Anda di halaman 1dari 4

Interaksi Antara Kuman Usus dan Sistem Saraf Pusat dan Perannya Dalam

Skizofrenia, Gangguan Bipolar dan Depresi


Adrian Andrzej Chrobak, Jarosław Nowakowski, Dominika Dudek

KESIMPULAN

Mikroba berevolusi bersama dengan inang manusianya dalam waktu yang panjang dan memiliki
peran penting dalam berbagai proses tubuh manusia. Bakteri memainkan peran dalam
mempertahankan kesehatan manusia dimana mereka memecahkan makanan, menghasilkan
vitamin, dan ikut berperan dalam regulasi metabolisme. Dengan mempengaruhi keseimbangan
sitokin dan komposisi dan aktivitas leukosit, mereka secara konstan berinteraksi dengan system
imun, mempengaruhi keseimbangan system imun bawaan dan adaptif. Banyak penelitian
mengindikasikan mikroba dalam usus manusia mungkin memiliki dampak pada fungsi system
saraf pusat (SSP), melalui jalur yang disebut axis usus-otak. Data terbaru menunjukkan bahwa
ekosistem mikroba dalam tubuh manusia ikut mempengaruhi perkembangan otak, sistem
hantaran pusat, dan perilaku. Diyakini bahwa gangguan pada mikroba dalam tubuh manusia
dapat mempengaruhi timbulnya gangguan jiwa. Tujuan dari telaah ini adalah untuk merangkum
jalur-jalur yang telah diketahui dalam axis usus-otak yang telah diteliti secara menyeluruh pada
hewan coba dan untuk mengevaluasi peran hubungan antara mikroba dan sistem saraf pusat pada
skizofrenia, gangguan bipolar dan depresi.

Kata kunci : mikroba/ axis usus-otak/ nervus vagus/ neurotransmisi/ axis hipotalamus-hipofisis-
adrenal (HPA)

PENDAHULUAN menolak pemikiran ini. Sebuah penelitian


terbaru menunjukkan bahwa rasio jumlah
Mikrosistem bakteri komensal dalam bakteri terhadap jumlah sel manusia berkisar
tubuh manusia mencangkup sekitar 3,9x1013 1,3:1. Bakteri berpindah dari ibu ke bayi
bakteri, hal ini menunjukkan bahwa jumlah selama proses persalinan. Metode
bakteri di dalam tubuh kita sama jumlahnya persalinan, diet, obat-obatan (khususnya
dengan jumlah sel eukariotik kita. antibiotic) ikut berperan dalam proses
Pandangan bahwa spesies bakteri dalam perkembangan mikroba dalam tubuh bayi.
tubuh lima kali melebihi jumlah jenis sel Anak usia satu tahun telah memiliki
dalam tubuh manusia telah diterima sejak komunitas mikroorganismenya sendiri, yang
lama, akan tetapi, penelitian terbaru juga merupakan sebuah ekosistem mikroba
baru, yang terletak pada traktus untaian metagenom dari fese individu dari
gastrointestinalnya. Walaupun merupakan empat negara dengan rangkaian data yang
bagian menyeluruh dan luas dari tubuh telah dipublikasikan, di sini kami
manusia, gerak maju sementara dari proses menemukan tiga kelompok yang paling
ini, sumber mikroba yang mengisi besar (selanjutnya akan disebut dengan tipe
ekosistem, bagaimana dan dan mengapa entero).
berbeda dari satu bayi ke bayi lainnya, dan
bagaimana komposisi ekosistem ini Mikrobiota berevolusi bersama dengan
mempengaruhi proses fisiologis, inang manusianya dalam waktu yang
perkembangan, dan penyakit pada tubuh panjang dan memainkan peran penting
manusia masih sangat minim dimengerti. dalam banyak proses tubuh manusia. Bakteri
Sebagai langkah untuk menelusuri memainkan peran dalam mempertahankan
pertanyaan ini secara sistematis, kami keehatan manusia karena mereka
merancang sebuah penunjuk mikro untuk memecahkan makanan, menghasilkan
mendeteksi dan menghitung subunit kecil vitamin, dan mengambil bagian dalam
dari RNA ribososm (SSU rRNA). proses pengaturan metabolism. Dengan
Bacteriodetes dan Firmicutes merupakan mempengaruhi keseimbangan sitokin
dua filum bakteri paling banyak dalam beserta komposisi dan aktivitas leukosit,
mikroflora usus. Di lain pihak, yang lebih bakteri secara konstan berhubungan dengan
jarang, termasuk Actinobacteria, Archaea, system imun, yang mempengaruhi
Fusobacteria, Protoebacteria, keseimbangan system imun alami dan
Verrucomicrobia. Selain bakteri, mikrobiota adaptif.
lainnya termasuk jamur, Protista, dan virus, Semakin banyak penelian yang
namun makalah ini menggunakan sebutan mengindikasikan bahwa mikrobiota dalam
mikrobiota khusus untuk menjelaskan usus manusia mungkin memiliki dampak
tentang bakteri. Walaupun mikrobiota pada fungsi system saraf pusat (SSP),
seseorang terdiri dari, kesatuan yang melalui jalur yang disebut axis usus-otak.
berbeda-beda dan personal, penelitian Data terbaru menunjukkan bahwa ekosistem
menunjukkan bahwa setiap orang memeliki mikroba dalam tubuh manusia ikut
kesamaan dalam komposisi populasi bakteri. mempengaruhi perkembangan otak, sistem
Berdasarkan pada proporsi genus hantaran pusat, dan perilaku. Diyakini
bakterinya, manusia dapat dibagi dalam tiga bahwa gangguan pada mikroba dalam tubuh
tipe entero. Tipe entero I didominasi dengan manusia dapat mempengaruhi timbulnya
Bacteriodetes, tipe entero II ditandai dengan gangguan jiwa.
jumlah Bacteroidetes yang lebih sedikit
namun jumlah Prevotella yang lebih banyak, Tujuan dari telaah ini adalah untuk
dan tipe entero III ditandai dengan adanya merangkum jalur-jalur yang telah diketahui
Ruminococcus. Namun, ini masih dalam axis usus-otak yang telah diteliti
berdasarkan pada beberapa penelitian kohort secara menyeluruh pada hewan coba dan
dan hanya sedikit variasi yang diketahui di untuk mengevaluasi peran hubungan antara
seluruh dunia. Dengan menggabungkan 22
mikroba dan sistem saraf pusat pada psikologis yang bermanfaat dan juga diiringi
skizofrenia, gangguan bipolar dan depresi. dengan penurunan kortisol plasma. Bakteri
probiotik tidak hanya mempengaruhi
HUBUNGAN ANTARA MIKROBA DAN perilaku terkait stress, namun juga terdapat
HPA-AXIS kemungkinan menstimulasi timbulya
Bakteri usus mempengaruhi otak dengan phenotip baru dengan pemindahan mikroba.
memodulatori axis hipotalamus-hipofisis- Tikus berfenotip gelisah ataupun yang tidak
adrenal (HPA), oleh karena itu juga gelisah bida didapatkan dengan pemindahan
merupakan pemain peran penting dalam mikroorganisme usus dari satu hewan ke
respon tubuh terhadap stress. Telah hewan lainnya dengan fenotip yang sama.
dinyatakan bahwa perkembangan axis HPA Lebih lagi, dalam penelitian double-blind,
ditentukan oleh kolenisasi mikroba setelah kelompok pararel acak menunjukkan bahwa
kelahiran. Gangguan fungsi axis HPA setelah 30 hari pengobatan oral dengan
ditemukan pada tikus bebas kuman, beserta formula probiotik yang mengandung
reaktivasi stress yang meningkat dan Lactobacillus helveticua R0052 dan
gangguan kognisi. Akan tetapi, respon stress Bifidobacterium longum R0175, urin 24 jam
akut yang berlebihan pada tikus bebas bebas kortisol didapatkan lebih rendah dari
kuman dapat ditangani dengan pemindahan pada di kelompok kontrol. Kurangnya
bakteri dari tikus sehat. Efek ini timbul perilaku seperti gelisah pada tikus dan juga
secara normal pada organisme yang didapatkan berkurangnya tekanan sosial
berkolonisasi secara normal- peningkatan pada relawan manusia dengan pemberian
permeabilitas usus mengarah kepada probiotik. Temuan ini mengindikasikan
translokasi bakteri yang pada akhirnya bahwa bakteri usus merupakan pengatur
menyebabkan aktivasi respon axis HPA dan penting jangka panjang axis HPA. Schmidt,
system imun. Reaksi axis HPA terhadap dkk. mendukung hipotes ini. Mereka
stress akut dapat diperbaiki dengan menemukan bahwa pengobatan dengan
pemberian probiotik. Pada tikus, stress awal prebiotik, zat yang mendorong pertumbuhan
mula kehidupan (perpisahan dari ibu) bakteri baik, mempengaruhi respon
meningkatkan jumlah kortikosteron dalam membangunkan dari kortisol dan reaksi
darah dan menyebabkan aktivasi system emosi pada relawan yang sehat. Bakteri usus
imun beserta perubahan pada mikroba usus. dapat mempengaruhi axis HPA secara
Akan tetapi, efek ini dapat juga dibalikkan, lansung melalui nervus vagus, yang
dengan penanganan awal probiotik yang stimulasinya akan menyebabkan aktivasi
akan menormalisasikan pelepasan axis HPA.
kortikosteron. Lactobacillus merupakan Bakteri memiliki dampak besar pada axis
spesies probiotik yang didapatkan mampu HPA namun hubungannya dengan respon
menormalkan perilaku yang terkait stress. neuroendokrin dan mikroba memiliki fungsi
Sebuah penelitian menunjukkan bahwa ganda. Depresi yang diinduksi dengan
Lactobacillus helveticus dan bukbektomi nervus olfaktorius pada tikus
Bifidobacterium longum juga memiliki efek menyebabkan kekacauan profil mikroba.
Ditemukan juga bahwa pada depresi dan imun mereka normalnya tidak
ansietas jenis ini menunjukkan peningkatan mengekspresikan reseptor toll-like (TLR)-
ekspresi faktor pelepasan kortikotropin yang ketidakadaanya menyebabkan
(CRF) dan juga peningkatan aktivitas c-Fos, kurangnya respon imun dan neuroendokrin.
tingkat serotonin dan gerakan kolon. Penelitian menggunakan tikus tanpa TLR4
Perubahan-perubahan ini dikaitkan dengan mendukung pemahaman bahwa system imun
terganggunya mikroba usus dan aktivasi merupakan salah satu moderator penting
HPA. Berbagai molekul penanda yang berperan dalam hubungan antara otan
mempengaruhi susunan mikroba usus, dan bakteri usus, dimana tikus tanpa TLR4
termasuk bahan kimia yang dihasilkan dari tidak respon terhadap aktivasi HPA setelah
neuron usus, sel entero-kromafin, dan aferen transplantasi bakteri gram negatif.
nervus vagus. CRF, sebuah neurohormon
terkait respon HPA, dapat mempengaruhi
populasi bakteri, dimana ia dapat
mempengaruhi fungsi usus dalam berbagai
cara dengan bekerja pada CRFR2
(corticotropin-releasing factor receptor 2),
yang akan memodulasi permeabilitas,
motilitas, system imun, dan respon inflamasi
usus.

INTERAKSI YANG DIMEDIASI OLEH


IMUN SISTEM ANTARA MIKROBA
DAN OTAK

Walaupun otak merupakan organ yang


jauh untuk bakteri usus, mikroorganisme
yang berada di usus dapat mempengaruhi
SSP melalui system imun, dan juga SSP
yang merupakan daerah istimewa sistem
imun yang secara terus-menerus ditinggali
oleh annocuos alpha-proteobaceria. Mikroba
komensal memodulasi autoreaktivasi sel
imun terhadap system saraf pusat. Mikroba
memainkan peran dalam pathogenesis
berbagai kelainan yang dimediasi oleh
system imun seperti spondyloartritis,
rheumatoid artritis, dan bahkan ensefalitis
autoimun percobaan. Tikus tanpa mikroba
resisten terhadap penyakit tersebut dan sel