Anda di halaman 1dari 8

DISASTER PLAN

GUNUNG API CEREMAI KUNINGAN JAWA BARAT

DISUSUN OLEH :

Rini Risnawati Tardi


030.13.168

PEMBIMBING :
Dr. Gita Tarigan, MPH

KEPANITERAAN KLINIK ILMU KESEHATAN MASYARAKAT


PERIODE APRIL–MEI 2019
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TRISAKTI
JAKARTA
PENDAHULUAN

Indonesia merupakan negara kepulauan dan terkenal sebagai negara yang mempunya
gunung merapi terbanyak didunia, terletak pada pertemuan tiga lempeng kerak bumi, yaitu
lempeng Eurasia, lempeng Indo-Australia, lempeng Pasifik. Akibat pertemuan ketiga lempeng
tersebut menimbulkan jalur gunung api aktif yang memanjang dari Aceh sampai Sulawesi
Utara. Di Indonesia terdapat sekitar 500 gunung salah satunya berada di Kuningan Jawa Barat.
Gunung Ceremai termasuk gunungapi Kuarter aktif, tipe A
(yakni, gunungapi magmatik yang masih aktif semenjak tahun 1600), dan berbentuk strato.
Gunung ini merupakan gunungapi soliter, yang dipisahkan oleh Zona Sesar Cilacap –
Kuningan dari kelompok gunungapi Jawa Barat bagian timur (yakni deretan Gunung
Galunggung, Gunung Guntur, Gunung Papandayan, Gunung Patuha hingga Gunung
Tangkuban Perahu) yang terletak pada Zona Bandung. Kawasan Gunung Ceremai mempunyai
ketinggian sekitar 3.078 m di atas permukaan laut sehingga udara di kawasan tersebut sangat
sejuk dengan curah hujan rata-rata per tahun 2.000 - 4.000 mm serta termasuk ke dalam iklim
B dan C.
Gunung Ceremai merupakan salah satu ekosistem pegunungan yang memiliki
keunikan, karena merupakan gunung yang letaknya tidak terlalu jauh dengan laut (Laut Jawa)
dibandingkan dengan gunung-gunung lainnya di Pulau Jawa. Kawasan Gunung Ceremai
merupakan daerah yang memiliki keanekaragaman hayati yang cukup tinggi baik flora
maupun fauna yang sebagian di antaranya dilindungi oleh undang-undang.
Gunung ceremai merupakan termasuk gunung api yang aktif sehingga dapat
berpotensial tinggi menimbulkan bencana. Untuk itu diperlukan adanya kesiapan manajemen
dan komunikasi dalam pelaksanaan penanggulangan bencana baik ditingkat pusat, provinsi
maupun ditingkat daerah kabupaten/kota dalam bentuk kesiapan manajemen dan komunikasi
kebencanaan yang handal, terencana dan teruji.
Pengetahuan mengenai bencana alam mungkin sudah banyak diketahui oleh
masyarakat melalui segenap sosialisasi dari lembaga pemerintah maupun swasta, namun
tingkat kerentanannya masih tinggi.

A. GEOGRAFIS

Gunung Ceremai termasuk gunungapi Kuarter aktif, tipe A


(yakni, gunungapi magmatik yang masih aktif semenjak tahun 1600), dan berbentuk strato.
Gunung ini merupakan gunungapi soliter, yang dipisahkan oleh Zona Sesar Cilacap –
Kuningan dari kelompok gunungapi Jawa Barat bagian timur (yakni deretan Gunung
Galunggung, Gunung Guntur, Gunung Papandayan, Gunung Patuha hingga Gunung
Tangkuban Perahu) yang terletak pada Zona Bandung.

Ceremai merupakan gunungapi generasi ketiga. Generasi pertama ialah suatu


gunungapi Plistosen yang terletak di sebelah G. Ceremai, sebagai lanjutan vulkanisma Plio-
Plistosen di atas batuan Tersier. Vulkanisma generasi kedua adalah Gunung Gegerhalang,
yang sebelum runtuh membentuk Kaldera Gegerhalang. Dan vulkanisma generasi ketiga pada
kala Holosen berupa G. Ceremai yang tumbuh di sisi utara Kaldera Gegerhalang, yang
diperkirakan terjadi pada sekitar 7.000 tahun yang lalu.

Letusan Gunung Ceremai tercatat sejak 1698 dan terakhir kali terjadi tahun 1937 dengan
selang waktu istirahat terpendek 3 tahun dan terpanjang 112 tahun. Tiga letusan 1772, 1775
dan 1805 terjadi di kawah pusat tetapi tidak menimbulkan kerusakan yang berarti. Letusan
uap belerang serta tembusan fumarola baru di dinding kawah pusat terjadi tahun 1917 dan
1924. Pada 24 Juni 1937 – 7 Januari 1938 terjadi letusan freatik di kawah pusat dan celah
radial. Sebaran abu mencapai daerah seluas 52,500 km bujursangkar. Pada tahun 1947, 1955
dan 1973 terjadi gempa tektonik yang melanda daerah barat daya Gunung Ciremai, yang
diduga berkaitan dengan struktur sesar berarah tenggara – barat laut. Kejadian gempa yang
merusak sejumlah bangunan di daerah Maja dan Talaga sebelah barat Gunung Ceremai terjadi
tahun 1990 dan tahun 2001. Getarannya terasa hingga Desa Cilimus di timur Gunung
Ceremai.
B. HAZARD
Kawasan Lindung Geologi di Kabupaten Kuningan meliputi kawasan rawan bencana
letusan gunung berapi, kawasan rawan gerakan tanah, dan kawasan sempadan mata air.
Kawasan rawan bencana letusan gunung berapi dengan luas kurang lebih 3.743 Ha meliputi
Kecamatan Cigandamekar, Kecamatan Cigugur, Kecamatan Cilimus, Kecamatan Cipicung,
Kecamatan Jalaksana, Kecamatan Kramatmulya,. Kecamatan Mandirancan, Kecamatan
Pancalang dan Kecamatan Pasawahan. Beberapa daerah di Kuningan juga memiliki
kerentanan tinggi untuk terpengaruh gerakan tanah, terutama jika kegiatan manusia
menimbulkan gangguan pada lereng di kawasan ini. Perlindungan terhadap kawasan rawan
gerakan tanah dilakukan untuk mengatur kegiatan manusia untuk menghindari terjadinya
bencana akibat perbuatan manusia. Kawasan rawan gerakan tanah dengan luas kurang lebih
13.826 Ha tersebar di setiap kecamatan.

C. VULNERABILITY
Vulnerability adalah kerentanan dari manusia itu sendiri. Keadaan atau sifat dan perilaku
manusia yang menyebabkan ketidakmampuan seseorang untuk menghadapi bahaya atau
ancaman.
 Fisik
Tabel 1. Jumlah Penduduk di Kuningan Jawa Barat

Ditinjau dari struktur fisik infrastruktur sebagian besar bangunan terbentuk dari batu bata
dan semen, namun ada beberapa bangunan yang dibentuk tanpa menggunakan kayu penopang
sehingga tidak dapat mengantisipasi akibat yang ditimbulkan dari bencana alam. Masih ada
juga yang memiliki atap yang terhitung rapuh sehingga rawan rubuh apabila terjadi getaran
vulkanik. Selain itu, di kecamatan-kecamatan di kabupaten masih ada yang tidak memiiki
jalur khusus seperti jalan atau jembatan untuk evakuasi masyarakat terutama yang rentan atau
yang berisiko tinggi untuk diselamatkan terlebih dahulu apabila terjadi gempa dan tsunami
contohnya pada ibu hamil, anak-anak, lansia ataupun orang sakit.
 Sosial ekonomi
Kondisi fisik dan sarana prasarana pendidikan di sekolah-sekolah sudah cukup baik.
Sehingga sudah banyak masyarakat yang memilik usaha yang maju di daerah kabupaten
tersebut. Murid taman kanak-kanak di Kabupaten Karang Asem sebanyak 3.313 orang,
Murid SD berjumlah 49.052 orang, Murid SLTP berjumlah 17.488 orang dan murid SMA
berjumlah 610 orang.Teknologi
Teknologi komunikasi antar masyarakat yang masih tergolong rendah untuk
memperingatkan adanya tanda bahaya letusan gunung marapi.

D. CAPACITY
1. Kuantitatif
Salah satu faktor yang mempunyai andil yang cukup besar dan merupakan
faktor penentu utama dalam peningkatan derajat dan status kesehatan penduduk
adalah ketersediaan dan keterjangkauan fasilitas, sarana dan prasarana kesehatan.
Keberadaan puskesmas dan puskesmas pembantu di lapangan merupakan ujung
tombak pelayanan kesehatan karena relatif lebih mudah dijangkau oleh masyarakat
di pelosok desa.

Puskesmas
Jumlah puskesmas di Kuningan sebanyak 84 dengan rawat inap yang
tersebar dimasing-masing kecamatan dan untuk puskesmas pembantu sebanyak 107
artinya setiap Puskesmas didukung oleh 7 sampai 8 Puskesmas Pembantu dalam
memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat.

Rumah Sakit
Fasilitas yang memberikan layanan rujukan dan rawat inap di Kuningan
sebanyak 8, berda pada wilayah kabupaten kuningan, kecamatan cigugur, kecamatan
linggar jati, kecamatan kertawanguan, kecamatan Ancaran, dan kecamatan
luraagung.

2. Kualitatif
 Kerja sama antara pemerintah (BPBD) dan badan kesehatan di beberapa daerah
kecamatan dalam menghadapi bencana.
 Tenaga kesehatan, institusi pemerintah dan tokoh masyarakat yang sudah
memiliki pengetahuan dalam menghadapi bencana.
 Sosialisasi pada masyarakat mengenai ancaman dan akibat yang mungkin
ditimbulkan dari bencana.
 Kualitas obat dan alat-alat medis dalam kondisi baik dan terpelihara.
E. DISASTER MANAGEMENT
1. Strategi Penanggulangan Bencana
Penanggulangan bencana gunung berapi tidak hanya terpusat di kawasan gunung
berapi, tetapi juga masyarakat yang ada di sekitar kawasan gunung berapi yang kadang sulit
untuk dievakuasi. Alasannya selain keterikatan dengan tempat tinggal dan lahan pertanian,
juga karena adanya kepercayaan terhadap gunung berapi. Penanganan bencana letusan
gunung berapi dibagi menjadi tiga bagian, yaitu persiapan sebelum terjadi letusan, saat terjadi
letusan dan setelah terjadi letusan.

A. Pra bencana
Hal pertama dari proses kesiapsiagaan adalah memberi pengetahuan mengenai alam di
sekitar kita, baik dari sisi keunggulannya maupun tantangannya. Hal kedua adalah
memberikan penyuluhan mengenai letusan gunung merapi dan pelatihan atau simulasi jika
terjadi kembali letusan gunung merapi serta persiapan dan latihan menyelamatkan diri
(survival) dalam keadaan darurat. Edukasi pada tahap ini meliputi hal-hal berikut di bawah.
1. Mengenali tanda-tanda bencana, karakter gunung dan ancaman-ancamannya
2. Membuat peta ancaman, mengenali daerah ancaman, daerah aman
3. Membuat sistem peringatan dini
4. Mengembangkan Radio komunitas untuk penyebarluasan informasi status
gunung api
5. Mencermati dan memahami Peta Kawasan Rawan gunung api yang diterbitkan
oleh instansi berwenang
6. Membuat perencanaan penanganan bencana Mempersiapkan jalur dan tempat
pengungsian yang sudah siap dengan bahan kebutuhan dasar (air, jamban,
makanan, pertolongan pertama) jika diperlukan
7. Mempersiapkan kebutuhan dasar dan dokumen penting
8. Memantau informasi yang diberikan oleh Pos Pengamatan gunung api
(dikoordinasi oleh Direktorat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi). Pos
pengamatan gunung api biasanya mengkomunikasikan perkembangan status
gunung api lewat radio komunikasi

B. Saat terjadi letusan


1. Hindari daerah rawan bencana seperti lereng gunung, lembah, aliran sungai
kering dan daerah aliran lahar Hindari tempat terbuka, lindungi diri dari abu
letusan
2. Masuk ruang lindung darurat bila terjadi awan panas
3. Siapkan diri untuk kemungkinan bencana susulan Kenakan pakaian yang bisa
melindungi tubuh, seperti baju lengan panjang, celana panjang, topi dan
lainnya
4. Melindungi mata dari debu, bila ada gunakan pelindung mata seperti kacamata
renang atau apapun yang bisa mencegah masuknya debu ke dalam mata Jangan
memakai lensa kontak
5. Pakai masker atau kain untuk menutupi mulut dan hidung
6. Saat turunnya abu gunung usahakan untuk menutup wajah dengan kedua belah
tangan
C. Pasca Letusan
Setelah terjadi letusan maka yang harus dilakukan adalah :
1. Jauhi wilayah yang terkena hujan abu
2. Bersihkan atap dari timbunan abu karena beratnya bisa merusak atau
meruntuhkan atap bangunan
3. Hindari mengendarai mobil di daerah yang terkena hujan abu sebab bisa
merusak mesin motor, rem, persneling dan pengapian.

Lintas Sektoral
Dalam melaksanakan penanggulangan becana di daerah akan memerlukan koordinasi
dengan sektor. Secara garis besar dapat diuraikan peran lintas sektor sebagai berikut :

1. Sektor Pemerintahan, mengendalikan kegiatan pembinaan


pembangunan daerah
2. Sektor Kesehatan, merencanakan pelayanan kesehatan dan
medik termasuk obat-obatan dan para medis
3. Sektor Sosial, merencanakan kebutuhan pangan, sandang, dan
kebutuhan dasar lainnya untuk para pengungsi
4. Sektor Pekerjaan Umum, merencanakan tata ruang daerah,
penyiapan lokasi dan jalur evakuasi, dan kebutuhan pemulihan sarana dan prasarana.
5. Sektor Perhubungan, melakukan deteksi dini dan informasi
cuaca/meteorologi dan merencanakan kebutuhan transportasi dan komunikasi
6. Sektor Energi dan Sumber Daya Mineral, merencanakan dan
mengendalikan upaya mitigatif di bidang bencana geologi dan bencana akibat ulah
manusia yang terkait dengan bencana geologi sebelumnya
7. Sektor Tenaga Kerja dan Transmigrasi, merencanakan
pengerahan dan pemindahan korban bencana ke daerah yang aman bencana.
8. Sektor Keuangan, penyiapan anggaran biaya kegiatan
penyelenggaraan penanggulangan bencana pada masa pra bencana
9. Sektor Kehutanan, merencanakan dan mengendalikan upaya
mitigatif khususnya kebakaran hutan/lahan
10. Sektor Lingkungan Hidup, merencanakan dan mengendalikan
upaya yang bersifat preventif, advokasi, dan deteksi dini dalam pencegahan bencana.
11. Sektor Kelautan merencanakan dan mengendalikan upaya
mitigatif di bidang bencana tsunami dan abrasi pantai.
12. Sektor Lembaga Penelitian dan Peendidikan Tinggi, melakukan
kajian dan penelitian sebagai bahan untuk merencanakan penyelenggaraan
penanggulangan bencana pada masa pra bencana, tanggap darurat, rehabilitasi dan
rekonstruksi.
13. TNI/POLRI membantu dalam kegiatan SAR, dan pengamanan
saat darurat termasuk mengamankan lokasi yang ditinggalkan karena penghuninya
mengungsi.