Anda di halaman 1dari 5

Jurnal Keperawatan Muhammadiyah Edisi Khusus 2019

Jurnal Keperawatan Muhammadiyah Edisi Khusus 2019 Jurnal Keperawatan Muhammadiyah Alamat Website:
Jurnal Keperawatan Muhammadiyah Alamat Website: http://journal.um-surabaya.ac.id/index.php/JKM

Jurnal Keperawatan Muhammadiyah

Alamat Website: http://journal.um-surabaya.ac.id/index.php/JKM

Jurnal Keperawatan Muhammadiyah Alamat Website: http://journal.um-surabaya.ac.id/index.php/JKM

Efektifitas Murotal Terapi Terhadap Kemandirian Mengontrol Halusinasi Pendengaran

Ricky Zainuddin 1 , Rahmiyanti Hashari 2

1 Bagian Keperawatan Medikal Bedah Akademi Keperawatan Makassar, Indonesia

2 Mahasiswa D3 Keperawatan Akademi Keperawatan Makassar

INFORMASI

ABSTRACT

Korespondensi:

rickyz.rz22@gmail.com

-

Keywords:

Murotal Al-Qur’an, Hallucinations, Independence

Effectiveness of Murotal Therapy Against Independence Controlling Hallucinations,Introduction: Murotal therapy is a recording of surah Al-Qur’an

performed by qori readers of the Qur’an where when someone listens to the verses of the Qur’an it will make someone calm. The recitation of the Qur’anic verses reaching the ears then moving to brain cells and influencing them through these frequency electromagnetic fields produced in these cells will respond to these fields and modify their vibrations changes in these vibrations that can make the brain relax and calm so that it can reduce hallucinations. Methods: The data base used in this literature review was Pubmed and Google Scholar. Results: : There are 1.028.205 articles that have been identified and. From the articles obtained there are 755 articles that meet the inclusion criteria. Conclusion: From these results it can be concluded that murotal Al- Qur’an therapy can be used as an alternative to treat patients who experience auditory hallucinations.

12

Jurnal Keperawatan Muhammadiyah Edisi Khusus 2019 PENDAHULUAN Skizofrenia adalah gangguan parah pikiran. Sekitar 75% dari

Jurnal Keperawatan Muhammadiyah Edisi Khusus 2019

PENDAHULUAN

Skizofrenia adalah gangguan parah pikiran. Sekitar 75% dari pasien dengan pengalaman skizofrenia ha- lusinasi pendengaran, dan banyak dari pasien ini tidak menanggapi jangka panjang terapi antipsikotik, (Lee, Lee, Kim, & Kwon, 2017). Hal ini dapat dilihat dari semakin banyaknya laporan bahwa halusinasi yang ti- dak segera diberikan terapi akan menimbulkan mas- alah yang lebih buruk, (Lee et al., 2017).

Berdasarkan data WHO (Word Health Organization), memperkirakan 450 juta orang mengalami gangguan mental, sekitar 10% orang dewasa mengalami ganggu- an jiwa saat ini dan 25% penduduk diperkirakan akan mengalami gangguan jiwa pada usia tertentu dimasa hidupnya,(Putri, Komala, Keliat, & Wardani, 2018).

Berdasarkan data riset kesehatan dasar (2007) di Indonesia, menunjukan bahwa prevalensi ganggu- an jiwa secara nasional mencapai 5,6% dari jumlah penduduk, dengan kata lain menunjukkan bahwa pada setiap 1000 orang penduduk terdapat 5 orang menderita gangguan jiwa, (Putra, Gumilar, Kusuma, Purnomo, & Basumerda, 2018).

Data yang diperoleh dari RSKD Provinsi Sulawesi Selatan, pasien yang menderita halusinasi pada tahun 2015 sebanyak 8.237 orang, pada tahun 2016 seban- yak 7.853 orang, sedangkan pada tahun 2017 jumlah penderita halusinasi sebanyak 7.625 orang, (RSKD,

2018).

Dari beberapa jenis terapi yang biasa dilakukan atau- pun diberikan oleh perawat ada 2 macam terapi yaitu, pemeberian terapi farmakologi dan nonfarmakalogi. Salah satu pemberian terapi farmakologi yaitu dengan pemberian obat Clozapine untuk mengatasi skizofre- nia. Namun, sekitar 40 – 60 % pasien tidak memiliki respon yang memadai, (Dellazizzo et al., 2018). Se- dangkan pemberian terapi nonfamakologi salah satu diantaranya adalah terapi aktivitas. Seperti mencuci piring, menjemur pakaian, mencuci pakaian, mandi dan berolahraga.

Sementara ada beberapa jenis terapi komplementer yang dapat diberikan sebagai pengganti terapi aktivi- tas yang umum dilakukan yaitu, dengan pemberian murotal terapi dengan cara mendengarkan ayat suci Al-Qur’an Surah Ar-Rahman ayat 1 sampai dengan ayat 78, (Wuryaningsih, Anwar, Wijaya, & Kurni- yawan, 2015).

Murotal terapi dapat memberikan stimulasi baik ter- hadap otak, ketika seseorang mendengarkan ayat-ayat suci Al-Qur’an dapat memberikan respon rileks , ten- ang dan rasa nyaman. Selain itu dengan pemberian murotal terapi dapat digunakan sebagai pengobatan stres. Beberapa studi menunjukkan bahwa memba- ca ayat-ayat suci Al-Qur’an juga dapat memberikan stimulus positif untuk otak, (Putra et al., 2018).

Terapi dengan alunan bacaan Al-Qur’an. Stimulan murotal Al-Qur’an dapat dijadikan alternatif terapi baru sebagai terapi relaksasi bahkan lebih baik diband- ingkan dengan terapi audio lainnya karena stimulan Al-Qur’an dapat memunculkan gelombang delta se- besar 63,11% (Abdurrachman & Andhika, 2008) da- lam (Ah, Endang, Miranti.Florencia, & Fanni, 2016).

Menurut Fanada (2012), terapi zikir adalah terapi yang menggunakan media zikir yang bertujuan un- tuk mengingat Allah SWT yang bertujuan untuk menenangkan hati dan pikiran manusia. Dengan ba- caan do’a dan dzikir orang akan menyerahkan segala permasalahannya kepada Allah, sehingga beban stress dan gangguan psikologis yang dialaminya mengalami penurunan, (Mahjoob, Nejati, & Hosseini, 2016).

METODE

SELEKSI ARTIKEL

PENCARIAN

DAN

KRITERIA

Tinjauan literatur dilakukan melalui penelusuran ha- sil-hasil publikasi ilmiah pada rentang tahun 2013- 2018 menggunakan data base pubmed dan google scholar. Pada database pubmed dengan memasukkan keyword 1 “Hallucinations” ditemukan 16.105 ar- tikel. Keyword 2 “Murottal Therapyditemukan 61 ar- tikel.Keyword 3 “Effect Murottal Therapyditemukan 1.012.039 artikel. Keyword 4 dilakukan penggabun- gan keyword 1, 2, 3 dan 4 yaitu “Effect murottal thera- py and hallucinations” ditemukan 755 artikel. Setelah dilakukan pencarian artikel, selanjutnya dilakukan pembatasan jumlah artikel sesuai kriteria peneli- tian dengan langkah-langkah : LIMIT Clinical trial ditemukan 8 artikel. LIMIT Clinical Trial ditemukan 167 artikel. LIMIT full text ditemukan 145 artikel. LIMIT to date (2013-2018) ditemukan 22 artikel. LIMIT of humans ditemukan 22 artikel.

Pada database google scholar dengan memasukkan key- word 1 “Hallucinations” ditemukan 33.700 artikel. Keyword 2 “Murottal Therapy” ditemukan 210 artikel.

13

Keyword 3 penggabungan keyword 1 , 2 “Murottal Therapy AND Hallucinations” ditemukan 60 artikel. Setelah dilakukan pencarian artikel, selanjutnya dilakukan pembatasan jumlah artikel LIMIT to date (after 2017) ditemukan 59 artikel.LIMIT relevansi ditemukan 64 artikel.

PEMBAHASAN

HALUSINASI

Halusinasi merupakan penginderaan tanpa rangsangan eksternal yang berhubungan dengan salah satu jenis indera tertentu yang khas (Kaplon dan saddock, 1997) dalam (Deden & Rusdi, 2013).

Halusinasi adalah gerakan penyerapan (persepsi) panca indera tanpa ada rangsangan dari luar yang dapat meliputi semua sistem pnca indera terjadi pada saat kesadaran individu penuh/baik, (Depkes, 2000) dalam (Deden & Rusdi, 2013).

Halusinasi pendengaran lisan Auditory Verbal Halusinasi (AVH) adalah suara-suara yang dirasakan tanpa ada stimulasi eksternal. Prevalensi tertinggi fenomena ini adalah pada pasien yang didiagnosis dengan skizofrenia yaitu 70 - 80%. Dimana cenderung dapat menyebabkan perilaku destruktif, seperti bunuh diri dan pembunuhan, (Dellazizzo et al., 2018).

Etiologi halusinasi dapat dilihat dari 5 dimensi yaitu :

dimensi fisik, dimensi emosional, dimensi intelektual, dimensi sosial, dan dimensi spiritual. Dimana sebelumnya belum pernah diberikan murotal terapi.

Adapun macam – macam halusinasi yaitu, Halusinasi pendengaran (Auditory) adalah klien mendengar suara dan bunyi tidak berhubungan dengan stimulasi nyata. Halusinasi penglihatan ( Visual ) adalah klien melihat gambar yang jelas atau samar tanpa stimulus yang nyata. Halusinasi penciuman ( Olfactory ) adalah klien mencium bau yang muncul dari sumber tanpa stimulus nyata. Halusinasi pengecapan ( Gusfactory ) adalah klien merasa makan sesuatu yang tidak nyata. Sedangkan halusinasi perabaan ( Taktil ) adalah klien merasakan sesuatu pada kulit tanpa stimulus yang nyata, (Deden, 2017).

MUROTAL TERAPI

Al-Qur’an adalah kitab suci umat Islam. Menurut

14

Jurnal Keperawatan Muhammadiyah Edisi Khusus 2019

Menurut 14 Jurnal Keperawatan Muhammadiyah Edisi Khusus 2019 umat islam adalah wahyu dari Allah yang diturunkan

umat islam adalah wahyu dari Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad 14 abad yang lalu oleh mediasi dari malaikat Jibril. Setiap huruf terdiri dari berbagai ayat dengan jumlah yang berbeda. Muslim mengatakan bahwa dalam Al-Qur’an berisi informasi penting yang dapat memberikan jawaban dan solusi untuk masalah yang dihadapi manusia, (Putra et al.,

2018).

El-Kadi melaporkan bahwa mendengarkan pembacaan Al-Qur’an dikaitkan dengan tekanan darah rendah, denyut jantung lebih lambat, dan relaksasi otot polos. Beberapa studi telah menemukan bahwa mendengarkan musik dapat menjadi intervensi yang efektif dan aman untuk komplikasi yang disebabkan oleh berbagai penyakit dan dapat mengurangi stres, mudah marah, dan perasaan kesepian dan meningkatkan suasana hati.

LantunanayatsuciAl-Qur’anmenciptakansekelompok frekuensi yang mencapai telinga kemudian bergerak ke sel-sel otak dan mempengaruhinya melalui medan- medan elektromagnetik frekuensi ini yang dihasilkan dalam sel-sel ini akan merespon medan-medan tersebut dan memodifikasi getaran-getarannya. Perubahan pada getaran inilah yang mampu membuat otak menjadi rileks dan tenang sehingga dapat mengurangi halusinasi, (Ah et al., 2016).

Murotal terapi dilakukan dengan menggunakan file MP3, headset atau speaker selama 15 – 30 menit, Surah yang digunakan adalah Ar-Rahman 78 ayat terapi dilakukan dua kali sehari. Terapi bisa juga diberikan pada saat ; ketika pasien mendengar suara – suara palsu, ketika waklu luang, ketika pasien selesai melaksanakan sholat wajib, latihsan bisa diberikan pagi dan siang hari, (Wuryaningsih et al., 2015).

Audio surah Ar-Rahman telah diteliti sebelumnya dan terbukti efektif menurunkan tingkat perilaku kekerasan dan membantu pasien mengungkapkan emosinya dengan cara yang lebih adaptif (Widhowati, 2010). Terapi audio ini juga merupakan terapi yang murah dan tidak menimbulkan efek samping,(Soedirman & Journal, 2007)

Menurut Asman (2008) dalam (Rizki, 2007) kesembuhan dengan menggunakan Al-Qur’an dapat dilakukan dengan beberapa cara seperti membaca, berdekatan dan mendengarkannya. Dengan mendengarkan Al-Quran menimbulkan rasa tenang

Jurnal Keperawatan Muhammadiyah Edisi Khusus 2019 dengan mendengar ayat-ayat Al-Qur’an karena efek fisiologis

Jurnal Keperawatan Muhammadiyah Edisi Khusus 2019

dengan mendengar ayat-ayat Al-Qur’an karena efek fisiologis Al-Qura’n pada sistem saraf mereka, karena telah terbukti bahwa sistem saraf manusia secara positif menanggapi terdengar rangsangan dengan rutin dan surut.

Hasil penelitian yang dilakukan oleh (Deden, 2017) bertujuan untuk menilai efektif pemberian murotal terapi untuk mengurangi halusinasi pendengaran. Penelitian ini dilakukan Di Ruang Arjuna RSJD dr. Arif Zainudin Surakarta pada tanggal 30 Maret – 12 april 2017. Jumlah sampel sebanyak 8 responden. Pada hasil penelitian menunjukkan bahwa 5 dari 8 responden mengatakan halusinasi berkurang setelah mendengarkan murotal terapi, dan 3 dari 8 responden mengatakan masih mendengar halusinasi setelah mendengarkan murotal terapi. Sehingga dapat disimpulkan bahwa dengan pemberian murotal terapi efektif untuk mengurangi halusinasi pendengaran.

Penelitian lain yang dilakukan oleh (Putra et al., 2018) bertujuan dengan mendengarkan Al-Qur’an mmberikan peningkatan dalam kemampuan otak. Sampel sebanyak 50 responden. Responden terdiri dari 26 pria dan 24 perempuan di kisaran 19 sampai 22 tahun diangkat menjadi subyek penelitian. Dengan asumsi setiap peserta memiliki pemahaman yang sama tentang kemampuan percobaan, dalam hal ini adalah memori jangka pendek. Dari hasil data menunjukkan bahwa P = <0,05. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada perbedaan dalam nilai rata-rata dari memori jangka pendek antara pra dan pasca mendengarkan murotal. Hal ini terbukti setelah responden mendengarkan murotal, dan konsentrasi meningkat. Kemampuan rata-rata memorijangka pendek dengan mendengarkan murotaladalah 12,62. Berdasarkan hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa dengan mendengarkan Al-Qur’an memberikan peningkatan yang signifikan dalam kemampuan otak.

Penelitian lain yang dilakukan oleh (Wuryaningsih et al., 2015) bertujuan untuk menganalisis murotal Al- Qur’an dapat mengurangi stres dan menjaga fikiran dalam keadaan tenang atau istirahat. Penelitian ini dilakukan di Jember dengan jumlah sampel sebanyak 30 responden. Sebelum pemberian terapi murotal Al- Qur’an adalah nilai p = 1.00 dan setelah terapi murotal terapi Al-qur’an di dapatkan hasil P < = 0,05. Dapat disimpulkan bahwa ada yang signifikan perbedaan antara nilai sebelum pemberian murotal terapi dan

setelah pemberian murotal terapi Al-Qur’an.

Hasil penelitian yang telah dilakukan oleh (Songwathana, 2011), dengan tujuan untuk menguji efek dari intervensi spiritualitas dengan pemberian murotal terapi Al-Qur’an. Jumlah sampel sebanyak 6. Pada hasil penelitian menunjukkan bahwa murotal terapi telah terbukti efektif untuk meningkatkan kebahagiaan dan kesehatan fisik, mengurangi kecemasan dan depresi di kalangan mahasiswa Muslim, di Irak, di Kuwait dan Amerika Serikat. Dengan hasil p = <0,01. Dapat disimpulkan bahwa dengan pemberian murotal terapi efektif untuk mengurangi halusinasi pendengaran.

KESIMPULAN DAN SARAN

Setelah pemberian intervensi dapat dievaluasi bahwa dari beberapa penelitian murotal terapi dapat mengurangi halusinasi. Hal ini dapat di lihat dari kondisi pasien yang merasa lebih rileks dan lebih tenang setelah intervensi.

Diharapkan kepada pihak RS Jiwa agar dapat menjadikan murotal terapi Qur’an sebagai salah satu terapi nonfarmakologis dalam mengisi aktivitas pasien jiwa dalam mengontrol halusinasi.

DAFTAR PUSTAKA

Ah, Y., Endang, N. H., Miranti.Florencia, I., & Fanni, O. (2016). Kebutuhan Spiritual Konsep Dan Aplikasi dalam Asuhan Keperawatan. Jakarta:

Mitra Wacana Media.

Deden, D. (2017). Pengaruh Terapi Psikoreligius Dzikir Pada Pasien Halusinasi Pendengaran,

15(1).

Deden, D., & Rusdi. (2013). Keperawatan Jiwa Konsep Dan Kerangka Kerja Asuhan Keperawatan Jiwa. (R. Tutik, Ed.) (1st ed.). Yogyakarta: Dwi Sukatno.

Dellazizzo, L., Potvin, S., Phraxayavong, K., Lalonde, P., Dumais, A., & Heidelberg, U. (2018). Terapi avatar untuk terus-menerus pendengaran Verbal Halusinasi pada pasien skizofrenia Ultra- Resistant : Laporan Kasus, 9(April), 1–7.

Lee, T. Y., Lee, J., Kim, M., & Kwon, J. S. (2017). The effect of transcranial direct current stimulation

15

on auditory hallucination in patients with schizophrenia. Schizophrenia Research, 1–2.

https://doi.org/10.1016/j.schres.2017.06.012

Mahjoob, M., Nejati, J., & Hosseini, A. (2016). The Effect of Holy Quran Voice on Mental Health. Journal of Religion and Health, 38–42. https://doi.

org/10.1007/s10943-014-9821-7

Putra, P. S., Gumilar, R., Kusuma, S. R., Purnomo, H., & Basumerda, C. (2018). The effect of Quran m urottal ’ s audio on short term memory, 1060,

2–5.

Putri, E., Komala, E., Keliat, B. A., & Wardani, I. Y. (2018). Enfermería Clínica. Enfermería Clínica, 28, 88–93. https://doi.org/10.1016/S1130-

8621(18)30044-5

Rekam Medik. (2018). Data Pasien Kanker Payudara yang Menjalani Kemoterapi. Makassar.

Rizki,

SEBAGAI

F.

(2007).

MODIFIKASI

ALTERNATIF

PENGENDALIAN

HALUSINASI

DENGAR

PADA

KLIEN

SKIZOFRENIA, 2(1).

 

RSKD.

(2018).

Rekam

Medik.

RSKD

Provinsi

Sulawesi Selatan.

Soedirman, J. K., & Journal, T. S. (2007). Jurnal Keperawatan Soedirman (The Soedirman Journal of Nursing), Volume 2, No.1, Maret 2007. Prevention, 2(1), 17–23. https://doi.org/http://

dx.doi.org/10.20884/1.jks.2013.8.2.470

Songwathana, P. (2011). Spirituality Intervention and Outcomes : Corner stone of Holistic Nursing Practice, (January), 117–127.

Wuryaningsih, E. W., Anwar, A. D., Wijaya, D., & Kurniyawan, E. H. (2015). Murottal al-quran therapy to increase sleep quality in nursing students, 7–14.

16

Jurnal Keperawatan Muhammadiyah Edisi Khusus 2019

therapy to increase sleep quality in nursing students, 7–14. 16 Jurnal Keperawatan Muhammadiyah Edisi Khusus 2019