Anda di halaman 1dari 14

ABSTRAK

PENGARUH KONSELING DIET DASH TERHADAP TINGKAT PENURUNAN


TEKANAN DARAH PADA PENDERITA HIPERTENSI DI KABUPATEN BOYOLALI

Siti Nur Luthfiana1), Arwani2), Budi Widiyanto2)


1)
Mahasiswa Program Studi Sarjana Terapan Keperawatan Jurusan Keperawatan Poltekkes
Kemenkes Semarang
2)
Dosen Jurusan Keperawatan Poltekkes Kemenkes Semarang
Email : snl.fiana@gmail.com

Latar Belakang : Hipertensi adalah meningkatnya tekanan darah melalui kontraksi arteri yang
berkomplikasi pada stroke dan jantung. Hipertensi disebabkan kebiasaan konsumsi garam
tinggi, merokok, kegemukan, stress, dan alkohol yang berisiko kematian. Selain itu kebiasaan
mengkonsumsi obat anti hipertensi berakibat ginjal dan kerusakan hati sehingga untuk
mengendalikan hipertensi dengan pemilihan pola makan sehat diet DASH. Penelitian ini
bertujuan untuk mengidentifikasi pengaruh konseling diet DASH terhadap penurunan tekanan
darah pada penderita hipertensi.
Metode : Desain penelitian menggunakan quasy experimental dengan pre-post test
nonequivalent control group. Sampel penelitian adalah klien hipertensi primer usia 30-45 tahun
sebanyak 46 orang terbagi dalam kelompok intervensi dan kontrol dengan teknik purposive
sampling. Instrumen yang digunakan yaitu booklet dan sphygmomanometer. Intervensi diberikan
sebanyak 3 kali selama 1 minggu kemudian dilanjutkan pendampingan setiap hari pada 3 minggu
selanjutnya. Analisis data menggunakan uji Wilcoxondan uji Mann Whitney.
Hasil Penelitian : Hasil menunjukkan terdapat konseling diet Dash terhadap penurunan tekanan
darah pada penderita hipertensi secara signifikan dengan selisih rerata selisih 0,0215 untuk sistol
dan 0,0232 untuk diastol
Kesimpulan : konseling diet Dash dapat menurunkan tekanan darah pada penderita hipertensi.
Rekomendasi : Menjadikan diet DASH Standart Operasional Prosedure (SOP) dalam
pengelolaan klien hipertensi di Puskesmas. Dan untuk peneliti lain dapat melakukan penelitian
lebih baik dengan random alokasi, dan pengendalian faktor faktor yang mempengaruhi
Kata kunci : Hipertensi; Dewasa; Diet DASH

1
ABSTRACT
THE EFFECT OF DIET DASH CONSELVATION ON LEVELS OF BLOOD PRESSURE
DECREASING IN HYPERTENSION PATIENTS IN BOYOLALI

Siti Nur Luthfiana1), Arwani2), Budi Widiyanto 2)


1)
DIV Nursing Study Program Students at the Polytechnic of Semarang
2)
Lecturer in Nursing Department, Polytechnic of Semarang
Correspondent: snl.fiana@gmail.com

Background: Hypertension is an increase in blood pressure through arterial contractions which


complicate stroke and heart. Hypertension is caused by high salt consumption habits, smoking,
obesity, stress, and alcohol which are at risk of death. In addition, the habit of consuming anti-
hypertensive drugs results in kidney and liver damage so as to control hypertension by choosing
a healthy diet DASH diet. This study aimed to identify the effect of diet DASH counseling on
reducing blood pressure in patients with hypertension.

Method: The study design used quasy experimental with a pre-post test nonequivalent control
group. The sample of this study was 46 hypertensive primary clients, 46 people were divided
into intervention and control groups with purposive sampling technique. The instruments used
were booklets and sphygmomanometers. Interventions were given 3 times for 1 week then
continued mentoring every day for the next 3 weeks. Data analysis used the Wilcox test and the
Mann Whitney test.

Results: The results showed that there was a diet Dash counseling on blood pressure reduction in
hypertensive patients significantly with a difference in the mean difference of 0.0215 for systole
and 0.0232 for diastole.

Conclusion: Dash diet counseling can reduce blood pressure in patients with hypertension.

Recommendation: Make the DASH Standard Operating Procedure (SOP) diet in the
management of hypertensive clients at the Puskesmas. And for other researchers can do better
research with random allocations, and control factors that influence

Keywords: Hypertension; Adult; DASH Diet

2
Pendahuluan

Hipertensi adalah meningkatnya kadar tekanan darah melalui kontraksi arteri

(Vasokonstriksi) yang memberi gejala yang akan berlanjut ke suatu organ target seperti stroke,

penyakit jantung koroner. Hipertensi disebabkan oleh kebiasaan hidup dengan konsumsi

garam yang tinggi, merokok, kegemukan, stress, dan peminum alkohol (Budinugroho, 2014).

Menurut Hasil Riset Kesehatan Dasar (2013), prevalensi hipertensi di

Indonesia terjadi peningkatan sebesar 32,8%. Jumlah penduduk berisiko (> 18 tahun) yang

dilakukan pengukuran tekanan darah pada tahun 2017 tercatat 8.888.585 atau 36,53%. Pada

pengukuran tekanan darah sebanyak 1.153.371 orang atau 12,98% dinyatakan

hipertensi/tekanan darah tinggi. Berdasarkan jenis kelamin, presentase hipertensi pada

kelompok perempuan sebesar 13,10%, lebih rendah dibanding pada kelompok laki-laki yaitu

13,16 persen. Selain itu Data Dinas Kesehatan 2017 dari hasil pengukuran hipertensi

kabupaten/kota dengan presentase tertinggi adalah kota salatiga 77,72%. Dan hasil dari

perhitungan kasus baru penyakit tidak menular di Puskesmas dan Rumah Sakit Provinsi Jawa

Tengah dihasilkan penderita hipertensi tertinggi di Boyolali sebesar 203.285 untuk hipertensi

esential dan 2.069 untuk hipertensi lain (Dinkes Jateng, 2017). Dari hasil presentaase klien

hipertensi di puskesmas Boyolali 1 sebesar 26,961% dengan perempuan berjumlah 27,86%

(Dinkes Boyolali, 2015).

Hipertensi merupakan gangguan pada pembuluh darah yang mengakibatkan suplai

oksigen dan nutrisi, yang dibawa oleh darah, terhambat sampai ke jaringan tubuh yang

membutuhkannya. Faktor resiko hipertensi adalah umur, jenis kelamin, riwayat keluarga,

genetik (faktor resiko yang tidak dapat diubah atau dikontrol), kebiasaan merokok, konsumsi

garam, konsumsi lemak jenuh, penggunaan jelantah, kebiasaan minum-minuman beralkohol,

3
obesitas, kurang aktivitas fisik, stres, penggunaan estrogen (Kemenkes RI, 2013). Dari hasil

penyebab tersebut penderita hipertensi meningkat setiap tahunnya dan berisiko stroke jantung

bahkan kematian. Bahkan dari kebiasaan mengkonsumsi obat anti hipertensi atau terapi medis

dapat berakibat pada ginjal dan kerusakan hati sehingga dilakukan upaya lain untuk membantu

mengendalikan hipertensi salah satunya dengan pemilihan pola makan seperti yang tercantum

dalam pola diet DASH (Dietary Approaches To Stop Hypertension).

Pola diet DASH merupakan pola diet yang menekankan pada konsumsi bahan makanan

rendah natrium (<2300 mg/hari), tinggi kalium (4700 mg/hari), magnesium (>420 mg/hari),

kalsium(>1000 mg/hari), dan serat (25 – 30 g/hari) serta rendah asam lemak jenuh dan

kolesterol (<200 mg/hari) yang banyak terdapat pada buah - buahan, kacang-kacangan,

sayuran, ikan, daging tanpa lemak, susu rendah lemak, dan bahan makanan dengan total lemak

dan lemak jenuh yang rendah. Bahan makanan yang terdapat dalam pola diet DASH

merupakan bahan makanan segar dan alami tanpa melalui proses pengolahan industri terlebih

dahulu sehingga memilki kadar natrium yang relatif rendah. Pola diet DASH yang terdiri dari

konsumsi bahan makanan diatas terbukti secara klinis menurunkan tekanan darah secara

signifikan dengan atau tanpa pengurangan asupan natrium.Bahan makanan yang terdapat dalam

pola diet DASH adalah produk serealia dan biji-bijian sebanyak 3x makan per hari, sayuran

sebanyak 2-3 x makan per hari, buah-buahan 2-3 x makan per hari, produk susu rendah atau

tanpa lemak 2x per hari, ikan, daging dan unggas tidak lebih dari 2 x per hari, kacang-kacangan

2-3 x per minggu, serta pembatasan minyak dan gula. Sehinga dengan pola makan tersebut

dapat menurunkan potensi lemak jenuh.lemak total dan konsumsi minyak tidak sehat setiap

harinya.

4
Berdasarkan data rumah sakit dan Puskesmas Boyolali I sekitar 203.285 penderita

hipertensi tahun 2017 yang mendasari dilakukannya penelitian ini untuk menguji pengaruh

Konseling diet DASH terhadap tekanan darah sistolik dan diastolik.

Metode

Desain penelitian menggunakan quasi experiment dengan rancangan pre dan post test

dengan mengunakan kelompok kontrol. Responden pada penelitian ini yaitu pasien hipertensi

berumur 30- 45 tahun (dewasa madya. Teknik sampling menggunakan purposive sampling

(Polit & Beck, 2012). Kriteria inklusi terdiri dari Responden hipertensi kategori ringan dengan

sistol 140-160 mmHg dan diastol 90 - 120 mmHg, umur antara 30-45, sehat jasmani dan dapat

membaca. Perhitungan sampel menggunakan rumus Lameshow sebanyak 23 responden untuk

masing-masing kelompok Responden pada kelompok intervensi yang diberikan konseling diet

DASH sebanyak 23 klien. Sebanyak 23 klien terekrut dalam kelompok kontrol. Konselig diet

DASH diberikan sebanyak 2 sesi dalam seminggu, kemudian dilanjutkan pendampingan pada3

minggu selanjutnya. Pada awal dan akhir intervensi, responden dilakukan pengecekan tekanan

darah dengan stetosop dan spygmomanometer air raksa. Instrument telah dilakukan kalibrasi

oleh badan metrologi semarang. Analisis data univariat disajikan dalam frekuensi dan

presentase untuk data kategorik serta mean dan SD untuk data numerik. Uji normalitas

menggunakan uji shafiro wilk. Analisis bivariat menggunakan uji Wilcoxon dan Mann Whitney.

Hasil

Karakteristik demografi responden pada kelompok intervensi dan kontrol disajikan pada

tabel 1. Responden didominasi perempuan sebanyak (64%)pada kelompok interenvensi dan

(82,6%) pada kelompok kontrol. Sebagian besar responden (40,0%) berpendidikan terakhir

SMA di kelompok intervensi dan berpendidikan terakhir SMA (39,1%) di kelompok kontrol.

5
Sebagian besar responden wiraswasta dan swasta pada kelompok intervensi (32,0%) dan

kontrol (26,1%). Semua responden berusia antara 30-45 tahun (38,91) pada kelompok

intervensi maupun kontrol.

Tabel 1. Karakteristik lansia berdasarkan jenis kelamin, pendidikan, pekerjaan dan usia

Kelompok p
Variabel
Intervensi Kontrol
Usia (Mean ± SD) 38,91 (3.741) 39.78 (4.274) 0,944*
Jenis Kelamin f (%)
Laki-laki 7 (28) 4 (17,4) 0.143*
Perempuan 16 (64) 19 (82,6)
Pendidikan f (%)
SD 4 (16,0) 4 (17,4)
SMP 6 (24,0) 8 (34,8)
0,739*
SMA 10 (40,0) 9 (39,1)
Perguruan Tinggi 3 (12,0) 2 (8,7)
Pekerjaan f (%)
Tidak Bekerja 5 (20,0) 10 (43,5)
PNS 2 (8,0) 1 (4,3) 0,107*
Wiraswasta 8 (32,0) 6 (26,1)
Swasta 8 (32,0) 6 (26,1)
Tekanan Darah (Mean±Sd)
Tekanan Darah Pre 149.57±8.245 (sistol) 146.52±7.751 (sistol) 0,000*
96.09±4.990 (diastol) 96.52±5.096 (diastol)

Tabel 2. analisis uji beda antar kelompok responden berdasarkan tekanan darah sebelum

dan sesudah pemberian intervensi diet DASH

Sistol Diastol
Jenis Pre Post Pre Post
Kelompok (mean± (mean± Δ p (mean± (mean± Δ p
SD) SD) SD) SD)
Kelompok 149.57± 135.00± 96.09± 89.13± -6,96
-14,57
Intervensi 8.245 8.257 4.990 5.964
0.0215 0.0232
Kelompok 146.52± 150.00± 3,48 96.52± 97.39±
0,87
Kontrol 7.751 7.385 5.096 6.373

6
Tabel 2 diketahui bahwa rerata sistolik dan diastolik antara kedua kelompok setelah

intervensi adalah berbeda bermakna secara statistik (p < 0,05). Hal ini menunjukan bahwa

konseling diet DASH memberikan pengaruh terhadap tekanan darah.

Diskusi

Hasil penelitian menunjukkan bahwa, lansia pada penelitian ini didominasi

perempuan. Hal ini dikarenakan responden perempuan yang hadir dan ikut dalam

penelitian yang sesuai kriteria. Di desa Winong dan Pulisen diedominasi perempuan

karena kebanyakan laki laki disana memiliki aktifitas.

Hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan Sartik (2017:12) menjelaskan, jika

ada hubungan yang signifikan antara tingkat tekanan darah dan jenis kelamin. Hal tersebut

memiliki kesamaan dengan penelitian yang dilakukan oleh Rista Apriana (2017:15)

menyatakan bahwa perempuan produktif cenderung memiliki tingkat tekanan darah yang

lebih tinggi (61.6%) dibandingkan laki laki dengan presentase.

Hasil penelitian ini didukung dengan penelitian (Stockwell, 2015) bahwa perempuan

lebih mudah membicarakan tentang penyakit dan masalah yang dialami sehingga mudah

mendeteksi terjadiya tekanan darah.

Hasil sebagian responden menunjukkan bahwa, pendidikan tertinggi yaitu SMA

(40,0%) kemudian SMA (39,1%). Hal ini sejalan dengan penelitian (Apriana, 2017)

Semakin tinggi pendidikan, semakin mudah menerima informasi, menunjukkan bahwa ada

hubungan yang bermakna (p = 0,042) dimana penyakit hipertensi cenderung tinggi pada

klien dengan masa pendidikan sedang dikarenakan perilaku didukung dengan perilaku pola

hidup tidak sehat dan konsumtif yang membawa klien pada kebiasaan yang buruk dalam

7
memperlakukan kesehatannya.Menurut Badan Pusat Statistik 2014 pendidikan lansia

tertinggi yaitu SMP dengan persentase sebesar 35.48%. Menurut penelitian yang dilakukan

oleh Munifatul dan Haryono (2016) pendidikan tertinggi adalah SMP sebesar 32.7%

Hasil penelitian ini didukung dengan penelitian (Apriana, 2017) bahwa penyakit

hipertensi cenderung tinggi pada pendidikan sedang dan menurun sesuai dengan

peningkatan pendidikan.

Hasil penelitian bahwa pada kelompok intervensi maupun kontrol dalam pekerjaan

paling tinggi swasta dan wiraswasta (32,0%). hal ini sejalan dengan Betaria, Rasmaliah

(2015) bahwa proporsi penderita hipertensi berdasarkan pekerjaan di RSUD dr. Hadrianus

Sinaga tahun 2015, pada klien yang tidak bekerja dengan frekuensi 5 orang (20.0%). Hal

ini bukan berarti seorang yang tidak bekerja lebih beresiko untuk menderita hipertensi

tetapi karena mayoritas penderita hipertensi pada orang yang tidak bekerja yang tidak

memiliki aktifitas maka akan lebih memungkinkan memiliki perilaku sampingan untuk

mengisi aktifitasnya seperti makan, bepergian, memenuhi keinginanya dan dilakukan

dengan kebiasaan pola perilaku tidak sehat.

Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan menunjukkan bahwa rerata usia

responden yaitu 38,9 tahun. Hal ini dikarenakan kriteria yang peneliti ambil adalah usia

lansia 30-45 tahun. Walaupun dilapangan banyak yang ikut tetapi yang dapat berpartisipasi

dalam penelitian ini adalah respondena dengan usia 30-45 tahun. Usia ini juga adalah usia

rawan pemicu penyakit tidak menular dengan pola hidup tidak sehat.

8
Hasil penelitian ini didukung dengan penelitian Sartik (2017)bahwa seseorang

dengan usia diantara 30-45 tahun memiliki kemungkinan peningkatan tekanan darah

dikarenakan semakin produktif seseorang maka semakin bertambah perilaku konsumtif dan

dipicu keinginan serba praktis sehingga perilaku pola hidup yang tidak baik.

Penelitian ini menunjukkan bahwa rerata tekanan darah sebelum dilakukan konseling

diet DASH pada kelompok intervensi sebesar (149,57) untuk sistol dan (96,09) untuk

diastol dengan p value 0,0215 sedangkan pada kelompok kontrol sebesar (146,52) untuk

sistol dan (96,52) untuk diastol dengan p value 0,0232.

Sejalan dengan penelitian terdahulu yang telah dilakukan oleh Arif (2015) perbedaan

sistolik dan diastolik dipengaruhi beberapa faktor, antara lain seperti jenis kelamin,

pendidikan, pekerjaan,dan usia yang didominasi antara 30-45 tahun memiliki kemungkinan

peningkatan tekanan darah dikarenakan semakin produktif seseorang maka semakin

bertambah perilaku konsumtif dan dipicu keinginan serba praktis sehingga perilaku pola

hidup yang tidak baik

Berdasarkan penelitian yang dilakukan bahwa pada kelompok intervensi yang

mengalami penurunan tekanan darah setelah dilakukan konseling diet DASH memiliki

beda rata-rata sebesar nilai p value 0,0215 dan < 0.001 (p < 0.05), sedangkan pada

kelompok kontrol memiliki beda rata-rata sebesar 0,0232 nilai p value dengan (p < 0.05).

Artinya penelitian menunjukkan bahwa ada pengaruh diet DASH terhadap penurunan

tekanan darah pada klien hipertensi. Ditunjukan secara deskriptif tekanan darah di kedua

kolompok berbeda, hal ini dapat dilihat dari nilai selisih (Δ) di sistolik dan diastolik

tersebut berbeda. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Arif

(2015) perbedaan ini dapat dilihat dari beberapa faktor, seperti bersifat diet maupun tidak,

9
faktor diet dapat seperti diet DASH karena kaya serat dan mineral. Hasil penelitian

didapatkan nilai p value 0.001 (<0.05) sehingga ada pengaruh konselingdiet DASH

terhadap penurunan tekanan darah pada klien hipertensi di wilayah kerja Puskesmas

Boyolali 1.

Hasil penelitian ini sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Afrimelda

(2017). Berdasarkan diet DASH dengan pemberian pola makan sehat didominasi dengan

sayur dan buah seingga memberikan makanan sehat yang memberikan pengaruh lancarnya

peredaran darah dan membantu mengontrol metabolisme tubuh karena kaya serat dan

mineral yang memberikan hasil penurunan dan mengontrol tekanan darah

Diet DASH adalah bentuk pola makan yang terdiri dari penambahan porsi sayur dan

buah serta mengurangi penggunaan natrium, kalori, dan lemak tidak sehat sehingga dapat

berpengaruh pada kadar tekanan darah penderita hipertensi.

Dan pada hasil penelitian yang dilakukan oleh McFall (2010) bila diet DASH sudah

dilakukan dalam kebiasaan hidup klien maka klien akan memiliki keadaan tubuh yang

lebih sehat. Keadaan tersebut berdasarakan pola makan sehat yang dipengaruhi oleh

pemenuhan sayur dan buah yang sehingga memberikan keadaan tubuh yang lebih sehat.

Bila keadaan tubuh klien dalam kondisi yang sehat dan baik klien akan memiliki keadaan

pemikiran yang baik dan terhindar dari stress yang mempengaruhi psikologis dan

kesehatan klien. Endorfin yang dihasilkan keadaan tubuh yang sehat mampu menimbulkan

perasaan euforia, bahagia, nyaman, menciptakan ketenangan dan memperbaiki suasana hati

seseorang hingga membuat seseorang rileks (Markum 2009, 45).

10
Simpulan

Hasil penelitian ini menunjukkan adanya pengaruh konselingdietDASH terhadap

penurunan tekanan darah. Terdapat perbedaan tekanan darah yang signifikan sebelum dan

sesudah diberikan konseling diet DASH pada kelompok intervensi.

Daftar Pustaka

McFall, J, M, (2010). Effect of the DASH Diet on Pre- and Stage 1 Hypertensive Individuals in a
Free-Living Environment. Nutrition and Metabolic Insights, Volume 3, pp. 15-23

Arif Ridwan.“DASH (dietary approahes to stop hypertension) untuk Mengontrol Hipertensi


pada Lansia” Universitas Gajah Mada. 2014; 24

Dea Prastika Hapsari, Ambar Relawati. (2016). Hubungan Pengetahuan dengan Perilaku
Manajemen Hipertensi: Aktivitas Fisik dan Diet DASH Penderita Hipertensi di Desa
Salamrejo. Yogyakarta. Nursing Academic University Muhammadiyah Yogyakarta.
Agustus 2016.

Yeni, Y., Djannah, S. N., Solikhah. (2014). Faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian
hipertensi pada wanita usia subur di Puskesmas Umbulharjo I Yogyakarta Tahun 2009.
Yogyakarta. Universitas Ahmad Dahlan. Diakses pada 28 Oktober 2015

Rahadiyanti1, Budi Yuli Setianto2, Martalena Br. Purba.(2015). Asupan Makan DASH-Like
Diet Untuk Mencegah Risiko Hipertensi Pada Wanita Prediabetes. Yogyakarta. Fakultas
Kedokteran Universitas Gadjah Mada. Jurnal Gizi Indonesia. Vol. 11, No. 3, Januari
2015

Nadya Syafa Nurhumaira, Hesti Murwani Rahayuningsih. (2014). Pengaruh Penerapan Pola Diet
Dash (Dietary Approaches To Stop Hypertension) Terhadap Tekanan Darah Sistolik dan
Diastolik pada Kelompok Lansia di Kota Semarang. Semarang. Fakultas Kedokteran
Universitas Diponegoro. Jurnal Gizi Indonesia. Volume 3, Nomor 4, Tahun 2014,
Halaman 554-564

11
Rizky Dewifianita, Nur Hidayat, Idi Setiyobroto. (2017). Pengaruh Pemberian Konseling Diet
Dash (Dietary Approach To Stop Hypertension) Terhadap Perubahan Tekanan Darah
pada Penderita Hipertensi Peserta Prolanis di Puskesmas Sentolo I. Yogyakarta. Jurusan
Gizi Poltekkes Kemenkes Yogyakarta. Ejurnal Persagi. Tahun 2017, Halaman 10-11

Meilani Kumala. (2014). Peran Diet dalam Pencegahan dan Terapi Hipertensi. Jakarta. Fakultas
Kedoteran Universitas Tarumanagara. Februari 2014.

Susanti., (2012). Pengaruh Pendidikan Kesehatan Tentang Hipertensi Terhadap Pengetahuan dan
Sikap Mengelola Hipertensi di Puskesmas Pandanaran Semarang. Universitas Ahmad
Dahlan. November 2018

Chiu S, Bergeron N, Williams P. (2016). Comparison of the DASH (Dietary Approaches to Stop
Hypertension) Diet and A Higher-Fat DASH Diet on Blood Pressure and Lipids and
Lipoproteins: A Randomized Controlled Trial (The American Journal of Clinical
Nutrition, Oxford Academic), Volume 103, Issue 2, 1 February, Pages 341–342

Hollenberg, J. A., Babyak, M. A., Hinderliter, A., Watkins, L. L., Craighead, L., Lin, P. H.
Sherwood, A. (2010). Effects of The DASH Diet Alone and in Combination with
Exercise and Weight Loss on Blood Pressure and Cardiovascular Biomarkers an Men and
Women With High Blood Pressure: The ENCORE study. Archives of Internal Medicine,
170(2), 126–135

Blumenthal, J. (2012). “Determinants and Consequences of Adherence to the Dietary


Approaches to Stop Hypertension Diet in African-American and White Adults with High
Blood Pressure: Results from the ENCORE Trial”. November Volume 112,Issue11,
Pages 1763–1773

Triyani Kresnawan,. 2011. “Asuhan Gizi pada Hiperetensi.” Ejournal Persagi, No 2 Vol 34.

Michael J. Bloch. 2017. “The Dietary Approaches to Stop Hypertension (DASH) diet” Journal of
the American Society of Hipertension (June): Volume 11, Issue 6, Pages 323-324

Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Departemen Kesehatan (Balitbangkes). Riset


Kesehatan Dasar (RISKESDAS) 2013. Jakarta: DepartemenKesehatan Republik
Indonesia; 2008. Kementrian Kesehatan RI. Diakses pada 16 November 2018

12
World Health Organization. (2015). A Gobal Brief on Hypertension: Silent Killer. Global Public
Health Crisis. Switzerland: World Health Organization. Diakses pada 25 Oktober 2015

Notoatmodjo, S. (2007). Promosi Kesehatan dan Ilmu Perilaku. Jakarta: Rineka Cipta.

Notoatmodjo, S. (2010). Ilmu Perilaku Kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta.

Nursalam. (2013). Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan (3rd ed). Jakarta: Salemba Medika.

Biomarker in Men and Women With High Blood Pressure. Original Investigation. Volume 170,
p. 2.

Martono H. Penatalaksanaan Hipertensi Pada Usia Lanjut. Dalam: Martono H, Pranarka K,


editor. Buku Ajar Boedhi-Darmojo Geriatri (Ilmu Kesehatan Usia Lanjut). Jakarta: Balai
Penerbit Faklutas Kedokteran Universitas Indonesia; 2009. Hal. 495.

Knight-Klimas TC, Boullata JI. Drug-Nutrient Interaction. In : Boullata JI, Armenti VT, editors.
Drug-Nutrient Interaction. New Jersey:Humana Press;2004

Tabloski, J A., 2014. Effects of the DASH Diet Alone and in Combination With Exercise and
Weight Loss on Blood Pressure and Cardiovaskular

Arif, Hartono. 2015. Terapi Gizi dan Diet Rumah Sakit. Jakarta : Buku Kedokteran EDGJ

Kaplan, N. dan Steamler, J. 2014. Pencegahan PJK : Penatalaksanaan Praktis Faktor-Faktor Risiko.
Terjemahan Sukwan Handali, Editor Petrus Andrianto, Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta,
1994.

Stockwell., Stroebel, R.J., & Hoffman, R.S. JNC 7- It’s More Than High Blood Pressure. Journal of the
American Medical Association, 2015.

Dina T, Elperin, et al, 2013, A Large Cohort Study Evaluating Risk Factors Assosiated With
Uncontrolled Hypertension, The Journal of Clinical Hypertension, Vol. 16 No. 2 Februari 2014.

Sartik, 2017, Faktor Risiko yang Paling Berperan terhadap Hipertensi pada Masyarakat di Kecamatan
Jatipuro Kabupaten Karanganyar Tahun 2010,Tesis, Universitas Sebelas Maret, Surakarta.

Afrimelda, Nurmasari, Hertanto W, Subagio, Hubungan Beberapa Indikator Obesitas Dengan Hipertensi
Pada Perempuan. Media Medika Indonesia, Fakultas Kedoteran Universitas Diponegoro,
Semarang 2017

13
Muhammadun, H. Faktor Risiko Kejadian Hipertensi di Wilayah Kerja Puskesmas Bangkala Kabupaten
Jeneponto Tahun 2010. Jurnal MKMI. 2013; Volume 59 Nomor 12.

Apriana, Rista Faktor Risiko Hipertensi. Warta Pengendalian Penyakit Tidak Menular, Jakarta,
2017.

14