Anda di halaman 1dari 9

DISASTER PLAN

GUNUNG API BINAIYA MALUKU TENGAH

DISUSUN OLEH :

Ramadhiana M Tuasikal
030.13.162

PEMBIMBING :
Dr. Gita Tarigan, MPH

KEPANITERAAN KLINIK ILMU KESEHATAN MASYARAKAT


PERIODE– 2019
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TRISAKTI
JAKARTA
PENDAHULUAN

Indonesia merupakan negara kepulauan dan terkenal sebagai negara yang mempunya
gunung merapi terbanyak didunia, terletak pada pertemuan tiga lempeng kerak bumi, yaitu
lempeng Eurasia, lempeng Indo-Australia, lempeng Pasifik. Akibat pertemuan ketiga lempeng
tersebut menimbulkan jalur gunung api aktif yang memanjang dari Aceh sampai Sulawesi
Utara. Di Indonesia terdapat sekitar 500 gunung salah satunya berada di Maluku. Gunung di
Maluku tersebar di beberapa pulau kecil dan pulau besar. Salah satu yang tertinggi yakni
terletak di pulau Seram dan masuk dalam kawasan Taman Nasional Manusela, yakni gunung
Binaya. Provinsi Maluku adalah salah satu wilayah di NKRI yang terkenal di dunia
internasional.

Gunung Binaia atau Binaiya atau Binaija adalah sebuah gunung yang terletak di Pulau
Seram, Maluku di negara Indonesia. Gunung Binaiya merupakan gunung tertinggi di Provinsi
Maluku dan gunung ini merupakan gunung berapi yang sudah tidak aktif lagi. Ketinggian
gunung Binaia mencapai 3.027 meter di atas permukaan laut (mdpl) masuk ke dalam wilayah
Kabupaten Maluku Tengah. Provinsi Maluku. Gunung ini membentang di Pulau Seram dan
masuk ke dalam lingkup Taman Nasional Manusela yang mempunyai luas 189.000 hektar,
atau sekitar 20% wilayah Pulau Seram.

Gunung Binaia mempunyai curah hujan rata-rata 2000 mm/tahun, dengan musim
penghujan terjadi sepanjang bulan November hingga April. Gunung binaia juga tergolong
gunung yang unik karena menjulang dari dari ketinggian 0 meter hingga 3055 meter dari
permukaan laut. Dibagian kaki gunung, banyak terdapat sungai yang membentangseluas 6-8
meter.

Gunung Api Binaia memang sudah tidak aktif namun bukan berarti terlepas dari
sebuah bencana, mengingat gunung Binaia mempunyai curah hujan rata-rata 2000 mm/tahun
serta daerah Maluku merupakan daerah yang rawan terkena gempa. Untuk itu diperlukan
adanya kesiapan manajemen dan komunikasi dalam pelaksanaan penanggulangan bencana
baik ditingkat pusat, provinsi maupun ditingkat daerah kabupaten/kota dalam bentuk kesiapan
manajemen dan komunikasi kebencanaan yang handal, terencana dan teruji.

Pengetahuan mengenai bencana alam mungkin sudah banyak diketahui oleh


masyarakat melalui segenap sosialisasi dari lembaga pemerintah maupun swasta, namun
tingkat kerentanannya masih tinggi.
A. GEOGRAFIS
Binaya berada di gugusan pegunungan Manusela di Pulau Seram. Jejeran pegunungan
Manusela membagi pulau Seram menjadi dua yaitu Seram Utara dan Seram Selatan.
Layaknya sebuah pegunungan, di Pegunungan Manusela ini terdapat banyak sekali puncak.
Puncak tertingginya adalah Gunung Binaya dengan ketinggian 3.027 mdpl. Selain itu juga
terdapat puncak seperti Gunung Murkele, Gunung Bintang, Gunung Manukupa, dan lainnya.
Tidak ada sejarah yang mencatat siapa yang mendaki pertama kali ke Gunung Binaya, namun
bagi orang suku Nuaulu gunung Binaya adalah tempat yang sangat dihormati karena didiami
oleh roh leluhur. Taman Nasional Gunung Binaya berada dalam pengawasan Taman Nasional
Manusela yang berkantor di Kota Masohi. Taman Nasional Manusela ini mempunyai luas
1.890 km persegi dan berada pada posisi geografis antara koordinat 129°9’33” - 129°46’14”
BT dan 2°48’24” - 3°18’24” LS. Secara administratif termasuk dalam wilayah Kecamatan
Seram Utara yang berkedudukan di Wahai dan Kecamatan Seram Selatan di Tehoru,
Kabupaten Maluku Tengah, Propinsi Maluku.

Gambar 1. Letak Geografis Gunung Binaia

Iklim dan musim menurut Schidmit dan Ferguson, kawasan pegunungan Manusela
termasuk ke dalam tipe iklim B dengan curah hujan ratarata 1500 – 2000 mm/tahun dan
kisaran temperatur 25º C - 35ºC. Kelembaban rata-rata 82.9% - 93.5% dengan rentangan
mulai dari ketinggian 0 mdpl hingga 3.027 mdpl dan kemiringan topografi berkisar 30 – 60
%. Musim penghujan jatuh mulai dari Mei hingga September dan musim panas jatuh mulai
dari November hingga April. Hal ini jelas memberikan indikator musim pendakian yang
terbaik kesana adalah di November hingga April.
B. HAZARD
Maluku berada pada pertemuan tiga lempeng besar, yakni Pasifik, Indo Australia, dan
Eurasia. Lempeng Indo Australia masuk ke bawah Eurasia, bertemu dengan Lempeng
Pasifik sehingga mengakibatkan patahan yang tidak beraturan. Berdasarkan hasil
penelitian yang dilakukan Tim peneliti BNPB bersama UNESCO, beberapa daerah di
Maluku yang tergolong rawan gempa di antaranya Seram Bagian Utara, Kabupaten
Maluku Tengah, mengingat sebagian besar patahan di bawah laut berada di daerah
tersebut. Berdasarkan data Indeks Risiko Bencana Indonesia (IRBI) menunjukkan indeks
risiko bencana Maluku sebesar 179 dengan kategori tinggi, dan penjabaran risiko bencana
yang tinggi pula di masing-masing kabupaten/kota di Provinsi Maluku. hasil Kajian
Risiko Bencana yang menyatakan bahwa terdapat 12 jenis ancaman bencana berpotensi
terjadi di Maluku, yakni banjir, banjir bandang, gelombang ekstrem dan abrasi, gempa
bumi, kekeringan, epidemi dan wabah penyakit, letusan gunung api, cuaca ekstrem, tanah
longsor, tsunami, kebakaran hutan dan lahan, serta kegagalan teknologi.

C. VULNERABILITY
Vulnerability adalah kerentanan dari manusia itu sendiri. Keadaan atau sifat dan perilaku
manusia yang menyebabkan ketidakmampuan seseorang untuk menghadapi bahaya atau
ancaman.
 Fisik
Tabel 1. Jumlah Penduduk Menurut Kecamatan di Kabupaten Maluku Tengah 2015

Ditinjau dari struktur fisik infrastruktur sebagian besar bangunan terbentuk dari batu bata
dan semen, namun ada beberapa bangunan yang dibentuk tanpa menggunakan kayu penopang
sehingga tidak dapat mengantisipasi akibat yang ditimbulkan dari bencana alam. Masih ada
juga yang memiliki atap yang terhitung rapuh sehingga rawan rubuh apabila terjadi getaran
vulkanik. Selain itu, di kecamatan-kecamatan di kabupaten masih ada yang tidak memiiki
jalur khusus seperti jalan atau jembatan untuk evakuasi masyarakat terutama yang rentan atau
yang berisiko tinggi untuk diselamatkan terlebih dahulu apabila terjadi gempa dan tsunami
contohnya pada ibu hamil, anak-anak, lansia ataupun orang sakit.

 Sosial ekonomi
Kanikeh merupakan sebuah desa yang berada di Pulau Seram dan merupakan satu dari
empat desa asli lokal yang berada di Taman Nasional Manusela. Kanikeh juga menjadi desa
persinggahan terakhir sebelum jalur pendakian ke Gunung Binaiya. Mata pencaharian
penduduk desa ini adalah berburu, bercocok tanam, dan bertani. Institusi lokal yang bergerak
di bidang penanggulangan terhadap bencana yang kurang memadai dan tingkat pendidikan
masyarakat yang sebagian besar rendah serta banyaknya populasi penduduk.

 Teknologi
Teknologi komunikasi antar masyarakat yang masih tergolong rendah untuk
memperingatkan adanya tanda bahaya letusan gunung marapi.

D. CAPACITY
1. Kuantitatif
Salah satu faktor yang mempunyai andil yang cukup besar dan merupakan
faktor penentu utama dalam peningkatan derajat dan status kesehatan penduduk
adalah ketersediaan dan keterjangkauan fasilitas, sarana dan prasarana kesehatan.
Keberadaan puskesmas dan puskesmas pembantu di lapangan merupakan ujung
tombak pelayanan kesehatan karena relatif lebih mudah dijangkau oleh masyarakat
di pelosok desa.

Puskesmas
Jumlah puskesmas di Maluku Tengah sebanyak 14 dengan rawat inap yang
tersebar dimasing-masing kecamatan dan untuk puskesmas pembantu sebanyak 107
artinya setiap Puskesmas didukung oleh 7 sampai 8 Puskesmas Pembantu dalam
memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat.

Rumah Sakit
Fasilitas yang memberikan layanan rujukan dan rawat inap di Maluku
Tengah pada tahun 2014 sebanyak 4 unit, yang berada 4 di kecamatan yaitu Banda,
kota Masohi,Saparua, dan Salahuta.
2. Kualitatif
 Kerja sama antara pemerintah (BPBD) dan badan kesehatan di beberapa daerah
kecamatan dalam menghadapi bencana.
 Tenaga kesehatan, institusi pemerintah dan tokoh masyarakat yang sudah
memiliki pengetahuan dalam menghadapi bencana.
 Sosialisasi pada masyarakat mengenai ancaman dan akibat yang mungkin
ditimbulkan dari bencana.
 Kualitas obat dan alat-alat medis dalam kondisi baik dan terpelihara.

E. DISASTER MANAGEMENT
1. Strategi Penanggulangan Bencana
Penanggulangan bencana gunung berapi tidak hanya terpusat di kawasan gunung
berapi, tetapi juga masyarakat yang ada di sekitar kawasan gunung berapi yang kadang sulit
untuk dievakuasi. Alasannya selain keterikatan dengan tempat tinggal dan lahan pertanian,
juga karena adanya kepercayaan terhadap gunung berapi. Penanganan bencana letusan
gunung berapi dibagi menjadi tiga bagian, yaitu persiapan sebelum terjadi letusan, saat terjadi
letusan dan setelah terjadi letusan.
A. Pra bencana
Hal pertama dari proses kesiapsiagaan adalah memberi pengetahuan mengenai alam di
sekitar kita, baik dari sisi keunggulannya maupun tantangannya. Hal kedua adalah
memberikan penyuluhan mengenai letusan gunung merapi dan pelatihan atau simulasi jika
terjadi kembali letusan gunung merapi serta persiapan dan latihan menyelamatkan diri
(survival) dalam keadaan darurat. Edukasi pada tahap ini meliputi hal-hal berikut di bawah.
1. Mengenali tanda-tanda bencana, karakter gunung dan ancaman-ancamannya
2. Membuat peta ancaman, mengenali daerah ancaman, daerah aman
3. Membuat sistem peringatan dini
4. Mengembangkan Radio komunitas untuk penyebarluasan informasi status
gunung api
5. Mencermati dan memahami Peta Kawasan Rawan gunung api yang diterbitkan
oleh instansi berwenang
6. Membuat perencanaan penanganan bencana Mempersiapkan jalur dan tempat
pengungsian yang sudah siap dengan bahan kebutuhan dasar (air, jamban,
makanan, pertolongan pertama) jika diperlukan
7. Mempersiapkan kebutuhan dasar dan dokumen penting
8. Memantau informasi yang diberikan oleh Pos Pengamatan gunung api
(dikoordinasi oleh Direktorat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi). Pos
pengamatan gunung api biasanya mengkomunikasikan perkembangan status
gunung api lewat radio komunikasi

B. Saat terjadi letusan


1. Hindari daerah rawan bencana seperti lereng gunung, lembah, aliran sungai
kering dan daerah aliran lahar Hindari tempat terbuka, lindungi diri dari abu
letusan
2. Masuk ruang lindung darurat bila terjadi awan panas
3. Siapkan diri untuk kemungkinan bencana susulan Kenakan pakaian yang bisa
melindungi tubuh, seperti baju lengan panjang, celana panjang, topi dan
lainnya
4. Melindungi mata dari debu, bila ada gunakan pelindung mata seperti kacamata
renang atau apapun yang bisa mencegah masuknya debu ke dalam mata Jangan
memakai lensa kontak
5. Pakai masker atau kain untuk menutupi mulut dan hidung
6. Saat turunnya abu gunung usahakan untuk menutup wajah dengan kedua belah
tangan
C. Pasca Letusan
Setelah terjadi letusan maka yang harus dilakukan adalah :
1. Jauhi wilayah yang terkena hujan abu
2. Bersihkan atap dari timbunan abu karena beratnya bisa merusak atau
meruntuhkan atap bangunan
3. Hindari mengendarai mobil di daerah yang terkena hujan abu sebab bisa
merusak mesin motor, rem, persneling dan pengapian.

Lintas Sektoral
Dalam melaksanakan penanggulangan becana di daerah akan memerlukan koordinasi
dengan sektor. Secara garis besar dapat diuraikan peran lintas sektor sebagai berikut :

1. Sektor Pemerintahan, mengendalikan kegiatan pembinaan


pembangunan daerah
2. Sektor Kesehatan, merencanakan pelayanan kesehatan dan
medik termasuk obat-obatan dan para medis
3. Sektor Sosial, merencanakan kebutuhan pangan, sandang, dan
kebutuhan dasar lainnya untuk para pengungsi
4. Sektor Pekerjaan Umum, merencanakan tata ruang daerah,
penyiapan lokasi dan jalur evakuasi, dan kebutuhan pemulihan sarana dan prasarana.
5. Sektor Perhubungan, melakukan deteksi dini dan informasi
cuaca/meteorologi dan merencanakan kebutuhan transportasi dan komunikasi
6. Sektor Energi dan Sumber Daya Mineral, merencanakan dan
mengendalikan upaya mitigatif di bidang bencana geologi dan bencana akibat ulah
manusia yang terkait dengan bencana geologi sebelumnya
7. Sektor Tenaga Kerja dan Transmigrasi, merencanakan
pengerahan dan pemindahan korban bencana ke daerah yang aman bencana.
8. Sektor Keuangan, penyiapan anggaran biaya kegiatan
penyelenggaraan penanggulangan bencana pada masa pra bencana
9. Sektor Kehutanan, merencanakan dan mengendalikan upaya
mitigatif khususnya kebakaran hutan/lahan
10. Sektor Lingkungan Hidup, merencanakan dan mengendalikan
upaya yang bersifat preventif, advokasi, dan deteksi dini dalam pencegahan bencana.
11. Sektor Kelautan merencanakan dan mengendalikan upaya
mitigatif di bidang bencana tsunami dan abrasi pantai.
12. Sektor Lembaga Penelitian dan Peendidikan Tinggi, melakukan
kajian dan penelitian sebagai bahan untuk merencanakan penyelenggaraan
penanggulangan bencana pada masa pra bencana, tanggap darurat, rehabilitasi dan
rekonstruksi.
13. TNI/POLRI membantu dalam kegiatan SAR, dan pengamanan
saat darurat termasuk mengamankan lokasi yang ditinggalkan karena penghuninya
mengungsi.