Anda di halaman 1dari 7

HAND OUT

Mata Pelajaran : Produktif


Tingkat/semester : X/Genap
Standar Kompetensi : Dasar Desain
Kompetensi Dasar : 3.7 Menganalisis warna pada desain
4.7 Membuat pencampuran warna

MENGANALISIS WARNA PADA DESAIN BUSANA

A. Pengertian Warna
Warna merupakan suatu kesan yang ditimbulkan cahaya terhadap mata. Dengan adanya
warna menjadikan suatu benda dapat dilihat. Selain itu, warna juga dapat mengungkapkan
suasana perasaan atau watak benda yang dirancang.
B. Sifat dan Watak Warna
Beberapa sifat dan watak warna yang dapat memberikan pengaruh kepada sipemakai, antara
lain:
1. Warna hitam merupakan lambang kekhidmatan dan kedukaan, memiliki sifat : berat,
gelap, dingin, tua, memberi kesan bentuk tubuh menjadi lebih kecil.
2. Warna putih merupakan lambang kesucian dan kebersihan, memiliki kesan bentuk tubuh
menjadi tambah besar.
3. Warna abu-abu merupakan lambang kerendahan hati dan keenganan.
4. Warna merah melambangkan keberanian, sifat panas, marah, semangat, gairah dan riang.
5. Warna kuning, merupakan kehidupan dan kemuliaan.
6. Warna biru, hijau, merupakan warna yang dingin dan menyejukkan.
C. Pembagian Warna menurut Sifatnya
Warna menurut sifatnya dapat dibagi atas 3 bagian, yaitu :’
a) Sifat panas dan dingin
Sifat panas dan dingin suatu warna sangat dipengaruhi oleh huenya. Hue merupakan
suatu istilah yang dipakai untuk membedakan suatu warna dengan warna yang lainnya,
seperti merah, kuning, biru, dan lainnya. Perbedaan antara merah dan kuning ini adalah
perbedaan huenya. Hue dari suatu warna mempunyai sifat panas dan dingin. Warna-
warna panas adalah warna yang berada pada bagian kiri dalam lingkaran warna, yang
termasuk dalam warna panas ini yaitu warna yang mengandung unsur merah, kuning,
dan jingga. Warna panas ini memberi kesan berarti agresif, menyerang, membangkitkan,
gembira, semangat, dan menonjol. Sedangkan warna yang mengandung unsur hijau, biru,
ungu disebut warna dingin. Warna dingin lebih bersifat tenang, pasif, tenggelam,
melankolis, serta kurang menarik perhatian.
b) Sifat terang dan gelap
Sifat terang dan gelap suatu warna disebut dengan value warna. Value warna ini terdiri
atas beberapa tingkat. Untuk mendapatkan value ke arah yang lebih tua dari warna
aslinya disebut dengan shade, dilakukan dengan penambahan warna hitam. Sedangkan
untuk warna yang lebih muda disebut dengan tint, dilakukan dengan penambahan warna
putih.
c) Sifat terang dan kusam
Sifat terang dan kusam suatu warna dipengaruhi oleh kekuatan warna atau intensitasnya.
Warna-warna yang mempunyai intensitas kuat akan kelihatan lebih terang, sedangkan
warna yang mempunyai intensitas lemah akan terlihat kusam.
D. Pengelompokkan Warna
Ada bermacam – macam teori yang berkembang mengenai warna, diantaranya teori
Oswolk, Mussel, Prang, Buwster dan lain – lain. Dari bermacam – macam teori ini yang
lazim dipergunakan dalam desain busana dan mudah dalam proses pencampurannya adalah
teori Prang, karena kesederhanaannya.

K
K K
O H

O H

M B
O H

M B

M B
U U U
Lingkaran Warna
Prang mengelompokkan warna menjadi 5 bagian, yakni warna primer,sekunder,
interemedier, tertier, dan kuarter.
1. Warna primer
Disebut juga dengan warna dasar atau pokok karena warna ini tidak dapat diperoleh
dengan pecampuran hue lain. Warna primer terdiri dari merah, biru dan kuning.

M B
2. Warna sekunder
Merupakan hasil pecampuran dari dua warna primer. Warna sekunder terdiri dari orange,
hijau dan ungu.
a. Warna orange merupakan hasil pecampuran warna merah dan warna kuning
b. Warna hijau merupakan hasil pencampuran warna kuning dan biru
c. Warna ungu merupakan hasil pencampuran warna merah dan biru

3. Warna intermedier
Warna ini dapat diperoleh dengan dua cara, yaitu dengan mencampurkan warna primer
dengan warna sekunder yang berdekatan dalam lingkaran warna atau dengan cara
mencampurkan dua warna primer dengan perbandingan 1 : 2
Ada 6 macam warna intermedier, yaitu :
a. Kuning hijau (KH)
Hasil pencampuran kuning ditambah hijau atau dua bagian kuning ditambah satu
bagian biru (K+K+B)
b. Biru hijau (BH)
Hasil pencampuran biru ditambah hijau atau dua bagian biru ditambah satu bagian
kuning (B+B+K)

c. Biru ungu (BU)


Hasil pencampuran biru ditambah ungu atau dua bagian biru ditambah satu bagian
merah (B+B+M)

d. Merah ungu (MU)


Hasil pencampuran merah dan ungu atau pecampuran dua bagian merah dan satu
bagian biru (M+M+B)

e. Merah orange (MO)


Hasil pencampuran merah dengan orange atau pencampuran dua bagian merah dan
satu bagian kuning (M+M+K)

f. Kuning orange (KO)


Hasil pencampuran kuning dengan orange atau pencampuran dua bagian kuning dan
satu bagian merah (K+K+M)

4. Warna tertier
Adalah warna yang terjadi apabila dua warna sekunder dicampur. Warna tertier ada tiga,
yaitu tertier biru, tertier merah, dan tertier kuning.
a. Tertier biru adalah hasil pencampuran ungu dengan hijau
b. Tertier merah adalah hasil pencampuran orange dengan ungu
c. Tertier kuning adalah hasil pencampuran hijau dengan orange
5. Warna kwarter
Adalah warna yang dihasilkan oleh pencampuran dua warna tertier. Warna tertier ada
tiga, yaitu kwarter hijau, kwarter orange, dan kwarter ungu.
a. Kwarter hijau hasil pencampuran tertier biru dengan tertier kuning
b. Kwarter orange hasil pencampuran tertier merah dengan tertier kuning
c. Kwarter ungu hasil pencampuran tertier merah dengan tertier biru
E. Kombinasi Warna
Jenis – jenis kombinasi warna dapat dikelompokkan atas :
1. Kombinasi monokromatis
Yaitu kombinasi warna dengan value yang berbeda. Contohnya merah muda dengan
merah, hijau muda dengan hijau tua dll

2. Kombinasi analogus
Yaitu kombinasi warna yang berdekatan letaknya dalam lingkaran warna. Contohnya
merah dengan merah keorenan, hijau dengan biru kehijauan dll

3. Kombinasi komplementer
Yaitu kombinasi warna yang bertentangan letaknya dalam lingkaran warna. Contohnya
merah dengan hijau, biru dengan orange dan kuning dengan ungu.
4. Kombinasi split komplementer
Yaitu pada semua titik kombinasi warna yang terletak yang membentuk huruf Y pada
lingkaran warna. Contohnya kuning dengan merah keunguan dan biru keunguan, biru
dengan merah keorenan dan kuning keorenan.
5. Kombinasi double komplementer
Yaitu kombinasi sepasang warna yang berdampingan dengan sepasang
komplementernya. Contohnya kuning orange dan biru ungu.
6. Kombinasi segitiga
Yaitu kombinasi warna yang membentuk segitiga dalam lingkaran warna. Contohnya
merah, kuning dan biru, orange, hijau dan ungu.
F. Pemilihan Warna Bahan
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pemilihan warna busana yang tepat yaitu:
1. Busana dengan menggunakan bahan satu warna membuat si pemakai terlihat lebih tinggi,
terutama dengan desain maxi dan celana panjang.
2. Umumnya warna-warna gelap akan membuat si pemakai terlihat lebih kurus dari pada
warna-warna terang dan warna yang menyolok. Warna gelap akan menyerap penglihatan,
warna terang dan menyolok akan memantulkan. Seorang wanita akan menutupi
kekurangannya dengan memakai celana dan jas dengan warna gelap.
3. Bahan berwarna terang akan memberi pengaruh pada bagian muka, yaitu bagian muka
bertambah cerah. Bila bahan terang dikombinasikan dengan bahan berwarna gelap akan
menjadi lebih cerah, misalnya penggunaan kerah putih pada busana yang berwarna gelap.
Warna kerah putih ini akan memberikan pengaruh pada bagian muka si pemakai, sehingga
terlihat lebih cerah.
4. Pilihan warna yang sedang populer pada waktu itu. Dengan adanya warna bahan yang
sedang populer dapat membuat si pemakai lupa untuk mengontrol keadaan dirinya. Tapi
cobalah tentukan warna yang benar-benar berkenan dihati, jadi jangan hanya karena
berpatokan dengan warna yang sedang trend atau pengaruh lingkungan dimana Anda
berada. Ketentuan itu ditekankan karena bila pilihan disesuaikan dengan kata hati, maka
dalam mengenakannyapun Anda lebih mempunyai percaya diri, dan keberadaan seperti itu
sudah menambah nilai tambah pada penampilan Anda. Penggunaan bahan dengan warna
yang menyolok kurang tepat untuk orang yang sudah berumur dan orang yang berbentuk
tubuh besar. Kalaulah ingin tetap menggunakan warna tersebut, pakailah pada bagian bagian
kecil dari busana sebagai pemanis, seperti pada bagian kerah, vest saku, manset,lengan
5. Pengaruh iklim dan lingkungan dalam penggunaan warna. Orang yang tinggal di daerah
panas, biasanya mempunyai kulit berwarna agak gelap, lebih sesuai memakai warna-warna
yang cerah dan terang.
6. Pemilihan warna bahan sesuai dengan umur dan pribadi pemakai. Remaja yang penuh
semangat dan bergairah sesuai dengan jiwa mudanya akan memilih warna bahan yang
terang dan menyolok. Orang dewasa dan berumur/lanjut usia, memerlukan banyak
ketenangan, kebanyakan warna bahan yang dipilih adalah warna yang tenang dan gelap

Lima hal yang disarankan dalam memilih warna bahan:


1. Pilihlah warna yang sedang digemari, apa warna yang sedang digemari bisa kita lihat, jika
warna itu sering muncul di majalah, TV, film, pusat pertokoan, toko-toko busana ataupun
pada peragaan-peragaan busana.
2. Sesuaikan warna busana dengan tujuan dan kesempatan pemakaian.
Misalnya:
Untuk belanja siang hari hindarilah warna yang menyolok.
a. Untuk busana tidur pilihlah warna yang lembut.
b. Busana pesta malam sebaiknya berwarna menyolok, cerah ataupun gelap.
c. Suasana ke tempat duka sebaiknya pilih warna gelap.
d. Sesuaikan warna busana dengan bentuk tubuh.
e. Orang yang tinggi kurus hindarilah busana yang berwarna gelap dan menyolok.
f. Orang yang gemuk hindarilah busana yang berwarna muda atau putih.
3. Sesuaikan warna busana dengan warna kulit dan rambut.
4. Orang yang warna kulitnya gelap hindarilah warna putih, karena akan kelihatan lebih gelap.
5. Orang yang berwarna kulit terang/kuning langsat akan kelihatan pucat kalau menggunakan
busana berwarna kuning.
6. Sesuaikan warna busana dengan umur dan kepribadian (karakter), orang yang berumur
lanjut sesuai dengan umurnya, sebaiknya memilih warna-warna yang memberikan kesan
tenang (bukan warna-warna kontras).
7. Remaja dan anak umumnya sesuai dengan semangat dan gairahnya mereka
akan memilih busana berwarna cerah atau menyolok