Anda di halaman 1dari 32

BAB I

PENDAHULUAN

I. MAKSUD DAN TUJUAN


1.1 MAKSUD
Maksud dari praktikum ini adalah untuk dapat mengetahui dan memahami
cara proses pencapan pada kain kapas dengan zat warna reaktif panas
dengan baik dan benar.

1.2 TUJUAN
Tujuan dari praktikum ini adalah untuk dapat melakukan proses pencapan
pada pada kain kapas dengan zat warna reaktif panas sehingga dapat
mengetahui pengaruh dari variasi waktu steam terhadap ketajaman warna
dan ketuaan warna hasil pencucian.

Laporan Praktikum Teknologi Pencapan 1 – Pencapan Zat Warna Pigmen – 3K4 – Kelompok 6 1
BAB II
DASAR TEORI

II. LANDASAN TEORI


2.1 Kapas[1]
Serat kapas merupakan jenis serat selulosa (berasal dari tumbuhan) yang
dikenal sejak 1500 tahun SM, India adalah Negara tertua yang
menggunakan serat kapas. Serat kapas dibawa ke Mesir oleh Alexander
Agung. Serat kapas dihasilkan dari rambut biji tanaman yang termasuk
dalam jenis Gossypium, antara lain :
a. Gossypium Arboreum (berasal dari India)
b. Gossypium Herbaceum
c. Gossypium Barbadense (berasal dari Peru)
d. Gossypium Hirsutum (berasal dari Meksiko Selatan, Amerika Tengah dan
Kepulauan Hindia Barat)
Tabel 2.1 Komposisi serat kapas

Susunan Persen terhadap berat kering


Selulosa 94
Pektat 1,2
Protein 1,3
Lilin 0,6
Debu 1,2
Pigmen dan zat-zat lain 1,7

Sumber: Soeprijono.P. Serat-Serat Tekstil. Institut Teknologi Tekstil. 1973. Hal 46

2.1.1 Sifat-sifat kimia serat kapas : [2]


1. Pengaruh asam
Selulosa tahan terhadap asam lemah akan tetapi terhadap asam kuat
akan menyebabkan kerusakan. Asam kuat akan menghidrolisa selulosa
yang mengmbil tempat pada jembatan oksigen penghubung, sehingga
terjadi pemutusan rantai molekul selulosa (hidroselulosa). Rantai molekul

Laporan Praktikum Teknologi Pencapan 1 – Pencapan Zat Warna Pigmen – 3K4 – Kelompok 6 2
selulosa menjadi lebih pendek menyebabkan penurunan kekuatan tarik
selulosa.
2. Pengaruh alkali dan oksidator
Oksidator menyerang cincin glukosa dari serat kapas yang kemudian
dikenal dengan nama oksiselulosa. Oksiselulosa memberikan ciri bahwa
terjadi kerusakan dimana terjadi pengurangan derajat polimerisasi. Hal ini
di akibatkan oleh setelah terjadi oksidasi terhadap ring glukosa maka
serat akan lebih mudah rusak karena adanya sisa alkali didalam serat.

Gambar 3.1 Bagian serat kapas yang terserang oksidator


Sumber: Yolanda Istiqomah. LKP. Bandung. Sekolah Tinggi Teknologi Tekstil. 2011. Hal 6.
3. Pengaruh reduktor
Serat kapas biasanya aman dikerjakan dengan zat pereduksi dalam
kondisi normal, tetapi akan berwarna kekuning-kuningan dan berkurang
kekuatannya dalam larutan stano klorida dengan konsentrasi dan suhu
tinggi.
4. Pengaruh panas
Serat kapas tidak memperlihatkan perubahan kekuatan bila dipanaskan
pada suhu yang lebih tinggi dapat menyebabkan penurunan kekuatan.
Serat kapas kekuatannya hampir hilang bila dipanaskan pada suhu 240oC
5. Pengaruh mikroorganisme
Serat kapas sebenarnya sukar terangsang mikroorganisme, namun
dalam keadaan lembab dan hangat mudah terserang jamur dan bakteri
yang mengakibatkan serat menjadi rusak.

2.1.2 Serat fisika serat kapas: [2]


1. Kadar uap air

Laporan Praktikum Teknologi Pencapan 1 – Pencapan Zat Warna Pigmen – 3K4 – Kelompok 6 3
Kelembaban relatif pada kondisi standar yaitu 65 ±2% dan suhu 27 ± 2oC
kadar uap air moisture regain berkisar antara 7 – 8,5 %.
2. Berat jenis
Berat jenis kapas berkisar antara 1,5 sampai 1,56 g/cm3.
3. Warna tidak putih tetapi kecoklat-coklatan. Pigmen yang menimbulkan
warna pada kapas belum diketahui dengan pasti. Warna kapas akan
semakin tua setelah penyimpanan selama 2 – 5 tahun. Selain itu, warna
kapas berubah menjadi keabu-abuan karena pengaruh cuaca dan
berwarna putih kebiruan karena pengaruh tumbuhnya jamur pada kapas
saat pemetikan.
4. Kekuatan serat kapas dipengaruhi oleh kadar selulosa dalam serat,
panjang serat dan orientasinya. Dalam keadaan standar kekuatannya
antara 3 – 5 gram/denier.
5. Kekuatan dalam keadaan basah lebih kuat dari pada dalam keadaan
kering.
6. Mulur sampai putus aalah bertambahnya panjang karena penarikan.
Mulur serat kapas 13-14% rata-rata 7%.
7. Keliatan menunjukan kemampuan benda menerima kerja dan merupakan
sifat yang penting untuk serat tekstil terutama yang dipergunakan untuk
keperluan industri. Keliatan serat kapas relatif tinggi dibandingkan serat
wol dan sutera.
8. Berat jenis 1.5-1.56.
9. Indeks bias 1.58 dalam keadaan sejajar sumbu serat dan 1.53 melintang
pada sumbu.

2.1.3 Penampang serat kapas: [1]


 Penampang melintang
Penampang melintang serat kapas berbentuk sangat bervariasi hampir
bulat tetapi pada umumnya berbentuk seperti ginjal.
 Penampang membujur
Penampang membujur serat kapas berbentuk seperti pita terpuntir.
Kedewasaan serat kapas dapat dilihat dari tebal tipisnya dinding
serat,makin dewasa makin tebal dinding seratnya, dimana lebih besar
dari setengah lumennya. Serat-serat yang belum dewasa kekuatannya

Laporan Praktikum Teknologi Pencapan 1 – Pencapan Zat Warna Pigmen – 3K4 – Kelompok 6 4
rendah dan dalam pengolahan menimbulkan banyak limbah, misalnya
timbul nep yaitu sejumLah serat yang kusut membentuk bulatan-
bulatan kecil yang tidak dapat diuraikan kembali.

Gambar 3.2 Penampang melintang dan membujur serat kapas


Sumber: Soeprijono.P. Serat-Serat Tekstil. Institut Teknologi Tekstil. 1973. Hal 41

Gambar 3.3 Penampang melintang dan membujur serat kapas


Sumber: Yolanda Istiqomah. LKP. Bandung. Sekolah Tinggi Teknologi Tekstil. 2011. Hal 6.

Serat selulosa merupakan serat hidrofil yang strukturnya berupa polimer


selubiosa, dengan derajat polimerisasi (DP) bervariasi, contoh DP kapas
sekitar 3000. Makin rendah DP daya serap airnya makin besar, contoh :
moisture regain (MR) kapas 7-8 %. Struktur serat kapas adalah sebagai
berikut :

Laporan Praktikum Teknologi Pencapan 1 – Pencapan Zat Warna Pigmen – 3K4 – Kelompok 6 5
Gambar 3.4 Struktur Molekul Kapas
Sumber: Yolanda Istiqomah. LKP. Bandung. Sekolah Tinggi Teknologi Tekstil. 2011. Hal 7

Gambar 3.5 Struktur Rantai Molekul Selulosa


Sumber: Yolanda Istiqomah. LKP. Bandung. Sekolah Tinggi Teknologi Tekstil. 2011. Hal 7

Gugus –OH primer pada selulosa merupakan gugus fungsi yang berperan
untuk mengadakan ikatan dengan zat warna direk berupa ikatan hidrogen.
Serat selulosa umumnya lebih tahan alkali tapi kurang tahan suasana
asam, sehingga pengerjaan proses persiapan penyempurnaan dan
pencelupannya lazim dilakukan dalam suasana netral atau alkali.

2.1.4 Kerusakan pada serat kapas: [2]


Asam dan zat oksidator dapat merusak serat selulosa, dimana
kerusakannya bergantung pada jenis serat, konsentrasi, suhu dan waktu
pengerjaan. Diantaranya:
 Hidroselulosa
Serat selulosa yang dikerjakan dalam larutan asam kuat akan
mengakibatkan terjadinya hidroselulosa yang menyebabkan penurunan
kekuatan tarik, dimana reaksi hidrolisis terjadi pada jembatan glukosa
sehingga rantai molekul putus dan menjadi beberapa rantai molekul yang

Laporan Praktikum Teknologi Pencapan 1 – Pencapan Zat Warna Pigmen – 3K4 – Kelompok 6 6
lebih pendek (I). Apabila pengerjaan asam diikuti pula oleh pengeringan
juga akan menyebabkan hidroselulosa (II).

Gambar 3.6 Reaksi Hidroselulosa


Sumber: Yolanda Istiqomah. LKP. Bandung. Sekolah Tinggi Teknologi Tekstil. 2011. Hal 10

 Oksiselulosa
Pengerjaan selulosa dengan oksidator menyebabkan terjadinya
oksiselulosa, dimana oksidator akan menyerang cincin glukosa dari
selulosa (III) dan pengerjaan lebih lanjut dengan alkali akan memutuskan
rantai molekul (V). Apabila proses oksidasi terjadi dalam suasana alkali,
dan berhubungan dengan udara, maka akan terjadi pemutusan cincin
molekul glukosa yang lebih hebat sehingga terjadi penurunan kekuatan
serat selulosa (VI). Dengan reaksi:

Gambar 3.7 Reaksi Oksiselulosa

Laporan Praktikum Teknologi Pencapan 1 – Pencapan Zat Warna Pigmen – 3K4 – Kelompok 6 7
Sumber: Yolanda Istiqomah. LKP. Bandung. Sekolah Tinggi Teknologi Tekstil. 2011. Hal 11

2.2 Proses Pencapan


Pencapan adalah suatu proses pemberian warna secara setempat atau tidak
merata pada kain, sehingga menimbulkan corak-corak tertentu. Pemberian
zat warna ini lebih banyak bersifat fisika-kimia.

Golongan zat warna yang digunakan untuk pencapan sama seperti golongan
zat warna untuk pencelupan kain. Selain itu pada pencapan, bermacam-
macam golongan zat warna dapat dipakai bersama-sama dalam pencapan
satu kain, tanpa saling mempengaruhi warna aslinya.

Kain sebelum dicap perlu mendapatkan pengerjaan pendahuluan, misalnya


pembakaran bulu, pemasakan, pengelantangan atau lainnya. Pengerjaan
pendahuluan yang kurang sempurna akan menghasilkan pencapan yang
kurang sempurna juga.

Sesuai dengan alat/ mesin yang digunakan dalam pencapan, maka dikenal :
 Pencapan semprot ( spray – printing )
 Pencapan blok ( Block – printing )
 Pencapan perrotine ( Perrotine – printing )
 Pencapan rambut serat ( Flock – printing )
 Pencapan kasa/sablon ( Screen – printing )
 Pencapan rol ( Roller – printing )
 Pencapan transfer ( Transfer – printing )

2.3 Zat Warna Reaktif [2]


Pencapan dengan zat warna reaktif banyak digunakan karena disamping
pilihan warnanya yang banyak juga karena dapat diekrjakan dengan
kondisi yang sederhana. Ukuran moleulnya kecil dan laru dalam air dengan
baik sehingga cepat ebrdifusi dalam serat, hasil pencapan mempunyai
kilau yang tinggi.

Zat warna reaktif mengadakan reaksi dengan selulosa membentuk ikatan


kovalen. Faktor penting yang harus diperhatikan dalam penggunaannya

Laporan Praktikum Teknologi Pencapan 1 – Pencapan Zat Warna Pigmen – 3K4 – Kelompok 6 8
adalah kestabilan pasta capnya dan kemungkinan terjadinya penodaan
warna pada serat saat proses pencucian pada permukaan.

Zat warna reaktif adalah suatu zat warna yang dapat digunakan untuk
mewarnai serat selulosa. Zat Warna reaktif mengadakan reaksi dengan
serat dan membentuk ikatan kovalen sehingga zat warna tersebut menjadi
bagian dari serat ikatan kovalen terbentuk dari hasil reaksi antara sistem
reaktif pada zat warna reaktif dengan gugus -OH, -SH. -NH2, dan NH.

Pada proses pencapan dengan zat warna reaktif dimana zat warna yang
telah terhidrolisa dapat menimbulkan masalah serius. Ketika kain dicap
dengan zat warna reaktif cara langsung, kebanyakan zat warna bereaksi
dengan serta pada bagian yang dicap dan sebagian dari zat warna
terhidrolisa, tentunya zat warna yang terhidrolisa ini harus dihilangkan.
Selain itu, pengental yang digunakan pada pasta cap juga harus
dihilangkan dari kain. Pada saat proses pencucian sabun keduanya
dihilangkan dari kain. Dalam larutan pencucian sabun tersebut sekarang
mengandung zat warna reaktif yang terhidrolisa dan membentuk larutan
celup untuk kain. Akibatnya dasar putih diluar motif menjadi terwarnai atau
ternodai oleh zat warna yang terhidrolisa itu sehingga untuk mendapatkan
hasil yang baik, proses pencuciannya harus benar benar diperhatikan.

Beberapa contoh zat warna reaktif adalah dari golongan mono- dan
diklorotriazin (Procion, Cibacron, Amaryl, Chemictive, Goldazol dsb),
sulfatoetil sulfon (Remazol, Natictive), trikloro pirimidin (Reactone,
Drimarene). Zat warna tersebut dapat digunakan pada proses pencelupan
maupun pencapan. Beberapa zat warna tersebut seperti Procion Supra,
Cibacron Pront, dsb khusus dikembangkan untuk proses pencapan.
Biasanya golongan zat warna ini mempunyai kereaktifan tinggi dan atau
afinitas yang rendah terhadap serat. Zat warna dengan reaktifitas yang
tinggi lebih cenderung bereaksi dengan serat dan dengan afinitas yang
rendah zat warna yang terhidrolisa tidak akan menodai dasar putih pada
kain cap.

Laporan Praktikum Teknologi Pencapan 1 – Pencapan Zat Warna Pigmen – 3K4 – Kelompok 6 9
Untuk menjaga kestabilan zat warna ke dalam pasta cap maka
ditambahkan zat anti reduksi dan sebagai zat higroskopis dapat
menggunakan urea.

Alkali sangat diperlukan untuk menghasilkan ion sekulosat sehingga dapat


bereaksi dengan zat warna. Natrium bikarbonat selain harganya murah
juga memberikan kestabilan pasta cap yang tinggi dengan hampir semua
jenis zat warna reaktif. Jika digunakan jenis zat warna yang mempunyai
kestabilan yang cukup tinggi dapat digunakan natrium karbonat atau soda
kostik karena akan memberikan hasil pewarnaan yang lebih baik pada
kondisi lebih alkali.

Untuk jenis zat warna reaktif dingin atau yang kereaktifan tinggi maka
dapat digunakna konsentrasi yang rendah untuk alkalinya. Pemilihan jenis
alkali berdasarkan pada kereaktifan zat warna yang digunakan dan
kestabilan dari pasta cap yang diisyaratkan.

2.3.1 Penggolongan Zat Warna Reaktif Berdasarkan Reaksi


1. Golongan Diklorotriazin

Jika ada kemungkinan gugus khlor kedua duanya bereaksi dengan


selulosa (sel-OH) sehingga pewarnaanya sempurna atau terhidrolisa oleh
air (H2O) menjadi tidak reaktif lagi sebelum bereaksi dengan serat selulosa.

1
Laporan Praktikum Teknologi Pencapan 1 – Pencapan Zat Warna Pigmen – 3K4 – Kelompok 6
0
Zat warna reaktif ini pun dapat mengadakan reaksi subtitusi dengan serat
dan membentuk ikatan pseudoester yang tahan terhadap kondisi alkali
tetapi kurang tahan terhadap suasana Asam

2. Golongan Vinil Sulfon

Zw-SO2-CH2-CH2-Cl + NaOH  Zw-SO2-CH=CH2 + NaCl +H2O


Zw-SO2-CH=CH2 + Sel-OH  Zw-SO2-CH2-CH2-O-Sel

Sebagian zat warna reaktif bereaksi dengan air yang mengandung alkali
dan menyebabkan zat warna terdeaktivasi.

Zw-SO2-CH=CH2 + H – OH  D-SO2-CH2-CH2-OH (tidak reaktif)

Zat warna pun dapat mengadakan reaksi adisi dengan dan membentuk
ikatan eter, ikatan ini biasanya tahan terhadap suasana asam tetapi kurang
tahan pada suasana alkali.

Untuk menghilangkan zat warna yang terdeaktivasi dan kain yang sudah
dicelup atau dicap yaitu dengan proses penyabunan dengan deterjen.
Deterjen yang lebih baik adalah deterjen nonionik tanpa alkali (soda ash).

Dalam pemakaiannya, selain terjadi reaksi zat warna dengan serat juga
terjadi reaksi hidrolisis sehingga akan mengurangi efesiensi fiksasinya.
Reaksi yang terjadi selama proses zat warna reaktif dalam suasana alkali:

 Reaksi ionisasi selulosa : OH + Sel – OH  Sel –O + H2O


 Reaksi fiksasi : Sel –O + Zw-CI  Sel-O-Zw + CI-
 Reaksi hidrolisis : OH- + Zw-CI  Zw-OH + CI-

2.3.2 Penggolongan Berdasarkan Cara Pemakaian

Menurut pemakaiannya, zat warna reaktif digolongkan menjadi 2 macam


yaitu :
1. Pemakaian cara dingin → Yaitu zat warna reatif yang memiliki kereaktifan
tinggi, misalnya zat warna reaktif dengan sistem reaktif diklorotriazin.
Temperatur tidak lebih dari 40oC karena pada temperatur yang lebih dari itu
zat warna akan mudah sekali bereaksi dengan air.

1
Laporan Praktikum Teknologi Pencapan 1 – Pencapan Zat Warna Pigmen – 3K4 – Kelompok 6
1
2. Pemakaian Cara Panas → Yaitu zat warna reaktif yang memiliki
kereaktifan rendah, misalnya zat warna reaktif sistem monoklorotriazin dan
vinilsulfon. Temperatur pencelupannya antara 70oC – 80oC.

2.3.3 Struktur Kimia Zat Warna Reaktif

Struktur zat warna reaktif yang larut dalam air terdiri dari bagian – bagian
yang masing – masing mempunyai fungsi tersendiri, tapi secara umum
dapat digambarkan sebagai berikut :

Keterangan:

 S : Gugus pelarut. Banyaknya gugus pelarut yang terdapat dalam


struktur molekul zat warna menentukan kelarutan zat warna reaktif,
misalnya –SO3H atau –SO3Na dan –COONa.
 K : Kromofor, misalnya sistem yang mengandung gugus azo,
antrakuinon dan ftalosianin.

1
Laporan Praktikum Teknologi Pencapan 1 – Pencapan Zat Warna Pigmen – 3K4 – Kelompok 6
2
 P : Gugus penghubung antara kromofor dan sistem reaktif, misalnya
gugus amina, sulfoamina dan amida.
 R : Sistem reaktif mempunyai pengaruh yang sangat dominan
terhadap kereaktifan zat warna reaktif karena pada gugus ini terdapat
atom C pusat nukleofilik yang akan bereaksi dengan gugus fungsi serat
yang berkarakteristik nukleofilik seperti gugus hidroksil pada selulosa,
gugus amino, karboksil, hidroksil dan tiol pada serat wol, kesatbilan zat
warna pada hidrolisis, kestabilan ikatan zat warna dengan serat,
substantifitas dan kelarutan sehingga menentukan metoda pencelupan
dan metoda fiksasi yang sesuai untuk zat warna tersebut.
 X : Gugus reaktif yang mudah lepas dari sistem reaktif, misalnya
gugus klor, fluor da alkil sulfonat.

2.8 Pengental
Pengental digunakan untuk mendapatkan kekentalan pasta cap pada kain
atau memindahkan/melekatkan pasta cap pada kain. Sebagai penetrasi
yang baik dan motif yang tajam.

Syarat pengental :
 Stabil selama proses pencapan
 Tidak berwarna maupun mewarnai ahan tekstil serta tidak bereaksi
dengan zat warna.
 Mudah kering dan tidak menimbulkan busa.
 Dapar menahan resapan larutan/uap air sehingga diperoleh motif yang
tajam.
 Dapat memindahkan zat warna sebanyak mungkin ke bahan tekstil.
 Dapat bercampur dengan baik dengan zat pembantu tekstil lainnya
dan tidak mengadakan reaksi/antaraksi.
 Mudah dihilangkan pada pencucian.
 Daya rekat yang baik.

Pengental yang cocok digunakan adalah natrium alginat. Pengental sintetik


dari jenis asam poliakrilat dapat digunakan sebagai pengganti natrium
alginat serta dapat memberikan hasil pewarnaan yang lebih memuasakan
dan lebih mudah dihilangkan pada proses pencucian dibandingkan

1
Laporan Praktikum Teknologi Pencapan 1 – Pencapan Zat Warna Pigmen – 3K4 – Kelompok 6
3
menggunakan pengental natrium alginat. Pengental emulsi penuh dan
setengah penuh dan setengah emulsi baik dari tipe minyak dalam air (oil in
water) dan air dalam minyak water in oil)

Pengental jenis alginat juga merupakan satu satunya pengental alam yang
cocok untuk pencapan dengan zat warna reaktif. Karbohidrat lainnya
bereaksi dengan zat warna sehingga menurunkan pencapaian warna atau
pegangan kain yang tidak memuaskan karena ketidaklarutan
pengentalnya. Natrium alginat juga mengandung gugus hidroksil, tetapi ini
bereaksi sangat kecil karena gugus karboksil yang terionisasi pada setiap
lingkaran rantai polimer menolak anion zat warna.

Harga alginat yang relatif mahal dan persediaan alginat yang terbatas
maka perhatian difokuskan untuk mencari alternatif pengental lainnya.
Pengental sintetik dengan muatan anionik menunjukan potensi yang besar.
Asam poliakrilat tidak bereaksi sama sekali dengan zat warna reaktif,
pencapaian warna tinggi dibandingkan dengan pengental alginat, dan
washing off dapat diselesaikan lebih cepat.

Alginat merupakan molekul linier dengan berat molekul tinggi, sehingga


mudah sekali menyerap air. Oleh karena itu, alginat baik sekali fungsinya
sebagai bahan pengental. Secara kimia, alginat merupakan polimer murni
dari asam uronat yang tersusun dalam bentuk rantai linier yang panjang
(Winarno 2008). Bobot molekul alginat bervariasi, tergantung dari jenis
alginat, sumber bahan baku yang digunakan dan cara penyiapan bahan
baku. Bobot molekul alginate berkisar antara 350.000-1.500.000,
sedangkan alginat yang diperdagangkan berkisar antara 22.000-200.000
dengan tingkat polimerisasi 180-930. Viskositas Na-alginat dikelompokkan
kedalam lima kelompok, yaitu ekstra tinggi 100 cps, tinggi 500 cps, medium
300 cps, ekstra rendah 20-30 cps. Pengukuran dilakukan terhadap 1%
larutan alginat pada suhu 20oC. Menurut Rahardian (2009), faktor-faktor
fisika yang mempegaruhi sifat-sifat larutan alginat adalah suhu, konsentrasi
dan ukuran polimer. Karakeristik fisik garam alginat yaitu berupa tepung
atau serat, berwarna putih sampai dengan kekuningan, hampir tidak
berbau, dan berasa. Sedangkan faktor-faktor kimia yang berpengaruh

1
Laporan Praktikum Teknologi Pencapan 1 – Pencapan Zat Warna Pigmen – 3K4 – Kelompok 6
4
adalah pH dan adanya pengikat logam, serta garam monovalen dan kation
polivalen.

Struktur Molekul Natrium Alginat


Sumber: https://commons.wikimedia.org/wiki/File:Sodium_alginat.jpg

Tipe emulsi minyak dalam air dan air dalam minyak juga cocok dan tipe
setengah emulsi sudah banyak digunakan pada pencapan dengan zat
warna reaktif.

Pada waktu proses pencucian dan penyabunan dengan deterjen nonionik


dan alkali, sebagian zat warna yang telah bereaksi dengan selulosa dapat
berpisah dan membentuk zat warna vinil sulfon yang reaktif lagi. Kemudian
dapat mengadakan reaksi dengan kain putih dasar dan mengakibatkan
penodaaan warna yang permanen.

2.9 Prosedur Pencapan


 Pembuatan Pasta Cap
Pengental alginat dibuat dengan menambahkan bubuk pengental alginat
sedikit demi sedikit ke dalam air panas dalam ember plastik sambil diaduk
dengan mixer sampai homogen.
Dalam pasta cap semua zat pembantu yang tidak dalam bentuk larutan
harus dilarutka lebih dadhulu dengan air atau air panas agar tidak
menganggu homogenitas pasta cap. Zat warna dilarutkan dengan air
ditambah urea untuk membantu kelarutan zat warna reaktif. Siapkan
pengental dalam ember plastik kemudian sambil diasuk ditambahkan zat
warna, zat anti reduksi dan terakhir setelah dingin ditambahkan alkali.

1
Laporan Praktikum Teknologi Pencapan 1 – Pencapan Zat Warna Pigmen – 3K4 – Kelompok 6
5
 Pencapan pada bahan atau kain
Setelah persiapan meja cap maka kain, pasta cap, screen dan peralatan
lainnya maka proses pencapan dapat segera dilakukan sesuai dengan
metoda 2 tahap.

 Pengeringan

Pengeringan pada kain yang telah dicap merupakan suatu keharusan.


Pengeringan berfungsi untuk mencegah zat warna keluar dari corak-corak
yang telah ditentukan pada pencapan. Pengeringan setelah kain dicap
mutlak dilakukan untuk menghilangkan kandungan air pada lapisan pasta
cap atau menghilangkan kelembaban lapisan pasta sehingga mencegah
zat warna blobor (bleeding), selain itu pengeringan bertujuan untuk
memudahkan penanganan kain hasil capuntuk proses fiksasi. Proes
pengeringan perlu memperhatikan faktor – faktor jenis kain (hidrofob atau
hidrofil), jenis pasta cap alkali/asam, tegangan kain. Kain yang memiliki
regain rendah atau sifat hidrofob pengeringan harus dilakukan sesegera
mungkin. Jenis pengeringan yang bisa dilakukan antara lain:

Kondisi pengeringan berpengaruh terhadap hasil fiksasi zat warna, namun


standar pengeringan yang baik akan memberikan efek hasil pewarnaan
yang baik pula. Pengeringan yang berlebihan akan menyebabkan retak
dan pecahnya lapisan pasta cap sehingga fiksasi tidak sempurna dan
terjadi penodaan warna. Demikian pula pengeringan yang tidak merata
akan menyebabkan ketidakrataan warna hasil pencapan.

 Fiksasi pada Proses Pencapan Zat Warna Reaktif

Proses fiksasi penting karena terjadi ikatan kovalen antara serat dengan
zat warna reaktif. Waktu proses fiksasi yang terlalu lama dari yang
dibutuhkan akan menyebabkan turunnya hasil pewarnaan yang disebabkan
ketidakstabilan ikatan kovalen serat dengan zat warna dibawah kondisi
alkali. Oleh karena itu kondisi fiksasi sangat tepat sangatkah penting baik
ditinjau dari segi ekonomis juga hasil pewarnaan yang tinggi. Penentuan
kondisi fiksasi bergantung pada tingkat kereaktifan zat warna.

1
Laporan Praktikum Teknologi Pencapan 1 – Pencapan Zat Warna Pigmen – 3K4 – Kelompok 6
6
Zat warna dengan kereaktifan tinggi dapat dikerjakan dengan proses fiksasi
cepat. Namun bila zat warna yang dipakai mempunyai kereaktifan rendah
lebih aman menggunakan suhu dan waktu pengukusan normal.

Diketahui bahwa hampir setiap jenis merek dagang zat warna reaktif
mempunyai tingkat kereaktifan yang berbeda. Selama proses fiksasi
berlangsung selain terjadi ikatan kovalen antara serat dan zat warna, juga
terjadi hidrolisa zat warna oleh air sehingga tidak ada lagi zat warna tersisa
dalam bentuk reaktif. Zat warna yang terhidrolisa tersebut harus
dihilangkan secara sempurna dari kain pada proses pencucian.

Fiksasi dapat dilakukan dengan beberapa metoda fiksasi, seperti :


o Dengan cara penguapan / pengukusan (Steaming)
Dalam proses penguapan, uap terkondensasi pada permukaan lapisan
pasta cap, kondensat membantu pelarutan zat warna untuk masuk
kedalam serat (difusi), agar tidak terjadi blobor (bleeding) atau migrasi zat
warna keluar dari motif, pada proses fiksasi kondisi penguapan perlu
dikontrol sesuai dengan sifat absorbensi.

Fiksasi dengan pengukusan /penguapan untuk zat warna reaktif efektif


dilakukan dengan uap jenuh (saturated steam) pada 100 - 103°C selama
3-10 menit. Waktu penguapan bergantung pada tingkat kereaktifan zat
warna, fiksasi dapat dpercepat dengan suhu lebih tinggi 130 -160°C
selama 1-5 menit. Penambahan urea sebanyak 50-200 g/kg sebagai zat
higroskopis sangat penting untuk menjaga kelembapan pasta cap dan
reaksi zat warna dengan serat terjadi sesuai yang diinginkan.
o Metoda Wet Fixation
Pasta cap yang digunakan adalah sama dengan resep pasta cap pada
cara pad steam. Bila menggunakan zat warna reaktif dengan kereaktifan
tinggi maka tidak perlu disteam. Setelah kain dicap dengan pasta cap
netral maka dikeringkan (bisa dengan penguapan) lalu dilanjutkan dengan
fiksasi di dalam bak mengandung alkali dan garam.
Pengerjaan didalam larutan alkali selama 10 – 20 detik pada suhu 95 -
1000C. Setelah dikerjakan dalam larutan alkali harus segera dilakukan
pencucian. Proses ini tidak cocok untuk kain rayon viskosa.

1
Laporan Praktikum Teknologi Pencapan 1 – Pencapan Zat Warna Pigmen – 3K4 – Kelompok 6
7
o Metoda Pad Batch
Cara lain yang dapat digunakan adalah benam peras bacam yang
digunakan pada suhu ruang dengan waktu yang lebih lama. Setelah kain
dipad dengan larutan natrium silikat pada suhu 400C dengan WPU 70 –
80% untuk membantu penetrasi dan mengurangi viskositas, kemudian
kain digulung pada rol batching dan dibungkus plastik untuk mencegah
penegringan dan asam dari udara.
o Metoda Alkali Pretreatment
Pada cara ini pemberian alkali dilakukan sebelum kain dicap dengan
pasta cap netral. Hal tersebut terutama dilakukan pada produksi dalam
skala kecil. Setelah kain dibenam peras larutan alkali maka ditambahkan
sampai 200 g/L urea kemudian dilanjutkan dengan fiksasi menggunakan
pengukusan pada suhu 1050C selama 3 – 10 menit. Perlu diperhatikan
bahwa proses pengeringan setelah benam peras bacam larutan alkali
hendaknya tidak terlalu kering untuk menjaga tetap putihnya kain dan
daya absorpsi kain. Jika pada proses ini digunakan zat warna reaktif
dengan kereaktifan tinggi maka setelah kain dicap dengan pasta cap
netral dapat dilakukan penganginan selama 24 jam.

 Penyabunan
Proses pencucian pada pencapan dengan zat warna reaktif merupakan
proses yang penting, karena biasanya apabila proses pencucian kurang
optimal maka akan diperoleh staining, yaitu penodaan saat pencucian dan
tidak dapat diilangkan kembali.
Syarat pencucian diantaranya:
o Water flow (air yang mengalir)
Pencucian dilakukan pada air yang mengalir sampai zat warna yang
tidak terfiksasi seluruhnya sudah tersapu air (ditunjukkan air bekas
pencucian yang mendekati jernih).
o Open width
Kain yang dicuci tidak boleh dalam keadaan terlipat, atau juga tergulung.
Kain yang dicuci harus dalam keadaan terbuka lebar terutama bagian
motifnya.
o Over flow (air yang melimpah)

1
Laporan Praktikum Teknologi Pencapan 1 – Pencapan Zat Warna Pigmen – 3K4 – Kelompok 6
8
BAB III
METODE LOGI PENELITIAN
3.1. Alat dan Bahan
3.1.1. Alat
- Kassa screen yang bermotif
- Rakel
- Meja print
- Mixer (untuk pembuatan pengental)
- Ember kecil
- Pengaduk
- Neraca analitik
- Hair Dryer
- Mesin steam

3.1.2. Bahan
- Kain kapas
- Zat warna reaktif panas
- Zat anti reduksi (Lvdigol / Auxal)
- Urea
- Na2CO3 (Natrium Karbonat)
- NaHCO3 (Natrium Bikarbonat)
- Pengental 6-7%
- Kertas buram
- Teepol
- Air

3.2. Resep
3.2.1.Resep Stok Emulsi (Pengental Induk)
- Pengental : 30 gram
- Air : 570 gram
+
600 gram
3.2.2. Pasta Cap
- Zat warna reaktif : 20 gram
- Pengental : 700 gram

1
Laporan Praktikum Teknologi Pencapan 1 – Pencapan Zat Warna Pigmen – 3K4 – Kelompok 6
9
- Urea : 100 gram
- Na2CO3 : 10 gram
- NaHCO3 : 4 gram
- Zat anti reduksi : 20 gram
- Balance : X gram
+
1000 gram

3.2.3. Pencucian
- Na2CO3 : 20 g/L
- Teepol : 1 ml/L
- Suhu : 90⁰C
- Waktu : 10 menit

3.3. Fungsi Zat


- Pengental : Untuk mendapatkan kekentalan pasta cap,
sebagai medium perekatan zat warna, sebagai penyeimbang atau
pengatur viskositas.
- Zat warna reaktif panas : Sebagai pewarna pada pencapan.
- Zat anti reduksi : Untuk mencegah terjadinya reduksi zat warna.

- Na2CO3 : Sebagai zat pembantu fiksasi zat warna dan zat


pembantu
proses pencucian.
- NaHCO3 : Sebagai alkali agar zat warna reaktif dapat
berfiksasi.
- Urea : Tahan kondisi panas, sebagai zat hidrogkopis
yang menjaga kelembaban pada bahan.
- Teepol : Untuk proses pencucian setelah proses
pencapan guna
menghilangkan zat warna reaktif yang tidak
terfiksasi pada kain.

2
Laporan Praktikum Teknologi Pencapan 1 – Pencapan Zat Warna Pigmen – 3K4 – Kelompok 6
0
3.4. Diagram Alir

Persiapan alat dan bahan sesuai resep

Proses pencapan

Pengeringan kain dengan menggunakan hair dryer

Steaming (100⁰C, 8-16 menit)

Pencucian dingin

Pencucian sabun panas

Bilas

Pengeringan

Evaluasi :
- Ketuaan warna
- Kerataan warna
- Ketajaman motif
- Handling

2
Laporan Praktikum Teknologi Pencapan 1 – Pencapan Zat Warna Pigmen – 3K4 – Kelompok 6
1
3.5. Perhitungan
3.5.1. Pengental Induk
5
- Pengental = 100 x 600 gram = 30 gram

- Air = 600 – 30 = 570 gram


3.5.2. Pasta Cap
20
- Zat warna reaktif panas = 1000 x 75 gram = 1,5 gram
700
- Pengental = 1000 x 75 gram = 52,5 gram
100
- Urea = 1000 x 75 gram = 7,5 gram
20
- Zat anti reduksi = 1000 x 75 gram = 1,5 gram
10
- Na2CO3 = 1000 x 75 gram = 0,75 gram
4
- NaHCO3 = 1000 x 75 gram = 0,3 gram

3.6. Cara Kerja


3.6.1. Pembuatan Pengental Sintetik
1. Menyiapkan alat dan pengental
2. Pengental ditimbang sesuai dengan kebutuhan,
3. Siapkan air hangat sesuai dengan kebutuhan.
4. Bubuk Alginat dimasukkan sedikit demi sedikit kedalam air hangat
tadi sambil dikocok menggunakan mixer hingga bubuk alginate
terbentuk menjadi larutan yang kental.

3.6.2. Pencapan
1. Menghitung kebutuhan zat yang akan digunakan untuk proses
pencapan.
2. Menyiapkan kain kapas yang akan digunakan sebanyak 4 lembar
kain.

2
Laporan Praktikum Teknologi Pencapan 1 – Pencapan Zat Warna Pigmen – 3K4 – Kelompok 6
2
3. Meja print terlebih dahulu dibersihkan dari kotoran seperti pasta
cap sisa pencapan yang sebelumnya agar tidak menempel pada
kain yang akan dicap.
4. Kain kapas yang akan di cap ditempelkan pada meja cap,
kemudian tempelkan pula screen yang akan digunakan diatas kain
5. Kemudian dicap dengan 2x perakelan dengan alur yang sama.
Pada saat pencapan berlangsung saat melakukan perakelan
tekanan pada screen harus kuat agar pasta cap tidak keluar dan
warna yang didapat menjadi lebih tebal.
6. Setelah proses pencapan selesai, keringkan kain dengan
menggunakan hair dryer.
7. Setelah kering, kain dilakukan proses steaming pada suhu 100⁰C
selama 8-16 menit.
8. Kemudian kain dilakukan pencucian sabun panas lalu pencucian
dingin lalu dibilas dan dikeringkan.
9. Dilakukan evaluasi kain meliputi ketuaan warna, kerataan warna,
ketajaman motif dan handling.

3.7. Skema

2
Laporan Praktikum Teknologi Pencapan 1 – Pencapan Zat Warna Pigmen – 3K4 – Kelompok 6
3
BAB IV
DATA DAN HASIL PERCOBAAN

VI. Hasil Percobaan


1. Pemilihan screen

2. Persiapan pasta cap

2
Laporan Praktikum Teknologi Pencapan 1 – Pencapan Zat Warna Pigmen – 3K4 – Kelompok 6
4
3. Proses pencapan

4. Hasil pencapan

2
Laporan Praktikum Teknologi Pencapan 1 – Pencapan Zat Warna Pigmen – 3K4 – Kelompok 6
5
5. Proses pengeringan

6. Proses pembungkusan dan steaming

2
Laporan Praktikum Teknologi Pencapan 1 – Pencapan Zat Warna Pigmen – 3K4 – Kelompok 6
6
7. Proses pembilasan

2
Laporan Praktikum Teknologi Pencapan 1 – Pencapan Zat Warna Pigmen – 3K4 – Kelompok 6
7
BAB V
PENUTUP

5.1 DISKUSI

Proses printing atau pencapan bertujuan untuk memberikan motif atau


warna yang beragam pada suatu permukaan kain dengan sifat permanent.
Pencapan kain kapas dengan zat warna reaktif panas banyak digunakan
karena di samping pilihan warna yang banyak juga dapat dikerjakan dengan
kondisi yang sederhana.
Dengan ukuran molekul yang kecil dan larut dengan baik di dalam air
maka zat warna reaktif panas memiliki kemampuan cepat berdifusi ke dalam
serat dan hasil pencapannya mempunyai kilau yang tinggi. Zat warna reaktif
panas dapat mengadakan reaksi dengan serat selulosa (kapas) membentuk
ikatan kovalen sehingga ketahanan lunturnya sangat baik.
Faktor penting yang harus diperhatikan dalam penggunaan zat warna
reaktif panas adalah kestabilan pasta capnya dan kemungkinan terjadinya
penodaan warna dasar saat pencucian. Oleh karena zat warna reaktif panas
bersifat reaktif terhadap beberapa jenis senyawa, maka dalam pencapan
harus dipakai pengental yang tidak mengadakan reaksi dengan zat warna
tersebut.
Pemilihan jenis alkali berdasarkan pada kereaktifan zat warna yang
digunakan serta kestabilan pasta capnya adalah natrium bikarbonat selain
harganya murah juga memberikan kestabilan pasta cap yang tinggi.
Penambahan alkali pada pasta cap sebaiknya dilakukan pada saat pasta cap
digunakan untuk menghindari hidrolisa zat warna. Jika digunakan zat warna
reaktif yang mempunyai kestabilan yang cukup tinggi dapat digunakan natrium
karbonat atau soda kostik karena akan memberikan hasil pewarnaan yang
lebih tinggi. Untuk menjaga kestabilan zat warna ke dalam pasta cap dapat
ditambahkan zat anti reduksi dan sebagai zat higroskopis dapat juga digunakan
urea.

Proses fiksasi sangat penting karena terjadi ikatan kovalen antara serat
selulosa dengan zat warna reaktif. Waktu proses fiksasi yang terlalu lama dari

2
Laporan Praktikum Teknologi Pencapan 1 – Pencapan Zat Warna Pigmen – 3K4 – Kelompok 6
8
ketentuan akan menyebabkan turunnya hasil pewarnaan yang disebabkan
ketidak stabilan ikatan kovalen serat dengan zat warna di bawah kondisi alkali.
Oleh karena itu kondisi fiksasi yang tepat sangatlah penting baik ditinjau
dari segi ekonomis juga hasil pewarnaan yang tinggi, penentuan kondisi fiksasi
tersebut bergantung pada tingkat kereaktifan zat warna. Selama proses fiksasi
berlangsung selain terjadi ikatan kovalen juga terjadi hidrolisa zat warna oleh
air, sehingga tidak ada lagi zat warna tersisa dalam bentuk reaktif. Zat warna
yang terhidrolisa tersebut harus dihilangkan secara sempurna dari kain pada
proses pencucian.

Dari percobaan dan hasil percobaan pencapan kain kapas dengan zat
warna reaktif panas (2 warna) dengan variasi waktu steam dilakukan evaluasi
secara visual terhadap ketuaan dan kerataan hasil pencapannya yang dapat
dikemukakan sebagai berikut:
Ketuaan dan Kerataan Warna
Hasil percobaan pencapan kain kapas dengan menggunakan zat warna
reaktif panas dapat dilihat dari kain hasil pencapan. Dari hasil tersebut ternyata
pengaruh waktu steam terhadap ketuaan dan kerataan warna hasil pencapan
sangat berpengaruh. Dimana diperoleh semakin lama waktu steam, maka
warna hasil pencapan semakin tua dan motifnya terlihat tajam. Sedangkan
pada kerataan warnanya sebaliknya, semakin lama waktu steam, motifnya
semakin tidak rata.

Fiksasi pencapan zat warna reaktif


Fiksasi dapat dilakukan dengan beberapa metoda fiksasi,
seperti metoda perangin–angin, metoda pengukusan (steaming), udara panas
(Thermofiksasi), dan pengerjaan dalam larutan kimia (Wet Development ).
Pada pencapan kali ini dilakukan dengan metoda pengukusan (steaming).
Fiksasi dengan pengukusan /penguapan untuk zat warna reaktif panas efektif
dilakukan dengan uap jenuh (saturated steam) pada suhu 1000C selama 8–16
menit. Waktu penguapan bergantung pada tingkat kereaktifan zat warna,
fiksasi dapat dipercepat dengan suhu lebih tinggi 130 – 1600C selama 1 – 5
menit. Penambahan urea sebanyak 7,5 gram sebagai zat higroskopis sangat

2
Laporan Praktikum Teknologi Pencapan 1 – Pencapan Zat Warna Pigmen – 3K4 – Kelompok 6
9
penting untuk menjaga kelembapan pasta cap dan reaksi zat warna dengan
serat terjadi sesuai yang diinginkan.

Staining Pada Kain


Metoda fiksasi dan pencucian akan mempengaruhi terhadap ada tidaknya
staining pada kain hasil pencapan. Hal ini dapat dilihat dari kain hasil pencapan
dengan menggunakan zat warna reaktif panas. Dimana proses pencucian
dapat menyebabkan terjadinya staining (penodaan warna). Hal ini dapat
disebabkan karena pencucian tidak dilakukan secara bertahap, yang mana
pencucian itu sendiri bertujuan untuk menghilangkan zat warna yang tidak
terfiksasi. Dengan tahapan pertama pencucian dingin untuk memberikan
kesempatan lapisan pasta cap mengembang, tahap kedua pencucian panas
dan terakhir pencucian sabun panas.

5.2 KESIMPULAN
Dari hasil percobaan pencapan kain kapas dengan menggunakan zat
warna reaktif panas dapat diambil beberapa kesimpulan :
1. Semakin lama waktu steam ketuaan warna hasil pencapan semakin tua
2. Semakin lama waktu steam kerataan warna hasil pencapan semakin tidak
rata
3. Proses pencucian yang tidak bertahap atau tidak baik dapat menyebabkan
staining pada kain.
4. Hasil percobaan yang baik/optimum pada ketuaan warna diperoleh pada
waktu steam 16 menit.
5. Hasil percobaan yang baik/optimum pada kerataan warna diperoleh pada
waktu steam 8 menit.

5.3 SARAN
 Pencucian harus dilakukan secara bertahap. Jika pencucian dilakukan
langsung dengan sabun panas, pengental yang menempel dan zat warna
yang tidak terfiksasi kemungkinan besar akan menempel kembali pada kain
(walaupun hanya sebagian) yang menyebabkan terjadinya blok warna pada
kain.

3
Laporan Praktikum Teknologi Pencapan 1 – Pencapan Zat Warna Pigmen – 3K4 – Kelompok 6
0
 Pada proses pencucian harus dilakukan pada air yang mengalir, sehingga
zat warna yang tidak terfiksasi atau yang terhidrolisa tidak semuanya keluar
dari serat sehingga terjadi staining.
 Pada waktu proses pencucian kain harus dilebarkan, sehingga zat warna
akan menempel kembali pada kain dan akan menimpa warna lain.

DAFTAR PUSTAKA

1. Soeprijono.P. Serat-Serat Tekstil. Institut Teknologi Tekstil. 1973.

3
Laporan Praktikum Teknologi Pencapan 1 – Pencapan Zat Warna Pigmen – 3K4 – Kelompok 6
1
2. Yolanda Istiqomah. LKP : Optimalisasi Penggunaan Alkali (Na2CO3) pada
Pencelupan Kain Kapas dengan Zat Warna Reaktif Rifazolbrill Blue R
Spesial (Jenis Vinil Sulfon) untuk Warna Muda, Sedang dan Tua.
Bandung. Sekolah Tinggi Teknologi Tekstil. 2011.
3. Rasjid Djufri, dkk., Teknologi Pengelantangan, Pencelupan dan
Pencapan. Bandung. Institut Teknologi Tekstil. 1976.
4. Lubis Arifin, dkk.. Teknologi Pencapan Tekstil. Bandung : Institut
Teknologi Tekstil, 1998
5. Isminingsih, Rasjid Djufri. Pengantar Kimia Zat Warna. Bandung. Sekolah
Tinggi Teknologi Tekstil. 1979.
6. Dede Karyana, Elly K. Bahan Ajar Praktikum Pencelupan I. Bandung:
Sekolah Tinggi Teknologi Tekstil. 2005.
7. Suventi. 2012. Bahan Ajar Praktikum Pencapan. Bandung. SMKN 1
Katapang.
8. https://commons.wikimedia.org/wiki/File:Sodium_alginat.jpg (Diakses 8
Oktober 2018 pkl 19.20 WIB)
9. http://suhanasulastri.blogspot.co.id/2011/03/alginat.html (Diakses 8
Oktober 2018 pkl 19.30 WIB)

3
Laporan Praktikum Teknologi Pencapan 1 – Pencapan Zat Warna Pigmen – 3K4 – Kelompok 6
2