Anda di halaman 1dari 13

TUGAS

1. Vaksin BCG
 Bacille Calmette-Guerin adalah vaksin hidup yang dibuat dari
Mycobacterium tuberculosis yang dibiak berulang selama 1-3 tahun
sehingga didapatkan basil yang tidak virulen tetapi masih mempunyai
imunogenitas. Vaksin yang dipakai di Indonesia ialah vaksinasi BCG
buatan PT Biofarma Bandung. Vaksin BCG berisi suspensi M. bovis
hidup yang sudah dilemahkan. Vaksinasi BCG tidak mencegah infeksi
tuberkulosis, tetapi mengurangi risiko menjadi tuberkulosis berat.
Vaksin BCG diberikan pada umur < 3 bulan atau pada anak dengan uji
Mantoux negatif. Efek proteksi timbul setelah 8-12 minggu setelah
penyuntikan. Vaksin BCG diberikan secara intradermal 0,05 ml. Dosis
untuk anak sebanyak 0,1 ml diberikan intrakutan di daerah insersio M.
Deltoid kanan. Tidak dilakukan booster BCG. Penyuntikan BCG secara
intradermal akan menimbulkan ulkus lokal yang superfisial pada 3
minggu setelah penyuntikan. Ulkus tertutup krusta akan sembuh selama
2-3 bulan dan meninggalkan parut bulat dengan diameter 4-8 mm.
Apabila dosis terlalu tinggi, maka ulkus yang timbul lebih besar, namun
apabila penyuntikan lebih dalam, maka parut yang terjadi tertarik ke
dalam (retracted).

 Kontraindikasi BCG :
 Reaksi uji tuberkulin >5 mm
 Menderita HIV atau dengan risiko tinggi infeksi HIV
 Imunokompromais akibat pengobatan kortikosteroid, obat
imunosupresif, pengobatan radiasi, penyakit keganasan yang mengenai
sumsum tulang atau sistem limfe dan gizi buruk
 Menderita gizi buruk
 Menderita demam tinggi
 Menderita infeksi kulit yang luas
 Pernah sakit tuberkulosis
 Kehamilan

 Rekomendasi
 BCG diberikan pada bayi <3 bulan, dosis 0,05 ml
 Pada bayi baru lahir yang kontak erat dengan pasien TB dengan Bakteri
Tahan Asam (BTA) positif harus diberikan INH profilaksis dulu, apabila
pasien TB tersebut sudah BTA negatif, maka bayi dapat diberikan BCG
dengan syarat uji tuberkulin negatif

 Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi


 Limfadenitis supuratif di aksila atau di leher. Limfadenitis akan sembuh

1
sendiri, dapat didrainase dan diberikan obat antibiotik nonspesifik.
Pemberian obat antituberkulosis sistemik tidak efektif.
 BCG-itis diseminasi jarang terjadi, berhubungan dengan imunodefisiensi
berat. Komplikasi ini harus diikuti pemberian obat antituberkulosis
sesuai panduan TB berat.

Sumber : Rahajoe N, Kaswandani N. Tuberkulosis. Ranuh, IG, Rezeki S,


Hadinegoro, Kartasasmita CB, Ismoedijanto, dkk., penyunting. Dalam:
Pedoman Imunisasi di Indonesia. Ed. 6. Balai Penerbit IDAI; 2017. h. 274-9.

2. Vaksin Rotavirus
 Infeksi rotavirus merupakan penyebab diare tersering. Rotavirus
menginfeksi hamper setiap anak berusia dibawah 5 tahun dan sebagai
penyebab utama diare dehidrasi berat. Data global pada 52 negara (5
benua) memperlihatkan prevalensi G1P (8) sebesar 64%, diikuti oleh
G2P(4), G4P(8) sebesar 12% dan 8,5%. Data berbeda terlihat pada
wilayah Asia Pasifik, G9P(8) merupakan kombinasi tersering (29%),
diikuti oleh G1P(8), G3P(8) dan lain-lain, masing-masing sebesar
21%, 14% dan 19%.
 Rotavirus menempel pada epitel saluran cerna, menginfeksi
permukaan sel pada vili usus halus. Setelah virus mengalami
replikasi, infeksi menyebar sepanjang saluran cerna, menyebabkan
lesi terutama pada bagian puncak vilus dan penumpukan virus pada
tinja. Virulensi pada rotavirus berupa adhesi yang melapisi usus,
penetrasi ke dalam sel dan produksi toksin.
 Produksi inkubasi infeksi rotavirus selama 2-4 hari. Gejala klinis
berupa demam, muntah, disertai diare cair dengan frekuensi sering.
 Vaksin rotavirus yang beredar di Indonesia merupakan vaksin hidup
yang mengandung 1 galur rotavirus (monovalent) dan 5 galur
rotavirus (pentavalen).
 Vaksin monovalent : mengandung jenis rotavirus G1P(8).
Vaksin monovalent ini memiliki neutralizing epitope yang
sama dengan RV tipe G1, G3, G4 dan g9 yang merupakan
mayoritas isolate. Vaksin ini diberikan 2 kali (106
CFU/ml/dosis). Dosis pertama diberikan pada usia 6-14
minggu, dosis ke-2 diberikan interval minimal 4 minggu dan
harus selesai sebelum usia 24 minggu.
 Vaksin pentavalen merupakan rotavirus yang mengandung 5
galur rotavirus (G1, G2, G3, G4, G9, P1A(8). Vaksin ini
memiliki efektivitas yang tinggi dalam mencegah keparahan
akibat rotavirus. Vaksin rotavirus pentavalen diberikan pada

2
usia 6-14 minggu, dosis kedua dan ketiga diberikan interval
4-10 minggu. Vaksin rotavirus pentavalen harus selesai
sebelum usia 32 minggu.
 Usia maksimal untuk pemberian dosis pertama adalah 14 minggu 6
hari; vaksinasi tidak diberikan pada bayi usia 15 minggu 0 hari atau
lebih.
 Intususepsi merupakan KIPI vaksin rotavirus.
 WHO sangat merekomendasikan pemberian vaksin bagi Negara
dengan angka kematian anak usia <5 tahun akibat diare
sebesar >10%. Vaksinasi rotavirus telah terbukti efikasinya dan
cost-effective, sehingga merupakan salah satu langkah penting untuk
mengontrol diare.
Sumber : Firmansyah A, Soenarto Y, Hegar B. Rotavirus. Ranuh, IG, Rezeki
S, Hadinegoro, Kartasasmita CB, Ismoedijanto, dkk., penyunting. Dalam:
Pedoman Imunisasi di Indonesia. Ed. 6. Balai Penerbit IDAI; 2017. h.
309-19.

3. Nilai Faal Hepar Normal


Total Protein 6,6 – 8,7 gr/dl
Albumin 3,8 – 5,0 gr/dl
Globulin 1,3 – 2,7 gr/dl
Bilirubin Total 0,3 – 1 mg/dl
Bilirubin Direk <0,2 mg/dl
Bilirubin Indirek <0,6 mg/dl
SGOT Perempuan <32
Laki-laki <38
SGPT Perempuan <31
Laki-laki <41
Alkalin Fosfat
Acid fosfat <6,6 ʮ/L
Gama GT Perempuan 5-36
Laki-laki 8-61
Pemeriksaan Laboratorium Faal Hepar :
I. Fungsi Sintesis
 Albumin : fungsi albumin untuk mengatur tekanan onkotik,
mengangkut nutrisi, hormon, asam lemak dan zat lainnya.
Apabila terdapat gangguan fungsi sintesis sel hepar, maka
dapat terjadi hipoalbuminemia. Penyebab hipoalbumin
lainnya ialah gagal ginjal, malabsorpsi.
 Globulin : Terdiri dari globulin alfa, beta, gama. Fungsi
globulin ialah pengangkut hormone, lipid, logam dan

3
antibody. Peningkatan jumlah globulin menunjukkan
peningkatan antibody, sedangkan penurunan globulin
menunjukkan penurunan imun, malnutrisi, penyakit hepar
atau ginjal.
 Masa Protrombin : untuk pemeriksaan hemostasis. PT menilai
faktor I, II, V, IX dan X. Pada kerusakan hati berat, sintesis
protrombin menurun sehingga, PT memanjang. Faktor II, VII,
IX dan X tergantung pada vitamin K. Pada obstruksi bilier
terjadi hambatan absorpsi lemak, akibatknya vitamin A, D, E,
K berkurang. Kekurangan vitamin K akan menyebabkan PT
memanjang; Untuk membedakan antara kekurangan vitamin
K aatau etiologi lainnya dapat dilakukan dengan memberikan
vitamin K parenteral. Bila PT normal, maka penyebabnya
kekurangan vitamin K.
 Cholinesterase : Penilaian ini lebih spesifik karena tidak
dipengaruhi oleh faktor dari luar. Penurunan kolinesterase
50-70% dapat dijumpai pada hepatoma atau sirosis hepatis.
II. Fungsi Ekskresi
 Bilirubin : Kadar bilirubin lebih dari 3 mg/dl akan
menyebabkan ikterik. Bilirubin meningkat pada gangguan
ekskresi.
 Asam empedu : Sebelum pemeriksaan, lakukan puasa 12 jam.
Sirosis hepatis akan menyebabkan penurunan asam empedu
primer. Kolestasis akan menyebabkan tidak terbentunya asam
empedu sekunder.
III. Fungsi detoksifikasi
 Amonia : Hati berfungsi untuk detoksifikasi ammonia.
Gangguan hepar akan menyebabkan peningkatan ammonia.
IV. Aktivitas enzim
 SGOT (Serum Glutamate Oxaloasetat Transferase) atau AST
menunjukkan kerusakan hati kronik.
 SGPT (Serum Glutamate Piruvate Transferase) atau ALT
menunjukkan kerusakan hati ringan. Peningkatan SGOT dan
SGPT lebih dari 1000 menunjukkan spesifik pada kerusakan
hepar akibat virus atau iskemik.
 Alkaline Fosfat : Untuk menilai kolestasis. Alkaline fosfat lebih
dari 4 kali menunjukkan hepatobilier dibandingkan
hepatoseluler.
 Gama Glutamyl Transferase (Gama GT) : peningkatan gama
GT dijumpai pada icterus obstruktif, kolangitis dan kolestasis.
V. Penyakit hati autoimun

4
 ANA (Antinuclear Antibody)
 SMA (Antismooth Muscle Antibody)
 AMA (Antimitochondrial Antibody)
VI. Keganasan sel hati
 AFP (Alfaprotein) : AFP meningkat menunjukkan keganasan
sel hati, hepatitis atau dapat terjadi saat kehamilan.
VII. Pemeriksaan serologis
1. Hepatitis A
 Anti HAV : Antibodi IgM terhadap virus hepatitis A
 IgM : penanda infeksi virus
2. Hepatitis B
 HBsAg : antigen surface hepatitis B, penanda infeksi
 HBeAg : menandakan replikasi virus aktif
 HbcAg : antigen core hepatitis
 Anti-HBs : antibodi terhadap HBs/setelah divaksin
 Anti-HBe : antibodi terhadap HBe
 Anti-HBc : Antibodi IgM
 IgM : penanda infeksi akut virus hepatitis B
 HBV-DNA : diperiksa dengan PCR
3. Hepatitis C
 Anti HCV : antibody terhadap hepatitis C
Sumber : Laboratorium RSUP Dr. M. Djamil Padang

4. Harga normal PT/APTT


PT : 9,4 – 12,88 detik
APTT : 28 – 37,8 detik
Sumber : Laboratorium RSUP Dr. M. Djamil

5. INR
INR (International Normalized Ratio) < 1,2
Satuan untuk pemantauan koagulan oral. INR merupakan PT terukur/PT
normal dipangkatkan ISI (International Sensitivity Index)
Sumber : Laboratorium RSUP Dr. M. Djamil

6. I/T Ratio
Immature to Total Neutrophil (I/T) ratio sebagai penunjang diagnosis sepsis.
Pergeseran ke kiri pada perhitungan jenis leukosit dengan peningkatan
neutrophil imatur banyak ditemui pada pasien sepsis. I/T membandingkann
neutrophil imatur terhadap neutrophil keseluruhan. Neutrophil imatur
meliputi neutrophil batang, metamielosit dan promielosit. Neutrofil matur
merupakan neutrophil segmen. Nilai I/T <0,16 pada saat lahir dan menurun

5
hingga 0,12 setelah umur 72 jam. I/T tidak digunakan secara tunggal untuk
mendiagnosis sepsis.

Sumber : Bastiana, Aryati, Iriani Y. Immature to Total Neutrophil (I/T) Ratio


sebagai Diagnosis Sepsis Neonatorum. International Journal of Clinical
Pathology and Medical Laboratory; 2010;16;2:p. 73-7.

7. Urdafalk
Urdafalk (Urodeoxycholic Acid) merupakan asam empedu sekunder yang
merupakan produk metabolism dari bakteri di usus. Asam empedu primer
diproduksi dan disimpan di kandung empedu. Ketika disekresikan ke usus
besar, asam empedu primer dimetabolisme menjadi asam empedu sekunder.
Asam empedu primer dan sekunder membantu mencerna lemak. Mekanisme
kerja: meningkatkan kadar enzim di hati dengan memfasilitasi aliran empedu
malalui hepar. UDCA mencegah apoptosis hepatosit dengan menurunkan
peremeabilitas mitokondria.
Dosis Urdafalk ialah 10-20 mg/kgBB/hari
Sumber : Mey R, Oswari H, Amalia P. Ursodeoxycholic Acid in Neonatal
Sepsis-Associated Cholestasis. Journal of Paediatrica Indonesiana; 2014; 54;
4: p. 206-12.

8. Transfusi trombosit
Transfusi trombosit konsentrat diberikan pada pasien trombositopenia. TC
profilaksis dapat diberikan pada kadar trombosit <50.000/ʮL. Indikasi
pemberian trombosit ialah kadar trombosit <20.000 ʮL. Pada pasien
trombositopenia dengan perdarahan aktif, pemberian transfuse trombosit
diberikan pada kadar berapapu. Transfusi trombosit juga diberikan pada
pasien perdarahan aktif dengan trombopati. Satu kantong TC dianggap dapat
meningkatkan kadar trombosit 5.000 – 10.000. Dosis pemberian TC pada
anak dan neonatus ialah 10 – 20 ml/kgBB/hari.
Sumber : Wahidiyat PA, Adnani NB. Transfusi Rasional pada Anak. Sari
Pediatri; 2016; 18; 4: p. 325-31.

9. Pemberian Diamox (Acetazolamid) + Bicnat


Diamox tablet 250 mg
Acetazolamid merupakan inhibitor karbonik anhydrase. Obat ini
meningkatkan diuresis. Karbonik anhydrase merupakan enzim yang
ditemukan pada tubulus proksimal di ginjal. Penghambatan enzim ini
menyebabkan ekskresi hydrogen, yang meningkatkan ekskresi bikarbonat
dan kation lainnya, sehingga meningkatkan volume urin (diuresis alkali). Hal
ini dapat menyebabkan asidosis.
Sumber : National Center for Biotechnology Information. PubChem

6
Compound Database.

10. Fenitoin
Fenitoin diberikan secara intravena dengan dosis 20 mg/kgBB dan dilarutkan
dalam NaCl 0,9%. Fenitoin diberikan perlahan dengan kecepatan 50
mg/menit. Apabila kejang belum teratasi dapat diberikan tambahan fenitoin
10 mg/kgBB. Bila kejang teratasi, lanjutkan pemberian fenitoin setelah 12
jam kemudian dengan dosis rumatan 5-7 mg/kgBB.
Cara pemberian fenitoin pada tata laksana kejang:
1. Dosis inisial maksimum adalah 1 gram (30 mg/kgBB)
2. Sediaan IV diencerkan dengan NaCl 0,9% 10 mg/cc NaCl 0,9%.
Fenitoin jangan diencerkan dengan dextrose karena akan terjadi
penggumpalan.
3. Kecepatan pemberian fenitoin ialah 1 mg/kgBB/menit maksimum 50
mg/menit.
4. Dosis rumatan diberikan setelah 12-24 jam dosis inisial.
5. Efek samping: aritmia
Sediaan : ampul 250 mg/5 ml; 100 mg/2 ml; kapsul 30 mg; kapsul 100
mg
Sumber : Antomius HP. Buku Pedoman Pelayanan Medis Anak. IDAI Jilid
1. Jakarta: Badan Penerbit IDAI. 2009. h. 311-2.

11. Konversi mmol/L menjadi mg/L


Kreatinin
1 mg/dl = 0,0884 mmol/L
1 mmol/L = 11,312 mg/dL
Sumber : unitlab.com

12. GCS pada anak sesuai umur


PEDIATRIC GLASGOWCOMA SCALE (PGCS)
>1 Year < 1 Year Score
Eye Spontaneously Spontaneously 4
Opening To verbal command To shout 3
To Pain ToPain 2
No Response No Response 1
Motor Obeys Obeys 6
Response Localize pain Localize pain 5
Flexion-withdrawal Flexion-withdra 4
wal
Flexion-abnormal (decorticate Flexion-abnorma 3
rigidity) l (decorticate

7
rigidity)
Extension (decebrate rigidity) Extension 2
(decebrate
rigidity)
No response No response 1
Verbal >5 years 2-5 years 0 - 23 months
Response oriented Appropriate Smiles /coos 5
words phase appropriately
Disoriented Inappropriated Cries and 4
confused words Consolable
Inappropriate Persistent cries Persistent 3
Words and scream inappropriate
crying and or
screaming
Incomprehensi Grunt Grunts, agitated 2
ble Sounds and restless
No response No response No response 1
Sumber : Teasdale G. Lancet. 1974:2:81

13. Jurnal : Indeks Scopus

14. Cara membuat Resomal, F75, F100, F135


Cara membuat ReSoMal, yaitu:
Bubuk WHO -ORS untuk 1 liter (*) : 1 pak
Gula Pasir : 50 gram
Larutan elektrolit/mineral (**) : 40 ml
Ditambah air sampai :2 liter

Setiap 1 liter cairan ReSoMal:


Na = 37,5 mEq
K = 40 mEq
Mg = 1,5 mEq
(*) Bubuk WHO-ORS/liter : NaCl 2,6 gram
Trisodium Citrat Dihidrat 2,9 gram
KCl 1,5 gram dan glukosa 13,5 gram

Cara membuat larutan elektronik/mineral


(**) komposisi :
KCl 224 gram
Tripotasium citrat 81 gram

8
MgCl26H2O 76 gram
Zn Acetat 2H2O 8,2 gram
CuSO4.5H2O 1,4 gram
Ditambah air sampai 2,5 liter

Modifikasi ReSoMal
Bubuk WHO-ORS untuk 1 liter (*) 1 pak
Gula Pasir 50 gram
Bubuk KCl 4 gram
Ditambah air sampai 2 liter
Atau
Bubuk WHO-ORS siap pakai 1 liter
Gula Pasir 50 gram
Larutan elektrolit/mineral (**) 40 ml
Ditambah air sampai 2 liter

Karena tidak mengandung Zn, Mg dan Cu, berikan buah-buahan yang


banyak mineral atau berikan MgSO4 50% i.m 1 kali dosis 0,3 ml/kgBB,
maksimum 2 ml.

9
10
Cara pembuatan Formula WHO 75

Campurkan susu skim, gula, minyak sayur dan larutan elektrolit, encerkan
dengan air hangat sedikit demi sedikit sambil diaduk sampai homogen dan
volume menjadi 1000 ml. Larutan ini bisa langsung diminum atau dimasak
dulu selama 4 menit.

Cara pembuatan Formula WHO 100

Campurkan susu skim, gula, minyak sayur dan larutan elektrolit, encerkan
dengan air hangat sedikit demi sedikit sambil diaduk sampai homogen dan
volume menjadi 1000 ml. Larutan ini bisa langsung diminum atau dimasak
dulu selama 4 menit.

Cara pembuatan Formula WHO 135

Campurkan susu skim, gula, minyak sayur dan larutan elektrolit, encerkan
dengan air hangat sedikit demi sedikit sambil diaduk sampai homogen dan
volume menjadi 1000 ml. Larutan ini bisa langsung diminum atau dimasak
dulu selama 4 menit.

Cara pembuatan Formula WHO 135 modifikasi

Tempe dikukus hingga matang, kemudian dihaluskan dengan ulekan


(blender, dengan ditambah air). Selanjutnya, tempe yang sudah halus
disaring dengan air secukupnya. Tambahkan susu, gula, tepung beras,
minyak dan larutan elektrolit. Tambahkan air sampai 1000 ml, masak hingga
mendidih selama 5-7 menit.

Sumber:
Direktorat Bina Gizi Kementerian Kesehatan RI. Terapi Gizi pada Anak Gizi
Buruk.

11
15. Gambaran jantung RVH, LVH, P mitral dan Ppulmonal pada EKG
anak
Pembesaran atrium kanan ditandai dengan Ppulmonal, yaitu gelombang
a. P yang tinggi dan runcing (lebih dari 2,5 mm). Kelainan ini terdapat
pada stenosis pulmonal, atresia trikuspid, defek septum atrium dan
hipertensi pulmonal.
b. Pada pembesaran atrium kiri, gelombang Pmitral, yaitu tampak lebar
dan puncak yang mendatar atau berlekuk dengan puncak terpisah,
sekurang-kurangnya 0,03 detik. Kelainan ini terlihat jelas pada lead II.
c. Kombinasi hipertropi atrium kiri dan kanan ditandai dengan gelombang
P yang tinggi dan lebar. Komponen inisial atrium kanan terminal lebih
rendah daripada atrium kiri atau bahkan negatif sehingga terlihat sebagai
gelombang P yang tinggi, lebar dan difasik terutama di lead V3R, V1 dan
V2.
d. Hipertropi ventrikel kanan, apabila ditemukan salah satu dari tanda
berikut.
- R di V1 lebih besar daripada nilai maksimum
- S di V6 lebih besar daripada nilai maksimum
- Rasio R/S di V1 lebih besar daripada nilai maksimum
- T positif di V1 setelah umur 3 hari dengan rasio R/S di V1 lebih dari 1
- Deviasi sumbu ke kanan
e. Hipertropi ventrikel kiri, apabila ditemukan salah satu dari tanda berikut.
- Gelombang R yang tinggi di V6
- Perubahan gelombang T di lead V5 dan V6
- R di V5 dan V6 lebih besar daripada nilai maksimum
- S di V1 lebih besar daripada nilai maksimum
- Rasio R/S di V1 kurang daripada nilai maksimum
- Gelombang Q yang dalam di V5 dan V6
f. Hipertropi biventrikuler
1. Terdapat tanda-tanda hipertropi ventrikel kanan ditambah :
 Gelombang R yang tinggi di V6 dengan gelombang T yang tinggi dan
positif di V5-V6
 VAT di V6 lebih besar daripada VAT di V1
2. Terdapat tanda-tanda hipertropi ventrikel kiri ditambah:
 Gelombang R yang tinggi di V1
 Rotasi sumbu QRST yang berat searah jarum jam
 VAT di V1 lebih besar dari VAT di V6

12
Nilai - Nilai Maksimum Gelombang R di V1 dan S di V6 dan Rasio R/S di V1
Gelombang Umur Amplitudo
R1 0 - 24 jam 20 mm
1 - 7 hari 29 mm
8 hari - 3 bulan 20 mm
>3 bulan 19 mm
S6 0 - 7 hari 14 mm
3 - 30 hari 10 mm
1 - 3 bulan 7 mm
>3 bulan 5 mm
R1/S1 0 - 3 bulan 6,5
3 - 6 bulan 4,0
6 bulan - 3 tahun 2,4
3 - 5 tahun 1,6
6 - 15 tahun 0,8

Nilai-Nilai Maksimum Gelombang S di v1 dan R di V5 dan V6


(Nilai yang lebih dari nilai berikut menunjukkan adanya hipertropi ventrikel kiri)
Gelombang Umur Amplitudo
S1 0 - 10 hari 28 mm
1 hari - 1 tahun 19 mm
1 tahun - 16 tahun 25 mm
R5 0 - 3 tahun 30 mm
3 - 16 tahun 35 mm
R6 0 - 6 bulan 16 mm
6 - 12 bulan 19 mm
1 - 16 tahun 21 mm

Nilai Minimum Rasio R/S di V1


(Nilai yang lebih kecil dari nilai berikut menunjukkan hipertropi ventrikel kiri)
Umur Nilai Minimum R1/S1
<1 tahun 0,8
1-5 tahun 0,2
>6 tahun 0,1

Sumber : Putra ST, Sastroasmoro S, Siregar AA. Elektrokardiografi.


Sastroasmoro S, Madiyono B, penyunting. Buku Ajar Kardiologi Anak. Jakarta:
Balai Penerbit IDAI. 1994. h. 27-86.

13