Anda di halaman 1dari 35

MAKALAH

IMPLEMENTASI PENDIDIKAN INKLUSI

O
L
E
H

DEBY ANDRILA S.Pd

SEKOLAH LUAR BIASA LUAK NAN BUNGSU


KOTA PAYAKUMBUH
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan
rahmat serta karunia-Nya kepada kami sehingga kami berhasil menyelesaikan
penyusunan makalah ini dalam bentuk maupun isinya yang sangat sederhana
yang berjudul ABK dalam Setting Inklusif. Makalah ini berisikan tentang
informasi Pendidikan Inklusif untuk ABK. Diharapkan makalah ini dapat
memberikan informasi kepada kita semua tentang Pendidikan Inklusif untuk
ABK.

Kami menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna, oleh
karena itu kritik dan saran dari semua pihak yang bersifat membangun selalu
kami harapkan demi kesempurnaan makalah ini.

Akhir kata, kami sampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah
berperan serta dalam penyusunan makalah ini dari awal sampai akhir. Semoga
Allah SWT senantiasa meridhai segala usaha kita. Amin.

Payakumbuh Juni 2018

ii
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR.............................................................................................. ii

DAFTAR ISI............................................................................................................ iii

BAB I.......................................................................................................................

PENDAHULUAN................................................................................................... 1

1.1. Latar Belakang............................................................................................. 4

1.2. Rumusan Masalah. .............................................................................................7

1.3. Tujuan Penulisan.......................................................................................... 7

BAB II. .....................................................................................................................9

PEMBAHASAN.. ....................................................................................................9

2.1. Pengertian Anak Berkebutuhan Khusus ( ABK ).............................................. 9

2.2. Pengertian Inklusif............................................................................................. 10

2.3. Tujuan Dan Manfaat Pendidikan Inklusif.......................................................... 13

2.4. Perkembangan pendidikan ABK di Indonesia. ..................................................14

2.5. Implementasi Pendidikan Inlusif Di Indonesia.................................................. 15

PENUTUP................................................................................................................. 32

3.1. Kesimpulan. ..................................................................................................32

3.2. Saran............................................................................................................. 33

DAFTAR PUSTAKA............................................................................................... iv

LAMPIRAN.............................................................................................................. v

iii
BAB I

PENDAHULUAN

1.1. LATAR BELAKANG

Arti pendidikan bisa diartikan sebagai sebuah pengajaran bimbingan dan pelatihan sebgai

istilah istilah teknis tidak lagi dibeda bedakan oleh masyarakat kita tapi ketiganya melebur

menjadi satu pengertian harus tentang pendidikan dalam undang undang nomor 2 tahun 1989

tentang pendidikan nasional pasal 1 misalnya dijelaskan bahwa “ pendidikan adalah usaha

sadar untuk menyiapkan peserta didik melalui kegiatan bimbingan pengajarandan atau

pelatihan bagi peranannnya dimasa yang akan datang

Dari pengertian yang luas tersebut muhaimin membuat rumusan tentang pendidikan,

pendidikan merupakan sebuah aktifitas dan fenomena pendidikan sebagai sebuah aktivitas

sebuah upaya secara sadar yang dirancang untuk membantu seseorang atau sekelompok

orang atau kelompok yang dalam mengembangkan pandangan hidup dalam hal sikap hidup

dan keterapilan hidup baiik yang bersifat manual maupun mental dan sosial . sedangkan

pendidikan sebagai fenomena sebagai sebuah peristiwa perjumpaan antara dua orang atau

lebih yang dampaknya ialah berkembangnya suatu pandangan hidup, sikap hidup atau

keterampilan hidup pada salah satu atau beberapa pihak.

Dalam konteks ini manusia dihadapkan pada kondisi lahir dan pertumbuhan yang berbeda

yaitu normal dan abnormal. Anak abnormal secara istilah disebut anak cacat / anak

bekelainan / anak berkebutuhan khusus. Pendidikan unbtuk anak berkebutuhan pertama kali

adalah sekolah luar biasa (slb ) sebagai solusi dari keadaan anak agar anak bisa berkembang.

Ternyata adanya Slb mendapat suatu kelemahan dalam implementasinya kelemahan tersebut

dikarenakan Abk yang mendekati normal tidak bisa bersosialisasi dengan anak regular .

sehingga ketika mereka lulus tingkat slb mereka kaku dan tidak bisa bersosialisasi dengan
masyarakat , degan demikian pedidikan anak berkebutuhan khusus selalu berkembang untuk

mencari model yang ideal maka munculnya model pendidikan inklusi dimana anak reguler

dan anak berkebutuhan khusus bisa belajar bersama sama.

Meskipun bergeraknya pendidikan inklusi di indonesia semakin meluas tetapi

permasalahan masih terjadi sampai saat ini yaitu ABK belum bisa dengan mudah menikmati

pendidikan dengan nyaman , aman serta diterima dilingkungan sekolah melalui belajar

bersama dengan anak regular. Ini menunjukkan bahwa masih banyak ABK yang belum

berkesempatan mendapat pendidikann disekolah umum. Permasalahan lain dalam

penerapannya juga memang mebutuhkan ekstra penyadaran terhadap lingkungan baik kepada

siswa, guru, staf terhadap siswa berkebutuhan khusus , dikarenakan banyak kasus dan cerita

bahwa siswa inklusi di Bully atau dianiaya oleh temannya sendiri yang notabone siswa

reguler.

Dengan demikian isu isu tentang pendidikan inklusi menjadi perhatian semua pihak,

dengan tujuan bagaimana hak pendidikan dari anak berkebutuhan khusus bisa terlayani

dengan baik melalui pasrtisipasi penuh sebagai faktor kunci keberhasilan pelaksanaan

pendidikan inklusi.

Menurut Fredickson & Cline (2002) “ pendidikan inklusi memiliki prinsip adanya

tuntutan yang besar terhadap guru reguler maupun pendamping khusus . ini menuntut

pergeseran besar dari tradisi mengajarkan materi yang sama kepada semua siswa dikelas.

Menjadi mengajar setiap anak sesuai dengan kebutuhan individualnya , tetapi dalam setting

kelas mengingat masing- masing siswa mempunyai perbedaan minat, bidang bakat

penguasaan , komunikasi dan strategi belajar “ namun kenyataan para guru terutama guru

pendidikan PKn kurang memperhatikan anak inklusi. Dengan alasan tersebut tampak menjadi
dilema terhadap anak berkebutuhan khusus yang belum banyak faham tentang materi

pendidikan disaat yang lain terjadi yang tidak diinginkan diluar batas kemapuananya

Untuk itu menjadi tuntun kepada guru pada Implementasi pendidikan Inklusi untuk

mengadaptasi metode pengajaran dan cara memberikan agar dapat cocok dalam memenuhi

kebutuhan siswa. Mereka juga harus tahu cara yang berbeda dalam memodifikasi kurikulum

dan melakukan penyesuaian yang tepat kapan pun diperlukan. Hal ini akan memberikan

oenyegaran pada keseluruhan proses inklusi dan memperbaiki kualitas pendidikan bagi

semua anak.

Tujuan pendidikan inklusi sebagaimana dijelaskan dalam peraturan pemerintah Nomor 70

tahun 2009 bertujuan : (1) memberikan kesempatan yang seluas- luasnya kepada semua

peserta didik yang memiliki kelainan fisik , emosional , emntal dan sosial atau memiliki

potensi kecerdasan dan atau bakat istimewa untuk memperoleh pendidikan yang bermutu

sesuai dengan kebutuhan dan kemampuannya ,(2) mewujudkan penyelenggaraan pendidikan

yang menghargai keanekaragaman dan tidak deskriminatif bagi semua peserta didik..

Kematangan terlihat pada praktek pendidikan inklusi dengan adanya keterimaan akan

keberagaman dan perbedaan dari anak- anak berkebutuhan khusus. Sudah semestinya,

kesiapan akan fasilitas dan kenyamana fisik serta mental unruk anak ABK selalu diperbaiki

guna menunjang kenyamanan aspek fisik misalnya sekolah telah dan berupaya fasilitas yang

aksibel seperti jalan dan penataan lingkungan serta ruang khusus membantu anak

berkebutuhan khusus sehingga dapat mandiri dalam beraktifitas dari aspek sosial yang dapat

disiapkan oleh sekolah adalah dengan memberikan dan menyiapkan sikap keramahan,

keterbukaan kebersamaan bagi semua orang yang ada disekolah tanpa terkecuali.
1.2. RUMUSAN MASALAH

Apa yang dimaksud dengan ABK?

Apa yang dimaksud dengan pendidikan inklusi bagi ABK?

Bagaimana tujuan dan manfaat pendidikan inklisi?

Bagaimana perkembangan ABK di Indonesia?

Bagaimana implementasi pendidikan iklusi di Indonesia?

1.3. TUJUAN PENULISAN

Untuk mengetahui pengertian ABK.

Untuk mengetahui pendidikan Inklusif bagi ABK.

Untuk mengetahui tujuan dan manfaat pendidikan Inklusif.

Untuk mengetahui perkembangan ABK di Indonesia.

Untuk mengetahui implementasi Inklusif di Indonesia.


BAB II

PEMBAHASAN

2.1. PENGERTIAN ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS ( ABK )

Anak berkebutuhan khusus (Heward) adalah anak dengan karakteristik khusus yang

berbeda dengan anak pada umumnya tanpa selalu menunjukan pada ketidakmampuan mental,

emosi atau fisik. Sedangkan Lynch (1994:1) mendefinisikan anak yang membutuhkan

pendidikan khusus sebagai berikut.

“Children with special educational needs as all those who permanently or temporarity

during their school careers have need of special educational responses on the part of the

teacher, the institution and/or the system by dint of their physical, mental or multiple

impairment or emotional condition or for reasons of situasional disadvantage”

Pernyataan di atas memberikan makna bahwa anak yang membutuhkan pendidikan

khusus adalah anak yang secara permanen (individu dengan hambatan sesori penglihatan,

pendengaran, perkembangan intelektual, fisik dan motorik, emosi dan perilaku, individu

berbakat, tunaganda, individu berkesulitan belajar individu dengan autisme dan individu

dengan hambatan konsenterasi dan perhatian) atau temporer (kondisi sosial-emosi, ekonomi

dan politik) selama jenjang sekolah mereka memerlukan penanganan pendidikan khusus dari

pihak guru, institusi, dan/atau sistem sebagai akibat kelainan mereka baik secara fisik,

mental, atau gabungannya, atau kondisi emosi, atau karena alasan situasi yang kurang

menguntungkan.

Sedangkan untuk situasi Indonesia, Kebijakan Direktorat Pendidikan Luar Biasa

tentang Layanan Pendidikan Inklusi bag] Anak Berkebutuhan Pendidikan Khusus (Nasichin,

2002:5) mengartikan anak berkebutuhan khusus adalah mereka yang tergolong luar biasa,
baik dalam arti berkelainan, lamban belajar, maupun yang berkesulitan belajar. Berkelainan

diartikan sebagai anak yang mengalami kelainan fisik dan atau mental dan atau kelainan

perilaku. Kelainan fisik, meliputi tunanetra, tunarungu, dan tunadaksa. Kelainan mental

meliputi anak tunagrahita ringan dan tunagrahita sedang. Sedangkan kelainan perilaku

meliputi anak tunalaras. Selanjutnya PP nomor 72/1991 menyebutkan bahwa jenis kelainan

peserta didik terdiri atas kelainan fisik dan/atau mental dan/atau kelainan perilaku. Kelainan

fisik meliputi tunanetra, tunarungu, dan tunadaksa. Sedangkan kelainan mental meliputi

tunagrahita ringan dan tunagrahita sedang.

Kirk dan Gallagher (1986:5) mendefinisikan the exceptional child (anak berkebutuhan

khusus) sebagai anak yang berbeda dari anak rata-rata atau normal dalamhal (1) karakteristik

mental, (2) kemampuan sensori, (3) kemampuan komunikasi,c(4) perilaku sosial, atau (5)

karakteristik pisik. Anak-anak seperti ini amemerlukan pelayanan pendidikan secara khusus

untuk mengembangkan kapasitasnya secara maksimum. Hallahan dan Kauffman (1986:5)

membuat batasan exceptional children adalah anak-anak yang memerlukan pendidikan

khusus yang disebabkan karena mereka mempunyai perbedaan yang sangat mencolok dari

anak-anak pada umumnya dalam satu hal atau lebih berikut ME mentally retarded, gifted,

learning disabled, emotionally disturb, physically handicapped, atau mempunyai gangguan

bicara atau bahasa, gangguan pendengaran, atau gangguan penglihatan. Istilah ini dipandang

lebih luas ruang lingkupnya dari pada istilah sebelumnya, karena bukan saja anak yang

berkekurangan atau anak cacat, atau anak tuna, melainkan anak yang memiliki kelebihanpun

(gifted) namun memerlukan pelayanan pendidikan secara khusus dapat dikategorikan sebagai

anak luar biasa. Anak luar biasa pun dapat didefinisikan sebagai anak berkebutuhan khusus

karena dalam rangka untuk memenuhi kebutuhan hidupnya anak ini membutuhkan bantuan

layanan pendidikan, layanan sosial layanan bimbingan dan konseling dan berbagai jenis

layanan lainnya yang bersifat khusus.


Berdasarkan pernyataan di atas, jelas bahwa kondisi-kondisi tersebut dapat

mengganggu pertumbuhan dan perkembangan anak balk jasmani, rohani, dan atau sosialnya,

sehingga mereka tidak dapat mengikuti pendidikan dengan wajar. Dengan perkataan lain,

mereka adalah anak-anak yang potensial bermasalah yang apabila mendapat layanan

bimbingan secara tepat, potensi mereka akan berkembang secara optimal.

2.2. PENGERTIAN INKLUSI

Istilah inklusi yang dianggap istilah baru untuk mendiskripsikan penyatuan bagi anak-

anak berkelainan (penyandang hambatan/cacat) ke dalam program-program sekolah (dan juga

diartikan sebagai menyatukan anak-anak berkelainan (penyandang hambatan/cacat) dengan

cara-cara yang realistis dan komprehensif dalam kehidupan pendidikan yang menyeluruh.

Pendidikan inklusif merupakan sebuah pendekatan yang berusaha mentransformasi

sistem pendidikan dengan meniadakan hambatan-hambatan yang dapat menghalangi setiap

siswa untuk berpartisipasi penuh dalam pendidikan. Pendidikan inklusif merupakan model

penyelenggaraan program pendidikan bagi anak berkelainan atau cacat dimana

penyelenggaraannya dipadukan bersama anak normal dan tempatnya di sekolah umum

dengan menggunakan kurikulum yang berlaku di lembaga bersangkutan.

Stout (2001:1) mengemukakan tentang defnisi inklusi sebagai berikut.

“Inclusion is a term which expresses commitment to educate each child, to the maximum

extent appropriate, in the school and classroom he or she would otherwise attend. It involves

bringing the support services to the child (rather than moving the child to the services) and

requires only that the child will benefit from being in the class (rather than having to keep up

with the other student)”.


Dari pernyataan di atas dapat diartikan bahwa inklusi merupakan suatu istilah yang

menyatakan komitmen terhadap pendidikan yang sedemikian tepatnya bagi setiap anak, di

mana is akan mengikuti pendidikan baik di sekolah maupun di kelas. Inklusi melibatkan

berbagai dukungan layanan terhadap anak dan hanya memerlukan bahwa anak akan

mendapat manfaat dari kehidupan di kelas (lebih baik mengalami untuk mengikuti siswa

yang lain).

Pada hakekatnya pendidikan inklusi tidaklah hanya sebatas untuk memberi

kesempatan kepada anak-anak berkebutuhan khusus, untuk menikmati pendidikan yang

sama, namun hak berpendidikan juga untuk anak-anak lain yang kurang beruntung, misalnya

anak dengan HIV/AIDS, anak-anak jalananan, anak yang tidak mampu (fakir-miskin), anak-

anak korban perkosaan, korban perang dan lainnya, tanpa melihat agama, ras dan bahasanya.

Konsep pendidikan inklusif memiliki lebih banyak kesamaan dengan konsep yang melandasi

gerakan ‘Pendidikan untuk Semua’ dan ‘Peningkatan mutu sekolah’. Namun kebijakan dan

praktek inklusi anak berkebutuhan khusus (penyandang cacat) telah menjadi katalisator

utama untuk mengembangkan pendidikan inklusif yang efektif, yang fleksibel dan tangap

terhadap keanekaragaman gaya dan kecepatan belajar.

“Pendidikan inklusif merupakan perkembangan pelayanan pendidikan terkini dari model

pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus, dimana prinsip mendasar dari pendidikan

inklusif, selama memungkinkan, semua anak atau peserta didik seyogyanya belajar bersama-

sama tanpa memandang kesulitan ataupun perbedaan yang mungkin ada pada mereka.”

(pernyataan Salamanca,1994)

“Inklusi itu masa depan, milik ras manusia, hak asasi manusia, pengupayaan agar bisa hidup

berdampingan satu sama lain, bukanlah sesuatu hal yang harus dilakukan kepada seseorang
atau untuk seseorang, dilakukan bersama bagi satu sama lain, bukanlah sesuatu yang kita

lakukan sedikit saja”. (Marsha Forest, 2005: 19).

Adapun pendidikan inklusi mempunyai pengertian yang beragam. Stainback dan

Stainback (1990) mengemukakan bahwa sekolah inklusi adalah sekolah yang menampung

semua siswa di kelas yang sama. Sekolah ini menyediakan program pendidikan yang layak,

menantang, tetapi sesuai dengan kemampuan dan kebutuhan setiap siswa, maupun bantuan

dan dukungan yang dapat diberikan oleh para guru agar anak-anak berhasil. Lebih dari itu,

sekolah inklusi juga merupakan tempat setiap anak dapat diterima, menjadi bagian dari kelas

tersebut, dan saling membantu dengan guru dan teman sebayanya, maupun anggota

masyarakat lain agar kebutuhan individualnya dapat terpenuhi.

Menurut Heller, Holtzman&Messick (1982), mengatakan bahwa layanan ini

merekomendasikan agar pendidikan khusus secara segregatif hanya diberikan terbatas

berdasarkan hasil identifikasi yang tepat. Beberapa pakar bahkan mengemukakan bahwa

sangat sulit untuk melakukan identifikasi dan penempatan anak berkelainan secara tepat,

karena karakteristik mereka yang sangat heterogen.

Dan pernyatan-pernyataan di atas mengisyaratkan bahwa sekolah reguler yang berorientasi

inklusi merupakan alat untuk memerangi sikap diskriminasi, menciptakan masyarakat yang

ramah, mencapai pendidikan bagi semua, sehingga akan memberikan pendidikan yang efektif

kepada mayoritas anak dan meningkatkan efisiensi karena akan menurunkan biaya bagi

seluruh sistem pendidikan.


2.3. TUJUAN DAN MANFAAT PENDIDIKAN INKLUSIF

Tujuan Pendidikan Inklusif adalah :

Pendidikan inklusif dimaksudkan sebagai sistem layanan pendidikan yang mengikut-

sertakan anak berkebutuhan khusus belajar bersama dengan anak sebayanya di sekolah

reguler yang terdekat dengan tempat tinggalnya.

Penyelenggaraan pendidikan inklusif menuntut pihak sekolah melakukan penyesuaian baik

dari segi kurikulum, sarana dan prasarana pendidikan, maupun sistem pembelajaran yang

disesuaikan dengan kebutuhan individu peserta didik.

Manfaat pendidikan inklusif adalah :

Membangun kesadaran dan konsensus pentingnya pendidikan inklusif sekaligus

menghilangkan sikap dan nilai yang diskriminatif. Melibatkan dan memberdayakan

masyarakat untuk melakukan analisis situasi pendidikan lokal, mengumpulkan informasi

semua anak pada setiap distrik dan mengidentifikasi alasan mengapa mereka tidak sekolah.

Mengidentifikasi hambatan berkaitan dengan kelainan fisik, sosial dan masalah lainnya

terhadap akses dan pembelajaran. Melibatkan masyarakat dalam melakukan perencanaan dan

monitoring mutu pendidikan bagi semua anak.

Hal-hal yang harus diperhatikan sekolah penyelenggara pendidikan inklusif :

a Sekolah harus menyediakan kondisi kelas yang hangat, ramah, menerima keaneka-

ragaman dan menghargai perbedaan.

b Sekolah harus siap mengelola kelas yang heterogen dengan menerapkan kurikulum

dan pembelajaran yang bersifat individual

c Guru harus menerapkan pembelajaran yang interaktif.

d Guru dituntut melakukan kolaborasi dengan profesi atau sumberdaya lain dalam

perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi.


e Guru dituntut melibatkan orang tua secara bermakna dalam proses pendidikan.

2.4. PERKEMBANGAN PENDIDIKAN ABK DI INDONESIA

Konsep Dasar Anak Berkebutuhan Khusus Secara historis, istilah yang digunakan

untuk menyebut anak berkebutuhan khusus (ABK) mengalami perubahan beberapa kali

sesuai dengan paradigma yang diyakini pada saat itu. Perubahan istilah yang dimaksud mulai

dari anak cacat, anak tuna, anak berkekurangan , anak luar biasa, atau anak berkelainan

sampai menjadi istilah anak berkebutuhan khusus. Di Indonesia, penggunaan istilah-istilah

tersebut baru diundangkan secara khusus pada tahun 1950 melalui Undang-undang Nomor 4 ,

kemudian disusul dengan Undang-undang Nomor 12 tahun 1954 dengan istilah anak cacat

atau anak tuna, atau anak berkekurangan.

Indonesia Menuju Pendidikan inklusi Secara formal dideklarasikan pada tanggal 11

agustus 2004 di Bandung, dengan harapan dapat menggalang sekolah reguler untuk

mempersiapkan pendidikan bagi semua anak termasuk penyandang cacat anak. Setiap

penyandang cacat berhak memperolah pendidikan pada semua sektor, jalur, jenis dan jenjang

pendidikan (Pasal 6 ayat 1). Setiap penyandang cacat memiliki hak yang sama untuk

menumbuh kembangkan bakat, kemampuan dan kehidupan sosialnya, terutama bagi

penyandang cacat anak dalam lingkungan keluarga dan masyarakat (Pasal 6 ayat 6 UU RI

No. 4 tahun 1997 tentang penyandang cacat).

Disamping pendidikan atau sekolah reguler, pemerintah dan badan-badan swasta

menyelenggarakan pendidikan atau sekolah khusus yang biasa disebut Sekolah Luar Biasa

(SLB) untuk melayani beberapa jenis kecacatan. Tidak seperti sekolah reguler yang tersebar

luas baik di daerah perkotaan maupun daerah pedesaan. SLB dan SDLB sebagian besar

berlokasi di perkotaan dan sebagian kecil sekali yang berlokasi di pedesaan. Penyandang
cacat anak untuk menjangkau SLB atau SDLB relatif sangat jauh hingga memakan biaya

cukup tinggi yang tidak terjangkau penyandang cacat anak dari pedesaan. Ini pula masalah

yang dapat diselesaikan oleh pendidikan atau sekolah inklusi, di samping memecahkan

masalah golongan penyandang cacat yang merata karena diskriminasi sosial, karena dari

sejak dini tidak bersama, berorientasi dengan yang lain.

Akhir abad ke 20 muncul gerakan “Normalisasi ” bukan berarti membuat anak luar biasa

menjadi normal, tetapi penyediaan pola dan kondisi kehidupan sehari-hari bagi anak luar

biasa sedekat mungkin dengan pola dan kondisi kehidupan masyarakat pada umumnya

Perhatian dari pemerintah pun tampak dari layanan pendidikan khusus yang disediakan bagi

mereka, sebagaimana dijelaskan dalam Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem

Pendidikan Nasional (Dirjen Manajemen Dikdasmen, 2006). Adapun istilah yang digunakan

di Indonesia adalah anak berkebutuhan khusus sebagai terjemahan dari istilah “Children with

Special needs “. Istilah ini muncul sebagai akibat adanya perubahan cara pandang masyarakat

terhadap anak luar biasa (Exceptional Children). Pandangan baru ini meyakini bahwa semua

anak luar biasa mempunyai hak yang sama dengan manusia pada umumnya. Oleh karena itu

semua anak luar biasa baik yang berat maupun yang ringan (tanpa kecuali) harus dididik

bersama-sama dengan anak-anak pada umumnya di tempat yang sama. Dengan perkataan lain

anak-anak luar biasa tidak boleh ditolak untuk belajar di sekolah umum yang mereka

inginkan. Sistem pendidikan seperti inilah yang disebut dengan pendidikan inklusi.

2.5. IMPLEMENTASI PENDIDIKAN INLUSIF DI INDONESIA


Implementasi pendidikan inklusi sebuah proses kegiatan pendidikan yang diikuti oleh

semua anak dengan mempunyai alasan utnuk menerima hak pendidikan yangg tidak

mendiskriminasikan dengan kecacatan, etnik, agama, bahasa, jenis kelamin, kemapuan dan

lain-lain. Berdasarkan disahkannya undang-undang tentang pendidikan inklusi nomor 70


tahun 2009 pada pasal 3 ayat 1, setiap peserta didik yang memiliki kelainan fisik, emosional,

mental, dan sosial atau memiliki potensi kecerdasan dan/ atau bakat istimewa berhak

mengikuti pendidikan secara inklusi pada satuan pendidikan tertentu sesuai dengan

kebutuhan dan kemampuannya.

Harapan dan upaya tersebut menginginkan kondisi intelektual yang normal akan

mendukung siswa berkebutuhan khusus dapat menyerap materi pembelajaran yang diberikan

gurunya sebagaimana teman yang tidak berkebutuhan khusus di kelasnya. Model pendidikan

inklusi ini sangat membantu siswa berkebutuhan khusus dalam tumbuh kembang mental-

psikologinya dengan optimal karena mereka bisa bersaing secara sehat mengembangkan

kemampuan intelektual, bakat dan minatnya.

Adapun bagi siswa berkebutuhan khusus sedang dan berat pembelajarannnya di kelas

khusus. Hal ini sesuai dengan harapan banyak kepala sekolah dan guru reguler maupun guru

pebimbing khusus, mengingat siswa berkebutuhan khusus sedang dan berat tidak mampu

beradaptasi, menyerap materi di kelas reguler dan membuat suasana kelas reguler kurang

kondusif.

Berikut model layanan pembelajaran bagi anak berkebutuhan khusus sesuai dengan

perubahan kurikulum 2013 :

Gambar. 2.1 : model pembelajaran untuk anak berkebutuhan khusus

1 kelas inklusi
inklusi
kelas khusus
2
sekolah induk
segregasi
3

Jabaran dari model layanan pendidikan khusus bagi siswa berkebutuhan khusus
sebagai berikut :
1. Layanan pendidikan bgi peserta didik berkebutuhan khusus dikelompokkan menjadi
2 yaitu, PDBK yang mengalami hambantan belajar tingkat ringan dan tingkat
sedang/berat.
2. Kriteria yang digunakan untuk menetapkan kategori ringan dan sedang/berat adalah :
(1) tingkat kecerdasan (2) hambatan komunikasi dan interaksi, dan/atau (3) hambatan
prilaku.
3. PDBK kategori hambatan belajar tingkat ringan didorong mengikuti pendidikan di
kelas inklusif dengan menggunakan kurikulum reguler.
4. PDBK kategori hambatan belajar tingkat sedang/berat didorong mengikuti pendidikan
di sekolah khusus atau di kelas khusus di sekolah reguler.

Hal itu, bisa diketahui melalui hambatan intelektual ABK karakteristik anak
berkebutuhan khusus secara umum dibbagi menjadi 3 kelompok : yaitu tinggi, sedang, dan
berat. Siswa berkebutuhan khusus yang termasuk dalam kelompok kemampuan adalah siswa
yang tidak mempunyai hambatan secara akademik 0-50% mata pelajaran. Siswa
berkebutuhan khusus yang termasuk dalam kelompok sedang adalah siswa yang mempunyai
hambatan secara akademik 50-70% mata pelajaran.
Siswa berkebutuhan khusus yang termasuk dalam kelompok berat adalah siswa yang
mempunyai hambatan secara akademik 70-90% mata pelajaran.
Sedangkan klasifikasi menurut kecerdasan (IQ), dikemukakan oleh sebagai berikut : a.
Mild Mental Retardation antara 55-70 to aprox,70. b, moderate mental retardation antara
35-40 to 50-55. c. Severe mental retardation 20-25 to 35-40. d. Antara bellow 20 or 25.
Untuk jenis ketunaan Kauffman dan Hallahan mengklafikasikan, ada 20 anak

berkebutuhan khusus yang paling banyak mendapatkan perhatian guru antara lain :

Tunagrahita, Lamban Belajar (Slow Learner), Hyperaktif, Tunalaras, Tunarungu,

Tunanetra/Anak Yang Mengalamai Gangguan Penglihatan, Anak Autis, Tunadaksa,

Tunaganda, Anak Berbakat.

Ciri-ciri anak berkebutuhan khusus peraturan menteri pendidikan nasional nomor 70

tahun 2009, diantaranya : (1) tunanetra, (2) tunarungu, (3) tunawicara, (4) tunagrahita, (5)

tunadaksa, (6) tunalaras, (7) berkesulitan belajar, (8) lamban belajar, (9) autis, (10) memiliki
gangguan motorik, (11) menjadi korban penyalahgunaan narkotika, obat terlarang, dan zat

adiktif lain, dan (12) memiliki kelainan lain.

A. Model Kurikulum Pada Pendidikan Inklusi


Secara arti kurikulum merupakan seperangkat rencana dan pengaturan mengenai,
isi dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan
kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. Karena kurikulum
sebagai pedoman terkadang kurikulum menjadi kaku dalam proses pembelajaran,
sehingga pemahaman kita pendidikan hanya rancangan dengan bentuk bahan ajar.
Ronald C Doll menjelaskan bahwa kurikulum sudah tidak lagi bermakna sebgai
rangkaian bahan yang akan dipelajari siswa, tetapi seluruh pengalaman yang ditawarkan
pada anak-anak peserta didik di bawah arahan dan bimbingan sekolah. Pengalaman yang
diperoleh siswa dari program-program yang ditawarkan sekolah amat variatif, tidak
sebatas hanya pembelajaran di dalam kelas, tetapi juga lapangan tempat mereka bermain
di sekolah, kantin, dan bahkan bis sekolah. Semua ini memberikan konstibusi
pengemabngan pengalaman siswa, yang mempengaruhi perubahan-perubahan mereka.
Pemikiran Doll, hendaknya kurikulum itu adalah perencanaan yang ditawarkan,
bukan hanya diberikan, karena pengalamaan yang diberikan guru belun tentu ditawarkan.
Dengan demikian seluruh konsep pendidikan di sekolah itu bisa dan harus ideal.
Kurikulum harus berbicara keharusan bukan kemungkinan. Kemudian bimbingan dan
arahan tidak saja tugas dan kewajiban guru, tetapi menjadi tugas dan keajiban sekolah.
Yang komponennya tidak hanya guru, tetapi juga kepala sekolah, karyawan sekokah dan
juga unsur lain yang terkait langsung dengan proses pendidikan.
Untuk kurikulum pendidikan inklusi, bisa dipahami dari definisinya yakni
kurikulum, inklusi merupakan pendekatan untuk proses pembelajaran yang megakui dan
menghargai keragaman di sekolah. Baik isi dan metode, kurikulum inklusif dibentuk
untuk mengenal serta menegaskan pengalaman hidup siswa, mulai dari jenis kelamin,
asal, agama, suku dan ras, latar belakang budaya dan bahasa, sosial ekonomi, status, usia
serta kemampuan. Tujuan kurikulum inklusif adalah untuk menciptakan lingkungan
belajara yang tanggap, tegas, dan mengakui keragaman dari pengalaman manusia. Dan
James Bank menganalisis dari pendekatan dan dimensi pendidikan inklusi, namun
analisis James lebih terfokus tentang reformasi kurikulum pada kajian multikulturalisme
pada pengembangan sejarah, dengan menguraikan dimensi pendidikan dalam empat
pendekatan, diantaranya : menambahkan, tambahan bahan, mengubah, dan tindakan
sosial. Dan rincian lima dimensi tersebut, meliputi : penggabungan isi, pengembangan
pengetahuan, mengurangi prasangka, ragam pengajaran, dan mengembangkan budaya
sekolah.
Namun Peel DSB mendefenisikan kembali : “pendekatan” dan “dimensi” di
bawah ini untuk mencakup semua kelompok yang beragam. Perlu diketahui bahwa
dalam proses pembelajaran yang sebenarnya, empat pendekatan lima dimensi tersebut
sering digabungkan dan digunakan secara bersama-sama.
a. Pendekatan pada kurikulum inklusi
1) Menambahkan
Dengan menambahkan peristiwa sejarah didalam kurikulum, maka dapat
dipilih kriteria sejarah sesuai dengan kurikulum yang akan dgunakan.
2) Tambahan Bahan
Menambahkan berbagai konten, konsep, tema dan perspektif pada kurikulum
tanpa mengubah struktur dasar.
3) Mengubah
Mengubah strukturtual dari kurikulum untuk membantu siswa untuk melihat
konsep, isu, peristiwa, dan tema dari prespektif kelompok yang beragam.
4) Tindakan Sosial
Memungkinkan siswa untuk membuat keputusan tentang isu-isu sosial yang
penting dan mengambil tindakan unntuk membantu menyelesaikannya.

b. Dimensi pada kurikulum pendidikan inklusi


1) Penggabungan Isi
Menggunakan contoh, data dan informasi dari berbagai kelompok untuk
menggambarkan konsep-konsep kunci, prinsip, generalisasi, dan teori-teori
dalam bidang studi tertentu atau disiplin.
2) Tambahan Pengetahuan
Memahami bagaimana orang menciptakan pengetahuan dan bagaimana
implisitasumsi budaya, kerangka acuan, perspektif, dan biasa mempengaruhi
cara bahwa pengetahun dibangun dalam disiplin.
3) Mengurangi Prasangka
Menggunakan karakteristik sikap dan strategi merugikan untuk membantu
individu mengembangkan sikap yang lebih demokratis dan nilai-nilai.
4) Ragam Pengajaran
Menggunakan teknik dan metode yang memfasilitasi prestasi akademis siswa
dari kelompok yang beragam.
5) Mengembangkan Budaya Sekolah
Mengembangkan budaya dan organisasi sekolah sehingga siswa dari
kelompok akan mengalami pemeratan pendidikan dan pemberdayaan
masyarakat.

Selain pemikiran James diatas, pemikiran lain juga disumbangkan oleh Melanie
Nind. Dimana Melanic Nind membuat suatu formula tentang kurikulum untuk anak
berkebutuhan khusus yang berlandaskan 3 pendekatan kurikulum yaitu pertama
kurikulum pendidikan umum, kedua kurikulum khusus sedangkan yang ketiga berbeda
dari kedua kurikulum diatas yaitu kurikulum inklusif. Sejauhmana dan dengan cara apa
pendekatan kurikulum ini bekerja. Termasuk menggabungkan ketiga unsur pada
kurikulum umum dan khusus akan tergantung pada tiitk awal orang dan apa yang
membayangkan. Cara pikir dan menciptakan praktek kurikulum inklusi, kemudian
dideskripsikan secara terperinci menjadi 6 model: diferensiasi, tranformasi, membangun
koneksi, membiarkan memimpin anak, dan berfokus pada interaksi dan proses.
1) Diferensasi
Adalah bentuk belajar yang dapat diakses untuk berbagai macam kemampuan dan
gaya belajar. Dalam negara tradisional dideferensiasi sebagai sarana penilaian murid
(diagnosa) menjadi lebih mampu dan kurang mampu dan menyediakan mereka
dengan pengalaman yang cocok sesuai memiliki keterbatasan yang jelas.
2) Tranformasi
Yaitu belajar tanpa batas. Salah satu problems dengan diferensiasi adalah ide bahwa
kita harus mengadaptasi kurikulum untuk siswa dari kemapuan yang berbeda dan
karenanya penerimaan tanpa bermasalah dari gagasan satu kemampuan. Dalam
proyek belajar tanpa batas telah berusaha untuk mengembangkan pendekatan
inklusif yang tidak bergantung pada konsep. Mereka mengusulkan alternatif-
kemampuan berbasis pendidikan didukung oleh pandangan yang lebih optimis dari
pendidikan manusia. Ini membahas kebutuhan untuk memenuhi keragaman dalam
ruang kelas dengan asumsi bahwa siswa secara sah dapat dikelompokkan ke dalam
kategori lebih mampu, rata-rata dan kurang mampu.
3) Membangun koneksi
Kurikulum yang menghubungkan antara emosional-sosial: cara lain untuk berfikir
tentang praktek inklusi adalah fokus pada kebutuhan kurikulum yang
menghubungkan dari perspektif peserta didik mulai dari, nilai, dan apa yang
membawa peserta didik bukan hanya mengasumsikan tetapi peserta didik akan
menyesuaikan diri dengan tujuan sekolah, gaya mengajar dan kurikulum.
Alasan yang kuat bahwa perlu membangun wilayah informasi tentang anak, yatu
pengetahuan tentang budaya anak, dunia pengalaman, aktifitas, keahlian dan
kepentingan di luar sekolah ini harus ada pada peserta didik yang beragam sehingga
dapat digabungkan dengan pengalaman dan identitas mereka pada kurikulum.
4) Membiarkan Anak Mamimpin
Seharusnya kurikulum nasional diselenggarakan menurut tipoligi peserta didik
(normal dan ob normal) serta mempunyai hubungan dengan kehidupan sehari-hari
untuk mencapai efektifitas proses pembelajaran seperti menunjukkan bahwa dalam
kurikulum pertama agar dapat dilakukan anak dari pada tidak bisa dia lakukan.
Dewasa ini yang tepat untuk penataan dan pengelolaan lingkungan yang menantan
dan merangsang belajar yang menekankan peluang untuk kreativitas dan bermain.
Serta beragam interaksi persoanl yang sangat terkait dengan pandangan pendidikan
inklusif.
5) Berfokus Pada Interaksi
Kurikulum adalah sebuah respon yang dinamis, pendidikan inklusif berarti bahwa
sekolah harus sesuai dengan murid, bukan sebaliknya, ini menggeser memperhatikan
bagaimana kurikulum dan murid bisa berinteraksi dengan apa yang terjadi antara
mereka dengan keadaan, dari ke-waktu. Dari perspektif interaktif membuat
perubahan dalam rangka untuk menjangkau semua peserta didik bukanlah peristiwa
tunggal yang tertutup, tetapi dinamis, proses tranformatif di mana umpan balik dari
siswa terus dicari dari waktu ke waktu kurikulum. Kurikulum interaktif, menurut
Kallet dan Nind (2003) dibentuk oleh siswa sendiri karena mereka berbagi,
bernegosiasi dan berjejaring. Hal ini termasuk dalam cara mengajar yang
mewujudkan pemberdayaan dan demokrasi.
6) Dan Proses
Kurikulum berbasis dari respon yang dinamis. Tanggapan lain dinamis untuk
tantangan membuat kurikulum inklusif adalah untuk berpikir dalam hal proses dari
pada konten. Karena kurikulum direncanakan secara holistik. Melihat lingkungan
sosial dan (kurikulum nasional) mata pelajaran sebagai konteks pengalaman dimana
semua siswa dapat terlibat dalam pekerjaan pribadi yang relevan. Fokus dalam
proses memungkinkan pembangunan lingkungan hidup berarti dalam mata pelajaran
untuk murid denan tingkat kesulitan belajar yang berat.
Untuk rumusan model kurikulum pendidikan inklusi dalam kontek indonesia sudah
diimplementasikan di SMK N 3 Payakumbuh, model kurikulum tersebut bagi siswa
inklusi dapat dikelompokkan menjadi empat yakni :
1. Duplikasi Kurikulum
Yakni ABK menggunakan kurikulum yang tingkat kesulitannya sama
dengan siswa rata-rata/regular. Model kurikulum ini cocok untuk peserta didik
tunanetra, tunarungu wicara, tunadaksa, dan tunalaras,. Alasannya peserta didik
tersebut tidak mengalami hambatan intelegensi. Namun demikian perlu
memodifikasi proses, yakni peserta didik tunanetra menggunakan huruf Braille,
dan tunarungu wicara menggunakan bahasan isyarat dalam penyampaiannya.
Contohnya, pelajaran PKn bagi siswa tunarungu, menggunakan kurikulum
yang sama dengan siswa reguler pada umumnya, sebab siswa tunarungu
memiliki kemampuan yang sama dengan siswa reguler atau tidak ada gangguan
kognitif . hanya saja penyampaian cara pengerjaan atau tahap pengerjaan latihan
harus ditulis dengan detail dan efektif agar siswa lebih mudah memahaminya.
2. Modifikasi Kurikulum
Yakni kurikulum siswa rata-rata/reguler disesuaikan dengan kebutuhan dan
kemampuan/potensi ABK. Modifikasi kurikulum ke bawah diberikan kepada
peserta didik tunagrahita dan modifikasi kurikulum ke atas (eskalasi) untuk
peserta didik gifted and talented.
3. Subsitusi Kurikulum
Yakni beberapa bagian kurikulum siswa rata-rata ditiadakan dan diganti
dengan yang kurang leih setara. Model kurikulum ini untuk ABK dengan
melihat situasi dan kondisinya.
4. Orientasi Kurikulum
Yaitu bagian dari kurikulum umum untuk mata pelajaran tertentu ditiadakan
total. Karena tidak memungkinkan bagi ABK untuk dapat berfikir setara dengan
anak rata-rata.
B. Pola Pembelajaran Pada Anak Berkebutuhan Khusus
Makna pembelajaran menurut Corey Pembelajaran adalah suatu proses dimana
lingkungan seseorang secara disengaja dikelola untuk memungkinkan ia turut serta
dalam tingkah laku tertetntu dalam kondisi-kondisi atau menghasilkan respon terhadap
situasi tertentu. Pembelajaran merupakan subset khusus dari pendidikan. Definisi lain
menyebutkan bahwa pembelajaran merupakan aktualisasi kurikulum yang menuntut guru
dalam menciptakan dan menumbuhkan kegiatan peserta didik sesuai dengan rencana
yang telah diprogramkan.
1. Proses skrining/assesmen untuk ABK (Anak Berkebutuhan Khusus)
Lagkah pertama untuk mengetahui pembelajaran ABK yang harus dipahami
kondisi dan kebutuhan anak berkebutuhan khusus diperlukan skrining atau assesment
yang bertujuan agar pada saat pembelajaran di kelas, bentuk intervnsi pembelajaran
bagi anak berkebutuhan khusus merupakan bentuk intervensi pembelajaran yang
sesuai bagi mereka. Assesment yang dimaksud yaitu proses kegiatan untuk
mengetahui kemampuan dan kelemahan setiap peserta didik dalam segi
perkembangan kognitif dan perkembangan yang sensitif.
Perbedaan karakteristik yang dimiliki anak berkebutuhan khusus membuat
pendidikan harus memiliki kemampuan khusus. Menurut woolfolk dan kolter (2009)
dalam proses pembelajaran sekolah inklusif kondisi belajar yang sesusai dengan
kebutuhan anak berkebutuhan anak harus didasarkan pada : (1) identifikasi masalah,
(2) diagnosa masalah, (3) mengembangkan program pembelajaran individual, (4)
membuat program yang sesuai dengan kapasitas siswa, (5) adanya guru pendamping
khusus.
2. Sistem Pembelajaran Untuk Anak Berkebutuan Khusus
Sistem pembelajaran yang efektif disekolah inklusi menurut woolfolk & Kolter
(2009) bukan merupakan satu keterampilan tunggal, namun merupakan kombinasi
antara praktek-praktek pembelajaran yang baik dan sensitifitas terhadap kebutuhan
siswa. Dalam hal ini, seorang guru dituntut mampu memahami setiap anaknya sebagai
individu yang memiliki keunikan dan perbedaan. Pemahaman tersebut sangat penting
dalam menciptakan lingkungan belajar yang kondusif bagi semua anak. Sebuah
jawaban untuk menciptakan lingkungan proses pembelajaran yang selama ini ada
(konversional) dengan kebutuhan anak, dengan berorientasi kepada pembelajaran
yang senantiasa bertitik tolak pada anak (child center learning), dan bukan pada
pencapaian target kurikulum.
3. Model Pembelajaran Untuk ABK
Lombardi (1994) memberikan beberapa model pengajaran yang dapat membantu
meningkatkan keberhasilan kelas inklusif. Model tersebut meliputi :
a. Pengajaran langsung (direct instruction) : dibuat suatu penekanan pada
penggunaan struktur yang ringan dan jadwal waktu kelas, menggunakan
seluruh sumber daya guru secara efisien (baik pendidikan umum maupun
khusus) dikelas umum, dan pemantauan kemajuan.
b. Intervensi strategi (strategi intervention) : dibuat suatu penekanan pada
kemampuan pengajaran seperti : mendengar, membuat catatan, pertanyaan
mandiri, tes lisan, pemantauan kesalahan.
c. Tim asisten guru (guru assistence) : guru umum dan guru khusus bekerja
sebagai tim. Mereka bertemu secara teratur untuk mengatasi maslah dan
memberikan bantuan kepada anggota mereka dalam mengatur sikap siswa dan
pertanyaan mengenai kesulitan akademis.
d. Model guru sebagai konsultan (consulting teacher model) : guru-guru khusus
dilatih sebagai konsultan untuk memberikan bimbingan dan bantuan kepada
guru kelas umum. Merka juga melatih pra profesional yang ditugaskan dikelas
umum membantu siswa penyandang hambatan. Mereka melakukan tim
pengajaran bersama guru kelas umum terhadap siswa yang mempunyai
kebutuhan khusus tanpa memandang apakah mereka telah diketahui memiliki
hambatan atau tidak.

4. Pola Pembelajaran Untuk Anak Berkebutuhan Khusus


Pendidik hendaknya mengetahui program pembelajaran yang sesuai bagi anak
berkebutuhan khusus. Pola pembelajaran yang harus sesuai dengan anak
berkebutuhan khusus biasa disebut dengan Individual Education Program (IEP)
atau program Pembelajaran Individual (PPI). Sebutan ini diprakarsai oleh samuel
gridley howe tahun 1871. Banyak pembelajaran semacam ini merupakan layanan
yang lebih terfokus kepada kemampuan dan kelemahan kompetensi peserta didik.
IEP erat kaitannya dengan tiga komponen utama, yaitu :
a. tingkat kemampuan atau prestasi (performance level), yang diketahui setelah
dilakukan assesmen melalui pengamatan dan tes-tes tertentu. Melalui
informasi yang berkaitan dengan tingkat kemampuan atau prestasi. Maka
diharapkan para guru kelas dapat mengetahui secara pasti kebutuhan
pembelajaran yang sesuai untuk siswa yang bersangkutan. Informasi
umumnya berkaitan dengan kemampuan-kemampuan akademik, pola
perilaku khusus, keterampilan untuk menolong diri sendiri dalam kehidupan
sehari-hari, bakat vokasional, dan tingkat kemampuan berkomunikasi.
Tingkat prestasi mengacu pada pernyatan yang bersifat data spesifik tentang
bidang studi yang dapat dipakai sebagai sasara pembelajaran, dan lebih
menekankan kepada informasi pada aspek-aspek yang positif dari setiap
peserta didik, artinya apa yang bisa dilakukan, bukan “kalainan” apa yang ia
sandang dan menjadi hambatan pembelajarannya.
b. Sasaran program tahunan (annual goals), komponen ini merupakan kunci
komponen karena dapat memperkirakan program jangka panjang selama
kegiatan sekolah, dan dapat dipecah-pecah menjadi beberapa “sasaran
antara” yang ditugaskan ke dalam program semester.
c. Suasana jangka pendek atau shortterm objective. Sasaran jangka pendek ini
bersifat “sasaran antara” yang diterapkan setiap semester dalam tahun yang
berjalan. Sasaran ini semestinya sudah dikonsepkan oleh guru kelas sebelum
penerapan program IEP, sehingga yang dipakai sebagai acuan dalam proses
pembelajaran dan dikembangkan guna mencapai kemampuan-kemampuan
yang lebih spesifik (should be specific), dapat diamati (observable), dapat
diukur (measurable), berorientasi kepada kebutuhan isswa bersangkutan
(student-oriented), dan mengarah kepada hal-hal yang positif (positive),
termasuk kriteria-kriteria keberhasilan tertentu untuk suatu tugasyang
disampaikan kepada peserta didik bersangkutan dalam upaya mencapai
sasaran tahunan (annual goals) saat disampaikan dalam proses
pembelajaran.
Namun Bandi Delphie memberikan karakter pembelajaran bagi ABK,
karakter meliputi enam komponen yaitu elicitors, behaviors, reinforcers,
entering behavior, terminal objective, dan enroute. Secara terperinci,
keenam komponen tersebut yaitu :
a. Elicitors, yaitu peristiwa atau kejadian yang dapat menimbulkan atau
menyebabkan perilaku.
b. Behavior, merupakan kegiatan peserta didik terhadap sesuatu yang dapat
ia lakukan.
c. Reinforcers, suatu kejadian atau peristiwa yang muncul sebagai akibat
dari perilaku dan dapat menguatkan perilaku tertentu yang dianggap
baik.
d. Entering behavior, kesiapan menerima pelajaran.
e. Terminal objective, sasaran antara dari pencapaian suatu tujuan
pembelajaran yang bersifat tahunan.
f. Enroute, langkah dari entering behavior menuju ke terminal objective.

5. Aspek Kompetensi Pembelajaran ABK


Guru yang “mumpuni” adalah guru yang mampu mengorganisir kegiatan belajar
mengajar dikelas dengan memperhatikan kemampuan /kelemahan setiap
individualized. Proses kegiatannya, guru kelas ditentang untuk dapat mengatasi
bentuk kelainan-kelainan perilaku yang muncul.
Ada beberapa aspek atau raanah yang terkandung dalam konsep kompetensi
menurut Bibson (1998), diantaranya sebagai berikut :
a. Pengetahuan, yaitu kesadaran dalam bidang kognitif. Misalnya seorang guru
mengetahui cara melakukan identifikasi kebutuhan belajar dan bagaimana
melakukan pembelajaran terhadap peserta didik sesuai dengan
kebutuhannya.
b. Pemahaman yaitu kedalaman kognitif dan afektif yang dimiliki ondividu.
Misalnya, seorang guru yang akan melaksanakan pembelajaran harus
memiliki pemahaman yang baik tentang karakteristik dan kondisi pesertan
didikagda dakam proses pembelajaran berjalan secara efektif dan efisien.
c. Kemampuan, adalah suatu yang dimiliki oleh individu untuk melakukan
tugas atau pekerjaan yang dibebankan kepadanya. Misalnya, kemapuan guru
dalam memilih dam membuat alat peraga sederhana untuk memberi
kemudahan belajar peserta didiknya.
d. Nilai adalah suatu standar perilaku yang telah diyakini dan secara psikologis
telah menyatu dalam diri seseorang. Misalnya, standar perilaku guru dalam
pembelajaran apakah itu kejujuran, rasa demokratis, dan sebagainya.
e. Sikap, yaitu perasaan (senang-tidak senang/suka-tidak suka) atau reaksi
terhadap suatu rangsangan yang datang dari luar. Misalnya, reaksi terhadap
krisis ekonomi, perasaan terhadap kenaikan upah dan sebagainya.
f. Minat, adalah kecenderungan seseorang untuk melakukan sesuatu
perbuatan. Misalnya, untuk mempelajari atau melakukan sesuatu.

Pada refrensi yang lain, proses belajar mengajar untuk anak berkebutuhan
khusus setidaknya ada 4 ranah pendidikan yang mesti diberikan baik pembelajaran
didalam kelas maupun diluar kelas, sehingga pembelajaran semakin bermakna.
Ranah tersebut diantaranya : ranah kognitif, ranah psikomotorik, ranah soft skills
dan ranah karakter.
a. Ranah kognitif, tujuan pendidikan pendidikan bagaimana anak-ana semakin
berkembang kemapuan ilmu, melalui proses pedagogi, serta metodelogi yang
pas digunakan oleh pendidik. Tujuannya adalah untuk meningkatkan daya nalar
anak.
b. Ranah psikomotorik, anak-anak sebenarnya perlu digali bakat keterampilan
yang ada dalam dirinya. Baik keterampilan untuk menguasai motorik,
keterampilan kerja, bakat seni, bakat olah raga, maupun seluruh dimensi potensi
motorik yang dimiliki. Kemampuan keterampilan dapat menjadikan anak-anak
mudah dalam memahami aplikasi ilmu dalam prakteknya, dan kemudian
berguna untuk hidup ketika mereka sudah harus hidup secara mandiri.
c. Dua ranah terakhir adalah masuk ke pembentukan sikap dan perilaku. Pada
tatanan sikap, maka soft skills mesti dipergunakan secara baik.
Soft skills terdiri dari (a) intrapersonality, (b) mengenalkan interpersonality,
(c) karakter-karakter individu untuk dirinya, (d) social, dan (e) dengan sang
pencipta.
Intrapersonality melati anak care dengan dirinya sendiri, mulai terbiasa
mandiri, merawat tubuh, sampai manangemen waktu dan lingkungan.
Interpersonal adalah unsur-unsur yang menyebabkan anak akan semakin eksis
dalam komunitasnya. Dimensi ini seperti bagaimana meningkatkan kemampuan
cara berkomunikasi yang baik, terbiasa menjadi pekerja keras, jujur, sanggup
hidup dalam komunitas yang lebih luas, gigih, bekerja perkelompok, bekerja
pada kualitas yang baik, memiliki integritas tinggi dan sebagainya.
Sementara unsur karakter, lebih kepada kombinasi dari hard-skill (kognitif-
prsikomotorik) dengan unsur soft skills (ranah afektif) sedemikian, sehingga
terbangun kepribadian yang dapat memberikan arti besar dalam tumbuh dan
berkembang anak untuk tanggap, terbiasa pekerja keras, dan terbiasa bangga
dengan negaranya, termasuk memiliki cara yang solutif terhadap persoalan
lingkungan.

6. Pengembangan Pembelajaran Pada Anak Berkebutuhan Khusus


Proses perkembangan anak untuk mengubah dirinya memerlukan bentuk-bentuk
kegiatan tertentu serta latihan-latihan yang diarahkan sesuai dengan keberadaan
dirinya sehingga terpenuhi kebutuhan psikologis, seperti perasaan dicintai dan
dapat diterima oleh orang-orang disekitarnya. Dalam perkembangan
psikopedagogis anak, interaksi anak terhadap lingkungannya dihadapkan pada tiga
dimensi utama, yaitu : kemampuan (capitalities), lingkungan tempat anak
melakukan fungsi kegiatannya (environments), dan kebutuhan dengan berbagai
tingkat keperluan (fungctioning & support).
Ada sebuah pendekatan untuk menunjang perkembangan anak yang didalam
kehidupan sosial dan belajarnya. Pendekatan tersebut yaitu terapi behavior. Terapi
behavior berasal dari dua konsep yakni pavlovian dari Ivan Pavlov dan Skennerian
dari B.F Skinner. Mula-mula terapi ini dikembangkan oleh Wolpe (1958) untuk
menanggulangi (treatmen) neuroris. Neuroris dapat dijelaskan dengan mempelajari
perilaku yang tidak adaptif melalui proses belajar. Dengan perkataan lain bahwa
perilaku yang menyimpang bersumber dari hasil belajar dilingkungan. Perilaku
dipandang sebagai respon terhadap stimulus atau rangsangan eksternal dan iternal.
Karena itu tujuan terapi adalah untuk memodifikasi koneksi-koneksi dan metode
stimulus-respon (S-R) sedapat mungkin. Konstribusi terbesar dari konseling
behavioral (perilaku) adalah diperkenalkannya metode ilmiah dibanding
psikoterapi. Yaitu bagaimana memodifikasi periaku melalui rekayasa lingkungan
sehingga terjadi proses belajar untuk perubahan. Dasar teori behavior adalah
bahwa perilaku dpat dipahami sebagai hasil kombinasi : (1) belajar waktu lalau
dalam hubungannya dengan keadaan yang serupa; (2) keadaan motivasional
sekarang dan efeknya terhadap kepekaan terhadap lingkungan; (3) perbedaan-
perbedaan biologis baik secara genetik atau karena gangguan fisiologik. Dengan
eksperimen-eksprerimen terkontrol secara seksama maka menghasilkan hukum-
hukum yang mengontrol perilaku tersebut.
Kaum behavioris-kognitif yakin bahwa menetapkan tujuan konseling berbasis
perilaku yang bisa lebih berguna ketimbang menetapkan tujuan yang sekedar
didefinisikan secara abstrak dan umum seperti pemahaman diri atau bisa dikenali
berdasarkan perubahan perilaku yang terlihat mencolok. Tiga contoh perubahan
perilkau yang tepat bagi konseling adalaah berubahnya perilaku yang tidak
menyenangkan, pembelajaran proses pengambilan keputusan dan pencegahan
problem.
Dalam praktek konselor behavioral mengikuti pendekatan yang mirip dengan
konselor umumnya dalam mengklasifikasikan dan memahami kebutuhan klien.
Mereka menggunakan refleksi, penyimpulan dan pemeriksaan terbuka. Namun,
bukannya menggali lebih dalam perasaan klien, mereka lebih berusaha mamahami
dimensi yang terdapat didalam situasi dan lingkungan klien. Perasaan merupakan
faktor sekunder saja bagi bahavioris. Konselor behavioral berusaha
mengungkapkan anteseden, kondisi/peristiwadan konsekuensi tertentu yang
dialami klien agar bisa membuat perencanaan yang berarah tujuan dan pola
penanganan spesifik sesuai kebutuhan.

C. Sistem Evaluasi Pembelajaran Pada Anak Berkebutuhan Khusus


Menurut undang-undang sistem pendidikan nasional indonesia, evaluasi
pendidikan adalah kegiatan pengendalian, penjaminan, dan penetapan mutu pendidikan
terhadap berbagai komponen pendidikan pada setiap jalur, jenjang, dan jenis pendidikan
sebagai bentuk pertanggungjawaban penyelenggaraan pendidikan. Sedangkan evaluasi
menurut Suharsimi Arikunto evaluasi adlah kegiatan untuk mengumpulkan informasi
tentang bekerjanya sesuatu,yang selanjutnya informasi tersebut digunakan untuk
menentukan alternatif yang tepat dalam mengambil keputusan.
1. Aspek Evaluasi
Untuk lebih memahami apa yang dimaksud dengan evaluasi, maka sedikitnya ada tiga
aspek yang perlu diperhatikan diantaranya :
a. Kegiatan evaluasi merupakan proses yang sistematis, ini berarti bahwa evaluasi
(dalam pengajaran) meruapak kegiatan yang terencana dan dilakukan secara
berkesinambungan. Evaluasi bukan hanya merupakan kegiatan akhir atau penutup
suatu pembelajaran, melainkan merupakan kegiatan kegiatan yang dilakukan pada
permulaan, selama proses pembelajaran berlangsung, dan pada akhir
pembelajaran.
b. Setiap kegiatan evaluasi diperlukan berbagia informasi atau data yang
menyangkut onjek yang sedang dievaluasi. Dalam kegiatan pembelajaran, data
yang dimaksud mungkin berupa perilaku atau penampilan siswa selama mengikuti
pelajaran, hasil ulangan, tugas pekerjaan rumah, nilai mid semester, atau milai
ujian semester, dan sebagainya.
c. Setiap proses evaluasi, khususnya pengajran tidak dapat dilepaskan dari tujuan-
tujuan pengajaran yang hendak dicapai. Tanpa menentukan atau merumuskan
tujuan-tujuan terlebih dahulu, tidak mungkin menilai sejauh mana pencapaian
hasil belajar siswa.
2. Tujuan dan Fungsi Evaluasi
Tujuan dan fungsi evaluasi pembelajaran, tujuan utama melakukan evaluasi dalam
proses belajar mengajar adalah untuk mendapatkan informasi yang akurat mengenai
tingkat pencapaian tujuan instruksional oleh peserta didik sehingga dapat diupayakan
tindak lanjutnya. Khusus terkait dengan pembelajaran, evaluasi dilaksanakan dengan
tujuan :
a. Mendeskripsikan kemampuan belajar siswa. Sehingga dapat diketahui
kekurangan dan kelebihannya dalam berbagai mata pelajaran.
b. Mengetahui tingkat keberhasilan PBM, Yakni seberapa jauh keefektifannya
dalam mengubah tingkah laku peserta didik kearah tujuan pendidikan yang
diharapkan.
c. Menentukan tindak lanjut hasil penilaian, yakni melakukan perbaikan dan
peyempurnaan dalam hal program pendidikan dan pengajaran serta strategi
pelaksanaannya.
d. Memberikan pertanggung jawaban (accountability) kepada pihak-pihak
berkepentingan. Pihak yang dimaksud meliputi pemerintah, sekolah,
masyarakat,dan para orang tua peserta didik.
Sedangkan menurut Nana Sudjana bahwa, fungsi evaluasi dalam pendidikan dan
pengajaran adalah sebagai :
a. Alat untuk mengetahui tercapai tidaknya tujuan instruksional. Dengan fungsi ini
maka penilaian harus mengacu pada rumusan-rumusan tujuan instruksional.
b. Umpan balik bagi perbaikan proses belajar-mengajar. Perbaikan mungkin
dilakukan hal tujuan insturksional, kegiatan belajar peserta didik, strategi mengajar
pendidik dll.
c. Dasar dalam menyusun laporan kemajuan belajar siswa kepada orang tuanya.

3. Prinsip-Prinsip Evaluasi
Prinsip evaluasi pendidikan itu harus berkesinambungan (kontinuitas), prinsip
menyeluruh (komprehensif), dan prinsip objektivitas. Maksud prinsip kesinambungan
(kontinuitas) adalah bahwa evaluasi dilakukan secara terus menerus mulai dari proses
belajar mengajar sambil memerhatikan keadaan peserta didiknya, hingga peserta didik
tersebut tamat dari lembaga sekolah. Prinsip menyeluruh (komprehensif) adaalh
prinsip yang melihat semua aspek, meliputi kepribadian, ketajaman hapalan,
pemahaman, ketulusan, kerajinan, sikap kerjasama, tanggung jawab, dan sebagainya.
Sedangkan prinsip objektivitas bahwa dalam mengevaluasi berdasarkan kenyataan
yang sebenarnya, tidak boleh dipengaruhi oleh hal-hal yang bersifat emosional dan
rasional.
4. Alat Evaluasi
Sedangkan alat evaluasi yaitu “sesuatu yang dapat dipergunkaan untuk
mempermudah seseorang dalam melaksanakan tugas atau mencapai tujuan secara
lebih efektif dan efisien. Secara garis besar, teknik evaluasi yang digunakan dapat
digolongkan menjadi 2 macam, yaitu 1) teknik Non-tes, yaitu “evaluasi yang tidak
menggunakan soal-soal tes dan bertujuan untuk mengetahui sikap dan sifat
kepribadian siswa yang berhubungan dengan kiat belajar (motivasi), seperti melalui
skala bertingkat, kuisioner, daftar cocok, wawancara, pengamatan dan riwayat hidup”.
2) Teknik tes, yaitu untuk menilai kemampuan siswa yang meliputi pengetahuan dan
keterampilan sebagai hasil belajar, bakat khusus dan intelegensi, seperti tes
diagnostik, tes formatif, dan tes sumatif.
5. Macam-macam Evaluasi
Evaluasi itu terdiri dari empat macam yaitu : evaluasi formatif, evaluasi
penempatan, dan evaluasi diagnosis. Evaluasi formatif adalah evaluasi yang
digunakan untuk mengetahui hasil belajar yang dicapai peserta didik setelah ia
menyelesaikan program dalam satuan bahan pelajaran pada suatu bidang studi
tertentu. Evaluasi sumatif, adalah evaluasi yang dilakukan terhadap hasil belajar
peserta didik setelah mengikuti pelajaran dalam satu catur wulan, satu semester, atau
akhir tahun untuk menentukan jenjang berikutnya. Evaluasi penempatan adalah
evaluasi yang dilakukan sebelum anak mengikuti proses belajar mengajar untuk
kepentingan penempatan pada jurusan yang diinginkan. Sedangkan evaluasi diagnosis
adalah evaluasi terhadap hasil penganalisisan tentang keadaan belajar peserta didik,
baik merupakan kesulita-kesulitan atau hambatan yang ditemui dalam situasi belajar
mengajar
BAB III

PENUTUP

3.1.KESIMPULAN

Kesimpulan yang bisa diambil dari Implementasi Pendidikan Inklusi ini adalah Anak

berkebutuhan khusus adalah anak yang mengalami gangguan yang signifikan baik aspek

psikis, sosial, emosional, dan indrawi yang menghambat proses pertumbuhan dan

perkembangan anak tersebut, sehingga membutuhkan layanan pendidikan khusus untuk

mengembangkan potensi kemanusiaaan mereka. Pendidikan Inklusif muncul sebagai suatu

layanan pendidikan program pemerintah dalam rangka meningkatkan mutu pendidikan

dimana penyelenggaraannya dengan cara memadukan anak-anak yang berkelainan atau

berkebutuhan khusus bersama anak normal lainnya, menggunakan kurikulum yang berlaku di

lembaga yang bersangkutan.

Tujuan pendidikan inklusif yaitu agar semua anak mendapatkan hak pendidikan dan

kedudukan yang sama tak terkecuali bagi mereka yang berkebutuhan khusus. Sekolah reguler

yang berorientasi inklusi ini merupakan alat untuk memerangi sikap diskriminasi,

menciptakan masyarakat yang ramah, mencapai pendidikan bagi semua, sehingga akan

memberikan pendidikan yang efektif kepada mayoritas anak dan meningkatkan efisiensi

karena akan menurunkan biaya bagi seluruh sistem pendidikan.


3.2.SARAN

Penyelenggaraan sekolah inklusi harus terus dikembangkan demi memberikan ruang

gerak, ruang belajar tertutama bagi anak-anak yang berkebutuhan khusus agar mereka tidak

dipandang sebelah mata lagi. Untuk itu pemerintah harus memperhatikan betul, apa saja

kebutuhan mereka, baik dari sarana dan prasana maupun guru pembimbing untuk mereka.

Saya berharap sekali pemerintah beserta para kaum pemerhati pendidikan untuk terus

memberikan yang terbaik bagi dunia pendidikan tanpa membedakan siswa yang normal

maupun siswa berkebutuhan khusus.


Kerangka Konseptual

Gambaran implementasi pendidikan inklusi

UU
Monitoring

Komponen

1. Sarana dan Prasarana


2. Adanya GPK Implementasi
3. Model Kurikulum
4. Pola Pembelajaran
Yang Ramah
5. Sistem Evaluasi
Dukungan Sekolah
Yang Ramah,
Pemerintah dan
Orang Tua.
DAFTAR PUSTAKA

Budiman. Anak “Berkebutuhan Khusus” (14 Pebruari 2016)


http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Anak_berkebutuhan_khusus.html.

Dewi, setiani. “ Layanan Bimbingan bagi Anak Bekebutuhan Khusus” (14 pebruari
2016) http://google.com/index.pdf?tittel=Layanan Bimbingan bagi Anak Berkebutuhan
Hadis Abdul.2006.Pendidikan Anak Berkebutuhan Khusus Autistik.Bandung; Alfabeta.Khusus di
Sekolah Dasar Wilayah Kota Bandung Tesis Program BP-BAK PPs UPI Tahun 2003.html.Mulyadi,
Kiki. “Penerapan Pendidikan Inkulsi Di Indonesia” (14 pebruari 2016)

http://google.com/inclusive-education-where-there-are-few-resources-the-atlas- alliance-gobal-
support-to-disabled-people/2002.html. Setiawan, Atang dkk.2006.Bimbingan Anak Berkebutuhan
Khusus. Bandung: Tim UPI Press.

iv