Anda di halaman 1dari 18

BAB II

HASIL PENGKAJIAN

2.1. Profil Rumah Sakit Jiwa Tampan Provinsi Riau dan Ruangan MPKP Rokan
2.1.1. Profil singkat Rumah Sakit Jiwa Tampan Provinsi Riau
Rumah Sakit Jiwa Tampan Provinsi Riau dibangun pada tahun 1980 beroperasi tanggal
5 Juli 1984, diresmikan pada tanggal 21 Maret1987 oleh Bapak Menteri Kesehatan RI (Bapak
dr. Soewardjonoo Soerjaningrat). Sejak tahun 2009 Rumah Sakit Jiwa Tampan ditetapkan
sebagai Rumah Sakit Jiwa Tampan Daerah Kelas A dibawah Pemerintahan Provinsi Riau.
Kemudian berdasarkan Peraturan Daerah No. 18 Tahun 2008 tanggal 5 Desember 2008
disusun kembali struktur organisasinya.
Rumah Sakit Jiwa Tampan saat ini mempunyai struktur yang dipimpin oleh seorang
Direktur Utama, dua direktur yaitu Direktur Umum dan Keuangan yang dibawahi tiga bagian
dengan enam sub bagian, Direktur Medik dan Keperawatan yang membawahi tiga bidang
dengan enam seksi masing-masing bidang.
1. Visi Rumah Sakit Jiwa Tampan Provinsi Riau
“Pusat rujukan regional terbaik pelayanan kesehatan jiwa, rehabilitas, pendidikan
dan riset yang professional berbasis masyarakat”
2. Misi Rumah Sakit Jiwa Tampan Provinsi Riau
a. Mengembangkan pelayanan kesehatan jiwa dan NAPZA secara holistik dan berbasis
masyarakat.
b. Mengembangkan pelayanan kesehatan seara komprehensif yang menunjang
pelayanan kesehatan
c. Mengembangkan pendidikan, pelatihan, dan penelitian yang berkualitas dalam bidang
kesehatan
d. Mewujudkan system manajemen yang efektif, efisien, transparan dan akuntabel
3. Moto Rumah Sakit Jiwa Tampan Provinsi Riau
A : Aktif dan kreatif dalam bekerja
S : Sabar dan arif dalam bekerja
A : Aman dalam bertindak untuk memberikan kepuasan klien
4. Sarana dan Prasarana
Rumah Sakit Jiwa Tampan Provinsi Riau memiliki pos security, aula/pendaftaran,
poliklinik, laboratorium, rougend, UGD, ruang rawat inap, ruang rehabilitasi, gudang,

4
5

dapur gizi, laundry, ruang kamar mayat, perkantoran Shaleh Hasyim, genset, incinerator,
panel utama, IPAL, ruang NAPZA, kantin, mushala, asrama, dan rumah dinas.
5. Sumber Daya Manusia
Rumah Sakit Jiwa Tampan provinsi Riau mempunyai SDM tahun 2012 sebanyak 205
orang PNS dan 35 orang tenaga honorer.

2.1.2. Profil Ruangan MPKP Rokan


1. Fasilitas Ruangan
Ruangan Rokan terdiri dari 21 tempat tidur dan masing-masing ruangan terdapat kamar
mandi, dengan rincian sebagai berikut:
a. Kelas 1 : 3 tempat tidur dilengkapi dengan kasur, seprai, dan satu kamar mandi
b. Kelas 2 : 6 tempat tidur (dibagi menjadi dua ruangan) dilengkapi dengan kasur,
bantal, dan seprai, dan 2 kamar mandi (dibagi menjadi dua ruangan)
c. Kelas 3 : 12 tempat tidur (dibagi menjadi dua ruangan) dilengkapi dengan
kasur, seprai, dan 4 kamar mandi (dibagi menjadi dua ruangan).

Fasilitas lain yang terdapat di ruang Rokan antara lain:


Tabel 2.1
Daftar logistik ruang Rokan

No Nama Jumlah
1 Ruang kepala ruangan 1
2 Ruang perawat 1
3 Kamar mandi 9
4 Tempat sampah 2
5 Safety box 1
6 Meja 6
7 Kursi 15
8 Kursi panjang 1
9 Computer 1
10 CCTV 8
11 Kipas angina 4
12 AC 1
13 Suction 1
14 Lemari 5
15 Loker 1
16 Tempat air 2
17 Wastafel 1
18 Rak dokumen 4
19 APAR 1
20 Jam dinding 2
6

21 Gayung 10
22 Baju pasien 25
23 Bantal 2
24 Seprei 2
25 Kasur 25
26 Handuk 8
27 Tempat tidur pasien 20
28 Restrain 4
29 Monitor CCTV 1
30 Lampu emergency 1
31 Timbangan BB 1
32 Hand rub 2

2. Falsafah, Visi, dan Misi Ruangan MPKP Rokan


a. Falsafah
1) Pasien adalah manusia seutuhnya memiliki kebutuhan Bio, Psiko, Sosio, Spiritual
yang harus selalu di pertimbangkan dalam setiap pemberian asuhan keperawatan.
2) Menghargai pasien dan haknya untuk mendapatkan asuhan keperawatan yang
bermutu dengan memperhatikan harkat dan martabat serta tidak membedakan
suku, agama, ras, bangsa, dan status sosial.
b. Visi
“Menjadikan ruang perawatan jiwa dan fisik sesuai standar”.
c. Misi
1) Memberikan pelayanan secara holistik sesuai dengan standar asuhan
keperawatan.
2) Meningkatkan kompetensi tenaga keperawatan melalui pendidikan berkelanjutan.
3) Meningkatkan sarana ruangan yang sesuai dengan standar.
4) Menciptakan lingkungan kerja yang harmonis dan kerja sama tim yang solid.
3. Sumber Daya Manusia
Jumlah tenaga yang ada di ruangan MPKP Rokan yaitu:
a. Dokter spesialis jiwa : 3 orang
b. Dokter umum : 1 orang
c. Tenaga keperawatan
1) D III keperawatan : 7 orang
2) S 1 keperawatan : 8 orang
d. Tenaga lainnya
1) D III kebidanan :-
7

2) S 1 kesehatan masyarakat :-
3) Cleaning service : 1 orang

4. Struktur Organisasi Ruangan Model Praktik Keperawatan Profesional (MPKP)


Rokan
Skema 2.1
Struktur organisasi

Kepala Ruangan
Ns. Triswan Simatupang, S. Kep

Ketua Tim
Ns. Tio Marlina, S. Kep

Perawat Assosiate Perawat Assosiate

1. Almulyani, AMK 1. Martaidi, AMK


2. Hadi Sanjaya, AMK 2. Reza Cahyati, AMK
3. Abdul Khoir, AMK 3. Ns. Darmi Noviyanti, S. Kep
4. Ns. Mukhtaruddin, S. Kep 4. Ns. Peni Nauli, S. Kep
5. Ns. Bakti, S. Kep 5. Dwi Septiani. P, S. Kep
6. Sugiarto, AMK 6. Ns. Adelina Suryani, S. Kep
7. Ramadani, Amd. Kep

5. Denah Ruangan Rokan


Skema 2.2
Denah Ruangan Rokan
8

Keterangan:
: Tempat tidur
: WC
: Ruang Rawat
: Ruang perawat dan Karu
: Meja Perawat
: Kursi pengunjung

2.2 Hasil Pelaksanaan Pilar MPKP di Ruang Rokan


2.2.1. Hasil Wawancara
1. Wawancara dengan Kepala Ruangan
a. Jumlah tenaga kesehatan di ruangan MPKP Rokan terdiri dari 3 Dokter Spesialis
Jiwa, 1 Dokter Umum dan 15 orang Perawat yang terdiri hanya 1 Tim karena
dengan pertimbangan Ruangan Rokan memiliki sedikit pasien.
b. Ruang MPKP Rokan memiliki kapasitas tempat tidur sebanyak 21 tempat tidur yang
terbagi dalam 7 ruangan.
c. Manajemen keperawatan yang dilaksanakan yang dilaksanakan di Ruangan Rokan
meliputi perencanaan, pengorganisasian, pengarahan dan pengendalian.
1) Perencanaan
Asuhan keperawatan sudah dilaksanakan sesuai dengan falsafah, Visi, Misi dan
tujuan yang telah ditetapkan sudah memiliki SK.
2) Pengorganisasian
Pembagian tugas sudah sesuai dengan tanggung jawab masing-masing anggota.
Namun, dalam segi pendelegasian tugas masih sering tidak jelas dan tidak
formal, sehingga memungkinkan memicu kesalahpahaman antara sesama rekan
kerja.
3) Pengarahan
Kepala Ruangan mengatakan sudah memberikan pengarahan kepada Ketua Tim,
dan juga Ketua Tim sudah memberikan pengarahan kepada Perawat Asosiet.
Dalam pelaksanaannya ada sebagian perawat kadangkala tidak mengindahkan
arahan dari atasan seperti, tidak hadir dalam jam dinas. Selain itu dalam segi
pendokumentasian asuhan keperawatan masih ada yang kosong.
9

4) Pengendalian
Kepala ruangan mengatakan belum maksimalnya evaluasi kegiatan yang
berlangsung di ruang Rokan, sehingga masih sulit untuk proses pengendalian.
d. Overan sudah dilaksanakan sesuai jam dan masalah keperawatan yang timbul pada
shift tersebut. Dengan dihadiri oleh Kepala Ruangan, Ketua Tim dan Perawat
Asosiet.
e. Pre dan post conference
Sudah di arakan namun belum terlaksana dengan baik. Karena pre dan post
conference terkadang belum optimal dilaksanakan oleh katim dan tim perawat.
f. Kepala ruangan mengatakan untuk Perawat baru di ruangan Rokan dilakukan
orientasi dengan ditugaskan untuk dinas pagi selama satu bulan untuk lebih
mengenal pasien dan tugas perawat di ruangan Rokan.
g. Pemberian reward pada perawat diberikan secara lisan berupa pujian dan
memberikan kebebasan pada anggota untuk melanjutkan pendidikan ke tahap yang
lebih tinggi melalaui pengembangan karir.
h. Pengawasan dan pengendalian terhadap pemberian asuhan keperawatan
dilaksanakan dengan metode observasi dan sudah direkap perbulan serta sudah
dilaporkan ke pihak lain.
i. Penilaian mutu dilakukan sesuai dengan indicator yang telah di tetapkan yang dilihat
dari angka BOR, ALOS, TOI, REAMISSION, angka lari dan fiksasi (Restrain),
kasus cedera, angka kejadian scabies, Masalah keperawatan (Halusinasi, RPK,
ISOS, DPD, HDR, Waham dan RPK) dan angka kejadian bunuh dri.
j. Kepala ruangan dalam melakukan Pendelegasian tugas kepada ketua tim dilakukan
secara lisan untuk pendelegasian secara tulisan belum dilakukan secara optimal
karena tekaid pendelegasian secara bukti tertulis kadang-kadang dilakukan kadang
tidak.
k. Kepala ruangan menyatakan untuk Supervise dilakukan tanpa kontrak terlebih
dahulu. Penilaian dilakukan dengan obsevasi langsung perawat pelaksana. Dan
diberikan peringatan dan pengarahan jika tidak sesuai standar MPKP.
l. Kepala ruangan menyatakan bahwa tidak ada mengevaluasi Katim dan perawat
pelaksana terkait tingkat kepuasan pasien dan keluarga.
10

2. Wawancara dengan Ketua Tim


Wawancara yang telah dilakukan kepada pada ibu Ns. Tio Marlina, S.Kep selaku
ketua Tim di ruangan Rokan. Hasil dari wawancara ketua tim didapatkan bahwa metode
MPKP yang dilaksanakan sekarang secara keseluruhan adalah sebagai berikut:
a. Ketua tim mengatakan ruang Rokan merupakan ruangan dengan spesialis jiwa dan
fisik, namun secara keseluruhan dalam pelaksanaannya belum optimal dikarenakan
belum tersedianya alat-alat medik dan harus dilakukan bon terlebih dahulu.
b. Ketua tim mengatakan dalam pelaksanaan kegiatan seperti pre dan post conference
secara lisan masih belum optimal, namun dalam segi pendokumentasian sudah baik.
Sedangkan untuk ronde keperawatan belum pernah dilakukan dalam kurun waktu 6
bulan mengingat ruang Rokan merupakan ruang baru.
c. Ketua tim mengatakan sarana untuk pasien belum memadai seperti alat untuk shalat
dan televisi, sehingga sarana hiburan untuk pasien tidak ada.
d. Ketua tim mengatakan belum ada dilakukan TAK yang rutin dan makan bersama
antar pasien tidak dilakukan, hal ini dikarekan tidak tersedianya karpet atau kursi
yang cukup sehingga pasien makan di dalam kamar masing-masing. Sehingga
hubungan atau komunikasi antar pasien kurang terjalin.
e. Ketua tim mengatakan untuk pembagian tugas para perawat pelaksana dalam segi
pendokumentasian selama 6 bulan ini belum ada rolling. Rolling dilakukan hanya
jika ada alasan-alasan khusus atau permintaan.
f. Ketua tim mengatakan untuk rencana harian sudah dilakukan, namun untuk renana
bulanan seperti melakukan TAK rutin, dan tahunan belum maksimal.
g. Ketua tim mengatakan untuk kepuasan pasien dan keluarga hanya dilakukan secara
lisan dan itu tidak pada keseluruhan pasien yang pulang, sehingga evaluasi untuk
pelayanan di ruang Rokan belum sepenuhnya optimal.
h. Ketua tim mengatakan belum optimalnya visite dokter ke ruangan karena
keterbatasan dokter. Selain itu, dalam berkomunikas antar ruangan, ruang Rokan
menggunakan alat komunikasi khusus yang disediakan bersama pegawai ruangan
dan bukan dari ihak rumah sakit jiwa.
3. Wawancara dengan Pasien Asosiete
Wawancara yang telah dilakukan kepada pada ibu Ns. Darmi Noviyanti, S.Kep selaku
perawat pelaksana di ruangan Rokan. Hasil dari wawancara salah satu perawat pelaksana
didapatkan bahwa metode MPKP yang dilaksanakan sekarang secara keseluruhan adalah
sebagai berikut
11

a. Perawat pelaksana mengatakan dalam pendokumentasian terutama pengisian data


SOAP belum maksimal.
b. Perawat pelaksana mengatakan dalam pendokumentasian masih sering kosong,
sehingga perawat lain mengingatkan perawat yang tidak melakukan dokumentasi
untuk melengkapi.
c. Perawat pelaksana mengatakan pernah mendiskusikan masalah pasien secara
bersama-sama dengan perawat lain dan dokter, namun tidak didokumentasikan dalam
buku.
d. Perawat pelaksana mengatakan kelemahan ruang Rokan adalah untuk pasien-pasien
yang melakukan pembayaran secara umum tidak dapat dipulangkan ketika sudah
kembali normal, sehingga menyebabkan kelebihan kuota ketika ada pasien baru yang
masuk.
e. Perawat pelaksana mengatakan pembagian pasien didasarkan pada jenis pembayaran
baik umum maupun menggunakan BPJS.
f. Perawat pelaksana mengatakan pembagian tugas yang disampaikan oleh katim sudah
jelas.
g. Perawat pelaksana mengatakan jika ada pasien dengan keluhan fisik maka akan
dirawat di ruangan yang berbeda dengan pasien lain yaitu di ruang fisik IIB.
h. Perawat pelaksana mengatakan belum ada pengadaan baju patient safety mengingat
ruang Rokan merupakan ruangan baru.

2.2.2. Hasil observasi


Ruangan Rokan Rumah Sakit Jiwa Tampan Provinsi Riau merupakan ruang rawat inap
MPKP terdiri dari 3 kelas yaitu kelas I, II dan III. Kelas I terdiri dari 3 ruangan yang
memiliki masing-masing 1 TT, kelas II terdiri dari 2 ruangan yang memiliki masing-masing 3
TT yang dilengkapi dengan 3 bantal, sedangkan kelas III terdiri dari 2 ruangan yang
memiliki masing-masing 6 TT.
Penataan ruangan Rokan, khususnya meja kerja perawat sangat mendukung untuk
memantau kondisi pasien diruangan. Untuk di ruang tengah terdapat 2 rak untuk menyimpan
file, 2 meja panjang yang digunakan untuk makan. Dan 3 meja yang disusun sebagai nurse
station. Berdasarkan hasil pengkajian yang dilakukan kelompok pada tanggal 2 - 4 Juli 2018,
tercatat sebagai berikut:
Kelas I : 3 Tempat tidur
Kelas II : 6 tempat tidur
12

Kelas III : 12 Tempat tidur

Dari data tersebut, kemudian dihitung jumlah tempat tidur terpakai (bed occupation
rate) periode Februari - Juli 2018, yaitu:

BOR= Jumlah hari perawatan X 100 %


Jumlah TT x jumlah hari persatuan waktu

BOR Senin, 2 Juli 2018 = 92,0 %


BOR Maret = 97,5 %
BOR April = 89,7 %
BOR Mei = 96,4 %
BOR Juni = 98,7 %

Rata-rata BOR= (92 + 97,5 + 89,7 + 96,4 + 98,7)%


5
= 94,86 %
Bor merupakan indicator untuk menggambarkan tinggi rendahnya tingkat pemanfaatan
tempat tidur rumah sakit. Nilai parameter BOR yang ideal menurut Depkes, 2005 adalah 60-
85%. Dari perhitungan BOR diatas, dapat disimpulkan adanya semakin tinggi nila BOR
berarti semakin tinggi pula penggunaan tempat tidur yang ada untuk perawatan pasien.
Namun demikian, semakin sibuk pula dan semakin berat beban kerja petugas di unit ruang
Rokan.
Average Length of Stay (ALOS) adalah rata-rata lama rawat seorang pasien. Indikator ini
memberikan gambaran tingkat efisiensi dan memberikan gambaran mutu pelayanan. Cara
pengukuran ALOS dilakukan dengan rumus:

ALOS = jumlah hari perawatan pasien keluar


Jumlah pasien keluar (hidup + mati)

ALOS Februari = 23 hari


ALOS Maret = 11 hari
ALOS April = 22 hari
ALOS Mei = 24 hari
13

ALOS Juni = 16 hari

Berdasarkan hasil observasi beberapa aspek manajemen yang belum optimal, antara lain:
a. Belum optimalnya pengelolaan metode dalam pelaksanaan standar MPKP di ruangan
Rokan
b. Belum optimalnya pengorganisasian dalam hal penerapan evaluasi tingkat kepuasan
pasien pulang selama dirawat di ruang Rokan
c. Belum optimal patient delivery care dalam hal pendokumentasian SOAP (catatan
perkembangan pasien) di ruang Rokan
d. Belum optimalnya penyediaan prasarana untuk patient safety di ruang jiwa dan fisik
Rokan

2.2.3. Telusur dokumen


1. Perencanaan
Tabel 2.2
Perencanaan
No Dokumen Keterangan Keterangan
Ada Tidak
1. Visi √ -
2. Misi √ -
3. Filosofi √ -
4. Rencana kegiatan harian √ -

3. Pengorganisasian
Tabel 2.3
pengorganisasian

No Dokumen Keterangan Keterangan


Ada Tidak
1. Struktur organisasi √ -
2. Daftar dinas √ -
3. Daftar alokasi pasien √ -

4. Pengarahan
Tabel 2.4
Pengarahan
No Dokumen Keterangan Keterangan
Ada Tidak
1. Overan √ -
2. Motivasi √ -
3. Jadwal supervisi √ -
4. Pre dan post conference √ -
5. Pendelegasian √ Tidak ditemukan bukti
pendelegasian secara formal dan
14

secara tertulis
6. Hasil supervisi √ -
7. Komunikasi efektif √ -

5. Pengendalian
Tabel 2.5
Pengendalian
No Dokumen Keterangan Keterangan
Ada Tidak
1. Indikator mutu √ -
2. Survey kepuasan √ Kuesioner tingkat kepuasan sudah
baku da nada di ruangan, namun
belum di terapkan secara optimal
3. Hasil audit √ -
4. Buku standar askep √ -
5. Hak pasien dan keluarga √ -
6. SOP di ruangan √ Tidak ditemukan secara tertulis SOP
restrain pasien
7 SAK di ruangan √ 1. 4 dari 22 dokumen yang dilihat,
pendokumentasian SOAP tidak
lengkap dan masih banyak yang
kosong.
2. 8 dari 22 penilaian risiko jatuh
edmunsion belum terisi

2.3 Pelakanaan MPKP


2.3.1 Management Approach
1. Perencanaan
a. Visi, Misi, Tujuan, Falsafah, Nilai Budaya ada di ruangan MPKP Rokan
b. Rencana harian, bulanan, tahunan kepala ruangan, ketua tim, dan perawat pelaksana
ada dan selama observasi oleh ners muda, RKH Karu, Katim dan perawat pelaksana
masih ada tidak diperlihatkan saat Pre – Post Conference.
2. Pengorganisasian
a. Uraian tugas karu, katim, dan perawat pelaksana sudah ada di ruangan Rokan.
b. Terdapat struktur organisasi di ruangan MPKP Rokan yang sesuai dengan teori.
c. Penerimaan pasien baru hanya dilakukan katim dan perawat pelaksana.
d. Katim selalu mengalokasikan pasien baru kepada anggota timnya pada saat overan
e. Diruangan terdapat jadwal dinas perawat.
3. Pengarahan
Karu memberikan motivasi dan penghargaan secara lisan kepada perawat seperti reward
berupa pujian pada perawat yang mempunyai dokumentasi terlengkap dan memakai
15

atribut terlengkap dan memberikan peringatan dan pengarahan bagi perawat yang
berkerja tidak sesuai standar MPKP.
4. Pengenalian
a. Pendelegasian tugas sudah dilakukan secara lisan namun secara tulisan belum
optimal.
b. Indikator mutu (pelayanan perhitungan angka BOR, ALOS, TOI, REAMISSION,
angka lari dan fiksasi (Restrain), kasus cedera, angka kejadian scabies, Masalah
keperawatan (Halusinasi, RPK, ISOS, DPD, HDR, Waham dan RPK) dan angka
kejadian bunuh diri) rekapitulasi pasien perbulan sudah ada dilakukan.
c. Pre-post conference sudah berjalan namun belum optimal, yaitu secara dokumentasi
sudah berjalan.
d. Perencanaan mutu dicatat setiap hari, direkap setiap bulan dan dilaporkan ke pihak
lain.
e. Audit dokumentasi keperawatan sudah dilakukan di ruangan.
f. BOR Juni 2018 = 98,7%
g. ALOS Juni 2018 = 16 hari
2.3.2 Compensatory Reward
1. Sudah ada rekapan hasil penilaian kerja katim dan perawat
2. Pengembangan karir dan pelatihan biasanya selalu di dukung oleh kepala ruangan.
2.3.3 Professional Relationship
1. Rapat bulanan di ruangan belum berjalan optimal
2. Jarang dilakukannya konsultasi via telpon antara perawat ke dokter spesialis berdasarkan
SOP karena satu ruangan tidak mempunya SOP konsultasi via telpon, melainkan alat
komunikasi yang dibeli secara iuran oleh pegawai ruangan.
2.3.4 Patient Care Delivery
Berdasarkan hasil hasil dokumentasi audit dokumentasi diruang MPKP Rokan secara
total sampling tanggal 02 juli 2018 didapatkan bahwa dari pemeriksaaan dokumentasi status
yang berjumlah 22 Status pasien (100%):

2.4. Analisa SWOT


2.4.1. Kekuatan (Strength)
1. Ruangan Rokan memiliki kapasitas tempat tidur 21.
2. Bed Occupaying Rate (BOR) pada Juni 2018 98,7 %
16

3. Jumlah perawat ruangan Rokan 15 orang dengan kualifikasi S1 keperawatan 8 orang dan
DIII 7 orang.
4. Kepala Ruangan dengan kualifikasi pendidikan Ners dan sudah memiliki sertifikat
kepemimpinan dan manajemen keperawatan
5. Failitas ruangan sudah memadai
6. Rumah Sakit Jiwa sudah terakreditasi Paripurna
7. Ruangan bersih
2.4.2. Kelemahan (weakness)
1. Fasilitas hiburan dan ibadah untuk pasien tidak lengkap seperti televisi dan alat shalat
2. Masih banyak sistem pendokumentasian SOAP yang kosong
3. Tidak adanya Ronde keperawatan
4. Kurang maksimalnya pre-post conference
5. Fasilitas untuk keperawatan fisik belum memadai dan tersedia ditempat
6. Sistem pendelegasian secara tertulis belum optimal
7. Tidak adanya evaluasi kepuasan pada pasien dan keluarga ketika pasien pulang.
2.4.3. Peluang (oppurtunities)
Ruang Rokan merupakan ruangan baru yang masih berjalan 6 bulan, sehingga
memungkinkan mudahnya diterapkannya kebijakan-kebijakan dan pembaruan bagi ruangan
dan staff yang bekerja di ruangan tersebut.
2.4.4. Ancaman (treats)
Ancaman yang memunginkan terjadi di ruang Rokan jika tidak ada kelengkapan
dokumen, sehinggan bukan menjadi ruang percontohan.

2.5. Analisa masalah


Tabel 2.6
Analisa data
No Data Masalah
keperawatan
1. Fungsi manajemen perencanaan Belum optimalnya
Wawancara: pengelolaan metode
Kepala ruangan dalam pelaksanaan
1) Sudah di arakan namun belum terlaksana dengan baik. Karena pre dan post standar MPKP di
conference terkadang belum optimal dilaksanakan oleh katim dan tim ruangan Rokan
perawat.
2) Kepala ruangan dalam melakukan Pendelegasian tugas kepada ketua tim
dilakukan secara lisan untuk pendelegasian secara tulisan belum dilakukan
secara optimal karena terkait pendelegasian secara bukti tertulis kadang-
kadang dilakukan kadang tidak.
Ketua tim
1) Ketua tim mengatakan dalam pelaksanaan kegiatan seperti pre dan post
17

conference secara lisan masih belum optimal, namun dalam segi


pendokumentasian sudah baik. Sedangkan untuk ronde keperawatan belum
pernah dilakukan dalam kurun waktu 6 bulan mengingat ruang Rokan
merupakan ruang baru.
2) Ketua tim mengatakan untuk kepuasan pasien dan keluarga hanya
dilakukan secara lisan dan itu tidak pada keseluruhan pasien yang pulang,
sehingga evaluasi untuk pelayanan di ruang Rokan belum sepenuhnya
optimal.

Hasil observasi :
1) Tidak adanya buku ronde keperawatan
2) Tidak adanya pendelegasian tertulis yang di buat didalam ruangan

2 Fungsi manajemen pengorganisasian: Belum optimalnya


Wawancara: pengorganisasian
Kepala ruangan : dalam hal penerapan
1) Kepala ruangan menyatakan bahwa tidak ada mengevaluasi Katim dan evaluasi tingkat
perawat pelaksana terkait tingkat kepuasan pasien dan keluarga kepuasan pasien
Ketua Tim: pulang selama dirawat
1) Ketua tim mengatakan untuk kepuasan pasien dan keluarga hanya di ruang Rokan
dilakukan secara lisan dan itu tidak pada keseluruhan pasien yang pulang,
sehingga evaluasi untuk pelayanan di ruang Rokan belum sepenuhnya
optimal

Hasil observasi:
1) Selama pengamatan pasien pulang tidak dilakukan evaluasi tingkat
kepuasan pasien dan keluarga selama di rawat di ruangan Rokan
2) Tidak dilakukan penyebaran kuesioner tingkat kepuasan pasien pulang dan
keluarga selama di rawat di ruang Rokan

Hasil Telusur Dokumentasi:


Kuesioner tingkat kepuasan sudah baku da nada di ruangan, namun belum di
terapkan secara optimal
3 Wawancara: Belum optimal patient
Kepala ruangan : delivery care dalam
1) Kepala ruangan menyatakan bahwa untuk pecatatan pendokumentasian hal pendokumentasian
pasien belum optimal. SOAP (catatan
Hasil observasi: perkembangan pasien)
1) Selama pengamatan pendokumentasian pasien di temukan belum lengkap di ruang Rokan
untuk pencatatan implementasi dan evaluasi perhari, serta pencatatan resiko
jatuh
Hasil Telusur Dokumentasi:
1) Dari hasil telusur dokumentasi di temukan kurang optimal untuk
pencatatan implementasi dan evaluasi perhari, serta pencatatan resiko jatuh
pada pasien.
2) 4 dari 22 dokumen yang dilihat, pendokumentasian SOAP tidak lengkap
dan masih banyak yang kosong.
3) 8 dari 22 penilaian risiko jatuh edmunsion belum terisi
4 Wawancara: Belum optimalnya
Kepala ruangan : penyediaan prasarana
1) Kepala ruangan menyatakan bahwa pegadaan baju patient safety belum ada untuk patient safety di
di ruangan Rokan karena Rokan masih ruangan baru . ruang jiwa dan fisik
Perawat Pelaksana: Rokan
1) Perawat mengatakan bahwa untuk pengadaan baju patient safety belum ada
di ruangan Rokan karena Rokan masih ruangan baru namun untuk di
ruangan lain sudah ada .
Hasil observasi:
1) Selama pengamatan tidak ditemukan baju patient safety belum ada di lemari
pakaian Rokan
18

2) Tidak ditemukan secara tertulis SOP restrain pasien

2.6. Prioritas Masalah


Tabel 2.7
Prioritas masalah
No Masalah Mg Sv Mn Nc Af Skor
1 Belum optimalnya
pengelolaan metode dalam
pelaksanaan standar MPKP
di ruangan Rokan
2 Belum optimalnya
pengorganisasian dalam hal
penerapan evaluasi tingkat
kepuasan pasien pulang
selama dirawat di ruang
Rokan
3 Belum optimal patient
delivery care dalam hal
pendokumentasian SOAP
(catatan perkembangan
pasien) di ruang Rokan
4 Belum optimalnya
penyediaan prasarana untuk
patient safety di ruang jiwa
dan fisik Rokan

Prioritas masalah dilakukan dengan teknik kriteria matriks dengan memperhatikan


aspek- aspek sebagai berikut :
1. Magnitude (Mg ), Yaitu kecenderungan dari seringnya masalah terjadi.
2. Severity (Sv), Yaitu besarnya kerugian yang ditimbulkan
3. Manageability (Mn), Yaitu kemampuan menyelesaikan masalah- masalah
4. Nursing Concern (Nc), Yaitu fokus pada keperawatan
5. Affordability (Af), Yaitu ketersedian sumber daya

Setiap masalah diberikan nilai dengan rentang 1-5 dengan kiteria sebagai berikut:
1. Nilai 1 = Sangat Kurang Sesuai
2. Nilai 2 = Kurang Sesuai
3. Nilai 3 = Cukup Sesuai
4. Nilai 4 = Sesuai
5. Nilai 5 = Sangat Sesuai
19

2.7. Diagnosa keperawatan manajemen


2.7.1 Belum optimalnya pengelolaan metode dalam pelaksanaan standar MPKP di ruangan
Rokan
2.7.2 Belum optimalnya pengorganisasian dalam hal penerapan evaluasi tingkat kepuasan
pasien pulang selama dirawat di ruang Rokan
2.7.3 Belum optimal patient delivery care dalam hal pendokumentasian SOAP (catatan
perkembangan pasien) di ruang Rokan
2.7.4 Belum optimalnya penyediaan prasarana untuk patient safety di ruang jiwa dan fisik
Rokan
5 20

2.8. Plan of Action


Tabel 2.8
Rencana Penyelesaian Masalah POA
No Masalah Tujuan Perencanaan Metode Waktu Penanggung jawab
Strategi Operasional
1 Belum optimalnya Tujuan jangka panjang: Melakukan contoh 1. Melakukan ronde Demonstrasi 12-19 Juli 2018 1. Firman Aidi,
pengelolaan metode Diharapkan ruangan Rokan mengoptimalkan metode MPKP keperawatan bersama S.Kep
dalam pelaksanaan penerapan metode sesuai dengan standar pegawai 2. Putri Mayang
standar MPKP di MPKP 2. Melakukan Sani, S. Kep
ruangan Rokan Tujuan jangka pendek: pengoptimalan pre –
Diharapkan ruangan Rokan dapat menerapkan post conference
metode asuhan keperawatan sesuai dengan
standar MPKP yang dilakukan dengan rutin.
2 Belum optimalnya Tujuan jangka panjang: Mengoptimalkan Menerapkan evaluasi tingkat Demonstrasi 11-27 juli 2018 Ariza Nirmaya, S.
pengorganisasian Diharapkan ruangan dapat menerapkan kembali kuesioner kepuasan pasien dan Kep
dalam hal evaluasi tingat kepuasan pasien selama dirawat tingkat kepuasan keluarga ketika pasien
penerapan evaluasi di ruang Rokan ketika pasien pulang. pasien selama pulang.
tingkat kepuasan dirawat diruang
pasien pulang Tujuan jangka pendek Rokan
selama dirawat di Setelah diadakan pengadaan evaluasi tingkat
ruang Rokan kepuasan pasien, maka bisa diterapkan
diruangan Rokan secara rutin saat pasien
pulang.
3 Belum optimal Tujuan jangka panjang Mengoptimalkan 1. Bekerja sama dengan Observasi 11-25 Juli 2018 1. Rohama
patient delivery Diharapan ruangan dapat mengoptimalkan kembali patient Karu dan Katim dalam Ubaydillah, S.
care dalam hal pendokumentasian asuhan keperawatan secara delivery care memotivasi perawat Kep
pendokumentasian lengkap agar memaksimalkan asuhan dalam sistem pelaksana untuk 2. Ega
SOAP (catatan keperawatan yang komprehensif pendokumentasian melaksanakan Nurfadillah, S.
perkembangan asuhan pencatatan Kep
pasien) di ruang Tujuan jangka pendek keperawatan pendokumentasian
Rokan Setelah dilakukan demostrasi pencatatan dibuku catatan asuhan keperawatan
SOAP kepada perawat ruangan diharapkan perkembangan diruang Rokan
21
6

perawat termotivasi untuk melengkapi 2. Memberikan reward


pendokumentasian asuhan keperawatan. berupa reinforcement
positif dan penghargaan
pada perawat dengan
pendokumentasian
terbaik dan terlengkap

4 Belum optimalnya Tujuan jangka panjang: 1. Menentukan 1. Membuat surat Observasi 17-27 Juli 2018 1. Windy Azhari,
penyediaan Diharapkan ruangan dapat meningkatan patient safety rekomendasi pengadaan S. Kep
prasarana untuk pengadaan alat patient safety secara lengkap 2. Mengajukan baju patient safety 2. Tarmin, S.
patient safety di agar dapat memaksimalkan keamanan pasien surat untuk kepada bidang Kep
baik dari segi fisik maupun jiwa keperluan keperawatan
ruang jiwa dan
patient safety 2. Membuat label patient
fisik Rokan Tujuan jangka pendek: mengingat safety di ruang Rokan
Setelah dilakukan intervensi ruangan dapat ruang Rokan
termotivasi untuk melengkapi alat patient adalah ruang
safety jiwa dan fisik