Anda di halaman 1dari 17

PERBANDINGAN METODE OTOMATIS DAN MANUAL

UNTUK MENCUCI ERITROSIT

Latar Belakang: Peneliti berupaya membandingkan kualitas washed red blood


cells (WRC) yang diproduksi menggunakan ACP215 atau metode manual dengan
kombinasi larutan pencuci dan penyimpanan yang berbeda. Penelitian ini bertujuan
menetapkan pencucian dengan metode manual yang dapat menjadikan masa simpan
lebih dari 24 jam.
Desain dan Metode Penelitian: Eritrosit umur 14 hari dikumpulkan, dipisahkan,
dan dicuci dalam satu dari lima cara berikut: 1) menggunakan ACP215 dan
disimpan dalam Saline Adenine Glucose Mannitol (SAGM), 2) dicuci manual dan
disimpan dalam larutan saline, 3) dicuci manual dalam larutan saline dan disimpan
dalam SAGM, 4) dicuci manual dalam larutan saline-glukosa dan disimpan dalam
SAGM, dan 5) dicuci manual dan disimpan dalam SAGM. Unit tambahan
dikumpulkan dan dipisahkan, dicuci manual atau dengan ACP215, dan diiradiasi
pada hari ke 14. Unit diambil pada hari ke 14 setelah pencucian dan disimpan pada
suhu 4 ± 2°C.
Hasil: Semua WRC memenuhi kriteria untuk volume (200-320 mL) dan kadar
hemoglobin (Hb) (>40 g/unit). Protein plasma lebih baik dipisahkan dengan metode
manual: Residu imunoglobulin (Ig) A pada sel yang dicuci manual dengan larutan
saline-glukosa 0,033 (0,007-0,058) mg/dL dibandingkan dengan ACP215 0,064
(0,026-0,104) mg/dL (median, rentang). Hemoglobin yang hilang lebih sedikit pada
unit yang dicuci manual (rerata ≤2,0 g/unit) dibandingkan dengan ACP215 (rerata
6,1 g/unit). Hemolisis pada semua unit yang tidak diiradiasi 14 hari setelah
pencucian kurang dari 0,8%. Saline Adenine Glucose Mannitol yang digunakan
untuk menyimpan unit yang dicuci manual meningkatkan adenosin trifosfat,
glukosa, laktat, dan pH dibandingkan penyimpanan dalam saline.
Simpulan: Masa simpan eritrosit yang dicuci manual dapat diperpanjang hingga
14 hari jika disimpan dalam SAGM.

Transfusi washed red blood cells (WRC) diindikasikan pada pasien yang
pernah mengalami reaksi transfusi berulang, tanpa memerhatikan status
imunoglobulin (Ig) A, dan pada pasien dengan defisiensi IgA yang pernah
mengalami reaksi transfusi. Washed red blood cells juga digunakan sebagai metode
untuk mengurangi beban kalium supernatan eritrosit pada pasien yang berisiko
mengalami hiperkalemia.
Kualitas komponen WRC bergantung pada berbagai faktor seperti usia
eritrosit saat pencucian, lama penyimpanan setelah pencucian, metode pencucian
(manual atau otomatis), serta larutan pencuci dan penyimpanan yang digunakan.
Panduan Eropa membatasi masa simpan penggunaan WRC hingga 24 jam, hal
tersebut dapat diperpanjang dengan sistem tertutup dan penyimpanan dalam larutan

1
aditif (additive solution/AS) yang disetujui. Peneliti dan beberapa pusat
internasional telah memvalidasi dan mengimplementasikan penggunaan perangkat
sel otomatis untuk memperpanjang masa simpan WRC dari 24 jam hingga 7-14
hari.
Unit WRC dengan masa simpan lebih dari 24 jam diharapkan dapat
dihasilkan secara manual. Masa simpan yang lebih lama khususnya berguna di
beberapa pusat yang tidak sering memproduksi komponen atau memiliki
keterbatasan metode otomatis, atau waktu pemrosesan dengan metode otomatis
kemungkinan mengalami masalah untuk mensuplai komponen tersebut ke rumah
sakit. Masa simpan pada dasarnya didorong pada kekhawatiran potensi kontaminasi
bakteri selama produksi dan penurunan kualitas komponen. Alat penghubung steril
dan AS lebih dipilih dibandingkan penggunaan saline secara tradisional untuk
mencuci eritrosit. Saline steril yang tersedia untuk pencucian manual diperkirakan
kurang, menyebabkan kebutuhan yang mendesak untuk berbagai pelayanan darah
secara internasional. Penelitian ini bertujuan membandingkan kualitas WRC yang
disiapkan ACP215 dengan metode pencucian manual, dengan kombinasi larutan
pencuci dan penyimpanan yang berbeda, memastikan kelayakan waktu
penyimpanan yang diperpanjang untuk pencucian eritrosit secara manual. Dampak
iradiasi pada kualitas eritrosit setelah pencucian diteliti, terdapat keterbatasan
publikasi data mengenai dampak iradiasi pada eritosit cuci baik dengan metode
manual maupun otomatis.

MATERIAL DAN METODE


Pengumpulan whole blood
Whole blood (volume target, 470 mL; rentang, 405-495 mL) dikumpulkan
menggunakan prosedur pengumpulan standar ke dalam kantong pengumpul darah
bottom-and-top atau top-and-top (TAT) berisi 63 mL citrate phosphate dextrose
(CPD). Sebanyak 94% unit dimasukkan dalam kantong pengumpul TAT. Whole
blood dileukoreduksi dan disentrifugasi (3237 xg selama 11 menit untuk kantong
darah bottom-and-top, 5088 xg selama 15 menit untuk kantong darah TAT),
kemudian ditambahkan 100 mL Saline Adenine Glucose Mannitol. Semua eritrosit
disimpan pada suhu 4±2°C.

2
Desain penelitian
Eritrosit tidak diiradiasi
Lima kantong eritrosit dengan golongan ABO yang sama, dikumpulkan dan
dibagi menjadi 5 unit dengan volume yang sama pada hari penyimpanan ke 14. Satu
unit dicuci dengan ACP215, 4 unit lainnya dicuci manual menggunakan kombinasi
larutan pencuci dan penyimpanan yang berbeda (Gambar 1). Sampel diambil
dengan penghubung steril dari kantong dan masing-masing unit segera setelah
pencucian, dan pada hari ke 5, 7, 11, dan 14 penyimpanan.

Eritrosit iradiasi
Tiga kantong eritrosit dengan golongan ABO yang sama, dikumpulkan dan
dibagi menjadi 3 unit dengan volume yang sama pada hari penyimpanan ke 14. Satu
unit dicuci menggunakan ACP215 dan dua unit lainnya dicuci manual
menggunakan kombinasi larutan pencuci dan penyimpanan yang berbeda (Gambar
1). Semua eritrosit diiradiasi segera setelah dicuci menggunakan iradiator. Sampel
diambil dari kantong segera setelah pencucian sebelum iradiasi, dan diambil lagi
setelah iradiasi. Semua eritrosit diambil lagi pada hari ke 5, 7, 11, dan 14 setelah
iradiasi.

Pencucian eritrosit
Perangkat ACP215
Alat ACP215 mencuci eritrosit dengan dalam sistem tertutup sekali pakai,
secara otomatis meresuspensi kembali dalam SAGM. Eritrosit dicuci menggunakan
pengaturan program standar yang digunakan dalam produksi rutin, hematokrit (Hct)
diatur pada 55%, volume pengawet akhir sebanyak 80 mL, dan berat kantong
eritrosit diatur sesuai berat masing-masing. Variabel lain diatur berdasarkan aturan
standar pabrik. Dua siklus dari empat pencucian dengan volume total 1840 mL
larutan 0,9% saline/ 0,2% larutan glukosa digunakan. Eritrosit disimpan dalam
kantong dari set ACP sekali pakai selama penelitian.

3
n=9 n=6

ABO yang cocok dengan eritrosit


14 hari setelah donor

Pengumpulan dan pembagian

Metode Pencucian ACP Manual Manual Manual Manual ACP Manual Manual

Larutan Pencuci Saline Saline Saline Saline


SAGM Saline Saline SAGM
Glukosa Glukosa Glukosa Glukosa

Larutan Penyimpanan SAGM SAGM SAGM SAGM Saline SAGM SAGM SAGM

Iradiasi (25-50Gy)

Sampel setelah dicuci/ iradiasi dan disimpan pada suhu 4°C ± 2°C

Sampel diambil (setelah pencucian)


Hari ke 5/ Hari ke 7/ Hari ke 11/ Hari ke 14

Gambar 1 Desain penelitian pool-and-split.

Metode manual
Eritrosit dicuci manual dengan kombinasi larutan pencuci dan penyimpanan
yang berbeda (Gambar 1). Sebanyak 250 mL larutan pencuci ditambahkan ke
eritrosit menggunakan penghubung steril. Eritrosit dicampur dan disentrifugasi
selama 15 menit pada 4950 xg pada 4°C, supernatan dipisahkan menggunakan
ekstraktor plasma manual. Prosedur pencucian diulang dengan 250 mL larutan
pencuci yang sama, setelah supernatan dipisahkan, ditambahkan 65±1 mL larutan
penyimpan yang sesuai (Gambar 1).

Analisis Laboratorium
Eritrosit dicampur dan diambil dengan penghubung steril. Supernatan
disiapkan dengan sentrifugasi ganda eritrosit selama 10 menit pada 2000 xg. Kadar
Hemoglobin (Hb) dan Hct eritrosit dianalisis menggunakan alat analisis
hematologi. pH diukur pada suhu 37°C menggunakan alat analisis gas darah.
Eritrosit mikrovesikel (RCMVs) pada sampel supernatan diukur
menggunakan fluoresens isothiocyanate anti-human CD235a untuk mewarnai

4
glikoforin A (CD235a) pada permukaan RCMV. Ikatan nonspesifik dikoreksi
menggunakan kontrol isotipe. Sampel dianalisis dengan flowcytometer.
Adenosin trifosfat (ATP) diukur pada sampel eritrosit yang mengalami
deproteinasi menggunakan asam perklorat. Kadar ATP ditentukan dengan metode
enzim yang mengukur NADH yang berasal dari reaksi berpasangan yang didorong
oleh ATP. Reaksi tersebut dilakukan dalam piring mikro, absorbansi dibaca pada
gelombang sebesar 340 nm. Kadar 2,3-difosfogliserat (2,3-DPG) diukur dalam
ekstrak yang dideproteinasi menggunakan alat 2,3-DPG. Sampel dibaca dengan
spektrofotometer pada gelombang 340 nm.
Sampel supernatan sebelum dan setelah pencucian diperiksa total protein,
albumin, dan IgA. Kadar protein diukur menggunakan metode Bradford dan piring
pembaca. Albumin diukur menggunakan alat uji albumin dan piring pembaca.
Imunoglobulin A diukur menggunakan enzyme linked immunosorbent assay
(ELISA). Piringan mikro ELISA dibaca pada 450 nm dengan piring pembaca
Synergy HT.
Sampel supernatan digunakan untuk memperkirakan Hb bebas
menggunakan metode spektrofotometer Harboe dengan piring pembaca Synergy
HT. Hemolisis eritrosit dihitung dari kadar Hb, Hct, nilai Hb supernatan. Alikuot
supernatan disimpan beku pada suhu -80°C sebelum analisis kalium, glukosa, dan
laktat. Kadar kalium, glukosa, dan laktat dalam mmol/L diukur dan jumlah per
unitnya dihitung menggunakan unit volume setelah pencucian.
Sterilitas semua WRC pada saat kadaluarsa dinilai menggunakan sistem
deteksi bakteri otomatis (BacT/ALERT 3D). Tidak terdapat pertumbuhan bakteri
yang terdeteksi pada semua eritrosit yang diuji.

Analisis Statistik
Hemolisis, kalium, ATP, RCMV, pH, glukosa, dan laktat dianalisis dengan
metode statistik univariat. Analisis varians (ANOVA) dilakukan di tiga faktor
berikut: iradiasi/ tidak diiradiasi, metode pencucian (otomatis, saline-glukosa/
SAGM, saline/ SAGM, SAGM/ SAGM, saline/ saline), dan hari setelah pencucian
(hari ke 0, 5, 7, 11, dan 14). Efek acak dimasukkan pada model untuk
memungkinkan adanya korelasi antara hasil dari sampel pooled-and-split yang

5
sama. Pengukuran hari ke 0 didefinisikan sebagai hasil setelah pencucian yang
diambil segera pada lengan yang tidak diiradiasi dan setelah diiradiasi. Posttest
dilakukan untuk membandingkan antara metode pencucian lengan yang tidak
mendapatkan dan mendapatkan iradiasi. Nilai p ditetapkan untuk membandingkan
antara metode pencucian, uji multipel menggunakan metode Tukey-Kramer. Nilai
rerata merupakan perkiraan kuadrat terkecil dari model ANOVA; 95% interval
kepercayaan (confidence intervals/CI) juga dari model ini. Batas bawah
kepercayaan negatif diatur senilai 0. Hemolisis, glukosa, RCMV, dan laktat
diasumsikan terdistribusi secara normal. Nilai rerata dan CI untuk hemolisis,
glukosa, RCMV, dan laktat ditransformasikan kembali pada skala asli dengan
mengambil perpangkatan.
Analisis varians termasuk efek acak, digunakan untuk membandingkan nilai
total protein, albumin, dan IgA setelah pencucian pada eritrosit yang dicuci
menggunakan metode ACP dengan metode manual. Data dikumpulkan di
Component Development Laboratory, dibandingkan dengan data rujukan pada
eritrosit yang tidak dicuci SAGM bila memungkinkan. Analisis statistik
menggunakan perangkat lunak.

HASIL
Karakteristik komponen
Semua WRC memenuhi persyaratan untuk volune (200-320 mL), kadar Hb
(≥40 g/unit), dan kadar protein plasma (<0,5 g/unit; Tabel 1). Persentase rerata
kehilangan Hb sebesar 6,1% pada ACP215 dibandingkan metode manual 0-2%.
Hematokrit pada WRC ACP215 lebih rendah dibandingkan pada metode manual.
Residu plasma IgA, total protein, dan albumin lebih rendah pada eritrosit yang
dicuci menggunakan metode manual (masing-masing p<0,0001; p<0,0001; dan
p=0,0260). Persentase rerata penurunan plasma IgA, total protein, dan albumin
sebesar 99,8; 89; dan 99% (Tabel 2).

6
Tabel 1 Karakteristik komponen unit eritrosit setelah pencucian dan sebelum
iradiasi*.
Metode pencucian ACP 125 Metode manual
Larutan pencuci Saline-glukosa Saline-glukosa Saline SAGM Saline
Larutan Lengan
SAGM SAGM SAGM SAGM Saline
penyimpanan penelitian
Volume Tidak 285 (265-309) 283 (267-310) 283 (264-308) 288 (263-311) 283 (268-310)
eritrosit diiradiasi
sebelum Iradiasi 302 (298-305) 301 (298-304) 303 (291-306)
dicuci (mL)
Volume Tidak 267 (260-289) 263 (228-282) 274 (231-296) 263 (229-292) 271 (235-305)
eritrosit diiradiasi
setelah dicuci Iradiasi 279 (274-291) 283 (278-295) 273 (267-280)
(mL)
Hct (%) Tidak 70,8 (61,8-74,3) 77,8 (76,9-78.8) 71,8 (70.9-73,4) 77,4 (76,0-81,4) 71,0 (69,4-71,9)
setelah dicuci diiradiasi
Iradiasi 70,7 (65,2-74,4) 71,8 (71,0-72,6) 76,6 (72,8-77,6)
Hb setelah Tidak 54,3 (46,1-61,6) 57,8 (48,5-65,4) 56,7 (47,6-63,4) 57,3 (47,1-65,5) 55,9 (47,5-64,4)
dicuci (g/unit) diiradiasi
Iradiasi 58,7 (57,9-63,2) 60,1 (57,8-86,8) 60,6 (57,2-64,4)
Plasma Tidak 0,124 (0,076-0,168) 0,074 (0,054-0,149) 0,077 (0,055-0,119) 0,058 (0,052-0,097) 0,096 (0,068-0,164)
protein diiradiasi
setelah dicuci Iradiasi 0,102 (0,087-0,175) 0,085 (0,065-0,088) 0,072 (0,063-0,101)
(g/unit)
Plasma Tidak 0,038 (0,000-0,056) 0,006 (0,000-0,056) 0,004 (0,000-0,022) 0,017 (0,000-0,044) 0,009 (0,000-0,079)
albumin diiradiasi
setelah dicuci Iradiasi 0,026 (0,019-0,086) 0,013 (0,000-0,057) 0,013 (0,008-0,042)
(g/unit)
Plasma IgA Tidak 0,064 (0,026-0,104) 0,033 (0,007-0,058) 0,045 (0,007-0,095) 0,045 (0,014-0,061) 0,039 (0,014-0,071)
setelah dicuci diiradiasi
(mg/dL)
*Data dilaporkan sebagai median (rentang); lengan tidak diiradiasi, n=45; lengan diiradiasi, n=18.

Hemolisis
Hemolisis pada semua unit eritrosit setelah pencucian meningkat selama
penyimpanan. Eritrosit yang dicuci manual dan disimpan dalam larutan saline
secara bermakna lebih hemolisis dibandingkan dengan eritrosit yang dicuci dengan
metode lain (p<0,0001). Satu unit yang dicuci dan disimpan dalam saline pada hari
ke 11, mengalami hemolisis lebih dari 0,8%, sedangkan pada hari ke 14 semua
WRC lainnya mengalami hemolisis kurang dari 0,8%. Tingkat hemolisis pada
eritrosit yang diiradiasi lebih besar dari waktu ke waktu dibandingkan dengan yang
tidak diiradiasi (Gambar 2A dan 2B). Eritrosit yang tidak diiradiasi, dicuci manual
dan disimpan dalam SAGM secara bermakna mengalami hemolisis lebih sedikit
dibandingkan WRC yang tidak diiradiasi lainnya (p<0,0001) dengan rerata
hemolisis 0,14% (CI, 0,12-0,16%). Semua eritrosit pada hari ke 7 setelah iradiasi,
mengalami hemolisis kurang dari 0,8% yang juga terjadi pada hari ke 14 untuk unit
yang diiradiasi yang dicuci secara manual dan disimpan dalam SAGM tetapi bukan

7
untuk metode lainnya. Kadar hemolisis WRC yang diiradiasi, pada hari ke 5 setelah
iradiasi serupa atau lebih rendah dari eritrosit standar yang kadaluarsa (35 hari)
(Tabel 3).

Tabel 2 Kadar total protein, albumin, dan IgA sebelum dan setelah pencucian*.
Saline-glukosa/ SAGM
ACP Manual
Total protein (g/dL)
Sebelum dicuci 7,16 (4,99-8,26)
Setelah dicuci 1,51 (0,97-2,01) 1,25 (0,94-2,5)
% reduksi 79% 82%
Total protein (g/unit)
Sebelum dicuci 0,699 (0,521-0,820)
Setelah dicuci 0,124 (0,078-0,168) 0,074 (0,054-0,149)
% reduksi 82% 89%
Albumin (g/dL)
Sebelum dicuci 4,58 (2,84-6,12)
Setelah dicuci 0,46 (0,00-0,59) 0,10 (0,001-1,06)
% reduksi 90% 98%
Albumin (g/unit)
Sebelum dicuci 0,458 (0,297-0,607)
Setelah dicuci 0,038 (0,00-0,056) 0,006 (0,00-0,056)
% reduksi 92% 99%
IgA (mg/dL)
Sebelum dicuci 10,19 (3,45-14,44)
Setelah dicuci 0,064 (0,026-0,104) 0,033 (0,007-0,058)
% reduksi 99,4% 99,7%
IgA (mg/unit)
Sebelum dicuci 9,79 (3,61-14,30)
Setelah dicuci 0,048 (0,019-0,093) 0,017 (0.004-0.058)
% reduksi 99,5% 99,8%
*Data sebelum dan setelah pencucian dilaporkan sebagai median
(rentang): n=9.

Kalium
Median kadar kalium sebelum dicuci 2,41 mmol/unit (rentang, 2,23-3,04
mmol/unit). Kadar kalium setelah pencucian menurun, kemudian meningkat selama
penyimpanan; peningkatan lebih besar pada eritrosit yang diiradiasi dibandingkan
dengan yang tidak diiradiasi (Gambar 2E dan 2F).

8
Gambar 2 Perubahan seiring waktu penyimpanan dalam hemolisis, mikrovesikel,
kalium, dan ATP, pada WRC yang tidak diiradiasi dan diiradiasi. Data
dilaporkan sebagai rerata dengan CI 95% (n=9 tidak diiradiasi, n=6 diiradiasi).
Data untuk kelompok penelitian baik dalam set data yang tidak diiradiasi dan
diiradiasi dipasangkan. Data tidak dipasangkan antara kelompok yang tidak
diiradiasi dan diiradiasi.

9
Tabel 3 Hasil setelah pencucian dan data referensi dari eritrosit yang tidak dicuci*.
Larutan pencuci/ Kalium
Metode Hari setelah ATP
Iradiasi larutan Hemolisis (%) supernatan
pencucian pencucian (µmol/g Hb)
penyimpanan (mmol/unit)
Saline-glukosa/
ACPa Tidak 14 0,32 (0,26-0,43) 3,05 (2,66-3,33) 1,84 (1,68-2,14)
SAGM
Saline-glukosa/
Manuala Tidak 14 0,25 (0,19-0,46) 3,40 (2,79-3,87) 1,64 (1,38-1,85)
SAGM
a
Manual Tidak SAGM/ SAGM 14 0,22 (0,17-0,35) 3,65 (2,97-3,91) 1,44 (1,25-2,06)
Saline-glukosa/
ACPb Hari ke 14 5 0,29 (0,24-0,33) 4,06 (3,61-4,59) 3,59 (3,47-3,93)
SAGM
b
Manual Hari ke 14 SAGM/ SAGM 5 0,16 (0,11-0,20) 4,27 (3,85-4,72) 3,08 (2,72-3,40)
b Saline-glukosa/
ACP Hari ke 14 14 0,78 (0,64-0,95) 3,15 (2,76-3,49) 4,63 (4,22-4,85)
SAGM
Manualb Hari ke 14 SAGM/ SAGM 14 0,43 (0,27-0,51) 3,42 (3,25-3,97) 3,79 (3,36-4,22)
Referensi data Hari setelah
CDL pembuatan
Tidak 0,07 (0,04-0,41) 5,16 (2,27-9,29) 1,22 (0,82-1,83)
Tidak Eritrosit SAGM 7
dicuci n=75 n=75 n=25
Tidak 0,13 (0,05-0,47) 4,49 (2,98-6,57) 2,35 (0,53-4,09)
Tidak Eritrosit SAGM 14
dicuci n=175 n=133 n=115
Tidak 0,24 (0,10-0,81) 3,20 (1,78-5,55) 3,45 (0,78-4,71)
Tidak Eritrosit SAGM 28
dicuci n=145 n=145 n=115
Tidak 0,28 (0,10-1,16) 2,65 (0,90-6,15) 3,97 (0,91-5,26)
Tidak Eritrosit SAGM 35
dicuci n=168 n=163 n=115
14 hari
Tidak
Hari ke 14 Eritrosit SAGM setelah 0,88 (0,53-1,18) 3,01 (2,80-3,58) 7,95 (6,48-8,19
dicucib
iradiasi
*Data dilaporkan sebagai median (rentang). an=9; bn=6. Data dipasangkan dalam lengan yang tidak diiradiasi dan
diiradiasi, tidak dipasangkan antara unit yang diiradiasi dan tidak diiradiasi.

Eritrosit yang dicuci dan disimpan dengan SAGM dan eritrosit yang dicuci
dengan larutan saline-glukosa dan disimpan dalam SAGM (rerata keseluruhan 0,85
mmol/unit, masing-masing [CI, 0,78-0,91 mmol/unit] dan 0,94 mmol/unit [CI,
0,87-1,00 mmol/unit]) secara bermakna memiliki kadar kalium lebih rendah
(p<0,0001) dibandingkan dengan eritrosit yang cuci dengan metode lainnya
(Gambar 2E). Eritrosit yang dicuci dengan semua metode, pada lengan yang
diiradiasi memiliki peningkatan kadar kalium supernatan yang cepat antara
penyimpanan hari ke 0 dan ke 5 (Gambar 2F). Kadar kalium secara bermakna lebih
rendah (p<0,0001) pada eritrosit yang dicuci, diiradiasi, dan disimpan dalam
SAGM, rerata keseluruhan 2,8 mmol/unit (CI, 2,72-2,88 mmol/unit), dibandingkan
eritrosit yang dicuci dan diiradiasi dengan metode lain.

10
ATP dan 2,3-DPG
Kadar ATP eritrosit pada semua WRC menurun selama penyimpanan
(Gambar 2G dan 2H). Eritrosit yang dicuci dengan ACP215 memiliki ATP terendah
(p<0,0001) baik pada lengan yang tidak diiradiasi maupun diiradiasi (rerata
keseluruhan 3,65 μmmol/g Hb, masing-masing [CI, 3,46-3,84 μmmol/g Hb] dan
3,78 μmmol/g Hb [CI, 3,55-4,01 μmmol/g Hb]). Perbedaan kadar ATP antara
eritrosit yang diiradiasi dan tidak diiradiasi tidak dapat dibuktikan (p=0,51). Median
kadar ATP semua WRC pada hari ke 14 setelah pencucian, lebih tinggi dari 2,3
μmol/g Hb, kadar anjuran yang dibutuhkan untuk penerimaan kelangsungan hidup
eritrosit setelah transfusi.
Kadar 2,3-DPG semua unit pada hari ke-14 (setelah pengumpulan) dan
segera setelah pencucian di bawah batas deteksi. Hal ini sesuai yang diharapkan
pada unit whole blood yang didiamkan semalam pada suhu kamar sebelum diproses
menjadi RBCs dan disimpan selama 14 hari sebelum pencucian.

RCMV
Kadar RCMV meningkat pada semua penyimpanan eritrosit dan lebih tinggi
pada WRC yang diiradiasi dibandingkan dengan yang tidak diiradiasi (Gambar 2C
dan 2D). Kadar RCMV eritrosit yang tidak diiradiasi lebih tinggi pada pencucian
manual dan disimpan dalam larutan saline, rerata keseluruhan 3,34 x 109/L (CI, 2,33
x 109-4,79 x 109/L) dan yang tertinggi adalah eritrosit yang dicuci dengan ACP215,
rerata keseluruhan 1,96 x 109/L (CI, 1,37 x 109-2,81 x 109/L) dibandingkan dengan
kadar pada eritrosit yang dicuci dengan metode lainnya (p<0,0001).
Kadar RCMV pada lengan iradiasi, tertinggi pada eritrosit yang dicuci
dengan ACP215, rerata keseluruhan 5,86 x 109/L (CI, 3,77 x 109-9,10 x 109/L)
dibandingkan kadar pada eritrosit yang dicuci dengan semua metode lain
(p<0,0001). Eritrosit yang dicuci manual dan disimpan dalam SAGM memiliki
kadar RCMV yang jauh lebih rendah, rerata keseluruhan 1,93 x 109/L (CI, 1,25 x
109 3,01 x 109/L), dibandingkan yang dicuci dengan ACP215 (p<0,0001).

11
pH
Median pH sebelum eritrosit dicuci adalah 6,61 (rentang, 6,59-6,64). pH
menurun setelah pencucian dan selama penyimpanan pada eritrosit yang diiradiasi
dan tidak diiradiasi dengan menggunakan semua metode pencucian. pH eritrosit
yang dicuci dengan ACP215 pada lengan yang tidak diiradiasi dan diiradiasi (rerata
keseluruhan, masing-masing 6,38 [CI, 6,37-6,39] dan 6,37 [CI, 6,36-6,38]) lebih
rendah dibandingkan eritrosit lainnya (p<0,0001; Gambar 3E dan 3F). Beberapa
eritrosit dengan pencucian ACP215 pada hari 14, baik yang diiradiasi maupun tidak
diiradiasi memiliki nilai pH 6,3, merupakan batas terendah dari deteksi alat analisis.
pH eritrosit yang dicuci dan disimpan dalam SAGM baik yang tidak diiradiasi
maupun yang diiradiasi memiliki rerata keseluruhan 6,45 (CI, 6,44-6,46).

Glukosa dan laktat


Kadar glukosa supernatan bervariasi tergantung pada larutan pencuci dan
penyimpanan. Eritrosit yang dicuci dan disimpan dalam saline memiliki glukosa
terendah. Kadar glukosa tertinggi diukur pada eritrosit yang dicuci dan disimpan
dalam SAGM dengan rerata keseluruhan 1,74 mmol/unit (CI, 1,63-1,86 mmol/unit;
p<0,0001 dibandingkan metode lain). Glukosa menurun secara bertahap selama
penyimpanan terlepas dari iradiasi ataupun metode pencucian (Gambar 3A dan 3B).
Kadar laktat meningkat selama penyimpanan (Gambar 3C dan 3D). Kadar
laktat pada eritrosit yang tidak diiradiasi yang dicuci dengan saline dan disimpan
dalam SAGM, dan eritrosit yang dicuci dan disimpan dengan saline, secara
bermakna lebih tinggi (p<0,0001) dibandingkan eritrosit yang dicuci menggunakan
metode lain. Rerata keseluruhan laktat pada eritrosit yang dicuci dengan saline dan
disimpan dalam SAGM sebesar 0,83 mmol/unit (CI, 0,75-0,93 mmol/unit) dan
dalam eritrosit yang dicuci dengan ACP sebesar 0,62 mmol/unit (CI, 0,56-0,69
mmol/unit). Eritrosit yang diiradiasi, dicuci dengan saline dan disimpan dalam
SAGM secara bermakna memiliki kadar laktat yang lebih tinggi (p<0,0001)
dibandingkan yang dicuci menggunakan metode lainnya.

12
Gambar 3 Perubahan seiring waktu penyimpanan dalam glukosa, laktat, dan pH
dalam WRC yang tidak diiradiasi dan diiradiasi. Data dilaporkan sebagai
rerata dengan CI 95% (n=9 tidak diiradiasi, n=6 diiradiasi). Data untuk
kelompok penelitian baik dalam set data yang tidak diiradiasi dan diiradiasi
dipasangkan. Data tidak dipasangkan antara kelompok yang tidak diiradiasi
dan diiradiasi.

13
PEMBAHASAN
Perangkat ACP215, suatu sistem otomatis dan tertutup untuk mencuci
eritrosit dan meresuspensi kembali dalam AS, memungkinkan untuk
memperpanjang masa simpan eritrosit 24 jam yang dicuci dengan sistem terbuka.
Penelitian ini membandingkan kualitas eritrosit yang diproduksi dengan metode
otomatis ACP215 dan metode manual dengan kombinasi larutan pencuci dan
penyimpanan yang berbeda.
Metode pencucian manual, dalam pemisahan plasma memberikan hasil
yang unggul dibandingkan metode otomatis. Kadar plasma yang dibuang untuk
mencegah reaksi transfusi pada resipien yang berpotensi termasuk pasien defisiensi
IgA tidak begitu jelas. Kadar total protein WRC menurut kriteria di Eropa harus
kurang dari 0,5 g/unit. Semua unit dalam penelitian ini memenuhi kriteria tersebut,
namun total protein dalam supernatan WRC tidak hanya mengukur protein plasma,
tetapi juga hemolisis yang terjadi karena proses pencucian. Analisis ini tidak tepat
untuk mengukur protein plasma seperti albumin atau IgA. Eritrosit dalam larutan
aditif mengandung sekitar 10-30 mL plasma dalam volume supernatan sekitar 120
mL. Jumlah total protein per unit pada tingkat total protein rata-rata 60 g/L dalam
plasma diharapkan 0,6 g/unit sebelum dicuci, sebagaimana dikonfirmasi kadar yang
terukur 0,7 g/unit dalam penelitian ini (Tabel 2). Total protein memiliki batas 0,5
g/unit dalam komponen yang dicuci. Batas tersebut berdasarkan data total protein
yang tersedia saat itu, mencerminkan hemolisis serta pemisahan plasma.
Penyediaan komponen seluler dari donor dengan defisiensi IgA sulit untuk
disediakan tepat waktu dan WRC dapat dijadikan sebagai alternatif. Imunoglobulin
A pada WRC di Eropa atau Inggris tidak memiliki kriteria. The American
Association of Blood Banks (AABB) dan The American Red Cross Rare Donor
Program menetapkan pasien defisiensi IgA dengan riwayat reaksi transfusi, tingkat
IgA harus kurang dari 0,05 mg/dL (<0,0005 g/L). Rasionalnya didasarkan pada
sebuah penelitian yang menentukan jumlah IgA yang dapat ditransfusikan kepada
enam penerima defisiensi IgA dengan aman tanpa menyebabkan reaksi. Eritrosit
yang dicuci dengan ACP215 pada penelitian ini hanya 22% yang memiliki IgA
kurang dari 0,05 mg/dL dibandingkan dengan 72% eritrosit yang dicuci secara
manual. Hansen et al. menunjukkan hanya 33% eritrosit yang dicuci dengan

14
ACP215 memiliki tingkat IgA kurang dari 0,05 mg/dL. Para peneliti sebelumnya
menunjukkan jumlah residu IgA tergantung pada apakah eritrosit buffy coat
depleted sebelum dicuci, kemudian mengembangkan proses pencucian ganda
dengan ACP215 untuk mencapai pengurangan kadar IgA. Canadian Standards
Association Guidelines merekomendasikan pencucian dengan volume saline
minimum 2000 mL untuk donor dengan defisiensi IgA. Data peneliti menunjukkan
hal tersebut mungkin tidak diperlukan ketika menggunakan metode pencucian
manual. National Health Service Blood and Transplant menyimpan daftar pasien
defisiensi IgA di Inggris yang mengalami reaksi transfusi. Dua dari 13 kasus yang
diketahui memiliki transfusi berikutnya: pertama dengan unit eritrosit acak dan
selanjutnya dengan WRC, tanpa reaksi, dan kedua, WRC tanpa reaksi. Banyaknya
kadar IgA yang perlu dibuang untuk mencegah reaksi transfusi pada pasien
defisiensi IgA masih belum jelas.
Pedoman Eropa dan Inggris mensyaratkan hemolisis pada akhir
penyimpanan kurang dari 0,8% untuk eritrosit. Semua WRC yang tidak diiradiasi
pada penelitian ini, selain unit saline/ saline, memenuhi kriteria 14 hari setelah
pencucian; eritrosit yang dicuci manual memiliki kadar hemolisis serupa dengan
hari ke 28 eritrosit yang tidak dicuci (Tabel 3). Eritrosit yang dicuci manual atau
dengan ACP215, 5 hari setelah iradiasi, mempunyai kadar hemolisis serupa atau
lebih rendah dari eritrosit standar pada akhir penyimpanan (35 hari di Amerika
Serikat). Eritrosit yang dicuci dan diiradiasi dengan salah satu metode dapat
disimpan selama 5 hari dan mungkin lebih lama untuk eritrosit yang dicuci manual.
Hemolisis pada eritrosit yang dicuci manual, baik diiradiasi atau tidak, secara
bermakna berkurang pada pencucian dengan SAGM dibandingkan saline.
Penambahan SAGM memberikan perlindungan lebih lanjut dari efek pencucian dan
iradiasi selama penyimpanan berikutnya. Manitol berperan dalam menstabilkan
membran sel dan memiliki sifat antioksidan karena kemampuannya untuk mencari
radikal bebas oksigen.
Kebocoran kalium dari eritrosit merupakan faktor penting ketika
mempertimbangkan masa simpan komponen. Kadar kalium pada supernatan WRC
yang tidak diiradiasi, 14 hari setelah pencucian lebih rendah dibandingkan sebelum
pencucian di semua eritrosit selain yang dicuci dan disimpan dalam larutan saline.

15
Eritrosit yang dicuci dengan saline-glukosa/ SAGM dan SAGM/ SAGM memiliki
kalium supernatan lebih rendah dibandingkan metode lain yang tidak diiradiasi.
Eritrosit yang dicuci dengan SAGM/ SAGM dan diiradiasi mengandung kalium
supernatan jauh lebih rendah dibandingkan eritrosit yang dicuci dan diiradiasi
lainnya dalam hal lama penyimpanan. Kadar semua eritrosit yang dicuci dan
diiradiasi pada hari ke 5 secara bermakna lebih tinggi dibandingkan kadar sebelum
dicuci, tetapi tidak melebihi yang ditemukan pada akhir masa simpan (hari ke 35)
eritrosit standar (Tabel 3).
Eritrosit saline/ saline memiliki kadar ATP lebih rendah pada akhir
penyimpanan, mungkin disebabkan kurangnya adenin dan glukosa tambahan yang
dapat membantu produksi ATP. Semua eritrosit dalam SAGM setelah 14 hari
pencucian memiliki kadar ATP lebih besar dari 2,3 μmol/g Hb, kadar minimum
untuk kelangsungan hidup eritrosit setelah transfusi.
pH dapat berkurang dengan pencucian dan eritrosit yang dicuci pada hari ke
21 memiliki pH lebih rendah dibandingkan yang dicuci dekat dengan waktu donasi.
Eritrosit pada penelitian ini berumur 14 hari ketika dicuci, dengan median pH 6,61
sebelum dicuci. pH eritrosit setelah dicuci bervariasi tergantung kombinasi yang
digunakan, menggunakan berbagai larutan pencucian dengan pH berbeda, dan
disimpan dalam SAGM ataupun saline. pH pada semua WRC menurun selama
penyimpanan karena aktivitas metabolisme eritrosit yang mengubah glukosa
menjadi laktat. Eritrosit yang dicuci menggunakan saline-glukosa (ACP215 dan
manual) secara bermakna memiliki pH yang lebih rendah dibandingkan eritrosit
yang dicuci dengan metode manual lainnya.
Pelepasan mikrovesikel dari eritrosit adalah bagian integral dari proses
penuaan, untuk mempertahankan fungsi membran dan mencegah penghancuran
dini dari sirkulasi. Mikrovesikel mengancurkan membran eritrosit sehingga
deformabilitas berkurang, sebagai penanda kerusakan eritrosit selama
penyimpanan. Kadar RCMV meningkat selama penyimpanan pada eritrosit yang
tidak diiradiasi dan diiradiasi terlepas dari metode yang digunakan. Kadar RCMV
lebih tinggi secara bermakna pada eritrosit yang dicuci dengan saline/ saline dan
pada WRC yang diiradiasi dibandingkan WRC yang tidak diiradiasi selama periode
penyimpanan. Eritrosit yang dicuci dengan ACP215 tampaknya memiliki kadar

16
RCMV lebih tinggi dibandingkan metode manual pada penggunaan larutan yang
sama, walaupun mungkin kebetulan. Eritrosit yang dicuci dengan SAGM/ SAGM
dan diiradiasi, secara bermakna memiliki RCMV lebih rendah dibandingkan WRC
yang diiradiasi lainnya, menunjukkan tambahan dari konstituen larutan pencuci
SAGM dapat memberikan perlindungan terhadap pembentukan mikrovesikel.
Data penelitian ini mendukung masa simpan 14 hari pada WRC yang
diproduksi menggunakan ACP215 dan menunjukkan masa simpan yang diproduksi
secara manual dapat diperpanjang dari 24 jam menjadi 14 hari jika SAGM
digunakan sebagai larutan penyimpanan bersamaan dengan metode produksi yang
mengurangi risiko kontaminasi bakteri. Kualitas eritrosit yang dicuci secara
manual, faktanya lebih unggul dibandingkan menggunakan ACP215, hemoglobin
yang hilang lebih sedikit ditemukan pada pencucian manual. Peneliti menunjukkan
tampaknya terdapat manfaat dalam menggunakan SAGM untuk mencuci dan
menyimpan eritrosit dalam hal mengurangi hemolisis dan kebocoran kalium. Data
penelitian ini mendukung masa simpan maksimal 5 hari setelah iradiasi pada WRC
dan menunjukkan bahwa masa simpan eritrosit yang dicuci manual dapat
diperpanjang lebih dari 24 jam hingga 5 hari. Data menunjukkan SAGM
memberikan efek perlindungan pada eritrosit dibandingkan saline terutama setelah
iradiasi dan ini mendukung pencucian dan penyimpanan eritrosit dengan SAGM.
Proses manual lebih dipilih dibandingkan otomatis untuk pencucian, tergantung
pada kemudahan penggunaan dalam produksi rutin, mungkin berbeda untuk pusat
darah tertentu. Data yang disajikan di sini menawarkan pilihan alternatif bagi pusat
darah. Risiko bakteri perlu dipertimbangkan, selain pertimbangan yang berkaitan
dengan kualitas komponen. Risiko terkait produksi sel dengan penghubung steril
dibandingkan yang terkait dengan ACP215 dengan menggunakan filter penghalang
bakteri 0,2 µm mungkin tidak ada perbedaan.

17