Anda di halaman 1dari 21

PROGRAM PENANGGULANGAN ANEMIA GIZI BESI DAN

KEKURANGAN ENERGI KRONIK (KEP)


Disusun untuk melengkapi tugas PP Gizi

Oleh
Berliana Puspita
1503410049

POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES MALANG


JURUSAN GIZI
PRODI DIV
FEBRUARI 2018
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Anemia Gizi adalah kekurangan kadar haemoglobin (Hb) dalam darah yang disebabkan
karena kekurangan zat gizi yang diperlukan untuk pembentukan Hb tersebut. Di Indonesia
sebagian besar anemia ini disebabkan karena kekurangan zat besi (Fe) hingga disebut
Anemia Kekurangan Zat Besi atau Anemia Gizi Besi.

Malnutrisi khususnya Kurang Energi Protein (KEP) adalah gangguan gizi yang disebabkan
oleh kekurangan protein dan atau kalori, serta sering disertai dengan kekurangan zat gizi lain.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mendefinisikan kekurangan gizi sebagai
“ketidakseimbangan seluler antara pasokan nutrisi dan energi dan kebutuhan tubuh bagi
mereka untuk menjamin pertumbuhan, pemeliharaan, dan fungsi tertentu.” Kurang Energi
Protein (KEP) berlaku untuk sekelompok gangguan terkait yang termasuk marasmus,
kwashiorkor dan marasmus-kwashiorkor.

Di Indonesia, berdasarkan SKRT 2001 ditemukan sekitar 40,1% ibu hamil yang mengalami
anemia. Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) oleh Badan Pusat Statistik (BPS) dan
Laporan Survei Departemen Kesehatan-Unicef tahun 2005 menemukan dari sekitar 4 juta ibu
hamil, separuhnya mengalami anemia gizi dan satu juta lainnya mengalami kekurangan
energi kronis. Data Dinas Kesehatan Kota Makassar menunjukkan, prevalensi anemia pada
ibu hamil di kota Makassar tahun 2008 sebesar 13,7%, dan pada tahun 2009 meningkat
menjadi 14,2%. Namun, prevalensi anemia ibu hamil tiga tahun terakhir mengalami
penurunan; pada tahun 2010, prevalensinya menjadi 13,7%, dan pada tahun 2011 sebesar
12,5%.

Berdasarkan penjelasan di atas dapat diketahui bahwa anemia telah menjadi salah satu
masalah gizi. Oleh karena itu, makalah ini dibuat untuk mengetahui mengenai anemia gizi dan
cara penanggulangannya.

1.2 Tujuan
Untuk mengetahui program penanggulangan anemia gizi besi pada tiap sasaran.
Untuk mengetahui program penanggulangan KEP pada tiap sasaran.
1.3 Rumusan Masalah
Bagaimana penanggulangan anemia gizi besi pada tiap sasaran?
Bagaimana penanggulangan KEP pada tiap sasaran?
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Anemia Gizi Besi

Anemia merupakan keadaan di mana masa eritrosit atau masa hemoglobin yang beredar
tidak memenuhi fungsinya untuk menyediakan oksigen. Secara laboratoris, anemia
dijabarkan sebagai penurunan kadar hemoglobin serta hitung eritrosit dan hematokrit di
bawah normal. Anemia adalah keadaan di mana jumlah sel darah merah atau kadar
hemoglobin dalam sel darah merah berada di bawah normal. Sel darah merah mengandung
hemoglobin yang mengangkut oksigen dari paru-paru dan mengantar ke seluruh tubuh.
Anemia secara mudah dapat dikatakan seseorang dengan keadaan kadar hemoglobin dalam
darah kurang dari yang seharusnya. Anemia dapat dikatakan juga bilamana ukuran dan
jumlah eritrosit dalam hemoglobin kurang dari normal.

Anemia defisiensi besi merupakan defisiensi yang paling banyak ditemukan di seluruh dunia.
Anemia gizi terutama yang disebabkan oleh defisiensi zat besi merupakan kelainan gizi yang
paling sering ditemui di negara berkembang dan bersifat epidemik. Anemia defisiensi besi
adalah suatu keadaan yang ditandai dengan menurunnya kadar zat warna merah dalam sel
darah merah atau eritrosit yang disebut sebagai hemoglobin. Anemia gizi umumnya terjadi
pada perempuan dalam usia reproduktif dan anak-anak. Keadaan ini membawa efek
keseluruhan terbesar dalam hal gangguan kesehatan.Anemia defisiensi besi rentan terjadi
pada remaja puteri karena meningkatnya kebutuhan zat besi selama masa pertumbuhan.
Ditambah lagi, kehilangan darah pada masa menstruasi juga meningkatkan risiko anemia.
Pada perempuan usia subur, anemia gizi berkaitan dengan fungsi reproduktif yang buruk,
proporsi kematian maternal yang tinggi (10-20% dari total kematian), meningkatnya insiden
BBLR (berat bayi <2,5 kg pada saat lahir), dan malnutrisi intrauteri.

2.2 KEP
KEP adalah manifestasi dari kurangnya asupan protein dan energi, dalam makanan sehari-
hari yang tidak memenuhi angka kecukupan gizi (AKG), dan biasanya juga diserta adanya
kekurangan dari beberapa nutrisi lainnya. Disebut malnutrisi primer bila kejadian KEP akibat
kekurangan asupan nutrisi, yang pada umumnya didasari oleh masalah sosial ekonomi,
pendidikan serta rendahnya pengetahuan dibidang gizi.Malnutrisi sekunder bila kondisi
masalah nutrisi seperti diatas disebabkan karena adanya penyakit utama, seperti kelainan
bawaan, infeksi kronis ataupun kelainan pencernaan dan metabolik, yang mengakibatkan
kebutuhan nutrisi meningkat, penyerapan nutrisi yang turun dan/meningkatnya kehilangan
nutrisi. Makanan yang tidak adekuat, akan menyebabkan mobilisasi berbagai cadangan
makanan untuk menghasilkan kalori demi penyelamatan hidup, dimulai dengan pembakaran
cadangan karbohidrat kemudian cadangan lemak serta protein dengan melalui proses
katabolik. Kalau terjadi stres katabolik (infeksi) maka kebutuhan akan protein akan meningkat,
sehingga dapat menyebabkan defisiensi protein yang relatif, kalau kondisi ini terjadi pada saat
status gizi masih diatas -3 SD (-2SD–3SD), maka terjadilah kwashiorkor (malnutrisi
akut/”decompensated malnutrition”). Pada kondisi ini penting peranan radikal bebas dan anti
oksidan. Bila stres katabolik ini terjadi pada saat status gizi dibawah -3 SD, maka akan
terjadilah marasmik-kwashiorkor. Kalau kondisi kekurangan ini terus dapat
teradaptasi sampai dibawah -3 SD maka akan terjadilah marasmik
(malnutrisikronik/compensated malnutrition). Sehimgga pada KEP dapat terjadi : gangguan
pertumbuhan, atrofi otot, penurunan kadar albumin serum, penurunan hemoglobin,
penurunan sistem kekebalan tubuh, penurunan berbagai sintesa enzim.

2.3 Penanggulangan anemia gizi besi


tujuan dan sasaran program
1. Tujuan
a. Umum : Meningkatkan status kesehatan dan gizi remaja putri dan WUS melalui
penanggulangan anemia gizi.
b. Khusus : 1. Meningkatkan kinerja petugas kesehatan dalam upaya
penanggulangan anemia gizi.
2. Meningkatkan partisipasi dan kerjasama antara sektor kesehatan dengan sektor
pendidikan, keagamaan, organisasi dan LSM untuk penanggulangan masalah anemia gizi.
3. Meningkatkan kesadaran remaja putri dan WUS serta keluarganya akan pentingnya
meningkatkan status kesehatan dan gizi dengan mencegah masalah anemia sedini
mungkin.
4. Melaksanakan suplementasi TTD untuk remaja putri dan WUS secara mandiri.
5. Menurunkan prevalensi Anemia Gizi pada WUS khususnya remaja putri.

2. Sasaran
a. Langsung : Remaja Putri dan Wanita Usia Subur
b. Tidak Langsung :
1. Remaja Putra/peserta didik
2. Guru/pendidik/Kepala Sekolah dan masyarakat lingkungan sekolah
3. Pemuka/Tokoh Agama dan masyarakat
4. Ketua Organisasi Kepemudaan
5. Ketua Organisasidan LSM bidang kepemudaan, kesehatan, keagamaan dan wanita
6. Ketua federasi pekerja sektor non formal
7. Petugas kesehatan (puskesmas)
8. Tempat kerja (manajer/pemilik)
9. Distributor
10. Masyarakat umum

II. KEGIATAN OPERASIONAL


Kegiatan Penanggulangan Anemia Gizi untuk Remaja Putri dan WUS yang dilakukan,
utamanya merupakan kegiatan KIE yaitu promosi atau kampanye tentang anemia kepada
masyarakat luas, ditunjang dengan kegiatan penyuluhan kelompok serta konseling yang
ditujukan secara langsung pada Remaja Putri/Wanita melalui wadah yang sudah ada di
masyarakat seperti sekolah, pesantren, tempat kerja (formal/informal), organisasi dan LSM
bidang kepemudaan, kesehatan, keagamaan dan wanita.
Kegiatan suplementasi TTD dilakukan secara mandiri dengan dosis 1 tablet seminggu sekali
minimal selama 16 minggu, dan dianjurkan minum 1 tablet setiap hari selama masa
haid/menstruasi.
Anjuran konsumsi makanan kaya besi dilaksanakan dengan mengacu pada “gizi seimbang”,
diikuti dengan pembinaan kantin di sekolah atau penjaja makanan di sekitar remaja/wanita
berkumpul.
Deteksi dini juga dilakukan untuk mengetahui apakah Remaja Putri/Wanita menderita Risiko
KEK (LILA <23,5 cm), sehingga dapat dilakukan upaya untuk meningkatkan status gizinya.
a. persiapan
1. Kesepakatan lintas program dan sektor terkait di tingkat Pusat, Daerah Tingkat I,
Daerah Tingkat II, tingkat kecamatan dan desa.
Kesepakatan meliputi jajaran kesehatan, pendidikan, keagamaan serta organisasi dan LSM
bidang kepemudaan dan wanita.
Penyediaan bahan pedoman/petunjuk pelaksanaan/petunjuk teknis bagi petugas kesehatan,
pendidikan, keagamaan dan petugas lain yang melakukan penyuluhan.
Penyediaan materi KIE oleh Depkes, Depdikbud, Depag, LSM, instansi terkait, swasta dan
masyarakat.
Penyusunan kurikulum Kesehatan Reproduksi Remaja di sekolah/ pesantren/madrasah
Tsanawiyah/madrasah Aliyah oleh Depkes, Depdikbud, Depag dan instansi terkait lain.
Penyediaan dan distribusi Tablet Tambah Darah.
Penyebarluasan informasi melalui :
a. Kampanye/promosi
b. Tayangan/siaran/tulisan melalui media elektronik dan cetak.
c. Lokakarya, pameran, sarasehan, pencanangan di tingkat Pusat, Daerah Tingkat I,
Daerah Tingkat II, tingkat kecamatan dan desa.
d. Siaran keliling di Daerah Tingkat II, tingkat kecamatan dan desa.
b. pelaksanaan
1. KIE : penyuluhan kesehatan dan gizi termasuk penyuluhan tentang suplementasi
Tablet Tambah Darah untuk Remaja Putri/Wanita dilaksanakan secara berkala dengan
mengikut sertakan :
a. Lintas Sektor Terkait : Depkes, Depnaker, Depdikbud, Depag, Depdagri, Depsos,
BKKBN, Menpora, Menperta dan lain-lain.
b. Organisasi Sosial dan Keagamaan : seperti Karang Taruna, MUI, PGI, KWI, PT dan
Walubi sampat ke tingkat wilayah.
c. Organisasi Kepemudaan dan Wanita : misalnya Pramuka, Saka, Bhakti Husada,
PMR, Kowani, Dharma Wanita, Dharma Pertiwi, PKK sampai ke tingkat ranting.
d. LSM terkait : misalnya PP Nahdlatul Ulama, PP Muhammadiyah, Fatayat NU, PP
Aisyiyah, Wanita Katolik dan lain-lain.
e. Donor agency bidang kesehatan : Unicef, WHO, USAID, PATH, HKI, Mother Care dan
lain-lain.
f. Organisasi Profesi : IDI, POGI, IBI, PDGMI, ISFI, Persagi, IAKMI dan lain-lain.
g. Media Komunikasi : seperti Televisi, PRSSNI, Biro Iklan, YPS, koran dan majalah.
h. Pekerja formal : perusahaan, pabrik melalui Gerakan Pekerja Wanita Sehat dan
Produktif (GPWSP).
i. Pekerja non formal : industri rumah tangga, buruh tani, buruh perkebunan dan lain-
lain.
Suplementasi Tablet Tambah Darah
a. Dilaksanakan secara mandiri.
b. Tablet Tambah Daerah yang dapat digunakan adalah obat generik yang harganya
terjangkau oleh masyarakat. Tablet Tambah Daerah Generik dikemas dalam bungkus warna
putih, berisi 30 tablet per bungkus. Harga Tablet Tambah Darah generik tidak boleh melebihi
Harga Eceran Tertinggi (HET) obat generik. Disamping itu dapat juga digunakan Tablet
Tambah Darah dengan merek dagang yang memenuhi spesifikasi (mengandung 60 mg besi
elemental dan 0,25 mg asam folat).
c. Tablet Tambah Darah generik merupakan obat bebas terbatas yang dapat dibeli di
Apotik, Toko Obat, Warung/Toko, koperasi/kantin sekolah dan pesantren, POD, dokter/bidan
praktek swasta dan pondok bersalin.

3. Deteksi dini Kurang Energi Kronis (KEK) :


a. Dilakukan setiap tahun dengan mengukur Lingkar Lengan Kiri Atas (LILA) dengan
memakai pita LILA.
b. Pada Remaja Putri/Wanita yang LILA-nya <23,5 cm berarti menderita Risiko Kurang
Energi Kronis (KEK), yang harus dirujuk ke Puskesmas/ sarana pelayanan kesehatan lain,
untuk mendapatkan konseling dan pengobatan.
c. Pengukuran LILA dapat dilakukan oleh Remaja Putri atau wanita itu sendiri, kader
atau pendidik. Selanjutnya konseling dapat dilakukan oleh petugas gizi di Puskesmas (Pojok
Gizi), sarana kesehatan lain atau petugas kesehatan/gizi yang datang ke sekolah, pesantren
dan tempat kerja.

III. PEMBINAAN DAN PENGAWASAN


A. TUGAS DAN TANGGUNG JAWAB MASING-MASING SEKTOR
1. Kecamatan :
Sekolah/Puskesmas/tempat kerja/organisasi kesehatan, wanita, pemuda dan keagamaan :
a. Melaksanakan bimbingan dan penyuluhan kepada Remaja Putri/Wanita.
b. Menyediakan paket penyuluhan/kurikulum kesehatan dan gizi untuk Remaja Putri dan
Wanita.
c. Melaksanakan koordinasi dengan camat oleh jajaran kesehatan, pendidikan, agama
dan instansi terkait untuk kelancaran pelaksanaan program.
d. Mengadakan koordinasi dengan tempat tersedianya Tablet Tambah Darah.
e. Melaksanakan penyuluhan kesehatan dan gizi serta konseling.
2. Daerah Tingkat II :
Kantor Depdikbud, Kandepkes, Dinkes, dan Kantor Depag Kabupaten/ Kotamadya :
a. Melaksanakan pengadaan dan pendistribusian paket penyuluhan/ kurikulum untuk tiap
kecamatan.
b. Melaksanakan koordinasi dengan Pemda Tingkat II Kabupaten/ Kotamadya dan
instansi terkait serta LSM.
c. Melakukan koordinasi dengan Pedagang Besar Farmasi (PBF) atau distributor tentang
distribusi Tablet Tambah Darah.
d. Mengadakan pemantauan ke sekolah/pesantren/tempat kerja/organisasi bidang
kesehatan/wanita/kepemudaan/keagamaan.
3. Daerah Tingkat I :
a. Merencanakan kebutuhan paket penyuluhan/kurikulum kesehatan dan gizi, pengadaan
dan distribusi untuk tiap kabupaten/kotamadya.
b. Melakukan koordinasi dengan Pemda Tingkat I Propinsi dan instansi terkait serta LSM.
c. Melakukan koordinasi dengan Pedagang Besar Farmasi (PBF) atau distributor tentang
distribusi Tablet Tambah Darah.
d. Melakukan pemantauan ke Daerah Tingkat II Kabupaten/Kotamadya dan Kecamatan.
4. Pusat :
Depdikbud, Depkes, dan Depag :
a. Melakukan koordinasi dalam penyusunan paket penyuluhan/kurikulum kesehatan dan
gizi, pengadaan dan distribusi untuk tiap propinsi.
b. Melakukan koordinasi dengan produsen tentang penyediaan Tablet Tambah Darah.
c. Melaksanakan koordinasi dengan lintas sektor lain (Depsos, BKKBN) serta LSM
tentang pengembangan dan pelaksanaan Program Penanggulangan Anemia Gizi untuk
Remaja Putri dan WUS.
d. Melakukan pemantauan ke Daerah Tingkat I Propinsi, Daerah Tingkat II
Kabupaten/Kotamadya dan Kecamatan.
Kegiatan Penanggulangan Anemia Gizi untuk Remaja Putri dan WUS yang dilakukan,
utamanya merupakan kegiatan KIE yaitu promosi atau kampanye tentang anemia kepada
masyarakat luas, ditunjang dengan kegiatan penyuluhan kelompok serta konseling yang
ditujukan secara langsung pada Remaja Putri/Wanita melalui wadah yang sudah ada di
masyarakat seperti sekolah, pesantren, tempat kerja (formal/informal), organisasi dan LSM
bidang kepemudaan, kesehatan, keagamaan dan wanita.
Kegiatan suplementasi TTD dilakukan secara mandiri dengan dosis 1 tablet seminggu
sekali minimal selama 16 minggu, dan dianjurkan minum 1 tablet setiap hari selama masa
haid/menstruasi. Anjuran konsumsi makanan kaya besi dilaksanakan dengan mengacu
pada gizi seimbang, diikuti dengan pembinaan kantin di sekolah atau penjaja makanan di
sekitar remaja/wanita berkumpul. Deteksi dini juga dilakukan untuk mengetahui apakah
Remaja Putri/Wanita menderita Risiko KEK (LILA <23,5 cm), sehingga dapat dilakukan
upaya untuk meningkatkan status gizinya.
A. PERSIAPAN
1. Kesepakatan lintas program dan sektor terkait di tingkat Pusat, Daerah Tingkat I, Daerah
Tingkat II, tingkat kecamatan dan desa.
2. Kesepakatan meliputi jajaran kesehatan, pendidikan, keagamaan serta organisasi dan
LSM bidang kepemudaan dan wanita.
3. Penyediaan bahan pedoman/petunjuk pelaksanaan/petunjuk teknis bagi petugas
kesehatan, pendidikan, keagamaan dan petugas lain yang melakukan penyuluhan.
4. Penyediaan materi KIE oleh Depkes, Depdikbud, Depag, LSM, instansi terkait, swasta
dan masyarakat.
5. Penyusunan kurikulum Kesehatan Reproduksi Remaja di sekolah/ pesantren/madrasah
Tsanawiyah/madrasah Aliyah oleh Depkes, Depdikbud, Depag dan instansi terkait lain.
6. Penyediaan dan distribusi Tablet Tambah Darah.
7. Penyebarluasan informasi melalui :
a. Kampanye/promosi
b. Tayangan/siaran/tulisan melalui media elektronik dan cetak.
c. Lokakarya, pameran, sarasehan, pencanangan di tingkat Pusat, Daerah Tingkat I, Daerah
Tingkat II, tingkat kecamatan dan desa.
d. Siaran keliling di Daerah Tingkat II, tingkat kecamatan dan desa.
B. PELAKSANAAN
1. KIE : penyuluhan kesehatan dan gizi termasuk penyuluhan tentang suplementasi Tablet
Tambah Darah untuk Remaja Putri/Wanita dilaksanakan secara berkala dengan mengikut
sertakan :
a. Lintas Sektor Terkait : Depkes, Depnaker, Depdikbud, Depag, Depdagri, Depsos, BKKBN,
Menpora, Menperta dan lain-lain.
b. Organisasi Sosial dan Keagamaan : seperti Karang Taruna, MUI, PGI, KWI, PT dan
Walubi sampat ke tingkat wilayah.
c. Organisasi Kepemudaan dan Wanita : misalnya Pramuka, Saka, Bhakti Husada, PMR,
Kowani, Dharma Wanita, Dharma Pertiwi, PKK sampai ke tingkat ranting.
d. LSM terkait : misalnya PP Nahdlatul Ulama, PP Muhammadiyah, Fatayat NU, PP
Aisyiyah, Wanita Katolik dan lain-lain.
e. Donor agency bidang kesehatan : Unicef, WHO, USAID, PATH, HKI, Mother Care dan
lain-lain.
f. Organisasi Profesi : IDI, POGI, IBI, PDGMI, ISFI, Persagi, IAKMI dan lainlain.
g. Media Komunikasi : seperti Televisi, PRSSNI, Biro Iklan, YPS, koran dan majalah.
h. Pekerja formal : perusahaan, pabrik melalui Gerakan Pekerja Wanita Sehat dan Produktif
(GPWSP).
i. Pekerja non formal : industri rumah tangga, buruh tani, buruh perkebunan dan lain-lain.
2. Suplementasi Tablet Tambah Darah
a. Dilaksanakan secara mandiri.
b. Tablet Tambah Daerah yang dapat digunakan adalah obat generik yang harganya
terjangkau oleh masyarakat. Tablet Tambah Daerah Generik dikemas dalam bungkus warna
putih, berisi 30 tablet per bungkus. Harga Tablet Tambah Darah generik tidak boleh melebihi
Harga Eceran Tertinggi (HET) obat generik. Disamping itu dapat juga digunakan Tablet
Tambah Darah dengan merek dagang yang memenuhi spesifikasi (mengandung 60 mg besi
elemental dan 0,25 mg asam folat).
c. Tablet Tambah Darah generik merupakan obat bebas terbatas yang dapat dibeli di Apotik,
Toko Obat, Warung/Toko, koperasi/kantin sekolah dan pesantren, POD, dokter/bidan
praktek swasta dan pondok bersalin.
3. Distribusi Tablet Tambah Darah generik untuk Remaja Putri dan WUS.
5 PABRIK DISTRIBUSI/ Pedagang Besar Farmasi
APOTIK/TOKO OBAT Koperasi Unit Desa Warung/ Toko Koperasi/kantin Sekolah/pesantren
Pos Obat Desa Dokter/Bidan Praktek Swasta Pondok Bersalin Remaja Putri/WUS
4. Deteksi dini Kurang Energi Kronis (KEK) :
a. Dilakukan setiap tahun dengan mengukur Lingkar Lengan Kiri Atas (LILA) dengan
memakai pita LILA.
b. Pada Remaja Putri/Wanita yang LILA-nya <23,5 cm berarti menderita Risiko Kurang
Energi Kronis (KEK), yang harus dirujuk ke Puskesmas/ sarana pelayanan kesehatan lain,
untuk mendapatkan konseling dan pengobatan.
c. Pengukuran LILA dapat dilakukan oleh Remaja Putri atau wanita itu sendiri, kader atau
pendidik. Selanjutnya konseling dapat dilakukan oleh petugas gizi di Puskesmas (Pojok
Gizi), sarana kesehatan lain atau petugas kesehatan/gizi yang datang ke sekolah, pesantren
dan tempat kerja.
III. PEMBINAAN DAN PENGAWASAN A. TUGAS DAN TANGGUNG JAWAB MASING-
MASING SEKTOR
1. Kecamatan : Sekolah/Puskesmas/tempat kerja/organisasi kesehatan, wanita, pemuda
dan keagamaan :
a. Melaksanakan bimbingan dan penyuluhan kepada Remaja Putri/Wanita.
b. Menyediakan paket penyuluhan/kurikulum kesehatan dan gizi untuk Remaja Putri dan
Wanita.
c. Melaksanakan koordinasi dengan camat oleh jajaran kesehatan, pendidikan, agama dan
instansi terkait untuk kelancaran pelaksanaan program.
d. Mengadakan koordinasi dengan tempat tersedianya Tablet Tambah Darah.
e. Melaksanakan penyuluhan kesehatan dan gizi serta konseling.
2. Daerah Tingkat II : Kantor Depdikbud, Kandepkes, Dinkes, dan Kantor Depag Kabupaten/
Kotamadya :
a. Melaksanakan pengadaan dan pendistribusian paket penyuluhan/ kurikulum untuk tiap
kecamatan.
b. Melaksanakan koordinasi dengan Pemda Tingkat II Kabupaten/ Kotamadya dan instansi
terkait serta LSM.
c. Melakukan koordinasi dengan Pedagang Besar Farmasi (PBF) atau distributor tentang
distribusi Tablet Tambah Darah.
d. Mengadakan pemantauan ke sekolah/pesantren/tempat kerja/organisasi bidang
kesehatan/wanita/kepemudaan/keagamaan.
3. Daerah Tingkat I :
a. Merencanakan kebutuhan paket penyuluhan/kurikulum kesehatan dan gizi, pengadaan
dan distribusi untuk tiap kabupaten/kotamadya.
b. Melakukan koordinasi dengan Pemda Tingkat I Propinsi dan instansi terkait serta LSM.
c. Melakukan koordinasi dengan Pedagang Besar Farmasi (PBF) atau distributor tentang
distribusi Tablet Tambah Darah.
d. Melakukan pemantauan ke Daerah Tingkat II Kabupaten/Kotamadya dan Kecamatan.
4. Pusat : Depdikbud, Depkes, dan Depag :
a. Melakukan koordinasi dalam penyusunan paket penyuluhan/kurikulum kesehatan dan
gizi, pengadaan dan distribusi untuk tiap propinsi.
b. Melakukan koordinasi dengan produsen tentang penyediaan Tablet Tambah Darah.
c. Melaksanakan koordinasi dengan lintas sektor lain (Depsos, BKKBN) serta LSM tentang
pengembangan dan pelaksanaan Program Penanggulangan Anemia Gizi untuk Remaja
Putri dan WUS.
d. Melakukan pemantauan ke Daerah Tingkat I Propinsi, Daerah Tingkat II
Kabupaten/Kotamadya dan Kecamatan.

B. PENCATATAN DAN PELAPORAN


1. Pencatatan dan pelaporan kegiatan KIE, penyuluhan, deteksi dini dan konseling
dilaksanakan sesuai dengan mekanisme yang sudah ada.
2. Depdikbud, Depkes, Depag dan instansi terkait lain melaporkan kepada instansinya
masing-masing sampat ke Tingkat Pusat.
3. Pencatatan dan pelaporan cakupan suplementasi Tablet Tambah Darah mandiri,
dilaksanakan secara tindak langsung melalui data penjualan dan survei.
IV. EVALUASI
Untuk mengetahui perkembangan dan keberhasilan program Penanggulangan Anemia Gizi
untuk Remaja Putri/WUS, perlu dilakukan evaluasi pelaksanaan kegiatan. Kegiatan evaluasi
meliputi :
A. Kelancaran logistik dan dana.
B. Pelaksanaan kegiatan penyuluhan, pembinaan deteksi dini dan konseling.
C. Survei Cepat Kelainan Gizi.
D. Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT).
E. Penelitian atau studi. Indikator keberhasilan antara lain :
A. Meningkatkan Pengetahuan, Sikap dan Perilaku (PSP) Remaja Putri/Wanita tentang
anemia gizi.
B. Cakupan distribusi dan konsumsi Tablet Tambah Darah pada Remaja Putri/Wanita.
C. Kepatuhan minum Tablet Tambah Darah.
D. Menurunnya prevalensi anemia pada Wanita Usia Subur khususnya Remaja Putri. Hasil
evaluasi sangat bermanfaat sebagai bahan perencanaan lebih lanjut.
Menambah pemasukan zat besi kedalam tubuh dengan minum Tablet Tambah Darah
(TTD).
C. Mengobati penyakit yang menyebabkan atau memperberat anemia seperti: kecacingan,
malaria dan penyakit TBC.
V. MANFAAT TABLET TAMBAH DARAH (TTD)
A. Apakah Tablet Tambah Darah itu? Tablet Tambah Darah adalah tablet besi folat yang
setiap tablet mengandung 200 mg Ferro Sulfat atau 60 mg besi elemental dan 0,25 mg
asam folat.
B. Mengapa Wanita dan Remaja Putri perlu minum Tablet Tambah Darah? 1. Wanita
mengalami haid sehingga memerlukan zat besi untuk mengganti darah yang hilang. 2.
Wanita mengalami hamil, menyusui, sehingga kebutuhan zat besinya sangat tinggi yang
perlu dipersiapkan sedini mungkin semenjak remaja. 3. Mengobati wanita dan remaja putri
yang menderita anemia. 4. Meningkatkan kemampuan belajar, kemampuan kerja dan
kualitas sumber daya manusia serta generasi penerus. 5. Meningkatkan status gizi dan
kesehatan Remaja Putri dan Wanita.
C. Bagaimana cara minum Tablet Tambah Darah? 1. Minumlah 1 (satu) Tablet Tambah
Darah seminggu sekali dan dianjurkan minum 1 tablet setiap hari selama haid. 2. Untuk ibu
hamil, minumlah 1 (satu) Tablet Tambah Darah setiap hari paling sedikit selama 90 hari
masa kehamilan dan 40 hari setelah melahirkan. REMAJA PUTRI DAN WANITA
DIANJURKAN MINUM TABLET TAMBAH DARAH AGAR SENANTIASA SEHAT, SEGAR
BUGAR, BERSERI DAN BERSEMANGAT
D. Apa yang harus diperhatikan tentang Tablet Tambah Darah? 1. Minumlah Tablet Tambah
Darah dengan air putih, jangan minum dengan the, susu atau kopi karena dapat
menurunkan penyerapan zat besi dalam tubuh sehingga manfaatnya menjadi berkurang. 2.
Kadang-kadang dapat terjadi gejala ringan yang tidak membahayakan seperti perut terasa
tidak enak, mual-mual, susah buang air besar dan tinja berwarna hitam.3. Untuk mengurangi
gejala sampingan, minumlah TTD setelah makan malam, menjelang tidur. Akan lebih baik
bila setelah minum TTD diserta makan buah-buahan seperti : pisang, pepaya, jeruk, dll. 4.
Simpanlah TTD di tempat yang kering, terhindar dari sinar matahari langsung, jauhkan dari
jangkauan anak, dan setelah dibuka harus ditutup kembali dengan rapat. TTD yang telah
berubah warna sebaiknya tidak diminum (warna asli : merah darah). 5. Tablet Tambah
Darah tidak menyebabkan tekanan darah tinggi atau kebanyakan darah.
E. Dimana dapat membeli Tablet Tambah Darah? 1. Tablet Tambah Darah adalah obat
bebas terbatas sehingga dapat dibeli di Apotik, Toko Obat, Warung, Bidan Praktek, Pos
Obat Desa. 2. Dianjurkan menggunakan Tablet Tambah Darah generik yang disediakan
pemerintah dengan harga yang terjangkau oleh masyarakat. 3. Disamping itu dapat juga
dipergunakan Tablet Tambah Darah dengan merk dagang lain yang memenuhi kandungan
seperti Tablet Tambah Darah generik. BIASAKAN MEMBACA LABEL SEBELUM MEMBELI
TABLET TAMBAH DARAH
VI. PERAN GURU DAN TOKOH MASYARAKAT A. Apakah peran guru dalam
menanggulangi anemia gizi pada remaja putri?
1. Guru sebagai pendidik, diharapkan pada setiap kesempatan dapat secara langsung
memberikan pengetahuan kepada anak didiknya terutama Remaja Putri tentang pentingnya
mencegah dan mengobati anemia sedini mungkin.
2. Pendidikan gizi dan kesehatan di SLTP, SLTA, Madrasah Tsanawiyah, Aliyah dan
Pondok Pesantren dapat diintegrasikan pada mata pelajaran : Biologi, IPA, Penjaskes
(Pendidikan Jasmani dan Kesehatan)
3. Kegiatan UKS, PMR serta Saka Bhakti Husada dapat merupakan saran untuk
memberikan penyuluhan tentang anemia.
4. Guru dapat mengadakan komunikasi dengan orang tua murid agar memperhatikan pula
status gizi dan kesehatan putrinu.
B. Apakah peran tokoh masyarakat dalam menanggulangi anemi gizi pada Remaja Putri dan
Wanita?
1. Tokoh masyarakat seperti Ketua Organisasi, Pimpinan Kelompok, Kader serta petugas
lain di luar kesehatan sangat berperan dalam memberikan penyuluhan dan motivasi kepada
masyarakat, khususnya kelompok Remaja Putri di luar sekolah, pekerja wanita informal,
ibuibu rumah tangga agar selalu menjaga kesehatannya dengan mencegah dan mengobati
anemia.
2. Penyuluhan gizi dan kesehatan di luar sekolah dapat dilaksanakan melalui kegiatan
Karang Taruna, Remaja Masjid, Majelis Ta lim, PKK dan lain-lain. Koordinasi antara guru
dan tokoh masyarakat dengan petugas kesehatan atau Puskesmas agar selalu ditingkatkan
untuk menanggulangi masalah anemia gizi pada Remaja Putri dan Wanita.
2.4 Penanggulangan KEP
PROGRAM PENANGGULANGAN BALITA KEP
1. Penjaringan Kasus Balita KEP
Tujuan : Untuk mengetahui kejadian dan jumlah balita KEP
Ruang Lingkup : Wilayah kerja puskesmas
Uraian umum : Pelacakan adalah menemukan kasus balita KEP melalui pengukuran BB dan
melihat tanda-tanda klinis
Langkah-langkah kegiatan :
1) Mendatangi Posyandu atau rumah balita yang diduga menderita KEP
2) Menyiapkan atau menggantungkan dacin pada tempat yang aman
3) Menanyakan tanggal / kelahiran anak
4) Menimbang balita
5) Mencatat hasil penimbangan
6) Menilai status gizi balita dengan indeks BB/U standart WHO-NCHS
7) Mencatat nama balita menderita KEP
8) Membuat laporan KLB ke DKK
2. Pelayanan Balita KEP Puskesmas
Tujuan : Memberikan pelayanan balita KEP di puskesmas dengan baik
Ruang lingkup : Puskesmas
Uraian umum : Balita KEP adalah anak yang berumur 0-5 tahun yang BB/Unya & ndash; 3
SD standart WHO-NCHS dan mempunyai tanda-tanda klinis ( marasmus, kwashiorkor dan
marasmus-kwashiorkor )
Langkah-langkah kegiatan :
1) Identifikasi balita KEP
2) Pengukuran antropometri dan pemeriksaan klinis
3) Mengatasi hipoglikemi
4) Mengatasi dehidrasi
5) Koreksi gangguan keseimbangan elektrolit
6) Mengobati infeksi
7) Pemberian makan
8) Pengamatan tumbuh kejar kembang
9) Tindak lanjut setelah sembuh
10) Pelacakan balita KEP dengan cara investigasi
3. Pelacakan Balita KEP Dengan Cara Investigasi
Tujuan : Untuk mengetahui faktor –faktor yang berkaitan dengan kejadian balita KEP melalui
wawancara dan pengamatan.
Ruang Lingkup : Wilayah kerja Puskesmas
Uraian Umum : Investigasi adalah mencari faktor-faktor yang berkaitan dengan kejadian
KEP melalui wawancara dan pengamatan.
Langkah-langkah kegiatan :
1) Mendatangi rumah balita KEP
2) Memperkenalkan diri dan menjelaskan tujuan kunjungan
3) Melakukan wawancara dan pengamatan sesuai kuesioner
4) Melakukan pengukuran ulang ( bila diperlukan )
5) Mengamati tanda klinis dengan fokus marasmus / kwashiorkor.
6) Menjelaskan kondisi kesehatan dan akibat yang mungkin terjadi
7) Memberikan motivasi pada keluarga ( orangtua ) agar balita mau dirujuk ( ke Puskesmas
)
8) Melakukan dokumentasi
4. Pelayanan Balita KEP Di Rumah Tangga
Tujuan : Untuk meningkatkan status gizi balita KEP
Ruang Lingkup : rumah tangga
Uraian Umum : Pelayanan gizi adalah pelayanan yang difokuskan pada PMT Pemulihan dan
KEP adalah keadaan gizi berdasarkan hasil penimbangan BB pada KMS berada di Bawah
Garis Merah (BGM )atau BB/ U –3 SD standart WHO-NCHS
Langkah-langkah kegiatan :
1) Menghitung kebutuhan zat gizi berdasarkan BB
2) Menentukan jenis PMT-Pemulihan berdasar BB
3) Mendemonstrasikan cara menyiapkan PMT-P pada ibu
4) Menjelaskan cara pemberian ( frekuensi dan lama pemberian ) PMT-P
5) Menganjurkan untuk tetap memberi ASI sampai umur 2 tahun
6) Menganjurkan pemberian MP-ASI sesuai usia balita
7) Menganjurkan makanan seimbang sesuai umur dan kondisi kesehatan
8) Menganjurkan anak ditimbang secara teratur setiap bulan
9) Memberikan PMT-Pemulihan
5. Koordinasi Lintas Sektoral Dalam Upaya Penanggulangan Balita KEP
Tujuan : Melaksanakan kerjasama lintas sektor dalam penanggulangan balita KEP
Ruang Lingkup : Koordinasi Lintas Sektor tingkat Kabupaten dan Kecamatan
Uraian Umum : Dukungan sektor terkait dalam penanggulangan balita KEP dan Lintas
Sektor terdiri dari Pertanian BKKBN, Depag, PKK, Camat
Langkah-langkah kegiatan :
1) Menyiapkan bahan rapat koordinasi
2) Membuat surat undangan
3) Mengedarkan surat undangan
4) Menyiapkan sarana dan prasarana
5) Menyampaikan masalah KEP
6) Membuat kesepakatan tindak lanjut / rencana kerja penanggulangan
7) Membuat notulen
8) Melaporkan hasil rapat
9) Umpan balik
Adapun program penaggulangan KEP lainya meliputi :
1. Intervensi yang dilakukan pada saat skreening kasus, intervensi antara lain penyuluhan
individual dan konseling, pengetahuan tentang pola asuh keluarga dan PMT.
2. Intervensi di bidang pertanian, mikronutrien, penyediaan air minum yang aman dan
sanitasi yang baik, pendidikan tentang gizi dan makanan, memberikan perhatin khusus
kepada kelompok yang rentan serta pengadaan pelayanan kesehatan yang berkualitas.
3. Pemberian makanan tambahan (PMT) pemulihan dan bila keadaan status gizi anak
belum mengalami perbaikan maka diteruskan dengan pemberian makanan tambahan
pemeliharaan. Pada kasus - kasus kronis yang memerlukan rawatan di fasilitas pelayanan
kesehatan dasar (Puskesmas) maka kasus di rawat inapkan bahkan bila memerlukan
rawatan lanjutan dapat di rujuk ke RSUD, biaya rujukan sementara di dapat dari biaya APBN
4. Memperbaiki pola pertumbuhan anak dan status gizi anak dari tidak normal menjadi
normal atau lebih baik. Oleh karena pola pertumbuhan dan status gizi anak tidak hanya
disebabkan oleh makanan, maka pendekatan ini mengharuskan program gizi dikaitkan
dengan kegiatan program lain diluar program pangan secara konvergen seperti dengan
program air bersih dan kesehatan lingkungan, imunisasi, penyediaan lapangan kerja dan
penanggulangan kemiskinan.program yang bersifat terintegrasi seperti itu, program gizi
akan rasional untuk menjadi bagian dari pembangunan nasional secara keseluruhan.
5. Peningkatan pendapatan, pendidikan gizi, suplementasi makanan hingga subsidi bahan
pangan, serta tindakan lain yang berefek pada peningkatan kesejahteraan masyarakat
secara umum.
6. KEP yang umumnya terjadi di daerah dengan kondisi miskin, fokus harus diarahan pada
kondisi spesifik yang ada. Pengobatan infeksi cacing 3 kali setahun misalnya akan sangat
bermanfaat dan dapat meningkatkan pertumbuhan dan perkembangan anak. Penanganan
diare yang saling terkait dan seperti membentuk lingkaran setan dengan KEP juga
memerlukan perhatian khusus.
7. Penyuluhan mengenai pentingnya ASI, peningkatan kondisi air bersih dan kebersihan
lingkungan, monitoring pertumbuhan anak melalui sarana pelayanan kesehatan telah
terbukti sangat efektif. Oleh karena itu hal yang sangat mungkin namun sulit diwujudkan
adalah mengaktifkan kembali posyandu-posyandu terutama yang sudah tidak berjalan pada
tingkat dusun.
8. Meningkatkan variasi jenis makanan terutama yang berasal dari kebun dan ternak sendiri
juga sangat efektif. Penyuluhan gizi sebaiknya diberikan pada tingkat rumah tangga untuk
meningkatkan produksi sayur-sayuran berdaun hijau tua, buah-buahan berwarna kuning dan
orange, unggas, telur, ikan dan susu. Program penyuluhan gizi mengenai keberadaan
produk pangan yang kaya protein dan mikronutrien di daerah setempat akan sangat efektif
dan bekesinambungan.
penanggulangan Kekurangan Energi Protein ( KEP ) dapat dilakukan dengan meningkatkan
asupan protein. Secara umun dikenal dua jenis protein yaitu protein yang berasal
dari hewan dan protein nabati yang berasal dari tumbuhan. Protein hewani dapat diperoleh
dari berbagai jenis makanan seperti ikan, daging, telur dan susu. Protein nabati terutama
berasal dari kacang-kacangan serta bahan makanan yang terbuat dari kacang (Elly
Nurachmah, 2001:15).

Pelayanan gizi balita KEP pada dasarnya setiap balita yang berobat atau dirujuk ke rumah
sakit dilakukan pengukuran berat badan, tinggi badan dan lila untuk menentukan status
gizinya, selain melihat tanda-tanda klinis dan laboratorium. Penentuan status gizi maka perlu
direncanakan tindakan sebagai berikut :
Balita KEP ringan, memberikan penyuluhan gizi dan nasehat pemberian makanan di rumah
(bilamana pasien rawat jalan, dianjurkan untuk memberi makanan di rumah (bayi umur < 4
bulan) dan terus diberi ASI sampai 3 tahun.
Balita KEP sedang; (a) Penderita rawat jalan : diberikan nasehat pemberian makanan dan
vitamin serta teruskan ASI dan pantau terus berat badannya. (b) Penderita rawat inap :
diberikan makanan tinggi energi dan protein, dengan kebutuhan energi 20-50% diatas
kebutuhan yang dianjurkan (angka kecukupan gizi/AKG) dan diet sesuai dengan
penyakitnya.
Balita KEP berat : harus dirawat inap di RS dan dilaksanakan sesuai pemenuhan kebutuhan
nutrisinya.
Kegiatan penanggulangan KEP balita meliputi :
Penjaringan balita KEP yaitu kegiatan penentuan ulang status gizi balita beradsarkan berat
badan dan perhitungan umur balita yang sebenarnya dalam hitungan bulan pada
saat itu.Cara penjaringan yaitu balita dihitung kembali umurnya dengan tepat dalam
hitungan bulan, balita ditimbang berat badannya dengan menggunakan timbangan dacin,
berdasarkan hasil perhitungan umur dan hasil pengukuran BB tersebut tentukan status gizi
dengan KMS atau standar antropometri.
Kegiatan penanganan KEP balita meliputi program PMT balita adalah program intervensi
bagi balita yang menderita KEP yang ditujukan untuk mencukupi kebutuhan zat gizi balita
gar meningkat status gizinya sampai mencapai gizi baik (pita hijau dalam KMS),
pemeriksaan dan pengobatan yaitu pemeriksaan dan pengobatan untuk mengetahui
kemungkinan adanya penyakit penyerta guna diobati seperlunya sehingga balita KEP tidak
semakin berat kondisinya, asuhan kebidanan/keperawatan yaitu untuk memberikan
bimbingan kepada keluarga balita KEP agar mampu merawat balita KEP sehingga dapat
mencapai status gizi yang baik melalui kunjungan rumah dengan kesepakatan keluarga agar
bisa dilaksanakan secara berkala, suplementasi gizi/ paket pertolongan gizi hal ini diberikan
untuk jangka pendek. Suplementasi gizi meliputi : pemberian sirup zat besi; vitamin A
(berwarna biru untuk bayi usia 6-11 bulan dosis 100.000 IU dan berwarna merah untuk
balita usia 12-59 bulan dosis 200.000 IU); kapsul minyak beryodium, adalah larutan yodium
dalam minyak berkapsul lunak, mengandung 200 mg yodium diberikan 1x dalam setahun.
Balita KEP ringan, memberikan penyuluhan gizi dan nasehat pemberian makanan di rumah
(bilamana pasien rawat jalan, dianjurkan untuk memberi makanan di rumah (bayi umur < 4
bulan) dan terus diberi ASI sampai 3 tahun.
Balita KEP sedang;
Penderita rawat jalan : diberikan nasehat pemberian makanan dan vitamin serta teruskan
ASI dan pantau terus berat badannya.
Penderita rawat inap : diberikan makanan tinggi energi dan protein, dengan kebutuhan
energi 20-50% diatas kebutuhan yang dianjurkan (angka kecukupan gizi/AKG) dan diet
sesuai dengan penyakitnya
1.JANGKA PENDEK
Upaya pelacakan kasus melalui penimbangan bulanan di Posyandu
Rujukan kasus KEP dengan komplikasi penyakit di RSU
Pemberian ASI Eksklusif untuk bayi usia 0-6 bulan
Pemberian kapsul Vit A
Pemberian Makanan Tambahan (PMT) pemulihan bagi balita gizi buruk dengan lama
pemberian 3 bulan
Memberikan makanan Pendamping ASI (MP-ASI) bagi balita keluarga miskin usia 6-12
bulan
Promosi makanan sehat dan bergizi
2. JANGKA MENENGAH
Revitalisasi Posyandu
Revitalisasi Puskesmas
Revitalisasi Sistem Kewaspadaan Pangan dan Gizi
3. JANGKA PANJANG
Pemberdayaan masyarakat menuju Keluarga Sadar Gizi (Kadarzi)
Integrasi kegiatan lintas sektoral dengan program penanggulangan kemiskinan dan
ketahanan pangan

PENANGGULANGAN KURANG ENERGI PROTEIN


Untuk KEP tanpa gejala klinis, secara umum cukup memperbaiki intake makanan yang
masuk kedalam tubuh. Untuk KEP dengan gejala klinis (Marasmus, Kwashiorkor, dan
Marasmus-Kwashiorkor) dapat ditangulangi dengan penatalaksanaan sebagai berikut :
Prosedur tetap pengobatan dirumah sakit :
1. Prinsip dasar penanganan 10 langkah utama (diutamakan penanganan kegawatan)
1.1. Penanganan hipoglikemi
1.2. Penanganan hipotermi
1.3. Penanganan dehidrasi
1.4. Koreksi gangguan keseimbangan elektrolit
1.5. Pengobatan infeksi
1.6. Pemberian makanan
1.7. Fasilitasi tumbuh kejar
1.8. Koreksi defisiensi nutrisi mikro
1.9. Melakukan stimulasi sensorik dan perbaikan mental
1.10. Perencanaan tindak lanjut setelah sembuh
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Anemia merupakan keadaan di mana masa eritrosit atau masa hemoglobin yang beredar tidak
memenuhi fungsinya untuk menyediakan oksigen. Cara penanggulangan anemia gizi yaitu
meningkatkan konsumsi zat besi dari makanan, suplementasi zat besi, mengubah kebiasaan
pola makanan dan hidup bersih dan pencegahan infeksi cacing, dan fortifikasi makanan.

Kurang energy protein merupakan keadaan kuang gizi yang disebakan oleh rendahnya
konsumsi energi dan protein dalam makanan sehari-hari sehingga tidak memenuhi angka
kecukupan gizi (Depkes 1999). KEP itu sendiri dapat digolongkan menjadi KEP tanpa gejala
klinis dan KEP dengan gejala klinis. Secara garis besar tanda klinis berat dari KEP adalah
Marasmus, Kwashiorkor, dan Marasmus-Kwashiorkor. Ada banyak faktor yang menyebabkan
terjadinya KEP diantaranya Penyebab langsung adalah asupan gizi dan penyakit infeksi. Cara
penanggulangan kekurangan energi protein bermacam-macam, mulai dari balita hingga orang
dewasa, penanggulangan pada balita menggunakan PMT. Suplementasi gizi meliputi :
pemberian sirup zat besi; vitamin A (berwarna biru untuk bayi usia 6-11 bulan dosis 100.000
IU dan berwarna merah untuk balita usia 12-59 bulan dosis 200.000 IU); kapsul minyak
beryodium, adalah larutan yodium dalam minyak berkapsul lunak, mengandung 200 mg
yodium diberikan 1x dalam setahun.
DAFTAR PUSTAKA
https://sulitmakan.com/2016/07/03/penanganan-malnutrisi-kurang-energi-protein-kep-pada-
anak-2/
https://rhyerhiathy.wordpress.com/tag/kekurangan-energi-protein/
http://zweetscorpioluv.blogspot.co.id/2010/06/program-penanggulangan-kep.html
http://docplayer.info/160293-Pedoman-penanggulangan-anemia-gizi-untuk-remaja-putri-dan-
wanita-usia-subur.html
https://bohkasim.wordpress.com/2009/03/19/pedoman-penanggulangan-anemia-gizi/
http://nurafifahsahri.blogspot.co.id/2015/12/penanggulangan-anemia-gizi.html