Anda di halaman 1dari 2

RESUME FILSAFAT

Nama : Reginald Rustandi


NPM :
Prodi : Urologi

MENJAGA KEPATUHAN ETIK DAN HUKUM: MENUJU PATIENT SAFETY


Pemateri : Prof. dr. Budi Sampurna, DFM., SH., Sp.F(K), SP. KP
Tanggal : 16 Juli 2019

Sebelum tahun 2004, dokter bebas melakukan apa saja dalam pelaksanaan praktik
kedokteran, hanya diatur oleh kode etik saja. Namun, setelah 2004, praktik kedokteran sudah diatur
dalam perundang-undangan dan suatu saat bisa dituntut secara pidana, perdata, disiplin ataupun
etik.
Peraturan-peraturan tersebut sudah tertulis dan jumlahnya ratusan. Meskipun jumlahnya
ratusan dan sulit dihafalkan, karena sudah tertulis, peraturan-peraturan tersebut dianggap semua
sudah tahu dan mengerti.
Dengan perkembangan hukum dalam dunia kedokteran semakin luas, banyak dokter yang
juga mulai memperlajari hukum, khususnya dalam praktik kedokteran. Hukum kedokteran
diajarkan berdampingan dengan pelajaran etika kedokteran. Secara peraturan, dokter yang juga
mempelajari hukum tidak boleh berperan sebagai advokat pada saat yang bersamaan dan dokter
advokat tidak boleh menuntut sesama dokter.
Lingkup kasus hukum luas, dibagi menjadi 2 internal dan eksternal. Kasus hukum internal
meliputi ketenagakerjaan, kontrak nakes, kontrak kerja, outsourcing, perilaku profesi dan antar
profesi. Sedangkan kasus hukum eksternal meliputi kasus antara rumah sakit dengan rumah sakit,
rumah sakit dengan mitra, rumah sakit dengan fakultas kedokteran dan rumah sakit dengan
farmasi. Namun, permasalahan yang sering terjadi adalaha permasalahan kasus hukum antara
rumah sakit dengan pasien. Permasalahan yang terjadi sering kali berkaitan dengan pelanggaran
hak-hak pasien yaitu hak memilih dokter, hak memilih dan menerima pengobatan setelah
mendapatkan informasi, hak dirawat dokter yang “bebas”, hak atas kerahasiaan, hak mati secara
bermartabat, dan ha katas dukungan moral/spiritual.
Dewasa ini, dengan ada kemajuan teknologi, pasien menjadi semakin kritis terhadap
tindakan-tindakan yang akan dilakukan terhadap dirinya, oleh karena itu memberikan penjelasan
sejalas-jelasnya pada saat akan meminta persetujuan merupakan hal yang penting. Tidak
melakukan penjelasan sebelum melakukan tindakan, dan hasil dari tindakan tersebut menyebabkan
cacat pada pasien akan disebut sebagai kelalalaian dan pasien berhak mendapatkan ganti rugi. Jika
seorang dokter sudah melakukan penjelasan dengan lengkap sebelum dilakukannya tindakan
medis, sementara pasien gagal mengikuti saran sehingga tidak mencapai luaran yang diharapkan,
dokter pun berhak untuk memutuskan hubungan dengan pasien, dimana sebelumnya dokter
menyatakan didepan pasiennya.
Resiko pada kedokteran dibagi menjadi 2, yaitu unforeseeable dan resiko yang foreseeable.
Resiko pun dapat dibagi menjadi unpreventable / acceptable dan preventable / unacceptable.
Resiko yang terjadi dan dapat mencederai pasien tetapi tidak menyebabkan cedera karena faktor
kebetulan, pencegahan atau mitigasi akan disebut near miss. Namun jika resiko-resiko yang terjadi
unforeseeable dan unpreventable jika terjadi akan menyebabkan adverse event, yang jika dirata-
rata merupakan 9% dari keseluruhan jumlah pasien.
Adapun untuk tetap menjaga keselamatan pasien perlu dilakukan pencegahan-pencegahan
terhadap resiko-resiko tersebut. Seperti halnya pendampingan yang dilakukan oleh pada dosen
konsultan untuk pada PPDSnya yang masih belum dikategorikan untuk melakukan tindakan
mandiri, atau pembatasan jam kerja dokter dengan batasan 80 jam / minggu dan tidak boleh bekerja
terus-menerus selama 24 jam berturut-turut. Dengan melakukan pencegahan-pencegahan seperti
ini diharapkan dokter dapat bekerja dengan maksimal, sehingga resiko dapat diminimalisir.