Anda di halaman 1dari 3

ANNISA FATHINA ANASTI

2101702906

Tugas Personal 02

(Minggu 7 / Sesi 11)

Pengantar:

Tugas personal kedua akan mengambil bahan dari materi-materi yang dibahas pada minggu keenam
dan minggu ketujuh, baik yang berasal dari Lecturer Notes, materi ppt, buku yang menjadi bahan
referensi, dan peraturan perundangan yang terkait dengan materi minggu keenam dan ketujuh.

Jawablah tugas ini dengan dalam bentuk Essay dan cantumkanlah sumber jawaban kalian di setiap
akhir jawaban (misalnya jika dari buku, tulislah nama penulisnya, judul buku, tahun terbit dan
halaman yang dikutip. Jika dari sumber internet tulislah link sumber tersebut dan tanggal berapa
kalian mengakses sumber tersebut)

! Pada setiap halaman pertama (cover) dari lembar jawaban yang di submit harus mencantumkan
nama dan NIM mahasiswa.

Soal:
1. Hubungan kerja antara pekerja dan pemberi kerja baru terjadi sejak disepakatinya perjanjian
kerja. Dalam Undang-Undang Ketenagakerjaan diatur tentang 2 (dua) jenis perjanjian kerja.
Sebutkan dan jelaskan masing-masing perbedaan kedua jenis perjanjian kerja tersebut disertai
dengan contoh !

2. Saat ini PT. PLN (Perusahaan Listrik Negara) memberikan mekanisme berlangganan listrik atau
membeli listrik dengan menggunakan cara prabayar, melalui Perjanjian Jual Beli Tenaga Listrik
Prabayar (SPJBTL). Kontrak pembelian listrik ini sudah disiapkan oleh pihak PLN sebelumnya,
masyarakat tinggal menandatangi saja tanpa bisa melakukan negosiasi pada syarat-syarat yang
tercantum dalam perjanjian.

Berikan penjelasan dan analisa kalian apakah perjanjian semacam ini diperbolehkan oleh
undang-undang ?

LAWS6095 – Legal Aspect in Economic


== Selamat Mengerjakan ==

ANNISA FATHINA ANASTI


2101702906

1. Menurut UUTK, perjanjian kerja dapat dibagi ke dalam dua jenis, yaitu :
1) Perjanjian kerja dibuat untuk waktu tertentu (PKWT)
2) Perjanjian kerja dibuat untuk waktu tidak tertentu (PKWTT)

1) Perjanjian Kerja Waktu Tertentu (PKWT)


Pekerja dengan jenis perjanjian kerja waktu tertentu (PKWT) ini dalam
prakteknya sering disebut sebagai pegawai kontrak. Menurut UUTK, dalam
perjanjian kerja jenis ini harus menyebutkan bahwa waktu tertentu tersebut
setidaknya harus berdasarkan pada :
a) Berdasarkan pada jangka waktu tertentu, dan
b) Berdasarkan selesainya pekerjaan tertentu.
Selain itu, UUTK juga mensyaratkan beberapa hal yaitu :
1) PKWT harus dibuat dalam bentuk tertulis dengan menggunakan Bahasa
Indonesia.
2) Tidak boleh ada ketentuan mengenai syarat percobaan. Jika tidak, maka
perjanjian ini dianggap batal demi hukum.
3) Jangka waktu perjanjian dibuat paling lama 2 (dua) tahun dan hanya dapat
diperpanjang maksimal selama 1 (satu) tahun.
Jenis pekerjaan yang selesai dalam waktu tertentu disebutkan dalam UUTK yaitu :
a) Pekerjaan yang sekali selesai atau sementara sifatnya;
b) Pekerjaan yang diperkirakan penyelesaiannya dalam waktu yang tidak terlalu
lama dan paling lama 3 (tiga) tahun;
c) Pekerjaan yang bersifat musiman;
d) Pekerjaan yang berhubungan dengan produk baru, kegiatan baru, atau produk
tambahan yang masih dalam percobaan atau penjajakan.

2) Perjanjian Kerja Waktu Tidak Tertentu (PKWTT)


Pekerja dengan dasar perjanjian jenis ini biasanya merupakan karyawan tetap
perusahaan. Sehingga untuk PKWTT ini, pengusaha diperbolehkan untuk
mensyaratkan adanya masa percobaan, tetapi paling lama maksimal 3 (tiga) bulan.
Pekerjaan yang dilakukan dalam perjanjian jenis ini adalah pekerjaan yang bersifat

LAWS6095 – Legal Aspect in Economic


tetap, yaitu pekerjaan yang sifatnya terus menerus, tidak terputus-putus, tidak
dibatasi waktu, dan merupakan bagian dari proses produksi dalam satu perusahaan
atau pekerjaan yang bukan musiman. Jika perjanjian merupakan perjanjian lisan,
maka pengusaha wajib membuat surat pengangkatan bagi pekerja/buruh yang
bersangkutan.

Source: Lecture Note minggu ke-6

2. Tenaga listrik dikuasai oleh Negara karena menyangkut hajat hidup orang banyak
sebagaimana diatur dalam pasal 33 Undang-undang Dasar 1945, mengingat tenaga listrik
merupakan kebutuhan masyarakat. Oleh karena itu pengelolaan dan pendistribusian tenaga
listrik diberikan oleh negara kepada Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yaitu PT. PLN
(PERSERO) sebagai Pemegang Izin Usaha Penyediaan Tenaga Listrik sebagaimana
ketentuan BAB XVI Ketentuan Peralihan Pasal 56 Undang-undang No. 30 tahun 2009
tentang Ketenagalistrikan. Dalam pelaksanaan pendistribusian tenaga listrik masyarakat dapat
mengajukan penawaran/permohonan kepada PT. PLN (PERSERO) untuk mendapatkan aliran
tenaga listrik dengan mengikuti semua prosedur penyambungan baru aliran tenaga listrik,
dimana terhadap permohonan tersebut PT. PLN (PERSERO) akan memberikan
persetujuannya (sepanjang memenuhi persyaratan) yang kemudian dibuat dalam suatu
perjanjian jual beli tenaga listrik yang tertuang dalam Surat Perjanjian Jual Beli Tenaga
Listrik (SPJBTL) yang didalamnya mengatur hak dan kewajiban yang merupakan prestasi
dari masing-masing pihak. Apabila salah satu pihak tidak dapat memenuhi isi dari Perjanjian
Jual Beli Tenaga Listrik maka terjadilah wanprestasi. Oleh karena itu hal yang akan dibahas
dalam pokok permasalahan penelitian ini.

https://www.neliti.com/id/publications/147618/wanprestasi-dalam-perjanjian-jual-beli-
tenaga-listrik

LAWS6095 – Legal Aspect in Economic