Anda di halaman 1dari 8

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Diabetes mellitus (DM), atau sering dikenal dengan nama penyakit

gula (Kencing manis) adalah penyakit kronis yang terjadi ketika pankreas

tidak mampu lagi memproduksi insulin, atau ketika tubuh tidak dapat

memanfaatkan insulin yang dihasilkan. Insulin adalah hormon yang mengatur

gula darah. Hiperglikemia atau meningkat merupakan efek umum dari

diabetes yang tidak terkontrol dan dari waktu ke waktu menyebabkan

kerusakan serius pada banyak sistem tubuh, khususnya saraf dan pembuluh

darah. Dalam jangka waktu lama, Diabetes mellitus bisa menyebabkan

komplikasi berupa penyempitan pembuluh darah diseluruh tubuh, dan

gangguan fungsi saraf, sehingga pada akhirnya fungsi alat-alat tubuh akan

terganggu. Gangguan aliran darah ke tubuh bisa menyebabkan terjadinya

infeksi, nekrosis, abscess, gangren yang menyebabkan kaki yang merah

kehitam-hitaman dan barbau busuk akibat sumbatan yang terjadi di pembuluh

darah sedang atau besar di tungkai dan di lakukan pemotongan tangan atau

kaki (Amputasi). Dimana individu akan mengalami hambatan mobilitas fisik

atau keterbatasan pergerakan fisik tubuh satu atau lebih ektremitas secara

mandiri dan terarah (Mubarak, 2016).


World Health Organization (WHO, 2017) bahwa pada tahun 2015

penderita Diabetes Melitus seringkali tidak menyadari adanya luka pada

kaki, sehingga meningkatkan risiko menjadi luka yang lebih dalam (ulkus

kaki) dan perlu melakukan tindakan amputasi. Diperkirakan sekitar 15%

1
2

penderita Diabetes Melitus dalam perjalanan penyakitnya akan mengalami

komplikasi Ulkus Diabetik terutama Ulkus Kaki Diabetikum. Sekitar 14-

24% diantara penderita kaki diabetika memerlukan tindakan amputasi

(Sutawardana 2012).
Penderita DM sebesar 422 milyar di dunia pada tahun 2016.

Menurut International Diabetes Federation (IDF, 2015), prevalensi dengan

penderita DM pada tahun 2015 adalah 415 milyar orang. Perkiraan

tahunan prevalensi kejadian ulkus kaki kira-kira dari 4% sampai 10%,

sedangkan risiko seumur hidup ulkus diabetik berkisar antara 15% sampai

25% (Amin & Doupis, 2016). Prevalensi Diabetes Melitus dengan kerusakan

integritas kulit menurut IDF, 2015 sekitar 15 juta penderita di seluruh

Indonesia. Meningkatnya jumlah penderita DM juga terjadi di Indonesia,

menurut data profil kesehatan Indonesia tahun 2016 menunjukkan bahwa

penyakit DM menduduki peringkat ke 6 dari 10 penyakit utama di

rumah sakit di seluruh Indonesia (Kemenkes RI, 2016). Provinsi Jawa

Timur melaporkan data penyakit tidak menular seperti DM dengan hasil

14,24% pada tahun 2013 serta hasil penderita DM sebesar 16,53%

pada tahun 2014. Prevalensi penyakit DM menduduki peringkat ke-2

diantara penyakit tidak menular lainnya seperti jantung, neoplasma, PPOK

dan asma bronkial. Hasil tersebut didapatkan dari jumlah kasus DM

tergantung insulin tahun 2013 sebesar 9.376 kasus dan DM tidak tergantung

insulin sebesar 142.925 kasus (Dinas Kesehatan Jawa Timur, 2016).

Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan Banyuwangi penyakit DM tahun

2016 mencapai 27% (3.397) penderita (baru), dan 73% (4.335) penderita

(lama), dengan total keseluruhan penderita DM mencapai 7.732 penderita.


3

Penderita DM pada tahun 2017 meningkat mencapai 34% (5.419) penderita

(baru), dan 66% (4.448) penderita (lama), dengan total keseluruhan penderita

DM pada tahun 2017 mencapai 9.867 penderita (Profil Dinas Kesehatan

Banyuwangi, 2017). Jumlah penderita DM di RSUD Blambangan

Banyuwangi masih sangat tinggi, pada tahun 2017 penderita DM mencapai

186 dan pada tahun 2018 (Januari – November) mencapai 151 penderita

(Ruang penyakit dalam RSD Blambangan Banyuwangi, 2018).


Diabetes Melitus (DM) merupakan kelompok penyakit metabolik

dengan karakteristik hiperglikemia atau tingginya kadar glukosa di dalam

darah yang diakibatkan gangguan sekresi insulin, penurunan kerja insulin

atau akibat dari keduanya. Resiko berkembangnya DM tipe 2 ini akan terus

meningkat dengan bertambahnya usia, obesitas, dan kurangnya aktivitas fisik

(American Diabetes Association, 2015). Ulkus kaki diabetik terjadi akibat

neuropati perifer, insufisiensi pembuluh perifer, dan infeksi. Gangguan

tersebut terjadi akibat penimbunan sorbitol dalam intima vaskular,

hiperlipoproteinemia, dan kelainan pembekuan darah. Hal tersebut dapat

menyebabkan Terhambatnya sirkulasi darah di kaki dan mengakibatkan rasa

sakit pada betis kaki saat berjalan, luka diabetes, gangguan sistem saraf, dan

rentan terhadap infeksi di kaki. Gejala neuropti diabetik pada pasien DM

menunjukkan adanya penurunan aliran darah dan hantaran oksigen pada

serabut saraf sehingga mengakibatkan degenerasi pada serabut saraf.

Keadaan ini mengakibatkan sensasi terhadap rangsang sakit menurun dan

terjadi perubahan kekuatan motorik sehingga timbul perubahan pada telapak

kaki. Pasien DM yang disertai neuropati meningkatkan risiko terjadinya

ulkus kaki diabetik tujuh kali lebih besar. Hiperglikemia yang


4

berkepanjangan menyebabkan arterosklerosis, penebalan membran basalis

dan perubahan saraf perifer yang menimbulkan terjadinya ganggren,

penderita diabetes mellitus yang sudah terjadi komplikasi khususnya

ganggren akan timbul masalah keperawatan hambatan mobilitas fisik

(Dochterman, 2013).
Hambatan mobilitas fisik merupakan keterbatasan dalam gerak fisik

satu atau lebih ektremitas secara mandiri dan terarah. Ditandai dengan

kesulitan membolak-balikkan posisi, gangguan sikap berjalan, gerakan

lambat, gerakan spastik, keterbatasan rentan gerak, ketidaknyamanan,

gerakan tidak terkoordinasi, dipsnea setelah beraktifitas, melakukan aktivitas

lain sebagai pergerakan, penurunan waktu reaksi, tremor akibat bergerak,

fokus pada aktivitas sebelum sakit. Dan akibat dari mobilitas fisik jika tidak

segera diatasi akan menimbulkan koma, kematian( A Khasanah , 2016).


Upaya – upaya dalam penatalaksanaan kerusakan mobilitas fisik pada

Diabetes Melitus gangren sebagai seorang perawat yaitu dengan melakukan

latihan jasmani. Range of Motion (ROM) aktif kaki adalah salah satu bentuk

latihan jasmani yang dapat dilakukan oleh pasien DM (Sorace, 2014).

Latihan ROM merupakan salah satu intervensi keperawatan yang dapat

dilakukan oleh pasien maupun keluarga secara mandiri setelah memperoleh

pendidikan kesehatan sebelumnya. Saat melakukan latihan ROM aktif kaki,

otot-otot kaki berkontraksi secara terus menerus dan terjadi kompresi

pembuluh darah sehingga dapat mengaktifkan pompa vena. Pembuluh darah

balik akan lebih aktif memompa darah ke jantung sehingga sirkulasi darah

arteri yang membawa nutrisi dan oksigen ke pembuluh darah perifer menjadi

lebih lancar. Aliran darah yang lancar akan memudahkan nutrien masuk ke
5

dalam sel sehingga dapat memperbaiki fungsi saraf dan mencegah timbulnya

neuropati, dengan begitu latihan fisik merupakan faktor dominan dalam

pencegahan ulkus kaki diabetik. Berdasarkan permasalahan di atas maka

peneliti ingin menganalisis pengaruh ROM aktif kaki terhadap risiko

terjadinya ulkus kaki diabetik (Edward, 2015).


Berdasarkan uraian diatas peneliti tertarik untuk melakukan penelitian

dengan judul Asuhan Keperawatan Pasien Diabetes Mellitus (Gangren) Yang

Mengalami Masalah Keperawatan Hambatan Mobilitas Fisik Di Ruang

Penyakit Dalam RSUD Blambangan Banyuwangi 2018.

1.2 Batasan Masalah

Masalah pada studi kasus ini di batasi pada Asuhan Keperawatan

Pasien Diabetes Mellitus (Gangren) Yang Mengalami Masalah Keperawatan

Hambatan Mobilitas Fisik Di Ruang Penyakit Dalam RSUD Blambangan

Banyuwangi 2018.

1.3 Rumusan Masalah

Bagaimanakah Asuhan Keperawatan Pasien Diabetes Mellitus

(Gangren) Yang Mengalami Masalah Keperawatan Hambatan Mobilitas Fisik

Di Ruang Penyakit Dalam RSUD Blambangan Banyuwangi 2018.

1.4 Tujuan Penelitian

1.4.1 Tujuan Umum


6

Melaksanakan Asuhan Keperawatan Pasien Diabetes Mellitus

(Gangren) Yang Mengalami Masalah Keperawatan Hambatan

Mobilitas Fisik Di Ruang Penyakit Dalam RSUD Blambangan

Banyuwangi 2018.

1.4.2 Tujuan Khusus

1. Melakuan pengkajian keperawatan Pasien Diabetes

Mellitus (Gangren) Yang Mengalami Masalah Keperawatan

Hambatan Mobilitas Fisik Di Ruang Penyakit Dalam RSUD

Blambangan Banyuwangi 2018.


2. Menetapkan diagnosa keperawatan Pasien Diabetes

Mellitus (Gangren) Yang Mengalami Masalah Keperawatan

Hambatan Mobilitas Fisik Di Ruang Penyakit Dalam RSUD

Blambangan Banyuwangi 2018.


3. Menyusun perencanaan keperawatan Pasien Diabetes

Mellitus (Gangren) Yang Mengalami Masalah Keperawatan

Hambatan Mobilitas Fisik Di Ruang Penyakit Dalam RSUD

Blambangan Banyuwangi 2018.


4. Melaksanakan tindakan keperawatan Pasien Diabetes

Mellitus (Gangren) Yang Mengalami Masalah Keperawatan

Hambatan Mobilitas Fisik Di Ruang Penyakit Dalam RSUD

Blambangan Banyuwangi 2018.


5. Melakukan evaluasi keperawatan Pasien Diabetes Mellitus

(Gangren) Yang Mengalami Masalah Keperawatan Hambatan

Mobilitas Fisik Di Ruang Penyakit Dalam RSUD Blambangan

Banyuwangi 2018.
7

6. Menetapkan diagnosa keperawatan pada Pasien Diabetes

Mellitus (Gangren) Yang Mengalami Masalah Keperawatan

Hambatan Mobilitas Fisik Di Ruang Penyakit Dalam RSUD

Blambangan Banyuwangi 2018.

1.5 Manfaat Penelitian

1.5.1 Teoritis

Memberikan kontribusi dan pengembangan ilmu keperawatan

sebagai lahan referensi dalam melakukan asuhan keperawatan. Dan

diharapkan dapat mengembangkan wawasan secara keilmuan

mengenai Asuhan keperawatan pasien Diabetes Mellitus (Gangren)

Yang Mengalami Masalah Keperawatan Hambatan Mobilitas Fisik di

ruang penyakit dalam RSUD Blambangan tahun 2018.

1.5.2 Praktis

1. Manfaat Bagi Pegembangan Ilmu Keperawatan


Hasil penelitian dapat dijadikan sebagai tambahan referensi

mengenai kesehatan Pasien Diabetes Mellitus (Gangren) Yang

Mengalami Masalah Keperawatan Hambatan Mobilitas Fisik dan

dapat sebagai aplikasi asuhan keperawatan penyakit dalam.


2. Manfaat Bagi Perawat
Sebagai informasi dan pengetahuan pentingnya perawatan Pasien

Diabetes Mellitus (Gangren) Yang Mengalami Masalah

Keperawatan Hambatan Mobilitas Fisik.


3. Manfaat Bagi Rumah Sakit
8

Sebagai acuan untuk pelaksanaan lebih lanjut mengenai kesehatan

dan perawatan Pasien Diabetes Mellitus (Gangren) Yang

Mengalami Masalah Keperawatan Hambatan Mobilitas Fisik


4. Manfaat Bagi Institusi Pendidikan
Bagi institusi sebagai wacana atau informasi untuk meningkatkan

dan mengembangkan mutu pembelajaran ilmu keperawatan

medikal bedah khususnya pada Asuhan Keperawatan pada Pasien

Diabetes Mellitus (Gangren) Yang Mengalami Masalah

Keperawatan Hambatan Mobilitas Fisik


5. Manfaat Bagi Klien
Bagi pasien dapat mendapatkan asuhan keperawatan yang optimal

dan komprehensif mengenai penyakit yang dialami dan kondisi

seperti apa yang harus dilakukan saat pasien dirumah sakit ketika

pulang.