Anda di halaman 1dari 78

LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER

PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI APOTEKERFAKULTAS FARMASI


UNIVERSITAS SETIA BUDI
DI DINAS KESEHATAN KOTA SURAKARTA5 JULI 2017
UPT INSTALASI FARMASI KOTA SURAKARTA 6-7 JULI 2017
DAN UPT PUSKESMAS PURWODININGRATAN KOTA SURAKARTA
PERIODE 1 : 10-15 JULI 2017
PERIODE 2 : 17-22 JULI 2017

Disusun Oleh:

FIRDA TIFANY ARDANA., S.Farm 1720333603

FITRIANI DIAH LESTARI, S.Farm 1720333604

FITRIRAHMAYANTI HIDAYAT, S.Farm 1720333605

FITRY ANRENY, S.Farm 1720333606

SITI HIKMAYANTI PADMON, S.Farm 1720333679

SRI RAHAYU NINGSI, S.Farm 1720333680

SUCI AMALIYA INDAH LESTARI, S.Farm 1720333681

SYARIFAH MIFTHAHUL HAYATI, S.Farm 1720333682

PROGRAM STUDI PROFESI APOTEKER


FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS SETIA BUDI
SURAKARTA
2017
Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker Universitas Setia Budi
di Dinas KesehatanKota, UPTD Instalasi Farmasi dan
Puskesmas Purwodiningratan Kota Surakarta 2017

HALAMAN PENGESAHAN

LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER


PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI APOTEKERFAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS SETIA BUDI
DI DINAS KESEHATAN KOTA SURAKARTA5 JULI 2017
UPT INSTALASI FARMASI KOTA SURAKARTA 6-7 JULI 2017
DAN UPT PUSKESMAS PURWODININGRATAN KOTA SURAKARTA
PERIODE 1 : 10-15 JULI 2017
PERIODE 2 : 17-22 JULI 2017

Laporan ini disusun untuk memenuhi persyaratan memperoleh gelar Apoteker


pada Program Profesi Apoteker Fakultas Farmasi Universitas Setia Budi
Surakarta

Telah disetujui dan disahkan oleh:

a.nKepala Dinas Kesehatan Kota Surakarta Kepala UPT Instalasi Farmasi


Kepala Bidang Promosi Kesehatan, Kota Surakarta
Pemberdayaan Masyarakat, dan Kemitraan

Purwanti, SKM. M.Kes Heru Cahyono, S. Si., Apt.


NIP. 19690810 199311 2 001 NIP. 19720101 200604 1 007

Dekan Fakultas Farmasi


Universitas Setia Budi

Prof. Dr. RA. Oetari, SU., MM., M. Sc., Apt.


NIDN. 0031104001

Program Pendidikan Profesi Apoteker Angkatan XXXIII


ii
Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker Universitas Setia Budi
di Dinas KesehatanKota, UPTD Instalasi Farmasi dan
Puskesmas Purwodiningratan Kota Surakarta 2017

HALAMAN PENGESAHAN

LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER


PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI APOTEKERFAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS SETIA BUDI
DI DINAS KESEHATAN KOTA SURAKARTA5 JULI 2017
UPT INSTALASI FARMASI KOTA SURAKARTA 6-7 JULI 2017
DAN UPT PUSKESMAS PURWODININGRATAN KOTA SURAKARTA
PERIODE 1 : 10-15 JULI 2017
PERIODE 2 : 17-22 JULI 2017

Laporan ini disusun untuk memenuhi persyaratan memperoleh gelar Apoteker


pada Program Profesi Apoteker Fakultas Farmasi Universitas Setia Budi
Surakarta

Telah disetujui oleh:

Kepala UPT Puskesmas Purwodiningratan Pembimbing Lapangan UPT


Kota Surakarta Puskesmas Purwodiningratan

dr. Sigit Hermawan Emy Mardiyani


NIP.19720706 200501 1 003 NIP. 19700910 199203 2 012

Mengetahui :

Ketua Program Studi Profesi Apoteker


Universitas Setia Budi
Surakarta

Dewi Ekowati, M.Sc., Apt.


NIDN. 0618057801

Program Pendidikan Profesi Apoteker Angkatan XXXIII


iii
Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker Universitas Setia Budi
di Dinas KesehatanKota, UPTD Instalasi Farmasi dan
Puskesmas Purwodiningratan Kota Surakarta 2017

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan Kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah
melimpahkan rahmat dan karunia-Nya sehingga kami dapat melaksanakan
Kegiatan Praktek Kerja Profesi Apoteker di Dinas Kesehatan Kota Surakarta,
UPT Instalasi Farmasi Kota Surakarta, dan UPT Puskesmas Purwodiningratan
Kota Surakarta.
Pelaksanaan PKPA ini dimulai tanggal 5 Juli-22 Juli 2017, kami telah
banyak memperoleh pengetahuan dan keterampilan selama melaksanakan Praktek
Kerja Profesi Apoteker di Dinas Kesehatan Kota Surakarta, UPT Instalasi Farmasi
Kota Surakarta, dan UPT Puskesmas Purwodiningratan Kota
Surakarta.Pelaksanaan dan penyusunan laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker
ini untuk memenuhi salah satu syarat untuk menyelesaikan Program Pendidikan
Profesi Apoteker di Fakultas Farmasi Universitas Setia Budi Surakarta.
Kami menyadari bahwa selama pelaksanaan Praktek Kerja Profesi Apoteker
ini tidak lepas dari bimbingan, bantuan dan doa dari berbagai pihak, untuk itu
pada kesempatan ini kami ingin mengucapkan terimakasih kepada:
1. Dr. Ir Djoni Tarigan, MBA, selaku Rektor Universitas Setia Budi.
2. Prof. Dr. RA Oetari, SU.,MM.,MSc., Apt., selaku Dekan Fakultas
FarmasiUniversitas Setia Budi.
3. Dewi Ekowati M.Si., Apt., selaku Ketua Program Profesi Apoteker Fakultas
Farmasi Universitas Setia Budi.
4. dr. Siti Wahyuningsih, M.Kes., selaku Kepala Dinas Kesehatan Kota
Surakarta.
5. Heru Cahyono, S.Si.,Apt., selaku Kepala UPT Instalansi Farmasi Kota
Surakarta.
6. Agus Subagyo, S.SiT., selaku Kepala Bidang Promosi Kesehatan,
Pemberdayaan Masyarakat Dinas Kesehatan Kota Surakarta.
7. dr. Sigit Hermawan, selaku Kepala UPT Puskesmas Purwodiningratan Dinas
Kesehatan Kota Surakarta.

Program Pendidikan Profesi Apoteker Angkatan XXXIII


iv
Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker Universitas Setia Budi
di Dinas KesehatanKota, UPTD Instalasi Farmasi dan
Puskesmas Purwodiningratan Kota Surakarta 2017

8. Yeni Umara, S.KM, selaku Kepala Bidang Promosi Kesehatan UPT


Puskesmas Purwodiningratan Kota Surakarta.
9. Emy Mardiyani, selaku pembimbing UPT Puskesmas Purwodiningratan Kota
Surakarta.
10. Karyawan dan Staf Dinas Kesehatan Kota Surakarta, UPT Instalasi Farmasi
Kota Surakarta, dan UPT Puskesmas Purwodiningratan Kota Surakarta
11. Semua pihak yang telah membantu penyusunan Laporan Praktek Kerja
Profesi Apoteker.
Penulis menyadari bahwa laporan ini masih jauh dari sempurna, oleh
karena itu segala kritik dan saran yang bersifat membangun sangat penyusun
harapkan demi kesempurnaan laporan ini.
Surakarta, Juli 2017

Penulis

Program Pendidikan Profesi Apoteker Angkatan XXXIII


v
Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker Universitas Setia Budi
di Dinas KesehatanKota, UPTD Instalasi Farmasi dan
Puskesmas Purwodiningratan Kota Surakarta 2017

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ........................................................................................ i

HALAMAN PENGESAHAN .......................................................................... ii

HALAMAN PENGESAHAN ........................................................................ iii

KATA PENGANTAR ...................................................................................... iv

DAFTAR ISI .................................................................................................... vi

DAFTAR LAMPIRAN ................................................................................... ix

BAB I ............................................................................................................. 1
A. Latar Belakang .................................................................................. 1
B. Tujuan dan Manfaat Praktek Kerja Profesi Apoteker .......................... 3
C. Tujuan pembuatan laporan ................................................................... 3
D. Garis Besar Isi Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker ................... . 4

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA .................................................................... 4


A. Dinas Kesehatan ................................................................................. 4
1. Gambaran Umum ........................................................................ 4
2. Tugas Pokok Dinas Kesehatan ....................................................... 4
3. Fungsi Dinas Kesehatan ................................................................. 4
B. Instalasi Farmasi ................................................................................. 6
1. Sejarah Instalasi Farmasi ............................................................. 6
2. Tugas dan Fungsi Instalasi Farmasi .............................................. 7
3. Visi dan Misi Instalasi Farmasi .................................................... 8
C. Puskesmas ........................................................................................... 8
1. Pengertian Puskesmas ................................................................... 8
2. Prinsip Penyelenggaraan Puskesmas ............................................ 8
3. Tugas dan Fungsi Puskesmas ....................................................... 9
4. Visi Puskesmas ............................................................................. 11

Program Pendidikan Profesi Apoteker Angkatan XXXIII


vi
Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker Universitas Setia Budi
di Dinas KesehatanKota, UPTD Instalasi Farmasi dan
Puskesmas Purwodiningratan Kota Surakarta 2017

5. Misi Puskesmas ............................................................................ 11


6. Kategori Puskesmas ..................................................................... 12
7. Sumber Daya Manusia ................................................................. 14
8. Kedudukan Puskesmas ................................................................. 14
9. Struktur Organisasi ....................................................................... 15
10. Upaya Kesehatan .......................................................................... 15
11. Satuan Penunjang ......................................................................... 16
12. Pelayanan Kesehatan Menyeluruh ............................................... 17
13. Pelayanan Kefarmasian Di Puskesmas ........................................ 18

BAB III. TINJAUAN TEMPAT PRAKTEK PROFESI APOTEKER ........... 26


A. Dinas Kesehatan Kota Surakarta ........................................................ 26
1. Visi dan Misi Dinas Kesehatan Kota Surakarta ........................... 26
2. Tujuan Dinas Kesehatan Kota Surakarta ..................................... 26
3. Strategi .......................................................................................... 27
4. Fungsi Dinas Kesehatan Kota Surakarta ...................................... 27
5. Tugas Pokok Dinas Kesehatan Kota Surakarta ........................... 28
6. Struktur Organisasi Dinas Kesehatan Kota Surakarta .................. 32
B. UPT Instalasi Farmasi ..................................................................... 33
1. Visi dan Misi UPT Instalasi Farmasi ........................................ 34
2. Organisasi Instalasi Farmasi ......................................................... 34
3. Pengelolaan Obat di Instalasi Farmasi ......................................... 35
C. UPT PUSKESMAS PURWODININGRATAN .............................. 40
1. Letak Geografis UPT Puskesmas Purwodiningratan ................ 40
2. Visi dan Misi UPT Puskesmas Purwodiningratan ..................... 41
3. Kebijakan UPT Puskesmas Purwodiningratan .......................... 42
4. Struktur Organisasi UPT Puskesmas Purwodiningratan ............ 42
5. Sarana dan Prasarana Pendukung Pelayanan Kesehatan .............. 42
6. Tenaga Kesehatan di UPT Puskesmas Purwodiningratan ......... 43
7. Pelayanan Kesehatan di UPT Puskesmas Purwodiningratan ..... 43

Program Pendidikan Profesi Apoteker Angkatan XXXIII


vii
Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker Universitas Setia Budi
di Dinas KesehatanKota, UPTD Instalasi Farmasi dan
Puskesmas Purwodiningratan Kota Surakarta 2017

8. Pengelolaan Resep ....................................................................... 44


9. Asuhan Kefarmasian .................................................................... 45
10. Pengelolaan Sediaan Farmasi ....................................................... 46
11. BPJS .............................................................................................. 52

BAB IV. PEMBAHASAN ............................................................................. 54

BAB V. PENUTUP ....................................................................................... 62


A. Kesimpulan ........................................................................................ 62
B. Saran ................................................................................................... 62

DAFTAR PUSTAKA ..................................................................................... 63

LAMPIRAN ................................................................................................... 64

Program Pendidikan Profesi Apoteker Angkatan XXXIII


viii
Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker Universitas Setia Budi
di Dinas KesehatanKota, UPTD Instalasi Farmasi dan
Puskesmas Purwodiningratan Kota Surakarta 2017

LAMPIRAN

Lampiran 1. Puskesmas Purwodiningratan .................................................... 64

Lampiran 2. Poli Umum ................................................................................. 64

Lampiran 3. Sekertariat Puskesmas ............................................................... 65

Lampiran 4. Apotek ........................................................................................ 65

Lampiran 5. Alur Pelayanan Pasien ................................................................ 66

Lampiran 6. Alur Pelayanan Kesehatan ......................................................... 66

Lampiran 7. Buku Catatan Rekam Medik Pasien .......................................... 67

Lampiran 8. Ruang Pelayanan Resep Pasien ................................................. 67

Lampiran 9. Rak Obat .................................................................................... 68

Lampiran 10. Lemari Penyimpanan Stok Obat .............................................. 68

Lampiran 11. Kulkas Penyimpanan Obat ...................................................... 69

Lampiran 12. Komputer ................................................................................. 69

Lampiran 13. Alat Bungkusan Puyer ............................................................. 70

Lampiran 14. Lumpang, Alu dan Kertas Puyer .............................................. 70

Lampiran 15. Rak Obat BLUD ....................................................................... 71

Lampiran 16. Rak Obat Non BLUD .............................................................. 71

Lampiran 17. Resep PNS ................................................................................ 72

Lampiran 18. Resep Jamkesmas .................................................................... 72

Lampiran 19. Resep Umum ............................................................................ 73

Lampiran 20. Daftar Obat Esensial Nasional ................................................. 73

Program Pendidikan Profesi Apoteker Angkatan XXXIII


ix
Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker Universitas Setia Budi
di Dinas KesehatanKota, UPTD Instalasi Farmasi dan
Puskesmas Purwodiningratan Kota Surakarta 2017

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pembangunan kesehatan merupakan bagian integral dan terpenting dari
pembangunan nasional. Tujuan dari pembangunan nasional khususnya dibidang
kesehatan adalah tercapainya derajat kesehatan masyarakat yang optimal.
Pembangunan kesehatan memegang peranan penting dalam meningkatkan
kesejahteraan manusia, dan sebagai sumber daya pembangunan. Pemerintah
menginginkan sebuah kondisi dimana masyarakat Indonesia sadar, mau dan
mampu untuk mengenali, mencegah dan mengatasi masalah kesehatan yang
dihadapi, baik faktor lingkungannya maupun perilakunya.
Untuk mencapai tujuan pembangunan kesehatan tersebut diselenggarakan
berbagai upaya kesehatan secara menyeluruh, berjenjang dan terpadu. Salah satu
tempat/fasilitas pelayanan kesehatan yang paling mudah dijangkau oleh
masyarakat yaitu Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas). Puskesmas adalah
suatu kesatuaan organisasi fungsional yang langsung memberikan pelayanan
kesehatan secara menyeluruh kepada masyarakat dalam suatu wilayah kerja
tertentu dalam bentuk usaha-usaha pokok.
Dalam sarana kesehatan puskesmas, pelayanan kefarmasian merupakan
salah satu faktor penting dalam menunjang pelayanan kesehatan. Profesi farmasi
saat ini telah mengalami perkembangan yaitu dari orientasi kepada obat berubah
menjadi orientasi pada pasien atau lebih dikenal dengan Pharmaceutical Care,
yaitu bentuk pelayanan dan tanggung jawab langsung profesi farmasis dalam
pekerjaan kefarmasian untuk meningkatkan kualitas hidup pasien.
Pengalaman belajar merupakan hal yang sangat penting bagi peserta didik
untuk mencapai keberhasilan dalam tujuan pendidikan yang dapat diperoleh
melalui pendidikan di kelas, laboratorium, maupun lapangan. Untuk mencapai
pengalaman belajar, diperlukan tatanan yang nyata dan komprehensif sehingga
mahasiswa dapat lebih siap dan mandiri. Maka dilaksanakan Praktik Kerja
Lapangan pada mahasiswa Profesi Apoteker Universitas Setia Budi Surakarta.
Program Pendidikan Profesi Apoteker Angkatan XXXIII
1
Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker Universitas Setia Budi
di Dinas KesehatanKota, UPTD Instalasi Farmasi dan
Puskesmas Purwodiningratan Kota Surakarta 2017

Praktek Kerja Profesi Apoteker (PKPA) merupakan salah satu syarat untuk
menyelesaikan program apoteker dan merupakan masa orientasi bagi mahasiswa
program apoteker sebelum bekerja di masyarakat. Dengan adanya PKPA, para
calon apoteker diharapkan dapat mengetahui langsung kondisi dan situasi pada
dunia kerja, sehingga mampu belajar menghadapi berbagai tantangan dalam dunia
kerja dan belajar menganalisis suatu gejala dan masalah agar kelak dapat
diaplikasikan langsung pada pasien.
Sehubungan dengan hal tersebut, Pada kesempatan ini setiap mahasiswa
secara khusus mampu menerapkan konsep teori dan prinsip ilmu dalam bentuk
melakukan kegiatan PKPA di puskesmas yang merupakan fasilitas kesehatan
tengkat pertama. Kegiatan PKPA Dilaksanakan selama 12 hari (10-15 Juli 2017
dan 17-22 Juli 2017) di Puskesmas Purwodiningratan.

B. Tujuan dan Manfaat Praktek Kerja Profesi Apoteker


1. Tujuan Umum
Tujuan umum yang diharapkan dari PKPA di Dinas Kesehatan Kota
Surakarta, UPT Instalasi Farmasi Kota Surakarta dan UPT Puskesmas
Purwodiningratan Kota Surakarta yaitu mahasiswa dapat mengetahui tentang
pekerjaan serta pelayanan kefarmasian sehingga mampu menyiapkan sumber daya
manusia yang memiliki bekal atau gambaran dalam menjalani profesinya.
2. Tujuan Khusus
Tujuan khusus yang diharapkan dalam Praktek Kerja Profesi Apoteker di
Puskesmas adalah calon apoteker mampu mengenal peran, fungsi, posisi, dan
tanggung jawab seorang apoteker yang ada di Dinas Kesehatan maupun di
Instalasi Farmasi dan Puskesmas dan jalur koordinasi lembaga pemerintah di
bawah Dinas Kesehatan Kota Surakarta, Instalasi Farmasi dan Puskesmas di
Surakarta.

Program Pendidikan Profesi Apoteker Angkatan XXXIII


2
Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker Universitas Setia Budi
di Dinas KesehatanKota, UPTD Instalasi Farmasi dan
Puskesmas Purwodiningratan Kota Surakarta 2017

3. Manfaat
Manfaat dari Praktek Kerja Profesi Apotekeragar dapat memberikan
bekalatau pengalaman pada mahasiswa untuk menjalankan profesinya di
lingkungan kerja nantinya dalam memberikan pelayanan yang maksimal pada
masyarakat.

C. Tujuan Pembuatan Laporan


Dalam melaksanakan kegiatan PKPA, mahasiswa diwajibkan membuat
laporan kegitan PKPA dengan tujuan sebagai berikut:
1. Mahasiswa mampu memahami, memantapkan dan mengembangkan pelajaran
yang diperoleh dari perkulihan dan yang diterapkan di lapangan kerja.
2. Mahasiswa mampu mencari alternatif pemecahan masalah kefarmasian sesuai
dengan program pendidikan yang ditetapkan secara lebih luas dan mendalam
yang terungkap dari laporan yang disusun kelompok.
3. Mengumpulkan data untuk kepentingan institusi pendidikan dan pribadi.
4. Menambah pembendaharaan perpustakaankampus untuk
menunjangpengetahuan mahasisiswa angkatan selanjutnya.

D. Garis Besar Isi Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker


Kegiatan PKPA yang dilaksanakan mahasiswa Fakultas Farmasi Program
studi Profesi Apoteker, Universitas Setia Budi Surakarta angkatan XXXIII pada
10 Juli-22 Juli 2017 di Puskesmas Purwodiningratan Surakarta adalah kegiatan
wajib yang harus diikuti mahasiswa. Dengan adanya kegiatan PKPA ini
mahasiswa diharapkan mampu mengetahui secara langsung keadaan dan kegiatan
apa saja yang ada di puskesmas yang kemudain dapat membandingkan dengan
teori yang diajarkan dibangku perkuliahan. Pada kegiatan PKPA mahasiswa dapat
memperoleh ilmu serta pengalaman sebagai sarana informasi terhadap dunia
pendidikan yang kemudian dapat mengembangkan potensi mahasiswa sebagai
tenaga kefarmasian yang terapil serta berpengalaman.

Program Pendidikan Profesi Apoteker Angkatan XXXIII


3
Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker Universitas Setia Budi
di Dinas KesehatanKota, UPTD Instalasi Farmasi dan
Puskesmas Purwodiningratan Kota Surakarta 2017

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Dinas Kesehatan
1. Gambaran Umum
Di Indonesia telah diberlakukan otonomi daerah yang membawa perubahan
terhadap tatanan penyelenggaraan pemerintah di daerah dimana pemerintah
daerah dituntut lebih professional di dalam memberikan pelayanan kepada
masyarakat. Perubahan tersebut membawa konsekuensi terhadap kewenangan
daerah dalam menentukan berbagai kebijakan sebagai manifestasi otonomi daerah
yang luas dan bertanggung jawab untuk mengatur dan mengurus kepentingan
masyarakat menurut prakarsa sendiri sesuai dan potensi daerah.
Kedudukan Dinas Kesehatan merupakan unsur pelaksana Pemerintah
Daerah di bidang kesehatan yang dipimpin oleh seorang Kepala Dinas, yang
berada di bawah dan tanggung jawab kepada Gubernur melalui sekretaris daerah.
Dalam penyelenggaraan pelaksanaan kesehatan di Kota Surakarta maka
Dinas Kesehatan Kota Surakarta melaksanalan tugas pokok dan fungsi, dimana
Tugas Pokok dan Fungsi (TUPOKSI) tersebut menjadi andalan dalam
pelaksanaan tugas pekerjaan bagi setiap pegawai di Dinas Kesehatan serta di
bawahnya. Tugas pokok dan fungsi akan dijabarkan lebih lanjut.
2. Tugas Pokok Dinas Kesehatan
Dinas Kesehatan mempunyai tugas pokok antara lain :
a. Melaksanakan kewenangan desentralisasi di bidang kesehatan yang
diserahkan kepada pemerintah daerah.
b. Melaksanakan kewenangan Kabupaten/Kota di bidang kesehatan yang
bersifat lintas Kabupaten/Kota.
c. Melaksanakan kewenangan Kabupaten/kota di bidang kesehatan yang
dikerjasamakan dengan atau diserahkan kepada Propinsi yang sesuai
dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku

Program Pendidikan Profesi Apoteker Angkatan XXXIII


4
Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker Universitas Setia Budi
di Dinas KesehatanKota, UPTD Instalasi Farmasi dan
Puskesmas Purwodiningratan Kota Surakarta 2017

d. Melaksanakan kewenangan dekonsentrasi yang dilimpahkan kepada


gubernur dan tugas pembantuan di bidang kesehatan sesuai dengan
peraturan perundang-undangan yang berlaku.
3. Fungsi Dinas Kesehatan
Untuk melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud diatas,Dinas Kesehatan
menyelenggarakan fungsi:
1. Perumusan kebijakan teknis di bidang kesehatan.
2. Penyelenggaraan urusan pemerintahan dan pelayanan umum di bidang
kesehatan.
3. Pembinaan dan pelaksanaan tugas di bidang kesehatan.
4. Pelaksanaan tugas lain yang diberikan oleh walikota sesuai dengan tugas dan
fungsinya.
Selain fungsi diatas dinas kesehatan juga mempunyai fungsi lainnya yaitu:
1. Penyelenggaraan kesekretariatan dinas;
2. Penyusunan rencana program, pengendalian, evaluasi dan pelaporan;
3. Penyelenggaraan promosi kesehatan, Reproduksi remaja, lanjut usia dan
Usaha Kesehatan Sekolah ;
4. Penyelenggaraan pemberdayaan masyarakat dan kemitraan;
5. Penyelengaraan Sistim Informasi Kesehatan;
6. Pencegahan, Pemberantasan penyakit dan penanggulangan KLB;
7. Pengendalian penyakit dan penyehatan lingkungan;
8. Penyusunan Sumber Daya Kesehatan;
9. Pengawasan dan pengendalian kefarmasian, makanan, minuman dan obat
tradisional;
10. Penyelenggaraan dan pembinaan teknis rumah sakit dan kesehatan khusus;
11. Penyelenggaraan regristasi, akreditasi dan ijin praktek;
12. Penyelenggaraan Upaya kesehatan ibu, anak dan Keluarga Berencana;
13. Penyelenggaraan Upaya Gizi Masyarakat
14. Penyelenggaraan pelayanan kesehatan;
15. Pembinaan jabatan fungsional;
Program Pendidikan Profesi Apoteker Angkatan XXXIII
5
Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker Universitas Setia Budi
di Dinas KesehatanKota, UPTD Instalasi Farmasi dan
Puskesmas Purwodiningratan Kota Surakarta 2017

16. Pengelolaan Unit Pelaksana Teknis ( UPT ).


B. Instalasi Farmasi
1. Sejarah Instalasi farmasi
Departemen Kesehatan Pada tahun 1981 mendirikan Gudang Farmasi
Kotamadya/Kabupaten (GFK) di seluruh Indonesia. GFK di Surakarta baru berdiri
pada tahun 1991. Anggaran untuk semua kegiatan GFK berasal dari Departemen
Kesehatan, akan tetapi setelah adanya otonomi daerah anggaran GFK berasal dari
pemerintah kota, askes, dan APBD provinsi. dengan adanya otonomi daerah
kemudian nama Gudang Farmasi diganti dengan Instalasi Farmasi.
UPT Instalasi Farmasi adalah unit yang bertanggung jawab pada
penggunaan obat yang aman di Rumah Sakit, Puskesmas, maupun distribusi ke
tempat farmasi lain. Tanggung jawab ini meliputi seleksi, pengadaan,
penyimpanan, penyiapan obat untuk dikonsumsi dan distribusi obat ke daerah
perawatan penderita. Berkaitan dengan tanggung jawab penyampaian dan
distribusi obat dari Instalasi Farmasi ke daerah perawatan pasien maka dibuat
sistem distribusi obat.
Penerapan Undang - Undang nomor 32 tahun 2004 tentang Otonomi daerah
membawa implikasi terhadap organisasi kesehatan baik di tingkat Pusat, Provinsi,
maupun Kabupaten/Kota. Demikian pula halnya dengan organisasi pengelolaan
obat publik dan perbekalan kesehatan, bila sebelumnya di seluruh
Kabupaten/Kota terdapat Gudang Farmasi, maka dengan diserahkannya Gudang
Farmasi kepada pemerintah daerah, organisasi tersebut tidak selalu eksis di setiap
Kabupaten/Kota.
Untuk Kabupaten/Kota yang masih mempertahankan Gudang Farmasi
Kabupaten (GFK), minimal pengelolaan obat berjalan sebagaimana semula.
Dalam artian ada penanggung jawab, personal terlatih, sistem pengelolaan obat,
sarana baik gedung, komputer maupun kendaraan roda empat. Berbeda dengan
Kabupaten/Kota yang melikuidasi Gudang Farmasi, kemungkinan pengelolaan
obat tidak berjalan sebagaimana mestinya relatif lebih besar dibanding dengan
adanya Gudang Farmasi Kab/Kota (GFK), karena personal terlatih di pindah
Program Pendidikan Profesi Apoteker Angkatan XXXIII
6
Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker Universitas Setia Budi
di Dinas KesehatanKota, UPTD Instalasi Farmasi dan
Puskesmas Purwodiningratan Kota Surakarta 2017

tugaskan, sarana diubah peruntukkannya, mekanisme pengelolaan obat tidak


sesuai dengan standar yang berlaku
2. Tugas dan Fungsi Instalasi Farmasi
a. Tugas Instalasi farmasi
Instalasi Farmasi mempunyai tugas pokok melaksanakan sebagian kegiatan
teknis operasional dan atau kegiatan tekis penunjang Dinas di bidang pengelolaan
kefarmasian dan perbekalan kesehatan.
Dalam hal ini instalasi farmasi mempunyai tugas sebagai berikut yakni
Melaksanakan pengelolaan, penerimaan, penyimpanan dan pendistribusian
perbekalan farmasi dan alat kesehatan yang diperlukan dalam rangka pelayanan
kesehatan, pencegahan dan pemberantasan penyakit dan pembinaan kesehatan
masyarakat di Kabupaten/Kota madya sesuai dengan petunjuk Kakandepkes
Kabupaten/Kodya.
b. Fungsi Instalasi Farmasi
Fungsi Instalasi Farmasi di Kabupaten/ Kodya:
1) Melakukan penerimaan, penyimpanan, pemeliharaan dan pendistribusian obat,
alat kesehatan dan perbekalan farmasi.
2) Melakukan penyiapan, penyusunan rencana, pencatatan dan pelaporan
mengenai persediaan dan penggunaan obat,alat kesehatan dan perbekalan
farmasi.
3) Melakukan pengamatan mutu dan khasiat obat secara umum baik yang ada
dalam persedian maupun yang didistribusikan.
4) Melakukan urusan tata usaha keuangan dimana bidang kewenangan dari
instalasi farmasi adalah melaksanakan pengelolaan instalasi farmasi sesuai
dengan kebijakan teknis yang ditetapkan oleh kepala dinas kesehatan.
3. Visi dan Misi Instalasi Farmasi
Visi instalasi farmasi adalah kecukupan sediaan farmasi dalam pengobatan
rasional. Sedangkan misinya adalah memberikan pelayanan prima dengan
tersedianya SDM yang berkualitas didukung informasi data sediaan farmasi yang
akurat sehingga kebutuhan obat, alkes dan reagensia terpenuhi dalam mencapai

Program Pendidikan Profesi Apoteker Angkatan XXXIII


7
Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker Universitas Setia Budi
di Dinas KesehatanKota, UPTD Instalasi Farmasi dan
Puskesmas Purwodiningratan Kota Surakarta 2017

pengobatan rasional. Sasarannya untuk puskesmas, puskesmas pembantu,


laboratorium kesehatan & P3K.
Program dari Instalasi Farmasi Kota Surakarta meliputi Penyimpanan,
Pendistribusian, Sistem informasi ketersediaan obat, Memonitoring dan evaluasi
Puskesmas dan Puskesmas Pembantu di Kota Surakarta, Ketatausahaan.
C. Puskesmas
1. Pengertian Puskesmas
Pusat Kesehatan Masyarakat yang selanjutnya disebut Puskesmas adalah
fasilitas pelayanan kesehatan yang menyelenggarakan upaya kesehatan
masyarakat dan upaya kesehatan perseorangan tingkat pertama, dengan lebih
mengutamakan upaya promotif dan preventif,untuk mencapai derajat kesehatan
masyarakat yang setinggi-tingginya di wilayah kerjanya (Permenkes RI No 75
tahun 2014 Tentang Pusat Kesehatan Masyarakat).
Puskesmas adalah suatu kesatuan organisasi kesehatan fungsional yang
merupakan pusat pengembangan kesehatan masyarakat yang juga membina peran
serta masyarakat disamping memberikan pelayanan secara menyeluruh dan
terpadu kepada masyarakat di wilayah kerjanya dalam bentuk kegiatan pokok
2. Prinsip Penyelenggaraan Puskesmas
Adapun prinsip penyelenggaraaan Puskesmas meliputi:
a) Paradigma sehat
Puskesmas mendorong seluruh pemangku kepentingan untuk berkomitmen
dalam upaya mencegah dan mengurangi resiko kesehatan yang dihadapi
individu, keluarga, kelompok dan masyarakat.
b) Pertanggungjawaban wilayah
Puskesmas menggerakkan dan bertanggung jawab terhadap pembangunan
kesehatan di wilayah kerjanya.
c) Kemandirian masyarakat
Puskesmas mendorong kemandirian hidup sehat bagi individu, keluarga,
kelompok, dan masyarakat.
d) Pemerataan
Program Pendidikan Profesi Apoteker Angkatan XXXIII
8
Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker Universitas Setia Budi
di Dinas KesehatanKota, UPTD Instalasi Farmasi dan
Puskesmas Purwodiningratan Kota Surakarta 2017

Puskesmas menyelenggarakan Pelayanan Kesehatan yang dapat diakses dan


terjangkau oleh seluruh masyarakat di wilayah kerjanya secara adil tanpa
membedakan status sosial, ekonomi, agama, budaya dan kepercayaan.
e) Teknologi tepat guna
Puskesmas menyelenggarakan Pelayanan Kesehatan dengan memanfaatkan
teknologi tepat guna yang sesuai dengan kebutuhan pelayanan, mudah
dimanfaatkan dan tidak berdampak buruk bagi lingkungan.
f) Keterpaduan dan kesinambungan
Puskesmas mengintegrasikan dan mengoordinasikan penyelenggaran UKM
dan UKP lintas program dan lintas sektor serta melaksanakan Sistem Rujukan
yang didukung dengan manajemen Puskesmas.
3. Tugas dan Fungsi Puskesmas
Puskesmas mempunyai tugas melaksanakan kebijakan kesehatan untuk
mencapai tujuan pembangunan kesehatan di wilayah kerjanya dalam rangka
mendukung Terwujudnya kecamatan sehat.
Adapun fungsi puskesmas sebagaimana dimaksud diatas yaitu:
a) Penyelenggaraan UKM tingkat pertama di wilayah kerjanya
- Melaksanakan perencanaan berdasarkan analisis masalah kesehatan
masyarakat dan analisis kebutuhan pelayanan yang diperlukan.
- Melaksanakan advokasi dan sosialisasi kebijakan kesehatan
- Melaksanakan komunikasi, informasi, edukasi, dan pemberdayaan
masyarakat dalam bidang kesehatan.
- Menggerakkan masyarakat untuk mengidentifikasi dan menyelesaikan
masalah kesehatan pada setiap tingkat perkembangan masyarakat yang
bekerjasama dengan sektor lain terkait.
- Melaksanakan pembinaan teknis terhadap jaringan pelayanan dan upaya
kesehatan berbasis masyarakat.
- Melaksanakan peningkatan kompetensi sumber daya manusia Puskesmas.
- Memantau pelaksanaan pembangunan agar berwawasan kesehatan.

Program Pendidikan Profesi Apoteker Angkatan XXXIII


9
Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker Universitas Setia Budi
di Dinas KesehatanKota, UPTD Instalasi Farmasi dan
Puskesmas Purwodiningratan Kota Surakarta 2017

- Melaksanakan pencatatan, pelaporan, dan evaluasi terhadap akses, mutu,


dan cakupan Pelayanan Kesehatan.
- Memberikan rekomendasi terkait masalah kesehatan masyarakat, termasuk
dukungan terhadap sistem kewaspadaan dini dan respon penanggulangan
penyakit.
b) Penyelenggaraan UKP tingkat pertama di wilayah kerjanya
- Menyelenggarakan Pelayanan Kesehatan dasar secara komprehensif,
berkesinambungan dan bermutu.
- Menyelenggarakan Pelayanan Kesehatan yang mengutamakan upaya
promotif dan preventif
- Menyelenggarakan Pelayanan Kesehatan yang berorientasi pada individu,
keluarga, kelompok dan masyarakat
- Menyelenggarakan Pelayanan Kesehatan yang mengutamakan keamanan
dan keselamatan pasien, petugas dan pengunjung
- Menyelenggarakan Pelayanan Kesehatan dengan prinsip koordinatif dan
kerja sama inter dan antar profesi
- Melaksanakan rekam medis
- Melaksanakan pencatatan, pelaporan, dan evaluasi terhadap mutu dan akses
Pelayanan Kesehatan
- Melaksanakan peningkatan kompetensi Tenaga Kesehatan
- Mengoordinasikan dan melaksanakan pembinaan fasilitas pelayanan
kesehatan tingkat pertama di wilayah kerjanya.
- Melaksanakan penapisan rujukan sesuai dengan indikasi medis dan sistem
Rujukan
4. Visi Puskesmas
Visi pembangunan kesehatan yang diselenggarakan oleh puskesmas adalah
tercapainya Kecamatan Sehat menuju terwujudnya Indonesia Sehat. Kecamatan
Sehat adalah gambaranmasayarakat kecamatan masa depan yang ingin dicapai
melalui pembangunan kesehatan,yakni masyarakat yang hidup dalam lingkungan
dan berperilaku sehat, memiliki kemampuan untuk menjangkau pelayanan
Program Pendidikan Profesi Apoteker Angkatan XXXIII
10
Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker Universitas Setia Budi
di Dinas KesehatanKota, UPTD Instalasi Farmasi dan
Puskesmas Purwodiningratan Kota Surakarta 2017

kesehatan yang bermutu secara adil dan merata serta memilikiderajat kesehatan
yang setinggi-tingginya. Indikator Kecamatan Sehat yang ingin dicapai mencakup
4 indikator utama yakni:
a) Lingkungan sehat
b) Perilaku sehat
c) Cakupan pelayanan kesehatan yang bermutu
d) Derajat kesehatan penduduk kecamatan
5. Misi Puskesmas
Misi pembangunan kesehatan yang diselenggarakan oleh puskesmas adalah
mendukung tercapainya visi pembangunan kesehatan nasional. Misi tersebut
adalah:
a) Menggerakkan pembangunan berwawasan kesehatan di wilayah kerjanya.
Puskesmas akan selalu menggerakkan pembangunan sektor lain yang
diselenggarakan di wilayah kerjanya, agar memperhatikan aspek kesehatan,
yakni pembangunan yang tidakmenimbulkan dampak negatif terhadap
kesehatan, setidak-tidaknya terhadap lingkungan dan perilaku masyarakat.
b) Mendorong kemandirian hidup sehat bagi keluarga dan masyarakat di wilayah
kerjanya.Puskesmas akan selalu berupaya agar setiap keluarga dan masyarakat
yang bertempat tinggal di wilayah kerjanya makin berdaya di bidang
kesehatan, melalui peningkatan pengetahuan dan kemampuan menuju
kemandirian untuk hidup sehat.
c) Memelihara dan meningkatkan mutu, pemerataan dan keterjangkauan
pelayanan kesehatan yang diselenggarakan. Puskesmas akan selalu berupaya
menyelenggarakan pelayanan kesehatan yang sesuai dengan standar dan
memuaskan masyarakat, mengupayakan pemerataan pelayanan kesehatan serta
meningkatkan efisiensi pengelolaan dana sehingga dapat dijangkau oleh
seluruh anggota masyarakat.
d) Memelihara dan meningkatkan kesehatan perorangan, keluarga dan masyarakat
berserta lingkungannya. Puskesmas akan selalu berupaya memelihara dan
meningkatkan kesehatan, mencegah dan menyembuhkan penyakit, serta
Program Pendidikan Profesi Apoteker Angkatan XXXIII
11
Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker Universitas Setia Budi
di Dinas KesehatanKota, UPTD Instalasi Farmasi dan
Puskesmas Purwodiningratan Kota Surakarta 2017

memulihkan kesehatan perorangan, keluarga dan masyarakat yang berkunjung


dan yang bertempat tinggal di wilayah kerjanya, tanpa diskriminasi dan dengan
menerapkan kemajuan ilmu dan teknologi kesehatan yang sesuai. Upaya
pemeliharaan dan peningkatan kesehatan yang dilakukan puskesmas mencakup
pula aspek lingkungan dari yang bersangkutan.
6. Kategori Puskesmas
Puskesmas dapat dikategorikan berdasarkan karakteristik wilayah kerja dan
kemampuan penyelenggaraan. Puskesmas dikategorikan menjadi (Permenkes
Nomor 75 tahun 2014:
a) Puskesmas kawasan perkotaan
Puskesmas yang wilayah kerjanya meliputi kawasan yang memenuhi paling
sedikit 3 (tiga) dari 4 (empat) kriteria kawasan perkotaan sebagai berikut:
 Aktivitas lebih dari 50% (lima puluh persen) penduduknya pada sektor non
agraris, terutama industri, perdagangan dan jasa;
 Memiliki fasilitas perkotaan antara lain sekolah radius 2,5 km, pasar radius
2 km, memiliki rumah sakit radius kurang dari 5 km,bioskop, atau hotel;
 Lebih dari 90% (sembilan puluh persen) rumah tangga memiliki listrik; dan
atau;
 Terdapat akses jalan raya dan transportasi menuju fasilitas perkotaan
b) Puskesmas kawasan pedesaan
Puskesmas kawasan pedesaan sebagaimana dimaksud merupakan Puskesmas
yang wilayah kerjanya meliputi kawasan yang memenuhi paling sedikit 3 (tiga)
dari 4 (empat) kriteria kawasan pedesaan sebagai berikut:
 Aktivitas lebih dari 50% (lima puluh persen) penduduk pada sektor agraris;
 Memiliki fasilitas antara lain sekolah radius lebih dari 2,5 km,pasar dan
perkotaan radius lebih dari 2 km, rumah sakit radius lebih dari 5 km, tidak
memiliki fasilitas berupa bioskop atau hotel;
 Rumah tangga dengan listrik kurang dari 90% (Sembilan puluh persen);
dan;
 Terdapat akses jalan dan transportasi menuju fasilitas sebagaimana.
Program Pendidikan Profesi Apoteker Angkatan XXXIII
12
Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker Universitas Setia Budi
di Dinas KesehatanKota, UPTD Instalasi Farmasi dan
Puskesmas Purwodiningratan Kota Surakarta 2017

c) Puskesmas kawasan terpencil dan sangat terpencil merupakan puskesmas yang


wilayah kerjanya meliputi kawasan dengan karakteristik sebagai berikut:
 Berada di wilayah yang sulit dijangkau atau rawan bencana, pulau kecil,
gugus pulau, atau pesisir;
 Akses transportasi umum rutin 1 kali dalam 1 minggu, jarak tempuh pulang
pergi dari ibukota kabupaten memerlukan waktu lebih dari 6 jam, dan
transportasi yang ada sewaktu-waktu dapat terhalang iklim atau cuaca; dan
 Kesulitan pemenuhan bahan pokok dan kondisi keamanan yang tidak stabil.
Berdasarkan kemampuan penyelenggaraan sebagaimana dimaksud
Puskesmas dikategorikan menjadi:
a) Puskesmas non rawat inap
b) Puskesmas rawat inap
Puskesmas non rawat inap adalah Puskesmas yang tidak pelayanan rawat
inap, kecuali pertolongan persalinan normal. Puskesmas rawat inap adalah
Puskesmas yang diberi tambahan sumber daya untuk menyelenggarakan
pelayanan rawat inap, sesuai pertimbangankebutuhan pelayanan kesehatan
(PermenkesRI No 75 tahun 2014 Tentang Pusat Kesehatan Masyarakat).
7. Sumber Daya Manusia Puskesmas
a) Tenaga Kesehatan
- Dokter atau dokter layanan primer
- Dokter gigi
- Perawat
- Bidan
- Tenaga kesehatan masyarakat
- Tenaga kesehatan lingkungan
- Ahli teknologi laboratorium medik
- Tenaga gizi
- Tenaga kefarmasian
b) Tenaga Non Kesehatan

Program Pendidikan Profesi Apoteker Angkatan XXXIII


13
Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker Universitas Setia Budi
di Dinas KesehatanKota, UPTD Instalasi Farmasi dan
Puskesmas Purwodiningratan Kota Surakarta 2017

Tenaga non kesehatan harus terdiri dari bagian ketatausahan, administrasi


keuangan, sistem informasi, dan kegiatan operasional lain puskesmas.
8. Kedudukan Puskesmas
Kedudukan Puskesmas dibedakan menurut keterkaitannya dengan Sistem
Kesehatan Nasional, Sistem Kesehatan Kabupaten/Kota dan Sistem Pemerintah
Daerah:
1) Sistem Kesehatan Nasional
Kedudukan puskesmas dalam Sistem Kesehatan Nasional adalah sebagai
saranapelayanan kesehatan strata pertama yang bertanggungjawab
menyelenggarakan upayakesehatan perorangan dan upaya kesehatan
masyarakat di wilayah kerjanya.
2) Sistem Kesehatan Kabupaten/Kota
Kedudukan puskesmas dalam Sistem Kesehatan Kabupaten/Kota adalah
sebagai UnitPelaksana Teknis Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota yang
bertanggungjawabmenyelenggarakan sebagian tugas pembangunan kesehatan
kabupaten/kota di wilayah kerjanya.
3) Sistem Pemerintah Daerah
Kedudukan puskesmas dalam Sistem Pemerintah Daerah adalah sebagai Unit
Pelaksana Teknis Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota yang merupakan unit
struktural Pemerintah\ Daerah Kabupaten/Kota bidang kesehatan di tingkat
kecamatan.
4) Antar Sarana Pelayanan Kesehatan Strata Pertama
Di wilayah kerja puskesmas terdapat berbagai organisasi pelayanan kesehatan
stratapertama yang dikelola oleh lembaga masyarakat dan swasta seperti
praktek dokter,praktek dokter gigi, praktek bidan, poliklinik dan balai
kesehatan masyarakat. Kedudukanpuskesmas di antara berbagai sarana
pelayanan kesehatan strata pertama ini adalahsebagai mitra. Di wilayah kerja
puskesmas terdapat pula berbagai bentuk upaya kesehatanberbasis dan
bersumber daya masyarakat seperti posyandu, polindes, pos obat desa danpos

Program Pendidikan Profesi Apoteker Angkatan XXXIII


14
Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker Universitas Setia Budi
di Dinas KesehatanKota, UPTD Instalasi Farmasi dan
Puskesmas Purwodiningratan Kota Surakarta 2017

UKK. Kedudukan puskesmas di antara berbagai sarana pelayanan kesehatan


berbasis dan bersumber daya masyarakat adalah sebagai pembina.
9. Struktur Organisasi
Struktur organisasi puskesmas tergantung dari kegiatan dan beban tugas
masing-masingpuskesmas. Penyusunan Organisasi Puskesmas disusun oleh dinas
kesehatan kabupaten/kota berdasarkan kategori, upaya kesehatan dan beban kerja
Puskesmas.
Organisasi Puskesmas paling sedikit terdiri atas:
a) Kepala Puskesmas;
b) Kepala sub bagian tata usaha;
c) Penanggung jawab UKM dan Keperawatan Kesehatan Masyarakat;
d) Penanggung jawab UKP, kefarmasian dan Laboratorium;
e) Penanggungjawab jaringan pelayanan Puskesmas dan jejaring fasilitas
pelayanan kesehatan.
10. Upaya Kesehatan
Puskesmas menyelenggarakan upaya kesehatan masyarakat tingkat pertama
dan upaya kesehatan perseorangan tingkat pertama. Upaya kesehatan
dilaksanakan secara terintegrasi dan berkesinambungan.
Upaya kesehatan masyarakat tingkat pertama sebagaimana dimaksud
meliputi upaya kesehatan masyarakat esensial dan upaya kesehatan masyarakat
pengembangan. Untuk melaksanakan UKM dan UKP tingkat pertama, Puskesmas
harus menyelenggarakan:
a. Manajemen (sumber daya, operasional, dan mutu);
b. Pelayanan kefarmasian;
c. Pelayanan keperawatan kesehatan masyarakat; dan
d. Pelayanan laboratorium.
Upaya kesehatan masyarakat esensial sebagaimana dimaksud meliputi:
a) Pelayanan promosi kesehatan
b) Pelayanan kesehatan lingkungan
c) Pelayanan kesehatan ibu, anak, dan keluarga berencana
Program Pendidikan Profesi Apoteker Angkatan XXXIII
15
Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker Universitas Setia Budi
di Dinas KesehatanKota, UPTD Instalasi Farmasi dan
Puskesmas Purwodiningratan Kota Surakarta 2017

d) Pelayanan gizi
e) Pelayanan pencegahan dan pengendalian penyakit.
Upaya kesehatan masyarakat esensial sebagaimana dimaksud harus
diselenggarakan oleh setiap Puskesmas untuk mendukung pencapaian standar
pelayanan minimal kabupaten/kota bidang kesehatan.
Upaya kesehatan masyarakat pengembangan sebagaimana dimaksud pada
merupakan upaya kesehatan masyarakat yang kegiatannya memerlukan upaya
yang sifatnya inovatif dan/atau bersifat ekstensifikasi dan intensifikasi pelayanan,
disesuaikan dengan prioritas masalah kesehatan, kekhususan wilayah kerja
danpotensi sumber daya yang tersedia di masing-masing Puskesmas.
Upaya kesehatan perseorangan tingkat pertama sebagaimana dimaksud
dilaksanakan dalam bentuk:
a. Rawat jalan;
b. Pelayanan gawat darurat;
c. Pelayanan satu hari (one day care);
d. Home care; dan atau
e. Rawat inap berdasarkan pertimbangan kebutuhan pelayanan kesehatan.
11. Satuan Penunjang
a) Puskesmas Pembantu
Pengertian puskesmas pembantu yaitu Unit pelayanan kesehatan yang
sederhana dan berfungsi menunjang dan membantu melaksanakan kegiatan –
kegiatan yang dilakukan puskesmas dalam ruang lingkup wilayah yang lebih
kecil
b) Puskesmas Keliling
Pengertian Puskesmas Keliling yaitu unit pelayanan kesehatan keliling
yang dilengkapi dengan kendaraan bermotor dan peralatan kesehatan, peralatan
komunikasi serta sejumlah tenaga yang berasal dari puskesmas dengan fungsi
dan tugas yaitu memberi pelayanan kesehatan daerah terpencil, melakukan
penyelidikan KLB, Transport rujukan pasien, Penyuluhan kesehatan dengan
audiovisual.
Program Pendidikan Profesi Apoteker Angkatan XXXIII
16
Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker Universitas Setia Budi
di Dinas KesehatanKota, UPTD Instalasi Farmasi dan
Puskesmas Purwodiningratan Kota Surakarta 2017

12. Pelayanan Kesehatan Menyeluruh


Pelayanan kesehatan yang diberikan di Puskemas adalah pelayanan
kesehatan yang meliputi pelayanan:
a) Pencegahan (Preventif)
Suatu usaha pencegahan yang dilakukan terutama untuk menanggulangi
masalah penyakit menular. Hal ini dilakukan dengan cara memberikan
penyuluhan – penyuluhan kesehatan pada masyarakat agar sadar arti kesehatan.
b) Pengobatan (Curatif)
Usaha pengobatan yang dilakukan oleh Puskesmas, hal ini dapat dilakukan
pemeriksaan secara berkala guna mendeteksi penyakit secara dini. Pengobatan
medis pada umumnya menggunakan 2 buah pendekatan, yaitu:
 Pendekatan Sistem Alat Tubuh
Pendekatan ini ditujukan pada organ tubuh yang terkena penyakit.
 Pendekatan Jenis Pemaparan yang Alami
Ditetapkan jenis pemaparan yang alami oleh penderita beserta kemungkinan
patologinya.
c) Peningkatan Kesehatan (Promotif)
Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan daya tahan tubuh dan keadaan
lingkungan, misalnya: perbaikan sanitasi lingkungan.
d) Pemulihan Kesehatan (Rehabilitatif)
Gunanya untuk memulihkan fugsi alat tubuh yang disebabkan oleh penyakit
atau akibat kecelakaan. Fungsi kegiatan ini adalah untuk mengidentifikasi
kasus yang membutuhkan pemulihan dan merujuknya ke rumah sakit atau
pusat rehabilitasi untuk mendapatkan petunjuk teknis.
13. Pelayanan Kefarmasian di Puskesmas
a) Pengelolaan Obat dan BMHP (Peremenkes No.30 tentang StandarPelayanan
Kefarmasian di Puskesmas). Kegiatan pengelolaan Obat dan Bahan Medis
Habis Pakai meliputi:
 Perencanaan kebutuhan Obat dan Bahan Medis Habis Pakai

Program Pendidikan Profesi Apoteker Angkatan XXXIII


17
Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker Universitas Setia Budi
di Dinas KesehatanKota, UPTD Instalasi Farmasi dan
Puskesmas Purwodiningratan Kota Surakarta 2017

Perencanaan merupakan proses kegiatan seleksi Obat dan Bahan Medis


Habis Pakai untuk menentukan jenis dan jumlah Obat dalam rangka
pemenuhan kebutuhan Puskesmas.Tujuan perencanaan adalah untuk
mendapatkan:
- Perkiraan jenis dan jumlah Obat dan Bahan Medis Habis Pakai yang
mendekati kebutuhan
- Meningkatkan penggunaan Obat secara rasional
Perencanaan kebutuhan Obat dan Bahan Medis Habis Pakai di
Puskesmas setiap periode dilaksanakan oleh Ruang Farmasi di Puskesmas.
Proses seleksi Obat dan Bahan Medis Habis Pakai dilakukan dengan
mempertimbangkan pola penyakit, pola konsumsi Obat periode sebelumnya,
data mutasi Obat, dan rencana pengembangan. Proses seleksi Obat dan
Bahan Medis Habis Pakai juga harus mengacu pada Daftar Obat Esensial
Nasional (DOEN) dan Formularium Nasional. Proses seleksi ini harus
melibatkan tenaga kesehatan yang ada di Puskesmas seperti dokter, dokter
gigi, bidan, dan perawat, serta pengelola program yang berkaitan dengan
pengobatan.
Proses perencanaan kebutuhan Obat per tahun dilakukan secara
berjenjang (bottom-up). Puskesmas diminta menyediakan data pemakaian
Obat dengan menggunakan Laporan Pemakaian dan Lembar Permintaan
Obat (LPLPO).
Selanjutnya Instalasi Farmasi Kabupaten/Kota akan melakukan
kompilasi dan analisa terhadap kebutuhan Obat Puskesmas di wilayah
kerjanya, menyesuaikan pada anggaran yang tersedia dan memperhitungkan
waktu kekosongan Obat, buffer stock, serta menghindari stok berlebih.
 Permintaan Obat dan Bahan Medis Habis Pakai
Tujuan permintaan Obat dan Bahan Medis Habis Pakai adalah
memenuhi kebutuhan Obat dan Bahan Medis Habis Pakai di Puskesmas,
sesuai dengan perencanaan kebutuhan yang telah dibuat. Permintaan

Program Pendidikan Profesi Apoteker Angkatan XXXIII


18
Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker Universitas Setia Budi
di Dinas KesehatanKota, UPTD Instalasi Farmasi dan
Puskesmas Purwodiningratan Kota Surakarta 2017

diajukan kepada Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota, sesuai dengan ketentuan


peraturan perundang-undangan dan kebijakan pemerintah daerah setempat.
 Penerimaan Obat dan Bahan Medis Habis Pakai
Penerimaan Obat dan Bahan Medis Habis Pakai adalah suatu kegiatan
dalam menerima Obat dan Bahan Medis Habis Pakai dari Instalasi Farmasi
Kabupaten/Kota sesuai dengan permintaan yang telah diajukan.
Tujuannya adalah agar Obat yang diterima sesuai dengan kebutuhan
berdasarkan permintaan yang diajukan oleh Puskesmas.
Semua petugas yang terlibat dalam kegiatan pengelolaan bertanggung
jawab atas ketertiban penyimpanan, pemindahan, pemeliharaan dan
penggunaan Obat dan Bahan Medis Habis Pakai berikut kelengkapan
catatan yang menyertainya.
Petugas penerimaan wajib melakukan pengecekan terhadap Obat dan
Bahan Medis Habis Pakai yang diserahkan, mencakup jumlah kemasan/peti,
jenis dan jumlah Obat, bentuk Obat sesuai dengan isi dokumen (LPLPO),
ditanda tangani oleh petugas penerima, dan diketahui oleh Kepala
Puskesmas. Bila tidak memenuhi syarat, maka petugas penerima dapat
mengajukan keberatan.
Masa kedaluwarsa minimal dari Obat yang diterima disesuaikan
dengan periode pengelolaan di Puskesmas ditambah satu bulan.
 Penyimpanan Obat dan Bahan Medis Habis Pakai
Penyimpanan Obat dan Bahan Medis Habis Pakai merupakan suatu
kegiatan pengaturan terhadap Obat yang diterima agar aman (tidak
hilang), terhindar dari kerusakan fisik maupun kimia dan mutunya tetap
terjamin, sesuai dengan persyaratan yang ditetapkan.
Tujuannya adalah agar mutu obat yang tersedia di puskesmas dapat
dipertahankan sesuai dengan persyaratan yang ditetapkan. Penyimpanan
Obat dan Bahan Medis Habis Pakai dengan mempertimbangkan hal-hal
sebagai berikut:
- Bentuk dan jenis sediaan
Program Pendidikan Profesi Apoteker Angkatan XXXIII
19
Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker Universitas Setia Budi
di Dinas KesehatanKota, UPTD Instalasi Farmasi dan
Puskesmas Purwodiningratan Kota Surakarta 2017

- Stabilitas (suhu, cahaya, kelembaban)


- Mudah atau tidaknya meledak/terbakar dan
- Narkotika dan psikotropika disimpan dalam lemari khusus.
 Pendistribusian Obat dan Bahan Medis Habis Pakai
Pendistribusian Obat dan Bahan Medis Habis Pakai merupakan
kegiatan pengeluaran dan penyerahan Obat dan Bahan Medis Habis
Pakai secara merata dan teratur untuk memenuhi kebutuhan sub
unit/satelit farmasi Puskesmas dan jaringannya.
Tujuannya adalah untuk memenuhi kebutuhan Obat sub unit
pelayanan kesehatan yang ada di wilayah kerja Puskesmas dengan jenis,
mutu, jumlah dan waktu yang tepat.
Sub-sub unit di Puskesmas dan jaringannya antara lain:
- Sub unit pelayanan kesehatan di dalam lingkungan Puskesmas
- Puskesmas Pembantu
- Puskesmas Keliling
- Posyandu
- Polindes.
Pendistribusian ke sub unit (ruang rawat inap, UGD, dan lain-lain)
dilakukan dengan cara pemberian Obat sesuai resep yang diterima (floor
stock), pemberian Obat per sekali minum (dispensing dosis unit) atau
kombinasi, sedangkan pendistribusian ke jaringan Puskesmas dilakukan
dengan cara penyerahan Obat sesuai dengan kebutuhan (floor stock).
 Pengendalian Obat dan Bahan Medis Habis Pakai
Pengendalian Obat dan Bahan Medis Habis Pakai adalah suatu
kegiatan untuk memastikan tercapainya sasaran yang diinginkan sesuai
dengan strategi dan program yang telah ditetapkan sehingga tidak terjadi
kelebihan dan kekurangan/kekosongan Obat di unit pelayanan kesehatan
dasar. Tujuannya adalah agar tidak terjadi kelebihan dan kekosongan
Obat di unit pelayanan kesehatan dasar.
Pengendalian Obat terdiri dari:
Program Pendidikan Profesi Apoteker Angkatan XXXIII
20
Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker Universitas Setia Budi
di Dinas KesehatanKota, UPTD Instalasi Farmasi dan
Puskesmas Purwodiningratan Kota Surakarta 2017

- Pengendalian persediaan
- Pengendalian penggunaan
- Penanganan Obat hilang, rusak, dan kadaluwarsa.
 Pencatatan, pelaporan dan pengarsipan
Pencatatan, pelaporan, dan pengarsipan merupakan rangkaian
kegiatan dalam rangka penatalaksanaan Obat dan Bahan Medis Habis
Pakai secara tertib, baik Obat dan Bahan Medis Habis Pakai yang
diterima, disimpan, didistribusikan dan digunakan di Puskesmas atau unit
pelayanan lainnya. Tujuan pencatatan, pelaporan dan pengarsipan adalah:
- Bukti bahwa pengelolaan Obat dan Bahan Medis Habis Pakai telah
dilakukan
- Sumber data untuk melakukan pengaturan dan pengendalian
- Sumber data untuk pembuatan laporan
 Pemantauan dan evaluasi pengelolaan Obat dan Bahan Medis Habis
Pakai Pemantauan dan evaluasi pengelolaan Obat dan Bahan Medis
Habis Pakai dilakukan secara periodik dengan tujuan untuk:
- Mengendalikan dan menghindari terjadinya kesalahan dalam
pengelolaan Obat dan Bahan Medis Habis Pakai sehingga dapat
menjaga kualitas maupun pemerataan pelayanan
- Memperbaiki secara terus-menerus pengelolaan Obat dan Bahan
Medis Habis Pakai
- Memberikan penilaian terhadap capaian kinerja pengelolaan.
b) Pelayanan farmasi Klinik (Permenkes No.30 tahun 2014 tentang Standar
Pelayanan Kefarmasian di Puskesmas). Pelayanan farmasi klinik merupakan
bagian dari Pelayanan Kefarmasian yang langsung dan bertanggung jawab
kepada pasien berkaitan dengan Obat dan Bahan Medis Habis Pakai dengan
maksud mencapai hasil yang pasti untuk meningkatkan mutu kehidupan pasien.
Pelayanan farmasi klinik bertujuan untuk:
 Meningkatkan mutu dan memperluas cakupan Pelayanan Kefarmasian di
Puskesmas.
Program Pendidikan Profesi Apoteker Angkatan XXXIII
21
Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker Universitas Setia Budi
di Dinas KesehatanKota, UPTD Instalasi Farmasi dan
Puskesmas Purwodiningratan Kota Surakarta 2017

 Memberikan Pelayanan Kefarmasian yang dapat menjamin efektivitas,


keamanan dan efisiensi Obat dan Bahan Medis Habis Pakai.
 Meningkatkan kerjasama dengan profesi kesehatan lain dan kepatuhan
pasien yang terkait dalam Pelayanan Kefarmasian.
 Melaksanakan kebijakan Obat di Puskesmas dalam rangka meningkatkan
penggunaan Obat secara rasional.
Pelayanan farmasi klinik meliputi:
 Pengkajian Resep dan Penyerahan Obat
Kegiatan pengkajian resep dimulai dari seleksi persyaratan administrasi,
persyaratan farmasetik dan persyaratan klinis baik untuk pasien rawat inap
maupun rawat jalan.
Persyaratan administrasi meliputi:
- Nama, umur, jenis kelamin dan berat badan pasien
- Nama, dan paraf dokter
- Tanggal resep
- Ruangan/unit asal resep.
Persyaratan farmasetik meliputi:
- Bentuk dan kekuatan sediaan
- Dosis dan jumlah Obat
- Stabilitas dan ketersediaan
- Aturan dan cara penggunaan
- Inkompatibilitas (ketidakcampuran Obat)
Persyaratan klinis:
- Ketepatan indikasi, dosis dan waktu penggunaan Obat
- Duplikasi pengobatan
- Alergi, interaksi dan efek samping Obat
- Kontra indikasi
- Efek adiktif
Kegiatan Penyerahan (Dispensing) dan Pemberian Informasi Obat
merupakan kegiatan pelayanan yang dimulai dari tahap menyiapkan atau
Program Pendidikan Profesi Apoteker Angkatan XXXIII
22
Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker Universitas Setia Budi
di Dinas KesehatanKota, UPTD Instalasi Farmasi dan
Puskesmas Purwodiningratan Kota Surakarta 2017

meracik Obat, memberikan label/etiket, menyerahan sediaan farmasi dengan


informasi yang memadai disertai pendokumentasian. Tujuan:
- Pasien memperoleh Obat sesuai dengan kebutuhan klinis/pengobatan
- Pasien memahami tujuan pengobatan dan mematuhi intruksi pengobatan
 Pelayanan Informasi Obat (PIO)
Merupakan kegiatan pelayanan yang dilakukan oleh Apoteker untuk
memberikan informasi secara akurat, jelas dan terkini kepada dokter,
apoteker, perawat, profesi kesehatan lainnya dan pasien.Tujuan:
- Menyediakan informasi mengenai Obat kepada tenaga kesehatan lain di
lingkungan Puskesmas, pasien dan masyarakat.
- Menyediakan informasi untuk membuat kebijakan yang berhubungan
dengan Obat (contoh: kebijakan permintaan Obat oleh jaringan dengan
mempertimbangkan stabilitas, harus memiliki alat penyimpanan yang
memadai).
- Menunjang penggunaan Obat yang rasional
Kegiatan:
- Memberikan dan menyebarkan informasi kepada konsumen secara pro
aktif dan pasif.
- Menjawab pertanyaan dari pasien maupun tenaga kesehatan melalui
telepon, surat atau tatap muka.
- Membuat buletin, leaflet, label Obat, poster, majalah dinding dan lain-
lain.
- Melakukan kegiatan penyuluhan bagi pasien rawat jalan dan rawat inap,
serta masyarakat.
- Melakukan pendidikan dan/atau pelatihan bagi tenaga kefarmasian dan
tenaga kesehatan lainnya terkait dengan Obat dan Bahan Medis Habis
Pakai.
- Mengoordinasikan penelitian terkait Obat dan kegiatan Pelayanan
Kefarmasian.
Faktor-faktor yang perlu diperhatikan:
Program Pendidikan Profesi Apoteker Angkatan XXXIII
23
Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker Universitas Setia Budi
di Dinas KesehatanKota, UPTD Instalasi Farmasi dan
Puskesmas Purwodiningratan Kota Surakarta 2017

- Sumber informasi obat


- Tempat
- Tenaga
- perlengkapan
 Konseling
Merupakan suatu proses untuk mengidentifikasi dan penyelesaian
masalah pasien yang berkaitan dengan penggunaan Obat pasien rawat jalan
dan rawat inap, serta keluarga pasien.
Tujuan dilakukannya konseling adalah memberikan pemahaman yang
benar mengenai Obat kepada pasien/keluarga pasien antara lain tujuan
pengobatan, jadwal pengobatan, cara dan lama penggunaan Obat, efek
samping, tanda-tanda toksisitas, cara penyimpanan dan penggunaan
Obat.Kegiatan:
- Membuka komunikasi antara apoteker dengan pasien.
- Menanyakan hal-hal yang menyangkut Obat yang dikatakan oleh dokter
kepada pasien dengan metode pertanyaan terbuka (open-ended question),
misalnya apa yang dikatakan dokter mengenai Obat, bagaimana cara
pemakaian, apa efek yang diharapkan dari Obat tersebut, dan lain-lain.
- Memperagakan dan menjelaskan mengenai cara penggunaan obat
- Verifikasi akhir, yaitu mengecek pemahaman pasien, mengidentifikasi
dan menyelesaikan masalah yang berhubungan dengan cara penggunaan
Obat untuk mengoptimalkan tujuan terapi.

Program Pendidikan Profesi Apoteker Angkatan XXXIII


24
Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker Universitas Setia Budi
di Dinas KesehatanKota, UPTD Instalasi Farmasi dan
Puskesmas Purwodiningratan Kota Surakarta 2017

BAB III
TINJAUAN TEMPAT
PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER

A. Dinas Kesehatan Kota Surakarta


Dinas Kesehatan Surakarta terletak di Jalan Jendral Sudirman No. 2
Surakarta. Dinas Kesehatan Surakarta mempunyai visi dan misi dalam
melaksanakan tugasnya.
1. Visi dan Misi Dinas Kesehatan Kota Surakarta
a. Visi Dinas Kesehatan Kota Surakarta
Terwujudnya masyarakat Surakarta yang sehat, mandiri dan berbudaya
b. Misi Dinas Kesehatan Kota Surakarta
1) Mengoptimalkan pelayanan kesehatan yang paripurna.
2) Meningkatkan kualitas sumber daya kesehatan.
3) Meningkatkan sistem kewaspadaan dini penanggulangan penyakit.
4) Memantapkan manajemen kesehatan yang efektif, efisien dan akuntabel.
5) Meningkatkan upaya promotif preventif untuk mewujudkan budaya hidup
bersih dan sehat serta kemandirian masyarakat.
6) Menggerakkan kemitraan dan peran serta masyarakat di bidang kesehatan.
2. Tujuan Dinas Kesehatan Kota Surakarta
Guna mewujudkan Misi tersebut, terdapat Tujuan yang akan dicapai oleh
Dinas Kesehatan Kota Surakarta, yaitu :
a. Meningkatnya derajat kesehatan ibu, anak, remaja dan lansia.
b. Menurunnya angka kesakitan dan kematian penyakit menular dan penyakit
tidak menular.
c. Meningkatnya pengawasan dan pembinaan kesehatan lingkungan.
d. Meningkatnya status gizi masyarakat.
e. Tersedianya sumber daya kesehatan yang berkualitas untuk mewujudkan
pelayanan sesuai standar.
f. Meningkatnya kemandirian masyarakat di bidang kesehatan.

Program Pendidikan Profesi Apoteker Angkatan XXXIII


25
Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker Universitas Setia Budi
di Dinas KesehatanKota, UPTD Instalasi Farmasi dan
Puskesmas Purwodiningratan Kota Surakarta 2017

g. Meningkatnya budaya hidup bersih dan sehat.


h. Meningkatnya kemitraan dan peran serta masyarakat di bidang kesehatan.
i. Berkembangnya sistem informasi kesehatan yang efektif.
j. Optimalnya fungsi regulasi Dinas Kesehatan.
3. Strategi
Guna tercapainya tujuan yang telah ditetapkan tersebut maka diperlukan
strategi sebagai berikut :
a. Mengembangkan dan meningkatkan kemitraan dengan masyarakat, lintas
sektor, institusi pendidikan kesehatan, sarana kesehatan, organisasi profesi dan
dunia usaha dalam rangka sinergisme, koordinasi diantara pelaku
pembangunan guna mendorong pembangunan berwawasan kesehatan.
b. Mewujudkan komitmen Pembangunan berwawasan kesehatan, melalui
peningkatan advokasi kesehatan kepada stake holder.
c. Mendorong pemerataan, jangkauan, dan mutu pelayanan kesehatan secara
menyeluruh, terpadu dan berkesinambungan sesuai standar pelayanan minimal.
d. Memantapkan kebijakan dan manajemen pembangunan kesehatan di semua
jenjang administrasi melalui pengembangan kebijakan, sistem informasi,
keterpaduan dalam perencanaan, penatalaksanaan dan evaluasi serta
memanfaatkan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam
menanggulangi masalah kesehatan.
e. Mengoptimalkan sumber daya kesehatan yang ada melalui peningkatan
kompetensi dan profesionalisme SDM kesehatan.
4. Fungsi Dinas Kesehatan Kota Surakarta
Fungsi Dinas Kesehatan Kota Surakarta berdasarkan Peraturan Walikota
Surakarta No.12 Tahun 2008 tentang Penjabaran Tugas Pokok, Fungsi dan Tata
kerja Dinas Kesehatan Kota Surakarta antara lain:
a. Penyelenggaraan kesekretariatan dinas.
b. Penyusunan rencana program, pengendalian, evaluasi dan pelaporan.
c. Penyelenggaraan promosi kesehatan.
d. Pengendalian penyakit dan penyehatan lingkungan.
Program Pendidikan Profesi Apoteker Angkatan XXXIII
26
Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker Universitas Setia Budi
di Dinas KesehatanKota, UPTD Instalasi Farmasi dan
Puskesmas Purwodiningratan Kota Surakarta 2017

e. Penyelenggaraan upaya kesehatan.


f. Penyelenggaraan bina kesehatan.
g. Penyelenggaraan dan pembinaan teknis rumah sakit dan kesehatan khusus.
h. Pengawasan dan pengendalian kefarmasian, makanan, minuman, dan obat
tradisional.
i. Penyelenggaraan registrasi, akreditasi, dan ijin praktek.
j. Pencegahan dan pemberantasan penyakit.
k. Peningkatan kesehatan masyarakat dan lingkungan.
l. Peningkatan kesehatan ibu dan anak.
m. Pembinaan kesehatan remaja dan usia lanjut.
n. Penyelenggaraan sosialisasi.
o. Pembinaan jabatan fungsional.
p. Pengelolaan Unit Pelaksana Teknis Dinas (UPTD).
5. Tugas Pokok Dinas Kesehatan Kota Surakarta
Tugas pokok Dinas Kesehatan Kota Surakarta adalah menyelenggarakan
urusan pemerintah daerah bidang kesehatan berdasarkan asas otonomi daerah dan
tugas pembantuan. Berikut akan diuraikan tugas pokok pegawai Dinas Kesehatan
Kota Surakarta yakni:
a. Kepala Dinas
Tugas Pokok: Memimpin pelaksanaan tugas pokok dan fungsi Dinas
Kesehatan Kota Surakarta yang telah ditetapkan.
b. Sekretariat
Tugas Pokok: Melaksanakan penyiapan perumusan kebijakan teknis,
pembinaan, pengkoordinasian penyelenggaraan tugas secara terpadu,
pelayanan administrasi, dan pelaksanaan di bidang perencanaan, evaluasi dan
pelaporan, keuangan, umum dan kepegawaian. Sekretariat membawahkan
berikut ini:
1) Subbagian Perencanaan, Evaluasi, dan pelaporan
Tugas Pokok: Melakukan penyiapan bahan perumusan kebijakan teknis,
pembinaan, pengorganisasian penyelenggaraan tugas secara terpadu,
Program Pendidikan Profesi Apoteker Angkatan XXXIII
27
Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker Universitas Setia Budi
di Dinas KesehatanKota, UPTD Instalasi Farmasi dan
Puskesmas Purwodiningratan Kota Surakarta 2017

pelayanan administrasi, dan pelaksanaan di bidang perencanaan, evaluasi


dan pelaporan meliputi; koordinasi perencanaan, pemantauan, evaluasi dan
pelaporan di lingkungan dinas.
2) Subbagian Keuangan
Tugas Pokok: Melakukan penyiapan bahan perumusan kebijakan teknis,
pembinaan, pengkoordinasian penyelenggaraan tugas secara terpadu,
pelayanan administrasi, verifikasi, pembukuan dan akuntansi di lingkungan
dinas.
3) Subbagian Umum dan Kepegawaian
Tugas Pokok: Melakukan penyiapan bahan perumusan kebijakan teknis,
pembinaan, pengkoordinasian penyelenggaraan tugas secara terpadu,
pelayanan administrasi, dan pelaksanaan di bidang umum dan kepegawaian,
meliputi; pengelolaan administrasi kepegawaian, hukum, humas, organisasi
dan tatalaksana, ketatausahaan, rumah tangga dan perlengkapan di
lingkungan dinas.
c. Bidang Promosi Kesehatan
Tugas Pokok: Melaksanakan penyiapan perumusan kebijakan teknis,
pembinaan dan pelaksanaan di bidang pemberdayaan masyarakat dan
kemitraan, manajemen informasi kesehatan, dan pengembangan promosi
kesehatan. Bidang Promosi Kesehatan membawahkan berikut ini:
1) Seksi Pemberdayaan Masyarakat dan Kemitraan
Tugas Pokok: Melaksanakan penyiapan perumusan kebijakan teknis,
pembinaan dan pelaksanaan di bidang pemberdayaan masyarakat dan
kemitraan, meliputi; menggerakkan peningkatan peran serta masyarakat,
organisasi sosial, organisasi profesi, institusi pendidikan dan dunia usaha
serta memacu tumbuhnya upaya kesehatan bersumber daya masyarakat.
2) Seksi Manajemen Informasi Kesehatan
Tugas Pokok: Melaksanakan penyiapan perumusan kebijakan teknis,
pembinaan dan pelaksanaan di bidang manajemen informasi kesehatan
meliputi: pengembangan sistem informasi kesehatan dan kehumasan.
Program Pendidikan Profesi Apoteker Angkatan XXXIII
28
Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker Universitas Setia Budi
di Dinas KesehatanKota, UPTD Instalasi Farmasi dan
Puskesmas Purwodiningratan Kota Surakarta 2017

3) Seksi Pengembangan Promosi Kesehatan


Tugas Pokok: Melaksanakan penyiapan perumusan kebijakan teknis,
pembinaan dan pelaksanaan di bidang pengembangan promosi kesehatan,
meliputi pemberian fasilitas dan mengembangkan kegiatan advokasi,
promosi kesehatan demi terwujudnya perilaku hidup bersih dan sehat di
masyarakat.
d. Bidang Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan
Tugas Pokok: Melaksanakan penyiapan perumusan kebijakan teknis,
pembinaan dan pelaksanaan di bidang pencegahan penyakit dan
penanggulangan KLB, pengendalian penyakit dan penyehatan lingkungan.
Bidang Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan membawahkan
berikut ini:
1) Seksi Pencegahan Penyakit dan Penanggulangan Kejadian Luar Biasa
Tugas Pokok: Melaksanakan penyiapan perumusan kebijakan teknis,
pembinaan dan pelaksanaan di bidang pencegahan penyakit dan xxxvi
penanggulangan kejadian luar biasa, meliputi; penyelenggaraan survailans
epidemiologi penyakit menular dan tidak menular, penyelidikan
epidemiologi kejadian luar biasa.
2) Seksi Pengendalian Penyakit
Tugas Pokok: Melaksanakan penyiapan perumusan kebijakan teknis,
pembinaan dan pelaksanaan di bidang pengendalian penyakit, meliputi;
penyelenggaraan upaya pengendalian penyakit menular, upaya pencegahan
dan penanggulangan penyakit tidak menular.
3) Seksi Penyehatan Lingkungan
Tugas Pokok: Melaksanakan penyiapan perumusan kebijakan teknis,
pembinaan dan pelaksanaan di bidang penyehatan lingkungan meliputi;
penyelenggaraan pembinaan, pengawasan, penyehatan lingkungan
pemukiman, tempat-tempat umum, industri, penyehatan tempat pengolahan
makanan minuman, tempat-tempat pengolahan pestisida dan pengawasan
kualitas air minum dan air bersih.
Program Pendidikan Profesi Apoteker Angkatan XXXIII
29
Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker Universitas Setia Budi
di Dinas KesehatanKota, UPTD Instalasi Farmasi dan
Puskesmas Purwodiningratan Kota Surakarta 2017

e. Bidang Upaya Kesehatan


Tugas Pokok: Melaksanakan penyiapan perumusan kebijakan teknis,
pembinaan dan pelaksanaan di bidang pelayanan kesehatan, kefarmasian,
makanan, minuman dan perbekalan kesehatan, dan akreditasi dan registrasi.
Bidang Upaya Kesehatan membawahkan berikut ini:
1) Seksi Pelayanan Kesehatan
Tugas Pokok: Melaksanakan penyiapan perumusan kebijakan teknis,
pembinaan dan pelaksanaan di bidang pelayanan kesehatan meliputi;
penyelenggaraan pembinaan, pengawasan, pengembangan sarana/fasilitas
pelayanan kesehatan dasar dan rujukan, penunjang medik dan medik
spesifik, mengembangkan dan memantapkan norma dan standard pedoman
pelayanan kesehatan serta mengembangkan dan memantapkan pelayanan
penanggulangan kegawatdaruratan kesehatan.
2) Seksi Kefarmasian, Makanan, Minuman dan Perbekalan Kesehatan
Tugas Pokok: Melaksanakan penyiapan perumusan kebijakan teknis,
pembinaan dan pelaksanaan di bidang farmasi, makanan,minuman dan
perbekalan kesehatan meliputi; pelaksanaan pembinaan mutu keamanan
obat, sediaan farmasi, makanan, minuman dan perbekalan kesehatan.
3) Seksi Akreditasi dan Registrasi
Tugas Pokok: Melaksanakan penyiapan perumusan kebijakan teknis,
pembinaan dan pelaksanaan di bidang akreditasi dan registrasi meliputi;
pelaksanaan proses penerbitan dan penerbitan perijinan, kelayaan,
pengawasan dan akreditasi terhadap upaya penyelenggaraan sarana
pelayanan kesehatan (medik dan penunjang medik) dan tenaga kesehatan,
usaha farmasi, industri rumah tangga pangan dan usaha lain di bidang
kesehatan serta pemberian rekomendasi perijinan rumah sakit.
f. Bidang Bina Kesehatan Masyarakat
Tugas Pokok: Melaksanakan penyiapan perumusan kebijakan teknis,
pembinaan dan pelaksanaan di bidang kesehatan ibu, anak dan keluarga

Program Pendidikan Profesi Apoteker Angkatan XXXIII


30
Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker Universitas Setia Budi
di Dinas KesehatanKota, UPTD Instalasi Farmasi dan
Puskesmas Purwodiningratan Kota Surakarta 2017

berencana, perbaikan gizi masyarakat, dan kesehatan remaja dan lansia. Bidang
Bina Kesehatan Masyarakat membawahkan berikut ini:
1) Seksi Kesehatan Ibu, Anak dan KB
Tugas Pokok: Melaksanakan penyiapan perumusan kebijakan teknis,
pembinaan dan pelaksanaan di bidang kesehatan ibu, anak dan KB,
meliputi; penyelenggaraan pembinaan, bimbingan dan pengendalian upaya
pelayanan kesehatan ibu, anak dan keluarga berencana.
2) Seksi Perbaikan Gizi Masyarakat
Tugas Pokok: Melaksanakan penyiapan perumusan kebijakan teknis,
pembinaan dan pelaksanaan di bidang perbaikan gizi masyarakat, meliputi;
penyelenggaraan upaya perbaikan gizi keluarga, masyarakat, dan institusi.
3) Seksi Kesehatan Remaja dan Lansia
Tugas Pokok: Melaksanakan penyiapan perumusan kebijakan teknis,
pembinaan dan pelaksanaan di bidang, kesehatan remaja dan lansia
meliputi: penyelenggaraan pembinaan, bimbingan dan pengendalian upaya
kesehatan remaja, kesehatan usia lanjut dan usaha kesehatan sekolah.
g. Kelompok Jabatan Fungsional
Kelompok jabatan fungsional mempunyai tugas sesuai dengan jabatan masing-
masing berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
6. Susunan Organisasi Dinas Kesehatan Kota Surakarta
Susunan organisasi Dinas Kesehatan Kota Surakarta terdiri dari:
a. Kepala.
b. Sekretariat, membawahkan:
1) Subbagian Perencanaan, Evaluasi dan Pelaporan.
2) Subbagian Keuangan
3) Subbagian Umum dan Kepegawaian.
c. Bidang Promosi Kesehatan, membawahkan:
1) Seksi Pemberdayaan Masyarakat dan Kemitraan.
2) Seksi Manajemen Informatika Kesehatan.
3) Seksi Pengembangan Promosi Kesehatan.
Program Pendidikan Profesi Apoteker Angkatan XXXIII
31
Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker Universitas Setia Budi
di Dinas KesehatanKota, UPTD Instalasi Farmasi dan
Puskesmas Purwodiningratan Kota Surakarta 2017

d. Bidang Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan,


membawahkan:
1) Seksi Pencegahan Penyakit dan Penanggulangan KLB
2) Seksi Pengendalian Penyakit
3) Seksi Penyehatan Lingkungan.
e. Bidang Upaya Kesehatan, Membawahkan:
1) Seksi Pelayanan Kesehatan
2) Seksi Kefarmasian, Makanan, Minuman dan Perbekalan Kesehatan
3) Seksi Akreditasi dan Registrasi.
f. Bidang Bina Kesehatan Masyarakat, membawahkan:
1) Seksi Kesehatan Ibu, Anak dan KB
2) Seksi Perbaikan Gizi Masyarakat
3) Seksi Kesehatan Remaja dan Lansia.
g. Unit Pelaksana Teknis Dinas (UPTD)
UPTD-UPTD Dinas Kesehatan Kota Surakarta antara lain:
1) UPTD Puskesmas
2) UPTD PKMS
3) UPTD Instalasi Farmasi
4) UPTD Laboratorium
h. Kelompok Jabatan Fungsional.

B. UPTD Instalasi Farmasi Kota Surakarta


Unit Pelaksana Teknis Dinas (UPTD) Instalasi Farmasi Kota Surakarta
bertempat di Jl. Tentara Pelajar Kandangsapi RT 1 RW 35, Kelurahan Jebres,
Kecamatan Jebres, Kota Surakarta. Sebelum adanya otonomi daerah namanya
adalah Gudang Farmasi Kota Surakarta.
1. Visi dan Misi Instalasi Farmasi Kota Surakarta
a. Visi Instalasi Farmasi Kota Surakarta
Kecukupan sediaan farmasi dalam pengobatan rasional untuk mencapai Solo
Sehat

Program Pendidikan Profesi Apoteker Angkatan XXXIII


32
Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker Universitas Setia Budi
di Dinas KesehatanKota, UPTD Instalasi Farmasi dan
Puskesmas Purwodiningratan Kota Surakarta 2017

b. Misi Instalasi Farmasi Kota Surakarta


Memberikan pelayanan prima dengan tersedianya sumber daya manusia yang
berkualitas didukung informasi data sediaan farmasi yang akurat sehingga
kebutuhan obat, alkes dan reagensia terpenuhi dalam mencapai pengobatan
rasional.
2. Organisasi Instalasi Farmasi
Unit Pelaksana Teknis Dinas (UPTD) Instalasi Farmasi dipimpin oleh
seorang Kepala Instalasi Farmasi yang berada di bawah Kepala Dinas Kesehatan
dan bertanggung jawab kepada Kepala Dinas Kesehatan Kota Surakarta.Tugas
Kepala Instalasi Farmasi adalah:
a. Menyusun rencana kerja UPTD Instalasi Farmasi berdasarkan rencana strategis
Dinas
b. Memberi petunjuk, arahan dan mendistribusikan tugas kepada bawahan
c. Mempelajari, menelaah peraturan perundang-undangan, keputusan, petunjuk
pelaksanaan dan petunjuk teknis program kegiatan Dinas sesuai dengan bidang
tugas
d. Menyusun kebijakan teknis penyelenggaraan Instalasi Farmasi
e. Melaksanakan pengelolaan ketatausahaan Instalasi Farmasi
f. Melaksanakan monitoring, evaluasi dan pelaporan untuk pengendalian
pelaksanaan strategis dan rencana kerja UPTD Instalasi Farmasi
g. Melaksanakan evaluasi dan analisis kerja guna pengembangan rencana
strategis dan rencana kerja UPTD Instalasi Farmasi
h. Melaksanakan penerimaan, penyimpanan, pendistribusian dan penjagaan mutu
obat, sediaan farmasi dan perbekalan kesehatan lainnya
i. Melaksanakan pengamatan, pengawasan dan pemeriksaan mutu obat, sediaan
farmasi dan perbekalan kesehatan lainnya yang ada di Instalasi Farmasi
j. Melakukanpencatatan dan pelaporan mengenai ketersediaan dan penggunaan
obat, sediaan farmasi dan perbekalan kesehatan di Instalasi Farmasi

Program Pendidikan Profesi Apoteker Angkatan XXXIII


33
Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker Universitas Setia Budi
di Dinas KesehatanKota, UPTD Instalasi Farmasi dan
Puskesmas Purwodiningratan Kota Surakarta 2017

k. Melaksanakan monitoring dan evaluasi, pengolahan data dan pelaporan


ketersediaan dan penggunaanobat, sediaan farmasi dan perbekalan kesehatan di
lingkungan Dinas Kesehatan.
l. Melaksanakan pemusnahan dan penghapusan obat, sediaan farmasi dan
perbekalan kesehatan lainnya yang sudah tidak memenuhi standar sesuai
ketentuan yang berlaku
m. Melaksanakan penyusunan indikator dan pengukuran kinerja penyelenggaraan
Instalasi Farmasi
n. Menyusun laporan hasil pelaksanaan rencana strategis, rencana kerja, LAKIP,
LKPJ, LPPD dan EKPPD UPTD Instalasi Farmasi
o. Melaksanakan sosialisasi pelayanan Instalasi Farmasi
p. Memeriksa dan menilai hasil kerja bawahan secara periodik
q. Memberikan usul dan saran kepada atasan
r. Melaporkan hasil pelaksanaan tugas kepada atasan sebagai
pertanggungjawaban pelaksanaan tugas
s. Melaksanakan tugas lain yang diberikan atasan.
3. Pengelolaan Obat Di Instalasi Farmasi Kota Surakarta
a. Perencanaan
Obat-obat yang diterima oleh Instalasi Farmasi adalah hasil perencanaan
yang dikerjakan oleh tim perencana obat Dinas Kesehatan Kota Surakarta
yangterdiri dari :
1) Tim Perencana Tingkat Puskesmas
Tim Perencana Tingkat Puskesmas terdiri dari perwakilan 17 Puskesmas,
LaboratoriumKesehatan dan Instalasi Farmasi. Bertugas merencanakan kebutuhan
obat, alat kesehatan habis pakai, obat gigi dan reagen. Hasil dari Tim Perencana
Tingkat Puskesmas diserahkan kepada Tim Perencana Tingkat Kota.
2) Tim Perencana Tingkat Kota
Tim Perencana Tingkat Kota terdiri dari perwakilan Bidang di Dinas
Kesehatan, Puskesmas, Laboratorium Kesehatan dan Instalasi Farmasi.Banyaknya

Program Pendidikan Profesi Apoteker Angkatan XXXIII


34
Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker Universitas Setia Budi
di Dinas KesehatanKota, UPTD Instalasi Farmasi dan
Puskesmas Purwodiningratan Kota Surakarta 2017

bagian-bagian yang terlibat dalam perencanaan obat adalah agar kebutuhan tiap
unit pelayanan dapat terpenuhi. Dasar pertimbangan pemilihan obat :
a) Obat dipilih berdasarkan efek terapi lebih baik dibandingkan risiko Efek
samping
b) Jenis obat yang dipilih seminimal mungkin
c) Menghindari penggunaan obat kombinasi
d) Memiliki rasio manfaat/ biaya yang paling menguntungkan
b. Pengadaan
Tujuan pengadaan yaitu tersedianya obat dengan jenis dan jumlah yang
cukup sesuai dengan kebutuhan dengan mutu terjamin serta dapat diperoleh pada
saat diperlukan.
Persiapan pengadaan meliputi :
1) Pemilihan metoda pengadaan
2) Kriteria /persyaratan pemasok
3) Rencana Kebutuhan Obat
4) Penentuan waktu pengadaan
5) Penerimaan dan pemeriksaan obat
Pemilihan metode pengadaan mulai tahun 2013 berdasarkan e-katalog. Obat
di luar e-katalog dengan pelelangan atau cara lain sesuai Perpres 54/2010 dan
perubahannya. Pengadaan Barang/Jasa dalam Katalog Elektronik melalui E-
Purchasing.Katalog elektronik atau E-Catalogue adalah sistem informasi
elektronik yang memuat daftar, jenis, spesifikasi teknis dan harga barang tertentu
dari berbagai Penyedia Barang/Jasa Pemerintah. E-Purchasing adalah tata cara
pembelian Barang/Jasa melalui sistem katalog elektronik (Peraturan Presiden
Republik Indonesia Nomor 4 Tahun 2015 Tentang Perubahan keempat atas
Peraturan Presiden Nomor 54 Tahun 2010 Tentang Pengadaan Barang/Jasa).
c. Penerimaan
Penerimaan adalah suatu kegiatan menerima obat dari pemasok ke UPTD
Instalasi Farmasi dalam rangka memenuhi pesanan atau permintaan obat.
Tujuannya supaya obat yang diterima baik jenis dan jumlahnya sesuai dengan
Program Pendidikan Profesi Apoteker Angkatan XXXIII
35
Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker Universitas Setia Budi
di Dinas KesehatanKota, UPTD Instalasi Farmasi dan
Puskesmas Purwodiningratan Kota Surakarta 2017

dokumen yang menyertainya. Beberapa tahapan yang dilakukan pada saat proses
penerimaan, yaitu :
1) Mempersiapkan Ruangan untuk penerimaan obat
2) Menerima obat yang dibawa oleh pengirim obat
3) Mengecek kesesuaian obat dengan dokumen (jenis, jumlah, mutu obat)
4) Melakukan serah terima obat disertai tanda terima.
Tata cara penerimaan obat berdasarkan sumber dana, sebelum pengiriman,
PBF korfirmasi dulu kesiapan Instalasi Farmasi untuk menerima obat, penerimaan
obat oleh panitia penerima, pemeriksaan obat disesuaikan dengan adanya
dokumen yang jelas dan diperiksa kelengkapannya. Kelengkapan dokumen
meliputi nama pabrik, penandaan, waktu kadaluwarsa, nomor batch, bentuk
sediaan dan jumlah. Obat yang tidak sesuai dengan persyaratan akan
dikembalikan untuk diganti dengan yang memenuhi syarat.
d. Penyimpanan
Penyimpanan adalah suatu kegiatan pengamanan dengan cara menempatkan
obat-obatan yang diterima pada tempat yang dinilai aman. Tujuan penyimpanan
adalah untuk memelihara mutu obat, menghindari penggunaan yang tidak
bertanggung jawab, menjaga kelangsungan persediaan, serta memudahkan
pencarian.
Obat di Instalasi Farmasi dikelompokkan berdasarkan sumber dana yaitu
dari APBN, APBD Provinsi, APBD Kota, serta disusun secara alfabetis mengikuti
sistem FIFO (first in first out) dan FEFO (first expiry fist out).Obat di Instalasi
Farmasi disimpan pada kondisi cukup sinar, cukup sirkulasi udara, tidak lembab
dan aman. Obat tersebut ditempatkan di rak dan/atau palet dengan jarak tembok
dan rak +0,2 meter, kulkas untuk vaksin dan reagen, almarikhususuntukobat
narkotika. Setiap item obat dilengkapi kartu stok/steling untuk mencatat setiap
mutasi.
Langkah- langkah yang dilakukan pada tahap penyimpanan:
1) Petugas menyiapkan rak / lemari tempat penyimpanan obat

Program Pendidikan Profesi Apoteker Angkatan XXXIII


36
Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker Universitas Setia Budi
di Dinas KesehatanKota, UPTD Instalasi Farmasi dan
Puskesmas Purwodiningratan Kota Surakarta 2017

2) Petugas menyimpan obat sesuai dengan aturan yang ada (alfabetis, FEFO,
FIFO, dan jenis sediaan)
3) Petugas memastikan obat tersimpan dengan baik
4) Petugas meletakkan kartu stok sesuai dengan nama obat
5) Petugas melakukan pengecekan obat rusak / kadaluwarsa
6) Petugas memeriksa kondisi ruangan dan kondisi penataan obat setiap hari
7) Petugas melakukan penataan ulang obat setiap sebulan sekali
e. Distribusi
Distribusi adalah suatu rangkaian kegiatan dalam rangka pengeluaran dan
pengiriman obat-obatan dari Instalasi Farmasi untuk memenuhi permintaan unit-
unit pelayanan kesehatan. Tujuannya adalah terlaksananya penyebaran obat secara
merata dan teratur dan dapat diperoleh pada saat dibutuhkan serta terjaminnya
mutu, ketepatan, kerasionalan dan efisiensi penggunaan.
Kegiatan distribusi yang dilakukan meliputi Distribusi rutin, mencakup
distribusi untuk kebutuhan pelayanan umum di unit pelayanan kesehatan.
Distribusi khusus, mencakup distribusi obat untuk:
- Program kesehatan
- PejadianLuarBiasa (KLB)
- Bencana
Pendistribusian obat untuk 17 Puskesmas dilaksanakan satu bulan sekali.
Apabila dalam keadaan KLB (Kejadian Luar Biasa), Puskesmas dapat
mengajukan permintaan tambahan. Alur pendistribusian obat antara lain :
1) LPLPO (Laporan Pemakaian dan Lembar Permintaan Obat) diserahkan ke Instalasi
Farmasi sebelum tanggal 5 tiap bulan
2) LPLPO diteliti kelengkapannya
3) Dialokasikan pemberian obat, sesuai dengan sumber dananya
4) LPLPO ditandatangani Kepala UPTD Instalasi Farmasi
5) LPLPO diserahkan ke Dinas Kesehatan untuk mendapatkan persetujuan Kepala Dinas
Kesehatan

Program Pendidikan Profesi Apoteker Angkatan XXXIII


37
Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker Universitas Setia Budi
di Dinas KesehatanKota, UPTD Instalasi Farmasi dan
Puskesmas Purwodiningratan Kota Surakarta 2017

6) Setelah ditandatangani Kepala Dinas Kesehatan, permintaan dilayani sesuai dengan


nomor urut
7) Bilaobat sudah siap, Puskesmas yang bersangkutan dihubungi untuk mengambil obat
8) Pada waktu pengambilan, obat diperiksa oleh petugas Instalasi Farmasi bersama
dengan petugas Puskesmas
9) Serah terima obat dari Instalasi Farmasi kepada Puskesmas.

Setiap item obat dilengkapi kartu stok/steling untuk mencatat setiap mutasi. Pada
akhir bulan dilakukan stock opname untuk mencocokkan jumlah obat di kartu steling
dengan jumlah fisik obat.
f. Pencatatan dan Pelaporan
Pencatatan dan pelaporan data obat merupakan rangkaian kegiatan dalam
rangka penatausahaan obat-obatan secara tertib, baik obat yang diterima,
disimpan, didistribusikan maupun digunakan di unit-unit pelayanan di Puskesmas.
Pencatatan dan pelaporan merupakan sarana perhitungan dalam rangka
pertanggungjawaban obat-obatan yang berada di Instalasi Farmasi dan merupakan
sarana informasi dalam rangka pengendalian persediaan, perencanaan pengadaan
dan perencanaan pendistribusian. Tujuannya yaitu tersedianya data mengenai jenis
dan jumlah penerimaan, persediaan, pengeluaran atau penggunaan dan data
mengenai waktu dari seluruh rangkaian kegiatan mutasi obat. Jumlah item obat
dan mutasi dicatat, dilaporkan kemudian di evaluasi dan pada akhimya digunakan
untuk perencanaan yang akan datang. Laporan ketersediaan obat dilakukan tiap
bulan dan akhir tahun. Pencatatan dan pelaporan di Instalasi Farmasi Kota
Surakarta antara lain, catatan penerimaan, catatan pengeluaran, catatan ED, neraca
obat, kartu steling.
Tahapan dalam penacatatan dan pelaporan :
1) Petugas mencatat penerimaan dan pengeluaran obat pada kartu stok
2) Petugas menghitung jumlah penerimaan dan pengeluaran obat pada kartu stok
setiap minggu
3) Petugas melakukan stok opname obat setiap bulan
4) Petugas mencatat penerimaan dan pengeluaran obat pada buku persediaan obat

Program Pendidikan Profesi Apoteker Angkatan XXXIII


38
Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker Universitas Setia Budi
di Dinas KesehatanKota, UPTD Instalasi Farmasi dan
Puskesmas Purwodiningratan Kota Surakarta 2017

5) Petugas membuat laporan persediaan obat tiap bulan kepada Kepala Instalasi
Farmasi
6) Kepala Instalasi Farmasi merekapitulasi penerimaan dan pengeluaran obat dari
masing-masing petugas kepada Dinas Kesehatan setiap 3 bulan sekali
g. Evaluasi
Evaluasi adalah suatu rangkaian kegiatan untuk mengetahui efektifitas dan
efisiensi pelaksanaan dan perencanaan sekaligus untuk mengukur memberi nilai
secara obyektif pencapaian hasil yang telah direncanakan sebelumnya atas seluruh
rantai kegiatan pengelolaan obat dan pemanfaatan sumber-sumber yang tersedia.

C. UPT Puskesmas Purwodiningratan


Dinas Kesehatan Kota Surakarta memiliki 17 UPT Puskesmas Induk dan 26
Puskesmas Pembantu yang tersebar di masing-masing kecamatan yang ada di
Kota Surakarta. Tujuh belas puskesmas induk tersebut antara lain Purwosari,
Jayengan, Setabelan, Gajahan, Penumping, Banyuanyar, Sangkrah, Ngoresan,
Nusukan, Manahan, Kratonan, Purwodiningratan, Sibela, Pajang, Pucang Sawit,
Gambirsari, dan Gilingan.
1) Letak Geografis UPT Puskesmas Purwodiningratan
a) Letak wilayah Puskesmas Purwodiningratan
Puskesmas Purwodiningratan merupakan satu dari tujuh belas Puskesmas
Induk yang ada di Kota Surakarta. Puskesmas Purwodiningkatan terletak di
Kelurahan Purwodiningratan, Kecamatan Jebres, Kota Surakarta. Puskesmas
Purwodiningratan merupakan salah satu dari empat puskesmas yang ada di
Kecamatan Jebres selain Puskesmas Ngoresan, Puskesmas Sibela dan
Puskesmas Pucang Sawit.
b) Batas Wilayah Kerja Puskesmas Purwodiningratan
Batas utara berbatasan dengan wilayah kerja Puskesmas Sibela, batas timur
dengan wilayah kerja Puskesmas Ngoresan, batas selatan dengan wilayah
kerja Puskesmas Sangrah, batas barat dengan wilayah kerja Puskesmas
Gilingan.

Program Pendidikan Profesi Apoteker Angkatan XXXIII


39
Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker Universitas Setia Budi
di Dinas KesehatanKota, UPTD Instalasi Farmasi dan
Puskesmas Purwodiningratan Kota Surakarta 2017

c) Wilayah Kerja Puskesmas Purwodiningratan


Puskesmas Purwodiningratan memiliki wilayah kerja yang terdiri dari enam
kelurahan yaitu:
 Kelurahan Sudiroprojan dengan luas wilayah 23 km2 dan kepadatan
penduduk sekitar 5.136 jiwa yang terbagi dalam 9 RW dan 35 RT.
 Kelurahan Gandekan dengan luas wilayah 35 km2 dan kepadatan
penduduk sekitar 9.336 jiwa yang terbagi dalam 9 RW dan 25 RT.
 Kelurahan Purwodiningratan dengan luas wilayah 37,3 km2 dan
kepadatan penduduk sekitar 3.793 jiwa yang terbagi dalam 10 RW dan
36 RT.
 Kelurahan Kepatihan Wetan dengan luas wilayah 22,5 km2 dan
kepadatan penduduk sekitar 2.522 jiwa yang terbagi dalam 2 RW dan 18
RT.
 Kelurahan Tegal Harjo dengan luas wilayah 32,5 km2 dan kepadatan
penduduk sekitar 2.678 jiwa.
 Kelurahan Kepatihan Kulon dengan luas wilayah 17,5 km2 dan
kepadatan jumlah penduduk sekitar 5.210 jiwa.
2) Visi dan Misi UPT Puskesmas Purwodiningratan
Visi : Mewujudkan unit pelayanan kesehatan UPT Puskesmas
Purwodiningratan yang berkualitas dalam program, pelayanan dan
SDM menuju masyarakat sehat.
Misi :
a) Memberikan pelayanan tingkat pertama yang berkualitas
b) Meningkatkan kompetensi SDM
c) Meningkatkan peran serta individu keluarga dan masyarakat dalam
pembangunan di bidang kesehatan
d) Menyediakan sarana dan prasarana penunjang pelayanan kesehatan yang
memadai
e) Meningkatkan kinerja, keterampilan dan kecakapan petugas dalam
mengelola program
Program Pendidikan Profesi Apoteker Angkatan XXXIII
40
Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker Universitas Setia Budi
di Dinas KesehatanKota, UPTD Instalasi Farmasi dan
Puskesmas Purwodiningratan Kota Surakarta 2017

f) Menggerakkan dan memberdayakan masyarakat untuk hidup sehat


3) Motto Puskesmas Purwodiningratan
Motto Puskesmas Purwodiningratan adalah:
P : Profesional
L : Layanannya
U : Untuk
S : Sehat
S : Semua
4) Tujuan Puskesmas Purwodiningratan
Tujuan Puskesmas Purwodiningratan adalah untuk mendukung tercapainya
tujuan pembangunan kesehatan nasional yaitu meningkatkan kesadaran kemauan
dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang yang bertempat tinggal di wilayah
kerja puskesmas agar terwujud derajat kesehatan yang setinggi-tingginya.
5) Tata Nilai Puskesmas Purwodiningratan
Tata Nilai Puskesmas Purwodiningratan yaitu KOMPAK
K : Komunikasi dan koordinasi tugas kita
O : Organisir semua kegiatan secara terpadu
M : Melayani pelanggan internal dan eksternal dengan santun dan sepenuh
hati
P : Profesional (memberikan pelayanan sesuai standar kompetensi dan
kemampuan)
A : Akuntabel (memberikan pelayanan sesuai pedoman yang ditetapkan,
dapat diukur dan dipertanggungjawabkan)
K : Kreasi dan inovasi pelayanan sebagai upaya peningkatan mutu
pelayanan
6) Budaya Kerja Puskesmas Purwodiningratan
Budaya kerja Puskesmas Purwodiningratan adalah:
a. Gotong royong
b. Merawat
c. Menjaga
Program Pendidikan Profesi Apoteker Angkatan XXXIII
41
Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker Universitas Setia Budi
di Dinas KesehatanKota, UPTD Instalasi Farmasi dan
Puskesmas Purwodiningratan Kota Surakarta 2017

d. Memiliki
e. Mengamankan
7) Kebijakan UPT Puskesmas Purwodiningratan
Untuk mencapai visi dan misi puskesmas, maka puskesmas purwodiningratan
berkomitmen untuk melakukan perbaikan yang berkesinambungan dengan:
 Memberikan pelayanan yang berkualitas prima .
 Meningkatkan kompetensi SDM dalam pelaksanaan pelayanan dan program.
 Meningkatkan peran serta individu keluarga dan masyarakat untuk
pembangunan kesehatan.
 Menerapkan sistem manajemen mutu ISO 9001:2008 secara efektif dan
efisien.
8) Struktur Organisasi UPT Puskesmas Purwodiningratan
Struktur organisasi puskesmas Purwodiningratan terdiri dari:
a) Kepala UPT
b) Kepala Sub Bagian Tata Usaha: urusan perencanaan, evaluasi,
pelaporan,keuangan, umum dan kepegawaian.
c) Manajemen Representative (MR) ISO
d) Unit program pelayanan kesehatan dan kefarmasian: poli umum, gigi,
laboratorium, obat dan farmasi, klinik berhenti merokok.
e) Unit pencegahan, pengamatan penyakit dan penyehatan lingkungan: P2M,
Imunisasi, TB paru dan kusta, penyehatan lingkungan
f) Unit program bina kesehatan masyarakat: kesehatan ibu dan anak (KIA),
keluarga berencana (KB), gizi, pelayanan kesehatan.
g) Unit promosi kesehatan, pemberdayaan masyarakat dan kemitraan:
penyuluhan kesehatan masyarakat, informasi kesehatan, peran serta
masyarakat, kesehatan reproduksi remaja, USILA, UKS.
9) Sarana dan Prasarana Pendukung Pelayanan Kesehatan UPT Puskesmas
Purwodiningratan
a) Puskesmas Pembantu (Pustu)

Program Pendidikan Profesi Apoteker Angkatan XXXIII


42
Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker Universitas Setia Budi
di Dinas KesehatanKota, UPTD Instalasi Farmasi dan
Puskesmas Purwodiningratan Kota Surakarta 2017

Puskesmas Pembantu adalah unit pelayanan kesehatan yang sederhana


dan berfungsi menunjang dan membantu melaksanakan kegiatan-kegiatan
yang dilakukan Puskesmas dalam ruang lingkup wilayah yang lebih kecil.
Wilayah kerja puskesmas pembantu meliputi satu desa dengan sarana
±10.000 jiwa.
UPT Puskesmas Purwodiningratan memiliki satu puskesmas
pembantu yang terletak di Kelurahan Gandekan dengan hari kerja yang sama
(Senin – Sabtu) dengan Puskesmas Induk Purwodiningratan.
b) Puskesmas Keliling (Pusling)
Puskesmas Keliling merupakan unit pelayanan keliling yang
dilengkapi dengan kendaraan roda empat maupun roda dua, peralatan
komunikasi, juga tenaga yang berasal dari Puskesmas. Puskesmas Keliling
berfungsi sebagai penunjang dan membantu melaksanakan kegiatan-
kegiatan Puskesmas dalam wilayah kerjanya yang belum terjangkau oleh
pelayanan kesehatan.
Tempat kegiatan puskesmas keliling Puskesmas Purwodiningratan
bertempat di kelurahan Tegal Harjo, Pasar Gede, dan kelurahan
Sudiroprajan dengan pelaksanaan bergilir setiap hari senin, selasa, kamis,
dan sabtu. Adapun pelaksanaan Puskesmas keliling ini dilakukan oleh satu
orang tenaga perawat dan satu orang tenaga teknis kefarmasian.
10) Tenaga Kerja di UPT Puskesmas Purwodiningratan
No Jenis Jumlah Butuh Kurang Status
Ketenagaan

11) Pelayanan Kesehatan Puskesmas Purwodiningratan


Puskesmas merupakan pusat kesehatan strata pertama yang
bertanggungjawab menyelenggarakan pelayanan kesehatan tingkat pertama secara
menyeluruh, terpadu dan berkesinambungan. Pelayanan kesehatan yang dilakukan

Program Pendidikan Profesi Apoteker Angkatan XXXIII


43
Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker Universitas Setia Budi
di Dinas KesehatanKota, UPTD Instalasi Farmasi dan
Puskesmas Purwodiningratan Kota Surakarta 2017

oleh Puskesmas Purwodiningratan meliputi pelayanan Poli Umum, Poli Gigi,


KIA, KB, Pelayanan Laboratorium dan KBM. Pelayanan ini dimulai pukul 07.00
– 14.00 WIB setiap hari kerja dari Senin – Kamis, Jumat 07.00 – 11.00 WIB dan
Sabtu 07.00 – 13.00.
Prosedur pelayanan kesehatan di Puskesmas Purwodiningratan dimulai dari
tahap registrasi yaitu pasien mengambil nomor antrian dan mendaftarkan diri di
loket yang sudah ditentukan. Pelayanan terhadap pasien ini dibedakan atas dua
yaitu pasien umum dan pasien BPJS. Setelah mendapatkan nomor antrian dan
panggilan dari petugas maka pasien akan diarahkan ke poli yang dituju untuk
diperiksa dan diberikan resep oleh tenaga medis/tenaga kesehatan.
Namun apabila pasien memerlukan penanganan khusus atau perlu opname,
maka pihak puskesmas akan memberikan surat rujukan kepada pasien untuk di
serahkan ke pihak RS yang dirujuk tersebut. Tujuan dari rujukan itu sendiri adalah
untuk pemerataan upaya kesehatan yang didukung mutu pelayanan yang optimal
dalam memecahkan masalah secara berdaya guna dan berhasil guna meliputi
upaya pelayanan kesehatan klinik yang bersifat preventif, promotif, kuratif, dan
rehabilitatif.
Berikut ini adalah skema alur pelayanan kesehatan di Puskesmas
Purwodiningratan:

Klinik berhenti
merokok
Rujukan
Poli Gigi
Eksternal

Poli Umum
Rujukan Internal
Pasien Pendaftaran KIA
Pasien
datang Kamar Obat Pulang
IMUNISASI

Laboratorium
KB

Konsultasi Gizi

Program Pendidikan Profesi Apoteker Angkatan XXXIII


44
Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker Universitas Setia Budi
di Dinas KesehatanKota, UPTD Instalasi Farmasi dan
Puskesmas Purwodiningratan Kota Surakarta 2017

12) Pengelolaan Resep


Apotek adalah tempat untuk melakukan pekerjaan kefarmasian termasuk
pembuatan dan pengendalian mutu sediaan farmasi, kegiatan yang dilakukan di
apotek antara lain adalah pelayanan terhadap resep yang berasal dari ruang
pengobatan umum, poli klinik gigi, KIA dan KB, termasuk segala bentuk
pencatatannya. Proses pelayanan resep meliputi tahapan berikut:
a) Skrining resep yang meliputi persyaratan administrasi (nama dokter, tanggal
penulisan resep, paraf dokter, serta nama, alamat, umur, jenis kelamin, berat
badan pasien, nama obat, potensi obat, dosis, dan jumlah obat yang diminta,
cara pemakaian, interaksi obat dan efek samping).
b) Penyiapan obat yang meliputi peracikan, pemberian etiket, pemberian kemasan
obat, penyerahan obat serta pemberian informasi obat pada pasien. Peracikan
obat, meliputi pemberian obat dengan jenis, bentuk sediaan, dan dosis yang
tepat sekaligus pemberian etiket yang jelas. Saat mengmbil obat perlu dilihat
nama obat, bentuk sediaan, kekuatan obat dan tanggal kadaluwarsa untuk
menghindari kesalahan pengambilan.
c) Pengecekan kebenaran obat yang diberikan sesuai dengan resep.
d) Penyerahan kepada pasien dengan memberikan informasi mengenai obat yang
diberikan termasuk dosis dan cara penggunaannya.
e) Tahap akhir meminta tanda tangan dibelakang resep pada pasien yang sudah
menerima obat sebagai bukti pasien yang telah menerima obat.
13) Asuhan Kefarmasian
a) Pelayanan Informasi Obat
Pelayanan informasi obat harus benar, jelas, mudah dimengerti, akurat,
tidak bias, dan bijaksana sangat diperlukan dalam upaya penggunaan obat
yang rasional oleh pasien.Sumber informasi obat adalah Buku Farmakope
Indonesia, Informasi Spesialite Obat Indonesia (ISO), Informasi Obat
Nasional Indonesia (IONI), Farmakologi dan Terapi, serta buku-buku
lainnya. Pelayanan informasi obat bagi pasien dilakukan tidak mendetail
Program Pendidikan Profesi Apoteker Angkatan XXXIII
45
Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker Universitas Setia Budi
di Dinas KesehatanKota, UPTD Instalasi Farmasi dan
Puskesmas Purwodiningratan Kota Surakarta 2017

dikhususkan pada cara penggunaan obat khusus, seperti antasida yang


diminum sebelum makan dan dikunyah, diaform pada penyakit diare, dan
aminofilin saat sesak napas. Pemberian informasi yang tidak detail ini
dikarenakan pasien lebih menginginkan pelayanan resep yang cepat saat
antrian yang banyak, sehingga tidak memungkinkan untuk pemberian
informasi obat secara lengkap.
b) Konseling dan Edukasi
Konseling merupakan proses untuk mengetahui kondisi pasien baik secara
fisik maupun mental, sehingga diketahui penyebab penyakit secara
menyeluruh. Oleh karena itu, Apoteker harus memberikan konseling
mengenai sediaan farmasi, pengobatan dan perbekalan kesehatan lainnya
sehingga dapat memperbaiki kualitas hidup pasien atau yang bersangkutan
terhindar dari bahaya penyalahgunaan salah satu sediaan farmasi atau
perbekalan kesehatan lainnya.Untuk penderita penyakit tertentu seperti
kardiovaskuler, diabetes, asma, dan penyakit kronis lainnya, Apoteker
harus memberikan konseling secara berkelanjutan.Edukasi adalah
pemberian pengetahuan dari tenaga kesehatan kepada pasien mengenai
penyakit dan pengobatannya dari penyakit yang diderita.
14) Pengelolaan Sediaan Farmasi dan Sediaan Farmasi
Pengelolaan sediaan farmasi dan perbekalan farmasi di Puskesmas meliputi
perencanaan, pengadaan, penerimaan, penyimpanan, distribusi, pengendalian dan
pencatatan/ pelaporan.
a) Perencanaan
Perencanaan merupakan proses menentukan jumlah dan jenis obat dengan
pertimbangan tertentu untuk digunakan dalam jangka waktu tertentu.
Perencanaan juga merupakan proses kegiatan seleksi obat dan bahan medis
habis pakai untuk menentukan jenis dan jumlah obat dalam rangka pemenuhan
kebutuhan Puskesmas.
Proses perencanaan kebutuhan Obat per tahun dilakukan secara berjenjang
(bottom-up). Puskesmas diminta menyediakan data pemakaian Obat dengan
Program Pendidikan Profesi Apoteker Angkatan XXXIII
46
Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker Universitas Setia Budi
di Dinas KesehatanKota, UPTD Instalasi Farmasi dan
Puskesmas Purwodiningratan Kota Surakarta 2017

menggunakan Laporan Pemakaian dan Lembar Permintaan Obat (LPLPO).


Selanjutnya Instalasi Farmasi Kabupaten/Kota akan melakukan kompilasi dan
analisa terhadap kebutuhan Obat Puskesmas di wilayah kerjanya,
menyesuaikan pada anggaran yang tersedia dan memperhitungkan waktu
kekosongan Obat, buffer stock, serta menghindari stok berlebih.
Kegiatan perencanaan meliputi:
 Pemilihan Jenis Obat
Pada tahap ini, puskesmas menentukan obat apa yang dibutuhkan di
masa mendatang. Untuk itu pemilihan obat harus didasarkan pada hal-hal
tersebut diantaranya adalah karakteristik pasien, standart pengobatan yang
bergantung pada pola penyakit, program puskesmas di masa mendatang dan
kejadian luar biasa (KLB).
 Penentuan Jumlah Obat
Penentuan kebutuhan obat untuk digunakan pada jangka waktu
tertentu didasarkan pada sisa stok obat, stok pengaman, jumlah pasien,
pemakaian rata-rata, pola penyakit di wilayah kerja puskesmas, dan kejadian
luar biasa (KLB) maupun bencana alam. Secara umum baik kegiatan
pemilihan jenis obat dan penentuan jumlah obat dapat juga didasarkan pada
dua metode perencaan yakni metode konsumsi dan metode epidemiologi.
Metode konsumsi didasarkan pemakaian rata-rata tiap bulan, dengan
memperhatikan waktu tunggu, stok pengaman dan sisa stok. Sedangkan
metode epidemiologi berdasarkan pada 10 besar penyakit di wilayah
puskesmas Purwodiningratan sehingga perlu peningkatan persediaan
obat.Perencanaan kebutuhan obat di puskesmas Purwodiningratan dilakukan
satu tahun sekali sesuai formularium nasional.
 Pengadaan Permintaan
Pengadaan permintaan adalah suatu kegiatan mengadakan obat-obatan
yang dibutuhkan sesuai perencanaan yang telah dibuat dan diajukan untuk
mendukung pelayanan kesehatan di puskesmas. Tujuan permintaan Obat
dan Bahan Medis Habis Pakai adalah memenuhi kebutuhan Obat dan Bahan
Program Pendidikan Profesi Apoteker Angkatan XXXIII
47
Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker Universitas Setia Budi
di Dinas KesehatanKota, UPTD Instalasi Farmasi dan
Puskesmas Purwodiningratan Kota Surakarta 2017

Medis Habis Pakai di Puskesmas, sesuai dengan perencanaan kebutuhan


yang telah dibuat. Permintaan diajukan kepada Dinas Kesehatan
Kabupaten/Kota, sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan
dan kebijakan pemerintah daerah setempat. Tahap pengadaan obat untuk
puskesmas dilakukan oleh Dinas Kesehatan Kota Surakarta. Pengajuan
permintaan obat terangkum pada Laporan Pemakaian dan Lembar
Permintaan Obat (LPLPO) yang di tandatangani oleh pengelola obat dan
diketahui oleh kepala puskesmas. Instalasi farmasi kota Surakarta yang akan
mengelola LPLPO seluruh puskesmas di Surakarta dan melakukan
pengadaan obat selanjutnya didistribusikan Puskesmas-Puskesmas. Terdapat
2 jenis pengadaan yaitu:
a. Pengadaan Rutin
Pengadaan perbekalan farmasi yang rutin dilakukan tiap bulan, sesuai
jadwal dinas kesehatan untuk memenuhi kebutuhan perbekalan farmasi
selama satu bulan.
b. Pengadaan Khusus
Pengadaan perbekalan farmasi yang dilakukan diluar pengadaan rutin
dikarenakan terjadi sesuatu hal seperti terjadi bencana alam dan
kejadian luar biasa (KLB) sehingga meningkatkan kebutuhan obat dan
atau memerlukan jenis obat lainnya.
 Penerimaan
Penerimaan merupakan kegiatan menerina obat-obatan atau
perbekalan farmasi lainnya dari Instalasi Farmasi Kota Surakarta ke
puskesmas-puskemas untuk menunjang kegiatan pelayanan kesehatan sesuai
LPLPO yang telah diajukan.Tujuannya adalah agar Obat yang diterima
sesuai dengan kebutuhan berdasarkan permintaan yang diajukan oleh
Puskesmas. Petugas penerimaan wajib melakukan pengecekan terhadap
Obat dan Bahan Medis Habis Pakai yang diserahkan, mencakup jumlah
kemasan/peti, jenis dan jumlah Obat, bentuk Obat sesuai dengan isi
dokumen (LPLPO), ditandatangani oleh petugas penerima, dan diketahui
Program Pendidikan Profesi Apoteker Angkatan XXXIII
48
Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker Universitas Setia Budi
di Dinas KesehatanKota, UPTD Instalasi Farmasi dan
Puskesmas Purwodiningratan Kota Surakarta 2017

oleh Kepala Puskesmas. Bila tidak memenuhi syarat, maka petugas


penerima dapat mengajukan keberatan. Adapun masa kedaluwarsa minimal
dari Obat yang diterima disesuaikan dengan periode pengelolaan di
Puskesmas ditambah satu bulan.
 Penyimpanan
Penyimpanan Obat dan Bahan Medis Habis Pakai merupakan suatu
kegiatan pengaturan terhadap Obat yang diterima agar aman (tidak hilang),
terhindar dari kerusakan fisik maupun kimia dan mutunya tetap terjamin,
sesuai dengan persyaratan yang ditetapkan.
Penyimpanan bertujuan untuk mengamankan perbekalan farmasi
dengan menempatkan diruangan yang sesuai dengan persyaratan agar
menghindari kerusakan fisik maupun kimia dan perbekalan farmasi itu
sendiri, menghindari penggunaan yang tidak bertanggung jawab, menjaga
kelangsungan kesediaan obat, dan mempermudah pengawasan.
Penyimpanan perbekalan farmasi di Puskesmas Purwodoningratan
dilakukan dalam gudang obat dengan perlakuan khusus seperti supositoria
dan vaksin. Penyimpanan obat juga disusun berdasarkan anggaran
penggunaan obat yang diterima oleh Puskesmas, yang terdiri atas obat dari
BLUD dan Non BLUD. Penyusunan berdasarkan alfabetis dan
dikelompokkan menurut bentuk sediaannya. Pada sediaan jenis obat
terdapat kartu stok untuk memantau jumlah obat yang keluar dan obat dalam
persediaan sehingga dapat mengindari dari sisa stock kosong saat obat atau
perbekalan farmasi dibutuhkan. Untuk obat-obat psikotropik di simpan
dalam lemari tersendiri di dalam gudang dan terpisah dari obat non
psikotropik, sedangkan obat narkotika di puskesmas purwodiningratan tidak
ada sehingga tidak ada tempat penyimpanan khusus untuk obat narkotika.
Pengeluaran perbekalan farmasi yang digunakan dalam pelayanan
kesehatan menggunakan sistem FEFO (First Expired first Out). Obat yang
memiliki tanggal kadaluarsa lebih awal maka digunakan dahulu.Hal ini

Program Pendidikan Profesi Apoteker Angkatan XXXIII


49
Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker Universitas Setia Budi
di Dinas KesehatanKota, UPTD Instalasi Farmasi dan
Puskesmas Purwodiningratan Kota Surakarta 2017

mengurangi jumlah obat yang kadaluwarsa saat penyimpanan karena


sebelum habis tanggal kadaluarsa yang digunakan.
 Pendistribusian
Pendistribusian Obat dan Bahan Medis Habis Pakai merupakan
kegiatan pengeluaran dan penyerahan Obat dan Bahan Medis Habis Pakai
secara merata dan teratur untuk memenuhi kebutuhan sub unit/satelit
farmasi Puskesmas dan jaringannya.Tujuannya adalah untuk memenuhi
kebutuhan Obat sub unit pelayanan kesehatan yang ada di wilayah kerja
Puskesmas dengan jenis, mutu, jumlah dan waktu yang tepat.Sub-sub unit di
Puskesmas dan jaringannya antara lain subunit pelayanan kesehatan di
dalam lingkungan puskesmas, puskesmas pembantu, puskesmas keliling,
posyandu dan polindes.
Distribusi atau penyaluran perbekalan farmasi di peruntukkan bagi
unit-unit kesehatan yang berada di puskesmas induk (kamar obat, KIA, dan
KB, laboratorium, poliklinik gigi dan mulut, ruang POKZI, kamar periksa)
puskesmas pembantu, puskesmas keliling dan posyandu.
Penyaluran perbekalan farmasi/ obat-obatan langsung ke pasien hanya
berdasarkan resep yang ditulis dokter baik untuk obat golongan bebas, bebas
terbatas, narkotika, dan psikotropika.
 Pengendalian
Pengendalian Obat dan Bahan Medis Habis Pakai adalah suatu
kegiatan untuk memastikan tercapainya sasaran yang diinginkan sesuai
dengan strategi dan program yang telah ditetapkan sehingga tidak terjadi
kelebihan dan kekurangan/kekosongan Obat di unit pelayanan kesehatan
dasar.Tujuannya adalah agar tidak terjadi kelebihan dan kekosongan Obat di
unit pelayanan kesehatan dasar.
Pengendalian terhadap penggunaan perbekalan farmasi di puskesmas
dilakukan oleh petugas pengelola perbekalan farmasi dengan menggunakan
SIMPUS.Ini mempermudah pengendalian obat di seluruh unit kesehatan di
puskesmas induk, puskesmas pembantu, puskesmas keliling.Dalam
Program Pendidikan Profesi Apoteker Angkatan XXXIII
50
Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker Universitas Setia Budi
di Dinas KesehatanKota, UPTD Instalasi Farmasi dan
Puskesmas Purwodiningratan Kota Surakarta 2017

SIMPUS tertera jumlah obat yang digunakan untuk pengobatan dan


perbekalan farmasi yang digunakan untuk setiap harinya sehingga
memudahkan pengawasan agar penggunaan perbekalan farmasi untuk
pelayanan kesehatan rasional dan daapt dipertanggung jawabkan termasuk
pengendalian terhadap obat-obatan dan perbekalan farmasi yang rusak
maupun kadaluarsa yang harus dilaporka kepada pihak Instalasi Farmasi
Kota untuk ditindak lanjuti. Proses pemusnahan menunggu koordinasi dinas
kesehatan kota dan dilakukan bersamaan dengan puskesmas lainnya serta
dibuat berita acara.
 Pencatatan dan Pelaporan
Pencatatan, pelaporan, dan pengarsipan merupakan rangkaian kegiatan
dalam rangka penatalaksanaan Obat dan Bahan Medis Habis Pakai secara
tertib, baik Obat dan Bahan Medis Habis Pakai yang diterima, disimpan,
didistribusikan dan digunakan di Puskesmas atau unit pelayanan
lainnya.Tujuan pencatatan, pelaporan dan pengarsipan adalah bukti bahwa
pengelolaan obat dan bahan medis habis pakai telah dilakukan, sumber data
untuk melakukan pengaturan dan pengendalian dan sumber data untuk
pembuatan laporan.
Pencatatan merupakan kegiatan membukukan sistem penerimaan,
penyimpanan, pendistribusian, dan penggunaan perbekalan farmasi di
puskesmas untuk mempermudah pengawasan. Semua jenis bentuk
pencatatan termasuk pemberian obat dan dosis bagi tiap pasien, penerimaan
obat, serta stock obat dilakukan dalam program SIMPUS sehingga
pemantauan penyelenggaraan obat di kamar obat puskesmas induk,
puskesmas pembantu, dan puskesmas keliling dapat dimonitoring oleh dinas
kesehatan kota: Pelaporan merupakan kegiatan mempertanggung jawabkan
terhadap segala sistem perbekalan farmasi pada instansi yang lebih tinggi
yakni kepada instalasi farmasi kota Surakarta, dinas kesehatan kota
Surakarta dan sebagai arsip Puskesmas.

Program Pendidikan Profesi Apoteker Angkatan XXXIII


51
Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker Universitas Setia Budi
di Dinas KesehatanKota, UPTD Instalasi Farmasi dan
Puskesmas Purwodiningratan Kota Surakarta 2017

Laporan bulanan obat-obatan di Puskesmas Purwodiningratan


meliputi LPLPO, Laporan Penggunaan Narkotika dan Psikotropika, Laporan
Penggunaan Obat Generik.Laporan indikator peresepan rasional dilaporkan
tiap 6 bulan sekali.Laporan ini diambil dari tiga kasus setiap hari meliputi
kasus diare non spesifik, ISPA non pneumonia dan mialgia.Kasus diare non
spesifik dan ISPA non spesifik, sesuai pengobatan rasional, tidak boleh
menggunakan antibiotika, untuk kasus mialgia tidak boleh menggunakan
injeksi. LPLPO dibuat berdasarkan rekap pemakaian obat yang ada di
SIMPUS, selanjutnya dipindah keformat LPLPO sesuai format LPLPO dari
IPF.
Beberapa sistem pencatatan dan pelaporan terpadu Puskesmas
menggunakan aplikasi SIK (Sistem Informasi Kesehatan). Laporan ini
meliputi Laporan Bulanan (LB) yang terdiri dari:
- Laporan Gizi
- Laporan KIA
- Laporan program kesehatan keluarga
- Laporan pemberantasan penyakit menular
- Laporan usaha kesehatan sekolah
- Laporan data kesakita
- Laporan kesehatan gizi
- Laporan kesehatan lingkungan
- Laporan kesehatan puskesmas
- Laporan penyakit tidak menular.
Laporan ini diserahkan jangka waktu setiap bulan sebelum tanggal 7
tiap bulannya. Adapun laporan Tribulanan terdiri dari Laporang kegiatan
PKM dan PSM dan Laporan PJB (Pemeriksaan Jentik Berkala).
15) BPJS (Badan Penyelenggara Jaminan Sosial)
Setiap orang, termasuk orang asing yang bekerja paling singkat 6 bulan di
Indonesia, yang telah membayar iuran adalah sebagai berikut :
 Penerima Bantuan Iuran Jaminan Kesehatan (PBI) : fakir miskin dan orang
Program Pendidikan Profesi Apoteker Angkatan XXXIII
52
Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker Universitas Setia Budi
di Dinas KesehatanKota, UPTD Instalasi Farmasi dan
Puskesmas Purwodiningratan Kota Surakarta 2017

tidak mampu, dengan penetapan peserta sesuai ketentuan peraturan perundang-


undangan.
 Bukan Penerima Bantua Iuran Jaminan Kesehatan (Non PBI), terdiri dari:
Pekerja Penerima Upah dan anggota keluarganya meliputi Pegawai
Negeri Sipil, Anggota TNI, Anggota Polri, Pejabat Negara, Pegawai
Pemerintah non Pegawai Negeri, Pegawai Swasta, dan Pekerja yang tidak
termasuk huruf diatas yang menerima upah, termasuk WNA yang bekerja di
Indonesia paling singkat selama 6 bulan.
Pekerja Bukan Penerima Upah dan anggota keluarganya meliputi pekerja
di luar hubungan kerja atau Pekerja mandiri dan Pekerja yang tidak termasuk
diatas yang bukan penerima upah. Termasuk WNA yang bekerja di Indonesia
paling singkat 6 bulan.
Bukan pekerja dan anggota keluarganya meliputi investor, pemberi kerja,
penerima pensiun, anggota TNI dan anggota Polri yang berhenti dengan hak
pensiun, pejabat negara yang berhenti dengan hak pensiun, janda, duda, atau
anak yatim piatu dari penerima pensiun yang mendapat hak pensiun, penerima
pensiun lain, veteran, perintis kemerdekaan, janda, duda atau anak yatim piatu
dari Veteran atau perintis kemerdekaan dan bukan pekerja yang termasuk
diatas yang mampu membayar iuran.

Program Pendidikan Profesi Apoteker Angkatan XXXIII


53
Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker Universitas Setia Budi
di Dinas KesehatanKota, UPTD Instalasi Farmasi dan
Puskesmas Purwodiningratan Kota Surakarta 2017

BAB IV
PEMBAHASAN
Mahasiswa Program Profesi Apoteker Angkatan XXXIII Fakultas Farmasi
Universitas Setia Budi telah melakasanakan kegiatan Praktek Kerja Profesi
Apoteker (PKPA) di Dinas Kesehatan di kota Surakarta, UPT Instalasi Farmasi,
dan UPT Puskesmas Purwodiningratan. Dengan rincian kunjungan di Dinas
Kesehatan Pemerintah Kota Surakarta pada tanggal 5 Juli 2017, UPT Instalasi
Farmasi pada tanggal 6-7 Juli 2017 dan UPT Puskesmas Purwodiningratan pada
tanggal 10 – 22 Juli 2017.
Kegiatan tersebut dimaksudkan untuk mengerti dan memahami tugas-tugas
dan wewenang serta struktur organisasi dan jalur koordinasi lembaga pemerintah
Dinas Kesehatan Surakarta, UPT Instalasi Farmasi dan Puskesmas khususnya
UPT Purwodiningratan sehingga diharapkan mahasiswa kedepannya dapat
menjadi seorang apoteker yang bertanggung jawab.
Manfaat dari Praktek Kerja Profesi Apotekeragar dapat memberikan bekal
atau pengalaman pada mahasiswa untuk menjalankan profesinya di lingkungan
kerja nantinya dalam memberikan pelayanan yang maksimal pada masyarakat..
1. Dinas Kesehatan Kota
Dinas kesehatan kota Surakarta adalah dinas yang berada di bawah
pemerintahan kota Surakarta yang berperan sebagai unsur pelaksana pemerintah
daerah di bidang kesehatan yang mempunyai peran untuk meningkatkan derajat
kesehatan masyarakat melalui peningkatan mutu pelayanan kesehatan yang
optimal.
Oleh karena itu praktek Kerja Lapangan di Dinas Kesehatan Kota Surakarta
bermanfaat untuk meningkatkan pengetahuan calon apoteker dalam pelayanan
kesehatan khususnya di bidang kefarmasian, makanan dan minuman, obat
tradisional, registrasi dan akreditasi serta struktur organisasi di Dinas Kesehatan
Kota Surakarta
Dalam bidang registrasi dan akreditasi, dinas kesehatan kota menangani tata
cara perizinan usaha faramsi. Izin usaha farmasi meliputi : izin industri obat
Program Pendidikan Profesi Apoteker Angkatan XXXIII
54
Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker Universitas Setia Budi
di Dinas KesehatanKota, UPTD Instalasi Farmasi dan
Puskesmas Purwodiningratan Kota Surakarta 2017

tradisional, izin industri kecil obat tradisional , izin makanan dan minuman, izin
distribusi obat dan bahan baku obat (BBO), izin apotek, izin penyalur alat
kesehatan.
Salah satu bentuk pelayanan kesehatan yang dilakukan oleh Dinas
Kesehatan Kota Surakarta adalah promosi kesehatan. Promosi kesehatan
bertujuan untuk meningkatkan pola hidup sehat masyarakat. Langkah-langkah
dalam penyuluhan kesehatan masyarakat (promosi kesehatan) dengan proses
belajar dan alat peraga. Dengan dilakukan promosi kesehatan banyak hal yang
dapat diperoleh masyarakat berkaitan dengan pentingnya kesehatan sehingga
program ini perlu dipertahankan.
2. Instalasi Farmasi
Pelayanan farmasi adalah salah satu mata rantai yang tidak terpisahkan
dalam sistem pelayanan kesehatan, berorientasi kepada pasien sebagai individu
pengelolaan perbekalan farmasi yang profesional, aman dan terjangkau bagi
semua lapisan masyarakat dengan tujuan memberikan setiap pelayanan farmasi
nasional dalam aspek medis, sosial, maupun ekonomi, menyatu dengan tenaga
kesehatan lain (merupakan kesatuan dalam sistem kesehatan) dan memperhatikan
perkembangan teknologi kesehatan baru.
Kegiatan PKPA di Instalasi Farmasi yaitu mahasiswa diberikan informasi
mengenai pengelolaan obat dan melihat secara langsung penyimpanan perbekalan
farmasi di instalasi farmasi. Pengelolaan obat meliputi perencanaan, penerimaan,
distribusi, penyimpanan, penggunaan dan evaluasi. Metode yang digunakan dalam
perencanaan ada dua yaitu, metode konsumsi yang berdasarkan analisis data
penggunaan obat tahun sebelumnya dan metode epidemologi yang berdasarkan
frekuensi penyakit / jenis penyakit. Pengadaan obat tergantung dari anggaran, baik
dari pemerintah dengan membeli secara langsung maupun pelelangan, pengadaan
perbekalan farmasi dapat dilakukan dengan pemesanan melalui e-catalog, namun
jika terjadi kekosongan maka Instalasi Farmasi meminta perbekalan obat
tambahan ke Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah. Atau bahkan Instalasi
Farmasi dapat melakukan pembelian obat sendiri ke pabrik/PBF yang resmi.
Program Pendidikan Profesi Apoteker Angkatan XXXIII
55
Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker Universitas Setia Budi
di Dinas KesehatanKota, UPTD Instalasi Farmasi dan
Puskesmas Purwodiningratan Kota Surakarta 2017

Bentuk barang, jumlah barang yang sesuai dengan pesanan, ED, serta
dilampir dengan dokumen yang jelas. Penyimpanan perbekalan farmasi harus
memperhatikan kapasitas gedung, ventilasi, penerangan, suhu keamanan, serta
alat-alat yang dibutuhkan antara lain seperti pelet (kayu yang diatur sirkulasi
udara sehingga tidak lembab), rak almari yang terdiri dari lemari narkotika dan
psikotropika, kulkas, dalam proses penyimpanan tiap item dilengkapi dengan
kartu stelling, warna kartu bermacam-macam. Penyimpanan obat dilakukan
menurut sistem FIFO (First In First Out) atau FEFO (First Expired First Out).
Distribusi obat dilakukan setiap bulan atas dasar permintaan yang dilakukan
oleh tiap puskesmas ataupun rumah sakit. Permintaan obat menggunakan lembar
Laporan Pemakaian dan Lembar Permintaan Obat (LPLPO).
3. Puskesmas
Praktek Kerja Profesi Apoteker (PKPA) mahasiswa Universitas Setia Budi
Fakultas Farmasi di UPT Puskesmas Purwodinigratan dimulai tanggal 10-22 Juli
2017. Praktek kerja ini bermanfaat untuk meningkatkan pengetahuan calon
Apoteker dalam bidang pelayanan kesehatan, kefarmasian, penyimpanan dan
pengadaan obat di puskesmas serta pelayanan informasi obat ke pasien itu sendiri.
Apotek di puskesmas induk Purwodiningratan tanggung jawab oleh 2 orang
Asisten Apoteker, di pukesmas pembantu dikelola oleh seorang Asisten Apoteker,
dan untuk puskesmas keliling ditangani oleh Asisten Apoteker yang
berpengalaman.
Mahasiswa PKPA di puskesmas Purwodiningratan diberi pengarahan oleh
asisten apoteker tentang hal-hal yang berkaitan dengan pengelolaan obat serta
dapat terlibat secara langsung dalam pelayanan resep serta pemberian informasi
obat kepada pasien. Mahasiswa juga dapat mengetahui cara penyimpanan obat di
puskesmas.
Pengelolaan obat di puskesmas bertujuan agar tercapainya persediaan yang
rasional dan untuk pengembangan serta peningkatan pelayanan obat. Kegiatan
pengelolaan obat di puskesmas meliputi : perencanaan kebutuhan, pengadaan,

Program Pendidikan Profesi Apoteker Angkatan XXXIII


56
Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker Universitas Setia Budi
di Dinas KesehatanKota, UPTD Instalasi Farmasi dan
Puskesmas Purwodiningratan Kota Surakarta 2017

penerimaan, penyimpanan, pendistribusian, pelayanan obat, pencatatan dan


pelaporan.
Perencanaan kebutuhan obat di puskesmas dilakukan untuk kebutuhan obat
satu bulan mendatang yang jenisnya sesuai dengan persetujuan dari dinas
kesehatan kota Surakarta dengan menggunakan metode konsumsi dan
epidemologi. Pengadaan obat dilakukan sesuai dengan obat dalam perencanaan
yang telah dajukan ke Dinas Kesehatan. Puskesmas akan memperoleh obat dari
Instalasi Farmasi yang harus mendapat persetujuan dari Dinas Kesehatan Kota
dengan mengajukan daftar kebutuhan obat melalui laporan pemakaian dan lembar
permintaan obat (LPLPO).
Dalam permintaan terdapat 2 permintaan yaitu, permintaan rutin dan
permintaan khusus.Permintaan rutin merupakan permintaan yang secara rutin
dilakukan untuk memenuhi kebutuhan obat yang sesuai jadwal yang telah
ditentukan oleh Dinas Kesehatan/Kota, sedangkan permintaan khusus merupakan
permintaan yang tidak terduga atau diluar jadwal yang telah ditentukan
dikarenakan kebutuhan meningkat, menghindari kekosongan obat dan untuk
penanganan KLB (Kejadian Luar Biasa) seperti terjadi wabah penyakit maupun
bencana alam.
Obat yang diterima puskesmas harus di cek, apakah sudah sesuai dengan
yang telah diajukan termasuk hal-hal yang berkaitan dengan stabiltas obat. Jika
terdapat kelebihan obat/barang dikembalikan. Obat yang diterima dari Instalasi
Farmasi ini berasal dari berbagai sumber dana, tetapi dalam pemakaiannya tidak
memperhatikan asal obat tersebut. Pendistribusian obat di puskesmas meliputi
penyerahan obat, alat kesehatan, reagensia dan ke tempat unit pelayanan lain
seperti : puskesmas pembantu dan puskesmas keliling.
Saat penyimpanan harus diperhatikan ketentuan yang ada, yaitu tidak gelap,
tidak lembab, aman, tidak terkena sinar matahari langsung, tidak boleh langsung
kontak dengan lantai (jaraknya kurang lebih 0,5 meter dari tembok). Obat-obat
yang tidak tahan panas disimpan dalam lemari es dengan suhu 2-8oC, sedangkan
obat lainnya di simpan di rak-rak dalam lemari. Obat-obat psikotropik disimpan
Program Pendidikan Profesi Apoteker Angkatan XXXIII
57
Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker Universitas Setia Budi
di Dinas KesehatanKota, UPTD Instalasi Farmasi dan
Puskesmas Purwodiningratan Kota Surakarta 2017

dalam lemari tersendiri di dalam gudang dan terpisah dari obat non psikotropik,
Puskesmas Purwodiningratan juga memiliki lemari khusus untuk penyimpanan
obat narkotika. Untuk memantau jumlah obat yang keluar dan persediaan obat di
apotek, digunakan kartu stock sehingga dapat terhindar dari kekurangan stock
atau kekosongan obat atau perbekalan farmasi lainnya. Penyimpanan obat yang
diterima dari Instalasi Farmasi ditempatkan di ruangan dengan suhu yang dapat
menjaga stabilitas obat.
Saat pelayanan resep, pasien yang telah menyerahkan resep di apotek akan
menunggu hingga obat yang ada di dalam resep telah selesai disiapkan dan
kemudian petugas apotek akan memanggil nama pasien sesuai resep. Saat
penyerahan pasien akan diberi informasi obat terkait dengan aturan pakai obat dan
cara penggunaan obat yang khusus secara singkat. Pelayanan cepat yang
diinginkan pasien dan antrian yang banyak membuat petugas apotek tidak dapat
memberikan informasi obat secara detail.
Semua jenis bentuk pencatatan termasuk pemberian obat dan dosis bagi tiap
pasien, penerimaan obat, serta stock obat dilakukan dalam program SIMPUS
sehingga pemantauan penyelenggaraan obat di Apotek puskesmas induk,
puskesmas pembantu, dan puskesmas keliling dapat dimonitori oleh Dinas
Kesehatan Kota.
Untuk memperlancar administrasi resep yang masuk setiap hari direkap dan
diklasifikasi berdasarkan jenis pasien yaitu BPJS, Gratis dan umum. Laporan
pemakaian obat di puskesmas meliputi laporan harian, bulanan, dan tahunan.
Evaluasi dilakukan supaya bisa lebih baik lagi dari tahun kemarin.
a. Sasaran pokok pencacatan, pengolahan dan pelaporan obat di puskesmas :
1. Terlaksananya tertib administrasi dan pengelolaan obat.
2. Tersedianya data yang akurat dan tepat waktu.
3. Tersedianya data untuk melakukan pengaturan dan pengendalian oleh unit
yang lebih tinggi.
b. Macam-macam format pencacatan dan pelaporan obat di puskesmas dan sub
unit pelayanan kesehatan :
Program Pendidikan Profesi Apoteker Angkatan XXXIII
58
Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker Universitas Setia Budi
di Dinas KesehatanKota, UPTD Instalasi Farmasi dan
Puskesmas Purwodiningratan Kota Surakarta 2017

1. Kartu stock obat


2. Laporan pemakaian dan lembar permintaan obat (LPLPO)
3. Buku catatan harian penerimaan dan pemakaian obat
4. Buku catatan harian penerimaan resep
5. Laporan obat rusak/kadaluarsa
6. Surat pernyataan obat hilang
Penggunaan obat berdasarkan atas resep yang masuk. Setiap obat yang
keluar dicatat dan dilaporkan dengan maksud tertib administrasi dalam
pengelolaan obat sehingga tersedia data yang akurat dan tepat waktu, tersedia
data untuk melakukan pengaturan dan pengendalian oleh unit yang lebih tinggi.
Alur pelayanan pasien di puskesmas Purwodiningratan dimulai dari pasien
yang akan melakukan pemeriksaan diwajibkan untuk mendaftar di loket yag telah
ditentukan. Sebelum mendaftar pasien harus mengambil nomor urut yang ada di
depan loket yang kemudian pasien akan menunggu untuk dipanggil oleh pegawai
loket untuk pemeriksaan, selain itu apakah pasien termasuk Umum, Gratis,
ataupun BPJS untuk pemeriksaan di berbagai poli yaitu poli gigi, poli umum,
KIA, imunisasi, KB, konsultasi gizi.. Petugas loket akan mengantarkan RM
pasien ke ruang poli. Pasien akan menunggu di depan poli yang dituju, kemudian
melakukan pemeriksaan. Apabila keadaan pasien tidak terlalu parah maka petugas
pemeriksa akan memberikan resep kepada pasien untuk diberikan ke apotek.
Namun apabila pasien memerlukan penanganan khusus atau perlu opname, maka
pihak puskesmas akan memberikan surat rujukan kepada pasien untuk di serahkan
ke pihak RS yang dirujuk tersebut.
Pelayanan obat di puskesmas Purwodiningratan dilakukan di apotek yang
dikelola oleh 3 orang asisten apoteker. Apotek adalah tempat untuk melakukan
pekerjaan kefarmasian termasuk pembuatan dan pengendalian mutu sediaan
farmasi, kegiatan yang dilakukan di apotek antara lain adalah pelayanan terhadap
resep yang berasal dari ruang pengobatan umum, poliklonik gigi, KIA dan KB,
termasuk segala bentuk pencatatannya.

Program Pendidikan Profesi Apoteker Angkatan XXXIII


59
Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker Universitas Setia Budi
di Dinas KesehatanKota, UPTD Instalasi Farmasi dan
Puskesmas Purwodiningratan Kota Surakarta 2017

Proses pelayanan resep di puskesmas Purwodiningratan melalui tahap-tahap


berikut ini:
a. Skrining resep, meliputi keabsahan resep, pembacaan nama obat, dosis dan
jumlahnya memperkirakan ada/tidaknya interaksi obat yang dapat
meningkatkan efek sampingnya.
b. Peracikan obat, meliputi pemberian obat dengan jenis, bentuk sediaan, dan
dosis yang tepat sekaligus pemberian etiket yang jelas. Saat mengambil obat
perlu dilihat nama obat, bentuk sediaan, kekuatan obat dan tanggal
kadaluwarsa untuk menghindari kesalahan pengambilan.
c. Pengecekan kebenaran obat yang diberikan sesuai dengan resep.
d. Penyerahan kepada pasien dengan memberikan informasi mengenai obat yang
diberikan termasuk dosis dan cara penggunaannya.
e. Tahap akhir meminta tanda tangan dibelakang resep pada pasien yang sudah
menerima obat dan sudah diberi informasi mengenai pemakaian obat dll
sebagai bukti pasien yang telah menerima obat.
f. Resep yang telah dilayani di input dalam Sistem Informasi Puskesmas
(SIMPUS) yang bertujuan untuk evaluasi kegiatan puskesmas sehingga dapat
menciptakan pelayanan optimal yang selalu lebih baikdari tiap saat.
Kegiatan Pelayanan tidak hanya berpusat di puskesmas induk
Purwodiningratan, ada puskesmas keliling yang dilakukan empat kali seminggu
yaitu senin, selasa, kamis dan sabtu mencakup wilayah Kepatihan Wetan, Tegal
Harjo, Pasar Gede dan Sudiroprajan serta juga puskesmas pembantu mencakup
wilayah Gandekan. Puskesmas Purwodiningratan sendiri belum memiliki program
unggulan dibidang farmasi. Kegiatan umum yang sering dilakukan di puskesmas
Purwodiningratan yaitu promkes, kami juga melakukan kegiatan promkes dengan
tujuan untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat atau pasein mengenai
penggunaan obat Diabetes Melitus yang benar.
Untuk mencapai kepuasan pasien terhadap pelayanan obat di UPT
puskesmas Purwodiningratan maka dilakukan pelayanan yang cepat, tepat dan
akurat. Parameter penilaian kepuasaan pasien terhadap pelayanan obat di
Program Pendidikan Profesi Apoteker Angkatan XXXIII
60
Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker Universitas Setia Budi
di Dinas KesehatanKota, UPTD Instalasi Farmasi dan
Puskesmas Purwodiningratan Kota Surakarta 2017

puskesmas Purwodiningratan tidak kurang dari 95% dengan item penilaian waktu
tunggu obat racikan tidak lebih dari 10 menit dan didokumetasikan dalam buku
pencatatan sasaran mutu yang dimaksudkan untuk mencapai kepuasan pasien
terhadap pelayanan yang diberikan terutama dalam pelayanan obat racikan. Selain
itu sasaran mutu lainnya di puskesmas Purwodiningratan adalah tidak terjadi
kesalahan pengambilan obat (kesalahan 0%).
Pengetahuan yang kami dapatkan selama Kegiatan Praktek Kerja Profesi
yaitu kami dapat memahami tugas, wewenang, tanggungjawab serta struktur
organisasi dan jalur koordinasi lembaga pemerintahanan di Dinas Kesehatan Kota
Surakarta,Instalasi Farmasi dan Puskesmas khususnya Puseksmas
Purwodiningratan. Memahami alur kegiatan pengelolaan perbekalan farmasi yang
dilaksanakan di Instalasi Farmasi dan di UPT Puskesmas Purwodiningratan serta
tugas dan fungsi farmasi dalam menjalankan pelayanan kefarmasian.

Program Pendidikan Profesi Apoteker Angkatan XXXIII


61
Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker Universitas Setia Budi
di Dinas KesehatanKota, UPTD Instalasi Farmasi dan
Puskesmas Purwodiningratan Kota Surakarta 2017

BAB V
PENUTUP
A. Kesimpulan
Kesimpulan yang diperoleh selama melaksanakan Praktek Kerja Profesi
Apoteker di Dinas Kesehatan Kota Surakarta, Instalasi Farmasi, dan Puskesmas
Purwodiningratan adalah sebagai berikut :
1. Dinas Kesehatan Kota Surakarta merupakan dinas di bawah naungan
Pemerintah Daerah sebagai pelaksana pemerintah daerah di bidang kesehatan
yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat.
2. UPT Instalasi Farmasi merupakan unit dari Dinas Kesehatan yang bertugas
untuk mengelola perbekalan kesehatan secara optomal yang meliputi
penerimaan, penyimpanan, serta pendistribusian ke puskesmas di kota
Surakarta.
3. UPT Puskesmaas Purwodiningratan merupakan salah satu dari 17 Puskesmas
yang menjadi tanggung jawab Dinas Kesehatan Kota Surakarta yang
bertanggung jawab atas penyelenggaraan pelayanan kesehatan tingkat pertama
secara terjangkau dan merata berdasarkan wilayah kerjanya. Terdapat fasilitas
penunjang seperti Puskesmas Induk, Puskesmas Pembantu serta Puskesmas
Keliling.
B. Saran
Saran yang diberikan untuk Puskesmas Purwodiningratan adalah sebagai
berikut :
1. Puskesmas Purwodiningratan agar mengusulkan tambahan tenaga farmasi
(Apoteker maupun asisten apoteker) untuk puskesmas pembantu dan
puskesmas keliling.
2. Puskesmas purwodiningratan agar membuat tempat khusus penyimpanan
resep-resep.

Program Pendidikan Profesi Apoteker Angkatan XXXIII


62
Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker Universitas Setia Budi
di Dinas KesehatanKota, UPTD Instalasi Farmasi dan
Puskesmas Purwodiningratan Kota Surakarta 2017

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 1981,Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No


610/Menkes/SK/XI/81,Tentang Tata Kerja Gudang Perbekalan Kesehatan
di Bidang Farmasi di Kota Surakartamadya, Depkes RI : Jakarta.

Anonim. 1997, Sistem Informasi Dan Manajemen Puskesmas. Depkes RI : Jakarta

Anonim. 2004,Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No.


128/MENKES/SK/IU2004. Tentang Kebijakan Dasar Pusat Kesehatan
Masyarakat, Depkes RI : Jakarta.

Anonim. 2004. Pedoman Pengelolaan Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan di


Puskesmas, Direktorat Jenderal Pelayanan Kefarmasian dan Alat
Kesehatan,Departemen Kesehatan RI : Jakarta

Anonim. 2013. Peraturan Daerah Kota Surakarta No. 14 Tahun 2013.Tentang


Susunan Organisasi Dan Tata Kerja Perangkat Daerah Kota Surakarta,
Depkes RI : Jakarta.

DepKes RI. 2006. Pedoman pelayanan Kefarmasian Puskesmas. Dapertemen


Kesehatan Republik Indonesia : Jakarta.

KepMenKes RI No 75 tahun 2014 tentang Pusat Kesehatan Masyarakat

KepMenKes RI No 74 tahun 2016 tentang Standar Pelayanan Kefarmasian di


Puskesmas

KepMenKes RI No 28/menkes/sk/II2004 Tentang Kebijakan Dasar Pusat


Kesehatan Masyarakat

Pemerintah Kota Surakarta, 2008, Peraturan Walikota Surakarta No 12 Tahun


2008, Tentang Penjabaran Tugas Pokok, Fungsi dan Tata Kerja Dinas
Kesehatan Kota Surakarta.

Peraturan presiden republik indonesia Nomor 4 tahun 2015 Tentang Perubahan


keempat atas peraturan presiden nomor 54 tahun 2010 tentang pengadaan
barang/jasa pemerintah

Program Pendidikan Profesi Apoteker Angkatan XXXIII


63
Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker Universitas Setia Budi
di Dinas KesehatanKota, UPTD Instalasi Farmasi dan
Puskesmas Purwodiningratan Kota Surakarta 2017

LAMPIRAN

1. Pelayanan Resep Obat di Puskesmas Induk

2. Pelayanan Resep Obat di Puskesmas Pembantu (Gandekan)

Program Pendidikan Profesi Apoteker Angkatan XXXIII


64
Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker Universitas Setia Budi
di Dinas KesehatanKota, UPTD Instalasi Farmasi dan
Puskesmas Purwodiningratan Kota Surakarta 2017

3. Puskesmas Keliling

4. Promo Kesehatan

Program Pendidikan Profesi Apoteker Angkatan XXXIII


65
Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker Universitas Setia Budi
di Dinas KesehatanKota, UPTD Instalasi Farmasi dan
Puskesmas Purwodiningratan Kota Surakarta 2017

5. Resep

GRATIS (WARNA MERAH MUDA) JKN NON PBI (WARNA KUNING)

JKN PBI (WARNA HIJAU) UMUM (WARNA PUTIH)

Program Pendidikan Profesi Apoteker Angkatan XXXIII


66
Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker Universitas Setia Budi
di Dinas KesehatanKota, UPTD Instalasi Farmasi dan
Puskesmas Purwodiningratan Kota Surakarta 2017

6. Kartu Stok

7. Input Data Pasien dengan SIMPUS

Program Pendidikan Profesi Apoteker Angkatan XXXIII


67
Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker Universitas Setia Budi
di Dinas KesehatanKota, UPTD Instalasi Farmasi dan
Puskesmas Purwodiningratan Kota Surakarta 2017

8. Rak Obat

9. Lemari Penyimpanan Stok Obat

Program Pendidikan Profesi Apoteker Angkatan XXXIII


68
Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker Universitas Setia Budi
di Dinas KesehatanKota, UPTD Instalasi Farmasi dan
Puskesmas Purwodiningratan Kota Surakarta 2017

10. Alur Pelayanan Pasien

11. Alur Pelayanan Kesehatan

Program Pendidikan Profesi Apoteker Angkatan XXXIII


69