Anda di halaman 1dari 21

“KERJASAMA PROFESSIONAL DENGAN TEMAN SEJAWAT DAN

ANGGOTA PROFESI LAINNYA”


[Prinsip Kerja Profesi Bimbingan dan Konseling & Hubungan dan Kerjasama
Antar Profesi]

PENGEMBANGAN PROFESI KONSELING

TUGAS KELOMPOK

Dosen Pengampu :

HERIYANTI, M. Pd

Disusun oleh :

BELI HANDANI 1143210017

PUTRIANI 1143210016

KHAIRUL UMAM 11432100

JURUSAN BIMBINGAN DAN KONSELING ISLAM

FAKULTAS USHULUDIN ADAB & DAKWAH

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGRI

(IAIN) PONTIANAK

2016 / 2017
KATA PENGANTAR

‫ بمحسمم ام الررححمْمن الررمحيِمم‬-

Assalamu’alaikum Warohmatullahi Wabarokatu

Puji syukur kita ucapkan atas kehadirat Allah SWT. Yang telah memberikan
rahmat dan karunianya kepada kita semua. Berkat itulah, pada kesempatan kali
ini kami dapat menulis tulisan dalam bentuk makalah tentang “Kerjasama
Professional Dengan Teman Sejawat dan Anggota Profesi Lainnya [Prinsip
Kerja Krofesi Bimbingan dan Konseling & Hubungan dan Kerjasama
Antar Profesi]” guna melengkapi tugas dari Mata kuliah Perkembangan Profesi
Konseling. Sholawat beserta salam kita kirimkan kepada junjungan kita Nabi
Besar Muhammad SAW.

Kami menyadari bahwa tuliasan ini masih banyak kelemahan dan


kekurangan, untuk itu saya mengharapkan kritik dan saran serta sumbangan
pikiran Ibu Heriyanti, M. Pd guna menyempurnakan tulisan ini dimasa yang akan
datang dan selaku dosen pengampu, semoga tuliasan ini bermanfaat bagi kita yang
membacanya.

Akhir kata, kami mengharapkan semoga tulisan ini dapat bermanfaat bagi
kita semua khususnya bagi kami dan pembaca. Saya ucapakan terima kasih.

Wassalamu’alaikum Warohmatullahi Wabarokatu.

Pontianak, 31 Oktoberr 2016

Penyusun

1
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR...............................................................................................i

DAFTAR ISI............................................................................................................ii

BAB I PENDAHULUAN........................................................................................1

1.1. Latar Belakang..............................................................................................1

1.2. Rumusan Masalah.........................................................................................1

1.3. Tujuan............................................................................................................1

BAB II PEMBAHASAN.........................................................................................2

Kerjasama Professional Dengan Teman Sejawat Dan Anggota Profesi Lainnya....2

2.1. Prinsip Kerja Profesi Bimbingan dan Konseling..........................................3

2.2. Hubungan dan Kerjasama Antar Profesi.......................................................7

BAB III PENUTUP...............................................................................................13

3.1. Kesimpulan..................................................................................................13

3.2. Saran............................................................................................................13

DAFTAR PUSTAKA.............................................................................................14

1
BAB I PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Seiring dengan perkembangan zaman, baik dibidang teknologi maupun


ilmu pengetahuan sekarang ini, tidak hanya merpermudah kita dalam kehidupan
namun, dibalik kemudahan dalam kehidupan tetap saja ada efek negative dari itu
semua. Salah satunya dibidang psikologi. Banyaknya masalh yang muncul, dalam
penanganan masalh maka ilmu pengetahuan yang mehimpun pemecahan
masalahtentang psikologi. Dengan maraknya ahli-ahli yang profesional di bidang
profesional, salah satunya adalah BK yang tidak hanya menjadi BK pendidikan
tetapi juga BK-BK lainnya.

Untuk mendalami suatu keahlian setidaknya haruslah paham akan konsep


dasar atau prinsip yang dimiliki suatu ilmu tersebut, karena prinsip tersebut
menjadi pedoman dalam pelaksanaan pelayanan. Harus diketahui juga bahwa
setipa profesi memiliki hubungan dengan profesi lainnya. Dalam tulisan ini lebih
menfokuskan pada phubungan BK dalam Pendidikan yaitu disekolah, dimana
struktur sekolah memiliki peran yang terhubung dalam kerjasama pelaksanaan
BK.

1.2. Rumusan Masalah

a) Apa saja Prinsip Kerja Profesi Bimbingan dan Konseling ?


b) Bagaimana Hubungan dan Kerjasama Antar Profesi ?

1.3. Tujuan

a) Untuk Mengetahui Prinsip Kerja Profesi Bimbingan dan Konseling


!
b) Untuk Mengetahu Hubungan dan Kerjasama Antar Profesi !

1
1

BAB II PEMBAHASAN

Kerjasama Professional Dengan Teman Sejawat Dan Anggota Profesi


Lainnya

Dalam tulisanyang ditulis oleh Desi Suci Fitriani Dkk (2015) mengatakan
bahwa profesi merupakan suatu jabatan atau pekerjaan yang menuntut keahlian
atau keterampilan dari pelakunya. Biasanya sebutan profesi selalu dikaitkan
dengan pekerjaam atau jabatab yang dipegang oleh seseorang, akan tetapi tisemua
pekerjaan atau jabatan dapat disebut profesi karena profesi menuntut keahlian
para pemangkunya. Hal ini mengandung arti bahwa suatu pekerjaan atau jabatan
yang disebut profesi tidak dapat dipegang oleh sembarang orang, akan tetapi
memerlukan suatu persiapan melalui pendidikan dan pelatihan yang dikembangan.

Dan juga dalam sebuah artikel yang di tulis oleh Syarifah Anis (2013)
mengatakan bahwa, profesi adalah kata serapan dari sebuag kata dala bahsa
inggris “Profess” yang bermakna janji untuk memenuhi kewajiban melakukan
suatu tuga khusu secara tetap/permanen. Profesi sebdiri memiliki arti sbuag
pekerjaan yang membutuhkan pelatihan dan penguasaan terhadap suatu
pengetahuan dan keahlian khusus.

Seperti yang diungkapkan oleh Burang Ashitamaymu (2015: 9) didalam


tulisan Desi Suci Fitriani Dkk (2015) Konselor adalan seseorang yang karena
kewenangan dan keahlianya memberi bantuan kepada konseli. Dalam konsleing
individual. Konselor menjadi aktor yang secara aktif mengembangakan proses
konseling untuk mencapai tujuan konsleing konsleing sesuai dengan prinsip-
prinsip dasar konseling. Dan dalam proses konsleing, selain menggunakan meia
verbal, konselor juga dapat menggunakan mesia tulisan, gambar, media elektronik
dan media pengembangan tingkah laku lainnya. Semua itu diuayakan konselor
dengan cara-cara yang cermat dan tepat demi terentaskannya masalah yang
dialami oleh konseli.

1
1

Dan didalam tulisan Desi Suci Fitriani (2015) Pekerjaan tidak sama
dengan prosesi. Istilaj uanb mudah di mengerti oleh masyarakat awam adalah
sebuah profesi sudah pasti menjadi sebuah pekerjaanm namun sebuah pekerjaan
belum tentu menjadi sebuah profesi. Profesi memiliki mekaniisme serta aturan
yang harus dipenuhi sebagai ketentuan sedangkan kebalikannya, pekerjaan tidak
memiliki aturan yang rumit seperti itu. Hal inilah yang harus diluruskan di
masyarakat, karena hampir semua orang mengganggap bahwa pekerjaan dan
profesi adalah sama.

2.1. Prinsip Kerja Profesi Bimbingan dan Konseling

Menurut Halaen pada Bimibingan dan Konseling (2002;63) di dalam


sebuah tulisan yang tidak disebutkan penulisnya, mengatakan bahwa prinsip
berasal dari kata prinsipra yang artinta permulaan dengan suatu cara tertentu
melahirkan hal—hal lain, yang keneradaannya tergantung dari pemula itu,
prinsi[ ini merupakan hasil perpaduan antara kajian teoritik dan teori lapangan
yang terarah yang digunakan sebagai pedoman dalam pelaksanaan yang
dimaksudkan.

Prinsip bimbingan dan Konsleing menguraikan tentang pokok-pokok dasar


pemikiran yang dijadikan pedoman program pelaksanaan atau aturan main yang
harus diikuti dalam pelaksanaan program pelayanan bimbingan dan dapat juga
dijadikan sebagai seperangkat landasan praktis atau aturan main yang harus diakui
dalam pelaksanaan program pelayanan bimbingan dan konseling di sekolah
maupun di tempai lain (konselor/penyuluh profesi lain).
1

Prayitno dan Erman pada bukunya Dasar-dasar Bimbingan dan Konsleing yang
diungkapkan dalam tulisan yang tidak disebutkan namanya mengatakan bahwa
prinsip merupakan hasil kajian teoritik dan telaah lapangan yang digunakan
sebagai pedoman pelaksanaan sesuatu yang dimaksudkan. Dapat di simpulkan
bahwa prinsip-prinsip bimbingan dan konsleing merupakan panduan hasil-hasil
teori dan praktek yang dirumuskan dan dijadikan pesoman sekaligus dasar dasar
bagi penyeleggaraan pelayanan. Intinya bahwa prinsip-prinsip bimbingan
konsleing ialah konsep dari profesi bimbingan dan konseling itu sendiri dan
menjadi pedoman pelaksanaan pelayanan.

Prinsip-prinsip bimbingan konsleing dalam pelayanan yang digunakan


bersumber dari kajian filosofid hasil penelitian dan pengalaman tentang hakikat
manusia, perkembangan dan kehidupan manusia dalam konteks sosial budayanya,
pengertian, tujuan, fungsi, dan proses, penyelenggaraan bimbingan dan konseling.
Adapun beberapa prinsip pelaksanaan bimbingan konseling yang diungkapkan
oleh Nurihsan Juntika dalam bukunya Bimbingan dan Konseling dalam Latar
Kehidupan (2006; 9) di dalam tulisan yang tiak disebutkan namanya
menyebutkan, diantaranya;

1. Bimbingan adalag suatu proses membantu individu agar mereka dapat


membantu dirinya sendiri dalam menyelesaikan masalah yang dihadapinya.
2. Hendaknya bimbingan bertitik tolak (berfokus) pada individu yang di
bimbing.
3. Bimbingan diarahkan pada individu dan tiap individu memiliki
karakteristik tersendiri.
4. Masalah yang dapat diselesaikan oleh tim pembimbing di lingkungan
lembagahendaknya diserahkan kepada ahli atau lembaga yang berwenang
menyelesaikannya.
5. Bimbingan dimulai dengan identifikasi kebutuhan yang dirasakan oleh
individu yang akan dibimbing.
6. Bimbingan harus luwes dan fleksibel sesuai kebutuhan individu dan
masyarakat.
7. Program bimbingan di lingkungan pendidiakn tertentu harus sesusai
dengan program pendidikan pada lembaga yang bersangkutan.
1

8. Hendaknya pelaksanaan program bimbingan dikelola oleh orang yang


memiliki keahlian dalam bidang bimbingan, dapat bekerja sama dan
menggunakan sumber-sumber yang relevan yang berada didalam ataupun
diluar lembaga penye;enggaraan pendidikan.
9. Hendaknya melaksanakan program bimbingan di evalusi untuk
mengetahui hasil dan pelaksanna program.

Prayitno mengatakan dalam sebuah tulisan bhwa rumusan prinsip-prinsip


bimbingan dan konsleing pada umumnya ialah berkenan dengan sasaran
pelayanan, masalah klien, tujuan dan proses penanganan masalah, program
pelayanan, penyelenggaraan pelayanaan, diantaranya prinsip-prinsip tersebut
adalah;
1. Prinsip-prinsip berkenaan dengan sasaran pelayanan; sasaran pelayanna
bimbingan dan konseling adalah individu-individu baik secara perorangan
ataupun kelompok yang menjadi sasaran pelayanan pada umumnya adalah
perkembangan dan perkehidupan individum namun secara lebih nyata dan
langsung adalah sikap dan tingkah lakunya yang dipengaruhi oleh aspek-
aspek kepribadian dan kondisi sendiri, serta kondisi lingkungannya, sikap dan
tingkah laku dalam perkembangan dan kehidupan itu mendorong
dirumuskannya prinsip-prinsip bimbingan dan konsleing sebagi berikut:
a) BK melayani semua individu tanpa memandang umur, jenis
kelamin, suku, agama dan status, sosial ekonomi.
b) BK berurusan dengan pribadi dan tingkah laku individu yang unik
dan dinamis.
c) BK memperhatikan sepenuhnya tahap-tahap dan berbagai aspek
perkembangan individu.
d) BK memberikan perhatian utama kepada perbedaan individual
yang menjadi orienrientasi pokok pelayannannya.
1

Prinsip-prinsip berkenaan dengan masalah individu; berbagai faktor yang


mempengaruhi perkembangan dan kehidupan individu tidaklah selalu positif,
namun faktor-faktor negatif pasti ada yang berpengaruh dan dapat
menimbulkan hambatan-hambatan terhadap kelangsungan perkembangan dan
kehidupan individu yang berupa masalah. Pelayanan BK hanya mampu
menangani masalah klien secara terbatas yang berkenanaan dengan:
a) BK berurusan dengan hal-hal yang menyangkut pengaruh kondisi
mental fisik individu terhadap penyesuaian dirinya dirumah, disekolah,
serata dalam kaitannya dengan kontak sosial dan pekerjaan, dan sebaliknya
pengaruh lingkungan terhadap kondisi mental dan fisik individu.
b) Kesejahteraan sosial, ekonomi dan kebudayaan merupakna faktor
timbulnya masalah pada individu yang kesemuannya menjadi perhatian
utama pealyanan BK.
2. Prinsip-prinsip berkenaan dengan program pelayanan; adapun prinsip-
prinsip yang berkenaan dengan pelayanan layanan BK itu adalag sebagai:
a) BK merupakan bagian integrasi dari proses pendidikan dan
pengembangan oleh karena itu BK harus diselaraskan dan dipadukan
dengan program pendidikan serta pengembangan pendidikan serta
perkembangan peserta didik.
b) Program BK harus fleksibel disesuaikan dengan kebutuhan
individu, masyarakat dan kondisi lembaga.
c) Program bimbingan dan Konseling disusun secara berkelanjutan
dari jenjang pendidikan terendah sampai tertinggi.
3. Prinsip-prinsip berkenaan dengan pelaksanaan pelayanan; pelaksanaan
pelayanan BK baik yang bersifat insidental mauun terprogram, dimulai
dengan pemahaman tentang tujuan layanan, dan tujuan ini akan diwujudkan
melalui proses tertentu yang dilaksanakan oleh tenanga ahli bidangnya, yaitu
konsleor profesional. Prinsip-prinsip yang berkenanan dengan hal tersebut
ialah (Halen; 2002):
a) BK harus diarahkan untuk pengembangan individu yang akhrnya
mampu membeimbing diri sendiri dalam menghadapi permasalahannya.
b) Dalam proses BK keputusan yang diambil dan akan dilakukan oleh
individu hendaknya atas kemauan individu itu sendiri bukan karena
kemauan atau desakan dari pihak lain.
1

c) Permasalahan individu harus ditangabu oleh tenaga ahli dibidang


yang relevan dengan permasalahn yang dihadapi.
d) Kerja sama anatara guru pembimbing, guru-guru lain dan orang tua
anak amat menentukan hasil pelayanan bimbingan.
e) Pengembangan program pelayanan BK ditempuh melalui
pemanfaatan yang maksimal dari hasil pengukuran dan penilaian terhadap
individu yang terlibat dalam proses pelayanna dan program bimbingan dan
konsleing itu sendiri.
4. Prinsip-prinsip bimbingan dan konsleing di sekolah dalam lapangan
operasional bimbingan dan konseling; Sekolah merupakan lembaga yang
wajah dna sosoknya sangat jelas. Di sekolah pelayanna bimbingan dan
konseling diharapkan dapat timbuj dan berkembang dengan amat baik
mengingat sekolah merupajan lahan yang secara potensial sangat subur,
sekolah memiliki kondisi dasar yang justru menuntut adanya pelayanan ini
pada kadar yang tinggi. Pelayanan BK secara resmi memang ada di sekolah,
tetapi keberadaannya belum seperti dikendaki. Dalam katan Belkin dalam
Prayitno 1994 dan didalam tulisan lain menegaskan enam prinsip untuk
menumbuha kembangkan pelayanan BK di sekolah.

2.2. Hubungan dan Kerjasama Antar Profesi

Hubungan dan kerjasama BK, umumnya dalam masalah sekolah. Karena


kedua kata ini sering ditemui. Hubungan berarti terkait akan peran, dan sisini kita
akn membahas peranan dan kerjasama personil sekolah dalam pelayanan Bk di
Sekolah. Seperti yang diungkapkan oleh Gusnanda Amalia (2014);
1

Peran Kepala/Wakil Kepala Sekolah; kepala sekolah selaku penanggung jawab


seluruh penyelenggaraan pendidikan di sekolah memegang peran strategis
dalam mengembangkan layanna bimbingan dan konseling di sekolah. Secara
garis besarnya, Prayitno (2004) dalam Gusnanda Amalia (2014)memerincikan
peran, tugas dan tanggung jawab kepala sekolah dalam bimbingan dan
konseling, sebagai berikut;
1. Mengkoordinir segenap kegiatan yang diprogramkan dan berlangsung di
sekolah,sehingga pelayanan pengajaran, latihan, dan bimbingan dan
konseling merupakan suatukesatuan yang terpadu, harmonis, dan dinamis.
2. Menyediakan prasarana, tenaga, dan berbagai kemudahan bagi
terlaksananya pelayananbimbingan dan konseling yang efektif dan efisien.
3. Melakukan pengawasan dan pembinaan terhadap perencanaan dan
pelaksanaan program, penilaian dan upaya tidak lanjut pelayanan bimbingan
dan konseling.
4. Mempertanggungjawabkan pelaksanaan pelayanan bimbingan
dan konseling di sekolah.
5. Memfasilitasi guru pembimbing/konselor untuk dapat mengembangkan
kemampuanprofesionalnya, melalui berbagai kegiatan pengembangan profesi.
6. Menyediakan fasilitas, kesempatan, dan dukungan dalam kegiatan
kepengawasan yangdilakukan oleh Pengawas Sekolah Bidang BK.Dalam
perspektif kebijakan pendidikan nasional (Depdiknas, 2006), terdapat tujuh
peranutama kepala sekolah yaitu, sebagai:1. Kepala sekolah sebagai educator
(pendidik). 2. Kepala sekolah sebagai manajer. 3. Kepala sekolah sebagai
administrator. 4. Kepala sekolah sebagai supervisor. 5. Kepala sekolah
sebagai leader (pemimpin). 6. Kepala sekolah sebagai pencipta iklim kerja.7.
Kepala sekolah sebagai wirausahawan.
1

Peran Guru Pembimbing; Bimbingan adalah proses pemberian bantuan


terhadap individu untuk mencapai pemahamandan pengarahan diri yang
dibutuhkan untuk melakukan penyesuaian diri secara maksimumterhadap
sekolah, keluarga serta masyarakat. Dalam keseluruhan proses pendidikan
gurumerupakan faktor utama. Dalam tugasnya sebagai pendidik, guru
memegang berbagai jenisperan yang mau tidak mau harus dilaksanakan sebaik-
baiknya. Setiap jabatan atau tugastertentu akan menuntut pola tingkah laku
tertentu pula. Sehubungan dengan peranannyasebagai pembimbing, seorang
guru harus;
1) Mengumpulkan data tentang siswa
2) Mengamati tingkah laku siswa dalam situasi sehari-hari
3) Mengadakan pertemuan atau hubungan dengan orangtua siswa
baik secara individumaupun secara kelompok untuk memperoleh saling
pengertian tentang pendidikananak
4) Bekerja sama dengan masyarakat dan lembaga lainnya
untuk membantu memecahkanmasalah siswa
5) Membuat catatan pribadi siswa serta menyiapkannya dengan baik
6) Menyelenggarakan bimbingan kelompok atau individu
7) Bekerja sama dengan petugas bimbingan lainnya untuk membantu
memecahkanmasalah siswa
8) Menyusun program bimbingan sekolah bersama-sama dengan
petugas bimbinganlainnya
9) Meneliti kemajuan siswa baik di sekolah maupun di luar sekolah.
1

Peran Guru Mata Pelajaran; Di sekolah, tugas dan tanggung jawab utama guru
adalah melaksanakan kegiatanpembelajaran siswa. Kendati demikian, bukan
berarti dia sama sekali lepas dengan kegiatanpelayanan bimbingan dan
konseling. Peran dan konstribusi guru mata pelajaran tetap sangatdiharapkan
guna kepentingan efektivitas dan efisien pelayanan Bimbingan dan Konseling
disekolah. Bahkan dalam batas-batas tertentu guru pun dapat bertindak sebagai
konselor bagisiswanya. Wina Senjaya (2006) menyebutkan salah satu peran
yang dijalankan oleh guruyaitu sebagai pembimbing dan untuk menjadi
pembimbing baik guru harus memilikipemahaman tentang anak yang sedang
dibimbingnya. Sementara itu, berkenaan peran gurumata pelajaran dalam
bimbingan dan konseling, Sofyan S. Willis (2005) mengemukakanbahwa guru-
guru mata pelajaran dalam melakukan pendekatan kepada siswa
harusmanusiawi-religius, bersahabat, ramah, mendorong, konkret, jujur dan
asli, memahami dan menghargai tanpa syarat. Prayitno (2003) memerinci
peran, tugas dan tanggung jawab guru-guru mata pelajaran dalam bimbingan
dan konseling adalah:
1) Membantu memasyarakatkan pelayanan bimbingan dan konseling
kepada siswa.
2) Membantu guru pembimbing/konselor mengidentifikasi siswa-
siswa yang memerlukanlayanan bimbingan dan konseling, serta
pengumpulan data tentang siswa-siswa tersebut.
3) Mengalihtangankan siswa yang memerlukan pelayanan bimbingan
dan konseling kepadaguru pembimbing/konselor.
4) Menerima siswa alih tangan dari guru pembimbing/konselor, yaitu
siswa yang menuntutguru pembimbing/konselor memerlukan pelayanan
pengajar /latihan khusus (sepertipengajaran/ latihan perbaikan,
program pengayaan).
5) Membantu mengembangkan suasana kelas, hubungan guru-siswa
dan hubungan siswa-siswa yang menunjang pelaksanaan pelayanan
pembimbingan dan konseling.
6) Memberikan kesempatan dan kemudahan kepada siswa yang
memerlukanlayanan/kegiatan bimbingan dan konseling untuk
mengikuti /menjalani layanan/kegiatanyang dimaksudkan itu.
7) Berpartisipasi dalam kegiatan khusus penanganan masalah siswa,
seperti konferensikasus.
8) Membantu pengumpulan informasi yang diperlukan dalam rangka
penilaian pelayananbimbingan dan konseling serta upaya tindak lanjutnya.
a) Peran Wali Kelas; Sebagai pengelola kelas tertentu dalam pelayanan
bimbingan dan konseling, Wali Kelasberperan:
1) Membantu guru pembimbing/konselor melaksanakan tugas-tugasnya,
khususnya di kelasyang menjadi tanggung jawabnya;
2) Membantu Guru Mata Pelajaran melaksanakan peranannya dalam
pelayanan bimbingandan konseling, khususnya di kelas yang menjadi
tanggung jawabnya;
1

3) Membantu memberikan kesempatan dan kemudahan bagi siswa,


khususnya dikelas yangmenjadi tanggung jawabnya, untuk
mengikuti/menjalani layanan dan/atau kegiatanbimbingan dan konseling;
4) Berpartisipasi aktif dalam kegiatan khusus bimbingan dan konseling,
seperti konferensikasus; dan
5) Mengalihtangankan siswa yang memerlukan layanan bimbingan dan
konseling kepadaguru pembimbing/konselor.
b) Peran Pengawas BK; Pengawas BK mempunyai peranan:
1. Mengkoordinasikan guru pembimbing dalam :
1) Memasyarakatkan pelayanan BK kepada segenap warga sekolah
(siswa, guru, danpersonil sekolah lainnya), orang tua siswa dan
masyarakat.
2) Menyusun program kegiatan BK (prohram satuan layanan dan
kegiatan pendukung, program mingguan, bulanan, caturwulan, dan
tahunan).
3) Melaksanakan program BK
4) Mengadministrasikan program kegiatan BK
5) Menilai hasil pelaksanaan program BK
6) Menganalisis hasil penilaian pelaksanaan BK
7) Memberikan timdak lanjut terhadap analisis penilaian BK
2. Mengusulkan kepada kepala sekolah dan mengusahakan bagi
kepentingan tenaga,prasarana, dan sarana alat dan perlengkapan pelayanan
BK.
c) Kerjasama antara Personil Sekolah dan Pelaksana BK; Pelaksanaan tugas
pokok guru dalam proses belajar pembelajaran tidak dapat dipisahkandari
proses bimbingan. Ada beberapa pendapat mengenai hal ini yaitu:
1) Proses belajar menjadi sangat efektif apabila bahan yang dipelajari
dikaitkan langsungdengan tujuan pribadi siswa.
2) Guru memahami siswa dan masalah-masalah yang dihadapinya
lebih peka terhadapahal-hal yang dapat memperlancar dan mengganggu
kelancaran kegiatan kelas.
1

3) Guru dapat memperhatikan perkembangan masalah/kesulitan


secara lebih nyata. Guru pembimbing mempunyai keterbatasan dalam
hal yang berkaitan dengan:
a) Kurangnya waktu untuk bertatap muka dengan siswa dalam hal ini
karena tenagapembimbing masih sangat terbatas, sehingga pelayanan
siswa dalam jumlah yangcukup banyak tidak bisa dilakukan secara
intensif.
b) Keterlibatan guru pembimbing sehingga tidak mungkin dapat
memberikan semuabentuk pelayanan seperti memberikann pengajaran
perbaikan untuk bidang studitertentuDilain pihak, guru juga
mempunyai beberapa ketentuan menurut KoestoerPratowisastro
(1982). Keterbatasan-keterbatasan guru tersebut antara lain:
1. Guru tidak mungkin lagi menangani masalah siswa yang
bermacam-macam, karenaguru tidak terlatih untuk melakukan
semua tugas.
2. Guru sendiri sudah berat tugas mengajarnya, sehingga tidak
mungkin lagi ditambahtugas yang lebih banyak untuk
memecahkan berbagai macam masalah.
BAB III PENUTUP

3.1. Kesimpulan

Prinsip-prinsip BK merupakan pemaduan hasil-hasil teori dan praktek


yang dirumuskan dan dijadikan pedoman dan dasar bagi penyelenggaraan
pelayannan. Prinsip-prinsip Bk ada bebrapa macam yaitu;

a) Prinsip-prinsip yang berkaitan dengn sasaran layanan.


b) Prinsip yang berkenaan dengan permasalah individu.
c) Prinsip-prinsip yang berkenaan dengan program pelayanan.
d) Prinsip-prinsip yang berkenaan dengan tujuan pelaksanaan pelayanan,
e) Prinsip-prinsip bimbingan dan konsleing di sekolah.
Hubungan dan kerjasama BK, umumnya dalam masalah sekolah. Seperti
yang diungkapkan oleh Gusnanda Amalia (2014);
a) Peran Kepala/Wakil Sekolah.
b) Peran Guru Pembimbing.
c) Peran Guru Mata Pelajaran.
d) Peran Wali Kelas.
e) Peran Pelayan BK.
f) Kerjasama antara Personil Sekolah dan Pelaksana BK.

3.2. Saran

Demikianlah pembahasan dari makalah kami ini, kami berharap semoga


makalah ini dapat membantu dan bermanfaat bagi pembaca. Dan kami pun
berharap pula kritikan dan saran bagi pembaca demi kesempurnaan makalah kami
selanjutnya. Kami menyadari bahwa di dalam makalah kami memilki kekurangan,
sekian dan terima kasih atas perhatian para pembaca.

1
DAFTAR PUSTAKA

Fitriani, Desi Suci Dkk. (2015). Makalah Bimbingan dan Koseling Profesi. Bau
Bau: Universitas Muhammadiyah Buton Bau Bau.
https://burangasitamaymo.wordpress.com/2015/06/26/makalah-bimbingan
- dan-konseling-sebagai-profesi/. Akses 29 Oktober 2016.

(Hallen, 2002. Bimbingan dan Konseling. Liputan Press : Jakarta. Nurihsan


Juntika. 2006. Bimbingan dan Koseling dalam Berbagai Latar Kehidupan.
PT RFIKA ADITAMA : Bandung. Prayitno dan Erman Amfi. 1995.
Dasar-dasar Bimbingan Konseling. Reneka Cipta: Jakarta)
Anis, Sarifah. (2013). Makalah Etika Profesi Hubungan Antara Pekerjaan,
Profesi, Profesional dan Teknologi Informasi. -. http://
syarifahanis.blogspot.co.id/2013/05/makalah-etika-profesi-hubungan-
antara.html. Akses tanggal 01 November 2016
Amalia, Gusnanda. (2014). Peran dan Kerjasama Personil: Peranan dan
Kerjasama Personil Sekolah dalam Pelayanna BK di Sekolah. -
http://swagwildnyoung. blogspot.co.id/2014/03/peranan-dan-kerjasama-
personil.html. Akses 01 November 2016.

-. (-). Prinsip-prinsip Bimbingan dan Penyuluhan. -. – Akses 01 November 2016