Anda di halaman 1dari 9

HAKIKAT SEJARAH SASTRA

OLEH :

BINTA MILYANNIARTI (1705110507), KARIN ANGGI LIOSA (1705115067),


SANDIKA LUMBAN BATU (1705111078)

A. PENDAHULUAN
Hakikat menurut KBBI berarti intisari atau dasar. Bagi Rene Wellek dan
Austin Warren (1962: 252; 1989: 338, 340), sejarah sastra merupakan sejarah
sosial atau sejarah pemikiran dengan mengambil contoh karya sastra atau impresi
dan penilaian atas beberapa karya sastra yang diatur secara kronologis. Jadi,
hakikat sejarah sastra merupakan intisari yang mempelajari perkembangan karya
sastra secara kronologis.
Pendekatan sejarah sastra berdasarkan kronologis, maka istilah periodisasi
dan angkatan tak terelakkan. Periodisasi ialah suatu rentang waktu tertentu yang
di dalamnya terdapat tonggak-tonggak penting peristiwa kesusastraan. Sedangkan
angkatan ialah suatu peristiwa penting atau satu tonggak penting yang terjadi
dalam kesusastraan dalam waktu tertentu.
Adapun permasalahan yang ditanyakan itu seperti bagaimana
perkembangan karya sejarah sastra, tentang periodesasi sejarah sastra, dan
karakteristik dari setiap angkatan periodesasi.
Maka di buatlah makalah ini dengan bertujuan dan bermanfaat bagi para
pembaca agar memahami hakikat sejarah sastra beserta perkembangan karya
sejarah sastra, periodesasi sejarah sastra, dan karekteristik setiap angkatan
periodesasi sejarah sastra.

B. PEMBAHASAN

Hakikat Sejarah Sastra

Hakikat sejarah merupakan merupakan intisari yang mempelajari


perkembangan karya sastra secara kronologis. Sejarah sastra sebagaimana ilmu
sastra lainnya, hendaklah memenuhi empat syarat ilmu sejarah:

1
a. Objektif yaitu sejarah sastra harus mempunyai bukti bukti yang objektif
baik yang berbentuk lisan maupun tulisan yang oleh sastrawan/kritikus
sastra, tanpa ada tendensi sosial politik apapun.
b. Ilmiah yaitu dalam pembuatan sejarah sastra haruslah mendapatkan prinsif
keilmuan, jujur dan sesuai dengan prinsip ilmu sejarah serta sesuai dengan
teori-teori, pendekatan dan norma norma yang berlaku.
c. Sistematis yaitu sejarah sastra dibuat dengan sistem yang berlaku dalam
ilmu sejarah, terutama dalam hal mendapatkan dan menguji data sesuai
dengan sifat sastra yaitu lisan dan tulisan.
d. Kronologis yaitu penyusunan kembali sejarah sastra hendaklah dibuat
secara berurutan waktu (kronologis) dan urutan tersebut hendaklah dibuat
secara rasional.

Periodesasi Sastra Indonesia

Sejarah sastra Indonesia tidak lepas dari sejarah bahasa dan sastra Melayu
karena sastra Indonesia berasal dari bahasa dan sastra Melayu. Mulai dari Zaman
Tradisional sampai Zaman Modern sekarang ini. Berdasarkan pendapat dari
beberapa ahli sastra melayu/sastra Indonesia seperti HB. Jassin (1955, 1988),
Liaw Yock Fang (1991), Zalila Sharif dan Jamilah Hj. Ahmad (1993), Korrie
Layun Rampan (2000) dan Rachmat Djoko Pradopo (2007) maka ditetapkanlah
Periodesasi atau Angkatan Sastra Indonesia sebagai berikut:

1. Sastra Melayu Zaman Tradisional/Lama/Klasik (sebelum Tahun Masehi-


1930-an)

a. Zaman Animisme-Dinamisme

Menghasilkan karya sastra seperti mantra, pantun, peristiwa sejarah, adat


istiadat, mitis, legenda, fabel, dll. Pada zaman ini dominan sastra lisan
daripada sastra tulisan. Kalaupun ada tulisan, terbatas kepada bentuk

2
prasasti yang kebanyakannya bertuliskan huruf Pallawa dan berbahasa
Sankerta (dari India) seperi Prasasti Kutai (400 M), Prasasti Purnawarman
(600-an). Selain terdapat juga yang berbahasa campuran Sanskerta dan
bahasa Melayu Kuno dengan tulisan Pranagari, dari zaman Kerajaan
Sriwijaya seperti Prasasti Kedukan Bukit di Palembang (683 M), Prasasti
Karang Berahi di Pasemah, Sumsel (689 M, Prasasti Talang Tuwo di
Jambi (686), Prasasti Batu Kapur di Pulau Bangka (689 M), Prasasti
Gandasuli di Manyumas, Jawa Tengah (780-an), dan lain-lain;

b. Zaman Hindu-Budha (abad IV-abad XVI)

Pada zaman ini kuatnya pengaruh india, bahasa Sanskerta yang mendasari
bahasa Jawa Kuno, bahasa Sunda Kuno dan Bali Kuno, tulisan Pallawa
dan maupun sastra. Di bidang sastra, pengaruh India terutama masuknya
epik Mahabrata (Bharatayudha) dan Ramayana yang dalam sastra Jawa
digubah menjadi kakawin; dalam sastra Melayu disadur menjadi Hikayat
dan Syair. Kemudian masuk pula cerita fabel seperti Pancatantra atau
Pancatandrean. Selain itu, berkembang pula sastra Jawa seperti wayang,
cerita-cerita Panji ke berbagai wilayah Nusantara bahkan ke Asia tenggara
lainnya;

c. Zaman Islam (Abad XIII-abad XX)

Seiring dengan masuknya agama Islam yang berasal dari Tanah Arab
(Timur Tengah), masuk pula budaya Arab dan Parsi ke seluruh dunia.
Selain itu, muncul pula tulisan arab melayu/tulisan Jawi yang merupakan
tulisan arab yang menggunakan bahasa Melayu. Dalam bidang sastra,
masuk juga beberapa sastra arab seperti hikayat, syair, nazam, ruba’l,
silsilah, kisah, sejarah, dan lain-lain serta cerita-cerita nabi dan rasul,
sahabat nabi, pahlawan, tokoh Islam dan beberapa cerita fabel. Jumlah
karyanya hampir 10.000 judul.

3
2. Sastra Melayu Zaman Peralihan (Abad XIX-XX)

Periode ini ditandai dengan terjadi peralihan sastra tradisional ke sastra


modern, dapat dilihat dari karya-karya Abdullah Kadir Munsyi (1780-1850),
Raja Ali Haji (1808-1872 ) dan sejumlah pengarang Melayu di Kerajaan Riau
Lingga (1824-1930-an).

3. Sastra Indonesia Baru/Modern (1920 s.d sekarang)

a. Angkatan Balai Pustaka/Angkatan Dua Puluhan (1920-1933);

Angkatan Balai Pustaka adalah nama kelompok sastrawan yang karya-


karyanya di gabungkan berdasarkan ciri-cirinya yang didominasi sifat-sifat
kemelayuan dalam bahasanya, adanya potret sosial yang menjunjung
tinggi tradisi dengan tema pertentangan adat dan kawin paksa,
kecendrungan didaktis, serta bebas dari unsur-unsur politik dan agama.
(Mujianto Yant dan Amir Fuady, 2007 : 34).

Karakteristik karya sastra angkatan balai pustaka :

 Umumnya bahasa yang digunakan bahasa sastra Melayu.

 Isi cerita biasanya sekitar adat kawin paksa, sikap otoriter orang tua
dalam menentukan jodoh, konflik generasi muda dengan generasi
tuayang pada akhirnya akan dimenangkan oleh yang lebih tua.

 Gaya bahasa yang digunakan perumpamaan dan pribahasa.

Sastrawan yang termasuk angkatan balai pustaka :

 Marah Rusli dengan Karyanya roman Siti Nurbaya.


 Muhammad Yamin dengan kumpulan puisi Tanah Air.
 Abdul Muis dengan karyanya roman Salah Asuhan.

4
 Rustam Effendi dengan Karyanya kumpulan puisi Percikan
Permenungan.
 Nur Sutan Iskandar dengan karyanya roman Katak Hendak jadi
Lembu.

b. Angkatan Pujangga Baru/Angkatan Tiga Puluhan (1933-1942);

Angkatan Pujangga Baru menurut (Mujianto Yant dan Amir Fuady, 2007 :
41). Adalah nama salah satu angkatan sastra Indonesia atau majalah yang
terbit pada tahun 1933-1942, yang penuh semangat baru dalam
memajukan kebudayaan, mempermantap penggunaan dan eksistensi
bahasa Indonesia.

Karakteristik karya sastra angkatan pujangga baru :


 Bahasa yang dipakai adalah adalah bahasa Indonesia modern;
 Temanya tidak hanya tentang adat atau kawin paksa, tetapi mencakup
masalah yang kompleks seperti emansipasi wanita, kehidupan kaum
intelek , dan sebagainya;
 Bentuk puisinya adalah puisi bebas, dan lebih mementingkan
keindahan bahasa dan digemari bentuk baru yang disebut soneta, yaitu
puisi dari Italia yang terdiri dari 14 baris;
 Pengaruh barat sangat terasa sekali terutama dari angkatan 80-an
Belanda;
 Aliran yang dianut adalah romantik dan idealis;
 Latar tempat yang menonjol adalah masyarakat penjajahan;
 Menonjolkan nasionalisme, individualisme, dan romantisme.

Sastrawan yang termasuk angkatan pujangga baru :


 Sutan Takdir Alisyahbana dengan karyanya roman Layar Terkembang
dan kumpulan puisi Tebaran Mega.
 Amir Hamzah dengan kumpulan puisi Buah Rindu dan Nyanyi Sunyi
 Armijn Pane dengan karyanya roman Belenggu.
 Sanusi pane dengan kumpulan puisi Madah Kelana dan drama
Manusia Baru.
 Y.E. Tatengkeng dengan kumpulan puisinya Rindu Dendam.
 HAMKA dengan romannya Tenggelamnya Kapal Van der Wijck.

5
c. Angkatan 45/Angkatan Perang (1942-1953);

Sejarah sastra Angkatan 45 lahir saat Indonesia masih dalam


kependudukan jepang menuju kemerdekaan. Sehubungan dengan itu,
pemerintah fasis jepang melalui Keimin Bunka Shindosho (Kantor Pusat
Kebudayaan Jepang) melalukan mobilisasi kebudayaan. Semua seniman
dan pengarang berkarya sesuai dengan keinginan dan pesanan jepang,
terutama propagana membantu Jepang untuk memenangkan perang dunia
II di Asia Timur. Seniman Indonesia dikerahkan untuk menciptakan lagu-
lagu, lukisan, slogan, puisi, drama, dan film sesuai keinginan jepang. Siapa
yang menolak berarti menentang jepang dengan resiko berhadapan dengan
Kenetai (Polisi Militer Jepang). Angkatan ini berdiri sebagai penolakan
dari angkatan-angkatan sebelumnya. Angkatan 45 dipublikasikan oleh
Rosiwan Anwar dalam majalah siasat yang dipimpinya pada 9 januari
1948.

Karakteristik karya sastra angkatan 45 :


 Tema/topik sastra tentang perjuangan terhadap kemanusiaan sejagat,
heroik/kepahlawanan dan perjuangan;
 Umumnya beraliran realisme, ekspresionisme, dan impresionisme;
 Bahasanya kurang terjaga dan bebas dalam memilih kata, karena lebih
mementingkan isi;
 Unsur intrinsiknya beragam baik tema, alur, tokoh, perwatakan, dan
latar cerita;
 Kuat pengaruh sastrawan dunia sepeti Marsman, Du Perron,
Dostoyevski, dan lain-lain.

Sastrawan yang termasuk angkatan 45 :


 Chairil Anwar dengan kumpulan puisinya Deru Campur Debu.
 Usman Ismail dengan dramanya Citra.
 El Hakim dengan dramanya Taufan di Atas Asia.
 Achdiat Kartamihardja dengan romannya Atheis.
 Pramudya Ananta Toer dengan kumpulan cerpen Percikan Revolusi.

6
d. Angkatan 66/Angkatan Lima Puluhan (1953-1968);

Generasi angkatan ini muncul dalam sejarah sastra tanpa mengibarkan


bendera revolusi sastra tertentu dan lebih menyerupai potret zaman dari
sebuah publik yang baru, yang penuh kecamuk dan pergolakan. Dalam
masa ini, kemunculan cerita pendek dan sajak terasa sangat
menggembirakan, lebih banyak dari pada novel dan roman. Pada tahun
1950, didirikan Lekra (Lembaga Kebudayaan Rakyat) sebagai suatu
organisasi kebudayaan dalam naungan PKI.

Sastrawan yang termasuk angkatan 66 :


 Taufiq Ismail dengan kumpulan puisinya Tirani dan Banteng.
 Sapardi Joko Damono dengan kumpulan puisinya DukaMu Abadi.
 Hartoyo Anangjaya dengan kumpulan puisinya Buku Puisi.
 Bur Rasuanto dengan kumpulan puisinya Mereka Telah Bangkit.
 Ramadhan KH dengan novelnya Royan Revolusi dan kumpulan puisi
Priangan Si Jelita.

e. Angkatan 70-an (1968-1998);

Menurut (Mujianto Yant dan Amir Fuady, 2007 : 88), dari zaman dahulu
puisi merupakan suatu bentuk ekspresi yang penting bagi seniman
Indonesia. Pada dekade 70-80an puisi sangat berkembang jika dibanding
dengan periode 66, dan kita harus turut bahagia dan bangga karena, dunia
perpuisian kita mengalami perubahan yang pesat baik dari segi kualitas
ataupun kuantitas. Serta nilai nilai pendidikan yang terkandung didalamya.

Sastrawan yang termasuk angkatan 70-an :


 Sutardji Calzoum Bachri dengan kumpulan puisinya O Amuk Kapak
 Iwan Simatupang dengan novelnya Ziarah.
 Danarto dengan kumpulan cerpennya Godlob.
 Y.N. Mangunwijaya dengan novelnya Burung-burung Manyar.
 Putu Wijaya dengan novelnya Telegram, dengan drama Dag Dig Dug.
 Kuntowijoyo dengan novelnya Khotbah di Atas Bukit.
 Arifin C. Noer dengan dramana Mega-Mega
 Umar Kayam dengan novelnya Para Penyanyi.

7
 Ahmad Tohari dengan trilogi novel Ronggeng Dukuh Paruk, Lintang
Kemukus Sini Hari, Jentera Bianglala.

f. Angkatan 2000 (1998-sekarang).

Penuh kebebasan ekspresi dan pemikiran, mengandung renungan religious


dan nuansa-nuansa sufistik.Menampilkan euphoria menyuarakan hati
nurani dan akal sehat untuk pencerahan kehidupan multidimensional.
Menampilkan sanjak-sanjak peduli bangsa (istilah yang diusung rubik
budaya Republika) dan karya-karya reformasi yang anti penindasan,
gandrung keadilan, berbahasa kebenaran (sesuai Sumpah Rakyat 1998).

Sastrawan yang termasuk angkatan 2000-an :

 Emha Ainun Najib dengan kumpulan puisinya Sesobek Buku Harian


Indonesia dan drama Lautan Jilbab.
 Seno Gumira Ajidarma dengan kumpulan cerpennya Iblisnya Tidak
Pernah Mati.
 Ayu Utami dengan novelnya Saman dan Larung.
 Jenar Mahesa Ayu dengan kumpulan cerpennya Mereka Bilang Saya
Monyet.
 N. Riantiarno dengan dramanya Opera Kecoa dan Republik Bagong.
 Yanusa Nugraha dengan kumpulan cerpennya Segulung Cerita Tua.
 Afrizal Malna dengan kumpulan puisinya Abad yang Berlari
 Ahmadun Y. Herfanda dengan kumpulan puisinya Sembahyang
Rumputan.
 D. Zawawi Imron dengan kumpulan puisinya Bantalku Ombak,
Selimutku Angin.
 K.H. Ahmad Mustofa Bisri dengan kumpulan puisinya Ohoi Puisi-
puisi Balsem dan Gendrung.

C. PENUTUP
Sejarah sastra adalah bagian dari ilmu sastra yang membicarakan
perkembangan sastra sejak lahirnya sampai perkembangannya yang terakhir

8
(Mujiyanto Yant dan Amir Fuady, 2007 : 3). Sejarah sastra berisi kronologi buah-
buah citra sastra dari dekade 20-an hingga awal abad XXI yang menyampaikan
proses kelahiran dan perkembangan sastra serta mengetahkan kegiatan-kegiatan
tokoh-tokoh sastra dalam berkarya. Dalam sejarah sastra Indonesia, karya sastra
bisa dibagi berdasarkan periodesasinya. Periodesasi adalah pembagian kronologi
perjalanan sastra atas masanya, biasanya berupa dekade-dekade. Pada dekade-
dekade tertentu dikenal angkatan-angkatan kesusastraan, misalnya Angkatan Balai
Pustaka, Angkatan Pujangga Baru, Angkatan 45, Angkatan 66, Angkatan 70 dan
Angkatan 80 dan Angkatan 2000.
Dalam makalah ini penulis ingin kepada pembaca, agar mengetahui
sejarah sastra sebagaimana penting untuk diketahui. Terutama bagi penikmat
sastra. Karena nilai-nilai sastra sudah mulai berkurang di zaman sekarang, maka
penulis berharap agar para pembaca mengetahui tentang hakikat sejarah sastra
Indonesia beserta karakteristik periodesasinya dan membagi ilmu yang di
dapatkan bagi orang lain.

D. DAFTAR PUSTAKA
Shomary, Sudirman. 2012. Sejarah Sastra Indonesia: Ilmu Sastra Dan Periodesasi
Sastra. Pekanbaru : Universitas Islam Riau Press.
Rahman, Elmustian. 2004. Sejarah Sastra. Pekanbaru : UNRI Press.
Rahman, Elmustian dan Abdul Jalil. 2004. Teori Sastra. Pekanbaru : UNRI Press.
Yudiono K.S. 2007. Pengantar Sejarah Sastra Indonesia. Jakarta : Grasindo.
Mujianto, Yant dan Amir Faudy. 2007. Sejarah Sastra Indonesia Prosa Dan Puisi.
Yogyakarta : UNS Press.
Ajip Rosidi. 1991. Ikhtisar Sejarah Sastra Indonesia. Bandung : Bina Cipta.
Jassin, H.B. 1991. Sejarah Kesustraan Melayu Klasik. Jakarta : Penerbit Erlangga.
Abadi, Jihaty dkk. 1979. Sari SejarahKesusastraan Melayu Indonesia (Tradisi dan
Modern). Kuala Lumpur: Penerbitan Adab.
Jassin, H.B. 19955. Kesusatraan Indonesia Modern dalam Kritik dan Essay.
Jakarta : Gunung Agung.
Kratz, E.U (Pnys.). 2000. Sumber Terpilih Sejarah Sastra Indonesia Abad XX.
Jakarta : KP Gramedia, Yys Adikarya IKAPI dan Ford Foundation.

Anda mungkin juga menyukai