknya hipotesis. Dengan
demikian peserta didik diberi kesempatan untuk
mengumpulkan (collection) berbagai informasi
yang relevan, membaca literatur, mengamati
objek, wawancara dengan nara sumber,
melakukan uji coba sendiri dan sebagainya.
Konsekuensi dari tahap ini adalah siswa belajar
secara aktif untuk menemukan sesuatu yang
berhubungan dengan permasalahan yang
dihadapi, dengan demikian secara tidak disengaja
siswa menghubungkan masalah dengan
pengetahuan yang telah dimiliki.

IV. Data Pengolahan data merupakan kegiatan mengolah


Processing data dan informasi yang telah diperoleh para
(Pengolahan peserta didik baik melalui wawancara, observasi,
Data) dan sebagainya, lalu ditafsirkan (Syah, 2004:244).
Semua informasi hasil bacaan, wawancara,
observasi, dan sebagainya, semuanya diolah,
diacak, diklasifikasikan, ditabulasi, bahkan bila
perlu dihitung dengan cara tertentu serta
ditafsirkan pada tingkat kepercayaan tertentu. Data
processing disebut juga dengan
pengkodean/kategorisasi yang berfungsi sebagai
pembentukan konsep dan generalisasi. Dari
generalisasi tersebut siswa akan mendapatkan
pengetahuan baru tentang alternatif
jawaban/penyelesaian yang perlu mendapat
pembuktian secara logis

V. Verification Peserta didik melakukan pemeriksaan secara

Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan | 49


Kegiatan Pembelajaran 2

(Pembuktian) cermat untuk membuktikan benar atau tidaknya


hipotesis yang ditetapkan tadi dengan temuan
alternatif, dihubungkan dengan hasil data
processing (Syah, 2004:244). Verifikasi menurut
Bruner, bertujuan agar proses belajar berjalan
dengan baik dan kreatif jika guru memberikan
kesempatan kepada peserta didik untuk
menemukan suatu konsep, teori, aturan atau
pemahaman melalui contoh-contoh yang ia jumpai
dalam kehidupannya (Budiningsing, 2005:41).

VI. Generalization Tahap generalisasi/menarik kesimpulan adalah


(menarik proses menarik sebuah kesimpulan yang dapat
kesimpulan/ge dijadikan prinsip umum dan berlaku untuk semua
neralisasi) kejadian atau masalah yang sama, dengan
memperhatikan hasil verifikasi (Syah, 2004:244).
Berdasarkan hasil verifikasi maka dirumuskan
prinsip-prinsip yang mendasari generalisasi. Yang
perlu diperhatikan peserta didik setelah menarik
kesimpulan adalah proses generalisasi
menekankan pentingnya penguasaan pelajar atas
makna dan kaidah atau prinsip-prinsip yang luas
yang mendasari pengalaman seseorang, serta
pentingnya proses pengaturan dan generalisasi
dari pengalaman-pengalaman itu (Slameto,
2003:119).

3. Project Based Learning


Pembelajaran Berbasis Proyek merupakan model belajar yang
menggunakan masalah sebagai langkah awal dalam mengumpulkan dan
mengintegrasikan pengetahuan baru berdasarkan pengalamannya dalam
beraktivitas secara nyata. Model pembelajaran project based learning
adalah sebuah model pembelajaran yang dalam penerapannya peserta
didik dituntut untuk memecahkan suatu permasalahan yang kompleks dan
membutuhkan waktu tidak sebentar dalam pelaksanaannya. Sebagaimana
yang dijelaskan oleh Thomas (2000) model pembelajaran project based
learning adalah tugas-tugas kompleks, yang didasarkan pada beberapa
pertanyaan menantang atau permasalahan yang melibatkan peserta didik
pada tahap desain, pemecahan permasalahan, aktivitas investigasi atau
pengambilan keputusan; sampai akhirnya peserta didik menghasilkan
produk nyata. Dengan demikian pembelajaran berbasis proyek dapat
diartikan suatu model pembelajaran yang menggunakan

50 | Modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan


Pedagogik KK B

proyek/pekerjaanalat sebagai alat (media) untuk mengaktifkan peserta


didik melakukan eksplorasi, penilaian, interpretasi, sintesis, dan informasi.

Mengingat bahwa masing-masing peserta didik memiliki gaya belajar yang


berbeda, maka pembelajaran berbasis proyek memberikan kesempatan
kepada para peserta didik untuk menggali konten (materi) dengan
menggunakan berbagai cara yang bermakna bagi dirinya, dan melakukan
eksperimen secara kolaboratif. Gambar di bawah memperlihatkan tahap
pembelajaran berbasis proyek (Gambar 4).

2. Perancangan
3. Penyusunan jadwal
1. Penentuan proyek langkah-langkah
pelaksanaan proyek
penyelesaian proyek

5. Penyusunan 4. Penyelesaian
6. Evaluasi proses laporan dan proyek dengan
dan hasil proyek presentasi/publikasi fasilitas dan
Gambar 4. Tahapan Pembelajaran
hasil proyek Berbasismonitoring
Proyek guru

Gambar 4 Tahap Pembelajaran Berbasis Proyek

Untuk melengkapi kejelasan dari masing-masing tahap dari pembelajaran


berbasis proyek dapat dilihat pada Tabel 8.

Tabel 8. Tahap dan Deskripsi Pelaksanaan Pembelajaran Model Project Based


Learning

Tahap Deskripsi Kegiatan

I. Penentuan Dengan bantuan guru peserta didik menentukan


proyek tema/topik proyek yang akan dikerjakan sesuai
dengan yang diinginkan baik secara kelompok
maupun mandiri berdasarkan tujuan pembelajaran.
Tema atau topik yang dipilih sesuai dengan realitas
kehidupan nyata sesuai dengan ketentuan tugas
yang disampaikan oleh guru dan relevan untuk para
peserta didik.

Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan | 51


Kegiatan Pembelajaran 2

II. Perancangan Guru memfasilitasi Peserta didik untuk merancang


langkah- langkah-langkah kegiatan penyelesaian projek
langkah beserta pengelolaannya. Kegiatan perancangan
penyelesaian proyek berisikan ketentuan-ketentuan dalam
proyek pelaksanaan tugas proyek, pemilihan aktivitas yang
dapat mendukung tugas proyek, pengintegrasian
berbagai kemungkinan penyelesaian tugas proyek,
perencanaan sumber/bahan/alat yang dapat
mendukung penyelesaian tugas proyek, dan
bagaimana kerja sama antar anggota kelompok.

III. Penyusunan Guru memberikan pendampingan kepada peserta


jadwal didik melakukan penjadwalan semua kegiatan yang
pelaksanaan telah dirancangnya. Misal tahap demi tahap apa
proyek yang dikerjakan, kapan dan berapa lama akan
diselesaikan, siapa bertanggungjawab, dan
seterusnya.

IV. Penyelesaian Guru memfasilitasi dan memonitor peserta didik


proyek dengan dalam merealisasikan rancangan projek yang telah
fasilitasi dan dibuat (proses eksekusi rancangan proyek). Aktivitas
monitoring guru yang dapat dilakukan dalam kegiatan proyek antara
lain dengan a) membaca, b) meneliti, c) observasi,
d) interviu, e) merekam, f) berkarya seni, g)
mengunjungi objek proyek, atau h) akses internet.
Guru bertanggung jawab memonitor seluruh aktivitas
peserta didik dalam melakukan tugas proyek mulai
awal hingga penyelesaian proyek. Pada kegiatan
monitoring, guru membuat rubrik yang akan dapat
merekam aktivitas peserta didik dalam
menyelesaikan tugas proyek.

V. Penyusunan Hasil proyek dalam bentuk produk, baik itu berupa


laporan dan produk karya tulis, karya seni, atau karya
presentasi/publi teknologi/prakarya dipresentasikan dan/atau
kasi hasil dipublikasikan ke khalayak umum, misal kepada
proyek peserta didik yang lain, guru atau masyarakat dalam
bentuk pameran produk dalam rangka untuk
mendapatkan input.

VI. Evaluasi proses Guru dan peserta didik pada akhir proses
dan hasil pembelajaran melakukan refleksi terhadap kegiatan
proyek yang telah dilakukan dan hasil tugas proyek. Proses
refleksi pada tugas proyek dapat dilakukan secara
individu maupun kelompok. Pada tahap evaluasi,
peserta didik diberi kesempatan mengemukakan
pengalaman dan perasaannya selama
menyelesaikan tugas proyek yang berkembang
dengan diskusi untuk memperbaiki kinerja selama
menyelesaikan tugas proyek. Pada tahap ini juga

52 | Modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan


Pedagogik KK B

dilakukan umpan balik terhadap proses dan produk


yang telah dihasilkan.

Tidak semua model pembelajaran tepat digunakan untuk semua KD/materi


pembelajaran. Model pembelajaran tertentu hanya tepat digunakan untuk
materi pembelajaran tertentu. Sebaliknya materi pembelajaran tertentu akan
dapat berhasil maksimal jika menggunakan model pembelajaran tertentu.
Oleh karenanya guru harus menganalisis rumusan pernyataan setiap KD,
apakah cenderung pada pembelajaran penyingkapan (Discovery/Inquiry
Learning) atau pada pembelajaran hasil karya (Problem Based Learning dan
Project Based Learning).

3. Metode dan Teknik Pembelajaran


Metode dan teknik pembelajaran memiliki peran yang sangat penting dalam
dunia pendidikan khususnya berkaitan dengan kegiatan mengajar guru. Metode
berperan sebagai rambu-rambu atau “bagaimana memproses” pembelajaran
sehingga dapat berjalan baik dan sistematis. Bahkan dapat dikatakan proses
pembelajaran tidak dapat berlangsung tanpa suatu metode. Karena itu, setiap
guru dituntut menguasai berbagai metode dalam rangka memproses
pembelajaran efektif, efesien, menyenangkan dan tercapai tujuan pembelajaran
yang ditargetkan. Sedangkan secara implementatif metode pembelajaran
dilaksanakan sebagai teknik, yaitu pelaksanakan sesungguhnya yang dilakukan
guru untuk mencapai tujuan.

Metode berasal dari kata method (Inggris), yang artinya melalui, melewati, jalan
atau cara untuk memeroleh sesuatu. Oleh Sanjaya (2008) metode didefinisikan
sebagai cara yang digunakan untuk mengimplementasikan rencana yang sudah
disusun dalam kegiatan nyata agar tujuan yang telah disusun tercapai secara
optimal. Ini berarti metode digunakan untuk merealisasikan proses belajar
mengajar yang telah ditetapkan. Sedangkan menurut Abdurrahman Ginting
(2008), metode pembelajaran dapat diartikan cara atau pola yang khas dalam
memanfaatkan berbagai prinsip dasar pendidikan serta berbagai teknik dan
sumberdaya terkait lainnya agar terjadi proses pemblajaran pada diri pembelajar.
Dengan kata lain metode pembelajaran adalah teknik penyajian yang dikuasai

Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan | 53


Kegiatan Pembelajaran 2

oleh seorang guru untuk menyajikan materi pelajaran kepada murid di dalam
kelas baik secara individual atau secara kelompok agar materi pelajaran dapat
diserap, dipahami dan dimanfaatkan oleh murid dengan baik.

Menurut L. James Havery teknik adalah prosedur logis dan rasional untuk
merancang suatu rangkaian komponen yang berhubungan satu dengan yang
lainnya dengan maksud untuk berfungsi sebagai satu kesatuan dalam usaha
mencapai suatu tujuan yang telah ditentukan (http://adityatriastuti. blogspot.
com). Teknik pembelajaran merupakan penjabaran lebih lanjut dari metode,
sehingga pengertian teknik pembelajaran dapat diartikan sebagai suatu cara
yang dilakukan seseorang dalam mengimplementasikan suatu metode secara
spesifik dengan memperhatikan unsur-unsur yang saling terikat dan berkaitan
untuk mencapai tujuan pembelajaran, agar pembelajaran lebih efisien.

a. Macam Metode Pembelajaran


Metode memiliki peran yang sangat strategis dalam mengajar. Metode
berperan sebagai rambu-rambu atau “bagaimana memproses” pembelajaran
sehingga dapat berjalan baik dan sistematis. Bahkan dapat dikatakan proses
pembelajaran tidak dapat berlangsung tanpa suatu metode. Karena itu, setiap
guru dituntut menguasai berbagai metode dalam rangka memproses
pembelajaran efektif, efesien, menyenangkan dan tercapai tujuan
pembelajaran yang ditargetkan. Secara implementatif metode pembelajaran
dilaksanakan sebagai teknik, yaitu pelaksanakan apa yang sesungguhnya
terjadi (dilakukan guru) untuk mencapai tujuan.

Metode pembelajaran sebagai cara mengajar guru di kelas ragamnya sangat


banyak. Sehingga pilihan metode pembelajaran yang dapat digunakan oleh
guru sangat bergantung pada beberapa pertimbangan. Beberapa metode
yang sering digunakan dan populer bagi para pengajar antara lain: ceramah,
diskusi, tanya jawab, demonstrasi, dan sebagainya. Berikut ini diuraikan
secara singkat beberapa metode pembelajaran dan langkahnya.
1) Metode Ceramah
Metode ceramah yaitu sebuah metode mengajar dengan menyampaikan
informasi dan pengetahuan saecara lisan kepada sejumlah peserta didik
yang pada umumnya mengikuti secara pasif. Metode ceramah dapat

54 | Modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan


Pedagogik KK B

dikatakan sebagai satu-satunya metode yang paling ekonomis untuk


menyampaikan informasi, dan paling efektif dalam mengatasi kelangkaan
literatur atau rujukan yang sesuai dengan jangkauan daya beli dan paham
peserta didik.
Metode ini disebut juga dengan metode kuliah atau metode pidato. Dalam
pelaksanaannya, metode ceramah terdiri atas dua tahap, yaitu: persiapan
dan pelaksanaan.
a) Tahap Persiapan, pada tahap ini yang harus dilakukan adalah:
(1) Merumuskan tujuan yang ingin dicapai.
(2) Menentukan pokok-pokok materi yang akan diceramahkan
(3) Mempersiapkan alat bantu.
b) Tahap Pelaksanaan, Pada tahap ini ada tiga langkah yang harus
dilakukan:
(1) Langkah Pembukaan
Langkah pembukaan dalam metode ceramah merupakan langkah
yang menentukan. Keberhasilan pelaksanaan ceramah sangat
ditentukan oleh langkah ini.
(2) Langkah Penyajian
Tahap penyajian adalah tahap penyampaian materi pembelajaran
dengan cara bertutur. Agar ceramah berkualitas sebagai metode
pembelajaran, maka guru harus menjaga perhatian peserta didik agar
tetap terarah pada materi pembelajaran yang sedan g disampaikan.
(3) Langkah Mengakhiri atau Menutup Ceramah
Ceramah harus ditutup dengan ringkasan pokok-pokok materi, agar
materi pelajaran yang sudah dipahami dan dikuasai peserta didik
tidak terbang kembali. Ciptakanlah kegiatan-kegiatan yang
memungkinkan peserta didik tetap mengingat materi pembelajaran.
Perlu diperhatikan, bahwa ceramah akan berhasil baik, bila didukung
oleh metode-metode lainnya, misalnya tanya jawab, tugas, latihan
dan lain-lain.

2) Metode Diskusi
Metode diskusi adalah metode mengajar yang sangat erat hubungannya
dengan memecahkan masalah (problem solving). Menurut Syaiful Bahri

Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan | 55


Kegiatan Pembelajaran 2

Djamarah dan Aswan Zain (2006) metode diskusi adalah cara penyajian
pelajaran, dimana peserta didik dihadapkan kepada suatu masalah, yang
bisa berupa pernyataan atau pertanyaan yang bersifat problematis untuk
dibahas dan dipecahkan bersama.

Metode ini lazim juga disebut sebagai diskusi kelompok (group discussion)
dan resitasi bersama (socialized recitation).

Metode Diskusi dilaksanakan dalam tiga tahap, yaitu persiapan,


pelaksanaan, dan penutup.
a) Tahap Persiapan:
(1) Merumuskan tujuan yang ingin dicapai, baik tujuan yang bersifat
umum maupun tujuan khusus.
(2) Menentukan jenis diskusi yang dapat dilaksanakan sesuai dengan
tujuan yang ingin dicapai.
(3) Menetapkan masalah yang akan dibahas.
(4) Mempersiapkan segala sesuatu yang berhubungan dengan teknis
pelaksanaan diskusi, misalnya ruang kelas dengan segala
fasilitasnya, petugas-petugas diskusi seperti moderator, notulis, dan
tim perumus, manakala diperlukan.
b) Tahap Pelaksanaan:
(1) Memeriksa segala persiapan yang dianggap dapat memengaruhi
kelancaran diskusi;
(2) Memberikan pengarahan sebelum dilaksanakan diskusi, misalnya
menyajikan tujuan yang ingin dicapai serta aturan-aturan diskusi
sesuai dengan jenis diskusi yang akan dilaksanakan;
(3) Melaksanakan diskusi sesuai dengan aturan main yang telah
ditetapkan. Dalam pelaksanaan diskusi hendaklah memerhatikan
suasana atau iklim belajar yang menyenangkan, misalnya tidak
tegang, tidak saling menyudutkan, dan lain sebagainya;
(4) Memberikan kesempatan yang sama kepada setiap peserta diskusi
untuk mengeluarkan gagasan dan ide-idenya;

56 | Modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan


Pedagogik KK B

(5) Mengendalikan pembicaraan kepada pokok persoalan yang sedang


dibahas; Hal ini sangat penting, sebab tanpa pengendalian biasanya
arah pembahasan menjadi melebar dan tidak fokus.
c) Tahap Penutup:
(1) Membuat pokok-pokok pembahasan sebagai kesimpulan sesuai
dengan hasil diskusi;
(2) Me-review jalannya diskusi dengan meminta pendapat dari seluruh
peserta sebagai umpan balik untuk perbaikan selanjutnya.
3) Metode Demonstrasi
Metode demonstrasi adalah cara pengelolaan pembelajaran dengan
memperagakan atau mempertunjukkan kepada peserta didik suatu proses,
situasi, benda, atau cara kerja suatu produk teknologi yang sedang
dipelajari. Demontrasi dapat dilakukan dengan menunjukkan benda baik
yang sebenarnya, model, maupun tiruannya dan disertai dengan
penjelasan lisan. Demonstrasi akan menjadi aktif jika dilakukan dengan
baik oleh guru dan selanjutnya dilakukan oleh peserta didik. Metoda ini
dapat dilakukan untuk kegiatan yang alatnya terbatas tetapi akan dilakukan
terus-menerus dan berulang-ulang oleh peserta didik. Metode demonstrasi
dikatakan juga metode yang digunakan untuk memperlihatkan sesuatu
proses atau cara kerja suatu benda yang berkenaan dengan bahan
pelajaran.

Langkah-langkah metode Demonstrasi


a) Perencanaan, hal yang dilakukan adalah:
(1) Merumuskan tujuan yang jelas baik dari sudut kecakapan atau
kegiatan yang diharapkan dapat ditempuh setelah metode
demonstrasi berakhir;
(2) Menetapkan garis-garis besar langkah-langkah demonstrasi yang
akan dilaksanakan;
(3) Memperhitungkan waktu yang dibutuhkan;
(4) Selama demonstrasi berlangsung, seorang guru hendaknya
introspeksi diri apakah:
(a) Keterangan-keterangannya dapat didengar dengan jelas oleh
peserta didik;

Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan | 57


Kegiatan Pembelajaran 2

(b) Semua media yang digunakan ditempatkan pada posisi yang baik
sehingga setiap peserta didik dapat melihat;
(c) Peserta didik disarankan membuat catatan yang dianggap perlu.
(d) Menetapkan rencana penilaian terhadap kemampuan peserta
didik.
b) Pelaksanaan, hal dilakukan adalah:
(1) Memeriksa hal-hal di atas untuk kesekian kalinya (terutama
memeriksa alat bantu yang akan digunakan dalam pembelajaran);
(2) Memberikan penjelasan tentang topik yang akan didemonstrasikan;
(3) Memulai demonstrasi dengan menarik perhatian peserta didik
(Memperhatikan keadaan peserta didik, apakah semuanya mengikuti
demonstrasi dengan baik)
(4) Mengingatkan pokok-pokok materi yang didemonstrasikan agar
demonstrasi mencapai sasaran;
(5) Memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk aktif
memikirkan lebih lanjut tentang apa yang dilihat dan didengarnya
dalam bentuk mengajukan pertanyaan (memberi peluang kepada
peserta didik untuk mencoba sebelum latihan);
(6) Memberi penguatan (melalui diskusi, tanya jawab, dan atau latihan)
terhadap hasil demonstrasi;
(7) Menyimpulkan inti sari dari hal yang telah didiskusikan dengan cara
mengaktifkan peserta didik;
(8) Sebagai catatan selama pelaksanaan demonstrasi menghindari
ketegangan, oleh karena itu guru hendaknya selalu menciptakan
suasana yang harmonis, dan selalu memperhatikan keamanan dan
keselamatan.
c) Evaluasi,
Sebagai tindak lanjut setelah diadakannya demonstrasi sering diiringi
dengan kegiatan-kegiatan belajar selanjutnya. Kegiatan ini dapat berupa
pemberian tugas, seperti membuat laporan, menjawab pertanyaan,
mengadakan latihan lebih lanjut. Selain itu, guru dan peserta didik
mengadakan evaluasi terhadap demonstrasi yang dilakukan, apakah
sudah berjalan efektif sesuai dengan yang diharapkan.

58 | Modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan


Pedagogik KK B

4) Metode Penugasan
Metode pemberian tugas adalah cara mengajar atau penyajian materi
melalui penugasan peserta didik untuk melakukan suatu pekerjaan dengan
maksud agar peserta didik melakukan kegiatan belajjar. Pemberian tugas
dapat secara individual atau kelompok. Pemberian tugas untuk setiap
peserta didik atau kelompok dapat sama dan dapat pula berbeda. Agar
pemberian tugas dapat menunjang keberhasilan proses pembelajaran,
maka: 1) tugas harus bisa dikerjakan oleh peserta didik atau kelompok
peserta didik, 2) hasil dari kegiatan ini dapat ditindaklanjuti dengan
presentasi oleh peserta didik dari satu kelompok dan ditanggapi oleh
peserta didik dari kelompok yang lain atau oleh guru yang bersangkutan,
serta 3) di akhir kegiatan ada kesimpulan yang didapat.

Pada metode penugasan ini guru memberikan seperangkat tugas yang


harus dikerjakan peserta didik, dapat pula tugas menyuruh peserta didik
untuk mempelajari lebih dulu topik yang akan dibahas. Metode ini diberikan
karena materi pelajaran banyak, sedang waktu yang tersedia sedikit. Agar
materi pelajaran selesai sesuai dengan waktu yang ditentukan, maka
metode inilah yang biasanya digunakan oleh guru. Tugas ini biasanya bisa
dilaksanakan di rumah, di sekolah, di perpustakaan, dan di tempat lainnya.
Tugas atau resitasi merangsang anak untuk aktif belajar, baik individu
maupun kelompok, tugas yang diberikan sangat banyak macamnya
tergantung dari tujuan yang hendak dicapai.

Metode Penugasan mensyaratkan adanya pemberian tugas dan adanya


pertanggungjawaban dari murid. Tugas ini dapat berbentuk suruhan-
suruhan guru seperti contoh-contoh di atas. Tetapi dapat pula timbul atas
insiatif murid setelah disetujui oleh guru. Cara menilai hasil tugas tertulis
kadang-kadang menimbulkan kesukaran. Langkah-langkah metode
penugasan sebagai berikut:
 Mempertimbangkan tujuan yang akan dicapai dengan tugas itu.
 Memberikan tugas yang cukup jelas dipahami siswa sehingga mereka
tidak perlu bertanya-tanya lagi.

Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan | 59


Kegiatan Pembelajaran 2

 Mengontrol apakah tugas dikerjakan dengan baik, apakah dikerjakan


oleh siswa sendiri atau oleh orang lain.
 Mengevaluasi hasil siswa untuk menumbuhkembangkan semangat kerja
yang lebih luas.

Dalam menerapkan langkah-langkah metode penugasan guru perlu


memperhatikan langkah-langkah sebagai berikut :
a) Tugas harus direncanakan secara jelas dan sistematis, terutama tujuan
penugasan dan cara pengerjaannya. Sebaliknya tujuan penugasan
dikomuni kasikan kepada peserta didik (peserta didik) agar tahu arah
tugas yang dikerjakan.
b) Tugas yang diberikan harus dapat dipahami peserta didik, kapan
mengerjakannya, bagaimana cara mengerjakannya, berapa lama tugas
tersebut harus dikerjakan, secara individu atau kelompok, dan lain-lain.
Hal-hal tersebut akan sangat menentukan efektivitas penggunaan
metode penugasan dalam pembelajaran.
c) Apabila tugas tersebut berupa tugas kelompok, perlu diupayakan agar
seluruh anggota kelompok dapat terlibat secara aktif dalam proses
penyelesaian tugas tersebut, terutama kalau tugas tersebut diselesaikan
di luar kelas.
d) Perlu diupayakan guru mengontrol proses penyelesaian tugas yang
dikerjakan oleh peserta didik. Jika tugas tersebut diselesaikan di kelas
guru berkeliling mengontrol pekerjaan peserta didik, sambil memberikan
motivasi dan bimbingan terutama bagi peserta didik yang mengalami
kesulitan dalam penyelesaian tugas tersebut. Jika tugas tersebut
diselesaikan di luar kelas, guru bisa mengontrol proses penyelesaian
tugas melalui konsultasi dari pada peserta didik.
e) Berikanlah penilaian secara proporsional terhadap tugas-tugas yang
dikerjakan peserta didik. Penilaian yang diberikan sebaiknya tidak hanya
menitikberatkan pada produk, tetapi perlu dipertimbangkan pula
bagaimana proses penyelesaian tugas tersebut. Penilaian hendaknya
diberikan secara langsung setelah tugas diselesaikan, hal ini disamping
akan menimbulkan minat dan semangat belajar peserta didik, juga

60 | Modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan


Pedagogik KK B

menghindarkan bertumpuknya pekerjaan peserta didik yang harus


diperiksa.

5) Metode Kerja Kelompok


Metode kerja kelompok adalah metode mengajar dengan mengkondisikan
peserta didik dalam suatu group atau kelompok sebagai satu kesatuan dan
diberikan tugas untuk dibahas dalam kelompok tersebut. Karena itu guru
dituntut untuk mampu menyediakan bahan-bahan pelajaran yang secara
manipulasi mampu melibatkan anak bekerjasama dan berkolaborasi dalam
kelompok. Penerapan metode kerja kelompok menuntut guru untuk dapat
mengelompokan peserta didik secara arif dan proporsional.
Pengelompokkan peserta didik dalam suatu kelompok dapat didasarkan
pada: (a) fasilitas yang tersedia; (b) perbedaan individual dalam minat
belajar dan kemampuan belajar; (c) jenis pekerjaan yang diberikan; (d)
wilayah tempat tinggal peserta didik; (e) jenis kelamin; (f) memperbesar
partisipasi peserta didik dalam kelompok; dan (g) berdasarkan pada
lotere/random.

Pada umumnya materi pelajaran yang harus dikerjakan secara bersama-


sama dalam kelompok itu diberikan atau disiapkan oleh guru. Materi itu
harus cukup kompleks isinya dan cukup luas ruang lingkupnya sehingga
dapat dibagi-bagi menjadi bagian yang cukup memadai bagi setiap
kelompok. Materi hendaknya membutuhkan bahan dan informasi dari
berbagai sumber untuk pemecahannya. Masalah yang bisa diselesaikan
hanya dengan membaca satu sumber saja tentu tidak cocok untuk
ditangani melalui kerja kelompok. Kelompok dapat dibentuk berdasarkan
perbedaan individual dalam kemampuan belajar, perbedaan bakat dan
minat belajar, jenis kegiatan, materi pelajaran, dan tujuan yang ingin
dicapai. Berdasarkan tugas yang harus diselesaikan, peserta didik dapat
dibagi atas kelompok paralel yaitu setiap kelompok menyelesaikan tugas
yang sama, dan kelompok komplementer dimana setiap kelompok
berbeda-beda tugas yang harus diselesaikan.

Langkah-langkah dalam metode kerja kelompok adalah sebagai berikut:


a) Kegiatan Persiapan

Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan | 61


Kegiatan Pembelajaran 2

(1) Merumuskan tujuan pembelajaran yang akan dicapai


(2) Menyiapkan materi pembelajaran dan menjabarkan materi tersebut
ke dalam tugas-tugas kelompok.
(3) Mengidentifikasi sumber-sumber yang akan menjadi sasaran
kegiatan kerja kelompok.
(4) Menyusun peraturan pembentukan kelompok, cara kerja, saat
memulai dan mengakhiri, dan tata tertib lainnya.

b) Kegiatan Pelaksanaan
(1) Kegiatan Membuka Pelajaran.
(2) Melaksanakan apersepsi, yaitu pertanyaan tentang materi pelajaran
sebelumnya.
(3) Memotivasi belajar dengan mengemukakan kasus yang ada
kaitannya dengan materi pelajaran yang akan diajarkan.
(4) Mengemukakan tujuan pelajaran dan berbagai kegiatan yang akan
dikerjakan dalam mencapai tujuan pelajaran itu.
(5) Mengemukakan lingkup materi pelajaran yang akan dipelajari.
(6) Membentuk kelompok.
(7) Mengemukakan tugas setiap kelompok kepada ketua kelompok atau
langsung kepada semua peserta didik.
(8) Mengemukakan peraturan dan tata tertib serta saat memulai dan
mengakhiri kegiatan kerja kelompok.
(9) Mengawasi, memonitor, dan bertindak sebagai fasilitator selama
peserta didik melakukan kerja kelompok.
(10) Pertemuan klasikal untuk pelaporan hasil kerja kelompok,
memberikan balikan dari kelompok lain atau dari guru.
c) Kegiatan Penutup
(1) Meminta peserta didik merangkum isi pelajaran yang telah dikaji
melalui kerja kelompok.
(2) Melakukan evaluasi hasil dan proses.
(3) Melaksanakan tindak lanjut baik berupa mengajari ulang materi yang
belum dikuasai peserta didik maupun memberi tugas pengayaan bagi
peserta didik yang telah menguasai materi metode kerja kelompok
tersebut.

62 | Modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan


Pedagogik KK B

6) Metode Karyawisata
Karyawisata adalah kunjungan ke suatu tempat atau objek dalam rangka
memperluas pengetahuan dalam hubungan dengan pekerjaan seseorang
atau sekelompok orang. Metode karya wisata adalah suatu metode
mengajar yang dilakukan dengan cara berkunjung ke suatu tempat atau
objek yang dirancang terlebih dahulu oleh pendidik dan diharapkan peserta
didik membuat laporan dan diskusi bersama dengan peserta didik yang lain
serta didampingi oleh pendidik, yang kemudian hasilnya dituliskan. Metode
karyawisata hampir sama dengan pembelajaran outdoor yaitu aktivitas
pembelajaran sama-sama dilaksanakan di luar kelas. Perbedaannya
adalah karayawisata biasanya bukan sebatas mengajak peserta didik
keluar kelas, tetapi lebih jauh dari kelas atau sekolah dalam rangka
mengunjungi tempat-tempat yang ada hubungannya dengan materi
pelajaran. Sedangkan pembelajaran outdoor sifatnya lebih sederhana dan
biasanya lokasi kunjungan masih di sekitar sekolah.

Dalam pelaksanaannya, metode karyawisata lebih disukai peserta didik.


Namun yang sering terjadi di lapangan, peserta didik belum memiliki
panduan belajar yang cukup sehingga hasil dari kegiatan tersebut kurang
dirasakan manfaatnya. Disinilah perlunya peran guru untuk
mempersiapkan perencanaan yang baik agar hasil yang dicapai benar-
benar menjadi pengalaman peserta didik yang dapat meningkatkan hasil
belajarnya.

Langkah-langkah metode karya wisata sebagai berikut:


a) Menetapkan kompetensi yang akan dicapai peserta didik
b) Merencanakan tujuan
c) Merumuskan kegiatan yang akan dilakukan
d) Melaksanakan kegiatan
e) Menilai kegiatan
f) Melaporkan hasil kegiatan
g) Merancang dan melaksanakan tindak lanjut.

Beberapa hal yang harus dimiliki guru dan peserta didik untuk
mengoptimalkan metode karyawisata,

Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan | 63


Kegiatan Pembelajaran 2

Guru harus:
a) Menentukan tempat atau objek wisata yang sesuai dengan tujuan
pembelajaran;
b) Merencanakan dan mempersiapkan panduan peserta didik dalam
melaksanakan karyawisata;
c) Mempersiapkan peralatan dan bahan yang diperlukan;
d) Membimbing dan mengontrol aktivitas peserta didik saat
berkaryawisata;
e) Menilai hasil kegiatan.

Peserta didik harus:


a) Memahami dan melaksanakan panduan peserta didik yang diberikan
guru;
b) Belajar secara mandiri atau berkelompok;
c) Menggunakan peralatan dan bahan yang diperlukan;
d) Menyusun laporan hasil karyawisata.

7) Metode Tanya jawab


Metode tanya jawab adalah metode yang digunakan dalam proses belajar
mengajar dengan menggunakan pertanyaan yang diajukan oleh guru
kepada peserta didik, yang mengarahkan peserta didik memahami materi
tersebut. Sementara itu metode tanya jawab ada yang mengartikan suatu
cara penyajian pelajaran dalam bentuk pertanyaan yang harus dijawab,
terutama oleh dari guru kepada peserta didik, tetapi dapat pula dari peserta
didik kepada guru (Djamarah, 2006). Metode ini bertujuan untuk
merangsang perhatian peserta didik dan mengukur kemampuan peserta
didik terhadap materi yang dibahas. Metode ini tepat digunakan untuk
mengarahkan pengamatan dan proses berfikir dan digunakan sebagai
selingan dalam metode cerita atau ceramah. Metoda Tanya Jawab akan
menjadi efektif bila materi yang menjadi topik bahasan menarik, menantang
dan memiliki nilai aplikasi tinggi. Pertanyaaan yang diajukan bervariasi,
meliputi pertanyaan tertutup (pertanyaan yang jawabannya hanya satu
kemungkinan) dan pertanyaan terbuka (pertanyaan dengan banyak
kemungkinan jawaban), serta disajikan dengan cara yang menarik.

64 | Modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan


Pedagogik KK B

Langkah-langkah pelaksanaan metode tanya jawab adalah sebagai berikut:

a) Persiapan
(1) Menentukan topik
(2) Merumuskan tujuan pembelajaran khusus (TPK)
(3) Menyusun pertanyaan-pertanyaan secara tepat sesuai dengan TPK
tertentu
(4) Mengidentifikasi pertanyaan-pertanyaan yang mungkin diajukan
peserta didik
b) Pelaksanaan
(1) menjelaskan kepada peserta didik tujuan pembelajaran khusus
(TPK).
(2) mengkomunikasikan penggunaan metode tanya jawab (peserta didik
tidak hanya bertanya tetapi juga menjawab pertanyaan guru maupun
peserta didik yang lain).
(3) guru memberikan permasalahan sebagai bahan apersepsi.
(4) guru mengajukan pertanyaan keseluruh kelas.
(5) guru harus memberikan waktu yang cukup untuk memikirkan
jawabannya, sehingga dapat merumuskan secara sistematis.
(6) guru memperhatikan dengan seksama saat peserta didik menjawab
atas pertanyaannya.
(7) guru menyampaikan status jawaban peserta didik dan memberi
penguatan atau penghapusan atas respon peserta didik (bila jawaban
peserta didik belum tepat dapat dilempar lagi pertanyaan kepada
peserta didik yang lain untuk menjawab).
(8) Memberi peluang kepada peserta didik untuk bertanya dalam rangka
menggali kejelasan pemahaman.
(9) Menyimpulkan materi yang sedang dipelajari berdasarkan sumber
yang relevan.
8) Metode Eksperimen
Metode eksperimen adalah suatu cara pengelolaan pembelajaran di mana
peserta didik melakukan aktivitas percobaan dengan mengalami dan
membuktikan sendiri suatu yang dipelajarinya. Dalam metode ini peserta
didik diberi kesempatan untuk mengalami sendiri atau melakukan sendiri

Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan | 65


Kegiatan Pembelajaran 2

dengan mengikuti suatu proses, mengamati suatu obyek, menganalisis,


membuktikan dan menarik kesimpulan sendiri tentang obyek yang
dipelajarinya. Percobaan dapat dilakukan melalui kegiatan individual atau
kelompok. Hal ini tergantung dari tujuan dan makna percobaan atau jumlah
alat yang tersedia. Percobaan ini dapat dilakukan dengan demonstrasi, bila
alat yang tersedia hanya satu atau dua perangkat saja.

Dengan demikian, peserta didik dituntut untuk mengalami sendiri , mencari


kebenaran, atau mencoba mencari suatu hukum atau dalil, dan menarik
kesimpulan dari proses yang dialaminya itu. Hal ini selaras dengan yang
diungkapkan oleh satu penulis buku tentang strategi belajar nengajar
(Djamarah, 2006) bahwa metode eksperimen adalah cara penyajian
pelajaran, di mana peserta didik melakukan percobaan dengan mengalami
sendiri sesuatu yang dipelajari. Dalam proses belajar mengajar, dengan
metode eksperimen, peserta didik diberi kesempatan untuk mengalami
sendiri atau melakukan sendiri, mengikuti suatu proses, mengamati suatu
obyek, keadaan atau proses sesuatu.

Langkah-langkah metode eksperimen Menurut Moedjiono dan Moh Dimyati


(1995) antara lain:
a Mempersiapkan pemakaian metode eksperimen yang mencakup
kegiatan kegiatan:
1. Menetapkan kesesuaian metode eksperimen terhadap tujuan tujuan
yang hendak dicapai
2. menetapkan kebutuhan peralatan, bahan, dan sarana lain yang
dibutuhkan dalam eksperimen sekaligus memeriksa ketersediannya
disekolah
3. Mengadakan uji eksperimen (guru mengadakan eksperimen sendiri
untuk menguji ketetapan proses dan hasilnya) sebelum menugaskan
kepada siswa, sehingga guru dapat mengetahui apa apa saja
kemungkinan yang akan terjadi
4. Menyediakan peralatan, bahan, dan sarana lain yang dibutuhkan
untuk eksperimen yang akan dilakukan
5. Guru menyediakan lembar kerja

66 | Modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan


Pedagogik KK B

b Pelaksanaan metode eksperimen, dengan kegiatan kegiatan:


1. Mendiskusikan dengan bersama sama seluruh siswa mengenai
prosedur, peralatan, dan bahan untuk eksperimen serta hal hal yang
perlu dicatat dan diamati selama eksperimen
2. Membantu, membimbing, dan mengawasi eksperimen yang
dilakukan oleh siswa dimana para siswa mengamati serta mencatat
hal hal yang dieksperimenkan
3. Para siswa membuat kesimpulan dan laporan tentang
eksperimennya.

c Tindak lanjut pemakaian metode eksperimen, melalui kegiatan


kegiatan:

1. Mendiskusikan hambatan hambatan yang ditemui dan hasil


hasil eksperimen
2. Membersihkan dan mengumpulkan peralatan peralatan lalu
disimpan, bahan atau saran lainnya
3. Evaluasi akhir eksperimen oleh guru.

9) Metode Role Playing


Model pembelajaran role playing adalah suatu cara penguasaan bahan-
bahan pelajaran melalui pengembangan imajinasi dan penghayatan
peserta didik. Pengembangan imajinasi dan penghayatan dilakukan
peserta didik dengan memerankannya sebagai tokoh hidup atau benda
mati. Hadari Nawawi dalam Kartini (2007) yang menyatakan bahwa
bermain peran (role playing) adalah mendramatisasikan cara bertingkah
laku orang-orang tertentu dalam posisi yang membedakan peranan
masing-masing dalam suatu organisasi atau kelompok di masyarakat.
Bermain peran ini pada umumnya dilakukan lebih dari satu orang, hal itu
bergantung kepada apa yang diperankan. Model pembelajaran Role
Playing juga dikenal dengan nama model pembelajaran Bermain Peran.
Pengorganisasian kelas secara berkelompok, masing-masing kelompok
memperagakan/menampilkan skenario yang telah disiapkan guru. Peserta
didik diberi kebebasan berimprovisasi namun masih dalam batas-batas
skenario dari guru.

Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan | 67


Kegiatan Pembelajaran 2

Pada metode bermain peranan, titik tekanannya terletak pada keterlibatan


emosional dan pengamatan indera ke dalam suatu situasi masalah yang
secara nyata dihadapi. Murid diperlakukan sebagai subyek pembelajaran,
secara aktif melakukan praktik-praktik berbahasa (bertanya dan menjawab)
bersama teman-temannya pada situasi tertentu. Lebih lanjut prinsip
pembelajaran memahami kebebasan berorganisasi, dan menghargai
keputusan bersama, murid akan lebih berhasil jika mereka diberi
kesempatan memainkan peran dalam bermusyawarah, melakukan
pemungutan suara terbanyak dan bersikap mau menerima kekalahan
sehingga dengan melakukan berbagai kegiatan tersebut dan secara aktif
berpartisipasi, mereka akan lebih mudah menguasai apa yang mereka
pelajari. Jadi, dalam pembelajaran murid harus aktif, karena tanpa adanya
aktivitas, maka proses pembelajaran tidak mungkin terjadi.

Langkah-langkah pembelajarannya adalah sebagai berikut :


a) Guru menyusun/menyiapkan skenario yang akan ditampilkan;
b) Guru menunjuk beberapa peserta didik untuk mempelajari skenario
dalam waktu beberapa hari sebelum pelaksanaan Kegiatan Belajar
Mengajar;
c) Guru membentuk kelompok peserta didik dan menetapkan dengan jelas
masalah dan peranannya;
d) Guru memberikan penjelasan tentang kompetensi yang ingin dicapai;
e) Guru memanggil para peserta didik yang sudah ditunjuk untuk
melakonkan skenario yang sudah dipersiapkan;
f) Masing-masing peserta didik berada di kelompoknya sambil mengamati
skenario yang sedang diperagakan;
g) Setelah selesai ditampilkan, masing-masing peserta didik diberikan
lembar kerja untuk membahas/memberi penilaian dan mendiskusikan
atas penampilan masing-masing kelompok;
h) Masing-masing kelompok menyampaikan hasil kesimpulannya;
i) Guru memberikan kesimpulan secara umum.
10) Metode Pemecahan Masalah (Problem Solving)
Metode pemecahan masalah adalah suatu cara menyajikan pelajaran
dengan mendorong peserta didik untuk mencari dan memecahkan suatu

68 | Modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan


Pedagogik KK B

masalah/persoalan dalam rangka pencapaian tujuan pengajaran. Metode


ini diciptakan seorang ahli didik berkebangsaan Amerika yang bernama
John Dewey. Metode ini dinamakan Problem Method. Sedangkan
Crow&Crow dalam bukunya Human Development and Learning,
mengemukakan nama metode ini dengan Problem Solving Method
(http://aginista.blogspot.com). Sebagai prinsip dasar dalam metode ini
adalah perlunya aktifitas dalam mempelajari sesuatu. Timbulnya aktivitas
peserta didik kalau sekiranya guru menjelaskan manfaat bahan pelajaran
bagi peserta didik dan masyarakat.
John Dewey mengemukakan bahwa keaktifan peserta didik di sekolah
harus bermakna artinya keaktifan yang disesuaikan dengan pekerjaan
yang biasa dilakukan dalam masyarakat. Alasan penggunaan metode
problem solving bagi peneliti adalah dengan penggunaan metode problem
solving peserta didik dapat bekerja dan berpikir sendiri dengan demikian
peserta didik akan dapat mengingat pelajarannya dari pada hanya
mendengarkan saja. Untuk memecahkan suatu masalah John Dewey.

Langkah-langkah metode problem solving (Depdiknas, 2008) sebagai


berikut:
a) Identifikasi keberadaan masalah yang jelas untuk dipecahkan. Masalah
ini harus tumbuh dari peserta didik sesuai dengan taraf kemampuannya.
b) Mencari dan mengumpulkan data atau keterangan yang dapat
digunakan untuk memecahkan masalah tersebut. Misalnya, dengan
jalan membaca buku-buku, meneliti, bertanya dan lain-lain.
c) Menetapkan jawaban sementara dari masalah tersebut. Dugaan
jawaban ini tentu saja didasarkan kepada data yang telah diperoleh,
pada langkah kedua di atas.
d) Menguji kebenaran jawaban sementara tersebut. Dalam langkah ini
peserta didik harus berusaha memecahkan masalah sehingga betul-
betul yakin bahwa jawaban tersebut itu betul-betul cocok. Apakah sesuai
dengan jawaban sementara atau sama sekali tidak sesuai. Untuk
menguji kebenaran jawaban ini tentu saja diperlukan metode-metode
lainnya seperti demonstrasi, tugas, diskusi, dan lain-lain.

Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan | 69


Kegiatan Pembelajaran 2

e) Menarik kesimpulan. Artinya peserta didik harus sampai kepada


kesimpulan terakhir tentang jawaban dari masalah tadi.
11) Metode Drill
Drill merupakan latihan yang diulang-ulang. Oleh karena metode drill
dikenal juga dengan metode latihan. Metode ini sebagai sarana untuk
memelihara kebiasaan-kebiasaan yang telah nyata diterima. Metode
tersebut dapat digunakan untuk memperoleh suatu ketangkasan,
ketepatan, kesempurnaan dan keterampilan melalui letihan-latihan tentang
sesuatu yang dipelajari. Dengan melakukan secara praktis pengetahuan
tersebut dapat disempurnakan dan dikembangkan. Dengan demikian
metode drill bukan hanya sekedar melaksanakan latihan secara membabi
buta, bukan hanya asal mengulang, tetapi melaksanakan latihan dengan
pengertian yang mempunyai tujuan tertentu.

Menurut Nana Sudjana (2011) metode drill adalah suatu kegiatan


melakukan hal yang sama, berulang-ulang secara sungguh-sungguh
dengan tujuan untuk menyempurnakan suatu ketrampilan agar menjadi
permanen. Ciri yang khas dari metode ini adalah kegiatan berupa
pengulangan yang berkali-kali. Selanjutnya dikuatkan oleh Roestiyah N.K
(2001) bahwa melalui kegiatan latihan peserta didik akan memiliki
ketangkasan dan ketrampilan lebih tinggi dari apa yang dipelajari. Demikian
juga Shalahuddin (2008) menyatakan bahwa dengan melakukan secara
berulang-ulang dengan sungguh-sungguh dimaksudkan untuk
menyempurnakan suatu ketrampilan agar menjadi permanen.

Dari beberapa pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa metode drill


adalah suatu cara dalam pembelajaran melalui kegiatan latihan dengan
praktek yang dilakukan berulang kali secara kontinyu untuk mendapatkan
keterampilan dan ketangkasan praktis tentang pengetahuan yang
dipelajari. Dari segi pelaksanaannya siswa terlebih dahulu telah dibekali
dengan pengetahuan secara teori. Kemudian dengan tetap dibimbing oleh
guru, siswa diminta mempraktikkannya sehingga menjadi mahir dan
terampil. Metode drill dapat lebih maksimal dengan melaksanakan kegiatan

70 | Modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan


Pedagogik KK B

pembelajaran secara runtut, langkah-langkah metode drill dapat dilihat


pada Tabel 9.

Tabel 9. Langkah Metode Drill dan Deskripsinya

Langkah Deskripsi Kegiatan

Persiapan Guru merumuskan tujuan pembelajaran yang akan


dicapai, menetapkan, merancang latihan secara
berurutan yang akan dikerjakan oleh peserta didik serta
menyediakan kunci jawaban.

Pelaksanaan Membuka
 Guru menyampaikan tujuan pembelajaran
 Guru menyampaikan bentuk-bentuk latihan

Melaksanakan
 Memulai latihan dengan hal-hal yang sederhana
dulu untuk mengetahui keterampilan yang telah
dikuasai peserta didik (dalam rangka
penjajagan).
 Guru memberi memberikan pengarahan atau
penjelasan dari hasil penjajagan untuk dapat
menambah kekurangan dan dapat
meningkatkan keterampilan peserta didik.
 Guru memberikan latihan secara terbimbing
dengan tingkat kesulitan yang berbeda dengan
sebelumnya (didasarkan atas hasil penjajagan)
kepada peserta didik.
 Peserta didik diberi kesempatan untuk
mengerjakan latihan secara terus menerus
mulai dari yang mudah hingga ke tingkat yang
lebih sulit, dan guru mendengarkan atau
memperhatikan respon peserta didik
 Selama peserta didik berproses melakukan
latihan, guru mengamati untuk menemukan
kesukaran yang dialami peserta didik, serta
memungkinkan untuk mengubah situasi
sehingga menimbulkan optimisme dan rasa
senang belajar pada peserta didik selalu terjaga.

Mengakhiri
 Guru memberi motivasi kepada peserta didik
agar tetap melakukan latihan-latihan secara
terus menerus sehingga hasil belajar yang
dikuasai tertanam baik pada diri siswa.

Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan | 71


Kegiatan Pembelajaran 2

Penutup Guru melakukan perbaikan terhadap kesalahan-


kesalahan peserta didik sebagai bentuk penguatan
terhadap hasil pembelajaran, serta memberikan latihan
sebagai bentuk pengayaan agar terjadi pembiasaan.

12) Metode Proyek


Metode proyek berangkat dari pemikiran John Dewey tentang metode
pemecahan masalah yang selanjutnyan dikembangkan oleh Kilpatrick
dalam bentuk metode proyek. Istilah proyek telah dipakai dalam latihan
kerja tangan pada awal 1920, dan menunjuk pada setiap masalah praktik
yang melibatkan penggunaan fisik untuk menghasilkan suatu produk. Pada
waktu metode proyek digunakan dalam bidang pertanian dan kerajinan
keluarga, metode proyek tidak hanya sekedar sebuah teknik canggih, tetapi
merupakan sebuah filsafat pendidikan yang diterjemahkan dalam sebuah
metode.

Pembelajaran berbasis proyek merupakan model pembelajaran yang


memberikan kesempatan pada guru untuk mengelola pembelajaran di
kelas dengan melibatkan kerja proyek. Melalui pembelajaran kerja proyek,
kreativitas dan motivasi peserta didik akan meningkat. Metode ini dapat
dipandang sebagai bentuk open-ended contextual activity-bases learning,
dan merupakan bagian dari proses pembelajaran yang memberi
penekanan kuat pada pemecahan masalah sebagai suatu usaha
kolaboratif, yang dilakukan dalam proses pembelajaran pada periode
tertentu (Made Wena, 2010). Yang pokok dalam metode proyek ialah “the
active purpose of the learner”. Peserta didik itu sendiri harus menerima
proyek itu dan melaksanakannya. Kalau peserta didik sedang membuat
jembatan atas perintah guru, itu bukan suatu proyek. Sebaliknya jika
peserta didik membaca buku didorong oleh keinginan mencari atau
memahami sesuatu, itu termasuk proyek.

Sehingga dalam pembelajaran metode proyek dapat diartikan sebagai


salah satu cara pemberian pengalaman belajar dengan menghadapkan
peserta didik pada persoalan sehari-hari yang harus dipecahkan secara
berkelompok.

72 | Modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan


Pedagogik KK B

Langkah-langkah metode proyek dalam pembelajaran sebagai berikut:


a) Tahap perencanaan
(1) Mempelajari pokok bahasan dalam GBPP dari mata pelajaran yang
menjadi tema dari proyek tersebut.
(2) Membuat diagram kaitan antara tema dengan pokok bahasan dari
mata pelajaran lain (untuk itu perlu dipelajari GBPP mata pelajaran
lain).
(3) Merumuskan tujuan pelajaran dengan menggunakan metode proyek
tersebut.
(4) Menentukan materi pelajaran dari pokok bahasan masing- masing
mata pelajaran yang dikaitkan dengan tema proyek.
(5) Menentukan langkah-langkah dalam kegiatan belajar-mengajar,
termasuk metode dan pendekatannya.
(6) Merencanakan organisasi kelas sesuai dengan kegiatan belajar-
mengajar (misalnya bekerja dalam kelompok).
(7) Bila dalam langkah kegiatan itu ada kunjungan kesitus sejarah atau
museum, maka diadakan perencanaan untuk hal tersebut (misalnya
mengadakan peninjauan lebih dulu kesitus sejarah atau museum).
(8) Menyiapkan format- format pengamatan untuk peserta didik.
(9) Merencanakan kegiatan-kegiatan tidak lanjut.
(10) Menyiapkan penilaian kegiatan belajar-mengajar.
b) Tahap pelaksanaan
(1) Guru mengemukakan tema pokok.
(2) Guru mengajak peserta didik menelaah kemungkinan untuk
mengkaitkan tema dengan berbagai bidang studi.
(3) Guru berperan sebagai pembimbing dan pengatur jalannya diskusi.
(4) Sesudah pengkaitan tema dengan bidang studi yang lain terbentuk,
guru membagi kelas dalam beberapa kelompok sebanyak bidang
studi yang ada (terkait).
(5) Setiap kelompok merencanakan bagaimana melakukan kegiatan
yang berhubungan dengan materi yang telah dikaitkan dengan tema.
(6) Guru memberi tahukan hal-hal yang penting apa yang perlu diamati
oleh peserta didik.

Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan | 73


Kegiatan Pembelajaran 2

(7) Data informasi yang terkumpul didiskusikan, diolah dan ditulis serta
siap untuk dilaporkan.
(8) Sesudah siap untuk melaporkan, maka guru atau peserta didik
memimpin pelaporan. Peserta didik yang lain memberi komentar atau
saran dan dicatat oleh anggota kelompok yang sedang melaporkan.
Guru kadang-kadang memberi saran apabila diskusi kurang lancar.
(9) Berdasarkan komentar atau saran maka kelompok mendiskusikan
dan bersikap sepakat untuk menambah atau mengurangi dan
menyempurnakan laporan.
(10) Suatu hal yang penting, bahwa guru harus membantu para peserta
didik dalam memahami hubungan tema dengan bidang studi yang
lain.
c) Tahap tindak lanjut
Untuk memantapkan hasil kegiatan belajar yang baik untuk diterapkan
adalah pameran. Pameran dapat berkisar antara pameran sederhana
sampai pameran yang lebih luas. Materi pameran dapat menjadi sumber
bagi pelajaran lainnya.

d) Tahap penilaian
Tahap penilaian ini sebenarnya merupakan refleksi dari semua kegiatan
yang telah dilakukan selama proyek berlangsung. Tujuan penilaian
adalah dalam rangka untuk memperbaiki proses belajar-mengajar,
mengetahui apa yang telah dipelajari peserta didik, apakah sikap- sikap
dan keterampilan tertentu telah dimiliki oleh peserta didik. Cara penilaian
dapat dilakukan:
(1) Secara verbal, misalnya tanya jawab dan diskusi;
(2) Secara tertulis, misalnya berupa laporan, karangan, puisi, dan tes;
(3) Penilaian hasil karya, seperti gambar, bagan, model, alat sederhana,
diorama, dan market. Penilaian hasil karya wisata dapat ditujukan
kepada individu atau kelompok, misalnya pada waktu hasil karya tiap
peserta didik dipajang di kelas atau pada waktu pameran tiap stand
dinilai (nilai kelompok).

b. Teknik Pembelajaran

74 | Modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan


Pedagogik KK B

Teknik Pembelajaran dapat diartikan sebagai cara yang dilakukan


seseorang dalam mengimplementasikan suatu metode secara spesifik.
Misalkan, penggunaan metode ceramah pada kelas dengan jumlah peserta
didik yang relatif banyak membutuhkan teknik tersendiri, yang tentunya
secara teknis akan berbeda dengan penggunaan metode ceramah pada
kelas yang jumlah peserta didiknya terbatas. Demikian pula, dengan
penggunaan metode diskusi, perlu digunakan teknik yang berbeda pada
kelas yang peserta didiknya tergolong aktif dengan kelas yang peserta
didiknya tergolong pasif. Dalam hal ini, guru pun dapat berganti-ganti teknik
meskipun dalam koridor metode yang sama. Hal ini selaras dengan yang
diungkapkan oleh L. James Havery tentang teknik pembelajaran
merupakan prosedur logis dan rasional untuk merancang suatu rangkaian
komponen yang berhubungan satu dengan yang lainnya dengan maksud
untuk berfungsi sebagai satu kesatuan dalam usaha mencapai suatu tujuan
yang telah ditentukan (http://adityatriastuti.blogspot.com).

Teknik pembelajaran merupakan penjabaran lebih lanjut dari metode, tidak


salah bila teknik pembelajaran menjadi suatu cara yang digunakan oleh
guru untuk mencapai tujuan pembelajaran, agar pembelajaran lebih efisien.

Sehingga teknik pembelajaran merupakan cara yang ditempuh guru yang


sedang menggunakan metode tertentu namun karena situasi dan kondisi
yang dihadapi saat proses berlangsung dan menginginkan lebih efisien
dalam pencapaian tujuan pembelajaran dilakukanlah penyesuaian
tindakan. Seperti halnya prinsip, pendekatan, dan metode, teknik
pembelajaran dapat dibagi atas dua bagian, yaitu teknik umum dan teknik
khusus.
1) Teknik Umum, teknik umum merupakan cara-cara yang dapat
digunakan untuk semua bidang studi dan biasanya dikenal dengan
metode pembelajaran seperti yang telah diuraikan di atas, namun
wujudnya berbeda. Misalnya ceramah. Sebagai metode, ceramah
mencakup pemilihan, penyusunan, dan penyajian bahan. Bahkan,
metode ceramah juga mencakup bagaimana menyajikan bahan, dan

Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan | 75


Kegiatan Pembelajaran 2

biasanya teknik ceramah itu hanya salah satu teknik yang dipakai dalam
suatu pertemuan atau kegiatan belajar mengajar.
2) Teknik khusus, adalah cara mengajarkan (menyajikan atau
memantapkan) bahan-bahan pelajaran bidang studi tertentu. Teknik
khusus pengajaran bahasa mempunyai ragam dan jumlah yang sangat
banyak. Hal ini karena teknik mengacu kepada penyajian materi dalam
lingkup yang kecil. Sebagai contoh, teknik pengajaran keterampilan
berbahasa terdiri atas teknik pembelajaran membaca, teknik
pembelajaran menulis, teknik pembelajaran berbicara, teknik
pembelajaran menyimak, teknik pembelajaran tata bahasa, dan teknik
pembelajaran kosa kata. Pembelajaran membaca terbagi pula atas
teknik pembelajaran membaca permulaan dan teknik pembelajaran
membaca lanjut. Masing-masing terdiri pula atas banyak macam.
Begitulah, teknik khusus itu banyak sekali macamnya karena teknik
khusus itu berhubungan dengan rincian bahan pembelajaran.
3) Dalam setiap kegiatan belajar mengajar, misalnya guru bahasa
Indonesia, hanya menggunakan satu metode, katakanlah metode
khusus pembelajaran bahasa (yang ditunjang sejumlah pendekatan dan
prinsip), tetapi menggunakan sejumlah teknik, baik umum maupun
khusus. Teknik ini setiap saat divariasikan untuk mendapatkan
ketepatan dan keefisiensian.

D. Aktivitas Pembelajaran

Aktivitas pembelajaran pada kegiatan pembelajaran Pendekatan, Strategi,


Metode dan Teknik Pembelajaran terdiri atas dua bagian: yaitu diskusi materi
dan aktivitas mengerjakan lembar kerja. Anda dipersilahkan melakukan aktivitas
pembelajaran tersebut secara mandiri dan kerjasama dengan disiplin, serta
penuh tanggung jawab yang tinggi.
1. Diskusi Materi
Pada saat mempelajari materi, baca uraian materi sampai tuntas dengan teliti,
kritis, dan rasa ingin tahu yang tinggi dan buatlah rangkuman dengan kreatif
dalam bentuk peta pikiran (mindmap) secara mandiri kemudian diskusikan
dalam kelompok. Selanjutnya perwakilan kelompok bekerjasama

76 | Modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan


Pedagogik KK B

mempresentasikan hasil diskusi kelompok dan anggota kelompok lain


menghargai, memperhatikan dan menanggapinya secara aktif.

2. Lembar Kerja
Setelah mengkaji materi Pendekatan, Strategi, Metode dan teknik
Pembelajaran secara seksama, Anda dapat mencoba melakukan kegiatan
yang dalam modul ini disajikan dalam lembar kerja. Pastikan Anda sudah
menguasai seluruh materi dalam modul.

Aktivitas dapat dilakukan secara mandiri atau dapat bekerjasama dalam


kelompok masing-masing serta menyelesaikan aktivitas secara disiplin sesuai
dengan waktu yang ditentukan dengan menggunakan Lembar Kerja 5 – 7
(terlampir).

E. Latihan/Tugas

Diskusikan dalam kelompok secara musyawarah mufakat dan hasilnya silahkan


dipresentasikan!
1. Baca secara seksama secara mandiri kegiatan pembelajaran 2.
2. Berbagi informasi dan bekerjasamalah dalam kelompok dengan teman
sejawat untuk menjawab pertanyaan di bawah.
3. Presentasikan hasil pembahasan dalam kelompok.

Pertanyaan-pertanyaan:
1. Jelaskan konsepsi pendekatan pembelajaran menurut Roykillen!
2. Jelaskan secara singkat konsep saintifik dalam pembelajaran!
3. Jelaskan konsep strategi pembelajaran menurut Rowntree!
4. Jelaskan perbedaan model pembelajaran discovery learning, problem based
learning, dan project based learning!
5. Jelaskan 6 metode pembelajaran yang sering anda lakukan sesuai dengan
mata pelajaran yang diampu!
6. Jelaskan konsep teknik pembelajaran!

F. Umpan Balik dan Tindak Lanjut

1. Umpan Balik

Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan | 77


Kegiatan Pembelajaran 2

a. Pengalaman apa yang sudah anda lakukan dan anda rasakan berkaitan
dengan kegiatan pembelajaran yang telah anda lalui ?.
b. Pengalaman baru apa yang anda peroleh dari kegiatan pembelajaran
tersebut ?.
c. Materi apa yang belum ditulis dalam materi kegiatan pembelajaran yang
telah anda diskusikan ?.
d. Apa manfaat yang anda temukan dalam pembahasan materi kegiatan
pembelajaran ini?.
e. Apa saran anda untuk lebih memperbaiki materi kegiatan pembelajaran
yang telah dibahas ?

2. Tindak Lanjut
Skor maksimal dari hasil mengerjakan latihan/tugas adalah 100. Nilailah diri
Anda dengan jujur dan profesional. Jika Anda memperkirakan bahwa
pencapaian Anda masih kurang dari 75% sebaiknya Anda ulangi kembali
mempelajari bab ini dengan pantang menyerah, disiplin dan kerja keras.
Berdiskusi dan bekerjasamalah dengan teman atau sejawat Anda dengan
menumbuhkan sikap saling menghargai, tidak memaksakan kehendak,
berpikir terbuka dan tetap kritis secara profesional bila ada bagian-bagian
yang belum Anda kuasai.

Bagi Anda yang memperkirakan bahwa skor Anda minimal sudah mencapai
75%, berarti Anda telah menguasai materi Pendekatan, Strategi, Metode dan
Teknik Pembelajaran dengan baik. Silahkan Anda lanjutkan mempelajari
materi selanjutnya. Selain itu, kemampuan Anda akan semakin kuat dengan
dukungan informasi yang bisa Anda dapatkan dari internet. Tetaplah menjadi
guru yang belajar sepanjang hayat, pantang menyerah dan disiplin dalam
belajar.

78 | Modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan


Pedagogik KK B

Kunci Jawaban Latihan/Tugas

Kunci Jawaban Kegiatan Pembelajaran 1 tentang Teori Belajar dan


Prinsip-Prinsip Pembelajaran.

1. Perbedaan teori belajar behaviorisme, kognitivisme, konstruktivisme, dan


Humanisme

Teori Perbedaan
Belajar

Behaviorisme Aliran ini menganggap seseorang telah belajar jika ia telah


mampu menunjukkan perubahan tingkah laku. Untuk
membuat seseorang belajar, perlu adanya stimulus yang
diberikan oleh pendidik.
 Menekankan pada stimulus dan respon dalam
pembentukan perilaku.
 Setiap perilaku dapat dipelajari.
 Tingkah laku lama dapat diganti dengan tingkah laku
baru.
 Menekankan pada perubahan perilaku yang teramati.

Kognitivisme Belajar merupakan usaha pemberian makna oleh peserta


didik pada pengalamannya melalui asimilasi dan akomodasi
yang menuju pada pembentukan struktur kognitifnya,
sehingga lebih menekankan pada belajar merupakan suatu
proses yang terjadi dalam akal pikiran manusia. Menekankan
pada perubahan atau proses-proses mental dan perilaku tidak
kasat mata.

Konstruktivisme Belajar merupakan usaha pemberian makna oleh peserta


didik kepada pengalamannya melalui asimilasi (proses
merespon lingkungan sesuai dengan struktur kognitif) dan
akomodasi (proses memodifikasi struktur kognitif) yang
menuju pada pembentukan struktur kognitifnya.
 Individu membangun pemahamannya melalui eksplorasi
 Menyatakan bahwa peserta didik adalah orang yang
secara individual harus menemukan , mentransformasi,
dan mengecek kemballi, serta merevisi informasi yang
lama.
 Siswa memiliki pemahaman satu persepsi.

Humanisme Pada dasarnya, teori humanistik adalah teori belajar yang


memanusiakan manusia. Pembelajaran dipusatkan pada

Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan | 91


Kegiatan Pembelajaran 2

pribadi seseorang.
 Menekankan pada keunikan sikap individu.
 Individu adalah orang yang bebas menentukan apa
yang dipelajarinya.
 Belajar dipandang sebagai pemerolehan informasi atau
pengalaman dan menemukan maknanya secara
personal atau pribadi.

2. Prinsip-prinsip pembelajaran dan implikasinya antara lain:

Implikasi
Prinsip Uraian
Guru Siswa

Perhatian dan Perhatian terhadap Merangsang atau Siswa dituntut untuk


motivasi pelajaran akan timbul menyiapkan bahan memberikan
pada peserta didik, ajar yang menarik. perhatian terhadap
apabila bahan Mengkondisikan semua rangsangan
pelajaran sesuai proses belajar aktif. yang mengarah
dengan kebutuhannya. Mengunakan metode kearah tujuan
Peserta didik yang bervariasi. belajar. Adanya
mempunyai motivasi, tuntutan untuk selalu
ia akan bersungguh- memberikan
sungguh menunjukkan perhatian ini,
minat, mempunyai menyebabkan siswa
perhatian, dan rasa harus
ingin tahu yang kuat membangkitkan
untuk ikut serta dalam perhatian nya
kegiatan belajar; kepada segala
berusaha keras dan pesan yang
memberikan waktu dipelajarinya.
yang cukup untuk
melakukan kegiatan
tersebut; dan terus
bekerja sampai tugas-
tugas tersebut
terselesaikan.

Keaktifan Peserta didik Memberikan Dituntut dapat


mempunyai dorongan kesempatan memproses dan
untuk berbuat sesuatu, melakukan mengolah hasil
mempunyai kemauan pengamatan, belajarnya secara
dan aspirasinnya penyelidikkan atau efektif serta aktif
sendiri, tidak bisa inkuiri dan baik secara fisik,
dipaksakan oleh orang eksperimen. Serta intelektual dan
lain dan juga tidak bisa memberikan tugas emosional misal
dilimpahkan kepada individual dan berwujud perilaku-
orang lain. Belajar kelompok melalui perilaku seperti
hanya mungkin terjadi kontrol guru. mencari sumber
apabila anak aktif informasi yang
mengalami sendiri. dibutuhkan,
menganalisis hasil

92 | Modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan


Pedagogik KK B

percobaan, ingin
tahu hasil dari suatu
reaksi kimia, karya
tulis, membuat
klipping dan perilaku
lainnya.

Keterlibatan Belajar adalah Menggunakan media Dengan keterlibatan


langsung/ mengalami dan tidak secara langsung dan langsung ini secara
berpengalaman bisa dilimpahkan ke melibatkan peserta logis akan
orang lain. didik untuk menyebabkan
Pengalaman tersebut melakukan berbagai peserta didik
dialami sendiri secara percobaan atau memperoleh
langsung. eksperimen, mencari pengala man.
informasi, Peserta didik dituntut
merangkum mengerjakan sendiri
informasi dan tugas yang diberikan
menyimpulkan guru kepada
informasi. mereka.Contohnya
peserta didik
melakukan reaksi
kimia pada suatu
zat.

Pengulangan Pengulangan Merancang kegiatan Dituntut kesadaran


merupakan induk pengulangan dan peserta didik untuk
belajar adalah mengembangkan bersedia
pengulangan, semakin soal-soal latihan dan mengerjakan latihan-
sering materi pelajaran bervariasi. latihan yang
diulangi (melatih daya- berulang untuk satu
daya yang ada pada macam
manusia ) maka permasalahan.
semakin ingat dan
melekat pelajaran itu
dalam diri seseorang.

Tantangan Tantangan yang Memberikan tugas- Dituntut memiliki


dihadapi dalam bahan tugas dan kesadaran pada diri
belajar membuat siswa tanggungjawab peserta didik akan
bersemangat untuk untukmemecahkan adanya kebutuhan
mengatasinya. masalah secara untuk selalu
mandiri. memperoleh,
memproses, dan
mengo lah pesan.
Peserta didik juga
harus memiliki
keingintahuan yang
besar terhadap
segala
permasalahan yang
dihadapi.

Balikan dan Kunci dari prisip ini Memberikan kepada Segera


penguatan adalah hukum effek, pesertya didik mencocokkan
hubungan stimulus dan jawaban yang benar, jawaban dengan
respon akan serta mengoreksi kunci jawaban, dan

Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan | 93


Kegiatan Pembelajaran 2

bertambah erat, jika sekaligus membahas menerima


disertai perasaan pekerjaan siswa. kenyataan terhadap
senang atau puas dan nilai yang dicapai.
sebaliknya bisa lenyap
jika disertai perasaan
tidak senang.

Perbedaan Peserta didik Mendorong peserta Memilih tempat


individual merupakan makhluk didik dalam duduk di kelas,
individu yang unik yang memahami potensi belajar sesuai tempo
mana masing-masing dirinya dan untuk kecepatan masing-
mempunyai perbedaan selanjutnya mampu masing siswa.
yang khas, seperti merencanakan dan
perbedaan intelegensi, melaksanakan suatu
minat, bakat, hobi, kegiatan.
tingkah laku maupun Menentukan metode
sikap, mereka berbeda yang dapat melayani
pula dalam hal latar seluruh siswa,
belakang kebudayaan, karena heterogenitas
sosial, ekonomi dan
keadaan orang tuanya.

3. Prinsip-prinsip pembelajaran berdasarkan peraturan antara lain:

Sesuai dengan ketetapan Permendikbud No 22 tahun 2016 tentang Standar


Proses Kegiatan Pembelajaran perlu menggunakan prinsip sebagai berikut:
1. Dari peserta didik diberi tahu menuju peserta didik mencari tahu;
2. Dari guru sebagai satu-satunya sumber belajar menjadi belajar
berbasis aneka sumber belajar;
3. Dari pendekatan tekstual menuju proses sebagai penguatan
penggunaan pendekatan ilmiah;
4. Dari pembelajaran berbasis konten menuju pembelajaran berbasis
kompetensi;
5. Dari pembelajaran parsial menuju pembelajaran terpadu;
6. Dari pembelajaran yang menekankan jawaban tunggal menuju
pembelajaran dengan jawaban yang kebenarannya multi dimensi;
7. Dari pembelajaran verbalisme menuju keterampilan aplikatif;
8. Peningkatan dan keseimbangan antara keterampilan fisikal
(hardskills) dan keterampilan mental (softskills);
9. Pembelajaran yang mengutamakan pembudayaan dan
pemberdayaan peserta didik sebagai pembelajar sepanjang hayat;

94 | Modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan


Pedagogik KK B

10. Pembelajaran yang menerapkan nilai-nilai dengan memberi


keteladanan (ing ngarso sung tulodo), membangun kemauan (ing
madyo mangun karso), dan mengembangkan kreativitas peserta didik
dalam proses pembelajaran (tut wuri handayani);
11. Pembelajaran yang berlangsung di rumah di sekolah, dan di
masyarakat;
12. Pembelajaran yang menerapkan prinsip bahwa siapa saja adalah
guru, siapa saja adalah peserta didik, dan di mana saja adalah kelas;
13. Pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi untuk
meningkatkan efisiensi dan efektivitas pembelajaran; dan
14. Pengakuan atas perbedaan individual dan latar belakang budaya
peserta didik.

Kunci Jawaban Kegiatan Pembelajaran 2 tentang Teori Belajar dan


Prinsip-Prinsip Pembelajaran

1. Konsep pendekatan pembelajaran menurut Roykillen

a Pendekatan yang berpusat pada guru (teacher-centred approaches),


memiliki ciri bahwa manajemen dan pengelolaan pembelajaran ditentukan
oleh guru. Peran peserta didik pada pendekatan ini hanya melakukan
aktivitas sesuai dengan petunjuk guru. Pada pendekatan ini menurunkan
strategi pembelajaran langsung (direct instruction), pembelajaran deduktif
atau pembelajaran ekspositori. peran guru sangat menentukan baik
dalam pilihan isi atau materi pelajaran maupun penentuan proses
pembelajaran.

b Pendekatan yang berpusat pada peserta didik (student-centred


approaches), pendekatan pembelajaran yang menempatkan peserta didik
sebagai subjek belajar. Pendekatan pembelajaran yang berorientasi pada
peserta didik, menejemen, dan pengelolaannya ditentukan oleh peserta
didik. Pendekatan ini selanjutnya menurunkan strategi pembelajaran
discovery dan inquiry serta strategi pembelajaran induktif. Pada strategi
ini peran guru sebagai fasilitator, dan pembimbing sehingga kegiatan
belajar peserta didik menjadi lebih terarah

Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan | 95


Kegiatan Pembelajaran 2

2. Konsep pendekatan saintifik dalam pembelajaran

Pendekatan saintifik merupakan pembelajaran yang dirancang sedemikian


rupa sehingga peserta didik secara aktif mengonstruk konsep, hukum atau
prinsip melalui tahapan-tahapan mengamati (untuk mengidentifikasi atau
menemukan masalah), merumuskan masalah, mengajukan atau
merumuskan hipotesis, mengumpulkan data dengan berbagai teknik,
menganalisis data, menarik kesimpulan dan mengomunikasikan konsep,
hukum atau prinsip yang “ditemukan”

3. Konsep strategi pembelajaran menurut Rowntree

a Strategi penyampaian penemuan (exposition-discovery learning).


Exposition merupakan strategi pembelajaran yang menekankan kepada
proses penyampaian materi secara intensif dari seorang guru kepada
sekelompok peserta didik. Sedangkan strategi discovery, yang mana
bahan pelajaran dicari dan ditemukan sendiri oleh peserta didik melalui
berbagai aktivitas, sehingga tugas pendidik lebih banyak sebagai
fasilitator dan pembimbing

b Strategi pembelajaran kelompok, belajar dilakukan secara beregu


(kelompok). Bentuk belajar kelompok ini bisa dalam pembelajaran
kelompok besar atau klasikal; atau bisa juga dalam kelompok-kelompok
kecil. Strategi ini tidak memperhatikan kecepatan belajar individual,
semua dianggap sama.

c Strategi pembelajaran individual (groups-individual learning), dilakukan


peserta didik secara mandiri. Kecepatan, kelambatan, dan keberhasilan
peserta didik sangat ditentukan oleh kemampuan individu peserta didik
yang bersangkutan.

4. Metode pembelajaran yang sering anda lakukan sesuai dengan mata


pelajaran yang diampu oleh guru dalam pembelajaran (hanya 6 jawaban dari
metode yang tersedia).

96 | Modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan


Pedagogik KK B

Metode Deskripsi Langkah

Metode Merupakan metode Persiapan meliputi: merumuskan


Ceramah mengajar dengan tujuan, Menentukan pokok-pokok
menyampaikan materi, Mempersiapkan alat bantu.
informasi dan
Pelaksanaan meliputi: pembukaan,
pengetahuan saecara
penyajian, penutupan
lisan kepada sejumlah
peserta didik yang pada
umumnya mengikuti
secara pasif.
Metode Merupakan cara Tahap Persiapan meliputi:
Diskusi penyajian pelajaran, Merumuskan tujuan, menentukan jenis
dimana peserta didik diskusi, menetapkan masalah yg
dihadapkan kepada dibahas, persiapan teknis pendukung)
suatu masalah, yang
Tahap pelaksanaan meliputi:
bisa berupa pernyataan
memverifikasi persiapan, pengarahan
atau pertanyaan yang
sebelum dilaksanakan diskusi,
bersifat problematis
melaksanakan diskusi, memberikan
untuk dibahas dan
kesempatan kepada semua peserta
dipecahkan bersama.
diskusi untukmengungkapkan
gagasan, pengendalian pembicaraan
pada pokok materi
Tahap penutup meliputi:
menyimpulkan pokok-pokok bahasan,
umpan balik untuk perbaikan.

Metode Merupakan pengelolaan Perencanaan meliputi: Merumuskan


Demonstrasi pembelajaran dengan tujuan, Menetapkan garis-garis besar
memperagakan atau langkah-langkah demonstrasi,
mempertunjukkan menentukan waktu, dukungan teknis.
kepada peserta didik
Pelaksanaan meliputi: memeriksan
suatu proses, situasi,
kesiapan, memberikan penjelasan
benda, atau cara kerja
tentang topik, melaksanakan
suatu produk teknologi
demonstrasi, mengingatkan pokok-
yang sedang dipelajari.
pokok materi, pemberian kesempatan
kepada peserta untuk ikut aktif,
melaksanakan penguatan,
menyimpulkan
Evaluasi merupakan tindak lanjut
demonstrasi dan mengevaluasi
terhadap pelaksanaan.

Metode Merupakan cara Langkah yang dilakukan sebagai


Penugasan mengajar atau berikut: mempertimbangkan tujuan
penyajian materi melalui yang akan dicapai dengan tugas itu,
penugasan peserta memberikan tugas yang cukup jelas
didik untuk melakukan dipahami peserta didik sehingga

Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan | 97


Kegiatan Pembelajaran 2

suatu pekerjaan dengan mereka tidak perlu bertanya-tanya


maksud agar peserta lagi, mengontrol apakah tugas
didik melakukan dikerjakan dengan baik, apakah
kegiatan belajar. dikerjakan oleh peserta didik sendiri
Pemberian tugas dapat atau oleh orang lain, mengevaluasi
secara individual atau hasil peserta didik untuk
kelompok menumbuhkembangkan semangat
kerja yang lebih luas.

Metode Merupakan metode Persiapan meliputi: merumuskan


Kerja mengajar dengan tujuan, menyiapkan materi,
Kelompok mengkondisikan peserta mengidentifikasi sumber belajar,
didik dalam suatu group menetapkan ketentuan kelompok.
atau kelompok sebagai
Pelaksanaan meliputi: membuka
satu kesatuan dan
pelajaran, melaksanakan apersepsi,
diberikan tugas untuk
memotivasi peserta didik dengan
dibahas dalam
mengemukakan kasus,
kelompok tersebut
mengemukakan tujuan pelajaran,
mengemukakan lingkup materi
pelajaran, membentuk kelompok,
mengemukakan tugas,
mengemukakan peraturan dan tata
tertib, mengawasi, memonitor, dan
bertindak sebagai fasilitator, pelaporan
dan umpan balik.
Penutup meliputi: peserta didik
merangkum, evaluasi, tindak lanjut.

Metode Merupakan suatu Langkah yang dilakukan sebagai


Karyawisata metode mengajar yang berikut: menetapkan kompetensi yang
dilakukan dengan cara akan dicapai peserta didik,
berkunjung ke suatu merencanakan tujuan, merumuskan
tempat atau objek yang kegiatan yang akan dilakukan,
dirancang terlebih melaksanakan kegiatan, menilai
dahulu oleh pendidik kegiatan, melaporkan hasil kegiatan,
dan diharapkan peserta tindak lanjut.
didik membuat laporan
dan diskusi bersama
dengan peserta didik
yang lain serta
didampingi oleh
pendidik, yang
kemudian hasilnya
dituliskan

Metode Merupakan metode Persiapan yang meliputi: menentukan


Tanya jawab yang digunakan dalam topik, merupuskan tujuan, menyusun
proses belajar mengajar pertanyaan, mengidentifikasi
dengan menggunakan kemungkinan pertanyaan siswa.

98 | Modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan


Pedagogik KK B

pertanyaan yang Pelaksanaan yang meliputi:


diajukan oleh guru menjelaskan tujuan,
kepada peserta didik mengomunikasikan penggunaan
(untuk menjawab), yang metode tanya jawab, memberikan
mengarahkan peserta permasalahan (apersepsi),
didik memahami materi. mengajukan pertanyaan, memberikan
waktu yang cukup dalam menjawab,
memeperhatikan jawaban peserta
didik dengan seksama, menentukan
status jawaban dan memberikan
penguatan maupun penghapusan,
memberikan kesempatan kepada
peserta didik, menyimpulkan materi
yang sedang dipelajari berdasarkan
sumber yang relevan.

Metode Merupakan cara Persiapan meliputi: penetapan tujuan;


Eksperimen pengelolaan penetapan kebutuhan peralatan,
pembelajaran di mana bahan, sarana lainnya; melakukan uji
peserta didik melakukan eksperimenn (guru), menyediakan
aktivitas percobaan lembar kerja.
dengan mengalami dan
Pelaksanaan meliputi: Mendiskusikan
membuktikan sendiri
peserta didik tentang prosedur,
suatu yang
peralatan, dan bahan untuk
dipelajarinya.
eksperimen; Membantu, membimbing,
dan mengawasi eksperimen; peserta
didik membuat kesimpulan dan
laporan.
Tindak lanjut meliputi: Mendiskusikan
hambatan dan hasil hasil eksperimen;
membersihkan dan mengumpulkan
peralatan peralatan lalu disimpan,
bahan atau saran lainnya; Evaluasi
akhir eksperimen oleh guru.

Metode Role Merupakan suatu cara Langkah yang dilakukan sebagai


Playing penguasaan bahan- berikut: Guru menyusun/menyiapkan
bahan pelajaran melalui skenario; Guru menunjuk beberapa
pengembangan peserta didik untuk mempelajari
imajinasi dan skenario dalam waktu tertentu; Guru
penghayatan peserta membentuk kelompok peserta didik
didik sesuai dengan dan menetapkan peranannya; Guru
tokoh yang diperankan. menjelaskan kompetensi yang akan
dicapai; setiap peserta didik
mempelajari skenario yang ada untuk
diperankan; melaksanakan permainan
peran sesuai tanggungjawab masing-
masing; pasca tampil masing-masing
peserta didik diberikan lembar kerja
untuk membahas/memberi penilaian

Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan | 99


Kegiatan Pembelajaran 2

dan mendiskusikan atas penampilan


masing-masing kelompok; masing-
masing kelompok menyampaikan hasil
kesimpulannya; Guru memberikan
kesimpulan secara umum.

Metode Merupakan suatu cara Langkah yang dilakukan sebagai


Pemecahan menyajikan pelajaran berikut: Identifikasi keberadaan
Masalah dengan mendorong masalah yang bersumber dari peserta
(Problem peserta didik untuk didik. Mencari dan mengumpulkan
Solving) mencari dan data atau keterangan. Menetapkan
memecahkan suatu jawaban sementara (dugaan) dari
masalah/persoalan masalah. Menguji kebenaran jawaban.
dalam rangka Menarik kesimpulan.
pencapaian tujuan
pengajaran.

Metode Drill Merupakan suatu cara Persiapan meliputi: merumuskan


dalam pembelajaran tujuan pembelajaran yang akan
melalui kegiatan latihan dicapai, menetapkan, merancang
dengan praktek yang latihan secara berurutan yang akan
dilakukan berulang kali dikerjakan oleh peserta didik serta
secara kontinyu untuk menyediakan kunci jawaban.
mendapatkan
Pelaksanaan meliputi kegiatan:
keterampilan dan
ketangkasan praktis a Membuka antara lain:
tentang pengetahuan menyampaikan tujuan,
yang dipelajari. menyampaikan bentuk-bentuk
latihan
b Melaksanakan antara lain:
memulai dengan hal sederhana
(penjajagan), penjelasan hasil
penjajagan, latihan secara
terbimbing, pemberian
kesempatan untuk latihan
secara kontinyu, mengamati
dan menemukan kesulitan
peserta didik untuk mengubah
situasi agar kesenangan belajar
terjaga.
c Mengakhiri, guru memberi
motivasi kepada peserta didik
agar tetap melakukan latihan-
latihan secara terus menerus
sehingga hasil belajar yang
dikuasai tertanam baik pada diri
siswa.
Penutup, guru melakukan perbaikan
terhadap kesalahan-kesalahan peserta

100 | Modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan


Pedagogik KK B

didik sebagai bentuk penguatan


terhadap hasil pembelajaran, serta
memberikan latihan sebagai bentuk
pengayaan agar terjadi pembiasaan.

Metode Merupakan salah satu Tahap perencanaan meliputi:


Proyek cara pemberian Mempelajari pokok bahasan dalam
pengalaman belajar GBPP, Membuat diagram kaitan
dengan menghadapkan antara tema dengan pokok bahasan
peserta didik pada dari mata pelajaran lain, merumuskan
persoalan sehari-hari tujuan, menentukan materi pelajaran
(kerja proyek) yang dari masing-masing pokok bahasan,
harus dipecahkan menentukan langkah kegiatan,
secara berkelompok. merencanakan organisasi kels,
menyaipkan format, merencanakan
kegiatan tindak lanjut, menyiapkan
penilaian.
Tahap pelaksanaan meliputi: guru
mengemukakan tema, menelaah
secara bersama kaitan tema dengan
bidang studi, pembagian kelompok,
kelompok merencanakan kegiatan,
guru menyampaikan hal yg perlu
diamati, pengerjaan proyek sesuai
rencana kegiatan dan pengumpulan
data untuk diolah menjadi laporan,
melaksanakan laporan dan input dari
kelompok lain, penyempurnaan
laporan berdasarkan input.
Tahap tindak lanjut dalam bentuk
melaksanakan publikasi (pameran).
Tahap penilaian berupa refleksi dari
seluruh kegiatan pelaksanaan proyek
berlangsung

5. Perbedaan model pembelajaran discovery learning, problem based learning,


dan project based learning.

No Komponen Discovery Based Problem Based Project Based


Learning Learning Learning

1. Deskripsi Merupakan suatu Merupakan Merupakan suatu


pembelajaran strategi pembelajaran yang
proses yang pembelajaran menggunakan
berfokus pada yang proyek/media
pengaktifan peserta menggunakan sebagai media

Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan | 101


Kegiatan Pembelajaran 2

didik untuk masalah dunia untuk


menemukan nyata sebagai mengaktifkan
konsep, makna, suatu konteks peserta didik
dan hubungan untuk belajar melakukan
kausal (hubungan tentang cara eksplorasi,
sebab akibat atau berpikir kritis dan penilaian,
dampak) melalui keterampilan interpretasi,
pengorganisasian pemecahan sintesis, dan
pembelajaran yang masalah, serta informasi
dilakukan oleh untuk
peserta didik. memperoleh
pengetahuan dan
konsep yang
esensial dari
materi pelajaran.

2. Dasar Mendasarkan pada Mendasarkan Mendasarkan


Pembelajaran penyelidikan/eksper pada masalah pada kerja
imen yang (inovatif), peserta
menghasilkan didik berpeluang
penemuan yang bekerja secara
dilakukan siswa otonom
sendiri. mengkonstruksi
belajarnya.

3. Hasil belajar Temuan konsep Alternatif Produk inovasi


atau prinsip yang pemecahan
sebelumnya tidak masalah
diketahui

4. Materi Fakta, konsep Prinsip, Prosedural,


prosedural metakognitif

5. Langkah- Persiapan, Orientasi Penentuan proyek,


Langkah pelaksanaan masalah, Perancangan
(stimulasi/pemberia organisasi langkah-langkah
n rangsangan, belajar, penyelesaian
pernyataan/ penyelidikan proyek,
identifikasi individu maupun Penyusunan
masalah, kelompok, jadwal
Pengumpulan Data, pengembangan pelaksanaan
Pengolahan Data, dan penyajian proyek,
Pembuktian, hasil, analisis Penyelesaian
menarik dan evaluasi proyek dengan
kesimpulan/ proses hasil fasilitasi dan
generalisasi). pemecahan monitoring guru,
masalah Penyusunan
laporan dan
presentasi/
publikasi hasil

102 | Modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan


Pedagogik KK B

proyek, Evaluasi
proses dan hasil
proyek.

6. Konsep teknik pembelajaran!

Teknik pembelajaran merupakan cara yang ditempuh guru yang sedang


menggunakan metode tertentu namun karena situasi dan kondisi yang
dihadapi saat proses berlangsung dan menginginkan lebih efisien dalam
pencapaian tujuan pembelajaran dilakukanlah penyesuaian tindakan. Teknik
pembelajaran dibagi atas dua bagian yaitu: (1) Teknik umum merupakan
cara-cara yang dapat digunakan untuk semua bidang studi dan biasanya
dikenal dengan metode pembelajaran; (2) Teknik khusus cara mengajarkan
(menyajikan atau memantapkan) bahan-bahan pelajaran bidang studi
tertentu, karena teknik ini mengacu kepada penyajian materi dalam lingkup
yang kecil. Sebagai contoh, teknik pengajaran keterampilan berbahasa
terdiri atas teknik pembelajaran membaca, teknik pembelajaran menulis,
teknik pembelajaran berbicara, dst.

Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan | 103


Pedagogik KK B

Pengembangan Soal

Petunjuk pengembangan soal:

1. Untuk memahami lebih lanjut dan lebih jelas bacalah modul yang
berkaitan dengan Penilaian Proses Hasil Belajar pada kelompok
kompetensi H (Pedagogik).
2. Untuk melaksanakan pengembangan soal, kerjakan dengan
menggunakan LK 9 (Terlampir)

Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan | 105


Pedagogik KK B

Evaluasi

A. Soal Uraian

Pada pembelajaran produktif di bidang keahlian Teknologi dan Rekayasa, program


keahlian, paket keahlian Teknik Pemesinan, Pak Widodo mengajar praktik kerja
bangku di kelas IX. Dengan seksama seluruh peserta didik memperhatikan
pengajaran Pak Widodo yang memang beliau menjelaskan secara bergairah dan
enak untuk didengarkan dalam berkomunikasi. Elaborasi beliau tentang kerja
bangku menunjukkan hasil pengikiran yang baik dan yang buruk. Karena
pengajaran dilakukan pada kelas IX semester awal (ganjil) dengan topik
mengikir, maka beliau menjelaskan bagaimana posisi berdiri seseorang kala
mengikir dengan benar, cara memegang kikir dan cara mengikir (mengayun
permukaan kikir) dengan benar, kemudian bagaimana cara mengontrol
permukaan hasil pengikirannya. Tanya jawabpun diberikan kesempatan kepada
peserta didik setelah beliau memberikan penjelasan (instruksi) tetang mengikir
yang benar dalam rangka lebih memahami instruksi yang telah dilakukan Pak
Widodo namun dianggap oleh peserta pendidik belum jelas.

Untuk mencapai kompetensi sesuai dengan indikator yang diformulasikan dan


rancangan pembelajaran, peserta didik selanjutnya melaksanakan kegiatan
praktik mengikir sesuai dengan instruksi guru dan sesuai dengan jobsheet yang
telah dibagikan kepada peserta didik. Pada kegiatan akhir pembelajaran peserta
didik diharuskan membuat kesimpulan secara tertulis tentang bagaimana cara
mengikir dengan benar sehingga menghasilkan hasil kikiran yang bagus,
termasuk hambatan-hambatan dalam mengikir dan alternatif solusinya.
Setelah anda membaca teks di atas secara seksama tentang situasi
pembelajaran yang dilakukan oleh Pak Widodo, jawablah secara mandiri dan
penuh kejujuran pertanyaan berikut di bawah.

Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan | 107


Kunci Jawaban

Pertanyaan:

1. Agar pembelajaran efektif, sebutkan 3 teori belajar yang sesuai untuk


digunakan sebagai acuan? Dan kapan teori belajar tersebut digunakan?
2. Agar pembelajaran efektif, sebutkan 3 prinsip belajar yang harus digunakan?
Dan kapan prinsip belajar tersebut digunakan?

B. Soal Pilihan Ganda

Petunjuk pengerjaan soal

a. Bacalah secara cermat terlebih dahulu soal-soal berikut dalam mengerjakan.


b. Kerjakan secara mandiri dan dengan pebuh kejujuran.
c. Silanglah pada pilihan jawaban yang anda anggap paling tepat dari 4 item
pilihan jawaban (A, B, C, D) dari soal di bawah.
d. Bila hendak mengganti pilihan jawaban yang anda sudah tersilang
meragukan, maka lingkarilah jawaban tersebut dan silanglah dengan pilihan
jawaban yang baru, contoh sebagai berikut: A , B , C , D.
e. Waktu 20 menit

1. Konsep teori belajar merupakan ...

A. seperangkat azaz tentang kejadian-kejadian yang memuat ide,


konsep, prosedur dan prinsip yang dipelajari, dianalisis dan diuji
kebenarannya.
B. Hukum-hukum/prinsip-prinsip umum yang melukiskan kondisi
terjadinya belajar.
C. suatu proses usaha sadar yang dilakukan oleh individu untuk suatu
perubahan dari tidak tahu menjadi tahu.
D. kegiatan psiko-fisik-sosio menuju ke perkembangan pribadi
seutuhnya.

2. Teori humanisme merupakan teori belajar yang memanusiakan manusia.

108 | Modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan


Pedagogik KK B

Pembelajaran dipusatkan pada pribadi seseorang. Belajar terjadi bila


mempunyai arti (meaning) bagi individu, sehingga motivasi belajar harus
bersumber dari diri peserta didik sendiri. Tokoh terkenal tentang teori
humanisme adalah ....

A. John Dewey
B. Carl Rogers
C. Vygotsky
D. Thorndike

3. Pembelajaran berorientasi pada hasil yang dapat diukur dan diamati


merupakan implikasi dari teori belajar ....

A. Behaviorisme
B. Kognitivisme
C. Konstruktivisme
D. Humanisme

4. Teori belajar kognitif merupakan teori belajar yang mengutamakan


proses pembelajaran dibandingkan dengan hasil yang dicapai. Berikut ini
beberapa implikasi dari teori belajar kognitif:

1) Perlakuan individu didasarkan pada tingkat perkembangan


kognitif peserta didik
2) Tujuan pembelajaran difokuskan pada pengembangan kognisi.
3) Evaluasi atau penilaian didasari atas perilaku yang tampak.
4) Guru tidak banyak memberi ceramah, tetapi memberikan instruksi
singkat.
5) Kurikulum dan metode-metode berfungsi untuk mengembangkan
ketrampilan berfikir peserta didik.
6) Pembangkitan motivasi berdasarkan pengalaman atau
pengetahuan yang telah dikuasai peserta didik.

Implikasi yang benar pada pernyataan di atas adalah ....

A. 1, 2, 3, 6
B. 1, 2, 3, 4

Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan | 109


Kunci Jawaban

C. 1, 3, 4, 5
D. 1, 2, 5, 6

5. Pernyataan berikut ini yang tepat sehubungan dengan perbedaan antara


teori belajar behaviorisme dan teori belajar konstruktivisme adalah ....

A. Teori behaviorisme menekankan pada perubahan tingkah laku dari


hasil stimulus-respon, sedangkan teori kognitivisme menekankan
pada suatu proses yang terjadi dalam akal pikiran manusia.
B. Teori behaviorisme menekankan pada perubahan tingkah laku dari
hasil stimulus-respon, sedangkan teori kognitivisme menekankan
pada suatu proses perubahan perilaku yang teramati.
C. Teori behaviorisme menekankan pada perubahan tingkah laku dari
hasil stimulus-respon, sedangkan teori kognitivisme menekankan
pada keunikan sikap individu.
D. Teori behaviorisme menekankan pada perubahan tingkah laku dari
hasil stimulus-respon, sedangkan teori kognitivisme menekankan
pada tingkah laku lama dapat diganti dengan tingkah laku baru.

6. Secara umum prinsip-prinsip pembelajaran salah satunya bahwa belajar


menyangkut apa yang harus dikerjakan siswa untuk dirinya sendiri, maka
inisiatif harus datang dari siswa sendiri. Guru sekedar pembimbing dan
pengarah. Sehubungan dengan hal tersebut maka termasuk prinsip ....

A. Perhatian dan motivasi


B. Keterlibatan langsung/pengalaman
C. Keaktifan
D. Balikan dan penguatan

7. Di bawah merupakan prinsip-prinsip belajar antara lain:

1) Umpan balik
2) Minat dan bakat
3) Kesiapan kondisi individu
4) Tujuan yang tergambar untuk dicapai

110 | Modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan


Pedagogik KK B

5) menyimpan dan menerapkan hasil belajar (transfer dan retensi)


6) afektif

sedangkan prinsip belajar yang dinyatakan oleh Rothwall adalah ....

A. 1, 2, 3, 4
B. 2, 4, 5, 6
C. 3, 4, 5, 6
D. 1, 4, 5, 6

8. Pendidik memberikan tugas-tugas dan tanggungjawab


untukmemecahkan masalah secara mandiri merupakan implikasi bagi
guru berkaitan dengan prinsip ....

A. Tantangan
B. Keaktifan
C. Pengulangan
D. Balikan

9. Implikasi prinsip pembelajaran balikan dan penguatan bagi guru adalah


....

A. Mencocokan jawaban dengan kunci jawaban dan menerima hasil


yang dicapai.
B. Memberikan jawaban yang benar kepada peserta didik dan
sekaligus mengoreksinya.
C. Mendorong peserta didik dalam memahami potensi dirinya dan
menentukan metode.
D. Memilih tempat duduk sesuai dengan kondisi fisik peserta didik.

10. Peserta didik dituntut dapat memproses dan mengolah hasil belajarnya
secara efektif serta aktif baik secara fisik, intelektual dan emosional misal
berwujud perilaku-perilaku seperti mencari sumber informasi yang
dibutuhkan, menganalisis hasil percobaan, ingin tahu hasil dari suatu
reaksi kimia, karya tulis, membuat klipping dan perilaku lainnya,
merupakan implikasi peserta didik berkaitan dengan prinsip ....

Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan | 111


Kunci Jawaban

A. Keterlibatan Langsung
B. Tantangan
C. Perhatian dan Motivasi
D. Keaktifan

11. Dua pendekatan dalam pembelajaran menurut Roykillen adalah ....

A. expository dan exposition


B. discovery dan inquiri
C. student-centred approaches dan teacher-centred approaches
D. Problem based learning dan project based learning

12. Pernyataan yang bukan menjadi karateristik student centered approach


adalah ....

A. Guru hanya sebagai pembimbing, peserta didik yang aktif.


B. Peserta didik memecahkan masalah sendiri, guru hanya akan
memberikan feed back dan memjelaskan persoalan-persoalan yang
melenceng.
C. Kelas bising.
D. Guru yang berperan aktif, peserta didik menjadi pendengar yang
baik.

13. Dalam pendekatan pembelajaran saintifik seperti yang tertuang dalam


Permendikbud no 22 tahun 2016 dikenal dengan lima M. Hal yang
dimaksud tersebut adalah .....

A. Mengamati, menanya, menalar, mengasosiasi, mengomunikasikan


B. Mengamati, menanya, mengumpulkan informasi, mencoba,
mengomunikasikan
C. Mengamati, menanya, mencoba, mengasosiasi, mengomunikasikan
D. Mengamati, menanya, mengasosiasi, mencoba, mengomunikasikan

14. Strategi pembelajaran menurut Rowntree dikelompokkan sebagai berikut

112 | Modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan


Pedagogik KK B

.....

A. Strategi penyampaian, strategi pembelajaran kelompok, dan strategi


pembelajaran individual.
B. Strategi penyampaian, strategi pembelajaran, dan strategi
pembelajaran diskusi
C. Strategi penyampaian, strategi penilaian, dan strategi pembelajaran
kolaboratif
D. Strategi penyampaian, strategi penilaian, dan strategi
pengadministrasian

15. Metode ceramah yaitu sebuah metode mengajar dengan menyampaikan


informasi dan pengetahuan secara lisan kepada peserta didik. Tahap
pelaksanaan metode ceramah ada tiga langkah yang harus dilakukan .....

A. Langkah persiapan pembelajaran, pelaksanaan pembelajaran,


penutup pembelajaran
B. Langkah pembukaan, penyampaian materi pembelajaran, evaluasi
pembelajaran
C. Langkah persiapan, pelaksanaan pembelajaran, refleksi, penutup
D. Langkah pembukaan, penyampaian materi pembelajaran,
mengakhiri atau menutup

16. Metode diskusi adalah metode mengajar yang sangat erat hubungannya
dengan memecahkan masalah (problem solving). Langkah dalam
metode diskusi adalah .....

A. Langkah persiapan, pelaksanaan diskusi, penutup diskusi


B. Memeriksa persiapan, memberi pengarahan, melaksanakan diskusi,
dan mengendalikan pembicaraan
C. Merumuskan tujuan, menentukan masalah yang akan dibahas,
pelaksanaan diskusi, melaporkan hasil diskusi.
D. Pengaturan teknik diskusi, pemanduan diskusi, pelaporan hasil
diskusi, refleksi dan penutup.

Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan | 113


Kunci Jawaban

17. Langkah metode demonstrasi meliputi perencanaan, pelaksanaan dan


evaluasi. Tidakan di bawah berikut ini yang bukan termasuk dalam
langkah pelaksanaan metode demonstrasi adalah .....

A. Memulai demonstrasi dengan menarik perhatian peserta didik


(sambil memperhatikan atensi peserta didik)
B. Memberi tugas sebagi bentuk tindak lanjut dan mengadakan
evaluasi terhadap demonstrasi yang telah dilakukan.
C. Memperhatikan keadaan peserta didik, apakah semuanya mengikuti
demonstrasi dengan baik
D. Memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk aktif
memikirkan lebih lanjut tentang apa yang dilihat dan didengarnya
dalam bentuk mengajukan pertanyaan.

18. Beberapa pernyataan di bawah merupakan langkah-langkah dari metode


karya wisata, antara lain:

1. Menetapkan kompetensi yang akan dicapai peserta didik,


2. Merencanakan tujuan,
3. Merumuskan kegiatan yang akan dilakukan,
4. Melaksanakan kegiatan,
5. Menilai kegiatan,
6. Melaporkan hasil kegiatan

Urutan yang tepat langkah-langkah metode karya wisata adalah .....

A. 1, 3, 2, 4 ,5, 6.
B. 1, 2, 3, 4 ,5, 6.
C. 1, 3, 2, 4 , 6, 5.
D. 1, 2, 3, 4 , 6, 5.

19. Metode proyek dalam pembelajaran yang sebenarnya berawal dari


pemikiran John Dewey tentang metode pemecahan masalah merupakan
bentuk pengembangan yang dilakukan oleh Kilpatrick. Langkah-
langkahnya metode proyek sebagai berikut: ....

114 | Modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan


Pedagogik KK B

A. Tahap persiapan, tahap perencanaan, tahap pelaksanaan, tahap


tindak lanjut, tahap penilaian, tahap refleksi.
B. Tahap perencanaan, tahap pelaksanaan, tahap tindak lanjut,
pameran, tahap penilaian.
C. Tahap perencanaan, tahap pelaksanaan, tahap tindak lanjut, tahap
penilaian.
D. Tahap persiapan, tahap perencanaan, tahap pelaksanaan, tahap
tindak lanjut, tahap penilaian.

20. Dalam pembelajaran produktif di program keahlian tata boga yang


membahas tentang lauk pauk masakan Indonesia, metode yang paling
cocok unutk digunakan oleh guru yang mengajar adalah ....

A. Metode drill, karena memberikan peluang kepada pesrta didik


untuk latihan
B. Metode eksperimen, karena memberikan peluang kepada pesrta
didik untuk latihan
C. Metode demonstrasi, karena memberikan peluang kepada pesrta
didik untuk latihan
D. Tidak ada satu metodepun yang paling cocok

Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan | 115


Pedagogik KK B

Kunci Jawaban

Soal 1
Pertanyaan Jawaban, Alasan Skor Skor (S)
Maks

1 Behavioristik, 2

Ketika pendidik memberi contoh, 2


kemudian peserta didik
menirukan

Kognitif, 2

Ketika peserta didik 2


mempraktikkan apa yang telah
dicontohkan oleh pendidik.

Konstruktivistik, 2

Ketika peserta didik membuat 2


kesimpulan, bagaimana cara
mengikir rata dengan baik

2 Prinsip tujuan 2

Ketika pendidik menyampaikan 2


tujuan pembelajaran

Prinsip kesiapan, 2

Ketika pendidik menunjukkan 2


hasil pengikiran yang baik dan
buruk, untuk memberikan bekal
pengetahuan awal

Prinsip belajar psikomotorik 2

Ketika peserta didik 2


mempraktikkan apa yang telah
dicontohkan oleh pendidik.

∑ 24

Nilai (∑ S/24 x 100)

Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan | 117


Kunci Jawaban

Soal 2
1. Kriteria Penilaian

Kriteria penilaian yang digunakan dalam materi pokok 1 ini adalah :

Satu soal jika betul mendapatkan skor : 4, sehingga total skor : 20 x 4 = 100,
maka rumus nilai akhir adalah :

Nilai Akhir Materi Pokok 1 = Jumlah jawaban betul x 4

2. Kunci jawaban

Kunci jawaban evaluasi materi pokok 2 yaitu Pendekatan, Strategi, Metode


dan Teknik Pembelajaran

NO JAWABAN NO JAWABAN

1. B 11. C
2. B 12. D
3. A 13. C
4. D 14. A
5. A 15. D
6. C 16. A
7. C 17. B
8. A 18. B
9. B 19. C
10. D 20. D

118 | Modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan


Pedagogik KK B

Penutup

Teori belajar dapat diartikan sebagai konsep-konsep dan prinsip-prinsip


belajar yang bersifat teoritis dan telah teruji kebenarannya melalui
eksperiment. Jenis-jenis teori belajar antara lain teori belajar
behaviorisme, kognitivisme, konstruktivisme, dan teori humanisme. Dalam
melaksanakam proses belajar mengajar selain memperhatikan berbagai
teori belajar juga memperhatikan prinsip-prinsip pembelajaran yang
mendidik. Secara umum prinsip-prinsip pembelajaran itu adalah prinsip
perhatian & motivasi, keaktifan, keterlibatan langsung/ berpengalaman,
pengulangan, tantangan, balikan & penguatan serta prinsip perbedaan
individual. Sedangkan prinsip pembelajaran menurut Rothwal adalah
kesiapan, motivasi, persepsi, tujuan, perbedaan individual, transfer &
retensi, prinsip kognitif, afektif dan psikomotor serta prinsip evaluasi.
Selain itu pemerintah juga telah menyiapkan beberapa prinsip
pmbelajaran yang harus diterapkan dalam proses pembelajaran. Prinsip-
prinsip tersebut tertuang dalam Permendikbud No 22 Tahun 2016.

Beberapa teori belajar tersebut di atas perlu diimplementasikan dalam


proses pembelajaran. Disamping itu proses pembelajarannya harus
memperhatikan prinsip-prinsip pembelajaran agar hasil belajar dapat
tercapai secara optimal.

Setiap proses pembelajaran memerlukan pendekatan, strategi, metode


dan teknik pembelajaran. Banyak pendekatan, strategi, metode dan teknik
pembelajaran yang dapat digunakan dalam melaksanakan proses
pembelajaran, namun setiap pendekatan, strategi, metode dan teknik
pembelajaran tidak ada yang paling baik. Setiap guru harus
mempertimbangkan beberapa aspek untuk memilih metode mana yang
digunakan dalam proses pembelajarannya. Cara tepat untuk memilih

Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan | 119


Penutup

pendekatan, strategi, metode dan teknik pembelajaran yang tepat harus


disesuaikan dengan keberadaan siswa, karakteristik substansi, kondisi
guru, lingkungan, sarana dan prasarana yang ada, serta waktu yang
memungkinkan.

120 | Modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan


Pedagogik KK B

Daftar Pustaka

Abdurrahman Ginting. 2008. Esensi Praktis Belajar dan Pembelajaran. Bandung:


Humaniora.
Adityatriastuti. 2014. pengertian dari Strategi, Pembelajaran, Metode, Teknik, dan
Model, Menurut Beberapa Ahli. http://adityatriastuti.blogspot.com
Agus Suprijono. (2011). Cooperative Learning:Teori & Aplikasi PAIKEM.
Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Ahmadi dan Supriyono, 1991. Psikologi Belajar. Jakarta: Rineka Cipta.
Arends, R I. (2012). Learning to Teach ninth edition. New York: McGraw-Hill.
Bell-Gredler, M.E. (1986). Learning and Instruction: Theory into Practice. New
York: Macmil'.an Publishing
Bruner, J. S. (1961). The act of discovery. Harvard educational review.
Budiningsih, Asri. (2005). Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: PT. Rineka Cipta.
Cahyo, Agus N. 2013. Panduan Aplikasi Teori-Teori Belajar Mengajar.
Yogyakarta: Diva Press
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. 2014. Permendikbud No. 103 Tahun
2014 tentang Pedoman Pelaksanaan Pembelajaran pada Pendidikan
Dasar dan Pendidikan Menengah. Jakarta : Departemen Pendidikan
dan Kebudayaan
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. 2014. Permendikbud No. 104 Tahun
2014 tentang Penilaian Hasil Belajar oleh Pendidik pada Pendidikan
Dasar dan Pendidikan Menengah. Jakarta : Departemen Pendidikan
dan Kebudayaan
Depdiknas. 2008. Panduan Pengembangan Bahan Ajar. Jakarta: Direktorat
Pembinaan SMA, Dirjen Mandikdasmen, Depdiknas.
Dick and Carey. 2005. Systemic Design Instruction. Glenview: Illois harper
Collins Pubhliser.
Dimjati dan Mudjiono. 2009. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Rineka Cipta
Direktorat Pembinaan SMA. 2010. Juknis Pembelajaran Tuntas, Remedial, dan
Pengayaan di SMA. Jakarta : Direktorat Pembinaan SMA
Direktorat Tenaga Kependidikan. 2008. Strategi Pembelajaran dan Pemilihannya.
Jakarta : Dipdiknas,.
Fogarty, R. 1997. Problem Based Leraning and Multiple Intelligences Classroom.
Melbourne: Hawker Brownlow Education.
Hamzah B.Uno. 2008. Perencanaan Pembelajaran. Jakarta: Bumi Aksara.
Handoko, Hani T, dan Reksohadiprodjo Sukanto.1996. Organisasi Perusahaan.
Edisi kedua Yogyakarta: BPFE

Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan | 121


Lampiran

Harsono. 2009. “Aplikasi SCL dalam Proses Pembelajaran” dalam


www.belajar.usd.ac.id
Hendyat Soetopo. 2005. Pendidikan Dan Pembelajaran. Malang: UMM Press.
Iskandarwassid dan Dadang Sunendar. 2008. Strategi Pembelajaran Bahasa.
Bandung: Remaja Rosdakarya.
Joyce, Bruce and Weil, Marsha. 1980. Models of Teaching (Second Edition).
Englewood Cliffs, New Jersey: Prentice-Hall, In.
Kartono Kartini. (2007). Psikologi Anak. Bandung: Mandar Maju
Lembaga Administrasi Negara Republik Indonesia. 2007. Belajar dan
Pembelajaran. Jakarta : Lembaga Administrasi Negara Republik
Indonesia
Made Wena. 2010. Strategi Pembelajaran Inovatif Kontemporer suatu Tinjauan
Konseptual Operasional. Jakarta : Bumi Aksara.
Martinis Yamin dan Maisah. 2009. Manajemen Pembelajaran Kelas: Strategi
Meningkatkan Mutu Pembelajaran. Jakarta: GP Press
Mudjiono dan Dimyati. (1995). Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Depdikbud.
Muhibbin, Syah. (2004). Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru.
Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Nana Sudjana. 2011. Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. Bandung: PT
Remaja Rosdakarya.
Ormrod, Jeanne Ellis. 2009. Psikologi Pendidikan: Membantu Siswa Tumbuh dan
Berkembang. Edisi Keenam. Alih Bahasa: Wahyu Indianti, dkk.
Jakarta: Penerbit Erlangga.
Ratna Wilis Dahar, Teori-Teori Belajar, Jakarta: Erlangga, 1996.
Roestiyah, N.K. 2001. Didaktik Metodik, Jakarta: PT. Bina Aksara.
Roestiyah. 2001. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: PT Rineka Cipta.
Rusman. 2015. Pembelajaran Tematik Terpadu Teori, Praktik dan Penilaian .
Jakarta: Rajawali Pers.
Sagala, Syaiful. 2012. Konsep dan Makna Pembelajaran. Bandung: Alfabeta
Sanjaya, Wina. 2008. Strategi pembelajaran berorientasi standar proses
pendidikan. Jakarta : Kencana prenada Media Group.
Slameto. 2003. Belajar dan Faktor-faktor yang Mempengaruhinya. Jakarta:
Rineka Cipta.
Solso, Robert L., Cognitive Psychology, New York: Pearson Educational, 2004.
Suparman Atwi. 1997. Desain Instruksional. Jakarta: PAU Universitas Terbuka.
Suprijono, Agus. 2011. Cooperative Learning Teori dan Aplkasi PAIKEM.
Yogyakarta: Pustaka Pelajar
Sudjana, Nana. 1995. Dasar-Dasar Proses Belajar Mengajar. Bandung: Sinar
Baru Algensindo.

122 | Modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan


Pedagogik KK B

Suyono dan Hariyanto. 2011. Belajar dan Pembelajaran Teori dan Konsep
Dasar. Bandung: Rosda
Syah, M. (2004). Psikologi Belajar. Bandung : Grafindo Persada.
Syaiful Bahri Djamarah, dkk. 2006. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Rineka
Cipta.
Thomas, J.W. (2000). A review of research on project-based learning. San
Rafael, CA: Autodesk. http://web.archive.org/web/20030812124529.
Tim Pengembang MKDP. 2011. Kurikulum dan Pembelajaran. Jakarta: Rajawali
Press.
Trianto. 2007. Model Pembelajaran Terpadu dalam Teori dan Praktek. Jakarta:
Prestasi Pustaka
Winarno Surakhmad. 1982. Pengantar Interaksi Mengajar-Belajar. Bandung:
Tarsito.
Winkel,W.S. (1996). Psikologi Pengajaran. Jakarta: Grasindo.
http://indrierb.blogspot.com/2014/01/teori-belajar-konstruktivisme-dan.html
http://irdye07.blogspot.com/2010/11/strategi-pembelajaran.html
http://sainsmatika.blogspot.com/2012/04/teori-kognitif-dari-bruner-dan-teori.html
http://syamsinarthamar.blogspot.com/2014/05/macam-macam-metode-
pembelajaran-serta.html
https://filediamant.wordpress.com/model-pembelajaran-dan-15-metode-
pembelajaran.
http://file.upi.edu/direktori/
Pengertian_Pendekatan,_strategi,_metode,_teknik,_taktik.pdf
http://www.emakalah.com/2013/04/model-teori-belajar-bruner-dan-ausubel.html
http://www.emakalah.com/2013/04/perkembangan-teori-belajar.html
http://www.gurukelas.com/2012/08/metode-brainstorming-sumbang-saran.html
https://penembushayalan.wordpress.com/kuliah/tokoh-dan-teori-belajar/teori-
pembelajaran-vygotsky/
http://kristianawidi.blogspot.co.id/2012/02/makalah-teori-humanistik-carl-
rogers.html.

Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan | 123


Pedagogik KK B

Lampiran

LEMBAR KERJA
LK-01. Teori Belajar dan Implikasinya

Kerjakan tugas yang ada di bawah ini!


1. Bentuk kelas menjadi beberapa kelompok, masing-masing kelompok
terdiri dari 4-5 orang.
2. Baca dengan cermat secara mandiri terlebih dahulu bahan bacaan.
3. Selanjutnya diskusikan sesama teman dengan cara saling menghargai
pendapat untuk mendapatkan kemufakatan.
4. Presentasikan hasil diskusi di depan kelas!
5. Kerjakan secara mandiri, penuh tanggungjawab, dan tepat waktu dalam
rangka konsolidasi pemahaman, tatkala anda mengerjakan dalam ON.

Tugas:

1. Jelaskan yang dimaksud dengan teori belajar!

.................................................................................................................................
..........................................................................................................................

2. Jelaskan konsepsi masing-masing teori belajar sesuai dengan pandangan


para tokohnya!

Teori Tokoh Konsepsinya


belajar

Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan | 125


Lampiran

3. Jelaskan perbedaan antara masing-masing teori belajar!

.................................................................................................................................
.................................................................................................................................
.................................................................................................................................
...........................................................................................................................

4. Jelaskan implikasi masing-masing teori belajar dalam pelaksanaan


pembelajaran!

Teori belajar Implikasi

126 | Modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan


Pedagogik KK B

LEMBAR KERJA
LK-02. Prinsip-Prinsip Pembelajaran dan Implikasinya

Kerjakan tugas yang ada di bawah ini!


1. Bentuk kelas menjadi beberapa kelompok, masing-masing kelompok
terdiri dari 4-5 orang.
2. Baca dengan cermat secara mandiri terlebih dahulu bahan bacaan.
3. Selanjutnya diskusikan sesama teman dengan cara saling menghargai
pendapat untuk mendapatkan kemufakatan.
4. Presentasikan hasil diskusi di depan kelas!
5. Kerjakan secara mandiri, penuh tanggungjawab, dan tepat waktu dalam
rangka konsolidasi pemahaman, tatkala anda mengerjakan dalam ON.

Tugas:

1. Jelaskan yang dimaksud dengan prinsip pembelajaran!


.................................................................................................................................
.................................................................................................................................
...........................................................................................................................

2. Jelaskan prinsip-prinsip pembelajaran secara umum dan implikasinya!

Prinsip Uraian Implikasi


Pembelajaran

.... dst

Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan | 127


Lampiran

3. Jelaskan prinsip-prinsip pembelajaran sesuai dengan Permendikbud No 22


tahun 2016 tentang Standar Proses Pendidikan dan Menengah!

.................................................................................................................................
.................................................................................................................................
.................................................................................................................................
.................................................................................................................................
.................................................................................................................................
.................................................................................................................................
.................................................................................................................................
.........................................................................................................................

128 | Modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan


Pedagogik KK B

LEMBAR KERJA
LK-03. Implementasi Teori belajar behaviorisme,
kognitivisme, konstrukivisme, dan humanistik dalam
pembelajaran

Kerjakan tugas yang ada di bawah ini!


1. Bentuk kelas menjadi beberapa kelompok, masing-masing kelompok
terdiri dari 4-5 orang.
2. Baca dengan cermat secara mandiri terlebih dahulu.
3. Selanjutnya diskusikan sesama teman untuk saling menghargai pendapat
untuk mendapatkan kemufakatan.
4. Presentasikan hasil diskusi di depan kelas!
5. Kerjakan secara mandiri, penuh tanggungjawab, dan tepat waktu dalam
rangka konsolidasi pemahaman, tatkala anda mengerjakan dalam ON.

1. Jelaskan bagaimana implementasi teori belajar Behaviorisme dalam


pelaksanaan pembelajaran di sekolah (silahkan memusyawarahkan dan
berbagi pengalaman maupun pendapat sesama teman sejawat!)

Topik Kegiatan Guru Kegiatan siswa

2. Jelaskan bagaimana implementasi teori belajar Kognitivisme dalam


pelaksanaan pembelajaran di sekolah (silahkan memusyawarahkan dan
berbagi pengalaman maupun pendapat sesama teman sejawat!)

Topik Kegiatan Guru Kegiatan siswa

Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan | 129


Lampiran

3. Jelaskan bagaimana implementasi teori belajar Konstruktivisme dalam


pelaksanaan pembelajaran di sekolah (silahkan memusyawarahkan dan
berbagi pengalaman maupun pendapat sesama teman sejawat!)

Topik Kegiatan Guru Kegiatan siswa

4. Jelaskan bagaimana implementasi teori belajar Humanisme dalam


pelaksanaan pembelajaran di sekolah (silahkan memusyawarahkan dan
berbagi pengalaman maupun pendapat sesama teman sejawat!)

Topik Kegiatan Guru Kegiatan siswa

5. Apa yang bisa anda simpulkan sehubungan dengan bentuk


pengimplementasian teori belajar yang terjadi di sekolah?

.................................................................................................................................
.................................................................................................................................
.................................................................................................................................
.................................................................................................................................
...........................................................................................................................

130 | Modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan


Pedagogik KK B

LEMBAR KERJA
LK-04. Teori Belajar dan Prinsip-Prinsip Pembelajaran

Kerjakan tugas yang ada di bawah ini secara profesional dan


bertanggungjawab!

Baca uraian materi kegiatan pembelajaran 1 tentang Teori Belajar dan Prinsip-
Prinsip Pembelajaran sampai tuntas dengan teliti, kritis, dan rasa ingin tahu yang
tinggi dan buatlah rangkuman dengan kreatif dalam bentuk peta pikiran
(mindmap) secara mandiri!

1. Perhatikan dan yakinkan komputer anda atau laptop ada fasilitas untuk
mengerjakan rangkuman dengan program Mindmap.

2. Bila tidak tersedia tool untuk mengerjakan rangkuman maka installah


terlebih dahulu program mindmanager di laptop anda. Mintalah bantuan
pada fasilitator atau teman sejawat bila anda mendapatkan kesulitan
untuk menginstal.

3. Presentasikan hasil rangkuman dan diskusikan dengan saling


menghargai pendapat satu sama lain untuk mendapatkan masukan
maupun pemahaman.

Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan | 131


Lampiran

LEMBAR KERJA
LK-05. Pendekatan dan Strategi Pembelajaran

Kerjakan tugas yang ada di bawah ini!


1. Bentuk kelas menjadi beberapa kelompok, masing-masing kelompok
terdiri dari 4-5 orang.
2. Baca dengan cermat secara mandiri terlebih dahulu.
3. Selanjutnya diskusikan sesama teman untuk saling menghargai pendapat
untuk mendapatkan kemufakatan.
4. Presentasikan hasil diskusi di depan kelas!

1. Jelaskan konsepsi pendekatan pembelajaran!

.................................................................................................................................
.................................................................................................................................
.................................................................................................................................
.................................................................................................................................
.................................................................................................................................
.................................................................................................................................
..........................................................................................................................

2. Jelaskan bagaimana konsepsi pendekatan saintifik dalam pembelajaran?

Langkah Deskripsi Kegiatan Bentuk Hasil Belajar Nilai-Nilai Karakter


Pembelajaran yang
dikembangkan

132 | Modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan


Pedagogik KK B

3. Strategi Pembelajaran
a. Jelaskan konsepsi strategi pembelajaran menurut Rowntree!

................................................................................................................................
................................................................................................................................
................................................................................................................................
................................................................................................................................
..........................................................................................................................

b. Apa yang menjadi faktor pertimbangan dalam menentukan strategi


pembelajaran, jelaskan!

................................................................................................................................
................................................................................................................................
................................................................................................................................
................................................................................................................................
.........................................................................................................................

4. Model pembelajaran
a Jelaskan konsepsi tentang model pembelajaran

.................................................................................................................................
.................................................................................................................................
...........................................................................................................................

b Jelaskan bagaimana model pembelajaran problem based learning?


1) Konsepsi:

..........................................................................................................................
....................................................................................................................

2) Langkah-langkah pembelajaran

..........................................................................................................................
....................................................................................................................

Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan | 133


Lampiran

c Jelaskan bagaimana model pembelajaran discovery based learning?


1) Konsepsi:

..........................................................................................................................
....................................................................................................................

2) Langkah-langkah model pembelajaran discovery based learning?

..........................................................................................................................
....................................................................................................................

d Jelaskan bagaimana model pembelajaran project based learning?


1) Konsepsi:

..........................................................................................................................
....................................................................................................................

2) Langkah-langkah model pembelajaran project based learning?

..........................................................................................................................
.....................................................................................................................

5. Kerjasamalah secara mufakat untuk memilih KD dan IPK dalam rangka


membuat rancangan kegiatan pembelajaran berpendekatan saintifik sesuai
dengan bahasan matapelajaran yang dipilih oleh kelompok anda.
Selanjutnya diskusikan dalam kelompok untuk membuat rancangan kegiatan
pembelajaran!

134 | Modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan


Pedagogik KK B

Kegiatan Pendahuluan

Kegiatan Inti

Fase Kegiatan Media

Kegiatan Penutup

6. Simulasikan kegiatan pembelajaran dengan ketentuan sebagai berikut:


 Pilihlah secara musyawarah mufakat 1 orang dari kelompok anda
bertanggungjawab untuk memandu simulasi.
 Pilihlah secara musyawarah 1 orang bertanggungjawab untuk
memerankan menjadi pengajar, yang merealisasikan rancangan tersebut.
 Anggota kelompok yang lain secara tulus diharapkan kerjasamanya dan
aktif serta untuk berperan menjadi peserta pendidikan dan pelatihan.
 Setelah presentasi masing-masing kelompok silahkan memberikan
masukan sebagai bentuk rasa empati kepada kelompok yang telah
dengan ikhlas melakukan simulasi dan dengan penuh semangat.

Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan | 135


Lampiran

LEMBAR KERJA
LK-06. Metode dan Teknik Pembelajaran

Kerjakan tugas yang ada di bawah ini!

1. Bentuk kelas menjadi beberapa kelompok, masing-masing kelompok


terdiri dari 4-5 orang.
2. Baca dengan cermat secara mandiri terlebih dahulu bahan bacaan.
3. Selanjutnya diskusikan sesama teman dengan cara saling menghargai
pendapat untuk mendapatkan kemufakatan.
4. Presentasikan hasil diskusi di depan kelas!
5. Kerjakan secara mandiri, penuh tanggungjawab, dan tepat waktu dalam
rangka konsolidasi pemahaman, tatkala anda mengerjakan dalam ON.

Tugas:

1. Jelaskan yang dimaksud dengan metode dan teknik dalam pembelajaran!


.................................................................................................................................
.................................................................................................................................
...........................................................................................................................

2. Jelaskan perbedaan antara metode dan teknik pembelajaran!

.................................................................................................................................
.................................................................................................................................
...........................................................................................................................

3. Jelaskan langkah-langkah dari metode ceramah, metode diskusi, metode


tanya jawab, metode demonstrasi, metode drill metode eksperimen!

.................................................................................................................................
.................................................................................................................................
...........................................................................................................................

136 | Modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan


Pedagogik KK B

4. Jelaskan langkah-langkah dari metode ceramah, metode diskusi, metode


tanya jawab, metode demonstrasi, metode drill metode eksperimen!
............................................................................................................................
............................................................................................................................
............................................................................................................................
.........

5. Simulasikan metode yang sering digunakan dalam pembelajaran, pilih satu


diantara: metode tanya jawab, metode demonstrasi, metode eksperimen!
 Pilihlah secara musyawarah mufakat 1 orang dari kelompok anda
bertanggungjawab untuk memandu simulasi.
 Pilihlah secara musyawarah 1 orang bertanggungjawab untuk
memerankan menjadi pengajar, yang merealisasikan metode yang terpilih
untuk disimulasikan.
 Anggota kelompok yang lain secara tulus diharapkan kerjasamanya dan
aktif serta untuk berperan menjadi peserta pendidikan dan pelatihan.
 Setelah presentasi masing-masing kelompok silahkan memberikan
masukan sebagai bentuk rasa empati kepada kelompok yang telah
dengan ikhlas melakukan simulasi dan dengan penuh semangat.

Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan | 137


Lampiran

LEMBAR KERJA
LK-07. Rangkuman Pendekatan, Strategi, Metode dan teknik
Pembelajaran

Kerjakan tugas yang ada di bawah ini secara profesional, jujur dan
bertanggungjawab!

Baca uraian materi kegiatan pembelajaran 2 tentang Teori Belajar dan


Prinsip-Prinsip Pembelajaran sampai tuntas dengan teliti, kritis, dan rasa ingin
tahu yang tinggi dan buatlah rangkuman dengan kreatif dalam bentuk peta
pikiran (mindmap) secara mandiri!

1. Perhatikan dan yakinkan komputer anda atau laptop ada fasilitas untuk
mengerjakan rangkuman dengan program Mindmap.

2. Bila tidak tersedia tool untuk mengerjakan rangkuman maka installah


terlebih dahulu program mindmanager di laptop anda. Mintalah bantuan
pada fasilitator atau teman sejawat bila anda mendapatkan kesulitan
untuk menginstal.

3. Presentasikan hasil rangkuman dan diskusikan dengan saling


menghargai pendapat satu sama lain untuk mendapatkan masukan
maupun pemahaman.

138 | Modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan


Pedagogik KK B

LEMBAR KERJA
LK-08. Rancangan Kegiatan Berpendekatan Saintifik

Kerjakan tugas yang ada di bawah ini!

1. Kerjakan secara mandiri, kreatif dan dengan penuh tanggungjawab!


2. Cari referensi dan baca dengan seksama terlebih dahulu bahan bacaan.
3. Selanjutnya mencari tahulah bila anda belum menemukan jawabnya atau
berusaha bertanyalah kepada teman sejawat untuk mendapatkan
pemecahan masalahnya.
4. Carilah bantuan kepada teman untuk memberi masukan atas ide kreatif
dalam mengerjakan tugas ini!

Tugas:

Kerjakan tugas yang ada di bawah ini secara profesional dan


bertanggungjawab!

1. Baca uraian materi kegiatan pembelajaran tentang Teori Belajar dan Prinsip-
Prinsip Pembelajaran yang Mendidik sampai tuntas dengan teliti, kritis, dan
rasa ingin tahu yang tinggi dan buatlah rangkuman dengan kreatif dalam
bentuk peta pikiran (mindmap) secara mandiri!

2. Buatlah rancangan kegiatan pembelajaran berpendekatan saintifik sesuai


dengan bahasan matapelajaran yang anda ampu!, pilihlah KD dan IPKnya
terlebih dahulu, selanjutnya rancang kegiatannya (gunakan format 1)!

3. Realisasikan rancangan yang anda susun secara jujur dan disiplin,


bertanggungjawab, penuh semangat dan profesional dalam
melaksanakannya. Buatlah laporan keterlaksanaan (gunakan format 2)!

Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan | 139


Lampiran

Format 1

RANCANGAN KEGIATAN PEMBELAJARAN BERPENDEKATAN


SAINTIFIK

Sekolah :
Mata Pelajaran :
Kelas/Semester :
Materi Pokok :
Alokasi waktu :

Kegiatan Pendahuluan

Kegiatan Inti

Fase Kegiatan Metode

Kegiatan Penutup

...................., ..........................................

Mengetahui,
Kepala Sekolah Perancang,

( ................................................. ) ( ......................................................... )

140 | Modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan


Pedagogik KK B

Format 2

LAPORAN REALISASI PEMBELAJARAN BERPENDEKATAN SAINTIFIK

Sekolah :
Mata Pelajaran :
Kelas/Semester :
Materi Pokok :
Alokasi waktu :

Situasi kegiatan selama pembelajaran

Temuan

Rekomendasi

Tindak lanjut

...................., ..........................................
Mengetahui,
Kepala Sekolah Pelapor,

( ................................................. ) ( ......................................................... )

Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan | 141


Lampiran

LEMBAR KERJA
LK-09. Pengembangan Soal

PETUNJUK:

1. Kerjakan secara mandiri, kreatif dan dengan penuh tanggungjawab!


2. Cari referensi dan baca dengan seksama terlebih dahulu bahan bacaan.
3. Selanjutnya mencari tahulah bila anda belum menemukan jawabnya atau
berusaha bertanyalah kepada teman sejawat untuk mendapatkan
pemecahan masalahnya, dalam rangka untuk mengembangkan rasa
ingin tahu.
4. Carilah bantuan kepada teman untuk memberi masukan atas ide kreatif
dalam mengerjakan tugas ini!
5. Perhatikan juga kaidah-kaidah penulisan soal (baik pilihan ganda maupun
uraian) seperti yang diuraikan di bawah!

KAIDAH PENULISAN SOAL

Kaidah Penulisan Soal Bentuk Pilihan Ganda

1. Materi
a. Soal harus sesuai dengan indikator soal dalam kisi-kisi.
b. Pilihan jawaban harus homogen dan logis ditinjau dari segi materi.
Artinya semua pilihan jawaban harus berasal dari materi yang
sama seperti yang terkandung dalam pokok soal, penulisannya
harus setara, dan semua pilihan jawaban harus berfungsi.
c. Setiap soal harus mempunyai satu jawaban yang benar atau yang
paling benar.
2. Konstruksi
a. Pokok soal harus dirumuskan secara jelas dan tegas.
b. Rumusan pokok soal dan pilihan jawaban harus merupakan
pernyataan yang berkaitan dengan materi yang ditanyakan.
c. Pokok soal jangan memberi petunjuk ke arah jawaban yang
benar.
d. Pokok soal jangan mengandung pernyataan yang bersifat negatif
ganda.
e. Panjang rumusan pilihan jawaban harus relatif sama.

142 | Modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan


Pedagogik KK B

f. Pilihan jawaban jangan mengandung pernyataan, "Semua


jawaban salah", atau "Semua jawaban benar".
g. Pilihan jawaban yang berbentuk angka harus disusun berdasarkan
urutan besar kecilnya nilai angka tersebut, dan pilihan jawaban
berbentuk angka yang menunjukkan waktu harus disusun secara
kronologis.
h. Gambar, grafik, tabel, diagram, dan sejenisnya yang terdapat
pada soal harus jelas dan berfungsi.
i. Butir materi soal jangan bergantung pada jawaban soal
sebelumnya.
3. Bahasa
a. Setiap soal harus menggunakan bahasa yang sesuai dengan
kaidah Bahasa Indonesia.
b. Jangan menggunakan bahasa yang berlaku setempat.
c. Pilihan jawaban jangan mengulang kata atau frase yang bukan
merupakan satu kesatuan pengertian. Letakkan kata tersebut
pada pokok soal.

Kaidah penulisan soal uraian


1. Materi
a. Soal harus sesuai dengan indikator.
b. Batasan jawaban yang diharapkan harus jelas.
c. Isi materi sesuai dengan pelajaran.
d. Isi materi yang ditanyakan sudah sesuai dengan jenjang
sekolah/kelas.
2. Konstruksi
a. Rumusan kalimat soal harus menggunakan kata tanya/perintah
yang menuntut jawaban terurai.
b. Buatkan petunjuk yang jelas tentang cara mengerjakan soal.
c. Buatlah pedoman penskoran segera setelah soal disusun dengan
pendekatan skor 1 benar dan salah 0.
d. Hal-hal yang menyertai soal: tabel, gambar, grafik, peta, atau yang
sejenisnya harus disajikan dengan jelas dan terbaca.
3. Bahasa
a. Butir soal menggunakan kalimat yang sederhana dan komunikatif.
b. Butir soal tidak mengandung kata yang dapat menyinggung
perasaan siswa.
c. Butir soal tidak menggunakan kata yang menimbulkan penafsiran
ganda.

Higher-Order Thinking (Berpikir Tingkat Tinggi)

Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan | 143


Lampiran

Higher-order thinking adalah ketika mengingat kembali informasi (recall


atau ingatan) diminimalkan dan penekanan diberikan terhadap:
 mentransfer informasi dari satu konteks ke konteks lainnya.
 memproses dan menerapkan informasi.
 melihat keterkaitan antara informasi yang berbeda-beda.
 menggunakan informasi untuk menyelesaikan masalah.
 secara kritis mengkaji/menelaah ide atau gagasan dan informasi.

Rambu Penyusunan Soal HOT


1. Soal yang disusun harus mengukur kompetensi yang akan diukur.
2. Kontekstual “ya” keberfungsian stimulus “WAJIB”.
3. Higher bukanlah Highest, menulis soal orde berfikir lebih tinggi
bukan level tertinggi.

Praktek Penilaian HOTS


1. Gunakan konteks dunia nyata.
2. Berikan Pertanyaan yang terkait analisa visual.
3. Tanyakan alasan dari jawaban yang diberikan.
4. Soal pilihan ganda dan soal obyektif DAPAT mengukur HOTS.

TUGAS:

Kerjakan tugas yang ada di bawah ini secara profesional dan


bertanggungjawab!

1. Untuk memberikan konsep pemahaman baca bacaan tentang penilaian hasil


belajar sampai tuntas dengan teliti, kritis, dan rasa ingin tahu yang tinggi.
2. Buatlah 5 (tiga) soal pilihan ganda dan 3 (tiga) soal uraian HOTS (Higher
Order Thinking Skill)!
3. Masing-masing soal ditulis di kartu soal.!

144 | Modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan


Pedagogik KK B

KISI-KISI PENULISAN SOAL

Satuan Pendidikan :
Mata Pelajaran :

Kompetensi Bentuk
No Kelas Materi Indikator
Dasar Soal

1.

2.

3.

4.

5.

KARTU SOAL
Tahun Ajaran:

Jenis Sekolah : Nama Penyusun :

Kelas/Semester :

Mata Pelajaran :

Kompetensi Buku Sumber :


Dasar
SOAL
Materi

Indikator

NO. SOAL KUNCI JAWABAN

Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan | 145


Lampiran

Sampul Belakang

146 | Modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan