Anda di halaman 1dari 11

MAKALAH

FILSAFAT PENDIDIKAN

DisusunOleh :

NOFITA SARI
14022044

MATA KULIAH UMUM


FILSAFAT PENDIDIKAN
UNIVERSITAS NEGERI PADANG
2015
Kata Pengantar

PujisyukurkehadiratTuhan Yang MahaEsakarenaataslimpahanrahmatdankarunia-Nya,


penulisdapatmenyelesaikan
UcapanterimakasihpenulissampaikankepadaDosenmatakuliahFilsafat Pendidikan
yang telahmemberikankesempatankepadapenulisuntukberkaryamenyusun.
Semogamakalahinidapatbermanfaatbagipembaca. Saran
dankritiksangatpenulisharapkandariseluruhpihakdalam proses membangunmutumakalahini.

Padang, 1 Desember 2015

Penulis
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR …………………..………………………………………….

DAFTAR ISI ……………………………………………………………………….

BAB I
PENDAHULUAN
A. LatarBelakang …………………………………………………………....…….
B.RumusanMasalah …………………..…………………………………….…….
C.TujuanPenulisan …………………….…………………………………….…….

BAB II
PEMBAHASAN
A. Manusia Sebagai Makhluk Pendidikan……………………………………………….
B. Pemberian Gadget Pada Anak Usia Dini……………………………………………

BAB III
PENUTUP
A.Kesimpulan …………………………………………………………………….

DAFTAR PUSTAKA …………………..………………………………………….


BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Di zaman yang sangat modern pada saat ini perkembangan teknologi terus berkembang.
Karena perkembangan teknologi akan berjalan sesuai perkembangan ilmu pengetahuan yang semakin
tinggi. Teknologi diciptakan untuk memberikan kemudahan bagi kehidupan manusia dalam
melakukan aktivitas sehari-hari dan memberikan nilai yang positive. Namun demikian, walaupun
pada awalnya diciptakan untuk menghasilkan mamfaat positif, di sisi lain juga memungkinkan
digunakan untuk hal negatif.

Anak-anak tampaknya sudah mulai kurang tertarik pada buku dan lbih cenderung memilih
gadget seperti iped. Mereka bahkan sekarang dapat melihat versi animasi tokoh faforit mereka.
Fenomena ini memunculkan perdebatan yang cukup hebat. Beberapa pihak melarang pemberian
gadget pada anak usia dini.Disadari atau tidak kebiasaan lingkungan terhadap anak usia dini akan
membentukperkembangan anak. Pada saat ini seiring berkembangnya teknologi, banyak sekali yang
berpengaruh pada anak salah satunya adalah penggunaan gadget. Gadget sangat mudah sekali menarik
perhatian dan minat anak dan sudah menjadi hal yang biasa jika anak-anak saja sudah memakai
gadget di dalam kehidupan sehari-hari.

“Gadged adalah sebuah istilah dalam bahasa inggris yang mengartikan sebuah alat elektronik
kecil dengan berbagai macam fungsi khusus”. (Osland,2013). “istilah gadget sebagai sebagai benda
dengan karakteristik unik, memiliki sebuah unit dengan kinerja yang tinggi dan berhubungan dengan
ukuran serta biaya”(Rayner, 1956).

Salah satu hal yang membedakan gadget dengan perangkat elektronik lainnya adalah unsur
“kebaruan”. Artinya, dari hari ke hari gadget selalu muncul dengan menyajikan teknologi terbaru
yang membuat hidup manusia menjadi lebih praktis.

B. Rumusan masalah
a. Kenapa manusia dikatakan sebagai makhluk pendidikan?
b. Bagaimana mengawasi anak menggunakan gadget?
BAB II

PEMBAHASAN

A. Manusia Sebagai Makhluk Pendidikan


a. Manusia sebagai makhluk yang perlu bantuan

Pada saat dilahirkan, manusia berada dalam keadaan “tidakberdaya”. Ia belum bisa
berdiri, belum bisa berjalan, belum bisa mencari makanan sendiri dan lain-lain. Pada saat ia
dilahirkan, untuk dapat mempertahankan hidupnya saja ia memiliki ketergantungan dan
betapa ia memerlukan bantuan dari ibu dan ayahnya, atau dari orang dewasa lainnya.
Demikian pula dalam rentang waktu tertentu dalam perjalanan hidupnya lebih lanjut, banyak
tantangan dan masalah yang ia hadapi dan harus dapat ia selesaikan. Sementara itu, selain
anak manusia belum dapat memenuhi berbagai kebutuhan pangan dan sandangnya secara
mandiri, ia pun belum menguasai berbagai pengetahuan (ilmu pengetahuan) dan keterampilan
yang dibutuhkannya dalam rangka memecahkan berbagai masalah hidupnya, ia belum tahu
mana yang benar dan mana yang salah, mana yang baik dan mana yang jahat, belum tahu
kemana arah tujuan hidupnya. Dengan demikian, dalam perjlanan hidupnya itu, anak manusia
masih harus belajar untuk “hidup”, adapun hal tersebut mengimplikasikan adanya
ketergantungan dan perlunya anak memperoleh bantuan dari orang dewasa.

Sejak kelahirannya, anak amnusia memang telah dibekali insting, nafsu dan berbagai
potensi untuk dapat menjadi manusia atau untuk dapat enjadi dewasa. Manusia memiliki
potensi untuk beriman dan bertaqwa kepada Tuhan YMEdan potensi untuk berbuat baik,
namun disamping itu karena hawa nafsunya ia pun memiliki potensi untuk berbuat jahat.
Selain itu, manusia memiliki potensi untuk berpikir (cipta), potensi berperasaan (rasa),
potensi untuk mampu berpikir (karsa), dan memiliki potensi untuk berkarya.. tetapi bagi anak
manusia insting, nafsu, dan semua potensi belum mencukupi untuk dapat langsung menjalani
dan menghadapi kehidupan serta untuk dapat mengatasi semua masalah dan tantangan dalam
hidupnya.

b. Dunia Manusia Sebagai Dunia Terbuka


Proses saling mengisi dan mengimbangi tidak dirasakan sebagai suatu yang rumit dan
sulit. Orang tua merasa tanggung jawab, kasih sayang dan kepercyaan untuk memberikan
bantuan kepadanya dalam rangka memungkinkan kelangsungan hidupnya, krena anak itu
adalah anaknya. Sedangkan anak merasa wajar perlu bantuannya dipenuhi oleh orang tuanya.
Dalam proses ini ia perlu menentukan kepribadian eksistensi, arah hidup, corak, arah,
dan tujuan hidupnya karena baginya tidak disodorkan alam siap pakai (ready to wear).untuk
memenuhi kebutuhan itu teori retardasi dan bolk membatasi perbedaan manusia dengan
hewan:
1. Inisiatif dan kreasi manusia
2. Kemampuan manusia untuk merealisasikan kehidupannya
3. Kesadaran manusia akan lingkungannya
4. Keterarahan kehidupan manusia kepada lingkungannya
5. Kesadaran manusia dan tugasnya dalam lingkungan hidupnya
Bagi manusia lingkungan hidupnay tidak sekedar lingkungan sekitar atau yang
melingkunginya melainkan mengundang utuk mengolah dan mengharapkannya serta
sebagai lapangan pekerjaan. Mengenai perbuatan manusia dan lingkunagnnya terdapat 2
pandangan ekstrem yang saling berlawanan, yaitu:
1. Pandangan Leibniz teori monade. Yang memandang pribadi aktif dalam hidup, tanpa
mendapat pengaruh dari luar. Sehingga manusia merupakan penyebab, bukan akibat
dan lingkungannya.
2. Pandangan Epifenomenalis. Yang menganggap pribadi hanyalah efek atau akibat dan
sistem perserapan yang tidak berdaya sama sekali. Kalau pandangan itu tidak dapat
diterima karena manusia sekaligus sebagai akibat dan penyebab, cuaca maupun efek
pasif maupun aktif terhadap lingkunagnnya, ia mampu untuk memilih dan
berinisiatif, akan tetapi juga eksistensinya tidak dapat dilepaskan dan lingkungannya
(Grightman).
Beberapa pendapat para ahli tentang manusia yaitu:
1. Manusia bukan benda manusia adalah dialog, sehingga ia selalu ada dalam
pertautan dengan lingkungannya dan kita hanya dapat menemukannya dalam
keadaan seutuhnya manakala ia berada dalam situasinya. Akan tetapi sebaliknya,
setiap pelukisan situasi kongkrit selalu menunjuk kepada orang ayng
menghuninysa (v.d Berg 1945).
2. Manusia tidak merupakan suatu yang selesai, melainkan yang harus digarapnya
manusia menghayati duniayanya sebagai suatu penugasan. (Vloemans).
3. Manusia mendunia dalam duniayanya manusia buakan makhluk yang polos,
manusia adalah makhluk yang terarah. Terarah pada lingkungan, terarah pada
tuhan, kepada benda-benda sekitar, kepada sesama manusia, kepada dirinya
sendiri, kepada dunia dan duni tiadalah tertutup baginya (Drijarkara).

c. Manusia Sebagai Makhluk Yang Dapat Dan Perlu Dididik.


Pendidikan yang bertujuan agar seseorang menjadi manusia ideal atau
manusia dewasa. Sosok manusia ideal tersebut antara lain adalah manusia yang
beriman dan bertaqwa kepada Tuhan YME, bermoral dan berakhlak mulia,
cerdas, berperasaan, berkemuan, mampu berkarya, dst. Telah kiata pahami
melalui uraian di muka bahwa manusia dibekali Tuhan dengan berbagai
potensi, yaitu: potensi untuk beriman dan bertaqwa kepada Tuhan YME, potensi
untuk berbuat baik, potensi cipta, rasa, karsa dan potensi karya. Pendidikan
hakikatnya berlangsung dalam pergaulan (interaksi/komunikasi) antar sesama
manusia (antara pendidik dengan anak didik). Melalui pergaualan tersebut
pengaruh pendidikan disampaikan oleh pendidik dan diterima oleh peserta didik.
Manusia (anak didik) hakikatnya adalah makhluk sosial, ia berhidup bersama
denagn sesamanya. Dalam kehidupan bersama dengan sesamanya ini akan terjadi
hubungan pengaruh timbal balik dimana setiap individu yang lainnya.
Berdasarkan uraian di atas dapat ditemukan lima prinsip antropologis yang
melandasi kemungkinan manusia akan dapat dididik, yaitu:
1. Prinsip potensialitas.
2. Prinsip dinamika.
3. Prinsip individualitas.
4. Prinsip sosialitas.
5. Prinsip moralitas.
Kita dapat mengidentifikasi empat prinsip antropologis yang menjadi alasan
bahwa manusia dapat dididik. Keempat prinsip yang dimaksud adalah:
1. Manusia belum selesai mengadakan dirinya sendiri.
2. Keharusan manusia untuk menjadi manusia dewasa.
3. Perkembangan manusia bersifat terbuka.
4. Manusia sebagai makhluk yang lahir tak berdaya, memiliki
ketergantungan dan memerlukan bantuan.
Manusia dapat dididik karena:
1. Manusia adalah makhluk sosial, ia harus bergaul dengan sesama
manusia.
2. Manusia punya eksistensinya sendiri (individualitas).
3. Manusia bersusila dan bermoral untuk mengarahkan perbuatannya.
4. Manusia unik tidak ada identik satu dengan yag lainnya.
Manusia sebagai makhluk yang perlu dididik karena:
1. Manusia tidak dilahirkan secara dewasa dan ia tidak dapat bertindak
secara mandiri dan bertanggungjawab dalam melaksanakan tugasnya.
2. Kemampuan untuk hidup tidak cukup mempercayakan pada instingnya
saja yaitu pertumbuhan dari dalam dirinya.
3. Tidak mengikuti dorongan-dorongan nafsu saja yang tidak selaras
dengan martabat manusiawi.
d. Batas-batas pendidikan
Ada hal alami yang dibawa anak sejak lahir, yaitu bakat dan jenis kelamin. Ada
ajar yaitu pengaruh orang di sekitarnya. Ada dasar dan ajr gabungan keduanya.
Sebagaimana dikemukakan oleh M. I. Soelaeman (1988: 42-51) mengenai batas-batas
pendidikan ini terdapat 2 pemasalahan, yaitu: (1) batas pendidikan, dan (2) batas
kemungkinan untuk mendapatkan pendidikan atau untuk dididik. Batas pendidikan dapt
dibedakan menjadi 3 jenis, yaitu:
1. Batas Bawah
Batas bawah pendidikan atau saat pendidikan dapt mulai berlangsung adalah ketika anak
didik mengenal kewibawaan yaitu kurang lebih sekitar 3,5 tahun.
2. Batas Atas
Batas atas pendidikan atau kapan pendidikan berakhir, yaitu ketika tujuan pendidikan
telah tercapai atau ketika anak mencapai kedewasaan. Batas pendidikan sehubungan
dengan tujuan, tercapainya manakala tujuannya telah digariskan telah tercapai.
3. Batas pendidikan berhubungan dengan pribadi anak didik.
Praktik pendidikan hendaknya dilaksanakan dengan memperhatikan dan
mempertimbangkan anak didik. Pendidikan dalam melaksanakan peranan-peranannya
hendaknya tetap menghormati pribadi anak didik.
B. Pemberian Gadget Pada Anak Usia Dini
a. Pengertian gadget
Gadget sepertiHandphone, Smartphone, Tablet dan lain laintengah booming
di masyarakat indonesia. Dulu, hargabarangtersebutmasihterbilangmewah,
sehinggatidakbanyakanakusiadini yang memilikinya namun kini seiring
berkembangnya pasar perdagangan internasional barang tersebut kini mudah didapat
dan harganya terjangkau. Semua eleme nmasyarakat pun memilikinya, dari mulai
boss hingga security pun dapat membel ibarang tersebut.Fungsi yang dibutuhkandari
smartphone, tab dansebagainyasering pula disalahgunakan.Banyak yang
menggunakan gadget sebagai media untukbermain game untukmengisiwaktu.
Sebenarnya fungsi utama dari gadget yang canggih itu adalah komunikasi, namun
penggunaan luas pada fitur games membuat perusahaan gadget memaksimalkan fitur
tersebut untuk menjawab kebutuhan pasar. Kini gadget yang kita miliki lebih sering
digunakan untuk fitur lain yang mengesampingkan fungsi utamanya sebagai alat
komunikasi. Bahkan ada yang sengaja membeli gadget hanya untuk di isi oleh fitur
game secarakeseluruhan.
b. Bahya gadget bagi anak usia dini
Bagaimana anak menjadi ikut bermain gadget yang dipakai orang
dewasa? Awalnya mungkin orang tua tidak bisa sabar dalam menghadapi ke
“hyperactive”-an anakpadausiadini. Usia 4-10thn adalahmasadimanaanak
sedang asik-asiknya belaja rmengena ldunia barunya. Perkembangan anak
dalam mengenal duniany adifasilitas ioleh rasa ingin tau yang besar, bahkan
terkadang berlebih.Terkadang rasa ingin tahu inimembua tanak cenderung
hyperactive, bergerakkesanakemari, bermainterussepanjanghari, sulituntuk
berhenti. Disinilah peran orang tua dalam memberikan kendaliemosi, serta
sebagai informan untuk menjawab rasa ingin tahu dari anaknya.Namun terkadang
orang tuakewalahanmenghadapike “hyperactive”-an anak, dan mengambil
jalan pintas untuk membua tanaknya pasif dengan mengalihkan perhatianya
terhadap satu hal, contoh terbanyak adalah dengan memberikan anak gadget
untukbermain game sehinggaanakakanberhentibergerakaktif untuk duduk diam
menikmati fitur gamenya. Ibu kini bisa menyuapi anaknya
tanpaperlubermainkejar-kejarandengananaknya yang sedangbermain, dandapat
mengendalikan pergerakan anak serta mengawasinya dari dekat dengan mudah.
Pemberian gadget padaanakusiadini yang seharusnyabermain permainan
yang lebih aktif dapat mengganggu tumbuh kembang anak secara klinis danp
sikologis. Secara klinis yang mengalami gangguan adalah indra pengelihatan atau
mata. Banyak ibu yang tidak menyadari berapa jarak antara mata anak dan layar
gadget ketika dia bermain. Jarak aman yang dianjurkan adalah 30cm dari mata
kelayar, sama seperti kita menonton TV.

c. Peran orang tua

Dalam hal ini orang tua sangat berperan penting dalam mengawasi anak
dalam menggunakan gadget. Dengan melihat dan mengawasi serta memembatasi
waktunya. Serta memeriksa aplikasi yang ada pada gadget tersebut apakah aman bagi
anak.

.
BAB III
KESIMPULAN

Pada saat dilahirkan, manusia berada dalam keadaan “tidakberdaya”. Ia belum bisa
berdiri, belum bisa berjalan, belum bisa mencari makanan sendiri dan lain-lain. Pada saat ia
dilahirkan, untuk dapat mempertahankan hidupnya saja ia memiliki ketergantungan dan
betapa ia memerlukan bantuan dari ibu dan ayahnya, atau dari orang dewasa lainnya.
Demikian pula dalam rentang waktu tertentu dalam perjalanan hidupnya lebih lanjut, banyak
tantangan dan masalah yang ia hadapi dan harus dapat ia selesaikan. Sementara itu, selain
anak manusia belum dapat memenuhi berbagai kebutuhan pangan dan sandangnya secara
mandiri, ia pun belum menguasai berbagai pengetahuan (ilmu pengetahuan) dan keterampilan
yang dibutuhkannya dalam rangka memecahkan berbagai masalah hidupnya, ia belum tahu
mana yang benar dan mana yang salah, mana yang baik dan mana yang jahat, belum tahu
kemana arah tujuan hidupnya. Dengan demikian, dalam perjlanan hidupnya itu, anak manusia
masih harus belajar untuk “hidup”, adapun hal tersebut mengimplikasikan adanya
ketergantungan dan perlunya anak memperoleh bantuan dari orang dewasa.
DAFTAR PUSTAKA
Suwarno.1981.pengantar umum pendidikan.Jakarta:Badar Jaya Off Set.
Prawironegoro, Darsono.2010.Filsafat Ilmu Pendidikan.Jakarta:Nusanra Consulting.
Albi, Sutan Zanti.1988.Filsafat PendidikanSejak Pertengahan Abad Ini.
Sukardjo dan Ukim Komarudin.2009.Landasan Pendidikan.Jakarta:Rajawali Press.
Saifullah, Ali.1403.Antara Filsafat dan Pendidikan.Surabaya:Usana Off Set.
Salam,Buhanuddin.1988.Pengantarfilsafat.Jakarta:yayasankanivius.
Bernadip, Imam.FilsafatPendidikan.Yogyakarta:Yayasanpenerbit IKIP Yogyakarta.
Muhmidayeli.2011.Filsafat Pendidikan.Bandung:BTRefikaAditema.