Anda di halaman 1dari 9

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Krim Tabir surya

Krim tabir surya adalah sediaan setengah padat berupa emulsi yang berfungsi

untuk melindungi kulit dari pengaruh sinar UV-A dan UV-B yang dipancarkan oleh

matahari (Damogalad, dkk, 2013). Berdasarkan kandungannya, tabir surya

dibedakan menjadi sunblock dan sunscreen. Sunblock merupakan jenis tabir surya

yang bersifat memantulkan sinar UV. Kandungan dari sunblock biasanya titanium

dioksida (TiO2) dan zink oksida (ZnO), sedangkan, sunscreen adalah jenis tabir

surya yang bersifat menyerap sinar UV.

Syarat-syarat yang diperlukan dalam tabir surya adalah (Wilkinson dan

Moore, 1982):

1. Mempunyai nilai SPF yang tinggi sehingga dapat lebih lama menjaga

kulit dari sengatan sinar matahari.

2. Tidak berbau dan memiliki daya lengket yang baik.

3. Tidak menyebabkan toksik, tidak iritan, dan tidak menimbulkan sensitisasi.

4. Memiliki daya proteksi terhadap matahari selama beberapa jam.

5. Stabil dalam penggunaan.

6. Tidak memberikan noda pada pakaian.

2.2 Sun Protection Factor (SPF)

Salah satu parameter tabir surya yang baik adalah memiliki nilai SPF yang

tinggi, sehingga mampu melindungi kulit dalam jangka waktu cukup panjang

(Caswell, 2001). Nilai SPF menunjukkan tingkat lamanya tabir surya bisa

melindungi kulit dari radiasi sinar matahari (UV) atau berapa lama bisa berada di

bawah sinar matahari tanpa membuat kulit terbakar (sunburn). Semakin tinggi

6
2

nilai SPF, semakin besar perlindungan terhadap kulit. Kulit yang terpapar

sinar matahari tanpa dilindungi tabir surya akan menghitam setelah 10

menit. Krim dengan nilai SPF 2 artinya memiliki waktu 2x10 menit = 20

menit, bagi konsumen terlindung dari radiasi sinar matahari (Allen, 2010).

Secara umum metode pengukuran SPF secara in vitro dapat dibagi

menjadi dua. Metode pertama yaitu dengan mengukur serapan atau transmisi

radiasi UV melalui lapisan produk tabir surya pada plat kuarsa atau biomembran.

Metode yang kedua adalah dengan menentukan karakteristik serapan tabir surya

menggunakan analisis spektrofotometri (Caswell, 2001). Menurut Food and Drug

Administration Amerika Serikat (FDA) mengelompokkan keefektifan sediaan krim

tabir surya dalam memberikan proteksi terhadap kulit (Tabel 2.1).

Tabel 2.1
Keefektifan Sediaan Tabir Surya Berdasarkan Nilai SPF
SPF Kategori Proteksi Tabir surya
2-4 Proteksi minimal
4-6 Proteksi sedang
6-8 Proteksi ekstra
8-15 Proteksi maksimal
≥15 Proteksi ultra
Sumber: FDA, 2017

Cara perhitungan nilai SPF secara matematis menurut Mansur adalah:

SPFspectrophotometric = CF x Ʃ EE x I x Abs(λ)

= 10 x Abs(λ)

Keterangan:

CF = Correction Factor merupakan faktor koreksi yang sudah mempunyai

nilai tetap yaitu 10

EE = Erythemal Effect spectrum menyatakan spektrum efek eritemal


3

I = Solar intensity spectrum adalah intensitas spektrum sinar

Abs = Absorbansi merupakan nilai serapan produk tabir surya

Nilai EExI merupakan nilai konstan yang sudah ditetapkan dan dapat dilihat pada Tabel

2.2.

Tabel 2.2
Nilai EE x I

Panjang gelombang (λ EE x I
nm)
290 0,0150
295 0,0817
300 0,2870
305 0,3278
310 0,1864
315 0,0839
320 0,0180
Total 1
Sumber: Kale dkk, 2011

2.3 Transmitansi dan Pigmentasi

Perhitungan persen transmisi eritema dan persen pigmentasi

mengikuti prosedur yang dikembangkan oleh Balsam dan Sagarin, 1972.

Larutan uji diamati spektrum serapannya pada panjang gelombang 290-

375 nm dengan interval 5 nm. Berdasarkan nilai serapan yang diperoleh

dihitung nilai persen transmitannya dengan rumus:

T= 10-A

Keterangan:
A = Absorbansi; T = Transmitansi
Nilai transmisi eritema dihitung dengan cara mengalikan nilai transmisi (T)

dengan faktor efektivitas eritema (Fe) pada panjang gelombang 292,5-337,5 nm.
4

Menurut Balsam dan Sagarin (1972) nilai persen transmisi eritema

dihitung dengan rumus:

%Te =

Keterangan:
Te: transmisi eritema; T: nilai transmitansi; Fe: nilai fluks eritema
Nilai transmisi pigmentasi dihitung dengan cara mengalikan nilai transmisi

(T) dengan faktor efektivitas pigmentasi (F p) pada panjang gelombang

332,5-372,5 nm. Menurut Balsam dan Sagarin (1972) nilai persen

transmisi pigmentasi dihitung dengan rumus:

%Tp =

Keterangan:
Tp : transmisi pigmentasi; T: nilai transmitansi; F p: nilai fluks
pigmentasi. Nilai Fluks Eritema (Fe) dan Fluks Pigmentasi (Fp)
dapat dilihat pada Tabel 2.3.

Tabel 2.3
Transmisi Eritema dan Pigmentasi Sediaan Tabir Surya
Panjang gelombang (nm) Fluks Eritema
290-295 0,1105
295-300 0,6720
300-305 1,0000
305-310 0,2008
310-315 0,1364
315-320 0,1125
Total fluks eritema 2,2322
Sumber: Kale dkk, 2011

Panjang gelombang (nm) Fluks pigmentasi


320-325 0,1079
325-330 0,1020
330-335 0,0936
335-340 0,0798
340-345 0,0669
5

345-350 0,0570
350-355 0,0488
355-360 0,0456
360-365 0,0356
365-370 0,0310
370-375 0,0260
Total fluks eritema 0,6942
Sumber: Kale dkk, 2011

Kategori penilaian tabir surya berdasarkan nilai %Te dan %Tp dapat dilihat

pada Tabel 2.4.


Tabel 2.4

Kategori Penilaian Tabir Surya

%Te Kategori penilaian tabir surya


<1 Total block
1-6 Proteksi ekstra
6-12 Suntan
10-18 Fast tanning
Sumber: FDA, 2017
Tabel 2.4

Kategori Penilaian Tabir Surya

%Tp Kategori penilaian tabir surya


3-40 Total block
42-86 Proteksi ekstra
45-86 Suntan
45-86 Fast tanning
Sumber: FDA, 2017

2.4 Sinar UV-A dan UV-B

Ultraviolet (UV) merupakan suatu radiasi elektromagnetik yang mempunyai

panjang gelombang lebih pendek daripada sinar violet yang berkisar dari 200-400

nm. Spektrum dari sinar UV dapat dibedakan menjadi tiga, yaitu: UV-A (320-400 nm),

UV-B (280-320 nm), dan UV-C (200-280 nm). Sebagian besar dari sinar UV yang

mencapai bumi adalah UV-A (90-99%) dan UV-B (1-10%), sedangkan UV-
6

C diabsopsi oleh lapisan ozon (Nesseem, 2011). UV-B dapat menyebabkan

luka bakar (sunburn) dan kanker kulit, sedangkan UV-A dapat menyebabkan

kulit hitam (tanning) dan fotosensitivitas. Keduanya juga sama-sama dapat

menyebabkan kanker kulit, walaupun sebenarnya UV-B lebih karsinogenik

1000-10000 kali dibandingkan UV-A (Mishra dan Chattopadhyay, 2011).

Efek toksik radiasi UV yang terdapat di sinar matahari maupun lampu

UV merupakan masalah kesehatan yang serius. Efek akut utama yang

terjadi oleh radiasi UV pada kulit manusia yang normal dapat berupa

inflamasi (eriterma), tanning, dan imunosupresi lokal ataupun sistemik,

sedangkan efek kronik dari radiasi UV dapat menyebabkan penuaan,

imunosupresi, dan fotokarsinogenesis (Fonseca dan Rafaela, 2013).

2.5 Bit merah (Beta vulgaris L.)

Bit merah (Beta vulgaris L.) merupakan salah satu jenis umbi-umbian yang

banyak dijumpai di Indonesia. Bit merah memiliki akar yang menggembung

seperti umbi-umbian lainnya. Batang dari bit merah sangat pendek sehingga

hampir tidak kelihatan. Bagian dari tanaman yang dapat dimakan adalah bagian

umbinya. Umbi bit merah (Gambar 2.1) biasanya digunakan sebagai acar, salad,

jus, ataupun dimakan langsung. Berikut adalah taksonomi bit merah.

Kingdom : Plantae

Sub kingdom : Tracheobionta

Super divisi : Spermatophyta

Divisi : Magnoliophyta

Kelas : Magnoliopsida
7

Sub Kelas : Caryophyllidae

Ordo : Caryophyllales

Familia : Chenopodiaceae

Genus : Beta L.

Species : Beta vulgaris L.

Nama Umum : Common Beet

Gambar 2.1
Umbi bit merah (Beta vulgaris L.)

Warna merah yang terdapat pada buah bit disebabkan oleh adanya

senyawa betalain. Senyawa betalain dibagi menjadi dua jenis, yaitu pigmen

betasianin yang berwarna merah keunguan serta pigmen betasantin yang

berwarna oranye hingga kuning. Menurut beberapa penelitian bit merah

merupakan umbi yang kaya akan antioksidan. Bit merah selama ini dimanfaatkan

sebagai bahan pangan dan sebagai pewarna merah alami (Setiawan dkk, 2015).

Hasil uji fitokimia dari ekstrak etanol umbi bit merah disajikan pada Tabel 2.5.

Tabel 2.5
Hasil Uji Fitokimia Ekstrak Etanol Umbi Bit Merah
No Pemeriksaan Kesimpulan
1 Fenolik ++
2 Alkaloid +
3 Flavonoid ++
4 Saponin ++
8

5 Tanin +
6 Sterol ++
7 Triterpen ++
Sumber: Widiwati dan Prasetyo, 2013

Keterangan:
( positif/mengandung senyawa yang diuji dengan intensitas
warna kurang pekat
(++)positif/mengandung senyawa yang diuji dengan intensitas
warna sedang

2.6 Antioksidan

Salah satu faktor yang dapat menyebabkan kerusakan pada kulit adalah

radikal bebas yang dihasilkan karena terpapar sinar ultra violet. Jika kulit

terkena sinar UV berlebih dapat menimbulkan beberapa masalah seperti kulit

kemerahan, pigmentasi, bahkan dalam waktu lama menyebabkan resiko

kanker. Radikal bebas adalah molekul yang mengandung satu elektron tidak

berpasangan pada orbit terluarnya. Adanya elektron yang tidak berpasangan

pada radikal bebas menyebabkan sangat reaktif.

Cara untuk melindungi kulit dari sinar UV adalah dengan memanfaatkan

antioksidan. Antioksidan berfungsi untuk menstabilkan radikal bebas dengan

melengkapi kekurangan elektron dari radikal bebas sehingga menghambat

terjadinya reaksi berantai. Antioksidan mampu bertindak sebagai penyumbang

radikal hidrogen atau dapat bertindak sebagai akseptor radikal bebas sehingga

dapat menunda tahap inisiasi pembentukan radikal bebas (Soto, dkk, 2015).

Antioksidan bekerja dengan melindungi lipid dari proses peroksidasi oleh radikal

bebas. Ketika radikal bebas mendapat elektron dari antioksidan, maka radikal bebas

tersebut tidak lagi perlu menyerang sel dan reaksi rantai oksidasi akan terputus.
9

Antioksidan memiliki fungsi utama dalam menangkap radikal bebas.

Radikal bebas dapat menyebabkan oksidasi asam nukleat, protein, lipid,

DNA, dan dapat menginisiasi penyakit degenerative (Liobera, 2012).

Berdasarkan sumbernya, antioksidan dibedakan menjadi antioksidan

sintetik dan antioksidan alami. Antioksidan sintetik merupakan antioksidan

yang diperoleh dari hasil sintesis reaksi kimia, sedangkan antioksidan alami

adalah antioksidan yang diperoleh dari hasil ekstraksi bahan alami . Senyawa

antioksidan alami tumbuhan biasanya adalah senyawa fenolik atau

polifenolik yang dapat berupa golongan flavonoid, turunan asam sinamat,

kumarin, tokoferol dan asam-asam organik polifungsional (Liobera, 2012).