Anda di halaman 1dari 42

Pengertian Pengadaan

 A. Pengertian Pengadaan
Menurut gunawan, (1996:135) mengatakan bahwa pengadaan sarana dan prasarana adalah
segala kegiatan untuk menyediakan semua keperluan barang, benda dan jasa bagi keperluan
pelaksanaan tugas.
Sedangkan menurut daryanto, (2001:51) bahwa prasarana berdasarkan etimologi berarti alat
tidak langsung untuk mencapai tujuan pendidikan.
Menurut Nawawi, (1993:63) mengatakan bahwa usaha pengadaan sarana prasarana yang
dibutuhkan sehingga dapat digunakan secara tepat, memerlukan dan mengembangkan sejumlah dana,
komunikasi yang cepat dan tepat dalan kebutuhan peralatan dapat memungkinkan disusunnya
perencanaan yang lengkap.
Secara ringkas maksud dari pengadaan itu sesuai dengan yang dinyatakan dalam Keputusan
Presiden Nomor 80 tahun 2003 tentang pedoman pengadaan barang dan jasa pemerintahan yakni
menyatakan “Pengadaan barang/jasa pemerintah adalah kegiatan pengadaan barang/jasa yang
dibiayai dengan APBN/APBD, baik yang dilaksanakan secara swakelola maupun oleh penyedia
barang/jasa”.

1. Tujuan Pengadaan Sarana dan Prasarana


Aktivitas pertama dalam manajemen sarana prasarana pendidikan adalah pengadaan sarana prasarana
pendidikan. Pengadaan perlengkapan pendidikan biasanya dilakukan untuk memenuhi kebutuhan sesuai
dengan perkembangan pendidikan di suatu sekolah menggantikan barang-barang yang rusak, hilang, di
hapuskan, atau sebab-sebab lain yang dapat di pertanggung jawabkan sehingga memerlukan
pergantian, dan untuk menjaga tingk at persediaan barang setiap tahun dan anggaran mendatang.
Pengadaan perlengkapan pendidikan seharusnya di rencanakan dengan hati-hati sehingga semua
pengadaan perlengkapan sekolah itu selalu sesuai dengan pemenuhan kebutuhan di sekolah.

2. Langkah- langkah Perencanaan Pengadaan Sarana dan Prasarana


Kebutuhan akan sarana dan prasarana di sekolah haruslah direncanakan. Sebagai manajer pendidikan,
kepala sekolah haruslah mempunyai proyeksi kebutuhan sarana dan prasarana untuk jangka panjang,
jangka menengah, jangka pendek. Proyeksi kebutuhan akan sarana dan prasana sekolah dibuat dengan
mempertimbangkan dua aspek, ialah kebutuhan aspek pendidikan di satu pihak dan kemampuan
sekolah di pihak lain.
Sarana dan prasarana yang berupa gedung, sangat bagus kalau dibuat maketnya, agar dapat
diproyeksikan arah pengembangannya. Arah pengembangan tersebut, tentu sejalan dengan proyeksi
kebutuhan di masa yang akan datang. Guna memproyeksikan kebutuhan sarana dan prasarana sekolah
di masa yang akan datang, data tentang perkembangan peserta didik, data tentang kebutuhan
layanan pendidikan terhadap mereka, data tentang kebutuhan berbagai macam ruangan baik untuk
teori maupun praktik, haruslah dapat di identifikasi. Dengan menggunakan analisis regresi, proyeksi
kebutuhan 5 tahun, 10 tahun dan 25 tahun kedepan akan dibuat.

Imron dalam buku Persepektif Manajemen Pendidikan Berbasis Sekolah menyatakan bahwa
ada sejumlah langkah-langkah perencanaaan pengadaan sarana dan prasarana sekolah sebagai berikut
:
o Menampung semua usulan pengadaan perlengkapan sekolah yang diajukan oleh setiap unit kerja dan
atau menginventarisasi kekurangan perlengkapan sekolah.
o Menyusun rencana kebutuhan perlengkapan sekolah untuk periode tertentu, misalnya untuk satu
semester atau satu tahun ajaran.
o Memadukan rencana kebutuhan yang telah disusun dengan perlengkapan yang tersedia sebelumnya.
o Memadukan rencana kebutuhan dengan dana atau anggaran sekolah yang tersedia. bila dana yang
tersedia tidak memadai untuk mengadakan kebutuhan tersebut, maka perlu dilakukan seleksi
terhadap semua kebutuhan perlengkapan yang telah direncanakan dengan melihat urg ensi setiap
perlengakapan yang dibutuhkan. Semua perlengkapan yang urgen segera di daftar
o Memadukan rencana (daftar) kebutuhan perlengkapan yang urgen dengan dana atau anggaran yang
tersedia bila ternyata masih melebihi anggaran yang tersedia, maka perlu dilakukan seleksi lagi
dengan cara membuat skala prioritas.
o Menetapan rencana pengadaan akhir.

Nawawi, (1993:63) mengatakan bahwa dalam perencanaan pengadaan sarana dan prasarana
sekolah harus diperhatikan hal-hal berikut:
a. Kesesuaian dengan kebutuhan dan kemampuan karena barang-barang yang tidak tepat akan menjadi
sumber pemborosan.
b. Kesesuaian dengan jumlah dan tidak terlalu berlebihan dan kekurangan.
c. Mutu yang selalu baik agar dapat dipergunakan secara efektif
d. Jenis alat atau berang yang diperlukan harus tepat dan dapat meningkatkan efesiensi kerja

Dengan demikian diperlukan sistem informasi dan koordinasi yang baik antara tugas perencana
dan petugas pengadaan melalui koordinasi pimpinan.

3. Karakteristik Perencanaan Pengadaan Sarana dan Prasarana Sekolah


Berdasarkan uraian tentang prosedur perencanaan pengadaan di atas dapat di tegaskan bahwa
perencanaan perencanaan perlengkapan sekolah tidaklah mudah. Perencanaan perlengkapan
pendidikan bukan sekedar sebagai upaya mencari ilham, melainkan upaya memikirkan perlengkapan
yang di perlukan di masa yang akan datang dan bagaimana pengadaannya secara sistematis, rinci, dan
teliti berdasarkan informasi dan realistis tentang kondisi sekolah.
Agar prisip-prinsip tersebut betul-betul terpenuhi, semua pihak yang di libatkan atau di tunjuk
sebagai panitia perencanaan pengadaan perlengkapan sekolah perlu mengetahui dan
mempertimbangkan program pendidikan, perlengkapan yang sudah di miliki, dana yang tersedia, dan
harga pasar.
Dalam hubungannya dengan program pendidikan yang perlu di perhatikan adalah organisasi kurikulum
sekolah, metode pengajaran, dan media pengajaran yang di perlukan.
Ada beberapa karakteristik esensial perencanaan pengadaan perlengkapan sekolah, yaitu
sebagai berikut :
o Merupakan proses menetapkan dan memikirkan.
o Objek pikir dalam perencanaan perlengkapan sekolah adalah upaya memenuhi sarana prasarana
pendidikan yang di butuhkan sekolah.
o Tujuan perencanaan perlengkapan sekolah adalah efektifitas dan efisiensi dalam pengadaan
perlengkapan sekolah.
B. Prinsip- Prinsip Pengadaan
Dalam rangka pengadaan atau memilih dan pemeliharaan alat-alat atau perlengkapan sekolah
sebagai satuan pendidikan merupakan tanggung jawab dari pemimpin sekolah atau kepala sekolah.
Maka kepala sekolah itu harus mampu untuk mengetahui bukan saja ilmu yang berkenaan dengan
prinsip-prinsip gedung serta mempunyai ilmu yang cukup banyak berkenaan dengan alat-alat atau
perkakas kantor baik itu kursi, meja, bangku dan lain sebagainya. Menyangkut akan adanya prinsip
dalam pengadaan ini yang harus dipahami oleh pemimpin pendidikan serta dijadikan pedoman yakni
sebagai berikut :
1. Bahwa semua orang yang ikut menggunakan secara teratur mengenai peralatan tersebut haruslah
dilibatkan dalam proses pemilihan ( pengadaan ).
2. Peralatan sekolah hendaknya serasi dengan interest kebutuhan dan kematangan anak. Peralatan
tersebut haruslah mudah dipindahkan dan mudah diatur.
3. Ukuran peralatan sebaiknya disesuaikan dengan keadaan murid, maka disini dalam rangka pengadaan
peralatan sekolah dibuat berbeda-beda setiap kelas sehingga dapat disesuaikan dengan peradabaan
besar kecilnya anak.
4. Lebih baik yang bervariasi maksudnya peralatan ini bentuk dan ukurannya berbeda sehingga lebih
menarik dan mudah disesuaikan dengan kenpentingan kelas tersebut.
5. Semua kelas hendaknya tidak diberi peralatan yang sama persis. Maka semakin berbeda tingkatnya
maka berbeda pula tentang peralatannya ( misanya untuk Sekolah Dasar berbeda dengan Sekola
Menengah Pertama.
6. Kemungkinan dengan peralatan yang akan dibeli harsulah perhatian Hendra dan Wasty (1982)

Disamping itu ada juga beberapa prinsip yang berlaku secara umum untuk proses pengadaan ini
yakni sesuai dengan Kepres No.80 tahun 2003, Pengadaan barang/jasa wajib menerapkan prinsip-
prinsip :
a. efisien, berarti pengadaan barang/jasa harus diusahakan dengan menggunakan dana dan daya yang
terbatas untuk mencapai sasaran yang ditetapkan dalam waktu sesingkat-singkatnya dan dapat
dipertanggungjawabkan.
b. efektif, berarti pengadaan barang/jasa harus sesuai dengan kebutuhan yang telah ditetapkan dan
dapat memberikan manfaat yang sebesar-besarnya sesuai dengan sasaran yang ditetapkan.
c. terbuka dan bersaing, berarti pengadaan barang/jasa harus terbuka bagi penyedia barang/jasa yang
memenuhi persyaratan dan dilakukan melalui persaingan yang sehat di antara penyedia barang/jasa
yang setara dan memenuhi syarat/kriteria tertentu berdasarkan ketentuan dan prosedur yang jelas
dan transparan;
d. transparan, berarti semua ketentuan dan informasi mengenai pengadaan barang/jasa, termasuk
syarat teknis administrasi pengadaan, tata cara evaluasi, hasil evaluasi, penetapan calon penyedia
barang/jasa, sifatnya terbuka bagi peserta penyedia barang/jasa yang berminat serta bagi
masyarakat luas pada umumnya;
e. adil/tidak diskriminatif, berarti memberikan perlakuan yang sama bagi semua calon penyedia
barang/jasa dan tidak mengarah untuk memberi keuntungan kepada pihak tertentu, dengan cara dan
atau alasan apapun;
f. akuntabel, berarti harus mencapai sasaran baik fisik, keuangan maupun manfaat bagi kelancaran
pelaksanaan tugas umum pemerintahan dan pelayanan masyarakat sesuai dengan prinsip-prinsip serta
ketentuan yang berlaku dalam pengadaan barang/jasa.

Perencanaan perlengkapan sekolah seherusnya memenuhi prinsip-prinsip sebagai berikut:


a. Harus betul-betul merupakan proses intelektual;
b. Di dasarkan pada analisis kebutuhan melalui studi komprehensif menganai masyarakat sekolah dan
kemungkinan pertumbuhannya, serta prediksi populasi sekolah;
c. Harus realistis, sesuai dengan kenyataan anggaran;
d. Visualisasi hasil perencanaan perlengkapan sekolah harus jelas dan rinci, baik jumlah, jenis, merek,
dan harganya.

C. Jenis-jenis pengadaan sarana dan prasarana


Sahertian, (1994:174-176) menambahkan bahwa diperlukan pula tata cara pengadaan barang
bergerak dan tidak bergerak, yaitu:
1. Perencanaan pengadaan barang bergerak
a. Barang-barang habis pakai
1) Menyusun daftar pertanyaan berdasarkan analisis kebutuhan
2) Menyusun perkiraan biaya pengadaan barang setiap bulan.
3) Menyusun rencana pengadaan barang menjadi rencana truiwulan/ rencana tahunan.

b. Barang-barang tak habis pakai


1. Menganalisa dan menyusun daftar keperluan barang sesuai dengan rencana kegiatan sekolah sambil
memperhatikan barang-barang yang masih ada dan sudah dipakai.
2. Memperkirakan biaya/ harga barang yang direncanakan berdasarkan standar yang telah ditentukan.
3. Menetapkan skala prioritas pengadaannya berdasarkan dana yang tersedia mengenai kebutuhan dan
menyusun rencana pengadaan tahuanan.

2. Barang tak bergerak


A. Tanah
 Menyusun rencana pengadaan tanah (lokasi luasnya) berdasarkan analisis kebutuhan
 Mengadakan survey penentuan lokasi tanah dengan maksud dan memperhatikan tata kota
 Mengadakan survey tentang adanya fasilitas keperluan sekolah, seperti jalan, listrik, air, telepon,
transpor, jalan raya.
 Mengadakan survey harga tanah dilokasi yang ditentukan untuk penyusunan pengajuan rencana
anggaran yang diperlukan
 Mengajukan rencana anggaran pada satuan organisasi baik di daerah maupun di pusat dengan
melampirkan data yang disusun dari hasil dan survey.

B. Bangunan
 Mengadakan survey tentang keperluan bangunan yang direncanakan meliputi struktur organisasi dari
sekolah yang mengunakan jumlah pemakai (guru, siswa dan lain-lain) dan jumlah alat-alat atau perabot
yang ditempatkan.
 Mengadakan perhitungan luas bangunan berdasarkan kebutuhan dan disusun atas dasar data survey
 Menyusun rencana anggaran biaya sesuai harga standar yang berlaku didaerah yang bersangkutan,
 Menyusun pentahapan rencana anggaran biaya sesuai rencana pentahapan pelaksanaan secara teknis
dengan memperhatikan skala prioritas yang telah ditetapkan.

Sahertian (1994:177) mengatakan bahwa dari segi asal datangnya barang maka jenis
pengadaan ada dua, yaitu:
1. Pengadaan dalam negeri, dapat dilakukan dengan cara:
 Tener yaitu pengadaan barang yang dilakukan diantara supplier atau rekan yang bergerak
dibidangnya secara kompetitif.
 Pebandingan penawaran yaitu cara pengadaan barang dilakukan dengan mengadakan perbandingan
penawaran diantara rekanan yang lulus prakualifikasi
 Pmbelian langsung yaitu pembelian yang dilakukan untuk memenuhi kebutuhan yang jumlahnya kecil.
Cara pembelian yang tepat adalah dengan membandingkan diantara pemasok untuk memperoleh bahan
yang sama dengan harga yang lebih murah.
2. Pegadaan luar negeri (bersifat impor) yang diselenggarakan pemerintah.

Menurut Syahril (2009:40-44) adapun jenis sarana-prasarana yang akan diadakan dan akan
dipenuhi oleh Suatu sekolah ataupun satuan pendidikan yakni sebagai berikut :

1. Pengadaan tanah
Tanah berkedudukan sebagai saran prasarana yang diperlukan pemerintah dapat dilakukan
dengan cara pembelian, penerimaan hibah, menerima hak dan menukar. Berikut penjelasannya:
 Membeli, yakni memindahkan atau suatu kegiatan pengalihan kepemillikan tanah dari seseorang atau
pihak pertama kepada orang lain atau pihak lain dengan cara bertransaksi menukar tanah ( barang )
dengan sejumlah uang ( harga ). Dalam pembelian tanah atau membeli sarana prasarana tanah harus
dilakukan beberapa analisa pertimbangan misalnya tanah yang akan dibeli bebas dari sengketa, bebas
banjir, aman dan yaman , serta letak startegis dan mudah dijangkau. Dalam melakukan pengadaan
tanah ada beberapa hal yang dilakukan yakni membentuk panitia pengadaan, melakukan pembebasan
tanah, pengurusan akte jual beli, pembayaran, dan pengurusan sertifikat.
 Penerimaan hibah, yakni melakukan pengalihan atau pemindahan kepemilikan antara sesorang kepada
orang lain atau antara satu pihak kepada pihak lainnya tanpa pergantian atau transaksi pertukaran
barang dan uang. Agar tidak terjadi masalah dikemudian hari maka dilakukan oleh notaris PPAT akte
serah terima hibah atau berita cara penyerahan hibah dan dilanjutkan dengan pengurusan sertifikat.
 Menerima hak memakai yakni pengalihan penggunaan tanah dari seseorang kepada orang lain dalam
jangka waktu tertentu tanpa memberikan imbalan tertentu. Untuk menanggulangi terjadinya masalah
dikemudian hari maka dalam menerima hak memakai ini harus disertai dengan berita acara dan
perjanjian yang disepakati bersama dan disetujui atau diketahui oleh pejabat yang berwenang.
 Penukaran tanah ( barang ), meliputi pengaliahan tanah dari satu pihak ke pihak yang lain dengan
memberikan pergantian yang seimbang, beedasarkan kesepakatan yang dilakukan sesuai dengan
aturan dna prosedur yang berlaku.
2. Pengadaan bangunan
Pengadaan bangunan untuk pelaksanaan kegiatan dapat dialksanakan melalui berbagai macam
cara yaitu :
 Membangun baru meliputi mempengaruhi, memperluas, dan mengubah dengan cara membongkar
seluruh bangunan atau sebagian termasuk menyiapkan tanah dan sarana penunjang lainnya.
 Membelikan bangunan yang sudah jadi pada dasarnya tidak diperbolehkan, tetapi dalam hal –hal
yang luar biasa dapat saja dilakukan dengan syarat telah ada persetujuan dari mentri dan dana
sudah ada
 Menyewa bangunan seperti untuk keperluan sekolah, kantor dan sebagainya diperbolehkan asal
telah mendapat persetujuan dari penjabat yang berwenang dan bangunan tersebut memenuhi
persyaratan sesuai dengan peruntukannya.bangunan sekolah milik swasta yang dulunya pernah
mendapat subsidi bangunan dari pemerintah, apabila dipakai oleh sekolah negeri tidak perlu di bayar
sewanya,tetapi pemakai wajib memelihara bangunan itu sebagai mana mestinya.
 Menerima hibah bangunan dapat saja di terima baik dari pemerintah maupun dari pihak swasta asal
itu dianggap lebih menguntungkan,serah terima dilakukan dngan akte notaris.
 Menukar banguanan dapat saja dilakukan seperti bangunan yang tidak dapat memenuhi fungsinya lagi
karena lokasinya terlalu ramai, jauh dan tanahnya terlalu sempit sehingga tidak dapat dikembangkan
sesuai dengan keperluan,dapat saja ditukar asalakan di anggap lebih menguntungkan

3. Pengadaan perabot
Perabot dalah barang yang berfungsi sebagai tempat duduk,tempat menulis ,tempat
istirahat,tempat penyimpanan alat-alat dan apatau bahan, sepeti meja,kursi,almari,rak, filing cabinet
dan sebagainya dan sebagainya, dapat dilakukan dengan cara membeli, membuat sendiri dan
menerima bantuan. Pembelian dapat dilakukan terhadap barang yang sudah jadi atau barang yang
belum dan pembelian dapat dilakukan melalui lelang, pemilihan maupun penunjukan langsng sesuai
dengan aturan yang berlaku. Pengadaan yang biasa dilakukan dengan jalan membuat sendiri biasanya
dilakukan untuk kegiatan pembelajaran praktek dengan mempertimbangkan faktor biaya yang
tersedia, tenaga yang diperlukan dan peralatan yang dibutuhkan. Lain halnya dengan pangadaan
dengan cara menerima bantuan (hibah) dari pemerintahan, swasta, masyarakat maupun perorangan
dan dilengkapi surat-suarat tertentu. .
Dalam pengadaan perabot sekolah, maka ada beberapa hal yang perlu dipertimbangkan seperti
segi antropometri, ergonomi. Estetika, dan segi ekonomis.
 Antropometri, artinya pengadaan perabot dengan memperhitungkan tinggi badan atau ukuran penggal-
penggal tubuh pemakai (misalnya siswa dan tenaga kependidikan lainnya).
 Ergonomis, maksudnya perabot yang akan diadakan tersebut memperhatikan segi kenyamanan,
kesehatan, dan keamanan pemakai,
 Estetis, yaitu perabot tersebut hendaknya menyenangkan untuk dipakai karena bentuk dan warnanya
menarik.
 Ekonomis, maksudnya perabot bukan hanya berkaitan dengan harganya tetapi merupakn transformasi
wujud efisiensi dan efektifitas dalam pengadaan dan pendayagunaannya.
4. Pengadaan Buku
Yang dimaksud dengan buku disini ialah buku pelajaran, buku bacaan, buku perpustakaan dan
buku-buku lainnya. Buku yang dapat dipakai oleh sekolah meliputi buku teks utama, buku teks
pelengkap, buku bacaan baik fiksi maupun non fiksi, buku sumber dan sebagainya. Tentang jenis-jenis
buku harus mengacu pada standar di atas yang antara lain meliputi:

o Buku teks utama adalah buku pokok yang menjadi pegangan guru dan murid yang subtansinya
mengacu pada kurikulum yang berlaku.

o Buku teks pelengkap adalah buku yang sifatnya membantu atau merupakan tambahan buku
teks utama yang digunakan oleh murid dan guru yang seluruh isinya menunjang kurikilum.

o Buku bacaan non fiksi adalah buku bacaan yang ditulis berdasarkan fakta atau kenyataan.
Pada umumnya buku bacaan non fiksi menunjang salah satu bidang studi. Sistematika
penyusunannya tidak seperti buku teks pelengkap tetapi disajikan secara populer.

o Buku bacaan fiksi adalah buku bacaan yang ditulis tidakberdasarkan fakta atau kenyataan,
melainkan berdasarkankhayalan penulis. Isi buku bacaan fiksi biasanya berbentuk cerita yang
tidak benar-benar terjadi.

Untuk pengadaan buku dapat dilakukan dengan 4 cara, yaitu:


a. Membeli
b. Menerbitkan sendiri
c. Menerima bantuan/hadiah
d. Menukar.

Dalam hal ini yang biasa dilakukan oleh sekolah adalah membeli dan menerima bantuan/hibah.
Sebab jika menerbitkan sendiri akan sangat membutuhkan waktu yang lama, sedangkan jika menukar
tidak semua materi akan sesuai dengan materi yang diajarkan atau dengan kurikulum.
Alat yang dimaksud dalam hal ini terdiri atas alat-alat kantor dan alat-alat pendidikan.
Adapun yang termasuk alat kantor ialah alat-alat yang biasa digunakan di kantor seperti: mesin tulis,
mesin hitung, mesin stensil, komputer, alat-alat pembersih dan sebagainya.

D. Tata Cara Pengadaan


Ada beberapa alternatif cara dalam pengadaan sarana dan prasarana pendidikan
persekolahan. Beberapa alternatif cara pengadaan sarana dan prasarana pendidikan persekolahan
tersebut adalah sebagai berikut. Tata cara dalam melakukan pengadaan sarana prasarana sekolah itu
ada beberapa cara yakni sebagai berikut :
1. Pembelian ( membeli )
Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa dalam pengalihan barang dari seseorang
kepada orang lain atau antara satu pihak satu kepada pihak lain dengan menukarkan barang dengan
sejumlah uang. Dalam melakukan transaksi tersebut baik itu penukaran menggunakan uang yang
bersumber dari Anggaran pendapatn dan belanja negara ( APBN ) dan Anggaran pendapatan belanja
daerah ( APBN ) diatur oleh Kepres No.80 tahun 2003 dan disempurnakan dalam Peraturan Presiden
Nomor 54 tahun 2012. Kepres pembelian yaitu melalui lelang ( tender ), pemilihan langsung,
pertunjukan langsung, dan pengadaan langsung contohnya tentang lelang Pelelangan Umum, Pelelangan
Terbatas, Pelelangan Sederhana, Penunjukan Langsung, Pengadaan Langsung, atau Kontes (Pepres
No. 70 tahun 2012).
Pembelian melalui lelang (umum dan terbatas) dilakukan untuk pengadaan barang yang nilainya
diatas 100 juta, lelang umum yaitu metode pemilihan penyediaan barang dan jasa dilakukan secara
terbuka dengan pengumuman secara sekurang-kurangnya di satu surat kabar nasional atau satu surat
kabar provinsi, sedangkan lelang terbatas adalah metode pemilihan penyedia barang/jasa yang
dilakukan secara terbatas dengan pengumuman secara luas sekurang-kurangnya disatu surat kabar
nasional dan atau surat kabar provinsi dengan mencantumkan penyedia barang dan jasa yang telah
diyakini mampu, guna memberi kesempatan kepada penyedia barang dan jasa lainnya yang memenuhi
kualifikasi.
Pembelian melalui pemilihan langsung dilakukan bila pengadaan melalui lelang dianggap tidak
efesien dari segi pembiayaan dan dilakukan untuk pengadaan yang nilainya antara 50 sampai 100 juta.
Pembelian melalui penunjukan langsung dilakukan dalam keadaan tertentu seperti dalam keadaan
darurat untuk pertahanan, keamanan dan keselamatan masyarakat yang pelaksanaanya tidak dapat
ditunda-tunda atau bencana alam, rahasia serta untuk pekerjaan skala kecil nilainya antara i5 sampai
50 juta.
Pembelian langsung dilakuakan secara langsung oleh intansi yang membutuhkan barang dan
nilai pengadaannya sangat kecil yaitu dibawah 15 juta. Proses dan prosedur pengadaan dengan cara
pembelian harus sesuai dengan ketentuan dan prosedur yang ditetapkan pemerintah.

khusus untuk pengadaan dengan cara pembelian melalui lelang harus mengikuti prosedur berikut
ini:
a) Pembentukan panitia lelang yang dilakukan oleh instansi yang akan mengadakan barang. Panitia lelang
haruslah orang yang betul-betul memahami tata cara pengadaan, substansi pekerjaan dan hukum
perjanjian/kontrak. Masa kerja panitia mulai dari masa persiapan sampai dengan dokumen kontrak
siap ditandatangani (secara formal) bahkan sampai dengan pelaksanaan audit oleh pemeriksa
internal/eksternal (informal). Tugas panitia antara lain, menyususn jadwal, dan menetapkan cara
pelaksanaan serta lokasi pengadaan, menyusun, dan menyiapkan Harga Perkiraan Sendiri (HPS),
menyiapkan dokumen lelang, mengumumkan pengadaan, mengadakan penjelasan lelang, melakukan
evaluasi terhadap dokumen penawaran, mengusulkan calon pemenang lelang, membuat laporan proses
dan hasil pelelangan.
b) Penyusunan dokumen lelang oleh panitia yang bercirikan antara lain, syarat umum (keterangan
mengenai pembagian tugas, keterangan mengenai perencana, keterangan mengenai direksi, syarat-
syarat peserta lelang, bentuk surat penawaran dan cara penyampaiannya), syarat administratif
(jangka waktu pelaksanaan pekerjaan, tanggal penyerahan pekerjaan, syarat pembayaran, denda
keterlambatan, besar jaminan pelanggan dan pelaksanaan pekerjaan), syarat teknis (jenis dan uraian
pekerjaan yang harus dilaksanakan, jenis dan mutu bahan), spesifikasi teknis dan gambar (detail dan
konstruktif).
c) Pengumuman pengambilan dokumen lelang yang dilakukan melalui media resmi, surat kabar
kabupaten/kota untuk paket kecil atau papan pengumuman resmi dan surat kabar provinsi atau
nasional untuk pekerjaan paket besar.
d) Undangan pemberian penjelasan (Aanwijzing) kepada peserta lelang yang dilakukan oleh panitia lelang
pada tempat dan waktu yang telah ditetapkan.
e) Penyusunan kriteria penilaian untuk menetukan atau menetapkan calon pemenang lelang
f) Pelaksanaan kegiatan lelang dengan cara memasukan penawaran pada waktu, tempat dan prosedur
yang ditetapkan (metode dua sampul dan metode dua tahap)
g) Pelaksanaan penilaian terhadap dokumen penawaran yang dimasukan oleh peserta lelang.
h) Penentuan calon pemenang lelang oleh panitia lelang dan penunjukkan pemenang lelang oleh pejabat
yang berwenang sesuai dengan ketentuan-ketentuan yang berlaku.
i) Pengumuman dan penetapan pemenang lelang oleh panitia lelang.
j) Penetapan surat pesanan/membutuhkan barang dengan pihak pemenang lelang.
k) .Pembuatan dan penandatanganan surat perjanjian atau kontrak kerja antara pihak yang mengadakan
barang dengan pihak pemenang lelang.

1. Penyiapan berita acara pemeriksa dan oenerimaan barang (serah terima pemenang lelang)
2. Pembuatan Sendiri
3. Pembuatan sendiri merupakan cara pemenuhan kebutuhan sarana dan prasarana pendidikan
persekolahan dengan jalan membuat sendiri yang biasanya dilakukan oleh guru, siswa, atau pegawai.
Pemilihan cara ini harus mempertimbangkan tingkat efektifitas dan efesiensinya apabila
dibandingkan dengan cara pengadaan sarana dan prasarana pendidikan yang lain. Pembuatan sendiri
biasanya dilakukan terhadap sarana dan prasarana pendidikan yang sifatnya sederhana dan murah,
misalnya alat-alat peraga yang dibuat oleh guru atau murid.
4. Penerimaan Hibah atau Bantuan
Penerimaan hibah atau bantuan yaitu merupakan cara pemenuhan sarana dan prasaran pendidikan
persekolahan dengan jalan pemberian secara cuma-cuma dari pihak lain. Penerimaan hibah atau
bantuan harus dilakukan dengan membuat berita acara.
5. Penyewaan
Yang dimaksud dengan penyewaan adalah cara pemenuhan kebutuhan sarana dan prasarana
pendidikan persekolahan dengan jalan pemanfaatan sementara barang milik pihak lain untuk
kepentingan sekolah dengan cara membayar berdasarkan perjanjian sewa-menyewa. Pemenuhan
kebutuhan sarana dan prasarana pendidikan dengan cara ini hendaknya dilakukan apabila kebutuhan
sarana dan prasarana bersifat sementara dan temporer.
6. Pinjaman
Yaitu penggunaan barang secara cuma-cuma untuk sementara waktu dari pihak lain untuk kepentingan
sekolah berdasarkan perjanjian pinjam meminjam. Pemenuhan kebutuhan sarana dan prasarana
pendidikan dengan cara ini hendaknya dilakukan apabila kebutuhan sarana dan prasarana bersifat
sementara dan temporer dan harus mempertimbangkan citra baik sekolah yang bersangkutan
7. Pendaurulangan
Yaitu pengadaan sarana dan prasarana pendidikan dengan cara memanfaatkan barang yang sudah
tidak terpakai menjadi barang yang berguna untuk kepentingan sekolah.
8. Penukaran
Penukaran merupakan cara pemenuhan kebutuhan sarana dan prasarana pendidikan dengan jalan
menukarkan sarana dan prasarana yang dimiliki dengan sarana dan prasarana yang dibutuhkan
organisasi atau instansi lain. Pemilihan cara pengadaan sarana dan prasarana jenis ini harus
mempertimbangkan adanya saling menguntungkan di antara kedua belah pihak, dan sarana/prasarana
yang dipertukarkan harus merupakan sarana dan prasarana yang sifatnya berlebihan atau dipandang
dan dinilai sudah tidak berdaya guna lagi.
9. Perbaikan atau Rekondisi
Perbaikan merupakan cara pemenuhan sarana dan prasarana pendidikan dengan jalan memperbaiki
sarana dan prasarana yang telah mengalami kerusakan, baik dengan perbaikan satu unit sarana dan
prasarana maupun dengan jalan penukaran instrumen yang baik di antara instrumen sarana dan
prasarana yang rusak sehingga instrumen-instrumen yang baik tersebut dapat disatukan dalam satu
unit atau beberapa unit, dan pada akhirnya satu atau beberapa unit sarana dan prasarana tersebut
dapat dioperasikan atau difungsikan.

Prosedur Pengadaan Sarana dan Prasarana Pendidikan dan Implementasinya

Prosedur pengadaan barang dan jasa harus mengacu kepada Kepres No. 80 tahun 2003 yang
telah disempurnakan dengan Permen No. 24 tahun 2007. Pengadaan sarana dan prasarana pendidikan
di sekolah umumnya melalui prosedur sebagai berikut:
a. Menganalisis kebutuhan dan fungsi sarana dan prasarana.
b. Mengklasifikasikan sarana dan prasarana yang dibutuhkan.
c. Membuat proposal pengadaan sarana dan prasarana yang ditujuakan kepada pemerintah bagi sekolah
negeri dan pihak yayasan bagi sekolah swasta.
d. Bila disetujui maka akan ditinjau dan dinilai kelayakannya untuk mendapat persetujuan dari pihak
yang dituju.
e. Setelah dikunjungi dan disetujui maka sarana dan prasarana akan dikirim ke sekolah yang mengajukan
permohonan pengadaan sarana dan prasarana tersebut.

A. Pengertian Permintaan Perlengkapan/Peralatan Kantor


Permintaan sarana dan prasarana adalah jumlah saran maupun prasarana yang di butuhkan untuk
memenuhi kebutuhan kantor terhadap staff sarana dan prasarana.

B. Permintaan Perlengkapan/Peralatan Kantor


Langkah-langkah permintan peralatan/perlengkapan kantor :
1. Unit pemakai mengajukan bon permintaan kepada bagian gudang dengan bon permintaan
peralatan/perlengkapan.
2. Bagian administrasi gudang meneliti baik keluar ( apakah permintaan tersebut benar-benar harus
dipenuhi) maupun ke dalam (apakah barang yang diminta ada dalam gudang).
3. Apabila permintaannya memenuhi syarat selanjutnya disetujui dan persetujuan tersebut diserahkan
ke pengurus peralatan/perlengkapan.
4. Persetujuan yang diterima oleh pengurus dijadikan pedoman untuk mengeluarkan
peralatan/perlengkapan dan disampaikan kepada unit pemakai.
5. Bagian administrasi gudang selanjutnya membukukan peralatan/perlengkapan yang dikeluarkan
tersebut.
6. Bagian gudang menghitung persediaan peralatan/perlengkapan baik secara administrasi maupun
secara fisik.
7. Bagian administrasi bersama bagian peralatan/perlengkapan mengecek fisik persediaan
peralatan/perlengkapan secara bersama-sama apakah sesuai antara yang tercatat dengan keadaan
sebenarnya.
8. Pihak Gudang selanjutnya melaporkan kepada Pimpinan/Bendaharawan.

C. Tips atau Cara Dalam Membeli Perbekalan Kantor (Office Supplies) yang Baik
Membeli alat kantor hampir sama dengan shopping di mall, sama-sama berbelanja. Namun yang
membedakan adalah barang yang mesti dibeli adalah alat kantor itu sendiri. Kelihatannya memang
mudah, namanya juga shopping! Tetapi ternyata tidak demikian yang terjadi. Para pegawai sering
mengeluh kalau harus membeli dan berbelanja alat kantor tentang apa yang harus dibeli, berapa
banyak yang harus dibeli per itemnya dan yang paling penting adalah dimana membeli alat kantor yang
terbaik
Dari sekian banyak toko yang menjual alat kantor, hanya sedikit yang menjual produk dari
berbagai merk dengan berbagai rentang harga. Pegawai pun harus melakukan riset dan pencarian
serta memikirkan alat kantor yang bagus tetapi juga sesuai dengan harga.
Yang pasti, pastikan anda tidak terburu-buru membeli tetapi harus melakukannya dengan
perlahan dan bertahap agar alat kantor yang anda beli akan sesuai dengan harga dan merupakan yang
terbaik. Jika tidak, maka alat kantor yang dibeli hanya akan menghabiskan uang sementara tidak bisa
digunakan sehingga harus disimpan didalam gudang sepanjang tahun.
Oleh karena itu, anda tidak hanya bisa terpaku pada diskon atau brosur menarik. Begitupun jika
toko alat kantor tersebut memiliki pamflet yang besar dengan brosur yang mengkilat dan tokonya
yang mewah bukan jaminan anda akan mendapatkan harga terbaik untuk alat tulis kantor terbaik.

D. Berikut tips membeli alat kantor untuk keperluan kantor anda :

1. Ceklis alat kantor apa yang mau anda belli


Ketika anda berada dikantor gambarkan apa yang akan mau dibeli, akan terlihat mudah namun anda
akan seketika bingung ketika sudah ditoko alat kantor. Dengan adanya banyak pilihan dan fitur, hal
ini akan membuat anda merasa bahwa alat kantor tersebut benar-benar dibutuhkan padahal tidak.
Oleh karena itu, buatlah catatan alat kantor apa yang akan anda beli agar anda lebih mudah ketika
berbelanja.

2. Perhatikan apakah alat kantor tersebut akan berguna


Apa alasan anda harus membeli ala kantor tersebut? Anda bisa menanyakan kepada boss ataupun
pegawai lainnya apakah alat kantor tersebut akan sering dipakai atau malah disimpan. Sebagai contoh
mudah adalah jika kantor anda hanya sering melakukan printing bahan cukup dengan menggunakan
printer, maka mesin fotocopy tidak diperlukan untuk dibeli.

3. Pilihlah teman berbelanja anda


Sama halnya ketika anda berbelanja keperluan anda di mall, memillih teman belanja seorang
shopaholic hanya akan membuat anda kalap mata. Jika demikian, anda hanya akan terpaku pada
diskon yang diberikan tanpa melihat kualitas barang. Dilain pihak, anda akan membeli alat kantor yang
mewah padahal sebenarnya tidak diperlukan.
4. Perhatikan timing dalam membeli alat kantor
Jika ingin mendapakan diskon yang masuk akal dengan kualitas alat kantor yang terbaik, sebaiknya
pilihlah waktu akhir tahun.

5. Mencari toko alat kantor


Anda bisa melakukan pencarian di internet mengenai toko alat kantor yang berada didaerah anda
yang memiliki kredibilitas yang baik di internet. Anda bisa membuat dafar nama-nama toko alat
kantor tujuan anda.

6. Perhatikan penawaran dari supplier sendiri


Apakah ada garansi yang diberikan pasca pembelian agar kita tidak ragu membeli produk alat kantor
tersebut karena ada jaminannya.
Sebenarnya tidak sulit untuk tips membeli alat-alat kantor untuk keperluan kantor anda,
hanya saja butuh waktu pasti tidak akan sia-sia. Meminta saran dan bantuan kepada rekan kantor
yang tahu juga tidak ada salahnya. Anda bisa menyisihkan waktu sekitar satu minggu untuk
melengkapi alat kantor tempat anda bekerja

E. Karakteristik Barang Perbekalan (Office Supplies) yang Baik


Dalam memilih berbagai perlengkapan kantor yang, ada beberapa hal yang harus diperhatikan
agar kita tidak menyesal setelah membeli perlengkapan kantor yang kita butuhkan. Dalam membeli
barang apa saja, termasuk dalam membeli peralatan kantor, kita tidak seharusnya tergoda oleh
harga-harga yang murah tanpa kita ketahui kualitas dari barang-barang tersebut.
MATERI KELAS XI TENTANG DAFTAR
URUT KEPANGKATAN ( DUK )

1. Daftar Urut Kepangkatan

A. Pengertian Daftar Urut Kepangkatan


DUK adalah suatu daftar yang memuat nama pegawai Negeri Sipil dari suatu satuan
organisasi negara yang disusun menurut tingkat kepangkatan.
B. Pembuatan Daftar Urut Kepangkatan

a. DUK dibuat untuk seluru pegawai negeri sipil dari satuan organisasi Negara
b. DUK dibuat sekali dalam setahun
c. Pejabat pembuat DUK : · Menteri, jaksa agung, pimpinan kesekretariasan lembaga tertinggi
Negara, pimpinan pemerintah nondepartemen, gubernur, dan pejabat lain yang ditentukan oleh
presiden, membuat dan memelihara DUK dalam lingkungan masing-masing.
d. DUK untuk pegawa yang diperbantukan, dibuat oleh : · Instansi yang menerima bantuan ·
Instansi yang memberi bantuan
e. DUK untuk pegawai negeri sipil di luar jabatan organic tetap dicantumkan dalam DUK instansi
yang bersangkutan
f. Calon pegawai negeri sipil tidak dicantumkan dalam DUK
g. DUK secara nasional dibuat oleh BAKN, untuk golongan IV/a sampai dengan golongan IV/c.

C. Penentuan Nomor Urut Daftar Urut Kepangkatan


1. Pangkat
PNS yang berpangkat lebih tinggi dicantumkan dalam nomor urut yang lebih tinggi dalam DUK,
Jika ada dua orang/lebih yang memiliki pangkat yang sama maka dari mereka yang lebih tua
dalam pangkat tersebut dicantumkan dalam nomor urut yang lebih tinggi.
2. Jabatan
Apabila ada dua orang/lebih, PNS yang berpangkat sama dan diangkat dalam pangkat itu dalam
waktu yang sama, maka dari mereka yang memangku jabatan yang lebih tinggi dicantumkan
dalam nomor urut yang lebih tinggi dan dilihat yang lebih dahulu diangkat dalam jabatan yang
sama tingkatannya
3. .Masa Kerja
Apabila ada dua orang/lebih, PNS yang berpangkat sama dan diangkat dalam pangkat itu dalam
waktu yang sama dan memangku jabatan yang sama, maka dari mereka yang memiliki masa
kerja sebagai PNS yang lebih banyak dicantumkan dalam nomor urut yang lebih tinggi
4. Latihan Jabatan
Apabila ada dua orang/lebih, PNS yang berpangkat sama dan diangkat dalam pangkat itu dalam
waktu yang sama dan memangku jabatan yang sama dan memiliki masa kerja yang sama, maka
dari mereka yang pernah mengikuti latihan jabatan yang ditentukan, dicantumkan dalam nomor
urut yang lebih tinggi dalam DUK.
5. Pendidikan
Apabila ada dua orang/lebih, PNS yang berpangkat sama dan diangkat dalam pangkat itu dalam
waktu yang sama dan memangku jabatan yang sama dan memiliki masa kerja yang sama, dan
pernah mengikuti latihan jabatan yang ditentukan, maka dari mereka yang lulus dari pendidikan
yang lebih tinggi dicantumkan dalam nomor urut yang lebih tinggi dalam DUK

D. Keberatan atas nomor urut dalam DUK


1. PNS yang bersangkutan berhak mengajukan keberatan secara tertulis melalui hierarki jabatan.
2. Keberatan diajukan paling lambat 30 hari setelah DUK diumumkan.
3. Pejabat Pembuat DUK wajib mempertimbangkan keberatan.
4. Apabila mempunyai dasar yang kuat, Pejabat Pembuat DUK dapat menetapkan perubahan.
5. Apabila tidak mempunyai dasar yang kuat Pejabat Pembuat DUK menolak secara tertulis
6. Perubahan atau penolakan harus sudah ditetapkan atau diberitahukan dalam jangka waktu 14 hari
setelah diajukan keberatan.
7. Apabila PNS tidak puas dapat mengajukan banding kepada atasan Pejabat Pembuat DUK.
8. Perubahan atau penolakan setelah pengajuan keberatan banding harus sudah ditetapkan atau di
beritahukan oleh atasan Pejabat(Pembuat DUK dalam jangka waktu 14 hari).

E. Perubahan Dan Penghapusan Nomor Urut

Nama dalam DUK dapat mengalami perubahan karena :


1. Setiap mutasi yang mengakibatkan perubahan nomor urut dalam DUK dicatat.
2. Untuk memudahkan pemeliharaan DUK cukup dicatat jenis mutasi kepegawaian da
n tanggal berlakunya.

Nama dalam DUK dapat dihapuskan karena:


- diberhentikan sebagai PNS
- meninggal dunia
- pindah intansi
Penghapusan nama dilakukan pada waktu menyusun DUK tahun berikutnya

F. Penggunaan DUK
1. D U K a d a l a h s a l a h s a t u b a h a n p e r t i m b a n g a n o b y e k t i f d a l a m pembinaan karier
PNS.
2. Dengan DUK pembinaan karier PNS akan lebih objektif.
3. Bila ada lowongan jabatan, PNS yang bernomor urut lebih tinggi wajib dipertimbangkan lebih da
hulu;
4. Pertimbangan bagi PNS yang bernomor urut lebih tinggi tidak berlaku bagi PNS yang :
- dikenakan pemberhentian sementara
-
sedang cuti di luar tanggungan negara, kecuali PNS yang menjalani persalinan yang ke I
V dan seterusnya.
-
sedang cuti di luar tanggungan negara, kecuali PNS yang menjalani persalinan yang ke I
V dan seterusnya.
- penerima uang tunggu

2. CUTi

A. Pengertian Cuti
Cuti Pegawai Negeri Sipil, selanjutnya disingkat dengan cuti. Cuti adalah keadaan tidak
masuk kerja yang diizinkan dalam jangka waktu tertentu.
B. Jenis Cuti

a. Cuti Tahunan

1. Pegawai Negeri Sipil yang telah bekerja sekarang-kurangnya 1 (satu) tahun secara terus-
menerus berhak atas cuti tahunan.

2. Lamanya cuti tahunan adalah 12 (dua belas) hari kerja.

3. Cuti tahunan tidak dapat dipecah-pecah hingga jangka waktu yang kurang dari 3 (tiga)
hari kerja.

4. Untuk mendapatkan cuti tahunan Pegawai Negeri Sipil yang bersangkutan mengajukan
permintaan secara tertulis kepada pejabat yang berwenang memberikan cuti.

5. Cuti tahunan diberikan secara tertulis oleh pejabat yang berwenang memberikan cuti.

6. Cuti tahunan yang akan dijalankan di tempat yang sulit perhubungannya, maka jangka
waktu cuti tahunan tersebut dapat ditambah untuk paling lama 14 (empat belas) hari.

7. Cuti tahunan yang tidak diambil dalam tahun yang bersangkutan, dapat diambil dalam
tahun berikutnya untuk paling lama 18 (delapan belas) hari kerja termasuk cuti tahunan
dalam tahun yang sedang berjalan.

8. Cuti tahunan yang tidak diambil lebih dari 2 (dua) tahun berturut-turut, dapat diambil
dalam tahun berikutnya untuk paling lama 24 (dua puluh empat) hari kerja termasuk cuti
tahunan dalam tahun yang sedang berjalan.

9. Cuti tahunan dapat ditangguhkan pelaksanaannya oleh pejabat yang berwenang


memberikan cuti untuk paling lama 1 (satu) tahun, apabila kepentingan dinas mendesak.
10. Cuti tahunan yang ditangguhkan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dapat diambil
dalam tahun berikutnya selama 24 (dua puluh empat) hari kerja termasuk cuti tahunan
dalam tahun yang sedang berjalan.

11. Pegawai Negeri Sipil yang menjadi guru pada sekolah dan dosen pada perguruan tinggi
yang mendapat liburan menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku, tidak
berhak atas cuti tahunan.

b. Cuti Besar

1. Pegawai Negeri Sipil yang telah bekerja sekurang-kurangnya 6 (enam) tahun secara
terus-menerus berhak atas cuti besar yang lamanya 3 (tiga) bulan.

2. Pegawai Negeri Sipil yang menjalani cuti besar tidak berhak lagi atas cuti tahunannya
dalam tahun yang bersangkutan.

3. Untuk mendapatkan cuti besar, Pegawai Negeri Sipil yang bersangkutan mengajukan
permintaan secara tertulis kepada pejabat yang berwenang memberikan cuti.

4. Cuti besar diberikan secara tertulis oleh pejabat yang berwenang memberikan cuti.

5. Cuti besar diberikan secara tertulis oleh pejabat yang berwenang memberikan cuti.

6. Cuti besar dapat ditangguhkan pelaksanaannya oleh pejabat yang berwenang untuk paling
lama 2 (dua) tahun, apabila kepentingan dinas mendesak.

7. Selama menjalankan cuti besar, Pegawai Negeri Sipil yang bersangkutan menerima
penghasilan penuh.

c. Cuti Sakit

1. Pegawai Negeri Sipil yang sakit selama 1 (satu) atau 2 (dua) hari berhak atas cuti sakit,
dengan ketentuan, bahwa ia harus memberitahukan kepada atasannya.

2. Pegawai Negeri Sipil yang sakit lebih dari 2 (dua) hari sampai dengan 14 (empat belas)
hari berhak atas cuti sakit, dengan ketentuan bahwa Pegawai Negeri Sipil yang
bersangkutan harus mengajukan permintaan secara tertulis kepada pejabat yang
berwenang memberikan cuti dengan melampirkan surat keterangan dokter.

3. Pegawai Negeri Sipil yang menderita sakit lebih dari 14 (empat belas) Hari berhak cuti
sakit, dengan ketentuan bahwa Pegawai Negeri Sipil yang bersangkutan harus
mengajukan permintaan secara tertulis kepada pejabat yang berwenang memberikan cuti
dengan melampirkan surat keterangan dokter yang ditunjuk oleh Menteri Kesehatan.

4. Surat keterangan dokter sebagaimana dimaksud dalam ayat (3) antara lain menyatakan
tentang perlunya diberikan cuti, lamanya cuti dan keterangan lain yang dipandang perlu.

5. Cuti sakit sebagaimana dimaksud dalam ayat (3) diberikan untuk waktu paling lama 1
(satu) tahun.

6. Jangka waktu cuti sakit sebagaimana dimaksud dalam ayat (5) dapat ditambah untuk
paling lama 6 (enam) bulan apabila dipandang perlu berdasarkan surat keterangan dokter
yang ditunjuk oleh Menteri Kesehatan.

7. Pegawai Negeri Sipil yang tidak sembuh dari penyakitnya dalam jangka Waktu
sebagaimana dimaksud dalam ayat (5) dan atau ayat (6), harus Diuji kembali
kesehatannya oleh dokter yang ditunjuk oleh Menteri Kesehatan.

8. Apabila berdasarkan hasil pengujian kesehatan sebagaimana dimaksud dalam ayat (7)
Pegawai Negeri Sipil yang bersangkutan belum sembuh dari penyakitnya, maka ia
diberhentikan dengan hormat dari jabatannya karena sakit dengan mendapat uang tunggu
berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

9. Pegawai Negeri Sipil wanita yang mengalami gugur kandung berhak atas cuti sakit untuk
paling lama 1« (satu setengah) bulan.

10. Untuk mendapatkan cuti sakit gugur kandung, Pegawai Negeri Sipil wanita yang
bersangkutan mengajukan permintaan secara tertulis kepada pejabat yang berwenang
memberikan cuti dengan melampirkan surat keterangan dokter atau bidan.

11. Pegawai Negeri Sipil yang mengalami kecelakaan dalam dan oleh karena menjalankan
tugas kewajibannya sehingga ia perlu mendapat perawatan, berhak atas cuti sakit sampai
ia sembuh dari penyakitnya.

12. Selama menjalankan cuti sakit Pegawai Negeri Sipil yang bersangkutan menerima
penghasilan penuh.

13. Cuti sakit sebagaimana dimaksud dalam Pasal-pasal 14 sampai dengan 16, kecuali 1-2
hari diberikan secara tertulis oleh pejabat yang berwenang memberikan cuti.

14. Cuti sakit sebagaimana dimaksud dalam Pasal-pasal 14 sampai dengan 16, kecuali yang
dimaksud dalam Pasal 14 ayat (1) diberikan secara tertulis oleh pejabat yang berwenang
memberikan cuti.

d. Cuti Bersalin
1. Untuk persalinan anaknya yang pertama, kedua, dan ketiga, Pegawai Negeri Sipil wanita
berhak atas cuti bersalin.

2. Untuk persalinan anaknya yang keempat dan seterusnya, kepada Pegawai Negeri Sipil
wanita diberikan cuti di luar tanggungan Negara.

3. Lamanya cuti-cuti bersalin tersebut dalam ayat (1) dan (2) adalah 1 (satu) bulan sebelum
dan 2 (dua) bulan sesudah persalinan.

4. Untuk mendapatkan cuti bersalin, Pegawai Negeri Sipil wanita yang bersangkutan
mengajukan permintaan secara tertulis kepada pejabat yang berwenang memberikan cuti.

5. Cuti bersalin diberikan secara tertulis oleh pejabat yang berwenang memberikan cuti.

6. Selama menjalankan cuti bersalin Pegawai Negeri Sipil wanita yang bersangkutan
menerima penghasilan penuh.

e. Cuti Karena alasan Penting


Yang dimaksud dengan cuti karena alasan penting adalah cuti karena :
 ibu, bapak, isteri/suami, anak, adik, kakak, mertua, atau menantu sakit keras atau meninggal
dunia;
 salah seorang anggota keluarga yang dimaksud dalam huruf a meninggal dunia dan menurut
ketentuan hukum yang berlaku Pegawai Negeri Sipil yang bersangkutan harus mengurus hak-hak
dari anggota keluarganya yang meninggal dunia itu;
 melangsungkan perkawinan yang pertama;

1. Lamanya cuti karena alasan penting ditentukan oleh pejabat yang berwenang
memberikan cuti untuk paling lama 2 (dua) bulan.

2. Untuk mendapatkan cuti karena alasan penting, Pegawai Negeri Sipil yang bersangkutan
mengajukan permintaan secara tertulis dengan menyebutkan alasan-alasannya kepada
pejabat yang berwenang memberikan cuti.

3. Cuti karena alasan penting diberikan secara tertulis oleh pejabat yang berwenang
memberikan cuti

4. Dalam hal yang mendesak, sehingga Pegawai Negeri Sipil yang bersangkutan tidak dapat
menunggu keputusan dari pejabat yang berwenang memberikan cuti, maka pejabat yang
tertinggi di tempat Pegawai Negeri Sipil yang bersangkutan bekerja dapat memberikan
izin sementara untuk menjalankan cuti karena alasan penting.

5. Pemberian izin sementara dalam hal mendesak harus segera diberitahukan kepada pejabat
yang berwenang memberikan cuti oleh pejabat yang memberikan izin sementara.
6. Pejabat yang berwenang memberikan cuti setelah menerima pemberitahuan izin
sementara dalam hal mendesak memberikan cuti karena alasan penting kepada Pegawai
Negeri Sipil yang bersangkutan.

7. Selama menjalankan cuti karena alasan penting, Pegawai Negeri Sipil yang bersangkutan
menerima penghasilan penuh.

f. Cuti di Luar Tanggungan Negara

1. Kepada Pegawai Negeri Sipil yang telah bekerja sekurang-kurangnya 5 (lima) tahun
secara terus-menerus, karena alasan-alasan pribadi yang penting dan mendesak dapat
diberikan cuti di luar tanggungan Negara.

2. Cuti di luar tanggungan Negara dapat diberikan – paling lama 3 (tiga) tahun.

3. Jangka waktu cuti di luar tanggungan Negara sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) dipat
diperpanjang paling lama 1 (satu) tahun apabila ada alasan-alasan yang penting untuk
memperpanjangnya.

4. Cuti di luar tanggungan Negara mengakibatkan Pegawai Negeri Sipil yang bersangkutan
dibebaskan dari jabatannya, kecuali cuti di luar tanggungan Negara sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 19 ayat (2).

5. Jabatan yang menjadi lowong karena,pemberian cuti di luar tanggungan Negara dengan
segera dapat diisi.

6. Untuk mendapatkan cuti di luar tanggungan Negara, Pegawai Negeri Sipil yang
bersangkutan mengajukan permintaan secara tertulis kepada pejabat yang berwenang
memberikan cuti disertai dengan alasan-alasannya.

7. Cuti di luar tanggungan Negara hanya dapat diberikan dengan surat keputusan pejabat
yang berwenang memberikan cuti sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1) setelah
mendapat persetujuan dari Kepala Badan Administrasi Kepegawaian Negara.

8. Selama menjalankan cuti di luar tanggungan Negara, Pegawai Negeri Sipil yang
bersangkutan tidak berhak menerima penghasilan dari Negara.

9. Selama menjalankan cuti di luar tanggungan Negara tidak diperhitungkan sebagai masa
kerja Pegawai Negeri Sipil.

10. Pegawai Negeri Sipil yang tidak melaporkan diri kembali kepada instansi induknya
setelah habis masa menjalankan cuti di luar tanggungan Negara diberhentikan dengan
hormat sebagai Pegawai Negeri Sipil.

11. Pegawai Negeri Sipil yang melaporkan diri kepada instansi induknya setelah habis masa
menjalankan cuti di luar tanggungan Negara, maka :
a.apabila ada lowongan ditempatkan kembali;
b.apabila tidak ada lowongan, maka pimpinan instansi yang bersangkutan melaporkannya
kepada Kepala Badan Administrasi Kepegawaian Negara untuk kemungkinan
ditempatkan pada instansi lain;
c.apabila penempatan yang dimaksud dalam huruf b tidak mungkin, maka Pegawai
Negeri Sipil yang bersangkutan diberhentikan dari jabatannya karena kelebihan dengan
mendapat hak-hak kepegawaian menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku.

3.Perawatan, Tunjangan Cacat Dan Uang Muka


A. Peraturan Tentang Pengobatan, Perawatan Dan Rehabilitas Pegawai

PENJELASAN
ATAS
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA
NOMOR 12 TAHUN 1981

TENTANG

PERAWATAN, TUNJANGAN CACAD, DAN UANG DUKA


PEGAWAI NEGERI SIPIL

UMUM
Dalam melaksanakan tugas kewajibannya, Pegawai Negeri Sipil tidak luput dari kemungkinan
menghadapi risiko, seperti kecelakaan yang mengakibatkan Pegawai Negeri Sipil yang
bersangkutan sakit, cacad atau tewas.
Apabila Pegawai Negeri Sipil yang sakit karena dinas atau mengalami kecelakaan karena dinas
mengakibatkan Pegawai Negeri Sipil yang bersangkutan sakit atau cacad, sudah selayaknyalah
mereka mendapat pengobatan, perawatan, dan atau rehabilitasi atas biaya Negara.
Kepada Pegawai Negeri Sipil yang cacad karena dinas, yang mengakibatkan ia tidak dapat
bekerja lagi dalam semua jabatan Negeri, perlu diberikan penghargaan dalam bentuk tunjangan
cacad sehingga ia dapat hidup layak.
Biaya pemakaman Pegawai Negeri Sipil yang tewas seluruhnya ditanggung oleh Negara dan
kepada keluarganya diberikan penghargaan dalam bentuk uang duka.
Dengan adanya jaminan pengobatan, perawatan, dan atau rehabilitasi serta penghargaan
sebagaimana dimaksud di atas, maka diharapkan setiap Pegawai Negeri Sipil melaksanakan
tugasnya dengan bersemangat dan penuh rasa pengabdian dan tanggungjawab sebagai Aparatur
Negara, Abdi Negara, dan Abdi Masyarakat.
PASAL DEMI PASAL
Pasal 1
Cukup jelas.
Pasal 2
Ayat (1)
Sakit karena dinas sebagaimana dimaksud dalam ayat ini, adalah sakit yang diderita
sebagai akibat langsung dari kecelakaan karena dinas.
Rehabilitasi sebagaimana dimaksud dalam ayat ini hanya menyangkut rehabilitasi medis.
Ayat (2)
Surat pernyataan yang dimaksud dalam ayat ini dibuat oleh pimpinan instansi tempat
Pegawai Negeri Sipil yang bersangkutan bekerja, serendah-rendahnya pejabat eselon IV
atau unit kerja yang berdiri sendiri. Surat pernyataan tersebut antara lain memuat
keterangan, bahwa kecelakaan itu terjadi dalam salah satu keadaan yang dimaksud dalam
Pasal 1 huruf b.
Surat- keterangan tentang sakit karena dinas sebagai akibat langsung dari kecelakaan
karena dinas, dibuat oleh dokter Pemerintah setempat atas permintaan pimpinan instansi
yang bersangkutan. Apabila pada tempat itu tidak ada dokter Pemerintah, maka surat
keterangan tersebut dibuat oleh dokter swasta.
Berita acara tentang kecelakaan sebagaimana dimaksud dalam ayat ini dibuat oleh
pejabat yang berwajib, seperti polisi atau pamong praja setempat.
Ayat (3)
Keputusan pemberian pengobatan, perawatan, dan atau rehabilitasi sebagaimana
dimaksud dalam ayat ini, ditetapkan dengan berwenang berdasarkan surat pernyataan
dari pimpinan instansi yang bersangkutan dan surat keterangan atau berita acara dari
yang berwajib. Pertimbangan dokter sebagaimana dimaksud dalam ayat ini, dibuat secara
tertulis yang antara lain memuat keterangan tentang perlunya Pegawai Negeri Sipil yang
bersangkutan diobati, dirawat, dan atau direhabilitasi. Pertimbangan tersebut dibuat oleh
dokter Pemerintah setempat, dan apabila pada tempat itu tidak ada dokter Pemerintah,
maka pertimbangan tersebut dibuat oleh dokter swasta.
Ayat (4)
Cukup jelas.
Pasal 3
Ayat (1)
Pengobatan, perawatan, dan atau rehabilitasi sebagaimana dimaksud dalam ayat ini pada
dasarnya dilakukan pada Pusat Kesehatan Masyarakat (PUSKESMAS). Apabila pada
suatu Kecamatan tidak terdapat PUSKESMAS atau apabila PUSKESMAS tersebut tidak
memiliki peralatan untuk pengobatan, perawatan, dan atau rehabilitasi yang diperlukan,
maka Pegawai Negeri Sipil tersebut diobati, dirawat, dan atau direhabilitasi pada rumah
sakit yang terdekat, baik rumah sakit Pemerintah maupun rumah sakit swasta.
Apabila di daerah yang bersangkutan tidak terdapat rumah sakit Pemerintah, maka
Pegawai Negeri Sipil tersebut diobati, dirawat, dan atau direhabilitasi di rumah sakit
swasta yang terdekat yang ditunjuk oleh Menteri Kesehatan.
B. Tunjangan Cacat Pegawai

Tunjangan Cacat (PP No. 12 Tahun 1981)

Kepada PNS yang menderita cacat karena dinas, yang mengakibatkan PNS tersebut tidak
dapat bekerja lagi dalam semua jabatan negeri berdasarkan surat keterangan Tim Penguji
Kesehatan, diberikan tunjangan cacat di atas pensiun yang berhak diteirmanya.
Tunjangan ditetapkan oleh pejabat berwenang (Menteri, Jaksa Agung, Pimpinan LPND,
Pimpinan Kesekretariatan Lembaga Tinggi Negara, dsb) bagi PNS berpangkat Pembina Tk.I
(Gol IV/b) ke bawah setelah mendapat persetujuan Kepala BKN.
Tunjangan ditetapkan oleh Presiden bagi PNS yang berpangkat Pembina Utama Muda (Gol.
IV/c) ke atas setelah mendapat pertimbangan dari Kepala BKN.

Besarnya tunjangan cacat tiap-tiap bulan adalah:


1. 70% gaji pokok bila kehilangan fungsi:
a. Penglihatan pada kedua belah mata.
b. Pendengaran pada kedua belah telinga.
c. Kedua kaki dari pangkal paha atau dari lutut ke bawah.

2. 50% gaji pokok, bila kehilangan fungsi:


a. Lengan dari sendi bahu ke bawah.
b. Kedua belah kaki dari pangkal paha.

3. 40% gaji pokok, bila kehilangan fungsi:


a. Lengan dari siku atau dari atas siku ke bawah.
b. Sebelah kaki dari pangkal paha.

4. 30% gaji pokok, bila kehilangan fugsi


a. Penglihatan sebelah mata.
b. Pendengaran sebelah telinga.
c. Tangan dari pergelangan atau dari atas pergelangan ke bawah.
d. Sebelah kaki dari mata kaki ke bawah.

5. 30% sampa 70% gaji pokok adalah berdasar pertimbangan Tim Penguji Kesehatan dan hal-hal
lain yang dapat dipersamakan dengan keadaan yang tersebut pada angka 1) sampai dengan angka
4).

6. Dalam hal terjadi beberapa jenis cacat atau PNS, maka besarnya tunjangan cacat dengan jumlah
persentase setiap cacat, dengan ketentuan sebanyak-banyaknya 100% gaji pokok PNS
bersangkutan.

Dasar hukum :
1. Undang-undang Republik Indonesia Nomor 8 Tahun 1974 tentang Pokok-pokok Kepegawaian
sebagaimana telah diubah dengan Undang-undang Republik Indonesia Nomor 43 Tahun 1999.
2. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 12 Tahun 1981 tentang Perawatan, tunjangan
Cacat, dan Uang Duka Pegawai Negeri Sipil.
3. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 1983 tentang Perlakuan terhadap
Calon Pegawai Negeri Sipil yang Tewas atau Cacat Akibat Kecelakaan karena Dinas.
Sakit karena dinas : Adalah sakit yang diderita sebagai akibat langsung dari pelaksanaan tugas.
Pegawai Negeri Sipil yang mengalami kecelakaan/sakit karena dinas berhak memperoleh
pengobatan, perawatan, dan atau rehabilitasi atas biaya negara.
Cacat karena dinas : Adalah cacat jasmani/rohani yang disebabkan oleh kecelakaan karena
dinas/sakit karena dinas. Tunjangan cacat diberikan kepada Pegawai Negeri Sipil yang cacat
karena dinas dan yang bersangkutan tidak dapat bekerja lagi dalam semua jabatan negeri.
Tewas : Adalah meninggal dunia dalam dan karena menjalankan tugas dan kewajiban, atau
dalam keadaan lain yang ada hubungannya denga dinas, atau karena luka/cacat jasmani/rohani
yang didapat dalam dan karena dinas, atau karena perbuatan anasir yang tidak bertanggung
jawab.
Calon Pegawai Negeri Sipil Cacat dan Tewas karena Dinas
o Karena cacat =} dapat diangkat Pegawai Negeri Sipil terhitung mulai tanggal surat keterangan
Tim Penguji Kesehatan.
 Karena tewas =} dapat diangkat Pegawai Negeri Sipil terhitung awal bulan yang bersangkutan
tewas.

C. Uang Duka Dan Biaya Pemakaman

Uang Duka dan Biaya Pemakaman (PP No. 12 Tahun 1981)

1. Uang Duka Tewas


Kepada isteri/suami PNS yang tewas diberikan uang duka tewas 6 kali penghasilan bersih,
dengan ketentuan serendah-rendahnya Rp. 500.000. penghasilan terdiri dari gaji pokok,
tunjangan keluarga, tunjangan jabatan & tunjangan lain yang berhak diterimanya berdasar
peraturan yang berlaku.

i. Apabila PNS yang tewas tidak meninggalkan:


 Isteri/suami, uang duka tewas diberikan kepada anaknya.
 Isteri/suami dan anak, uang tewas diberikan kepada orangtuanya.
 Isteri/suami, anak dan orangtua, uang duka tewas diberikan kepada yang menyelenggarakan
upacara pemakaman almarhum/almarhumah.
ii. Yang duka diberikan dengan keputusan Menteri, Jaksa Agung, Pimpinan Kesekretariatan
Lembaga Tinggi Negara, Pimpinan LPND, dsb bagi semua pangkat dan golongan PNS di
instansi masing-masing setelah mendapat persetujuan Kepala BKN.
iii. Uang duka tewas didasarkan atas penghasilan menurut pangkat anumerta.

2. Biaya Pemakaman
a. PNS yang tewas, biaya pemakamannya ditanggung negara.
Biaya meliputi:
 perawatan jenazah,
 pemandian jenazah dan perlengkapannya.
 Tanah pemakaman dan biaya di tempat pemakaman.
 Angkutan jenazah dari tempat pemakaman serta biaya persiapan pemakaman.
 Angkutan dan penginapan bagi isteri/suami dan semua anak yang sah.
3. Biaya penginapan diberikan untuk paling lama 10 hari.

4. Uang Duka Wafat


a. Kepada isteri/suami PNS yang wafat diberikan uang duka wafat sebesar 3 kali penghasilan
sebulan dengan ketentuan serendah-rendahnya Rp. 100.000.
b. Ketentuan pada butir e 1 b berlaku juga pada PNS yang wafat.
c. Uang duka wafat diberikan tanpa keputusan pejabat yang berwenang, melainkan cukup
Bendaharawan Gaji mengajukan uang duka dengan melampirkan surat kematian.

4. Pendidikan Dan Pelatihan Pegawai Negeri Sipil

A. Pengertian Dan Tujuan Pendidikan Dan Pelatihan PNS


Pendidikan dan Pelatihan Pegawai Negeri Sipil yang selanjutnya disebut Diklat adalah
proses penyelenggaraan belajar mengajar dalam rangka meningkatkan kemampuan Pegawai
Negeri Sipil. Untuk mencapai daya guna dan hasil guna yang sebesar-besarnya diadakan
pengaturan dan penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan jabatan Pegawai Negeri Sipil yang
bertujuan untuk meningkatkan pengabdian, mutu, keahlian, kemampuan, dan keterampilan.
Pengertian Pendidikan & Pelatihan yang dimaksud Peraturan Pemerintah Republik Indonesia
Nomor 101 Tahun 2000 adalah proses penyelenggaraan belajar mengajar dalam rangka
meningkatkankemampuanPegawaiNegeriSipil.

Tujuan Pendidikan dan Pelatihan

1. Meningkatkan pengetahuan, keahlian, ketrampilan dan sikap untuk melaksanakan tugas


jabatan secara profesional dengan dilandasi kepribadian dan etika PNS sesuai dengan
kebutuhan instansi.
2. Menciptakan aparatur yang mampu berperan sebagai pembaharu dan perekat persatuan
dan kesatuan bangsa.

3. Memantapkan sikap dan semangat pengabdian yang berorientasi pada pelayanan,


pengayoman dan pemberdayaan masyarakat.

4. Menciptakan kesamaan visi dan dinamika pola pikir dalam melaksanakan tugas
pemerintahan umum dan pembangunan demi terwujudnya kepemerintahan yang baik.

B. Penggolongan Pendidikan Dan Pelatihan PNS

1. Pendidikan dan Pelatihan Prajabatan


Pendidikan dan Pelatihan Prajabatan adalah diklat untuk membentuk wawasan
kebangsaan, kepribadian dan etika Pegawai Negeri Sipil serta memberikan pengetahuan dasar
tentang system penyelenggaraan Pemerintahan Negara dan tentang bidang tugas serta budaya
organisasinya agar mampu melaksanakan tugas jabatan sebagai Pegawai Negeri Sipil.

Pendidikan dan Pelatihan Prajabatan adalah merupakan syarat pengangkatan Calon Pegawai
Negeri Sipil (CPNS) menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS), Diklat Prajabatan terdiri atas:

1. Diklat Prajabatan Golongan I untuk menjadi PNS Golongan I.

2. Diklat Prajabatan Golongan II untuk menjadi PNS Golongan II.

3. Diklat Prajabatan Golongan III untuk menjadi PNS Golongan III.

2. Pendidikan dan Pelatihan dalam jabatan


Jenjang Pendidikan dan Pelatihan dalam Jabatan
Pendidikan dan Pelatihan dalam Jabatan Pegawai Negeri Sipil ada 3 (tiga) jenis, yaitu :

3. Pendidikan dan Pelatihan Kepemimpinan (Diklatpim)


Diklat Kepemimpinan adalah diklat yang memberikan wawasan, pengetahuan, keahlian,
ketrampilan, sikap dan perilaku dalam bidang kepemimpinan aparatur, sehingga mencapai
persyaratan kompetensi kepemimpinan dalam jenjang jabatan struktural tertentu.
Diklat Kepemimpinan dilaksanakan untuk mencapai persyaratan kompetensi kepemimpinan
aparatur pemerintah yang sesuai dengan jenjang jabatan struktural. Diklat Kepemimpinan terdiri
atas empat jenjang:
d. Diklat Kepemimpinan Tingkat IV untuk Jabatan Struktural Eselon IV.
e. Diklat Kepemimpinan Tingkat III untuk Jabatan Struktural Eselon III.
f. Diklat Kepemimpinan Tingkat II untuk Jabatan Struktural Eselon II.
g. Diklat Kepemimpinan Tingkat I untuk Jabatan Struktural Eselon I.
4. Pendidikan dan Pelatihan Fungsional
Diklat Fungsional adalah diklat yang memberikan bekal pengetahuan dan/atau
ketrampilan bagi Pegawai Negeri Sipil sesuai keahlian dan ketrampilan yang diperlukan dalam
jabatan fungsional.

Diklat Fungsional adalah jenis Diklat Pegawai Negeri Sipil yang dilaksanakan untuk mencapai
persyaratan kompetensi yang disesuaikan dengan jenis dan jenjang jabatan fungsional masing-
masing.

1. Diklat fungsional keahlian yaitu diklat yang memberikan pengetahuan dan keahlian
fungsional tertentu yang berhubungan langsung dengan pelaksanaan tugas jabatan
fungsional keahlian yang bersangkutan.

2. Diklat fungsional ketrampilan yaitu diklat yang memberikan pengetahuan dan


ketrampilan fungsional tertentu yang berhubungan langsung dengan pelaksanaan tugas
jabatan fungsional keahlian yang bersangkutan.

5. Pendidikan dan Pelatihan Teknis


Diklat teknis dilaksanakan untuk mencapai persyaratan kompetensi teknis yang diperlukan untuk
pelaksanaan tugas PNS. Kompetensi Teknis adalah kemampuan PNS dalam bidang-bidang teknis
tertentu untuk pelaksanaan tugas masing-masing.

1. Diklat teknis bidang umum/administrasi dan manajemen yaitu diklat yang memberikan
ketrampilan dan/atau penguasaan pengetahuan di bidang pelayanan teknis yang bersifat
umum dan di bidang administrasi dan manajemen dalam menunjang tugas pokok instansi
yang bersangkutan.

2. Diklat teknis substantif yaitu diklat yang memberikan ketrampilan dan/atau penguasaan
pengetahuan teknis yang berhubungan secara langsung dengan pelaksanaan tugas pokok
instansi yang bersangkutan.

i. Latihan Pra Jabatan Dan Dalam Jabatan

1. Pelatihan Prajabatan (preservivice training)


Merupakan pelatihan yang diberikan kepada tenaga kerja baru dengan tujuan agar tenagaa
kerja yang bersangkutan dapat terampil melaksanakan tugas dan pekerjaan yang akan
dipercayakan kepadanya.

Pelatihan ini dibedakan menjadi 2, yaitu:


 Pelatihan prajabatan yang bersifat umum
Yaitu pelatihan prajabatan yang harus diikuti tenaga kerja baru mengenai hal-hal umum
yang menyangkut seluruh lingkungan pekerjaan, termasuk segala peraturan dan kebijakan yang
berlaku dalam perusahaan, sifatnya tertulis maupun tidak tertulis.

Pelaksanaan pelatihan prajabatan yang bersifat umum dapat dibagi menjadi tiga tingkatan, yaitu:
 Pelatihan prajabatan tingkat I, yaitu prajabatan yang diperuntukkan bagi para tenaga kerja biasa
yang tidak akan diserahi jabatan tertentu dalam perusahaan tempat mereka bekerja. Misalnya
para operator, pekerja lapangan dan sebagainya.
 Pelatihan prajabatan tingkat II, yaitu pelatihan prajabatan yang diperuntukkan bagi para tenaga
kerja yang menduduki/ diserahi suatu jabatan tertentu pada tingkatan lower manajer. Misalnya
para kepala shift, supervisor, kepala seksi, mandor, kepala mandor dan sebagainya.
 Pelatihan prajabatan tingkat III, yaitu pelatihan prajabatan yang diperuntukkan bagi para tenaga
kerja yang akan menduduki/diserahi suatu jabatan tertentu pada tingkat middle manajer atau
manajer tingkat menengah dan anggota board of director (dewan direksi) serta presiden
perusahaan. Misalnya kepala bagian, kepala divisi, para manajer bidang dan sebagainya.

2. Pelatihan Prajabatan yang Bersifat Khusus


Yaitu pelatihan prajabatan yang dilaksanakan para tenaga kerja tertentu untuk melaksanakan
tugas dan pekerjaan memerlukan pengetahuan dan keterampilan secara khusus. Jadi, pelatihan
prajabatan bersifat khusus ruang lingkupnya terbatas pada kegiatan yang bersifat teknis dan
terbatas pada satu lingkungan pekerjaan saja.

3. Pelatihan dalam Jabatan (In Service Training)


Adalah suatu pelatihan tenaga kerja yang dilaksanakan dengan tujuan meningkatkan
kualitas, keahlian, kemampuan dan keterampilan para tenaga kerja yang bekerja dalam
perusahaan.

Pelatihan dalam jabatan dibedakan menjadi 2, yaitu:


 Pelatihan dalam jabatan yang bersifat umum
Yaitu pelatihan dalam jabatan yang diselenggarakan untuk para tenaga kerja, baik tingkat
manajer puncak, manajer menengah dan manajer bawah, maupun para pekerja lapangan.
Biasanya pelatihan dalam jabatan yang bersifat umum diberikan kepada para tenaga kerja
yang baru dipromosikan dari jabatan ke jenjang yang lebih tinggi. Namun dalam banyak hal,
sering juga diberikan kepada para tenaga kerja yang baru dimutasikan pada jabatan lain yang
setaraf dengan jabatan sebelumnya.
 Pelatihan dalam jabatan yang bersifat khusus
Yaitu pelatihan dalam jabatan yang diselenggarakan untuk para tenaga kerja yang ada dalam
perusahaan akibat adanya inovasi baru atas segala sarana dan prasarana yang digunakan
perusahaan dengan tujuan agar tenaga kerja yang bersangkutan mampu mempergunakan dan
mengoperasikan sarana dan prasarana tersebut.

 Menurut GR Terry, mengemukakan pelatihan dapat digolongkan dalam banyak cara:


1. Pelatihan untuk pekerjaan sekarang dan pelatihan untuk pekerjaan waktu yang
akan datang

2. Pelatihan untuk masing-masing atau untuk semuanya tentang pengetahuan,


pekerjaan dan kecakapan bekerja

3. Keterangan pokok untuk pengembangan perorangan dan produksi khusus dalam


penerapan pekerjaan tertentu.

4. Menurut GR Terry, jenis pelatihan dapat dibedakan menjadi :

 Pelatihan sebelum Penempatan (Pre-Employment Training.


Dalam hal ini berhubungan dengan jenis dan jumlah instruksi yang diperlukan tenaga kerja
yang tidak berpengalaman sebelum mereka bekerja pada perusahaan yang bersangkutan.
Pelatihan ini biasanya diberikan oleh lembaga-lembaga pendidikan di luar perusahaan, seperti
perguruan tinggi, universitas/institut, akademi dan lain-lain.

 Pelatihan Induksi (Induction Training.


Tujuannya adalah untuk melengkapi tenaga kerja baru dengan keterangan dan informasi
yang diperlukan untuk pengetahuan dan pengertian yang lengkap tentang praktek dan prosedur
perusahaan. Termasuk dalam pelatihan induksi adalah mengucapkan selamat datang atau
menyambut dengan baik tenaga kerja baru, menjelaskan ketentuan dan peraturan yang berlaku,
mengenalkan dengan kesejahteraan sosial tenaga kerja, memberikan keterangan dan informasi
kepadanya tentang kebijaksanaan dan kinerja dalam perusahaan serta memberikan kepadanya
tentang apa yang diharapkan dari dia sebagai tenaga kerja.

 Pelatihan di tempat kerja (on the job training)


Diselenggarakan dengan maksud membentuk kecakapan tenaga kerja yang diperlukan
untuk suatu pekerjaan tertentu. Pelatihan ini berusaha mengisi celah antara kemampuan pekerja
dengan kemampuan yang diperlukan pekerjaan. Pekerjaan dapat berupa pekerjaan saat ini atau
pekerjaan masa datang.
Pelatihan Penyelia (Supervisory Training)
Diselenggarakan dengan tujuan memberikan keterangan dan informasi yang berhubungan
dengan teori dan aplikasi mengenai teknis penyelia. Kursus dalam pelatihan penyelia telah
direncanakan dan kebanyakan kursus semacam itu pada ummnya dipandang efektif.

 semacam itu pada umumnya dipandang efektif.

 semacam itu pada umumnya dipandang efektif.

 semacam itu pada umumnya dipandang efektif.


MATERI XI TENTANG
PERTEMUAN/RAPAT

A. Pengertian pertemuan/rapat
Rapat adalah kumpulan atau kumpulan dalam suatu organisasi, perusahaan, instansi
pemerintah baik alam situasi formal maupun informal untuk membicarakan, merundingkan dan
memecahkan suatu masalah yang menyangkut kepentingan organisasi/perusahaan.

Pengertian rapat menurut para ahli...


 Menurut Cut Rozanna
Dalam surat menyurat dan komunikasi, rapat adalah pertemuan antara para anggota di
lingkungan organisasi sendiri untuk merundingkan atau menyelesaikan suatu masalah yang
menyangkut kepentingan bersama.
 Menurut Samsir Rambe
Dalam bukunya etika komunikasi mengatakan.
Rapat adalah kumpulan beberapa orang atau organisasi yang akan membicarakan suatu masalah
atau kepentingan bersama untuk memberikan penjelasan, memecahkan suatu persoalan dan
sekaligus mengadakan perundingan demi memperoleh suatu hasil yang di sepakati, di setujui
bersama.

Kesimpulan saya :
pertemuan merupakan tindakan atau proses berkumpul bersama yang diadakan
dalam suatu organisasi, perusahaan, instansi pemerintah baik dala situasi formal
maupun informal yang brtujuan untuk membicarakan, merundingkan, dan
memutuskan suatu masalah berdasarkan hasil kesepakatan bersama.

B. Fungsi pertemuan/rapat
1. Untuk memecahkan masalah
2. Untuk menyampaikan informasi
3. Sebagai forum demokrasi
4. Sebagai alat koordinasi yang baik antara peserta rapat (karyawan) dengan perusahaan/organisasi
5. Sebagai sarana bernegosiasi

C. Jenis-jenis pertemuan/rapat
Pertemuan terdiri atas beberapa jenis, tergantung cara pandangnya atau segi peninjauannya.

1. Berdasarkan Tujuan
Menurut tujuannya, rapat dapat dibedakan menjadi tiga jenis, yaitu :
a) Rapat penjelasan ( information conforence )
Rapat penjelasan adalah rapat yang diselengarakan untuk memberikan penjelasan kepada
para peserta rapat dari pimpinan.
b) Rapat pemecahan masalah ( problem solving conforence )
Rapat pemecahan masalah adalah rapat yang dilaksanakan untuk menemukan pemecahan
tentang suatu masalah yang sedang di hadapi .
c) Rapat perundingan ( negotiation conference )
Rapat perundingan adalah rapat yang diselengarakan dengan tujuan menghindarkan
timbulnya suatu perselisihan, mencari jalan tengah agar tidak merugikan kedua belah pihak .

2. Berdasarkan sifat
Menurut sifatnya, rapat dapat dibedakan menjadi empat jenis, yaitu :
a) Rapat resmi ( formal meeting )
Rapat resmi adalah rapat yang dilaksanakan dengan suatu perencanaan terlebih dahulu,
sesuai dengan aturan yang berlaku.
b) Rapat tidak resmi ( informal meeting )
Rapat tidak resmi adalah rapat yang dilaksanakan tanpa suatu perencanaan yang bersifat
resmi.
c) Rapat terbuka
Rapat terbuka adalah rapat yang dihadiri oleh seluruh anggota organisasi dan materi yang
dibahas merupakan masalah-masalah yang tidak bersifat rahasia.
d) Rapat tertutup
Rapat tertutup adalah rapat yang hanya dihadiri oleh peserta rapat tertentu saja dan masalah
yang dibahas merupakan masalah yang bersifat rahasia.

3. Berdasarkan jangka waktunya


Menurut jangka waktunya, rapat dapat di bedakab menjadi empat jenis, yaitu :
a) Rapat mingguan
Rapat mingguan adalah rapat yang diadakan seminggu sekali dan biasanya membahas
masalah-masalah yang bersifat rutin .
b) Rapat bulanan
Rapat bulanan adalah rapat yang diadakan sebulan sekali dan biasanya membahas masalah-
masalah yang terjadi selama sebulan yang lalu .
c) Rapat semester
Rapat semester adalah rapat yang diadakan selama enam bulan sekali yang membahas
masalah-masalah yang terjadi selama enam bulan yang lalu dan program-program selanjutnya
untuk enam bulan kedepan.
d) Rapat tahunan
Rapat tahunan adalah rapat yang diadakan setahun sekali .

4. Berdasarkan frekuensi
Menurut frekuensinya, rapat dapat dibedakan menjadi dua jenis, yaitu :
a) Rapat rutin
Rapat rutin adalah rapat yang ditentukan waktunya ( mingguan, bulanan, tahunan ).
b) Rapat insedentil
Rapat insedentil adalah rapat yang terjadi tanpa direncanakan terlebih dahulu dan tidak
terjadwal.

5. Berdasarkan nama
Menurut nama, rapat dapat dibedakan menjadi tiga jenis, yaitu :
a) Rapat kerja
Rapat kerja adalah rapat para karyawan atau pimpinan guna membahas hal-hal yang
berhubungan dengan pelaksanaan tugas suatu instansi.
b) Rapat dinas
Rapat dinas adalah rapat yang membicarakan masalah kedinasan atau kerjaan ( biasanya
dilaksanakan oleh orang-orang yang bertugas di instansi pemerintah ).
c) Musyawarah kerja
Musyawarah kerja adalah kata lain dari rapat kerja.

6. Berdasarkan urgensinya
Menurut urgensinya, rapat dapat dibedakan menjadi dua jenis, yaitu :
a) Rapat biasa
Rapat biasa adalah rapat yang dilaksanakan untuk masalah-masalah yang sudah di anggap
biasa.
b) Rapat penting
Rapat penting adalah rapat yang diadakan untuk membahas masalah-masalah yang dianggap
penting karena akan menghasilkan dampak penting bagi anggota organisasi/perusahaan itu
sendiri.

7. Berdasarkan pesertanya
Menurut pesertanya, rapat dapat dibedakan menjadi dua jenis, yaitu :
a) Rapat vertikal
Rapat vertikal adalah rapat yang diadakan, dimana yang hadir dalam rapat itu adalah atasan
dan bawahan.
b) Rapat horizontal
Rapat horizontal adalah rapat yang diadakan atara penjabat suatu organisasi/ perusahaan yang
sederajat.

D. Tujuan pertemuan
Beberapa tujuan diadakannya rapat, yaitu :
a) Untuk memecahkan atau mencari jalan keluar suatu masalah
b) Untuk menyampaikan informasi, perintah, pernyataan.
c) Sebagai koordinasi antar intern atau antar ekstrn
d) Agar peserta rapat dapar berpartisipasi kepada masalah-masalah yang seddang terjadi
e) Mempersiapkan suatu acara atau kegiatan
f) Menampung semua permasalahan dari arus bawah
g) Agar tujuan rapat dapat dicapai, analisis terlebih dahulu bagaimana tingkat kecapaian dari tujuan
tersebut

E. Syarat-syarat pertemuan yang baik


a) Suasana terbuka
Artinya, setiap peserta rapat siap untuk menerima informasi dari siapapun. Hindari sikap
saling mencurigai dan berprasangka negative diantara sesama peserta rapat.
b) Tidak ada monopoli
Rapat yang baik adalah demokratis. Artinya, tidak ada tindak menindas atau ingin menguasai
sendiri.
c) Partisipasi aktif dari peserta rapat
Artinya, tiap peserta rapat aktif ambil bagian dalam jalannya rapat, yaitu harus menjadi
pendengar atau pembicara yang baik.
d) Bimbingan dan pengawasan dari pimpinan
Rapat yang baik harus terarah karena ada bimbingan dan pengawasan dari ketua/pemimpin
rapat.
e) Perdebatan berdasarkan argumentasi bukan emosi
Dalam sebuah rapat yang dicari adalah suatu kebenaran bukan perselisihan atau saling
menjatuhkan antara peserta rapat.
f) Pernyataan singkat dan jelas
pernyataan yang diajukan dalam rapat hendaknya cukup singkat, padat, menuju sasaran, dan
tidak bertele-tele, serta jelas sehinggan mudah dimengerti oleh seluruh peserta rapat.
g) Disiplin waktu
membiasakan pelaksanaan rapat sesuai dengan waktu yang telah ditentukan akan membuat
peserta rapat menjadi lebih disiplin dan pelaksanaan rapat menjadi lebih tertib.
h) Selalu ada kesimpulan
rapat yang baik adalah yang mampu membuat dibuat kesimpulan atau keputusan bersama.

F. Tipe peserta dan pemimpin


Berikut ini akan dibahas lebih lanjut mengenai tipe-tipe peserta dan pimpinan rapat.

Adapun tipe-tipe peserta rapat :


a) Tipe pemberi informasi
Yaitu, peserta rapat dengan tipe pemberi informasi memiliki ilmu pengetahuan dan wawasan
yang sangat luas serta ingatan yang sangat kuat terhadap sesuatu, sehingga sering dijuuki kamus
berjalan.
b) Tipe pemberi semangat
Peserta rapat yang memiliki tipe ini biasanya memiliki moral dan disiplin kerja yang tinggi
sehingga orang nya cukup beribawa dan disegani.
c) Tipe inisiatif
Yaitu, peserta rapat dengan tipe inisiatif biasanya akan muncul saat menemui kemacetan karna
kurangnya kemacetan atau tidaknya data-data yang jelas untuk menyesaikan masalah yang
dibahas.
d) Tipe pemersatu
Yaitu, peserta rapat yang mempunyai tipe pemersatu biasanya memiliki sifat pengertian,
sabar, toleran yang tinggi, dan berjiwa besar.
e) Tipe penyerang
Yaitu, peserta rapat tipe ini gemar menyerang atau menyalahkan pendapat orang lain,
sehingga memancing timbulnya perdepatan yang panjang dan menimbulkan perpecahan dalam
kelompok.
f) Tipe perantara
Yaitu, peserta rapat dengan tipe perantara biasanya akan bertindak sebagai perantara atau
menjabatani antara orang/kelompok yang berbeda.
g) Tipe pendengar
Yaitu, peserta rapat dengan tipe pendengar biasanya bersifat pasif, hanya mendengarkan
informasi-informasi yang disampaikan oleh pemimpin rapat atau peserta rapat lain nya.
Adapun tipe-tipe pemimpin rapat :
a) Tipe otorior
adalah pemimpin yang suka memaksakan kehendaknya, merasa saling berkuasa dan merasa
paling mengetahui segala ha, sehingga kurang memberikan kesempatan untuk mengemukakan
pendapatnya.
b) Tipe demokratis
adalah pemimpin yang bersifat terbuka, mau menerima kritik dan saran dari peserta rapat,
memberikan kesempatan kepada peserta rapat untuk mengmukakan pendapatnya, berperan
sebagai pembimbing, pengarah, pemberi petujuk dan teribat langsung daalam interaksi
kelompok.
c) Tipe laizess-faire
adalah pemimpin yang memberikan kebebasan kepada para peserta rapat untuk
mengendalikan jalannya rapat.

G. Teknik pengendaian rapat


Tiga teknik pengendalian rapat :
a) Pengendalian rapat bebas
adalah pengendalian rapat yang memberikan kesempatan secara bebas kepada para peserta
rapat untuk mengemukakan pendapatnya secara bergantian.
b) Pengendalian rapat secara ketat
adalah pengendalian rapat yang tidak memberikan kesempatan bertanya atau mengeluarkan
pendapat kepada para pesertanya.
c) Pengendalian gabungan bebas terbatas
adalah pengendalian rapat yang memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada para peserta
rapat untuk mengeluarkan pendapatnya dan apabila keadaan sudah mulai kurang terkendali,
pemimpin rapat langsung menggunakan cara pengendalian ketat, sehingga keadaan normal
kembai.

H. Perencanaan rapat
Langkah-langkah yang perlu mendapat perhatian sekretaris dalam merencanakan rapat yang
sifatnya resmi adalah :
a) Persiapan ruangan dan tata ruang rapat
ruangan untuk menyelengarakan rapat resmi sangat menentukan kelancaran jalannya rapat.
b) Persiapan administrasi
 Membuat surat undangan rapat
 Menyusun acara/agenda rapat
 Menyusun daftar hadir
 Mempersiapkan bahan rapat
c) Persiapan peralatan rapat
sekretaris perlu mengiventarisasi alat-alat yang digunakan untuk keperluan pertemuan seperti:
 Papan dan alat tulis
 Flip chart, yaitu kertas-kertas yang digunakan dengan lengkap dengan markernya
 OHP, slide lengkap dengan layarnya dengan program Microsoft PowerPoint
 Sound system, tape recorde
 Map atau tas untuk tempat bahan-bahan rapat
 Bock note, ball point
 Tustel handycame untuk mengabadikan rapat
 Membuat catatan hasil rapat (notulis )

I. Pelaksanaan rapat
Pelaksanaan rapat, yaitu :
a) Suasana rapat berangsung terbuka
b) Para peserta rapat berpartisipasi aktif
c) Adanya kendali dari ketua rapat
d) Hindarkan debat kusir
e) Bahasa harus komunikatif
f) Hindarkan monopoli ketika berbicara
g) Terdapat keputusan dari kesimpulan rapat
h) Adanya notulen
i) Acara rapat
j) Media rapat
k) Waktu

J. Media rapat
Media rapat adalah fasilitas atau peralatan yang biasa digunakan dalam
suatu rapat baik rapat dengan peserta yang sedikit ataupun banyak, baik rapat
formal maupun rapat informal

Contoh media rapat


1. Harus ada ruangan rapat
2. Meja rapat
3. Kursi rapat
4. Lampu penerangan
5. Papan tulis / white board
6. File chard / media pembantu rapat
7. Shound system / pengeras suara
8. Alat tulis, buku, dan aneka kertas
9. Infokus
10. Leptop / komputer

K. Persyaratan untuk menjadi seorang notulis yang handal


1. Mampu mendengar dan menulis
2. Mampu memilah dan memilah hal yang penting dan yang tidak penting
3. Mampu konsentrasi yang tinggi
4. Mampu menulis cepat atau stenografis
5. Mampu bersikap objektif dan jujur
6. Mampu menguasai bahasa baku dan menguasai materi pembahasan
7. Mampu mengetahui kebutuhan pembaca notula
8. Mampu mampu mengemukakan hasil menndengarkan dengan cepat, ringkas dan tepat
9. Mampu menguasai metode pencatatan sistematis
10. Mampu menguasai metode pengolahan data
11. Mampu menguasai berbagai hal yang berkaitan dengan rapat
12. Mampu menyimpulkan hasil rapat

L. Teknik bertanya di dalam rapat


Salah satu agenda dalam rapat adalah tanya jawab, bertanya memungkinkan peserta rapat
mendapat informasi lebih detail. Bertanya juga dapat memperjelas materi yang baru didapat, atau
juga bertanya dapat mengajukan masalah diluar dari materi yang dibahas namun tetap terkait.
Pada saat mengajukan pertanyaan hendaknya menggunakan tata cara atau teknik yang benar,
sehingga seorang peserta rapat tidak asal bertanya saja. Berikut ini beberapa teknik bertanya
pada saat rapat sedang berlangsung.

1. Pertanyaan Langsung (direct question)

Pertanyaan langsung merupakan pertanyaan yang biasanya dilakukan oleh pemimpin rapat,
dengan memberikan pertanyaan langsung pimpinan bertujuan untuk memberikan motivasi dan
dorongan agar peserta rapat dapat berpartisipasi aktif. Namun jika orang yang ditanya secara
langsung tidak dapat menjawab pertanyaan pimpinan tadi malah akan membuat kurang percaya
diri.
Contohnya: Pimpinan bertanya pada salah seorang peserta rapat "Menurut Pak Joko,
bagaimana cara meningkatkan penjualan komputer perusahaan kita bulan depan?"

2. Pertanyaan tidak langsung/dioperkan


Pada saat ada yang bertanya, pertanyaannya dialihkan atau dipindahkan kepada peserta lainnya
yang diperkirakan dapat menjawab atau agar jawabannya dipikirkan bersama oleh forum rapat.
Contohnya: Saudari Tini, tadi saudari Ani menanyakan perihal mengenai open management.
Apakah Sadari tahu mengenai itu?

3. Pertanyaan Umum (overhead question)


Pertanyan umum merupakan teknik bertanya kepada seluruh peserta rapat. Tujuan menggunakan
teknik bertanya umum adalah untuk mengaktifkan seluruh peserta rapat agar sama-sama berfikir
menjawab pertanyaan yang ditujukan kepada seluruh peserta rapat.
Contohnya: Saudara-saudara apakah kita perlu menambah cabang perusahaan yang baru?

4. Pertanyaan Terbuka (open question)


Pertanyaan terbuka adalah teknik bertanya kepada seluruh peserta dengan pertanyaan terbuka,
maksudnya adalah pertanyaan diajukan secara terbuka dan menimbulkan jawaban yang
bermacam-macam. Kalimat pertanyaan terbuka biasanya diawali dengan apa, bagaimana,
mengapa, bilamana, siapa, kapan.
Contoh: Berapa lama kita akan menyewa tanah tersebut?

5. Pertanyaan Mengembalikan (reverse question)


Yang dimaksud pertanyaan mengembalikan adalah mengembalikan pertanyaan kepada orang
yang bertanya atau dengan kata lain, pertanyaan dijawab dengan pertanyaan lagi. Pertanyaan ini
juga dapat di tanyakan lagi kepada peserta rapat yang lain, sehingga semua orang aktif
memikirkan jawaban pertanyaan tersebut.

6. Pertanyaan Faktual (fact Question)


Pertanyaan ini diajukan untuk mencari fakta dan keterangan lain.
Contoh: Siapa saja yang menangani penjualan komputer itu?

7. Pertanyaan Retoris
Pertanyaan retoris adalaah pertanyaan yang tidak memerlukan jawabannya, karena orang lain
sudah tahu jawabannya.
Contohnya: Kalau buka kita yang memajukan perusahaan ini, siapa lagi?.

8. Pertanyaan Penghargaan
Pertanyaan penghargaan ditujukan karena ingin memberikan penghargaan kepada orang yang
memberikan ide atau masukan yang berguna.
Contoh: Bapak Amin, Bapak mengatakan bahwa membuka cabang baru di Tanjungmorawa
akan meningkatkan omset penjualan. Bisakah Bapak jelaskah lebih lanjut?.

9. Leading question
Maksud leading question ialah suatu pertanyaan yang diungkapkan padahal jawabannya telah
ada dalam pertanyaan itu sendiri.
Contohnya: Sarana yang kita miliki memang masih kurang, bukan?

M. Pengertian Notula
Berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia terbitan Balai Pustaka dijelaskan bahwa notula
adalah catatan singkat mengenai jalannya persidagan (rapat) serta hal yang dibicarakan dan
diputuskan.
Notula merupakan sumber informasi atau sebagai dokumen otentik, karena notulen harus ditulis
dengan teliti, tepat dan jelas.
I. Bentuk catatan pertemuan

a) Notula Harfiah
Yang dimaksud dengan notula harfiah adalah laporan atau pencatatan secara kata demi kata
seluruh pembicaraan dalam rapat, tanpa menghilangkan atau menambahka kata lain (kata dari
notulis). Notula harfiah biasanya berbentuk dikte atau catatan stenografi, menulis kembali hasil
rekaman, dan gabungan dari keduanya.
b) Notula Rangkuman
Notula rangkuman adalah laporan ringkas tentang pembicaraan dalam rapat. Oleh karena itu,
notulis harus terampil menilai isi pembicaraan setiap peserta rapat. Notulis harus dapat memilah
dan memilih setiap pembicaraan.
II. Fungsi catatan pertemuan

a) Sebagai Alat Bukti


Apabila ada kasus, maka notula dapat digunakan sebagai bahan pembuktian di pengadilan.
Sebagai contoh: pendaftaran suatu organisasi, bila ada perubahan bentuk atau penutupan suatu
organisasi, membuktikan adanya pelaksanaan tugas tau tidak dilaksanakan tugas tersebut.
b) Sebagai Sumber Informasi Untuk peserta Rapat Yang Tidak Hadir
Meskipun peserta berhalangan hadir, sebaiknya peserta tersebut tetap mengetahui materi rapat
yang dibahas dan mengetahui hasil rapat.
c) Sebagai Pedoman Untuk Rapat Berikutnya
Rapat terdahulu yang memerlukan tindak lanjut, direlisasikan dalam rapat berikutnya sehingga
notula dapat dijadikan pedoman.
d) Sebagai Alat Pengingat Untuk Peserta Rapat
Biasanya setelah pembukaan rapat, dibacakan notula hasil rapat sebelumnya sehingga dapat
mengingatkan para peserta rapat.
e) Sebagai Dokumen
Notula sebagai dokumen sehingga harus disusun dengan rapi menurut kronologis dan dijilid
secara rapi lalu dismpan engan baik sesuai dengan sistem pengarsipan.
f) Sebagai Alat Untuk Rapat Semu
Yang dimaksud dengan rapat semu adalah rapat yang tidak pernah dilaksanakan atau rapat fiktif.
Pada saat menyususn notula biasanya dikonsultasikan terlebih dahulu kepada ahli hukum.
III. Teknik menyusun notula

1. Bila rapat tersebut rapat rutin, sebaiknya diberi nomor urut rapat, bulan, dan tahun rapat.
Misalnya : Rapat Pengurus Yayasan Amal Maret 2007

2. Perlu diinformasikan pada judul notula rapat; apakah rapat tersebut merupakan rapat
pemberian informasi, rapat pemecahan masalah atau rapat pengambilan keputusan.

3. Susunan notula lengkap : dari judul sampai penutup diakhiri dengan tanda tangan
pimpinan dan notulis rapat

4. Walaupun notula dibuat ringkas, namun setiap peserta yang berbicara perlu disebutkan
namanya, misalnya Ibu Meynar memberikan usulan tentang

5. Keputusan yang diambil dalam rapat hendaknya dicatat secara lengkap


6. Waktu dimulai dan berakhirnya rapat dituliskan dalam notula

IV. Hal-hal yang harus diperhatikan dalam pembuatan notula :

1. Ringkas tapi jelas dan lengkap sehingga mudah dipahami dan tidak menimbulkan
penafsiran yang berbeda-beda.

2. Dibuat bukan berdasarkan pemikiran notulis

3. Bila ada usulan dan tanggapan terhadap masalah, dapat dipisahkan cara penulisannya
agar tidak membingungkan

4. Dalam penyusunan notula dibedakan mana saja materi yang berupa penyajian informasi,
materi yang menyangkut pertimbangan khusus, serta materi yang berupa keputusan

5. Menggunakan bahasa yang lugas dan langsung pada pokok pembicaraan.

V. Jenis-jenis notula

Notula ada dua jenis, yaitu :


 Notula Harafiah
Notula Harafiah adalah laporan mengenai sumbangan pendapat atau saran dari setiap
peserta rapat. Dalam kegiatan notula harafiah notulis tidak berhak atau tidak boleh meniadakan
suatu bagian. Pada umumnya laporan harafiah berbentuk catatan stenografi atau penulisan
kembali hasil rekaman atau perpaduan dari keduanya. Contoh notula harafiah adalah laporan
hasil siding DPRD Tk. II.
 Notula Rangkuman
Notula Rangkuman adalah laporan ringkas / singkat tentang suatu pembicaraan dalam
rapat. Dalam pembuatan notula ini seorang notulis harus pandai/mahir apa yang dikatakan oelh
setiap peserta rapat.

1. Contoh notula
Contoh Notula
NOTULA RAPAT
PENGURUS PUSAT SP-PGN
Hari / Tanggal : Selasa, 3 Maret 2009
Waktu : 14.00 – 17.00 WIB
Tempat : Ruang Rapat OPB, Gedung B Lantai VIII
Peserta : Pengurus SP-PGN (terlampir
Agenda : – Pembahasan Kelanjutan Masalah Surat Pembatalan

Keputusan Direksi tentang Pengisian Formasi Manajemen Puncak dari Luar PGN
- Mekanisme pembuatan lambang SP-PGN
- Mekanisme keanggotaan SP-PGN
- Mekanisme iuran anggota
- Pembahasan masalah lainnya

Catatan Rapat :
1. Terkait Kelanjutan Masalah Surat Pembatalan Keputusan Direksi tentang Pengisian
Formasi Manajemen Puncak dari Luar PGN, akan dikirim surat ke Depnaker dan Menneg
BUMN (tembusan ke Direksi PGN) untuk mengadukan masalah tersebut dan minta
pertimbangan / saran dari institusi tersebut. (Deadline tanggal 6 Maret 2009, PIC : Ketua Umum,
Kabid. Advokasi & Hub. Industrial serta Sekretaris)
2. Lambang PGN akan disayembarakan ke pekerja PGN dengan anggaran hadiah sebesar Rp.
5.000.000,- (untuk hadih uang dan trophy atau piagam). Pengumuman melalui email atau portal
PGN. (deadline 31 Maret 2009, PIC : Sekretaris)
3. Akan dibuat formulir keanggotaan SP-PGN yang didalamnya berisi kesediaan menjadi
anggota dan membayar iuran bulanan sebesar Rp. 20.000,- per bulan. Formulir akan disampaikan
melalui email maupun pengurus SP-PGN di tiap unit / satuan kerja masing-masing. (PIC : Kabid
Organisasi dan Keanggotaan, deadline : 31 Maret 2009)
4. Iuran anggota akan dilaksanakan dengan pemotongan gaji bulan April, dan menunggu hasil
konfirmasi pendaftaran anggota SP-PGN. (PIC : Kabid Organisasi dan Keanggotaan, deadline :
31 Maret 2009)
5. Masalah ketenagakerjaan hasil dari RAKERNAS SP-PGN 2009 yang akan ditangani
langsung oleh Ketua Umum SP-PGN adalah sebagai berikut :
Adanya Keputusan Direksi tentang Penerimaan pekerja setingkat manajemen puncak
(sebagai pegawai tetap) yang kurang sesuai dengan Peraturan Perusahaan
Belum adanya komunikasi internal yang kondusif, baik dari sisi ketersediaan fasilitas
(media komunikasi) maupun komitmen. Hal ini ditandai dengan tidak adanya bukti hasil
komunikasi dari manajemen mengenai visi, misi dan tujuan yang akan dicapai kepada seluruh
pekerja
Belum adanya perencanaan yang berkesinambungan dalam rangka pencapaian tujuan
perusahaan yang dimonitor dan dievaluasi secara berkala sehingga tidak ada kesan bahwa
pencapaian kinerja perusahaan by accident atau terjadi dengan sendirinya
 Perubahan organisasi yang arah dan tujuannya tidak jelas, yang mengakibatkan
ketidakjelasan pekerjaan dan menimbulkan kekhawatiran di seluruh tingkat jabatan dan staf
 Percepatan pelaksanaan perubahan struktur organisasi agar tidak mengganggu proses kerja
yang sedang berlangsung
 Terkait Pedoman Pengadaan Barang/Jasa yang baru, perlu dilakukan pembandingan
dengan BUMN yang lain mengingat besarnya pemberian kewenangan dari Direksi kepada
Kepala Satuan/Unit Kerja
Usulan adanya TOA (Table of Authority) untuk struktur organisasi yang baru TOA yang
baru diberikan sepenuhnya ke GM sehingga GM harus membuat TOA kepada Distrik.
Seharusnya TOA disusun terpusat.
Penjelasan mengenai status nilai Take Or Pay di neraca yang mana selama ini telah
terakumulasi cukup besar dan batasan waktu sampai kapan Take Or Pay tersebut dapat diambil
dan dipergunakan
 Kelangsungan bisnis perusahaan terkait pasokan gas di Medan dan Surabaya yang
semakin menurun dan belum ada tambahan pasok, bahkan kontrak pembelian gas eksisting untuk
Medan akan berakhir tahun 2011. Hal ini menimbulkan demotivasi & keresahan pekerja
 Pelaksanaan mandat hasil kongres 2007 agar dilaksanakan dengan penuh tanggung jawab
sesuai dengan janji-janji pada waktu Kongres SP Oktober 2007
 Belum adanya Perjanjian Kerja Bersama (PKB) antara SP dengan Manajemen
 Konsolidasi anggota SP untuk bersatu dan untuk memiliki kesamaan pemahaman sebagai
pekerja yang senasib dan sepenanggungan di dalam keluarga besar PGN
6. Adapun masalah ketenagakerjaan lainnya yang diinventarisir di RAKERNAS,
tindaklanjutnya akan diserahkan tugas dan kewenangan kepada masing-masing bidang.