Anda di halaman 1dari 14

MAKALAH PSIKIATRI

GANGGUAN KEPRIBADIAN AMBANG


(BORDERLINE PERSONALITY DISORDER)

Disusun oleh:

DEKKA ANDRA

150100091

PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI DOKTER


DEPARTEMEN ILMU KEDOKTERAN JIWA
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
RUMAH SAKIT PROF. M. ILDREM
MEDAN
2019
MAKALAH PSIKIATRI

GANGGUAN KEPRIBADIAN AMBANG


(BORDERLINE PERSONALITY DISORDER)

Diajukan sebagai salah satu syarat untuk menyelesaikan Kepaniteraan


Klinik Senior Program Pendidikan Profesi Dokter di Departemen Ilmu
Kedokteran Jiwa Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara

Pembimbing: dr. M. Surya Husada, M.Ked(KJ), Sp.KJ


Nama: Dekka Andra
NIM : 150100091

PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI DOKTER


DEPARTEMEN ILMU KEDOKTERAN JIWA
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
RUMAH SAKIT PROF. M. ILDREM
MEDAN
2019
LEMBAR PENGESAHAN

Nama : Dekka Andra


NIM : 150100091
Judul : Gangguan Kepribadian Ambang (Borderline
Personality Disorder)

Koordinator P3D
Departemen Ilmu Kedokteran Jiwa
Pembimbing
Fakultas Kedokteran
Universitas Sumatera Utara

dr. M. Surya Husada, M.Ked(KJ), Sp.KJ dr. Vita Camellia, M.Ked.KJ, Sp.KJ
NIP. 198002032008011011 NIP. 197804042005012002

i
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, atas berkat dan
rahmat-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah ini dengan judul “Gangguan
Kepribadian Ambang”. Tujuan penulisan makalah ini adalah untuk melengkapi
persyaratan Program Pendidikan Profesi Dokter (P3D) di Departemen Psikiatri Fakultas
Kedokteran Universitas Sumatera Utara.
Selama penulisan makalah ini, penulis banyak mendapat bimbingan dan arahan dan
untuk itu penulis mengucapkan terima kasih kepada dosen pembimbing atas bimbingan
dan ilmu yang sangat berguna bagi penulis. Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada
teman-teman yang turut membantu dengan memberikan dukungan ide.
Penulis menyadari bahwa penulisan makalah ini masih jauh dari kesempurnaan,
baik isi maupun susunan bahasanya. Untuk itu, penulis mengharapkan saran dan kritik dari
pembaca sebagai masukan dalam penulisan makalah penyuluhan selanjutnya. Semoga
makalah ini bermanfaat, akhir kata penulis mengucapkan terima kasih.

Medan, Juli 2019


Penulis

Dekka Andra

ii
DAFTAR ISI

LEMBAR PENGESAHAN ............................................................................................... i

KATA PENGANTAR ....................................................................................................... ii

DAFTAR ISI..................................................................................................................... iii

BAB I PENDAHULUAN .................................................................................................. 1

BAB II TINJAUAN PUSTAKA ...................................................................................... 2

2.1 SEJARAH ................................................................................................................. 2

2.2 DEFINISI .................................................................................................................. 2

2.3 KLASIFIKASI .......................................................................................................... 2

2.4 EPIDEMIOLOGI ...................................................................................................... 3

2.5 ETIOLOGI ................................................................................................................ 3

2.6 FAKTOR PREDISPOSISI........................................................................................ 4

2.7 MANIFESTASI KLINIS .......................................................................................... 4

2.8 KRITERIA DIAGNOSIS ......................................................................................... 5

2.9 KOMPLIKASI .......................................................................................................... 6

2.10 DIAGNOSIS BANDING........................................................................................ 6

2.11 TERAPI................................................................................................................... 6

2.12 PROGNOSIS .......................................................................................................... 7

BAB III KESIMPULAN................................................................................................... 8

DAFTAR PUSTAKA

iii
BAB I
PENDAHULUAN

Kepribadian adalah totalitas dari ciri perilaku dan emosi yang merupakan karakter atau
ciri seseorang dalam kehidupan sehari-hari dalam kondisi yang biasa. Sifatnya stabil dan
dapat diramalkan. Gangguan kepribadian adalah ciri kepribadian yang bersifat tidak
fleksibel dan maladaptif yang menyebabkan disfungsi yang bermakna atau penderitaan
subjektif.1
Gangguan kepribadian ambang adalah gangguan kepribadian dengan ciri-ciri afek,
mood, tingkah laku, hubungan objek, dan citra diri yang sangat labil. Gangguan ini juga
sering disebut ambulatory schizophrenia, as-if personality, pseudoneurotic schizophrenia,
dan psychotic character disorder. Revisi ke-10 dari International Classification of
Diseases (ICD-10) menggunakan istilah emotionally unstable personality disorder.2
Tidak ada studi prevalensi yang definitif untuk gangguan kepribadian ambang, tetapi
diperkirakan terjadi pada sekitar 1 hingga 2 persen populasi dan pada perempuan dua kali
lebih banyak dibandingkan laki-laki. Banyak diantara mereka mempunyai anggota
keluarga yang menderita depresi berat, penyalahgunaan alkohol dan zat.2

1
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 SEJARAH

Meskipun konsep gangguan kepribadian ambang telah ada dalam literatur psikiatris
sejak 1938, gangguan kepribadian ambang sebagai diagnosis tidak dimasukkan ke dalam
Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders Edisi Ke-3 (DSM-3) pada 1980.
Bahkan dengan pengenalannya, gangguan kepribadian ambang dan gangguan kepribadian
lainnya diturunkan ke dalam kelompok diagnostik khusus (Aksis II). Akibatnya, banyak
orang di bidang kesehatan mental tidak menganggap gangguan kepribadian ambang
sebagai penyakit mental serius dengan kedudukan yang sama dengan gangguan lain seperti
gangguan bipolar, skizofrenia, atau depresi berat. Menurut laporan dari National Institute
of Mental Health, gangguan kepribadian ambang menerima paling sedikit dana untuk
hibah penelitian dibandingkan dengan gangguan kesehatan mental utama lainnya dari
tahun 2009 hingga 2013.3

2.2 DEFINISI

Gangguan kepribadian ambang adalah gangguan kepribadian dengan ciri-ciri afek,


mood, tingkah laku, hubungan objek, dan citra diri yang sangat labil. Gangguan ini juga
sering disebut ambulatory schizophrenia, as-if personality, pseudoneurotic schizophrenia,
dan psychotic character disorder. Revisi ke-10 dari International Classification of
Diseases (ICD-10) menggunakan istilah emotionally unstable personality disorder.2

2.3 KLASIFIKASI

Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders Edisi Ke-5 (DSM-5)


mengategorikan gangguan kepribadian menjadi tiga kelompok: Kelompok A dengan tiga
gangguan yang sifatnya aneh dan terasing, yaitu Paranoid, Skizoid, dan Skizotipal.
Kelompok B, dengan empat gangguan yang sifatnya dramatis, impulsif, dan tak menentu,
yaitu Ambang, Antisosial, Narsistik, dan Histrionik. Kelompok C, dengan tiga gangguan
yang sifatnya gelisah dan takut, yaitu Menghindar, Dependen, dan Obsesif-Kompulsif.4

2
3

2.4 EPIDEMIOLOGI

Tidak ada studi prevalensi yang definitif untuk gangguan kepribadian ambang, tetapi
diperkirakan terjadi pada sekitar 1 hingga 2 persen populasi dan pada perempuan dua kali
lebih banyak dibandingkan laki-laki. Banyak diantara mereka mempunyai anggota
keluarga yang menderita depresi berat, penyalahgunaan alkohol dan zat.2
Prevalensi populasi median gangguan kepribadian ambang diperkirakan 1,6% tetapi
mungkin setinggi 5,9%. Prevalensi gangguan kepribadian ambang sekitar 6% pada fasilitas
kesehatan primer, sekitar 10% pada pasien rawat jalan psikiatri, dan 20% pada pasien rawat
inap psikiatri. Prevalensi dari gangguan kepribadian ambang berkurang seiring
bertambahnya usia.5

2.5 ETIOLOGI

1. Faktor Genetik
Pada penelitian 15.000 pasang anak kembar, pada kembar monozigotik persamaan
dalam gangguan kepribadian beberapa kali lebih besar dibandingkan pada kembar
dizigotik, hal itu juga ditemukan walaupun kembar monozigotik itu dibesarkan terpisah.1
Gangguan kepribadian ambang lima kali lebih sering terjadi pada keluarga derajat
pertama dari orang dengan gangguan ini dibandingkan dengan populasi umum.5
2. Faktor Biologik
Pada orang dengan gangguan kepribadian ambang, kadar Dexamethasone Suppresion
Test (DST) abnormal. Sering juga ditemukan adanya gelombang lambat pada pemeriksaan
Elektroensefalogram (EEG) pada orang dengan gangguan kepribadian ambang.1
3. Faktor Psikososial
Model etiologi dari gangguan kepribadian ambang menunjukkan bahwa rasa tidak
percaya pada internal working models merupakan dasar dari penyebab rasa
ketidakpercayaan dan penolakan kepada orang lain. Faktor-faktor penyebab
perkembangan gangguan ini antara lain berupa trauma masa kecil seperti emotional neglect
atau kekerasan fisik dan seksual. Hal-hal tersebut secara bersamaan membentuk harapan
individu sehubungan dengan ketersediaan sumber daya di masa depan, termasuk kualitas
hubungan interpersonal dalam hal mengandalkan dan percaya orang lain.6
4

2.6 FAKTOR PREDISPOSISI

Beberapa penelitian mengatakan bahwa pengalaman trauma masa kecil menjadi


etiologi dari gangguan kepribadian ini. Baru-baru ini, sebuah model etiopatogenetik
tripartite, termasuk trauma pada masa kecil, temperamen yang rentan, dan serangkaian
kejadian-kejadian pemicu, telah dirumuskan. Psikiatri dinamis dan biologis sepakat bahwa
gabungan dari trauma masa kecil dan beberapa kerentanan biologis tertentu (sebagian
besar pada bagian emosional) merupakan faktor predisposisi utama untuk gangguan ini.4

2.7 MANIFESTASI KLINIS


Perubahan suasana hati secara cepat (mood swing) umum terjadi pada orang
dengan gangguan kepribadian ambang. Pada suatu waktu pasien dapat bersifat
argumentatif, merasa depresi, dan setelahnya tidak merasakan perasaan
apapun.

Pasien dapat mengalami episode psikotik sementara.

Tingkah laku orang dengan gangguan kepribadian ambang tidak dapat
diprediksi, sifat menyakitkan dalam kehidupan mereka tercermin dalam
tindakan mencederai diri berulang-ulang. Seperti memotong pergelangan
tangan mereka dan melakukan mutilasi diri lainnya untuk mendapatkan
bantuan dari orang lain, untuk mengekspresikan kemarahan, atau untuk
mematirasakan diri mereka sendiri terhadap afek yang luar biasa.

Karena mereka merasa bergantung sekaligus bermusuhan secara bersamaan,
orang dengan gangguan ini memiliki hubungan yang hiruk-pikuk. Mereka bisa
bergantung pada orang terdekat, tetapi saat merasa frustasi, dapat
menunjukkan amarah yang sangat besar kepada orang terdekatnya juga.

Orang dengan gangguan kepribadian ambang menganggap setiap individu itu
sepenuhnya baik atau sepenuhnya buruk. Mereka menganggap seseorang itu
sebagai seorang figur pengasuh yang baik, atau sebagai seseorang yang sadis
dan penuh kebencian, yang membuat mereka merasa tidak aman dan
mengancam menelantarkan mereka disaat mereka bergantung pada orang
tersebut.2
5

2.8 KRITERIA DIAGNOSIS

Berdasarkan Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders Edisi Ke-5


(DSM-5), gangguan kepribadian ambang merupakan pola tidak stabil yang menetap dari
hubungan interpersonal, citra diri, afek, dan impulsif yang ditandai, dimulai dari dewasa
muda, dan muncul dalam beberapa konteks, seperti yang diindikasikan oleh 5 (atau lebih)
poin berikut:5
1. Usaha hebat untuk menghidari penelantaran yang nyata ataupun khayalan
2. Sebuah pola hubungan interpersonal yang tidak stabil dan intens yang ditandai oleh
perubahan idealisasi dan devaluasi ekstrim
3. Gangguan identitas yang ditandai oleh citra diri yang tidak stabil
4. Impulsif pada sedikitnya dua area yang berpotensial melukai diri sendiri (belanja,
berhubungan seksual, penyalahgunaan zat, mengemudi ugal-ugalan, dan makan yang
banyak)
5. Tingkah laku, sikap, atau percobaan bunuh diri, atau melukai diri sendiri yang berulang
6. Instabilitas afektif dikarenakan mood yang reaktif (episode intens disfonia, iritabilitas,
atau cemas yang berlangsung selama beberapa jam dan jarang lebih dari beberapa hari)
7. Perasaan hampa yang kronis
8. Emosi yang membeludak atau kesulitan mengontrol emosi (luapan amarah yang sering,
emosi konstan, dan kekerasan fisik berulang)
9. Paranoid terkait stres sementara atau gejala-gejala disosiatif.
Berdasarkan Pedoman Penggolongan dan Diagnosis Gangguan Jiwa (PPDGJ) III,
Gangguan Kepribadian Emosional Tak Stabil Tipe Ambang (Borderline Personality
Disorder) (F60.31) dapat didiagnosis jika terdapat ciri khas ketidakstabilan emosional; lagi
pula, gambaran-diri pasien, tujuan, dan preferensi internalnya (termasuk seksual) sering
kali tidak jelas atau terganggu. Biasanya terdapat perasaan kosong yang kronis.
Kecendrungan terlibat dalam pergaulan yang erat dan tidak stabil dapat menyebabkan
krisis emosional yang berulang dan mungkin disertai dengan usaha yang berlebihan untuk
menghindarkan dirinya ditinggalkan dan serangkaian ancaman bunuh diri atau tindakan
pembahayaan diri (merskipun hal ini dapat terjadi tanpa pencetus yang nyata).7
6

2.9 KOMPLIKASI

Psychosis-like symptoms (halusinasi, body image distortion, fenomena hipnagogik,


waham referensi) karena stress; kematian prematur atau cacat fisik akibat bunuh diri atau
percobaan bunuh diri, failed suicide, dan kelakuan mencedarai diri sendiri.4

2.10 DIAGNOSIS BANDING

• Skizofrenia
Gangguan ini dibedakan dengan skizofrenia berdasarkan bahwa orang dengan
gangguan kepribadian ambang tidak mengalam episode psikotik yang panjang,
gangguan bentuk pikiran, dan tanda-tanda skizofrenia lainnya.
• Gangguan Kepribadian Skizotipal
Orang dengan gangguan kepribadian skizotipal menunjukkan kelainan dalam
berpikir, ide yang aneh, dan waham referensi yang berulang.
• Gangguan Kepribadian Paranoid
Orang dengan gangguan kepribadian paranoid menunjukkan rasa curiga
berlebihan, sedangkan pada orang dengan gangguan kepribadian ambang menuntut
hubungan yang luar biasa.2

2.11 TERAPI

1. Psikoterapi
Terapi perilaku, latihan ketrampilan sosial (social skills training), lebih baik lagi
dengan rekaman dan playback videotape agar mereka melihat sendiri bagaimana
perilakunya memengaruhi reaksi orang lain.1
2. Farmakoterapi
Antipsikotik untuk mengontrol amarah, kebencian, dan episode psikotik sementara.
Antidepresan untuk memperbaiki mood depresif yang umum dialami orang dengan
gangguan kepribadian ambang. MAO-inhibitor (MAOI) untuk memperbaiki kelakuan
impulsif, benzodiazepin untuk mengatasi depresi dan cemas. Antikonvulsan untuk
meningkatkan fungsi umum untuk beberapa pasien.2
7

2.12 PROGNOSIS

Prognosis gangguan kepribadian ini bervariasi, umumnya mengikuti pola instabilitas


kronis pada dewasa muda, dengan episode afektif serius dan ketidakmampuan kontrol
impulsif. Risiko kerusakan dan bunuh diri paling tinggi pada usia dewasa muda dan secara
berangsur berkurang seiring usia. Pada dekade keempat dan kelima kehidupan, orang
dengan gangguan kepribadian ambang menjadi lebih stabil dalam kehidupan dan hubungan
mereka.4
BAB III
KESIMPULAN

Gangguan kepribadian ambang adalah gangguan kepribadian dengan ciri-ciri afek,


mood, tingkah laku, hubungan objek, dan citra diri yang sangat labil. Gangguan ini juga
sering disebut ambulatory schizophrenia, as-if personality, pseudoneurotic schizophrenia,
dan psychotic character disorder. Psikiatri dinamis dan biologis sepakat bahwa gabungan
dari trauma masa kecil dan beberapa kerentanan biologis tertentu (sebagian besar pada
bagian emosional) merupakan faktor predisposisi utama untuk gangguan ini. Tingkah laku
orang dengan gangguan kepribadian ambang tidak dapat diprediksi, sifat menyakitkan
kehidupan mereka tercermin dalam tindakan mencederai diri berulang-ulang. Seperti
memotong pergelangan tangan mereka dan melakukan mutilasi diri lainnya untuk
mendapatkan bantuan dari orang lain, untuk mengekspresikan kemarahan, atau untuk
mematikan rasa diri mereka sendiri terhadap afek yang luar biasa
Penatalaksanaan gangguan kepribadian ini meliputi psikoterapi, yang meliputi terapi
perilaku, latihan ketrampilan sosial (social skills training), dengan rekaman dan playback
videotape, dan farmakoterapi, yang meliputi antipsikotik, antidepressan, MAOI,
benzodiazepin, dan antikonvulsan.

8
DAFTAR PUSTAKA

1. Elvira SD, Hadisukanto G. Buku Ajar Psikiatri Edisi Ke-3. Jakarta: Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia; 2017: 376-384.
2. Sadock BJ, Sadock VA, Ruiz P. Kaplan & Saddock’s Synopsis of Psychiatry
Behavioral Sciences/Clinical Psychiatry. 11th ed. Philadelphia: Wolters
Kluwer; 2015: 750-751.
3. Yeomans FE, Tusiani-Eng P. Borderline Personality Disorder. Psychiatric Clinics
of North America; 2018; 41(4): 698.
4. Sadock BJ, Sadock VA, Ruiz P. Kaplan & Saddock’s Comprehensive
Textbook of Psychiatry. 10th ed. Philadelphia: Wolters Kluwer; 2017: 5490, 5503-
5505.
5. American Psychiatric Association. Diagnostic and Statistical Manual of Mental
Disorder (DSM-5) 5th ed. England: American Psychiatric Publishing; 2013: 663-
666.
6. Brüne M. Borderline Personality Disorder: Why ‘fast and furious’?. Evolution,
medicine, and public health; 2016; 2016(1): 52-66.
7. Penggolongan dan Diagnosis Gangguan Jiwa di Indonesia III Ed. 1.
Departemen Kesehatan Jakarta. 1993: 266.