Anda di halaman 1dari 3

PENATALAKSANAAN

TETANUS
Nomor:
SOP No.Revisi:
Tgl.Terbit:
Halaman: 1/3

UPT Puskesmas Rawat dr.Jhoni Effensyah


Inap Sukaraja NIP.119831027 201101 1 002

Tetanus adalah penyakit pada sistem saraf yang disebabkan oleh


tetanospasmin. Tetanospasmin adalah neurotoksin yang dihasilkan oleh
Clostridium tetani, ditandai dengan spasme tonik persisten disertai dengan
serangan yang jelas dan keras. Spasme hampir selalu terjadi pada otot
1. Pengertian
leher dan rahang yang menyebabkan penutupan rahang (trismus, lockjaw),
serta melibatkan tidak hanya otot ekstremitas, tetapi juga otot-otot batang
tubuh.

Prosedur ini dibuat dimaksudkan untuk mengatur tatacara melakukan


2.Tujuan penanganan penderita tetanus agar tidak terjadi komplikasi lebih lanjut.

SK Kepala Puskesmas Tentang Kebijakan Pelayanan Klinis dalam


Meningkatkan Mutu dan Keselamatan Pasien di Puskesmas Rawat Inap
3.Kebijakan Sukaraja Bandar Lampung No. 440/ /PKM/SKJ/SOP.I/VII /2016

UU RI No. 36 tahun 2009 ps 5 ttg pelayanan, monitoring dan evaluasi


pelayanan kesehatan di Puskesmas
Permenkes 1483 tahun 2010 ttg Standar Pelayanan Kedokteran
4.Referensi
Permenkes 5 tahun 2014 tentang Panduan Praktik Klinis Bagi Dokter
Permenkes 75 tahun 2014 tentang Pusat kesehatan Masyarakat

PENATALAKSANAAN
a. Manajemen luka
Pasien tetanus yang diduga menjadi port de entry masuknya kuman C.
tetani harus mendapatkan perawatan luka. Luka dapat menjadi luka
yang rentan mengalami tetanus atau luka yang tidak rentan tetanus
dengan kriteria sebagai berikut:

5. Prosedur

b. Rekomendasi manajemen luka traumatik


1. Semua luka harus dibersihkan dan jika perlu dilakukan
debridemen.
2. Riwayat imunisasi tetanus pasien perlu didapatkan.
3. TT harus diberikan jika riwayat booster terakhir lebih dari 10
tahun jika riwayat imunisasi tidak diketahui, TT dapat
diberikan.
4. Jika riwayat imunisasi terakhir lebih dari 10 tahun yang lalu,
maka tetanus imunoglobulin (TIg) harus diberikan. Keparahan
luka bukan faktor penentu pemberian TIg
c. Pengawasan, agar tidak ada hambatan fungsi respirasi.
PENATALAKSANAAN
TETANUS
Nomor:
SOP No.Revisi:
Tgl.Terbit:
Halaman:2/3

UPT Puskesmas Rawat dr.Jhoni Effensyah


Inap Sukaraja NIP.119831027 201101 1 002

d. Ruang Isolasi untuk menghindari rangsang luar seperti suara,


cahaya-ruangan redup dan tindakan terhadap penderita.
e. Diet cukup kalori dan protein 3500-4500 kalori per hari dengan 100-
150 gr protein. Bentuk makanan tergantung kemampuan membuka
mulut dan menelan. Bila ada trismus, makanan dapat diberikan per
sonde atau parenteral.
f. Antikonvulsan diberikan secara titrasi, sesuai kebutuhan dan respon
klinis. Diazepam atau vankuronium 6-8 mg/hari. Bila penderita
datang dalam keadaan kejang maka diberikan diazepam dosis
0,5mg/kgBB/kali i.v. perlahan-lahan dengan dosis optimum
10mg/kali diulang setiap kali kejang. Kemudian diikuti pemberian
diazepam per oral (sonde lambung) dengan dosis 0,5/kgBB/kali
sehari diberikan 6 kali. Dosis maksimal diazepam 240mg/hari. Bila
masih kejang (tetanus yang sangat berat), harus dilanjutkan dengan
bantuan ventilasi mekanik, dosis diazepam dapat ditingkatkan
sampai 480mg/hari dengan bantuan ventilasi mekanik, dengan atau
tanpa kurarisasi. Magnesium sulfat dapat pula dipertimbangkan
digunakan bila ada gangguan saraf otonom.
g. Anti Tetanus Serum (ATS) dapat digunakan, tetapi sebelumnya
diperlukan skin tes untuk hipersensitif. Dosis biasa 50.000 iu,
diberikan IM diikuti dengan 50.000 unit dengan infus IV lambat.
Jika pembedahan eksisi luka memungkinkan, sebagian antitoksin
dapat disuntikkan di sekitar luka.
h. Eliminasi bakteri, penisilin adalah drug of choice: berikan prokain
penisilin, 1,2 juta unit IM atau IV setiap 6 jam selama 10 hari.
Untuk pasien yang alergi penisilin dapat diberikan tetrasiklin, 500
mg PO atau IV setiap 6 jam selama 10 hari. Pemberian antibiotik di
atas dapat mengeradikasi Clostridium tetani tetapi tidak dapat
mempengaruhi proses neurologisnya.
i. Bila dijumpai adanya komplikasi pemberian antibiotika spektrum
luas dapat dilakukan. Tetrasiklin, eritromisin dan metronidazol
dapat diberikan, terutama bila penderita alergi penisilin. Tetrasiklin:
30-50 mg/kgBB/hari dalam 4 dosis. Eritromisin: 50 mg/kgBB/hari
dalam 4 dosis, selama 10 hari. Metronidazol loading dose 15
mg/KgBB/jam selanjutnya 7,5 mg/KgBB tiap 6 jam.
j. Pemberian Tetanus Toksoid (TT) yang pertama, dilakukan
bersamaan dengan pemberian antitoksin tetapi pada sisi yang
berbeda dengan alat suntik yang berbeda. Pemberian dilakukan
dengan dosis inisial 0,5 ml toksoid intramuscular diberikan 24 jam
pertama.
k. Pemberian TT harus dilanjutkan sampai imunisasi dasar terhadap
tetanus selesai.
l. Oksigen, pernafasan buatan dan tracheostomi (dilakukan di RS
rujukan) bila perlu.
m. Mengatur keseimbangan cairan dan elektrolit.

KONSELING DAN EDUKASI


Peran keluarga pada pasien dengan risiko terjadinya tetanus adalah
memotivasi untuk dilakukan vaksisnasi dan penyuntikan ATS.

RENCANA TINDAK LANJUT


PENATALAKSANAAN
TETANUS
Nomor:
SOP No.Revisi:
Tgl.Terbit:
Halaman: 3/3

UPT Puskesmas Rawat dr.Jhoni Effensyah


Inap Sukaraja NIP.119831027 201101 1 002

a. Pemberian TT harus dilanjutkan sampai imunisasi dasar terhadap


tetanus selesai. Pengulangan dilakukan 8 minggu kemudian
dengan dosis yang sama dengan dosis inisial.
b. Booster dilakukan 6-12 bulan kemudian.
c. Subsequent booster, diberikan 5 tahun berikutnya.
d. Laporkan kasus Tetanus ke dinas kesehatan setempat.

KRITERIA RUJUKAN
a. Bila tidak terjadi perbaikan setelah penanganan awal
b. Terjadi komplikasi, seperti distres sistem pernapasan.
c. Rujukan ditujukan ke fasilitas pelayanan kesehatan sekunder
yang memiliki dokter spesialis neurologi.

6. Diagram Alir
(bila perlu)

7. Hal-hal yang perlu


diperhatikan Pasien sering datang keesokan harinya (>24jam) setelah terjadinya luka,
sehingga luka sudah dalam keadaan infeksi.
8. Unit terkait Poli umum
MTBS
KIA
UGD
Rawat Inap

9. Dokumen terkait Rekam medis


Formulir rujukan
Resep
Formulir persetujuan tindakan

10.Rekaman Historis No Yang diubah Isi Perubahan Tanggal mulai


Perubahan Diberlakukan