Anda di halaman 1dari 5

ESSAY KONSERVASI LINGKUNGAN

GERAKAN PEMBENTUKAN KADER KONSERVASI LINGKUNGAN PADA


MAHASISWA PECINTA ALAM DAN ORGANISASI PECINTA ALAM MELALUI
KEGIATAN MERU BETIRI SERVICE CAMP XVI

RJun

MBSC (Meru Betiri Service Camp) merupakan salah satu bentuk pendidikan kader
konservasi dalam memasyarakatkan kesadaran akan pentingnya nilai konservasi sumber daya
alam di masyarakat. Kader konservasi merupakan mitra pembangunan yang diharapkan
mampu berperan serta dalam upaya mewujudakan masyarakat yang mencintai alam dan
lingkungan. Kegiatan MBSC XVI merupakan salah satu program kerja dari Taman Nasional
Meru Betiri dan diselenggarakan oleh Wipab (Wadah Informasi Pecinta Alam Se-Eks
Besuki). Kegiatan MBSC XVI dilaksanakan pada tanggal 27 November sampai dengan 1
Desember 2014 dan bertempat di Bandealit, kawasan Taman Nasional Meru Betiri.
Dengan mengangkat tema “Membentuk Kader Konservasi yang Peka terhadap
Lingkungan” sehingga setelah kegiatan ini diharapkan kader-kader konservasi mampu
memperhatikan permasalahan lingkungan yang sedang terjadi. Hal ini dimaksudkan bahwa
MBSC XVI bertujuan untuk mencetak kader konservasi yang peduli terhadap kelestarian alam
serta lingkungan sekitarnya dengan semangat yang baru setelah vakumnya beberapa tahun
terahir. Hal ini merupakan kewajiban sebagai motifator, katalisator dan dinamisator dalam
upaya pembangunan dewasa ini yang harus berwawasan lingkungan, sehingga tercapai
keserasian lingkungan hidup guna kesejahteraan umat manusia di masa kini dan masa
mendatang. Disamping itu juga untuk meminimalkan terjadi bencana alam.
Dengan terbentuknya kader konservasi yang handal melalui MBSC harapan kedepannya
yaitu kader-kader tersebut dapat mengaplikasikannya dalam masyarakat umum untuk
menumbuhkan kesadaran masyarakat akan pentingnya alam dalam kehidupan. Dalam
pembentukan kader-kader konservasi yang handal maka perlu pelatihan dan pemberian materi
yang lebih mendalam agar tercapainya suatu tujuan yaitu melestarikan alam dengan
memperhatikan lingkungan sekitar. Oleh karena itu, kegiatan ini sangatlah penting dalam
menciptakan ataupun membentuk para penerus bangsa dalam segala hal khususnya dalam
konservasi.
Metode yang digunakan dalam pendidikan kader konservasi ini adalah pemberian materi
dengan presentasi, diskusi dan praktik lapangan secara langsung. Materi yang diberikan
sebanyak 17 materi pendukung dalam proses pembinaan sebagai kader konservasi. Materi yang
diberikan yaitu:
1. Ketuhutanan Umum
Materi kehutanan umum secara garis besar membahas tentang latar belakang
kehutanan umum, pengertian hutan dan kehutanan, jenis-jenis hutan di Indonesia,
pembagian kawasan konservasi, visi dan misi kementrian kehutanan, tugas dan fungsi
kementrian kehutanan dan struktur organisasi Direktorat Jendral PHKA (Pemanfaatan Jasa
Lingkungan Kawasan Konservasi dan Hutan Lindung)
2. Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistem
Materi konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistem secara garis besar
membahas kegiatan dari masyarakat pada zaman kerajaan yang pola perilakunya
mencerminkan adanya upaya konservasi, produk hukum zaman penjajahan Belanda
sebagai bentuk upaya perlindungan terhadap sumber daya alam di Indonesia, upaya
konservasi hutan jati peninggalan Belanda pada zaman penjajahan Jepang, upaya
perlindungan alam pada zaman kemerdekaan dan kegiatan konservasi sumberdaya alam
hayati dan ekosistem di Indonesia
3. Analisa Vegetasi
Materi analisa vegetasi secara garis besar membahas tentang pengertian analisa
vegetasi, parameter analisa vegetasi, kriteria pohon, metode analisa vegetasi, perhitungan
metode kuadran dan garis berpetak, luas contoh minimal (Minimum Plot Size) dan cara
sampling dan penunjang analisa vegetasi
4. Herbarium
Materi herbarium secara garis besar membahas tentang pengertian herbarium, alat
dan bahan pembuatan herbarium dan cara kerja pembuatan herbarium
5. Flora Fauna Indonesia
Materi flora fauna Indonesia secara garis besar membahas tentang dasar hukum, tiga
tingkatan keanekaragaman hayati, penyebaran flora dan fauna Indonesia, kondisi flora dan
fauna, jenis dan tipe flora fauna Indonesia, keuntungan adanya keanekaragaman hayati,
akibat musnahnya keanekaragaman hayati, penyebab musnahnya keanekaragaman hayati
dan upaya pelestarian flora dan fauna
6. Hitung Karbon
Materi hitung karbon secara garis besar membahas tentang teknik pengukuran
karbon tersimpan di berbagai macam penggunaan lahan, perlunya mengukur karbon
tersimpan, informasi yang dibutuhkan pada pengukuran karbon tersimpan di tingkat lahan
dan global, cara mengukur karbon tersimpan dan penghitungan jumlah karbon tersimpan
pada setiap lahan
7. Pengamatan Burung
Materi pengamatan burung secara garis besar membahas tentang perlunya
mengobservasi burung, cara pengamatan burung di lapangan, perlengkapan yang
diperlukan dalam pengamatan burung, waktu yang tepat dalam pengamatan burung, cara
membuat daftar pengamatan, metode pengamatan burung dan topografi burung
8. Karnivora Besar dan Plastercast
Materi karnivora besar dan plastercast secara garis besar membahas tentang
pengenalan karnivora besar di Jawa seperti tipologi harimau dan macan Jawa, perilaku,
habitat, tapak kaki, kriteria jejak, identifikasi rambut dan teknis pengelolaan karnivora
besar di habitatnya juga teknik merekam data karnivor
9. Ekologi
Materi ekologi secara garis besar membahas tentang definisi ekologi, sistem ekologi
(ekosistem), Indonesia sebagai megabiodiversity, ekologi dan pembangunan
10. Analisa Air
Materi analisa air secara garis besar membahas tentang masalah pengolahan air dan
sistem analisa kualitas dan kuantitas air
11. Flora Unggulan Taman Nasional Meru Betiri
Materi flora unggulan TNMB secara garis besar membahas tentang rafflesia
12. Fauna Unggulan Taman Nasional Meru Betiri
Materi fauna unggulan TNMB secara garis besar membahas tentang penyu
13. Global Warming
Materi global warming secara garis besar membahas tentang pengertian global
warming, terjadinya global warming, dampak dan upaya yang dapat dilakukan
14. Ekowisata dan Interpretasi
Materi ekowisata dan interpretasi secara garis besar membahas tentang jenis
ekowisata, kaitan ekowisata dengan interpretasi, pengertian dan bentuk interpretasi
15. Pengamatan Masyarakat
Materi pengamatan masyarakat secara garis besar membahas tentang unsur universal
kebudayaan, unsur normatif kebudayaan dan wujud kebudayaan
16. Jurnalistik Lingkungan
Materi jurnalistik lingkungan secara garis besar membahas tentang definisi
jurnalistik lingkungan, prinsip dasar ilmu lingkungan, orientasi jurnalisme lingkungan,
kategori berita lingkungan dan cara menulis masalah lingkungan
17. Advokasi Lingkungan
Materi advokasi lingkungan secara garis besar membahas tentang gerakan advokasi
lingkungan dan cara melakukan advokasi lingkungan

ANALISIS STUDI ANALOGI DENGAN GERAKAN PEMBENTUKAN


KADER KONSERVASI TINGKAT PEMULA DI SEKITAR SUAKA
MARGASATWA BAKIRIANG BALAI KSDA SULAWESI TENGAH

Pelatihan Teknis (Pembentukan Kader Konservasi Tingkat Pemula) di SM Bakiriang


Kabupaten Banggai Provinsi Sulawesi Tengah dilaksanakan pada tanggal 20 sampai 21
November 2013. Kegiatan ini bekerjasama antara Balai KSDA Sulawesi Tengah, Matindok
Gas Development Project (MGDP) PT Pertamina EP, dan Kelompok Kerja Konservasi Maleo
(K3M). Gerakan pembentukan kader konservasi tingkat pemula di sekitar suaka margasatwa
Bakiriang Balai KSDA Sulawesi Tengah akan sangat membantu untuk meminimalkan tekanan
dan gangguan pada kawasan konservasi. Kader konservasi dibentuk tidak hanya pada daerah-
daerah sekitar kawasan konservasi saja tetapi juga di sekitar kawasan konservasi karena
keberadaan kawasan hutan khususnya kawasan konservasi berpengaruh luas pada masyarakat.
Dalam rangka meningkatkan wawasan dan pengetahuan masyarakat sekitar SM Bakiriang
terhadap upaya pelestarian kawasan konservasi SM Bakiriang sebagai habitat Burung Maleo,
maka dilaksanakan kegiatan Pelatihan Teknis (Pembentukan Kader Konservasi Tingkat
Pemula) di Suaka Margasatwa Bakiriang Kabupaten Banggai Provinsi Sulawesi Tengah.
Pembentukan kader konservasi yang diselenggarakan oleh BKSDA Sulawesi Tengah dan
TNMB memiliki perbedaan dan persamaan dalam pelaksanaannya. Kedua program ini
memiliki perbedaan dalam sasaran calon kader yang dituju, materi dan praktik lapangan yang
diberikan. Sasaran dalam pembentukan kader konservasi yang diselenggarakan oleh BKSDA
Sulawesi Tengah lebih kepada Sekolah Menengah Umum yang berada di sekitar SM Bakiriang
(25 orang siswa dan 2 orang guru) yang mewakili penyebaran desa sekitar SM Bakiriang.
Sedangkan sasaran dalam pembentukan kader konservasi yang diselenggarakan oleh TNMB
lebih dikhususnya untuk mahasiswa pecinta alam (mapala) dan organisasi pecinta alam (OPA)
se-Indonesia.
Pembentukan kader konservasi yang diselenggarakan oleh BKSDA Sulawesi Tengah ini
diikuti sebanyak 27 (dua puluh tujuh) orang, sedangkan kegiatan MBSC XVI dikhususnya
untuk mahasiswa pecinta alam (mapala) dan organisasi pecinta alam (OPA) se-Indonesia.
Dalam pelaksanaannya, pelatihan teknis (Pembentukan Kader Konservasi Tingkat Pemula)
BKSDA Sulawesi Tengah memberikan materi pelajaran berdasarkan syllabus pada Pedoman
Pembentukan Kader Konservasi dari Direktorat Pemanfaatan Jasa Lingkungan Kawasan
Konservasi dan Hutan Lindung, Direktorat Jederal PHKA sebanyak 8 materi dengan jumlah
jam sebanyak 25 jam pelajaran, dimana 1 jam pelajaran adalah 45 menit.
Materi yang diberikan dalam Pembentukan Kader Konservasi Tingkat Pemula) BKSDA
Sulawesi Tengah yaitu kehutanan umum, dasar-dasar kepemimpinan, dasar-dasar ekologi,
flora dan fauna Indonesia, dasar-dasar konservasi, pembinaan cinta alam, wisata alam, P3K
dan SAR, dimana praktik lapangan yang dilakukan hanya sekitar 28% pada materi dasar-dasar
ekologi, pengenalan flora dan fauna Indonesia, P3K dan SAR. Sedangkan dalam MBSC XVI,
materi yang disampaikan lebih beragam dan hampir keseluruhan materi dilakukan praktik
lapangan secara langsung.
Namun demikian, gerakan yang dilakukan BKSDA Sulawesi Tengah dan TNMB tetap
memiliki kesamaan yaitu pembentukan kader konservasi yang bertujuan untuk meningkatkan
pengetahuan dan kesadaran peserta didik (calon kader) yang berasal dari seluruh lapisan
masyarakat di bidang konservasi sumberdaya alam dalam rangka mewujudkan peran serta
masyarakat yang memiliki tanggung jawab dan perhatian yang besar terhadap kegiatan-
kegiatan konservasi sumberdaya alam hayati dan ekosistemnya.

Beri Nilai