Anda di halaman 1dari 21

ROTATOR CUFF INJURY

Rezki Purnama Yusuf, Moh.Rizal Alisi

A. PENDAHULUAN

Extremitas superior merupakan bagian dari anggota gear yang cutup

banyan did gunakan untuk menjalankan aktifitas sehari-hari seperti menulis,

mengangkat barang dan lain-lain, sehingga sangat rentan terjadi cidera. Beberapa

macam cidera yang dapat terjadi pada extremitas superior antara lain: cidera pada

bahu, cidera pada siku, cidera pada lengan bawah, pergelangan tangan dan

tangan. Cidera ini biasanya disebabkan oleh kesalahan gerak atau kesalahan

posisi, penggunaan yang berlebihan, faktor pekerjaan dan trauma.1

Shoulder joint merupakan salah satu anggota gerak yang memiliki

mobilitas tinggi dan mudah mengalami cidera yang dapat menyebabkan

keterbatasan gerak hingga gangguan fungsi. Rotator Cuff Injury merupakan salah

satu kasus yang banyak terjadi pada regio bahu dan menyebabkan terganggunya

stabilitas sendi bahu akibat kerusakan atau lesi dari Rotator Cuff.1

Rotator Cuff adalah yang merupakan jaringan ikat fibrosa yang

mengelilingi bagian atas tulang humerus yang berfungsi untuk menjaga stabilitas

sendi glenohumeral dengan menarik humerus ke arah skapula untuk gerakan-

gerakan sendi glenohumeral seperti abduksi-adduksi, rotasi dan fleksi-ekstensi.1

1
B. DEFINISI

Rotator Cuff merupakan kelompok otot stabilitator aktif sendi

glenohumeralis dan sekaligus sebagai penggerak. Dengan demikian fungsi

rotator cuff berkaitan dengan fungsi pemeliharaan sikap dan membuat sendi

glenohumeralis dan berkaitan dengan sikap tubuh serta gerak tubuh atas

secara keseluruhan2.

Rotator Cuff merupakan jaringan ikat fibrosa yang mengelilingi bagian

atas tulang humerus yang berfungsi untuk menjaga stabilitas sendi

glenohumeral dengan menarik humerus ke arah skapula untuk gerakan-

gerakan sendi glenohumeral seperti abduksi- adduksi, rotasi dan fleksi-ekstensi2.

Rotator cuff injury adalah kerusakan pada rotator cuff, yang merupakan

bagian dari bahu. Rotator cuff adalah kelompok empat otot yang berada di sekitar

sendi bahu dalam pola seperti manset. Rotator cuff menempel dari skapula, atau

tulang belikat, dengan humerus, atau tulang lengan, dan berfungsi untuk

menarik lengan ke soket bahu, menstabilkan lengan, sehingga gerakan

melewati kepala dapat dilakukan2,3.

C. ANATOMI

Rotator cuff adalah kompleks empat otot yang berorigo dari scapula dan

memiliki insersi pada tuberositas humerus. Rotator cuff terdiri dari :1) M.Teres

minor, 2) M.Supraspinatus, 3) M.Infraspinatus dan 4) M. Subscapularis.

2
Gambar 1. Anatomi Rotator Cuff

Gambar 2. Anatomi Rotator Cuff

Otot-otot rotator cuff saling berhubungan satu sama lainnya dan dikarenakan

oleh lokasinya yang unik, rotator cuff memiliki fungsi sebagai berikut :

1. Memutar humerus sesuai dengan posisi scapula

3
2. Memberikan stabilitas sendi glenohumeral dngan menekan caput humerus

terhadap fossa glenoid, menguncinya pada posisi yang aman sementara tetap

menjaga mobilitas sendi glenohumeral.

3. Memberikan keseimbangan otot. Otor rotator cuff bekerja secara sinergi dan

antagonistic untuk menciptakan gerakan dengan satu arah tertentu. Untuk

fungsi ini juga rotator cuff bekerja sama dengan otot lain seperti M.Deltoid,

M.Latissimus dosrsi, M. Pectoralis mayor dan M.pectoralis minor

4. Berperan sebagai stabilisator dinamik sendi glenohumeral. Persarafan otot-

otot rotator cuff berasal dari : 1) N. suprascapularis (untuk M.

Supraspinatus dan M. Infraspinatus), 2) N. Axillaris (untuk M . Teres

minor), dan 3) N. Subscapularis superior et inferior (untuk M.

Subscapularis). Vaskularisasi otot-otot rotator cuff berasal dari cabang-

cabang arteri dan vena subclavia.

D. EPIDEMIOLOGI

Banyak data mengenai insidensi Rotator cuff injury diseluruh dunia yang

telah dipublikasikan. Rotator cuff injury bertanggung jawab pada 70% dari

semua kunjungan pasien ke dokter yang berhubungan dengan nyeri bahu.1

Keadaan ini umumnya lebih banyak ditemukan pada pria dibandingkan wanita.

Namun, beberapa studi terbaru membuktikan pria dan wanita memiliki resiko

yang sama untuk menderita Rotator cuff injury. Hal ini terjadi karena

penggunaan terus menerus atau gerakan bahu dalam arah yang sama untuk

periode yang lama. 2,3

4
Berdasarkan usia rotator cuff injury jarang ditemukan pada usia muda.

Angka kejadiaannya meningkat seiring usia.1,4 Pada tahun 2009, sebuah institusi

yang mempelajari penyakit dengan dengan ultrasonografi pada 237 pasien tanpa

gejala menyebutkan 17,3% diantaranya ditemukan robekan rotator cuff

unilateral.3 Prevalensi berdasarkan usia yang diamati adalah 20% pada usia 60-69

tahun dan 40,7% pada subjek 70 tahun usia atau lebih tua. Sebuah review

sistematik dan analisis prevalensi Rotator cuff injury lainnya menyebutkan

bahwa keadaan patologis ini 20% ditemukan pada usia kurang dari 60 tahun dan
4
60% pada usia diatas 60 tahun. Pasien di atas 60 ditemukan dua kali lebih

mungkin mengalami robekan rotator cuff dan tiga kali lebih mungkin mengalami

robekan rotator cuff masif dibandingkan dengan pasien yang lebih muda. Pada

usia muda, umumnya rotator cuff injury disebabkan oleh trauma. 5

5
Grafik 1. Prevalensi rotator cuff injury berdasarkan usia4

E. Faktor Risiko

Pekerja yang beresiko untuk terkena sindrom rotator cuff adalah pekerja yang

yang dibutuhkan untuk memindahkan beban berat berulang kali di atas kepala

mereka, seperti pelukis, tukang las, pekerja piring, dan pekerja rumah jagal.

Sindrom ini juga telah dilaporkan pada operator mesin jahit. Hal ini juga dapat

terjadi pada atlet yang terlibat dalam olahraga seperti berenang, tenis, angkat

besi, dan bisbol di mana lengan berulang kali mengangkat di atas kepala. Pada

usia yang lebih muda lebih mungkin untuk mengalami sindrom rotator cuff

sebagai akibat dari trauma, ketidakstabilan sendi bahu, atau ketidakseimbangan

otot. Pada orang tua, sindrom ini lebih sering berhubungan dengan memakai

6
kronis dan degenerasi bahu. Rotator cuff syndrome paling umum terjadi di

lengan yang lebih dominan4,3.

F. Etiologi

Ada dua penyebab utama robekan rotator cuff: cedera dan degenerasi.

1. Cedera

Terjadi apabila jatuh pada lengan terentang atau mengangkat sesuatu

yang terlalu berat dengan gerakan menyentak sehingga dapat merobek rotator.

Jenis robekan ini dapat terjadi pada cedera bahu lainnya, seperti patah tulang

selangka atau bahu terkilir4.

2. Degenerasi

Sebagian besar cedera rotator adalah hasil dari melemahnya tendon

yang terjadi perlahan seiring waktu. Kemunduran ini secara alami terjadi

seiring bertambahnya usia. Robekan rotator cuff lebih sering terjadi pada

lengan yang dominan. Jika memiliki robekan degeneratif di satu bahu, ada

kemungkinan robekan rotator cuff lebih besar di bahu yang berlawanan

walaupun tidak merasakan sakit di bahu itu.

Beberapa faktor yang berkontribusi terhadap cedera rotator cuff.

a. Stres berulang. Mengulangi gerakan bahu yang sama berulang-ulang dapat

menekankan otot dan tendon rotator cuff Anda. Baseball, tenis,

mendayung, dan angkat besi adalah contoh kegiatan olahraga yang dapat

menempatkan Anda pada risiko air mata yang berlebihan. Banyak

7
pekerjaan dan pekerjaan rutin dapat menyebabkan air mata terlalu sering

digunakan.

b. Kekurangan pasokan darah. Seiring bertambahnya usia, pasokan darah di

tendon rotator cuff kami berkurang. Tanpa pasokan darah yang baik,

kemampuan alami tubuh untuk memperbaiki kerusakan tendon terganggu.

Ini pada akhirnya dapat menyebabkan robekan tendon.

c. Taji tulang. Seiring bertambahnya usia, taji tulang (bone overgrowth)

sering berkembang pada bagian bawah tulang akromion. Saat kita

mengangkat tangan, taji itu menggosok tendon rotator cuff. Kondisi ini

disebut pelampiasan bahu, dan seiring waktu akan melemahkan tendon

dan membuatnya cenderung robek.

G. Klasifikasi

Rotator cuff syndrome dibagi menjadi tiga tahap. Pada tahap I,

pembengkakan (edema) atau terjadi perdarahan. Tahap I sering dikaitkan dengan

cedera penggunaan yang berlebihan. Pada tahap ini, sindrom dapat membaik atau

malah bertambah parah. Pada tahap II adalah peradangan pada tendon (tendinitis)

dan pengembangan jaringan parut (fibrosis). Tahap II dapat diakibatkan oleh

karena sering mengangkat lengan sebatas atau melebihi tinggi akronion. Posisi

yang sedemikian ini bila berlangsung terus-menerus juga akan menyebabkan

terjadinya iskemia pada tendon. Tendinitis pada bahu yang sering terjadi adalah

tendinitis supraspinatus dan tendinitis bisipitalis.

8
Tahap III sering melibatkan robeknya tendon atau robeknya otot dan sering

menandakan fibrosis dan tendinitis yang menahun. Tahap Sindrom rotator cuff

paling sering ditemukan pada pasien berusia di bawah 25, tahap II terjadi paling

sering pada orang antara 25 dan 40. Tahap III terjadi terutama pada pasien di atas

usia 50. Pada pria dapat terjadi rotator cuff syndrome dua kali lebih sering sebagai

perempuan, mungkin karena aktivitas kerja seperti disebutkan di atas. Sindrom ini

terjadi secara independen dari ras, etnis, atau lokasi geografis.

Gambar 3 (Kiri) Overhead view dari empat tendon yang membentuk rotator cuff.

(Kanan) Robekan ketebalan penuh pada tendon supraspinatus.

H. Diagnosis

1. Anamnesis

Gejala paling umum dari robekan rotator cuff yaitu :

a. Nyeri saat istirahat terutama jika berbaring dibahu yang sakit.

9
b. Rasa nyeri saat mengangkat dan menurunkan lengan atau dengan gerakan

tertentu

c. Kelemahan saat mengangkat atau memutar lengan

d. Sensasi krepitasi saat menggerakkan bahu

2. Pemeriksaan Fisik

Untuk mendiagnosis robekan rotator cuff, selain melakukan anamnesis

perlu dilakukan pemeriksaan fisik yaitu dengan inspeksi (apakah ada atrofi,

scar) palpasi (apakah nyeri tekan), pemeriksaan rentang gerakan bahu (fleksi,

ekstensi, abduksi, adduksi, eksternal rotasi, internal rotasi) dan sejumlah uji

spesifik

Uji spesifik yang umumnya dilakukan antara lain :

a. Supraspinatus – empty can test (Jobe test). Pasien melakukan fleksi bahu

kedepan tangan dengan posisi ibu jari menghadap ke inferior. Adanya

nyeri menandakan uji yang positif.

b. Infraspinatus – resisted external rotation. Pasien berdiri dengan perapatkan

kedua lengannya ke tubuh dan siku dalam posisi fleksi 90 derajat. Pasien

diintruksikan untuk melakukan eksternal rotasi kedua lengan disetai

tahanan oleh pemeriksa. Nyeri menandakan uji yang positif.

c. Infraspinatus dan posterior cuff – the lag sign dan drop sign. Untuk

eksternal rotasi lag sign, lengan pasien diangkat sedikit menjauhi

tubuh dan ditempatkan pada posisi eksternal rotasi penuh. Uji positif

yaitu jika pasien tidak dapat mempertahankan posisi tersebut dan

10
membiarkan lengan jatuh ke posisi yang neutral. Hal ini menandakan

robekan pada m. infraspinatus dan m. supraspinatus. Drop sign –

pemeriksa mengangkat dan menempatkan lengan pada posisi

abduksi 90 derajat, siku pada 90 derajat dan lengan eksternal rotasi

penuh; ketika pemeriksa melepaskan lengannya, pasien biasanya

dapat menahan posisi tersebut, namun jika lengannya jatuh

menandakan uji yang positif. Uji Hal ini tampak pada robekan

infraspinatus dan teres minor.

d. Subscapularis – the lift off test. Pasien diminta untuk berdiri dan

menempatkan satu lengan dibelakang punggung dengan punggung tangan

merapat pada punggung bawah. Pemeriksa kemudian mengangkat tangan

ke belakang dan pemeriksa menahannya. Ketidakmampuan dan nyeri

untuk mengankat tangan menandakan uji yang positif. Hal ini digunakan

untuk mendeteksi robekan m.subscapularis.

11
Gambar 4. Pemeriksaan fisik untuk rotator cuff

12
3. Pemeriksaan penunjang

Untuk menunjang diagnosis robekan rotator cuff, diperlukan pemeriksaan

radiologis sebagai berikut :

a. X-Ray shoulder. Pemeriksaan sinar-X bahu umumnya normal pada

gangguan tahap awal, namun pada tendinitis kronik dapat ditemukan

sklerosis dan kista pada insersi rotator cuff di tuberkulum mayor.

Osteoarthritis sendi Akromioklavikular banyak ditemukan pada orang tua.

Kadang dapat juga dilihat kalsifikasi tendon supraspinatus Dapat juga

ditemukan penyempitan jarak Akromion-Humerus atau Migrasi superior

dari kaput humerus.

b. Magnetic resonance imaging (MRI). MRI adalah gold standar dari rotator

cuff injury karena dapat mendiangnosis robekan lengkap dan sebagian

serta menunjukan ukuran sobekan, jumlah retraksi tendon, atrofi oto dan

degenerasi lemak.

c. Ultrasonografi (USG). USG memiliki akurasi mendekati MRI untuk

mendeteksi dan mngukur robekan partial atau total. Namun kerugiannya

adalah tidak mampu mendeteksi sisa robekan otot.

I. Penatalaksanaan

1. Non operatif

Pada sekiar 80% pasien, perawatan dengan non operatif dapat

mengurangi rasa sakit dan meningkatkan fungsi dibahu. Keuntungan utama

13
dari perawatan non operatif adalah menghindari risiko utama operasi. Pilihan

perawatan non operatif yaitu :

a. Istirahat.

b. Perubahan aktivitas. Yang dimaksud adalah hindari aktivitas yang

menyebabkan sakit pada bahu.

c. Terapi fisik. Latihan khusus akan mengembalikan gerakan dan

memperkuat bahu. Terapi fisik yang dilakukan adalah peregangan untuk

meningkatkan fleksibilitas dan gerak.

d. Nonsteroidal anti-inflammatory drugs (NSAIDs)

Jika NSAID saja tidak memberikan penghilang rasa sakit yang

memadai, pertimbangkan untuk menambahkan asetaminofen ke rejimen

pengobatan. Analgesik lain seperti ibuprofen dan ketoprofen juga dapat

digunakan dalam manajemen cedera rotator cuff.

e. Sutikan steroid. Jika istrirahat, obat-obatan dan terapi fisik tidak

menghilangkan rasa sakit dapat diberikan suntikan anastesi local dan

kortison. Kortison adalah obat antiinflamasi yang sangat efektif namun

tidak untuk semua pasien.

14
Gambar 5. Pemberian steroid

2. Operatif

Hal ini ditujukan umtuk mengurangi konsumsi obat obatan dan

imobilisasi lama pada modalitas konservatif. Terutama jika memang

ditemukan robekan rotator cuff pada usia muda.

Indikasi untuk terapi bedah adalah

a. nyeri yang tdk berkurang setelah terapi konsevatif 3 bulan, atau jika gejala

kambuh secara menetap setelah 6 hingga 12 bulan

b. Memiliki robekan besar ( lebih dari 3 cm) dan kualitas jaringan tendon

disekitarnya baik.

c. Memiliki kelemahan dan kehilangan fungsi yang signifikan pada bahu.

15
Terapi pembedahan yang dapat dilakukan antara lain :

1. Repair rotator cuff terbuka

2. Repair rotator cuff arthroskopik

Gamabar 6 . melihat struktur bahu pada monitor arthoscopy

Gambar 7 . ilustrasi arthroscopy

16
Gambar 8. (kanan) tampak robekan rotator cuff, terlihat celah lebar antara

tendon rotator dan caput humerus. (kiri) tampilan arthroscopy pada sendi bahu

normal.

Gambar 9. (kiri) Rotator cuff yang robek (kanan) Tendon rotator cuff yang

dipasang kembali pada tuberositas caput humerus dengan jahitan.

Setelah operasi rotator cuff, sebagian kecil pasien mengalami

komplikasi. Selain risiko secara umum, seperti kehilangan darah atau masalah

yang terkait anastesi, komplikasi operasi rotator cuff dapat meliputi :

a. Neuroinjury. Ini biasanya melibatkan saraf yang mengaktifkan M. Deltoid

17
b. Infeksi. Pasien diberikan antibiotic selama prosedur untuk mengurangi

risiko infeksi. Jika infeksi berkembang operasi tambahan atau perawatan

antibiotic yang berkepanjangan mungkin diperlukan.

c. Kontraktur. Rehabilitas awal mengurangi kemungkinan kekakuan

permanen atau kehilangan gerak. Sebagian besar waktu, kekakuan akan

membaik dengan terapi dan olahraga yang lebih agresif.

d. Tendon kembali sobek. Ada kemungkinan untuk merobek kembali,

semakin besar sobekan semakin tinggi risiko sobekan.

J. Komplikasi

Komplikasi utama dari sindrom rotator cuff terjadi ketika robekan rotator cuff

tidak terdiagnosis. Gejala akan bertahan sampai rotator cuff diperbaiki melalui

pembedahan. Komplikasi lain akibat perawatan yang tidak memadai. Jika bahu

tidak digunakan (misal saat penggunaan arm sling), dapat terjadi Frozen shoulder

(adhesive capsulitis). Kondisi seperti rotator cuff robek atau sindrom impingment

juga dapat menyebabkan berbagai penurunan gerak di bahu. Diperkirakan 4% dari

rotator cuff yang robek mengakibatkan penyakit sendi (arthropathy) dari bahu.

Perawatan yang tepat, apakah konservatif atau bedah, dan tindak lanjut yang tepat

mengurangi kemungkinan penyakit sendi dan konsekuensi jangka panjang lain

dari sindrom rotator cuff.

18
K. Prognosis

Pemulihan sering tergantung pada tahap sindrom dan usia pasien

Beberapa pasien yang rotator cuff syndrome-nya disebabkan oleh mengangkat

bahu berulang dapat pulih sepenuhnya jika pekerjaan berulang dihentikan dan

agresif, rencana perawatan non bedah (pemberian es, penguatan dan latihan untuk

memperbaiki rentang gerak) diikuti dengan seperti berbagai pengobatan

konservatif meningkat prognosis dari 33% menjadi 90%, dengan waktu

pemulihan lebih lama dicatat pada orang tua. Hasil bedah sering bergantung pada

kemauan dan kemampuan pasien untuk berpartisipasi aktif dalam terapi fisik

pasca operasi dan latihan di rumah. Tingkat keberhasilan yang dilaporkan untuk

operasi untuk mengobati robek rotator cuff adalah antara 77% dan 95%.

19
DAFTAR PUSTAKA

1.

2. Hermann,S.J et.al. 2014. Tears Of The Rotator Cuff. Causes – Diagnosis –

Treatment.Departement of Orthopedic and Trauma Surgery, University of

Freiburg Medical Center, Freiburg im Breisgau. Germany. Acta Chirurgiae

Orthopaedicae Et Traumatologiae Cechosl., 81, 2014, P. 256–266

3. Quintana, Eileen C., and Richard Sinert. 2016. "Rotator Cuff Injuries.”,

eMedicine. Eds Joseph A. Salomone, et al. Medscape

4. Roy, Andre. 2018. "Rotator Cuff Disease." eMedicine Eds. Robert E Windsor,

et al. Medscape

5. Piper C, Hugnes A, Ma Y. 2017. Operative versus nonoperative treatment for

the management of full-thickness rotator cuff tears: a systematic review and

meta-analysis. Elsivier : J Shoulder Elbow Surg.

6. Revathi B, Monhanraj KG, Babu KY. 2018. Rotator cuff tear - A review.

Drug Invention Today Vol. 10. Issue 12.

7. Sambandam SN, Khanna VK, Mounasamy V. 2015. Rotator cuff tears: An

evidence based approach. World Journal of Orthopedic. World J Orthop 2015

December 18; 6(11): 902-918 ISSN 2218-5836

8. New Zealand Orthopedic Association. 2018. Rotator Cuff Tears:

Consideration Factors for ACC Cover.

20
9. Stephenson M, Lizarondo L, Khrishnan J. 2018. Management of full thickness

rotator cuff tears in the elderly: a systematic review protocol. JBI Database of

Systematic Reviews and Implementation Reports.

10. Pandey, Vivek. 2014. Rotator Cuff Tear : A Detailed Update. Departement of

Orthopedic Surgery Kasturba Medical College, Manipal University, Manipal,

Karnataka, India b Shoulder Unit, DC Klinieken Lairesse, Amsterdam, The

Netherlands

11. Bartosweski,Nicole. 2018. Rptator cuff Injuries. Journal Of The American

Academy of Physician Assistants.

12. UNSW Australia. 2013. Clinical Practice Guidelines for the Management of

Rotator Cuff Syndrome in the Workplace. The University of New South

Wales, Medicine, Rural Clinical School, Port Macquarie Campus.

13. Weiss LJ et al. 2018. Management of Rotator Cuff Injuries in the Elite

Athlete. Current Reviews in Musculoskeletal Medicine (2018) 11:102–112.

14. Haviv B. 2013. Rotator cuff tears, evaluation and treatment: a critical review.

OA Sports Medicine 2013

21

Anda mungkin juga menyukai